Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Maret 2017

Hadiah untuk Eris si Pet Therapist :)



Baru saja sampai di rumah Ibu berkata kalau ada paket untukku. Waktu dicek ternyata paketnya bukan buatku, tapi Eris! Hahaha. Wah, aku langsung penasaran dan membuka paket yang ukurannya cukup besar itu. Isinya karpet khusus hewan peliharaan!:D Beberapa waktu lalu aku sempat mengikuti giveaway yang diadakan oleh akun instagram @carameldanial yang informasinya gue dapat dari Yayasan Peduli Kucing. Syaratnya sederhana, peserta diminta untuk mengupload foto bersama hewan peliharaan dan menceritakan apa saja yang mereka lakukan sebagai pet therapy bagi "pawrent" nya. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang yang tahu tentang "terapi hewan". Aku sih nggak memikirkan tentang menang atau kalah karena memang selalu bahagia jika bercerita tentang Eris :)

Sejak menjadi bagian keluarga 7 tahun yang lalu, aku selalu menganggap Eris istimewa. ---Well, setiap makhluk Tuhan tentu punya keistimewaan masing-masing, dan keistimewaan Eris adalah sifatnya yang pengertian. Karena mengidap severe scoliosis dan masih memakai brace 12 jam perhari, aku nggak bisa berlari karena bisa menimbulkan rasa nyeri. Eris selalu mengimbangi langkahku saat kami berjalan-jalan sore dan nggak pernah mencoba berlari. Padahal ia bisa saja melakukannya kalau mau. Tapi lain ceritanya kalau ia unleash alias tanpa tali... Wuzz! Eris bisa berlari secepat angin! Hihihi. Melihatnya seperti itu membuatku ikut merasakan sensasi bebas luar biasa.



Tiga tahun yang lalu Eris juga pernah menemukan sebuah tumor besar di payudara kiriku. Awalnya aku mengira ada sisa makanan yang menempel di baju karena ia terus-terusan mengendusnya. Tapi karena semakin lama semakin sering, aku pun penasaran dan memeriksakan diri ke dokter. Untung saja belum terlambat. Operasi berjalan dengan lancar, hanya waktu penymbuhannya yang cukup sulit. Aku merasakan sakit yang amat sangat karena bekas jahitan terus mengeluarkan darah. Di saat itulah Eris nggak pernah meninggalkanku, ---membuat aku merasa nyaman. Dengan kata lain, Eris lah yang "merawat" mentalku selama sakit sementara orangtuaku merawat secara fisik. Eris adalah terapisku :)

Pengalamanku dengan Eris rupanya mirip dengan pengalaman Addinda Sonang Danial, pemilik akun @carameldanial. Ini juga yang menjadi alasannya mengadakan giveaway. Dinda adalah pengidap kanker leukimia dan ia memiliki pet therapist bernama Caramel. Caramel adalah seekor anjing terlantar yang diadopsinya tepat sebelum akan disuntik mati! Dari situs pawsunion.com aku jadi tahu betapa luar biasanya Caramel. Ia bisa tahu jika kondisi Dinda sedang drop, bahkan di saat Dinda merasa baik-baik saja. Dan saat waktunya minum obat Caramel akan mengambil lalu melemparkan obatnya agar diminum. Jika Dinda nggak mau meminumnya, Caramel akan menggonggong terus seolah mengingatkan. Amazing! :) 




Mungkin sudah banyak teman-teman yang tahu tentang pet therapy, tapi just in case aku akan menjelaskannya lagi sedikit. Pet therapy adalah terapi yang melibatkan hewan di dalamnya. Biasanya pet therapy dibutuhkan saat seseorang dalam proses penyembuhan dari masalah kesehatan seperti mental health, kanker, penyakit jantung dan lain sebagainya. Pet therapy juga bisa berfungsi agar seseorang bisa lebih "nyaman" dengan apa yang diidapnya. Contohnya seperti aku. Scoliosis nggak bisa disembuhkan (karena bukan penyakit, tapi kondisi yang hanya bisa dikoreksi), tapi dengan Eris rasanya lebih mudah untuk menjalani hari. Hewan apapun bisa menjadi pet therapist karena berbeda dengan service dog, "tugas" pet therapist adalah untuk membantu kita merasa nyaman. Tapi mereka bisa juga double sebagai service dog, seperti Caramel yang bisa mengingatkan Dinda untuk minum obat.

Balik lagi ke cerita Eris dan hadiahnya, awalnya ia agak "terancam" dengan karpet barunya. Mungkin karena berbulu ia jadi mengira kalau itu hewan lain. Sampai-sampai Eris menggeram dan menggigitnya, lho! Hahaha :D Tapi hanya sebentar karena setelah itu Eris langsung duduk santai di atasnya, bahkan lama-lama ia minta disisiri sambil tiduran di sana :) Aku baru tahu kalau karpet @petcarpet_id rupanya mendonasikan sebagian dari hasil penjualannya ke Yayasan Peduli Kucing. Rasanya membuatku semakin happy karena tahu bahwa banyak yang peduli dengan keberadaan hewan-hewan di sekitar kita. Kalau kalian punya anjing atau kucing akusarankan untuk membelinya karena selain berdonasi, kualitas karpetnya juga memang bagus. Kalau Eris bica bicara bahasa manusia, ia pasti akan memberi testimoni panjang lebar tentang karpet barunya, hahaha.

Aku senang, bersyukur dan berterima kasih dengan hadiah yang diberikan @carameldanial untuk Eris. Rasanya semakin meyakinkan kita bahwa hewan memang memiliki maksud dan fungsi untuk tinggal berdampingan dengan kita, ---mereka bukan hanya "sekedar" hewan. Sekali lagi, menang atau kalah bukan masalah untukku. Aku akan selalu menyayangi Eris dengan tulus karena aku percaya Eris juga nggak pernah meragukanku. Dan aku membagi cerita ini (mudah-mudahan) bisa menjadi pengingat agar nggak ada lagi yang menyakiti hewan. Kalian boleh merasa "nggak suka" atau geli saat melihat mereka. Tapi nggak perlu menyakiti atau mengusiknya. Selalu ingat bahwa di suatu tempat ada orang-orang yang tertolong sekali dengan keberadaan mereka. ---Bahkan yang nyawanya diselamatkan oleh mereka. Seperti Eris yang menyelamatkanku dan Caramel yang menyelamatkan Dinda :)

yang sangat beruntung 'memiliki' Eris,

Indi


(Punya pengalaman serupa dengan hewan peliharaan? Kirim cerita kalian ke namaku_indikecil@yahoo.com. Cerita yang menarik akan dimuat di buku Guruku Berbulu dan Berekor 2 yang royaltinya digunakan untuk membantu hewan-hewan terlantar).


-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 28 November 2015

Berkenalan dengan Mbak Tri Wahyuni Zuhri yang Inspiratif :)


Hai bloggies, tulisanku kali ini agak berbeda dari biasanya, nih. Kali ini aku akan melakukan wawancara dengan seseorang yang sangat inspiratif, Tri Wahyuni Zuhri atau aku biasa memanggilnya Mbak Tri :) Kami berkenalan di ajang Kartini Next Generation Award 2015 karena sama-sama menjadi finalis di sana. Setelah acaranya selesai kami nggak lost contact, tapi tetap rutin mengobrol via whatsapp juga Facebook. Teman-teman mungkin mengenalnya sebagai penulis buku "Kanker Bukan Akhir Dunia". Tapi ternyata banyak hal menarik lain lho tentang Mbak Tri. Mau tahu apa saja? Simak wawancaranya berikut, ya :)


Saat penjurian tahap akhir Kartini Next Generation Award, aku dan Mbak Tri berdiri bersebelahan :)




***





~ Sekarang kesibukan Mbak Tri apa saja? Bisa diceritakan pada Indi's Friends?

Kesibukan saya sekarang masih berkutat dalam dunia penulisan saja. Trus juga masih aktif mengedukasi mengenai kanker. Berhubung saya masih terus pengobatan kanker dan agak sulit untuk mobile kemana-mana, jadi saya memanfaatkan media online untuk edukasi kanker. Selain itu ya saya lebih asyik menikmati waktu berkumpul dengan keluarga :)


~ Sebelumnya aku dan Mbak Tri kan pernah bertemu di Kartini Next Generation Awards 2015 karena sama-sama menjadi finalis. Nah, di sana aku jadi tahu bahwa Mbak adalah sosok yang istimewa :) Boleh diceritakan sebenarnya apa sih hubungan Mbak Tri dan kanker?

Jujur nih, saya tuh tidak menyangka sekaligus bahagia banget bisa jadi salah satu finalis Kartini Next Generation Award 2015. Apalagi saya bisa bertemu dengan Indi dan para perempuan luar biasa lainnya.

Saya sendiri memang seorang survivor kanker tiroid. Kanker tiroid yang saya derita sudah masuk stadium lanjut yaitu telah menyebar ke tulang belakang dan paru paru. Saya akui, memang saya telat mendeteksi kanker dalam tubuh saya. Sehingga begitu tahu vonis kanker, ternyata kankernya sudah menyebar. Saya bersyukur kondisi saya semakin banyak kemajuan setelah melakukan berbagai pengobatan.

Berawal dari pengalaman saya pribadi tersebut, saya jadi aktif memberikan informasi dan edukasi kanker kepada masyarakat. Saya sangat menganjurkan masyarakat khususnya para perempuan untuk lebih care terhadap kesehatan. Selain itu melakukan deteksi dini kanker agar tidak terlambat seperti yang terjadi dalam diri saya.

Saya berharap, di sisa sisa usia ini,saya bisa banyak melakukan berbagai kebaikan. Salah satunya dengan berbagi informasi dan edukasi mengenai kanker.  Selain itu bisa saling mendukung dan menguatkan kepada sesama survivor kanker.


~ Bagaimana perasaan Mbak ketika mendengar vonis dokter dan apa yang membuat Mbak bangkit seperti sekarang?

Waktu awal mendengar vonis kanker, tentu saja syok, stress, sedih, kecewa, takut. Pokoknya rasa gado gado deh perasaan ini. Saya tidak menyangka bisa menerima vonis kanker, apalagi kanker saya sudah menyebar ke tulang belakang waktu itu. Saat itu saya sempat merasa menjadi perempuan paling sedih sedunia hehehheeh..  Kayanya memang lebay banget ya... tapi itulah perasaan saya saat awal kena kanker.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu saya menjadi sadar untuk segera bangkit berjuang melawan kanker.  Saya beruntung di kelilingi oleh banyak orang yang benar benar mencintai dan peduli sama saya.  Keluarga, sahabat dan teman teman memberikan support dukungan luar biasa yang membantu saya untuk bangkit berjuang melawan kanker.


~ Mengenai buku yang Mbak tulis, "Kanker Bukan Akhir Dunia," bagaimana kisah awalnya memutuskan untuk menuangkan kisah Mbak dalam sebuah buku?

Jadi sebenarnya buku Kanker Bukan Akhir Dunia ini saya tulis saat saya awal berjuang melawan kanker. Saya ingat sekali menuliskan buku ini pun butuh perjuangan luar biasa. Waktu itu saya lebih banyak baring di tempat tidur karena rasa nyeri hebat akibat penyebaran kanker di rulang belakang. Saya menuliskan draf buku itu lebih banyak dalam posisi berbaring hehehe.

Inspirasi menulis buku itu sebenarnya lebih pada terapi diri dan niat untuk berbagi informasi pengalaman dan edukasi mengenai kanker kepada masyarakat.  Menulis saya anggap sebagai salah satu terapi diri saya untuk bisa bangkit dan berjuang melawan kanker. Dengan menulis, saya merasakan kekuatan dan semangat luar biasa.

Selain itu, saya ingin  buku Kanker Bukan Akhir Dunia akan bisa bermanfaat bagi masyarakat, walaupun kelak saya sudah tidak ada di dunia ini. Semuanya ini pun bisa terwujud dari para sahabat yang terus mendukung saya untuk menyelesaikan buku ini.


 ~ Selain "Kanker Bukan Akhir Dunia" adakah karya-karya Mbak yang lain?

Ya, selain buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya sudah menghasilkan beberapa karya buku dan masih aktif menulis di berbagai media cetak.  Dua buku terakhir yang baru terbit yaitu buku tentang bisnis, judulnya Pantangan dalam Bisnis terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama serta Buku Cerita Anak yang berjudul Kiki si Kijang Kuning terbitan Andi Publisher.


~ Sebagai orang awam aku hanya tahu kanker dari film dan cerita di buku. Apakah menurut Mbak apa yang digambarkan di sana cukup realistis atau malah melenceng dari fakta? Dan jika ada yang nggak sesuai, stereotype apa sih yang ingin Mbak ubah dari penggambaran kanker di film dan buku fiksi?

Kalau berbicara mengenai gambaran kanker di film atau buku, sebenarnya kurang lebih begitu lah. Hanya saja, ada beberapa film atau buku yang menggambarkan tokoh yang kena kanker itu terlihat sedih ataupun kesakitan terus. Mungkin hal ini yang menjadi salah satu pandangan sebagian masyarakat menjadi takut untuk mengenal lebih dalam  masalah kanker.

Contoh sederhana, mengenai pengobatan kanker. Saya sering sekali bertemu dengan sesama survivor atau keluarganya yang terlambat menjalani pengobatan kanker karena takut. Bayangan mereka pengobatan kanker itu sangat menakutkan karena pernah melihat cerita di televisi atau dengar informasi dari orang lain. Sehingga ada saja yang tidak berani lebih lanjut untuk berobat. Nah, biasanya kalau begini, saya akan coba membantu menjelaskan bagaimana pengobatan kanker itu. Atau saya biasanya menyarankan mereka untuk bertanya lebih detail mengenai pengobatan kanker kepada dokter yang menangani mereka. Biar tidak menebak nebak dan bingung sendiri.


~ Sebagai seorang scolioser aku tahu betul bahwa masih banyak orang yang percaya dengan mitos seputar kelainan tulang belakangku ini. Nah, apakah dalam kanker juga berlaku? Jika iya, mitos apa sih yang biasa beredar dan bagaimana fakta yang sebenarnya?

Wah sama dong.. pada penyakit kanker juga banyak mitos mitos kanker yang beredar di masyarakat. Dalam buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya jelaskan pula mengenai mitos-mitos penyakit kanker.
Mitos-mitos mengenai kanker itu antara lain tidak ada harapan hidup untuk pasien kanker. Dalam mitos ini, seakan akan orang yang tervonis kanker tidak punya harapan hidup. Padahal banyak lho, pasien kanker yang bisa sehat sampai lama sejak tervonis kanker.

Selain itu ada pula mitos yang berpandangan kalau kanker itu penyakit menular dan akibat banyak dosa. Nah, karena mitos begini, akhirnya banyak pasien kanker yang enggan berobat karena malu atau sedih dianggap banyak dosa.  Padahal untuk urusan dosa itu sudah masuk antara hubungan manusia dengan Allah saja. Kita sebagai sesama manusia tidak baik memvonis orang lain mengenai dosa dosanya.

Kalau saya pribadi menganggap kanker ini sebagai hikmah dan intropeksi diri saja.  Allah memberikan saya kesempatan berbenah diri melalui penyakit ini. Jadi saya berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah.


~ Apa yang ingin Mbak sampaikan tentang kanker dan apa pesan-pesan Mbak untuk Indi's friends?

Untuk Indi's friends, saya ingin menyampaikan untuk terus menjaga kesehatan. Seandainya tubuh sudah memberikan sinyal sinyal tidak nyaman, ada baiknya segera di periksakan ke dokter.
Selain itu, bisa juga melakukan deteksi dini dari awal.  Misalnya bila menemukan.gejala gejala yang aneh contohnya benjolan yang tumbuh tiba tiba, pendarahan yang tidak biasanya, dan lain.lain, maka segera  di periksakan saja

Oh ya, bagi teman teman.perempuan, jangan lupa rajin untuk SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri. Ini untuk mencegah kanker payudara. Atau juga melakukan papsmear bagi perempuan yang sudah pernah aktif melakukan melakukan hubungan seksual, ini terkait untuk pencegahan kanker servix.


~ Jika ada yang mau berkenalan dengan Mbak Tri, kemana Indi's Friends bisa menghubungi? (blog, twitter, dll) Dan di mana bisa mendapatkan karya-karya Mbak?


Oke, terima kasih banyak ya Mbak atas waktunya. Aku yakin kisah Mbak akan menginspirasi siapapun yang membacanya :) Dan semoga kolaborasi kita menjadi langkah kecil untuk mengenalkan kanker dan scoliosis. Amen. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan, Mbak Tri! :)  

***

Begitulah wawancara santai kaya manfaat antara aku dengan Mbak Tri. Semoga ini juga bisa menginspirasi teman-teman untuk terus semangat, ya. Oya, Mbak Tri juga mewawancaraiku untuk blognya, lho. Kalian bisa membacanya di sini :)

baca di sini



Update: Mbak Tri meninggal dunia pada bulan Juni 2017. Banyak yang merasa kehilangan dengan kepergiannya, termasuk aku. Semoga Mbak Yuni mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan YME. Dan keluarga yang ditinggalkannya diberikan kekuatan. Mbak Yuni adalah sosok yang sangat menginspirasi, semoga legacynya terus berjalan <3 


_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 02 September 2015

More about Shave for Hope :)


Welcoooome September! Whoaaa, rupanya sekarang sudah masuk bulan baru, ya. Mungkin karena belakangan aku cukup sibuk beraktivitas (---well, dua minggu sakit batuk juga menambah kesibukanku, hehehe), waktu jadi terasa cepat :D Bulan Agustus ini ditutup dengan kemenanganku di kontes Disney Inspired untuk menghadiri premiere Disney Descendants dan dengan menjadi social angel di event Shave for Hope terbaru.

Soal kontesnya kapan-kapan akan aku ceritakan, tapi sekarang aku akan bercerita lebih banyak tentang Shave for Hope. Yang membaca postku sebelumnya pasti tahu kalau beberapa hari lalu aku menantang teman-teman untuk mengikuti Shave for Hope 2015 Challenge. Well, akhirnya ada 2 orang yang menjawab tantanganku, yaitu Syifa dan Tisya. Mereka rela memotong rambutnya untuk menemani adik-adik pengidap kanker yang terpaksa kehilangan rambut. Nantinya video pemotongan rambut mereka akan diuangkan senilai Rp. 100.000 (masing-masing) dan akan digunakan untuk membantu biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C (Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia).


Video proses pemotongan rambutku :)


Social Angels :)

Sebelum dan sesudah pemotongan rambut :)


Event Shave for Hope kali ini memang berbeda dengan 2 tahun yang lalu, tahun ini rambut yang dipotong nggak dijadikan wig, tapi diuangkan. Kita diberi kebebasan untuk menentukan mau dikemanakan potongan rambutnya nanti. Boleh disimpan, dibuang, atau malah didonasikan di tempat lain. Kalau aku sendiri, sama seperti yang kulakukan tahun lalu, ---potongan rambut akan didonasikan pada organisasi yang menyediakan wig untuk anak-anak yang kehilangan rambut. Aku sudah pernah share caranya di sini dan di sini, tapi nanti akan kutulis ulang kalau-kalau ada teman-teman yang ingin melakukan hal yang sama :)

Tantangan video Shave for Hope memang sudah berakhir, tapi untuk yang ingin berdonasi  masih bisa, lho. Teman-teman bisa mengirimnya ke: Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, 117-00-00222026 Bank Mandiri Cabang RS Kanker Dharmais. Dan jangan lupa ikuti potong rambut masalnya. Sama seperti video, rambut kalian akan diuangkan senilai Rp. 100.000 dan digunakan untuk membantu adik-adik di YPKAI-3C. 

Acaranya akan diadakan di: Lippo Mall Kemang, Jakarta
Pukul: 10.00 sampai 22.00
Tapi sebelumnya jangan lupa untuk registrasi terlebih dahulu karena tempatnya terbatas. Caranya buka www.shaveforhope.org lalu klik “registration” nanti kalian akan mendapatkan email konfirmasi. Mudah, kan :)

Sampai hari ini tulisanku mengenai donasi rambut masih menjadi yang paling banyak dikunjungi. Aku menerima banyak sekali email yang bertanya tentang itu. Rupanya banyak yang masih belum tahu bahwa rambut, ---yang biasanya hanya disapu di lantai salon setelah dipotong, bisa menjadi sangat bermanfaat. Waktu menulisnya aku hanya ingin berbagi pengalaman, sama seperti saat aku menulis hal-hal lain. Jadi aku sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan banyak perhatian. Katanya kalau berbuat kebaikan cukup diri sendiri saja yang tahu. Tapi menurutku it’s okay untuk membaginya selama tujuannya bukan pamer. Karena saat semakin banyak orang yang tahu, semakin banyak juga yang terinspirasi. Dan saat semakin banyak yang melakukannya, maka semakin banyak pula yang dibantu. It's just a chain reaction... Jangan berhenti berbagi! :) 

yang baru potong rambut,

Indi


 ________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 Agustus 2015

Indi Sugar Menantang Kalian Potong Rambut untuk Kanker! :)

Teman-teman yang waktu itu ramai bertanya tentang donasi rambut mana nih suaranya? :) Aku sempat dapat banyak sekali tanggapan dan pertanyaan tentang donasi yang aku lakukan tahun lalu, tapi ternyata banyak yang batal ikutan dengan alasan biaya pengiriman rambut yang cukup mahal :(
Nah, sekarang ada alternatifnya nih teman-teman. Kalian tetap bisa ikut berdonasi tanpa harus membayar mahal :)

Aku ajak kalian untuk mengikuti tantangan Shave for Hope 2015. Caranya seperti ini:
1. Buat video yang berisi before dan after pemotongan rambut kalian. Untuk laki-laki sampai botak dan untuk perempuan minimal di atas bahu.
2. Di video berikan ucapan untuk Shave for Hope dan pesan untuk adik-adik yang mengidap kanker.
3. Jangan lupa akhiri video dengan tagline, "Be the hero, be the hope".

Setelah itu upload video kalian ke YouTube dengan judul #SFH2015Challenge, nantinya setiap video akan dihargai Rp.100.000 dan uangnya akan digunakan untuk donasi atau untuk bantuan biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C. Kirim melalui email link video kalian ke sfh2015challenge@gmail.com, dan... selesai! Dengan cara sesederhana itu kalian sudah membuat perubahan :)

Ayo, langsung lakukan ya, teman-teman. Potong rambutnya gak perlu di salon, bisa minta bantuan keluarga atau teman karena yang penting syarat pemotongannya terpenuhi (nanti setelahnya baru bisa dirapikan). Videonya ditunggu sampai BESOK, 31 Agustus 2015. Tolong sebarkan juga tentang kabar ini agar semakin banyak yang ikutan! Kalau masih bingung kalian bisa lihat videoku yang disertakan di bawah ini:



Be the hero, be the hope. Kalian juga bisa ;)


let's shave for hope,

Indi


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 28 September 2014

Requested post: How to Donate your Hair? :)

Hai bloggies, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik, dan untuk yang sedang sakit tentu saja semoga cepat sembuh :) Keadaan gue sendiri baik dan bersemangat, ada beberapa hal baru yang sedang gue kerjakan dan ada beberapa rencana untuk akhir tahun ini. Selalu excited jika mempunyai pengalaman baru, hihihi. Nanti kalau semuanya sudah ‘siap’ akan gue ceritakan di sini. Doakan saja semua berjalan lancar, ya ;)
Sebelum gue bercerita tentang ‘hal-hal baru’, sekarang gue mau berbagi cerita tentang yang baru saja dialami. Mungkin teman-teman masih ada yang ingat kalau beberapa bulan yang lalu gue mendonasikan rambut ke Locks of Love. Nah, gue baru saja menerima kartupos dari mereka. Isinya ucapan terima kasih atas donasi gue untuk anak-anak yang membutuhkan wig alias rambut palsu. Kebanyakan yang menerima wig donasi dari mereka adalah pengidap alopecia areta, yang sampai sekarang belum ada obatnya. Dan sisanya adalah pasien kanker, korban luka bakar dan beberapa penyakit lain yang menyebabkan rontoknya rambut secara permanen :( Meskipun gue nggak bisa bertemu dengan anak yang menerima rambut gue secara langsung, tapi gue senang karena seenggaknya ada bagian kecil dari gue yang membuatnya tersenyum :)

Karena menerima kartupos tersebut gue jadi ingat bahwa ada banyak teman-teman di blog, Facebook, Twitter dan Instagram yang bertanya pada gue tentang cara mendonasikan rambut. Well, sebenarnya gue sudah pernah ceritakan plus share videonya di sini. Tapi berhubung nggak semuanya pernah baca post itu, jadi gue putuskan untuk membanginya lagi. Kali ini akan gue jelaskan secara step by step agar mudah diikuti ditambah beberapa daftar beberapa organisasi (plus alamatnya) yang menerima donasi rambut.
Okay, here we go... :)
  •  Pertama, cuci bersih rambut lalu keringkan. Jika memiliki rambut keriting, coba catok lurus terlebih dahulu agar mudah mengukur panjangnya. Pastikan kondisi rambut sehat dan belum pernah mengalami proses bleaching. Jika hanya di cat itu masih bisa diterima.
  • Ikat rambut, lalu ukur dengan penggaris untuk memastikan panjang yang tepat. Letakan penggaris di bawah ikat rambut. Jika rambut sangat tebal boleh ikat rambut jadi beberapa bagian. Jangan lupa untuk ikat ujung bawah rambutnya juga. (Catatan penting: Donasi rambut minimal panjang 10 inci).
  • Gunting rambut di ATAS ikat rambut dengan rapi.
  •  Masukkan rambut yang sudah dipotong ke dalam kantong zip lock (dapatkan di toko plastik, toko buku atau toko peralatan membuat kue).
  •  (Optional) Di selembar kertas, tulis nama, alamat lengkap dan alamat email kita. Ini agar mereka bisa mengirimkan lembara pengetahuan atau ucapan terima kasih atas donasi kita. (Catatan penting: Jangan mengharapkan balasan sertifikat karena ini untuk amal nggak semua yang memberi donasi diberi sertifikat dengan alasan "menekan biaya")
  • Lalu masukan zip lock yang sudah berisi rambut dan kertasnya ke dalam amplop ber ‘pad’. Jika sulit untuk menemukannya, kita bisa melapisi amplop coklat biasa dengan bubble wrap.
  •  Jangan lupa pastikan kita menulis alamat organisasi dengan benar dan dengan nilai prangko yang cukup agar paket rambut kita nggak ‘nyangkut’ di suatu tempat. Rambut yang sudah terlalu lama, apalagi rusak nggak bisa dibuat wig.



  • Rambut yang beruban juga diterima, lho. Tapi nggak dengan rambut extension atau dread lock :)

  

Bagaimana? Mudah sekali, kan ;) Mudah-mudahan step by step dari gue bisa dipahami, ya. Sedikit tips, pastikan orang yang membantu memotong rambut mengerti dengan step by step nya. Karena kesalahan kecil seperti memotong rambut di bawah karet misalnya, bisa membuat rambut tercecer dan terpaksa dibuang, deh. Atau teman-teman bisa tunjukan video yang gue share pada stylish di salon atau teman yang membantu sebelum mulai memotong rambut :)

Jika ada yang menebak asalan gue mendonasikan rambut karena pernah terkena tumor payudara, maka jawabannya adalah: salah, hehehe. Sebenarnya ide ini muncul karena nggak sengaja. Teman-teman gue sering berkomentar tentang betapa cepatnya rambut gue panjang. Dalam 1 bulan saja bisa sampai 2 kali ke salon untuk memotong poni. Dan karena gue nggak terlalu nyaman dengan rambut panjang, maka secara rutin rambut gue disapu begitu saja di lantai salon bahkan sebelum menyentuh bahu. Tanpa sadar selama ini ternyata gue menyia-nyiakan rambut, padahal banyak sekali orang yang menginginkannya. Sejak itulah gue bertekad untuk memanjangkan rambut selama 6 bulan (dan melewati bahu, hahaha) lalu mendonasikannya dengan menyisakan panjang rambut di bawah telinga :)
Menurut gue donasi rambut juga cocok untuk teman-teman yang takut jarum suntik atau terpaksa nggak bisa mendonasikan darah karena mengidap penyakit yang ditularkan lewat darah. Donasi rambut bisa untuk siapa saja, bahkan anak-anak sekalipun selama memiliki rambut yang sehat dan panjang rambut yang cukup.



Hari ini, 5 bulan setelah berdonasi rambut gue sudah tumbuh sekitar 9 cm. Nggak sabar rasanya menunggu rambut gue kembali melewati bahu dan didonasikan lagi :) Rambut palsu memang nggak bisa menyembuhkan alopecia areata, kanker atau luka bakar. Sebagai perempuan yang sudah 15 tahun hidup bersama scoliosis gue anggap rambut palsu sama seperti jaket yang dulu sering gue pakai. Gue mengerti betul bahwa jaket memang nggak bisa menyembuhkan scoliosis. Tapi dengan memakainya gue bisa berbaur dengan teman-teman sebaya dan mereka menilai tanpa melihat apa gue idap, secara netral tanpa merasa ‘kasihan’ sebelum melihat kepribadian gue. Dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar :) Bukan berarti gue nggak bahagia dengan yang Tuhan berikan. Gue sangat bersyukur dan bangga dengan tubuh yang dirancang secara spesial oleh Tuhan khusus untuk gue. Tapi sesekali gue ingin dilihat secara ‘netral’, dan gue percaya semua orang pun begitu :) Trust me, ada anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan rambut. Dan hanya dengan 10 inci dari rambut yang kita punya bisa membuatnya tersenyum lebar :)


Donasikan rambut ke sini:
Locks of Love
234 Southern Blvd.
West Palm Beach, FL 33405-2701

Little Princess Trust
Sheridan House
114-116 Western Road 
HOVE
BN3 1DD (UK)

Pantene Beautiful Lengths
Attn: 192-123
806 SE 18th Ave.
Grand Rapids, MN 55744

Wigs for Kids
4231 Center Ridge Road, Westlake, Ohio 44145

Shave for Hope
Ini event Indonesia. Kontak mereka di twitter: @shaveforhope. Atau,

Coba hubungi yayasan kanker atau rumah sakit yang lokasinya dekat dengan kalian. Mendahulukan untuk membantu yang dekat tentu akan lebih baik :)

cheers,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 21 Desember 2013

Semarang, Bagian Kedua: Bercerita tentang Mika di Charity Event "The Long Journey" :)


Howdy! Apa kabar teman-teman? Semoga semuanya baik-baik saja, ya ;)
Gue sekarang mau lanjutkan cerita yang sebelumnya, nih (klik di sini untuk membaca). Jadi setelah perjalanan 13 jam yang super seru itu akhirnya gue tidur dengan nyenyak di kamar hotel Rinjani. Mungkin karena tidurnya tepat 8 jam, pagi-pagi gue terbangun dengan segar, cerah, ceria dan bugar, hahaha. Pokoknya I'm really blessed that day, karena biasanya gue bukan morning person :p 
Setelah berganti piyama dengan dress hasil desain sendiri dan sarapan bersama Bapak, kami dijemput untuk menghadiri charity event "The Long Journey". *crossed fingers*

"The Long Journey" ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus) adalah project sosial yang diadakan oleh AIESEC Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya HIV/AIDS dan isu kanker, sesuai dengan tagline "Stop the Diseases Start the Action". Meskipun temanya serius, tapi konsepnya sangat ringan dan fun, karena media yang digunakan untuk mengenal HIV/AIDS adalah sebuah film! Yup, gue bangga sekali mereka menggunakan film Mika yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika", yang juga diambil dari perjalanan hidup gue dan almarhum Mika :) Penghasilan dari event ini juga akan digunakan untuk membantu pasien kanker di Semarang. Benar-benar keren, kan? :)

Begitu tiba di E Plaza berfoto dengan Dinda dan Enggar :)
Sebelum masuk ke teater.
(almost) the whole team! :)

Acara dimulai dengan nonton bareng film Mika di bioskop E-Plaza. Meskipun gue sudah menonton film ini belasan kali, tapi tetap masih ada perasaan deg-degan. Pertama, rasanya selalu aneh setiap kali melihat hidup gue diperankan dengan orang lain. Ke dua, meski lihat ribuan kali pun gue nggak pernah siap dengan kepergian Mika. Dan ke tiga... kali ini gue duduk di sebelah Bapak, hahaha :'p
Gue sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka menyukai filmnya atau nggak. Soalnya waktu film mulai diputar teater terasa begitu sunyi, nggak ada seorang pun yang bersuara. Sampai di adegan 'menari' gue baru dengar beberapa orang tertawa diikuti yang lainnya sampai seluruh teater. Oooh... ternyata penontonnya malu-malu, hehehe. Begitu sampai adegan mengharukan teater kembali sepi, lalu terdengar isak tangis dan komentar-komentar penonton. Gue yang bersusah payah menahan tangis dengan menutup mata akhirnya ikut menangis, karena meskipun nggak melihat tapi jadi teringat kembali adegan-adegannya. Atau lebih tepatnya flasback apa yang pernah gue lalui waktu bersama Mika :')

Waktu lampu teater menyala gue langsung mengelap air mata dengan tisu. Tapi ternyata bukan cuma gue saja yang terlihat dengan mata sembab. Gue lega ternyata penonton bisa masuk ke dalam kisah gue dan Mika meskipun hanya lewat filmnya. Mereka bahkan seolah masuk ke dalam kisah cinta kami. Ada beberapa komentar yang terlontar waktu adegan Mika ditolak oleh dokter gigi. "Kok jahat sih dokternya?" "Wah, melanggar hak asasi manusia, tuh," dan lain sebagainya yang bikin gue tersenyum haru :)

Setelah selesai nonton semuanya turun ke lounge untuk makan siang sambil dihibur oleh Paduan Suara UNDIP. Mereka keren, lho. Menghibur dan bikin kangen sama paduan suara gue dulu, hehehe. Sambil makan siang gue berkenalan dengan Om Dodok dari Cancer Information dan Support Center dan Om. Jonathan dari Rumah Damai. Dari mereka gue mendapat banyak cerita yang inspiratif. Istri Om Dodok adalah seorang cancer survivor, sempat ragu untuk berkeluarga tapi akhirnya sekarang dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu dan sehat-sehat. Sekarang mereka aktif memberikan penyuluhan mengenai kanker, agar msyarakat menjadi semakin care dengan kesehatan pribadi. Juga ada cerita dari Om Jonathan yang sempat drop tapi akhirnya bangkit karena meski statusnya sebagai ODHA, ternyata ia tetap bisa memberikan semangat pada orang lain. Salut! Oh, iya ngomong-ngomong Om Jonathan ini lucu, lho. Tiba-tiba ia duduk di sebelah gue dan tanpa basa-basi langsung minta Om Dodok mengambil foto kami, hahaha. Gue sampai kaget. Katanya ia punya DVD fim Mika, dan tadi waktu di teater adalah kali ke sekian ia menontonnya. Bapak juga ikut mengobrol bersama kami. Karena Om Dodok juga punya 2 orang putri, jadi ia banyak bertanya pada Bapak soal tips parenting. Ada pertanyaan yang menarik dari Om Dodok tentang bagaimana pendapat Bapak mengenai hubungan gue dengan Mika dulu. Surprise, Bapak menjawab begini, "Anak jangan terlalu banyak dilarang, biar saja kalau ia mau mengenal siapapun."
Ah, that's my Daddy! :*

Paduan Suara UNDIP.

Karena keasyikan ngobrol hampir saja gue nggak sadar kalau sudah dipanggil untuk naik ke atas panggung, hehehe. Ini adalah sesi sharing, gue bercerita mengenai masa pacaran dengan Mika sewaktu masa SMA. Tentang bagaimana kami berburu kaset rock and roll bekas, tentang cerita-cerita Mika yang konyol, tentang pengalaman pertama gue diajak naik angkot untuk pertama kali (hehe) dan masih banyak lainnya. Well, ya masa-masa pacaran gue memang nggak jauh berbeda dengan remaja lainnya meskipun Mika adalah ODHA. Waktu itu gue juga sama sekali belum tahu apa itu HIV/AIDS. Gue hanya tahu kalau itu adalah penyakit, sama seperti pilek, sakit kepala atau batuk.



Setelah Mika meninggal gue menjadi relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Di sana gue banyak belajar tentang HIV/AIDS. Dan apakah anggapan gue tentang penyakit itu jadi berubah? Nope! Nggak. Ternyata selama ini gue memang benar. HIV sama saja seperti pilek. Kita bisa kena pilek karena kebanyakan makan es krim, tapi bisa juga karena tertular dari orang lain. Jadi nggak ada alasan untuk menjauhi orang-orang seperti Mika. Dulu gue sempat dijauhi teman-teman karena berpacaran dengan Mika. Bahkan ada gosip yang bilang bahwa gue juga ketularan oleh Mika. Padahal HIV nggak semudah itu menular.

Semakin lama gue jadi semakin mengerti. Stigma itu munculnya dari prasangka, dan itu hampir selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari, bahkan dimulai dari hal kecil. Contohnya seperti yang gue tadi sebutkan, waktu ada orang kena pilek kadang langsung di judge habis kebanyakan makan es krim. Padahal yang diinginkan orang sakit ya hanya sesimpel ucapan "get well soon", bukan malah dicerca dengan macam-macam pertanyaan dan prasangka. Gue sendiri pernah mengalaminya. Waktu kuliah ada seorang dosen yang berkata bahwa gue pasti scoliosis karena kebanyakan bawa beban terlalu berat. Dan baru-baru ini gue sering sekali dinasehati buat nggak makan junk food karena baru kena tumor payudara. Ya, mungkin mereka bermaksud care, tapi care bukan berarti harus judging, kan? Gue sering mendapat email yang berisi seperti ini,
"Hai Indi, Mika dulu pakai narkoba ya makanya kena AIDS?"
Wow, that's really uncool and rude! :(

Gue nggak bertanya pada Mika kenapa ia bisa terkena AIDS. Buat gue itu nggak penting karena yang gue lihat Mika orang baik dan selalu positif ketika bersama gue. Gue belajar banyak hal darinya, terutama tentang menjadi diri sendiri. Mika berkata bahwa yang terbaik itu mengikuti kata hati, bukan kata orang lain. Dan gue terus begitu sampai sekarang selama nggak melanggar norma-norma dan menyakiti orang lain. Gue juga masih berhubungan baik dengan teman-teman Mika, dan sedikit banyak gue jadi mendengar tentang masa lalunya. Tapi itu sama sekali nggak mempengaruhi penilaian gue tentang Mika, karena jika ada hal buruk... the past is the past, just forget it and move on. Setiap orang punya hak untuk untuk dinilai dengan apa yang dilakukannya hari ini :)

Waktu sesi sharing gue sedikit berapi-api karena tiba-tiba teringat apa yang sudah Mika lalui dan masih terbawa suasana di teater. Little bit teary, tapi dengan Puput sebagai MC yang berkarakter kocak gue jadi nggak pernah lupa untuk tersenyum, hehehe. Gue juga mendapat beberapa pertanyaan dari audience. Ada yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan jika hidup serumah dengan ODHA. Menurut gue yang paling tepat adalah memperlakukan ia seperti anggota keluarga yang lain. Sederhana, tapi itu adalah perasaan yang paling nyaman sedunia. Gue bukan ODHA tapi sejak kecil gue terkena scoliosis. Harus pakai brace 23 jam per hari, terapi ini-itu dan nggak boleh ini-itu. Waktu gue dibedakan dengan saudara-saudara yang lain rasanya bikin gue sedih, tapi jika orang-orang berlaku seolah brace gue itu invisible, gue merasa nyaman dan dihargai. Dan gue yakin itu berlaku untuk semua orang, termasuk ODHA :)

Sesi sharing dan tanya jawab berlangsung dengan lancar tapi tetap fun. Dari percakapan antara gue dan audience rasanya apa yang menjadi poin gue sudah cukup tersampaikan :) Gue lega karena semuanya begitu antusias dan mengaku nggak lagi takut dengan HIV/AIDS. 
Sesi gue ditutup dengan penyerahan penghargaan oleh Jefry selaku Organizing Committee President ROAR +. Setelah itu diikuti oleh Om Dodok dan Om Jonathan yang juga diberikan penghargaan. Gue langsung pamit untuk kembali ke hotel karena nanti malam akan langsung pulang ke Bandung. Tapi ternyata gue sudah ditunggu dengan teman-teman yang ingin mengajak foto bersama! :)





***

and the award goes to...
Om Dodok dari Cancer Information and Support Center.
Om Jonathan dari Rumah Damai.
Salah satu penerima penghargaan juga, yang ---silly me--- nggak sempat berkenalan padahal duduk berdekatan :p

Terharu sekali karena banyak dari mereka yang membawa novel-novel gue untuk ditandatangani. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kota Pati dan sengaja menyempatkan ke E-Plaza Semarang untuk bertemu gue. Juga ada surprise, beberapa scolioser dari MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga ikut datang! Wah, kehadiran mereka sampai-sampai bikin gue hampir lupa kembali ke hotel, karena di sela foto-foto kami juga sempat berbincang singkat dan berkenalan :) Bapak lalu mengingatkan bahwa waktu sudah semakin sore. Gue berpamitan dan kembali ke hotel dengan perasaan yang sangat senang. Senang acaranya berjalan dengan lancar, senang mendapat teman-teman baru, dan senang karena bisa berbagi cerita-cerita kebaikan tentang Mika. Thank God :)

Thank God :)
Teman-teman MSI Semarang. Hore! :)
:)

Ketika sampai di hotel handphone gue bunyi, ternyata ada SMS dari Om Jonathan. Isinya seperti ini, "Sharing nya bagus banget, Indi. Thanks for your share, Bless you, Indi." 
Dan itu membuat perasaan senang gue bertambah berkali-kali lipat karena kata-kata itu datang dari seseorang yang pernah mengalami apa yang Mika alami :)
Salut untuk AIESEC UNDIP atas ROAR+ project "The Long Journey" nya yang telah membuat acara positif untuk remaja dengan cara santai dan fun. Gue harap akan ada acara-acara seperti ini lagi selanjutnya agar lebih banyak lagi orang yang care tanpa harus judging! :)

Koran "Wawasan" 18 Desember 2013 :)

sugar-nya Mika,

Indi


baca juga artikel mengenai acara ini di suaramerdeka.com di sini.
______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contacr person: 081322339469