Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Selasa, 17 Mei 2016

"Indi's Scoliosis Life" di Rubrik CHAT Belia Pikiran Rakyat! :)

Yuhuuuuu, howdy-do my bloggies friends?! :) 
Hihi, rupanya sudah 13 hari ya gue nggak share cerita di sini. Sebetulnya sih pengen cerita ini-itu, tapi rupanya si "meltdown moment" masih mempengaruhi mood (---really guys, it is THAT bad, sampai-sampai ini mata langsung kena efek kelilipan kalau ingat ke sana, lol). Sekarang mumpung gue sedang cukup relax dan happy, (---gimana nggak happy kalau ada setoples permen dan iced capuccino di atas meja, hihihi) gue mau cerita tentang pengalaman beberapa waktu yang lalu, nih. Hmmm, teman-teman sudah ada yang tahu belum ya kalau gue punya series di YouTube dengan judul "Indi's Scoliosis Life"? Kalau belum, gue ceritakan sedikit. Jadi series ini berisi diary gue sebagai seorang scolioser atau pengidap scoliosis, ---kondisi tulang belakang yang melengkung ke arah samping. Selain berbagi pengalaman sehari-hari, gue juga berbagi tips untuk sesama scolioser dan mudah-mudahan bisa meningkatkan awareness untuk non-scolioser. Usia series ini sebenarnya masih bisa dibilang baby karena baru 4 bulan, hihihi. Makanya surprise banget waktu tahu ada media yang ingin meliput tentang Indi's Scoliosis Life! :)

Waktu dihubungi oleh tim Belia untuk wawancara, gue langsung mengira akan diminta bercerita tentang karya-karya tulis gue atau tentang film Mika seperti yang sudah-sudah. Tapi melalui SMS gue diberitahu bahwa rupanya mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang series yang gue buat di YouTube. Perasaan gue jadi heran campur senang (banget!). Soalnya dibandingkan dengan video-video cover ukulele, series ini memang belum terlalu populer. Jadi entahlah apa pertimbangan mereka untuk mengangkat tema ini. Yang pasti gue sih dengan senang hati menyambut Belia datang ke rumah. Siapa tahu saja artikelnya bisa bermanfaat bagi teman-teman pembaca, terutama bagi mereka yang juga mengidap scoliosis :)
Oh, iya nama Belia mungkin belum terlalu familiar, tapi jika menyebut nama Pikiran Rakyat, ---koran harian terbesar di Jawa Barat sudah pasti banyak kenal. Belia adalah sisipan dari Pikiran Rakyat yang memiliki segmen pembaca remaja dari usia SMP sampai SMA. Artkel tentang gue dan series YouTube gue ada di edisi yang terbit hari selasa, 10 Mei 2016 lalu. Karena nggak semua orang berlangganan Pikiran Rakyat, sekarang gue akan share isi artikelnya di sini. Selamat membaca! ;)

***


"About Indi's Scoliosis Life"

Kamu mungkin udah cukup familiar dengan sosoknya, bisa dari bukunya, film yang diadaptasi dari bukunya, blognya, video YouTubenya, atau style khasnya yang ceria nan menggemaskan. Cewek yang dikenal dengan nama Indi Sugar ini memang multitalenta dan menginsprasi. Pekan lalu, kru belia sengaja mampir ke rumah Indi buat ngobrol. Fans Red Hot Chili Peppers yang bergelar finalis Kartini Next Generation 2015 dari Kemenkominfo ini nggak ragu-ragu berbagi tentang skoliosis, penyakit (koreksi: kondisi) yang diidapnya sejak remaja. Nih, simak obrolan lengkapnya....

Halo Indi! Lagi sibuk apa nih?
Hai! Lagi lanjutin naskah buku kelima, memenuhi undangan-undangan jadi speaker, sama masih tetap ngedesain aja nih. Sama ngurus channel YouTube; Indi Sugar Taufik.

Buku kelima kapan terbit dan tentang apa sih?
Sebenernya ini naskahnya udah mau selesai. Cuma beberapa waktu lalu ada kecelakaan, file-nya menghilang gitu huhu. Untungnya nggak dari awal. Ya, jadi mungkin terbitnya beberapa bulan lagi deh. Tidak dalam waktu dekat. Nah, buku kelima ini pokoknya segmennya lebih ke teenagers. Judulnya Indi dan Rockstar dari Tenda Sirkus.

Tentang channel YouTube-mu nih, sejak kapan dibuat dan apa yang melandasinya?
Hmm sebetulnya channel itu udah lama banget, dari 2011. Waktu itu aku juga nggak ngerti-ngerti banget. Tujuan aku bikin channel adalah untuk komentar di video orang lain tanpa menjadi anonim. Lama-lama aku ngerasa, kenapa nggak bikin video sendiri juga? Akhirnya 2015 lalu aku upload video cover lagunya John Frusciante, videonya sederhana direkamin sama bapak di kamar. Hahaha. Ternyata viewers-nya sampai ribuan gitu. Lalu aku tergugah buat menjadikan ini serius, bikin sesuatu yang bermanfaat juga buat yang nonton.

Seperti apa?
Di channel aku ada cover ukulele dan aktivitas aku, misalnya ketika jadi speakers, ada semacam series namanya Indi's Scoliosis Life.

Ah. iya... Itu menarik banget. Kok kepikiran sih bikin Indi's Scoliosis Life?
Hahaha kenapa ya? Oh, gini.... Waktu itu aku lagi jalan-jalan di YouTube, terus ada temenku yang seorang quadriplegic (lumpuh dari dada ke bawah) dan dia selalu sharing tentang kondisi dia. Aku pun terinspirasi, kenapa aku nggak melakukan hal yang sama? Apalagi skoliosis itu penyakit (koreksi: kondisi) yang cukup common di Indonesia, terutama di kalangan anak perempuan. Soalnya, waktu umurku 13 tahun, aku juga berharap ada orang yang melakukan ini; buat channel YouTube, berbagi soal kondisinya, dan bikin aku ngerasa nggak sendiri. Ya udah, aku buat deh. Respons orang ternyata positif, aku mulai dapet banyak respons terutama dari scolioser juga. Itu bikin aku semangat.

Apa aja sih yang dibagi sama para viewers di serial itu?
Banyak, salah satunya tentang melewati masa-masa sekolah sebagai scolioser. Banyak remaja yang merasa jadi punya banyak masalah terutama dalam pergaulan gara-gara skoliosis. Padahal tuh bukan skoliosisnya yang jadi penyebab, melainkan kitanya yang jadi nggak pede dan menutup diri. Terus soal terapi-terapi juga.

Kira-kira bakal ada apa lagi nih di Indi's Scoliosis Life dalam waktu dekat?
Aku bakal bahas soal outfit buat prom night. Jadi, aku akan kasih tips tentang dress yang nyaman dan apa aja yang bisa gantiin high heels karena kalau scoliosis kan nggak boleh pakai itu. Tunggu aja, ya!


***

Yay! Sekian artikelnya, ---lumayan juga nih ngetiknya bikin pegal, hehehe. Tadinya mau gue scan supaya lebih mudah, tapi ternyata scanner di rumah sedang error :( Tapi anyway, gue happy kok mengetik ini semua. Ini adalah kali pertama series "Indi's Scoliosis Life" diliput oleh media dan gue puas dengan hasilnya. Nggak mellow dan lebay meskipun membahas tentang scoliosis. ---Tuh, buat media lain coba ditiru ya :p Dengan membaginya di sini juga akan mengingatkan gue agar terus konsisten dan berusaha membuat episode-episode berikutnya menjadi lebih baik. Doakan saja semoga series "Indi's Scoliosis Life" panjang umur agar gue bisa terus berbagi. Dan jika teman-teman ingin menonton "diary" gue, bisa buka link ini :)

cheers,
Indi

______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469



Kamis, 05 Mei 2016

Jadi Juara 2 di Unstoppable Fashion Styling Competition. Loh, Kok Bisa? :D

Hey bloggies, hey! Apa kabar semuanya? Semoga semuanya baik, ya. Dan... sedikit irrelevant, kali ini gue posting bukan di waktu weekend, hehehe. Well, sebenarnya sih gue ingin menulis sejak hari minggu lalu. Tapi berhubung agak kelelahan dan ada "meltdown moment" (sniff...) jadi baru bisa sekarang :) Ngomong-ngomong kalian pernah nggak sih akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dan waktu moment nya tiba baru sadar kalau, ---"OMG, what the heck am I doing here??" ---dan yang kalian inginkan hanya kabur karena benar-benar blank dengan apa yang harus dilakukan? Ehmm, gue pernah. Sering kali tepatnya, lol. Terkadang gue memang terlalu spontan, setuju untuk melakukan sesuatu padahal belum punya pengalaman. Seperti yang gue alami 1 Mei 2016 kemarin...

Beberapa waktu sebelumnya gue melihat iklan "Unstoppable Fashion Styling Competition" di Facebook. Murni karena penasaran gue klik page iklannya dan membaca persyaratannya. Untuk usia sih memenuhi syarat, tapi soal jago mix and match dan punya style unik tentu diragukan, hehehe. Kemampuan gue untuk memadukan warna lebih cocok dibilang random daripada 'kreatif' (lol) dan style gue sejak dulu juga sepertinya begini-begini saja, not so unique lah. Tapi entah keberanian darimana, gue akhirnya mendaftar! Waktu itu gue pikir lihat saja nanti, kalau takut tinggal kabur, hehehe. Lagipula acaranya juga di salah satu mall Bandung, jadi bisa sambil berjalan-jalan mumpung weekend. Diluar dugaan waktu hari H tiba cerita tentang "Si Indi mau ikut fashion show" ternyata sudah menyebar dari mulut Ibu (aduh!). Yang tadinya mau pergi diam-diam berubah jadi beramai-ramai. Tante, Ray, adik, ipar, keponakan dan Ibu semuanya ikut. Nggak bisa mundur lagi deh kalau gini ceritanya, hehehe.


Unstoppable Fashion Styling Competition by Laurier yang gue ikuti ini merupakan rangkaian dari Fimela Fest 2016 yang diadakan di beberapa kota besar. Untuk di Bandung diadakan di mall Festival Citylink yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah gue. Cukup santai, jam 12 siang kami sudah sampai di lokasi dan gue langsung registrasi ulang. Rupanya untuk Unstoppable Fashion Styling baru akan berlangsung jam 3 sore, jadi kami bisa bersantai sambil makan donat, hehehe. Ehm, jujur nih gue lumayan pesimis karena waktu melihat peserta lain yang mulai berdatangan, mereka kebanyakan memakai makeup dan well prepared. Sedangkan gue, ---ya just being me, nggak ada yang istimewa. Bahkan Tante sempat becanda kalau gue bisa-bisa kalah karena sepatu gue sudah kelewat kumal! :D Tapi akhirnya gue putuskan untuk que sera, sera, ---whatever will be, will be. Lebih baik gue menikmati saja. Nggak perlu khawatir dengan noda kecil karena ketumpahan topping donat atau lupa bawa sisir. Sayang kan kalau moment jarang bisa ditemani sama 1 rombongan gini malah dihabiskan dengan deg-degan ;)


Mungkin karena enjoy gue jadi lebih relax dan "tanpa beban". Sementara yang lain touch up, gue baru menyusul ke backstage di menit-menit terakhir. Setelah berada di sana gue malah ingin cepat-cepat dipanggil karena mendadak excited dan... kaki gue pegal! :D Setelah sekitar 10 menit akhirnya pintu backstage ditutup dan seluruh peserta yang jumlahnya sekitar 30 orang dan diberikan sedikit pengarahan. Ada koreografi standar yang harus diikuti, tapi dasar mantan model abal-abal, gue malah lupa 5 menit kemudian, hahaha. Oh, by the way, gue lupa menyebutkan. Sebelum pergi gue mendadak ingin membawa serta si ukulele kesayangan padahal agak fals karena belum di stel. Tapi Bapak bilang it's okay, yang penting gue bisa melihat sesuatu yang "akrab" kalau-kalau gue nervous. Dan berhubung ukulelenya terlanjur ikut ke backstage, nanti akan gue ajak sekalian saja ke panggung. Akan diapakan? Well... gue juga nggak tahu sampai gue benar-benar berada di atas panggung.

Nomor urut gue dipanggil dan dengan "not so model like" gue melangkah di atas catwalk. Salah satu MC menyebut gue sebagai "Peserta nomor 15 dan ukulele nya", dan AHA! Tiba-tiba gue mendapatkan ide. Gue gunakan ukelele lebih dari sekedar pelepas nervous tapi juga sebagai penunjang penampilan. Jadi alih-alih berpose gue memainkannya di setiap sudut panggung termasuk untuk menyapa para juri! Untung saja suara musiknya sangat kencang jadi gue nggak perlu khawatir dengan ukulele yang belum di stel, hehehe. Ukulele always brings happiness. Gue jadi nggak bisa berhenti tersenyum, ---mungkin terdengar aneh tapi gue benar-benar menikmati berlenggak-lenggok sambil menggenjreng si ukulele smiley ini di atas catwalk! Seolah gue sudah terbiasa melakukannya, padahal setelah diingat ini adalah tepat 10 tahun sejak terkahir kali gue berjalan di catwalk.



Gue turun dari atas panggung dengan riang dan langsung menemui para suporter alias keluarga gue yang menunggu di bangku penonton. Ray dan Tante rupanya berusaha mengabadikan aksi gue, sayang Tante salah menekan tombol di handphone nya dan gagal merekam gue, hehehe. Untung saja Ray berhasil mengambil beberapa foto gue, ---kan gue penasaran ingin lihat seperti apa kalau gue sedang beraksi :p Menurut salah satu peserta pemenang akan diumumkan setelah juri siap, jadi bisa cepat bisa lambat, ---seperti di kategori sebelumnya yang ada beberapa break. Karena khawatir terlalu lama jadi gue minta keluarga adik, Tante dan Ibu untuk lebih dulu pulang sementara gue menunggu bersama Ray. Toh, rasanya agak too good to be true kalau gue menang, hehehe. Tapi rupanya Ibu dan Tante agak penasaran dengan pemenangnya jadi memutuskan untuk stay. Di panggung duo MC sibuk berbicara tentang sesuatu, gue nggak memperhatikan karena asyik mengobrol dengan Ray dan sesekali making friends dengan peserta lain. Gue lupa tepatnya berapa menit, yang pasti rasanya memang cukup lama sampai-sampai kening gue basah dengan peluh. Lalu tahu-tahu saja MC menyebutkan nomor-nomor peserta secara acak. Ada 10 nomor yang disebut dan yang terakhir adalah nomor gue, 15, ---yang ditambahkan panggilan "si ukulele" oleh salah satu MC. Dengan kebingungan gue berdiri diiringi dengan suara tepuk tangan yang cukup riuh. Ada apa ini? Apa gue nggak salah dengar? Gue harus kemana? ---Untung saja ada peserta lain yang menarik tangan gue. Rupanya kami harus ke atas panggung lagi.


Di atas panggung pelan-pelan gue mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang menimpa gue, lol. ---Ternyata gue masuk ke dalam 10 besar finalis Unstoppable Fashion Styling! Ya ampun, IT REALLY IS ini namanya too good to be true :O Dari atas gue bisa melihat wajah Ibu dan Tante juga tampak sama bingungnya dengan gue (tapi Tante gaya bingungnya heboh banget, sambil ngacung-ngacungin handphone, lol). Gue bersyukur, tentu. Tapi bisa masuk ke top 10 saat di pengalaman pertama benar-benar surprise yang besar untuk gue. MC menyebutkan bahwa kami dipilih karena juri suka dengan style kami, dan yang terpenting kami terlihat nyaman. Untuk menyaring menjadi 3 pemenang, kami diberi tantangan untuk mix and match outfit yang telah disediakan. Gue pkir, 'well ini mah gampil', tapi ternyata kami hanya diberi waktu 90 detik dan jumlah outfitnya sangat terbatas. Item wajib yang sudah ditentukan juri adalah scarf, yang mana itu adalah item yang jaraaaaaang banget gue pakai. Tapi ya sudah lah, yang terpenting gue have fun di sini. Kapan lagi bisa coba-coba outfit keren gini, hehehe. Pilihan gue jatuh pada sebuah rok pink lebar dan tanktop bermotif. Untuk scarf gue, ehm, ambil saja satu-satunya yang nggak diambil oleh finalis lain. Soalnya, sumpah, gue benar-benar blank, hehehe. Setelah itu kami dipersilakan ke belakang panggung dan memadukan item-item yang sudah dipilih.



Gue sangat jatuh cinta dengan roknya. Menurut gue warna dan modelnya cute banget, ---sangat style gue. Tapi ketika dicoba... uh oh, kesempitan! Untuk melewati pantat gue saja butuh kerja keras, dan waktu akhirnya sampai di pinggang ternyata nggak bisa dikancingkan! Gue langsung lapor pada panitia dan katanya semua item hanya ada 1 ukuran karena disediakan oleh sponsor. Tadinya mau diakali dengan peniti, tapi saking sempitnya peniti pun nggak sampai untuk menghubungkan titik A dengan titik B, hahaha. Gue coba tutupi bagian resleting dengan tank top yang asalnya mau gue pakai dimasukan ke dalam rok Berhasil, sih. Tapi gue nggak tahu perlu berapa langkah sampai rok ini melorot :p Yang paling membingungkan tentu saja untuk memadukan scarf. Selain warnanya nggak cocok, gue juga bingung akan dipakai apa. Mau dijadikan bando kok malah mirip pocong :( Akhirnya di detik-detik terakhir (---sudah dipanggil-panggil mbak panitia) gue lilitkan scarf ke leher tanpa tahu bagaimana kelihatannya. Salah satu peserta membantu gue memperbaiki hasil ikatan gue yang berantakan dan 10 detik kemudian kami sudah berada di panggung lagi.

Sekali lagi, gue berlenggak-lenggok di catwalk. Feel a bit weird karena kali ini tanpa ukulele, ---bingung tangan gue mau diletakan di pinggang atau diayun sekalian :p Gue mencoba senatural mungkin, berjalan biasa saja hanya nggak terlalu cepat. Setelah itu sambil menunggu juri yang sedang memberi nilai MC memberikan beberapa pertanyaan pada para finalis. Well, hanya 4 dari kami saja sih yang ditanya karena juri sudah mendapat hasilnya. Salah satunya adalah gue yang ditanya mengapa memilih outfit yang dipakai sekarang. Gue jawab ini karena mewakili kepribadian gue yang girly dan cheerful. Apalagi roknya memang sudah gue incar sejak panitia membawa satu deret baju ke atas panggung. Untung saja finalis lain kayanya nggak ada yang tertarik dengan rok pink yang super mengembang ini :D
Daaaan yang ditunggu-tunggu pun tiba; pengumuman pemenang! Nggak pakai berlama-lama, host langsung membacakan kertas yang berisi hasilnya. Pemenang ketiga jatuh kepada nomor 11, gadis berhijab yang waktu di backstage membantu gue memasang scarf. Pemenang kedua jatuh kepada... OH. MY. GOD. Gue!!! Hahaha, gue sampai pikir MC salah membaca nomor karena... this is just feel so unreal :'D Dan pemenang kesatu jatuh kepada nomor 31. She's totally deserved it :)



Gue dan pemenang lainnya menerima sejumlah hadiah yang terdiri dari piala, sertifikat, sejumlah uang dan produk dari Laurier. Yang berbeda pemenang kesatu mendapatkan hadiah tambahan berupa tas Kate Spade (cool!). Juri berkata bahwa sesudah dan sebelum tantangan mix and match gue tetap terlihat "Indi banget", dan itulah salah satu alasan mengapa mereka memilih gue. Hehehe, masa sih :)) Ketika turun dari panggung gue nggak bisa menahan perasaan haru. Tante heboh sekali dan terus memuji-muji gue. Sementara Ibu lebih kalem dan berkata bahwa beliau sangat bangga dengan gue (aduh, sambil ngetik ini jadi terharu lagi, huhuhu). Ray juga nggak kalah ekspresif, gayanya sudah seperti fotografer profesional yang terus mengambil foto gue, hehehe. Gue anggap ini adalah kemenangan bersama. Ibu yang mendesain dress gue, Tante yang menjadi suporter terbesar gue dan Ray yang mengabadikan moment sangat berkesan ini. Tanpa kehadiran mereka mungkin gue nggak akan jadi juara. Jadi dengan uang hadiah Unstoppable Fashion Styling gue mentraktir mereka makan-makan dan membelikan anggota keluarga lain hadiah. ---Sisanya tentu saja ditabung :)

Rasanya ajaib gue memenangkan lomba hanya dengan modal menjadi diri sendiri. Tapi setelah dipikir kita memang harus be the best version of ourselves to win, dalam bidang apapun. Saat menjadi diri sendiri pasti terasa nyaman dan nggak 'setengah-setengah'.---Dan yang paling penting akan tanpa beban :) Gue lega, senang dan bersyukur karena berani mencoba hal baru. Deg-degan wajar. Tapi gue nggak perlu takut. Lagipula kalau nggak melakukan hal baru, kita nggak akan tahu sejauh mana kemampuan kita kan? ;) 
Pernah mengalami hal baru dan nggak tahu harus melakukan apa? Share me! :)




yang temenan akrab sama ukulele,

Indi

______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 29 April 2016

Courtesy of You... ---wait, WHO?

Kalau diingat banyak hal berubah sejak gue kecil sampai sekarang. I know, ---hahaha, kata-kata ini lebih cocok jika diucapkan oleh Ibu atau Bapak. Tapi sungguh, di waktu hidup gue yang belum selama mereka ini gue sudah merasakan banyak perubahan. Rasanya seperti kemarin gue menonton film drama keluarga produksi Hollywood sebelum waktunya tidur, dan sekarang di jam yang sama hanya ada serial-serial Turki. Dan rasanya juga masih seperti kemarin waktu salah satu stasiun TV menjanjikan pemutaran film berkualitas dengan "rasa" bioskop, dan sekarang stasiun yang sama sudah penuh dengan iklan bahkan saat berita diputar, hihihi. Nggak semuanya jelek, sih. Banyak hal yang gue rasa jadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Ada yang masih ingat "good" old days waktu harus mengeluarkan uang puluhan ribu rupiah hanya untuk mengerjakan tugas sekolah di warnet? Hanya dalam waktu beberapa tahun wifi sudah ada dimana-mana dan gue, ---juga para murid dan mahasiswa lain hanya perlu bermodalkan laptop dan teh botol supaya nggak kena usir, hihihi. Kemudahan berinternet juga berarti kemudahan untuk mencari data. Gue nggak harus berjam-jam membuka buku satu persatu di perpustakaan untuk mencari bahan untuk ujian yang tinggal menghitung hari.

Eh, semakin ditulis kok jadi semakin terasa ya kalau memang banyak hal yang berubah, hehehe. Terutama soal acara TV, belakangan memang banyak yang menghilang. Gue masih ingat dulu acara "home video" sangat populer di TV lokal (---karena kalau di TV kabel sih sampai sekarang juga ada). Sampai-sampai Komeng dan teman-temannya pun pernah membuat versi lokalnya di salah satu stasiun TV (itu lho, yang slogannya "Uhuy!", hehehe). Konsep acaranya sih simple, jadi pemirsa diminta mengirimkan video yang menangkap moment menarik, ---bisa moment lucu, crime atau fenomena alam, tergantung program TV nya. Lalu yang terpilih akan ditayangkan dan pengirimnya akan mendapatkan reward. Minimal pemenang mendapat merchandise berlogo acaranya yang kalau dipakai bikin bangga, hehehe. Dan yang paling besar tentu sejumlah uang sekaligus diundang ke studio TV untuk muncul di ujung acara. Pokoknya berkat acara-acara seperti ini jadi banyak orang yang berlomba-lomba mengabadikan moment candid (---termasuk gue, lol). Soalnya itu adalah satu-satunya cara untuk membagi video karya kita agar bisa ditonton oleh banyak orang.


But well, itu beberapa tahun yang lalu, ---yang terasa seperti ratusan tahun lalu saking berbedanya, hehehe. Sekarang sudah ada YouTube, Vimeo, Dailymotion dan situs-situs berbagi video lain yang mudah diakses. Siapa saja bisa menggunggah video dan membaginya kepada keluarga, teman, bahkan ke virtual friends yang ada di akun media sosial. Contohnya saja gue yang salah satu pengguna YouTube. Sekarang tanpa acara-acara "home video" pun sudah puas karena video-video gue tetap bisa ditonton oleh banyak orang. Bayangkan saja seorang YouTuber amatir (baca: nggak jelas) seperti gue channelnya sudah ditonton sebanyak 160.000-an kali. Entah yang mampir benar-benar suka dengan video-video gue atau sekedar nyasar, tapi kita semua bisa setuju kalau itu bukan angka yang kecil. Atau istilah lainnya; siapa saja bisa menjadi bintang. Coba bandingkan dengan dulu, mana pernah terbayang video gue banyak yang menonton, ---bahkan termasuk oleh idola gue! Oh my technology! Look how far you brought us! :p


Yang bercita-cita jadi reporter pun sekarang bisa mereportase suatu kejadian dan langsung diunggah ke channel milik sendiri. Nggak jarang kita melihat atau membaca sebuah berita lebih dulu justru dari sebuah channel/blog personal dibandingkan dari stasiun TV. Mau jadi sutradara? Bisa. Mau jadi penyanyi? Bisa. Bahkan mau pamer resep-resep andalan juga bisa cukup dengan modal kamera (atau handphone) dan koneksi internet. Keberadaan situs berbagi video ini menggeser trend acara "home video" dan membawa trend yang baru; acara TV yang sumber videonya berasal dari situs-situs tersebut, terutama YouTube! Meski kesannya lazy, tapi acara-acara seperti ini sukses, lho. Buktinya ada salah satu program musik yang tiba-tiba berganti konsep menjadi acara yang berfokus ke pemutaran-pemutaran video. Bahkan sekarang acaranya diputar di waktu primetime. Meski berbeda stasiun TV, konsep acaranya sih rata-rata sama. Kalau nggak memutar video-video lucu, ya sudah pasti tentang crime atau "tangga video" (chart). Bagi sebagian orang acara-acara seperti ini sangat menghibur. Ibu dan Bapak juga salah satu (--eh dua) penggemarnya, hampir setiap malam mereka menontonnya di ruang TV. Tapi bagi gue dan pengguna situs berbagi video lain bisa jadi membosankan, pasalnya video-video yang ditayangkan rata-rata video yang memang sudah viral. Atau bahkan ada juga yang malah menganggapnya menyebalkan, lho!

Gue punya teman on line, namanya Edward. Kami berkenalan melalui akun YouTube ketika gue akan mengikuti event Shave for Hope (mencukur rambut untuk pasien kanker). Edward ini cukup rajin mengunggah video dan kualitasnya pun bagus. Suatu hari waktu sedang menonton acara talkshow di TV gue mengenali video pendukung yang diputar di sana. ---Itu video milik Edward! Dengan perasaan bangga gue langsung menghubunginya via twitter dan mengucapkan selamat. Tapi rupanya, uh-oh, ia sama sekali nggak tahu bahwa videonya diputar. Kebingungan, karena merasa nggak pernah memberi izin ia pun mencoba menghubungi admin talkshow tersebut. Too bad nggak ada jawaban, ---bahkan sampai dengan hari ini.
Oddly enough, beberapa bulan kemudian giliran video gue dan Eris yang diambil dan diputar ulang di salah satu program "tangga video". Sama seperti Edward, gue juga nggak diberi kabar. Tahu-tahu teman dan keluarga gue sudah ramai memberikan selamat. Saking bingungnya gue sampai mengira kalau pernah shooting bertahun-tahun lalu tapi sudah nggak ingat, hehehe. Tapi rupanya acara tersebut mengambil video dari akun YouTube gue...

Setelah kita mengunggah video ke situs berbagi video, itu artinya siapa saja bisa menontonnya dan siapa saja bisa membaginya. Apa itu salah? Nop, karena namanya saja sudah "situs berbagi", kalau mau disimpan sendiri ya silakan ganti settingnya menjadi "private". Kita nggak bisa mengatur siapa saja yang 'boleh' menotonnya once kita klik "public". Bukan nggak mungkin pihak TV pun bisa mampir (atau nyasar) ke akun kita. Meski sama-sama diputar di TV tapi "aturannya" sudah berbeda dengan dulu. No reward, disebut nama akunnya pun sudah beruntung meski seringnya hanya ditulis; courtesy of youtube. Jangan salah, gue nggak menginginkan reward (---tapi kalau dikasih nggak menolak, hehehe). Gue hanya ingin ada sedikit ramah tamah dari pihak TV. Ask me politely, tanyakan apakah video gue boleh dipakai untuk keperluan acara mereka. Toh gue akan dengan senang hati memberi izin.

Mungkin ada yang mengira karena YouTube adalah pemilik lisensi untuk mendistribusikan video-video yang diunggah di sana jadi siapa saja bisa bebas untuk menggunakannya. Gue juga awalnya mengira begitu, tapi dengan sedikit kemauan untuk membaca halaman FAQ nya, gue jadi tahu kalau itu sebenarnya nggak boleh. Di sana disebutkan bahwa pengupload tetap menjadi pemilik dari video, ---bukan YouTube. Jadi jika ada pihak yang ingin menggunakan atau memutar ulang video, pihak tersebut harus menghubungi pengupload nya. Bahkan YouTube sendiri nggak punya hak untuk mengedit atau menggunakan video-video di situsnya untuk kepentingan komersial, KECUALI jika sudah mendapatkan izin.
Berikut gue kutip pernyataan yang diambil dari situs YouTube;
Credit the content owner. Though YouTube has a license to distribute the video, it's the YouTube user who owns the content. We encourage you to reach out to users directly when you find video you'd like to use, and to provide attribution by displaying the username or the real name of the individual, if you've obtained it. Credit YouTube in your re-broadcast of the video. When you show a YouTube video on television, please include on-screen and verbal attribution. Contacting a YouTube user. Clicking on a YouTube username will take you to the user's channel, where you can see what personal information he or she has shared (name, web site, location, etc.). From here, you can use YouTube's on-site messaging system to contact the user. First, you must be logged into your own YouTube account. Then, click on the username of the individual you'd like to reach out to and select "Send Message."

Nah, sudah cukup jelas kan, bahkan YouTube sendiri encourage pihak yang ingin menggunakan video untuk menghubungi pemilik videonya langsung. Jadi karena hak milik tetap ada di pemilik video/pengunggah, kalau kita mau menuntut stasiun TV yang menayangkan video tanpa izin ya bisa-bisa saja :) Sejauh ini yang dilakukan oleh pihak TV hanya sampai nomor 2 saja, itu pun tulisannya sangat keciiiil dan warnanya agak nge-bland sama background video, hehehe. Apa gue akan menuntut? Of course nggak, karena video yang gue buat pun hanya untuk have fun dan gue happy kalau ditonton oleh banyak orang. Lalu kalau begitu apa tujuan gue menulis panjang lebar di sini? Well, gue hanya ingin mengenang "the good old days" yang nggak serba mudah seperti sekarang tapi justru orang lebih mengenal tatak krama. Dulu pihak TV meluangkan waktu untuk mengabari pemilik video satu persatu via telepon karena pengguna email dan medsos belum banyak. Sedangkan sekarang dengan adanya email dan direct message di akun YouTube pihak TV malah nggak dimanfaatkan dengan. Padahal It took literally one minute saja lho untuk mengetik pesan :(
Jangan sampai kemudahan yang kita dapat sekarang disamakan dengan "menggampangkan". Please don't turn into robot. Gue yakin pemilik video akan merasa dihargai jika dihubungi. Karena terkadang keramahan malah terasa lebih berkesan daripada diberi reward :))

yang suka bikin video cover ukulele,

Indi

______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 24 April 2016

Jelajah Musi Triboatton: Sambil Berolahraga sambil Melihat Keindahan Sungai Musi :)

Gue cinta Bandung. Gue lahir, besar dan berkarya di Bandung. Kalau ditanya suatu hari ingin membesarkan keluarga dimana (cieee...) jawabannya pasti di Bandung. Pokoknya gue adalah tipe orang yang bangga dengan "ke-Bandung-an" gue, ---kalau perlu logat gue ditebelin biar jelas keaslian Bandungnya, hahaha. Termasuk kalau ditanya kemana tempat wisata favorit gue, jawabannya sudah pasti Bandung. Udaranya sejuk, banyak kuliner lezat terjangkau, taman kota dimana-mana, wisata belanja juga lengkap. ---Kurang apa lagi? Tapi rupanya kecintaan terhadap Bandung bikin gue lupa kalau Indonesia itu luas, masih banyak tempat indah yang belum gue kunjungi. Kesadaran gue bermula waktu melihat salah satu foto dari akun @pesonasriwijaya yang muncul di rekomendasi timeline instagram. Waktu itu gue pikir, "Waaaah, sungainya indah banget. Ada dimana ya tempatnya?" 
Dan surprise, surprise... itu ternyata ada di Indonesia!

Tepatnya di Sumatera Selatan, dan yang gue lihat itu namanya Sungai Musi. Gue pun mencoba mengingat-ingat dimana pernah mendengar nama itu sebelumnya. Oh iya... rupanya waktu di sekolah Bu Guru pernah bercerita bahwa Sungai Musi adalah sungai yang terpanjang di pulau Sumatera dan membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Silly me, selama ini gue hanya tahu kalau Palembang terkenal dengan pempeknya :( Untung sekarang sudah zamannya internet, dengan quick search gue jadi tahu lebih banyak soal Sungai Musi. Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota Palembang pun ternyata melintas di atas sungai ini, dan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sampai sekarang sungai ini digunakan sebagai sarana transportasi utama masyarakat. Scroll up, scroll down, ---eh kok jadi tertarik untuk berkunjung, ya? Apalagi waktu tahu kalau di sana akan diadakan Musi Triboatton 2016.


Musi Triboatton itu apa, sih? Well, gue juga asing waktu mendengar namanya tapi setelah tahu langsung amaze dan menyesal kenapa baru tahu sekarang, huhuhu. Ternyata ini adalah olahraga yang menggabungkan 3 jenis olahraga air sekaligus; arung jeram, kayak, dan perahu naga. Dan kerennya, selain akan menghadapi tantangan yang beragam peserta juga bisa sambil menikmati keindahan alam Sumatera Selatan dari sungai (---pasti bukan gue doang yang ngiri, hehehe). Event Musi Triboatton 2016 adalah yang kelima kali diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Agenda promosi wisata sungai yang terkait olahraga dan budaya ini ditargetkan untuk diikuti ratusan peserta dari 10 negara. Artinya, sambil berolahraga juga sambil mengenalkan Sungai Musi ke dunia internasional :)

Ada empat kabupaten dan satu kota yang akan menjadi tuan rumah event ini, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Kabupaten Musi Rawas (Mura), Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Empat Lawan, dan Kota Palembang. Rencananya sebanyak 20 tim peserta Musi Triboatton akan melalui lima etape. Start dimulai dari Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pendopo Barat, Kabupaten Empat Lawang. Lalu dilanjutkan di Desa Ulak Mengkudu Lapangan SDN 14 Empat Lawang, sebagai lokasi estafet peserta dan finish di Jembatan Kuning-Tebing Tinggi untuk etape pertama. Etape kedua akan dilaksanakan di Desa Muara Kelingi-Kabupaten Musirawas. Etape ketiga akan dilaksanakan di Kota Sekayu-Kabupaten Musi Banyuasin. Etape keempat dimulai dari Dermaga Pangumbuk, Kabupaten Banyuasin. Dan terakhir, etape kelima yang akan menjadi titik akhir peserta yaitu di Kecamatan 10 Ulu-Kota Palembang.

Semakin banyak tahu, semakin ingin pula gue ke sana (---thanks, internet, lol). Ternyata banyak sekali tempat dan event menarik di Indonesia selain Bandung tercinta, salah satunya Musi Triboatton di Palembang ini. Event ini akan dimulai tanggal 11sampai 15 Mei 2016. Pembukaannya akan diadakan di Gelanggang Remaja Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin 12 Mei nanti dan dilanjutkan dengan awal kegiatan yang dimulai di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pendopo Barat, Kabupaten Empat Lawang. Waaaah, it's getting closeeeee. Kira-kira gue bisa ke sana nggak, ya? Atau adakah teman-teman yang berencana ke sana? Boleh lho ajak gue, hihihi ;)


yang mau ikut berjelajah,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 22 April 2016

Theme Park ala Pasar Malam di Bandung Carnival Land :)

Theme park! Hore! Gue suka sekali dengan theme park alias taman hiburan. Untuk yang sering mampir ke Dunia Kecil Indi pasti tahu deh kalau gue bisa menghabiskan waktu seharian kalau sudah berpetualang di berbagai wahana. Gue bahkan punya tempat favorit, yaitu salah satu in door theme park di Bandung yang bisa gue kunjungi beberapa kali dalam setahun, ---sampai-sampai rasanya seperti bermain di rumah sendiri, hehehe. Nah, beberapa waktu lalu gue baru tahu kalau di Bandung ada theme park out door murah meriah yang katanya nggak kalah seru dengan tempat favorit gue. Terlambat banget sih, karena ternyata tempatnya sudah dibuka sejak tahun 2011 lalu :( Tapi sebagai theme park hunter sejati, gue rasa lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali (lol). Jadi pada tanggal 17 April lalu gue pun mengajak Ray untuk mencoba wahana-wahana di sana. 

Biasanya kalau gue pergi ke theme park selalu pakai rencana. Tapi kali ini lumayan spontan, karena gue ajak Ray sepulang kami mengunjungi undangan pernikahan. Itulah kenapa kami berdua memakai batik, hehehe. Untung saja gue membawa sepatu flat sebagai ganti kitten heels dan tas tangan kecil yang lebih colorful daripada yang gue pakai sebelumnya. Kami masih terlihat sedikit terlalu resmi, sih, ---tapi well, ini lebih baik daripada harus pulang ke rumah dulu :p Dan keputusan untuk nggak pulang dulu ternyata sangat tepat kerena kami terjebak macet. Saking macetnya di beberapa titik mobil sampai nggak bergerak sama sekali. Dan parahnya lagi kami nggak hapal jalan! Hahaha. Untunglah kami bertemu banyak orang yang dengan ramah menunjukan jalan :) Jadi sebelum sore kami sudah tiba di "Bandung Carnival Land", yang letaknya satu gerbang dengan kolam renang Karang Setra (Jl. Sirna Galih No. 15, Bandung).

Yup, theme park yang kami kunjungi bernama "Bandung Carnival Land". Sebelum ke sini gue membaca beberapa review dan melihat foto-fotonya di internet. So tempting! Kebanyakan foto diambil ketika malam dan lampu-lampu yang menyala kelihatan indaaaah sekali. Apalagi teman gue juga bercerita tentang tempat ini dan membuat gue semakin 'menyesal' karena baru menemukan tempat ini. Tapi ketika tiba di area parkir gue mendadak ragu-ragu. "Apa ini tempat yang sama dengan yang gue lihat di internet?"... Hanya ada beberapa mobil saja yang parkir di sana, dan di loket hanya ada kami yang membeli tiket. Tapi well, gue pikir mungkin di dalam akan banyak pengunjung. Jadi Ray membeli sebuah tiket terusan seharga Rp. 50.500 untuk gue, dan sebuah tiket masuk seharga Rp. 25.500 untuk dirinya sendiri (seperti biasa Ray akan menjadi juru foto, hehehe). Lagipula kami memang nggak terlalu suka theme park yang terlalu crowded, jadi mungkin tempat ini akan cocok untuk kami ;)



Begitu kami melangkahkan kaki ke dalam theme park... surprise... Kami nggak melihat siapapun selain kami berdua! Bahkan nggak ada suara musik yang biasanya terdengar bahkan di theme park kelas mall sekalipun. Rasanya jadi seperti sedang di serial Goosebumps (lol, I'm a fangirl), apalagi wahana yang pertama kami lihat adalah rumah hantu. Karena kebingungan, kami ke toilet dulu, ---sekaligus menyegarkan diri setelah macet yang cukup membuat berkeringat. Syukurlah ketika gue keluar dari toilet bertemu dengan 4 orang anak bersama beberapa orang dewasa yang sedang mengantri wahana 4 dimensi. Sedikit awkward gue berbasa-basi dengan salah satu dari mereka dan ended up dengan ikut masuk ke teater. Nggak lama kemudian Ray menyusul dan kami langsung langsung duduk di seat jajaran tengah setelah diberi kacamata 4D. It was reallyyyy dark, pijakannya yang dari kayu pun agak berdecit. By the way, tiket milik Ray hanya bisa dipakai untuk 1 wahana, jadi jika ia ingin naik yang lain harus bayar sejumlah uang, ---yang gue lupa tanyakan berapa. Suasana semakin gelap lagi ketika film dimulai. Agak nervous juga karena di seat kami nggak ada safety belt nya. Tapi rupanya kursi memang hanya bergerak ke kiri dan kanan, itu pun sangat jarang jadi nggak khawatir terjatuh. Padahal filmnya seru, lho. Lebih menegangkan daripada di theme park tetangga, hehehe. Gue nggak terkesan, ---mungkin karena gue berharap terlalu banyak. Tapi untuk anak-anak sepertinya cocok, karena penonton-penonton cilik yang duduk di barisan depan tampak menikmati.


Setelah itu gue mengajak Ray untuk naik "Dragon Swing", semacam permainan "Kora-kora" yang ada di Dufan, hanya ukurannya lebih kecil. Tapi Ray memutuskan untuk nggak ikut dan hanya mengambil foto-foto gue. Yang naik hanya beberapa orang saja dan hanya gue yang berteriak dan tertawa lepas. Mungkin karena yang lain malu-malu ya, hehehe. Rasanya memang nggak sedasyat Kora-Kora, tapi cukup menantang apalagi kalau duduk di ujung. Cocok nih buat yang suka sensasi berayun tapi takut muntah :p Dari atas gue bisa melihat beberapa orang dewasa yang bersama anak-anak di wahana sebelumnya. Mereka rupanya dari Jakarta dan nggak ikut bermain, hanya menemani. Yup, meski menegangkan gue masih bisa melihat ke sekeliling, ---bahkan bisa mengobrol dengan Ray dan memberi semangat pada anak yang duduk di belakang gue, hehehe. Saking seringnya gue bermain di theme park, lama-lama sense of deg-degan gue jadi tumpul kayanya.



Di "Dragon Swing" gue sempat berkenalan dengan 2 pengunjung perempuan yang sama-sama berasal dari Bandung. Well, gue nggak tanya siapa nama mereka, sih, but we're literally together selama sisa waktu gue dan Ray berada di BCL. Rombongan yang dari Jakarta sudah beristirahat, jadi hanya kami yang tersisa. Kalau gue nggak sok akrab, artinya gue benar-benar akan bermain sendirian karena Ray sibuk dengan kameranya. Pokoknya kami seolah sudah lama kenal, --- kami bahkan berdiskusi soal wahana mana yang selanjutnya akan dinaiki, hahaha. Lalu pilihan jatuh kepada "Kursi Terbang", wahana yang mirip sekali dengan "Ontang-Anting" di Dufan tapi (lagi-lagi) berukuran lebih kecil. Gue memilih duduk di paling luar, supaya lebih 'terasa' dan bisa dadah-dadah sama Ray. Wahana ini asyik juga, tingkat ketegangannya kurang cocok untuk anak-anak (---di sini ada versi mininya juga, btw). Gue pernah naik wahana serupa di Mall of Indonesia, and this is definitely better! Kalau boleh Kursi Terbang ini gue bawa pulang, deh, hehehe.



Mungkin karena sedang super sepi pegawainya juga jadi agak malas-malasan. Tiket Ray seharusnya hanya untuk 1 wahana, tapi mereka sepertinya nggak peduli. Nggak ada pengecekan tiket, atau at least ditanya sebelum menaiki wahana. Sepertinya asumsi mereka Ray juga punya tiket terusan seperti gue. Terbukti waktu gue minta ditemani untuk menaiki "Ulat Gila", Ray lolos begitu saja. Sayang sekali ya, padahal semangat pegawainya berpengaruh lho sama mood pengunjung :( Wahana ini bisa jadi pengobat rindu bagi warga Bandung yang pernah menghabiskan masa kecil di mall Kings, yang sekarang, ---sadly, sudah terbakar. Di sana ada "Ulil", wahana yang entah nama aslinya apa dan menjadi icon arena permainan Kings. Ulat Gila ini bentuknya mirip dengan Ulil, hanya dan track nya melewati beberapa terowongan kecil. Rasanya pun benar-benar mengingatkan gue pada di Ulil, ---srudak-sruduk bikin sakit badan! Hahaha, gue dan Ray sampai tertawa terbahak-bahak. What a sweet throwback. Sayang banget keponakan-keponakan dan sepupu-sepupu gue belum sempat mengenal Ulil, hiks. Ray sampai punya ide untuk membawa krucil ke sini, at least supaya mereka mengenal versi penerusnya, hihihi.



Dua orang yang bersama gue menyarankan agar wahana "Mangkuk Tsunami" jadi yang berikutnya kami naiki. Gue sih oke-oke saja, lagipula sudah nggak banyak pilihan lagi. Wahana yang tersisa kebanyakan hanya untuk anak-anak. Kami bertiga naik di satu "mangkuk", dan 3 orang anak rombongan dari Jakarta juga naik di 'mangkuk' lainnya. Sekilas wahana ini mengingatkan dengan "Poci Poci" milik Dufan, tapi lantainya bergelombang dan pegangannya nggak bisa diputar. I don't expect much, lah. Tapi ternyata... Oh, my God, dari seluruh wahana yang gue naiki inilah yang terfavorit! :D Gerakan mangkuknya nggak hanya memutar, tapi juga naik-turun. A little pro tip, jangan naik ini dalam keadaan perut penuh, kalian bisa muntah, ---trust me :p Sensasi yang gue rasakan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti ini seperti perpaduan "Dragon Rider" dari theme park sebelah dan "Poci-Poci"! Bahkan 2 teman baru yang sebelumnya malu-malu sudah bisa tertawa lepas di wahana ini :)


Masih ingat dengan rumah hantu yang menyambut gue dan Ray ketika datang? Gue yang berani masuk rumah hantu theme park tetangga sendirian 2 kali berturut-turut ini nyalinya menciut ketika diajak ke rumah hantu di sini. Suasanya agak 'berbeda', no fancy CGI atau dekor yang wah tapi bawaannya bikin merinding. Ray nggak mau masuk sendirian, ---dan 2 teman baru juga menolak masuk kalau gue nggak ikut. Ya, ampun berasa orang penting, hehehe. Gue sempat masuk beberapa langkah dan diikuti oleh yang lain. Tapi begitu melihat suasananya yang gelap, gue pun keluar lagi. Lucunya 2 perempuan di belakang gue langsung lari terbirit-birit! :D Katanya sih hantu-hantunya hanya patung. Tapi dulu, waktu tempat ini pertama dibuka aktor-aktor lah yang berperan menjadi hantu. Teman gue bilang aktornya ada yang iseng, kakinya dipegang dan bikin ia panik. Nah, gue takut kalau di dalam ternyata masih ada aktornya. Gue kalau panik bisa bahaya, suka tiba-tiba nendang dan mukul random, hahaha.



Wahana terakhir yang gue naiki adalah "Sepeda Udara". Perjuangan juga untuk naikknya, karena letaknya di atas jadi harus menaiki anak tangga yang nggak sedikit. Sebenarnya 'perjuangannya' bisa lebih dinikmati kalau saja theme park nya dijaga dengan baik. Gue bisa bayangkan beberapa tahun yang lalu tempat ini pasti indah sekali. Banyak lampion dan patung-patung tokoh kartun yang asyik untuk dijadikan spot berfoto. Tapi sekarang semuanya tampak terbengkalai dan agak menyeramkan karena kurang penerangan :( Menurut gue Sepeda Udara ini jadi least favorite di BCL. Selain safety belt nya nggak berfungsi, rel nya juga sedikit berderit, ---bikin gue khawatir. Padahal kalau saja dirawat dengan baik ini bisa jadi wahana yang menyenangkan. Mirip monorail di Taman Topi Bogor, tempat favorit gue waktu kecil :) Alhasil gue ingin cepat-cepat tiba dan sebisa mungkin nggak melihat ke bawah, hehehe.



Dengan harga tiket yang terjangkau bermain di sini sebenarnya sepadan, kok. Pilihan permainannya pun imbang antara untuk orang dewasa dan anak-anak. Tapi ya itulah, menurut gue seharusnya tempat ini bisa lebih dimaksimalkan. Dari mulai hal kecil saja, misalnya tambahkan musik yang meriah, jaga kebersihannya, perbaiki fasilitas yang sudah rusak, dan yang nggak kalah penting semangat bekerja para pegawainya. Kalau tempat ini semakin terbengkalai bukan nggak mungkin akan ditinggalkan dan wisatawan lebih memilih tempat lain meskipun tiketnya lebih mahal. Di luar itu semua, gue (dan Ray) happy bisa menghabiskan sore di Bandung Carnival Land, a lot of good laugh dan dapat teman baru juga. Kalau sudah musim liburan gue juga mau ajak sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan gue ke sini. Theme Park ini cocok untuk wisata murah meriah sekeluarga (---nggak ada larangan bawa cemilan, jadi bisa piknik di sini). But don't expect too much, just enjoy the carnival vibe! :)

yang mainnya pakai baju batik,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 16 April 2016

Beautypreneurship Tour 2016: Pink Up by Puspita Martha

Halooooo weekend! Gimana kabar teman-teman? Semoga baik, ya. Gue juga baik, cuma semalam ada sedikit "meltdown moment" jadi sekarang mata gue agak sepet untuk lihat monitor :D Beberapa hari yang lalu gue sedang jarang di rumah, sempat pergi sama keluarga sampai larut malam sampai kejebak macet (5 jam, dong) dan juga menghadiri sebuah event yang menyenangkan. Sekarang gue akan bercerita tentang event nya saja, ya. Soalnya kalau soal cerita tentang macet pinggang gue suka sensi, hihihi. 



Jadi tanggal 12 April 2016 lalu gue mendapatkan undangan untuk menghadiri Beautypreneurship Tour 2016 PINK UP Seminar and Hair Show yang diadakan oleh Puspita Martha. Event ini diadakan di Ballroom Trans Luxury Hotel Bandung yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah gue. Mumpung lagi ada free time, jadi gue ajak juga Ibu dan Ray untuk menemani. Dari email yang gue terima acara dimulai jam 12:30 siang, tapi karena gue terlambat bangun (---nggak ada yang bangunin, ehm) jadi kami baru tiba jam 13:20 siang. Eh, rupanya acaranya memang molor, jadi kami tiba di waktu yang tepat, deh. Pas opening banget, hehehe. Acara dibuka dengan penampilan model-model yang berpakaian serba hitam. Mereka berjalan di atas catwalk sambil membawa payung yang juga berwarna hitam. Cukup sukses juga entrance nya karena berhasil membuat audiences untuk menoleh ke arah mereka. Setelah itu, tanpa jeda langsung disusul oleh penampilan MC nya (OMG, maaf lupa namanya, huhuhu) yang membawakan lagu Corazon Espinado, ---yang membuat gue throwback ke saat menjadi bocah yang keluyuran sampai larut malam untuk mencari kaset Santana, hehehe. Btw, mas-mas MC ini somehow mengingatkan dengan teman gue, Daniel. Padahal wajahnya beda banget. Mungkin suaranya? Ah, sudahlah, skip xD




Yang hadir di acara ini bukan hanya gue, Ibu dan Ray (yaiyalaaaaah, lol) tapi juga pihak-pihak yang tertarik dengan dunia kecantikan, khususnya rambut. Dari hasil interview singkat gue dengan audiences yang hadir (baca: tanya-tanya waktu coffee break) mereka kebanyakan menggeluti dunia salon. Malah ada juga yang sengaja meliburkan salonnya selama 1 hari demi hadir ke acara ini. Keren! ---Dan itu memang nggak salah, sih, soalnya di sini diberi tips-tips bermanfaat untuk meningkatkan performa dalam menjalankan profesi mereka. Sayang ya Mas Ryan salon langganan gue nggak ikutan datang, padahal kan bisa mencuri ilmu, hihihi. Edwin Waas, kepala sekolah dari Puspita Martha International Beauty School dan Henny S. Nugraha dari Salon Pro Indonesia turut hadir di acara ini. Juga ada tamu-tamu penting lainnya dan media yang meliput acara ini. 


Foto: ~ Ikanov Tambunan
~ Alexandra Tilaar

Di sini kami diperkenalkan dengan produk-produk PINK UP yang super keren. PINK UP adalah produk untuk rambut yang berbahan organik dan tanpa residu, jadi aman untuk dipakai sehari-hari. Well, just my two cent nih, gue berterima kasih sekali kalau semakin banyak produk yang menggunakan bahan organik, soalnya untuk orang yang serba sensitif kaya gue produk organik itu udah kaya hero without cape, hehehe. Kami disuguhi pengenalan produk-produk PINK UP yang obviously bikin gue gemas karena warnanya serba pink. Ada Aqua gel, Hold on, Cristal care, Mou Mousse, Push Up, Great Shot, Flex gum, dan masih banyaaaak lagi. Favorit gue dan Ibu adalah Push Up karena bisa jadi life saver kalau nggak sempat keramas, hehehe. Kru nya baik-baik, lho. Waktu beberapa produk dikelilingkan supaya kami bisa coba, Ibu request untuk mencoba Push Up. Eh, rupanya benar-benar diberi sample, bahkan dipakaikan segala :D Kami juga bisa melihat demo langsung dari produk-produknya yang dipraktekkan oleh Yudin (hairdressing maestro), Sendy Gothic (Supervisor Tim Artistik PT. Martha Beauty Gallery) dan Rissa Mariana (salah satu lulusan Diploma of Bridal International di Puspita Martha)


Karena terinspirasi dari style para villain di film-film yang glamour pada model didandani sedemikian rupa dengan tatanan rambut yang super unik oleh Yudin, Sendy dan Rissa. Rasanya jadi seperti sedang melihat pertunjukan sulap, hehehe. Meski style mereka berbeda, tapi hasil akhirnya sama-sama keren. Audiences juga dibuat surprise karena awalnya para model hanya didandani "setengah jadi", baru di akhir acara diperlihatkan hasil akhirnya. Yang paling gue kenali adalah style rambut yang terinspirasi Maleficent, karena lengkap dengan horns nya jadi terlihat sangat menonjol. By the way, sambil demo mereka juga memberikan tips-tips bermanfaat dan menjawab beberapa pertanyaan audiences, lho. Yang seru waktu Yudin memberikan tips bagaimana cara menyasak rambut dengan cepat. Ibu sampai serius banget memperhatikannya, hehehe. Pantas saja sih, soalnya tangan Yudin memang secepat Edward the Scissorhand :p






Oh iya, di acara ini juga diperkenalkan Beauty Trend Center, sebuah trend forecast provider berbayar yang baru ada di Indonesia. Pelanggan bisa mendapatkan informasi mengenai perkembangan trend dunia kecantikan, rambut, fashion dan lain sebagainya. Untuk para profesional ini tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja mereka, ---harus kasih tahu Mas Ryan nih, hehehe. Oleh Tengku Arshyaly Faith (Creative Director Beauty Trend Center) kami juga diberikan informasi tentang tren warna dan style tahun 2016-2017. Waktu Ibu lihat ada warna merah di big screen beliau langsung usap-usap rambutnya. Rupanya warna rambut Ibu sedang tren! Padahal beliau sih cat warna terang karena sudah beruban, hehehe. Tapi berhubung disuguhi warna-warna keren di sini, Ibu langsung berniat mengganti warna rambutnya jadi highlight gray seperti rambutnya Rissa Mariana. Haduh, kalah gaul nih anaknya, hihihi :D


Foto: ~Tengku Arshyaly Faith
~ dengan Ibu

Acara selesai sekitar jam 5 sore. Meski cukup lama tapi waktu terasa sangat cepat, mungkin karena gue enjoy, ya. Gara-gara hadir di sini gue mendadak jadi lebih tertarik sama dunia hair styling. Tahu sendiri kan, selama ini yang gue tahu hanya sebatas sisir, basic treatment dan cat rambut, hihihi. Apalagi di Puspita Martha International Beauty School ada program study tour ke Italy. Duh, pasti asyik bisa belajar sambil jalan-jalan. Kalau sekarang sih harus menabung dulu, hehehe. Overall, gue happy dapat kesempatan untuk hadir di sini. Begitu juga dengan Ibu yang super exited sepanjang acara. Bagaimana dengan Ray? Well, sebagai fotografer dadakan dia sama sekali nggak komplain, jadi gue anggap dia juga happy :p Untuk teman-teman di Banjarmasin, tanggal 10 Mei 2016 nanti giliran kalian lho yang bisa menikmati Beautypreneurship 2016. Untuk seminar dan hair show price nya Rp. 350.000, sedangkan untuk workshop Rp. 500.000. Info lengkapnya buka saja akun instagram @puspitamarthaid :)



cheers,

Indi
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 09 April 2016

How to Deal with School Days as a Scolioser? :)



Yaaaaay, weekend! Lol, OMG, sepertinya opening gue kurang variatif. Sering banget tulisan dibuka dengan betapa excited nya gue dengan weekend atau hari libur yang tiba. Tapi mau gimana lagi, kesempatan gue menulis biasanya memang muncul di hari-hari seperti ini, hihihi. Lagipula, siapa sih yang nggak suka weekend? Well, meski pasti ada yang jawab, "Gueeee!" sambil mengacungkan tangan, tapi gue yakin kebanyakan dari kita menyukainya. Pekerja kantoran (mostly) libur di hari sabtu dan minggu, begitu juga anak-anak sekolah yang dengan happy dadah-dadah sama pelajaran di kelas, ---tapi welcoming homework, lol :D Pokoknya weekend adalah waktu dimana gue bisa menulis sampai larut tanpa harus dagdigdug karena sadar besok mesti bangun pagi-pagi ;) Ngomong-ngomong soal sekolah, sejak SD sampai sekarang gue selalu merasakan hal yang sama; mixed feeling antara fun sama challenging. Gue sangat menikmati saat-saat berkumpul dengan teman-teman dan belajar hal-hal baru (---well, nggak selalu, sih, lol). Tapi gue juga merasakan beberapa tantangan seperti PR yang super banyak dan terkadang peer pressure. Sekolah memang bukan the easiest thing in the world, gue yakin kita nggak selalu mengalami hal manis. Terkadang pahit, atau minimal kecut, hihihi. Dan sebagai seorang scolioser(---pengidap scoliosis, kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping) tantangan di sekolah bisa saja jadi terasa lebih berat. Tanpa bermaksud menganggap scoliosis sebagai beban (it's a bless, trust me), dealing dengan brace atau menghadapi pelajaran olahraga bisa jadi saat-saat yang begitu membingungkan. Gue juga pernah mengalami, ---kebingungan sebagai murid baru di SMP dan baru saja didiagnosis mengidap scoliosis oleh dokter. Tapi seiring dengan berjalannya waktu gue mulai menemukan tricks yang membuat hari-hari di sekolah terasa lebih nyaman :)

"Scoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya."



1. Bagaimana cara memberitahu kepala sekolah dan guru-guru?

Gue mengerti bahwa bagi sebagian scolioser berbicara tentang scoliosis bukan hal yang terlalu nyaman untuk dilakukan. Tapi penting sekali bagi kepala sekolah dan guru-guru untuk mengetahui kondisi kesehatan kita, terutama guru olah raga. Jumlah scolioser yang banyak bukan jaminan pahamnya masyarakat terhadap scoliosis, ---termasuk guru-guru kita. Bawalah surat pengantar dari dokter dan jika perlu ditemani oleh orangtua untuk membantu menjelaskan bahwa kondisi kita bukan hal yang "sementara".
(Yes, scoliosis bisa dikoreksi dengan cara bracing, fisioterapi atau operasi. Tapi ini bukanlah kondisi yang bisa dikoreksi dalam waktu yang cepat).


2. Mintalah tugas pengganti untuk pelajaran olahraga.


Setiap scolioser memiliki kondisi yang berbeda. Jika dokter melarang kita untuk berlari dan melompat, maka manfaatkanlah waktu berenang saat pelajaran olahraga. Gerakan renang sangat baik untuk menguatkan otot, dan itu artinya sangat baik juga untuk menjaga postur tubuh kita. Agar tetap mendapatkan nilai dengan cara yang fair mintalah tugas pengganti, misalnya saja tugas menulis atau mengumpulkan artikel. Well, tanpa berlari dan melompat pun sebenarnya kita tetap bisa masuk ke dalam tim olahraga, kok. Tawarkan diri untuk menjadi "asisten pelatih, aka guru kita", ---tugas apapun yang diberikan itu bukan masalah karena nggak ada yang namanya "peran kecil" di dalam sebuah tim ;)


3. Sesuaikan seragam sekolah.


Jika memakai brace di balik seragam, otomatis kemeja dan rok kita akan terasa lebih sempit. Untuk menyiasatinya kita bisa memakai seragam yang sizenya 1 nomor lebih besar dari biasanya. Gue sendiri lebih nyaman untuk memakai seragam yang lebih besar dibandingkan menutupi brace dengan jaket, karena saat udara panas rasanya cukup menyiksa. Brace + gerah = not good, bisa biang keringat, hihihi.


4. Hadapi bully.


Bullying bisa menimpa siapa saja, termasuk kita. Dan saat dibully kebanyakan dari kita mengira bahwa scoliosis dan brace adalah penyebabnya. Padahal bullying terjadi karena kita sendiri yang "membiarkannya". Bully is just like dogs, they can sniff your fear. Hanya karena tulang kita yang bengkok bukan berarti kita menjadi kurang dibandingkan yang lain. Jadi jangan takut, keep your chin up! Karena nggak ada seorang pun yang pantas untuk dibully. Tapi jika kita sudah merasa terancam (secara mental atau fisik), jangan ragu untuk melaporkannya pada orang dewasa, ---misalnya guru atau orangtua. It doesn't make you a "snitch", because sometimes you need help to defend your self.


5. Sediakan tempat untuk menyimpan brace.


Nggak semua sekolah punya loker dengan space yang cukup besar. Terkecuali jika memakai brace bertipe soft seperti yang SpineCor yang gue pakai, maka tempat penyimpanan nggak menjadi masalah karena bisa dengan mudah dilipat dan dimasukan ke dalam tas. Tapi jika memakai brace dengan tipe hard (seperti boston, dll) yang ukurannya lebih besar, maka gunakan kantung plastik atau kantung parasut untuk tempat penyimpanan. Penting sekali untuk menjaga kebersihan brace meskipun hanya ditinggalkan sebentar untuk pelajaran berenang. Jangan lupa, brace adalah our second skin :D



Dengan atau tanpa scoliosis sekolah memang selalu menantang, ---tapi sekaligus menyenangkan. It's okay untuk mempunyai fase khawatir atau sedikit takut saat menghadapi hal yang baru. Memberi waktu pada diri sendiri untuk terbiasa bukan berarti lemah atau cengeng. Dan seperti fase memakai brace, sekolah juga suatu hari akan selesai. Jadi nikmatilah, because life is good. Life is always good :)


yang paling suka pelajaran olahraga karena bisa ketemu mika,

Indi


Get your own SpineCor here:
Indo Sehat Utama
APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470

(021) 29339295 / 29339296.
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469