Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2020

"Waktu Aku sama Mika" Kembali! :)

Hai bloggies! Apa kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Kelihatannya sih di daerahku hampir semuanya sudah beraktivitas seperti biasa, kantor sudah banyak yang buka, pertokoan jam operasionalnya kembali seperti dulu, ---hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Aku dan Shane juga termasuk yang masih bekerja dari rumah, jadi harus kreatif supaya nggak jenuh, hehe. Apalagi sekarang sudah masuk musim kemarau yang artinya matahari sedang teriiiiik sekali. Bawaannya kepengen main di luar, kalau bisa sih berenang atau minimal jalan-jalan di mall sambil makan es krim :D Tapi jangan dulu deh, aku dan Shane memilih untuk membatasi keluar rumah karena lebih aman. Apalagi tante dan saudaranya kakak ipar yang di Amerika juga terkena covid, ---better hati-hati daripada menyesal kan :)

Selama keabsenanku di blog ini sebenarnya banyak yang terjadi, dan rasanya ingin menebus buat cerita semuanya setelah mood (haha) dan laptopku kembali. Tapi 2 minggu lalu ternyata laptopku ada yang meminjam, jadi keinginanku harus tertunda. Saat seperti ini laptop dan internet memang jadi esensial sih, ya. Apa-apa kebanyakan dikerjakan lewat internet :'D Saat aku "hilang" itu, ada kabar yang menggembirakan. Aku memang sempat menyentilnya sekilas di sini, tapi belum pernah menceritakan secara lengkap. "Waktu Aku sama Mika", novel karyaku kembali dipinang oleh penerbit. Kisahku dan mendiang Mika kali dihidupkan kembali oleh penerbit Shira Media dengan konsep yang lebih segar dan manis :) Kontrakku dengan penerbit sebelumnya memang sudah habis. Sempat ada keinginan buat menerbitkannya secara indie, tapi rupanya seperti jodoh, di saat yang tepat Shira Media menghubungiku untuk menawarkan kontrak.

"Waktu Aku sama Mika".

"Waktu Aku sama Mika" adalah kisah yang nggak pernah aku rencanakan untuk menjadi novel. Bahkan tulisanku dibaca orang lain pun sebelumnya nggak pernah terbayangkan. Dulu aku menulis kisah cinta masa SMA murni demi "melegakan" perasaanku. Sama sekali nggak ada alur, sama sekali nggak ada konsep. Bisa dibilang sekedar curahan hati. Orang mungkin menyebutnya cinta monyet. Tapi buatku jatuh cinta dengan Mika adalah salah satu bagian dari pengalaman berharga, yang membantu proses penerimaan diri dan mengubah cara pandangku terhadap dunia menjadi lebih positif :) Waktu itu aku berusia 15 tahun, serba kebingungan dengan dunia remaja yang entah mengapa aku selalu nggak bisa berbaur. Sebanyak apapun aku mencoba, aku selalu asing. Aku pikir scoliosis membuatku berbeda, ---bukan dalam arti yang positif. Brace, atau penyangga punggungku terlalu visible dan mungkin membuat orang lain nggak nyaman untuk bergaul denganku. Lalu datang Mika, yang membuktikan padaku bahwa manusia itu seperti apel. Dari luar mungkin tampak berbeda, seperti kulit apel yang berwarna-warni. Tapi dalamnya sama saja. We are all human. Untuk pertama kalinya aku merasa diterima dan mulai belajar untuk melihat sesuatu seperti sudut pandang Mika. Bagiku Mika adalah sosok laki-laki yang sempurna, dia bagai malaikat untukku, ---terlepas dia adalah seorang ODHIV, orang dengan HIV.




Lebih Personal
Waktu penerbit memberi tahu kalau akan ada edisi istimewa terbatas "Waktu Aku sama Mika", aku senang sekali. Aku pikir setelah sekian lama kisahku dan Mika "hidup", sekarang adalah waktu yang tepat untuk memiliki penanda atau kenang-kenangan yang bisa kusimpan sampai nanti :) Ada 500 paket novel bertanda tangan dan totebag bergambar serasi dengan sampul "Waktu Aku sama Mika". Iya, aku benar-benar menandatangani semuanya, satu persatu. Lumayan pegal, tapi aku sangat bersemangat meskipun sempat jatuh sakit. (---Bukan sakit karena kelelahan tanda tangan lho, ya, memang kebetulan saja waktunya bersamaan, hehehe). Selain perasaan senang, sebenarnya aku juga merasa cemas. Soalnya 500 itu bukan jumlah yang sedikit. Apa mungkin pembacaku sebanyak itu? Hehe. Tapi berkat dukungan ortu dan Shane aku bisa menepis pikiran yang kurang positif. There's no such thing as a bad book. Setiap buku istimewa, hanya harus menemukan hati yang tepat untuk ditempati. Iya, kan? ;)

Menandatangani 500 halaman pertama novel "Waktu Aku sama Mika"! :D

Totebag yang bisa didapatkan di paket istimewa.


Akhirnya di Toko Buku!
Entahlah kenapa, aku punya kebiasaan malu-malu dan cemas nggak jelas (---mungkin related sama diagnosis OCD ku? IDK). Waktu tahu novelku sudah ada di toko buku (offline dan online), aku ingin sekali melihatnya sendiri. Tapi aku malu kalau ke toko buku dan mencari-cari novelku di sana. Padahal kalau dipikir, siapa juga yang akan memperhatikan ya? Huhu. Setelah ada beberapa teman pembaca yang membeli novel "Waktu Aku sama Mika" di toko buku memention ku di medsos, akhirnya akupun membulatkan tekad untuk melihatnya sendiri. Toko buku pertama yang aku kunjungi dengan Shane adalah Gramedia cabang Merdeka Bandung. Waktu itu kami habis dari bioskop bersama teman-teman kerja. Aku pikir sekalian saja ke toko buku. Ternyata benar ada, di rak paling besar! :'D Jujur, rasanya overwhelming. Aku sampai beberapa kali meremas lengan Shane supaya bisa menahan diri untuk nggak memekik, hahaha. Nggak lupa aku mengambil foto, ---setelah nengok kanan-kiri takut ada yang memperhatikan :p

Menemukan "WASM" di rak Gramedia Merdeka Bandung!

"Waktu Aku sama Mika" di rak Togamas Supratman Bandung.

Selain Gramedia, novel "Waktu Aku sama Mika" juga ada di toko buku-toko buku lainnya seperti Togamas, Jendela dan lain-lain. Di toko online juga ada. Mudahnya sih tinggal mengetik judulnya saja di Shopee, Tokopedia atau medsos seperti Instagram dan Twitter. Nanti akan muncul nama-nama toko yang menjual novelku :) Oh iya, tapi khusus edisi bertanda tangan dan totebag hanya dijual di toko online saja (termasuk di website resmi Shira media) karena jumlahnya terbatas.

Menjadi Best Seller
Dulu aku nggak pernah membayangkan tulisanku dibaca oleh orang lain. Bisa menerbitkan buku rasanya seperti mimpi, ---apalagi waktu tahu kalau karyaku dipajang di rak "Paling Laris". Rasanya lebih indah dari mimpi! :') Apalagi aku tahunya bukan karena dapat kabar dari penerbit atau teman pembaca, tapi aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Waktu itu aku dan Shane baru saja selesai dari dokter, karena lapar kami mampir ke tempat pizza dulu. Di dekat sana ada toko buku, lalu iseng-iseng kami mencari novelku. Sepuluh menit pencarian, kami nggak menemukannya dan akupun menyerah. Tapi suamiku rupanya masih penasaran dan memintaku untuk bertanya pada petugasnya. Mulai deh aku cemas karena setelah waktu lumayan lama dia belum juga menemukan dimana novelnya. Rasanya aku sudah mau kabur saja, hehe. Sampai akhirnya ada petugas lain yang tahu dan ternyataaaa... aku dan Shane sudah melewati tempat yang dimaksud berkali-kali! Kami memang sama sekali nggak terpikir untuk mengecek ke sana karena itu rak best seller. Aku pikir too good to be true saja kalau sampai ada di sana. Setelah petugasnya pergi baru deh aku bisa heboh-heboh sedikit. Terharu, nggak menyangka, bahagia, semua jadi satu. Novelku best seller! :')

Satu-satunya foto yang Shane ambil karena waktu kami di sana tokonya sedang mati lampu, hahaha.

Ekspresi bahagiaku waktu tahu novel "WASM" ada di jajaran buku laris :)

Bersama Shane yang selalu mendukung dan siap sedia mengantarku ke toko buku :)

Terbitnya (lagi) "Waktu Aku sama Mika" adalah salah satu hal terindah yang terjadi padaku di masa "nggak mudah" sekarang ini. Aku bersyukur memiliki keluarga dan tempat tinggal yang membuatku nyaman. Tapi jujur ada kalanya aku merasa stuck karena harus diam di rumah. Meski istilahnya WFH alias work from home, tetap saja rasanya berbeda. Apalagi karena sebelumnya aku terbiasa berinteraksi langsung dengan orang-orang di tempatku bekerja paruh waktu. Nah, membaca komentar-komentar pembaca tentang novel "Waktu Aku sama Mika" ternyata bisa mengobati kerinduanku. Terkadang aku sempatkan untuk sedikit mengobrol, apalagi jika mereka merasa related dengan kisahku dan Mika.
Ungkapan perasaanku di sini rasanya nggak sebanding dengan apa yang sebenarnya kurasakan, no words can dercribe how happy and grateful I am. Kisah cintaku dan Mika memang nggak sempurna, ---seenggak sempurna kondisi fisik kami. Tapi melihat apa yang novel ini capai rasanya aman untuk bilang, "Terima kasih telah melihat aku dan Mika ‘melampaui’ kondisi kami. Terima kasih!" :)




selalu sugarpie-nya Mika,

Indi




Dapatkan "Waktu Aku sama Mika" di toko buku seluruh Indonesia (Togamas, Gramedia, dll), www.shiramedia.com (WhatsApp: 087843333019) dan di berbagai toko buku online (gunakan keywords: 'Waktu Aku sama Mika' di Instagram, Facebook, Twitter, Shopee, Bukalapak dan Tokopedia).

--------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com



Senin, 11 Agustus 2014

Tentang Novel "Karena Cinta Itu Sempurna" :)


Aku dan novel “Karena Cinta Itu Sempurna”.





"Apa rasanya sakit, Mika? Waktu HIV membunuh CD4 kamu?"
Mika menyelipkan rokoknya lagi, tapi kali ini lebih lama karena ia memutuskan untuk mengunyahnya.
"Kamu ingat bintang-bintang yang ditempel di papan di dalam kelasmu? Bu guru akan mencabuti satu persatu jika ada murid yang nakal, iya kan?"
Aku mengangguk.
"Bintang-bintang itu seperti CD4, sedangkan Bu guru itu seperti HIV. Dan aku adalah muridnya, Sugar... Jadi aku akan baik-baik saja, selama aku tidak nakal."
Aku mengangguk mengerti.

(Karena Cinta Itu Sempurna, halaman 83)

***



"Karena Cinta Itu Sempurna" adalah novel kedua yang kutulis dan diterbitkan oleh Homerian Pustaka. Sama seperti novel sebelumnya, "Waktu Aku sama Mika", novel ini juga diambil dari pengalaman hidupku, alias diary yang dibukukan. "Karena Cinta Itu Sempurna" menceritakan masa kecilku yang penuh dengan khayalan dan teman-teman yang unik, masa remajaku yang mengalami pahit manis setelah divonis mengidap scoliosis oleh dokter lalu menemukan seorang penyembuh bernama Mika, yang mengidap AIDS tapi mempunyai semangat yang sangat besar. Dan masa-masa memasuki dunia dewasa yang membingungkan tapi juga menyenangkan.

Jika teman-teman pernah menonton film MIKA (dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai Mika dan Velove Vexia sebagai aku), maka novel ini akan memberikan penjelasan lebih dari apa yang ada di film, karena scene-scene dari film tersebut memang banyak yang diambil dari novel ini :) 
Sampai sekarang "Karena Cinta Itu Sempurna" sudah dicetak sebanyak belasan kali dan aku sangat bersyukur karena mendapatkan sambutan yang positif. Bukan hanya dari pembaca di Indonesia tapi juga di luar negeri. Seperti Malaysia, Singapore dan Australia. Thank God :)


Foto-foto kiriman pembaca. Terima kasih banyak! :D



Berikut beberapa komentar dari pembaca "Karena Cinta Itu Sempurna":

"Cerita ini mengajarkan aku apa itu cinta sesungguhnya tanpa membalas atau bersyarat."
(Hannie, pengguna Facebook)

"Novel kedua terbaik dari kak Indi yang bikin air mataku kembali mengalir seperti “Waktu Aku Sama Mika”. Bahasa yang ada dinovel ini tergolong sederhana (mudah dimengerti), tapi setiap kalimat-kalimat yang dipakai, maknanya begitu luar biasa."
(Olivia Dejoinears, via email)

"Pertama kali baca, tidak mau berhenti.. Eh tidak tahunya semalam malah sudah khatam dalam 2.5 jam."
(Papafaiz, blogger)

"Bukunya sih kecil tapi isinya beri motivasi dan pelajaran."
(Ekarhmdania, pengguna instagram)

"Pemilihan kata-kata yang santun, ringan serta ditambahkan beberapa catatan berupa diary sang penulis membuat buku ini mudah untuk dinikmati."
(Lidya C, blogger)

"Membaca novel Karena Cinta Itu Sempurna memberikan tebaran rasa manis dan sedikit pahit di hati. Rasa manis saat Kak Indi menulis bahwa perbedaan skolioser hanya tidak boleh berlari dan melompat, hanya itu saja, kami masih bisa seperti orang lain. Hal-hal manis masih banyak terumbar di novel manis yang ditulis penuh kata-kata seperti coklat, manis yang tidak berlebihan."
(Tiskusuma, blogger)

"Pertama kali terpandang reka kulit novel ini, saya terus memegangnya. Ringkas sekali. Dan apabila saya membaca isi di dalamnya, hati saya rasa sangat syahdu."
(Ruhana Zaki, penulis dari Malaysia)



Ah, membaca komentar-komentar positif membuatku tersenyum. Senang rasanya bisa berbagi kisah dan mendapatkan teman-teman baru. Terima kasih banyak-banyak-banyak aku ucapkan untuk semua yang telah menyempatkan membaca :) 


Dan untuk teman-teman yang belum pernah membaca, novel "Karena Cinta Itu Sempurna" bisa kalian mendapatkannya di Indi Sugar Official Store dengan harga Rp. 29.000 (plus bonus stiker Indi's Friend).
Caranya cukup SMS atau whatsapp ke 081322339469, dan novel akan dikirimkan ke alamat teman-teman.


Sekali lagi, terima ksih untuk supportnya selama ini, blessed to have you guys! :)



sugar pie nya Mika,

Indi

______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 20 Maret 2014

Tentang "Waktu Aku sama Mika" :)




"Mika itu malaikat, tapi dia pelupa.
Sekarang Mika lagi ambil sayapnya...
Di surga..."

Siapa sangka bahwa puisi singkat itu mengubah banyak hal? Ya, sejak pertama kali bertemu, Mika memang mengubahku menjadi lebih hidup dan percaya diri, tapi aku nggak pernah menyangka bahwa tribute sebanyak 13 kata itu kelak mengubah hidupku dan mempengaruhi orang lain...

Pada tahun 2009, ketika sebuah penerbit menemukan puisi singkat itu di shoutout Friendster, aku nggak menyangka bahwa mereka benar-benar serius menawariku untuk membuat sebuah novel. Mereka hanya mengenalku dari 13 kata dan aku belum pernah membuat tulisan panjang sebelumnya. Tapi nggak lama kemudian aku langsung disodori kontrak dan terbitlah novel "Waktu Aku sama Mika" :)





Sampai beberapa bulan novel itu terbit, aku masih malu-malu jika tanpa sengaja melihat novel itu dipajang di rak toko buku. Ada juga perasaan haru karena "Waktu Aku sama Mika" merupakan adaptasi dari buku harianku ketika berpacaran dengan Mika, laki-laki luar biasa yang aku kenal sejak usia 15 tahun sampai 3 tahun berikutnya karena ia mengalah dengan AIDS...
Lambat laun Mika yang sudah di surga rasanya seperti kembali menguatkanku dan kembali hidup meski lewat kisahnya. Aku mendapatkan banyak teman baru ---mereka yang mengaku terinspirasi dari Mika--- :) 

Novel yang berasal dari 13 kata itu pun sekarang sudah dicetak berulang kali. Tahun ini sudah kali ke 12 (kalau aku nggak salah mengingat) dan sudah difilmkan dengan judul MIKA (Mika diperankan oleh Vino Bastian, dan aku diperankan oleh Velove Vexia)
Hampir 5 tahun sejak "Waktu Aku sama Mika" diterbitkan dan aku masih tetap terharu jika membaca komentar-komentar tentang novel tersebut. Rasanya seperti recharge semangat setiap hari, berkah setiap hari :)




"Ngena banget. Nggak kebayang gimana sosok Mika yang asli. Seorang penyayang, motivator juga PAHLAWAN. Banyak kutipan menarik dari novel ini."
(Dinata Ain)

"Kedalaman karakter Indi mengenai bagaimana merananya ia ditinggal Mika. Cara dia menyusun kata-kata, sangat jelas menggambarkan keadaan hati yang realistis. Saya tidak tahu, ini kisah nyata atau tidak, tetapi saya merasa setiap kata-katanya sangat bernyawa."
(Yohanes Octa)

"Ceritanya bagus, apalagi ini berdasarkan real story."
(Leila Husna)

"WAKTU AKU SAMA MIKA itu buku yang bagus banget. Layak dibeli deh. Gaya penceritaannya menarik, pula diksinya. Sepertinya jarang ada penulis - Indonesia atau mungkin non-Indonesia - yang menulis dengan gaya penceritaan seperti yang ditulis Mbak Indi ini. Bukunya memang tipis, namun isinya sangat luar biasa."
(Immanuel)

"Gak ngerti lagi sama buku ini. Bagus banget, keliatan banget penulisnya hatinya lembut banget, tulus banget :')"
(Febriana Giofanny)

"It did not take a long time for me to read this book. It’s a small 145 pages book with a very simple words used to form the story in it. But in that short time of reading, between those simple words, it delivers nicely a message about one of the most important aspects in life: love.
The book reminds me to love sincerely. To be grateful about life. To appreciate what you have. To share kindness no matter what condition you are in. To give people chances to show who they really is."
(Acago)


Setiap kali ada yang memuji tentang novel "Waktu Aku sama Mika" aku selalu bilang bahwa yang hebat itu Mika, bukan aku. Karena kenyataannya memang begitu. Meskipun ia sudah nggak di sini lagi, tapi Mika selalu jadi pahlawan dan membuat hidupku lebih hidup :)

sugar pie-nya Mika,

Indi



***

Novel "Waktu Aku sama Mika" bisa didapatkan di toko buku Gramedia dan Togamas (biasanya ada di rak novel, best seller atau psikologi remaja). 



(Diedit 2/3/2024. “Waktu Aku sama Mika” kembali diterbitkan oleh Shira Media dan tersedia di berbagai toko buku online dan offline.
__________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 03 Januari 2013

Hadiah-hadiah Istimewa :)

Hai, teman-teman! Wah, sudah tahun 2013! So, how's your new years eve and... wait, sepertinya gue juga melewatkan natal ya? Hehehe, so sorry, gue belum sempat blog walking dan update di sini. Jadi, sekarang saja ya gue ucapkan selamat natal 2012 dan tahun baru 2013. Semoga kalian melewati moment-moment itu dengan orang-orang yang kalian sayang, ya :)

Well, berhubung baru bisa bercerita sekarang, gue mau berbagi tentang apa saja yang sudah gue alami. Banyak hal menyenangkan dan membuat gue tersenyum belakangan ini. I feel really blessed, really :) Pertama gue mendapatkan Christmas gift dari orang-orang yang baru gue kenal (beberapa malah jadi jadi early Christmas gift!). Ada sebuah gantungan kunci oleh-oleh dari miss. Vivi waktu dia berlibur ke Cina. Miss. Vivi adalah ketua cabang dari pre school tempat gue bekerja. Tahu sendiri kan kalau gue adalah "anak baru" di sana, jadi begitu menyenangkan waktu tahu ada yang ingat dengan keberadaan gue, hihihi. Yang ke dua adalah gantungan pohon natal dan bros kayu dari Keona, salah satu murid di pre school. Gue senang sekali, sampai-sampai langsung dipasang begitu sampai di rumah, hehehe. Dan yang ke tiga, gue dapat cake dari Mama-nya Lee Ann, murid gue. Tapi gue nggak sempat ambil fotonya karena terlalu enak, hehehe (setelah gigitan pertama gue nggak bisa berhenti) :p Yang ke empat sekaligus yang terakhir gue dapatkan dari pre school adalah sebuah kaos Hello Kitty! How come? Nah, sampai hari ini pun gue masih amaze dengan kejadian itu...

Hadiah dari Keona dan Miss. Vivi :)

Gue suka Hello Kitty. Mungkin teman-teman blogger ada yang tahu karena gue pernah post ceritanya di sini. Tapi orang tua murid, well, agak mustahil untuk tahu. Gue memang sering memakai pernak-pernik Hello kitty ketika bekerja. Tas, handphone dan perlengkapan makan gue bergambar Hello kitty. Semuanya gue simpan di loker karena benda-benda pribadi nggak diperkenankan masuk ke dalam kelas. Satu-satunya "ciri" bahwa gue menyukai Hello Kitty ---yang (mungkin) bisa dilihat oleh orang tua murid hanya pita rambut gue. Itu pun nggak bergambar Hello Kitty, dan warnanya nggak selalu pink, hanya pita biasa. Makanya, waktu Mama dari Louis, salah satu murid gue memberi hadiah Christmas kaos Hello Kitty gue terkejut bukan main. Bukan hanya gue yang terkejut malah, tapi rekan-rekan kerja gue langsung berkomentar dan bertanya dengan nada nggak menyangka tentang hadiah yang gue terima. Mereka tahu bahwa gue itu really into Hello Kitty, sampai-sampai sering dipanggil "Hello Kitty" (lol). Tapi kalau ada orang tua murid yang tahu, itu kejutan besar! Miss. Rifa, rekan gue di kelas bahkan menebak-nebak bagaimana ceritanya Mama Louis bisa tahu soal kesukaan gue. Apa gue pernah tanpa sengaja membawa botol minuman di depannya? Apa Louis pernah bercerita pada mamanya? Hmm, Louis itu belum 2 tahun, jadi rasanya itu kurang masuk akal, hahaha. Yah, darimana pun Mama Louis tahu tentang "my crazy cute obsession", gue bersyukur karena itu menjadikan hadiah yang sangat-sangat-sangat berkesan :)


Kaos dari mamanya Lous. Suka :)

Saking senangnya gue langsung pakai sepulang bekerja :p

Kejutan nggak cuma datang dari pre school ternyata Di rumah Ibu meletakan sebuah bungkusan berwarna pink di atas sofa. Katanya itu gue untuk gue. Waktu di buka.... Wah, sandal rumah berwarna pink! Gue sangat suka warna pink, sampai-sampai kamar gue terlalu "menyilaukan" untuk adik laki-laki gue, hehehe, dan sandal ini jadi pelengkap yang pas untuk mengusir si adik kalau dia masuk kamar tanpa izin :p
Waktu gue pikir ini sudah selesai, ternyata Ray ikut memberi kejutan. Dia memberi gue parfum dan hands sanitizer Hello Kitty. Hmm, sebenarnya sih memang gue yang meminta. Gue bilang ingin dua benda tersebut untuk hadiah Christmas. Tapi siapa yang menyangka bahwa gue benar-benar mendapatkannya! Apalagi proses mendapatkan cukup bikin deg-deg-an, lho. Kami ingin hadiah itu sampai di rumah gue tepat tanggal 25 Desember, tapi kami lupa sesuatu: tukang pos itu berbeda dengan Santa. Mereka justru libur di hari natal, hahaha. Akhirnya hadiah pun baru gue terima sore-sore keesokan harinya :D 


Sandal pink dari Ibu :)

Hadiah yang datang terlambat dari Ray :)

Setelah natal Ray langsung kembali bekerja, sedangkan gue masih libur sampai tanggal 7 Januari. Meski gue nggak benar-benar libur karena masih ada pekerjaan lain selain di pre school, tapi itu cukup untuk membuat tubuh gue beristirahat (terkecuali waktu ada acara sleepover dengan Silmi, sepupu gue. Kami nggak tidur seharian, lol). Gue nggak punya acara 'berbeda' untuk malam pergantian tahun. Tetap sama dari tahun ke tahun, keluarga gue berkumpul di rumah dan menikmati makanan yang (bagi kami) istimewa. Tapi itu lah moment yang sangat gue sukai, apalagi tahun ini Ray (yang baru libur di malam tahun baru) ikut bergabung, jadi bahagianya berkali-kali lipat :) Gue berbelanja ke supermarket terdekat, membeli apa saja yang gue sukai tanpa harus mendapat "protes" dari Ibu dan Bapak karena makanan yang gue beli merusak gigi dan hanya "membuang uang". This is new years eve, kan :)

CHILDREN OF THE CORN!!! :p

Ice cream! :)


Ibu memasak nasi tumpeng dan spageti. Sedangkan gue menyiapkan makanan manis seperti es krim dan coklat (juga minuman manis: susu dan soda, lol). Pergantian malam tahun baru semuanya terasa sempurna meski agak sebal sama stasiun TV yang nggak menayangkan film keluarga, hehehe. Ray bergabung dengan keluarga gue jam 7 malam. Dia membawa makanan ringan dan hadiah tahun baru untuk gue. Wah, di akhir tahun gue kebanjiran hadiah \(^^)/ Setiap gue dapat hadiah dari Ray rasanya selalu istimewa karena dia sering kali memberi tanpa rencana. Pernah suatu kali kami sedang ke theme park dan Ray mengajak gue melihat-lihat toko suvenir. Gue nggak meminta apa-apa tapi dia belikan gue tong sampah Hello Kitty. Ain't he's so sweet? :) Hadiah tahun baru pun begitu, dia sedang berbelanja dan melihat benda-benda yang dia rasa gue akan menyukainya. Ray memutuskan untuk membelinya, dan... I REALLY LOVE them :)))





Gue nggak pernah menilai hadiah yang gue terima dari harganya. Menurut gue hadiah akan berkesan jika si pemberi benar-benar ingin memberikan benda tersebut untuk gue. Mengharukan rasanya ketika ada yang memberi gue hadiah karena dia ingat dengan apa yang gue sukai. Betapa istimewanya perasaan gue ketika ada yang memberi tanpa bertanya dulu, "what do you want for Christmas/new year", tapi memberikan hadiah yang "tepat"... :) Selembar stiker, sebuah gambar band kesukaan gue yang di-print di kertas tulis atau sebuah pulpen yang dipajang di kasir minimarket... semuanya berkesan. Gue selalu terharu bagaimana seseorang bisa mengingat apa yang gue sukai bahkan dengan melihat benda-benda kecil atau sehari-hari... :)

Hadiah tahun baru dari Ray :)

I'm blessed. Gue nggak pernah meragukan itu. Gue sangat bersyukur tahun 2012 ditutup dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang gue sayangi dan mendapatkan perhatian yang selalu membuat tersenyum ketika mengingatnya. Gue harap di tahun yang baru ini gue tetap merasakan kehangatan yang sama, dan semoga bisa membalas hadiah-hadiah istimewa dari orang-orang di sekitar gue. Di tanggal 17 Januari besok ada sebuah hadiah lagi untuk gue, film "Mika" (yang diinspirasi dari novel karya gue "Waktu Aku sama Mika") akan tayang di bioskop seluruh Indonesia. Ah, gue tahu tadi sudah bilang... tapi sekali lagi... I'm blessed... Thank God... Thank God... :)
Selamat datang 2013, semoga tahun ini menjadi "hadiah" untuk semua orang yang mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk menjalaninya. Amen.

Jadi teman-teman, sudah siap untuk menjalani tahun 2013 yang penuh berkah? :)





happy blessed girl,

Indi

nb: mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa rambut gue terlihat memutih. well, itu bukan uban. tapi sejak tanggal 30 desember sampai hari ini gue belum mandi, jadi gue pakai bedak bayi di rambut supaya nggak kelihatan berminyak, lol, lol :p
________________________________________________________________
Contact me: here and here. Contact manager: 081322339469



Senin, 09 Juli 2012

The Interview: My Color :)



Hi bloggies, apa kabar? How's your week? Semoga meski sibuk tetap bisa bersantai di hari minggu, ya :)
Gue menulis post ini sepulang karaoke-ing sama Ray. Sudah sekitar satu bulan kami nggak pergi keluar bersama. Pekerjaan Ray sedang sibuk-sibuknya dan gue sedang mengerjakan beberapa hal baru yang sangat menyita waktu. Jadi waktu kami akhirnya dapat quality time lagi, dengan 3 jam non-stop karaoke lagu-lagu yang 70 persen pilihan gue, rasanya really refreshing, hehehe :)

Bulan kemarin, saat kegiatan gue sedang padat-padatnya gue mendapatkan beberapa tawaran untuk interview di media cetak. Seperti biasa sebelum menerima gue pasti 'memeriksa' dulu image dari media tersebut. Well, sebenarnya gue nggak pikir image dari suatu media bakal berpengaruh banyak sama gue, sih, semua kan tergantung apa yang gue kemukakan di sana. Tapi image suatu media berpengaruh terhadap apa yang mereka tulis. Pernah suatu kali ada sebuah majalah yang menginginkan kisah hidup gue dimuat di sana, 3 halaman penuh, ekslusif. I was so flattered, sampai majalahnya terbit dan gue membaca sendiri apa yang dimuat di sana. Kisahnya dilebih-lebihkan. Too much drama dan ada beberapa data soal diri gue yang nggak sesuai dengan fakta. Gue agak marah dan langsung menghubungi reporternya saat itu juga, tapi majalah sudah terlanjur beredar dan yang bisa gue lakukan cuma mengkonfirmasi tulisan yang dimuat lewat Facebook dan jika ada yang bertanya langsung. Begitulah, meski gue sudah memberikan informasi yang jelas, mereka tetap menulisnya dengan 'gaya drama' karena image majalah mereka memang begitu.

Sebelum gue menulis novel kegiatan yang gue lakukan sehari-hari adalah sekolah, mendesain pakaian dan menulis untuk kesenangan pribadi. Jika ada media yang menginginkan gue, itu bisa dipastikan untuk berbagi cerita tentang pengalaman sebagai pengidap scoliosis. Yup, gue memang scolioser, terdeteksi sejak usia 13 tahun, memakai alat bantu brace selama 5 tahun dan berakhir di kelengkungan 58 derajat yang penuh berkah. Gue nggak pernah malu dengan fakta itu dan dengan senang hati berbagi cerita karena di luar sana gue tahu banyak anak-anak, terutama anak perempuan yang mempunyai keterbatasan yang sama. Nggak pernah ada sedikitpun niat gue untuk minta dikasihani atau mencari sensasi dengan menceritakan pengalaman gue, semuanya murni, dari hati yang paling dalam gue ingin membantu. Karena mengenali gejala scoliosis sejak dini bisa berpengaruh banyak dengan masa depan anak tersebut. Dan gue termasuk salah satu yang beruntung karena ditangani dengan benar.

Lalu, pada tahun 2009 ada penerbit yang membaca tulisan gue di blog. Tanpa proses yang terlalu lama mereka langsung menawarkan kontrak untuk menerbitkan novel. Gue terkejut bukan main, tapi setelah 1 minggu berpikir gue langsung setuju dan 3 bulan kemudian terbitlah novel perdana gue yang berjudul, "Waktu Aku sama Mika". Keluarga, sahabat dan beberapa kerabat ikut bahagia tapi juga surprise karena sebelumnya mereka nggak tahu bahwa gue bisa (baca: suka) menulis. Hanya Ibu dan Bapak yang tahu, itu pun sebatas menulis di buku harian. Gue senang sekali dengan reaksi positif mereka yang terus men-support supaya gue nggak berhenti berkarya. Mereka suka karya gue, dan itu lebih berharga daripada mendapat piala, karena gue diakui memiliki kemampuan tanpa melihat sisi gue sebagai pengidap scoliosis. Fair. Gue dinilai dengan cara yang sama seperti orang lain.


What I wore: Dress: Glow | Shoes: Michelle CLA | Ribbon: my mum's sewing bow :)


Setelah itu setiap kali ada media yang meminta gue berbagi cerita, gue pasti menceritakan bahwa gue sudah menjadi penulis. Gue mempunyai buku yang dalam beberapa bulan penjualan saja sudah menjadi best seller. Itu membanggakan, seenggaknya untuk gue :)
Seperti yang sebelumnya gue ceritakan, gue sama sekali nggak pernah malu atau minta dikasihani dengan status gue, tapi juga nggak ingin dinilai dari situ saja. Gue juga sama, manusia utuh yang mempunyai kemampuan dibalik kekurangan gue. Ingin sekali suatu hari media meminta gue bercerita tentang buku gue saja (sekarang 'buku-buku' karena hampir 3 novel yang terbit, yaiy!) tanpa embel-embel yang lain. Tapi ternyata itu sulit sekali, setiap kali ada email atau telepon yang meminta interview, pasti saja gue diminta mengulang cerita yang sama...

Lalu gue memutuskan untuk menolak sementara waktu jika ada yang menawari untuk interview yang 'itu-itu' saja. Iya, sementara saja, sampai orang-orang bisa melihat bahwa gue lebih dari itu dan sekaligus untuk mengetes kemampuan diri juga. Kita nggak akan pernah tahu sudah berhasil sejauh mana sampai orang menilai kita dengan fair, kan? :)
Jadi ketika beberapa waktu lalu gue dihubungi oleh sebuah koran dan mereka meminta gue 'mengulang cerita', dengan sehalus mungkin gue menjelaskan bahwa gue juga seorang penulis, dan alangkah senangnya kalau diminta bercerita tentang pekerjaan gue. Gue menawarkan untuk bercerita 'apa yang gue punya' dan kalau nantinya mereka tetap menyebutkan gue sebagai pengidap scoliosis, it's okay, karena faktanya memang begitu. Sayangnya mereka nggak setuju. Mereka ingin mengangkat kisah hidup gue dan soal buku gue cukup jadi 'selingan' saja. Wow, gue baru sadar bahwa scoliosis gue jauh lebih besar dari novel gue. Bahkan menjadi best seller saja masih nggak cukup untuk membuat mereka 'tertarik' dengan karya-karya gue.


Sesuai tekad gue, gue menolak interview dengan koran tersebut. Gue mengemukakan alasannya sejelas mungkin, bahwa gue ingin dinilai secara adil: pekerjaan gue dulu, bagus atau tidak, baru silakan ceritakan tentang siapa gue. Tapi mereka bilang bahwa pembaca akan lebih tertarik dan terinspirasi justru dengan kisah gue sebagai scolioser, bukan yang lainnya. Well, mereka kan belum coba sebaliknya, jadi kenapa nggak mencoba? Tapi sudahlah, menjelaskan sesuatu memang sering kali nggak mudah, dan media mungkin saat ini lebih suka mengenal gue sebagai "Indi yang scoliosis" bukan "Indi yang penulis". Padahal gue mau saja berbagi cerita, gue cuma butuh break, sebentar saja.
Jangan salah mengira, gue cukup aktif berinteraksi dengan teman-teman di Masyarakat Skoliosis Indonesia, lho. Gue bisa bercerita tentang scoliosis kapan saja karena itu bagian dari diri gue. Nah, bukankah kemampuan diri juga bagian dari diri sendiri? :)

Gue punya teman, namanya Ginan. Ia seorang pekerja keras yang usianya lebih tua dari gue. Jujur saja sebelum gue mengenal bakat-bakatnya gue hanya mengenalnya sebagai temannya Mika, pengidap HIV/AIDS. Lalu seiring berjalannya waktu gue mulai tahu bahwa ia sangat aktif bermain sepak bola dan menjadi juara dimana-mana. Ia juga seseorang yang memperjuangkan kaum marjinal! Waktu gue tahu bahwa ia mendapatkan "Hero Award" dari acara Kick Andy gue langsung, "Wow... ia benar-benar hebat" dan gue sama sekali nggak 'mengingat' status kesehatannya. Ia dinilai utuh karena memaksimalkan kemampuan yang diberikan Tuhan.
Gue ingat sebuah kata yang selalu diucapkannya ketika gue mencapai sesuatu, sekecil apapun itu. Kata itu adalah "Mamprang". Awalnya gue nggak mengerti dan nggak berniat menanyakan artinya karena ia memang punya banyak stock kata-kata 'asing' (lol). Tapi setelah berkali-kali mendengar (terakhir ketika gue terpilih sebagai salah satu anak muda menginspirasi versi adalahkita.com), akhirnya gue bertanya juga. Dan ternyata 'mamprang' berarti show who you are, show your ability, tunjukan apa yang kamu punya, jangan takut-takut ibaratnya harimau. Gue setuju, itu memang benar. Somehow satu kata 'aneh' itu terasa ajaib di telinga dan hati gue. Kalau sekarang media masih betah dengan cerita scoliosis gue, yang seharusnya dilakukan bukanlah kesal, tapi mencoba lebih keras lagi menunjukan kemampuan diri, sampai akhirnya diakui. Gue akan terus membagi cerita gue selama itu bisa membantu dan bermanfaat. Mungkin suatu hari media yang suka menyelipkan 'bumbu drama' akhirnya sadar bahwa kisah sederhana dan nyata juga bisa disukai pembaca dan tetap inspiring :)

Sekarang gue akan menjadikan masa 'break' ini untuk mengukur kemampuan diri sekaligus kesempatan untuk mengembangkan diri. Memang sulit jika sudah terlanjur di 'cap', tapi sulit bukan berarti nggak bisa :) Dan thank God dua hari yang lalu radio Pro2 Semarang meminta gue untuk live interview selama satu jam non stop. Tahu untuk apa? Itu murni untuk membicarakan novel-novel dan project gue selanjutnya! Thank God :)) Gue akan terus menunjukan apa yang gue bisa, gue mau dinilai secara adil dan tanpa embel-embel lain. Gue tetap dan akan selalu menjadi "Indi si Scolioser", tapi gue lebih dari itu, seenggaknya, let me try. Gue bangga menjadi diri sendiri, gue nggak mau menukar scoliosis gue dengan apapun, apapun, apapun. Karena gue nggak menganggapnya sebagai beban, tapi bagian dari diri gue sendiri seperti hal nya kemampuan gue :) I am me, gue akan mengusahakan yang terbaik dan seadil mungkin untuk hidup. So, show your true color, guys. Atau pinjam istilahnya Ginan, "Mamprang!" :D

it's me,
Indi

nb: buku yang gue pegang berjudul "Being Remember" hadiah dari Kinanti Kitty, penulisnya sendiri. Kalian bisa menghubunginya di sini :)

________________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. My Shop? HERE. Sponsorship? HERE.

Kamis, 05 Januari 2012

Thank you, Internet :)

Berapa kali kalian mengakses internet dalam 1 minggu? Aku setiap hari, atau seenggaknya hampir. Dalam situasi apapun, selama aku bisa menghandle dan nggak ada hubungannya dengan kesehatan, bisa dipastikan aku berusaha terus connect dengan internet, baik melalui PC atau HP. Aku sangat terbantu dengan keberadaan internet, karena tanpanya mungkin aku sekarang jobless, ketinggalan berita dan cuma punya sedikit teman. Terdengar berlebihan? Ah, biar aku ceritakan dari awal supaya kalian mengerti...

Aku mengenal internet waktu di awal-awal masa SMP, usia 12 tahun hampir 13. Waktu itu HP belum musim, cuma beberapa anak saja yang punya dan belum bisa koneksi internet. Bisa SMS saja termasuk hebat, karena harga pulsa masih mahaaaal sekali, perdananya saja (kala itu) mencapai Rp. 350.000. Jadi intinya penggunaan HP masih ekslusif sekali, sampai-sampai kalau ada yang pakai HP di sekolah dilihatin "wow" gimana gitu, hehehe. Karena aku diingatkan orangtua untuk hanya memakai HP ketika darurat saja (eg: minta dijemput), jadi aku cari alternatif lain untuk berkomunikasi dengan teman-teman, dengan tarif yang lebih murah tentu saja.

Dan solusi pun datang dari kakak sepupuku yang sudah SMA. Dia mengenalkanku dengan internet. Katanya, aku bisa mengirim pesan lebih banyak dan murah daripada melalui SMS. Mulanya aku bingung, karena di rumahku nggak punya internet, cuma sebuah PC tua yang sering dipakai main game. Tapi sepupuku mengajak gue ke warnet dan di sanalah aku mulai mengerti dengan istilah chatting dan email :) Ternyata memang betul, tarifnya murah sekali karena aku cukup membayar per jam. Belum lagi dengan "bonus" di sana-sini. Aku bisa mencari apa saja yang aku mau dan mencetaknya dengan cepat! Aku ingat gambar pertama yang aku print adalah cover album "Get a Grip" dari band Aerosmith yang keesokan harinya langsung kupamerkan sama teman-teman sekelas. Waktu itu teman-teman bingung darimana aku bisa mendapatkannya. Perasaanku, wuiiiih bangga-bangga gimana gitu, maklum lah termasuk jadi anak pertama yang mengenal internet di sekolah, hehehe.




Lama kelamaan aku minta Bapak untuk mengganti PC dengan yang lebih "muda" dan bisa men-support koneksi internet. Waktu itu namanya 'Telkomnet Instan', jadi untuk connect dengan internet aku harus telepon dulu ke 080989999 (wah, aku masih hapal nomornya, hahaha!!), menunggu sebentar baru bisa ber-surfing ria di dunia maya. Aku mulai menggunakan internet untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Karena situs lokal masih jarang, jadi aku terjemahkan dulu tulisan-tulisan berbahasa Inggris, lalu yang kira-kira terpakai aku copy, print dan ditulis ulang secara manual. Hihihi, waktu itu belum boleh lho bikin tugas diketik, tulisan tangan yang rapi juga dinilai :D Senang rasanya bisa menghemat waktu, apalagi teman-teman satu kelas juga mulai tertular untuk menggunakan internet, jadi kirim-kiriman email nggak sebatas sama Om atau Tante yang tinggal di lain negara saja :)






 OOTD
Headband: Heartwarmer
Dress: Toko Kecil Indi
Black Stocking: KasKus
Batik's Bag: Carrefour
Bracelet: Tia
Shoes: Leonardo Vinni


Beranjak SMA, aku agak bandel. Kegiatan surfing (dulu betulan begini lho istilahnya, lol) nggak melulu soal pelajaran, tapi terkadang diselingin tentang film-film baru dan mencari foto-foto idola. Norak banget kalau diingat, tapi waktu itu aku suka banget cari foto Steven Tyler, Freddie Mercury dan idola-idolaku lainnya, yang malu rasanya kalau kutulis semua di sini (hehe) lalu diprint pakai kertas foto :p Setelah itu kususun rapi di agenda berwarna hitam yang selalu kubawa kemana-mana, termasuk ke sekolah. Suatu hari agenda itu menghilang dan aku panik setengah mati. Sepanjang lorong sekolah aku telusuri tapi hasilnya nihil. Akhirnya aku buat sayembara yang isinya menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang bisa menemukan agendaku. Dua hari penuh air mata akhirnya ada seorang adik kelas bernama Denise yang menemukan agendaku di kolong bangku kelasnya. Ya, ampun... ternyata aku lupa menaruhnya di sana waktu pergantian kelas, hihihi. Dan Denise pun dapat hadiah coklat yang dibungkus sama kertas mengkilap warna merah :D 
Oya, 'bandel' nggak sengaja pun pernah, lho. Berhubung aku ngefans banget sama Michael Jackson, jadi kalau ada iklan pop up di internet tentang dia pasti aku klik. Nah, sekali waktu aku tertipu. Itu ternyata virus yang mengganti seluruh icon di PC ku menjadi gambar-gambar berkonten dewasa (porno). Ewww... :'( Akupun langsung dimarahi Bapak dan dinasehati untuk nggak membuka pop up sembarangan. Dan semenjak saat itu internet di rumah dipasangi anti virus. Kapok...

Tapi manfaat internet baru sangat-sangat-sangat terasa waktu aku mulai masuk kuliah. HP sudah jauh lebih canggih dari masa-sama SMP dulu. Jejaring sosial juga semakin banyak. Dari mulai Friendster lalu pamornya digantikan Facebook, sampai pada waktu aku mengenal dunia blog. Sudah jelas, mengerjakan tugas juga semakin mudah dan bisa di mana saja karena sudah ada fasilitas Wifi (tapi aku nggak pernah bandel nyontek lewat HP waktu ujian, lho, hehehe). Yang paling aku sukai waktu itu adalah Friendster. Aku jadi punya banyak teman baru dari berbagai kota dan negara. Dari yang tinggalnya berdekatan juga ada.
Dan blog yang kupakai juga awalnya dari fasilitas Friendster, lho. Aku mulai menulis puisi-puisi bersambung di sana. Nggak peduli apakah ada yang membaca atau nggak. I just love to writing, dan senang ada 'lahan' untuk menulis kapanpun. Nggak disangka ada publisher yang membaca dan menawariku kontrak novel. Maka jadilah untuk pertama kalinya setelah selama seumur hidup menjadi pelajar, aku mendapatkan pekerjaan pertama: menjadi penulis! Dan itu berlangsung sampai hari ini, aku sudah menulis dua buah novel best seller "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta itu Sempurna". Thanks to internet :))








Banyak orang bilang internet itu dunia yang penuh kepalsuan, setiap orang bisa jadi siapa saja, mengaku apa saja dan menulis apa saja. Itu memang benar karena di internet kita bisa bertemu dengan seseorang tanpa pernah tahu apakah kepribadiannya memang seperti itu, atau he/she just making it up. Tapi aku juga percaya dan tahu bahwa internet bisa menjadi dunia yang menyenangkan dan 'real'. Apa yang kita tulis, apa yang yang kita upload di internet akan menjadi image kita di kalangan teman virtual kita. So just be real dan teman-teman yang juga real pun akan mendatangi kita dengan sendirinya. Aku sudah membuktikan dengan bertemu banyak teman baik dari jejaring sosial dan blog, beberapa malah ada yang menjadi sahabat atau bahasa gaulnya BFF (nah, just kidding :p). Aku percaya bahwa filter itu berasa dari pribadi masing-masing, aku selalu sempatkan membaca profile seseorang baik-baik sebelum memutuskan untuk meng-approve nya atau memulai percakapan. Buatku internet sama hal nya dengan dunia nyata, beberapa ada yang baik beberapa ada yang nggak baik. Be nice, bukan menjadi polos, maka hal baik akan menghampiri.






Buku-buku kiriman my virtual friends:
Tinta Cinta Sitti Hawa: Della
Kelemahanku adalah Kekuatanku:Habibie Afsyah
Barbore si Cabe Rawit: Vindy Putri
Surga buat Habibie: Endang Setyani
You're in my Heart: Monica Petra



 



Dan di sini, di blog "Dunia Kecil Indi", sebuah 'dunia' kecil yang kuciptakan sendiri selalu membuatku merasa nyaman setiap kali membukanya. Membaca komentar-komentar positif, bertukar pengalaman, bertukar solusi atau bahkan bertukar hadiah seperti pada sahabat yang sudah sering bertemu. Malah ada juga yang mengirimiku hadiah meskipun hanya mengenalku dari blog ini. Sungguh persahabatan yang indah :) Sering aku ditanya Ibu dari mana aku bisa mendapat paket-paket hadiah yang sering berdatangan ke rumah. Aku pun akan menjawab bahwa paket-paket itu datang dari para sahabat blogger. Dan Ibu, yang sudah nggak muda lagi pun jadi nggak menutup mata tentang internet. Beliau mulai mencobanya dan medapatkan manfaat yang positif. Memang nggak pernah ada kata terlambat untuk mengenal internet :)

Jadi begitulah mengapa aku sangat berterima kasih pada internet. Nggak semua orang punya fisik kuat untuk beraktivitas di luar dan internet telah mempermudahku, dan juga banyak lainnya asalkan dipergunakan secara positif. Banyak hal yang aku dapatkan, yang mungkin akan ada yang terlewat jika aku coba sebutkan satu persatu. Bisa punya Toko Kecil Indi sendiri (yup, hampir semua baju yang  kupakai di sini adalah hasil desainku sendiri), bisa didatangi Indra Herlambang ke rumah (beserta antek-anteknya), bisa dapat banyak novel terbaru, bisa diwawancari sama banyak majalah, bisa masuk TV... dan bisa-bisa yang lain, yang aku nggak bisa ingat satu per satu :) 

Aku yakin di antara kalian pun pasti ada yang mempunyai pengalaman serupa atau seenggaknya mirip denganku. So, don't be hesitate, please share it, karena dengan berbagi cerita akan membuat pribadi kita bertumbuh, dan siapa tahu dapat inspirasi untuk melakukan hal baru yang positif di dunia maya ini.
Happy surfing, folks! ;)

super sweet sugar,
Indi


_______________________________________
Contact Me? HERE. Sponsorship? HERE.