Kamis, 31 Desember 2020

Our Christmas Story :)


Waaa, besok sudah tahun baru lagi guys! :') Setelah tulisan Halloween kemarin, sebenarnya gue langsung nulis tentang anniversary pernikahan, lho. Tapi karena kepotong-potong sama mager dan aktivitas sehari-hari (apaan, sih, hahaha), jadi baru selesai setengah. Tadinya sih mau gue lanjutin sekarang mumpung lagi buka laptop (di window lain gue lagi nonton film horor, lol), tapi rasanya bakal lebih relevan kalau gue nulis tentang Christmas kemarin. Iya nggak sih, mumpung baru lewat beberapa hari :D


Kalau lihat status teman-teman di Whatsapp dan Instagram, kemarin-kemarin itu lagi warna-warni banget. Ada yang main ke villa, ke luar kota, ke tempat wisata, bahkan yang ngemall juga ada. Gue sempat ngiler dan bilang soal ini sama Shane. Maunya kemana gitu di libur Natal ini. Tapi kok setelah dipikir-pikir lagi nggak wise ya... Mungkin orang lain bisa disiplin menjaga protokol kesehatan. Tapi bagi gua dan Shane, meski sudah maskeran dan selalu bawa hand sanitizer, somehow masih was was. Yaaa... daripada malah kepikiran yang nggak-nggak dan jadi nggak menikmati liburan, diputuskanlah untuk stay di rumah saja. Sampai detik ini kami memang masih melakukan apa-apa dari rumah. Dari mulai bekerja, berbelanja sampai untuk hal hiburan (membeli film, musik, dll). Kecuali kalau nggak bisa dihindari, seperti mengurus KITAS, ---izin tinggalnya Shane atau ke dokter. Syukurnya sih di tahun 2020 ini kesehatan kami baik, jarang sekali ke dokter dan nggak ada masalah yang serius. Semoga sih tahun depan dan berikutnya juga begitu ya :) Amin...


Gak pakai rencana juga sampai bikin to do list gitu, tapi kami lebih let it flow sih. Kalau mau ngapain ya lakukan saja, asal terasa suasana Christmasnya. Dan masih sama seperti tahun kemarin, rumah kami masih sepi ornamen, hehehe. Padahal Ibu Mertua sudah mau mengirimi kami pohon Natal mungil, lho. Tapi terpaksa batal karena setelah dihitung biaya kirimnya hampir 10 juta, belum termasuk bea cukainya. Mending beli di sini saja lah, bisa dapat pohon sama makan buat sekomplek kalau segitu :'D 

Jauh-jauh hari gue sudah ditanyain kepengen hadiah apa dari Ibu Mertua. Jujur tiap ditelepon gue selalu menolak, ---bukannya apa-apa tapi gue masih trauma sama ribetnya proses mengambil kado Natal sejak tahun 2018-2019. Kalau gue ceritakan bisa nggak lanjut nih cerita Natal gue saking panjangnya. Pokoknya ribet, ribet, ribet dan MAHAL :( Akhirnya kami sepakat untuk membeli kadonya di Indonesia saja. Jadi gue tinggal bikin list apa saja yang gue mau dari toko lokal, lalu tinggal bilang sama Ibu Mertua.


Eh tapi ternyata...

Sepakatnya batal, hahaha. Namanya ibu-ibu ya dimana saja sama. Beliau merasa bukan Christmas kalau gue dan Shane nggak menerima kado secara langsung. Jadi setelah gue bikin list hadiah untuk dibeli di sini, beliau masih "maksa" untuk bikin list lain yang nanti akan dikirim dari Amerika. Mau nolak sudah nggak bisa, salah-salah gue malah menyinggung. Jadi gue pun setuju dan secara khusus hanya menulis benda-benda kecil di wish list kami. Harapan gue sih biar mertua gue nggak harus keluar biaya terlalu banyak untuk menebus hadiahnya di sini. Karena gue tahu beliau pasti nggak akan membiarkan kami membayar biaya bea cukai sendiri meskipun sebenarnya "tugas" beliau untuk proses mengirim hadiah sudah selesai. 




Gue dan Shane menerima kado Natal kami tepat waktu. Untuk prosesnya sengaja nggak gue ceritakan di sini karena pasti mengganggu mood, ---baik mood gue dan juga yang membaca, hahaha. Di luar keribetannya, gue dan Shane senang sekali karena bisa menerima kado secara tradisional. Maksudnya, kado yang di dalam boks, dan kami bisa merobek kertas pembungkusnya :) Yang gue pinta hanya piyama, the Body Shop, cat kuku, sarung bantal guling warna coklat, ditraktir ke salon (lol) dan lensa kontak karena mata gue minus. Tapi ternyata Ibu Mertua juga mengirimi hadiah lain. Gue dapat bando berwarna-warni yang bikin gue senyum-senyum. Rasanya lucu dan manis saja karena beliau mengerti sekali betapa gue suka pakai aksesoris rambut (dua tahun lalu malah dikirimi satu kantung pita rambut, hahaha). Kadang gue berpikir, kalau menikahnya bukan dengan Shane mungkin siapapun mertua gue itu nggak akan segini mendukungnya dengan penampilan gue yang kata orang kaya anak kecil :p Gue juga dapat chopper untuk sayuran yang seriusan, begitu bungkusnya dibuka langsung gue cuci dan pakai saking senangnya. Jadi gue sudah lama ingin dan BUTUH banget benda ini. Tapi somehow nggak pernah jadi prioritas kalau belanja (---prioritas gue makanan, astaga). Yang bikin gue cengar-cengir ternyata candaan kepengen printilan macam pengharum ruangan saja beneran dibeliin dong, sampai 4 biji dan sekarang sambil nulis gue agak-agak pusing karena semua kemasannya sudah dibuka SEMUA sama pihak bea cukai. Wanginya jadi tabrakan, bhahahaha... 


Dari semua kado itu ada yang sangat istimewa buat gue. Dress batik. Iya, batik Indonesia. Tapi yang bikin istimewa justru bukan batiknya, melainkan alasan Ibu Mertua kenapa beliau membelinya. Katanya karena ia tahu gue sangat suka batik. Jadi waktu beliau nggak sengaja melihatnya di toko, ia bilang harus membelinya untuk gue. Aww, bless her heart :') Gue harap suatu hari bisa membalas kebaikannya. Tahun ini gue nggak bisa memberi apa-apa untuknya (katanya tas dari kami tahun kemarin pun masih bagus dan masih sering dipakai). Gue tahu beliau pasti nggak mengharapkan apa-apa, but still... :)




Setelah kado-kado yang menghangatkan hati, masih ada hangat-hangat yang lain dalam arti sesungguhnya. Gue dan Shane mencoba baking! :p Ya... kalau sekedar bikin kukis sama kue Oreo sih sering, ya meski hasilnya begitulah (nggak usah dibahas, lol). Tapi untuk pertama kalinya entah apa yang merasuki (cieh sosisssonais), gue ingin membuat cinnamon rolls sendiri :D Meski kami vegan tapi kami menolak missing out. Prinsip kami sih nggak ada makanan apapun yang nggak bisa "divegankan" :p

Kebetulan di dapur ada stok kayu manis bubuk yang tadinya mau gue gunakan untuk memasak kari. Tapi lalu gue ingat kalau gue itu nggak bisa masak, hahaha. Setelah googling ditambah mengarang bebas, akhirnya kami baking dengan alat seadanya. Bangga sekali, tanpa membuat dapur terlalu berantakan (biasanya sampai pecaaaaah ke ruang TV), akhirnya kami berhasil membuat cinnamon rolls pertama kami :'D Rasanya? Enak banget dong! Bentuknya jelek? Biarin! Hehehe. Eh, ini seriusan enak lho. Seenggaknya cukup enak lah sampai gue pede buat share resepnya. Ini gue SS dari Instagram gue. Siapa tahu ada yang mau coba. Eggless dan dairy free. Yang nggak vegan tapi alergi bisa banget coba :)




Ada tradisi nggak tertulis yang gue yakin dilakukan oleh banyak orang di seluruh dunia di bulan Desember; Menonton film Home Alone. Hahaha.

Ayo ngaku! :D

Tapi tahun ini ternyata kami melewatkannya. Padahal jauh-jauh hari gue sudah request untuk nonton film Home Alone 2 karena ada kenangan tersendiri dengan film itu (---yang pernah membaca "Waktu Aku sama Mika" mungkin ingat). Kenyataannya kami malah menonton film yang terduga sama sekali; Sister Act 1-2 dan Christmas Carol! Sister Act adalah film yang di masa kecil yang sering diputar ulang oleh gue dan Puja, adik gue. Menontonnya kembali setelah entah berapa tahun, apalagi bersama Shane terasa begitu menyenangkan. Ada perasaan nostagic juga bahagia karena bisa berbagi film kesukaan gue dengan orang yang sangat berarti. Juga Christmas Carol yang selalu mengingatkan gue dengan rumah orangtua. Gue masih punya VCD nya di sana, di suatu tempat. 



Sisanya, gue dan Shane menjalani bulan Desember seperti hari-hari biasa. Ada hari-hari dimana kami memakai outfit Christmas kami, menonton film-film bertema Christmas, ---tapi ada juga hari-hari dimana kami menonton film horror atau bahkan nggak melakukan apa-apa seharian. Seperti yang sudah gue bilang, just let it flow, karena justru itulah yang membuat kami sangat menikmati waktu :)

Sekarang Natal sudah selesai dan kami bersiap menyambut tahun baru. Rencananya kami akan menginap di rumah orangtua bersama dua keponakan, Ali dan Abi Cody. Perasaan gue dengan datangnya tahun 2021 masih campur aduk, you know what I mean... Tapi bukan berarti gue pesimis, karena tahun yang baru adalah simbolis bagi awal yang baru. Jadi nggak ada alasan untuk khawatir berlebihan, kan :)



Soooo, bagaimana dengan Natal kalian? Semoga semuanya menyenangkan ya. Dan untuk yang harus menghabiskan Natal dan tahun baru nanti sendirian... peluk virtual dari gue dan Shane di sini. Things will get better. Amin :)


(Video musik terakhir gue dan Shane di tahun 2020. Pengguna mode Mobile klik di sini )



cheers,


Indi


-----------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 03 November 2020

Cerita Halloween Tahun Ini yang "Berbeda" :)





Halloween... Halloween... nggak pakai malu-malu gue bilang kalau ini adalah salah satu musim liburan favorit gue, hahaha. Dari waktu kecil sampai sudah menikah sekarang, gue selalu menikmati hujan dari balik jendela kamar, film-film seram, berkumpul dengan keluarga... dan tentu saja segala macam dekorasi dan kostumnya. Tentu karena gue lahir dan besar di Indonesia, Halloween yang gue kenal itu nggak seperti yang di film-film. Nggak ada trick or treat (kecuali di tempat terbatas, misal sekolah, perumahan, kantor atau mall), dan dekorasi sampai ke pekarangan. Apalagi dengan originnya, meski tahu, mengerti dan menghormati tapi di sini lebih seperti di Amerika. Halloween nggak melulu harus seram dan dikaitkan dengan kepercayaan tertentu. Mau pakai kostum Superman atau Mickey Mouse pun boleh-boleh saja, hahaha.


Meski spirit gue tetap sama (bahkan lebih, lol) tapi nggak bisa dihindari kalau kondisi sekarang harus membuat gue bikin beberapa penyesuaian. Dulu biasanya Ibu membuatkan gue kostum, ---nggak harus baru, kadang dress lama dirombak kembali atau menggunakan kain-kain yang sudah ada. Bapak juga dulu selalu membantu gue untuk membuat dekorasi dan pelengkap kostum, seperti waktu membuatkan gue sayap tinkerbell dari gantungan baju. Tapi karena sekarang sudah tinggal terpisah, berkunjung ke rumah mereka lalu nonton film horor saja sudah cukup, kok :) Justru malah menantang gue untuk lebih kreatif, ---lebih kreatif dari dulu karena sekarang apa-apa hanya dikerjakan oleh gue dan Shane saja. 


Punya tanggal pernikahan yang dekat dengan Halloween itu semacam berkah tapi rempong. Kenapa? Soalnya kalau mau rayain anniversary harus benar-benar diatur biar nggak tabrakan sama Halloween yang biasanya sudah ditunggu-tunggu (baca: ditagih terus) sama keponakan gue, Ali. Hahaha. Untungnya, karena ini sudah tahun ketiga gue dan Shane merayakan Halloween bersama, kami jadi sudah makin pro :p Caranya dari jauh-jauh hari, alias awal bulan Oktober kami cicil apa saja yang dibutuhkan untuk Halloween. Termasuk diatur budgetnya juga supaya nggak berlebihan dan tiba-tiba ada pengeluaran nggak terduga. Dimulai dari yang Ali inginkan. Dia bilang ingin menjadi bajak laut, jadi kami belikan topi bajak laut saja tanpa kostum. Karena menurut kami dengan memakai topinya saja sudah cukup menunjukkan bahwa dia bajak laut :D Ali juga ingin mengukir labu karena tahun kemarin nggak sempat ikutan dan membuat kue lumpur (mud cake). Jadi Shane siapkan budget untuk membeli itu semua ketika hari H, plus budget untuk pengganti trick or treat'in yang nggak diadakan tahun ini karena sekolah libur. 


Sedangkan untuk kami berdua sih, dibanding segala macam sweets kami lebih peduli dengan film-film horror dan dekorasi yang membuat suasana rumah lebih hangat. Kami membeli kaos bertama Halloween kompakan yang hanya berbeda warna. Nggak pakai kortum untuk hari H karena sebelumnya ternyata ada event di salah satu coffee shop dekat rumah kami, jadi mending dipakai untuk ke sana saja. Selebihnya kami membeli sarung bantal sofa dengan pertimbangan bisa dipakai untuk jangka waktu lama dan memang butuh (maklum pengantin baru, di rumah baru punya satu pasang, hahaha). Juga ember permen untuk Ali hunting pura-pura trick or treat'in di supermarket, dan balon-balon digunakan sebagai dekor yang nantinya bisa digunakan Ali untuk bermain (two in one kan jadinya, hehe). Kebetulan rumah kami memang temanya Halloween sepanjang tahun. Jadi segitu saja sudah cukup. Bersenang-senang boleh, tapi harus tetap ingat buat bijak ;)



Pra Halloween.


Halloweennya sih memang cuma satu hari. Tapi sejak masuk bulan Oktober biasanya Halloween vibe sudah terasa. Tahun-tahun kemarin gue dan Shane marathon film horror (hampir) setiap malam sampai mata sepet, hahaha. Sedangkan tahun ini, karena stock film sudah menipis jadi film yang kami tonton nggak terlalu banyak. Kebanyakan sih ketika menginap di rumah orangtua karena di sana ada TV kabel (---iya, kami nggak/belum punya, masih mempertimbangkan perlu atau nggak). Kadang nontonnya kepotong-potong juga karena kebetulan ada 2 keponakan gue yang sedang menginap di sana. Mereka lebih tertarik dengan kostum-kostum Halloween daripada film. Jadi yaaa gue mengalah untuk mendandani mereka sambil tetap gue sounding kalau Halloween masih akhir bulan nanti, hahaha.


Keponakan gue ada 2, namanya Ali dan Abi Cody. Mereka sih biasanya cuek, mau pakai apa saja asal kostum sudah happy. Ali yang lebih tua saja baru tahun ini punya keinginan jadi bajak laut. Tahun-tahun kemarin dia akan pakai apapun yang dipilihkan bundanya atau bahkan gue. Jadi gue dandani saja mereka menjadi R. L Stine dan Slappy. Lol, yup, kalau sudah mengenal gue cukup lama pasti tahu kalau gue adalah fans berat karya-karya R. L Stine, terutama Goosebumps :D Gue tunjukkan dulu foto-fotonya pada mereka, dan mereka mau. Kebetulan Cody anak aktif dan cerewet sekali, jadi gue pikir cocok untuk didandani seperti Slappy, si boneka hidup beraksi dari Goosebumps. Ketika mau gue foto saja dia nggak mau diam, hahaha. Untung saja gue sempat mengambil beberapa foto jadi bisa disimpan untuk kenang-kenangan :)



Sedangkan Ali, dia sih nggak didandani juga sudah "mirip" dengan R. L Stine, hahaha. Ini menurut gue lho, kalau pembaca di sini anggap nggak mirip ya nggak apa-apa :p Mata mereka sama-sama teduh. Belum lagi dia anaknya imajinatif, nggak akan kaget kalau suatu hari bakal jadi penulis hebat, hahaha (Amin...). Tinggal gue kasih tahilalat palsu, sudah deh jadi R. L Stine.


 

Dan ternyata 2 bocah ini dapat kejutan pra Halloween dari R. L Stine! Beliau melihat foto mereka dan memutuskan untuk me-retweet foto Ali! Hahaha, beliau bahkan memberi komentar. "Looking good!" katanya, dan langsung dishare oleh puluhan fansnya. Cody juga dapat reaksi dari R. L Stine, dua kali beliau memberi "heart" pada fotonya. Gue sebagai tantenya jadi senyum-senyum sendiri, hehe. Sudah puluhan tahun jadi fansnya akhirnya dinotice juga gara-gara keponakan :D


Gue yang sebenarnya hanya terfokus dengan hari H dan hanya nonton film sambil menunggu Halloween, ternyata malah ikutan "perayaan" pra Halloween juga. Gara-garanya sih di Kopi Q, coffee shop dekat rumah gue (dekat banget, masih satu komplek) ngadain event lucu gitu. Mereka ada free meals buat pengunjung yang datang pakai kostum Halloween. Nah, kebetulan gue lagi mau ke rumah ortu (LAGI, hahaha) jadi sekalian saja gue mampir ke Kopi Q dengan kostum Snow White gue. Dapatnya plus-plus kan, seru ber Halloween sekaligus perut kenyang :D Ini juga nih bisa jadi salah satu alasan kenapa gue suka banget Halloween, soalnya banyak promo dan freebies :p








Akhirnya, Halloween!


Ketika hari yang dinanti-nanti tiba gue malah sakit! Hahaha, pantas saja sih karena tanggal 28 dan 29 nya gue dan Shane merayakan ulang tahun pernikahan kami dan ada sedikit insiden (kapan-kapan gue ceritakan). Tapi di pagi hari tetap saja gue bangun dengan semangat dan memaksakan untuk mandi. Di luar hujan deraaaas sekali, rasanya bikin badan gue makin meriang. Untung saja Shane langsung sigap membelikan gue obat dan pelega tenggorokan. Syukurlah di siang hari gue merasa membaik dan siap menjemput Ali untuk ber Halloween bersama :) 




Ali rupanya sudah sangat siap, ketika gue dan Shane tiba dia sudah memakai jaket dan masker. Sebenarnya Cody juga ingin ikut, tapi karena dia sangat aktif rasanya nggak mungkin gue dan Shane handle apalagi keadaan gue sedang kurang fit. Rasanya nggak enak banget :( Tapi Ibu juga memang menyarankan agar Cody di rumah saja bersamanya dan berjanji dia tetap akan bersenang-senang meski nggak ikut bersama kami. Akhirnya setelah berpamitan singkat kami bertiga pergi ke supermarket. Iya, supermarket! Hahaha. Biasanya sih orang-orang membeli labu di pumpkin patch ya supaya Halloweennya lebih terasa. Tapi kami nggak mau memaksakan, supermarket adalah lokasi terdekat dan di sana juga serba ada. Sempurna bagi kami ;)


Hujan sempat berhenti sebentar ketika kami tiba di supermarket. Bahkan sebelum Shane mendapat troli, Ali sudah berlari ke tempat sayur-sayuran untuk mengambil labu, hahaha. Seketika badan gue rasanya jadi sehat walafiat! Mata Ali berkilat-kilat ketika dia menemukan labu yang menurutnya "besar dan bagus". Semangat Ali benar-benar membawa vibe positif :D Sengaja gue membiarkan Ali mengambil labu mana pun yang dia mau agar pengalaman mengukir labu pertamanya berkesan. Sebenarnya Shane sempat memberi saran untuk mengambil labu yang lebih besar dan bentuknya lebih simetris. Tapi setelah melihat ekspresi Ali, dia pun setuju untuk mengikuti "besar dan bagus" versi Ali. (---Pssst, menurut kami labunya terlalu kecil).


Kami juga sudah menyiapkan ember permen berbentuk labu untuk Ali. Sebagai ganti trick or treat, kami izinkan Ali untuk berkeliling di lorong-lorong supermarket dan mengambil permen apapun yang dia inginkan selama muat masuk ke dalam ember. Manisnya, ternyata Ali tetap ingat dengan adiknya di rumah. Dia juga ingin memberi Cody permen karena khawatir di rumah Uti (Nenek, ibu gue) nggak ada permen, hahaha. Aw, tentu saja gue dan Shane sudah siapkan oleh-oleh untuk adiknya juga. Semua yang kami beli double agar adil. Gue sih berharap tahun depan Cody bisa ikut, karena meski Ibu memastikan dia bersenang-senang di rumahnya tetap saja gue merasa ada yang kurang :')



Tepat ketika hujan kembali lebat (baca: angin kencang, petir, bikin seram) kami selesai berbelanja. Udara yang dingin rupanya membuat Ali sedikit mengantuk. Di mobil, gue bisa melihat Ali terkantuk-kantuk di kursi belakang. Tapi setiap sadar dia sedang diperhatikan, dia pasti langsung tersenyum lagi dan bilang, "Ali nggak tidur kok." :D

Gue bisa maklum, Ali masih kecil jadi acara Halloweennya pun harus dibuat singkat, family friendly (no seram-seram) dan nggak melewati waktu tidurnya. Jadi ketika kami tiba di rumah, tanpa membuang-buang waktu gue langsung bertanya apa yang ingin Ali lakukan lebih dulu. Ali ingin membuat kue lumpur, saking siapnya dia memilih 2 bungkus permen cacing ketika di supermarket. Supaya lebih seram katanya, hahaha. Gue dan Shane sebenarnya ingin membuat semua treats vegan friendly, tapi berhubung Ali bukan vegan jadi kami izinkan untuk memakai permen-permennya sebagai hiasan (dan tentu dia sendiri yang menghabiskan).




Saking semangatnya Ali nggak mau dibantu, dari mulai menghancurkan Oreo sampai memasukkan loyang ke oven dia lakukan sendiri. Gue dan Shane hanya membantu sedikit-sedikit. Dia bahkan punya ide untuk memberi "batu nisan" di kuenya, hahaha, totalitas sekali ini bocah :D Gue sempat tanya, darimana dia bisa tahu tentang batu nisan. Ternyata dari ortu gue, katanya mereka menunjukkan makam Veggie, anjing kami dulu dan di sana ada batu nisannya. Aww... :') By the way, gue happy banget pengalaman pertama Ali bikin mud cake berhasil. Maklum lah, gue dan Shane sama-sama ngaco kalau soal baking, hahaha. Harus panggang berapa menit saja pakai kira-kira. Malah kami sempat mikir kalau kuenya nggak bisa keluar loyang karena lengket, eh ternyata bisa :p


Setelah itu, tentu saja yang paling ditunggu-tunggu; Mengukir labu! Dulu, waktu gue kecil setiap Halloween hanya ada film, kostum dan permen. Labu hanya jadi sesuatu yang gue lihat di film atau di kolak pisang, hahaha. Saat diajak ke Lembang untuk melihat pumpkin patch langsung pun nggak pernah terpikir buat mengukirnya. Pokoknya gue sama sekali nggak tertarik untuk ribet-ribet :p Baru setelah dewasa gue mulai sadar kalau aktivitas ini sebenarnya bermanfaat juga buat bersenang-senang sekaligus mengasah kreativitas (cieeee...). Toh, nggak bisa dibilang "buang-buang" juga karena biji labunya bisa dijadikan kuaci. Nah, kebetulan suami gue juga ternyata sesuka itu sama Halloween, 11-12 sama gue. Jadi semenjak tahun kemarin kami mulai menjadikan mengukir labu sebagai "tradisi" Halloween kami.




Meski gue belum izinkan Ali untuk memegang pisau, tapi gue bebaskan Ali untuk menggambar pola di labu lalu Shane yang akan mengukirnya. Awalnya dia menggambar mata, lalu gagal. Akhirnya dia menggambar mulut dengan sangaaaaat lebar, hahaha. Hasilnya ternyata bagus sekali, apalagi setelah ditambahkan lilin elektrik di dalamnya. Ali bangga. Gue dan Shane juga bangga dengan karya Ali :) Kami tinggal di apartemen, jadi nggak punya halaman. Sebagai gantinya kami pajang saja labunya di balkon. Entahlah apa orang bisa lihat karena kami di lantai 15 :p





Malam semakin larut, Ali tampaknya masih sangat betah. Tapi dengan berat hati gue bilang padanya kalau dia harus kami antarkan pulang :') Di perjalanan pulang Ali terus-terusan bercerita tentang betapa bahagianya dia bisa menghabiskan Halloween bersama kami dan nggak sabar untuk merayakan lagi tahun depan. Gue dan Shane juga bahagia sekali, apalagi ini jadi Halloween pertamanya yang nggak dirayakan di rumah ortu gue. Bayangkan saja, sejak usia dia 11 bulan Ali selalu ber Halloween bersama gue dan keluarga di rumah kakek neneknya. Jadi ini pasti pengalaman yang berkesan buatnya. Juga buat kami yang pertama kalinya kedatangan "tamu" Halloween di rumah sendiri. 

Sebelum berpisah gue memeluk Ali erat. Nggak lama adiknya langsung menyambut Ali dan menagih permen hasil (pura-pura) trick or treat nya :)


Setiba di rumah gue dan Shane langsung beristirahat karena kami kelelahan. Rumah kami berantakan tapi kami senang sekali, biarlah beres-beresnya besok saja, hahaha. Setiap tahun Halloween selalu meninggalkan cerita berkesan buat gue, ---cerita yang berbeda-beda tapi semuanya sama-sama berkesan. Apa gue rindu untuk ber Halloween di rumah orangtua? Apa gue rindu pergi ke rumah hantu dan memakai kostum? IYA. Tapi biarlah kerinduan gue itu menjadi kejutan. Lihat saja tahun depan, pasti ada cerita baru lagi. Yang lebih seru! :)


Selamat Halloween semuanya. Merayakan atau nggak merayakan, semoga hari kalian menyenangkan bersama keluarga ;)



Vlog halloween kami. Jika kalian membaca ini dari mobile mode, silakan cari channel "Indi Sugar Taufik" di Youtube atau klik di sini :)


treat or TREAT, lol,


Indi


-----------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 06 Oktober 2020

Ketika Indi (Akhirnya) Menjadi Annie


Pernah nggak sih kalian punya cita-cita masa kecil yang nggak kesampaian sampai dewasa?

Gue pernah, ---dan akhirnya berhenti karena usia. Bukan, bukan karena menyerah, tapi apa yang gue cita-citakan itu hanya bisa dilakukan oleh anak-anak. Jadi begitu menginjak usia 18, gue tahu kalau harus say good bye sama cita-cita gue itu. Bukan melupakan, tapi lebih tepatnya mengikhlaskan, hehe :) 



Gue masih ingat waktu pertama kali menonton film musikal "Annie" versi Disney yang dirilis tahun 1999 lalu (---iya, sudah lama sekali). Mata dan telinga gue sama sekali nggak bisa beranjak dari adegan demi adegan, lagu demi lagu... tarian demi tarian. Padahal, jauh sebelumnya gue sudah pernah menonton film berjudul sama dengan versi yang lain. Tapi entah mengapa versi Disney ini sangat melekat di hati. Mungkin saja karena Alicia Morton, gadis yang memerankan Annie berambut lurus seperti gue. Sementara di semua versi lain Annie, si gadis yatim piatu selalu digambarkan berambut keriting menggemaskan seperti versi versi comic stripnya (yang ada sebelum versi broadway apalagi filmnya)


Gue yang pemalu, ---jauh lebih pemalu dari sekarang, hehe, ---mulai berani mencoba menyanyikan lagu-lagunya. Silently, hanya sekedar lip sync sampai akhirnya berani mengeluarkan suara. Di dunia gue, gue adalah Annie. Tapi gue nggak berani memberitahu siapapun. Hanya Tuhan dan boneka-boneka di kamar lah yang menjadi penonton musikal gue. Beranjak remaja gue mulai memberitahu cita-cita gue pada orang-orang terdekat. Orangtua, terutama. Reaksi mereka? Ternyata tanpa gue beritahu pun mereka sudah tahu, hehe. Terutama Ibu. Mungkin karena sudah terlihat jelas. DVD "Annie" saja gue putar berulang-ulang, lalu inspirasi style untuk dress gue pun kebanyakan diambil dari film itu. Jadi mereka nggak terkejut lagi. Kalau sama teman-teman, gue memang nggak terang-terangan karena of course, ---gue tahu diri. Usia gue sudah mulai ketuaan untuk memerankan Annie, dan gue juga nggak bisa bernyanyi. Apa kata meraka kalau tiba-tiba saja gue bilang ingin muncul di pertunjukan musikal? Mau jadi peran utama lagi! Pasti mereka bingung, hahaha.


Tapi gue pikir kalau kesempatan menjadi pemeran utama terlewat, at least gue masih bisa menjadi Annie "ramai-ramai". Lalu mulailah gue menghasut pelatih paduan suara gue untuk membawakan lagu-lagu "Annie". ---Namanya Kak Immanuel, hampir tiap latihan gue bujuk terus sambil memaksanya mendengar lagu-lagunya. Berhasil? Hampir! Karena justru ketika Kak Immanuel dan teman-teman padus setuju, datanglah berita buruk. Dana untuk membuat konser mini kurang, padahal kami sudah berlatih bahkan siap dengan konsep kostumnya. Paduan suara dibubarkan... begitu juga dengan cita-cita gue, huhuhu...


Dulu gue ikut paduan suara bukan karena merasa bisa bernyanyi. Bernyanyi di kamar mandi saja jarang, apalagi di depan umum, hehe. Tujuan gue ikut karena gue ingin bernyanyi tapi nggak mau menonjol. Aneh kan? Maunya dapat peran Annie tapi pemalunya setengah mati :D Waktu di penghujung usia remaja gue masih mikir mungkin suatu hari gue akan berani untuk ikut audisi musikal, mungkin gue masih masih bisa "paksa" usia gue untuk dapatkan peran Annie. Tapi beranjak dewasa gue tahu kalau mustahil untuk memerankan anak usia 10-11 tahun (Alicia Morton waktu itu 12 tahun waktu memerankan Annie). Tubuh gue semakin tinggi, belum lagi suara gue nggak senaif dulu karena sudah mengenal pahit manis kehidupan, ahahaha (becanda!)


Akhirnya gue sampai dititik benar-benar ikhlas bahwa gue nggak bisa memerankan Annie. Tapi tetap, gue menjadikan film musikal itu sebagai inspirasi. Filmnya masih gue putar here and there. Bahkan waktu gue punya film layar lebar sendiri yang berjudul Mika, gue minta Ibu membuatkan dress istimewa untuk dipakai ke pemutaran perdana. Dress berwarna merah dengan pita putih di pinggang, seperti Annie :) Gue kembali menjadi Annie di my own world saja. Hampir nggak pernah gue menyebut namanya lagi kecuali saat keluarga atau teman-teman dekat bertanya (ada satu orang teman yang dari dulu sampai sekarang selalu memanggil gue dengan sebutan 'Kakak Annie', namanya Wilson). Bahkan suami pun nggak tahu kalau dulu gue punya obsesi untuk memerankan Annie. Ia tahu gue punya dress merah, tapi ia sama sekali nggak menyangka kalau dress itu punya nilai historis sampai akhirnya gue ceritakan :)


Di premiere film gue sendiri, Mika, gue memakai dress Annie :)


Gue punya teman yang berada jauh dari sini, di Jepang. Namanya John Pak. Beliau usianya jauh di atas gue, mungkin seusia dengan Bapak. Kami bisa berteman karena sama-sama bermain ukulele. Bisa dibilang gue adalah fansnya karena saat mengikuti channel musiknya, gue masih sangat baru di dunia ukulele. Diawali dengan saling bertukar komentar, kartu pos, lalu kami pun berkolaborasi. Sudah cukup lama terakhir kami bermain musik bersama, mungkin karena sama-sama sibuk, ---setahu gue John memang nggak banyak melakukan kolaborasi belakangan. Bulan lalu, entah dapat ilham darimana, gue tiba-tiba saja berkomentar di salah satu videonya, "Seharusnya kamu bikin kolaborasi ala karantina, pasti seru!". Eh, malamnya gue dapat pesan dari beliau yang ternyata meminta gue untuk mengisi satu line di lagu yang sedang dikerjakannya. Rasanya senang sekali, karena gue memang rindu berkolaborasi dengannya (---iya, meskipun gue cuma mengisi beberapa detik saja). Tapi rasa senang gue rupanya belum apa-apa, karena setelahnya John menginginkan kolaborasi yang lebih imbang, dan gue mendapat kehormatan untuk memilih lagunya! Bisa tebak kan apa yang gue pilih?! :D


Tentu saja gue memilih salah satu lagu dari musikal "Annie". Gue bahkan sudah tahu lagu yang mana yang cocok untuk kami. Tapi sebelum gue beritahu John, gue beritahu Shane lebih dulu tentang siapa itu Annie. Saking senangnya gue sampai berkaca-kaca menceritakan tentang obsesi masa kecil gue (ahahaha...). Dan dengan lantangnya gue bilang, "AKU AKHIRNYA JADI ANNIE! CITA-CITAKU AKHIRNYA TERCAPAIIIIII!" Shane mungkin bingung, tapi gue mana peduli, gue terlalu bahagia! Bahkan saking bahagianya gue langsung WhatsApp Ibu untuk minta dikirimi dress Annie buatannya. Nggak lupa gue juga bilang tentang rencana kolaborasi gue dengan John Pak, yang ternyata membuat Ibu terharu. Katanya beliau bangga sama gue karena akhirnya mendapat apa yang sudah lama diimpikan :')

... Dan di sini gue baru sadar kalau John belum tentu setuju dengan pilihan lagu gue. Lah, gue bilang saja belum, kok :'D


Syukurlah, ternyata John setuju dan menganggap lagu "I Don't Need Anything But You" adalah pilihan yang bagus :) Gue bersemangat sekali, ---bisa dibilang agak over, huhu. Masih di malam yang sama gue langsung mengirimkan video lagu asli, chords dan lirik lagunya agar John bisa mengerjakan bagiannya. Sedangkan bagian gue? Sudah beres! Iya, sesemangat itu coba. Rasanya ada yang memacu adrenalin gue sampai-sampai gue tahan nggak tidur semalaman demi 'menjadi Annie'. Gue sampai meminta maaf berkali-kali pada John karena gue khawatir membuatnya terburu-buru. Tapi John bisa mengerti, katanya beliau tahu betapa gue sangat menyukai Annie, dan ia senang karena bisa menjadi bagian dari apa yang sangat berarti untuk gue. Oh, my... gue terharu banget sampai-sampai sedikit menangis waktu mengetik balasan pesannya. Lalu akhirnya tangisan gue yang 'sedikit' pun berubah menjadi menangis betulan, ---karena Shane ternyata ingin menjadi bagian dari cita-cita masa kecil gue juga. Ia setuju untuk bermain gitar untuk mengiringi kolaborasi kami!




Proses rekaman musik dan videonya terasa seperti mimpi, semuanya berjalan dengan cepat. Tahu-tahu saja video clipnya sudah tayang. Dan rasa bahagia gue jadi berlipat-lipat karena Ibu dan Bapak terus-terusan mengirimi gue pesan tentang betapa bangganya mereka. Mungkin saat membaca tulisan ini ada di antara kalian yang menganggap kalau gue dan keluarga bereaksi berlebihan. "Masa nyanyi di YouTube doang bangga," begitu mungkin di benak kalian. Hehehe, itu nggak apa-apa, kok dan sangat wajar. Karena apa yang menjadi 'prestasi' bagi setiap orang kan berbeda. Dan belum tentu orang lain juga punya perasaan yang sama (kecuali kalau suatu hari internet bisa punya virtual feeling, jadi saat membaca tulisan kalian juga bisa sekalian merasakan perasaan si penulis, lol). Buat gue berhasil membawakan salah satu lagu dari musikal Annie ini adalah pengingat bahwa nggak ada kata terlambat dalam menggapai sesuatu. Apa yang kita cita-citakan mungkin nggak bisa terwujud di saat itu juga, tapi bukan berarti mustahil, ---bisa saja nanti :)


Video clip "I Don't Need Anything But You" dengan gue sebagai Annie. Yay! :)

Untuk yang membuka blog ini di mobile mode, klik DI SINI untuk menonton video clipnya.


Gue pikir 'cerita Annie' hanya sampai di sini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Tengah malam ketika mengecek notifikasi di instagram, gue menerima komentar yang menurut gue... aneh. Dari seseorang yang bernama Sacha Charnin Morrison. Isinya seperti ini;

"Dari semua versi TV dan film, Annie 1999 lah yang paling mirip dengan versi panggungnya. Ayah saya adalah yang mengubah dari kartun menjadi musikal (dengan bantuan banyak orang). Teruslah bernyanyi, di suatu tempat ayahku bisa mendengarnya." ---Komentar diakhiri dengan emoji tepuk tangan dan hati berwarna merah. 

Nggak cukup satu kali gue membaca komentarnya agar yakin dengan maksudnya. Ayah? Siapa yang ia sebut Ayah? Karena penasaran gue ketik namanya di mesin pencari Google. Dan hasilnya benar-benar membuat gue kena mini heart attack. Sacha adalah putri dari almarhum Martin Charnin, ---konseptor dari musikal Annie!



Keesokan harinya gue dan Shane menginap di rumah Ibu dan Bapak, bisa ditebak dong gue langsung bersemangat untuk bercerita tentang komentar manis yang gue terima. Gue bilang, gue merasa sangat diberkahi karena kejutan datang bertubi-tubi. Gue pikir waktu akhirnya bisa membawakan salah satu lagu Annie saja sudah lebih indah dari apa yang pernah gue impikan, tapi rupanya masih ada kejutan lain. Ibu dan Bapak menggoda dengan bilang kalau gue pasti salah lihat, atau yang berkomentar itu akun palsu. Lalu kami tertawa sampai perut kami sakit, hahaha :D Gue bilang, "Lihat saja sendiri kalau nggak percaya," sambil menyerahkan handphonenya pada Ibu. Tapi gue lupa kalau untuk membuka layarnya dibutuhkan password, jadi gue ambil kembali handphonenya. Dan saat itulah gue melihat ada notifikasi yang masuk. Seseorang baru saja memfollow gue di instagram.


Alicia Morton.


Gue difollow oleh ALICIA MORTON!


---Itu Annie sungguhan!!


OMG!



yang akhirnya menjadi Annie,


Indi



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 01 September 2020

Menang atau Kalah? :) Update dari Kompetisi Kejar Mimpi!

 



Haiiiii, kali ini gue mau post singkat saja. Gue mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyaaaak untuk teman-teman di sini yang sudah mendukung waktu gue ikutan kompetisi cover lagu di "Kejar Mimpi" (gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga). Gue berada di urutan 25. Secara tekhnis gue kalah, tapi gue tetap merasa menang karena berhasil mengalahkan rasa takut gue :)

"Apa kemampuan bermusik gue terlalu biasa?"

"Apa gue terlalu 'tua' untuk belajar sesuatu yang baru?"

"Bagaimana nanti dengan komentar orang-orang?"


Siapa peduli? Yang penting gue mencoba, lakukan yang terbaik dan bersenang-senang. Deg-degan karena menunggu hasil lomba itu lebih asyik daripada nggak melakukan apa-apa ;) 

Gue juga mau ucapkan selamat kepada para pemenang dan semua yang berpartisipasi. Kalian hebat! :)


Video cover "Ibu Pertiwi", lagu wajib untuk kompetisi. Gue bernyanyi dan bermain ukulele di sini. Sementara Shane, suami gue, bermain gitar dan jadi cameraman :p



yay!

Indi


---------------------------------

Dapatkan novel "Waktu Aku sama Mika" di: 0878 43333019 (WhatsApp Shira Media),

dan dapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di 0877 81930045 (WhatsApp Haura Publishing).

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 18 Agustus 2020

Memperingati Hari Kemerdekaan RI ala Indi dan Shane di Rumah Saja

Di pengingat kenangan Facebook gue muncul foto dari tahun kemarin. Gue, Shane dan Ali, ---keponakan gue, berpegangan tangan di depan depan tiang canopi yang dihiasi bendera merah putih. Gue memakai kebaya merah, Shane yang memakai batik tampak mengernyit karena teriknya cahaya matahari. Sementara yang Ali memakai baju pangsi Sunda tersenyum nakal ke arah kamera, ---yang anehnya terlihat lebih mungil dari yang gue ingat (sepertinya setiap berganti tahun gue terus-terusan merasa Ali tumbuh dengan cepat, hahaha). Ya, kami baru saja selesai merayakan hari kemerdekaan Indonesia waktu foto itu diambil. Saking lamanya berdiam di rumah gue jadi terkejut sendiri kalau itu BARU satu tahun yang lalu. Tahun kemarin gue masih ikut pawai bersama Ali dan Shane di sekitar sekolah, juga masih menonton pawai dari RT dan RW lain dari balik pagar rumah orangtua gue. Somehow mengingat semua itu jadi terasa janggal. Jangankan untuk berdesakan di pawai pawai, untuk antri di kasir supermarket saja sekarang rasanya "salah".


16 Agustus 2020

Kalau saja kemarin gue nggak membuka Facebook, mungkin gue akan lupa kalau besok adalah hari jadinya Indonesia. Gak ada kemeriahan di luar, bendera juga nggak kelihatan dari balkon rumah kami. Memang tinggal di apartemen itu terkadang terasa terasing. Apa yang terjadi di bawah, yang sebenarnya jaraknya dekat saja kadang kami nggak tahu. Suasana festive nggak akan terasa kalau bukan gue dan Shane sendiri yang ciptakan, ---paling-paling kalau ada kembang api saja jadi kami jadi punya clue kalau sedang ada perayaan di luar sana, hehe.

Gue bilang sama Shane kalau kami bahkan nggak punya bendera di sini, sementara gue rindu dengan suasana tujuhbelasan :') Shane pun menenangkan gue. Katanya mungkin kami bisa menemukan bendera kecil untuk dipajang di balkon, nanti malam saat kami ke supermarket untuk berbelanja keperluan dapur. Gue yang tadinya mellow langsung semangat berganti baju dan mulai memikirkan apa saja yang akan gue beli untuk besok :)

Gue pikir akan seru jika kami bisa punya "Hari Indonesia", ---pokoknya seharian serba Indonesia, dari mulai makanan, pakaian sampai tontonan. Jadi gue pun mulai memenuhi keranjang dengan apapun yang khas Indonesia, ---selama itu vegan, hehe. Nasi tutug oncom, nasi kuning, kacang koro, teh botol, coklat Bali, air kelapa, mi lidi, dan segala macam produk makanan lokal lainnya. Sampai-sampai gue baca satu persatu lho labelnya, supaya yakin kalau produknya memang asli buatan sini :p Di sela-sela berbelanja nggak lupa gue kirim pesan sama Ibu agar mengirimkan beberapa kebaya untuk dipakai besok. Meski nggak kemana-mana nggak ada salahnya kan untuk tetap merayakan hari kemerdekaan :)


17 Agustus 2020

Gue bangun tidur kesiangan. Mungkin karena malamnya terlalu excited sampai-sampai susah tidur, hehehe. Waktu gue membuka mata Shane langsung bertanya gue mau makan apa. "Mau nasi tutug oncom," jawab gue. Dan ternyata itu cukup membuat suami gue heran, karena saat gue tidur dia sudah sarapan sereal dan pisang sementara langsung minta makan nasi :p Tapi dia setuju, karena sebelumnya dia belum pernah mengenal "oncom". Jadi sekalian saja dijadikan menu makan siang untuknya, dan menu sarapan untuk gue, hehe. 

Nasi tutug yang kami makan itu tipe instan, cukup dimasukan ke rice cooker lalu diberi bumbu. Tertarik membeli karena ada tulisan "100% Indonesia" nya. Menurut gue rasanya berbeda dengan buatan sendiri atau membeli di restoran. Nasinya sedikit kering dan oncomnya kurang nendang. Tapi rasanya cukup enak, kok. Sampai-sampai gue nambah dua kali :) Lain dengan lidah Shane, katanya rasanya terlalu pedas dan dia nggak akan makan nasi tutug ini kalau saja gue gue nggak minta xD Yaaa, selera orang beda-beda sih ya, dan karena yang dicoba pertama kali adalah versi instan, menurut gue sih itu bukan perkenalan yang tepat :p Tapi jangan khawatir, masih ada nasi kuning. Shane suka sekali nasi kuning. Dulu, waktu masih pacaran kalau di rumah orangtua kami selalu disediakan nasi kuning untuk sarapan. Lengkap pakai bihun, timun dan kerupuk. Nikmat sekali :D

Setelah perut kenyang, gue mencoba kebaya-kebaya yang dikirim Ibu. Ada 4 kebaya, dan semuanya bagus-bagus. Bikin gue bingung memilihnya. Akhirnya setelah fashion show dadakan di depan Shane, pilihan jatuh ke kebaya merah berlengan panjang. Ukurannya paling pas di badan gue dan modelnya juga gue suka karena simple dan manis. Gue nggak punya kain samping, jadi gue padukan kebayanya dengan rok dress batik yang gue "sulap" jadi rok, hehehe. Cocok juga ternyata. Sedangkan Shane memakai kemeja batik merah yang dulu dibuat dalam rangka Chinese New Year. Yang penting serasi, kami nggak perlu pakai serba baru ;)

Gue memang sengaja pilih kebaya. Kenapa nggak simply pakai baju merah-putih saja yang jelas-jelas warna bendera Indonesia? Karena menurut gue kebaya itu itu istimewa dan somehow selalu membuat gue merasa "cantik". Bukan hanya merasa cantik secara fisik (it's not a bad thing, love yourself, gurl!) tapi juga secara mental. Nggak ada yang salah kalau kita itu jumpalitan, ikut panjat pinang, betulin genteng, ikutan ngejar layangan, dst, etc. Tapi dengan sesekali memakai kebaya bisa jadi pengingat kalau gue (kita) adalah perempuan Indonesia yang kuat, ---yang juga tetap bisa santun dan lembut :)

Oh iya gue itu punya kebiasaan buat pakai pita rambut yang match dengan baju yang gue pakai. Dan spesial untuk hari ini gue pakai pita merah dan putih. Agak ketutupan rambut sih, tapi semoga tetap kelihatan di foto, hehehe. Ini idenya Shane, katanya daripada pakai yang warna merah saja mending dibuat seperti bendera :D

Untuk pilihan film Indonesia ternyata nggak semudah memilih makanan dan kebaya, hehehe. Pilihan judulnya memang banyak, tapi sayang nggak semuanya punya teks terjemahan bahasa Inggris :') Shane memang nggak keberatan menonton film berbahasa Indonesia tanpa teks. Asal ceritanya simple biasanya dia bisa menerka-nerka alurnya dari awal sampai akhir. Tapi gue mau hari ini istimewa, gue dan suami gue harus sama-sama bisa menikmati filmnya. Dan... akhirnya pilihan jatuh ke "Reuni Z" karena kami sudah kehabisan ide mau cari film dimana lagi :p Film ini diputar di Iflix, reviewnya sangat meragukan (kebanyakan review negatif, huhu) tapi kami mau kasih kesempatan.

Dan ternyata kami sama sekali nggak menyesal. Filmnya nggak bisa dibilang jelek. Iya sih lack of logic, dan ada beberapa jokes yang cringing dan keterluan karena ditujukan ke anak SMA, tapi secara keseluruhan kami terhibur dan kagum karena film Zombie lokal masih jarang. 

Kalau dipikir seharusnya hari terasa lebih pendek karena gue bangun kesiangan. Tapi entah kenapa hari ini terasa lebih panjang dibandingkan kemarin (in a good way). Rasanya gue bisa merasakan setiap detiknya dengan maksimal. Bahkan Shane pun yang biasanya tidur awal barusan tidur lebih larut. Kalau kalian, bagaimana Agustusannya? Di rumah saja seperti kami? Atau di daerahnya ada lomba-lomba seperti biasanya? Apapu itu, semoga menyenangkan ya :) Di waktu yang sedang nggak mudah seperti ini gak ada salahnya untuk sedikit loosen up. Biar hari ini jadi pengingat kalau kita kuat, kalau dulu kita menang. Dan sekarang kita tetap berjuang meski untuk hal yang berbeda. Get well soon, Indonesia! :)


yang suka pakai kebaya,


Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Senin, 27 Juli 2020

"Waktu Aku sama Mika" Kembali! :)

Hai bloggies! Apa kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Kelihatannya sih di daerah gue hampir semuanya sudah beraktivitas seperti biasa, kantor sudah banyak yang buka, pertokoan jam operasionalnya kembali seperti dulu, ---hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Gue dan Shane juga termasuk yang masih bekerja dari rumah, jadi harus kreatif supaya nggak jenuh, hehe. Apalagi sekarang sudah masuk musim kemarau yang artinya matahari sedang teriiiiik sekali. Bawaannya kepengen main di luar, kalau bisa sih berenang atau minimal jalan-jalan di mall sambil makan es krim :D Tapi jangan dulu deh, gue dan Shane memilih untuk membatasi keluar rumah karena lebih aman. Apalagi tante dan saudaranya kakak ipar yang di Amerika juga terkena corona, ---better hati-hati daripada menyesal kan :)

Selama keabsenan gue di blog ini sebenarnya banyak yang terjadi, dan rasanya ingin menebus buat cerita semuanya setelah mood (haha) dan laptop gue kembali. Tapi 2 minggu lalu ternyata laptop gue ada yang meminjam, jadi keinginan gue harus tertunda. Saat seperti ini laptop dan internet memang jadi esensial sih, ya. Apa-apa kebanyakan dikerjakan lewat internet :'D Saat gue "hilang" itu, ada kabar yang menggembirakan. Gue memang sempat menyentilnya sekilas di sini, tapi belum pernah menceritakan secara lengkap. "Waktu Aku sama Mika", novel karya gue kembali dipinang oleh penerbit. Kisah gue dan almarhum Mika kali dihidupkan kembali oleh penerbit Shira Media dengan konsep yang lebih segar dan manis :) Kontrak gue dengan penerbit sebelumnya memang sudah habis. Sempat ada keinginan buat menerbitkannya secara indie, tapi rupanya seperti jodoh, di saat yang tepat Shira Media menghubungi gue untuk menawarkan kontrak.

"Waktu Aku sama Mika".

"Waktu Aku sama Mika" adalah kisah yang nggak pernah gue rencanakan untuk menjadi novel. Bahkan tulisan gue dibaca orang lain pun sebelumnya nggak pernah terbayangkan. Dulu gue menulis kisah cinta masa SMA murni demi "melegakan" perasaan gue. Sama sekali nggak ada alur, sama sekali nggak ada konsep. Bisa dibilang sekedar curahan hati. Orang mungkin menyebutnya cinta monyet. Tapi buat gue jatuh cinta dengan Mika adalah salah satu bagian dari pengalaman berharga, yang membantu proses penerimaan diri dan mengubah cara pandang gue terhadap dunia menjadi lebih positif :) Waktu itu gue berusia 15 tahun, serba kebingungan dengan dunia remaja yang entah mengapa gue selalu nggak bisa berbaur. Sebanyak apapun gue mencoba, gue selalu asing. Gue pikir scoliosis membuat gue berbeda, ---bukan dalam arti yang positif. Brace, atau penyangga punggung gue terlalu visible dan mungkin membuat orang lain nggak nyaman untuk bergaul dengan gue. Lalu datang Mika, yang membuktikan pada gue bahwa manusia itu seperti apel. Dari luar mungkin tampak berbeda, seperti kulit apel yang berwarna-warni. Tapi dalamnya sama saja. We are all human. Untuk pertama kalinya gue merasa diterima dan mulai belajar untuk melihat sesuatu seperti sudut pandang Mika. Bagi gue Mika adalah sosok laki-laki yang sempurna, dia bagai malaikat untuk gue, ---terlepas dia adalah seorang ODHIV, orang dengan HIV.




Lebih Personal
Waktu penerbit memberi tahu kalau akan ada edisi istimewa terbatas "Waktu Aku sama Mika", gue senang sekali. Gue pikir setelah sekian lama kisah gue dan Mika "hidup", sekarang adalah waktu yang tepat untuk memiliki penanda atau kenang-kenangan yang bisa gue simpan sampai nanti :) Ada 500 paket novel bertanda tangan dan totebag bergambar serasi dengan sampul "Waktu Aku sama Mika". Iya, gue benar-benar menandatangani semuanya, satu persatu. Lumayan pegal, tapi gue sangat bersemangat meskipun sempat jatuh sakit. (---Bukan sakit karena kelelahan tanda tangan lho, ya, memang kebetulan saja waktunya bersamaan, hehehe). Selain perasaan senang, sebenarnya gue juga merasa cemas. Soalnya 500 itu bukan jumlah yang sedikit. Apa mungkin pembaca gue sebanyak itu? Hehe. Tapi berkat dukungan ortu dan Shane gue bisa menepis pikiran yang kurang positif. There's no such thing as bad book. Setiap buku istimewa, hanya harus menemukan hati yang tepat untuk ditempati. Iya, kan? ;)

Menandatangani 500 halaman pertama novel "Waktu Aku sama Mika"! :D

Totebag yang bisa didapatkan di paket istimewa.


Akhirnya di Toko Buku!
Entahlah kenapa, gue punya kebiasaan malu-malu dan cemas nggak jelas (---mungkin related sama diagnosis OCD gue? IDK). Waktu tahu novel gue sudah ada di toko buku (offline dan online), gue ingin sekali melihatnya sendiri. Tapi gue malu kalau ke toko buku dan mencari-cari novel gue di sana. Padahal kalau dipikir, siapa juga yang akan memperhatikan ya? Huhu. Setelah ada beberapa teman pembaca yang membeli novel "Waktu Aku sama Mika" di toko buku mention gue di medsos, akhirnya gue pun membulatkan tekad untuk melihatnya sendiri. Toko buku pertama yang gue kunjungi dengan Shane adalah Gramedia cabang Merdeka Bandung. Waktu itu kami habis dari bioskop bersama teman-teman kerja. Gue pikir sekalian saja ke toko buku. Ternyata benar ada, di rak paling besar! :'D Jujur, rasanya overwhelming. Gue sampai beberapa kali meremas lengan Shane supaya bisa menahan diri untuk nggak memekik, hahaha. Nggak lupa gue mengambil foto, ---setelah nengok kanan-kiri takut ada yang memperhatikan :p

Menemukan "WASM" di rak Gramedia Merdeka Bandung!

"Waktu Aku sama Mika" di rak Togamas Supratman Bandung.

Selain Gramedia, novel "Waktu Aku sama Mika" juga ada di toko buku-toko buku lainnya seperti Togamas, Jendela dan lain-lain. Di toko online juga ada. Mudahnya sih tinggal mengetik judulnya saja di Shopee, Tokopedia atau medsos seperti Instagram dan Twitter. Nanti akan muncul nama-nama toko yang menjual novel gue :) Oh iya, tapi khusus edisi bertanda tangan dan totebag hanya dijual di toko online saja (termasuk di website resmi Shira media) karena jumlahnya terbatas.

Menjadi Best Seller
Dulu gue nggak pernah membayangkan tulisan gue dibaca oleh orang lain. Bisa menerbitkan buku rasanya seperti mimpi, ---apalagi waktu tahu kalau karya gue dipajang di rak "Paling Laris". Rasanya lebih indah dari mimpi! :') Apalagi gue tahunya bukan karena dapat kabar dari penerbit atau teman pembaca, tapi gue melihatnya dengan mata kepala sendiri. Waktu itu gue dan Shane baru saja selesai dari dokter, karena lapar kami mampir ke tempat pizza dulu. Di sana ada toko buku, lalu iseng-iseng kami mencari novel gue. Sepuluh menit pencarian, kami nggak menemukannya dan gue pun menyerah. Tapi suami gue rupanya masih penasaran dan meminta gue untuk bertanya pada petugasnya. Mulai deh gue cemas karena setelah waktu lumayan lama dia belum juga menemukan dimana novelnya. Rasanya gue sudah mau kabur saja, hehe. Sampai akhirnya ada petugas lain yang tahu dan ternyataaaa... gue dan Shane sudah melewati tempat yang dimaksud berkali-kali! Kami memang sama sekali nggak terpikir untuk mengecek ke sana karena itu rak best seller. Gue pikir too good to be true saja kalau sampai ada di sana. Setelah petugasnya pergi baru deh gue bisa heboh-heboh sedikit. Terharu, nggak menyangka, bahagia, semua jadi satu. Novel gue best seller! :')

Satu-satunya foto yang Shane ambil karena waktu kami di sana tokonya sedang mati lampu, hahaha.

Ekspresi bahagia gue waktu tahu novel "WASM" ada di jajaran buku laris :)

Bersama Shane yang selalu mendukung dan siap sedia mengantar gue ke toko buku :)



Terbitnya (lagi) "Waktu Aku sama Mika" adalah salah satu hal terindah yang terjadi sama gue di masa "nggak mudah" sekarang ini. Gue bersyukur memiliki keluarga dan tempat tinggal yang membuat gue nyaman. Tapi jujur ada kalanya gue merasa stuck karena harus diam di rumah. Meski istilahnya WFH alias work from home, tetap saja rasanya berbeda. Apalagi karena sebelumnya gue terbiasa berinteraksi langsung dengan orang-orang di tempat gue bekerja paruh waktu. Nah, membaca komentar-komentar pembaca tentang novel "Waktu Aku sama Mika" ternyata bisa mengobati kerinduan gue. Terkadang gue sempatkan untuk sedikit mengobrol, apalagi jika mereka merasa related dengan kisah gue dan Mika.
Ungkapan perasaan gue di sini rasanya nggak sebanding dengan apa yang sebenarnya gue rasakan, no words can dercribe how happy and grateful I am. Kisah cinta gue dan Mika memang nggak sempurna, ---seenggak sempurna kondisi fisik kami. Tapi melihat apa yang novel ini capai rasanya aman untuk bilang, "Terima kasih telah melihat gue dan Mika ‘melampaui’ kondisi kami. Terima kasih!" :)



selalu sugarpie-nya Mika,

Indi



Dapatkan "Waktu Aku sama Mika" di toko buku seluruh Indonesia (Togamas, Gramedia, dll), www.shiramedia.com (WhatsApp: 087843333019) dan di berbagai toko buku online (gunakan keywords: 'Waktu Aku sama Mika' di Instagram, Facebook, Twitter, Shopee, Bukalapak dan Tokopedia).

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com