Tampilkan postingan dengan label Mika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

Indi Ingin Bermain Ukulele (Tentang Kado Impian) :)

Gue terbangun dengan posisi tangan kanan berada di atas perut ---masih sedikit naik turun seperti gerakan strumming alias genjrang-genjeng.
Setelah sepenuhnya sadar gue segera terkikik geli dan turun dari tempat tidur, mengambil cuk lele dan memainkannya. Itu tadi mimpi yang sangat konyol... :)

***

Gue sudah bilang pada Bapak kalau gue ingin belajar bermain ukulele. Juga pada Ibu, pada Ray... bahkan pada Eris. Tapi mereka bilang (kecuali Eris, karena ia seekor anjing, hihihi) gue lebih baik belajar bermain gitar saja dulu, karena lebih mudah dan ada Bapak yang bisa mengajarkan. Bapak bahkan mengira kalau keinginan gue ini hanya main-main. Beliau bilang, "Katanya mau jadi rockstar seperti Aerosmith, masa mainnya ukulele? Gitar dong biar keren." 
Ya, meskipun sama-sama dipetik, mungkin karena ukulele ukurannya mungil di mata Bapak jadi kurang garang... Eh, lagian gue perempuan ngapain juga garang-garang? Begini deh kalau punya Bapak yang terobsesi sama rock and roll, hehehe.

Tapi gue memang sungguh-sungguh ingin belajar alat musik Hawaii ini. Setiap hari gue berguru pada master-master ukulele lewat internet. Mempelajari chord-chordnya dan fingering di invisible ukulele gue. Ya, gue memang belum punya ukulele sendiri, tapi it wont stop me. Setiap kali melihat idola-idola gue bermain ukulele, rasa semangat gue menjadi semakin tinggi. Mungkin akan butuh waktu yang nggak sebentar, tapi gue percaya akan bisa seperti mereka.
Perkenalan gue dengan ukulele sendiri justru terjadi dengan nggak sengaja, tapi malah membuat terkenang-kenang. Waktu itu gue baru saja dipertemukan dengan Aerosmith, band yang sangat gue kagumi sejak kecil. Karena ingin segera 'mengulang moment' gue mencari video mereka ketika konser di Singapore. Alih-alih mendapat videonya, gue malah menemukan video Steven Tyler (the vocalist, member favorit gue) sedang mengucapkan happy birthday pada Willie Nelson, rekan sesama musisinya. Di sana Steven Tyler bernyanyi sambil memainkan alat musik yang sekarang menjadi obsesi gue; ukulele. 

Untuk persiapan bermain ukulele yang sesungguhnya, gue membeli cuk lele ---atau biasa disebut gitar mini, kentrung, kencrung alias gitar kecil yang biasa digunakan pengamen. Well, sebenarnya ukelele dan cuk lele (seharusnya) sama saja, cuma entah kenapa banyak musisi jalanan yang menyebutnya 'gitar cuk'. Katanya sih (iya, gue sempat mengobrol dengan pengamen yang mampir ke toko alat musik) yang mereka pakai ini versi rip off dari ukulele. Jadi bentuk boleh sama, tapi bahan yang digunakan beda. Bahkan senarnya pun bukan nilon khusus ukulele (nylgut), tapi dari tali bekas raket tenis. "Lebih irit, bisa minta dari toko olah raga, tuh," begitu katanya. Selain itu konon suaranya lebih nyaring daripada ukulele biasa, jadi cocok untuk dipakai mengamen di jalanan atau di dalam kendaraan umum.

Sebelum punya ukulele sungguhan, gue berlatih dengan si rip off ini dulu :)

Jadilah setiap hari gue berlatih menggunakan ukulele versi rip off ini. Begitu bangun tidur, bahkan sebelum sarapan gue langsung berlatih. Sebelum tidur gue juga berlatih lagi. Adik gue yang kamarnya tepat di atas kamar gue kadang protes, katanya kalau malam gue berisik, mana fals lagi, hahaha. Kebiasaan baru ini juga sedikit merubah penampilan gue. Yang biasanya kuku super rapi dengan cat warna-warni sekarang mulai chipped, lengkap dengan kapalan di ujung jari. Tapi gue nggak menyesal, karena bahkan sebelum gue bisa bermain ukulele pun sudah ada sisi positifnya; gue jadi jarang pegang handphone, hihihi.

Meski dengan semangat menggebu-gebu (lol, beneran ini), bukan berarti tanpa hambatan. Kadang kalau jari-jari mulai terasa sakit (resiko pakai rip off ya begini, hehehe), mood gue jadi turun. Apalagi kalau telapak tangan gue mulai keringetan, pasti jadi semakin susah untuk menjaga jari agar tetap stabil. Kalau sudah begitu, gue langsung ingat-ingat lagi tujuan gue; Ingin bisa bermain ukulele! Sesulit apapun gue harus konsisten, meskipun belajar otodidak. Menonton video-video musik juga membantu untuk menaikan mood gue, salah satunya dari Walk of the Earth, karena Sarah, satu-satunya perempuan di grup itu juga bermain ukulele :)

Harapan gue sih ada yang memberi hadiah ukulele sungguhan... Gue nggak perlu merk tertentu, dengan kualitas begini-begitu atau dengan model yang super keren. Yang terpenting bisa dipakai untuk mensupport passion gue. Ukulele juga bukan alat musik yang langka di Indonesia. Selain ada merk-merk buatan luar negeri, di sini juga sudah banyak pengrajin yang membuat ukulele. Misalnya di Salatiga, Solo atau Bali. Kalau di Bandung sendiri, sih gue belum dengar ada pengrajinnya. Tapi itu kan bukan masalah, zaman sekarang mau dari kota manapun juga bisa dikirim melalui jasa pengiriman barang. Apalagi dengar-dengar sekarang untuk barang fragile macam ukulele pun dijamin aman karena bisa pakai packaging kayu. Pasti memudahkan sekali untuk yang ingin memberi gue hadiah, ya, hehehe.

Mungkin teman-teman bertanya-tanya, kenapa gue nggak membeli ukulele dengan uang sendiri saja. Apalagi harganya nggak terlalu mahal. Untuk yang kualitasnya cukup bagus saja harganya hanya setara dengan 3 hari uang saku anak SMA zaman sekarang (gue anak zaman dulu, lol). Well, iya sih kalau dilihat dari harga mungkin nggak seberapa. Tapi gue ingin ini menjadi hadiah agar rasanya istimewa. Apalagi jika didapat dari orang-orang yang gue sayang, pasti akan berkesan sekali. Makanya sekarang gue ingin tunjukan pada Ibu, Bapak dan Ray (juga Eris, hehehe) bahwa gue memang sungguh-sungguh belajar ---bahwa gue nggak main-main dengan apa yang ingin gue capai. Jadi jika suatu hari gue mendapatkan kado yang sudah gue impikan ini, mereka nggak akan kecewa! :)




uke girl,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 25 Desember 2014

Puisi untuk Mika di Malam Natal


24 Desember 2014

Dear Mika di surga,
Aku masih ingat hari itu. Hari dimana kamu pergi.
Kamu disampingku, tapi rohmu tidak.
Aku masih ingat rasa itu. Rasa rindu ketika kamu tak ada.
Hari ini pun aku masih rindu. Meski tahu 10 tahun bukan waktu yang sedikit...

Setiap aku mendengar musik Billy Joel aku mengingatmu.
Setiap aku menonton film Home Alone aku mengingatmu.
Setiap aku melihat sandal jepit karet aku mengingatmu.
Setiap aku tak sengaja memutar lagu Guns and Roses di playlist yang jarang kuputar aku terkikik geli... Aku mengingatmu, Mika.

Kadang aku menangis sendirian di tengah malam.
Aku rindu untuk bicara padamu. Aku rindu mendengar suaramu.
Aku takut lupa bagaimana kamu terlihat. Aku takut lupa bagaimana kamu tercium.
Karena kamu tak selalu hadir di mimpiku, Mika. Bahkan ketika aku berdoa lama-lama...

Aku masih menulis surat untukmu setiap hari, tapi tak kukirim.
Aku tak mau ibumu baca, nanti beliau sedih.
Aku masih tak mengerti kenapa kamu harus pergi.
Aku juga masih bertanya-tanya apakah kamu tidak rindu pada kami? Tak ingin kembali? 

Dear Mika di surga,
Sekarang setiap Hari AIDS Sedunia banyak orang yang mengingatmu.
Aku lupa sudah berapa ibu yang menamai putranya seperti namamu.
Bahkan ada film yang bercerita tentangmu. Dengan judul memakai namamu.
Dan itu membuatku semakin rindu...

Katanya yang sudah pergi tak akan pernah kembali. Tak akan selalu ada jika kita mengingatnya.
Mungkin kamu juga tak akan kembali, Mika. Tapi bukan berarti kamu hilang.
Aku yang terjadi sekarang mungkin caramu memberitahuku bahwa kamu tetap ada.
Mungkin Tuhan juga ingin aku menyadarinya, tapi aku terlalu sibuk dengan prasangka.

Jadi Mika, hari ini aku berjanji,
Setiap Hari AIDS Sedunia, aku akan ingat kalau kamu selalu ada.
Setiap mendengar bayi dilahirkan diberi nama seperti namamu, aku akan ingat kalau kamu selalu ada.
Setiap film MIKA diputar, aku akan ingat kalau kamu selalu ada.
Kamu tak kemana-mana, Mika. Berbeda rupa, tapi selalu ada...

Aku tak bilang ini mudah, tapi aku akan berusaha untuk tersenyum.
Setiap bangun dari tidur  aku tahu hari harus berlanjut.
Jika aku menangis lagi, aku akan berkata; "Berhenti. Tunggu dulu."
Karena nanti akan tiba waktunya kita untuk kembali bertemu.

Selamat malam natal, Mika. Petarung AIDS ku, pahlawanku.


sugar-pie kecilmu yang sudah besar,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 22 Desember 2014

Tulisan untuk Robin Williams, dari Seorang Penggemar

11 November 2014
Ini mungkin bakal kedengeran aneh, tapi hari ini gue akan bercerita tentang Robin Williams. Ya, I know, ini sudah 2 bulan sejak kepergiannya, tapi rasanya baru siap untuk membagi perasaan gue di sini. Sebagai fans beratnya, teman-teman gue banyak yang heran kenapa gue nggak tampak terlalu sedih dengan kepergiannya, nggak update status tentangnya 3 kali sehari dengan isi yang mengharu biru, nggak membicarakan sebab dari kepergiannya... Jawabannya sederhana; karena gue nggak mengenalnya secara personal. Gue bukan teman, kerabat apalagi keluarga. Gue hanya fans. Dan gue rasa meratapi kepergiannya di media sosial bukan hal bijak. Robin Williams memiliki keluarga, 3 orang anak yang sangat ia cintai yang tentu saja berduka. Bayangkan jika kita berada di posisi mereka, bagaimana rasanya membaca banyak tulisan yang isinya "menyayangkan", "menyesalkan" atau "menertawakan" kepergian ayah kita?

Jadi waktu itu, pagi-pagi sekali. Gue baru saja mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Sambil mengeringkan rambut gue mengecek handphone dan menemukan sebuah update twitter dari Sharon Osbourne. Mata gue langsung terasa panas dan nggak percaya dengan yang gue baca. Robin Williams meninggal dunia... Ya, gue menangis. Dan gue akui itu bukan tangisan kecil. Tanpa gue sadari nafas gue mulai tersenggal-senggal dan air mata gue menetes deras. Gue lalu mencoba menenangkan diri, menarik nafas  dan meneguk segelas air. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk menstabilkan emosi gue. Dengan mata sembab akhirnya gue berhasil berpakaian dan berpikir logis. Di kepala gue memang ada pertanyaan "Kenapa?" yang terus-terusan terlintas, tapi gue putuskan untuk menyimpannya sendiri dan mengucapkan rasa bela sungkawa sewajarnya pada Zelda, putri dari Robin Williams lewat akun twitter nya. 

Gue masih ingat pertama kali melihatnya. Bersama Ibu dan Bapak gue menonton film Mrs. Doubtfire yang kelak menjadi film favorit gue sepanjang masa. Gue sangat menyukai tokoh Natalie yang diperankan oleh Mara Wilson. Di film ia diceritakan sebagai seorang anak yang sangat dekat dengan ayahnya (Robin Williams), yang secara kebetulan di kehidupan nyata ia seusia dengan gue, ---dan gue juga sangat dengan dengan Bapak. Mungkin itu jadi salah satu alasan mengapa gue merasa related dengan film Mrs. Doubtfire. Setelah menonton pertama kali gue langsung merengek untuk menonton ulang filmnya. Syukurlah VCD nya disewakan di rental dekat rumah, jadi gue bisa menonton sesering gue mau. Setiap kali menonton Mrs. Doubtfire, gue selalu tertawa, terharu, dan menemukan hal baru. Gue tumbuh bersama film itu, literally. Dari kecil sampai beranjak remaja. Dari hanya tertawa karena gerakan lucu yang dibuat Robin Williams sampai tertawa karena akhirnya gue mengerti lelucon yang tadinya hanya membuat Ibu dan Bapak tertawa. Lambat laun gue menemukan bahwa film itu sangat menginspirasi, semakin menambah alasan mengapa gue sangat terobsesi dengan Mrs. Doubtfire...

Lalu gue tumbuh menjadi seorang remaja. Setiap minggu gue tetap setia untuk datang ke rental dan menyewa VCD Mrs. Doubtfire. Kondisi keping VCD nya sudah nggak terlalu bagus, cover plastiknya lepas karena sering dibuka tutup. Entah mengapa membuat gue sedih. Mungkin terlalu banyak orang yang menyewa VCD ini dan nggak semuanya memperlakukannya dengan hati-hati. Dan sebuah ide nakal pun muncul, ketika gue kembali ke rental untuk mengembalikan VCD gue membuat wajah sangat menyesal. Dengan sedikit terisak gue berkata pada pegawai rental bahwa gue nggak sengaja menghilangkan VCD nya. Tentu saja ia nggak langsung percaya, gue telah menyewa VCD yang sama selama bertahun-tahun dan selalu kembali dengan selamat. Tapi gue tetap bersikeras, ---lalu nggak bisa menahan senyum ketika pegawai rental berkata gue harus membayar denda sebesar Rp. 40.000. Gue menang.

Dress gue mirip seperti Mrs. Doubtfire di scene kolam renang :)

Gue mempunyai VCD Mrs. Doubtfire sendiri. Well, ini milik rental tapi kan gue sudah membayar denda. Gue bisa menontonnya kapan saja gue rindu. Adegan Daniel Hillard (Robin Williams) yang menari dengan diiringi lagu Dude (Looks Likes a Lady) menjadi favorit gue. Bagaimana nggak, itu adalah lagu dari band kesukaan gue Aerosmith. Gue juga hapal dengan dialog-dialognya, termasuk 'nyanyian spontan' Robin Williams di adegan Raptor Rap. 
Gue sangat bahagia mendapatkan apa yang gue mau. Tapi hati kecil gue merasa bersalah, meski gue membayar denda tetap saja gue berbohong. Pihak rental nggak tahu bahwa sebenarnya VCD nya nggak hilang... Akhirnya, dengan perasaan menyesal yang semakin besar gue mengembalikan VCD nya kembali. Gue bersedih karena harus berpisah dengan Mrs. Doutfire, tapi akan lebih sedih lagi jika gue menjadi seorang pencuri.

Mungkin teman-teman heran, kenapa gue nggak punya VCD Mrs. Doubtfire sendiri padahal sangat menyukai film itu. Bukan tanpa usaha, selain meminjam ke rental gue juga mencari ke berbagai toko CD, tapi selalu kehabisan. Bahkan gue sampai meninggalkan nomor telepon di Disc Tarra untuk berjaga jika ada kiriman VCD Mrs. Doubtfire lagi. Sambil menunggu gue pun mengoleksi film-film Robin Williams yang lain. Dari hasil menabung gue akhirnya memiliki puluhan judul VCD dan DVD Robin Williams. Beberapa ada yang sulit didapat karena harus memesan terlebih dahulu, tapi yang paling sulit dicari tetap Mrs. Doubtfire.

Selama pencarian VCD itu kekaguman gue terhadap Robin Williams semakin bertumbuh. Jika awalnya gue hanya menikmati peran-perannya yang kocak seperti di film Hook, Jack, Patch Adams atau Flubber, lama kelamaan gue juga menikmati peran-perannya yang serius. Perannya di film The Fisher King sebagai orang dengan gangguan jiwa membuat gue patah hati dan merasa meyesal untuknya. Atau perannya di One Hour Photo sebagai maniak yang kesepian membuat gue gemas sekaligus bersedih. Death Poet of Society, House of D, Man of the Year, Death the Smoochy, Night Listener dan banyak banyak banyak.... lagi. Gue nggak pernah kecewa dengan actingnya. Ia bisa jadi siapa saja.


Lalu, beberapa tahun kemudian ketika gue kelas 2 SMA ada kejutan menyenangkan. Seorang teman Ibu yang tahu bahwa gue menyukai film-film Robin Williams menelepon untuk bertanya apakah gue sudah mempunyai VCD Mrs. Doubtfire. Dengan suka cita gue menjawab "belum" dan memintanya untuk membelikannya dulu lalu berjanji uangnya akan gue ganti. Gue bahagia bukan main, akhirnya setelah menunggu sekian tahun Mrs. Doubtife masuk ke dalam koleksi film gue :) Judul-judul lain pun sering gue tonton ulang, tapi tetap Mrs. Doubtfire jadi yang paling sering. Waktu kecil gue sempat memiliki kalender yang ditandai setiap kali gue menonton film itu (I know, kinda silly, lol). Tapi entah kenapa dihitungan ke 50 gue berhenti dan gue nggak ingat sudah berapa ratus kali totalnya gue menonton film itu :)

Gue berduka, sangat. Waktu perjalanan bekerja pun air mata gue beberapa kali keluar. Gue mengungkapkan perasaan gue pada Ibu, Bapak dan Ray, tapi nggak sama yang lain. Jika gue menangis meraung-raung, merengek dan marah karena Robin Williams pergi, itu artinya gue egois. Gue nggak boleh merasa jadi orang yang paling berduka sedunia, sementara ada keluarga dan kerabatnya yang pasti merasa lebih kehilangan. Gue putuskan untuk mengekspresikan perasaan gue dengan lebih positif, sebisanya. Koleksi film-film Robin Williams akan gue gunakan untuk membuat "A Week for Robin Williams", 1 minggu yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Gue beruntung lahir di masa kejayaannya, ketika ia bermain di banyak film. Tapi untuk anak-anak yang lebih muda dari gue, mereka mungkin hanya menonton filmnya beberapa tahun kemudian setelah dirilis. Atau malah baru mengenal filmnya justru ketika Robin Williams sudah pergi.

Jadi gue bawa beberapa VCD dan DVD Robin Williams ke preschool tempat gue bekerja. Gue memilih film-film harmless yang cocok dengan usia murid-murid gue yang masih di bawah 3 tahun. Mereka nggak mengenal film-filmnya, tentu saja, tapi meraka antusias ketika memilih judul film untuk movie time. Akhirnya film "Happy Feet" lah yang menjadi pilihan. Sengaja gue meredupkan lampu kelas dan membesarkan volume suara TV. Lalu gue melihat pemandangan yang luar biasa, anak-anak duduk dengan manis dan terpukau dengan suara Robin Williams. Ali, salah satu murid gue bahkan menggoyang-goyangkan kepalanya ketika mendengar Robin Williams bernyanyi. Dalam sejarah gue mengajar, ini adalah movie time yang paling sukses! Biasanya anak-anak selalu berlarian kesana-kemari setelah beberapa menit film dimulai, tapi Robin Williams ternyata berhasil membuat mereka terhipnotis. Gue ikut senang, meski dalam hati ada sedikit haru karena anak-anak nggak tahu bahwa pemeran Ramon (dan juga Lovelace) sudah meninggal... :)

Preschoolers juga nonton film Robin Williams :)

Ada beberapa teman yang mencoba menyinggung tentang penyebab kepergian Robin Williams pada gue. Karena reaksi gue terhadap kepergiannya mereka mengira gue nggak tahu apa-apa. Padahal mereka salah... Gue sudah tahu bahkan di hari ia pergi, tapi gue memang menolak membicarakannya. Gue sengaja nggak menonton TV, membaca berita atau melihat di internet tentang itu. Gue nggak mau melihat/membaca media yang memberikannya label-label atau judgement yang menyakitkan. Di hari pertama saja timeline gue sudah penuh dengan update tentang Robin Williams dari berbagai media, bahkan dari fans yang menyudutkanya. For God sake, ia sudah meninggal. Membaca beritanya bahkan membuat gue lebih sedih daripada menghadapi kepergiannya. Gue mengerti ia seorang public figure, tapi kenapa harus melupakan fakta jika ia juga seorang suami, seorang ayah, bagian dari sebuah keluarga yang sangat mencintainya. Gue nggak mau Bapak (yes, my dad), dibicarakan seolah beliau hanya objek, bukan makhluk hidup. Dan gue percaya keluarga Robin Williams juga nggak menginginkan ia dibicarakan seperti itu. Kita mungkin sering mendengar cerita tentang hidupnya dari media, tapi nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. 

Di hari terakhir "A Week for Robin Williams" gue menonton film favorit gue sepanjang masa, Mrs. Doubtfire. Gue masih tertawa ketika mendengar lelucon-leluconnya, masih merasa 'malu' ketika mendengar lelucon dewasanya :) Tapi arti filmnya ini jadi lebih dalam dari sebelumnya. Monolog Robin Williams tentang keluarga membuat gue tersenyum haru; 
''Beberapa keluarga hanya mempunyai Ibu, sementara keluarga lainnya hanya mempunyai Ayah. Mereka mungkin tak bertemu untuk beberapa hari, minggu, tahun... bahkan selamanya. Tapi selama masih ada cinta, kita akan selalu terikat menjadi sebuah keluarga."
Kepergian Robin Williams bukan berarti ia sudah nggak memiliki cinta, ini hanya sudah waktunya. Dan tulisan ini hanya ungkapan perasaan gue. Sebuah hadiah kecil yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Untuk seorang idola, dari seorang penggemar...



nb: Bapak bercerita waktu kecil film pertama yang gue tonton di bioskop adalah Alladin. Dan beberapa bulan yang lalu ketika gue menulis list film kartun 2 dimensi terbaik di majalah GoGirl gue memasukan Alladin ke dalam list. 
Ya, Alladin, salah satu film Robin Williams... Sungguh kebetulan yang manis :)

a fans,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 16 Juli 2014

AIDS Time: Yayasan AIDS Indonesia Roadshow to School-SMPN 178 Jakarta :)




Hai bloggies! Nggak seperti biasanya ya gue post di luar weekend, hehehe. Kebetulan hari ini gue sedang izin bekerja karena diundang sebagai bintang tamu di event nya Yayasan AIDS Indonesia, jadi sebelum tidur gue putuskan untuk share cerita singkatnya :)
Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa sejak tahun 2007 (atau 2006, ya? Lupa, lol) gue terdaftar sebagai relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Meskipun cukup rutin keep in touch dengan teman-teman di sana, tapi kehadiran gue semakin jarang karena kesibukan belakangan ini dan tentu saja karena jarak Bandung-Jakarta yang lumayan jauh. Jadi waktu mereka mengundang gue sebagai bintang tamu di event AIDS Time tadi siang, gue langsung mengiyakan meskipun sebenarnya gue sedang nggak libur, hehehe.

AIDS Time adalah kegiatan rutin yang diadakan oleh Yayasan AIDS Indonesia (YAI). Tempat dan temanya selalu berbeda, tapi tujuannya tetap sama yaitu mengedukasi masyarakat, terutama anak muda tentang HIV/AIDS. Kebetulan film Mika (inspired by Waktu Aku sama Mika) yang merupakan kisah hidup gue dan alm. Mika dipakai sebagai film yang diputar selama event AIDS Time, tapi baru di hari ini lah gue bisa bergabung :)

AIDS Time hari ini diadakan di SMPN 178 Jakarta. Karena macet dan sempat nyasar, gue yang diantar oleh Bapak baru datang 10 menit sebelum segmen gue dimulai. Sayang sekali, padahal sebelumnya sedang diputar film Mika, lho. Meskipun sudah puluhan kali menonton film itu, tapi rasanya selalu penasaran dengan reaksi orang-orang yang baru pertama kali menontonnya. Syukurlah rasa penasaran gue terobati, dari wajah-wajahnya teman-teman siswa SMPN 178 sepertinya menikmati film Mika. Thank God :)

Di segmen talkshow gue nggak sendirian, ada bintang tamu lain yang bernama Sheryl Sheinafia. Ia adalah seorang penyanyi yang telah mengeluarkan sebuah album yang sangat care dengan isu HIV/AIDS. Gue baru pertama kali bertemu dengannya, tapi langsung suka dengan suaranya :) 
Sebelum sesi tanya jawab gue sempat sedikit bercerita tentang latar belakang kenapa gue menulis novel "Waktu Aku sama Mika" dan kenapa gue peduli dengan isu HIV/AIDS. Waktu gue bercerita ternyata sebagian besar audience kaget karena baru tahu bahwa kisah gue dan Mika adalah nyata. Mungkin mereka terkejut karena gue sempat berpacaran dengan Mika yang ODHA sampai akhirnya ia meninggal. Tapi gue yakinkan mereka bahwa berpacaran dengan Mika bukan berarti gue kehilangan moment-moment seru. Gue tetap menilai Mika secara utuh karena menjadi ODHA bukan berarti berbeda seperti orang lain. He was the most grateful person I ever met. Semuanya mengenai kepribadian, bukan mengenai apa yang Mika idap.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab. Sungguh membanggakan, teman-teman SMPN 178 sudah tahu dengan apa saja yang bisa dan nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Meski sempat malu-malu tetapi mereka cukup kritis lho ketika mengajukan pertanyaan. Thumbs up untuk Yayasan AIDS Indonesia yang sudah membuat acara fun tapi kaya manfaat. Mudah-mudahan saja event rutin ini akan tetap berlangsung sehingga lebih banyak lagi anak muda yang peduli dengan isu HIV/AIDS. Karena menurut gue ini bukan hanya tentang bagaimana caranya untuk mencegah diri sendiri supaya nggak terjangkit. Tapi juga bagaimana caranya agar menghilangkan stigma atau judgement pada ODHA. Karena gue percaya obat yang paling ampuh untuk segala hal adalah kasih sayang dan tanpa prasangka buruk :)


sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi

Lihat foto lengkap dari kegiatan ini di sini.
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 21 Desember 2013

Semarang, Bagian Kedua: Bercerita tentang Mika di Charity Event "The Long Journey" :)


Howdy! Apa kabar teman-teman? Semoga semuanya baik-baik saja, ya ;)
Gue sekarang mau lanjutkan cerita yang sebelumnya, nih (klik di sini untuk membaca). Jadi setelah perjalanan 13 jam yang super seru itu akhirnya gue tidur dengan nyenyak di kamar hotel Rinjani. Mungkin karena tidurnya tepat 8 jam, pagi-pagi gue terbangun dengan segar, cerah, ceria dan bugar, hahaha. Pokoknya I'm really blessed that day, karena biasanya gue bukan morning person :p 
Setelah berganti piyama dengan dress hasil desain sendiri dan sarapan bersama Bapak, kami dijemput untuk menghadiri charity event "The Long Journey". *crossed fingers*

"The Long Journey" ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus) adalah project sosial yang diadakan oleh AIESEC Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya HIV/AIDS dan isu kanker, sesuai dengan tagline "Stop the Diseases Start the Action". Meskipun temanya serius, tapi konsepnya sangat ringan dan fun, karena media yang digunakan untuk mengenal HIV/AIDS adalah sebuah film! Yup, gue bangga sekali mereka menggunakan film Mika yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika", yang juga diambil dari perjalanan hidup gue dan almarhum Mika :) Penghasilan dari event ini juga akan digunakan untuk membantu pasien kanker di Semarang. Benar-benar keren, kan? :)

Begitu tiba di E Plaza berfoto dengan Dinda dan Enggar :)
Sebelum masuk ke teater.
(almost) the whole team! :)

Acara dimulai dengan nonton bareng film Mika di bioskop E-Plaza. Meskipun gue sudah menonton film ini belasan kali, tapi tetap masih ada perasaan deg-degan. Pertama, rasanya selalu aneh setiap kali melihat hidup gue diperankan dengan orang lain. Ke dua, meski lihat ribuan kali pun gue nggak pernah siap dengan kepergian Mika. Dan ke tiga... kali ini gue duduk di sebelah Bapak, hahaha :'p
Gue sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka menyukai filmnya atau nggak. Soalnya waktu film mulai diputar teater terasa begitu sunyi, nggak ada seorang pun yang bersuara. Sampai di adegan 'menari' gue baru dengar beberapa orang tertawa diikuti yang lainnya sampai seluruh teater. Oooh... ternyata penontonnya malu-malu, hehehe. Begitu sampai adegan mengharukan teater kembali sepi, lalu terdengar isak tangis dan komentar-komentar penonton. Gue yang bersusah payah menahan tangis dengan menutup mata akhirnya ikut menangis, karena meskipun nggak melihat tapi jadi teringat kembali adegan-adegannya. Atau lebih tepatnya flasback apa yang pernah gue lalui waktu bersama Mika :')

Waktu lampu teater menyala gue langsung mengelap air mata dengan tisu. Tapi ternyata bukan cuma gue saja yang terlihat dengan mata sembab. Gue lega ternyata penonton bisa masuk ke dalam kisah gue dan Mika meskipun hanya lewat filmnya. Mereka bahkan seolah masuk ke dalam kisah cinta kami. Ada beberapa komentar yang terlontar waktu adegan Mika ditolak oleh dokter gigi. "Kok jahat sih dokternya?" "Wah, melanggar hak asasi manusia, tuh," dan lain sebagainya yang bikin gue tersenyum haru :)

Setelah selesai nonton semuanya turun ke lounge untuk makan siang sambil dihibur oleh Paduan Suara UNDIP. Mereka keren, lho. Menghibur dan bikin kangen sama paduan suara gue dulu, hehehe. Sambil makan siang gue berkenalan dengan Om Dodok dari Cancer Information dan Support Center dan Om. Jonathan dari Rumah Damai. Dari mereka gue mendapat banyak cerita yang inspiratif. Istri Om Dodok adalah seorang cancer survivor, sempat ragu untuk berkeluarga tapi akhirnya sekarang dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu dan sehat-sehat. Sekarang mereka aktif memberikan penyuluhan mengenai kanker, agar msyarakat menjadi semakin care dengan kesehatan pribadi. Juga ada cerita dari Om Jonathan yang sempat drop tapi akhirnya bangkit karena meski statusnya sebagai ODHA, ternyata ia tetap bisa memberikan semangat pada orang lain. Salut! Oh, iya ngomong-ngomong Om Jonathan ini lucu, lho. Tiba-tiba ia duduk di sebelah gue dan tanpa basa-basi langsung minta Om Dodok mengambil foto kami, hahaha. Gue sampai kaget. Katanya ia punya DVD fim Mika, dan tadi waktu di teater adalah kali ke sekian ia menontonnya. Bapak juga ikut mengobrol bersama kami. Karena Om Dodok juga punya 2 orang putri, jadi ia banyak bertanya pada Bapak soal tips parenting. Ada pertanyaan yang menarik dari Om Dodok tentang bagaimana pendapat Bapak mengenai hubungan gue dengan Mika dulu. Surprise, Bapak menjawab begini, "Anak jangan terlalu banyak dilarang, biar saja kalau ia mau mengenal siapapun."
Ah, that's my Daddy! :*

Paduan Suara UNDIP.

Karena keasyikan ngobrol hampir saja gue nggak sadar kalau sudah dipanggil untuk naik ke atas panggung, hehehe. Ini adalah sesi sharing, gue bercerita mengenai masa pacaran dengan Mika sewaktu masa SMA. Tentang bagaimana kami berburu kaset rock and roll bekas, tentang cerita-cerita Mika yang konyol, tentang pengalaman pertama gue diajak naik angkot untuk pertama kali (hehe) dan masih banyak lainnya. Well, ya masa-masa pacaran gue memang nggak jauh berbeda dengan remaja lainnya meskipun Mika adalah ODHA. Waktu itu gue juga sama sekali belum tahu apa itu HIV/AIDS. Gue hanya tahu kalau itu adalah penyakit, sama seperti pilek, sakit kepala atau batuk.



Setelah Mika meninggal gue menjadi relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Di sana gue banyak belajar tentang HIV/AIDS. Dan apakah anggapan gue tentang penyakit itu jadi berubah? Nope! Nggak. Ternyata selama ini gue memang benar. HIV sama saja seperti pilek. Kita bisa kena pilek karena kebanyakan makan es krim, tapi bisa juga karena tertular dari orang lain. Jadi nggak ada alasan untuk menjauhi orang-orang seperti Mika. Dulu gue sempat dijauhi teman-teman karena berpacaran dengan Mika. Bahkan ada gosip yang bilang bahwa gue juga ketularan oleh Mika. Padahal HIV nggak semudah itu menular.

Semakin lama gue jadi semakin mengerti. Stigma itu munculnya dari prasangka, dan itu hampir selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari, bahkan dimulai dari hal kecil. Contohnya seperti yang gue tadi sebutkan, waktu ada orang kena pilek kadang langsung di judge habis kebanyakan makan es krim. Padahal yang diinginkan orang sakit ya hanya sesimpel ucapan "get well soon", bukan malah dicerca dengan macam-macam pertanyaan dan prasangka. Gue sendiri pernah mengalaminya. Waktu kuliah ada seorang dosen yang berkata bahwa gue pasti scoliosis karena kebanyakan bawa beban terlalu berat. Dan baru-baru ini gue sering sekali dinasehati buat nggak makan junk food karena baru kena tumor payudara. Ya, mungkin mereka bermaksud care, tapi care bukan berarti harus judging, kan? Gue sering mendapat email yang berisi seperti ini,
"Hai Indi, Mika dulu pakai narkoba ya makanya kena AIDS?"
Wow, that's really uncool and rude! :(

Gue nggak bertanya pada Mika kenapa ia bisa terkena AIDS. Buat gue itu nggak penting karena yang gue lihat Mika orang baik dan selalu positif ketika bersama gue. Gue belajar banyak hal darinya, terutama tentang menjadi diri sendiri. Mika berkata bahwa yang terbaik itu mengikuti kata hati, bukan kata orang lain. Dan gue terus begitu sampai sekarang selama nggak melanggar norma-norma dan menyakiti orang lain. Gue juga masih berhubungan baik dengan teman-teman Mika, dan sedikit banyak gue jadi mendengar tentang masa lalunya. Tapi itu sama sekali nggak mempengaruhi penilaian gue tentang Mika, karena jika ada hal buruk... the past is the past, just forget it and move on. Setiap orang punya hak untuk untuk dinilai dengan apa yang dilakukannya hari ini :)

Waktu sesi sharing gue sedikit berapi-api karena tiba-tiba teringat apa yang sudah Mika lalui dan masih terbawa suasana di teater. Little bit teary, tapi dengan Puput sebagai MC yang berkarakter kocak gue jadi nggak pernah lupa untuk tersenyum, hehehe. Gue juga mendapat beberapa pertanyaan dari audience. Ada yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan jika hidup serumah dengan ODHA. Menurut gue yang paling tepat adalah memperlakukan ia seperti anggota keluarga yang lain. Sederhana, tapi itu adalah perasaan yang paling nyaman sedunia. Gue bukan ODHA tapi sejak kecil gue terkena scoliosis. Harus pakai brace 23 jam per hari, terapi ini-itu dan nggak boleh ini-itu. Waktu gue dibedakan dengan saudara-saudara yang lain rasanya bikin gue sedih, tapi jika orang-orang berlaku seolah brace gue itu invisible, gue merasa nyaman dan dihargai. Dan gue yakin itu berlaku untuk semua orang, termasuk ODHA :)

Sesi sharing dan tanya jawab berlangsung dengan lancar tapi tetap fun. Dari percakapan antara gue dan audience rasanya apa yang menjadi poin gue sudah cukup tersampaikan :) Gue lega karena semuanya begitu antusias dan mengaku nggak lagi takut dengan HIV/AIDS. 
Sesi gue ditutup dengan penyerahan penghargaan oleh Jefry selaku Organizing Committee President ROAR +. Setelah itu diikuti oleh Om Dodok dan Om Jonathan yang juga diberikan penghargaan. Gue langsung pamit untuk kembali ke hotel karena nanti malam akan langsung pulang ke Bandung. Tapi ternyata gue sudah ditunggu dengan teman-teman yang ingin mengajak foto bersama! :)





***

and the award goes to...
Om Dodok dari Cancer Information and Support Center.
Om Jonathan dari Rumah Damai.
Salah satu penerima penghargaan juga, yang ---silly me--- nggak sempat berkenalan padahal duduk berdekatan :p

Terharu sekali karena banyak dari mereka yang membawa novel-novel gue untuk ditandatangani. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kota Pati dan sengaja menyempatkan ke E-Plaza Semarang untuk bertemu gue. Juga ada surprise, beberapa scolioser dari MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga ikut datang! Wah, kehadiran mereka sampai-sampai bikin gue hampir lupa kembali ke hotel, karena di sela foto-foto kami juga sempat berbincang singkat dan berkenalan :) Bapak lalu mengingatkan bahwa waktu sudah semakin sore. Gue berpamitan dan kembali ke hotel dengan perasaan yang sangat senang. Senang acaranya berjalan dengan lancar, senang mendapat teman-teman baru, dan senang karena bisa berbagi cerita-cerita kebaikan tentang Mika. Thank God :)

Thank God :)
Teman-teman MSI Semarang. Hore! :)
:)

Ketika sampai di hotel handphone gue bunyi, ternyata ada SMS dari Om Jonathan. Isinya seperti ini, "Sharing nya bagus banget, Indi. Thanks for your share, Bless you, Indi." 
Dan itu membuat perasaan senang gue bertambah berkali-kali lipat karena kata-kata itu datang dari seseorang yang pernah mengalami apa yang Mika alami :)
Salut untuk AIESEC UNDIP atas ROAR+ project "The Long Journey" nya yang telah membuat acara positif untuk remaja dengan cara santai dan fun. Gue harap akan ada acara-acara seperti ini lagi selanjutnya agar lebih banyak lagi orang yang care tanpa harus judging! :)

Koran "Wawasan" 18 Desember 2013 :)

sugar-nya Mika,

Indi


baca juga artikel mengenai acara ini di suaramerdeka.com di sini.
______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contacr person: 081322339469

Senin, 13 Mei 2013

Oh, my God, Oh, my God! Gue Lollipop Girl nya Mika! :)

Hai bloggies! Apa kabar? Ini hari senin, mungkin beberapa diantara kalian ada yang sudah mulai masuk sekolah, bekerja atau malah masih punya 1 hari libur ekstra? Hehehe. Gue sendiri sedang menikmati hari libur terakhir, sudah berpiyama setelah makan malam dan sekarang duduk di depan komputer :) Mungkin ada yang sempat membaca/masih ingat dengan post-post gue sebelumnya yang menceritakan tentang kebingungan gue untuk memilih konser Aerosmith atau Mika yang akan diadakan di hari yang sama. Well, ternyata konser Mika dimajukan dan gue sangat senang karena bisa menonton keduanya. Tapi ternyata ada kabar buruk, konser Aerosmith batal dan gue menerima kabar tersebut hanya 2 jam setelah interview di Global Radio Jakarta tentang penyambutan band rock legend tersebut. That was really really really... sad... :'( Gue sudah menunggu konser ini sejak masih berusia 7 tahun dan memikirkan kapan kesempatan ini akan datang lagi membuat perasaan gue nggak karuan. Gue bahkan nggak terlalu memikirkan konser Mika lagi. Meski tiket sudah dibeli 2 bulan sebelum konser, satu hari menjelang hari H gue masih belum tahu dimana tiket bisa ditukarkan, jam berapa konser dimulai dan dimana konser akan diadakan...

Mika juga idola gue, tapi mungkin karena baru mengenalnya selama 6 tahun jadi perasaan sedih karena konser Aerosmith batal menutup segala ke-exited-an untuk menghadiri konsernya. Gue menghindari mendengar CD Aerosmith dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka. Setiap gue pergi ke tempat kerja di perjalanan gue mendengar CD-CD lain seperti Red Hot Chili Peppers, Queen dan... Mika. Meski perasaan sedihnya masih ada, tapi cukup berhasil untuk membuat gue berhenti membicarakan Aerosmith. Setiap hari gue diantar Bapak, jadi menghindari obrolan tersebut sangat sulit. Mendengarkan CD-CD Mika secara berulang-ulang ternyata membuat memori gue kembali ke 6 tahun lalu, dimana gue pertama kali memutuskan untuk membeli album pertamanya dan mulai mengidolakannya. Tepat semalam sebelum konser Mika tiba-tiba gue mengambil keputusan: Okay, gue akan bersenang-senang di konser Mika dan gue akan menjadi Lollipop Girl!



Yup, dan gue pun berusaha mewujudkan keinginan gue untuk jadi Lollipop Girl dalam satu malam. Oh, iya "Lollipop Girl" adalah icon dari lagu Mika di album pertamanya "Life in Cartoon Motion" yang digambarkan sebagai seorang gadis pirang berponi yang memakai dress berwarna pink. In case jika diantara kalian ada yang belum tahu :) Sebenarnya gue sudah punya dress yang mirip dengan Lollipop Girl versi kartun, tapi setelah googling ternyata dress Lollipop Girl versi real agak berbeda dengan yang kartun. Dengan bantuan Ibu gue membuat desainnya, mencari kain yang tepat dan menjahitnya. Dress Lollipop Girl gue pun selesai hanya 7 jam sebelum konser!
Segera setelah itu gue mencoba dress-nya dan langsung pergi ke Jakarta dengan Bapak. Dress Lollipop Girl digantung di bangku belakang mobil dan gue memakai dress santai, berharap bisa tidur di perjalanan karena kurang istirahat. Ibu bilang gue harus bersenang-senang dan jangan biarkan Aerosmith merusak hari gue. Hehehe, iya Ibu, iya :)

Pagi-pagi sebelum berangkat, mencoba dulu dress Lollipop Girl :)

Perjalanan terbilang sangat lancar (atau Bapak bilang, "terlalu lancar", lol), jam 1 siang kami sudah sampai di Jakarta sementara konser baru dimulai jam 8 malam. Nggak sulit menemukan Gandaria City karena semalam gue sempat print petanya dari internet. Tempat penukaran tiket masih sangat sepi, hanya ada 3 orang lain di sana. Tapi what a surprise, ada beberapa fans Mika dari "Mika for Indonesia" yang sudah menunggu di antrian masuk venue! Wah, dunno why pemandangan ini membuat gue tersenyum. Mereka ternyata mengenali gue karena pernah membaca blog ini. Setelah sedikit bertukar sapa dan gue bertanya-tanya sedikit tentang konsernya, gue menandatangani spanduk bertulisakan "Terima Kasih Mika" yang rencananya akan diberikan pada Mika. Suasana hati gue langsung berubah drastis, dan itu membuat Bapak lega. Katanya konser ini pasti menyenangkan karena gue akan bertemu dengan banyak teman baru.

Karena konser masih sangat lama, kami putuskan untuk berjalan-jalan dulu. Kami mampir ke Gramedia dan melihat-lihat buku baru. Sekalian melihat novel-novel gue juga, hehehe. Nggak disangka-sangka di sana ada sekelompok remaja yang menyapa dan mengajak berfoto karena mereka adalah pembaca novel-novel gue. Aww, sweet... Ternyata Bapak benar, gue akan bertemu dengan banyak teman baru :) Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang. Sengaja kami makan lama-lama karena nggak mau menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan akhirnya malah membeli sesuatu. Maklum gue suka nggak tahan kalau lihat toko CD dan pernak-pernik perempuan, hihihi. Tapi ternyata meski kami berusaha untuk lama-lama, sudah diselingi ngobrol dan santai-santai, waktu masih jauuuuh sekali ke jam 8 malam. Ya sudah kami putuskan untuk kembali ke mobil dan... tidur! Hahahaha...

Jam 6 sore meskipun masih sangat mengantuk gue putuskan untuk mengecek antrian menuju venue. Bapak bilang gue jangan dulu ganti baju karena waktu 2 jam itu masih lumayan lama. Tapi ternyata antrian sudah lumayan panjang dan teman-teman dari "Mika for Indonesia" sudah menagih dress Lollipop Girl gue, hehehe. Mereka meminta gue untuk segera memakai dress-nya dan foto bersama. Ya, sudah kami kembali lagi ke mobil, gue mengganti dress di bangku belakang dan kembali lagi untuk berfoto :) Gue dan Bapak mengantri jauh di belakang "Mika for Indonesia" karena kami berada di blue line sedangkan mereka di green. Sempat terpikir untuk meng-upgrade tiket, tapi urung karena ternyata penonton nggak terlalu padat.

Bersama Mika for Indonesia

Gue yang sudah memakai dress Lollipop Girl jadi mudah dikenali, banyak yang memanggil gue dengan nama "Lollipop" dan lucunya mereka bertanya apakah rambut gue asli atau wig, hahaha. Ini menyenangkan karena mengantri dan menunggu bukan kesukaan gue. Dan dress Lollipop Girl ini membantu gue mendapatkan teman mengobrol :) Lalu tiba-tiba saja ada seorang kru dari sebuah stasiun TV menghampiri gue. Dia bertanya apakah gue bersedia diwawancarai untuk program fashion street di NET TV, stasiun TV nasional yang akan launching 16 Mei nanti. Tentu saja gue bersedia. Dress ini dibuat dengan bersusah payah dan hanya dalam waktu semalam, akan menyenangkan jika Ibu tahu dress buatannya banyak dikagumi :) 


Akhirnya kami semakin mendekati venue yang berada di Skenoo Hall. Gue semakin merasa nyaman dan nggak terlalu mempermasalahkan karena harus menunggu sambil berdiri. Bagaimana nggak, gue sudah kenal dengan orang-orang yang menganti di depan, belakang dan samping gue, hehehe. Kami hampir nggak bisa berhenti mengobrol! :) Di tengah obrolan gue dihampiri oleh kru Trans 7, mereka ingin mewawancarai gue. Dengan senang hati gue iya-kan dan gue diminta untuk menceritakan kenapa memilih untuk menjadi "Lollipop Girl". Gue bercerita bahwa sejak album "Life in Cartoon Motion" keluar, selain Grace Kelly, Lollipop lah yang paling mencuri perhatian gue. Apalagi setelah tahu bahwa lagu ini mempunya icon yang manis. Langsung saja gue ingin menjadi Lollipop Girl dari Indonesia, hehehe. Wah, ternyata dress ini membawa banyak berkah dan kebahagiaan. Gue bersyukur karena memutuskan memakai dress ini, padahal awalnya gue akan memakai dress seperti gadis di video clip Grace Kelly. Ternyata Lollipop Girl adalah icon yang paling mudah dikenali ya meskipun setelah itu masih ada 2 album Mika yang baru! :)



Waktu mengantri jadi semakin nggak terasa, gue dan teman-teman baru diajak untuk berfoto di booth Close Up. Lalu gue ditawari untuk membuat video testimoni konser Mika. Lucky me, gue mendapatkan hadiah power bank disaat hand phone gue low batt, hehehe. 10 menit kemudian gue, Bapak dan yang lainnya sudah berada di dalam venue. Sampai di dalam venue pun ternyata masih banyak yang meminta gue untuk berfoto. Well, sepertinya nggak ada yang tahu nama asli gue. Semuanya hanya bertanya, "Lollipop boleh foto?" dan langsung mengambil foto meskipun terkadang gue nggak siap, lol. Tapi gue sama sekali nggak terganggu karena mood gue sangat-sangat-sangat bagus. Sebentar lagi gue akan bertemu dengan idola gue. Hore! :)


Teman-teman baru :)
Dapat hadiah :)

Salut, konser dimulai hampir tepat waktu. Mika muncul dengan menggunakan celana hitam, kemeja putih, jas hitam dan topi hitam. Bapak bilang dia kelihatan tampan, tapi menurut gue yang seperti itu namanya "cute", hahaha. Gue nggak bisa  berhenti bernyanyi dan menari, semua lagu yang Mika bawakan adalah yang gue suka. Ehmm, sepertinya memang gue hampir suka semua lagunya, sih :p Di saat penonton lain sibuk mengacungkan kamera dan HP untuk mengabadikan konser, gue sama sekali nggak terpengaruh. Gue hanya ingin menikmati konsernya, dan waktu 2 jam pasti terasa sebentar sekali. I don't want to miss a thing deh pokoknya (oops, kok jadi judul lagu Aerosmith, ya? Lol)

Bapak juga ikut bersenang-senang, lho.

Ini adalah konser pertama gue. Gue memang bukan orang yang suka dengan keramaian, tapi gue berjanji jika itu untuk Aerosmith gue rela beramai-ramai. Dan di konser Mika ini, ajaibnya nggak terlalu padat, masih banyak space yang tersisa. Kalaupun gue mau duduk-duduk masih bisa, AC pun sangat terasa, sama sekali nggak gerah :) Di konser ini juga gue akhirnya merasakan "merinding" moment, hehehe. Itu lho moment ketika idola kita menyanyikan lagu yang pas sekali dengan suasana hati. Dari sekian banyak lagu hanya "Origin on Love" yang membuat gue meneteskan air mata tanpa sadar. Gue sampai harus menghapus air mata beberapa kali karena terus keluar sampai lagu selesai. Suddenly I miss my Mika. Iya, my Mika, my hero, my AIDS fighter. Lagu ini membuat gue teringat dengan kenangan-kenangan manis yang gue lalui bersamanya. Juga tentang betapa polosnya gue di masa-masa itu. Ah... :') Gue menoleh ke arah Bapak, jaga-jaga takut disangka konyol gue langsung pasang wajah serius dan bilang, "Aku ingat Mika aku, ya, bukan yang lagi nyanyi sekarang". Hahahaha :)


Di tengah konser tiba-tiba gate pembatas green dan blue dibuka. Guess, what, gue dan Bapak termasuk yang beruntung untuk pindah ke green! Wah, gue senang bukan main. Tuhan maha baik, niat gue untuk upgrade tiket ternyata dikabulkan dengan cuma-cuma :D Jarak gue dan Mika dekat sekali, hanya terhalang 1 lapis pagar dan tepat di samping panggung. Bapak sempat mengambil foto gue yang dekat sekali dengan Mika, tapi hasilnya konyol karena lengan gue melingkar di pagar sambil sibuk menyanyi. Hahaha, salah-salah disangka pemandangan di kebun binatang :p Sampai konser selesai kami nggak pindah tempat dan tetap di sana sampai venue sepi dan sebagian besar penonton pulang. Gue masih amaze dengan pertunjukan tadi. Meski Mika nampak terburu-buru karena harus langsung ke X Factor, tapi dia tampil sangat maksmimal. Suaranya sebagus di CD!


Proud Lollipop Girls all around the world. Am I the only Asian? :p


Gue bertemu kembali dengan teman-teman "Mika for Indonesia", mereka beruntung jadi choir dadakan untuk mengiringi beberapa lagu Mika, hehehe. Kami langsung sibuk bertukar cerita tentang keseruan konser tadi. Dari mereka gue jadi tahu bahwa sebelum Mika membawakan lagu "Lollipop" mamanya dan Yasmine kakaknya bertanya tentang perempuan yang memakai dress Lollipop Girl. Oh, my God! It was me!!! Katanya mamanya dan Yasmine sudah diberitahu bahwa nama gue Indi, tapi sayang mereka nggak bisa menemukan gue karena sebelum pindah  gue masih berada di tengah kerumuman. Wah... sayang sekali gue melewatkan kesempatan bertemu mereka... Gue jadi agak sedih, apalagi kru dan security (sepertinya) nggak percaya dengan cerita  mereka. Padahal, kami nggak memaksa untuk bertemu hanya minta disampaikan bahwa gue masih di sini, belum pulang in case mamanya Mika atau Yasmine bertanya.

Tapi ya sudah, perjalanan gue dan Bapak menuju rumah kan masih sangat panjang, 4 jam. Yang penting gue sudah berusaha menyampaikan :) Sebelum benar-benar keluar venue ada beberapa penonton yang mengajak gue untuk berfoto. Sebenarnya agak malu karena rambut gue sudah acak-acakan, hehehe. Tapi berhubung mereka sangat ramah (malah ada yang menenangkan gue dengan bilang, "nggak apa-apa kamu masih kelihatan seperti Lollipop Girl, kok", hehe) gue jadi merasa nyaman. Bapak malah bergurau kalau tadi beliau menghitung totalnya ada lebih dari 40 orang yang mengajak gue berfoto. Hahaha, ada-ada saja :)

Gue dan Bapak menuju tempat parkir. Meskipun toilet masih ada yang buka tapi gue sengaja nggak mengganti dress Lollipop Girl dengan baju ganti. Gue masih tersenyum-senyum membayangkan apa yang sudah gue alami. Dress ini benar-benar penuh berkah dan kebahagiaan. Gue juga jadi belajar bahwa seharusnya nggak terlarut dengan kesedihan "Aerosmith". Beruntung, bersyukur gue memberikan Mika kesempatan untuk membuat gue bahagia malam ini, karena jika nggak mungkin gue masih stuck dengan kesedihan gue.

 

Sambil terkantuk-kantuk gue mendengar Bapak bicara, "Eh, tahu nggak, tadi waktu kamu sibuk foto-foto ada ibu-ibu bule yang lihatin kamu terus. Dia sepertinya mau menyapa, tapi kamu sibuk. Dia senyumin kamu sekilas terus masuk ke belakang panggung".
Tiba-tiba kantuk gue hilang. Gue jadi teringat dengan cerita tentang mama dan kakaknya Mika tadi. Cepat-cepat gue buka HP dan mencoba beberapa kata kunci di google. Setelah keluar hasilnya gue tunjukan fotonya pada Bapak.

"Nah, iya... Itu yang tadi lihatin kamu. Memang itu siapa?"
Mata gue langsung melotot, kalau saja ini sinetron wajah gue pasti sudah di shoot zoom in-zoom out...
Oh, my God... Oh my God... It was his Mom... IT WAS MIKA'S MOM!!!
*pingsan*


lollipop girl,

Indi
foto Mika di atas panggung by Nanda.

Facebook: here | Twitter: here | Contact Person: 081322339469