Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Rabu, 17 Desember 2014

Ketika Hal Kecil Menjadi Besar: Nonton Bareng Mika bareng Indi dan D-1OO Community :)

Outfit hari ini tanpa sepatu. Soalnya gak boleh pakai alas kaki di rumput sintetis, hihi.

Ide ini berawal dari obrolan random di grup BBM bersama teman-teman D-100 Community. Kami ingin berkumpul secara langsung alias berkopi darat sekaligus memperingati Hari AIDS Sedunia. Setelah keluar beberapa ide, akhirnya dipilihlah untuk nonton bareng alias nobar. Tema film yang dipilih tentu saja isu HIV/AIDS, tapi untuk judul film kami punya beberapa pilihan. Ada yang menyarankan Normal Heart, dan gue menyarankan The Cure. Kami terus berunding lewat chatting tentang film mana yang dipilih. Lalu, hey! Kami teringat sesuatu; Film gue sendiri kan bertema HIV/AIDS. Jadi kenapa nggak nonton bareng film Mika saja?! :)

Perkenalan gue dengan D-100 Community ini bisa dibilang tanpa sengaja. Gue mengenal mereka waktu diundang ke acara Piknik bareng ODHA Berhak Sehat di Cibeunying Park beberapa waktu lalu. Salah satu dari mereka lalu mengundang gue untuk bergabung di grup BBM komunitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dari RS. Borromeus ini. Semenjak itulah gue selalu keep in touch dengan mereka dan segera berteman dekat dengan beberapa dari mereka di luar grup (hihihi, teman bergosip tepatnya). Event nonton bareng yang kami rencanakan bersama-sama ini merupakan event pertama D-100 Community, makanya tujuannya pun nggak muluk-muluk. Kami hanya ingin saling mempererat hubungan antar anggota agar menjadi komunitas yang lebih solid.

Berhubung di Bandung banyak sekali taman bertema tematik (yes, kami warga Bandung beruntung sekali), jadi kami memilih Taman Film sebagai tempat kami berkumpul nanti. Setelah bertanya-tanya tentang prosedurnya, akhirnya gue dengan ditemani Hendra (dari D-100 Community) menyerahkan surat permohonan ke Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Hanya dalam waktu 2 hari semua urusannya beres dan kami tinggal datang ke Taman Film di hari H. Gue sangat bersyukur karena kemudahan yang kami dapatkan. Ini berkat bantuan dari Feby, suami Ayu yang mengundang gue ke event ODHA Berhak Sehat beberapa waktu lalu. Punya banyak teman ternyata memang membawa banyak berkah, ya :)

Tanggal 7 Desember 2014 kami pun berkumpul di Taman Film. Ini adalah pengalaman pertama gue menonton film di ruang terbuka, tepatnya di bawah jalan layang alias flyover. Sebelum filmnya diputar saja gue sudah amaze dengan layarnya yang super besar. Diameternya 4x8 meter! Seperti bioskop tapi outdoor, keren :) Hati gue sangat senang karena sebagian besar teman-teman D-100 Community bisa hadir. Bahkan hampir semuanya membawa makanan untuk dimakan bersama. Ada pizza, pisang goreng, soda, keripik... Wah, benar-benar seperti pesta dadakan, hihihi. Meskipun gue baru bertemu dengan sebagian dari mereka untuk kali pertama, tapi kami langsung akrab :D

Piknik! Makanannya banyaaaak xD

Surprise, Angie teman gue ketika di Preschool datang untuk ikutan nobar! :)

Pada pukul 4 sore film dimulai. Spontan kami bertepuk tangan, hihihi. Tapi lalu dalam beberapa detik gue menyadari ada masalah di audionya. Suaranya sama sekali nggak terdengar! Awalnya gue biarkan saja, tapi setelah film berjalan beberapa menit akhirnya gue dan beberapa teman D-100 Community berinisiatif untuk mencari operatornya. Dengan berbekal sandal jepit pinjaman gue menuju ke lapangan parkir, sementara yang lain mencari di ujung lain taman. Anehnya nggak ada seorangpun yang melihat kemana operatornya pergi. Setelah hampir putus asa (lol) salah satu dari kami menemukan bahwa ternyata sedari tadi operatornya berada di balik layar! Hahaha... Kok bisa ya dia nggak melihat kami mondar-mandir kebingungan? Tapi yang penting akhirnya audio diperbaiki dan film pun diulang dari awal karena (tanpa terasa) rupanya kami sudah mencari operatornya selama 30 menit.

Film sempat nggak ada suaranya :(

Bertepatan dengan dimulainya film (lagi), Ray datang dan langsung bergabung dengan kami. Suasana akrab pun semakin terasa, candaaan teman-teman tentang film Mika segera terdengar. Terutama saat tokoh Mika dan Indi muncul di dalam 1 scene. Tentu saja karena di kehidupan nyata Indi yang diperankan oleh Velove Vexia adalah gue, dan Mika yang diperankan oleh Vino Bastian adalah pacar gue semasa SMA. Jadi melihat apa yang diputar di film seperti nostalgia gue yang bisa ditonton beramai-ramai dan layak untuk mendapatkan “ciee.. cieee”, hihihi. Untuk yang belum pernah menonton mungkin bingung, kenapa film yang berkisah tentang cinta monyet ini bisa diputar di Hari AIDS Sedunia. Well, kebetulan Mika adalah ODHA. Selain menceritakan tentang kisah cinta kami berdua, film ini juga meyorot kehidupan Mika, segala tantangan yang ia hadapi dan juga bagaimana imbasnya pada gue.


Film diulang kembali. Dan adegan ini sangat 'ciee... ciee-able', hahaha :)

Waktu proses pembuatan film Mika yang diinspirasi oleh novel “Waktu Aku sama Mika” ini, gue memang sempat dilema. Memberanikan diri untuk menceritakan kisah gue dan Mika pada banyak orang bukanlah hal yang mudah. Isu HIV/AIDS masih terlalu sensitif, apalagi Mika memang (pernah) ada dan keluarganya juga masih ada. Tapi waktu itu produser dan tim yang membuat film Mika meyakinkan gue bahwa tujuan dari film ini baik. Dengan menjadikan kisah kami film layar lebar maka akan semakin banyak orang yang tahu seperti apa HIV/AIDS yang sesungguhnya. Dan karena gue mengidap scoliosis (kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping), penonton juga akan semakin aware dengan kesehatan tulang belakang. Dengan kata lain, film ini diharapkan menjadi campaign dalam bentuk yang bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat luas.

Di tengah-tengah film Ray berbisik pada gue. Katanya di belakang banyak sekali yang ikut menonton film Mika. Waktu gue menoleh, ternyata benar saja di belakang sudah banyak sekali yang duduk-duduk bergerombol. Usia mereka pun beragam; ada ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, bahkan anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Film belum sampai ke adegan yang mengharukan, tapi air mata gue sudah mau keluar, hihihi. Luar biasa sekali, jumlah kami yang hanya berdua belas (termasuk Ray) tiba-tiba bertambah menjadi berkali-kali lipat. Mengharukan :’)

Tempatnya luaaaas. Dan ini pemandangan yang gue lihat waktu nengok ke belakang :)

Di samping taman juga banyak yang berkumpul :)

Dan lama-lama jadi segerombol! Wah, terharu :')

Tepuk tangan terdengar ketika film selesai diputar. Gue senang sekali acara nonton bareng ini berjalan dengan lancar. Siapa yang menyangka, rencana kecil yang kami buat ini tiba-tiba menjadi besar. Tujuan awalnya kami hanya ingin mempererat hubungan antara anggota D-100 Community. Gue dan Hendra bahkan sempat khawatir jika hanya ada sedikit anggota yang datang. Tapi ternyata sebagian besar dari kami hadir, dan lihat ada berapa banyak orang yang ikut bergabung dengan kami sekarang? :) Bukan hanya kami yang menikmati film Mika, tapi juga puluhan bahkan ratusan masyarakat Bandung lainnya.

Gue benar-benar nggak bisa berhenti bersyukur... Gue dihampiri oleh seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Beliau berkata bahwa salah satu putrinya (namanya Anissya) juga scoliosis sama seperti gue. Dan melihat gue memakai brace di film (penyangga tulang belakang) membuat Anissya juga semakin semangat untuk membaik. Ketika tiba di rumah gue juga masih mendapatkan kejutan. Ada beberapa pesan yang masuk ke halaman Facebook gue dari orang-orang yang tanpa sengaja ikut menonton film Mika di Taman Film (iya, tanpa sengaja). Mereka berkata bahwa filmnya membuat pandangan mereka tentang ODHA menjadi berubah. Bahkan salah satu dari mereka berkata bahwa ia menyesal sebelumnya selalu berprasangka buruk, padahal seseorang nggak bisa dinilai dari luarnya saja atau apa yang ia idap.

With D-100 Community family. Senang! :)

Ginan dari Rumah Cemara juga mampir, soalnya acara nobar ini bersamaan dengan event futsal RC di taman sebelah :)

Kalau seumuran kita sudah jadi BFF kayanya, lol.

Rasanya boleh jika gue bilang event pertama D-100 Community ini berjalan sukses. Tujuan utama untuk berkumpul sudah jelas tercapai. Dan sebagai bonusnya kami (tanpa sengaja) mengajak masyarakat untuk lebih mengenal apa itu HIVAIDS dan scoliosis. Sungguh hadiah yang manis untuk Word AIDS Day dan juga International Day of People with Disability yang jatuh pada tanggal 3 Desember :) Akhir kata gue hanya berharap agar suatu hari nanti nggak ada lagi diskriminasi dan prasangka pada orang-orang yang seperti Mika. Dan jika hal yang terjadi pada Mika juga terjadi pada orang lain, semoga jangan ada kata menyerah seperti teman-teman D-100 Community ini. Gue percaya setiap orang sudah diciptakan Tuhan dengan fungsinya masing-masing. Keep strong! :)


Satu hari setelah nobar gue menerima ini :)

Dari instagram Ayu. Setuju! Tamannya nyaman! :)


Note:
*Terima kasih banyak kepada Vino Bastian (dan fans club), Marsha Timothy, Kak Theo, ODHA Berhak Sehat, Rumah Cemara, Indi Sugar Official Store dan semua pihak yang membantu sounding dan mendukung terlaksananya acara ini.
* Masih ada saja pembaca yang bertemu gue tapi nggak menyapa (tapi mengirimi gue pesan setelahnya), termasuk ketika acara nobar ini. Kira-kira kenapa, ya? Apakah wajah gue galak? Huhuhu :(



sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi


  _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 14 Desember 2014

Afternoon Walk with Eris :)


Indi and Eris in action, hihihi.

Hi weekeeeeeend, kita bertemu lagi! Hihihi. Setiap akhir pekan tiba gue selalu excited. Setiap hari kesannya memang selalu berbeda, tapi weekend jelas menjadi favorit gue :D Gue yakin teman-teman juga begitu. Karena kebanyakan dari kita libur di hari sabtu dan minggu, pasti ada saja hal berbeda dari hari biasa yang kita lakukan khusus di akhir pekan. Nah, begitu juga gue. Meski hampir setiap sore gue berjalan-jalan dengan Eris ---anjing golden retriever kesayangan gue, kalau hari sabtu atau minggu waktu jalan-jalannya jadi istimewa karena bisa lebih lama :)

Buat gue berjalan-jalan dengan Eris bukan sekedar menghabiskan waktu berkualitas dengannya, tapi juga sekaligus berolahraga. Gue bukan orang yang aktif secara fisik karena sebagian besar waktu bekerja gue dihabiskan dengan duduk di hadapan laptop atau komputer. Dengan Eris tubuh gue tejaga agar nggak kaku, sama seperti orang yang aktif jogging secara rutin. Hanya bedanya gue ditemani dengan partner berbulu berkaki empat, hihihi. Otot-otot gue pun menjadi lebih kuat. Karena Eris yang super manis dan penurut ini tetap saja mempunyai insting sebagai seekor anjing, jadi kalau ia melihat kucing atau ‘binatang asing’ lainnya pasti langsung tertarik dan menarik-narik tali lehernya. Meskipun hitungannya hanya beberapa detik, tapi tenaga seekor anjing golden retriever lumayan juga, lho :D (Teman-teman yang memelihara anjing pasti tahu rasanya, hihihi).



Berjalan-jalan sore sekaligus berolahraga dengan Eris juga sangat hemat biaya. Cukup siapkan fisik, gue dan Eris bisa pulang ke rumah saat menjelang magrib dengan jumlah keringat yang nggak kalah dengan mandi sauna, hihihi. Paling-paling gue hanya menyiapkan beberapa hal saja sebelum keluar rumah, dan itu pun nggak banyak. Saking gampangnya gue hanya butuh waktu 5 menit saja untuk bersiap-siap, lho. Teman-teman mau tahu apa saja? Ini dia list nya... Tam taram taraaaaaam. Lol.

1. Kondisi fisik dan mental
Sebelum keluar rumah gue selalu pastikan Eris dalam keadaan sehat. Flu sedikit atau sedang loop (datang bulan) mungkin nggak akan jadi masalah jika sedang di rumah, tapi kalau di luar bisa jadi masalah besar. Gue nggak pernah tahu apa yang akan dihadapi di luar. Kalau daya tahan tubuh Eris lemah akan ada kemungkinan ia tertular penyakit dari anjing lain. Belum lagi serangan kutu yang akan lebih ganas jika hinggap di anjing yang sakit. Atau Eris malah bisa menulari anjing lain yang tanpa sengaja berpapasan di jalan. Kan nggak seru, kalau niatnya bersilaturahmi dengan sesama penyayang binatang, eh malah menulari penyakit, hihihi. Anjing yang loop juga bisa menarik perhatian anjing jantan. Daripada terjadi perkawinan yang nggak diinginkan (lol), lebih baik Eris main lempar tangkap di rumah dulu saja, deh.

2. Outfit
Bukan cuma untuk gue, kenyamanan outfit Eris juga penting untuk menunjang lancarnya jalan-jalan sore. Kalau untuk gue sudah pasti wajib bersepatu flat (kadang memakai sepatu sandal atau keds), soalnya selain lebih sehat juga memudahkan gue jika Eris mendadak melihat kucing, hihihi. Sedangkan untuk pakaian gue menyesuaikan dengan cuaca. Jika dingin gue akan memakai lengan panjang dan stocking, dan jika sedang cerah gue cukup memakai dress pendek. Modelnya bisa apa saja, yang penting nyaman dan menyerap keringat. Sebisa mungkin no baju training, soalnya nggak mau kalah centil dari Eris, hihihi. Untuk Eris gue pastikan memakaikan ia collar yang pas di leher. Nggak terlalu ketat atau terlalu longgar. Collar yang terlalu ketat bisa membuat anjing tercekik dan jika terlalu longgar bisa terjadi kemungkinan anjing terlepas *jangan sampai* *knock on the wood* Oh, iya, berhubung level centil Eris agak tinggi, jadi terkadang ia minta dipakaikan baju. Khusus untuk keluar rumah gue selalu pastikan bajunya nggak terlalu ketat dan terbuat dari bahan kaos katun :)

Baru selesai hujan tapi langit cerah, jadi gue pakai lengan panjang dengan rok tanpa stocking dan Eris dengan dress kesayangannya.

3. Survival kit
Hihihi, bukan P3K betulan, sih. Tapi gue selalu membawa beberapa benda yang bisa jadi penyelamat saat sedang di luar rumah. Tisu basah dan hands anti-bacterial gel wajib disimpan di tas mungil gue. Eris itu rasa penasarannya tinggi, jadi di tengah jalan kadang-kadang ia mendadak ingin menyelidiki semak-semak atau kolong mobil. Kalau sudah begini pasti kepalanya kotor belepotan tanah atau oli. Nah, tisu basah ini bisa jadi solusi cepat menghilangkan kamuflase perang di wajah Eris, hihihi. Anti-bacterial gel meski selalu dibawa tapi jarang sekali digunakan. Biasanya jika ada jajanan yang menarik hati dan gue ingin langsung menyantapnya :D Selain 2 benda tersebut, ada 2 benda lainnya yang hanya terkadang saja dibawa. Yaitu sisir kecil dan handphone. Sisir kecil biasanya dibawa jika kami berjalan-jalan dengan menggunakan becak (curang, hihihi). Supaya poni gue tetap rapi, jadi sedia sisir sebelum kusut. Kalau handphone dibandingkan untuk berkomunikasi, gue lebih sering gunakan untuk mengabadikan gambar Eris. Anjing itu tumbuh dengan cepaaaat sekali, jadi setiap moment harus diabadikan :)

Isi handbag gue :)

4. Kantung plastik
Well, sebenarnya Eris itu anjing yang super manis dan nggak merepotkan, jadi ia nggak pernah pee atau pup sembarangan (baca: di tempat asing). Tapi tetap saja gue berjaga-jaga dengan membawa kantung plastik yang sudah dilipat kalau-kalau Eris kebelet pup sementara jarak ke rumah masih jauh, hihihi. Jangan sampai acara jalan-jalan sorenya malah jadi acara mengotori lingkungan ;)

Meski kemungkinannya kecil, tapi kantung plastik ini harus dibawa :)

5. Botol minuman
Gue nggak pernah membatasi seberapa lama Eris boleh berjalan-jalan. Selama ia masih enjoy dan nggak tampak kelelahan (lidah sampai menjulur-julur, hihihi), gue akan temani selama hari belum gelap. Nah, supaya terhindar dari dehidrasi gue selalu bawa air minum di dalam botol. Eits, tapi bukan air kemasan yang botolnya dibuang, lho. Untuk mengurangi sampah gue sengaja memilih botol yang bisa dipakai berulang-ulang. Berhubung gue nggak kalah centilnya sama Eris (hihihi), gue pilih botol minuman yang cute tapi juga aman, yaitu water bottle Lock&Lock. Sebagai penggemar Hello Kitty gue jadi makin bersemangat karena Lock&Lock kini ada seri Hello Kitty nya :D Jangan salah, meskipun tampilannya imut tapi kualitasnya super sekali. Material Lock&Lock terbuat dari tritan, yaitu plastik bening seperti kaca yang anti gores dan nggak mudah pecah. Pasti mengerti dong gimana ‘seru’nya kalau jalan dengan teman berkaki empat, kita nggak pernah tahu kapan barang bawaan kita jatuh, hihihi. Nah, dengan water bottle Lock&Lock gue nggak perlu khawatir lagi ;) Apalagi karena BPA free water bottle ini juga aman untuk digunakan, bahkan untuk anak-anak sekalipun.

Water bottle Lock&Lock Hello Kitty yang super cute dan anti gores :)
Nggak bikin was-was soalnya BPA free! :D

Sebelum pakai Lock&Lock sering dapat insiden kecil namun menyebalkan, yaitu kehilangan tutup water bottle. Aduh, kalau sudah begitu gue langsung pura-pura cuek dan nggak cari lagi tutupnya. Soalnya sebelah tangan gue sudah pegang leash nya Eris. Kebayang kan repotnya, huhuhu. Kerennya water bottle Lock&Lock ini punya smart design, yang tutup dan botolnya tersambung oleh pengait, jadi nggak mungkin hilang (kecuali sama botol-botolnya, hihihi, jangan sampai).

Tutupnya nggak mungkin lepas dari botolnya! :D

Nah, begitulah persiapan gue kalau mau berjalan-jalan dengan Eris. Simple tapi penting sekali untuk kenyamanan gue dan Eris. Sebagai tambahan, untuk berolahraga dengan anjing kesayangan sih kunci utamanya; have fun! Gue nggak pernah terlalu pikirkan sudah berapa lama kami berjalan apalagi sampai memikirkan kalori yang sudah terbakar. Bisa punya waktu berkualitas dengan Eris saja itu sudah sangat berharga. Jadi daripada memikirkan kalori lebih baik pikirkan kebahagiaan Eris. Soalnya kalau Eris bahagia gue juga ikut bahagia. Dan bahagia itu membuat tubuh sehat, kan? Hihi. Kalau teman-teman apa olahraga favorit kalian di akhir pekan? Benda apa saja yang wajib jadi perbekalan? ;)

The dog walker,

Indi


 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 11 Desember 2014

Yang Baru dari The Baker Lady; Keripik Bayam ala Popeye alias Spinach Chips! (review) :)


Waktu menulis ini perut gue lagi sibuk krucak-krucuk, lho. Padahal sudah tengah malam, hihihi. Belakangan Bandung sedang diguyur hujan, hampir sepanjang hari udaranya dingin. Nah, kalau lagi dingin tahu dong apa yang paling enak selain bergelung di balik selimut? Of course ngemil! Hihihi :) Lucky me beberapa hari yang lalu The Baker Lady mengirimi gue perlengkapan tempur melawan lapar berupa satu toples Kaastangels dan satu toples Spinach Chips. Langsung deh gue nggak sabar untuk mencicipi (baca: menghabiskan) keduanya. Terutama Spinach Chips nya alias keripik bayam, produk paling baru dari The Baker Lady yang bikin penasaran :D

Untuk kaastangels nya gue sudah pernah mencicipi sebelumnya. Rasanya nikmaaaat, kejunya super gurih dengan tekstur yang crunchy di luar namun lembut di dalam. Saking nikmatnya gue sampai makan berebutan dengan Ibu yang penggemar berat keju dan berakhir dengan menyembunyikan toplesnya di dalam kamar supaya aman, hihihi (ups). Kayaknya gue nggak harus menceritakan panjang lebar, deh, karena sebelumnya gue sudah pernah tulis review nya di sini, dan takut membuat teman-teman ikut ngiler. Lagipula gue yakin banyak diantara teman-teman yang sudah pernah mencoba mencicipi kaastangels dari The Baker Lady yang belakangan sedang super happening ini, hihihi :)


Nah, Spinach Chips nya nih yang paling bikin gue excited. Sebagai seorang pesco-vegetarian gue akrab banget dengan sayur-sayuran, dan bayam termasuk salah satu favorit  gue. Biasanya Ibu memasak bayam dengan disayur atau dioseng-oseng. Kalau dijadikan keripik belum pernah sama sekali. Paling gue pernah membeli keripik bayam di abang-abang gerobak dekat sekolah, yang sayangnya terlalu oily :( Waktu gue buka toplesnya langsung yakin kalau Spinach Chips dari The Baker Lady beda dengan yang pernah gue beli. Tampilannya sama sekali nggak berminyak dan warna bayamnya fresh sekali, bikin perut krucuk-krucuk, hihihi. Nggak menunggu lama, chips pertama langsung saja gue masukan ke dalam mulut dan... “kriuk”, renyah sekali! Meskipun dibalut tepung dalamnya tetap kering dan rasa bayamnya tetap kuat. Ah, ini camilan favorit baru gue, nih! :D



Pantas saja rasanya nikmat, menurut Eve, owner dari The Baker Lady Spinach Chips ini baru diolah ketika ada yang memesan. Jadi dengan kata lain ini fresh from the oven! Minyak yang dipakai pun selalu baru, makanya jadi lebih sehat dibandingkan dengan keripik lain. Apalagi ini tanpa bahan penyedap, hanya dari bumbu-bumbu dapur alami seperti garam, merica dan lain sebagainya. Ibu hamil, anak-anak, bahkan kakek-nenek boleh banget ngemil Spinach Chips ini, karena selain ramah di perut juga ramah di gigi, hihihi.

Aduh, tengah malam begini membayangkan ngemil Spinach Chips yang guilt free bikin gue insomnia. The Baker Lady harus tanggung jawab, nih! :p
Kalau teman-teman ikut ngiler ketika membaca post gue yang ini, langsung saja hubungi The Baker Lady di instagram ilady_luck, di line eveselvy atau add pin BB nya di 74fd03f0. Gue juga lagi menunggu pagi, nih. Mau cepat-cepat pesan Spinach Chips nya yang super nagih! :D

Popeyewannabe,

Indi

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 07 Desember 2014

Live Interview "World AIDS Day" di I-Radio Jakarta :)

1 Desember 2014

Gue bangun pagi-pagi sekali dan langsung sarapan. Sebenarnya semalam gue nggak bisa tidur karena kurang enak badan dan... karena ini tanggal 1 Desember. Seperti sudah diprogram, setiap Hari AIDS Sedunia pasti rasa rindu gue pada Mika semakin kuat. Tapi gue sudah ada janji di Jakarta, jadi setelah sarapan gue langsung berganti baju dan pergi diantarkan Bapak. 

Cuaca mendung dengan angin bertiup kencang membuat gue berusaha bergelung di kursi depan mobil. Lalu lintas cukup padat tapi nggak ada hambatan yang berarti. Syukurlah, itu artinya kemungkinan besar kami bisa sampai sebelum jadwal 3 in 1. Lokasi studio I-Radio ---radio yang mengundang gue--- terletak di Sarinah, daerah yang mulai pukul 4.30 sore berlaku sistem 3 in 1. Janji yang dibuat sebenarnya pukul 5 sore, tapi menunggu lebih baik dariada harus kena tilang, hehehe.
Waktu Ray memberitahu bahwa ia dihubungi Andrew (produser I-Radio) yang ingin mengundang gue, gue terus-terusan bertanya tentang konsep acaranya. Well, ini bukan kali pertama gue diundang ke studio radio, tapi mengingat hari yang diminta bertepatan dengan Hari AIDS sedunia, gue jadi sedikit 'khawatir'. Ray, yang juga merangkap sebagai manager gue sudah mengerti betul dengan 'kesensitifan' gue (bless his heart!). Mika adalah sosok yang gue banggakan dan selalu dengan senang hati gue bagikan kisahnya ---juga sekaligus sosok yang ingin gue ceritakan dengan hati-hati. Status Mika yang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) kadang membuat beberapa media membuatnya terkesan negatif (just google it!) atau malah dikasihani. Padahal yang ingin gue bagikan justru tentang betapa full passion dan positinya Mika, tentang betapa gue menganggapnya sebagai seorang hero. Orang tua Mika masih ada dan tahu tentang novel dan film yang dibuat untuk putra kesayangannya. Jadi gue ingin menjaga kepercayaan mereka sampai kapanpun. Syukurlah kekhawatiran gue ditenangkan oleh Ray. Ia bilang bahwa Andrew sepertinya sudah cukup mengenal gue, dan ia juga meminta daftar pertanyaan untuk interview supaya gue bisa menyaringnya jika ada sesuatu yang membuat gue nggak nyaman.

Pukul 2.30 gue dan Bapak sudah tiba di Sarinah. Karena masih punya banyak waktu kami putuskan untuk berkeliling dan ngopi-ngopi dulu. Bapak dulu bekerja di Jakarta, jadi beliau cukup mengenal tempat ini. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan sejuk (kontras dengan di Bandung, cuaca terik sekali, hehehe) gue menghubungi Ray untuk mengingatkan tentang daftar pertanyaan. Hanya beberapa menit kemudian gue menerima email dan langsung membacanya. Bibir gue seketika tersenyum, nggak ada pertanyaan yang terlalu pribadi dan terkesan menjudge. Semuanya wise dan cerdas. Gue langsung menunjukannya pada Bapak yang juga langsung menyukai isinya. Di perjalanan Bapak memang sudah mewanti-wanti agar beliau nggak diajak masuk ke dalam studio. Alasannya karena "malas" jika harus menjawab sesuatu yang sifatnya terlalu pribadi. Pasalnya tahun lalu ketika gue mengisi acara dalam rangka Hari AIDS Sedunia, ada seseorang yang bertanya kepada Bapak dan membuatnya nggak nyaman. Bapak memang nggak memeberitahu gue apa isi pertanyaannya, tapi beliau menjelaskannya dengan 2 kata, "Pertanyaan kepo."

Sekitar pukul 4.30 gue dan Bapak menuju ke studio I-Radio yang letaknya di lantai 8. Hanya menunggu beberapa menit, Andrew menemui kami dan mengajak kami ke ruang tunggu. Setelah diberikan penjelasan singkat kami juga sedikit mengobrol. Andrew ternyata sudah mengenal gue sejak tahun 2009, waktu novel pertama gue "Waktu Aku sama Mika" terbit. Ia juga sudah membaca 2 novel gue yang lainnya, "Karena Cinta Itu Sempurna" dan "Guruku Berbulu dan Berekor". What a nice surprise! Hati gue jadi semakin senang :) Berhubung Bapak sudah tahu pertanyaan apa saja yang akan diajukan, beliau pun bersedia untuk menemani gue di dalam studio meskipun nggak ikut diwawancara.



Gue lalu berkenalan dengan Feli dan Kamal, hosts yang akan on air bersama gue. Kesan pertama gue; mereka kocak-kocak, hehehe. Berbekal portofolio yang sudah diprint, wawancara pun dimulai :)
Seperti biasa, dimulai dengan perkenalan singkat kepada pendengar mereka lalu mulai memberikan pertanyaan seputar novel "Waktu Aku sama Mika". Gue menceritakan tentang proses penulisan novel yang tadinya hanya buku harian pribadi, jadi ketika sudah dicetak masih lengkap dengan tanggal dan segala macam typo-nya. Gue juga mengenalkan sosok Mika secara singkat, tentang sejauh mana ia dulu begitu mempengaruhi gue dan menjadikan gue pribadi yang lebih positif. 



Setelah itu perbincangan kami semakin mengalir. Feli bertanya apakah gue pernah mendapatkan deskriminasi dari lingkungan sekitar selama berpacaran dengan Mika. Gue bercerita bahwa dulu ada beberapa anak di sekolah yang mengucilkan gue karena tahu Mika ODHA. Gue bahkan sempat dilarang menggunakan toilet yang sama dengan alasan takut menulari yang lain. Meskipun terdengar konyol, tapi dulu memang banyak sekali yang belum mengerti HIV/AIDS dengan baik. Berpacaran dengan Mika nggak membuat gue terinfeksi, dan jika pun ODHA menggunakan toilet yang sama dengan mereka, itu sama sekali aman. Lucunya, dulu malah ada seorang dokter yang menolak menangani Mika dengan alasan keamanan. Padahal gue pernah membaca tentang 'Keamanan Universal', yaitu prosedur penanganan pasien  dengan menghindari kontak cairan tubuh, misalnya dengan menggunakan sarung tangan. Yang artinya semua pasien harus dilayani dengan baik, termasuk ODHA. Sejak saat itulah gue ingin tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS dan mencari cara agar nggak ada lagi orang-orang yang diperlakukan seperti Mika.

Jeda iklan novel "Waktu Aku sama Mika" langsung dibaca, hihihi :)
Bapak menemani gue di dalam studio :)

Feli dan Kamal pun penasaran dengan hal-hal apa saja yang bisa menularkan HIV karena menurut mereka sepertinya gue nggak takut tertular dengan Mika :) Hihi, tentu saja. HIV nggak menular karena kontak sehari-hari. HIV terdapat di dalam sebagian cairan tubuh seperti; darah, air susu ibu dan cairan kelamin. Jadi berpegangan tangan, makan satu piring ataupun berenang bersama Mika sama sekali nggak masalah. Gue nggak pernah bosan menceritakan bahwa apa yang membuat Mika istimewa adalah kepribadiannya. Ia begitu penuh semangat dan selalu melindungi gue. Meskipun ia 7 tahun lebih tua dari gue, tapi selama 3 tahun bersamanya nggak pernah sekalipun ia memanfaatkan gue. Mika bahkan selalu mendorong gue untuk terus berpikir positif.  Jadi apapun yang ia idap itu bukan masalah untuk hubungan kami, karena siapapun bisa saja jatuh sakit.


Ketika Kemal bertanya tentang bagaimana seharusnya lingkungan memperlakukan ODHA, gue langsung menjawab, "Sama saja." Karena gue sendiri nggak nyaman jika harus dibedakan. Status gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak membuat gue merasa jadi sosok yang berbeda dari orang kebanyakan. Gue punya banyak teman, dan beberapa diantara mereka ada yang seperti Mika. Tapi yang membedakan kami hanya hobi, makanan kesukaan, dan hal-hal semacam itu. Gue percaya selama kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, maka semuanya akan baik-baik saja :)

Wawancara pun ditutup dengan pesan-pesan gue untuk para pendengar. Sama seperti yang gue sampaikan di "HIV/AIDS Awereness 2014" 28 November lalu, gue berharap orang akan peduli dengan HIV/AIDS bukan hanya di 1 satu Desember atau baru pada saat ada keluarga atau orang terdekatnya yang terinfeksi. Tapi peduli bisa dimulai dari sekarang, karena nggak ada kata terlalu cepat untuk memulai. Untuk peduli nggak perlu menjadi seorang aktivis atau expert, tapi dengan membantu menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS di lingkungan terdekat dan melawan diskriminasi pun sudah menunjukan bahwa kita peduli.

Bersama Andrew :)

Wawancara selesai sekitar pukul 6 lewat. Sambil berpamitan gue memberikan sebuah novel "Waktu Aku sama Mika" untuk I-Radio. Badan gue yang sedang kurang fit pun terasa membaik karena energi positif yang ada di sini. Bibir gue nggak bisa berhenti tersenyum karena hal-hal yang sudah dialami tadi. Saat ada orang yang gue temui dan mengaku bahwa pandangan mereka tentang HIV/AIDS berubah menjadi lebih positif rasanya benar-benar priceless. Saat Andrew berterima kasih atas kehadiran gue, rasanya gue lah yang harus berterima kasih karena mendapatkan kesempatan seperti ini :) 
Di perjalanan pulang gue mulai terkantuk-kantuk. Saat hampir terlelap gue mendengar Bapak berkata, "Tadi bagus sekali. Kalau Mika dengar kira-kira bagaimana, ya?"
Gue terkikik, mengangkat bahu sekilas. Entahlah, yang gue inginkan hanya semua orang tahu bahwa Mika orang baik...


blessed girl,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 06 Desember 2014

Ikutan Nobar Film MIKA bareng Indi Sugar dan D-100 Community, yuk! ;)


Teman-teman, sudah nonton film MIKA belum? :)
Film MIKA adalah sebuah film Indonesia yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika" yang ditulis berdasarkan kisah nyata gue dan Mika.
Film ini menceritakan tentang gue yang divonis scoliosis (kelainan tulang belakang) dan berkenalan dengan Mika, laki-laki yang mengidap AIDS. Bersama kami menghadapi hari sampai akhirnya berpacaran dan menjadi pribadi semakin kuat meskipun fisik kami lemah.
Film ini disutradarai oleh Lasja Susatyo dan dibintangi oleh Vino Bastian (sebagai Mika), Velove Vexia (sebagai Indi), Izur Muchtar (sebagai Bapak), Dona Harun (sebagai Ibu) dan masih banyak yang lainnya.

Film Mika diputar di bioskop seluruh Indonesia pada tahun 2013 lalu dan sempat menjadi film dengan jumlah penonton paling banyak. Beberapa bulan setelah tayang di bioskop Indonesia, film Mika juga berkesempatan untuk diputar di IFF Melbourne Australia :)

Nah untuk yang belum pernah menontonnya (atau yang rindu dengan film ini, hihihi), gue dan D-100 Community mengajak teman-teman untuk nobar alias nonton bareng. Film MIKA akan diputar pada;

Minggu, 7 Desember 2014
Pukul 16.00
Di Taman Film Bandung
(Bawah jalan layang Pasupati, Tamansari)

Acara ini gratis! Silakan membawa teman sebanyak-banyaknya karena tempatnya sangat luas dan menggunakan layar super besar (4x8 meter) ala bioskop. Asyik sekali, kan? Sampai bertemu di sana, ya! :)

sugarpie nya Mika,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 November 2014

Warna-Warni HIV/AIDS Awareness 2014: Ada Haru, Ada Tawa, Ada Teman-Teman Baru :)


Hai my beloved bloggies friends! Kemarin, 28 November 2014 gue mendapat (another) awesome experience. Gue mengisi acara talk show "HIV/AIDS Awareness 2014" di Kampus Politeknik Bandung Program Studi Usaha Pejalanan Wisata. Untuk gue ini adalah pengalaman yang kedua mengisi acara dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan audience mahasiswa. Tahun lalu gue berbicara di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universtitas Diponegoro Semarang, meski begitu tetap nggak mengurangi perasaan excited gue :)

Kali ini gue nggak sendirian, tapi ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara. Di pertemuan pertama kami ini langsung akrab, lho meskipun sebelumnya hanya berkomunikasi lewat SMS, hihihi. Dan untuk MC nya, guess who? Pasti yang sering mampir ke sini bisa menebak, ya; the one and only Ray ;)
Acara dimulai jam 1 siang dan dibuka dengan sesi sharing bersama Kak Taufik. Nah, waktu sesi ini gue belum datang karena rencananya memang dibagi menjadi 2 sesi sharing, yaitu bersama Kak Taufik lalu bersama gue. Menurut Ray ada banyak sekali yang datang, ia bahkan mengirimi gue foto suasana di ruangan yang membuat gue semakin ingin cepat-cepat tiba, hihihi. Akhirnya, sekitar jam 2.30 sore gue yang diantar Bapak tiba dengan selamat meskipun sempat terjebak macet dan hujan lebat. Sesi bersama Kak Taufik sudah selesai dan audience sedang nonton bareng film Mika. Sambil menunggu gue sempatkan dulu mengobrol sana-sini dengan Ray dan Kak Taufik. Lumayan, masih punya banyak waktu karena durasi filmnya 1 jam lebih :)



Bersama Kak Taufik Rumah Cemara sambil berpose dengan karya-karya gue :) 

Dari luar ruangan, meskipun pintu tertutup tapi gue bisa mendengar reaksi teman-teman audience di dalam. Wah, benar-benar bikin merinding. Waktu ada adegan lucu mereka kompak tertawa, waktu ada adegan yang bikin gemas gue nggak bisa menahan tawa karena komentar-komentar mereka cukup jelas tedengar. Dan waktu mendekati ending film tiba-tiba ruangan sangat sepi, samar-samar gue mendengar suara isak tangis yang diakhiri dengan tepuk tangan seru ketika film selesai. Wah, kalau saja gue nggak harus mengisi acara kemungkinan besar gue sudah ikut menangis saking terharunya :') Film Mika yang diinspirasi oleh kisah hidup gue yang dinovelkan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dipilih untuk diputar di hari AIDS sedunia karena menceritakan kisah hidup Mika, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang berpacaran dengan gue selama 3 tahun terakhir hidupnya. Melalui film ini audience bisa "mengenal" Mika dan melihat seperti apa kehidupan kami yang (sebenarnya) nggak jauh berbeda dengan orang lain.



Ada yang masih menangis haru ketika gue masuk ruangan :')

Ray dan Kak Taufik masuk ke dalam ruangan lebih dulu, lalu disusul oleh gue yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Rasa haru gue jadi semakin bertambah, hihihi :'D Rupanya profile gue sudah dibacakan sebelum gue tiba, jadi audience sudah cukup mengenal gue, seenggaknya mereka tahu bahwa gue adalah "Indi nyata" dari film yang baru saja mereka tonton :) Hanya dalam beberapa detik gue menyadari bahwa beberapa dari mereka masih ada yang bermata sembab karena menonton film Mika. Untung saja suasanya santai, jadi alih-alih sedih berlarut-larut kami dengan cepat tertawa karena Ray juga tanpa ragu melontarkan lelucon.

Ray membawakan acara talk show dengan santai :)

Di sesi sharing ini gue bercerita tentang tentang latar belakang novel "Waktu Aku sama Mika" yang lalu menjadi film Mika. Gue juga bercerita tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari HIV/AIDS. Pokoknya gue bercerita tentang hal-hal yang memang sudah akrab tapi sebenarnya bisa dilakukan untuk melindungi diri, misalnya saja dengan mencari informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Setelah itu giliran audience yang diberikan kesempatan untuk bertanya pada gue. Boleh tanya apa saja, asalkan masih sesuai tema dan jika bertanya tentang Mika nggak ke hal yang terlalu sensitif/pribadi ;) Pertanyaan yang gue dapat beragam sekali dan semuanya sangat antusias. Well, sejauh ini gue memang blessed bertemu dengan teman-teman baru yang selalu antusias, tapi kali ini antusiasnya super sekali, hehehe. Ada yang bertanya tentang kegiatan gue di yayasan AIDS, ada yang bertanya tentang hal-hal mengesankan bersama Mika yang nggak diceritakan di film, ada juga yang bertanya tentang proses penulisan naskah dan lain-lain. Terlihat sekali ya mereka tertarik dengan banyak hal, salut :) Tentang Mika gue jawab bahwa ia istimewa bukan karena ia ODHA. Mika istimewa karena bagaimana cara ia memperlakukan gue dan tentu saja kepribadiannya. Karena menurut gue semua orang itu sama, apapun yang ia idap nggak perlu dijadikan label. Gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak mau hanya dikenal karena apa yang gue idap, dan gue yakin Mika juga begitu :)




Pengetahuan gue tentang HIV/AIDS sudah pasti masih kalah dengan Kak Taufik, tapi setiap ada yang bertanya gue selalu mencoba menjawab sebaik mungkin. Karena menurut gue nggak perlu jadi seorang expert untuk stop diskriminasi dan stigma. Mulailah memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, siapapun itu. Dan untuk menjadi seseorang yang peduli dengan isu HIV/AIDS bukan berarti harus menjadi relawan di sebuah yayasan atau organisasi. Menurut gue dengan membantu menyebarkan info yang benar di kalangan kecil seperti teman atau keluarga sudah merupakan bentuk untuk menunjukan rasa peduli. Hal kecil jika dilakukan terus menerus tentu akan menjadi besar, kan? ;)

Setelah semuanya puas memberikan pertanyaan giliran gue dan Kak Taufik yang bertanya kepada audience. Untuk yang bisa menjawab pertanyaan kami dapat hadiah, lho. Hadiahnya adalah novel charity "Guruku Berbulu dan Berekor" karya gue (yang dibantu oleh beberapa volunteer) dan sebuah stiker dari Tiloe, event organizer yang menyelenggarakan acara ini. Pertanyaannya mudah-mudah, kok. Kak Taufik bertanya tentang hal apa saja yang bisa menularkan HIV/AIDS sedangkan gue bertanya tentang hal apa saja yang nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Semuanya bisa dijawab dengan cepat, sampai-sampai hampir berebutan, hihihi. Eh, tapi ada lho satu pertanyaan yang cukup tricky, yaitu 'Apakah ODHA bisa memiliki anak yang negatif? Jika bisa bagaimana caranya?' Setelah beberapa audience gagal menjawab akhirnya ada juga yang berhasil. Congratulations! :D Btw, kalau-kalau diantara pembaca ada yang penasaran, nih gue kasih bocoran; ODHA bisa kok punya anak yang berstatus negatif :)

Acara ditutup dengan sesi foto dan book signing. Luar biasa sekali sampai akhir acara energi audience sepertinya sama sekali belum berkurang, hihihi. Sampai-sampai ada yang mengajak selfie segala :'D Oya, salut deh dengan mereka, soalnya selain antusias, open minded juga sangat helpful. Mereka sudah menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing, jadi gue nggak harus bertanya lagi nama yang ingin ditulis di buku yang akan ditandatangi. Simpel tapi manis sekali, hihihi :) Gue sangat senang dan bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar (dan ramai, lol). Bisa berbagi ilmu dan mendapatkan teman-teman baru sungguh pengalaman yang berharga buat gue. Terima kasih banyak untuk Polban, Ray, Tiloe, Kak Taufik dari Rumah Cemara dan Homerian Pustaka yang membuat acara ini terwujud. Gue harap akan ada semakin banyak orang peduli bukan hanya karena ada saudara atau teman mereka yang mengidap HIV/AIDS. Peduli datangnya dari hati dan nggak pernah ada kata terlalu cepat untuk memulai :)





Sampai bertemu lagi, teman-teman! :)




keep fighting,

Indi

nb: 
*Senin, 1 Desember 2014 gue akan live interview di I-radio 89.6 FM Jakarta jam 5 sore. Jika kebetulan ada waktu luang, yuk stay tuned! ;)
*Minggu, 7 Desember 2014 film MIKA akan diputar di Taman Film Bandung (Terusan Taman Pasupati) pukul 4 sore. Gue dan D-100 Community akan hadir di sana. Yuk, kita nobar. Gratis! :)


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469