Tampilkan postingan dengan label Kampanye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampanye. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Desember 2014

Ketika Hal Kecil Menjadi Besar: Nonton Bareng Mika bareng Indi dan D-1OO Community :)

Outfit hari ini tanpa sepatu. Soalnya gak boleh pakai alas kaki di rumput sintetis, hihi.

Ide ini berawal dari obrolan random di grup BBM bersama teman-teman D-100 Community. Kami ingin berkumpul secara langsung alias berkopi darat sekaligus memperingati Hari AIDS Sedunia. Setelah keluar beberapa ide, akhirnya dipilihlah untuk nonton bareng alias nobar. Tema film yang dipilih tentu saja isu HIV/AIDS, tapi untuk judul film kami punya beberapa pilihan. Ada yang menyarankan Normal Heart, dan gue menyarankan The Cure. Kami terus berunding lewat chatting tentang film mana yang dipilih. Lalu, hey! Kami teringat sesuatu; Film gue sendiri kan bertema HIV/AIDS. Jadi kenapa nggak nonton bareng film Mika saja?! :)

Perkenalan gue dengan D-100 Community ini bisa dibilang tanpa sengaja. Gue mengenal mereka waktu diundang ke acara Piknik bareng ODHA Berhak Sehat di Cibeunying Park beberapa waktu lalu. Salah satu dari mereka lalu mengundang gue untuk bergabung di grup BBM komunitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dari RS. Borromeus ini. Semenjak itulah gue selalu keep in touch dengan mereka dan segera berteman dekat dengan beberapa dari mereka di luar grup (hihihi, teman bergosip tepatnya). Event nonton bareng yang kami rencanakan bersama-sama ini merupakan event pertama D-100 Community, makanya tujuannya pun nggak muluk-muluk. Kami hanya ingin saling mempererat hubungan antar anggota agar menjadi komunitas yang lebih solid.

Berhubung di Bandung banyak sekali taman bertema tematik (yes, kami warga Bandung beruntung sekali), jadi kami memilih Taman Film sebagai tempat kami berkumpul nanti. Setelah bertanya-tanya tentang prosedurnya, akhirnya gue dengan ditemani Hendra (dari D-100 Community) menyerahkan surat permohonan ke Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Hanya dalam waktu 2 hari semua urusannya beres dan kami tinggal datang ke Taman Film di hari H. Gue sangat bersyukur karena kemudahan yang kami dapatkan. Ini berkat bantuan dari Feby, suami Ayu yang mengundang gue ke event ODHA Berhak Sehat beberapa waktu lalu. Punya banyak teman ternyata memang membawa banyak berkah, ya :)

Tanggal 7 Desember 2014 kami pun berkumpul di Taman Film. Ini adalah pengalaman pertama gue menonton film di ruang terbuka, tepatnya di bawah jalan layang alias flyover. Sebelum filmnya diputar saja gue sudah amaze dengan layarnya yang super besar. Diameternya 4x8 meter! Seperti bioskop tapi outdoor, keren :) Hati gue sangat senang karena sebagian besar teman-teman D-100 Community bisa hadir. Bahkan hampir semuanya membawa makanan untuk dimakan bersama. Ada pizza, pisang goreng, soda, keripik... Wah, benar-benar seperti pesta dadakan, hihihi. Meskipun gue baru bertemu dengan sebagian dari mereka untuk kali pertama, tapi kami langsung akrab :D

Piknik! Makanannya banyaaaak xD

Surprise, Angie teman gue ketika di Preschool datang untuk ikutan nobar! :)

Pada pukul 4 sore film dimulai. Spontan kami bertepuk tangan, hihihi. Tapi lalu dalam beberapa detik gue menyadari ada masalah di audionya. Suaranya sama sekali nggak terdengar! Awalnya gue biarkan saja, tapi setelah film berjalan beberapa menit akhirnya gue dan beberapa teman D-100 Community berinisiatif untuk mencari operatornya. Dengan berbekal sandal jepit pinjaman gue menuju ke lapangan parkir, sementara yang lain mencari di ujung lain taman. Anehnya nggak ada seorangpun yang melihat kemana operatornya pergi. Setelah hampir putus asa (lol) salah satu dari kami menemukan bahwa ternyata sedari tadi operatornya berada di balik layar! Hahaha... Kok bisa ya dia nggak melihat kami mondar-mandir kebingungan? Tapi yang penting akhirnya audio diperbaiki dan film pun diulang dari awal karena (tanpa terasa) rupanya kami sudah mencari operatornya selama 30 menit.

Film sempat nggak ada suaranya :(

Bertepatan dengan dimulainya film (lagi), Ray datang dan langsung bergabung dengan kami. Suasana akrab pun semakin terasa, candaaan teman-teman tentang film Mika segera terdengar. Terutama saat tokoh Mika dan Indi muncul di dalam 1 scene. Tentu saja karena di kehidupan nyata Indi yang diperankan oleh Velove Vexia adalah gue, dan Mika yang diperankan oleh Vino Bastian adalah pacar gue semasa SMA. Jadi melihat apa yang diputar di film seperti nostalgia gue yang bisa ditonton beramai-ramai dan layak untuk mendapatkan “ciee.. cieee”, hihihi. Untuk yang belum pernah menonton mungkin bingung, kenapa film yang berkisah tentang cinta monyet ini bisa diputar di Hari AIDS Sedunia. Well, kebetulan Mika adalah ODHA. Selain menceritakan tentang kisah cinta kami berdua, film ini juga meyorot kehidupan Mika, segala tantangan yang ia hadapi dan juga bagaimana imbasnya pada gue.


Film diulang kembali. Dan adegan ini sangat 'ciee... ciee-able', hahaha :)

Waktu proses pembuatan film Mika yang diinspirasi oleh novel “Waktu Aku sama Mika” ini, gue memang sempat dilema. Memberanikan diri untuk menceritakan kisah gue dan Mika pada banyak orang bukanlah hal yang mudah. Isu HIV/AIDS masih terlalu sensitif, apalagi Mika memang (pernah) ada dan keluarganya juga masih ada. Tapi waktu itu produser dan tim yang membuat film Mika meyakinkan gue bahwa tujuan dari film ini baik. Dengan menjadikan kisah kami film layar lebar maka akan semakin banyak orang yang tahu seperti apa HIV/AIDS yang sesungguhnya. Dan karena gue mengidap scoliosis (kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping), penonton juga akan semakin aware dengan kesehatan tulang belakang. Dengan kata lain, film ini diharapkan menjadi campaign dalam bentuk yang bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat luas.

Di tengah-tengah film Ray berbisik pada gue. Katanya di belakang banyak sekali yang ikut menonton film Mika. Waktu gue menoleh, ternyata benar saja di belakang sudah banyak sekali yang duduk-duduk bergerombol. Usia mereka pun beragam; ada ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, bahkan anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Film belum sampai ke adegan yang mengharukan, tapi air mata gue sudah mau keluar, hihihi. Luar biasa sekali, jumlah kami yang hanya berdua belas (termasuk Ray) tiba-tiba bertambah menjadi berkali-kali lipat. Mengharukan :’)

Tempatnya luaaaas. Dan ini pemandangan yang gue lihat waktu nengok ke belakang :)

Di samping taman juga banyak yang berkumpul :)

Dan lama-lama jadi segerombol! Wah, terharu :')

Tepuk tangan terdengar ketika film selesai diputar. Gue senang sekali acara nonton bareng ini berjalan dengan lancar. Siapa yang menyangka, rencana kecil yang kami buat ini tiba-tiba menjadi besar. Tujuan awalnya kami hanya ingin mempererat hubungan antara anggota D-100 Community. Gue dan Hendra bahkan sempat khawatir jika hanya ada sedikit anggota yang datang. Tapi ternyata sebagian besar dari kami hadir, dan lihat ada berapa banyak orang yang ikut bergabung dengan kami sekarang? :) Bukan hanya kami yang menikmati film Mika, tapi juga puluhan bahkan ratusan masyarakat Bandung lainnya.

Gue benar-benar nggak bisa berhenti bersyukur... Gue dihampiri oleh seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Beliau berkata bahwa salah satu putrinya (namanya Anissya) juga scoliosis sama seperti gue. Dan melihat gue memakai brace di film (penyangga tulang belakang) membuat Anissya juga semakin semangat untuk membaik. Ketika tiba di rumah gue juga masih mendapatkan kejutan. Ada beberapa pesan yang masuk ke halaman Facebook gue dari orang-orang yang tanpa sengaja ikut menonton film Mika di Taman Film (iya, tanpa sengaja). Mereka berkata bahwa filmnya membuat pandangan mereka tentang ODHA menjadi berubah. Bahkan salah satu dari mereka berkata bahwa ia menyesal sebelumnya selalu berprasangka buruk, padahal seseorang nggak bisa dinilai dari luarnya saja atau apa yang ia idap.

With D-100 Community family. Senang! :)

Ginan dari Rumah Cemara juga mampir, soalnya acara nobar ini bersamaan dengan event futsal RC di taman sebelah :)

Kalau seumuran kita sudah jadi BFF kayanya, lol.

Rasanya boleh jika gue bilang event pertama D-100 Community ini berjalan sukses. Tujuan utama untuk berkumpul sudah jelas tercapai. Dan sebagai bonusnya kami (tanpa sengaja) mengajak masyarakat untuk lebih mengenal apa itu HIVAIDS dan scoliosis. Sungguh hadiah yang manis untuk Word AIDS Day dan juga International Day of People with Disability yang jatuh pada tanggal 3 Desember :) Akhir kata gue hanya berharap agar suatu hari nanti nggak ada lagi diskriminasi dan prasangka pada orang-orang yang seperti Mika. Dan jika hal yang terjadi pada Mika juga terjadi pada orang lain, semoga jangan ada kata menyerah seperti teman-teman D-100 Community ini. Gue percaya setiap orang sudah diciptakan Tuhan dengan fungsinya masing-masing. Keep strong! :)


Satu hari setelah nobar gue menerima ini :)

Dari instagram Ayu. Setuju! Tamannya nyaman! :)


Note:
*Terima kasih banyak kepada Vino Bastian (dan fans club), Marsha Timothy, Kak Theo, ODHA Berhak Sehat, Rumah Cemara, Indi Sugar Official Store dan semua pihak yang membantu sounding dan mendukung terlaksananya acara ini.
* Masih ada saja pembaca yang bertemu gue tapi nggak menyapa (tapi mengirimi gue pesan setelahnya), termasuk ketika acara nobar ini. Kira-kira kenapa, ya? Apakah wajah gue galak? Huhuhu :(



sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi


  _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 November 2014

Warna-Warni HIV/AIDS Awareness 2014: Ada Haru, Ada Tawa, Ada Teman-Teman Baru :)


Hai my beloved bloggies friends! Kemarin, 28 November 2014 gue mendapat (another) awesome experience. Gue mengisi acara talk show "HIV/AIDS Awareness 2014" di Kampus Politeknik Bandung Program Studi Usaha Pejalanan Wisata. Untuk gue ini adalah pengalaman yang kedua mengisi acara dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan audience mahasiswa. Tahun lalu gue berbicara di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universtitas Diponegoro Semarang, meski begitu tetap nggak mengurangi perasaan excited gue :)

Kali ini gue nggak sendirian, tapi ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara. Di pertemuan pertama kami ini langsung akrab, lho meskipun sebelumnya hanya berkomunikasi lewat SMS, hihihi. Dan untuk MC nya, guess who? Pasti yang sering mampir ke sini bisa menebak, ya; the one and only Ray ;)
Acara dimulai jam 1 siang dan dibuka dengan sesi sharing bersama Kak Taufik. Nah, waktu sesi ini gue belum datang karena rencananya memang dibagi menjadi 2 sesi sharing, yaitu bersama Kak Taufik lalu bersama gue. Menurut Ray ada banyak sekali yang datang, ia bahkan mengirimi gue foto suasana di ruangan yang membuat gue semakin ingin cepat-cepat tiba, hihihi. Akhirnya, sekitar jam 2.30 sore gue yang diantar Bapak tiba dengan selamat meskipun sempat terjebak macet dan hujan lebat. Sesi bersama Kak Taufik sudah selesai dan audience sedang nonton bareng film Mika. Sambil menunggu gue sempatkan dulu mengobrol sana-sini dengan Ray dan Kak Taufik. Lumayan, masih punya banyak waktu karena durasi filmnya 1 jam lebih :)



Bersama Kak Taufik Rumah Cemara sambil berpose dengan karya-karya gue :) 

Dari luar ruangan, meskipun pintu tertutup tapi gue bisa mendengar reaksi teman-teman audience di dalam. Wah, benar-benar bikin merinding. Waktu ada adegan lucu mereka kompak tertawa, waktu ada adegan yang bikin gemas gue nggak bisa menahan tawa karena komentar-komentar mereka cukup jelas tedengar. Dan waktu mendekati ending film tiba-tiba ruangan sangat sepi, samar-samar gue mendengar suara isak tangis yang diakhiri dengan tepuk tangan seru ketika film selesai. Wah, kalau saja gue nggak harus mengisi acara kemungkinan besar gue sudah ikut menangis saking terharunya :') Film Mika yang diinspirasi oleh kisah hidup gue yang dinovelkan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dipilih untuk diputar di hari AIDS sedunia karena menceritakan kisah hidup Mika, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang berpacaran dengan gue selama 3 tahun terakhir hidupnya. Melalui film ini audience bisa "mengenal" Mika dan melihat seperti apa kehidupan kami yang (sebenarnya) nggak jauh berbeda dengan orang lain.



Ada yang masih menangis haru ketika gue masuk ruangan :')

Ray dan Kak Taufik masuk ke dalam ruangan lebih dulu, lalu disusul oleh gue yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Rasa haru gue jadi semakin bertambah, hihihi :'D Rupanya profile gue sudah dibacakan sebelum gue tiba, jadi audience sudah cukup mengenal gue, seenggaknya mereka tahu bahwa gue adalah "Indi nyata" dari film yang baru saja mereka tonton :) Hanya dalam beberapa detik gue menyadari bahwa beberapa dari mereka masih ada yang bermata sembab karena menonton film Mika. Untung saja suasanya santai, jadi alih-alih sedih berlarut-larut kami dengan cepat tertawa karena Ray juga tanpa ragu melontarkan lelucon.

Ray membawakan acara talk show dengan santai :)

Di sesi sharing ini gue bercerita tentang tentang latar belakang novel "Waktu Aku sama Mika" yang lalu menjadi film Mika. Gue juga bercerita tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari HIV/AIDS. Pokoknya gue bercerita tentang hal-hal yang memang sudah akrab tapi sebenarnya bisa dilakukan untuk melindungi diri, misalnya saja dengan mencari informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Setelah itu giliran audience yang diberikan kesempatan untuk bertanya pada gue. Boleh tanya apa saja, asalkan masih sesuai tema dan jika bertanya tentang Mika nggak ke hal yang terlalu sensitif/pribadi ;) Pertanyaan yang gue dapat beragam sekali dan semuanya sangat antusias. Well, sejauh ini gue memang blessed bertemu dengan teman-teman baru yang selalu antusias, tapi kali ini antusiasnya super sekali, hehehe. Ada yang bertanya tentang kegiatan gue di yayasan AIDS, ada yang bertanya tentang hal-hal mengesankan bersama Mika yang nggak diceritakan di film, ada juga yang bertanya tentang proses penulisan naskah dan lain-lain. Terlihat sekali ya mereka tertarik dengan banyak hal, salut :) Tentang Mika gue jawab bahwa ia istimewa bukan karena ia ODHA. Mika istimewa karena bagaimana cara ia memperlakukan gue dan tentu saja kepribadiannya. Karena menurut gue semua orang itu sama, apapun yang ia idap nggak perlu dijadikan label. Gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak mau hanya dikenal karena apa yang gue idap, dan gue yakin Mika juga begitu :)




Pengetahuan gue tentang HIV/AIDS sudah pasti masih kalah dengan Kak Taufik, tapi setiap ada yang bertanya gue selalu mencoba menjawab sebaik mungkin. Karena menurut gue nggak perlu jadi seorang expert untuk stop diskriminasi dan stigma. Mulailah memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, siapapun itu. Dan untuk menjadi seseorang yang peduli dengan isu HIV/AIDS bukan berarti harus menjadi relawan di sebuah yayasan atau organisasi. Menurut gue dengan membantu menyebarkan info yang benar di kalangan kecil seperti teman atau keluarga sudah merupakan bentuk untuk menunjukan rasa peduli. Hal kecil jika dilakukan terus menerus tentu akan menjadi besar, kan? ;)

Setelah semuanya puas memberikan pertanyaan giliran gue dan Kak Taufik yang bertanya kepada audience. Untuk yang bisa menjawab pertanyaan kami dapat hadiah, lho. Hadiahnya adalah novel charity "Guruku Berbulu dan Berekor" karya gue (yang dibantu oleh beberapa volunteer) dan sebuah stiker dari Tiloe, event organizer yang menyelenggarakan acara ini. Pertanyaannya mudah-mudah, kok. Kak Taufik bertanya tentang hal apa saja yang bisa menularkan HIV/AIDS sedangkan gue bertanya tentang hal apa saja yang nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Semuanya bisa dijawab dengan cepat, sampai-sampai hampir berebutan, hihihi. Eh, tapi ada lho satu pertanyaan yang cukup tricky, yaitu 'Apakah ODHA bisa memiliki anak yang negatif? Jika bisa bagaimana caranya?' Setelah beberapa audience gagal menjawab akhirnya ada juga yang berhasil. Congratulations! :D Btw, kalau-kalau diantara pembaca ada yang penasaran, nih gue kasih bocoran; ODHA bisa kok punya anak yang berstatus negatif :)

Acara ditutup dengan sesi foto dan book signing. Luar biasa sekali sampai akhir acara energi audience sepertinya sama sekali belum berkurang, hihihi. Sampai-sampai ada yang mengajak selfie segala :'D Oya, salut deh dengan mereka, soalnya selain antusias, open minded juga sangat helpful. Mereka sudah menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing, jadi gue nggak harus bertanya lagi nama yang ingin ditulis di buku yang akan ditandatangi. Simpel tapi manis sekali, hihihi :) Gue sangat senang dan bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar (dan ramai, lol). Bisa berbagi ilmu dan mendapatkan teman-teman baru sungguh pengalaman yang berharga buat gue. Terima kasih banyak untuk Polban, Ray, Tiloe, Kak Taufik dari Rumah Cemara dan Homerian Pustaka yang membuat acara ini terwujud. Gue harap akan ada semakin banyak orang peduli bukan hanya karena ada saudara atau teman mereka yang mengidap HIV/AIDS. Peduli datangnya dari hati dan nggak pernah ada kata terlalu cepat untuk memulai :)





Sampai bertemu lagi, teman-teman! :)




keep fighting,

Indi

nb: 
*Senin, 1 Desember 2014 gue akan live interview di I-radio 89.6 FM Jakarta jam 5 sore. Jika kebetulan ada waktu luang, yuk stay tuned! ;)
*Minggu, 7 Desember 2014 film MIKA akan diputar di Taman Film Bandung (Terusan Taman Pasupati) pukul 4 sore. Gue dan D-100 Community akan hadir di sana. Yuk, kita nobar. Gratis! :)


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 21 Desember 2013

Semarang, Bagian Kedua: Bercerita tentang Mika di Charity Event "The Long Journey" :)


Howdy! Apa kabar teman-teman? Semoga semuanya baik-baik saja, ya ;)
Gue sekarang mau lanjutkan cerita yang sebelumnya, nih (klik di sini untuk membaca). Jadi setelah perjalanan 13 jam yang super seru itu akhirnya gue tidur dengan nyenyak di kamar hotel Rinjani. Mungkin karena tidurnya tepat 8 jam, pagi-pagi gue terbangun dengan segar, cerah, ceria dan bugar, hahaha. Pokoknya I'm really blessed that day, karena biasanya gue bukan morning person :p 
Setelah berganti piyama dengan dress hasil desain sendiri dan sarapan bersama Bapak, kami dijemput untuk menghadiri charity event "The Long Journey". *crossed fingers*

"The Long Journey" ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus) adalah project sosial yang diadakan oleh AIESEC Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya HIV/AIDS dan isu kanker, sesuai dengan tagline "Stop the Diseases Start the Action". Meskipun temanya serius, tapi konsepnya sangat ringan dan fun, karena media yang digunakan untuk mengenal HIV/AIDS adalah sebuah film! Yup, gue bangga sekali mereka menggunakan film Mika yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika", yang juga diambil dari perjalanan hidup gue dan almarhum Mika :) Penghasilan dari event ini juga akan digunakan untuk membantu pasien kanker di Semarang. Benar-benar keren, kan? :)

Begitu tiba di E Plaza berfoto dengan Dinda dan Enggar :)
Sebelum masuk ke teater.
(almost) the whole team! :)

Acara dimulai dengan nonton bareng film Mika di bioskop E-Plaza. Meskipun gue sudah menonton film ini belasan kali, tapi tetap masih ada perasaan deg-degan. Pertama, rasanya selalu aneh setiap kali melihat hidup gue diperankan dengan orang lain. Ke dua, meski lihat ribuan kali pun gue nggak pernah siap dengan kepergian Mika. Dan ke tiga... kali ini gue duduk di sebelah Bapak, hahaha :'p
Gue sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka menyukai filmnya atau nggak. Soalnya waktu film mulai diputar teater terasa begitu sunyi, nggak ada seorang pun yang bersuara. Sampai di adegan 'menari' gue baru dengar beberapa orang tertawa diikuti yang lainnya sampai seluruh teater. Oooh... ternyata penontonnya malu-malu, hehehe. Begitu sampai adegan mengharukan teater kembali sepi, lalu terdengar isak tangis dan komentar-komentar penonton. Gue yang bersusah payah menahan tangis dengan menutup mata akhirnya ikut menangis, karena meskipun nggak melihat tapi jadi teringat kembali adegan-adegannya. Atau lebih tepatnya flasback apa yang pernah gue lalui waktu bersama Mika :')

Waktu lampu teater menyala gue langsung mengelap air mata dengan tisu. Tapi ternyata bukan cuma gue saja yang terlihat dengan mata sembab. Gue lega ternyata penonton bisa masuk ke dalam kisah gue dan Mika meskipun hanya lewat filmnya. Mereka bahkan seolah masuk ke dalam kisah cinta kami. Ada beberapa komentar yang terlontar waktu adegan Mika ditolak oleh dokter gigi. "Kok jahat sih dokternya?" "Wah, melanggar hak asasi manusia, tuh," dan lain sebagainya yang bikin gue tersenyum haru :)

Setelah selesai nonton semuanya turun ke lounge untuk makan siang sambil dihibur oleh Paduan Suara UNDIP. Mereka keren, lho. Menghibur dan bikin kangen sama paduan suara gue dulu, hehehe. Sambil makan siang gue berkenalan dengan Om Dodok dari Cancer Information dan Support Center dan Om. Jonathan dari Rumah Damai. Dari mereka gue mendapat banyak cerita yang inspiratif. Istri Om Dodok adalah seorang cancer survivor, sempat ragu untuk berkeluarga tapi akhirnya sekarang dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu dan sehat-sehat. Sekarang mereka aktif memberikan penyuluhan mengenai kanker, agar msyarakat menjadi semakin care dengan kesehatan pribadi. Juga ada cerita dari Om Jonathan yang sempat drop tapi akhirnya bangkit karena meski statusnya sebagai ODHA, ternyata ia tetap bisa memberikan semangat pada orang lain. Salut! Oh, iya ngomong-ngomong Om Jonathan ini lucu, lho. Tiba-tiba ia duduk di sebelah gue dan tanpa basa-basi langsung minta Om Dodok mengambil foto kami, hahaha. Gue sampai kaget. Katanya ia punya DVD fim Mika, dan tadi waktu di teater adalah kali ke sekian ia menontonnya. Bapak juga ikut mengobrol bersama kami. Karena Om Dodok juga punya 2 orang putri, jadi ia banyak bertanya pada Bapak soal tips parenting. Ada pertanyaan yang menarik dari Om Dodok tentang bagaimana pendapat Bapak mengenai hubungan gue dengan Mika dulu. Surprise, Bapak menjawab begini, "Anak jangan terlalu banyak dilarang, biar saja kalau ia mau mengenal siapapun."
Ah, that's my Daddy! :*

Paduan Suara UNDIP.

Karena keasyikan ngobrol hampir saja gue nggak sadar kalau sudah dipanggil untuk naik ke atas panggung, hehehe. Ini adalah sesi sharing, gue bercerita mengenai masa pacaran dengan Mika sewaktu masa SMA. Tentang bagaimana kami berburu kaset rock and roll bekas, tentang cerita-cerita Mika yang konyol, tentang pengalaman pertama gue diajak naik angkot untuk pertama kali (hehe) dan masih banyak lainnya. Well, ya masa-masa pacaran gue memang nggak jauh berbeda dengan remaja lainnya meskipun Mika adalah ODHA. Waktu itu gue juga sama sekali belum tahu apa itu HIV/AIDS. Gue hanya tahu kalau itu adalah penyakit, sama seperti pilek, sakit kepala atau batuk.



Setelah Mika meninggal gue menjadi relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Di sana gue banyak belajar tentang HIV/AIDS. Dan apakah anggapan gue tentang penyakit itu jadi berubah? Nope! Nggak. Ternyata selama ini gue memang benar. HIV sama saja seperti pilek. Kita bisa kena pilek karena kebanyakan makan es krim, tapi bisa juga karena tertular dari orang lain. Jadi nggak ada alasan untuk menjauhi orang-orang seperti Mika. Dulu gue sempat dijauhi teman-teman karena berpacaran dengan Mika. Bahkan ada gosip yang bilang bahwa gue juga ketularan oleh Mika. Padahal HIV nggak semudah itu menular.

Semakin lama gue jadi semakin mengerti. Stigma itu munculnya dari prasangka, dan itu hampir selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari, bahkan dimulai dari hal kecil. Contohnya seperti yang gue tadi sebutkan, waktu ada orang kena pilek kadang langsung di judge habis kebanyakan makan es krim. Padahal yang diinginkan orang sakit ya hanya sesimpel ucapan "get well soon", bukan malah dicerca dengan macam-macam pertanyaan dan prasangka. Gue sendiri pernah mengalaminya. Waktu kuliah ada seorang dosen yang berkata bahwa gue pasti scoliosis karena kebanyakan bawa beban terlalu berat. Dan baru-baru ini gue sering sekali dinasehati buat nggak makan junk food karena baru kena tumor payudara. Ya, mungkin mereka bermaksud care, tapi care bukan berarti harus judging, kan? Gue sering mendapat email yang berisi seperti ini,
"Hai Indi, Mika dulu pakai narkoba ya makanya kena AIDS?"
Wow, that's really uncool and rude! :(

Gue nggak bertanya pada Mika kenapa ia bisa terkena AIDS. Buat gue itu nggak penting karena yang gue lihat Mika orang baik dan selalu positif ketika bersama gue. Gue belajar banyak hal darinya, terutama tentang menjadi diri sendiri. Mika berkata bahwa yang terbaik itu mengikuti kata hati, bukan kata orang lain. Dan gue terus begitu sampai sekarang selama nggak melanggar norma-norma dan menyakiti orang lain. Gue juga masih berhubungan baik dengan teman-teman Mika, dan sedikit banyak gue jadi mendengar tentang masa lalunya. Tapi itu sama sekali nggak mempengaruhi penilaian gue tentang Mika, karena jika ada hal buruk... the past is the past, just forget it and move on. Setiap orang punya hak untuk untuk dinilai dengan apa yang dilakukannya hari ini :)

Waktu sesi sharing gue sedikit berapi-api karena tiba-tiba teringat apa yang sudah Mika lalui dan masih terbawa suasana di teater. Little bit teary, tapi dengan Puput sebagai MC yang berkarakter kocak gue jadi nggak pernah lupa untuk tersenyum, hehehe. Gue juga mendapat beberapa pertanyaan dari audience. Ada yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan jika hidup serumah dengan ODHA. Menurut gue yang paling tepat adalah memperlakukan ia seperti anggota keluarga yang lain. Sederhana, tapi itu adalah perasaan yang paling nyaman sedunia. Gue bukan ODHA tapi sejak kecil gue terkena scoliosis. Harus pakai brace 23 jam per hari, terapi ini-itu dan nggak boleh ini-itu. Waktu gue dibedakan dengan saudara-saudara yang lain rasanya bikin gue sedih, tapi jika orang-orang berlaku seolah brace gue itu invisible, gue merasa nyaman dan dihargai. Dan gue yakin itu berlaku untuk semua orang, termasuk ODHA :)

Sesi sharing dan tanya jawab berlangsung dengan lancar tapi tetap fun. Dari percakapan antara gue dan audience rasanya apa yang menjadi poin gue sudah cukup tersampaikan :) Gue lega karena semuanya begitu antusias dan mengaku nggak lagi takut dengan HIV/AIDS. 
Sesi gue ditutup dengan penyerahan penghargaan oleh Jefry selaku Organizing Committee President ROAR +. Setelah itu diikuti oleh Om Dodok dan Om Jonathan yang juga diberikan penghargaan. Gue langsung pamit untuk kembali ke hotel karena nanti malam akan langsung pulang ke Bandung. Tapi ternyata gue sudah ditunggu dengan teman-teman yang ingin mengajak foto bersama! :)





***

and the award goes to...
Om Dodok dari Cancer Information and Support Center.
Om Jonathan dari Rumah Damai.
Salah satu penerima penghargaan juga, yang ---silly me--- nggak sempat berkenalan padahal duduk berdekatan :p

Terharu sekali karena banyak dari mereka yang membawa novel-novel gue untuk ditandatangani. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kota Pati dan sengaja menyempatkan ke E-Plaza Semarang untuk bertemu gue. Juga ada surprise, beberapa scolioser dari MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga ikut datang! Wah, kehadiran mereka sampai-sampai bikin gue hampir lupa kembali ke hotel, karena di sela foto-foto kami juga sempat berbincang singkat dan berkenalan :) Bapak lalu mengingatkan bahwa waktu sudah semakin sore. Gue berpamitan dan kembali ke hotel dengan perasaan yang sangat senang. Senang acaranya berjalan dengan lancar, senang mendapat teman-teman baru, dan senang karena bisa berbagi cerita-cerita kebaikan tentang Mika. Thank God :)

Thank God :)
Teman-teman MSI Semarang. Hore! :)
:)

Ketika sampai di hotel handphone gue bunyi, ternyata ada SMS dari Om Jonathan. Isinya seperti ini, "Sharing nya bagus banget, Indi. Thanks for your share, Bless you, Indi." 
Dan itu membuat perasaan senang gue bertambah berkali-kali lipat karena kata-kata itu datang dari seseorang yang pernah mengalami apa yang Mika alami :)
Salut untuk AIESEC UNDIP atas ROAR+ project "The Long Journey" nya yang telah membuat acara positif untuk remaja dengan cara santai dan fun. Gue harap akan ada acara-acara seperti ini lagi selanjutnya agar lebih banyak lagi orang yang care tanpa harus judging! :)

Koran "Wawasan" 18 Desember 2013 :)

sugar-nya Mika,

Indi


baca juga artikel mengenai acara ini di suaramerdeka.com di sini.
______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contacr person: 081322339469