Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2010

Gaun Pengiring Pengantin di Hari Wisuda :)


Halo semua, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. Soalnya cuaca yang sering berubah-rubah belakangan ini bikin rawan flu (termasuk aku yang juga kena, hehehe) :) Hari ini aku mau cerita tentang wisudaku yang serba mendadak (Ya, aku AKHIRNYA wisuda, lol).

Tanggal 10 November kemarin, disaat semua orang memperingati hari pahlawan, aku malah wisuda! Sebetulnya aku sudah nolak buat ikutan sejak bulan Juli lalu. Ya, sejak jauh-jauh bulan! (bukan jauh-jauh hari lagi). Alesannya karena aku sudah lulus, tau IPK ku, sudah salaman sama semua dosen juga, hehehe. Jadi apa lagi?
Tapi Nenek ku berpendapat lain. Baginya wisuda adalah suatu "kebanggaan". Lulus saja belum cukup, beliau pengen punya kenang-kenangan untuk dipajang di rumahnya: Fotoku yang lagi pakai toga dan kebaya.
Waaaah, andai Nenek tau... Sebetulnya pakai toga, kebaya dan konde'lah yang aku hindari. Soalnya terlalu ketat, gerah dan kondenya bikin pusing. Kalau harus pakai ini semua, gimana aku bisa menikmati prosesi wisuda yang berjam-jam? Bisa-bisa aku udah pingsan duluan...

Orangtuaku bisa mengerti. Mereka setuju lebih baik kami syukuran di rumah saja. Sesuatu yang sifatnya simbolis nggak terlalu penting. Toh, semua anak yang sekolah asalkan rajin belajar (dan fasilitas mendukung) pasti bisa lulus. Itu kan proses, jadi nggak perlu dibesar-besarkan.
Tapi akhirnya di detik-detik terakhir orangtuaku minta aku ikut wisuda. Alasannya bisa ditebak, mereka nggak mau mengecewakan Nenek. Ibu bilang, Nenek sudah tua, kadang sulit untuk diberi penjelasan kalau wisuda itu nggak penting. Lebih baik aku menurut daripada jadi kekecewaan berkepanjangan.

Jujur, beberapa hari sebelum wisuda aku sempat ngambek. Nolak pakai kebaya dan parno banget rambutku yang cuma segini-segini harus ditempeli konde (soalnya kalau hanya dicepol, paling cuma dapet sejempol, hehehe). Orangtuaku akhirnya kasih kebebasan apa yang akan aku pakai nanti. Syaratnya asalkan rapi dan formal. Dikejar waktu yang sudah sangat dekat, hal pertama yang aku inget cuma buku baju pengiring pengantin yang dikasih sama Mrs. Patty, hahaha. Akhirnya aku pilih long dress tercantik yang ada di sana. Dengan sedikit corat-coret (ya, aku suka sekali mendesain baju), aku minta Ibu untuk jahit long dress yang sudah dimodifikasi itu. Ibu agak nggak percaya aku mau pakai baju pengiring pengantin. Tapi setelah aku tunjukin desainnya, beliau setuju ;)

Waktu hari wisuda datang, aku putuskan buat nggak ambil pusing. Aku inget cerita sepupu dan teman-temanku yang harus bangun jam 4 subuh untuk persiapkan kebaya, make up dan konde. Tapi ceritaku ternyata nggak seperti itu (terima kasih Tuhan...). Aku bangun jam 7 pagi (hampir seperti biasa) dan cukup cuci muka (aku mandi 2 hari sekali, btw, lol). Setelah itu aku pakai long dress'nya. Almost no makeup. Aku cuma pakai bedak tipis, lip gloss dan blush on. Untuk rambut aku biarkan terurai, cuma aku kasih hiasan bunga-bunga kecil.

Nenek agak kaget dengan penampilanku. Beliau bilang, "Mana kondenya? Nggak pakai kebaya?". Tapi aku cuma senyum menanggapinya.




***


Aku diantar Bapak, Ibu dan Nenek. Sabuga, tempatku wisuda sudah penuh sepenuh-penuhnya. Agak heran juga kenapa banyak wisudawan/wati yang bawa rombongan sampai 2 mobil. Padahal sudah jelas undangan yang boleh masuk hanya 2 orang. Alhasil banyak wisudawan/wati yang mau masuk gedung malah terhalang sama tamu-tamu tanpa undangan. Untungnya, sejak tahun 2004 aku sering mengisi choir di sini, jadi sudah tau harus lewat mana supaya cepat, hihihi...

Di dalam gedung aku sering sekali dapat pertanyaan-pertanyaan heran seperti, "Indi, nggak pakai konde?" atau "Indi, nggak pakai kebaya? Padahal kan supaya cantik seperti yang lain", dll.
Aku sih tetap cuek aja, soalnya yang tau batas nyaman kan cuma diri sendiri. Soal cantik itu belakangan. Kalau teman-teman lain bisa tahan pakai baju daerah lengkap dan heels, nah nggak begitu denganku. Lagipula suasana nampaknya nggak mendukung untuk pakai baju yang agak ribet. Bayangkan aja, ada seribu lebih wisudawan/wati disana. Belum lagi jumlah security yang berlebihan bikin ruangan makin terasa sempit. Itu belum termasuk tamu tanpa undangan yang berhasil masuk. Bisa kebayang kan gimana suasananya? Sudah mirip nonton konser rock pakai konde aja, hihihihi :)

Akhirnya prosesi wisuda selesai. Beberapa teman dan dosen yang tadinya bilang aku "kurang cantik" berbalik memuji karena sampai akhir acara cuma aku lah yang wajahnya nggak belepotan karena makeup campur keringat. Tapi buatku yang paling lucu adalah pendapat Nenek. Beliau bilang,
"Bagus juga ternyata pakai baju santai. Emah (panggilan Nenek) mah kasian liat yang sebelumnya pada cantik malah pada selonjoran di lantai gara-gara pegel pakai sepatu tinggi".

Hihihi :)
Aku nggak mengecilkan teman-teman yang berpakaian ribet, tentu aja. Menurutku usaha mereka memang sepadan, kok. Di mataku mereka tampil sangat cantik. Tapi rasanya nggak masalah kalau aku berpendapat bahwa kebaya, konde dan high heels kurang tepat untuk dipakai di suasana ramai dan gedung yang kurang memadai. Wisuda sarjana itu satu kali seumur hidup, aku mau menikmati setiap detik moment'nya tanpa terganggu pakaianku. Sekali lagi, aku nggak mengecilkan teman-teman yang lain, lho. Aku cuma mau menekankan bahwa kenyamanan adalah yang utama. Dan yang terpenting cantik itu kan in the eye of the beholder ;)




Kamis, 08 Juli 2010

Siapa Mau Jadi Sarjana?

Siapa diantara kalian yang punya gelar sarjana diusia 22? Ada? Salut untuk kamu.

Ceritaku berawal ketika aku menjadi fresh graduate dari sebuah SMU swasta. Nilaiku bagus, meski bukan yang terbagus. Rata-rata delapan dengan ijazah yang membanggakan (boleh lah dipajang. Lol). Tapi aku nggak punya universitas impian, sama sekali. Apalagi jurusan impian, aku sama sekali blank dengan dunia perkuliahan.
Waktu itu aku memang sangat kekanakan, nggak mau repot-repot ambil tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa, ngambek waktu disuruh ikut test masuk sama ortu. Tapi akhirnya terbujuk juga ikut test di dua universitas swasta di kotaku. Di universitas pertama, secara random aku ambil jurusan psikologi, hukum dan komunikasi. Di universitas kedua, lagi-lagi secara random aku ambil jurusan seni musik dan hubungan internasional.
Hmm, aku sama sekali nggak ngerti dengan jurusan-jurusan yang ku pilih itu sebenernya. Apalagi waktu SMA aku masuk jurusan IPA, jadi aku blank banget dengan segala ilmu sosial. Tapi ya, namanya juga random. Jadi kalau diterima syukur, nggak juga nggak apa-apa. Toh aku belum siap jadi seorang mahasiswa.

Nggak disangka, 4 dari 5 jurusan yang aku pilih ternyata lolos. Lagi-lagi (lagi...) secara random aku pilih universitas yang kedua. Tapi waktu ditanya aku mau masuk jurusan apa, aku bingung antara seni musik dan hubungan internasional.
Waktu SMA aku anggota tetap kelompok choir. Pengen banget aku terusin minatku itu ke bangku kuliah. Tapi di sisi lain aku juga suka mempelajari bahasa, jadi Hubungan Internasional pasti cocok buatku.
Setelah dipikir cukup lama, aku putusin untuk ambil seni musik. Dan pilihanku ternyata nggak salah...

Aku merasa diterima di sana. Dalam waktu singkat aku bisa dapet banyak temen dan akrab dengan dosen-dosennya. Aku nggak peduli keberadaanku sebagai perempuan yang jadi minoritas di kelas. Dari 30an anak, hanya ada 2 orang perempuan.
Pengalamanku sekolah drum selama 2 grade memang nggak bantu terlalu banyak. Banyak anak laki-laki yang (bahkan) belajar secara otodidak lebih jago dari aku (lol). Tapi itu sama sekali nggak nurunin semangatku untuk belajar. Malah minat aku sebagai "player" pun berganti seiring berjalannya waktu. Aku mau jadi menejer musik. Itu ku pikir. Karena di seni musik selalu ada "jalan" meski nggak terlalu pandai memainkan instrumen.

Sayangnya baru 1 semester aku harus pindah dari seni musik. Alasannya ortu ngerasa pilihanku di sana nggak terlalu tepat. Mereka memang masih sedikit kolot, kadang meragukan kesempatan bekerja dari lulusan jurusan seni musik. Aku ngerti sebagai ortu mereka khawatir dengan masa depanku. Tapi aku nggak mau nyerah gitu aja.
Aku tetep pergi ke kampus seni musik meski aku bukan lagi mahasiswa disana. Status baruku sebagai mahasiswa hubungan internasional sama sekali nggak aku pake. Aku cuma mampir sebentar terus cabut sampai sore di kampus lama. Anehnya beberapa mahasiswa dosen masih nggak ngeh kalau aku sebenernya bukan mahasiswa di sana lagi. Padahal aku sering menyusup masuk kelas, lho disela-sela mata kuliah mereka.

Mengejar ketinggalan di HI (Hubungan Internasional) juga bukan hal gampang. Mata kuliah yang aku ikuti bener-bener berbeda dengan apa yang aku dapet di seni musik. Di mataku HI terlalu kaku, terlalu banyak politik dan nggak mengenal bersenang-senang. Itu termasuk para mahasiswanya. Aku nyaris nggak mengenal 1 orangpun sampai 1 tahun kemudian. Untung aja akhirnya aku nemu 2 orang sahabat yang salah 1 nya awet sampe detik ini :)

Tahun demi tahun (wah, bahasanya, hehehe) aku lalui di HI. Adaptasiku cuma sedikit membaik. Bolos berkurang dan mulai dekat dengan beberapa dosen. Aku sering gagal di beberapa mata kuliah. Malah sempet kena kasus yang agak memalukan. Gara-gara nggak bisa jawab satupun soal UTS, aku nulis surat di lembar jawaban yang isinya adalah curahan hati aku. Dengan jujur aku tulis kalau aku selalu boring ikut mata kuliah tsb (dirahasiakan ya nama mata kuliahnya. Lol) dan kadang aku ketiduran di bangku belakang. Semua itu aku tulis dengan bahasa Inggris. Nggak tau deh aku lagi kerasukan setan bule kali. Lol.
Hasilnya, aku pun dikejar-kejar sama dosen yang bersangkutan selama 1 semester lebih. Nilai mata kuliahku kosong dan SP (Semester Pendek) aku nggak diterima! O ow... Bad Indi... Setelah itu aku langsung menyesal dan janji mau perbaiki semua. Setelah kasih rayuan-rayuan maut (baik-baikin) sama Pak Dosen, akhirnya aku diizinin ikut satu kali SP (huhuhu...).

Baru ditahun akhir aku bisa lebih fokus dan bisa ngejar ketinggalan nilai-nilaiku. Nilai-nilai ku yang C perlahan berganti jadi B bahkan ada juga yang A. IPK ku semakin mendekati angka 3. Biar kata orang aku udah telat buat tobat (halaaaah, hahaha), tapi aku percaya kalau Tuhan pasti membantu umatnya yang berusaha, lol.
Meski dibantu Tuhan, bukan berarti semuanya mudah. Temen-teman satu kelasku satu persatu duluan lulus. Sedangkan aku masih disibukan dengan skripsi dan ngurusin nilai. Belum lagi sepupuku yang usianya 1 tahun dibawahku udah lulus duluan. Wah, tekanan dari keluarga langsung deh berdatangan. Dari pertanyaan halus macam, "Kapan lulus?" sampai "Nggak malu tuh dikalahin adiknya?" mulai terbiasa kedengeran sepanjang aku ngerjain skripsi.
Kalau aja aku nggak punya ketegaran ekstra, udah gantung di jalan kali tu skripsi. Untung aku punya jurus ampuh ngadepin tekanan. Jurus Budeg! Aku pura-pura nggak denger aja apa komentar negatif dari orang sekitar. Yang penting aku fokus dan mengerjakan sebaik-baiknya. Toh, aku mengejar semua ketinggalan aku ini hanya dalam waktu 1 tahun. Jadi aku rasa semua pencapaianku sejauh ini udah cukup.


Lagi nunggu giliran sidang.


Akhirnya aku berhasil selesaiin skripsiku di bulan Juni (thank you so much for Ray) dan sidang di bulan Juli. Terbukti karena Jurus Budeg ku bisa capai tujuan aku meski nggak secepat yang lain. Sempet khawatir hasil sidangku nggak baik mengingat track recordku yang rada-rada bikin dosen BT, lol. Tapi ternyata semuanya baik-baik aja. Bahkan 3 dari 4 penguji adalah fans "Waktu aku Sama Mika", novel yang aku tulis. Ssst... itu termasuk Pak Dosen "Kasus", lho, hihihi. Hasilnya proses sidangpun lebih santai dan dicampur sama tanya jawab tentang novelku! Lol.
Hasil sidang aku sangat baik. Aku lulus dengan nilai A, predikat sangat memuaskan. IPK ku pun diatas 3. Siapa yang sangka kalau itu semua aku kerjakan dalam waktu 1 tahun? :)



Lulus! :D


Kadang memenuhi pengharapan orang-orang sekitar itu susah. Jadi apa salahnya kalau kita bikin pengarapan untuk diri sendiri dulu? Meski (mungkin) nggak memuaskan orang lain dan dianggap biasa aja, tapi selalu ada perasaan bangga kalau kita bisa penuhi target yang kita buat sendiri. Sekecil apapun itu. Trust me! :)

(Diedit: 29/02/2024)