Halo! Indi di sini! Penulis dari "Waktu Aku sama Mika", "Karena Cinta itu Sempurna", "Guruku Berbulu dan Berekor", "Conversation for Preschoolers" dan Indi nyata dari Film Mika. Welcome to "DUNIA KECIL INDI"! Salam kenal :)
Hey bloggiiiiiiies! Apa kabar? Bagimana puasanya, masih lancar ya? Matahari Bandung sedang terik-teriknya. Kalau tengah hari suhunya bisa 31 derajat celsius! Syukurlah aku nggak tergoda dengan segala macam iklan minuman (---termasuk Marjan. Jadi ini prestasi banget ya, hehehe). Yang menjadi godaan justru radang tenggorokan yang datang dan pergi. Minggu lalu aku sudah ke dokter, sembuh, eh sekarang kambuh lagi. Salahku sendiri sih, kurang minum dan kebanyakan pedas :p
Anyway, tulisanku kali ini nggak akan panjang-panjang. Jadi, di bulan puasa ini aku mengikuti kontes musik di Inspira TV. Namanya "Amazing Ramadhan Music Cover Challenge". Nah, timingnya mungkin kurang pas karena suaraku sedang serak, but I do it anyway karena menurutku ini kesempatan untuk menggembangkan hobi bermusikku. Meski jauh dari berpengalaman dan belum punya peralatan yang proper, tapi aku tetap semangat. Jauh-jauh aku buang perasaan untuk membandingkan diri dengan peserta lain yang (sejauh ini aku lihat) lebih matang (baca: punya tim) dan musik juga videonya well produce :) Aku rekam lagu "Amazing Ramadhan" versiku di kamar, dengan aransemen yang dikerjakan sendiri. Yup, meski nggak punya band (hanya ada Shane yang membantu dengan gitar, ukulele dan keyboard) aku putuskan nggak memakai karaoke track yang sudah disediakan agar aku bisa membawakan lagunya dengan style sendiri. Sementara untuk videonya aku menggunakan handphone Iphone 6s milik Shane, ---yang sayangnya mati di tengah shooting karena over heat, huhuhu :') Shooting pun dilanjutkan menggunakan handphone android milikku karena keadaan nggak memungkinkan untuk re-shoot di lain waktu.
Para peserta diminta untuk mengupload video cover ke channel YouTube masing-masing, dan nanti pemenangnya akan ditentukan berdasarkan jumlah penonton. Well, saat tulisan ini dibuat aku memang tertinggal dalam jumlah view meski menjadi peserta pertama yang mengupload video... Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tetap bersemangat dan nggak mau menyerah :)
Jadi dengan segala kerendahan hati aku meminta teman-teman yang membaca tulisan ini untuk menonton videoku (link disertakan di bawah). Aku akan senang sekali jika kalian bisa memberikan komentar atau masukan. Karena meski aku mengerjakan semuanya secara indie (---maksudnya di kamar, hehe) tapi aku tetap ingin dinilai berdasarkan kualitas. Menurutku itu lebih adil daripada berdasarkan jumlah penonton :)
Terima kasih.
Klik untuk menonton video "Amazing Ramadhan" versi Indi Sugar
________________________________________
UPDATE:
Aku dapat juara ketiga! Jujur, aku nggak menyangka dan langsung histeris pas nonton pengumumannya di TV :') Hehehe... Video yang digarap kurang maksimal karena handphone over heat bikin aku pesimis, apalagi aku cukup kesulitan untuk menambah jumlah viewers di videoku. Aku bahagia sekali, ada hasil dari usahaku dan Shane. Tapi bukan berarti aku akan berhenti bermusik kalau kalah, karena menjadi pemenang hanya "bonus". Aku melakukannya murni dari hati karena aku suka. Di foto ini aku memegang sertifikat dan memakai kaus hadiah dari Inspira TV. Aku juga mendapat uang tunai yang langsung aku gunakan untuk membeli obat Eris anjingku (telinganya infeksi). Praise the Lord... dapat hadiah di waktu yang tepat :)
Buat teman-teman yang membaca ini, aku ucapkan terima kasih banyak untuk dukungan dan doanya. Terima kasih telah "ada" untukku meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung! *peluk* xx,
Halo, apa kabar teman-teman? Aku sudah kembali, nih. Eh, lebih tepatnya blogku yang sudah kembali, ---akunya sih nggak ke mana-mana, hihihi. Nggak nyangka ternyata saat sedang masa perbaikan, blogku yang seadanya ini banyak juga yang mencari :D Terima kasih ya sudah menyempatkan mampir ke sini. Aku tadinya nggak mau lama-lama vakum, tapi rupanya banyak juga yang harus dibenahi. Nah, untuk post perdanaku setelah 3 bulan, aku bakal share yang ringan-ringan dulu saja, deh. Kebetulan di saat aku vakum itu bertepatan dengan bulan scoliosis awareness di US, jadi aku akan bercerita tentang pengalaman mengikuti lomba dalam rangka memperingati hari tersebut :)
Eh, ngomong-ngomong masih pada ingat nggak sih tentang scoliosis? Kalau lupa aku ingatkan lagi secara singkat ya. Scoliosis itu adalah kondisi pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Aku sendiri adalah salah satu pengidapnya, terdeteksi pada usia 13 tahun dan masih tetap terapi sampai sekarang. Karena scoliosis itu bukan penyakit (ingat ya, istilahnya "kondisi"), jadi tentu saja nggak ada obatnya. Tapi bisa dikoreksi alias bisa dilakukan beberapa cara untuk mencegah dan mengurangi kelengkungan tulang belakang pengidapnya. Misalnya saja dengan cara fisioterapi, bracing (peyangga) atau operasi. Meski pengidapnya banyak, tapi kesadaran orang tentang kondisi ini masih cenderung minim. Itulah kenapa dibuat yang namanya bulan scoliosis awareness. Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian dan mengedukasi masyarakat tentang scoliosis. Cara memperingatinya macam-macam. Ada yang memberikan penyuluhan, screening scoliosis gratis, atau malah membuat "tantangan" seperti yang dilakukan oleh "National Scoliosis Center".
Mungkin banyak diantara kalian yang belum tahu apa itu "National Scoliosis Center" karena lokasinya berada di Amerika sana. Aku juga baru tahu, kok, dan itu pun tanpa sengaja, hihihi. Jadi NSC ini adalah pusat terpadu yang berfokus pada pada perawatan dan terapi non bedah untuk pengidap scoliosis dan pengidap kondisi (kelainan) tulang belakang lainnya. Kebetulan aku memfollow akun "Scoliosis Children's Foundation" dan dari sanalah aku mendapat informasi tentang challenge yang mereka adakan. Setelah membaca aturan tantangannya, aku langsung tertarik untuk ikut! Aku suka dengan tujuan mereka yang sederhana tapi efektif. Aku tinggal berfoto dengan outfit berwarna hijau dengan caption yang menarik. Kenapa warna hijau? Karena hijau (biasanya pita hijau) adalah simbol dari scoliosis, sebagai lambang dari kepedulian dan dukungan. Dengan kita memakai warna hijau di bulan Juni, otomatis kita diingatkan bahwa scoliosis itu memang ada. Dan karena kita menguploadnya di instagram, semakin banyak pula yang melihat dan secara nggak langsung kita ikut mengedukasi netizen melalui caption yang ditulis.
Seperti biasa, aku sih nggak terlalu berharap untuk menang. Yang terpenting do my best. Dan aku juga mengajak followers ku untuk ikutan. Surprisingly, ternyata lumayan banyak juga yang tertarik. Dan aku terharu karena beberapa dari mereka bahkan bukan scolioser. Mereka melakukannya karena solidaritas dan rasa peduli! Aww... :') Waktu tahu kalau pesertanya banyak (dan worldwide pula!) akumerasa senang alih-alih merasa tersaingi. Karena dengan semakin banyak yang ikut artinya akan semakin cepat pula tercapainya tujuan dari challenge ini. Salut dengan para peserta yang kreatif. Bahkan ada juga lho yang mengajak teman satu gang nya untuk berfoto bersama dengan baju hijau. Aku jadi merasa kurang kreatif karena hanya berfoto selfie di depan cermin di sela-sela waktu bekerja. Itu pun pakai handphone milik temanku, alias dapat pinjam, hehehe. Ups :p
Kira-kira satu minggu kemudian aku mendapatkan pesan dari ID yang nggak kukenal, ---yang secara otomatis masuk ke dalam kotak spam. Meski aku memprioritaskan untuk membuka pesan dari orang-orang yang "dikenal", tapi aku tetap membuka kotak spam meskipun agak terlambat. Rupanya pesan itu datang dari "National Scoliosis Center". Aku langsung dag-dig-dug nggak jelas, soalnya kalau sampai menang rasanya kok too good to be true, hehehe. Begitu pesannya terbuka aku membacanya berkali-kali dulu sebelum mengklik tombol "accept". Nggak yakin! Tapi setelah dibaca 10 kali pun pesannya nggak berubah! Aku menjadi salah satu pemenang dari Scoliosis Awareness Challenge!:D Dan yang lebih surprisenya lagi aku ternyata menjadi pemenang utama. Iya, pemenang utama karena postku dianggap paling engaging alias paling banyak mendapat respon! Waaaa... Aku sampai captured ucapan selamatnya dan langsung kutunjukan pada temanku, lol.
Satu bulan berlalu, aku akhirnya menerima sebuah paket yang dikirim dari California, Amerika. Wah, jauh sekali ya :D Yup, hadiahku akhirnya datang! Isinya bikin aku happy plus terharu. Ada sebuah novel berjudul "Braced" yang ditandatangani langsung oleh Alyson Gerber, penulisnya dan juga sebuah postcard! "Braced" ini menceritakan tentang seorang remaja bermana Rachel Brooks yang sedang semangat-semangatnya bergabung dengan tim sepak bola di sekolah. Namun semangatnya itu terpaksa harus ditahan karena ia didiagnosis mengidap scoliosis yang mengharuskannya memakai brace (penyangga tulang belakang) selama 23 jam per hari. ---Sounds familiar? Iya, memang mirip sekali dengan kisahku yang dibukukan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dan difilimkan dengan judul "Mika". Tapi apa yang dialami Rachel dan aku memang bukan sesuatu yang "jarang", kok. Meski nggak semuanya mengalami tantangan yang sama, menurut penelitian 3 dari 100 perempuan diperkirakan memiliki scoliosis, lho. Termasuk sang penulis novel sendiri! :)
Membaca kisah Rachel rasanya sangat relatable. Bahkan ada beberapa bagian dari karakter Rachel yang aku yakin akan membuat non-scolioser pun berceletuk "Oh, I feel you" ketika membacanya. Because teenagers always be teenagers, ---bagaimana pun bentuk tulang belakangnya. Buatku novel "Braced" ini salah satu bukti kalau untuk meningkatkan awareness soal scoliosis nggak perlu ribet dan nggak perlu menyeramkan. Buat "kampanye" sesederhana mungkin, tapi tepat sasaran. Dan itu juga bisa dilakukan oleh siapa saja selama mempunyai rasa peduli. Punya kemampuan menulis? Buatlah tulisan tentang scoliosis, misalnya dalam bentuk blog post, cerpen atau bahkan lirik lagu. Punya usaha sablon? Kenapa nggak bikin kaus dengan desain yang menarik dan membuat orang ingin tahu lebih banyak tentang scoliosis. Daaaaan masih banyak lagi contoh lainnya. Bahkan as simple as memposting foto di Instagram pun bisa menjadi salah satu bentuk kampanye, lho.
Jadi maukah teman-teman melangkah denganku untuk meningkatkan scoliosis awareness? Every step counts! :)
xx,
Indi
_______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com
Halo teman-teman, apa kabar? Semoga semuanya baik-baik saja, ---at least sebaik aku yang sedang minum orange juice sehabis beres-beres kamar sisa Halloween di pagi buta begini, hihihi. Postinganku kali ini singkat saja, aku mau minta bantuan dari kalian, nih! :)
Bulan lalu aku masuk ke dalam 175 besarInspira Music+ Festival 2017. Nah, sebentar lagi akan dipilih siapa saja yang masuk ke dalam 10 besar. Selain ditentukan oleh juri, salah satu diantara 10 besar itu dipilih berdasarkan voting, lho, dan kalian semua bisa ikutan :D
Caranya cukup dengan menonton videoku di sini sampai habis. Satu view dinilai sebagai satu suara :)
In case link di atas susah dibuka, ada juga cara yang lain:
1. Masuk ke www.inspira.tv
2. Lihat "Video minggu ini"
3. Cari videoku dengan nama “Indie Sugar” (iya namaku padahal "Indi", uhuhuhu)
4. Tonton videonya sampai habis
5. Selesai! ;)
Karena votenya berdasarkan jumlah view, jadi kalian bisa vote sampai lebih dari satu kali, lho, hihihi. Jadi kalau kebetulan sedang luang boleh banget kalian menonton videonya berulang-ulang :p Oh iya, terkadang saat membuka link nya akan ada permintaan login. It's up to you, boleh membuat account dulu (bisa menggunakan Facebook dan Google+) atau diskip saja dengan cara tap/click screen yang kosong.
Aku memang masih baru sekali dalam bidang musik, malah lagu yang masuk ke dalam 175 besar ini saja baru diciptakan tahun lalu. Tapi musik adalah salah satu passionku, ---meskipun masih harus banyak belajar :) Setiap suara dari kalian akan ikut mengantarku meraih cita-cita. Soal hasilnya biarlah Tuhan yang menentukan, yang terpenting aku nggak diam saja untuk meraihnya :)
yang main ukulele itu, lho,
Indi
_____________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com
Halooooo, ada orang di sana? Hahaha, mungkin ada beberapa dari kalian yang notice kalau blogku sempat “bersembunyi”. Well, at least aku menerima sekitar 10 private messages yang isinya menanyakan tentang keberadaan dunia kecilku ini. Ada yang mengira kalau aku menghapusnya, dan ada juga yang mengira kalau aku blocked beberapa pembaca. Padahal sebenarnya nggak, kok. Blogku masih ada, tapi ada beberapa ‘perbaikan’ yang perlu aku lakukan di sini. Dan di saat yang bersamaan aku juga sedang ada health problem yang perlu penanganan serius (don’t worry, I’ll be fine), jadi sekalian saja aku liburan dulu. As I type this, aku sedang duduk di sebuah rumah di luar kota dengan cuaca yang super panas, hihihi. Mohon doa dari teman-teman supaya aku cepat pulih baik secara fisik maupun mental. Amen! :D
Aku akui, belakangan untuk melakukan daily routine terasa lebih menantang. Tapi ini nggak menghentikanku dari (berusaha) berkarya, kok. Bukannya sok kuat, tapi terus berusaha aktif (asalkan nggak kelewat batas) di saat kondisi seperti ini justru membuat pikiranku teralihkan dan lebih positif :) Salah satunya dengan mengikuti Musik+ Festival 2017. Aku sudah mendaftar sejak bulan Agustus lalu, ---di saat kondisiku mulai menurun. Tadinya aku nggak yakin untuk melanjutkan dan sudah bersiap untuk mengundurkan diri. Tapi di bulan September aku mendapat kabar kalau aku masuk ke dalam 175 besar dari ribuan pendaftar! Mau mundur rasanya jadi sayang, dan sepertinya ini adalah kesempatan yang bagus untuk menambah pengalaman dan tentu, untuk bertemu teman-teman baru :)
Teman-teman sudah tahu belum sih tentang ajang musik ini? Kalau sudah, kalian bisa skip part ini. Tapi kalau belum, silakan lanjutkan baca, hihihi. Musik+ Festival ini adalah ajang yang diadakan oleh Inspira TV (yang sudah pakai TV digital pasti tahu channel ini). Konsepnya berbeda dengan ajang pencarian bakat yang sudah-sudah. Goal mereka bukan hanya menghibur, tapi juga menginspirasi. Atau, dikutip dari situs mereka;
“Musik plus adalah musik yang mengandung muatan positif yang mencerahkan, memotivasi dan menginspirasi. Musik plus tidak dibatasi oleh genre. Semua jenis musik dapat menjadi musik plus selama memiliki makna yang inspiratif dan positif. Dengan musik plus hiburan menjadi lebih bermakna.”
Keren dan berbeda, kan? Nah, lagu yang dibawakan juga bebas, boleh ciptaan sendiri atau lagu orang lain. Akan mendatkan nilai plus jika lagunya berbahasa Indonesia. Lalu bagaimana denganku yang lagu-lagunya (sok) English semua? :p
Memang kalau sudah “harusnya begitu” Tuhan pasti kasih jalan. Saat mengikuti audisi online tadinya aku mau mengirimkan lagu berbahasa Inggris. Tapi sepupuku yang berusia 10 tahun menyarankan lagu lain. Rupanya ia menyukai lagu “Hey Girls Hey Boys” yang aku ciptakan tahun lalu dalam rangka World Disability Day. Agak ragu, karena lagu itu super sederhana dan nggak “komersil” (waktu aku upload di YouTube viewers nya jauh di bawah video-videoku yang lain, nggak sampai 300 viewers!). Sepupuku bilang lagunya enak dan ada pesan moralnya, hahaha. Karena ingin membuat dia senang (toh aku nggak yakin-yakin amat bakal lolos), aku iyakan saja permintaannya. Aku pikir, ya sudah ini satu-satunya lagu ciptaanku yang berbahasa Indonesia dan dalam kondisi seperti ini agak “ribet” jika harus membuat lagu yang baru. Whatever will be, will be, deh. Yang penting aku mengirimkan karya yang original :D
Dan… siapa yang menyangka bahwa aku terpilih sebagai salah satu dari top 175! Aku sendiri bahkan nyaris lupa kalau sempat mengikuti audisi. Maklum saja karena aku baru dihubungi (TENGAH MALAM) di tanggal 29 September lalu, ---been a month sejak aku mengirimkan lagunya. Aku langsung memberi tahu Bapak dan bertanya apa aku boleh mengikuti technical meeting di besok siangnya. Kami berpikir agak lama. Karena selain kondisiku, Ibu juga baru selesai dirawat inap, dan keponakanku pun sedang dalam kondisi gawat di Rumah sakit. Tapi Bapak menyarankanku buat go for it, katanya ini bakal jadi pengalaman berharga dan kalau nggak mencoba aku nggak akan tahu sejauh mana kemampuanku. Ya sudah aku bulatkan tekad untuk terus maju meskipun sahabatku yang musisi “idealis” heran kenapa aku mau ikutan ajang seperti ini, lol.
Selesai Technical Meeting di De Majestic, Bandung.
Technical meeting diadakan di gedung De Majestic, Jl. Braga no. 1 Bandung. Ini adalah kawasan pejalan kaki alias pedestrian, ---jadi untuk parkir susaaah sekali karena lahannya hanya sedikit. Aku datang terlambat karena kabar yang diterima begitu mendadak. Syukurlah aku masih sempat mendengar informasi penting untuk shooting taping keesokan harinya. Poin pentingnya sih hanya diingatkan untuk berpakaian sopan, lagu berbahasa Indonesia lebih disukai dan untuk datang tepat waktu. Lucunya ada beberapa kru Inspira TV yang mengingatku, mungkin karena pernah dua kali mengisi acara di sana. Tapi dengan sesama peserta malah awkward. Aku mencoba berkenalan dengan laki-laki yang duduk di sampingku, tapi dia jutek maksimal, hahaha. Mungkin disangkanya aku naksir dia kali, ya? :p Uh, the problem with being too friendly. *palm face.
Sampai di rumah aku nggak bisa langsung istirahat karena belum ada ide lagu apa yang akan aku nyanyikan untuk shooting taping keesokan harinya. Lagu “One Day”(lagu ciptaanku) memang bermain terus di dalam kepalaku. But I’m not sure… karena liriknya berbahasa Inggris. Dan akhirnya, karena malam semakin larut aku putuskan saja untuk mengubah sebagian liriknya ke dalam Bahasa Indonesia, hahaha. Jadi terdengar janggal sih, tapi setelah aku ulang-ulang it wasn’t that bad kayaknya :p By the way, shooting taping ini untuk ditayangkan di Inspira TV sekaligus untuk ditonton oleh para juri. Dari top 175 ini kami akan disaring kembali menjadi top 10. Yup, hanya 10 orang dari seluruh Indonesia! Bikin aku cukup deg-degan sih. Tapi aku tetap berusaha istirahat karena nervous plus kurang tidur pasti bukan perpaduan yang bagus.
Aku termasuk awal waktu mendaftar, makanya dapat nomor 71 ;)
Di depan gedung De Majestic sebelum shooting dimulai.
Dan akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Seluruh peserta diminta untuk naik ke belakang panggung. Surprise… surprise… aku mendapat giliran yang pertama! Well, seharusnya sih nomor 2, tapi karena ada salah satu peserta yang belum siap, jadilah aku yang menggantikan. Cengar-cengirku makin menjadi, ---kebiasaan kalau sedang nervous, lol. Dari atas panggung semuanya terlihat gelap, mungkin karena lampu sorotnya hanya mengarah ke panggung. Tapi aku stay cool, pura-pura bisa melihat dan melambaikan tangan ke arah yang kira-kira tempat Bapak dan Iie duduk, hahaha. Sebelum mulai bernyanyi ternyata ada sedikit interview dulu dari hosts nya. Aww, mereka mengenalku sebagai penulis novel dan Indi yang menginspirasi film Mika. Jadi malu-malu kucing, deh :p Setelah itu kru menyiapkan 2 buah mikrofon untukku karena aku nggak memakai minus one, tapi bermain ukulele. Sumpah, it feels so weird. Monitor ada tepat di depanku tapi suara yang aku dengar pelaaaan sekali. Tapi karena itu katanya “normal” aku pun mulai bernyanyi sambil bermain ukulele despite of nggak bisa dengar suara sendiri. Aku coba berikan yang terbaik, meski hati ini dag-dig-dug. Berdasarkan hasil tanya-tanya sedikit sama peserta lain di belakang panggung, mereka rupanya sudah terbiasa ikut lomba. Nah aku… lomba tingkat RT saja belum pernah, hahaha.
Di belakang panggung, foto diambil oleh fotografer Inspira TV.
On stage, dapat dari Instagramnya Inspira TV, hahahaha (ketawa sedih).
Iie mau ambil video, tapi sayang HP nya error! :O
Turun dari panggung rasanya masih deg-degan, tapi lega. Oh iya, aku punya teman baru yang kenalan di belakang panggung, namanya Mia dan dia penyanyi solo. Katanya penampilanku bagus, sampai-sampai peserta lain ngumpul di depan monitor untuk nonton, hahaha. Entahlah dia bohong atau nggak, yang pasti itu membuat perasaanku lebih baik :) Sambil melihat penampilan peserta lain, aku juga sempat diwawancarai. Isinya selain tentang perasaanku mengikuti Musik+ Festival, juga tentang aktivitasku. Too bad Bapak dan Iie nggak ikut ke belakang panggung, jadi aku nggak punya dokumentasinya. Sebenarnya pas di panggung juga aku nggak punya foto dan videonya karena tiba-tiba saja handphone Iie error. Yang kupajang di sini aku dapat dari akunnya Inspira TV dan hasil captured dari video Tante sebelum akhirnya blank (cuma beberapa detik saja). Agak sedih, sih. Tapi yang terpenting kan aku menikmati waktu moment ini terjadi ;)
Karena Iie ada keperluan, aku pun diajak pulang lebih awal. Syukurlah diizinkan karena nggak ada kewajiban untuk stay sampai akhir acara. Di perjalanan pulang aku langsung mengirimkan pesan pada Ibu yang isinya mengabari kalau aku sudah berusaha dan senang bisa mendapatkan kesempatan untuk tampil di sana. Aku belum tahu dengan hasilnya, tapi melihat wajah Bapak dan Iie yang bangga dan terus-terus mengulang cerita sewaktu melihatku di panggung rasanya priceless. Rasanya aku sangat dicintai dan semakin bersyukur memiliki keluarga yang suportif. Akankah aku masuk 10 besar? Hope so. Tapi bukan itu intinya. Karena yang terpenting aku sudah mencoba memberikan yang terbaik, dan biar sisanya Tuhan yang menentukan. Aku rasa nggak perlu malu atau ragu saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Karena kalau nggak pernah memulai, bagaimana mungkin aku bisa dapat pengalaman? :)
ukulele girl,
Indi
Liputan audisi final di Inspira TV.
_______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com
Baru saja sampai di rumah Ibu berkata kalau ada paket untukku. Waktu dicek ternyata paketnya bukan buatku, tapi Eris! Hahaha. Wah, aku langsung penasaran dan membuka paket yang ukurannya cukup besar itu. Isinya karpet khusus hewan peliharaan!:D Beberapa waktu lalu aku sempat mengikuti giveaway yang diadakan oleh akun instagram @carameldanial yang informasinya gue dapat dari Yayasan Peduli Kucing. Syaratnya sederhana, peserta diminta untuk mengupload foto bersama hewan peliharaan dan menceritakan apa saja yang mereka lakukan sebagai pet therapy bagi "pawrent" nya. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang yang tahu tentang "terapi hewan". Aku sih nggak memikirkan tentang menang atau kalah karena memang selalu bahagia jika bercerita tentang Eris :)
Sejak menjadi bagian keluarga 7 tahun yang lalu, aku selalu menganggap Eris istimewa. ---Well, setiap makhluk Tuhan tentu punya keistimewaan masing-masing, dan keistimewaan Eris adalah sifatnya yang pengertian. Karena mengidap severe scoliosis dan masih memakai brace 12 jam perhari, aku nggak bisa berlari karena bisa menimbulkan rasa nyeri. Eris selalu mengimbangi langkahku saat kami berjalan-jalan sore dan nggak pernah mencoba berlari. Padahal ia bisa saja melakukannya kalau mau. Tapi lain ceritanya kalau ia unleash alias tanpa tali... Wuzz! Eris bisa berlari secepat angin! Hihihi. Melihatnya seperti itu membuatku ikut merasakan sensasi bebas luar biasa.
Tiga tahun yang lalu Eris juga pernah menemukan sebuah tumor besar di payudara kiriku. Awalnya aku mengira ada sisa makanan yang menempel di baju karena ia terus-terusan mengendusnya. Tapi karena semakin lama semakin sering, aku pun penasaran dan memeriksakan diri ke dokter. Untung saja belum terlambat. Operasi berjalan dengan lancar, hanya waktu penymbuhannya yang cukup sulit. Aku merasakan sakit yang amat sangat karena bekas jahitan terus mengeluarkan darah. Di saat itulah Eris nggak pernah meninggalkanku, ---membuat aku merasa nyaman. Dengan kata lain, Eris lah yang "merawat" mentalku selama sakit sementara orangtuaku merawat secara fisik. Eris adalah terapisku :)
Pengalamanku dengan Eris rupanya mirip dengan pengalaman Addinda Sonang Danial, pemilik akun @carameldanial. Ini juga yang menjadi alasannya mengadakan giveaway. Dinda adalah pengidap kanker leukimia dan ia memiliki pet therapist bernama Caramel. Caramel adalah seekor anjing terlantar yang diadopsinya tepat sebelum akan disuntik mati! Dari situs pawsunion.com aku jadi tahu betapa luar biasanya Caramel. Ia bisa tahu jika kondisi Dinda sedang drop, bahkan di saat Dinda merasa baik-baik saja. Dan saat waktunya minum obat Caramel akan mengambil lalu melemparkan obatnya agar diminum. Jika Dinda nggak mau meminumnya, Caramel akan menggonggong terus seolah mengingatkan. Amazing! :)
Mungkin sudah banyak teman-teman yang tahu tentang pet therapy, tapi just in case aku akan menjelaskannya lagi sedikit. Pet therapy adalah terapi yang melibatkan hewan di dalamnya. Biasanya pet therapy dibutuhkan saat seseorang dalam proses penyembuhan dari masalah kesehatan seperti mental health, kanker, penyakit jantung dan lain sebagainya. Pet therapy juga bisa berfungsi agar seseorang bisa lebih "nyaman" dengan apa yang diidapnya. Contohnya seperti aku. Scoliosis nggak bisa disembuhkan (karena bukan penyakit, tapi kondisi yang hanya bisa dikoreksi), tapi dengan Eris rasanya lebih mudah untuk menjalani hari. Hewan apapun bisa menjadi pet therapist karena berbeda dengan service dog, "tugas" pet therapist adalah untuk membantu kita merasa nyaman. Tapi mereka bisa juga double sebagai service dog, seperti Caramel yang bisa mengingatkan Dinda untuk minum obat.
Balik lagi ke cerita Eris dan hadiahnya, awalnya ia agak "terancam" dengan karpet barunya. Mungkin karena berbulu ia jadi mengira kalau itu hewan lain. Sampai-sampai Eris menggeram dan menggigitnya, lho! Hahaha :D Tapi hanya sebentar karena setelah itu Eris langsung duduk santai di atasnya, bahkan lama-lama ia minta disisiri sambil tiduran di sana :) Aku baru tahu kalau karpet @petcarpet_id rupanya mendonasikan sebagian dari hasil penjualannya ke Yayasan Peduli Kucing. Rasanya membuatku semakin happy karena tahu bahwa banyak yang peduli dengan keberadaan hewan-hewan di sekitar kita. Kalau kalian punya anjing atau kucing akusarankan untuk membelinya karena selain berdonasi, kualitas karpetnya juga memang bagus. Kalau Eris bica bicara bahasa manusia, ia pasti akan memberi testimoni panjang lebar tentang karpet barunya, hahaha.
Aku senang, bersyukur dan berterima kasih dengan hadiah yang diberikan @carameldanial untuk Eris. Rasanya semakin meyakinkan kita bahwa hewan memang memiliki maksud dan fungsi untuk tinggal berdampingan dengan kita, ---mereka bukan hanya "sekedar" hewan. Sekali lagi, menang atau kalah bukan masalah untukku. Aku akan selalu menyayangi Eris dengan tulus karena aku percaya Eris juga nggak pernah meragukanku. Dan aku membagi cerita ini (mudah-mudahan) bisa menjadi pengingat agar nggak ada lagi yang menyakiti hewan. Kalian boleh merasa "nggak suka" atau geli saat melihat mereka. Tapi nggak perlu menyakiti atau mengusiknya. Selalu ingat bahwa di suatu tempat ada orang-orang yang tertolong sekali dengan keberadaan mereka. ---Bahkan yang nyawanya diselamatkan oleh mereka. Seperti Eris yang menyelamatkanku dan Caramel yang menyelamatkan Dinda :)
yang sangat beruntung 'memiliki' Eris,
Indi
(Punya pengalaman serupa dengan hewan peliharaan? Kirim cerita kalian ke namaku_indikecil@yahoo.com. Cerita yang menarik akan dimuat di buku Guruku Berbulu dan Berekor 2 yang royaltinya digunakan untuk membantu hewan-hewan terlantar).
Hey bloggies, hey! Apa kabar semuanya? Semoga semuanya baik, ya. Dan... sedikit irrelevant, kali ini aku posting bukan di waktu weekend, hehehe. Well, sebenarnya sih aku ingin menulis sejak hari minggu lalu. Tapi berhubung agak kelelahan dan ada "meltdown moment" (sniff...) jadi baru bisa sekarang :) Ngomong-ngomong kalian pernah nggak sih akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dan waktu moment nya tiba baru sadar kalau, ---"OMG, what the heck am I doing here??" ---dan yang kalian inginkan hanya kabur karena benar-benar blank dengan apa yang harus dilakukan? Ehmm, aku pernah. Sering kali tepatnya, lol. Terkadang aku memang terlalu spontan, setuju untuk melakukan sesuatu padahal belum punya pengalaman. Seperti yang kualami 1 Mei 2016 kemarin...
Beberapa waktu sebelumnya aku melihat iklan "Unstoppable Fashion Styling Competition" di Facebook. Murni karena penasaran aku klik page iklannya dan membaca persyaratannya. Untuk usia sih memenuhi syarat, tapi soal jago mix and match dan punya style unik tentu diragukan, hehehe. Kemampuanku untuk memadukan warna lebih cocok dibilang random daripada 'kreatif' (lol) dan styleku sejak dulu juga sepertinya begini-begini saja, not so unique lah. Tapi entah keberanian dari mana, aku akhirnya mendaftar! Waktu itu aku pikir lihat saja nanti, kalau takut tinggal kabur, hehehe. Lagipula acaranya juga di salah satu mall Bandung, jadi bisa sambil berjalan-jalan mumpung weekend. Di luar dugaan waktu hari H tiba cerita tentang "Si Indi mau ikut fashion show" ternyata sudah menyebar dari mulut Ibu (aduh!). Yang tadinya mau pergi diam-diam berubah jadi beramai-ramai. Tante, Ray, adik, ipar, keponakan dan Ibu semuanya ikut. Nggak bisa mundur lagi deh kalau gini ceritanya, hehehe.
Unstoppable Fashion Styling Competition by Laurier yang aku ikuti ini merupakan rangkaian dari Fimela Fest 2016 yang diadakan di beberapa kota besar. Untuk di Bandung diadakan di mall Festival Citylink yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumahku. Cukup santai, jam 12 siang kami sudah sampai di lokasi dan aku langsung registrasi ulang. Rupanya untuk Unstoppable Fashion Styling baru akan berlangsung jam 3 sore, jadi kami bisa bersantai sambil makan donat, hehehe. Ehm, jujur nih aku lumayan pesimis karena waktu melihat peserta lain yang mulai berdatangan, mereka kebanyakan memakai makeup dan well prepared. Sedangkan aku, ---ya just being me, nggak ada yang istimewa. Bahkan Tante sempat becanda kalau aku bisa-bisa kalah karena sepatuku sudah kelewat kumal! :D Tapi akhirnya kuputuskan untuk que sera, sera, ---whatever will be, will be. Lebih baik aku menikmati saja. Nggak perlu khawatir dengan noda kecil karena ketumpahan topping donat atau lupa bawa sisir. Sayang kan kalau moment jarang bisa ditemani sama 1 rombongan gini malah dihabiskan dengan deg-degan ;)
Mungkin karena enjoy aku jadi lebih relax dan "tanpa beban". Sementara yang lain touch up, aku baru menyusul ke backstage di menit-menit terakhir. Setelah berada di sana aku malah ingin cepat-cepat dipanggil karena mendadak excited dan... kakiku pegal! :D Setelah sekitar 10 menit akhirnya pintu backstage ditutup dan seluruh peserta yang jumlahnya sekitar 30 orang dan diberikan sedikit pengarahan. Ada koreografi standar yang harus diikuti, tapi dasar mantan model abal-abal, aku malah lupa 5 menit kemudian, hahaha. Oh, by the way, aku lupa menyebutkan. Sebelum pergi aku mendadak ingin membawa serta si ukulele kesayangan padahal agak fals karena belum distel. Tapi Bapak bilang it's okay, yang penting aku bisa melihat sesuatu yang "akrab" kalau-kalau aku nervous. Dan berhubung ukulelenya terlanjur ikut ke backstage, nanti akan kuajak sekalian saja ke panggung. Akan diapakan? Well... aku juga nggak tahu sampai aku benar-benar berada di atas panggung.
Nomor urutku dipanggil dan dengan "not so model like" aku melangkah di atas catwalk. Salah satu MC menyebutku sebagai "Peserta nomor 15 dan ukulelenya", dan AHA! Tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku gunakan ukelele lebih dari sekedar pelepas nervous tapi juga sebagai penunjang penampilan. Jadi alih-alih berpose aku memainkannya di setiap sudut panggung termasuk untuk menyapa para juri! Untung saja suara musiknya sangat kencang jadi aku nggak perlu khawatir dengan ukulele yang belum distel, hehehe. Ukulele always brings happiness. Aku jadi nggak bisa berhenti tersenyum, ---mungkin terdengar aneh tapi aku benar-benar menikmati berlenggak-lenggok sambil menggenjreng si ukulele smiley ini di atas catwalk! Seolah aku sudah terbiasa melakukannya, padahal setelah diingat ini adalah tepat 10 tahun sejak terkahir kali aku berjalan di catwalk.
Aku turun dari atas panggung dengan riang dan langsung menemui para suporter alias keluargaku yang menunggu di bangku penonton. Ray dan Tante rupanya berusaha mengabadikan aksiku, sayang Tante salah menekan tombol di handphonenya dan gagal merekamku, hehehe. Untung saja Ray berhasil mengambil beberapa fotoku, ---kan aku penasaran ingin lihat seperti apa kalau aku sedang beraksi :p Menurut salah satu peserta pemenang akan diumumkan setelah juri siap, jadi bisa cepat bisa lambat, ---seperti di kategori sebelumnya yang ada beberapa break. Karena khawatir terlalu lama jadi aku minta keluarga adik, Tante dan Ibu untuk lebih dulu pulang sementara aku menunggu bersama Ray. Toh, rasanya agak too good to be true kalau aku menang, hehehe. Tapi rupanya Ibu dan Tante agak penasaran dengan pemenangnya jadi memutuskan untuk stay. Di panggung duo MC sibuk berbicara tentang sesuatu, aku nggak memperhatikan karena asyik mengobrol dengan Ray dan sesekali mengobrol dengan peserta lain. Aku lupa tepatnya berapa menit, yang pasti rasanya memang cukup lama sampai-sampai keningku basah dengan peluh. Lalu tahu-tahu saja MC menyebutkan nomor-nomor peserta secara acak. Ada 10 nomor yang disebut dan yang terakhir adalah nomorku, 15, ---yang ditambahkan panggilan "si ukulele" oleh salah satu MC. Dengan kebingungan aku berdiri diiringi dengan suara tepuk tangan yang cukup riuh. Ada apa ini? Apa aku nggak salah dengar? Aku harus ke mana? ---Untung saja ada peserta lain yang menarik tanganku. Rupanya kami harus ke atas panggung lagi.
Di atas panggung pelan-pelan aku mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang menimpa ku, lol. ---Ternyata aku masuk ke dalam 10 besar finalis Unstoppable Fashion Styling! Ya ampun, IT REALLY IS yang namanya too good to be true :O Dari atas aku bisa melihat wajah Ibu dan Tante juga tampak sama bingungnya denganku (tapi Tante gaya bingungnya heboh banget, sambil ngacung-ngacungin handphone, lol). Aku bersyukur, tentu. Tapi bisa masuk ke top 10 saat di pengalaman pertama benar-benar surprise yang besar untukku. MC menyebutkan bahwa kami dipilih karena juri suka dengan style kami, dan yang terpenting kami terlihat nyaman. Untuk menyaring menjadi 3 pemenang, kami diberi tantangan untuk mix and match outfit yang telah disediakan. Aku pikir, 'well ini mah gampil', tapi ternyata kami hanya diberi waktu 90 detik dan jumlah outfitnya sangat terbatas. Item wajib yang sudah ditentukan juri adalah scarf, yang mana itu adalah item yang jaraaaaaang banget aku pakai. Tapi ya sudah lah, yang terpenting aku have fun di sini. Kapan lagi bisa coba-coba outfit keren gini, hehehe. Pilihanku jatuh pada sebuah rok pink lebar dan tanktop bermotif. Untuk scarf aku, ehm, ambil saja satu-satunya yang nggak diambil oleh finalis lain. Soalnya, sumpah, aku benar-benar blank, hehehe. Setelah itu kami dipersilakan ke belakang panggung dan memadukan item-item yang sudah dipilih.
Aku sangat jatuh cinta dengan roknya. Menurutku warna dan modelnya cute banget, ---sangat styleku. Tapi ketika dicoba... uh oh, kesempitan! Untuk melewati pantatku saja butuh kerja keras, dan waktu akhirnya sampai di pinggang ternyata nggak bisa dikancingkan! Aku langsung lapor pada panitia dan katanya semua item hanya ada 1 ukuran karena disediakan oleh sponsor. Tadinya mau diakali dengan peniti, tapi saking sempitnya peniti pun nggak sampai untuk menghubungkan titik A dengan titik B, hahaha. Aku coba tutupi bagian resleting dengan tank top yang asalnya mau kupakai dengan dimasukkan ke dalam rok. Berhasil, sih. Tapi aku nggak tahu perlu berapa langkah sampai rok ini melorot :p Yang paling membingungkan tentu saja untuk memadukan scarf. Selain warnanya nggak cocok, aku juga bingung akan dipakai apa. Mau dijadikan bando kok malah mirip pocong :( Akhirnya di detik-detik terakhir (---sudah dipanggil-panggil mbak panitia) aku lilitkan scarf ke leher tanpa tahu bagaimana kelihatannya. Salah satu peserta membantuku memperbaiki hasil ikatanku yang berantakan dan 10 detik kemudian kami sudah berada di panggung lagi.
Sekali lagi, aku berlenggak-lenggok di catwalk. Feel a bit weird karena kali ini tanpa ukulele, ---bingung tanganku mau diletakan di pinggang atau diayun sekalian :p Aku mencoba senatural mungkin, berjalan biasa saja hanya nggak terlalu cepat. Setelah itu sambil menunggu juri yang sedang memberi nilai MC memberikan beberapa pertanyaan pada para finalis. Well, hanya 4 dari kami saja sih yang ditanya karena juri sudah mendapat hasilnya. Salah satunya adalah aku yang ditanya mengapa memilih outfit yang dipakai sekarang. Aku jawab ini karena mewakili kepribadianku yang girly dan cheerful. Apalagi roknya memang sudah aku incar sejak panitia membawa satu deret baju ke atas panggung. Untung saja finalis lain kayanya nggak ada yang tertarik dengan rok pink yang super mengembang ini :D
Daaaan yang ditunggu-tunggu pun tiba; pengumuman pemenang! Nggak pakai berlama-lama, host langsung membacakan kertas yang berisi hasilnya. Pemenang ketiga jatuh kepada nomor 11, gadis berhijab yang waktu di backstage membantuku memasang scarf. Pemenang kedua jatuh kepada... OH. MY. GOD. Aku!!! Hahaha, aku sampai pikir MC salah membaca nomor karena... it just feel so unreal :'D Dan pemenang kesatu jatuh kepada nomor 31. She's totally deserved it :)
Aku dan pemenang lainnya menerima sejumlah hadiah yang terdiri dari piala, sertifikat, sejumlah uang dan produk dari Laurier. Yang berbeda pemenang kesatu mendapatkan hadiah tambahan berupa tas Kate Spade (cool!). Juri berkata bahwa sesudah dan sebelum tantangan mix and match aku tetap terlihat "Indi banget", dan itulah salah satu alasan mengapa mereka memilihku. Hehehe, masa sih :)) Ketika turun dari panggung aku nggak bisa menahan perasaan haru. Tante heboh sekali dan terus memuji-mujiku. Sementara Ibu lebih kalem dan berkata bahwa beliau sangat bangga denganku (aduh, sambil ngetik ini jadi terharu lagi, huhuhu). Ray juga nggak kalah ekspresif, gayanya sudah seperti fotografer profesional yang terus mengambil fotoku, hehehe. Aku anggap ini adalah kemenangan bersama. Ibu yang mendesain dressku, Tante yang menjadi suporter terbesarku dan Ray yang mengabadikan moment sangat berkesan ini. Tanpa kehadiran mereka mungkin aku nggak akan jadi juara. Jadi dengan uang hadiah Unstoppable Fashion Styling aku mentraktir mereka makan-makan dan membelikan anggota keluarga lain hadiah. ---Sisanya tentu saja ditabung :)
Rasanya ajaib aku memenangkan lomba hanya dengan modal menjadi diri sendiri. Tapi setelah dipikir kita memang harus be the best version of ourselves to win, dalam bidang apapun. Saat menjadi diri sendiri pasti terasa nyaman dan nggak 'setengah-setengah'.---Dan yang paling penting akan tanpa beban :) Aku lega, senang dan bersyukur karena berani mencoba hal baru. Deg-degan wajar. Tapi aku nggak perlu takut. Lagipula kalau nggak melakukan hal baru, kita nggak akan tahu sejauh mana kemampuan kita kan? ;)
Pernah mengalami hal baru dan nggak tahu harus melakukan apa? Share me! :)
yang temenan akrab sama ukulele,
Indi
_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469
Aku selalu percaya kalau setiap mahkluk diciptakan Tuhan dengan fungsi masing-masing. Semuanya punya manfaat, semuanya saling berhubungan. Termasuk hewan.
6 tahun lalu, ---waktu Eris pertama kali hadir, aku tahu bahwa ia adalah salah satu berkah yang Tuhan berikan. Meskipun ia berkaki empat, nggak seperti teman-temanku yang lainnya tapi ia menjalankan fungsinya sebagai seekor sahabat dengan baik. Ia menemani saat aku sedih, saat aku senang. Ia juga juga memiliki empati, ---tahu kapan waktunya untuk becanda dan kapan aku sedang butuh istirahat. Selain menjadi sahabat Eris juga bagian dari keluarga. Jika Ibu tiba di rumah, selain bertanya apakah aku sudah makan, beliau juga pasti akan bertanya tentang si mungil Eris, hihihi :)
Aku juga percaya bahwa apa yang kita lakukan akan berbalik kembali pada diri kita. Jika kita memperlakukan setiap mahkluk, ---termasuk hewan, dengan baik dan hormat, bukan nggak mungkin mereka akan mencari cara untuk membalas kebaikan kita. Ingat Steve Irwin? Seumur hidupnya ia selalu dikelilingi hewan, ---terutama hewan buas seperti buaya. Tapi ia selalu percaya bahwa hewan-hewan itu nggak akan pernah menyakitinya. Ia bilang kuncinya adalah rasa hormat dan saling percaya. Well, aku memang masih jauh dari Steve Irwin, ---jauuuuuuh bangeeeeeet malah, hehehe. Tapi aku pernah mengalami hal yang sama dengan Mr. Irwin. Tahun 2013 lalu Eris melakukan sesuatu yang luar biasa, ---she saved my life :)
Terima kasih Dogs of Indonesia :)
Hari itu aku sedang bersiap untuk berangkat kerja. Seperti hari-hari yang lain aku menyalakan pompa untuk water heater yang terletak di ujung garasi. Tapi ada yang berbeda dari Eris, tiba-tiba saja ia menerjang dadaku dan menggaruknya seolah ingin mengeluarkan sesuatu. Awalnya kupikir ia mencium sisa makanan, tapi setelah memeriksanya aku yakin bahwa baju yang dipakai saat itu dalam keadaan bersih. Kebingungan, aku bergegas ke kamar mandi dan memeriksa bagian dada. Aku nggak menemukan sesuatu yang mencurigakan, tapi lalu... deg, jariku meraba sebuah benjolan di dada sebelah kiri. Karena khawatir, sepulang bekerja langsung aku periksakan pada dokter. Singkat cerita setelah melalui proses ultra sound dan lain sebagainya... benjolan itu ternyata tumor dengan diameter sebesar bola ping-pong. Yup, itu bukan tumor yang kecil.
Iie (tante) dan Tia juga beri hadiah bando lho buat Eris :)
Berkat Eris tumorku diangkat sebelum menyebar dan ganas. Dokter yang menanganiku pun sampai amaze karena letak tumornya yang jauh di belakang, ---dengan diraba sekitas saja nggak mungkin terasa. Itulah kenapa aku bilang Eris menyelamatkan nyawaku. Tanpa Eris, belum tentu aku masih berada di sini sekarang :) Cerita tentang Eris yang pertama kali aku ceritakan di sini pun lama-lama semakin menyebar. Tulisanku dishare berkali-kali, dimuat di media online Vemale, sampai akhirnya masuk ke program Spotlite Trans 7. It's beyond amazing, cerita kami yang tadinya hanya diketahui oleh kalangan tebatas jadi semakin meluas. Dan baru-baru ini, ketika ada kontes 1001 Cerita dari Dogs of Indonesia aku putuskan untuk membagikan pengalaman ini lagi. Aku nggak berharap untuk menang, tapi aku berharap cerita kami akan memberikan manfaat bagi yang membacanya.
Ide kontesnya sangat fun, cenderung lucu. Jadi para pemilik anjing ditantang untuk membuat cerita based on karakter anjingnya masing-masing. Nah, tokoh yang menginspirasinya boleh diambil dari tokoh-tokoh fiksi. Aku memilih Scooby Doo, karena sejak pertama kali melihat Eris ia selalu mengingatkanku sama anjing konyol itu, hihihi. Matanya besar, agak penakut, hobi makan dan yang pasti sama-sama bisa menemukan monster jahat! Bedanya monster yang Eris temukan dalam bentuk tumor. Sama-sama happy ending :D Aku mengirimkan ceritanya waktu hampir deadline karena handphoneku sempat bermasalah. Syukurlah ceritaku tetap diterima dan rupanya masuk menjadi pemenang harian, --- yang nantinya akan dipilih lagi untuk menjadi pemenang utama dan pemenang favorit. Sampai sini saja sudah jadi big surprise, karena kulihat peserta lain banyak yang kreatif dalam penulisan ceritanya :)
Ucapan selamat :)
Hadiah Voucher MAP :)
Tanggal 17 Januari 2016, ketika aku sedang bersiap untuk beristirahat tiba-tiba saja aku teringat untuk melihat pengumuman pemenang. Karena handphoneku mati seharian (yes, aku perlu ganti handphone sepertinya, lol) jadi nggak ada satu notifikasi pun yang masuk. Dan... surprise, surprise... aku dapat mention dari Dogs of Indonesia yang berisi bahwa ceritaku dan Eris menjadi pemenang utama! O, my God! Saking kagetnya aku nggak langsung balas tapi refresh page nya berkali-kali, ---kalau-kalau mereka salah mention. Tapi nop, mereka nggak salah, karena beberapa hari kemudian aku menerima hadiahnya; voucher MAP dan ucapan selamat kecil untuk Eris. Aku nggak tahu vouchernya akan dibelikan apa, tapi karena tahu kalau nggak bisa dibelanjakan di pet shop jadi aku hadiahi Eris dengan homemade treats istimewa dan jalan-jalan sore (sekaligus jumpa fans Eris, hihihi!). Dan tanteku yang mendengar tentang kemenangan ini pun ikut memberi Eris hadiah, yaitu sebuah bando rusa yang lucu :)
Bocah-bocah ini fansnya Eris, kemana pun selalu mengikuti, hihihi.
Hadiahnya tentu membuat aku, ---dan Eris--- senang, tapi menurutku bukan itu intinya. Mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita tentang apa yang terjadi padaku dan Eris adalah yang terpenting. Aku senang bisa memberitahu dunia bahwa setiap mahkluk di dunia memiliki fungsi dan saling berhubungan. Mungkin ada yang berpikir kalau Eris hanya seekor anjing, tapi seriously guys, di dunia ini nggak ada yang "hanya", semuanya istimewa dengan caranya masing-masing. Jadi next time, kalau sedang makan di restoran dan ada kucing mampir jangan ditendang. Siapa tahu nanti ia melakukan sesuatu yang baik untuk kalian. Be nice, ---kalau kata Ibu dulu; Jangan mencubit kalau nggak mau dicubit! :)
blessed girl,
Indi
____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469
Siapa suka Pocky? Well, of course aku nggak bisa dengar jawaban kalian, tapi yakin aku bukan satu-satunya orang yang suka Pocky di sini :D
Aku masih ingat waktu dulu, ---waktu Pocky belum sepopuler sekarang di Indonesia, aku paling suka bawa bekal Pocky rasa cokelat kalau sedang ada acara keluarga. Camilan ini jadi senjata ampuh untuk mengusir bosan, ---selain buku dan musik, karena biasanya aku jadi satu-satunya anak kecil, hehehe. Meski waktu itu ada varian strawberry, tapi Pocky cokelatlah yang jadi favoritku. Saking senangnya 1 stik saja nggak cukup untuk masuk ke mulutku, tapi harus 2 sekaligus. Cara makannya nggak pakai sedikit-sedikit, tapi langsung hap, ---bisa setengah stik sekali gigit, hehehe. Sampai dewasa pun kecintaanku sama Pocky nggak pernah berubah (malah bertambah karena sudah bisa beli sendiri). Meski aku bukan fans JKT 48 (ingat ya, idolaku itu Aerosmith dan John Frusciante, lol), tapi koleksi stiker mereka mungkin bisa mengalahkan die hard fans sekalipun. Dan letaknya ada di mana-mana, ---di meja belajar, kolong meja, sampai pintu lemari baju. Super random. Itu semua karena Pocky yang memaksaku untuk melakukanya :p
Pocky, snack yang berbentuk stik ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1963 oleh Ezaki Glico. Awalnya Pocky hanya berlapis cokelat, tapi lama-lama variannya semakin banyak. Di Indonesia sendiri yang populer adalah varian cokelat dan strawberry, padahal sebenarnya Pocky punya banyak rasa yang unik. Misalnya saja, almond, anggur, madu, cake dan masih banyak lagi. Meski aku sangat menyukai Pocky, tapi aku bukan that kind of crazy fans yang do anything untuk mendapatkan varian yang nggak tersedia di Indonesia. Kalau teman-temanku ada yang sampai beli via on line atau menitip pada kerabat yang sedang di luar negeri, aku mah nonton video Pocky Taste Test di YouTube saja cukup, hahaha. Makanya waktu di majalah Gogirl! ada iklan dengan Pocky Matcha, ---varian baru---, dan mereka akan membagikannya gratis untuk yang beruntung, aku langsung excited. Meskipun kemungkinannya nggak terlalu besar (wah, pembaca mereka kan banyak) tapi aku tetap ikutan kontesnya dan... finger crossed! ;)
Nggak disangka, waktu pemenangnya diumumkan ternyata ada namaku! Katanya aku akan mendapatkan kesempatan mencoba Pocky Matcha dan nanti Pocky nya akan dikirim ke rumah. So excited! ---Saking excitednya, waktu Pocky Matcha akhirnya masuk ke mini market di dekat rumah, aku tetap tegar untuk nggak tergoda membelinya. Supaya nanti waktu hadiahnya datang lidahku bakal surprise, hehehe. Tapi setelah 1 bulan berlalu ternyata hadiah yang dijanjikan belum juga datang. Aku sempat bertanya pada adminnya satu kali, tapi nggak dibalas, huhuhu :( Ya sudah, akhirnya aku tetap bersabar sambil berdoa semoga hadiahnya nggak nyangkut di rumah orang yang juga penggemar Pocky, hehehe.
Dan finally... beberapa hari yang lalu Ibu berkata ada kiriman paket untukku. Awalnya aku nggak yakin itu dari Pocky karena bungkusnya sangat besar. Sampai aku membuka bungkusnya dan... Oh, my! Ternyata mereka bukan hanya memberiku Pocky Matcha!
Totalnya ada 20 box Pocky berbagai macam varian, ---dan varian yang terbanyak terntu saja Pocky Matcha. Selain Pocky cokelat dan strawberry, ada juga varian Choco Banana, Double Choco dan Vanilla-Cocoa. Wah, aku sampai bingung mau mencici yang mana dulu *terharu* lol. Karena bukan penggemar pisang, jadi Choco Banana lah yang menjadi pilihan pertamaku. Supaya kalau lidahku nggak cocok bisa cepat-cepat mencicipi rasa yang lain, begitu kupikir, hihihi. Dari aromanya sudah tercium khas pisang, begitu juga warnanya yang kuning menyala, persis ukuleleku :p Di luar dugaan, ternyata lidahku approve rasa pisang yang satu ini. Mungkin karena nggak dominan dan rasa colekatnya cukup terasa. Oh, iya rasanya ada sensasi dinginnya juga lho, seperti makan es krim. Pokoknya enak, dan 1 box Pocky Choco Banana pun langsung aku habiskan tanpa ampun, hehehe.
Varian kedua yang kucicipi adalah Double Choco. Sebagai penggemar cokelat aku nggak ragu untuk mencicipinya, ---2 stik langsung aku masukkan ke dalam mulut. Dan... sesuai dugaanku, ini enak banget! Varian ini menjadi favoritku setelah Pocky cokelat yang klasik. Stiknya nggak terlalu manis, cenderung pahit dan sangat cocok dipadukan dengan lapisan cokelatnya yang lebih manis. Sayangnya karena Ibu juga penggemar cokelat, 2 box Pocky varian ini harus aku share, uhuhuhu... lol. Selanjutnya aku mencicipi Vanilla-Cocoa. Dibandingkan yang lain, varian ini aromanya yang paling manis, ---mungkin dari vanilla nya. Waktu dicicipi ternyata rasanya juga paling sugary, tapi untungnya stik cokelatnya nggak terlalu manis, jadi nggak enek. Rasanya enak, but still, aku lebih memilih yang Double Choco :)
Dan varian terakhir yang aku coba adalaaaaaaaah *drum roll* Pocky Matcha! Sengaja aku mencicipinya paling akhir karena varian ini lah yang paling sering dibicarakan. Sepertinya sekarang matcha sedang trend, apa-apa dibuat rasa matcha. Aku suka kue ape, kapan-kapan boleh dong ada ape rasa matcha. Kan cocok tuh warnanya hijau, hehehe :p Waktu aku buka kemasannya aroma matcha langsung tercium, ---aromanya ringan, nggak terlalu menyengat. Gigitan pertama lidahku masih agak bingung, it tastes like... mung bean? Tapi setelah habis beberapa stik rasa matcha nya semakin terasa. Bukan varian terbaik di lidahku, but it does tastes good! Cuma memang butuh banyak stik saja supaya lidahnya notice kalau ini rasa matcha. ---Atau aku memang rakus? Hehehe.
Yang pasti aku merasa grateful dapat kesempatan untuk mencicipi bebagai varian Pocky. Untukku Pocky masih menjadi salah satu snack terbaik dengan harga terjangkau yang tersedia di banyak tempat. Saat snack lain rasanya berubah atau kemasannya menjadi mungil seiring berjalannya waktu, Pocky tetap menjaga kualitasnya, bahkan semakin baik. Aku jadi penasaran dengan varian lainnya, apalagi dengan varian wine. Apa harus berusia 18 tahun dulu untuk mencicipinya? Hahaha. Well, semoga saja aku dapat kesempatan itu, mungkin sambil berjalan-jalan ke Jepang ;) Thank you so much Pocky (Glico) dan Gogirl! Magazine. Nggak setiap hari aku mendapatkan kiriman childhood snack kesukaan :)
ps: Kalau mau kirim lagi, alamatku belum berubah, lho. Lol.
indi in the pockyland,
Indi
_____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469