Tampilkan postingan dengan label Piknik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piknik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Desember 2014

Ketika Hal Kecil Menjadi Besar: Nonton Bareng Mika bareng Indi dan D-1OO Community :)

Outfit hari ini tanpa sepatu. Soalnya gak boleh pakai alas kaki di rumput sintetis, hihi.

Ide ini berawal dari obrolan random di grup BBM bersama teman-teman D-100 Community. Kami ingin berkumpul secara langsung alias berkopi darat sekaligus memperingati Hari AIDS Sedunia. Setelah keluar beberapa ide, akhirnya dipilihlah untuk nonton bareng alias nobar. Tema film yang dipilih tentu saja isu HIV/AIDS, tapi untuk judul film kami punya beberapa pilihan. Ada yang menyarankan Normal Heart, dan gue menyarankan The Cure. Kami terus berunding lewat chatting tentang film mana yang dipilih. Lalu, hey! Kami teringat sesuatu; Film gue sendiri kan bertema HIV/AIDS. Jadi kenapa nggak nonton bareng film Mika saja?! :)

Perkenalan gue dengan D-100 Community ini bisa dibilang tanpa sengaja. Gue mengenal mereka waktu diundang ke acara Piknik bareng ODHA Berhak Sehat di Cibeunying Park beberapa waktu lalu. Salah satu dari mereka lalu mengundang gue untuk bergabung di grup BBM komunitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dari RS. Borromeus ini. Semenjak itulah gue selalu keep in touch dengan mereka dan segera berteman dekat dengan beberapa dari mereka di luar grup (hihihi, teman bergosip tepatnya). Event nonton bareng yang kami rencanakan bersama-sama ini merupakan event pertama D-100 Community, makanya tujuannya pun nggak muluk-muluk. Kami hanya ingin saling mempererat hubungan antar anggota agar menjadi komunitas yang lebih solid.

Berhubung di Bandung banyak sekali taman bertema tematik (yes, kami warga Bandung beruntung sekali), jadi kami memilih Taman Film sebagai tempat kami berkumpul nanti. Setelah bertanya-tanya tentang prosedurnya, akhirnya gue dengan ditemani Hendra (dari D-100 Community) menyerahkan surat permohonan ke Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Hanya dalam waktu 2 hari semua urusannya beres dan kami tinggal datang ke Taman Film di hari H. Gue sangat bersyukur karena kemudahan yang kami dapatkan. Ini berkat bantuan dari Feby, suami Ayu yang mengundang gue ke event ODHA Berhak Sehat beberapa waktu lalu. Punya banyak teman ternyata memang membawa banyak berkah, ya :)

Tanggal 7 Desember 2014 kami pun berkumpul di Taman Film. Ini adalah pengalaman pertama gue menonton film di ruang terbuka, tepatnya di bawah jalan layang alias flyover. Sebelum filmnya diputar saja gue sudah amaze dengan layarnya yang super besar. Diameternya 4x8 meter! Seperti bioskop tapi outdoor, keren :) Hati gue sangat senang karena sebagian besar teman-teman D-100 Community bisa hadir. Bahkan hampir semuanya membawa makanan untuk dimakan bersama. Ada pizza, pisang goreng, soda, keripik... Wah, benar-benar seperti pesta dadakan, hihihi. Meskipun gue baru bertemu dengan sebagian dari mereka untuk kali pertama, tapi kami langsung akrab :D

Piknik! Makanannya banyaaaak xD

Surprise, Angie teman gue ketika di Preschool datang untuk ikutan nobar! :)

Pada pukul 4 sore film dimulai. Spontan kami bertepuk tangan, hihihi. Tapi lalu dalam beberapa detik gue menyadari ada masalah di audionya. Suaranya sama sekali nggak terdengar! Awalnya gue biarkan saja, tapi setelah film berjalan beberapa menit akhirnya gue dan beberapa teman D-100 Community berinisiatif untuk mencari operatornya. Dengan berbekal sandal jepit pinjaman gue menuju ke lapangan parkir, sementara yang lain mencari di ujung lain taman. Anehnya nggak ada seorangpun yang melihat kemana operatornya pergi. Setelah hampir putus asa (lol) salah satu dari kami menemukan bahwa ternyata sedari tadi operatornya berada di balik layar! Hahaha... Kok bisa ya dia nggak melihat kami mondar-mandir kebingungan? Tapi yang penting akhirnya audio diperbaiki dan film pun diulang dari awal karena (tanpa terasa) rupanya kami sudah mencari operatornya selama 30 menit.

Film sempat nggak ada suaranya :(

Bertepatan dengan dimulainya film (lagi), Ray datang dan langsung bergabung dengan kami. Suasana akrab pun semakin terasa, candaaan teman-teman tentang film Mika segera terdengar. Terutama saat tokoh Mika dan Indi muncul di dalam 1 scene. Tentu saja karena di kehidupan nyata Indi yang diperankan oleh Velove Vexia adalah gue, dan Mika yang diperankan oleh Vino Bastian adalah pacar gue semasa SMA. Jadi melihat apa yang diputar di film seperti nostalgia gue yang bisa ditonton beramai-ramai dan layak untuk mendapatkan “ciee.. cieee”, hihihi. Untuk yang belum pernah menonton mungkin bingung, kenapa film yang berkisah tentang cinta monyet ini bisa diputar di Hari AIDS Sedunia. Well, kebetulan Mika adalah ODHA. Selain menceritakan tentang kisah cinta kami berdua, film ini juga meyorot kehidupan Mika, segala tantangan yang ia hadapi dan juga bagaimana imbasnya pada gue.


Film diulang kembali. Dan adegan ini sangat 'ciee... ciee-able', hahaha :)

Waktu proses pembuatan film Mika yang diinspirasi oleh novel “Waktu Aku sama Mika” ini, gue memang sempat dilema. Memberanikan diri untuk menceritakan kisah gue dan Mika pada banyak orang bukanlah hal yang mudah. Isu HIV/AIDS masih terlalu sensitif, apalagi Mika memang (pernah) ada dan keluarganya juga masih ada. Tapi waktu itu produser dan tim yang membuat film Mika meyakinkan gue bahwa tujuan dari film ini baik. Dengan menjadikan kisah kami film layar lebar maka akan semakin banyak orang yang tahu seperti apa HIV/AIDS yang sesungguhnya. Dan karena gue mengidap scoliosis (kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping), penonton juga akan semakin aware dengan kesehatan tulang belakang. Dengan kata lain, film ini diharapkan menjadi campaign dalam bentuk yang bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat luas.

Di tengah-tengah film Ray berbisik pada gue. Katanya di belakang banyak sekali yang ikut menonton film Mika. Waktu gue menoleh, ternyata benar saja di belakang sudah banyak sekali yang duduk-duduk bergerombol. Usia mereka pun beragam; ada ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, bahkan anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Film belum sampai ke adegan yang mengharukan, tapi air mata gue sudah mau keluar, hihihi. Luar biasa sekali, jumlah kami yang hanya berdua belas (termasuk Ray) tiba-tiba bertambah menjadi berkali-kali lipat. Mengharukan :’)

Tempatnya luaaaas. Dan ini pemandangan yang gue lihat waktu nengok ke belakang :)

Di samping taman juga banyak yang berkumpul :)

Dan lama-lama jadi segerombol! Wah, terharu :')

Tepuk tangan terdengar ketika film selesai diputar. Gue senang sekali acara nonton bareng ini berjalan dengan lancar. Siapa yang menyangka, rencana kecil yang kami buat ini tiba-tiba menjadi besar. Tujuan awalnya kami hanya ingin mempererat hubungan antara anggota D-100 Community. Gue dan Hendra bahkan sempat khawatir jika hanya ada sedikit anggota yang datang. Tapi ternyata sebagian besar dari kami hadir, dan lihat ada berapa banyak orang yang ikut bergabung dengan kami sekarang? :) Bukan hanya kami yang menikmati film Mika, tapi juga puluhan bahkan ratusan masyarakat Bandung lainnya.

Gue benar-benar nggak bisa berhenti bersyukur... Gue dihampiri oleh seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Beliau berkata bahwa salah satu putrinya (namanya Anissya) juga scoliosis sama seperti gue. Dan melihat gue memakai brace di film (penyangga tulang belakang) membuat Anissya juga semakin semangat untuk membaik. Ketika tiba di rumah gue juga masih mendapatkan kejutan. Ada beberapa pesan yang masuk ke halaman Facebook gue dari orang-orang yang tanpa sengaja ikut menonton film Mika di Taman Film (iya, tanpa sengaja). Mereka berkata bahwa filmnya membuat pandangan mereka tentang ODHA menjadi berubah. Bahkan salah satu dari mereka berkata bahwa ia menyesal sebelumnya selalu berprasangka buruk, padahal seseorang nggak bisa dinilai dari luarnya saja atau apa yang ia idap.

With D-100 Community family. Senang! :)

Ginan dari Rumah Cemara juga mampir, soalnya acara nobar ini bersamaan dengan event futsal RC di taman sebelah :)

Kalau seumuran kita sudah jadi BFF kayanya, lol.

Rasanya boleh jika gue bilang event pertama D-100 Community ini berjalan sukses. Tujuan utama untuk berkumpul sudah jelas tercapai. Dan sebagai bonusnya kami (tanpa sengaja) mengajak masyarakat untuk lebih mengenal apa itu HIVAIDS dan scoliosis. Sungguh hadiah yang manis untuk Word AIDS Day dan juga International Day of People with Disability yang jatuh pada tanggal 3 Desember :) Akhir kata gue hanya berharap agar suatu hari nanti nggak ada lagi diskriminasi dan prasangka pada orang-orang yang seperti Mika. Dan jika hal yang terjadi pada Mika juga terjadi pada orang lain, semoga jangan ada kata menyerah seperti teman-teman D-100 Community ini. Gue percaya setiap orang sudah diciptakan Tuhan dengan fungsinya masing-masing. Keep strong! :)


Satu hari setelah nobar gue menerima ini :)

Dari instagram Ayu. Setuju! Tamannya nyaman! :)


Note:
*Terima kasih banyak kepada Vino Bastian (dan fans club), Marsha Timothy, Kak Theo, ODHA Berhak Sehat, Rumah Cemara, Indi Sugar Official Store dan semua pihak yang membantu sounding dan mendukung terlaksananya acara ini.
* Masih ada saja pembaca yang bertemu gue tapi nggak menyapa (tapi mengirimi gue pesan setelahnya), termasuk ketika acara nobar ini. Kira-kira kenapa, ya? Apakah wajah gue galak? Huhuhu :(



sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi


  _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 15 Oktober 2014

Piknik Seru Sambil Berbagi Ilmu bersama ODHA Berhak Sehat dan Indi Sugar :)


What I wore? Hair Bow, Overall dress, Top: Toko Kecil Indi | Watch: Sanrio | Socks: Pasar Baru | Shoes: Chello 


Howdy do, my bloggies friends! Semoga semuanya baik-baik saja ya meskipun cuaca sedang agak kering ;) Beberapa waktu lalu gue sempat menyebutkan bahwa ada beberapa hal baru yang sedang gue kerjakan belakangan ini. Nah, salah satunya pada tanggal 11 Oktober 2014 kemarin gue diundang oleh ODHA Berhak Sehat untuk sharing sekaligus kopi darat di Taman Cibeunying Bandung. Ketika ditawari, gue langsung mengiyakan meskipun sebelumnya hanya mengenal ODHA Berhak Sehat (disingkat “OBS”) dari twitter. Alasannya tentu saja karena menurut gue visi dan misi dari OBS sangat positif. Mereka ingin memberikan informasi tentang isu HIV/AIDS pada masyarakat baik tua maupun muda dengan cara yang “berbeda”, yang tentu saja akan lebih efektif dari pada cara yang konvensional :D

Mungkin ada teman-teman yang belum tahu kenapa gue bisa terlibat dengan isu HIV/AIDS. Well, pada awalnya gue juga sama seperti kebanyakan anak-anak seusia gue pada waktu itu (15 tahun), sama sekali nggak tahu apa-apa soal HIV/AIDS sampai suatu hari bertemu dengan Mika, pacar pertama gue yang sampai hari ini gue anggap sebagai laki-laki luar biasa. Mika adalah laki-laki yang berusia 7 tahun diatas gue yang juga seorang ODHA, orang dengan HIV/AIDS. Bersamanya gue mendapatkan pelajaran tentang banyak hal, membuat gue menjadi pribadi yang semakin positif meskipun hidup Mika sendiri nggak mudah. Banyak orang yang memberinya label-label negatif, temasuk beberapa teman gue. Itulah yang membuat gue ingin mengenal tentang isu HIV/AIDS setelah kepergian Mika.

Gue excited sekali saat bersiap-siap untuk kopi darat bersama sahabat OBS. Selain nggak sabar untuk sharing tentang pengalaman bersama Mika, gue juga nggak sabar untuk bertemu teman-teman baru. Apalagi konsep kopi daratnya unik sekali, yaitu piknik di taman kota. Dari rumah gue membawa sedikit bekal untuk dinikmati bersama di sana; satu kotak roti dan beberapa batang lollipop. Hehehe, gue memang bukan anak-anak lagi, tapi untuk gue lollipop adalah permen yang punya nilai historis, karena dulu Mika selalu memberi gue lollipop setiap kami bertemu :)

Gue sudah bersiap dengan lollipop dan pita merah yang disematkan di dada kiri :)

Waktu gue tiba di Cibeunying Park banyak hal-hal yang mengejutkan (---selain gue nyasar sampai satu jam karena mengikuti petunjuk dari 4 juru parkir berbeda, lol---). Di sana sudah ada Ayu dan Sindi, admin dari ODHA Berhak Sehat dan beberapa teman-teman yang baru saja gue kenal ketika sharing berlangsung. Latar belakang mereka berbeda-beda, ada karyawan, guru, wirausahawan sampai dengan ibu rumah tangga. Nah, yang paling istimewa ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta! :) Kami saling berkenalan dan berbagi kisah dengan santai, sambil diiringi canda dan cemal-cemil. Menyenangkan sekali.

Mengenalkan diri :)

Meski lupa bawa tikar tapi tetap betah, hihihi.

Meski kesannya santai, tapi kami mendapatkan banyak ilmu. Latar belakang kami yang berbeda membuat kami bisa bertukar infomasi-informasi seputar HIV/AIDS. Gue jadi tahu bagaimana ARV itu bekerja (well, sebenarnya gue menulis tentang ini di skripsi, tapi nggak terlalu mendalam), gue juga jadi tahu bagaimana ARV bisa menyebar ke seluruh Indonesia. Bahkan kami berbagi hal-hal yang mendasar, seperti misalnya tentang hal-hal yang bisa menularkan HIV, karena ada beberapa dari kami yang belum tahu. Dan itu membuat gue sangat sangat sangat salut, mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang HIV/AIDS karena mereka peduli, bukan ‘hanya’ karena ada teman atau keluarga mereka yang mengidap :)

Piknik ini sepertinya sudah cukup untuk menjelaskan tentang apa yang ingin disampaikan oleh OBS. Kami makan bersama, duduk bersama, saling berangkulan tanpa melihat latar belakang. Kami semua sama, ODHA atau bukan it doesn’t matter. Itulah kekuatan dari sharing, kita jadi nggak menduga-duga dan takut karena sesuatu yang nggak jelas. Jika nggak ada yang bilang, orang yang melihat kami pasti nggak ada yang bisa membedakan siapa diantara kami yang ODHA dan bukan :) Dulu gue merasa Mika sama saja seperti gue, nggak ada yang membedakan kami apalagi kami saling jatuh cinta. Tapi orang-orang bilang itu karena gue nggak mengerti apa itu HIV/AIDS, karena gue nggak tahu kenapa Mika bisa begitu. Setelah dewasa gue sadar bahwa gue nggak salah, tapi merekalah yang memberikan prasangka dan judgment sebelum benar-benar mengenal Mika. Padahal siapa saja bisa terjangkit HIV, bahkan anak-anak, dan memberi label pada ODHA tentu saja bukan hal yang bijak. Mereka nggak mengerikan, mereka hanya sakit. Dan kita juga bisa begitu, kan?

Nggak terasa langit semakin gelap dan adzan magrib sudah terdengar. Keasyikan kebersamaan kami membuat waktu nggak terasa. Kami betah saja duduk berlama-lama beralaskan rumput karena admin OBS lupa membawa tikar, hihihi. Sebelum ditutup ada beberapa hadiah yang dibagikan. Semua yang hadir mendapatkan stiker ODHA Berhak Sehat dan salah seorang peserta, Syifa mendapatkan hadiah istimewa berupa T shirt karena sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Gue juga mendapatkan sebuah buku yang berisi kumpulan cerita pendek dari IPPI Indonesia yang berjudul “Aku Kartini Bernyawa Sembilan”, senang sekali :) Dan untuk teman-teman baru di sana gue juga membawa 2  buah novel “Karena Cinta Itu Sempurna” yang berisi biografi mini gue termasuk menceritakan saat-saat gue bersama Mika. Semoga saja memberi manfaat :)

Ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta dapat hadiah istimewa! Hihihi. Congrats, Syifa! :)

Diwakili Ayu, gue mendapatkan buku kumpulan cerpen "Aku Kartini Bernyawa Sembilan" :)

Novel Karena Cinta Itu Senpurna untuk Andri dan Anis :)

Sebelum berpamitan kami berfoto bersama. Perasaan gue begitu senang dan bangga atas piknik yang diselenggarakan oleh ODHA Berhak Sehat ini. Ayu, Hendra, Anis, Deni, Andri, Sindi, Lina, Syifa dan Rini menjadi teman-teman baru gue. Sungguh luar biasa apa yang mereka lakukan, membuka diri untuk berbagi dan menerima ilmu-ilmu baru. Menurut gue membuka diri untuk hal baru adalah hal yang indah. Dulu gue nggak tahu apa-apa soal scoliosis dan baru mencaritahu setelah gue sendiri mengidap scoliosis di usia 13 tahun. Gue juga baru mencari tahu tentang HIV/AIDS setelah gue berpacaran dengan Mika. Memang nggak ada kata terlambat, tapi mencari tahu karena kita peduli dan bukan karena merasa “harus” akan lebih baik. Itu membuat kita open minded dan menghentikan dari prasangka-prasangka akibat keenggaktahuan kita terhadap suatu hal. Rini dan Syifa ingin tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS setelah membaca novel “Waktu Aku sama Mika”. Mereka nggak mengenal Mika, tapi mereka peduli dan ingin melakukan perubahan. Jika mereka bisa, gue percaya semua juga bisa. Langkah ODHA Berhak Sehat ini mungkin terlihat kecil, kami hanya sekelompok orang. Tapi bayangkan jika setelah pulang semuanya membagi kisah tentang pertemuan ini pada teman-teman, keluarga atau bahkan di sosial media... 
Let’s start sharing! ;)

Berpose dengan stiker dari ODHA Berhak Sehat :)

Thanks a lot untuk Bapak yang menemani gue sepanjang sore. Love you, Daddy! :)

Link:
-          ODHA Berhak Sehat
-          IPPI Indonesia
-          Indi Sugar


Lollipop girl,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Email: namaku_indikecil@yahoo.com

Senin, 06 Oktober 2014

Undangan Piknik untuk seluruh Indi's Friend di Bandung! :)

Howdy-do my pals? Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya :)
Gue mau mengundang teman-teman, terutama yang tinggal di daerah Bandung untuk ikutan piknik, nih. Iya, piknik sungguhan di taman rumput dengan bekal makanan dari rumah sambil mengobrol akrab!:D Mungkin beberapa dari teman-teman ada yang sudah lama nggak merasakan keseruan piknik karena kesibukan atau sulitnya menemukan tempat yang tepat. Nah, sekarang waktunya kita bernostalgia sambil menambah pengetahuan ---dengan cara yang fun tentunya--- :)


Piknik yang akan dilaksanakan tanggal 11 Oktober pukul 3 sore di Taman Cibeunying ini diadakan oleh ODHA Berhak Sehat atau biasa disingkat OBS. Teman-teman mungkin sudah sering mendengar tentang OBS di berbagai sosial media, terutama di Facebook dan Twitter. Nah, kalau belum kenal gue ceritakan sedikit tentang OBS, ya. ODHA Berhak Sehat adalah movement yang mengajak masyarakat dan komunitas HIV/AIDS untuk lebih paham tentang isu HIV/AIDS. Salah satu misi OBS adalah mengurasi stigma dan diskriminasi yang sering kali didapat oleh ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Kalau teman-teman sudah pernah membaca novel-novel gue, "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" atau sudah pernah menonton versi filmnya, "MIKA", mungkin sedikit banyak tahu tentang apa itu HIV/AIDS. Karena di sana gue menceritakan tentang hari-hari gue ketika berpacaran dengan Mika, laki-laki luar biasa yang juga seorang AIDS fighter :)

Cara ikutan piknik ini mudah sekali, lho;
1. Follow akun twitter gue (@missbabbitt) dan OBS (@ODHABerhakSehat)
2. Twitpic foto kalian yang sedang memakai pita merah ke @missbabbitt dan @ODHABerhakSehat dengan hastag #ikutandong #kopdarOBSBandung
3. Setelah itu OBS akan memfollow balik dan mengirimkan DM yang berisi detail acara.


Agar nanti mudah untuk saling mengenali, jangan lupa sematkan pita merah di pakaian teman-teman. Dan tentu saja jangan lupa bawa bekal masing-masing untuk piknik di bawah langit kota Bandung yang indah :) Tuh, sudah kebayang betapa serunya kan? Sambil cemal-cemil kita juga bisa lebih mengenal apa itu HIV/AIDS. Jadi nanti teman-teman bisa lebih tahu tentang apa yang dulu terjadi pada Mika. Dijamin memberikan banyak manfaat. Dan nanti kita akan pulang nggak hanya dengan pengetahuan baru tapi juga bawa oleh-oleh goodie bag dari OBS, lho! Ayo, twit pic ditunggu mulai sekarang sampai tanggal 8 Oktober 2014, ya! :)

sugar kecilnya Mika,

Indi 


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 26 Januari 2011

Piknik sempurna: Di dalam kamar tidur!




Semenjak aku lulus kuliah, kebanyakan aku habisin waktu di rumah. Bukannya aku pemalas, tapi aku emang bekerja di rumah. Sedangkan untuk jalan-jalan keluar rumah seringnya kesehatanku nggak memungkinkan.
Seperti hari ini. Kepalaku pusing berat, punggungku ngilu (mungkin efek dari pengurangan kurva scoliosisku) dan lagi-lagi mataku bengkak (ya, ampuuun, tiap malem aku ngintip siapa sih sampai gini terus?? Hihi). Tapi tetep aja aktivitas nggak bisa menunggu. Setelah terima email dari publisher mengenai novel keduaku (horeee, covernya sebentar lagi siap aku publish!), aku langsung bersih-bersih kamar dan main sama Eris. Nah, part main ini jangan dianggap sepele, ya. Main disini maksudnya: Kasih makan, ajak jalan-jalan sampai waslap anjing kesayangan aku ini, hahaha. Maklum aja, meski usianya mau 2 tahun, tapi si Eris ini tetep lebih betah diwaslap daripada mandi :p

Selesai main sama Eris kepalaku langsung makin berat. Setelah santai sebentar aku putusin buat bersihin badan: cuci muka, pakai minyak telon dan ganti baju pakai daster (padahal biasanya pakai piyama, lol). Pusingku memang ilang, tapi kelamaan diem ternyata bikin aku bosen juga. Hmm, kayanya kalau aku piknik OK juga, nih!




Aku langsung buka lemari baju dan cari-cari kain untuk alas piknik. Nggak lupa aku gelar karpet juga supaya cukup empuk untuk dipakai selonjoran.
Eh? Karpet?
Hehehe, iya memang karpet betulan, kok. Soalnya aku piknik di dalam kamar!
Kebetulan kamarku punya space cukup luas untuk acara gelar-gelaran seperti itu. Jadi hari ini aku manfaatin aja untuk piknik sambil baca buku. Sengaja aku biarin jendela kamar terbuka supaya udara sore yang sejuk bisa aku hirup. Nggak lupa aku juga sediain teh manis hangat buat teman membaca novel-novel tentang petualangan seru!






Ternyata nikmat sekali piknik di dalam kamar sendiri. Sampai-sampai nggak terasa sore sudah berganti magrib. Untung aja aku pakai foot warmer jadi kaki nggak kedinginan :)
Besok-besok aku mau manfaatin bagian rumah lain ah buat piknik. Mungkin loteng tempat penyimpanan baju bakal asik. Atau dapur? Ruang tamu? Garasi??? Asiiiik, ternyata aku punya banyak stock spot untuk piknik! :D
Lingkungan luar rumahku memang nggak memungkinkan untuk dipakai karena berdekatan dengan jalan raya. Sudah penuh polusi dan anak-anak bandel yang hobi nongkrong. Tapi itu nggak masalah karena aku masih tetep bisa piknik, KAPANPUN! ;)



buku-buku: Lion Boy (Zizou Corder), Quidditch Through the Ages (Kennilworthy Whisp/JK. Rowling), Heroes (Robert Cormier), Secret Garden (Frances Hodgson Burnett).