Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Selasa, 21 Mei 2013

Tentang Dominika: My Little Best Friend :)


Mungkin yang sering membaca blog ini sudah tahu bahwa gue sangat suka dengan anak-anak. Yup, gue bahkan bekerja di pre school agar bisa lebih dekat dengan mereka. Bermain dengan anak-anak selalu membuat gue gembira dan berenergi, rasanya semua semua hal buruk pergi dan yang ada hanya hal positif. Gue sangat menikmati pekerjaan gue, dan ketika ada hari-hari dimana merasa terlalu lelah untuk bekerja, hanya dengan mengingat akan bertemu mereka lah yang membuat gue tersenyum :) Tapi bagaimana jadinya jika ada seorang anak yang memusuhi gue mati-matian? 


Namanya Dominika. Gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatnya. Pipinya tembam, rambutnya coklat keemasan dan kulitnya putih bersih. Di lengan dan kakinya tertempel banyak plester. Bukan karena luka, tapi Dominika memang senang menempelkan plester di tubuhnya. Meski masih kecil ia sudah mempunyai warna favorit, yaitu pink. Waktu itu gue langsung berkata pada diri sendiri bahwa gue dan Dominika pasti akan bisa cocok. Bagaimana nggak, kami punya kebiasaan yang sama, menempelkan plester agar berkesan keren, dan juga sama-sama menyukai warna pink. Jadi ketika tahu gue ditempatkan di kelasnya, gue bahagia bukan main. Dengan senyum semanis mungkin gue menghampirinya dan menjulurkan tangan untuk berkenalan. "Halo, my name is Miss. Indi", kata gue. Dan tahu kah apa balasannya? Dominika menatap gue heran dan pergi begitu saja!

Haha, kalau diingat memang lucu. Tapi ketika gue mengalaminya sama sekali nggak terasa begitu. Perasaan gue bercampur-capur antara sedih, tersinggung dan penuh tekad untuk meluluhkannya. Gue masih dalam masa trial, setiap hal yang gue lakukan akan dinilai dan dijadikan pertimbangan apakah gue layak untuk bekerja di sana. Gue dan Dominika seperti kucing dan anjing. Dia nggak mau gue dekati dan satu-satunya yang menarik perhatian ia hanyalah sepatu gue yang ala princess. Tapi selebihnya nggak. Pernah suatu kali, ketika waktunya brunch Dominika nggak mau mengantri untuk mencuci tangan. Gue dengan suara penuh keibuan dan raut wajah seramah mungkin (lol) menegurnya dengan bilang, "line up, please". Tapi reaksi yang gue dapat benar-benar diluar dugaan. Ia langsung marah dan menangis sambil berbaring di lantai! Hahaha... Gue malu bukan main. Pikiran bahwa gue dan Dominika akan cocok pun sudah hilang entah kemana...

Situsi ini benar-benar membuat gue canggung. Gue jadi menjaga jarak dengan Dominika. Begitu juga sebaliknya, ia lebih memilih teacher lain dibanding gue. Lama-lama perang dingin antara gue dan Dominika pun mulai tercium oleh Miss. Alison. Ia menganggap apa yang gue alami ini lucu, dan cara penyelesaiannya mungkin lebih mudah dari yang gue bayangkan. Gue disarankan agar lebih mengalah karena mungkin saja Dominika merasa tersaingi dengan kehadiran gue. Haha, waktu itu rasanya geli bukan main, bagaimana mungkin seorang balita merasa tersaingi dengan seseorang yang usianya berkali-kali lipat darinya. Tapi, well ya mungkin juga ada benarnya. Gue mempunyai sisi kekanakan yang kuat di dalam diri gue. Dominika mungkin bisa merasakannya, jadi gue putuskan untuk mengikuti saran Miss. Alison.

Gue akhirnya bekerja secara resmi di sana. Gue nggak lagi ditempatkan di kelas Dominika dan mengajar anak-anak yang usianya lebih muda. Jarak kelas gue dan Dominika pun cukup jauh, dari ujung ke ujung dan dipisahkan oleh playground yang sangat luas. Kadang gue berpapasan dengannya dan mencoba tersenyum iseng kepadanya. Reaksinya sesuai dugaan gue, dia memasang grumpy face lalu memalingkan wajah, hahaha. Tapi rasa iseng gue malah makin menjadi, dari sekedar senyum lalu meningkat dengan menghampirinya dan berjongkok di depannya. Reaksi Dominika lumayan membuat gue menciut. Ia berteriak dan menolak didekati. "Awas", "Sana", "Jangan" adalah kata-kata yang sering gue dapatkan. Wajah gue kalau saja dilihat dari rekaman CCTV pasti sangat nggak karuan, lol. Setelah 1 bulan akhirnya gue berhenti mencoba. Seperti yang sudah gue bilang, gue punya sisi kekanakan yang sangat kuat. Jadi secara diam-diam, jangan sampai teachers lain mengetahuinya, gue meng"iya"kan ajakan perang Dominika.

Setiap kali kami berpasasan di playground gue pura-pura nggak melihatnya. Kalau jarak kami cukup jauh gue akan curi-curi pandang padanya. Setiap kali ia melihat ke arah gue, gue akan pura-pura nggak melihat, hahaha. Konyol, tapi Dominika pun melakukan hal yang sama. Gue tahu ia memperhatikan gue dan kadang mendekati gue dengan jarak sekitar 2 meter lalu pergi setelah menunggu dan nggak mendapatkan respon dari gue. Sulit sekali untuk menahan agar nggak tersenyum. Betapapun ia memusuhi gue, tetap saja setiap kali melihatnya gue menemukan sesosok gadis kecil yang menggemaskan.

Lalu datanglah hari yang sangat ajaib. Posisi sepertinya berbalik, Dominika menjadi orang dewasa dan gue menjadi anak-anak. Ketika kami berpasasan di playground ia yang sedang berlari tiba-tiba berhenti dengan jarak yang lumayan dekat dari hadapan gue. Ia tersenyum dan berkata, "Hai" lalu kembali berlari. Kejadian ini terus berulang selama berhari-hari. Gue mengagumi keteguhan Dominika untuk mencoba berkomunikasi dengan gue. Ketika gue mulai membalas sapaannya jarak kami semakin dekat. 2 meter, 1 meter dan akhirnya hanya beberapa senti saja. Dan ketika itu terjadi, tahukah apa selanjutnya? Gue dan Dominika segera menjadi teman baik!

Sepulang sekolah Dominika pasti mengikuti day care, jadi meski kelas kami berjauhan tapi selalu punya kesempatan untuk bertemu. Ia bukan tanggung jawab gue karena karena waktu bekerja bersama anak-anak sudah habis. Tapi jika pekerjaan gue nggak terlalu banyak, dengan senang hati gue menemaninya. Terkadang kami nggak melakukan apa-apa sampai ia tidur di pangkuan gue. Atau ada saatnya gue bekerja di kelas dan ia tetap ingin menghabiskan waktu bersama gue. Meski artinya ia hanya bisa menonton gue bekerja sambil bermain sendiri, tapi ia tetap menunggu. Setiap Dominika keluar dari kelasnya, ia pasti berkata pada teachernya, "Mau main di kelas Indi"
Iya, Indi, tanpa "miss" karena di luar waktu sekolah kami berteman :)

@ Domino's Pizza with Dominika :)
Waktu menyenangkan sepulang sekolah :)

Seperti selayaknya teman, gue dan Dominika sering melakukan hal konyol bersama. Kami pernah minum jus di gelas mainan dan mencucinya kembali ketika nggak ada yang melihat (lol). Kami juga sering bergulat di karpet kelas ketika sebagian besar teacher sudah pulang. Bukan itu saja kami juga melakukan hal-hal girly bersama. Beberapa kali gue membawa make up kit mini ke dalam kelas dan kami bercermin sambil berdadan. Tenang saja, gue hanya membawa peralatan yang aman kok. Baby powder, kids body mist, rubber band dan lain sebagainya. Kadang jika rambut gue diikat dua, Dominika minta agar rambutnya dibuat sama. Penah satu kali gue mengepang rambutnya dan ia ingin memegangnya terus-terusan. Gue berkata padanya supaya terlihat cantik rambutnya jangan dipegang-pegang terus, dan ia menurut. Semenjak hari itu lah kami punya istilah untuk rambut cokelat kami yang habis didandani dengan sebutan: Rambut cantik :p

Lama kelamaan gue menjadi role model bagi Dominika. Ia sering memakai sepatu gue dan dengan hati-hati mengembalikannya lagi ke rak sepatu. Ia malah pernah meniru gue yang hobi menggunakan stocking setiap hari. Ia memakai kaos kakinya, menariknya sampai lutut dan menolak setiap kali ada yang meminta untuk menurunkannya. Ternyata ia berusaha membuat kaos kakinya terlihat seperti stocking! Dan dengan bangga ia menunjukannya pada gue sambil berkata, "Sama". What a smart girl! :)
Saat waktunya makan siang, teachers terkadang menggoda gue karena sudah berhasil berbaikan dengan dominika. Mereka nggak menyangka Dominika jadi sangat dekat dengan gue karena sebelumnya kami bagaikan kucing dan anjing. Bahkan Miss. Dewi, teacher dari Dominika bertanya dengan heran pada gue, "Indi, kenapa Dominika jadi lengket gitu sama kamu?". Dan gue pun hanya menjawabnya dengan cengiran konyol sambil menggelengkan kepala, karena sampai hari ini pun gue nggak tahu alasannya, hehehe.

Kemarin karena kelas gue lebih dulu selesai, gue sempatkan untuk mengintip ke kelas Dominika. Ternyata di sana sedang pelajaran tentang "water life". Anak-anak berdiri mengelilingi container kuning yang berisi ikan-ikan lucu dengan antusias. Tapi nggak dengan Dominika. Ia menangis histeris dan menolak ketika diminta untuk memasukan tangannya ke air. Karena penasaran gue menghampirinya dan mencoba menunjukan padanya bahwa nggak ada yang perlu ditakuti, tapi ia tetap menangis sambil duduk di pangkuan gue yang sedang berjongkok. Ketika ditanya ia berkata "Caught a fish... Caught a fish!!" Gue menatapnya heran, nggak mengerti dengan apa yang ia maksud. Lalu setelah beberapa saat kemudian gue tertawa kencang. Perut gue rasanya geli. Gue mengerti apa yang ia maksud. Ada sebuah lagu berjudul "Once I Caught a Fish Alive" yang berlirik seperti ini:

One, two, three, four, five,
Once I caught a fish alive,
Six, seven, eight, nine, ten,
Then I let it go again.

Why did you let it go?
Because it bit my finger so.
Which finger did it bite?
This little finger on the right.


Hahaha, Dominika ternyata takut jarinya digigit ikan! Well, sepertinya gue bukan saja mempunyai teman kecil yang menggemaskan, tapi juga lucu. Love you, Dominika! Semoga nggak ada lagi perang di antara kita, ya :p


***
Facebok: here | Twitter: here | contact person: 081322339469

Senin, 13 Mei 2013

Oh, my God, Oh, my God! Gue Lollipop Girl nya Mika! :)

Hai bloggies! Apa kabar? Ini hari senin, mungkin beberapa diantara kalian ada yang sudah mulai masuk sekolah, bekerja atau malah masih punya 1 hari libur ekstra? Hehehe. Gue sendiri sedang menikmati hari libur terakhir, sudah berpiyama setelah makan malam dan sekarang duduk di depan komputer :) Mungkin ada yang sempat membaca/masih ingat dengan post-post gue sebelumnya yang menceritakan tentang kebingungan gue untuk memilih konser Aerosmith atau Mika yang akan diadakan di hari yang sama. Well, ternyata konser Mika dimajukan dan gue sangat senang karena bisa menonton keduanya. Tapi ternyata ada kabar buruk, konser Aerosmith batal dan gue menerima kabar tersebut hanya 2 jam setelah interview di Global Radio Jakarta tentang penyambutan band rock legend tersebut. That was really really really... sad... :'( Gue sudah menunggu konser ini sejak masih berusia 7 tahun dan memikirkan kapan kesempatan ini akan datang lagi membuat perasaan gue nggak karuan. Gue bahkan nggak terlalu memikirkan konser Mika lagi. Meski tiket sudah dibeli 2 bulan sebelum konser, satu hari menjelang hari H gue masih belum tahu dimana tiket bisa ditukarkan, jam berapa konser dimulai dan dimana konser akan diadakan...

Mika juga idola gue, tapi mungkin karena baru mengenalnya selama 6 tahun jadi perasaan sedih karena konser Aerosmith batal menutup segala ke-exited-an untuk menghadiri konsernya. Gue menghindari mendengar CD Aerosmith dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka. Setiap gue pergi ke tempat kerja di perjalanan gue mendengar CD-CD lain seperti Red Hot Chili Peppers, Queen dan... Mika. Meski perasaan sedihnya masih ada, tapi cukup berhasil untuk membuat gue berhenti membicarakan Aerosmith. Setiap hari gue diantar Bapak, jadi menghindari obrolan tersebut sangat sulit. Mendengarkan CD-CD Mika secara berulang-ulang ternyata membuat memori gue kembali ke 6 tahun lalu, dimana gue pertama kali memutuskan untuk membeli album pertamanya dan mulai mengidolakannya. Tepat semalam sebelum konser Mika tiba-tiba gue mengambil keputusan: Okay, gue akan bersenang-senang di konser Mika dan gue akan menjadi Lollipop Girl!



Yup, dan gue pun berusaha mewujudkan keinginan gue untuk jadi Lollipop Girl dalam satu malam. Oh, iya "Lollipop Girl" adalah icon dari lagu Mika di album pertamanya "Life in Cartoon Motion" yang digambarkan sebagai seorang gadis pirang berponi yang memakai dress berwarna pink. In case jika diantara kalian ada yang belum tahu :) Sebenarnya gue sudah punya dress yang mirip dengan Lollipop Girl versi kartun, tapi setelah googling ternyata dress Lollipop Girl versi real agak berbeda dengan yang kartun. Dengan bantuan Ibu gue membuat desainnya, mencari kain yang tepat dan menjahitnya. Dress Lollipop Girl gue pun selesai hanya 7 jam sebelum konser!
Segera setelah itu gue mencoba dress-nya dan langsung pergi ke Jakarta dengan Bapak. Dress Lollipop Girl digantung di bangku belakang mobil dan gue memakai dress santai, berharap bisa tidur di perjalanan karena kurang istirahat. Ibu bilang gue harus bersenang-senang dan jangan biarkan Aerosmith merusak hari gue. Hehehe, iya Ibu, iya :)

Pagi-pagi sebelum berangkat, mencoba dulu dress Lollipop Girl :)

Perjalanan terbilang sangat lancar (atau Bapak bilang, "terlalu lancar", lol), jam 1 siang kami sudah sampai di Jakarta sementara konser baru dimulai jam 8 malam. Nggak sulit menemukan Gandaria City karena semalam gue sempat print petanya dari internet. Tempat penukaran tiket masih sangat sepi, hanya ada 3 orang lain di sana. Tapi what a surprise, ada beberapa fans Mika dari "Mika for Indonesia" yang sudah menunggu di antrian masuk venue! Wah, dunno why pemandangan ini membuat gue tersenyum. Mereka ternyata mengenali gue karena pernah membaca blog ini. Setelah sedikit bertukar sapa dan gue bertanya-tanya sedikit tentang konsernya, gue menandatangani spanduk bertulisakan "Terima Kasih Mika" yang rencananya akan diberikan pada Mika. Suasana hati gue langsung berubah drastis, dan itu membuat Bapak lega. Katanya konser ini pasti menyenangkan karena gue akan bertemu dengan banyak teman baru.

Karena konser masih sangat lama, kami putuskan untuk berjalan-jalan dulu. Kami mampir ke Gramedia dan melihat-lihat buku baru. Sekalian melihat novel-novel gue juga, hehehe. Nggak disangka-sangka di sana ada sekelompok remaja yang menyapa dan mengajak berfoto karena mereka adalah pembaca novel-novel gue. Aww, sweet... Ternyata Bapak benar, gue akan bertemu dengan banyak teman baru :) Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang. Sengaja kami makan lama-lama karena nggak mau menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan akhirnya malah membeli sesuatu. Maklum gue suka nggak tahan kalau lihat toko CD dan pernak-pernik perempuan, hihihi. Tapi ternyata meski kami berusaha untuk lama-lama, sudah diselingi ngobrol dan santai-santai, waktu masih jauuuuh sekali ke jam 8 malam. Ya sudah kami putuskan untuk kembali ke mobil dan... tidur! Hahahaha...

Jam 6 sore meskipun masih sangat mengantuk gue putuskan untuk mengecek antrian menuju venue. Bapak bilang gue jangan dulu ganti baju karena waktu 2 jam itu masih lumayan lama. Tapi ternyata antrian sudah lumayan panjang dan teman-teman dari "Mika for Indonesia" sudah menagih dress Lollipop Girl gue, hehehe. Mereka meminta gue untuk segera memakai dress-nya dan foto bersama. Ya, sudah kami kembali lagi ke mobil, gue mengganti dress di bangku belakang dan kembali lagi untuk berfoto :) Gue dan Bapak mengantri jauh di belakang "Mika for Indonesia" karena kami berada di blue line sedangkan mereka di green. Sempat terpikir untuk meng-upgrade tiket, tapi urung karena ternyata penonton nggak terlalu padat.

Bersama Mika for Indonesia

Gue yang sudah memakai dress Lollipop Girl jadi mudah dikenali, banyak yang memanggil gue dengan nama "Lollipop" dan lucunya mereka bertanya apakah rambut gue asli atau wig, hahaha. Ini menyenangkan karena mengantri dan menunggu bukan kesukaan gue. Dan dress Lollipop Girl ini membantu gue mendapatkan teman mengobrol :) Lalu tiba-tiba saja ada seorang kru dari sebuah stasiun TV menghampiri gue. Dia bertanya apakah gue bersedia diwawancarai untuk program fashion street di NET TV, stasiun TV nasional yang akan launching 16 Mei nanti. Tentu saja gue bersedia. Dress ini dibuat dengan bersusah payah dan hanya dalam waktu semalam, akan menyenangkan jika Ibu tahu dress buatannya banyak dikagumi :) 


Akhirnya kami semakin mendekati venue yang berada di Skenoo Hall. Gue semakin merasa nyaman dan nggak terlalu mempermasalahkan karena harus menunggu sambil berdiri. Bagaimana nggak, gue sudah kenal dengan orang-orang yang menganti di depan, belakang dan samping gue, hehehe. Kami hampir nggak bisa berhenti mengobrol! :) Di tengah obrolan gue dihampiri oleh kru Trans 7, mereka ingin mewawancarai gue. Dengan senang hati gue iya-kan dan gue diminta untuk menceritakan kenapa memilih untuk menjadi "Lollipop Girl". Gue bercerita bahwa sejak album "Life in Cartoon Motion" keluar, selain Grace Kelly, Lollipop lah yang paling mencuri perhatian gue. Apalagi setelah tahu bahwa lagu ini mempunya icon yang manis. Langsung saja gue ingin menjadi Lollipop Girl dari Indonesia, hehehe. Wah, ternyata dress ini membawa banyak berkah dan kebahagiaan. Gue bersyukur karena memutuskan memakai dress ini, padahal awalnya gue akan memakai dress seperti gadis di video clip Grace Kelly. Ternyata Lollipop Girl adalah icon yang paling mudah dikenali ya meskipun setelah itu masih ada 2 album Mika yang baru! :)



Waktu mengantri jadi semakin nggak terasa, gue dan teman-teman baru diajak untuk berfoto di booth Close Up. Lalu gue ditawari untuk membuat video testimoni konser Mika. Lucky me, gue mendapatkan hadiah power bank disaat hand phone gue low batt, hehehe. 10 menit kemudian gue, Bapak dan yang lainnya sudah berada di dalam venue. Sampai di dalam venue pun ternyata masih banyak yang meminta gue untuk berfoto. Well, sepertinya nggak ada yang tahu nama asli gue. Semuanya hanya bertanya, "Lollipop boleh foto?" dan langsung mengambil foto meskipun terkadang gue nggak siap, lol. Tapi gue sama sekali nggak terganggu karena mood gue sangat-sangat-sangat bagus. Sebentar lagi gue akan bertemu dengan idola gue. Hore! :)


Teman-teman baru :)
Dapat hadiah :)

Salut, konser dimulai hampir tepat waktu. Mika muncul dengan menggunakan celana hitam, kemeja putih, jas hitam dan topi hitam. Bapak bilang dia kelihatan tampan, tapi menurut gue yang seperti itu namanya "cute", hahaha. Gue nggak bisa  berhenti bernyanyi dan menari, semua lagu yang Mika bawakan adalah yang gue suka. Ehmm, sepertinya memang gue hampir suka semua lagunya, sih :p Di saat penonton lain sibuk mengacungkan kamera dan HP untuk mengabadikan konser, gue sama sekali nggak terpengaruh. Gue hanya ingin menikmati konsernya, dan waktu 2 jam pasti terasa sebentar sekali. I don't want to miss a thing deh pokoknya (oops, kok jadi judul lagu Aerosmith, ya? Lol)

Bapak juga ikut bersenang-senang, lho.

Ini adalah konser pertama gue. Gue memang bukan orang yang suka dengan keramaian, tapi gue berjanji jika itu untuk Aerosmith gue rela beramai-ramai. Dan di konser Mika ini, ajaibnya nggak terlalu padat, masih banyak space yang tersisa. Kalaupun gue mau duduk-duduk masih bisa, AC pun sangat terasa, sama sekali nggak gerah :) Di konser ini juga gue akhirnya merasakan "merinding" moment, hehehe. Itu lho moment ketika idola kita menyanyikan lagu yang pas sekali dengan suasana hati. Dari sekian banyak lagu hanya "Origin on Love" yang membuat gue meneteskan air mata tanpa sadar. Gue sampai harus menghapus air mata beberapa kali karena terus keluar sampai lagu selesai. Suddenly I miss my Mika. Iya, my Mika, my hero, my AIDS fighter. Lagu ini membuat gue teringat dengan kenangan-kenangan manis yang gue lalui bersamanya. Juga tentang betapa polosnya gue di masa-masa itu. Ah... :') Gue menoleh ke arah Bapak, jaga-jaga takut disangka konyol gue langsung pasang wajah serius dan bilang, "Aku ingat Mika aku, ya, bukan yang lagi nyanyi sekarang". Hahahaha :)


Di tengah konser tiba-tiba gate pembatas green dan blue dibuka. Guess, what, gue dan Bapak termasuk yang beruntung untuk pindah ke green! Wah, gue senang bukan main. Tuhan maha baik, niat gue untuk upgrade tiket ternyata dikabulkan dengan cuma-cuma :D Jarak gue dan Mika dekat sekali, hanya terhalang 1 lapis pagar dan tepat di samping panggung. Bapak sempat mengambil foto gue yang dekat sekali dengan Mika, tapi hasilnya konyol karena lengan gue melingkar di pagar sambil sibuk menyanyi. Hahaha, salah-salah disangka pemandangan di kebun binatang :p Sampai konser selesai kami nggak pindah tempat dan tetap di sana sampai venue sepi dan sebagian besar penonton pulang. Gue masih amaze dengan pertunjukan tadi. Meski Mika nampak terburu-buru karena harus langsung ke X Factor, tapi dia tampil sangat maksmimal. Suaranya sebagus di CD!


Proud Lollipop Girls all around the world. Am I the only Asian? :p


Gue bertemu kembali dengan teman-teman "Mika for Indonesia", mereka beruntung jadi choir dadakan untuk mengiringi beberapa lagu Mika, hehehe. Kami langsung sibuk bertukar cerita tentang keseruan konser tadi. Dari mereka gue jadi tahu bahwa sebelum Mika membawakan lagu "Lollipop" mamanya dan Yasmine kakaknya bertanya tentang perempuan yang memakai dress Lollipop Girl. Oh, my God! It was me!!! Katanya mamanya dan Yasmine sudah diberitahu bahwa nama gue Indi, tapi sayang mereka nggak bisa menemukan gue karena sebelum pindah  gue masih berada di tengah kerumuman. Wah... sayang sekali gue melewatkan kesempatan bertemu mereka... Gue jadi agak sedih, apalagi kru dan security (sepertinya) nggak percaya dengan cerita  mereka. Padahal, kami nggak memaksa untuk bertemu hanya minta disampaikan bahwa gue masih di sini, belum pulang in case mamanya Mika atau Yasmine bertanya.

Tapi ya sudah, perjalanan gue dan Bapak menuju rumah kan masih sangat panjang, 4 jam. Yang penting gue sudah berusaha menyampaikan :) Sebelum benar-benar keluar venue ada beberapa penonton yang mengajak gue untuk berfoto. Sebenarnya agak malu karena rambut gue sudah acak-acakan, hehehe. Tapi berhubung mereka sangat ramah (malah ada yang menenangkan gue dengan bilang, "nggak apa-apa kamu masih kelihatan seperti Lollipop Girl, kok", hehe) gue jadi merasa nyaman. Bapak malah bergurau kalau tadi beliau menghitung totalnya ada lebih dari 40 orang yang mengajak gue berfoto. Hahaha, ada-ada saja :)

Gue dan Bapak menuju tempat parkir. Meskipun toilet masih ada yang buka tapi gue sengaja nggak mengganti dress Lollipop Girl dengan baju ganti. Gue masih tersenyum-senyum membayangkan apa yang sudah gue alami. Dress ini benar-benar penuh berkah dan kebahagiaan. Gue juga jadi belajar bahwa seharusnya nggak terlarut dengan kesedihan "Aerosmith". Beruntung, bersyukur gue memberikan Mika kesempatan untuk membuat gue bahagia malam ini, karena jika nggak mungkin gue masih stuck dengan kesedihan gue.

 

Sambil terkantuk-kantuk gue mendengar Bapak bicara, "Eh, tahu nggak, tadi waktu kamu sibuk foto-foto ada ibu-ibu bule yang lihatin kamu terus. Dia sepertinya mau menyapa, tapi kamu sibuk. Dia senyumin kamu sekilas terus masuk ke belakang panggung".
Tiba-tiba kantuk gue hilang. Gue jadi teringat dengan cerita tentang mama dan kakaknya Mika tadi. Cepat-cepat gue buka HP dan mencoba beberapa kata kunci di google. Setelah keluar hasilnya gue tunjukan fotonya pada Bapak.

"Nah, iya... Itu yang tadi lihatin kamu. Memang itu siapa?"
Mata gue langsung melotot, kalau saja ini sinetron wajah gue pasti sudah di shoot zoom in-zoom out...
Oh, my God... Oh my God... It was his Mom... IT WAS MIKA'S MOM!!!
*pingsan*


lollipop girl,

Indi
foto Mika di atas panggung by Nanda.

Facebook: here | Twitter: here | Contact Person: 081322339469


Minggu, 05 Mei 2013

20 Tahun dan Menunggu...

Sabtu, 4 Mei 2013

Pagi-pagi sekali gue sudah bangun. Sarapan tanpa disuruh dan langsung mandi tanpa kembali berbaring di sofa. Bapak bilang gue aneh, tapi gue nggak peduli dan sebelum beliau sadar gue sudah berdiri di garasi. Menunggu diantarkan ke suatu tempat yang istimewa.

Masih ingat tulisan gue tentang Aerosmith yang "ini"? Yup, betul, waktunya semakin dekat. Tinggal 7 hari lagi sampai gue dan Bapak bisa berdiri di front row sambil berharap-harap cemas Steven Tyler akan melemparkan harmonikanya untuk kami, hehehe. Kami sudah benar-benar siap, stamina, mental, dan bahkan Bapak sudah menyarankan gue segera membuat surat untuk Steven Tyler. Kemungkinan akan sampai memang kecil, tapi Bapak bilang nggak ada salahnya mencoba. Rasa exited kami semakin hari semakin menggebu. Kami selalu terkikik ketika membicarakannya. Mata gue berbinar dan Bapak pura-pura mengejek. Lalu kabar bahagia yang lainnya datang menghampiri kami. Aerosmith Indonesia, sebuah perkumpulan pengagum Aerosmith mengundang gue untuk interview di Global Radio Jakarta. Tentu saja ini dalam rangka menyambut kedatangan Aerosmith yang sebentar lagi :D

Jadilah kami menempuh perjalanan menuju Jakarta. Bapak di balik kemudi dan gue asyik mengganti-ganti CD di bangku penumpang. PUMP, Big Ones, Just Push Play dan album-album Aerosmith lainnya sudah gue siapkan dan pastikan cukup untuk menemani perjalanan kami. Bapak bertanya apakah gue hapal dengan sejarah Aerosmith. Gue bilang, "ini interview, Pak, bukan ujian", tapi Bapak tetap bertanya hal yang sama sampai gue mogok bicara. Beliau lalu tertawa dan berkata bahwa ia hanya menggoda gue. Beberapa saat kemudian gue ikut tertawa, nggak kalah kencang. Karena sebenarnya gue sudah tahu dari awal bahwa beliau hanya becanda dan gue tadi hanya pura-pura ngambek :)

Gue bernyanyi terus. Dengan penghayatan penuh, ekspersi konyol dan membuat suara serak ala rocker. Sesekali gue melirik Bapak, memastikan suara gue nggak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bapak juga ikut menyanyi, tapi suaranya nggak jelas, hanya bergumam dan baru agak terdengar di bagian refrain lagunya saja, hehehe. Tapi gue lega, karena itu artinya Bapak nggak terganggu. Kami begitu terus sampai 2 jam kemudian. Gue sudah menghabiskan 1 botol minuman dan mulai kehilangan energi untuk bernyanyi. Gue bertanya pada Bapak kapan kami sampai. Tapi beliau nggak tahu pasti, "sudah dekat", cuma begitu katanya. Gue sangat kahwatir kami nyasar, dan sayangnya, kami ternyata memang nyasar.

Kami baru bisa menemukan MNC tower, tempat dimana Global Radio berada setelah 4 jam perjalanan. Gue berkeringat sangat banyak karena tegang. Dalam hati gue berdoa supaya nggak terlambat meski sebenarnya gue sadar sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati. Gue berjalanan secepat mungkin dan meninggalkan Bapak yang sibuk mencari tempat parkir. Nggak lama kemudian gue bertemu Hans, menyalaminya dan sebisa mungkin menyembunyikan suara nafas gue yang hampir terdengar seperti dinosaurus, lol. Ajaibnya, semua yang ada di sana ternyata belum memulai interviewnya karena menunggu kedatangan gue. Selain Hans admin dari Aerosmith Indonesia, ada Wihel, seorang fans Aerosmith dan Lupi penyiar di sana. Kami mengobrol dulu dan baru berhenti setelah Bapak menemukan tempat kami. Karena ternyata mereka juga memutuskan untuk mengajak Bapak interview!

Awalnya jelas saja beliau menolak, seperti biasa Bapak lebih memilih jadi fotografer gue, mengabadikan setiap moment dari putri kecilnya ini. Tapi setelah gue bujuk dan ditambah sedikit tarikan di lengan (hihi), akhirnya beliau mau juga duduk di depan mikrofon :) Sebelum interview benar-benar dimulai Hans dan Wihel selalu menggoda bahwa gue adalah 'die hard fans' Aerosmith. Mereka bilang kalau mau bertanya yang sulit-sulit mending sama gue saja. Gue langsung melirik Bapak sambil nyengir. De javu, di mobil kan Bapak yang bergurau soal "sejarah Aerosmith", hehehe. 

Wihel, Bapak, Indi, Lupi, Hans :)

Interview berjalan lancar dan menyenangkan. Gue sesekali berbuat konyol tapi sepertinya semuanya bisa memaklumi karena gue terlalu exited setelah menunggu bad boys from Boston ini selama 20 tahun. Berkali-kali gue bilang bahwa akhirnya impian gue jadi nyata dan penantian gue terbayar. Dengan semangat gue menceritakan persiapan untuk konser nanti. Dari mulai pakaian dan apa yang akan gue lakukan kalau mempunyai kesempatan menemui mereka secara personal. Gue ingin sekali memberikan surat kepada Steven Tyler yang isinya ucapan terima kasih gue. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar konyol, tapi ia memang memberikan pengaruh positif kepada gue. Gue nggak akan seperti sekarang jika saja waktu berumur 7 tahun gue melewatkan video clip Crazy di TV (baca cerita lengkapnya di sini).

Bapak sangat menikmati suasana interview. Beliau sering menimpali gue dan mentertawakan setiap kali gue berbicara sesuatu yang konyol. Gue senang Bapak berlaku seolah nggak ada yang mendengar kami, hehehe. Lalu apa yang Bapak katakan menjadi kenyataan. Gue benar-benar ditanya soal sejarah Aerosmith! Untung saja bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah hal-hal yang sudah gue ketahui sejak berusia 10 tahun: kapan Aerosmith berdiri dan kapan Steven Tyler berulang tahun. Hehehe, ternyata itu ya yang disebut sebagai "die hard fans" :p




Banyak moment berkesan selama interview 1 jam itu. Gue bercerita bahwa berkat Aerosmith gue berlatih bermain harmonika dan drum ketika masih kecil untuk menemukan bakat gue. Meski kedua alat musik itu sampai sekarang belum dikuasai tapi apa yang gue lakukan ternyata membantu apa yang gue inginkan dan gue suka sebenarnya. Gue suka menulis, dan ingin berkarya seperti Aerosmith. Dari hati, tulus, meski dalam bentuk seni yang berbeda. Lalu tiba-tiba Bapak mendekati mikrofon dan berkata, "Indi bukan sekedar nge-fans sama Aerosmith. Tapi ia terinspirasi". Gue mengangguk dan tersenyum. Tadinya mau melanjutkan bicara tapi takut menangis karena gue terharu dengan kata-kata Bapak...

Tapi bukan hanya moment mengharukan yang kami alami. Ada kenangan lucu yang gue dan Bapak bagi tadi. Kami pernah hampir mencuri poster "Just Push Play" Aerosmith di salah satu toko kaset. Gue memang masih kecil waktu itu, tapi sebenarnya sudah mengerti bahwa mencuri itu salah. Entah terinspirasi dari mana, gue tiba-tiba merengek meminta diambilkan poster itu pada Bapak. Mungkin karena takut gue menangis Bapak mengambilnya dan sempat berjalan sejauh beberapa meter. Tapi lalu kami tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, dan dengan canggung Bapak mengembalikan poster itu ke tempat semula sambil diikuti tatapan heran orang-orang di sana, hahahaha :D Kami hampir nggak bisa berhenti tertawa waktu menceritakannya. Aerosmith memang sebuah band, tapi bagi kami lebih dari itu. Kehadiran mereka bisa membawa suasana haru sampai konyol :)

Interview ditutup dengan sesuatu yang agak mengerikan, kami ditantang untuk bernyanyi! Hehehe, kami sepakat menyanyikan lagu "Crazy". Gue melirik sekilas pada Bapak dan diluar dugaan beliau tampak exited sekali. Padahal Bapak paling malu bernyanyi di depan umum, apalagi Global radio bisa didengar oleh seluruh warga Jakarta, hehehe. Kami bernyanyi bagian refrain-nya saja. Meski pelan, gue bisa mendengar suara Bapak dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar. Bapak berani mengalahkan rasa malunya, beliau pasti sedang bahagia sekali!

Gue dan Bapak langsung pamit pulang. Perjalanan kami masih jauh, another 4 hours dan hari sudah mulai gelap. Gue senang sekali bisa bertemu dengan Hans, Wihel dan Lupi. Ini adalah pertama kalinya gue dan Bapak bertemu dengan komunitas pengagum Aerosmith. Perjalanan pulang sama menyenangkannya seperti ketika pergi. Gue melanjutkan marathon CD Aerosmith, Bapak mengikutinya dengan gumaman dan terkadang kami mengenang-ngenang apa yang baru saja kami alami. Karena belum sempat makan malam kami memutuskan untuk mampir ke Burger King. Gue adalah seorang pesco vegetarian, dan hampir nggak punya pilihan lain selain kentang goreng kalau makan di sana. Tapi ini menjadi tradisi nggak tertulis, kami harus ke sana karena Steven Tyler menjadi bintang iklan Burger King! Hahaha... Jangan anggap serius, tentu saja kami hanya main-main dan melakukannya karena menganggap itu lucu :D

Gue membeli veggie's burger dari tempat lain dan hanya membeli kentang goreng dan soda di Burger King. Bapak bilang nggak apa-apa, yang penting aura Aerosmith nya tetap terasa, lol. Kami melanjutkan perjalanan kembali setalah Bapak selesai makan, sedangkan gue sengaja menyisakan kentang gorengnya. Best part, jangan cepat-cepat karena ini makanan kesukaan Aerosmith, hehehe. Lalu handphone gue berbunyi. Ada pesan singkat dari Aerosmith Indonesia. Gue langsung tersenyum karena pasti isinya mengenai Aerosmith. "Baru juga ketemu sudah kangen kita lagi nih, Pak", gue bergurau. Gue akan membacakan pesan itu keras-keras, tapi lalu berhenti ketika gue sadar isinya bukan berita baik...

"Aerosmith batal konser di Jakarta"
.
Suara gue datar, tanpa emosi. Bahkan gue juga kaget kenapa bisa seperti itu padahal biasanya gue sangat ekspresif. Bapak sepertinya nggak percaya dengan pendengarannya, beliau bilang "hah?" berkali-kali. Gue membacakan untuknya satu kali lagi dan langsung bersandar ke jendela mobi. Nggak menangis dan cuma terdiam. Bapak juga. Pelan-pelan ia mematikan CD player yang sedang memutarkan lagu "Blind Man". Suasana mobil begitu sepi dan entah kenapa mendadak canggung. Gue nggak berani menatap Bapak karena takut melihat wajah kecewanya. Dua jam yang lalu impian kami rasanya sudah di depan mata, dan tiba-tiba hilang bahkan saat kami masih jauh dari rumah. Gue nggak tahu harus berkomentar apa. 20 tahun gue menunggu dan itu sudah menjelaskan segalanya.

Lalu tiba-tiba dada gue terasa sesak. Tangis gue akhirnya meledak, air mata gue nggak bisa ditahan. Gue menangis seperti bayi. Di tengah tangis gue bercerita tentang sesuatu yang seharusnya menjadi kejutan untuk Bapak. Diam-diam gue sudah memesan T shirt official Aerosmith untuk beliau. Harganya bagi gue nggak murah dan gue khusus menabung untuk itu. Gue ingin Bapak memakainya ketika konser nanti karena selama ini Bapak belum punya T shirt Aerosmith. Sejak dulu semuanya buat gue. Hanya buat gue. Dan gue ingin memberikan satu hari istimewa untuk Bapak.

Gue terus menangis. Benar-benar nggak tertahan. Lalu Bapak terkekeh, seperti memaksakan tertawa. Gue melihat wajahnya, akhirnya, dan jelas sekali beliau sedih. Bapak mencoba menenangkan gue, beliau bilang bisa saja Aerosmith berubah pikiran, mungkin konsernya hanya diundur sebentar. "Kaosnya buat nanti saja, terima kasih sudah dibelikan. Nanti dipakai waktu kita nonton konser Aerosmith selanjutnya, ya..."
Kata-kata Bapak sama sekali nggak menenangkan gue. Gue menangis tanpa suara dan merubah posisi duduk gue jadi meringkuk menghadap ke kiri. Membelakangi Bapak dan memejamkan mata gue.

Dalam gelap gue membayangkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Berambut acak-acakan berponi dengan gigi ompong sedang menatap serius ke layar TV. Ia begitu begitu terhipnotis dengan apa yang baru dilihatnya. Bapaknya berkata, "mereka itu Aerosmith", dan gadis itu pun tersenyum konyol. "Aku mau bertemu mereka, Pak". Bapaknya tersenyum lalu menjawab, "suatu hari, Indi... Suatu hari...".

Dan 20 tahun kemudian gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu masih menunggu "suatu hari" nya akan datang. Sekarang ia mungkin bersedih, kecewa, dan marah. Tapi dibalik itu, di lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap gadis kecil yang sama. Ia akan kembali tersenyum konyol dan suatu hari akan memberikan langsung surat yang ditulis tangan olehnya dengan hati-hati kepada Steven Tyler. Mungkin ditambah menjabat tangannya. Mungkin ditambah tepukan hangat di bahu. Mungkin. Siapa yang tahu. Yang pasti suatu hari ia nggak perlu menunggu lagi.
Amen...

daddy's little girl,


Indi
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 29 April 2013

Wonderland di Rumah :)

Selama day off (hari sabtu sampai senin) gue nggak kemana-mana. Seharian cuma di rumah dan outfit yang dipakai pun dari piyama ke piyama. Jadi bangun tidur gue pakai piyama, siangan dikit ganti piyama, mau tidur balik lagi ke piyama, hihihi. Padahal sebelumnya gue dan Ray ada rencana untuk keluar rumah, lho. Ya, sekalian syukuran 5 tahun hubungan kami. Tapi berhubung Ray mendadak sakit, terpaksa jalan-jalannya ditunda dulu. Mungkin karena sudah terlalu ngarep, gue jadi kurang bersemangat di rumah. Bawaanya tidur dan malas-malasan. Kegiatan paling produktif yang gue lakukan cuma sampai mendengarkan Om John ngomong selama 6 jam non stop, hahaha. Dan hari ini, hari terakhir libur, tiba-tiba gue tersadar bahwa gue hampir menyia-nyiakan waktu luang gue! Wah, seharusnya gue nggak membiarkan 1 rencana yang gagal merusak 3 hari yang berharga :)

Gue pun langsung mencari-cari hal apa yang bisa gue lakukan di rumah. Mau bersih-bersih, semua sudah bersih karena meski judulnya "malas-malasan" gue paling anti sama kamar acak-acakan. Mau bikin day spa di rumah, orang tua lagi bekerja. Masa gue harus maskeran sama Eris... Eh, wait! Ngomong-ngomong soal Eris, dia ternyata bisa jadi penyelamat gue, hihihi. Kebetulan hari ini Eris nggak tidur siang, jadi gue ajak saja dia main air sekalian mandi. Sama seperti gue (dan kebanyakan manusia lain sepertinya, lol), Eris senang bermain air, tapi untuk mandi dia agak malas. Jadi biasanya dia hanya duduk seperti patung dan gue bakal kesusahan untuk membilas bagian ekornya, hahaha. Tapi syukurlah, tadi Eris ceria sekali, dari mulai proses main air, mandi sampai gosok gigi dia nggak banyak protes. Sedikit ciprat-ciprat air sih ada, tapi malah segar soalnya gue juga belum mandi :p Waktu bulunya dikeringkan dan disisiri Eris juga menurut. Malah jadi gue yang nggak enak, soalnya karena bulunya tebal prosesnya lumanyan lama, lho... Untuk sentuhan akhir bulu Eris disemprot parfum yang gue beli dari pet shop. Kalau sudah begini gue jadi ingin gigit dia, soalnya aromanya seperti mangga, hihihi. Ternyata memandikan Eris bikin mood gue lebih baik dan nggak sabar melakukan hal lain :D

Si kecil Eris bulunya mau dikeringkan :)
Peralatan "tempur" Eris minus sisir kesanyangannya yang sudah ada sejak zaman Veggie :)


Sore hari, waktu Ibu dan Bapak akhirnya pulang ke rumah, gue bertanya apa mereka membawa camilan karena perut gue terasa lapar. Sayangnya mereka nggak bawa apa-apa kecuali 1 bungkus kue kering yang ternyata di dalamnya ada daging. Gue nggak makan itu karena pesco vegetarian. Lalu gue dengar Ibu bicara pada Bapak, katanya beliau minta dibelikan roti tawar untuk sarapan besok pagi. Tiba-tiba saja gue teringat sesuatu. Gue pernah melihat cara membuat donat ala Mad Hatter dari dongeng Alice in the Wonderland di channel-nya RRcherrypie. Nah, berhubung gue suka sekali dengan Alice in the Wonderland, dan gue juga nggak pandai memasak, maka gue sangat terobsesi dengan resep itu karena tampak sederhana, hehehe. Setelah sekian lama cuma melihat video tutorialnya dan membaca resepnya secara online (resep ini juga bisa ditemukan di The Alice in Wonderland Cookbook: A Culinary Diversion), hari ini akhirnya gue memutuskan untuk membuatnya sendiri secara mendadak :p

Bahan-bahan yang gue butuhnya sudah ada di dapur (ditambah roti tawar yang baru dibeli Bapak). Yang kurang hanya dry wine dan gue memutuskan untuk melewatkan part itu tanpa menggantinya dengan bahan lain. Oh, iya untuk yang belum akrab dengan dongeng Alice in the Wonderland mungkin belum mengenal siapa Mad Hatter. Dia adalah tokoh laki-laki bertopi lucu yang selalu mengadakan pesta di tengah hutan. Sering kali dia menyebut "tea time!" di waktu-waktu yang sangat random. Dan donat adalah satu kesukaannya :) Jadi gue mulai mengumpulkan bahan-bahannya di atas meja dapur: 4 lembar roti tawar, 1 butir telur, 2 sendok minyak goreng dan cokelat tabur. Gue semangat sekali sampai-sampai nggak bisa berhenti tertawa, hehehe.

Tapi lalu gue lupa satu hal: roti yang gue punya bentuknya kotak, sedangkan donat bentuknya bulat dan gue nggak punya cetakan kue. Gue pun sibuk mencari-cari benda apa yang bisa digunakan untuk mencetak. Pakai mangkok, terlalu besar... Tutup cangkir terlalu kecil... Untung saja Bapak memeriksa kulkas dan menemukan sebuah mug punya Puja. Ternyata ukurannya pas. Wah, senang sekali! Dan untuk membuat lubang kecilnya gue menggunakan tutup air mineral. Karena roti yang gue punya tipis, maka gue menumpuknya menjadi 2 supaya tebal mirip donat betulan :) Setelah itu, roti-roti yang bentuknya mirip donat itu gue celupkan ke dalam kocokan telur, dikeringkan, digoreng sebentar, lalu... jadi deh! :) Untuk rasa manis gue tambahkan coklat tabur dan secangkir susu vanila untuk menemaninya. Rasanya ternyata enak, cocok untuk camilan sore dan juga sarapan.


Step by step membuat donat ala Mad Hatter :)
Bentuknya lumayan juga lah ya untuk ukuran pemula :p


Ibu dan Bapak memuji ide kreatif gue (well, ini bukan karya gue sih sebenarnya, lol), lalu dilanjutkan dengan marah-marah karena dapur menjadi acak-acakan, hehehe. Tapi gue nggak sebal, sebaliknya malah senang hari libur terakhir gue terasa berkesan dan produktif. Lucu ya, kadang kita suka lupa pada hal-hal fun di sekitar hanya karena sesuatu nggak berjalan sesuai rencana. Padahal saat kita bersedih atau kecewa dunia masih tetap sama, well at least keadaan di sekitar kita masih tetap sama: Eris masih tetap menggemaskan dan donat Mad Hatter masih tetap lezat. Gue nggak menyesal. Gue hanya berjanji akan berusaha memanfaatkan setiap detik hidup gue. Hari ini gue menemukan wonderland di dalam rumah seperti Alice. Bagaimana dengan kalian? :)

senyum,
Indi

nb: Mohon doanya, besok (selasa 30 April 2013) film MIKA akan diputar di IFF Melbourne Australia :)

facebook: here | twitter: here | contact person: 081322339469

Minggu, 21 April 2013

Senin yang Terasa Minggu: It's a Date! Yaiy! :D

Hai bloggies! Apa kabar? Semoga semua baik-baik saja ya, terutama yang rumahnya kebanjiran di musim hujan ini. Beberapa rekan kerja gue di pre school ada yang rumahnya kebanjiran, lho. Dan sedihnya cukup parah sampai masuk ke dalam rumah :( Tapi syukurlah keadaan semakin membaik :) Gue sendiri baik-baik saja karena tinggal di daerah yang bebas banjir. Tapi tetap, hujan yang terus-terusan lumayan berpengaruh sama kesehatan gue. Hampir setiap pulang kerja pasti gue kelelahan dan pusing. Pasalnya cuaca dingin bikin gue gampang kena flu. Ditambah gue sudah lama nggak refreshing, kondisi badan rasanya semakin menurun.Gue mau keluar rumah dan bermain tapi sulit sekali mencari waktu yang pas karena takut kehujanan. Gue serius lho waktu bilang "bermain", hehehe. Gue suka sekali bermain ---seperti anak-anak--- dibandingkan apapun untuk refreshing :)

Seperti yang pernah gue ceritakan sebelumnya, gue beruntung sekali karena waktu bekerja gue yang pendek (well, nggak termasuk pekerjaan gue yang lain, sih, hanya pre school). Gue bisa melakukan hal lain sepulang bekerja, termasuk liburan lebih cepat karena hari kerja gue dimulai di hari selasa. Tapi terkadang hal ini malah membuat gue menikmati hari libur sendirian, karena orang-orang di sekitar gue masih bekerja, termasuk Ray. Nah, tanggal 15, hari senin kemarin gue sangat sangat sangat ingin keluar rumah dan bermain ke Trans Studio. Apalagi saldo kartu Trans Studio gue sudah diisi oleh Ray 2 hari sebelumnya. Yang jadi masalah, gue harus bermain dengan siapa? Nggak asyik kan bermain di theme park sendirian... Berhubung keluarga dan teman-teman gue sibuk, jadi gue meminta Ray untuk pulang lebih cepat dari biasanya dari kantor. Dan ternyata, yaiy! Ray bisa pulang jam 5 sore! :D

Kenapa gue memilih Trans Studio? Alasan pertama tentu saja karena gue tinggal di Bandung dan cuaca memang nggak memungkinkan gue untuk bermain di luar. Meski gue sudah pernah ke sana sebelumnya, tapi gue sama exited-nya seperti pertama kali. Kalau ada yang bilang Trans Studio itu nggak seseru theme park di luar negeri, buat gue sih sudah cukup memuaskan hasrat gue untuk teriak-teriak dan tertawa sepuasnya, haha. Lagipula apa salahnya membanggakan theme park punya negeri sendiri (I love Dufan too, btw) :)
Tapi ternyata agak sedikit di luar rencana. Ray yang sudah selesai bekerja ternyata terjebak di kantor karena hujan sangat lebat. Padahal gue sudah berada di Trans Studio Mall dan kinda don't know what to do karena rencananya awalnya kami akan langsung bermain. Akhirnya gue pun memutuskan untuk toko buku, melihat-lihat buku apa yang kira-kira cocok masuk list kalau gue sudah ada rezeki untuk membelinya nanti :)

Jam 7 malam akhirnya Ray sampai di Trans Studio Mall (yup, gue menunggu 2 jam padahal gue rela nggak mandi hanya supaya cepat sampai, lol). Kami langsung cepat-cepat ke gate Trans Studio sambil cekikikan :p Belum apa-apa kami sudah disarankan petugasnya untuk kembali lagi besok saja, karena 2 jam lagi Trans Studio akan tutup, dan sekitar 40 menit lagi beberapa wahana berhenti beroperasi. Tapi gue tetap bilang kalau kami ke sini hanya ingin bersenang-senang, jadi kami ingin menikmati waktu 2 jam kami. Beberapa petugas langsung bengong, dan akhirnya salah satu dari mereka bilang "salut" sambil mengacungkan jempol, hahaha :) Memang, begitu masuk ternyata sudah sepi, beda sekali dengan waktu pertama kali gue ke sini. Tapi dengan begitu gue malah merasa lebih tenang dan bisa memilih wahana apa saja yang ingin gue mainkan.

Ray itu takut ketinggian. Well, sebenarnya bukan ketinggian sih, tapi mainan yang seram-seram (kecuali hantu-hantuan dia berani, hahaha). Jadi kalau ada permainan yang tinggi, diputar-putar apalagi dibanting-banting pasti Ray nggak mau. Nah, gue justru kebalikannya. Sangat suka dengan permainan menantang tapi takut sama hantu-hantuan :p Tadinya gue mau Ray cukup menunggui saja, biar gue yang main. Tapi setelah dipikir-pikir nggak seru kalau naik wahana sendirian, jadi gue pilih wahana paling harmless sedunia, yaitu Bolang! Hahaha :) Menurut gue sih satu-satunya yang mengerikan dari wahana ini cuma bonekanya. Sebenarnya cute, sih, cuma gue agak takut sama boneka yang gerak-gerak sendiri gitu... Gue benar-benar nggak bisa berhenti ketawa, dari satu baris kereta hanya kami berdua yang mengisi. Beda sekali dengan pertama kali gue ke sini, gue sampai harus bergabung dengan keluarga Ari Sigit (yup, 'that' Ari Sigit) saking penuhnya :D Sementara Ray sibuk mengambil foto, gue malah sibuk mengomentari boneka-bonekanya :p 


di kereta si bocah petualang :p

Sehabis dari si Bolang, kami nggak tergoda untuk membeli sesuatu di toko permennya (padahal banyak lolipop!). Kami memutuskan untuk mencari wahana lain dan membeli sesuatu ketika pulangnya saja. Berhubung gue sudah mengalah untuk naik wahana harmless, gue ajak Ray bermain di "Land of Giant". Ya, ampun ini wahana favorit gue sepanjang masa! *lebay* Di wahana ini kita akan duduk kursi dan naik sampai ketinggian 5 lantai lalu dilempar ke bawah. Seru deh pokoknya. Well... at least untuk gue, karena bagi Ray ini sama sekali nggak seru. Dia malah takut dan mau pegang tangan gue. Tapi gue bilang nanti serunya hilang, dan yang paling pas itu justru kalau tangan kita diangkat tinggi-tinggi. Hahaha, jelas saja Ray nggak mau dan dia turun dengan wajah pucat pasi sementara gue malah tertawa senang dan berjanji kalau masih ada waktu sebelum pulang akan naik wahana ini lagi.

Sehabis dari Land of Giant. Mau lagiiii :D

Karena sepi sepertinya kami berdua jadi pusat perhatian para pegawai di sana, hihihi (atau karena suara tawa gue yang kencang ya?). Sampai-sampai mereka sering kali menawarkan untuk memfoto kami berdua. Kami ke pojokan "ini" ditawari, kami kepojokan "itu" ditawari. Awalnya malu-malu, tapi senang juga, sih karena kami pikir karena perginya hanya berdua akan susah mendapatkan foto saat kami lagi bersama-sama :)
Wahana selanjutnya yang jadi incar gue yaitu "Trans Car Racing". Kenapa? Karena gue suka ngebut, belum lancar nyetir meski punya SIM, hahaha. Nah, berhubung ini baru pertama kali, gue pikir karena ada track-nya gue nggak harus menyetir "betulan". Ternyata gue salah, yang bertugas mengatur laju ya driver-nya alias gue. Pantas saja pegawainya pasang tampang khawatir begitu tahu bahwa gue yang pegang kendali, hahaha. Ray sebetulnya pengen sekali memainkan wahana ini, tapi berhubung ingin membuat gue senang, jadi dia mengalah dan cukup duduk di bangku penumpang :)
Cukup sulit mengontrol kemudinya, beberapa kali mobil gue berdecit karena salah belok. Ray menganggap itu lucu dan dia tertawa terus. Lalu gue putuskan untuk sedikit bergaya seperti idola gue. Ingat video "Scar Tissue" dari Red Hot Chili Peppers yang adegannya menyetir mobil sambil bernyanyi? Nah, gue persis seperti mereka, lengkap dengan penghayatan penuh terhadap liriknya, hahaha. Sungguh kebetulan yang "menyenangkan", John salah satu personel Red Hot Chili Peppers di kehidupan nyata juga nggak bisa menyetir tapi dia nyaman-nyaman saja tuh di video clip itu :p Tapi Ray lama-lama panik juga lho, dan mulai bilang, "slow down, John, slow down". Nama gue sampai diganti, lol. Oya, Ray bilang waktu gue bernyanyi suara gue terdengar kemana-mana. Karena malu gue hampir nggak mau turun dari mobil :(

Karya "fotografer" Trans Studio, hihihi :)

Awas... awas... John Frusciante mau lewat! :p

Duduk dulu 5 detik untuk berfoto :p

gayanya stereotype sekali, hahaha :D

wilayah yang tabu untuk gue datangi.... :O :O :O

Setelah itu kami langsung naik wahana "Dragon Riders". Bukan wahana yang menegangkan tapi cukup mengocok-ngocok perut. Karena ini sudah ke dua kalinya, jadi gue nggak terlalu surprise, gue malah sibuk menceritakan bagaimana rasanya sama Ray :p Tadinya gue sangat ingin bermain Vertigo atau Giant Swing, tapi Ray baru mau naik itu semua kalau gue ikut ke wahana "Dunia Lain". Waaaah, jelas saja gue tolak. Gue penakut banget deh kalau soal rumah hantu. Nonton film horor baru berani. Susah ditakut-takuti malah :D Tapi "Dragon Riders" juga cukup seru, terutama karena melihat ekspresi Ray yang nggak menyangka kalau wahananya lumayan mengguncang sampai hampir bikin sepatu lepas, hehehe.
Selanjutnya kami bermain "Sky Pirates". Hitung-hitung wahana "calm down" setelah tertawa terus, hehehe. Wahana ini mirip seperti monorail, hanya saja bentuknya seperti balon udara. Di sini Ray sibuk mengambil foto ekspresi gue. Maklum, meski judulnya "calm down" tetap saja gue tertawa-tawa :D

senang! :D

masih harus bilang kalau gue senang? ;)

Waktu sudah makin menipis. Beberapa wahana sudah tutup dan pengunjung lain yang bisa kami temui hanyalah sekelompok kecil mahasiswa yang sebelumnya sempat bertemu ketika di wahana "Land of Giant". Kami semua menuju wahana yang sama, yaitu "Marvel 4D". Ini adalah wahana 4 dimensi yang waktu pertama kali gue ke sini belum ada. Gue exited sekali karena gue suka dengan Peter Parker, hahaha. Nggak disangka-sangka ketika menunggu masuk teater ada yang menyapa gue. Ternyata dia adalah Vany, salah satu pembaca novel gue yang juga pernah hadir di salah satu meet and greet gue. Vany bekerja di sini, baru 3 hari katanya. Wah, senangnya :D Wahananya ternyata sama menyenangkannya dengan pertemuan dengan Vany, gue dan Ray banyak tertawa dan sesekali gue menjerit kecil. Terutama waktu adegan diserang serangga. Hiii, gue langsung naikan kaki gue ke atas kursi karena benar-benar ada yang menggelitik di bawah, hahaha.




What I wore? Dress: Toko Kecil Indi | Bow ring: Heartwarmer | Shoes: Fladeo

"Marvel 4D" menjadi wahana terakhir untuk kami. Ketika kami keluar suasana benar-benar sepi dan toko suvenir sudah tutup. Gue sedikit kecewa karena nggak jadi membeli lolipop. Tapi setelah diingat-ingat gue nggak punya alasan untuk kecewa karena yang gue inginkan adalah refreshing dan gue sudah dapat itu. Sebelum kami benar-benar keluar area Trans Studio mbak security yang baik hati menawarkan untuk memfoto kami. Wah, jelas saja kami nggak menolak. Langsung saja gue bergaya konyol dan berfoto di dekat icon-icon Trans Studio layaknya turis. Padahal sih rumah gue nggak jauh dari sini :p Gue tahu Ray sebetulnya malu untuk bergaya konyol. Tapi setelah gue bujuk dia mau juga, hehehe. Waktu kami keluar menuju Trans Studio Mall ternyata masih ada 1 toko suvenir yang buka. Yaiy! Langsung saja gue dan Ray memilih-milih benda yang bisa kami bawa pulang. Meski nggak ada lolipop, tapi gue senang karena membawa 1 buah sumpit merah dengan holder berbentuk anak perempuan berkaos Trans Studio. Sedangkan Ray membeli sebuah pulpen berbentuk suntikan dari Science Center untuk dirinya :)

Gue cuma bisa "begini" kalau lagi senang banget. Ray juga senang. Eh, terpaksa, ding :p
 
 

Kami pulang dengan perasaan senang dan nggak bisa berhenti tersenyum. Gue akhirnya bisa bermain keluar meskipun di hari senin dan Ray benar-benar membuatnya terasa seperti hari minggu.Buat gue inilah pengertian sebenarnya dari "bermain", karena gue banyak bergerak, banyak tertawa dan mempunyai waktu berkualitas dengan orang yang gue sayang :) Kalau nanti ada kesempatan lagi untuk ke tiga kalinya gue ke Trans Studio, gue akan senang sekali. Karena gue percaya setiap kunjungan rasanya beda, setiap hati gue bahagia pasti gue menemukan "sensasi" baru. Terima kasih Tuhan, terima kasih Ray dan terima kasih Trans Studio (lol, I'm serious) karena telah membuat 2 jam dalam hidup gue begitu menyenangkan!
Oh, iya hampir lupa. Ngomong-ngomong soal menyenangkan, ada 2 buah kabar gembira lho. Film Mika (yang diinspirasi dari novel "Waktu Aku sama Mika", berdasarkan kisah nyata gue) sekarang sudah tersedia dalam format VCD dan DVD. Kalian bisa menemukannya di Disc Tarra, Gramedia, Carrefour dan toko CD terkemuka. Jangan lupa membeli yang original, ya, kami orang-orang yang bekerja di balik film ini bekerja keras selama lebih dari 1 tahun lho untuk mewujudkan film ini :) Dan yang ke dua, tanggal 30 nanti Mika akan diputar di festival film Melbourne Australia! Doakan ya supaya semuanya lancar. Kapan-kapan gue ceritakan lengkapnya. Selamat weekend! :)

happy girl,

Indi
___________________
Facebook: here | Twitter: here | contact person: 081322339469

Kamis, 11 April 2013

Dolly Girl-Anna Sui dari www.chocolatop.com :)



Hai bloggies, sedang apa? Gue menulis post ini dalam keadaan berpiyama dan ditemani satu gelas jeruk hangat, karena ini hampir jam setengah 11 malam dan gue baru saja terbangun, hihihi. Besok gue harus bangun pagi-pagi, tapi berhubung belum bisa kembali tidur jadi mampir dulu sebentar, deh ke dunia kecil gue ini :) Beberapa waktu yang lalu gue menerima paket dari www.chocolatop.com isinya adalah sebuah parfum yang sudah lama gue inginkan. Dolly Girl dari Anna Sui! Tahu kenapa gue ingin parfum itu? Tentu saja karena botolnya yang cute dan berwarna pink. Sedangkan bagaimana aromanya, gue sama sekali nggak tahu, hihihi.


Waktu gue buka pembungkusnya ternyata botolnya memang super cute: transparan, berbentuk figur perempuan dengan pipi merona dan bulu mata yang lentik. Ukurannya juga pas untuk dibawa sehari-hari di dalam tas tangan. Tapi yang paling membuat gue penasaran tentu saja aromanya, karena selama ini gue hanya sering melihat botolnya, hihihi. Dilihat dari kemasannya gue langsung menebak kalau aroma si Dolly Girl ini bakal manis dan sedikit kekanakan. Tapi ternyata gue salah, Dolly girl beraroma sangat girly dan nggak terlalu tajam. Ringan dan cocok untuk perempuan seusia gue :D




Kemarin gue melakukan sedikit tes untuk menguji ketahanan aromanya. Gue semprotkan parfum ini pagi-pagi, sekitar pukul 7.30 sebelum gue berangkat kerja. Gue sama sekali nggak memakai ulang sampai jam kerja gue habis pukul 14.00. Ternyata aromanya hanya memudar sedikit, padahal pekerjaan gue mengharuskan gue untuk aktif mengejar anak-anak ke sana-kemari, hihi. Lucunya sebelum gue pulang salah satu pegawai cafe di pre school berkomentar bahwa gue tercium seperti baru mandi :D

Overall gue beri Dolly Girl dari Anna Sui ini 4 dari 5 poin sempurna. Gue suka hampir dengan semuanya kecuali tutupnya yang kadang meninggalkan embun (dan alangkah lebih menyenangkan kalau bentuknya diganti menjadi mahkota berwarna pink, lol). Tapi dari kemasan, aroma dan ketahanannya, gue sama sekali nggak bisa komplain. Jelas sekali ini menjadi salah satu parfum favorit gue :)
 
 

Oh, iya sedikit tentang www.chocolatop.com, ini adalah situs yang menjual parfum dan produk fashion impor. Situs ini memudahkan kita untuk berbelanja dari rumah, karena sangat user friendly, langkah-langkahnya sederhana. Kita tinggal meng-klik tombol "beli" pada item yang diinginkan, jika sudah selesai klik "check out" dan pilih alamat tujuan pengiriman pesanannya. Jika semua data yang dimasukan sudah benar, klik "OK". Terakhir, konfirmasi jika proses pembayaran sudah dilakukan lewat situs atau SMS ke 08997571234, dan setelah dapat balasan barang akan segera dikirim. Mudah sekali, kan ;)

Jika ingin bertanya tentang produk-produk yang dijual, SMS saja Yulia, ownernya di nomor yang sama. Ramah banget, kok, hihihi. Yang asyik dari www.chocolatop.com kita nggak perlu khawatir tertipu membeli parfum palsu atau yang kualitasnya nggak sesuai harapan, karena di situsnya tersedia link "categories" yang siap mengantar kita ke jenis parfum yang kita inginkan dengan sekali klik. Jadi nggak perlu ragu untuk mencoba berbelanja di situs ini, karena selain aman juga mudah untuk melakukannya dari rumah, termasuk untuk newbie seperti gue ini, hihihi.

Okay, sekarang waktunya gue kembali lagi ke tempat tidur. Nggak sabar mandi pagi dan pakai parfum Dolly Girl dari Anna Sui untuk memulai hari, hihihi ;) *genit*

smile,

Indi




_______________________________

Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 01 April 2013

Tentang Rezeki :)

Hari Rabu siang, seperti biasa gue dan miss. Rifa rekan kerja gue di pre school selonjoran di karpet sehabis makan siang. Ini menjadi ritual nggak tertulis kami, mengobrol berdua saja memisahkan diri dari teman-teman yang lain sambil memikirkan apa yang harus disiapkan untuk besok. Gue melirik ke arah jam dinding, masih 1 jam lagi sebelum waktunya pulang. Gue mengambil boneka beruang besar dan bersandar malas kepadanya. Terkantuk-kantuk. Tiba-tiba HP gue bunyi. Ada sebuah pesan masuk dari Vino Bastian. Vino adalah seorang teman baik yang gue kenal karena project film Mika. Iya, ia adalah yang memerankan almarhum Mika :)
"Indi, jangan lupa jam 18.30 nanti datang ya ke premiere Madre. Ajak Bapak dan Ibu juga".
Gue nggak langsung membalasnya, tapi meneruskan kembali obrolan random bersama Miss. Rifa. Kami sedang bercerita tentang teman masing-masing dan sudah sampai pada giliran miss. Rifa. Ia bercerita semalam salah seorang temannya mengiriminya pesan, berbincang ringan sampai akhirnya bertanya tentang pekerjaannya. Dengan bangga miss. Rifa menjawab bahwa ia menjadi guru di pre school. Tapi nggak disangka si teman malah berkomentar tentang "penghasilan" yang miss. Rifa dapatkan dari profesinya ini. Yang dimaksud dengan "penghasilan" tentu saja materi. Si teman mempertanyakan apakah itu cukup untuk menghidupi kebutuhan sehati-harinya dan bertanya apakah berminat berganti profesi dengan penghasilan yang lebih besar.
Miss. Rifa bercerita sambil tertawa. Ia lalu bertanya apakah gue merasa apa yang gue dapatkan nggak sepadan dengan yang gue kerjakan. Gue balas tertawa, merubah posisi gue dari selonjoran jadi berbaring."Memangnya berapa yang pantas kita minta untuk seharian dengan anak-anak dan bisa berbaring di sela-sela pekerjaan?"
Dan kami pun tertawa bersama.

Menjadi guru merupakan cita-cita gue. Pilihan. Jadi apa yang gue capai sekarang ini merupakan apa yang gue inginkan sejak lama. Bukan karena gue mencari pekerjaan "apa saja" asalkan nggak menggangur lama setelah gue lulus kuliah. Pre school atau TK adalah tempat pertama yang gue datangi ketika ijazah gue keluar. Gue ditolak di 2 pre school dan akhirnya diterima bekerja di sebuah pre school berbasis kurikulum British. Gue bahagia karena cita-cita gue menjadi kenyataan dan sejak hari pertama gue bekerja sampai hari ini gue sangat menikmatinya. Melelahkan, namun selalu penuh rasa syukur. Begitu juga miss. Rifa, ini memang pekerjaan yang ia inginkan dan materi sama sekali bukan alasan kenapa ia bertahan mengajar selama 3 tahun terakhir ini.
Bukan cuma miss. Rifa, gue juga sering mendapat pertanyaan yang sama, bahkan dari keluarga gue. Apakah penghasilan gue cukup untuk menghidupi kebutuhan gue?
Sebenarnya pertanyaan itu nggak etis menurut gue, bertanya tentang penghasilan seseorang buat gue bukan hal yang wise. Tapi gue berpikir positif saja, mungkin orang bertanya begitu karena mereka peduli, hehe. Kadang gue teringat dengan teman-teman kuliah yang mempunyai profesi sama dengan gue. Kebanyakan dari mereka berpenghasilan setengah dari yang gue hasilkan dengan jam kerja yang lebih panjang. Apakah mereka mendapatkan pertanyaan yang sama? Bagaimana mereka menanggapinya? Tapi sebelum gue bertanya sepertinya raut wajah mereka sudah menjelaskan segalanya. Teman-teman gue selalu tampak gembira dan nggak pernah mengeluh kekurangan. Hmm... mungkin itu karena mereka sudah menyadari sesuatu... :)

"Eh, tadi pesan dari siapa? Sudah dijemput?" miss.Rifa tiba-tiba teringat dengan HP gue yang berbunyi tadi. Gue menggeleng dan menjelaskan bahwa itu dari Vino yang mengundang gue ke Premiere film barunya. Gue dan miss. Rifa sama-sama melirik jam dinding. Kami terkikik, masih banyak waktu.
"Rezeki, Ndi, masih jam segini. Sampai rumah kamu masih bisa mandi, makan, dandan, pilih-pilih baju.Kalau orang lain belum tentu sudah sampai rumah, jam 5 juga baru bubaran".
Gue tersenyum sambil bangkit dari posisi berbaring, meraih cubby untuk menyiapkan pekerjaan besok pagi. "Iya, miss. Rifa, ini rezeki aku. Aku punya banyak."

Setelah percakapan dengan miss. Rifa, gue merenungkan apa yang sudah gue dapat selama ini dan bertanya-tanya apakah gue sudah berterima kasih pada Tuhan dengan cara yang pantas. Gue terkadang berkata, "nggak punya budged", "uang belum cukup" dan lain sebagainya, tapi gue lupa bahwa gue punya waktu. Iya, gue punya waktu disaat orang lain mungkin mengeluh kekurangan waktu dan meminta pada Tuhan sedikit saja waktu untuk bertemu orang tuanya atau menghabiskan waktu bersama pasangannya. Gue punya banyak, gue masih punya waktu berjam-jam perhari untuk mengobrol panjang lebar dengan Bapak, berselisih dengan Ibu (lol), berbuat iseng pada adik, bermain dengan Eris, anjing gue dan berlama-lama di minimarket dengan Ray untuk mencari camilan kesukaan kami. Gue punya banyak rezeki, bukan uang, tapi dalam bentuk lain. Dan miss. Rifa benar, di rabu sore gue masih sempat untuk mandi dan bersiap-siap dengan pantas untuk ke premiere film sementara tamu yang lain mungkin baru saja pulang bekerja dan belum sempat ganti baju. Thank God.

Gue sering bilang bahwa manusia pasti diciptakan Tuhan dengan fungsinya masing masing dan setiap manusia juga pasti sudah ada rezekinya. Tapi gue lupa bahwa pengertian gue terlalu sempit. Dulu gue berpikir bahwa saat seseorang mendapat 10 dan lainnya mendapat 5 itu artinya ia memang pantas dan cukup dengan 5. Memang nggak sepenuhnya salah, tapi rezeki bukan berarti selalu angka. Tuhan telah menyediakan gantinya, rezeki dalam bentuk lain. Miss. Rifa selalu bilang bahwa ia orang yang paling tahan banting sedunia, dalam 1 bulan ia paling hanya 1 kali sakit, sementara gue pasti ada saja flu atau demam yang menghampiri dalam 1 minggu. Gue biasanya hanya tersenyum setiap miss. Rifa bilang, "rezeki" saat ia melihat daftar hadirnya yang full. Tapi sekarang berbeda, hati gue menyadari penuh bahwa itu memang rezeki. Bagian miss. Rifa yang Tuhan berikan istemewa untuknya :)

Keesokan harinya di kamis siang. Seperti biasa gue dan miss. Rifa menjalankan ritual nggak tertulis kami. Gue masih sedikit kekenyangan dan langsung selonjoran sambil bersandar di tembok. Miss. Rifa dengan wajah cerianya menceritakan bahwa ia senang karena ini hari terakhir bekerjanya di minggu ini. "Besok libur, jadi aku langsung pulang ke Purwakarta sore ini. Senang bisa makan masakan rumah lebih cepat 1 hari". Gue tertawa dan pura-pura nggak mau kalah dengan membalas perkataan miss. Rifa, "Aku dong mau jalan-jalan sama Ray, mau cari buku murah. Asyik, kan?" Kami tertawa dan melanjutkan pekerjaan kami sampai jam 2 siang dengan perasaan senang.

Sorenya gue dan Ray janjian di sebuah toko elektronik. Ray nggak bisa jemput gue karena ia harus bekerja dan hari ini sengaja izin pulang lebih cepat. Gue menunggu di foodcourt yang lumayan lenggang karena masih jam nya orang-orang di sekolah atau di kantor :) Sekitar 10 menit kemudian Ray datang, kami langsung mengobrol seru sambil berjalan menuju sebuah kios aksesoris HP. Ray pernah bilang bahwa suatu hari ia akan membelikan gue casing HP berbentuk Minnie Mouse, dan gue senang sekali karena akhirnya saatnya tiba! Saking senangnya ketika gue mendapatkannya gue langsung pakai casingnya dan nggak mau dimasukan ke dalam tas. Gue menentengnya terus bahkan sampai kami berjalan kaki dan tiba di toko buku di gedung sebrang :D

Meet my new best friend: Minnie Mouse! :p

Sore itu gue mendapatkan banyak rezeki, banyak berkah. Well, mungkin bukan "mendapat", tapi "melihat" karena setiap hari seharusnya memang penuh dengan berkah. Tapi kali itu gue lebih menyadarinya, mata gue menjadi lebih terbuka dan sensitif melihat apa yang gue dapat. Gue dan Ray berada di depan tumpukan buku-buku obral. Kami seperti raksasa yang berdiri di antara gunung-gunung kecil. Kami mulai menggali dan memilih. Buku-buku nggak diletakan sesuai tema, harga apalagi disusun di rak. Semua benar-benar digeletakan begitu saja dan butuh kejelian bahwa di sana mungkin saja ada harta karun. Entah sudah berapa lama sampai tahu-tahu kaki gue pegal dan gue mendapatkan dua buah buku seharga rp.20.000 dan rp. 5.000 saja! Buku yang gue dapat pun bukan sembarangan, tapi best seller pada zamannya. Gue gembira sekali dan dengan bangga menunjukkan buku-buku itu berkali-kali pada Ray, berulang kali bercerita bahwa salah satu dari buku itu sudah difilmkan dan gue menyukainya. Ray juga mendapatkan buku yang ia inginkan, 1 buah buku resep memasak yang ia cari selama... gue lupa berapa lama, yang pasti cukup lama sampai gue minta kami segera pindah tempat, hehehe.
Berbelanja buku obral seperti ini bukan yang pertama kali kami lakukan. Kami sudah lakukan ini beberapa kali tapi baru kali ini gue sadar bahwa Tuhan mengganti sesuatu yang nggak gue punya dengan hal lain. Beberapa orang mungkin hanya punya waktu beberapa jam untuk mencari buku, tapi gue punya waktu sepanjang sore untuk berpetualang di tumpukan buku dan membawa pulang harta karun.

Harta karun gue! Gue lebih dulu menonton film "Saving Shiloh" dan baru sekarang punya bukunya. 5 ribu saja! ;)

Kami memutuskan untuk makan malam di coffee shop dekat toko buku. Ketika kami berjalan tanpa sengaja mata gue menangkap sesuatu yang rasanya familiar. Kami melewatinya, lalu gue tiba-tiba sangat ingin untuk menoleh. Ya, ampun! Ternyata ada poster "Waktu Aku sama Mika" di lorong toko buku! Sejak kapan ada di sana? Ya, ampun! Gue kaget sekali dan terharu. Posternya besar dan ada lampunya, sejajar dengan buku-buku best seller lain. Gue langsung berteriak-teriak nggak karuan, cepat-cepat menyerahkan HP gue pada Ray supaya ia mengambil foto gue. Ray juga senang dan terus-terusan berkata, "Congrats, Hon." Satpam yang berada di sana memperhatikan kami terus, gue pikir ia akan melarang kami menambil foto tapi rupanya malah tersenyum geli, hehehe. Orang-orang yang lalu-lalang pun memandang kami (well, terutama gue) dengan heran, tapi gue nggak peduli karena gue begitu senang. Selesai berfoto gue memandangi poster itu selama beberapa detik, membaca semua tulisan yang ada di sana dan melihat setiap detailnya. Ada gambar poster film Mika dan cover novel "Waktu Aku sama Mika" di sana. Juga ada gambar Vino dan Bastian dan Velove Vexia yang sedang makan pizza. Gue tersenyum bangga. Novel gue masuk jajaran best seller dan difilmkan. Ini merupakan rezeki dari Tuhan. Ia memberikan banyak waktu luang setelah gue bekerja, jadi gue bisa menulis dan berkarya lebih banyak. Gue benar-benar bersyukur, Tuhan maha baik dengan memberikan gue rezeki dari banyak pintu. Mungin sedikit aneh bahwa waktu itu gue bersyukur di depan poster, hehehe, tapi ini jadi pelajaran untuk gue bahwa setiap hal yang gue lihat, setiap hal yang gue rasakan selalu terselip rezeki dari Tuhan di sana. Dan kali ini gue melihatnya melalui sebuah poster.

"Waktu Aku sama Mika" dan "MIKA" the movie :)
Hahaha, gak bisa berhenti nyengir! :p


Sebenarnya pasti hanya gue dan Ray yang tahu bahwa gue adalah penulis dari novel yang posternya dipajang di lorong. Tapi entah kenapa gue berjalan dengan bangga menuju coffee shop sambil terus tersenyum dan terkadang terkikik (lol, gue memang silly). Ketika sampai kami memesan pizza dan Ray mengucapkan selamat pada gue sekali lagi. Pizza adalah makanan perayaan bagi kami. Tadinya bagi gue karena setiap kali gue berulang tahun atau ada moment istimewa pasti memesan pizza (itulah kenapa pizza menjadi makanan icon film Mika dan novel Waktu Aku sama Mika, hehehe). Tapi setelah ada Ray pizza menjadi makanan istimewa untuk kami berdua :) Gue mendapatkan hari jumat yang menyenangkan. Gue mempunyai waktu berkualitas dengan Ray, mendapatkan hadiah kejutan (aww, Minnie Mouse, lol), berburu buku-buku bagus, melihat poster dengan nama gue di sana dan makan pizza dengan keju yang banyak. Tapi yang paling istimewa adalah gue pulang ke rumah dengan membawa pelajaran berharga, bahwa rezeki bukan selalu tentang angka dan nggak ada satu makhluk Tuhan pun yang kekurangan. Jika gue nggak punya suatu hal, pasti Ia menggantinya dengan hal lain. Istimewa, khusus untuk gue. Gue juga percaya apapun pekerjaan yang gue punya, selama gue berusaha dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan mencukupkan apa yang gue butuhkan. Gue berjanji akan lebih membuka mata dan hati untuk melihat hal-hal yang ada di sekitar gue. Tuhan memberikan gue banyak rezeki:waktu, kesehatan (gue cukup fit untuk pengidap scoliosis 58 derajat), teman-teman yang baik, keluarga yang bahagia, sense of humor dan banyak lainnya. Dan... eh, tunggu! Gue menulis post ini di minggu malam. Ini adalah rezeki! Karena hari bekerja gue adalah selasa sampai jumat jadi gue punya 1 hari libur ekstra dibandingkan orang lain, hihihi... Tuhan, Kau memang maha baik! Lewat miss. Rifa gue diingatkan apa itu rezeki. Terima kasih untuknya, dan gue merasa sangat blessed diberikan kesempatan untuk mengenalnya.

Waktu sudah semakin larut, sekarang sudah waktunya gue naik ke atas tempat tidur dan menyusup ke balik selimut. Gue masih punya waktu 1 hari penuh untuk beristirahat sebelum hari selasa mulai kembali bekerja. Ini rezeki. Dan Tuhan beri gue banyak :)


good night,
Indi

twitter: here | facebook: here | contact person: 081322339469