Tampilkan postingan dengan label halloween. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label halloween. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2024

Ketika Aku Menjadi Penyihir, Shane Menjadi Preman, dan Ali Menjadi Anak Cool! (Cerita Halloween Kami)

Aku mengetik ini tengah malam sambil menunggu makanan yang kupesan datang. Shane dan Kitty sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu, lampu-lampu pun sudah dimatikan sehingga sumber cahaya hanya dari laptop dan sesekali layar handphone yang menyala menandakan ada notifikasi masuk. Aku belum mengantuk, kalau sedang menstruasi jadwal tidurku (dan makan, ehm, hehe) selalu berantakan. Memang kurang baik tapi jujur saja aku sangat menikmati saat terjaga sendirian seperti ini. Udara terasa dingin, sisa hujan di sore hari. Seharusnya sekarang musim kering tapi cuaca Bandung memang seringnya nggak bisa ditebak, bisa hujan kapan saja. Dan suasana seperti ini mengingatkanku dengan Halloween, ---musim favoritku, yang selalu bertepatan dengan musim hujan di bulan Oktober. Ya, aku tahu, sekarang masih bulan Juni, tapi suasana ini membuat mood Halloweenku bangkit. Apalagi tungku lilin di samping laptopku sedang melehkan lilin beraroma labu yang manis :)

Rasanya sekarang waktu yang sangat tepat untuk bercerita tentang Halloween-ku (well, kami) di bulan Oktober 2023 lalu. Aku sangat suka dengan Halloween (---eh, barusan aku sudah bilang ya, hehe), perpaduan hujan, film-film seram lama yang diputar di TV, dan rumah hantu-rumah hantu dadakan yang bermunculan membawaku ke perasaan nostalgic. Entahlah, somehow mengingatkanku dengan masa kecil yang hangat meskipun sebenarnya di Indonesia Halloween bukan "hal yang besar". Dulu aku selalu menghabiskan Halloween dengan memakai kostum buatan Ibu dan menonton film seram dengan Bapak hingga larut. Setelah dewasa rupanya aku menikahi seorang Halloween enthusiast! Yup, Shane juga sangat menyukai Halloween, ---jujur saja ia satu-satunya orang yang menyamai energiku :D Setiap tahun, jauh-jauh hari, bahkan sejauh satu malam setelah Halloween selesai saja kami langsung membicarakan rencana tahun depan. Tahun kemarin Halloween kami bertema "Hocus Pocus" yang tentu saja sudah kami bicarakan sejak tahun 2022! :D



Aku punya banyak film favorit yang bertema Halloween, salah satunya "Hocus Pocus" yang entah sudah berapa kali kutonton ulang. Ali, adikku (yang sebenarnya dalam silsilah keluarga adalah keponakanku) sedang dalam fase terobsesi dengan film yang sama. Ia selalu amazed setiap melihat Max, salah satu tokoh utama di film. "Max itu keren sekali, sepatunya bagus," begitu katanya. Dari sanalah ide tema Halloween tahun lalu muncul. Aku memutuskan untuk memberi Ali sedikit kejutan dengan mewujudkan impiannya menjadi "Max Kecil". Shane setuju, ia pun lalu menyebut nama "Billy" ketika aku bertanya tokoh “Hocus Pocus” mana yang akan ia pakai kostumnya. Jawabannya membuatku tertawa, Billy adalah zombie bertubuh kurus yang menurut Shane mirip dengannya tanpa harus memakai kostum, hahaha. Selera humor Shane kadang terlalu "liar", sampai penampilan fisik sendiri pun dijadikan candaan :D 


Sementara aku, awalnya ingin memakai kostum Mary, salah satu penyihir dari Sanderson Sisters. Tapi setelah dipikir aku memutuskan untuk menjadi Dani saja, adik dari Max. Rasanya jadi lebih pas karena jika aku menjadi Mary harus ada yang menjadi Winny dan Sarah alias "sisters yang lain", ---yang mana nggak mungkin karena Shane dan Ali kan laki-laki :D Seperti yang sudah-sudah untuk kostum sebisa mungkin kami memanfaatkan apa yang sudah ada. Dan kalaupun harus membeli yang baru jangan sampai nantinya hanya jadi terlupakan di tumpukan lemari :') Untuk menjadi Dani aku memakai dress hitam buatan Ibu yang outernya kulepas digantikan dengan cape merah yang kubeli di marketplace. Karena di film cape merah Dani bermotif matahari, jadi aku menempel beberapa gambar matahari dengan menggunakan double tape! Hihihi, supaya bisa dilepas kembali dan nantinya ditempel di tempat lain :) Aku juga menambahkan topi penyihir dan ember permen yang sudah kumiliki sejak tahun 2021 untuk melengkapi kostumku. Di film diceritakan kalau Dani memakai kostum penyihir untuk Halloween, btw. ---Hasilnya? Aku puas dengan usaha mix and match-ku ;)


Ali sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi Max. Setelah ia tahu aku membelikannya kaus tie dye, ia langsung video call untuk memberitahu kalau ia sudah siap "melengkapi" kostum dariku. Di film Max memakai dua outfit, kaus tie dye di adegan-adegan awal dan jaket tebal saat ia melakukan trick or treat bersama Dani. Aku merasa outfit yang pertama lebih cocok untuk Ali, lagipula kaus rasanya akan lebih "bisa dipakai" di iklim Bandung yang kadang saat hujan pun terasa lembap. Aku sempat khawatir karena nggak bisa menemukan warna kaus tie dye yang tepat, tapi ternyata Ali dengan pandai memadukan kausnya dengan kaus hitam berlengan panjang dan sepatu keds yang ia miliki! Yup, seperti yang kubilang barusan, Ali sepertinya ditakdirkan menjadi Max :) Dengan budget yang minim ia berhasil "menangkap" style ala Max dengan cerdas.


Lalu bagaimana dengan rencana Shane yang ingin menjadi Billy? Beberapa hari saja sebelum Halloween kami sepakat untuk membatalkannya karena mendadak dapat ide yang dirasa lebih bagus :D Ada tokoh di "Hocus Pocus" bernama Jay yang kemunculannya selalu membuat kami tertawa meskipun sebenarnya ia pemeran pendukung. ---Jay adalah seorang pembully alias preman kampung! Hahaha. Jika Shane menjadi Jay tentu saja akan lebih cocok dibandingkan menjadi Billy, karena di film ia diceritakan selalu mengganggu Max dan Dani. Kostumnya pun sangat gampang, Shane nggak perlu didandani macam-macam karena dari segi postur tubuh dan rambut sudah mirip (bisa-bisanya ia pikir lebih mirip dengan Billy, lol). Dengan memakai jaket kulit imitasi dan kalung tengkorak yang harganya beberapa ribu saja, Shane sudah bisa menjadi Jay versi yang nggak tengil-tengil amat kalau dibandingkan dengan aslinya :p


In case kalian belum pernah menonton "Hocus Pocus", beginilah penampilan Jay, Dani dan Max yang asli :D


Selain kostum dan vibesnya, yang membuatku excited dengan Halloween tentu saja dekorasinya. Nggak banyak yang berubah, aku dan Shane hanya memakai dekorasi yang sudah ada bahkan dari sebelum kami menikah. Beberapa ada juga yang dari project DIY isengku, kondisinya masih bagus karena hanya dipakai setahun sekali :D Yang berbeda hanya karena ini kali pertama kami ber-Halloween di rumah tapak (sebelumnya kami tinggal di apartemen) jadi dekorasinya bisa sampai di luar rumah juga! :') Akhirnya kami kesampaian memajang labu-labu palsu di halaman rumah dan perapian halaman belakang. Kami juga menghiasi jendela yang menghadap ke jalan dengan stiker-stiker seram supaya orang yang lalu-lalang ikut bisa merasakan vibes musim seram, hihi. Sebenarnya rumah kami belum 100% selesai, bagian belakangnya masih berantakan. Tapi nggak apa, malah cocok dengan dekorasi Halloween kan :D


Dekorasi tampak depan rumah kami yang sederhana.

Perapian di halaman belakang masih berantakan tapi tetap kami beri dekorasi Halloween :)


Salah satu project DIY yang kubuat waktu masih tinggal di rumah orangtua.


Halloween tiba, aku dan Shane siap dengan kostum kami. ---Begitu juga Kitty dengan kostum Mike Wazowski-nya yang dibeli secara dadakan. Sebenarnya Kitty nggak perlu memakai kostum karena di film "Hocus Pocus" ada tokoh kucing bernama Thackery Binx. Tapi aku nggak mau kucing kesayangan kami ini merasa ditinggalkan, jadi kuputuskan untuk membelikannya kostum juga :) Meski berasal dari dua judul film yang berbeda tapi Mike sama-sama dari film yang diproduksi Disney, "Monster Inc". Dan kalau dipikir-pikir ceritanya nggak jauh sama "Hocus Pocus" ya, tentang menakuti anak-anak. Cuma bedanya Mike mengambil suara bukan nyawa mereka (---lho kok seram ya kalau dibayangkan, hiii...). Sambil menunggu Ali datang Shane mengambil videoku untuk cover lagu "Come Little Children" yang sudah kurekam semalam sebelumnya. Lagu ini aslinya dinyanyikan Sarah di film untuk menghipnotis anak-anak supaya mereka menghampiri Sanderson Sisters. Karena Ali sangat suka dengan Sarah (ya, selain dengan Max tentu saja), jadi beberapa minggu sebelum Halloween aku merekam Ali yang sedang beracting untuk kemudian digabungkan dengan videoku. 


Kitty dengan kostum Mike Wazowski-nya yang kedodoran :D


Videoku membawakan lagu "Come Little Children". Aku dan Shane bermain ukulele di sini.


Waktu Ali datang aku dan Shane langsung amaze dengan penampilannya. Wow, ia benar-benar seperti Max! :D Ali diantar oleh Ibu dan Bapak, dan Ibu bilang Ali sangat serius sekali dengan kostumnya. Nggak cuma penampilan luarnya, Ali juga pandai sekali meniru gaya Max yang cool. Kami sampai tertawa dibuatnya :) Karena langit sudah mulai gelap tanda hujan akan datang, Bapak meminta kami untuk mengambil foto sebelum melakukan hal lain. Seperti biasa, untuk kenang-kenangan. Hanya Ali yang memakai sepatu, sementara aku dan Shane betah dengan kaus kaki dan sandal kami karena udara terasa dingin. Nggak banyak foto yang diambil karena angin bertiup semakin kencang dan rintik hujan mulai turun. Tapi nggak mengapa karena foto-foto yang sedikit ini sudah cukup menangkap keseruan Halloween kami, yang nantinya akan mengundang senyum ketika kami melihatnya di masa depan ;)


Bagaimana, apa kami sudah cukup mirip dengan Jay, Dani dan Max? :D

Dani dan Max. Di film mereka diceritakan sebagai kakak-adik yang sering berselisih, lho.

Ali dengan gaya ala Max-nya :D

Temanku bilang Shane nggak diapa-apain juga mirip Jay, ahahahaha xD

Skit Hocus Pocus kami.


Perbandingan kami dengan tokoh-tokoh asli di film “Hocus Pocus”. Kami berusaha untuk memakai apa yang sudah ada di rumah :D


Ibu membawakan kami mi goreng dan capcay untuk makan siang, juga sebuah labu untuk diukir. Jadi segera setelah kami masuk ke rumah, hal pertama yang dilakukan adalah makan! Hanya aku, Shane dan Ali saja tepatnya, karena Ibu dan Bapak ingin duduk-duduk di garasi sambil menikmati hujan. Ibu membeli makanan untuk kami dari restoran Chinese Food langganan yang rasanya selalu kami sukai (langganan sejak aku kecil, lho). Mereka punya pilihan vegetarian dan vegan, tapi somehow salah membuat pesanan mi goreng ibuku. Yang seharusnya vegan jadi vegetarian karena bertabur telur orak-arik, huhu :') Aku dan Shane tetap berusaha memakannya dengan cara memilah mi-nya saja karena buang-buang makanan itu sangat BIG NO untuk kami. Tapi lama-lama menyerah juga... Syukurlah Bapak mau menghabiskannya karena Ali mendadak ikut-ikutan vegan dan menolak untuk menghabiskan mi gorengnya :D


Selesai makan hujan turun semakin lebat. Kami putuskan menjadi waktu yang tepat untuk mengukir labu yang Ibu bawa. Labunya berukuran mungil dan terlihat cute. Kata Ibu beliau pilihkan yang paling bagus dari sekian banyak labu di supermarket. ---Iya, kami selalu beli labu dari supermarket untuk Halloween, tepatnya dari Superindo karena di kota Bandung nggak ada pumpkin patch xD Aku dan Ali mencari inspirasi desain pumpkin carving dari internet sementara Shane sudah siap dengan pisau dan sendoknya. Setelah mendapat desain yang paling kami sukai, Shane mulai menggambar pola desainnya dengan menggunakan spidol di permukaan labu. Aku dan Ali mengamati Shane dengan seksama, nggak berani untuk menyentuh pisau mengingat cerobohnya aku dan Ali yang masih terlalu muda. Nggak membutuhkan waktu lama Shane selesai mengukir labu dan melengkapinya dengan lilin elektrik. Bagus sekali, "mata" labunya seperti menyala dan berekspresi. Aku dan Ali pun bertepuk tangan karena kagum. Kami meletakkan labunya di atas pemutar piringan hitam dan akan dikeluarkan keesokan harinya saat hujan sudah reda.


Proses pumpkin carving. ---Kok kebetulan mirip dengan kaus Shane ya? :D

Hasilnya seperti ini. Seram atau imut, nih?


Aktivitas selain mengukir labu yang selalu dilakukan setiap tahun tapi nggak pernah bosan tentu saja memanggang cake "kuburan". Aku sudah melakukannya sebelum ada Ali dan dilanjutkan sampai sekarang. Dulu aku menyebutnya mud cake atau kue lumpur, tapi semenjak ada Ali berganti nama menjadi "kuburan" karena ia selalu menambahkan hiasan batu nisan yang terbuat dari sepotong biskuit :D Sayangnya ketika aku akan menyiapkan bahan-bahan membuat cake, Ibu mengingatkan kalau di pagi hari Ali harus bersekolah :') Ali kecewa, tentu saja. (---Well, aku dan Shane juga begitu). Tapi terobati setelah aku memberinya bahan-bahan membuat cake agar ia bisa melakukannya sendiri (dengan diawasi Bapak) sebelum tidur. Nggak lupa aku menuliskan step by step-nya agar mudah diikuti Ali. Ibu, Bapak dan Ali pun berpamitan untuk pulang, meninggalkan aku dan Shane yang segera memanggang cake kami. Bagaimana dengan Kitty? Oh, ia bergelung di tempat tidurnya dan terlindung dari udara dingin karena masih memakai kostumnya ;)


Cake kuburan buatan aku dan Shane. Ukurannya kecil karena bahannya dibagi dua dengan Ali.

Cake buatan Ali yang bikin bangga! :')


Aku dan Shane menghabiskan sisa hari dengan berkumpul di ruang TV. Shane sudah terkantuk-kantuk sementara aku mencari film seram seru yang bisa kutonton sebagai pengantar tidur. Sebelum aku menemukan tontonan yang kuinginkan HP ku bergetar, ---ada pesan dari Ibu. Isinya membuatku tersenyum dan sedikit terharu. Beliau mengirimkan gambar cake buatan Ali yang berbentuk abstrak :') Katanya Ali bersemangat sekali dan ia bangga dengan cake buatannya. Saking bangganya ia nggak menghabiskannya dan akan membawa sisanya ke sekolah! Aku harap Halloween berikutnya aku bisa kembali memanggang cake bersama Ali, tapi melihatnya bisa melakukan sendiri membuatku merasa bangga :') Akhirnya aku menemukan film yang akan kutonton, judulnya "The Devil on Trial" di Netflix. Lampu ruang TV kugelapkan dan Shane sudah setengah tidur di atas matras lantainya. Meski film dokumenter yang kuntonton bergenre horor tapi suasana malam terasa damai. Sungguh Halloween yang menyenangkan dan membuat hatiku hangat :)


Udara dingin membuat Kitty cepat mengantuk, hihi.


Sehari setelah Halloween aku membuat pizza sayur dan tahu berbentuk pumpkin :)


Vlog Halloween kami :)


Well... begitulah cerita Halloween kami. Aku begitu terlarut saat menulis cerita ini sampai-sampai hampir lupa kalau sekarang masih bulan Juni. ---Kalau saja aku nggak melihat pojok bawah monitorku yang menunjukkan bulan apa sekarang :D Makananku sudah datang (jamur dan kale, yum).  Setelah menutup laptop aku akan makan sambil menonton video-video Halloween lamaku (thanks to Bapak yang selalu rajin mengabadikan moment). Setelah itu tentu aku akan menyusul Shane dan Kitty yang sudah tertidur nyenyak. ---Apakah mereka sedang bermimpi tentang Halloween? Ah, siapa yang tahu! :p


boo,

Indi



Catatan: Senang sekali bisa kembali menulis di sini. Sejak bulan April kesehatanku menurun. Hasil tes darahku baik, nggak ada yang perlu dikhawatirkan tapi dokter masih ingin melakukan beberapa tes lagi untuk tahu sumber rasa sakitku. Aku berencana untuk berkonsultasi dengan dokter lain karena merasa dokter yang sebelumnya kurang "mendengarkan". Tapi kabar baiknya aku sudah bisa lebih mengontrol rasa sakitku dengan yoga. So, aku sudah bisa sering-sering di sini dan berkunjung ke blog kalian. See you soon! ;)

Oya, Halloween juga membawa rezeki untuk Kitty. Aku mendaftarkannya ke kontes kostum Halloween yang diselenggarakan oleh Monsabel Pet Clinic dan ia menjadi salah satu pemenangnya! <3


Keywords: Pengalaman merayakan Halloween di Indonesia, kostum Halloween, tema Halloween Hocus Pocus.









----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik | Novelku, Waktu Aku sama Mika: di sini (Shira Media) dan di sini (Gramedia)


Minggu, 16 Juli 2023

Ketika Woody, Jessie, Buzz dan Little Green Man Masuk Rumah Hantu :D

Ah, akhirnya bisa kembali lagi menulis di blog ini :'D Nggak, aku nggak malas nulis, lupa password atau kehilangan laptop, kok. Tapi kemarin-kemarin aku dan Shane sedang proses pindah rumah dan laptopku KETINGGALAN di rumah lama! Ahahaha, entahlah kenapa bisa kelupaan, ---dua-duanya pula, laptopku dan laptop Shane. Padahal pekerjaan kami lumayan bergantung sama laptop :') Untungnya selama proses pindah kami tinggal di rumah ortuku, jadi tetap punya akses internet untuk pekerjaan kami meski jadi menggunakan handphone :) 

Kepindahan kami memang mendadak, hanya diputuskan dalam beberapa minggu saja tapi kami sepakat kalau alasannya sangat masuk akal. Tiga bulan setelah menikah kami memutuskan untuk membeli satu unit apartemen, dan sampai (hampir) 4 tahun pernikahan kami tinggal di sana. Meski mungil tapi kami betah dan bahagia di sana. Kami mendapatkan privasi dan kemudahan akses ke tempat dan fasilitas yang kami butuhkan. Intinya, rumah lama kami nyaris sempurna. Lalu kenapa kami memutuskan pindah? Karena sadar kalau dengan tinggal di rumah tapak, yang masih di kota yang sama, bisa lebih hemat dan kami bisa punya lebih banyak space. Jujur, kepergian Eris, anjingku bulan Maret 2022 lalu, bikin mentalku terguncang. Hampir tiap malam aku menangis dan terus menyalahkan diri sendiri kenapa malah tinggal di apartemen sementara Eris perlu tempat yang luas. Seandainya saja sejak awal aku dan Shane tinggal di rumah tapak, aku bisa di samping Eris ketika ia pergi... Kepindahan kami memang nggak bisa mengembalikan Eris, tapi kurasa ini cara membuka lembaran baru yang baik; untuk kesehatan mentalku dan juga Shane, ---di tempat luas dan berjauhan dengan tetangga aku yakin ia bisa leluasa dalam proses membuat musik.


Kami tinggal di rumah ortuku selama kurang lebih 4 bulan. Selama itu pula kami menyicil renovasi tempat tinggal baru dan membawa barang-barang dari apartemen (yang somehow kelupaan melulu untuk membawa laptop, hahaha). Perasaanku campur aduk, di satu sisi happy banget bisa dekat-dekat dengan Ibu, Bapak, juga Ali, tapi di sisi lain ada perasaan rindu bisa berdua saja dengan Shane. Apalagi ada moment-moment yang biasanya dirayakan dengan 'cara kami' jadi harus disesuaikan kembali karena sedang nggak tinggal di rumah sendiri. Tapi kami nggak anggap ini big deal sih, aku dan Shane sadar betul kalau situasi ini hanya sementara, jadi better enjoy saja jadi 'bayi-bayi' Ibu dan Bapak selama kami tinggal di rumah mereka :p


Penyesuaian juga kami lakukan di moment anniversary pernikahan dan Halloween. Tahun kemarin kami nggak menginap di hotel atau makan di restoran, tapi cukup dengan delivery order saja untuk makan bersama Ibu, Bapak dan Ali. Rasanya gimanaa gitu kalau kami harus bersenang-senang di luar. Meskipun Ibu dan Bapak pasti nggak keberatan dan malah ikut senang, tapi rasanya tetap stay di rumah jadi keputusan lebih bijak :) Begitu juga dengan Halloween, meskipun sudah pasti diizinkan untuk mendekor rumah (---kan dulu sebelum menikah juga begitu, hehe), tapi aku dan Shane lebih memilih untuk merayakannya di luar saja supaya rumah nggak berantakan. Dengan mengajak mereka tentunya, lengkap dengan membelikan kostum bertema sama supaya kompak, hehehe.


Foto Halloween kami yang sayangnya tanpa Ibu :')


Setelah tahun sebelumnya aku dan Shane memakai kostum Squid Game, ---yang mana kurang family friendly (serialnya maksudnya, kostumnya sih biasa saja), Halloween tahun 2022 kami putuskan untuk mengambil tema yang netral. Toy Story! Karena semua orang suka, termasuk Ibu dan Bapak. Apalagi Ali belakangan lagi suka banget nonton ulang serinya di Disney+. Sudah deh, nggak perlu mikir lama ia mau pakai kostum Buzz Lightyear, hehehe. Aku dan Shane memilih kostum Jessie dan Woody, yang meski di film diceritakan bukan pasangan tapi bagi Ali harusnya begitu, karena cowboy dan cowgirl katanya :D Sementara Ibu dan Bapak mereka sih bebas, ngikut saja karena memang rencananya pun nggak akan pakai full kostum, cukup kaus saja asalkan bisa represent tokohnya. Aku dan Ali pikir Mr. dan Mrs. Potato Head akan jadi kostum buat mereka. Tapi ternyata mendekati Halloween Ibu nggak bisa ikutan karena Nenek meminta beliau untuk mengantarnya ke makam Kakek, ---dan menginap di villa keluarga. Rencana kostum pun harus diubah, karena aku merasa janggal kalau Bapak jadi Mr. Potato Head sendirian, kan, hehehe. Akhirnya aku putuskan untuk membeli kaos Little Green Man. Dari segi warna akan serasi dengan kostum Ali dan kebetulannya ketiga alien mungil itu diceritakan diadopsi Mr. dan Mrs. Potato Head kan, jadi nggak jauh-amat dari rencana awal :p (Lah, maksa, hueheee).


Surprisingly, mencari kostum untukku dan Shane itu nggak sulit. Kupikir awalnya aku bakal harus pesan dari luar negeri karena kami pakai size besar. Tapi ternyata ada store lokal yang bisa membuat kostum custome made Jessie dan Woody ukuran dewasa! Mereka hanya menjual atasannya saja, dan memang cuma itu kok yang kami butuhkan. Karena meski aku pakai kostum Jessie aku tetap ingin terlihat seperti aku alias pakai rok, hahaha. Jadi daripada memakai celana bermotif kulit sapi, aku ganti saja dengan rok tutu. Aksen kulit sapinya tetap ada, tapi di kaus kaki :D Sedangkan Shane ia punya banyak celana jeans jadi nggak perlu membeli yang baru. ---As always, Halloween kami selalu sebisa mungkin nggak boros. Karena di situ serunya, memanfaatkan apa yang ada jadi hasil yang kreatif ;)

Nah, kostum Ali justru jadi yang tersulit. Di luar dugaan kan, padahal biasanya cari kostum bocil gampang T_T Kostum Buzz Lightyear nya sih banyak, tapi susaaah banget nemu ukuran yang pas. Kostum Buzz yang lucu-lucu, yang punya detail seperti aslinya, pasti ukurannya kecil-kecil, buat usia balita gitu. Sedangkan yang besar cuma bersablon di bagian dada doang tanpa detail di lengan dan celana. Yang ada malah mirip piama kan, uhuhu x'D Mungkin usia 7 tahun sudah nanggung ya, sudah masuk SD dan di sini biasanya kebanyakan yang merayakan Halloween dengan kostum sampai usia TK saja. Ali sampai bilang kalau ia nggak keberatan pakai kostum kesempitan karena kepengen mirip sama Buzz. Tapi of course nggak aku kasih. Sangat bertentangan dengan pedoman Halloween ku yang kostumnya HARUS bisa dipakai lagi buat sehari-hari, jangan mubazir, hehe. Aku nggak mau nyerah, setiap malam jari-jariku mengetik segala macam kata kunci di Google, bahkan menghubungi seller-seller yang jelas di tokonya nggak jualan kostum Buzz. ---Ya, kali aja kan punya kenalan penjual lain, hehe xD Daaaan, akhirnya! Aku beruntung juga! Ada seorang seller yang pernah menjual kostum Buzz ukuran Ali tapi ia nggak yakin apa masih ada atau nggak. Stoknya tinggal 2 potong dan aku berharap banget salah satunya ukuran Ali. Saat itu ia nggak ada di tempat, jadi minta tolong orang lain untuk mengecek ukurannya. Menurut info dari yang dimintai tolong, keduanya bukan ukuran Ali. Yang satu kekecilan dan satu kebesaran BANGET. Aku sempat pasrah bilang sama Ali kalau ia harus pilih kostum tokoh lain atau pakai kostum Buzz yang detailnya sedikit. Tapi entah kenapa keesokan harinya aku penasaran dan minta sellernya (sambil minta maaf berkali-kali kaya Mpok Minah) untuk ukur secara manual. Syukurlah ia baik banget :') Ia ukur satu-satu, dan ternyata salah satunya PAS ukuran Ali! Huaaaa, aku sampai lompat-lompat, tendang-tendang, teriak-teriak histeris (yang lalu diikuti Ali) saking senangnya! Hahaha, Akhirnya kostum kami lengkap! Termasuk Bapak yang pas 2 malam sebelum Halloween kaus Little Green Mannya tiba :)


Gimana, keren kan kostum Buzz Lightyear Ali? ;)


Kostum aku, Shane dan Ali. Waktu foto ini diambil aku belum punya boneka Jessie xD


Di malam Halloween kami membuat foto Halloween, ---karena kami tahu kalau di hari H nya nggak akan sempat. Sekalian kami juga mencoba kostum kami yang sudah dicuci dan make sure nggak ada kekurangan. Thank God semuanya pas (ya, rokku kebesaran sih tapi bisa diakali dengan ditarik ke atas pakainya). Rencananya kami akan ke rumah hantu, jadi kami tidur lebih cepat supaya bisa datang nggak terlalu siang. Paginya, tiba-tiba saja aku punya ide buat cat rambut jadi warna merah. Ceritanya biar mirip sama Jessie gitu, hahaha. Padahal untuk proses pengecatan, keramas sampai dikeringkan kan nggak cukup satu-dua jam ya, tapi entahlah kepengen saja :p Untung Shane sigap membantu, dengan cat rambut yang sudah ada (lupa waktu itu beli buat apa, hehe) ia mengecat rambutku serapi dan secepat mungkin. Hasilnya bagus , aku suka! Yaaa, meskipun rambutku nggak panjang kaya Jessie, yang penting warnanya mirip dan sama-sama ada kepangnya. ---Maksudnya aku pakai bando model kepang yang dibelikan Ibu beberapa waktu lalu :p


Rokku ketara banget ya kebesaran (lihat lipatannya sampai perut, ahahaha).


Jessie and Woody (Woody nya pakai sandal Swallow).



Karena Halloween jatuh di hari Senin dan nggak masuk sebagai holiday di sini, jadi kami pergi ke rumah hantu yang berada di Trans Studio sepulang Ali dari sekolah. Sebenarnya at least ada 3 mall lain di Bandung yang juga punya event Halloween, tapi setelah scrolling di akun Instagram mereka kayanya cuma Trans Studio yang paling nyaman dan family friendly. Soalnya jujur nih, aku kurang sreg kalau Halloween jadi ajang cosplay khusus genre tertentu dan yang datang kostumnya banyak yang nggak age appropriate T_T Anyway, waktu kami tiba ternyata suasana nggak begitu ramai. Mungkin karena itu tadi, bukan di hari libur. Dekorasinya juga sangat minim, hanya ada satu pohon raksasa yang terbuat dari rangkaian labu-labu Jack O'Lantern. Selebihnya sama seperti hari-hari biasa, bahkan di tempat yang seharusnya menjual topeng Halloween pun kosong. Agak kecewa sebenarnya karena Ali sudah bersemangat membawa ember labunya tapi ternyata nggak ada yang bagi-bagi permen, hehe :'D Dulu, waktu Trans Studio baru dibuka, Halloween jadi waktu yang lebih menyenangkan. Ada dekorasi di setiap sudut, seluruh pegawainya memakai kostum, ada diskon untuk yang datang memakai kostum dan tentu ada acara bagi-bagi permen. Sayang ya Ali nggak sempat mengalami karena ia belum lahir waktu itu :'D Tapi aku ingat kalau moment berharga itu bisa diciptakan, bukan bergantung pada tempat. Jadi aku putuskan untuk menerima segala perubahan dan bersenang-senang :) 


Satu-satunya dekorasi Halloween di TSB. Beda banget ya dibanding waktu dulu :')


Waktu kami mau masuk wahana rumah hantu rupanya hanya aku yang ketakutan, hahaha. Sepanjang lorong antrian aku memegang tangan Shane kuat-kuat. Mungkin karena suasananya gelap dan sepi ya, ---hanya ada satu keluarga lain yang mengantri di depan kami. Sementara Ali, di luar dugaan ia santai-santai, bahkan dengan bersemangat melihat-lihat suasana sekitar yang disetting menyeramkan dengan batu nisan, lukisan dan lampu gantung. Karena satu kereta yang digunakan di wahana hanya untuk empat orang saja, jadi kami harus menunggu dulu sebentar. Ketika kereta tiba aku langsung bimbang antara mau duduk di barisan depan atau belakang. Aku merasa duduk dimana pun nggak aman. ---Kalau di belakang aku takut ada yang nyolek-nyolek punggungku, sementara kalau di depan aku bakal jadi orang pertama yang melihat "hantu", hahaha T_T Belum juga aku memutuskan, eh, Ali dan Bapak sudah duduk di belakang. Ya.. terpaksa deh aku yang di depan, hahaha :')


Selama di dalam rumah hantu aku kebanyakan tutup mata, tapi tanganku tetap berusaha arahkan handphone ke "para hantu" untuk merekam. Pikirku kalau pun pas di wahana nggak lihat apa-apa, minimal aku bisa lihat rekamannya nanti, hahaha. Agak aneh memang, Halloween adalah holiday favoritku dan aku hobi banget nonton film horor, tapi masuk rumah hantu family friendly saja takut xD Menurut Shane itu karena imajinasiku terlalu besar, aku jadi suka membayangkan hal-hal mengerikan yang sebenarnya nggak mungkin terjadi. Yaaa, betul juga sih, bahkan kalau lagi nonton film horor saja kadang imajinasiku malah lebih seram dan ujung-ujungnya malah ngarang cerita sendiri yang lalu aku ceritakan sama Shane setelah filmnya selesai :p (Ini alasan kenapa kami kalau habis nonton nggak langsung keluar dari bioskop, ---ngobrol dulu, hahaha).


Keluar dari rumah hantu kami langsung membahas pengalaman kami, dan kesimpulannya ternyata memang hanya aku yang takut -_-"  Bapak bilang wahananya seru dan lumayan menyeramkan karena ada hantu kepala terpenggal (haha), sementara Shane dan Ali, mereka bilang nggak seram sama sekali. (Seketika aku merasa menyesal kebanyakan tutup mata). Tapi kami setuju kalau rumah hantu jadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Bapak bahkan sampai punya ide buat berfoto di depan rumah hantu untuk bukti kalau kami berani masuk ke sana lho. Sekalian supaya Halloweennya terasa katanya :D Rumah hantu juga jadi satu-satunya wahana yang Halloween related karena Trans Studio nggak punya wahana spesial Halloween seperti Escape Room di tahun 2018 lalu yang bertepatan dengan rilisnya film Goosebumps: Haunted Halloween. Setelah itu kami ya main wahana-wahana biasa saja, seperti Dragon Riders (naga terbang), Sky Pirates (balon udara) dan lain-lain. Oh iya, waktu Ali sedang bermain di play ground khusus anak, aku dan Shane pergi berdua untuk memesan makan siang. Ternyata ada flashmob dance Thrillernya Michael Jackson dari para zombie yang entah datang dari mana xD Kami sempat diajak, tapi kami menolak karena sedang buru-buru dan... nggak bisa menari! :p 


Bukti kalau kami masuk Rumah Hantu :p


Makan siang dengan mie jamur. Gak banyak pilihan di TSB, tapi yang penting perut jangan sampai kosong :D


Setelah perut kenyang dan puas dengan wahana-wahana menegangkan, kami menghabiskan sisa waktu di Trans Studio dengan bermain di "Kids Friendly Zone". Well, tepatnya Ali sih yang main sementara aku, Shane dan Bapak kebanyakan duduk-duduk saja sambil beristirahat. Di zona ini wahananya memang dibuat versi mini karena diperuntukan untuk anak-anak. Aku sempat  mendampingi Ali di dua wahana, itu pun karena Ali yang minta dan setelah izin petugasnya. Kalau nggak izinin aku sih malah nggak apa-apa, karena TBH aku ngerasa janggal jadi yang paling gede sendirian pas naik kereta mini, haha xD 

Meski masih ada waktu sebelum closing tapi kami putuskan untuk nggak naik wahana apa-apa lagi. Kami menonton parade penutupan dan kami keluar area Trans Studio dengan hati yang sangat senang dan puas :)


Kudanya mungil, jadi aku gak berani naik, hahaha.


Selesai parade kami berfoto dulu dengan marching band.


Mermaid cantik :)


Please aku penasaran ini kostum apa. Zebra laut gak sih? xD


Rencana kami selanjutnya adalah makan malam sebelum pulang. Waktu kami turun menuju area mall, aku mampir ke toilet dulu untuk buang air dan sedikit touch up (sisiran maksudnya, huehe...). Waktu keluar dari toilet aku langsung disambut oleh Shane yang super excited karena melihat poster Toy Story! Rupanya Miniso menjual merchandise Disney khususnya Toy Story. Sungguh kebetulan yang manis karena sama dengan tema Halloween kami :') Langsung saja kami masuk untuk melihat-lihat dan berakhir dengan membawa pulang satu phone charm Little Green Man dan satu gantungan tas berbentuk hati yang Ali pilih untuk Yeyer, boneka kucingnya :D


Pojok kanan atas foto di depan poster yang Shane tunjukkan.


Karena ide Shane kami akhirnya makan malam di restoran pizza, ---tepatnya di Pizza Hut Buah Batu, yang waktu tulisan ini dibuat sudah tutup karena kontraknya habis :') Lagi-lagi kebetulan yang manis, kami jadi seperti di dunia Toy Story sungguhan. Bedanya hanya di nama restoran saja, Pizza Hut alih-alih Pizza Planet! Hehehe. Kalau dipikir lucu juga sih, kami jadi seperti punya dunia sendiri. Waktu kami duduk berempat, makan sambil mengobrol, kami sedang menikmati Halloween yang super menyenangkan. Tapi waktu aku berdiri untuk ke wastafel atau mengambil salad dan melihat sekitar aku jadi sadar kalau untuk orang lain Halloween hanya hari Senin biasa. Keluarga memang ajaib. Bersama mereka aku merasa "normal" dan "aman", ---bahkan saat menjadi yang satu-satunya memakai kostum.


Akhirnya ada foto berempat. Difotoin Mbak Pizza Hut :D


Ali dan Bapak alias si kembar.


Kami pulang dengan perasaan bahagia dan kelelahan. Aku dan Shane langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sementara Ali dengan bersemangat (tapi mengantuk) bercerita tentang Halloween kami pada Ibu yang sudah berada di rumah :D Keesokan harinya kami melanjutkan Halloween movie marathon yang sudah berlangsung sejak awal Oktober. Ada banyak judul yang kami tonton, selain Toy Story (tentu saja!) kami juga menonton Hocus Pocus. Aku dan Ali "agak" terobsesi dengan film itu, baik versi original maupun sekuelnya. Kami menontonnya berulang-ulang, bahkan di hari yang sama kami bisa menontonnya dua kali xD Selain itu kami juga membuat kue lumpur alias mud cake yang selalu kami buat di setiap Halloween. Nggak seramai biasanya, of course, karena kami menyesuaikan dengan keadaan. Tapi tetap, kuenya membawa senyuman untuk kami karena meski Halloween 2022 ini "berbeda" tapi kami punya bagian yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya :)


Sekuel Hocus Pocus dapat review jelek? Ah, gak ngaruh buat kami. Tetap suka! xD


Mud cake sederhana yang dibuat dengan penuh cinta :p


Sekarang baru pertengahan tahun 2023, tapi aku (dan Shane) sudah kembali rindu dengan Halloween. Sesekali kami menonton film horor yang fun juga membicarakan rencana kostum apa yang akan dipakai di Halloween pertama di rumah baru kami. Kalau sedang di dalam rumah dan mencium aroma lilin aroma pumpkin yang dibakar, kadang aku lupa kalau sekarang masih musim kemarau, hehehe. Aku sering bilang kalau Halloween itu waktunya untuk kreatif dan family time, ---dan itu betul karena kami bisa berdiskusi tentang ide-ide kami dan mewujudkannya bersama :) Juga, embrace every moment, ---sampai kapan Ali akan mau ber Halloween dengan kami? Gak ada yang tahu. Karena suatu hari ia akan dewasa dan mungkin lebih memilih untuk hangout dengan teman-temannya. Jadi selama kami bisa, kami nggak akan menyia-nyiakan waktu bersama :) 


Kalau kalian, adakah yang merayakan Halloween? Kalau ada, share ya ceritanya di kolom komentar! :) (atau drop link vlog dan blognya juga boleh, ahahaha).


Vlog Halloween 2022/reaksi masuk Rumah Hantu :p


Skit kami, Toy Story di dunia nyata :D



boo!


INDI


----------------------------------------------

Kontak Indi:

namaku_indikecil@yahoo.com (email)

@indisugarmika (Instagram)

Jumat, 12 November 2021

Halloween 2021: Kostum Squid Game Pakai Celana Anak SD sampai Kue Kuburan!



*
*
*

Akhirnyaaaa setelah setahun nunggu salah satu hari favoritku datang juga! Halloween! ---Iya, aku sudah nunggu sejak Halloween tahun kemarin selesai, dong! Hahaha. Kalau yang sudah cukup lama suka nengokin blog ini pasti tahu lah ya betapa aku selalu antusias dengan Halloween :D Dulu aku selalu merayakannya dengan keluarga (baca: Ibu dan Bapak) di rumah, tapi setelah menikah aku merayakan dengan Shane, suamiku yang ternyata 11-12 sama aku :') 

Ini sebenarnya penjelasan yang diulang-ulang, tapi aku rasa nggak mungkin dong semua yang di sini bakal scroll ke postingan bertahun-tahun lalu cuma buat cari tahu kenapa aku suka Halloween. (---Ada yang sekedar iseng mampir ke sini saja aku sudah senang, huehehe...). Pertama, aku suka suasananya. Halloween jatuh di bulan Oktober yang mana musim hujan. Huaaah, aku paling lemah sama hujan. Nonton film horor jadi lebih seru, makan jadi terasa 100 kali lipat lebih enak (rakus!), belum lagi malam hari jadi terasa lebih panjang karena setiap detiknya aku nikmati banget. Yang kedua kostum! Cuma di waktu Halloween aku bisa jadi apa dan siapa saja tanpa harus merasa canggung. Apalagi kebanyakan kostumku dibuat oleh Ibu, ---sambil diskusi atau mendesain kostumnya kami jadi punya moment mother-daughter yang berharga banget! :') Dan yang ketiga, Halloween adalah waktu yang tepat untuk kreatif. Iya, kreatif memang bisa kapan saja, tapi karena aku suka dengan suasananya jadi momentnya pas. Dari mulai dekorasi sampai makanan aku pasti semangat banget buat berkreasi. Apalagi sejak 3 tahun yang lalu kami memulai "tradisi" mengukir labu :)


Dibanding tahun kemarin, Halloween tahun ini terasa lebih "niat". Dekorasi dan kostumnya saja sudah aku dan Shane pikirkan sejak bulan September, hahaha. Rencana kami adalah untuk menyicil, supaya nggak tiba-tiba mengeluarkan biaya besar. Apalagi kami memang selalu pakai key word: KREATIF. Jangan sampai membuang-buang uang, makanan dan waktu. Pokoknya jangan sampai kesenangan satu hari bikin kami jadi mubazir. Untuk dekor nggak semua baru (as always). Aku bawa beberapa dari rumah orangtua, bekas DIY aku zaman masih muda belia :p Sisanya kami beli online. Kebetulan ada bantuan juga dari Ibu Mertua tercinta yang sama-sama Halloween enthusiast ;) Lucunya karena perencanaanya jauh-jauh hari, untuk kostum aku berubah pikiran melulu. Hampir tiap hari tuh aku ganti-ganti kostum yang aku mau. Bisa pagi-pagi bilang sama Shane mau jadi A, eh... sorenya berubah mau jadi B. Sampai pusing kayanya suamiku, hehehe. Untung dia sabar :p


Hantu-hantuan ini sudah ada sejak Halloween 3 tahun yang lalu. Sempat terlupakan, hahaha.


Kartu ucapan Halloween dari keluarga mertua dan lilin yang ada typonya :p


Aku sempat mau jadi Matilda, sampai kostumnya sudah nonkrong di list belanja, tinggal check out. Eh batal gara-gara nggak bisa mutusin mau jadi Matilda versi buku atau film, ---mau jadi Matilda di scene ono atau scene ini. Terus berubah lagi jadi mendiang Suzzanna. Sudah cari wig di toko online, nonton make up tutorial sampai cari seragam Hansip buat Shane supaya dia bisa jadi Bang Bokir, tapi ujung-ujungnya batal karena pusing sendiri. Aku nggak bisa make up! Lipstik aja nggak punya, lah nanti mau makeup pakai apa? T_T Kalau beli dulu nggak sesuai dengan pedoman Halloween ala Indi dan Shane, dong, which is... ngirit :p 

Akhirnya aku usulkan sama Shane untuk pakai kostum Squid Game! Kenapa? Karena aku baru selesai nonton serialnya dan cuma itu yang kepikiran. Shane setuju, padahal dia (saat itu) belum pernah nonton. Katanya terserah aku saja, asal aku happy dia ngikut. (Aseeek).

By the way, ini kejadiannya di akhir bulan September ya. Jadi Squid Game belum sehype di bulan Oktober (dan sekarang). Masih lumayan sepi, bahkan kalau aku cari kostumnya online pun belum ada seller lokal yang jual. 


Nah, justru karena belum ada yang jualan kostumnya, aku jadi makin semangat buat cari ide. Aku paksa Shane buat nonton Squid Game at least episode pertama saja supaya dia nggak blank-blank amat. Ya, minimal tahu kostumnya kaya gimana lah. Masa pas Halloween dia nggak tahu jadi siapa. (---Eh, siapa juga yang bakal nanya sih, hahahaha). Setelah Shane lumayan akrab sama serialnya (yang ternyata dia HABISIN dalam dua malam saja), kami baru diskusi gimana cara dapat kostumnya. Ingat key wordnya, guys: KREATIF (---dan irit, hueheee). Kami nggak akan beli dari luar negeri. Kalau masih bisa bikin sendiri ya lakukan. Tiba-tiba aku punya ide buat mencari pengrajin jaket di daerah kami yang bisa custom made. Sengaja aku cari yang biasa bikin tracksuit. kenapa? Supaya gampang dicustom! Seragam peserta Squid Game itu kan dasarnya "cuma" tracksuit ditambahin nomor, modelnya sudah pasti gitu-gitu saja. Aku tinggal mencari warna yang mendekati terus minta ditempel nomor pilihan deh di bagian dada dan punggungnya. Sesimple itu :D Mau tahu berapa harga "jaket seragam ala-ala" Squid Game kami? 60 ribu saja! ---Iya, se-affordable itu coba :') Sampai sekarang aku dan Shane masih suka senyum-senyum sendiri, bangga aja gitu karena pas cek di toko online harga pasaran jaket seragamnya ratusan ribu, hahaha x'D


Meski dibuat sebelum serialnya ngehype tapi jaketku cukup mirip, kan?


Di bagian belakangnya juga ada nomornya. Aku wanti-wanti penjualnya supaya posisi nempelnya pas xD


Aku cuma keluar modal 60 ribu lho iniiii. Ya ampun, bangga banget sama diri sendiri, hahaha.


Poster asli serial Squid Game. Gimana, lumayan mirip lah ya :D


Jaket sudah dapat, tinggal cari celananya. Ini sih lebih gampang lagi. Tinggal pakai celana training hijau, sudah deh kami mirip Gi Hun dan Kang Sae-Byeok (astaga becanda, guys T_T ). Aku cari yang paling murah, ukuran anak kelas 6 SD. Anak-anak sekarang kan bongsor-bongsor tuh, jadi muat-muat aja dipakai aku dan Shane. Yaa... kependekan dikit sih, tapi gak apa-apa, tinggal pelorotin dikit aja pakainya :p Harganya bahkan lebih murah dari jaket, cuma 20 ribu doang. Jadi dengan uang 80 ribu aku bisa dapat satu stel seragam Squid Game. Asik nggak tuh :p 


Celana olahraga anak SD yang disulap jadi seragam Squid Game. Gak 100% mirip dengan di serial tapi ini bagian dari kreatifitasku :D


Celana kependekan bisa diakalin dengan dipelorotin, hahaha. Untungnya Shane bilang celananya nyaman. Malah sempat dipakai main keluar juga, lho :)


Kostum sudah siap kami tinggal pasang-pasang dekor dan isi toples sama permen, ---karena sudah pasti lah bakal dipalakin sama bocah-bocah. Rencananya duo babies, Ali dan Cody boy bakal merayakan Halloween bersama kami. Kostum sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Awalnya sih aku masih lemah lembut nanya mereka mau jadi apa buat Halloween, tapi ternyata mereka 11-12 sama tantenya; jawabannya ganti-ganti melulu! x'D Akhirnya aku dan Shane belikan saja mereka kostum tengkorak. Dipakai nggak dipakai terserah, ---tapi nggak boleh minta gantinya dan nggak boleh makan permen :p Ternyata mereka suka banget sama kostumnya, dong. Belum Halloween saja sudah dilihat-lihat terus sampai akhirnya aku sembunyikan di lemari. Takutnya mereka keburu bosan :D


Ada yang happy dengan kostumnya. Hore!


Sebelum Halloween aku cuma isi jarnya setengah doang. Soalnya takut diambilin melulu permennya :')



This is Halloween!


Pas hari H ternyata Cody nggak bisa datang karena sedang menginap di rumah nenek dari pihak bundanya. Tapi it's okay, buat aku dan Shane Halloween kan berlangsung sampai bulan November, jadi dia selalu bisa menyusul, hehe.  Mungkin karena sedang hujan deras dan malamnya begadang buat nonton film seram, Shane agak ngantuk ketika Ali datang. Kostumnya nggak langsung dipakai dan dia cuma kedip-kedip waktu aku dan Ali sibuk pakai kostum. Untungnya nggak lama, disogok permen dia langsung semangat dan bertransformasi jadi Gi Hun versi Barat. (Lah?! Hahahaha). Oh iya, hampir lupa cerita. Jadi beberapa hari sebelum Halloween aku dan Shane putuskan untuk menambahkan kaos di kostum kami. Memang sih nggak terlalu penting karena mostly kami kan pakai jaket. Tapi pertimbangannya saat musim hujan udara Bandung itu lembap, pasti sesekali kami ingin melepas jaket. Dan dengan memakai kaos orang yang lihat nggak akan menyangka lagi mau olahraga di Gasibu :p (Again, siapa juga yang bakal lihat ya, lol). Nggak pakai ribet, kami cuma pesan kaos raglan dengan lengan berwarna hijau. Nggak perlu sama-sama amat warnanya dengan celana dan jaket kami, yang penting ada nomornya. ---Aku rasa kaos ini complete our look ;)


Agak sedih sih mereka gak bisa pakai kostumnya barengan. Jadi aku bikin foto ini saja supaya bisa sedikit mengobati :')


Sebelum Halloween Shane potong rambut sendiri. Keren gak sih, segitu menjiwainya dia jadi Gi Hun xD


Kami nggak punya rencana "harus" ngapain saja pas Halloween, sih. Yang penting menikmati hari :) Di luar juga sedang hujan, menambah suasana mager. Jadi kebanyakan waktu kami lewati dengan menonton film sambil makan permen. Aku bebaskan Ali untuk memilih film Halloween untuk diputar di ruang TV. Dia pilih Toy Story dan Luca, ---padahal aku sudah pilih Goosebumps :p Di tengah-tengan film, perut terasa lapar (kami skip sarapan, terlambat bangun). Aku lalu masak spageti untuk makan siang. Bukan spageti biasa tentunya, ---tapi spooky spaghetti! :D Spagetinya dihias dengan "laba-laba" yang aku buat dari jamur. Idenya aku dapat dari Halloween 7 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih pescatarian, dan Bapak membuatkan aku "laba-laba" dari bakso ikan. Berhubung aku sekarang vegan, jadi diganti dengan jamur. Hasilnya masih tetap bagus kok, buktinya Ali amaze sekali dengan "laba-laba" nya. Dia pikir ide membuat laba-laba dari jamur itu jenius, padahal cuma modal tusuk-tusuk spageti mentah ke jamur sebelum direbus, ya :'D Shane juga suka dengan spagetinya, dia makan sampai habis meski kemarin malamnya juga dia makan spageti :p


Apapun bisa dibuat vegan. ---Termasuk "laba-laba", hahaha.


Oya, dari sekian banyak dekorasi Halloween tahun ini, ada satu yang sangat istimewa untukku. Yaitu mainan nenak sihir yang bisa tertawa dengan sensor suara! Mungkin bagi orang lain biasa saja ya (bahkan Ibu Mertua juga punya mainan yang sama dan sudah sangat lama), tapi buatku  mainan itu adalah impian masa kecil! Entah sudah berapa kali aku cerita sama Shane kalau aku sangat ingin mainan itu. Dulu, waktu aku kecil dan sempat tinggal di Jakarta sebentar, aku sering diajak ortu ke Mall Kelapa Gading karena dekat dengan tempat kami tinggal. Di hari menjelang Halloween, mall didekor dengan berbagai macam pernik. Salah satunya ada si nenek sihir yang digantung di atas eskalator. Aku lupa gimana ceritanya, tapi aku dan Bapak jadi tahu kalau mainan itu bakal ketawa jika aku teriak (---iya dong, aku teriak-teriak di mall, pasti annoying banget dah, hahaha). Akhirnya aku bolak-balik naik eskalator cuma buat bikin si nenek sihir ketawa :') Nggak tahu kenapa buatku mainan itu amusing banget, kaya ada daya tarik tersendiri, hehe. Aku sampai minta Bapak beli mainannya tapi ternyata nggak dijual, cuma dekor saja. 

Makanya pas akhirnya bisa nemu mainan itu di internet aku senang sekaligus haru gitu T_T Aku dan Shane sudah mencari di internet dengan berbagai kata kunci tapi nggak ketemu-ketemu. Eh, tahunya malah ketemu pas masukin kata kunci nggak spesifik: "Halloween Decor". Yaelah, nenek :')


Setelah puluhan tahun akhirnya kamu jadi milikku, Nek :')


Anyway, balik lagi ke cerita aktivitas Halloween. Selesai kami makan Ali nggak sabar mau mengukir labu. Dari semua persiapan Halloween yang sudah ada dari jauh-jauh hari, cuma labu yang kami beli mendadak. Aneh ya, padahal Halloween identik dengan labu jadi harusnya paling pertama dibeli, hahaha. Well, sebenarnya aku dan Shane punya alasan sendiri. Labu setelah diukir akan cepat busuk jadi sayang kalau beli jauh-jauh hari karena nggak bisa dipajang lama-lama setelah Halloween. Jadi yang dipajang sebelum Halloween tiba labu bohongan. Resiko beli labu mendadak ya... kami dapat sisa! Labu yang kami dapat kecil-kecil, karena tentu yang besar-besar sudah dibeli orang xD Tapi no biggie sih buat kami, labu kecil juga fun karena tetap bisa diukir dan dimakan bijinya :D

Untuk pertama kalinya Ali menggambar pola di labu secara utuh, lho. Tahun kemarin dia hanya gambar mulutnya, itu pun masih ragu-ragu. Mungkin Ali sudah lebih besar sekarang (---aww...), atau mungkin juga karena tahun ini dia menggambar menggunakan spidol, jadi lebih mudah. Setelah itu tentu saja aku yang mengukir labunya. Sampai beberapa tahun kedepan Ali hanya boleh menggambar dan membersihkan isi labu, karena bahkan buat orang dewasa seperti seperti aku dan Shane pun mengukir labu bisa sedikit berbahaya jika kurang hati-hati. Kulit labu yang tebal kadang membuat kami salah perkiraan, tahu-tahu pisau sudah menancap dalam padahal tangan kami masih ada di dalam labu :/ Tapi beberapa hari yang lalu aku melihat ada YouTuber yang menghias labu dengan stiker. Mungkin kapan-kapan bisa dicoba supaya ada variasi, ya! :D



Shane perlu waktu lama untuk memutuskan pola seperti apa yang akan ia gambar di labu. Sudah dapat beberapa referensi dari google tapi ujung-ujungnya malah pakai pola yang super sederhana, hahaha. Katanya khawatir gagal karena labunya kecil :p Aku sih nggak begitu peduli dengan bagaimana penampilan labu-labu kami. Yang terpenting moment kebersamaannya, istimewa :) Lagipula mau bentuknya nggak karuan sekalipun kalau sudah dimasukkan lilin pasti keren kok. ---Eh, tapi maksudnya bukan berarti aku menganggap labu-labu kami jelek yaaa. Bagus-bagus, kok. Tuh, lihat saja fotonya :p

Labu-labu kami pajang di ruang TV saja, nggak di balkon seperti tahun kemarin karena hujan sangat deras. Kalau dipikir kami malah nggak menginjak balkon sama sekali deh, hahaha. 





Aku sempat menawari Ali untuk menonton film lain, tapi dia nggak mau. Toy Story pun sudah habis dia tonton sampai yang kedua, lalu dilanjutkan Luca yang... entah sudah keberapa kali ia tonton dari sejak film itu keluar :'D Ya, aku dan Shane ngikut saja, toh Ali sangat enjoy. Kasian juga kalau diganggu. Apalagi kalau Halloween gini aku kepengen anak-anak senang. Rasanya nggak fair saja gitu dulu-dulu at least ada aktivitas di sekolah (biasanya pesta kostum atau trick or treatin'), tapi sekarang anak-anak ngapain kalau Halloween? Paling di rumah saja. Makanya aku (dan Shane) berusaha keras supaya Halloween tetap berkesan dan bisa dikenang, meskipun nggak kemana-mana :)

Baking kue "kuburan" biasanya jadi acara utama kalau Halloween, tapi berhubung Ali asyik dengan filmnya jadi aku langsung mulai saja sendirian. Eh, dibantu Shane sih, karena aku mana bisa megang oven, hehe. Ternyata aroma batter kue bikin perhatian Ali teralih, dia langsung ikut membantu dan waktu kuenya masuk oven dia terus-terusan ngingetin aku supaya dicek. Padahal kan pakai timer :D Malah waktu kuenya dikeluarkan dan ternyata masih kurang matang Ali minta aku supaya jangan dimasukan lagi. Sudah segitu saja katanya karena sudah nggak sabar mau makan. Untung kami vegan ya, jadi kuenya tanpa telur. Aman dimakan meski setengah matang (baca: setengah jadi), hahaha. 


Ali menghias kue "kuburan" nya dengan gummy worms. Ini wajib, meskipun aku sudah bilang kalau permennya mengandung gelatin. Katanya nggak apa-apa, nggak usah dimakan untuk hiasan saja. Hahaha, ya sudah lah asal beneran cuma setahun sekali :'D 

Kue "kuburan" ini ada sejarahnya, lho. Dulu aku menyebutnya "mud cake" alias kue lumpur. Tapi berhubung Ali punya ide untuk menambahkan batu nisan, jadilah kue "kuburan". Dia tahu batu nisan dari makam Veggie, anjing kami dulu. Akhirnya sejak Halloween dua tahun lalu hadirlah tradisi ini, membuat kue "kuburan" :D

Meski bentuknya lumayan realistik (---mirip tanah), tapi rasanya sangat enak. Apalagi karena bagian tengahnya belum set jadi lumer-lumer gitu, hahaha. Saking enaknya Ali cuma makan sedikit dan minta sisanya dibawa pulang. Katanya supaya Abah dan Uti nyicipin juga. Aww, how sweet :') 


Seram gak sih itu tengahnya longsor? T_T Gara-gara Ali gak sabar nih belum set sudah diangkat aja.



Beli bahan-bahan di Indomaret di komplek apartemen.



Halloween ---AGAIN!


Setelah Halloween selesai sengaja dekor-dekornya nggak dibereskan dulu. Kenapa? Jaga-jaga kalau si Cody Boy bisa mampir ke rumahku dan Shane, jadi kami bisa merayakan Halloween LAGI! :D Rasanya sedih saja tahun kemarin pun ia nggak bisa datang dan katanya sempat menangis karena merasa nggak diajak T_T Padahal kami nggak pernah pilih-pilih, lho, sayang dengan semua keponakan. Bedanya dengan Ali, dia memang sekolah didampingi aku, jadi tentu saja lebih sering ketemu. Dan akhirnya kabar baik pun datang. Ali mengabariku kalau adiknya ikut datang untuk menemaninya bersekolah di rumah kami. Hore! Aku dan Shane langsung sedikit rapi-rapi rumah untuk menyambutnya. Dan sungguh kebetulan yang manis, ketika mereka tiba aku juga baru menerima paket pernik dan treats Halloween dari Cloudy Store (cloudystore.kr)! Waaaah, bikin nggak kalah meriah sama Halloween kemarin, nih! :')




Samyang dan Pringlesnya vegan jadi buatku dan Shane. Sisanya buat the babies. Cute banget gak sih warna treatsnya Halloween sekali :D


Halloween kami tahun ini semakin meriah dengan pernak-pernik dari Cloudy Store. Keren banget gak sih bisa titip belanja dari Korea :')


Melihat Cody senang, aku dan Shane pun ikut senang. Akhirnya dia bisa merayakan Halloween sama kami. Dulu sebenarnya Cody juga pernah ber Halloween bersama keluargaku di rumah orangtua (---waktu aku belum menikah). Tapi dia masih keciiiiiil banget, masih digendong dan sepertinya dia nggak ingat. Selanjutnya karena ia lebih sering menginap di rumah nenek dari bundanya, plus nggak sekolah sama aku, semakin susah lah untuk ketemu pas Halloween :'D Tapi no worry, aku pastikan dia juga mendapat kenangan yang sama indahnya dengan Ali. Aku dan Shane bekali ia dengan banyak permen, kostum Halloween, bahkan membebaskannya untuk menonton film yang ia mau. ---Ia pilih Spongebob, btw, hahaha. Mudah-mudahan saja tahun depan Cody dan Ali bisa mengukir labu bersama ya :)


Kostum boleh dilepas, tapi outfit tetap dong vibesnya Halloween sampai akhir bulan :D



Detail kaus kaki dari Cloudy Store super gemas!


Sampai aku menulis ini dekorasi Halloween belum diturunkan. Rasanya sayang saja karena kami masih ingin mengingat-ingat moment manis bersama keluarga. ---Well, mungkin minggu depan ada sebagian yang diturunkan karena Ali akan berulang tahun yang keenam dan ia ingin dekorasi Minecraft, hehe :)

Setiap Halloween selalu meninggalkan kesan yang berbeda, dan tahun ini rasanya sangaaaat penuh cinta. Kami nggak hyper sampai ketawa-ketawa gimana, malah bisa dibilang kebanyakan cuma nonton film, kan. Tapi rasanya hangat saja. Melihat Shane yang super niat begadang buat dekor, dengerin semua yang aku mau, Ali yang nggak rewel dan bawaannya senyum terus, dan ditambah Cody yang happynya bikin nular... kurang sempurna gimana coba :') Belum lagi Ibu Mertua dan Kakak Ipar yang meskipun nggak bisa hadir di sini perhatiannya tetap bisa bikin aku meleleh. Tahu kami pakai kostum Squid Game mereka terus-terusan meminta kami mengirimi foto, ---sampai bingung aku harus pose gimana lagi xD Padahal reaksi Ibu Mertua waktu nonton serialnya nggak begitu baik lho karena beliau nggak suka kekerasan. Tapi tetap saja excited dengan kostum kami :'D


Yaaa, begitulah cerita Halloween dari keluargaku. Sederhana, ---tapi aku nggak mau tukar dengan apapun! :) Bagaimana Halloween kalian kemarin? Semoga menyenangkan, ya. ---Halloween mungkin bukan untuk semua orang, tapi perasaan bahagia dengan keluarga itu universal, kan? ;)





boo!


INDI


Keywords: Pengalaman merayakan Halloween di Indonesia, Squid Game, kostum Squid Game, DIY Halloween costumes.

---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik