Tampilkan postingan dengan label Trans Studio Mall. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trans Studio Mall. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2024

Perayaan Ulang Tahun yang Terlambat Satu Bulan (Biar Terlambat Asal Selamat, ---Eh, Asal Berkumpul!) :D

Haaaaiiiii bloggies! Apa kabar? Semoga semuanya baik-baik saja ya di tengah cuaca yang glommy ini (--kalau nggak mendung ya hujan, hehe). Well, at least di Bandung sih begitu sekarang. Dan untuk yang sedang sakit semoga cepat sembuh ya! :)


Kabarku sendiri baik, sciaticaku kambuh tapi ini bukan yang terburuk xD Aku juga nemu tempat fisioterapi baru dari Google yang lokasinya nggak jauh dari rumahku dan Shane. Rencananya sih bulan ini aku mau coba ke sana, tapi kalau ternyata kami menginap di rumah orangtua aku bakal fisio di tempat biasa saja supaya nggak bolak-balik. ---Well, kita lihat saja nanti ya, dan aku akan pastikan untuk membagi ceritanya di sini. Karena kalau dilihat dari tulisanku tentang "Boneka Chelsea" ternyata banyak juga yang penasaran dengan "scoliosis". Yay! :D


Anyway, tanggal delapan Juni kemarin aku ulang tahun lho, teman-teman, hihi. Kalau biasanya dirayakan bersama orangtua dan Ali, tahun ini pas di hari H hanya bertiga dengan Shane dan Kitty. Alasannya karena di tanggal yang sama orangtuaku ada pekerjaan yang nggak bisa ditunda, jadi kami putuskan untuk berkumpul saat semuanya sudah nggak sibuk saja. Dan itu bukan masalah buatku karena yang penting ucapan dan doa dari mereka saja, soal berkumpul bisa lain waktu :) Apalagi meski nggak full team Shane tetap make sure bikin ulang tahunku menyenangkan. Ia membuatkanku cake ulang tahun dan setuju untuk kompak memakai outfit berwarna pink karena itu warna kesukaanku! Hahaha. Termasuk Kitty ya, karena si mungil ini nggak boleh ketinggalan meski nggak mengerti dengan konsep ulang tahun :D 


Ulang tahunku pas di hari H nya, dirayakan sederhana. ---Yang penting tiup lilin :p


Maunya punya foto yang cute, eh Kitty malah berusaha meloloskan diri xD


Cake buatan Shane. Pakai Oatside susu gandum kesukaanku :D


Biar Kitty happy ia juga ikut ultah, dapat hadiah. Padahal gak ada yang tahu kapan ia lahir, hehe :'D


My birthday lunch, yum. Vegan wrap dari Fit Fuel. Langganan sejak masih tinggal di apartemen, belum ada yang menggantikan saking enaknya :')


Baru di bulan Juli aku merencanakan untuk perayaan bersama orangtua, Ali dan Emah, nenekku. Rencananya aku ingin mengajak mereka makan-makan saja karena ketika ibu mertuaku berkunjung ke sini di bulan April lalu nenekku nggak ikut ketika kami makan-makan di restoran. Ya... anggap saja untuk mengganti moment itu. Apalagi ulang tahunku juga disponsori oleh Ibu Mertua, jadi hanya beda di waktunya saja kan, hehehe. Aku mencari restoran keluarga yang punya menu vegan dan non vegan supaya perut kami semuanya happy. Setelah berdiskusi dengan Shane akhirnya kami memilih restoran "Ta Wan" yang menurut kami sih menunya netral alias siapa saja suka, termasuk anak-anak picky eater macam Ali :p Supaya dekat dengan rumah orangtua dan Nenek, aku memilih cabang yang di Trans Studio Mall (---jangan bosan ya, sejak tahun 2011 di blog ini TSM sering disebut karena memang seringnya pergi ke situ, lol). Aku segera mengabari Ibu, dan beliau senaaaang sekali karena sudah kangen denganku dan Shane :') Berhubung setelah dipikir-pikir ternyata aku memang sudah lama nggak bertemu keluarga besarku (terakhir ya waktu ada Ibu Mertua itu), aku undang saja Iie alias tanteku dan Marvy keponakanku (anak dari kakak sepupuku) sekalian. Kebetulan rumah mereka jaraknya hanya satu blok saja dari rumah Ibu dan Bapak.


Karena lokasi restorannya di Trans Studio Mall, aku tiba-tiba jadi punya ide untuk sekalian menginap di sana supaya kami nggak perlu ke mana-mana lagi. (Maksudnya menginap di hotelnya, bukan di mall, huehee). Aku bertanya pada Shane tentang ideku itu dan ia menyukainya, ---selama ia bisa membawa iPad untuk bekerja tentu saja, karena masih weekdays. Ada dua hotel yang menempel dengan gedung mall; The Trans Luxury Hotel dan Ibis Hotel. Nah, untuk The Trans Luxury kami sudah pernah menginap di sana waktu perayaan ulang tahun pernikahan kami yang ketiga lalu. Benar-benar salah satu pengalaman menginap terbaik bagi kami! Sampai-sampai sempat terpikir untuk kembali menginap di sana. Tapi akhirnya kuputuskan kalau memilih menginap di Hotel Ibis akan lebih bijak. Tanpa Kitty kami hanya bisa meninggalkan rumah sebentar saja. Rasanya sayang jika membayar kamar hotel yang harganya dua kali lipat rate Ibis tapi nggak bisa dinikmati dengan maksimal. Lagipula kami kan belum pernah menginap di sana, ---siapa tahu akan jadi pengalaman menyenangkan. So Ibis, here we come! :)



12 Juli 2024: Makan-makan, Hotel yang Mirip Bandara, dan Mall yang Hampir Tutup


Aku dan Shane berusaha meninggalkan rumah sedekat mungkin dengan waktu makan malam. Tujuannya tentu supaya kami nggak lama-lama meninggalkan Kitty sendirian di rumah. Goal kami sebelum 24 jam harus sudah kembali (---berasa main game pakai timer, lol). Kalau lebih dari satu malam biasanya Kitty kami titipkan di dokter hewan, atau kami ajak sekalian asal tujuannya ke tempat pet friendly (seperti ke rumah ortu misalnya, huehe). Tapi karena kali ini kami pergi sebentar, jadi Kitty cukup dititipkan pada Ibu tetangga yang baik hati. Biasanya beliau atau suaminya akan mengecek keadaan rumah dari depan dan dari atas. ---Yang jangkauannya better than CCTV, karena meski rumah kami nggak saling berdempetan tapi dari lantai dua mereka bisa terlihat halaman depan sampai halaman belakang kami, hahaha. 


Lalu-lintas kota Bandung sedang macet (seperti hari-hari kebanyakan, huhu), jadi kukabari Ibu untuk nggak buru-buru berangkat ke TSM, ---khawatirnya jadi harus menunggu aku dan Shane yang masih di jalan. Tapi beliau bilang ingin mampir ke Metro dulu untuk melihat-lihat pakaian, jadi nggak masalah kalau pun kami yang tiba belakangan. Syukurlah, kami tiba nggak terlalu meleset dari waktu perkiraan. Keluargaku belum lama sampai di mall ketika aku dan Shane masuk lobby hotel. Kesan pertamaku lobbynya terkesan simple sekali, benar-benar straight to the point begitu masuk front tablenya kelihatan :D Somehow mirip dengan bandara. Entahlah cuma perasaanku atau memang konsepnya seperti itu ya, tapi Shane juga setuju denganku. Proses check in nya sangat cepat meski aku salah membawa KITAS (kartu identitas) milik Shane. ---KITAS yang kubawa ternyata sudah expired tahun kemarin! Untung saja Shane siap dengan salinan KITAS baru di handphonenya, ehehe, maaf :'D 


Dari lobby belok kanan langsung ada lift. Di depan lift ada meja pakai wangi-wangian gini. Jadi berasa di tempat spa :D


Aku ambil fotonya karena siapa tahu nanti mau pijat. (---Tapi kenyataannya aku ngantuk berat nggak sempat ngapa-ngapain, ahaha).


Kami request kamar di lantai atas, no smoking, dan menghadap ke kolam renang (---karena waktu menginap di The Trans Luxury Hotel aku ketiduran dan nggak sempat melihat kolamnya, lol). Sepanjang perjalanan ke kamar dari mulai lift sampai lorongnya tercium aroma yang menyenangkan, mirip permen karet. Honestly aku nggak berharap banyak sama hotel budget ini apalagi tujuan utamanya untuk makan-makan bersama keluarga, bukan untuk relaxing. Tapi ternyata begitu masuk kamar aku dan Shane surprised karena fasilitas yang tersedia (menurut kami) sedikit di atas kelasnya. Ukuran kamar yang super mungil jadi nggak terlalu ketara karena ada kaca yang super besar yang pas menghadap ke kolam sesuai request kami. Ada TV dengan saluran kabel, lemari es mini, water jug, meja kerja plus sofa yang cukup banget buat selonjoran, safe deposit box, dan lemari terbuka lengkap dengan beberapa gantungan baju. Kamar mandinya juga sangat oke, ada shower dengan air panas, bidet (penting banget, haha) dan surprisingly ada hair dryer! Happy banget rasanya, poniku jadi terselamatkan, lol. Apalagi setelah kami cek handuk dan segala printilan lainnya juga bersih tanpa noda :)


Tempat tidurnya size queen. Mungil tapi masih pas buat kami yang badannya minimalis ini :p


As always Onci boneka kelinciku selalu ikut. Tanpa Onci liburan terasa hampa, hehe.


Waktu ke Singapore tahun 2018 yang lalu kami pakai outfit yang sama, lho. Dressnya Ibu yang buatkan. Jadi berasa nostalgia (tapi ini versi di Bandung, lol).


Ada teh, kopi, gula dan creamer.

Mungil tapi berfungsi dengan baik. Lumayan supaya jus kami tetap dingin :D

Jadi menyesal pas menginap di The Trans Luxury kami nggak berenang. Ternyata secakep ini :')

Fasilitas buat memperkece dirinya lumayan lengkap lah, ya xD


Aku lalu mengabari Ibu bahwa kami sudah di hotel dan memintanya agar langsung ke restoran "Ta Wan" agar kami bisa bertemu di sana. Sama seperti waktu kami menginap di The Trans Luxury, akses untuk ke mall harus melewati lobby dan masuk lewat pintu di samping Starbucks. Jadi  memang dekat sih, ---tapi kalau hujan yang tetap saja kebasahan, hehe :p


Nggak menunggu lama (ya, ternyata tetap aku dan Shane yang tiba duluan, lol) dari kejauhan aku melihat keluargaku berjalan ke arah restoran. Ah, bahagia sekali melihat wajah-wajah mereka lagi! Aku rindu berat karena sudah lama nggak bertemu ;')

Aku, Shane, Ali dan Adik Marvy duduk di satu baris sementara Ibu, Bapak, Emah dan Iie duduk di hadapan kami. Suasana restoran sedang cukup padat, jadi kami nggak bisa memilih tempat duduk dan AC yang beroperasi juga terasa nggak dingin. Sempat khawatir membuat keluargaku nggak nyaman tapi ternyata mereka nggak bilang apa-apa (semoga bukan karena dipendam, please, huhu) dan terlihat sangat menikmati waktu berkumpul kami. Aku memesan kailan dan jamur, dengan special request no oyster sauce. Ada yang lucu dengan pesanan Shane. Ia 'kekeuh' ingin memesan tofu meski sudah kularang. Ia pikir tofu yang di restoran akan sama dengan yang biasa kami masak di rumah. Padahal yang biasa ia makan itu nama Indonesianya "TAHU", sementara istilah "tofu" di sini dipakai untuk tahu jenis yang lain. Setelah pesanan datang benar saja itu egg tofu, hahaha! Untung saja Ibu dengan senang hati menghabiskannya jadi nggak terbuang sia-sia. Oya, seperti yang sudah kubilang sebelumnya Ali itu picky eater. Saking pickynya jauh-jauh ke restoran pesannya bubur putih polos. Tanpa kecap dan bahkan merica, ---benar-benar lebih polos dari bubur Rumah Sakit T_T Normalnya sih aku akan minta ia (---ehm, memaksa) untuk makan protein dan serat, tapi karena nggak mau merusak suasana dan sedang kesempatan istimewa jadi aku biarkan saja :p


Hore berkumpul! :))


Bersama dua bocil yang nggak terpisahkan, nempel banget :D


Sebagian makanan kami. Bubur polos ala puasa mutih of course punya Ali. Ia bahkan singkirkan toppingnya :'D

Tofu punya Shane, untung baru empat biji yang pindah ke piring. Padahal sudah kubilang mending makan kailan, ahahaha.


Kalau bertemu Emah bisa dipastikan beliau nggak membiarkan tanganku dan Shane kosong, beliau pasti memberi kami sesuatu. Kata Ibu di perjalanan menuju TSM Emah meminta untuk mampir dulu ke "Vitasari Bakery", ---toko kue dekat rumah langganan sejak aku masih kecil. Beliau membelikan kami satu box macam-macam jajanan tradisional dan kue basah. "Apa atuh Emah suka bingung yang vegan apa. Kalau ini kan sudah pasti vegan. Jadi Kakak suka, ya?" begitu tanya beliau. Aku dan Shane tentu sangat senang dan berterima kasih! Emah, yang meskipun sudah di usia tua nggak pernah berhenti belajar termasuk tentang pilihan kami. Beliau mengerti apa itu vegan dan selalu berusaha memastikan aku dan Shane bisa memakannya pemberiannya. Terharu rasanya, aku yang ingin mentraktir beliau, eh malah langsung dibalas dengan traktiran. Ah, how I love her ;')


Emah memang super perhatian :') Vegan Indonesian snacks for us <3


Selesai makan kami nggak langsung berpisah, Ibu ingin mengambil foto bersama banyak-banyak. Biasanya aku agak canggung kalau berfoto di tempat umum, apalagi kalau sedang banyak orang. Tapi demi mereka ayok, deh :D Berapa kali pun Ibu minta aku iyakan sampai sudah nggak tahu harus bergaya bagaimana lagi, hahaha. Keluargaku pun pamit. Sambil mencium pipiku Iie bilang kalau mereka sudah menahan kami kelamaan. Katanya lagi kasihan karena kami jadi cuma bisa sebentar menikmati hotelnya. Padahal sungguh, kami sih nggak apa-apa. Tujuan utamanya kan memang untuk bertemu mereka :') Mataku jadi berkaca-kaca, ---padahal bulan depan juga akan bertemu lagi dan bahkan lebih lama karena aku dan Shane berencana menginap di rumah orangtua. Yah, aku ini orangnya memang mellow sampai apa saja ditangisi, huhu. Waktu SD saja aku dipanggil "Nobita"! Ahaha xD


We love you, Emah.

Bapak, Ibu, Ali dan Adik Marvy :)

Iie rajin banget fotoin kami sampai-sampai aku nggak punya foto sama beliau kecuali pas lagi di resto :')


Aku dan Shane mampir dulu ke Transmart sebelum kembali ke kamar kami. Sekedar untuk membeli air mineral karena di hotel hanya disediakan galon dan water jug, dan camilan kriuk-kriuk untuk teman menonton TV. Di kamar, aku langsung berganti dengan piama dan mencuci muka. Hari semakin malam dan aku mulai merasa lelah. Sambil berbaring di tempat tidur aku mengganti-ganti channel TV mencari tontonan yang seru untuk ditonton berdua. Nggak ada yang benar-benar kami tonton karena isinya kebanyakan film action, ---bukan genre favorit kami. Meski begitu kami tetap terhibur melihat adegan-adegan action yang somehow membuat kami tertawa. Apalagi waktu Tom Cruise tiba-tiba muncul di layar, Shane langsung hoboh bilang, "Hey, itu kan THAT GUY!" ---Ya, "that guy" karena Shane nggak tahu namanya tapi mengenali wajahnya, hahaha. Jadi kami pernah punya pengalaman lucu dengan Tom Cruise. Suatu hari di tahun 2019, di kamar hotel waktu kami sedang menonton TV, aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan Tom Cruise. Awalnya kupikir memang ia, tapi setelah diperhatikan dengan seksama ternyata bukan. Tapi Shane, ia meyakini kalau yang dilihatnya adalah 'seorang aktor terkenal'. Yang meski ia nggak tahu namanya tapi dengan menyebut kata "terkenal" sudah cukup jelas kan siapa yang Shane maksud. Lucunya ketika ibunya menonton potongan video kami (waktu itu kami membuat vlog) beliau juga SANGAT MENYAKINI kalau orang yang ada di TV memang benar Tom Cruise! Karena 2 VS 1 aku sempat hampir percaya kalau aku yang salah lihat. Tapi setelah Googling kami menemukan fakta kalau ternyata ia memang BUKAN TOM CRUISE! Ahahaha X'D Makanya Shane jadi segitu hebohnya ketika melihat Tom Cruise yang asli di TV, ---karena ia akhirnya bisa membedakan mana yang asli dan mana yang look alike-nya :p Oya, kalau teman-teman penasaran, aktor yang dimaksud adalah Miles Fisher. Kalau lihatnya sekilas memang mirip sih, sampai garis senyumnya saja sama :O


Ada kartun Mr. Bean, tapi baru nonton pas mau habis, ahahaha :’D


Lihat, pantas kan Shane dan Ibu Mertua pikir ia Tom Cruise, hahaha!


Sayangnya keseruan kami harus berhenti. Layar TV tiba-tiba gelap tanda nggak bisa menangkap sinyal. Aku coba matikan TV lalu menyalakannya kembali tapi nggak ada perubahan. Anehnya WIFI di kamar tetap bekerja, nggak terpengaruh sama sekali. Setelah ditunggu selama 10 menit kami merasa TV nggak akan kembali normal dengan sendirinya. Kantukku hilang dan perut mendadak terasa lapar. Kami putuskan untuk memesan veggie burger via Grabfood untuk kemudian mengambilnya di A&W dalam TSM. Rencananya nanti sekalian kembali ke kamar, kami akan melapor pada petugas front desk tentang TV di kamar yang bermasalah. Aku yang sudah berpiama pun kembali berganti dengan dress dan kami bergegas ke mall sebelum terlalu dekat dengan jam tutup. Setelah tiba ternyata pesanan kami belum diproses meski statusnya sudah siap diambil. Kami adalah customer terakhir, hanya ada aku dan Shane yang menunggu. Kalau diperhatikan selain di gerai A&W aku nggak melihat ada siapa-siapa lagi. Melihat suasana mall yang sepi somehow membuatku merasa damai. ---Janggal tapi damai. Aku memang suka dengan suasana gedung kosong, rasanya ingin menjelajah. Well, mungkin karena aku kebanyakan nonton "The Twilight Zone" ya, jadi cuma permainan imajinasi saja. Karena kalau tiba-tiba dikejar manekin hidup sih yakin aku pasti takut sampai nangis, ahahaha. Anyway, setelah mendapatkan burger pesanan kami ternyata mall benar-benar mulai ditutup. Bahkan pintu samping dekat Starbucks yang menjadi akses kami ke hotel pun sudah dikunci rapat dan sebagian besar lampu-lampu sudah dipadamkan. Aku dan Shane pun harus memutar melewati pintu utama yang lumayan jauh. Tapi nggak apa-apa, aku jadi bisa menikmati suasana mall (hampir kosong) lebih lama :)


Sudah satu jam semenjak aku melaporkan masalah TV pada petugas di front desk. Burger dan kentang gorengku sudah habis dilahap, dressku sudah kembali berganti piama dan mataku sudah mulai kembali berat (efek kekenyangan, lol). Tapi nggak ada yang datang padahal katanya akan segera menugaskan teknisi :') Akhirnya kami putuskan untuk tidur saja karena rencananya setelah sarapan nggak akan berlama-lama di hotel mengingat Kitty sendirian di rumah. Sedikit kecewa sebenarnya, tapi juga bukan masalah yang besar karena selain masalah TV kami merasa nyaman dengan kamarnya.


Foto OOTD dulu karena habis ini mau ganti pakai piama :p


Jangan salfok sama tulisan di box-nya. Ini isinya beneran burger sayur, kok (request no mayo). Lihat saja stiker di wrapper-nya xD



12 Juli 2024: Sarapan Besar, Koes Plus dan Kembali ke Rumah


Aku terbangun sebelum Shane dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi dan berganti piama dengan dress batik buatan Ibu. Sehari sebelumnya aku sudah mandi jadi rasanya sudah cukup xD Lagipula kalau mandi di bawah shower air hangat di pagi hari bawaanya kembali mengantuk alih-alih merasa segar, huehe. Setelah selesai aku membangunkan Shane yang bilang kalau tidurnya nyenyak sekali. ---Aku juga merasa begitu, yang saking nyenyaknya sampai terasa hanya tidur sekejap saja karena tahu-tahu sudah pagi :D Nggak butuh waktu lama bagi Shane untuk bersiap dan kami pun segera berada di restoran Oopen untuk menyantap sarapan. 


Nyobain filter Instagram ceritanya :D


Fotonya miring karena tadinya mau ngambil video eh kepencet. Daripada dihapus post di sini saja :p


Salah satu meja dengan banyak pilihan karbo dan satu jenis sayuran xD


Setelah sedikit melihat-lihat kami langsung mengambil piring dan mengambil makanan yang sudah kami pilih. Menu yang tersedia seperti kebanyakan hotel bintang tiga pada umumnya, cukup banyak jumlahnya tapi untuk vegan option-nya sangat terbatas. Aku dan Shane sih memaklumi dan nggak menjadikannya big deal. Kami mengerti bukan sedang berada di restoran khusus vegan, jadi cukup makan yang bisa dimakan dan nggak perlu merasa wajib jadi "perfect vegan". Kami mengambil potato wedges, salad, tumis sawi putih, mi goreng dan orange juice. Semuanya terasa oke di lidah kami (enak, tapi bukan yang istimewa gimana gitu). Terus ternyata mi gorengnya mengandung telur jadi kami harus pilah-pilah dulu dan tetap berusaha menghabiskan sisanya. Karena kalau sudah terlanjur ada di piring kami harus bertanggung jawab, jangan sampai banyak yang terbuang. Sambil sarapan aku juga memperhatikan suasana sekitar. Rupanya Ibis punya corner khusus untuk sarapan anak-anak, termasuk ada fasilitas bermain PlayStation kalau aku nggak salah lihat. ---Hmm, boleh juga tuh konsepnya. Mungkin kapan-kapan aku akan ajak Ali supaya kalau mau ikutan main bisa pakai alasan nemenin adik xP


Kami nggak menghabiskan waktu terlalu lama untuk sarapan karena mendadak aku punya ide untuk membuat video clip musik di kamar. Beberapa waktu lalu aku dan Shane merekam lagu "Cinta Mulia" yang aslinya milik Koes Plus. Kebetulan kami belum sempat membuat videonya jadi kupikir sekalian saja mumpung sedang di luar. Ya... supaya nggak bosan-bosan amat karena biasanya kan lokasi video kami kalau nggak di dalam rumah ya di halaman :p Oya, alasan kami memilih lagu Koes Plus sebenarnya agak unik. Meski Bapakku penggemar Koes Plus tapi aku nggak pernah mendengarkan musik mereka dan cenderung nggak tertarik. Aku justru baru mengenal Koes Plus ketika sudah menikah dengan Shane, Suatu hari ia mengenalkanku dengan band bernama Koes Barat, ---band asal Amerika yang membawakan lagu-lagu Koes Plus. Kami lalu mendengarkan lagu-lagu versi covernya dan langsung jadi penggemar! Jadi well, alih-alih mengenal dari Bapak yang asli Indonesia aku malah mengenal Koes Plus dari orang Amerika, ahahaha. Tapi nggak apa, lebih baik terlambat daripada nggak mengenal sama sekali. Karena musik bagus akan selalu jadi musik yang bagus. Nggak ada kata terlambat apalagi basi ;)


Videonya ada di sini, boleh banget lho kalau kalian mau nonton :D


Selesai membuat video kami sebenarnya masih punya banyak waktu karena jam check out baru di tengah hari nanti. Tapi aku ingin segera pulang karena semakin kangen dengan si mungil Kitty. Di perjalanan pulang aku mengucap syukur karena memutuskan untuk menginap. ---Ternyata aku memang membutuhkan staycation, buktinya moodku yang awalnya sudah bagus jadi berkali-kali lipat semakin bagus, hahaha. Aku mungkin lelah, aku mungkin perlu relax tapi aku nggak sadar karena merasa hariku happy-happy saja dan baru terasa setelah mengalami keenggaksengajaan seperti ini :')


Begitu tiba di rumah kami langsung disambut dengan suara tangisan heboh Kitty yang terdengar sejak kami masih di pagar. Segera aku memberinya banyak pelukan dan ciuman untuk menenangkannya. Mainan berserakan di mana-mana dan posisi karpet sudah berubah, ---sudah pasti ulah Kitty. Tapi nggak apa-apa, lebih baik ia menjadi kucing yang aktif daripada murung waktu ditinggal. Soal beres-beres itu sudah tugasnya Shane :p Hahaha, kidding. 

Aku dan Shane mengembalikan semua barang bawaan kami ke tempat seharusnya. Kami lalu membuka camilan dari Emah dan memakannya dengan penuh syukur. I feel loved, ---aku punya suami yang baik, kucing yang manja dan pintar, juga keluarga yang selalu ada saat aku butuh. 


Hidupku lengkap, perlu apa lagi? :)



Vlog ultah yang terlambat. Aku lega sempat mengabadikannya di sini :)



blessed girl,


INDI



Keywords: pengalaman menginap di hotel IBIS Trans Studio Bandung, pesta ulang tahun bersama keluarga, makan-makan, staycation, hotel budget. 


----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik | Novelku, Waktu Aku sama Mika: di sini (Shira Media) dan di sini (Gramedia)

Minggu, 16 Juli 2023

Ketika Woody, Jessie, Buzz dan Little Green Man Masuk Rumah Hantu :D

Ah, akhirnya bisa kembali lagi menulis di blog ini :'D Nggak, aku nggak malas nulis, lupa password atau kehilangan laptop, kok. Tapi kemarin-kemarin aku dan Shane sedang proses pindah rumah dan laptopku KETINGGALAN di rumah lama! Ahahaha, entahlah kenapa bisa kelupaan, ---dua-duanya pula, laptopku dan laptop Shane. Padahal pekerjaan kami lumayan bergantung sama laptop :') Untungnya selama proses pindah kami tinggal di rumah ortuku, jadi tetap punya akses internet untuk pekerjaan kami meski jadi menggunakan handphone :) 

Kepindahan kami memang mendadak, hanya diputuskan dalam beberapa minggu saja tapi kami sepakat kalau alasannya sangat masuk akal. Tiga bulan setelah menikah kami memutuskan untuk membeli satu unit apartemen, dan sampai (hampir) 4 tahun pernikahan kami tinggal di sana. Meski mungil tapi kami betah dan bahagia di sana. Kami mendapatkan privasi dan kemudahan akses ke tempat dan fasilitas yang kami butuhkan. Intinya, rumah lama kami nyaris sempurna. Lalu kenapa kami memutuskan pindah? Karena sadar kalau dengan tinggal di rumah tapak, yang masih di kota yang sama, bisa lebih hemat dan kami bisa punya lebih banyak space. Jujur, kepergian Eris, anjingku bulan Maret 2022 lalu, bikin mentalku terguncang. Hampir tiap malam aku menangis dan terus menyalahkan diri sendiri kenapa malah tinggal di apartemen sementara Eris perlu tempat yang luas. Seandainya saja sejak awal aku dan Shane tinggal di rumah tapak, aku bisa di samping Eris ketika ia pergi... Kepindahan kami memang nggak bisa mengembalikan Eris, tapi kurasa ini cara membuka lembaran baru yang baik; untuk kesehatan mentalku dan juga Shane, ---di tempat luas dan berjauhan dengan tetangga aku yakin ia bisa leluasa dalam proses membuat musik.


Kami tinggal di rumah ortuku selama kurang lebih 4 bulan. Selama itu pula kami menyicil renovasi tempat tinggal baru dan membawa barang-barang dari apartemen (yang somehow kelupaan melulu untuk membawa laptop, hahaha). Perasaanku campur aduk, di satu sisi happy banget bisa dekat-dekat dengan Ibu, Bapak, juga Ali, tapi di sisi lain ada perasaan rindu bisa berdua saja dengan Shane. Apalagi ada moment-moment yang biasanya dirayakan dengan 'cara kami' jadi harus disesuaikan kembali karena sedang nggak tinggal di rumah sendiri. Tapi kami nggak anggap ini big deal sih, aku dan Shane sadar betul kalau situasi ini hanya sementara, jadi better enjoy saja jadi 'bayi-bayi' Ibu dan Bapak selama kami tinggal di rumah mereka :p


Penyesuaian juga kami lakukan di moment anniversary pernikahan dan Halloween. Tahun kemarin kami nggak menginap di hotel atau makan di restoran, tapi cukup dengan delivery order saja untuk makan bersama Ibu, Bapak dan Ali. Rasanya gimanaa gitu kalau kami harus bersenang-senang di luar. Meskipun Ibu dan Bapak pasti nggak keberatan dan malah ikut senang, tapi rasanya tetap stay di rumah jadi keputusan lebih bijak :) Begitu juga dengan Halloween, meskipun sudah pasti diizinkan untuk mendekor rumah (---kan dulu sebelum menikah juga begitu, hehe), tapi aku dan Shane lebih memilih untuk merayakannya di luar saja supaya rumah nggak berantakan. Dengan mengajak mereka tentunya, lengkap dengan membelikan kostum bertema sama supaya kompak, hehehe.


Foto Halloween kami yang sayangnya tanpa Ibu :')


Setelah tahun sebelumnya aku dan Shane memakai kostum Squid Game, ---yang mana kurang family friendly (serialnya maksudnya, kostumnya sih biasa saja), Halloween tahun 2022 kami putuskan untuk mengambil tema yang netral. Toy Story! Karena semua orang suka, termasuk Ibu dan Bapak. Apalagi Ali belakangan lagi suka banget nonton ulang serinya di Disney+. Sudah deh, nggak perlu mikir lama ia mau pakai kostum Buzz Lightyear, hehehe. Aku dan Shane memilih kostum Jessie dan Woody, yang meski di film diceritakan bukan pasangan tapi bagi Ali harusnya begitu, karena cowboy dan cowgirl katanya :D Sementara Ibu dan Bapak mereka sih bebas, ngikut saja karena memang rencananya pun nggak akan pakai full kostum, cukup kaus saja asalkan bisa represent tokohnya. Aku dan Ali pikir Mr. dan Mrs. Potato Head akan jadi kostum buat mereka. Tapi ternyata mendekati Halloween Ibu nggak bisa ikutan karena Nenek meminta beliau untuk mengantarnya ke makam Kakek, ---dan menginap di villa keluarga. Rencana kostum pun harus diubah, karena aku merasa janggal kalau Bapak jadi Mr. Potato Head sendirian, kan, hehehe. Akhirnya aku putuskan untuk membeli kaos Little Green Man. Dari segi warna akan serasi dengan kostum Ali dan kebetulannya ketiga alien mungil itu diceritakan diadopsi Mr. dan Mrs. Potato Head kan, jadi nggak jauh-amat dari rencana awal :p (Lah, maksa, hueheee).


Surprisingly, mencari kostum untukku dan Shane itu nggak sulit. Kupikir awalnya aku bakal harus pesan dari luar negeri karena kami pakai size besar. Tapi ternyata ada store lokal yang bisa membuat kostum custome made Jessie dan Woody ukuran dewasa! Mereka hanya menjual atasannya saja, dan memang cuma itu kok yang kami butuhkan. Karena meski aku pakai kostum Jessie aku tetap ingin terlihat seperti aku alias pakai rok, hahaha. Jadi daripada memakai celana bermotif kulit sapi, aku ganti saja dengan rok tutu. Aksen kulit sapinya tetap ada, tapi di kaus kaki :D Sedangkan Shane ia punya banyak celana jeans jadi nggak perlu membeli yang baru. ---As always, Halloween kami selalu sebisa mungkin nggak boros. Karena di situ serunya, memanfaatkan apa yang ada jadi hasil yang kreatif ;)

Nah, kostum Ali justru jadi yang tersulit. Di luar dugaan kan, padahal biasanya cari kostum bocil gampang T_T Kostum Buzz Lightyear nya sih banyak, tapi susaaah banget nemu ukuran yang pas. Kostum Buzz yang lucu-lucu, yang punya detail seperti aslinya, pasti ukurannya kecil-kecil, buat usia balita gitu. Sedangkan yang besar cuma bersablon di bagian dada doang tanpa detail di lengan dan celana. Yang ada malah mirip piama kan, uhuhu x'D Mungkin usia 7 tahun sudah nanggung ya, sudah masuk SD dan di sini biasanya kebanyakan yang merayakan Halloween dengan kostum sampai usia TK saja. Ali sampai bilang kalau ia nggak keberatan pakai kostum kesempitan karena kepengen mirip sama Buzz. Tapi of course nggak aku kasih. Sangat bertentangan dengan pedoman Halloween ku yang kostumnya HARUS bisa dipakai lagi buat sehari-hari, jangan mubazir, hehe. Aku nggak mau nyerah, setiap malam jari-jariku mengetik segala macam kata kunci di Google, bahkan menghubungi seller-seller yang jelas di tokonya nggak jualan kostum Buzz. ---Ya, kali aja kan punya kenalan penjual lain, hehe xD Daaaan, akhirnya! Aku beruntung juga! Ada seorang seller yang pernah menjual kostum Buzz ukuran Ali tapi ia nggak yakin apa masih ada atau nggak. Stoknya tinggal 2 potong dan aku berharap banget salah satunya ukuran Ali. Saat itu ia nggak ada di tempat, jadi minta tolong orang lain untuk mengecek ukurannya. Menurut info dari yang dimintai tolong, keduanya bukan ukuran Ali. Yang satu kekecilan dan satu kebesaran BANGET. Aku sempat pasrah bilang sama Ali kalau ia harus pilih kostum tokoh lain atau pakai kostum Buzz yang detailnya sedikit. Tapi entah kenapa keesokan harinya aku penasaran dan minta sellernya (sambil minta maaf berkali-kali kaya Mpok Minah) untuk ukur secara manual. Syukurlah ia baik banget :') Ia ukur satu-satu, dan ternyata salah satunya PAS ukuran Ali! Huaaaa, aku sampai lompat-lompat, tendang-tendang, teriak-teriak histeris (yang lalu diikuti Ali) saking senangnya! Hahaha, Akhirnya kostum kami lengkap! Termasuk Bapak yang pas 2 malam sebelum Halloween kaus Little Green Mannya tiba :)


Gimana, keren kan kostum Buzz Lightyear Ali? ;)


Kostum aku, Shane dan Ali. Waktu foto ini diambil aku belum punya boneka Jessie xD


Di malam Halloween kami membuat foto Halloween, ---karena kami tahu kalau di hari H nya nggak akan sempat. Sekalian kami juga mencoba kostum kami yang sudah dicuci dan make sure nggak ada kekurangan. Thank God semuanya pas (ya, rokku kebesaran sih tapi bisa diakali dengan ditarik ke atas pakainya). Rencananya kami akan ke rumah hantu, jadi kami tidur lebih cepat supaya bisa datang nggak terlalu siang. Paginya, tiba-tiba saja aku punya ide buat cat rambut jadi warna merah. Ceritanya biar mirip sama Jessie gitu, hahaha. Padahal untuk proses pengecatan, keramas sampai dikeringkan kan nggak cukup satu-dua jam ya, tapi entahlah kepengen saja :p Untung Shane sigap membantu, dengan cat rambut yang sudah ada (lupa waktu itu beli buat apa, hehe) ia mengecat rambutku serapi dan secepat mungkin. Hasilnya bagus , aku suka! Yaaa, meskipun rambutku nggak panjang kaya Jessie, yang penting warnanya mirip dan sama-sama ada kepangnya. ---Maksudnya aku pakai bando model kepang yang dibelikan Ibu beberapa waktu lalu :p


Rokku ketara banget ya kebesaran (lihat lipatannya sampai perut, ahahaha).


Jessie and Woody (Woody nya pakai sandal Swallow).



Karena Halloween jatuh di hari Senin dan nggak masuk sebagai holiday di sini, jadi kami pergi ke rumah hantu yang berada di Trans Studio sepulang Ali dari sekolah. Sebenarnya at least ada 3 mall lain di Bandung yang juga punya event Halloween, tapi setelah scrolling di akun Instagram mereka kayanya cuma Trans Studio yang paling nyaman dan family friendly. Soalnya jujur nih, aku kurang sreg kalau Halloween jadi ajang cosplay khusus genre tertentu dan yang datang kostumnya banyak yang nggak age appropriate T_T Anyway, waktu kami tiba ternyata suasana nggak begitu ramai. Mungkin karena itu tadi, bukan di hari libur. Dekorasinya juga sangat minim, hanya ada satu pohon raksasa yang terbuat dari rangkaian labu-labu Jack O'Lantern. Selebihnya sama seperti hari-hari biasa, bahkan di tempat yang seharusnya menjual topeng Halloween pun kosong. Agak kecewa sebenarnya karena Ali sudah bersemangat membawa ember labunya tapi ternyata nggak ada yang bagi-bagi permen, hehe :'D Dulu, waktu Trans Studio baru dibuka, Halloween jadi waktu yang lebih menyenangkan. Ada dekorasi di setiap sudut, seluruh pegawainya memakai kostum, ada diskon untuk yang datang memakai kostum dan tentu ada acara bagi-bagi permen. Sayang ya Ali nggak sempat mengalami karena ia belum lahir waktu itu :'D Tapi aku ingat kalau moment berharga itu bisa diciptakan, bukan bergantung pada tempat. Jadi aku putuskan untuk menerima segala perubahan dan bersenang-senang :) 


Satu-satunya dekorasi Halloween di TSB. Beda banget ya dibanding waktu dulu :')


Waktu kami mau masuk wahana rumah hantu rupanya hanya aku yang ketakutan, hahaha. Sepanjang lorong antrian aku memegang tangan Shane kuat-kuat. Mungkin karena suasananya gelap dan sepi ya, ---hanya ada satu keluarga lain yang mengantri di depan kami. Sementara Ali, di luar dugaan ia santai-santai, bahkan dengan bersemangat melihat-lihat suasana sekitar yang disetting menyeramkan dengan batu nisan, lukisan dan lampu gantung. Karena satu kereta yang digunakan di wahana hanya untuk empat orang saja, jadi kami harus menunggu dulu sebentar. Ketika kereta tiba aku langsung bimbang antara mau duduk di barisan depan atau belakang. Aku merasa duduk dimana pun nggak aman. ---Kalau di belakang aku takut ada yang nyolek-nyolek punggungku, sementara kalau di depan aku bakal jadi orang pertama yang melihat "hantu", hahaha T_T Belum juga aku memutuskan, eh, Ali dan Bapak sudah duduk di belakang. Ya.. terpaksa deh aku yang di depan, hahaha :')


Selama di dalam rumah hantu aku kebanyakan tutup mata, tapi tanganku tetap berusaha arahkan handphone ke "para hantu" untuk merekam. Pikirku kalau pun pas di wahana nggak lihat apa-apa, minimal aku bisa lihat rekamannya nanti, hahaha. Agak aneh memang, Halloween adalah holiday favoritku dan aku hobi banget nonton film horor, tapi masuk rumah hantu family friendly saja takut xD Menurut Shane itu karena imajinasiku terlalu besar, aku jadi suka membayangkan hal-hal mengerikan yang sebenarnya nggak mungkin terjadi. Yaaa, betul juga sih, bahkan kalau lagi nonton film horor saja kadang imajinasiku malah lebih seram dan ujung-ujungnya malah ngarang cerita sendiri yang lalu aku ceritakan sama Shane setelah filmnya selesai :p (Ini alasan kenapa kami kalau habis nonton nggak langsung keluar dari bioskop, ---ngobrol dulu, hahaha).


Keluar dari rumah hantu kami langsung membahas pengalaman kami, dan kesimpulannya ternyata memang hanya aku yang takut -_-"  Bapak bilang wahananya seru dan lumayan menyeramkan karena ada hantu kepala terpenggal (haha), sementara Shane dan Ali, mereka bilang nggak seram sama sekali. (Seketika aku merasa menyesal kebanyakan tutup mata). Tapi kami setuju kalau rumah hantu jadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Bapak bahkan sampai punya ide buat berfoto di depan rumah hantu untuk bukti kalau kami berani masuk ke sana lho. Sekalian supaya Halloweennya terasa katanya :D Rumah hantu juga jadi satu-satunya wahana yang Halloween related karena Trans Studio nggak punya wahana spesial Halloween seperti Escape Room di tahun 2018 lalu yang bertepatan dengan rilisnya film Goosebumps: Haunted Halloween. Setelah itu kami ya main wahana-wahana biasa saja, seperti Dragon Riders (naga terbang), Sky Pirates (balon udara) dan lain-lain. Oh iya, waktu Ali sedang bermain di play ground khusus anak, aku dan Shane pergi berdua untuk memesan makan siang. Ternyata ada flashmob dance Thrillernya Michael Jackson dari para zombie yang entah datang dari mana xD Kami sempat diajak, tapi kami menolak karena sedang buru-buru dan... nggak bisa menari! :p 


Bukti kalau kami masuk Rumah Hantu :p


Makan siang dengan mie jamur. Gak banyak pilihan di TSB, tapi yang penting perut jangan sampai kosong :D


Setelah perut kenyang dan puas dengan wahana-wahana menegangkan, kami menghabiskan sisa waktu di Trans Studio dengan bermain di "Kids Friendly Zone". Well, tepatnya Ali sih yang main sementara aku, Shane dan Bapak kebanyakan duduk-duduk saja sambil beristirahat. Di zona ini wahananya memang dibuat versi mini karena diperuntukan untuk anak-anak. Aku sempat  mendampingi Ali di dua wahana, itu pun karena Ali yang minta dan setelah izin petugasnya. Kalau nggak izinin aku sih malah nggak apa-apa, karena TBH aku ngerasa janggal jadi yang paling gede sendirian pas naik kereta mini, haha xD 

Meski masih ada waktu sebelum closing tapi kami putuskan untuk nggak naik wahana apa-apa lagi. Kami menonton parade penutupan dan kami keluar area Trans Studio dengan hati yang sangat senang dan puas :)


Kudanya mungil, jadi aku gak berani naik, hahaha.


Selesai parade kami berfoto dulu dengan marching band.


Mermaid cantik :)


Please aku penasaran ini kostum apa. Zebra laut gak sih? xD


Rencana kami selanjutnya adalah makan malam sebelum pulang. Waktu kami turun menuju area mall, aku mampir ke toilet dulu untuk buang air dan sedikit touch up (sisiran maksudnya, huehe...). Waktu keluar dari toilet aku langsung disambut oleh Shane yang super excited karena melihat poster Toy Story! Rupanya Miniso menjual merchandise Disney khususnya Toy Story. Sungguh kebetulan yang manis karena sama dengan tema Halloween kami :') Langsung saja kami masuk untuk melihat-lihat dan berakhir dengan membawa pulang satu phone charm Little Green Man dan satu gantungan tas berbentuk hati yang Ali pilih untuk Yeyer, boneka kucingnya :D


Pojok kanan atas foto di depan poster yang Shane tunjukkan.


Karena ide Shane kami akhirnya makan malam di restoran pizza, ---tepatnya di Pizza Hut Buah Batu, yang waktu tulisan ini dibuat sudah tutup karena kontraknya habis :') Lagi-lagi kebetulan yang manis, kami jadi seperti di dunia Toy Story sungguhan. Bedanya hanya di nama restoran saja, Pizza Hut alih-alih Pizza Planet! Hehehe. Kalau dipikir lucu juga sih, kami jadi seperti punya dunia sendiri. Waktu kami duduk berempat, makan sambil mengobrol, kami sedang menikmati Halloween yang super menyenangkan. Tapi waktu aku berdiri untuk ke wastafel atau mengambil salad dan melihat sekitar aku jadi sadar kalau untuk orang lain Halloween hanya hari Senin biasa. Keluarga memang ajaib. Bersama mereka aku merasa "normal" dan "aman", ---bahkan saat menjadi yang satu-satunya memakai kostum.


Akhirnya ada foto berempat. Difotoin Mbak Pizza Hut :D


Ali dan Bapak alias si kembar.


Kami pulang dengan perasaan bahagia dan kelelahan. Aku dan Shane langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sementara Ali dengan bersemangat (tapi mengantuk) bercerita tentang Halloween kami pada Ibu yang sudah berada di rumah :D Keesokan harinya kami melanjutkan Halloween movie marathon yang sudah berlangsung sejak awal Oktober. Ada banyak judul yang kami tonton, selain Toy Story (tentu saja!) kami juga menonton Hocus Pocus. Aku dan Ali "agak" terobsesi dengan film itu, baik versi original maupun sekuelnya. Kami menontonnya berulang-ulang, bahkan di hari yang sama kami bisa menontonnya dua kali xD Selain itu kami juga membuat kue lumpur alias mud cake yang selalu kami buat di setiap Halloween. Nggak seramai biasanya, of course, karena kami menyesuaikan dengan keadaan. Tapi tetap, kuenya membawa senyuman untuk kami karena meski Halloween 2022 ini "berbeda" tapi kami punya bagian yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya :)


Sekuel Hocus Pocus dapat review jelek? Ah, gak ngaruh buat kami. Tetap suka! xD


Mud cake sederhana yang dibuat dengan penuh cinta :p


Sekarang baru pertengahan tahun 2023, tapi aku (dan Shane) sudah kembali rindu dengan Halloween. Sesekali kami menonton film horor yang fun juga membicarakan rencana kostum apa yang akan dipakai di Halloween pertama di rumah baru kami. Kalau sedang di dalam rumah dan mencium aroma lilin aroma pumpkin yang dibakar, kadang aku lupa kalau sekarang masih musim kemarau, hehehe. Aku sering bilang kalau Halloween itu waktunya untuk kreatif dan family time, ---dan itu betul karena kami bisa berdiskusi tentang ide-ide kami dan mewujudkannya bersama :) Juga, embrace every moment, ---sampai kapan Ali akan mau ber Halloween dengan kami? Gak ada yang tahu. Karena suatu hari ia akan dewasa dan mungkin lebih memilih untuk hangout dengan teman-temannya. Jadi selama kami bisa, kami nggak akan menyia-nyiakan waktu bersama :) 


Kalau kalian, adakah yang merayakan Halloween? Kalau ada, share ya ceritanya di kolom komentar! :) (atau drop link vlog dan blognya juga boleh, ahahaha).


Vlog Halloween 2022/reaksi masuk Rumah Hantu :p


Skit kami, Toy Story di dunia nyata :D



boo!


INDI


----------------------------------------------

Kontak Indi:

namaku_indikecil@yahoo.com (email)

@indisugarmika (Instagram)

Sabtu, 14 Januari 2017

Scoliosis, HIV/AIDS dan Skripsi

Sore itu aku menunggu Bapak pulang dengan nggak sabar. Gue ada janji dengan seseorang pukul 4 sore sementara waktu sudah menunjukan pukul setengah 4 sore, ---lebih sedikit. Desember selalu menjadi bulan yang sibuk untuk keluargaku. Ibu dan Bapak sibuk dengan pekerjaannya di bidang fashion, sementara aku sibuk dengan kegiatan yang berhubungan dengan hari AIDS sedunia. Tapi hari itu aku berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang mahasiswi dari salah satu universitas di Bandung. Aku sudah berjanji jauh-jauh hari, jadi meskipun sebentar aku harus bisa.

Menunggu Bapak untuk mengantarkanku wawancara.

Waktu akhirnya Bapak datang aku masih belum bisa lega. Sepanjang jalan sangat macet. Mungkin karena tempat kami janjian berada di pusat kota, mungkin karena banyak yang sedang menghabiskan libur akhir tahun, ---atau mungkin juga karena keduanya. Setelah masuk area parkir aku jadi agak menyesal karena memilih mall sebagai tempat pertemuan. Aku dan Bapak harus memutar beberapa kali sebelum menemukan tempat yang kosong. Uh, 15 menit, lho... Padahal maksudku memilih mall agar tempatnya mudah dijangkau dan jaraknya fair bagi kedua belah pihak, tapi malah begini :'D Kalau dipikir lucu juga ya, seharusnya sebagai warga Bandung aku sadar kalau musim liburan Bandung pasti jadi milik bersama :p

Seperti yang aku duga, Dyah, ---nama mahasiswi itu, sudah menungguku di area food court. Ah, rasanya nggak enak sekali karena sudah membuatnya menunggu selama 15 menit:( Dyah ingin mewawancaraiku sebagai narasumber untuk skripsinya yang bertema scoliosis. Rupanya ia juga seorang scolioser, ---yang kurvanya lebih kecil dariku, dan dulu sempat terapi di tempat yang sama denganku. Tanpa berlama-lama ia langsung mengeluarkan handphonenya untuk merekam dan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku sudah sering menjadi narasumber, ---bahkan sebelum skripsiku sendiri selesai, hehehe, ---tapi kali ini agak berbeda karena pertanyaan-pertanyaan Dyah yang unik.

Sama seperti yang sudah-sudah, selalu ada pertanyaan 'standar' seperti, kapan aku tahu mengidap scoliosis dan tentang terapi-terapi apa saja yang sudah pernah aku lakukan. Tapi lalu Dyah bertanya tentang terapi favorite dan least favorite ku. Hahaha, biasanya pertanyaan seperti itu diajukan kalau bicara soal film, musik atau bahkan makanan kan :D Dyah juga bertanya tentang apa yang aku pikirkan jika ada game dengan tema scoliosis. Well, honestly meski aku berusaha 'memasyarakatkan' scoliosis dengan cara menyematkannya di daily basis, tapi soal game sama sekali belum pernah terpikir :O Genius! Rupanya Dyah memang ada rencana untuk membuat game scoliosis. Aku belum tahu seperti apa detailnya, tapi mendengarnya saja sudah membuatku super happy :D

Setelah wawancara selesai aku langsung pamit untuk pulang. Agak terburu-buru, tapi aku pastikan Dyah mendapatkan semua jawaban yang ia butuhkan. Aku berpesan padanya jika masih ada yang kurang bisa mengirimiku email dan akan kujawab kemudian. Fiuh, lega rasanya karena akhirnya ada janji wawancara skripsi di Bulan Desember yang terpenuhi. Sebenarnya di bulan yang sama cukup banyak yang memintaku menjadi narasumber, tapi sayangnya terpaksa harus aku tolak karena waktunya kurang pas. Aku selalu berusaha untuk menyempatkan memenuhi meskipun sebatas via email atau telepon. Kalau ada yang terlewat rasanya 'ganjel' sekali. Mungkin teman-teman heran kenapa aku segitu ngototnya soal skripsi ini. Memang apa untungnya untukku?

Bersama Dyah. Meski sedikit terburu-buru tapi semua pertanyaan sudah terjawab :)



Scoliosis, HIV/AIDS; Dua Hal Berbeda tapi Sama yang Jarang Dibicarakan

Aku didiagnosis mengidap scoliosis ketika berusia 13 tahun dan 2 tahun kemudian mengenal Mika yang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Selain saling mencintai, kami juga punya persamaan lain yaitu memiliki 'sesuatu' di tubuh kami yang somehow orang jarang sekali mau membicarakannya. Aku masih ingat dulu ketika awal menggunakan brace (penyangga tulang belakang untuk scoliosis), keluarga besarku enggan sekali membicarakannya. Aku nggak yakin dengan alasan tepatnya. Entah karena denial, berpura-pura brace ku invisible atau malah karena menganggap scoliosis bukan sesuatu hal yang penting. Ibu dan Bapak pun awalnya begitu, mereka hampir nggak pernah membicarakannya kecuali jika memang harus sekali, ---seperti misalnya saat mendaftar ke sekolah baru. 

Karena sudah terbiasa aku pun jadi sempat menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Aku jadi ikut enggan membicarakannya, bahkan saat ada teman satu kelas yang bertanya tentang kondisiku. Tapi pelan-pelan aku dan orangtua mulai sering membicarakan tentang scoliosis, terutama karena mereka akhirnya sadar bahwa apa yang aku alami bukan sekedar masalah 'kosmetik'. Ini mempengaruhiku 24 jam sehari dan sepanjang hidupku. Kami mulai berinisiatif untuk 'memasyarakatkan' scoliosis pada lingkungan sekitar. Aku di-encourage untuk memakai brace di luar baju dan bahkan menjadi narasumber untuk beberapa acara TV dengan didampingi Ibu dan Bapak.

Tapi jika bicara soal keluarga besar lain lagi ceritanya. Ada salah satu om ku yang nggak setuju jika aku bercerita tentang scoliosis di media, terutama TV. Beliau bahkan sampai mengutarakan keberatannya kepada Bapak. Alasannya sungguh membuatku tersinggung. Beliau berkata bahwa aku nggak perlu melakukan itu, dan dengan jujur soal kondisiku bisa membuat laki-laki 'berpikir dua kali' untuk dekat denganku (---padahal nggak ngaruh ya, yang naksir aku banyak, lol). Aku nggak akan cerita tentang detailnya, yang pasti ini sempat membuat orangtuaku meradang. Apalagi pernyataan om ku itu nggak mendasar; beliau hanya tahu scoliosis sebagai 'masalah' fisik. Syukurlah pada akhirnya om ku meminta maaf. Goal ku adalah agar suatu hari nggak ada lagi yang berpikir seperti beliau. Karena saat aku berbicara tentang scoliosis sebenarnya ada misi penting di dalamnya (---akan aku jelaskan di bawah).

HIV/AIDS mungkin sekilas terkesan jauh berbeda dengan scoliosis. Tapi semenjak mengenal Mika aku jadi sadar bahwa 'kondisi' kami nggak jauh berbeda. Sama seperti scoliosis, orang juga enggan membicarakan tentang HIV/AIDS. ---Bahkan lebih buruk lagi, pengidapnya mendapatkan stigma dan diskriminasi. Aku masih ingat ketika SMA teman-teman dan guru nggak begitu mengganggap Mika. Jika pun ia dibicarakan pasti hanya dari sisi negatifnya saja. Mika bisa melakukan seribu kebaikan dan orang masih juga nggak bisa melihatnya. Orang nggak akan peduli betapa Mika membuatku happy, membuatku lebih percaya diri dan hal-hal baik lainnya. Yang mereka lihat hanya satu: virus yang ia idap. Padahal Mika lebih dari itu. Mika adalah laki-laki tercerdas dengan sense of humor terbaik yang pernah aku kenal!


Speak UP! Raise the awareness!

Semakin dewasa aku semakin sadar bahwa berpura-pura dan menolak membicarakan scoliosis dan HIV/AIDS hanya membuat keadaan semakin buruk. Let's talk about scoliosis first. Berapa banyak orang yang tahu apa itu scoliosis? Berapa banyak orang yang tahu bahwa scoliosis bisa jadi sesuatu yang serius terutama jika kurva pengidapnya sudah besar? Sayangnya masih sedikit. Bahkan memiliki anggota keluarga yang mengidap scoliosis pun bukan jaminan memiliki pengetahuan yang cukup. Aku mengerti bahwa sebagian orang enggan membicarakannya karena dari luar scoliosis hanya terlihat seperti tulang yang bengkok. Padahal scoliosis bisa mempengaruhi kualitas hidup pengidapnya karena, ---of course organ tubuh lainnya pun ikut terpengaruh.

Aku bersyukur karena sekarang semakin banyak media yang bisa digunakan untuk 'bicara'. Dari berbagai macam sosial media, blog sampai situs-situs unggah video gratis. Aku bisa memberikan informasi yang benar (---well, aku berusaha) tentang scoliosis dan berbagi tentang kehidupanku sebagai seorang scolioser. Semakin banyak orang yang tahu tentang scoliosis maka semakin berkurang pula ke ignorant-an orang tentang isu ini. Scoliosis memang bukan hal yang menyenangkan, tapi deteksi dini bisa mempermudah koreksi dan penanganan pengidapnya. Sering kali aku menerima email dari para orangtua yang baru sadar anaknya mengidap scoliosis setelah menonton film Mika! Siapa sangka, hal sesederhana melihat caraku berjalan dan melihat lengkung punggungku di film bisa 'menyelamatkan' anak-anak remaja mereka. Banyak di antara mereka yang ketahuan saat kurvanya masih kecil sehingga belum membutuhkan operasi :)

Dengan berani berbicara juga membuat scolioser lain yang tadinya bersembunyi mulai bermunculan. Banyak di antara mereka yang ragu untuk bicara karena takut dibilang manja atau dikira ingin diistimewakan. Dan itu juga yang terjadi padaku dulu. Betapa takutnya untuk berbicara tentang kondisiku pada guru olahraga karena khawatir dinilai lemah dan menjadi bahan ejekan teman-teman. Dan hal terpenting yang "didapat" dari speak up adalah bisa membuat scolioser sadar bahwa mereka nggak sendirian. Saat sedang berjuang di ruang fisioterapi, saat sedang memakai brace 23 jam setiap hari, saat sedang menunggu di pinggir lapangan sementara teman-teman sekalas mengikuti pelajaran olahraga, ---mereka, kita akan ingat bahwa di suatu tempat ada scolioser lain yang juga sedang merasakan hal yang sama :)

Dan tentang Mika, aku merasa ia bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan dalam berbagai hal jika saja orang melihat ia di luar status HIV nya. Menolak untuk membicarakan, berpura-pura nggak ada yang terjadi dan meng-ignore keberadaannya hanya membuat keadaan semakin buruk. Dan yang aku maksud sebagai 'semakin buruk' bukan hanya tentang Mika, tapi juga tentang mereka. Aku berani bilang dengan menolak Mika mereka miss out banyak hal seru dan menarik tentang Mika. Mereka nggak akan pernah tahu betapa cerdas dan betapa hangatnya kepribadian Mika hanya karena mereka 'takut' dengan HIV/AIDS. Aku nggak menyalahkan mereka, karena apa yang sudah melekat selama berpuluh-puluh tahun pasti susah sekali dihilangkan. Saat mendengar HIV/AIDS yang melintas di benak kebanyakan orang pasti kesan seram. Padahal benarkah demikian?

Karena menolak membicarakannya orang terkadang lupa bahwa HIV/AIDS 'sama saja' seperti flu dan virus lainnya. Siapa saja bisa terjangkit dan belum tentu karena apa yang dilakukannya. Tahukah kalian bahwa banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang juga berstatus sebagai ODHA? Dan jika pun ada orang yang terjangkit virus HIV karena lifestyle atau sesuatu yang mereka lakukan... we are all human after all. Kita nggak punya hak untuk men-judge atau berkata hal buruk tentang mereka. Mari kita mencoba menilai seseorang 'melampaui' apa yang ia idap. Perlakukan setiap orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Terdengar klise dan sangat PPKN, ---but it works, haha, trust me. Kenapa kita mengucilkan seseorang sebelum mengenalnya lebih jauh? Padahal kita nggak tahu apa pengaruhnya orang itu terhadap diri kita, ---bahkan orang banyak jika saja diberikan kesempatan.

Aku pakai Mika sebagai contoh kecilnya saja, bahwa banyak orang di sekitarnya yang miss out dengan kepribadian luar biasa Mika (---saat mengetik ini pun aku tiba-tiba teringat dengan aksi ala 'rockstar' nya yang membanting gitar imajiner, hahaha). Kita mungkin pernah membaca berita tentang seorang anak yang dikucilkan atau diusir dari desanya karena ia mengidap HIV. Atau malah pernah menonton video tentang anak yatim piatu yang sulit diadopsi karena ia mengidap HIV. Coba bicarakan tentang HIV/AIDS, speak up, ---edukasi diri sendiri dengan fakta-faktanya maka 2 headline tersebut akan terasa janggal karena tiba-tiba kita nggak lagi melihat ada kata "HIV" di judulnya. Siapa yang tahu di masa depan apa yang terjadi dengan anak-anak itu? Mereka bisa saja calon penemu hebat, calon pemimpin hebat, ---siapa tahu. Dan kita missing out hanya karena menolak kehadiran mereka.


Scoliosis dan HIV/AIDS Sekarang

Things will get better, aku percaya itu. Perjalanan memang masing panjang. Bahkan keluarga besarku belum 100% menerima baik tentang scoliosis (baca: kalau scoliosis itu nggak lebih dari masalah kosmetik a.k.a nggak penting) juga tentang HIV/AIDS. Tapi aku percaya nggak ada hal yang sia-sia, dan yang instan pun belum tentu baik. Aku menikmati perjalananku dalam memasyarakatkan scoliosis dan menghapuskan stigma pada ODHA. Aku nggak akan pernah berhenti speak up dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun itu. Kalau ini film Toy Story, situasi sekarang mirip seperti saat Woody dan teman-teman melihat claws saat hampir dibakar di pembuangan sampah. "I see the light", hehehe (---eh, kok malah film Tangled, lol). Sepupuku yang berusia 10 tahun bisa secara santai berbicara tentang bagaimana HIV bisa menjangkiti tubuh seseorang tanpa di "sssh" oleh orangtuanya karena dianggap tabu. Dan aku pun bisa tersenyum lebar ketika iparku bercerita bertemu dengan seseorang yang menggunakan brace di luar baju dengan penuh percaya diri. 

Sekali lagi, I believe things (will) get better. Berpura-pura nggak melihat apa yang terjadi di sekitar kita nggak membuat situasi menjadi lebih baik. Speak up, ---beritahu dunia bahwa kita ada. Bukan karena ingin diistimewakan tapi karena semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan :)


Lagu yang aku ciptakan untuk teman-teman istimewa :) #scoliosisawareness


girl with a cheeky spine,

Indi

___________________________________________
*Ingin mendukungku dengan memiliki karya-karyaku? Klik www.homerianshop.com dan ketik judul novelku (Waktu Aku sama Mika/Karena Cinta Itu Sempurna/Guruku Berbulu dan Berekor) di kolom "cari".
*Ingin berkontribusi untuk novel Guruku Berbulu dan Berekor Part 2? Kirim cerita menarik dan menginspirasi kalian dengan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com. Royalti untuk didonasikan ke penampungan hewan.


___________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com