Tampilkan postingan dengan label Rumah sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah sakit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2020

Ulang Tahun Kali Ini Yang... Penuh Cinta! :)



Kalau sering mampir ke sini, mungkin teman-teman tahu kalau aku sangat suka dengan ulang tahun. Buatku ulang tahun itu hari yang magical, ---bayangkan kita mengenang hari di mana kita dilahirkan, di mana kita sangat ditunggu dan diharapkan :) Selama aku hidup di dunia ini, setiap ulang tahun selalu dirayakan bersama keluarga, atau lebih tepatnya disyukuri bersama. Nggak perlu macam-macam, cukup berkumpul bersama keluarga dan tiup lilin untuk simbolis bertambahnya usia saja sudah cukup. Apalagi setelah aku mengenal Shane hari ulang tahun jadi terasa lebih istimewa karena ulang tahun kami selisih 10 hari saja, double blessing! :)

Tapi siapa yang menyangka tradisi berkumpul yang biasanya aku rasa sebagai hal "sederhana" menjadi suatu kemewahan di ulang tahun kali ini. ---Yup, apalagi kalau bukan karena si covid 19, hahaha :'D Meski sudah mulai banyak orang menerapkan "new normal", tapi aku dan keluarga masih stay di rumah masing-masing. Aku di rumah bersama Shane, sementara Ibu dan Bapak juga berdua di rumah mereka yang jaraknya sebenarnya nggak jauh dari kami. Meski hati ini sebenarnya rindu, tapi aku menahan diri untuk nggak bilang sama Ibu Bapak kalau ingin merayakan ulang tahun bersama. Jadi aku berusaha keep cool, kalau ngobrol di whatsapp sama sekali nggak pernah membahas soal ulang tahun, hahaha :p

Tepat di hari ulang tahun Shane, 29 Mei 2020 lalu, kami nggak bertemu Ibu dan Bapak. Mereka hanya mengucapkan selamat lewat whatsapp. Begitu juga anggota keluarga yang lain seperti Nenek dan keluarga mertuaku. Pokoknya sepi, hanya ada kami berdua di rumah :'D Sempat punya ide buat baking birthday cake berdua, tapi malah mager dan beralih jadi ngerjain lagu. Iya, seaneh itu kadang kami, mau semager apapun kalau soal musik selalu semangat. Dulu saja kami bertemunya gara-gara musik, lho. Nggak pakai kenalan, langsung to the point kolaborasi musik dan akhirnya nikah, hahaha. Anyway, jadi ceritanya kami bikin music cover plus video clip spesial ulang tahunnya Shane gitu. Kami bawakan lagu The Velvet Underground yang judulnya Stephanie Says. Serius, prosesnya seruuuu banget. Aku nyanyi dan main ukulele. Sementara Shane yang main gitar, isi keyboard, biola dan xylophone. Eh, dia juga ngisi backing vocal sedikit. Penasaran nggak sih, soalnya semenjak nikah dia lebih sering main alat musik daripada nyanyi :p Pas bikin video clipnya ternyata hujan, padahal lagi musim kemarau, huhu. Tapi memang mood kami lagi sangat baik jadi cuek saja, lanjut nyanyi-nyanyi di bawah rintik hujan kaya film India. Setelah selesai, rasa happy jadi berlipat-lipat. Nggak sepi lagi. Kami sampai bilang kalau ini tuh best birthday celebration ever :)



Di saat aku pikir nggak mungkin ulang tahun kami menjadi lebih baik lagi, Tanggal 7 Juni 2020, satu hari sebelum ulang tahunku Ibu dan Bapak memutuskan untuk mampir ke rumah kami. It's been awhile, dan aku benar-benar nggak nyangka bakal bisa merayakan hari istimewaku (kami, ---aku dan Shane) bersama mereka. Sampai-sampai saat mereka on the way, aku tanya dulu apa mereka akan naik atau hanya menitipkan kado di lobby apartemen, hahaha :'D Ibu bilang, beliau dan Bapak ingin memberi kado langsung, jadi minta Shane untuk menjemput mereka di lobby. Jantungku rasanya seperti mau meledak, ---saking senangnya! Aku yang tadinya sedang bermalas-malasan di tempat tidur sambil membaca buku Goosebumps, langsung cuci muka dan mengepang rambut supaya terlihat agak segar. Shane pun segera mencuci piring-piring kotor sisa late breakfast kami (maksudnya sarapan di waktu makan siang karena kami kalau bangun suka nggak nanggung-nanggung siangnya, lol) supaya dapur terlihat rapi. Oh iya, yang bikin aku tambah senang (dan haru), sepanjang perjalanan menuju rumah kami Ibu dan Bapak mendengarkan musik ciptaanku dan Shane di tape, lalu mengirimkan videonya lewat whatsapp. Aww! :')

Ibu dan Bapak bilang mereka hanya bisa sebentar saja di rumah kami. Tentu kami maunya bertemu lama, kalau bisa nginap sekalian, hahaha, tapi dengan bisa bertemu saja sudah kejutan yang luar biasa :'D Rasanya tiba-tiba semua terasa normal, aku jadi lupa kalau keadaan di luar sana sedang "sakit". Kami berkumpul, nyanyi happy birthday, tiup lilin, ketawa-ketawa dan dapat kado. Waktu kadonya dibuka kami nggak bisa berhenti tertawa. Aku dapat figurin Kakek-Nenek yang sedang main musik. Kata Ibu, itu aku dan Shane yang sudah tua tetap suka main musik, hahaha. Kado untuk Shane juga ternyata nggak kalah lucunya, dia dapat kotak musik dengan bentuk biola. Kalau dibuka ada ballerina yang menari di atas cermin. Aw! Hahaha :D Dan rupanya Ibu diam-diam merekam kami ketika buka kado, lho. Katanya sengaja biar nanti bisa ditonton lagi. Setelah Ibu dan Bapak pulang, kami nggak bisa berhenti membicarakan keseruan yang baru kami alami. Shane malah nggak bisa berhenti bermain dengan kotak musiknya, hihihi.












Keesokan harinya aku dan Shane pergi ke Rumah Sakit untuk mengambil cek darah dan sekalian USG payudaraku. Awalnya sih rasanya mellow karena pas banget sama hari ulang tahunku, 8 Juni 2020. Tapi itu sebelum tahu kalau Ibu dan Bapak bakal datang ke rumah. Karena setelah sudah dapat kejutan, aku ternyata jadi biasa saja menghabiskan hari ulang tahun di RS. Malah rasanya ulang tahunku sudah lewat karena dirayakan lebih cepat, hahaha. ---Soal kenapa aku harus ke RS, mungkin akan aku ceritakan lain kali, ya. Terlalu panjang kalau diceritakan semuanya di sini, dan aku ingin berfokus sama cerita ulang tahunku dan Shane saja sekarang :)
Kami nggak pulang dulu waktu menunggu hasil Lab karena takutnya hanya buang-buang waktu saja di jalan. Padahal lumayan lama, lho, tapi kami merasa lebih mending menunggu sambil santai (dan jajan nasi Padang, hahaha) daripada bermacet-macet. Setelah akhirnya pulang ke rumah, keadaanku sudah drop alias low batt, lol. Yang terpikir hanya berganti baju dengan piyama terus tidur-tiduran. Eh, ternyata Shane berinisiatif untuk tetap merayakan ulang tahunku (lagi!). Dia ke mini market yang ada di gedung apartemen, lalu beli bahan-bahan untuk bikin kue tart. Setelah itu dia langsung baking kue, ---sebisanya. Terharu melihat suamiku "berjuang" aduk adonan sampai hias kuenya. Lengkap pakai lilin juga, yang buat aku sih super niat karena semuanya cuma dapat dari mini market :'D Kami tiup lilin berdua, makan kue berdua, setelah itu tidur siang berdua soalnya ngantuk berat, hahaha.







Saat sedang seperti ini ternyata rasa cinta keluarga jadi lebih terasa. Aku selalu tahu kalau keluargaku sayang denganku dan Shane, tapi melihat mereka tetap berusaha menyenangkan kami di saat pertemuan kami terbatas membuat mataku lebih terbuka. Nenekku yang sudah sepuh mengirimi kami pesan ulang tahun yang lucu, lengkap dengan emojinya. Katanya beliau belajar bikin emoji sendiri pakai iPhone, ---plus mengirimi kami kado setelahnya :) Juga keluarga mertuaku, meski sepertinya tahun ini nggak bisa berkunjung ke Indonesia, tapi kami tetap merayakan ulang tahun "bersama". Sejak aku dan Shane masih pacaran, Ibu Mertua punya kebiasaan untuk mengirimi kami kartu ucapan ulang tahun yang diselipkan hadiah uang untuk kami. Iya, beliau masih memperlakukan kami seperti anak-anak, hahaha. Tapi tahun ini rasanya "beda", aku jadi sadar apa yang dilakukannya adalah upaya mengisi absensi kehadirannya bersama kami. Beliau meminta Shane untuk mengajakku makan malam menggunakan uang beliau, katanya anggap saja kami makan malam bersama-sama :') Di blog ini aku sering bercerita betapa aku sangat bersyukur memiliki Ibu, Bapak dan suami yang hangat dan penuh cinta. Tapi ternyata aku "lupa" kalau aku juga diberkahi dengan mertua yang baik hati dan memiliki rasa cinta yang mungkin bisa menyamai orangtua kandungku.

Dapat kado-kado susulan dari Emah (Nenek), Asih (teman kerja) dan Uak :’)


Saat sedang menulis ini pun rasanya aku masih sedang berulang tahun. Sungguh perhatian dari orang-orang tersayangku memberikan rasa bahagia yang panjang. Aku semakin yakin bahwa keluarga nggak selalu harus saling berdekatan, tapi keluarga selalu saling mengingat dan mencintai. Ah, rasanya aku kehabisan kata-kata... Aku cuma bisa bilang, aku beruntung, aku diberkahi... Setuju? :)


birthday girl,

Indi

-------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 07 Februari 2017

Mengunjungi Jamal: Teman Kecil dengan Semangat yang Besar :)

3 Januari 2017

Handphoneku bergetar. Waktu aku buka rupanya whatsapp dari Ibu yang sedang berada di ruang TV. Aku terkikik, ---karena jaraknya hanya beberapa meter saja dari kamar tidurku. Ibu memang sering mem-forward pesan-pesan yang didapat dari grup teman-temannya atau yang beliau dapat dari internet. Biasanya isinya seputar informasi seminar, dunia menulis atau bahkan sesuatu yang konyol. Tapi kali ini rupanya Ibu mengirimkan sesuatu yang lebih serius...
"Kak, besok kita jenguk Jamal, yuk. Tangannya baru diamputasi karena kecelakaan di pabrik bata."
Aku menatap peta lokasi rumah sakit Ibu kirim beberapa detik. 'Bagaimana jika ini hoax?' 'Ibu dapat informasi ini dari mana?' ---aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi akhirnya aku hanya membalas pesan Ibu dengan satu kata, "Iya."


4 Januari 2017

"Ayo, bangun. Kan kita mau jenguk Jamal."
Pagi-pagi Ibu sudah membangunkanku, padahal biasanya beliau cuek karena aku nggak punya 'jam kerja' alias ngantor di rumah. Mungkin karena nggak yakin dengan kebenaran cerita tentang Jamal, aku jadi lupa kalau kemarin setuju untuk ikut. 
Tapi well, karena kupikir alamat rumah sakit yang dimaksud nggak terlalu jauh, jadi aku putuskan saja untuk mengambil resiko. Kalau ternyata kabar itu hoax, at least aku bisa memperingatkan orang lain agar nggak tertipu (meski pasti tetap kesal, hahaha). Bukannya aku sceptical, tapi di zaman sekarang ini (aku manusia masa lalu, lol) situasi buruk pun bisa saja dimanfaatkan untuk diambil keuntungannya. Misalnya saja kejadian baby Fang Fang baru-baru ini (rest in peace, little angel). Di saat keluarganya sedang berduka beredar pesan berantai di BBM dan whatsapp yang isinya meminta donasi, padahal mereka sama sekali nggak pernah meminta, ---bahkan nomor rekeningnya pun entah milik siapa. Itulah kenapa aku lebih berhati-hati sekarang. Jangan sampai niat baik malah sampai ke orang-orang yang berhati busuk kaya Evil Queen...

Di perjalanan ke rumah sakit aku bertanya pada Ibu dari mana beliau mendapatkan berita tentang Jamal. Katanya dari grup alumni SMA nya, dan sudah ada yang mengecek kebenarannya. Ah, aku jadi lega dan tahu bahwa kedatangan kami nggak percuma :) 
Dari Ibu aku jadi tahu cerita memilukan tentang Jamal. Usianya baru 6 tahun, rencananya akan masuk TK sebentar lagi. Seperti anak-anak kebanyakan, Jamal sangat aktif dan rasa ingin tahunya sedang tinggi-tingginya. Tanpa rasa takut ia bermain dengan mesin press di pabrik bata tempat ayahnya bekerja. Sayang... karena kejadiannya sangat cepat, Ayah dan Kakek Jamal terlambat untuk menolongnya. Kedua tangannya sudah remuk. Ayah dan Kakek yang berusaha menyelamatkannya pun mengalami cedera. Bahkan jari tangan Kakek Jamal harus ikut diamputasi karena terlambatnya pertolongan.

Di tengah hari aku, Ibu dan Bapak tiba di rumah sakit. Saat tiba di pintu gerbang bangsal anak kami nggak langsung dipersilakan masuk. Mungkin karena kondisi Jamal yang belum bisa menerima banyak tamu. Nggak lama kemudian seorang satpam dengan sigap mengantarkan kami ke kamar Jamal yang letaknya di lantai 2 (---beneran sigap lho satpamnya, beliau sampai sempat antar aku ke toilet lalu mengantarkan kami lagi ke lantai 1, keren!). Jamal dirawat di kamar yang berisi 3 tempat tidur dan ia berada di paling ujung, dekat dengan lorong. Saat kami datang Jamal sedang disuapi seorang wanita yang ternyata adalah neneknya. Kesan pertama saat melihat sosoknya yang mungil dan bertelanjang dada, aku langsung tersenyum. He is such a handsome young man! ---dan nggak ragu, juga kuat. Pasti nggak mudah untuk beradaptasi dengan kondisi barunya, tapi aku lihat Jamal bisa, ia menggunakan kedua kakinya untuk 'mencolek' tubuh neneknya saat menginginkan sesuatu.

Sumber foto: Tribun Jabar.


Hatiku jadi ikut pilu waktu mendengar neneknya bercerita sambil terisak. Katanya selain ayah dan kakeknya yang nggak bisa menemani Jamal karena masih belum pulih, ibu Jamal juga kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh karena baru saja melahirkan. Iya, Jamal dan keluarganya bukan berasal dari Bandung, tapi dari Garut. Jadi selama di rumah sakit sejak akhir bulan Januari lalu segalanya diurus oleh neneknya. Secara fisik dan mental aku yakin situasi ini bukan hanya sulit bagi Jamal, tapi juga keluarganya. Aku nggak terlalu mengerti Bahasa Sunda, tapi dari matanya aku bisa melihat dengan jelas bahwa Jamal sedikit frustasi ketika ingin menunjuk ayam suir yang berada di atas piring makan siangnya. Dan itu membuat neneknya (lagi-lagi) menitikkan air mata karena butuh beberapa saat bagi beliau untuk mengerti keinginan cucunya. 
Aku dan keluarga nggak berlama-lama, kami langsung pamit pulang setelah memberikan sedikit oleh-oleh untuk Jamal. Sayang sekali neneknya nggak punya kontak untuk dihubungi, padahal kami ingin sekali mendapat kabar dari perkembangan Jamal kelak. 

Dokumentasi pribadi. Jamal sedang disuapi neneknya.


Setelah bertemu langsung dengan Jamal aku jadi mencari tahu lebih banyak tentang kejadian yang menimpanya. Rupanya tangan kanan Jamal sebenarnya ada kemungkinan bisa selamat seandainya nggak terlambat dibawa ke rumah sakit. Tapi sayangnya akses ambulance nggak ada di tempat mereka tinggal (daerah pelosok Garut), jadi tangan kanan Jamal terlanjur menghitam dan membusuk. It's a shame bahwa baru setelah kejadian tragis ini baru ada perhatian tentang accessibility di daerah terpencil... Kabarnya Dedi Mulyadi (DPD Golkar I Golkar Jabar) menginstruksikan para anggota legislatif di daerah dan provinsi untuk memperjuangkan hak masyarakat berupa fasilitas kesehatan ambulance agar nantinya nggak ada lagi Jamal-Jamal yang lain. But well... it's better than nothing. Mudah-mudahan saja akses kesehatan bisa dijangkau di seluruh pelosok Indonesia.

Meski nggak mudah, tapi meratapi nasib nggak akan mengubah apa-apa. Aku yakin masa depan Jamal cerah. Ia aktif, pandai mengaji dan berkeinginan kuat. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah bersama-sama mendukungnya untuk melewati masa penyembuhan. Fisioterapi nantinya tentu akan dibutuhkan untuk adaptasi dengan kondisi barunya. Dan jika Jamal menghendaki, ia juga bisa memakai lengan palsu nanti (klik di sini jika ingin berdonasi untuk lengan palsu Jamal). Tapi untuk sekarang jika ada teman-teman yang ingin menjenguk Jamal dan membawakan sesuatu, kalian bisa memberinya diapers anak, dan makanan untuknya juga neneknya. Katanya Jamal mulai bosan dengan menu rumah sakit yang itu-itu saja :) Dan Jamal juga membutuhkan mainan untuk menemani melewati hari-harinya saat menjalani perawatan. Mainan adaptatif adalah pilihan yang wise, kalian bisa membawakan sesuatu yang bisa dimainkan oleh kaki seperti "simon says" (maaf aku lupa apa istilahnya) atau ring dengan berbagai ukuran yang bisa dimainkan di pergelangan kaki. Nenek Jamal juga membutuhkan benda-benda yang bisa membuatnya nyaman seperti selimut, daster atau baju ganti.

Jika ada teman-teman yang tinggal di Bandung, atau sedang mengunjungi Bandung. Kalian bisa menjenguk Jamal di sini: 
Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung (RSHS)
Kamar inap anak, Kemuning. Lantai 2 kamar 2 atas nama: Jamaludin.


salam,

Indi

----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 05 Juli 2016

My Blessed Birthday! (Dapat "Kado" Mampir ke IGD, hihihi) :D

Haloooo,howdy-do my friends? Wah, sudah bulan Juli rupanya, ---bulan Puasa juga hampir selesai. Aku dari mana saja, ya? Hihihi *pura-pura lupa* Jadi gimana guys puasanya? Semoga lancar ya. Dan berhubung sebentar lagi Lebaran, aku mau sekalian minta maaf lahir dan batin. Mohon maaf kalau ada tulisanku di sini yang nggak berkenan untuk kalian. Aku nggak pernah bermaksud begitu, kok. Sebisa mungkin aku berusaha agar tulisan-tulisanku santun meskipun tetep jujur :D By the way ngomong-ngomong soal bulan Juni yang sudah berlalu, ada yang ingat nggak sih kalau di bulan itu aku ulang tahun? Nggak ada, kan? Hehehe *jawab sendiri* Sebenarnya aku sendiri nyaris nggak ingat, lho. Soalnya selain lately ada 'sosok' yang mengganggu pikiran (---gosh, seriously biasanya aku nggak se-over thinking ini, lol), aku juga sedang sakit. Jadi selama beberapa hari di bulan Juni aku hanya menghabiskan waktu beristirahat di kamar. Kadang ingat juga sih kalau hari ultahku semakin dekat, tapi konsentrasiku memang sedang terpecah-pecah. Sampai menjelang tanggal 8 aku malah lupa kalau itu seharusnya jadi hari yang paling ditunggu-tunggu! Aduh! :D

Dulu sih kalau aku sakit menjelang ulang tahun dibilangnya kebetulan atau sugesti, tapi semakin besar meskipun lupa tanggal tetap saja ujung-ujungnya sakit, hihihi. Kayanya sih ini 'tradisi' dari tubuhku sebagai reminder untuk lebih menjaga kesehatan :) Waktu ingat kalau hari ulang tahun semakin dekat aku jadi dilema antara mau merayakannya atau nggak. Sejak aku lahir sampai sekarang rasanya belum pernah satu kalipun nggak merayakan ulang tahun. Eits, jangan salah mengerti ya... Merayakan yang dimaksud bukan berfoya-foya, tapi sebagai bentuk rasa syukur karena masih diberikan usia untuk terus berpetualang oleh Tuhan, dan yang paling penting ini menjadi moment untuk mengenang saat-saat aku lahir ke dunia, ---moment betapa bahagianya Ibu dan Bapak ketika bertemu aku untuk pertama kalinya :) Meski sederhana, di hari ulang tahun biasanya aku berusaha memberikan 'personal touch'. Ya, diberi tema ala kadarnya agar lebih berkesan. Tapi untuk tahun ini jangankan tema, kuenya saja belum tentu ada, hihihi.

Di tanggal 10 Juni entah kenapa seperti ada suara dalam kepala yang bilang, "Ayo, rayakan saja, Indi... Rayakan...". Lol, just kidding. Yang betul Ibu terus-terusan bertanya tentang ulang tahunku. Katanya kenapa aku nggak mengundang teman-teman dan makan-makan seperti biasa. Setelah dipikir-pikir, betul juga, ---why not?! Untuk tema memang sudah hampir mustahil, tapi untuk mengundang beberapa orang sepertinya masih bisa. Jadi menjelang tengah malam aku mengirim pesan pada beberapa teman untuk datang ke rumah orangtuaku esok sorenya. Reaksi mereka? Sudah pasti surprise, dong, hihihi. Mereka mengira untuk pertama kalinya sejak mengenalku, tahun ini akan jadi tahun perdana tanpa syukuran ultahku :p Aku mengundang 4 orang teman dan semuanya kompak menjawab "insyaallah" yang sadly malah diartikan sebagai 'nggak janji', lol. Aku pikir, ya sudahlah yang penting berniat baik untuk mengundang. Iseng-iseng aku juga meminta Dhian, salah satu temanku (---well, she's my BFF) untuk membuatkan kue ulang tahun. Dan jawabannya adalah... "nggak janji." Wuaaah, rupanya harus siap-siap nggak ultah deh tahun ini, huhuhu.

Meski aku bilang kalau nggak yakin akan merayakan ultah, tapi Ibu tetap menawarkan diri untuk memasak. Katanya kalau bersiap-siap dari pagi sebelum sore juga bisa selesai memasak. Ya sudah, aku request makanan kesukaanku; spageti dan salad. Dan dengan inisiatif sendiri Ibu juga memasak nasi goreng. Katanya kalau bulan Puasa mungkin orang akan lebih pilih nasi daripada mie, hihihi. Supaya nggak sepi aku juga membeli permen, soda, biskuit dan solo cup. Semuanya sengaja kupilih yang berwarna pink, jadi meski nggak bertema tapi ulang tahunku tetap terlihat 'rapi' dan cocok dengan desain undangan bergambar Hello Kitty yang kukirim via online. Belakangan aku sedang senang bereksperimen dengan resep-resep makanan manis, sekalian unjuk gigi (lol) aku membuat rum ball plus Pocky dan Pejoy stick yang katanya sih enak :p Tepat sebelum jam 5 sore aku mendapat kabar Angie yang terjebak hujan dan Cut Hanna yang sedang sakit karena terjatuh sampai nggak sadarkan diri (——Aduh, Acut…) :( Sudah pasti mereka plus Ima berhalangan hadir. Aku memang nggak begitu berharap karena undangannya super mendadak, jadi rasanya senang sekali waktu tahu Dhian dan Ray sudah di perjalanan menuju rumah orangtuaku :D


Seolah sudah janjian, Puja (my bro), istri dan anaknya, Nenek dan juga Tante datang dalam waktu hampir bersamaan. Ray dan Dhian pun menyusul nggak lama kemudian. Wah, surprise Dhian pakai baju warna pink, padahal nggak ada dress code nya, lho, hihihi. Itu membuat kami terlihat kompak karena aku juga memakai dress berwarna pink. Dan ternyata bukan hanya baju Dhian yang warnanya senada, kue yang ia buatkan untukku pun berwarna pink dan bergambar Hello Kitty! Wah, tanpa sengaja ulang tahunku jadi bertema Hello Kitty nih, seperti 2 tahun yang lalu, hihihi. Sama seperti reaksi Dhian dan teman-teman yang lain, Nenek juga kaget kenapa aku merayakan ulang tahun dengan begitu mendadak. "Coba kalau Emah dikasih tahu dari kemarin-kemarin, pasti bawa kado," begitu katanya. Aku jawab saja, "Kado bisa menyusul, kok, hihihi."





Seperti yang sudah-sudah nggak ada 'jadwal' khusus saat ulang tahun. Kami hanya mengobrol random sana-sini dan tahu-tahu waktu berlalu. Sebelum makan makanan berat kami menikmati rum balls buatanku. Ini adalah kali pertama Ray dan Dhian mencicipinya, biasanya hanya keluarga di rumah yang aku jadikan 'kelinci percobaan' dari resep-resepku :p Ternyata menurut mereka enak, meskipun nggak terbiasa karena rumnya begitu kuat. Hehehe, sebenarnya aku kan sengaja, ini adult snack gitu, ---anak-anak dilarang coba :p Setelah menghabiskan beberapa rum balls, Ibu langsung memanggil kami untuk makan. Ada yang lucu, sebelumnya kami mengobrol seru (baca: ngomongin orang, lol) tentang 'kenalan' kami yang kombinasi menu makanannya ajaib. Ada yang lontong campur spageti dan ada yang nasi goreng campur sop buntut. Eh, ternyata kami juga begitu, habis makan spageti disusul dengan nasi goreng. Untung saja nggak digabung dalam 1 piring seperti 'kenalan-kenalan' kami itu, hihihi :D Meski begitu kami tetap kekenyangan maksimal. Padahal kue buatan Dhian belum dicicipi, lho :)






Karena waktu sudah semakin larut, jadi kami nggak menunda-nunda waktu. Begitu selesai makan langsung tiup lilin dan potong kue! Nasi goreng dan spagetinya hanya diberi waktu untuk turun ketika kami bernyanyi "Selamat Ulang Tahun" dan "Potong Kuenya", saja, hehehe. Tapi berhubung kuenya Dhian enak (dan cute!) jadi perut kami masih sanggup untuk menampung masing-masing 1 potong kue. Meski sederhana dan serba mendadak tapi moment seperti ini selalu membuatku terharu dan super bahagia. Rasanya aku sangat dicintai dan diberkahi, ---orang-orang yang disayangi rela meluangkan waktunya untukku :) Seperti biasa Ray menjadi juru foto dan mengabadikan moment ulang tahunku. Well, kalau ada Ray Bapak biasanya memang bisa 'beristirahat' dulu dari perannya sebagai fotograferku :p Sekitar pukul setengah 9 malam Dhian pamit pulang. Kami sempat bergurau bahwa ia adalah tamu VIP, ---padahal sih memang yang diundang sedikit dan kebetulan berhalangan hadir, hihihi. Aku bersyukur sekali punya sahabat yang selalu berusaha ada untukku. Kalau diingat-ingat, Dhian inilah yang nggak pernah absen setiap kali aku berulang tahun :)



Setiap ulang tahun rasanya selalu berbeda, tapi semuanya istimewa. ---Dan kalau boleh aku bilang semuanya 'the best', hehehe. Katanya saat berulang tahun adalah waktu untuk merenung, menjadi lebih wise karena waktu di dunia semakin sebentar. Aku nggak menolak itu, tapi juga memilih untuk merayakannya. I'm so blessed untuk bisa menikmati waktu menyenangkan di dunia. Aku grateful dan ini adalah caraku mengekspresikannya :) By the way hanya beberapa jam saja setelah acara ulang tahun, aku dengan diantar Ray pergi ke IGD karena ada rasa nyeri di private areaku. Rupanya aku punya kista bartholin yang ukurannya kira-kira seujung jari kelingking. Dokter memintaku untuk nggak terlalu khawatir dulu dan memeriksakannya kembali ke gynecologist keesokan harinya. I did, dan another surprise, ---ternyata aku juga punya hernia. That's why terkadang jalan kaki terasa nggak nyaman untukku, uhuhuhu. Apa aku kaget? Iya. Apa aku khawatir? Iya. Tapi aku nggak takut karena selama ini selalu berusaha menjaga kesehatan. Aku yakin bisa segera mengatasinya ;) Dan aku anggap ini juga kado dari Tuhan, karena bisa mengingatkanku bahwa hidup itu seperti roda. Aku baru bersenang-senang dengan orang-orang yang aku cintai dan beberapa jam kemudian berakhir di IGD. Aku bisa bilang apa lagi?... I'm blessed ;)

My newest ukulele cover, rasanya menggambarkan sekali apa yang sedang aku alami, hihi :D


blessed birthday girl,

Indi


(Diedit 10/3/2024. I just realized that this is my last post that mentioned "Ray". I decided to end our relationship shortly  after my birthday, —-silently but very confident that I had made the right decision. I cut off all contact with him and there is no hatred. It's just as simple as I know he's not the one 😊).

_______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here

Rabu, 20 November 2013

My Breast Tumor Story :)

Ah, akhirnya gue dapat kesempatan untuk berbagi tentang "perjalanan menuju kesembuhan dari tumor payudara" gue :D 
Teman-teman yang sudah membaca tulisan-tulisan gue sebelumnya pasti sudah tahu bahwa semua begitu mendadak dan agak membingungkan. Tanggal 1 November yang lalu dengan bantuan naluri Eris, anjing golden retriever gue, dokter menemukan tumor di payudara kiri gue. Dan satu hari kemudian dari hasil USG ketahuan bahwa tumor gue sudah cukup besar, yaitu berdiameter sekitar 3 Cm dan harus segera dioperasi. Yang membuat gue bingung bukan rasa takut karena harus berhadapan dengan pisau bedah, tapi karena semua begitu mendadak gue harus atur-atur waktu dengan jadwal pekerjaan yang sudah diatur sejak lama. Syukurlah untuk pekerjaan di preschool gue bisa langsung minta cuti, tapi untuk pekerjaan yang sudah jauh-jauh hari disanggupi, terpaksa jadwal operasi lah yang mengalah. Di detik-detik yang seharusnya beristirahat dalam rangka pasca operasi, gue malah masih sempat menjadi pembicara tamu di "Club of Public Speaking UNPAD" (baca ceritanya di sini), hehe. Syukurlah meski saat itu keadaan gue sedang kurang baik (batuk, pilek, demam, etc) tapi hasil tes gue tetap bagus dan operasi tetap dilakukan sesuai jadwal, alias hanya 3 hari setelah gue menjadi pembicara! :p

Hasil USG payudara kiri gue. Yang bulat hitam itu adalah tumornya.

Meski waktunya sangat pendek untuk persiapan mental (hanya 10 hari sejak ketahuan punya tumor!) tapi gue sangat siap untuk menjalankan operasi. Di tengah-tengah pekerjaan (yup, gue tetap bekerja di preschool dan hanya izin 1 hari untuk tes di Lab) gue menyempatkan diri untuk googling dan bertanya pada beberapa orang yang pernah mengalami operasi yang sama. Bukan itu saja, dengan mengabaikan bahwa gue bisa saja "beresiko mundur" (lol), gue juga membuka video-video proses operasi tumor payudara! Well... memang seram sih, tapi at least gue tahu bahwa 80% dari operasi serupa berpotensi berhasil, dan tentu saja itu membuat gue semakin optimis :)

Jadi pada tanggal 11 November gue beserta Ibu dan Bapak pergi ke Rumah Sakit Immanuel Bandung untuk operasi pengangkatan tumor payudara gue. Dengan berbekal doa, CD Aerosmith untuk diputar selama operasi dan sebuah boneka Hello Kitty pemberian Ray, kami sudah stand by sejak jam 2 sore meski operasi dijadwalkan 1 jam lagi. Suasana hati gue sangat tenang dan terkadang malah over exited karena sebagai penggemar serial ER gue ingin melihat ruang operasi secara langsung, hehehe. Yang mengganggu gue hanya satu, yaitu perasaan lapar yang amat sangat karena gue diminta untuk berpuasa terlebih dahulu. Nah, karena dasarnya memang sleepy head, gue malah makan di larut malam dan memilih tidur sampai menjelang siang hingga puasa yang seharusnya hanya 6 jam jadi bablas sampai (terasa seperti) ratusan jam :( Apalagi ternyata jadwal operasi gue harus diundur 1 jam karena dokter Kiki Ahmad sedang mengoperasi pasien lain. Untung saja batere handphone gue sudah terisi full, jadi sambil menunggu gue, Ibu dan Bapak googling foto-foto Steven Tyler! Hehehe, I know, I know... kinda silly, tapi kadang kami sekeluarga merasa "kenal" dengan vokalis band Aerosmith itu. Kami melihat-lihat foto Mr. Tyler sejak dia kecil, muda sampai sekarang. Ibu yang penasaran dengan bentuk jari kaki Steven Tyler pun (wut???) jadi lupa dengan perasaan nervous nya dan berganti menjadi banyak tawa. Iya, meski gue yang akan dioperasi tapi Ibu memang terlihat agak khawatir. Sejak tiba di ruang tunggu beliau terus berdoa, dan ternyata Steven Tyler bisa membuatnya lebih relax, hehehe. Kami baru saja mau googling foto-foto Ozzy Osbourne ketika seorang perawat memanggil nama gue dan meminta kami semua pindah ke ruang tunggu khusus.

Gue berpose di ruang tunggu, hehehe :)

Kami menunggu sambil menonton film "Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest" di televisi yang disediakan. Gue perhatikan ada 2 pasien lain yang juga menunggu giliran operasi dengan ditemani keluarga masing-masing. Yang seorang adalah perempuan yang tampaknya lebih muda dari gue, sedangkan yang seorang lagi sepertinya hampir seusia dengan nenek gue. Gue menonton film sambil terus memeluk boneka, sementara Ibu cukup exited dengan kegantengan Johnny Depp. Sedangkan Bapak? Beliau sedikit terkantuk-kantuk dan nggak peduli dengan filmnya karena sudah menonton beberapa kali, hehehe. Sekitar 10 menit kemudian nama gue dipanggil oleh seorang perawat. Gue, Ibu dan Bapak langsung buru-buru masuk ke ruang operasi dengan bawaan masing-masing. Tapi ternyata gue hanya boleh ditemani satu orang. Itu pun hanya sampai garis kuning. Gue pilih Ibu karena beliau perempuan, lalu memeluk Bapak sekilas sambil mengucapkan sampai jumpa. Nah, baru sekarang gue merasa agak nervous. Gue sedikit memohon pada perawat dan dokter agar diizinkan membawa boneka supaya perasaan gue lebih tenang. Sayangnya boneka nggak boleh menyentuh meja operasi, tapi mereka berjanji akan meletakannya di tempat yang cukup dekat dengan gue dan kami akan segera bertemu setelah gue sadar nanti. Gue setuju, lalu dengan bantuan Ibu gue berganti baju dengan kostum rumah sakit. Setelah itu gue langsung dibaringkan di dalam ruangan kaca. Dari baliknya gue melambaikan tangan pada Ibu yang berdiri di belakang garis kuning sambil meremas-remas baju yang tadi gue pakai.
"Jangan kusut," gue berbisik sambil melotot dan menjulurkan lidah. Mencoba membuat Ibu ---dan juga gue--- agar lebih tenang...

Ruang kaca tadi rupanya berfungsi untuk membuat gue steril. Seorang perawat memberitahu bahwa gue akan merasa seperti ditiup dan akan lebih baik jika gue menutup mata. Dengan perasaan yang satu tingkat lebih nervous dari sebelumnya gue bertanya apakah tekanan udaranya akan kuat. Perawat itu tersenyum dan berkata, "Nggak". Dia lalu menghitung mundur dan tiba-tiba saja tekanan udara yang SANGAT kuat muncul dari atas ruang kaca! Entah mengapa gue merasa ini lucu sekali. Poni gue jadi acak-acakan dan gue berusaha merapikannya dengan jari sambil tertawa-tawa meski tahu itu percuma. Luar biasa, mood gue langsung kembali ceria. Perawat yang tadi dan seorang dokter anastesi ikut tertawa ketika gue dipindahkan ke meja operasi. Gue jadi nggak yakin bahwa tindakan tadi adalah untuk membuat gue steril, karena setelah apa yang gue alami sepertinya mereka menyemprotkan gas tertawa untuk menjaga pasien agar nggak nervous selama operasi, hehehe. Seorang perawat lalu mencoba memakaikan topi steril, tapi setelah beberapa kali percobaan akhirnya gue memakainya sendiri. "Rambutnya terlalu tebal", dia berkomentar sambil tertawa karena melihat gue mengibas-ngibas rambut dengan cara yang dibuat-buat. Dokter anastesi memasangkan 2 buah plester di bahu gue, entah untuk apa. Gue juga nggak bertanya karena kami malah sibuk mengobrol. Sambil menunjuk ke arah pintu dia berkata bahwa boneka gue ada dekat sekali dengan ruangan ini. Tanpa kacamata dan lensa kontak gue nggak bisa melihat dengan jelas, tapi gue yakin sedang dikelilingi dengan wajah-wajah yang ramah. Seorang perawat memasangkan infus di punggung lengan kiri gue. Katanya itu adalah obat anti alergi karena gue mempunya list alergi yang cukup panjang, hehehe. Lalu satu suntikan diberikan di tempat yang sama, katanya itu obat bius. Tapi gue nggak merasa mengantuk, melainkan merasa sedikit kesemutan di wajah dan pegal yang amat sangat di lengan kiri. Karena nggak nyaman gue langsung protes, "Dok, aku nggak ngantuk nih! Jangan-jangan nanti waktu dioperasi aku masih sadar." Semua menanggapinya dengan tertawa, lalu dokter anastesi menjelaskan bahwa gue akan mengantuk setelah "meniup balon". Dia menunjukan sebuah benda yang selama ini gue pikir bernama "masker oksigen". "Ini balonnya," dia menambahkan. Gue mengerlingkan mata karena sadar sedang diperlakukan seperti anak kecil. "Ayo tiup balonnya sekarang." Gue tertawa, lalu "Pffffhhh", meniupnya sekencang-kencangnya. Gue nggak merasakan reaksi apa-apa lalu membaca doa tidur kencang-kencang.
"Eh, eh! Aku ngantuk! Aku ngantuk! Good night semuanya!" 
Gue berkata begitu cepat karena tiba-tiba merasa SANGAT mengantuk.

***

Gue merasa ada yang sedang mengelus-elus lengan kanan gue. Pelan-pelan gue membuka mata dan melihat beberapa sosok perawat, dokter anastesi dan dokter Kiki Ahmad sedang berdiri di hadapan gue. Tiba-tiba gue tersenyum lebar, salah seorang perawat mengacungkan boneka Hello Kitty lalu meletakkannya di pelukan gue. Segera gue memeluknya erat-erat hingga berhimpitan dengan dada. "Jangan dulu, tadi kan baru operasi," seorang perawat mengingatkan sambil meletakkannya hingga selevel dengan perut gue.
Kedip.. kedip... gue melirik ke arah dada kiri yang sudah tertutup plester.
Astaga! Gue baru ingat kalau ini "dalam rangka" operasi pengangkatan tumor payudara! Semuanya terasa begitu cepat! Saking cepatnya gue mengira bahwa tadi sama sekali nggak tertidur. Makanya gue begitu girang ketika bertemu kembali dengan boneka Hello Kitty. Karena seingat gue, tadi dengan ditemani Steven Tyler yang memakai cat kuku berwarna ungu, kami sedang mencari-cari boneka itu ke seluruh penjuru rumah sakit. Ah, iya! Pantas saja tadi Steven Tyler bisa bicara bahasa Indonesia. Seharusnya gue sudah langsung sadar kalau itu cuma mimpi, hehehe.

Seorang perawat meminta gue untuk mencoba kembali tidur. Katanya gue pasti masih lemas karena masih dalam pengaruh obat bius. Tapi gue menolak karena sama sekali nggak merasa mengantuk. Yang terjadi malah gue merasa sangat segar dan bersemangat. Mimpi yang baru gue alami tadi terasa begitu nyata. Entah karena masih terpengaruh "gas tertawa" atau memang cerewet, gue langsung mengambil posisi setengah duduk dan bercerita tentang mimpi super keren yang detailnya sangat gue ingat dengan jelas. Lucunya seluruh perawat mau mendengarkan sambil mengelilingi tempat tidur gue. Saking semangatnya alat deteksi jantung yang ditempelkan di jempol gue sampai lepas berkali-kali. "Aku lepas saja, ya? Sudah sehat kok," ---hingga gue harus berhenti sebentar dan meletakan alat itu dulu di bantal, lalu melanjutkan cerita kembali dengan diikutii anggukan kepala para perawat yang terlihat sangat antusias. Errr... atau seenggaknya pura-pura antusias, hehehe.

Suara gue sepertinya mengganggu seorang pasien yang juga baru tersadar dari pengaruh obat bius. Dia adalah seorang ibu yang sebelumnya sempat bertemu di ruang tunggu khusus. Karena asyik bercerita gue jadi nggak sadar bahwa di ruangan ini ada 2 pasien lain yang juga baru menjalani operasi yang sama.
"Dok, air.... Dokter, sakit..." suaranya terdengar parau dan kesakitan sehingga membuat gue sedikit takut dan langsung terdiam. Perawat yang berdiri paling dekat dengan gue sepertinya mengerti dengan perubahan ekspresi wajah gue. Dia langsung meminta gue kembali berbaring dan mendorong tempat tidur gue ke seberang ruangan yang diberi sekat tirai berwarna hijau. "Nah, makanya sebelum dibius bayangkan yang indah-indah saja, jadi waktu bangun nggak kesakitan," dia berbisik sambil menutup tirai rapat-rapat dan meninggalkan gue berdua saja dengan boneka Hello Kitty.


Gue lalu menunggu, menunggu dan menunggu. Dari jam dinding yang ditempel di ujung ruangan dan sedikit terhalang oleh tirai gue bisa mengintip bahwa waktu kira-kira sudah menunjukan pukul 7 malam. Terdengar suara kursi roda dan tempat tidur dorong dari seberang ruangan. Dua orang pasien lain sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Nah, bagaimana dengan gue? Dengan perasaan cemas karena ditinggal sendirian dan pegal karena bosan berbaring gue memanggil seorang perawat yang tampaknya nggak terlalu sibuk. Gue bertanya kapan boleh meninggalkan ruangan dan dia menjawab "nanti." Nggak puas dengan jawabannya gue nggak kehabisan akal. Gue yang sudah ingin cepat-cepat berganti baju dan pulang ke rumah pun berpura-pura ingin pipis, hehehe. Tapi perawat itu ternyata punya cara untuk menahan gue: dia menyodorkan pispot dan meminta gue pipis di atas tempat tidur, hahaha! Wah, gawat deh kalau begini. Maksud gue berpura-pura kan supaya diizinkan keluar ruangan. 
"Malu!" akhirnya gue putuskan untuk menolak dengan wajah yang dibuat (pura-pura) ketus. Bukannya takut, perawat malah tertawa karena reaksi gue. Katanya, memang sudah tugasnya untuk membantu pasien supaya nggak banyak bergerak dulu, jadi gue nggak punya alasan untuk malu. Hmm... stock alasan gue jadi habis, deh. Ya sudah gue mengaku bahwa sudah bosan karena berbaring terus dan ingin segera pulang. Acting wajah memelas gue berhasil, meski dia nggak mengizinkan gue berjalan-jalan tapi gue boleh duduk sambil menunggu Ibu dan Bapak menjemput gue. Katanya sekarang bisa saja gue merasa segar, tapi harus hati-hati karena bisa tiba-tiba pusing dan malah pingsan. 

Nggak disangka kami berdua malah menjadi akrab. Sambil menunggu Ibu dan Bapak datang gue melanjutkan cerita tentang mimpi gue yang tadi, hehehe. Dari soal mimpi obrolan kami melebar sampai jauuuuh sekali. Dia bercerita bahwa anak perempuannya juga menyukai Hello Kitty dan punya boneka yang sama dengan gue. Dia bahkan menunjukan ipad nya yang dipenuhi dengan gambar tempel Hello Kitty, hehehe. Eris juga ikut menjadi tokoh di obrolan super seru-cerewet kami (untung pasien lain sudah pindah, lol). Gue bercerita bahwa anjing gue lah yang pertama kali menemukan tumor di dada kiri yang tadi baru saja diangkat. Kami pun langsung membanjiri kata-kata pujian untuk Eris. Kalau dia manusia mungkin telinganya sudah merah sekarang, hehehe. Perawat yang baik hati itu menjelaskan bahwa penciuman anjing sangat tajam, dan yang Eris cium adalah "bau busuk" yang dikeluarkan dari tumor tapi nggak cukup kuat untuk tercium oleh manusia. 
Di tengah-tengah obrolan kami Ibu muncul dari balik tirai dengan wajah yang terlihat cemas. Beliau langsung menciumi pipi dan kening gue berkali-kali. Katanya beliau lega sekali karena operasinya berjalan lancar dan gue tampak sehat :) Ah, senang rasanya ketika akhirnya perawat berkata gue sudah boleh berganti baju dan minum sedikit air untuk memastikan nggak ada komplikasi setelah operasi. Gue langsung melompat dari atas tempat tidur dan membongkar tas ransel yang Ibu bawa. Gue minum beberapa teguk air dari botol minum yang sengaja dibawa dari rumah, memakai lensa kontak (yang langsung membuat perawat 'shock' karena khawatir gue pusing) dan mengganti kostum rumah sakit dengan baju dan rok berwarna pink kesayangan gue. Nggak lupa gue sedikit menyisir rambut dan memakai parfum supaya bau antiseptik nggak terlalu tercium. "Centil," Ibu berbisik kepada perawat dan dibalas dengan senyuman yang hampir seperti tawa.

Perawat bertanya apakah gue merasa mual atau pusing. Gue menjawab bahwa semua terasa baik-baik saja kecuali perut gue yang terasa lapar. Gue ingin sekali segera makan pizza, salad dan minum berbotol-botol teh manis (lol). Perawat berkata gue boleh makan semuanya ketika pukul 9 malam nanti, setelah yakin bahwa kondisi gue baik-baik saja. Meski gue sudah cuek jalan-jalan di dalam ruangan, tapi ternyata gue masih harus menunggu perawat lain datang untuk membawa gue ke ruang pemulihan. Di sana nanti gue akan diperiksa kembali oleh dokter dan diberitahu apakah harus dirawat inap atau sudah boleh pulang ke rumah. Gue ingin langsung pulang ke rumah tentu saja, karena dulu pernah mengalami dirawat di rumah sakit selama 8 hari, dan gue benar-benar bosan sampai setiap hari mencoba memaksa sipapun yang menjenguk untuk menyelundupkan junk food :( Hehehe...

Nggak menungu lama seorang perawat laki-laki (yang tadinya gue panggil "suster laki-laki", lol) datang sambil mendorong kursi roda. Katanya, meski gue merasa sehat tapi tetap harus menuruti prosedur ini, karena kalau gue nggak menurut nanti malah dia yang dimarahi dokter. Hmm, kasian juga kalau dia harus dimarahi gara-gara gue, ya... 
Oh, iya sebelum berpisah dengan perawat yang menemani gue di ruang operasi, kami foto-foto dulu, lho. Ya, ampun dia lucu sekali. Katanya dia senang dengan gaya berpakaian dan rambut gue yang tebal. Mengingatkan dengan Hari yang bernyanyi lagu "Gwiyomi" katanya. Ruangan pun kembali ramai dengan suara kami, karena kami berpose untuk foto sambil terus tertawa :D Gue, Ibu dan Bapak ---yang baru saja datang menyusul masuk ruangan pun--- berpamitan. Perawat yang super kocak itu mendoakan agar gue selalu sehat, dan kalau sampai suatu hari kembali lagi ke rumah sakit harus untuk kesempatan launching novel, bukan untuk operasi atau masalah kesehatan lainnya, hehehe. Gue, Ibu dan Bapak meng"amen"kan doanya. Dengan canggung gue duduk di kursi roda dan melambaikan tangan padanya. Samar-samar gue mendengar dia bernyanyi lagu "Gwiyomi" sambil tertawa. Sebenarnya gue malu, tapi gue putuskan untuk meminta perawat yang sedang mendorong gue menghentikan kursi rodanya. Gue mengangkat kedua tangan di depan wajah, menempelkan jari telunjuk dan jari jempol sehingga menyisakan 3 jari yang berdiri tegak. Dengan gerakan cepat gue meniru gaya Hari dan mulai bernyanyi, "Gwi.. Gwi... Gwiyomi. Gwiyomi!"

Baru keluar dari ruang operasi tapi malah gue doang yang tanpa kostum rumah sakit :p

Gue diantar ke ruang pemulihan dan diminta kembali berbaring. Tapi gue benar-benar nggak merasa lelah jadi duduk-duduk saja di atas tempat tidur sambil mengobrol dengan Ibu dan Bapak. Mereka penasaran dengan apa yang gue rasakan selama pengangkatan tumor. Hehe, mereka lucu, gue kan dibius jadi sudah pasti nggak bisa merasakan apa-apa. Sebagai gantinya gue ceritakan tentang mimpi yang super keren gue dan apa yang terjadi setelah gue sadar. Dokter Kiki sempat menunjukan tumor di dalam toples yang tadinya berada di dalam payudara gue. Bentuknya seperti bakso dan ewww, ternyata terlihat lebih besar daripada yang terlihat di USG. Bapak tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya. Katanya beruntung gue seorang vegetarian, karena kalau bukan pasti gue akan trauma seumur hidup terhadap bakso urat, hehehe. Nantinya tumor gue akan dibawa ke Lab untuk diperiksa apakah ada sel kankernya atau nggak. 
Selama menunggu hasil pemeriksaan dokter, Iie (tante) dan Uak ternyata datang menjenguk. Mereka kebingungan karena gue sudah memakai baju biasa dan tampak ceria. Iie malah meyangka bahwa gue sedang bersiap-siap dioperasi. Dan bukan hanya Iie saja ternyata yang "tertipu". Seorang perawat datang untuk membawakan makan malam dan dia berdiri kebingungan di depan kami. Katanya, "Maaf, ini pasiennya yang mana, ya?"
Hehehehe...

Sambil menunggu kabar dokter gue sempat meminta lipgloss pada Ibu untuk main dandan-dandanan :p
Ini bekas infus hampir terbawa pulang, hahaha...

Syukurlah hasil pemeriksaan menunjukan bahwa gue baik-baik saja. Meskipun alergi tapi gue nggak ada masalah dengan anastesi dan jahitan operasinya. Gue sempat mengintip lukanya dan mengira-ngira panjang dari jahitannya sekitar 3 Cm. Tepat di daerah areola sesuai permintaan gue, karena meski letak tumornya agak di atas gue ingin bekas lukanya lebih samar karena warna areola cenderung gelap di bandingkan daerah payudara lain :) 
Dua orang perawat yang akan mengantarkan gue ke mobil bertanya lagi apakah gue benar-benar siap untuk pulang. Dengan mantap gue jawab "Iya!" sambil mengedipkan sebelah mata ala Mr. Bean, hehehe. Salah satu dari mereka berkata bahwa gue adalah "anak super" karena dua pasien yang dioperasi bersamaan dengan gue tadi memilih untuk rawat inap selama 2 hari. Gue tertawa. Gue tahu betul bahwa gue bukan "anak super". Gue ingin pulang karena tahu pasti nanti akan terasa lebih nyaman jika di rumah. Makan masakan Ibu, dipijiti Bapak jika badan gue sakit dan yang terpenting bisa tetap dekat dengan Eris yang telah menyelamatkan nyawa gue. Rasa sakit pasca operasinya mungkin akan terasa sama saja, baik dirawat di rumah sakit atau di kamar tidur yang gue sebut dengan Neverland. Tapi jika dikelilingi dengan orang-orang (dan juga seekor anjing, hehehe) yang gue cintai pasti rasanya lebih ringan ;)

Bye bye Rumah Sakit :D
Gue sampai ke rumah sekitar pukul 10 malam, hanya 3 jam setelah gue selesai operasi. Eris sudah menunggu di garasi dengan ekornya yang bergoyang-goyang bahagia. Gue memeluknya longgar dan mencium puncak kepalanya. Eris mengendus dada gue sebentar, lalu menatap gue keheranan. "Sudah hilang kan baunya?" gue bertanya menggodanya sambil tertawa konyol. 
Tanpa berganti baju dengan piyama gue langsung meminta Bapak untuk membelikan pizza dan salad di restoran terdekat. Gue benar-benar kelaparan sampai-sampai terus menunggu Bapak di depan pintu ketika beliau pergi. 30 menit kemudian apa yang gue inginkan akhirnya ada di hadapan gue. Seperti Oliver Twist yang menemukan makanan di bak sampah gue mengangkat satu potong pizza tinggi-tinggi, berdoa dan langsung melahapnya dengan suka cita. "Mau? Mau?" gue menawari Ibu dan Bapak sambil terus mengunyah. Mereka hanya tersenyum dan membiarkan gue makan sendirian karena tahu itu hanya penawaran basa-basi, hehehe. Sebelum pizzanya habis gue langsung melahap saladnya langsung dari kotaknya, menyisakannya setengah lalu kembali lagi menikmati pizza. Wah, memang bukan pemandangan yang indah untuk dilihat, tapi trust me, rasanya nikmat sekali! :D 


Tapi tiba-tiba saja, O-oww, dada kiri gue terasa nyeri. Gue melihat jam dinding dan waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Itu artinya reaksi obat bius gue sudah habis! 
"Yah, mulai terasa deh efek operasinya..." gue manyun sambil menatap pizza yang tersisa setengah pan lagi. 
Bagi ukuran "manusia normal" mungkin nampaknya gue sudah menghabiskan cukup banyak. Tapi bagi gue jumlah yang tepat itu ya harus 1 pan, nggak kurang nggak lebih, hehehe.
"Aku minum obat sekarang terus tidur, deh. Pizza nya dilanjutkan buat nanti sarapan," gue berkata sambil masuk ke dalam kamar, sementara Ibu dan Bapak tertawa di belakang gue. Dari sudut mata gue melihat Bapak mengambil 1 potong pizza. Gue tersenyum. Pura-pura nggak melihat.


Setelah itu gue tidur cukup nyenyak. Mimpi super keren yang gue alami di meja operasi ternyata masih bersambung. Gue mengizinkan Steven Tyler bermain dengan boneka Hello Kitty milik gue setelah dia mengajarkan cara mengecat kuku kaki dengan warna ungu mengkilap. 
Dan pagi-pagi sekali gue terbangun karena perasaan ngilu di payudara kiri. Sedikit mengganggu tapi nggak seburuk apa yang gue dengar dari orang-orang yang pernah mengalaminya. Gue sarapan di atas tempat tidur lalu menghabiskan sepanjang hari dengan menonton film tanpa ada yang menyuruh tidur cepat. 
Well, ini memang bukan perasaan paling nyaman sedunia, tapi gue yakin bisa melaluinya sampai gue benar-benar sembuh total. 
Karena kalau rasa sakitnya diabaikan, sebenarnya ini terasa seperti sedang liburan! Hehehe :p


anak super, lol,

Indi



*Catatan: 
~ 4 hari setelah operasi plester penutup jahitan dilepas. Rasanya ngilu dan membuat payudara gue sensitif bahkan jika hanya bersentuhan dengan kaos tipis.
~ Bengkak di payudara menjalar sampai ke dada, leher dan lengan setelah hari ke dua atau tiga. Menurut dokter itu wajar jadi nggak perlu terlalu khawatir. Gue mengatasinya dengan minyak telon dan kantung air panas.
~ Berhubung tumor gue cukup dalam (sekitar 4 Cm dari permukaan) dokter meminta gue untuk bersabar dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Mengangkat lengan dan tidur miring itu rasanya "wow" banget. Jadi gue disarankan untuk keramas di salon/dibantu orang lain dan tidur dengan posisi terlentang. Dokter beri gue morfin untuk membantu meredakan nyerinya, dan gue suka :p
~ Proses penyembuhan setiap pasien berbeda-beda. Ada yang cepat, ada juga yang lambat tapi pasti. Letak tumor, kedalamannya dan kondisi pasien mempengaruhi dalam proses penyembuhan. Jadi jangan dibanding-bandingkan ;)
~ Hasil Lab sudah keluar, dan nggak ditemukan sel kanker di tumor gue. Thank God! :)
~ Pukul 3 sore nanti jahitan gue akan dilepas. Semoga semuanya lancar. Amen :)

_________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 21 April 2011

Bahagia di Rumah Sakit dan Foodcourt "Bau Pesing" :p

Halo teman-teman! Apa kabar semuanya? Wah, kangen banget aku nulis di sini (kangen kalian juga tentunya, hihihi). Akhirnya hari ini aku ada kesempatan lagi buat nulis setelah sebelumnya terhambat oleh flu (ah, siapa sih yang enggak? Lol) dan hari-hari yang sibuk (padahal sih sok sibuk, lol). Senangnya :D

Jadi, hari ini aku mau cerita tentang kejadian tanggal 16 April 2011 lalu. Iie ku (panggilan untuk tante) baru saja selesai operasi indung telur dan harus rawat inap. Aku sebagai keponakannya yang terdekat (dan termirip. Serius! Sering disangka ibu-anak, hahaha) merasa sangaaaat bersalah karena belum sempat jenguk beliau. Untunglah Ray, hari itu bisa pulang kerja lebih cepat dan bisa temenin aku jenguk Iie.

Sebelum kami berangkat, aku SMS dulu Puja, adikku, yang juga mau jenguk Iie. Ternyata posisi dia (halah, kayak pemain bola saja! Lol) nggak jauh dari rumah. Tinggal ke luar dari jalan utama, bisa ketemu deh. Tapi memang aku anak yang berbakti, sebelum taxi kami pergi aku tanya dulu bokap yang kebetulan ada di depan rumah. Gue bilang, "Pak, kalau kita mau jemput Ade dulu enaknya lewat mana ya?". Dan bokapku yang tampan (serius, lho :) ) itupun menjawab: "Lewat D***i saja...".
Tanpa pikir panjang, aku langsung minta Pak Sopir untuk ikutin anjuran bokap. Meski dia sempet bingung, karena jalan yang dimaksud berarti memutar-putar-putar, tapi Pak Sopir tetap nurut tanpa banyak tanya :p

Dan... di sana lah kami, di tengah kemacetan kota, yang seharusnya bisa sampai tujuan dalam waktu 5 menit saja. Meski sebal, tapi aku tetap inget kalau yang kasih saran itu bokap. Sudah pasti betul dan aku nggak mau jadi anak durhaka ah, hihihihi...
Adikku mulai nggak sabar. Dia mulai hubungin aku dengan segala cara, dari mulai SMS sampai BBM. Dia nggak telepon soalnya pulsanya nggak cukup, hihihihi. Aku nggak bisa apa-apa lagi selain ketik "Sabar... sabar..." di balasan pesan di HP ku. Di luar dugaan, Puja malah nanyain posisi kami ada dimana dan dia memilih jalan kaki untuk cari taxi kami daripada harus nunggu berdiri nggak ada kerjaan! :O

Dan ternyata, betul saja keputusan Puja buat cari taxi kami. Belum ada 10 menit dia sudah buka pintu mobil dan bergabung menuju ke rumah sakit. Hehehehe, memang macet yang bikin pegel nih namanya! :')

Singkat cerita kami sampai di rumah sakit sekitar jam 5.30 sore (sebelumnya kami malah putar balik soalnya belum beli oleh-oleh untuk Iie, hahahaha). Di sana sudah banyak anggota keluarga lain yang menjenguk. Di antaranya ada Emah (nenek), Uak dan beberapa sepupuku. Cukup lama juga kami di sana, tapi bukannya niat kami gangguin Iie, lho... Kami cuma senang soalnya Iie dan anggota keluarga lain "welcome" sama kedatangannya Ray :) Tapi ada kejadian lucu. Iie dengan baik hatinya menawari Ray kue. Padahal kue'nya itu dari Ray yang dibeli sebelum kami ke RS, hihihihihi....


Iie :)

Aku di depan kamar Iie. Keren lho tempatnya, hihi. 


Selesai menjenguk ternyata kami nggak bisa langsung pulang, soalnya ortuku ternyata mau menyusul ke RS dan kami nggak bawa kunci cadangan. Kami putusin buat cari dinner dulu. Kebetulan perut sudah bunyi-bunyi protes minta makan, hehehehe. Waktu kami sampai di taxi (iya, taxinya masih nunggu, soalnya kami takut susah dapet taxi lagi), aku agak-agak shock gitu waktu lihat argonya. Mau tahu berapa? Jumlahnya SEKIAN. Hehehe, aku nggak sanggup sebutinnya, soalnya selalu ada perasaan nyaris pingsan kalau inget soal itu, lol.
Ray bilang sama sopirnya kalau kami mau dinner di Braga. Ya, Braga memang tempat terdekat (baca: tempat "nice" terdekat) dari rumah sakit. Tapi tiba-tiba saja, belum sampai setengah jalan gue langsung ada ide brilian. Aku bilang sama Ray supaya taxi'nya berhenti di sini saja dan kami bisa makan di foodcourt "murah-kurang bersih-agak brutal" yang nyokap selalu larang aku untuk mampir ke sana :p
Ray sempat ragu, tapi setelah aku yakinin kalau ini pasti asyik dan aman, mengingat aku ditemani 2 bodyguard: Ray dan Puja, hihihihi, dia akhirnya setuju. Sekalian bonusnya kan bisa lebih irit ongkos taxi ;)

Sampai di sana, aku sempat agak kaget juga, soalnya di tangga masuknya kecium bau pesing yang menusuk. Belum lagi penuhnya minta ampun, padahal sudah sekitar jam 8 malam, lho. Di dalam food court'nya kami lebih kaget lagi, soalnya atapnya bocor dan air tetesannya ditampung sama ember-ember hitam yang kelihatan jorok. Bukan itu saja, di depan meja kami ada kursi khusus bayi yang di atasnya basah sama ompol! Hiiiiiy... Langsung saja deh kami pindah meja, hihihihi...

Tapi di luar dugaan, ternyata setelah beradaptasi kami betah lho disana. Hampir 2 jam kami ngobrol ditemani masakan Jepang, teh dan sundae yummy. Saking asyiknya kami sering ketawa keras sekali seolah nggak ada siapapun selain kami bertiga. Kami juga sempat "takjub" karena sering lihat pemandangan nggak biasa yang nggak kami lihat di tempat lain. Seperti anak-anak yang teriak-teriak seolah orang tuanya entah dimana, perempuan-perempuan yang berpakaian terbuka padahal hari lagi dingin... atau malah plastik-plastik panjang yang digunakan untuk menutupi langit-langit yang bocor.



Puja. Dia gak mau foto ini diupload. Katanya, “Mata Ade kaya orang mabuk.” Hahahaha :D

Supposed to be our crabs roll. Tapi kelihatannya agak gosong ya? :p

 


Serius, bukan bermaksud ironi. Kami bahagia betul malam itu. Iya, memang tempatnya sempat mengganggu. Tapi lama-lama kami malah bersyukur pernah kesana. Kalau saja kami malah ke Braga, pasti kami nggak akan lihat apa yang kami lihat di sini. Tentu saja tawa yang kami dapat juga nggak mungkin bisa sekeras di sini, di mana pengunjung lain "nggak peduli" dengan keberadaan kami :D
Ternyata bahagia itu bisa dimana saja. Di rumah sakit yang katanya selalu suram, atau malah di food court yang bau pesing ;)

Jadi, bagaimana dengan kalian? Semoga selalu mendapatkan hari yang bahagia ya. Amen! :)




(Edited: 29/02/2024. Ray and I are no longer together. I am now happily married to Shane.
Tempat yang dimaksud adalah Yogya Kepatihan, sekarang kondisinya jauh lebih baik).