Indi's Friends

Senin, 20 Maret 2017

Vegan tapi Junk Food? Kok Bisa? :O

Gue vegetarian sejak usia 15 tahun, ---tepatnya pesco-vegetarian, yang masih mengkonsumsi ikan. Semakin dewasa gue putuskan untuk menjadi full vegetarian, atau sama sekali nggak mengkonsumsi produk hewani kecuali telur dan dairy. Baru di bulan Desember 2016 lalu gue menjadi vegan. ---Untuk gue itu sangat mudah, karena kalau untuk urusan lidah sebenarnya banyak substitute telur dan dairy yang bahkan non vegan pun nggak bisa membedakan dengan yang "real" kalau nggak diberi tahu :D
Reaksi orang-orang di sekitar gue bermacam-macam. Bagi Ibu dan Bapak perubahan dari vegetarian ke vegan terasa "biasa" saja karena mereka menyaksikan transisi gue dari awal. Tapi lain lagi reaksi teman-teman dan followers gue di media sosial. Kebanyakan dari mereka menganggap gue ekstrim dan aneh. Padahal, kalau dipikirkan apanya yang aneh? Bukannya lebih aneh (baca: mengkhawatirkan) orang-orang yang terbiasa mengkonsumsi sosis dan nugget sebagai makanan sehari-hari? Hehehe, just kidding! Bagi gue sehat atau nggak sehat bukan tergantung dari menjadi vegan atau nggak menjadi vegan, tapi tergantung dari seimbangnya makanan yang dikonsumsi oleh kita :)

Alasan kenapa gue memutuskan menjadi vegan sebenarnya simple; Karena (dulu) gue sering kali nggak tahu darimana daging yang gue konsumsi berasal. Kalau hidup di pedesaan dan (syukur-syukur) punya peternakan sendiri mungkin akan lain cerita, karena we raised them dan bisa memastikan kalau mereka disembelih dengan cara yang baik. Tapi gue tinggal di kota, yang akses untuk ke supermarket jauh lebih mudah daripada ke pasar tradisional. Di sana kebanyakan daging sudah dalam keadaan dikemas dan disimpan di freezer. Mana gue tahu apa yang sudah mereka lalui sebelum akhirnya tiba di sana, hehehe. Tapi gue juga merasa bahwa nggak ada lah yang namanya "100% vegan". Gue percaya Tuhan menciptakan hewan untuk diambil manfaat baiknya oleh manusia. Benda-benda yang gue pakai pun pasti ada "campur tangan" hewan di sana. Misalnya saja sarung jok mobil yang gue pakai memang sudah melekat sejak dibeli dari dealer. Tentu gue nggak akan membuangnya dalam rangka protes, tapi memakainya sampai waktunya untuk diganti. Intinya, nggak perlu buang-buang, nggak perlu "lebay". Yang terpenting membatasi penggunaan produk hewani. Begitu.



Menjadi vegan sebenarnya memudahkan hidup gue. Akses mendapatkan sayuran segar jauuuh lebih mudah daripada mendapatkan daging segar karena beberapa bisa gue tanam sendiri di rumah. Beberapa vegan vlogger dan dokter gue juga sangat membantu karena dari mereka lah gue mendapatkan pengetahuan tentang gizi yang seimbang. Dokter gue sebenarnya bukan vegetarian apalagi vegan, tapi ia sangat suportif dan itu bikin gue super happy :) Daaaan, sisi positif lainnya adalah gue jadi lebih rajin memasak! Hahaha. Karena jujur saja yang gue "rindu" dari saat menjadi vegetarian adalah mengunjungi restoran junk food! Sampai sekarang gue belum menemukan restoran vegan cepat saji yang lokasinya dekat dengan rumah. Jadi untuk rekreasi lidah, satu atau dua kali seminggu gue coba untuk me-recreate menu-menu kurang sehat menjadi "lumayan lebih sehat" :p Sekarang gue akan share beberapa resepnya, siapa tahu saja kalian mau coba. ---Well, nggak perlu menjadi vegan kok untuk mencobanya karena rasanya cocok dengan lidah orang Indonesia. Gue nggak asal ngomong, lho (---eh, ngetik). Kemarin gue membawa beberapa menu buatan gue ke tempat kerja dan teman-teman yang mencicipi can't tell kalau sebenarnya yang mereka makan bukan daging! :O

***

Vegan Hot Dog (Carrot-dog)
Gue dapat ide untuk membuat menu ini ketika menonton salah satu videonya Family Fizz. Kalau kalian belum tahu tentang mereka, gue sarankan untuk mengunjungi channelnya karena di sana banyak sekali video-video santai yang sekaligus mengedukasi. Sebelumnya gue hanya tahu kalau vegan hot dog dibuat dari meat analogue (fake meat), tapi rupanya bisa diganti dengan wortel dan rasanya tetap "meaty"! :D Meski mereka nggak memberikan resepnya, tapi dengan sedikit googling dan percobaan akhirnya gue mendapatkan rasa yang pas. By the way ada kejadian lucu waktu gue lunch bersama teman-teman. Mereka pikir yang gue makan itu sosis betulan karena tampilannya yang realistik! Hahaha :D


Bahan-bahan:
~ Wortel dengan ukuran sedang. Kalau mau super realistic boleh deh pilih yang bentuknya paling mendekati sosis, lol. 
~ Kecap asin. 
~ Barbecue sauce.
~ Bawang putih.
~ Bawang bombay.
~ Garam.
~ Merica.
~ Mustard.
~ Roti hot dog.
~ Sedikit minyak untuk memanggang (boleh diganti vegan margarin atau vegan butter, sesuai selera).
~ Air.

Cara membuat:
~ Kupas wortel, lalu beri beberapa slit di badannya (seperti jika akan menggoreng sosis utuh). Dengan menggunakan pisau atau peeler, bentuk ujung wortel agar lebih membulat.
~ Marinate/rendam wortel selama minimal 6 jam di dalam larutan air, kecap asin, barbecue sauce, garam, merica dan bawang putih yang sudah dihancurkan. 
~ Setelah meresap panggang wortel dengan menggunakan sedikit minyak sampai warnanya kecoklatan.
~ Angkat wortel dan letakkan di atas roti dengan pelengkapnya seperti hot dog pada umumnya. 
~ Beri tumisan bawang bombay di atasnya agar lebih sedap.

Gue lebih suka untuk me-marinate wortelnya sekaligus beberapa supaya tinggal memanggangnya jika ingin membuat hot dog. Selain itu carrot dog juga enak untuk dijadikan side dish, seperti nasi goreng, vegan steak atau spaghetti :)

Sloppy Joes
Ehmm, kalau yang ini sih agak konyol. Jadi ceritanya waktu kecil gue terobsesi sekali dengan Mary Kate dan Ashley Olsen. Ada salah satu filmya yang sangat gue suka, judulnya "It Takes Two". Ceritanya sih biasa saja, mirip dengan film klasik "The Parent Trap". Yang mencuri perhatian gue justru adegan makan siang di perkemahan. Menunya adalah sloppy joes (yang aslinya dibuat dari daging cingcang), dan semua pemeran anak-anak terlihat sangaaaaat menikmati. Gue jadi super penasaran, tapi sayangnya waktu minta sama Ibu beliau nggak tahu cara membuatnya. Dan gue malah baru kesampaian makan setelah menjadi vegan, hehehe.


Bahan-bahan:
~ Burger buns.
~ Tempe.
~ Jamur kancing.
~ Bawang bombay.
~ Garam.
~ Merica.
~ Mustard. 
~ Barbecue sauce.
~ Kecap asin.
~ Kecap manis.
~ Saus tomat.
~ Vegan margarine.

Cara membuat:
~ Iris-iris tempe, lumatkan, lalu campurkan dengan jamur yang sudah diiris kecil.
~ Panggang bawang bombay sampai harum dan kecoklatan lalu masukkan tempe dan jamur. 
~ Masukkan garam, merica, saus tomat, kecap asin dan kecap manis, lalu aduk sampai rata. Angkat dan tiriskan.
~ Panggang buns di pan yang sudah diolesi margarine sebentar. 
~ Sajikan seperti sloppy joes pada umumnya, jangan lupa tambahkan mustard di atasnya untuk rasa asam dan warna ;)


Lazy Vegan Pizza ala Indi
Gue suka banget pizza. Saking sukanya, ini adalah makanan pertama yang gue minta waktu selesai operasi tumor payudara tahun 2013 lalu, hahaha. Yang pernah membaca novel-novel gue atau pernah nonton film Mika juga pasti tahu betapa gue mencintai makanan itu. Beberapa tahun yang lalu sih nggak terlalu sulit untuk menemukan pizza vegan (---atau at least vegetarian) di restoran pizza "besar". Tapi sekarang menunya sudah nggak ada karena kurang peminat. Kalau di restoran kecil yang khusus vegan memang ada, tapi too bad mereka nggak menerima delivery order dan jaraknya lumayan jauh dari rumah gue. Ya sudah gue coba bikin sendiri saja. Tentu dengan versi "lazy" alias seadanya dan nggak banyak usaha :p


Bahan-bahan pizza base:
~ 2 cup terigu.
~ 1 cup air matang.
~ Secubit garam.
~ Secubit garlic powder (atau bisa gunakan bawang putih yang dicincang).
~ 2 sendok makan baking soda dan baking powder.

Topping:
~ Saus tomat.
~ Saus pasta atau saus pizza instan.
~ Tomat diiris dadu.
~ Jamur kuping cincang.
~ Bawang bombay diiris dadu.
~ Jagung pipil.
~ Secubit garam dan merica.

Cara membuat: 
~ Masukkan seluruh bahan pizza base ke dalam mangkuk besar, lalu aduk sambil diberi air sedikit-sedikit. 
~ Setelah konsistensinya seperti play doh, ratakan adonan di loyang atau piring yang sudah diolesi vegan margarine atau olive oil. 
~ Olesi pizza base dengan saus dan beri topping sesuai selera, ---atau sesuai isi kulkas, hehehe.
~ Taburi garam dan merica untuk rasa.
~ Panaskan di dalam microwave dengan suhu paling tinggi selama 8 menit.

Meski seadanya tapi gue puas dengan rasanya. Mungkin memang nggak se-wah buatan restroran yang ada vegan cheese nya, tapi dijamin homemade pizza ini JAUH lebih enak daripada frozen pizza yang dijual di supermarket. Karena nggak pakai ragi proses pembuatannya juga jadi super cepat, cocok untuk orang nggak sabaran semacam gue :p By the way kata Ibu, Bapak dan ipar gue yang non vegan, mereka suka dengan pizza ini, lho. Malah kadang-kadang suka request gue untuk bikin lazy pizza ini lagi kalau weekend ;)

Vegan Burger
Nah ini nih menu yang paling bikin teman-teman gue kebingungan. Mereka tahu kalau gue vegan, jadi langsung bisa menebak kalau isi burgernya bukan daging. Tapi waktu mereka mencicipinya mereka nggak bisa tebak apa tepatnya. Jadilah burger gue berkeliling waktu makan siang dan dipakai untuk kuis "tebak isi burger", hehehe :p 
Nenek gue pernah bilang kalau rasa makanan itu sebenarnya 80% ditentukan oleh bumbu. Daging, sayuran atau kacang-kacangan bisa sama enaknya kalau bumbunya tepat. Malah bisa jadi lidah kita nggak bisa membedakan apa yang sebenarnya sedang dimakan karena rasanya mirip. Seorang teman gue malah langsung meminta resepnya setelah mencicipi burger gue karena anaknya hanya suka daging, dan burger ini sepertinya bisa menipunya, hehehe.


Bahan-bahan:
~ 2 genggam kacang merah (atau kacang hitam) untuk 2 patty.
~ 1 siung bawang merah dan bawang putih.
~ Bawang bombay sesuai selera (gue pakai 1 kepala).
~ Secubit garam dan merica.
~ 1 batang seledri.
~ 1 batang wortel (diparut tipis).
~ All purpose flour.
~ Susu soya.
~ Kecap.

Pelengkap:
~ Burger buns.
~ Tomat dan timun potong.
~ Saus.
~ Vegan margarine.

Cara membuat:
~ Rebus kacang sampai lunak (jangan terlalu lembek) lalu hancurkan dengan garpu, ulekan atau food processor.
~ Iris tipis semua bawang dan seledri lalu campurkan ke lumatan kacang.
~ Pelan-pelan tuangkan susu soya sampai adonan patty mudah dibentuk (konsistensi seperti play doh).
~ Jika sudah mudah dibentuk, masukkan kecap, merica, garam, wortel dan all purpose flour.
~ Bentuk seperti patty lalu panggang di api kecil sampai kecoklatan. Setiap sisi cukup 2 sampai 3 menit saja.
~ Sajikan dengan pelengkapnya seperti burger pada umumnya.

***

Resep-resep masakan vegan yang sehat sudah banyak beredar dimana-mana, baik dalam bentuk buku atau secara on line. Yang gue share (di YouTube, Facebook dan Instagram) justru hampir semuanya adalah menu-menu vegan junk food karena masih banyak yang menganggap being vegan=no fun. Padahal gue nggak akan missing out saat pesta barbecue tahun baru hanya karena bingung mau makan apa. Just vegan it! Dan selain untuk rekreasi lidah (satu minggu sekali cukup untuk makan "junk food" ini), menu-menu ini juga cocok untuk yang sedang transisi ke lifestyle yang lebih sehat, ---atau... siapapun yang sedang ingin alternatif dari daging :) 
By the way, adakah di antara kalian yang juga vegan? Kalau ada share dong apa menu junk food favorit kalian di kolom komentar ;)


yang kepengen makan sloppy joes dari kecil,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 01 Maret 2017

Hadiah untuk Eris si Pet Therapist :)



Baru saja sampai di rumah Ibu berkata kalau ada paket untuk gue. Waktu dicek ternyata paketnya bukan buat gue, tapi Eris! Hahaha. Wah, gue langsung penasaran dan membuka paket yang ukurannya cukup besar itu. Isinya karpet khusus hewan peliharaan!:D Beberapa waktu lalu gue sempat mengikuti giveaway yang diadakan oleh akun instagram @carameldanial yang informasinya gue dapat dari Yayasan Peduli Kucing. Syaratnya sederhana, peserta diminta untuk mengupload foto bersama hewan peliharaan dan menceritakan apa saja yang mereka lakukan sebagai pet therapy bagi "pawrent" nya. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang yang tahu tentang "terapi hewan". Gue sih nggak memikirkan tentang menang atau kalah karena memang selalu bahagia jika bercerita tentang Eris :)

Sejak menjadi bagian keluarga 7 tahun yang lalu, gue selalu menganggap Eris istimewa. ---Well, setiap mahkluk Tuhan tentu punya keistimewaan masing-masing, dan keistimewaan Eris adalah sifatnya yang pengertian. Karena mengidap severe scoliosis dan masih memakai brace 12 jam perhari, gue nggak bisa berlari karena bisa menimbulkan rasa nyeri. Eris selalu mengimbangi langkah gue saat kami berjalan-jalan sore dan nggak pernah mencoba berlari. Padahal ia bisa saja melakukannya kalau mau. Tapi lain ceritanya kalau ia unleash alias tanpa tali... Wuzz! Eris bisa berlari secepat angin! Hihihi. Melihatnya seperti itu membuat gue merasakan sensasi bebas luar biasa.



Tiga tahun yang lalu Eris juga pernah menemukan sebuah tumor besar di payudara kiri gue. Awalnya gue mengira ada sisa makanan yang menempel di baju karena ia terus-terusan mengendusnya. Tapi karena semakin lama semakin sering, gue pun penasaran dan memeriksakan diri ke dokter. Untung saja belum terlambat. Operasi berjalan dengan lancar, hanya waktu penymbuhannya yang cukup sulit. Gue merasakan sakit yang amat sangat karena bekas jahitan terus mengeluarkan darah. Di saat itulah Eris nggak pernah meninggalkan gue, ---membuat gue merasa nyaman. Dengan kata lain, Eris lah yang "merawat" mental gue selama sakit sementara orangtua gue merawat secara fisik. Eris adalah terapis gue :)

Pengalaman gue dengan Eris rupanya mirip dengan pengalaman Addinda Sonang Danial, pemilik akun @carameldanial. Ini juga yang menjadi alasannya mengadakan giveaway. Dinda adalah pengidap kanker leukimia dan ia memiliki pet therapist bernama Caramel. Caramel adalah seekor anjing terlantar yang diadopsinya tepat sebelum akan disuntik mati! Dari situs pawsunion.com gue jadi tahu betapa luar biasanya Caramel. Ia bisa tahu jika kondisi Dinda sedang drop, bahkan di saat Dinda merasa baik-baik saja. Dan saat waktunya minum obat Caramel akan mengambil lalu melemparkan obatnya agar diminum. Jika Dinda nggak mau meminumnya, Caramel akan menggonggong terus seolah mengingatkan. Amazing! :) 




Mungkin sudah banyak teman-teman yang tahu tentang pet therapy, tapi just in case gue akan menjelaskannya lagi sedikit. Pet therapy adalah terapi yang melibatkan hewan di dalamnya. Biasanya pet therapy dibutuhkan saat seseorang dalam proses penyembuhan dari masalah kesehatan seperti mental health, kanker, penyakit jantung dan lain sebagainya. Pet therapy juga bisa berfungsi agar seseorang bisa lebih "nyaman" dengan apa yang diidapnya. Contohnya seperti gue. Scoliosis nggak bisa disembuhkan (karena bukan penyakit, tapi kondisi yang hanya bisa dikoreksi), tapi dengan Eris rasanya lebih mudah untuk menjalani hari. Hewan apapun bisa menjadi pet therapist, karena berbeda dengan service dog "tugas" mereka adalah untuk membantu kita merasa nyaman. Tapi pet therapy bisa juga double sebagai service dog, seperti Caramel yang bisa mengingatkan Dinda untuk minum obat.

Balik lagi ke cerita Eris dan hadiahnya, awalnya ia agak "terancam" dengan karpet barunya. Mungkin karena berbulu ia jadi mengira kalau itu hewan lain. Sampai-sampai Eris menggeram dan menggigitnya, lho! Hahaha :D Tapi hanya sebentar karena setelah itu Eris langsung duduk santai di atasnya, bahkan lama-lama ia minta disisiri sambil tiduran di sana :) Gue baru tahu kalau karpet @petcarpet_id rupanya mendonasikan sebagian dari hasil penjualannya ke Yayasan Peduli Kucing. Rasanya membuat gue semakin happy karena tahu bahwa banyak yang peduli dengan keberadaan hewan-hewan di sekitar kita. Kalau kalian punya anjing atau kucing gue sarankan untuk membelinya karena selain berdonasi, kualitas karpetnya juga memang bagus. Kalau Eris bica bicara bahasa manusia, ia pasti akan memberi testimoni panjang lebar tentang karpet barunya, hahaha.

Gue senang, bersyukur dan berterima kasih dengan hadiah yang diberikan @carameldanial untuk Eris. Rasanya semakin meyakinkan kita bahwa hewan memang memiliki maksud dan fungsi untuk tinggal berdampingan dengan kita, ---mereka bukan hanya "sekedar" hewan. Sekali lagi, menang atau kalah bukan masalah untuk gue. Gue akan selalu menyayangi Eris dengan tulus karena gue percaya Eris juga nggak pernah meragukan gue. Dan gue membagi cerita ini (mudah-mudahan) bisa menjadi pengingat agar nggak ada lagi yang menyakiti hewan. Kalian boleh merasa "nggak suka" atau geli saat melihat mereka. Tapi nggak perlu menyakiti atau mengusiknya. Selalu ingat bahwa di suatu tempat ada orang-orang yang tertolong sekali dengan keberadaan mereka. ---Bahkan yang nyawanya diselamatkan oleh mereka. Seperti Eris yang menyelamatkan gue dan Caramel yang menyelamatkan Dinda :)

yang sangat beruntung 'memiliki' Eris,

Indi


(Punya pengalaman serupa dengan hewan peliharaan? Kirim cerita kalian ke namaku_indikecil@yahoo.com. Cerita yang menarik akan dimuat di buku Guruku Berbulu dan Berekor 2 yang royaltinya digunakan untuk membantu hewan-hewan terlantar).


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 15 Februari 2017

Indi's Scoliosis Life: Disabilitas dan Dunia Bekerja

Yay! Libur nasional!
Haha, kadang gue merasa konyol kalau berseru begitu. Soalnya untuk gue apa bedanya antara weekend dan weekdays? Gue bekerja di rumah, ---dengan beberapa pekerjaan occasional di luar yang biasanya hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja meskipun dilakukan di akhir pekan. Gue sudah otomatis saja excited setiap mendengar kata "libur". Mungkin karena kesempatan untuk hangout dengan keluarga gue paling banyak di hari sabtu, minggu dan libur nasional kali, ya? :D Eh, tapi itu sih sampai satu minggu yang lalu. Karena sejak hari selasa kemarin gue mulai kembali bekerja secara formal!


Iya, setelah break selama 2 tahun (karena kesehatan dan ada beberapa project), gue akhirnya kembali dengan pekerjaan "formal" aka "kantoran". Bukan berarti gue stop menulis, seluruh project dan PR tetap bisa dikerjakan karena perkerjaan formal gue ambil ini sifatnya secara paruh waktu alias part time. Awalnya gue sama sekali nggak terpikir untuk back to kantoran karena terbiasa dengan "jadwal kerja buatan gue". Tapi berhubung ditawari saat mengantar Ali, keponakan gue yang berusia 1 tahun untuk daycare, akhirnya gue putuskan untuk menerima pekerjaan paruh waktu di sebuah preschool berbasis kurikulum British. Dalam seminggu gue bekerja 4 hari dengan jam kerja dari pukul 8.00 sampai pukul 12.00. Meski kesannya hanya sedikit, dengan kondisi kesehatan gue jam kerja seperti sudah cukup untuk menguras tenaga. Tapi so far sih so good, dan gue harap berlangsung sampai waktunya gue selesai di sana :)

Gue nggak sabar untuk bercerita tentang pekerjaan gue yang baru (---well, baru tapi "lama" karena 2 tahun yang lalu gue pernah bekerja di tempat yang sama, hahaha). Tapi kali ini gue akan membahas tentang "disabilitas dan serba-serbi melamar pekerjaan". Kenapa? Karena sejak gue lulus kuliah dan mulai bekerja formal untuk pertama kali, banyaaaaaaak sekali yang bertanya tentang ini. Terutama dari teman-teman di support group "Masyarakat Skoliosis Indonesia". Selain itu juga karena memang masih jarang yang membahasnya di sini. Padahal, kalau gue buka web-web luar gue bisa menemukan banyak artikel helpful untuk para job seeker atau fresh graduate yang mempunyai beberapa kondisi fisik atau isu medis. Gue adalah pengidap severe scoliosis yang mempengaruhi mobilitas gue, ---juga masih harus memakai brace selama 6 sampai 12 jam perhari. Tentu, nggak semua pekerjaan cocok untuk gue. Tapi bukan berarti itu mustahil :)

Mempunyai Disabilitas Haruskah Ditulis di Riwayat Hidup/CV?
Nggak perlu! Awalnya gue pernah menganggap kalau calon rekan kerja/perusahaan yang dilamar harus tahu kondisi fisik gue. Tapi setelah banyak bertanya dengan teman-teman yang juga memiliki situasi yang mirip plus ditambah dengan pengalaman pribadi, gue jadi yakin kalau itu memang sama sekali nggak perlu. Dengan nggak menulisnya maka gue akan dinilai sesuai dengan kemampuan, bukan berdasarkan kondisi fisik. Tapi itu bukan berarti gue berbohong, lho. Karena sebelum melamar suatu pekerjaan gue (---kita) wajib bertanya pada diri sendiri, "Apakah gue sanggup mengerjakan pekerjaan ini?" Jika jawabannya sanggup, maka go ahead, langsung saja kirimkan CV terbaik dan berharap yang terbaik. Percaya diri itu penting, jangan sampai takut duluan sebelum memulai sesuatu. Pastikan saja pekerjaannya memang cocok dengan latar belakang pendidikan/kemampuan dan kondisi. Misalnya saja jika memiliki kondisi seperti gue, jangan memaksakan untuk melamar di bagian gudang/stock keeper yang job desc nya mengangkat barang-barang yang berat.

Haruskah Menyebutkan Kondisi Fisik/Kesehatan saat Wawancara?
Menurut Pasal 5 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, "Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan." Jadi seharusnya nggak perlu lagi menjelaskan panjang lebar tentang kondisi kita. Tapi dengan catatan kita sudah yakin betul kalau sanggup dengan segala job desc dari pekerjaan yang kita lamar. Tapi  boleh-boleh saja jika mau menyebutkan, terutama saat mengisi form yang biasanya ada kolom kondisi kesehatan. ---Terutama jika kondisi kita "abu-abu". Contohnya saja gue, saat melamar menjadi guru di preschool gue akan menyebutkan bahwa mengidap severe scoliosis. Alasannya karena dari segi latar belakang pendidikan dan kemampuan, gue sangat kompeten untuk posisi itu. Tapi karena calon murid-murid gue masih balita, besar kemungkinan "job desc" gue bertambah sebagai juru gendong anak-anak, hehehe. Percayalah, sebuah pekerjaan nggak akan lari hanya karena kondisi fisik selama CV dan wawancara kita mengesankan :)

Disabilitas terbagi dua, yaitu yang terlihat (visible impairment) dan nggak terlihat (invisible disabilities). Bagi yang terlihat (misalnya pengguna memakai kursi roda, brace, alat bantu dengar, memiliki mising limbs, etc) maka akan a bit easier karena kita nggak perlu menjelaskan. Tapi bagi yang nggak terlihat seperti pengidap diabetes, epilepsi dan lainnya diperlukan pertimbangan lain. Jika semuanya masih bisa diatasi dengan obat atau terapi (eg: ada jaminan pengidap epilepsi nggak akan kambuh selama patuh dengan pengobatan), kita tentu nggak perlu menjelaskan saat wawancara. Tapi lain dengan pengidap epilepsi yang bisa kambuh kapanpun (misalnya kasus lebih severe), sudah seharusnya memberitahu sejak awal karena ini adalah salah satu bentuk dari tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kalau sudah mau bekerja artinya sudah dewasa, dong. Dan hanya kita yang paling mengenal kondisi tubuh kita sendiri :)

Pekerjaan Apa yang Cocok?
Yang tahu dengan jawabannya tentu diri sendiri. Carilah pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan. Terkadang memang nggak mudah, tapi trust me, itu bukan 100% karena kondisi fisik kita. Banyak faktor yang menentukan, misalnya saja kesediaan lapangan pekerjaan yang cocok, luck (---yup, ini juga berpengaruh) dan "masalah" waktu. Teman gue yang seorang quadriplegic (lumpuh dari leher ke bawah) perlu waktu 10 untuk kembali bekerja sebagai guru. Jangan pernah remehkan atau salahkan diri sendiri. Perlu diingat bahwa memiliki IPK tinggi dan fisik yang kuat pun bukan jaminan cepat mendapatkan pekerjaan. Just be patient dan terus berusaha karena selalu ada tempat untuk semua orang.

Mungkin terdengar klise, tapi memang selalu ada sisi positif dari setiap kondisi, kok. Misalnya saja bagi scolioser yang sudah terbiasa melakukan fisioterapi atau yoga secara rutin. Nggak jarang mereka memiliki kedekatan dengan staff di klinik atau rumah sakit, dan itu sangat menguntungkan karena akan tahu lebih dulu jika ada lowongan pekerjaan di sana dibandingkan dengan orang luar ;) Banyak lho scolioser yang menjadi instuktur yoga atau staff di klinik fisoterapi. Malah gue kenal dengan fisioterapis yang dulunya adalah pasien di klinik! :D Itulah kenapa gue anggap bergabung dengan suatu komunitas atau support group sangat penting, karena bisa saja kita bisa mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dari sana. Dan nilai plusnya kita juga sekaligus membantu teman-teman dengan kondisi yang sama. Nggak sreg dengan pekerjaan kantoran? Idenya salah satu teman gue, Habibie Afsyah mungkin bisa ditiru. Ia adalah seorang enterpreneur sukses yang mengidap Muscular Distrophy. ---Ia bisa bekerja dengan baik meski hanya dengan 2 jari di tangan kanannya :)

Pokoknya, pekerjaan apapun yang kita pilih, ---kantoran atau wirausaha, gue yakin akan selalu ada jalan. Saat merasa ragu sempatkan sejenak untuk menenangkan diri dan meyakinkan diri bahwa kita hebat. Berpikirlah positif, jangan dulu pikirkan soal kegagalan sebelum mencoba. Mendengar kisah-kisah inspiratif juga bisa membantu. Misalnya saja seorang teman gue, Thie Santoso yang seorang tuli (---ya, mereka lebih nyaman dipanggil begitu daripada dengan istilah tunarungu) sudah mengirimkan lebih dari 400 surat lamaran pekerjaan dan semuanya ditolak! Tapi lihatlah ia sekarang yang sukses dengan Yayasan Sampaghita nya. Atau mungkin Hunter Kelch, teman gue dari Amerika yang beberapa waktu lalu sempat menulis untuk blog ini. Ia adalah pengidap Cerebral Palsy Quadriplegic yang sukses sebagai blogger profesional! :)

Alasan gue menulis ini semua bukan karena gue sudah sukses atau keren. Gue hanya ingin berbagi pengalaman karena yakin banyak sekali yang mengalami situasi serupa. Semoga ini juga menjawab pertanyaan teman-teman di "Masyarakat Skoliosis Indonesia" yang bertanya tentang bagaimana gue bisa mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum lulus kuliah. Sekali lagi gue ingin mengingatkan kalau selalu ada tempat untuk semua orang, jangan takut duluan sebelum berusaha dan... be anything you want to be. Kita bisa! :)

Catatan:
Difabel atau disabilitas adalah istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan adalah sebuah masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya; suatu pembatasan kegiatan adalah kesulitan yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan, sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi kehidupan. Jadi disabilitas adalah sebuah fenomena kompleks, yang mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal.
(Sumber Wikipedia)


Ingin berpartisipasi dengan project  buku "Guruku Berbulu dan Berekor" Part 2 yang royaltinya didonasikan ke hewan-hewan terlantar? Kirim cerita menarik kalian dan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com.


girl with a cheeky spine,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 07 Februari 2017

Mengunjungi Jamal: Teman Kecil dengan Semangat yang Besar :)

3 Januari 2017

Handphone gue bergetar. Waktu gue buka rupanya whatsapp dari Ibu yang sedang berada di ruang TV. Gue terkikik, ---karena jaraknya hanya beberapa meter saja dari kamar tidur gue. Ibu memang sering mem-forward pesan-pesan yang didapat dari grup teman-temannya atau yang beliau dapat dari internet. Biasanya isinya seputar informasi seminar, dunia menulis atau bahkan sesuatu yang konyol. Tapi kali ini rupanya Ibu mengirimkan sesuatu yang lebih serius...
"Kak, besok kita jenguk Jamal, yuk. Tangannya baru diamputasi karena kecelakaan di pabrik bata."
Gue menatap peta lokasi rumah sakit Ibu kirim beberapa detik. 'Bagaimana jika ini hoax?' 'Ibu dapat informasi ini darimana?' ---gue bertanya-tanya dalam hati. Tapi akhirnya gue hanya membalas pesan Ibu dengan satu kata, "Iya."

4 Januari 2017

"Ayo, bangun. Kan kita mau jenguk Jamal."
Pagi-pagi Ibu sudah membangunkan gue, padahal biasanya beliau cuek karena gue nggak punya 'jam kerja' alias ngantor di rumah. Mungkin karena nggak yakin dengan kebenaran cerita tentang Jamal, gue jadi lupa kalau kemarin setuju untuk ikut. 
Tapi well, gue karena pikir alamat rumah sakit yang dimaksud nggak terlalu jauh, jadi gue putuskan saja untuk mengambil resiko. Kalau ternyata kabar itu hoax, at least gue bisa memperingatkan orang lain agar nggak tertipu (meski pasti tetap kesal, hahaha). Bukannya gue sceptical, tapi di zaman sekarang ini (gue manusia masa lalu, lol) situasi buruk pun bisa saja dimanfaatkan untuk diambil keuntungannya. Misalnya saja kejadian baby Fang Fang baru-baru ini (rest in peace, little angel). Disaat keluarganya sedang berduka beredar pesan berantai di BBM dan whatsapp yang isinya meminta donasi, padahal mereka sama sekali nggak pernah meminta, ---bahkan nomor rekeningnya pun entah milik siapa. Itulah kenapa gue lebih berhati-hati sekarang. Jangan sampai niat baik malah sampai ke orang-orang yang berhati busuk kaya Evil Queen...

Di perjalanan ke rumah sakit gue bertanya pada Ibu darimana beliau mendapatkan berita tentang Jamal. Katanya dari grup alumni SMA nya, dan sudah ada yang mengecek kebenarannya. Ah, gue jadi lega dan tahu bahwa kedatangan kami nggak percuma :) 
Dari Ibu gue jadi tahu cerita memilukan tentang Jamal. Usianya baru 6 tahun, rencananya akan masuk TK sebentar lagi. Seperti anak-anak kebanyakan, Jamal sangat aktif dan rasa ingin tahunya sedang tinggi-tingginya. Tanpa rasa takut ia bermain dengan mesin press di pabrik bata tempat ayahnya bekerja. Sayang... karena kejadiannya sangat cepat, ayah dan kakek Jamal terlambat untuk menolongnya. Kedua tangannya sudah remuk. Ayah dan kakek yang berusaha menyelamatkannya pun mengalami cedera. Bahkan jari tangan kakek Jamal harus ikut diamputasi karena terlambatnya pertolongan.

Di tengah hari gue, Ibu dan Bapak tiba di rumah sakit. Saat tiba di pintu gerbang bangsal anak kami nggak langsung dipersilakan masuk. Mungkin karena kondisi Jamal yang belum bisa menerima banyak tamu. Nggak lama kemudian seorang satpam dengan sigap mengantarkan kami ke kamar Jamal yang letaknya di lantai 2 (---beneran sigap lho satpamnya, beliau sampai sempat antar gue ke toilet lalu mengantarkan kami lagi ke lantai 1, keren!). Jamal dirawat di kamar yang berisi 3 tempat tidur dan ia berada di paling ujung, dekat dengan lorong. Saat kami datang Jamal sedang disuapi seorang wanita yang ternyata adalah neneknya. Kesan pertama saat melihat sosoknya yang mungil dan bertelanjang dada, gue langsung tersenyum. He is such a handsome young man! ---dan tak ragu, juga kuat. Pasti nggak mudah untuk beradaptasi dengan kondisi barunya, tapi gue lihat Jamal bisa, ia menggunakan kedua kakinya untuk 'mencolek' tubuh neneknya saat menginginkan sesuatu.

Sumber foto: Tribun Jabar.


Hati gue jadi ikut pilu waktu mendengar neneknya bercerita sambil terisak. Katanya selain ayah dan kakeknya yang nggak bisa menemani Jamal karena masih belum pulih, ibu Jamal juga kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh karena baru saja melahirkan. Iya, Jamal dan keluarganya bukan berasal dari Bandung, tapi dari Garut. Jadi selama di rumah sakit sejak akhir bulan Januari lalu segalanya diurus oleh neneknya. Secara fisik dan mental gue yakin situasi ini bukan hanya sulit bagi Jamal, tapi juga keluarganya. Gue nggak terlalu mengerti Bahasa Sunda, tapi dari matanya gue bisa melihat dengan jelas bahwa Jamal sedikit frustasi ketika ingin menunjuk ayam suir yang berada di atas piring makan siangnya. Dan itu membuat neneknya (lagi-lagi) menitikkan air mata karena butuh beberapa saat bagi beliau untuk mengerti keinginan cucunya. 
Gue dan keluarga nggak berlama-lama, kami langsung pamit pulang setelah memberikan sedikit oleh-oleh untuk Jamal. Sayang sekali neneknya nggak punya kontak untuk dihubungi, padahal kami ingin sekali mendapat kabar dari perkembangan Jamal kelak. 

Dokumentasi pribadi. Jamal sedang disuapi neneknya.


Setelah bertemu langsung dengan Jamal gue jadi mencari tahu lebih banyak tentang kejadian yang menimpanya. Rupanya tangan kanan Jamal sebenarnya ada kemungkinan bisa selamat seandainya nggak terlambat dibawa ke rumah sakit. Tapi sayangnya akses ambulance nggak ada di tempat mereka tinggal (daerah pelosok Garut), jadi tangan kanan Jamal terlanjur menghitam dan membusuk. It's a shame bahwa baru setelah kejadian tragis ini baru ada perhatian tentang accessibility di daerah terpencil... Kabarnya Dedi Mulyadi (DPD Golkar I Golkar Jabar) menginstruksikan para anggota legislatif di daerah dan provinsi untuk memperjuangkan hak masyarakat berupa fasilitas kesehatan ambulance agar nantinya nggak ada lagi Jamal-Jamal yang lain. But well... it's better than nothing. Mudah-mudahan saja akses kesehatan bisa dijangkau di seluruh pelosok Indonesia.

Meski nggak mudah, tapi meratapi nasib nggak akan mengubah apa-apa. Gue yakin masa depan Jamal cerah. Ia aktif, pandai mengaji dan berkeinginan kuat. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah bersama-sama mendukungnya untuk melewati masa penyembuhan. Fisioterapi nantinya tentu akan dibutuhkan untuk adaptasi dengan kondisi barunya. Dan jika Jamal menghendaki, ia juga bisa memakai lengan palsu nanti (klik di sini jika ingin berdonasi untuk lengan palsu Jamal). Tapi untuk sekarang jika ada teman-teman yang ingin menjenguk Jamal dan membawakan sesuatu, kalian bisa memberinya diapers anak, dan makanan untuknya juga neneknya. Katanya Jamal mulai bosan dengan menu rumah sakit yang itu-itu saja :) Dan Jamal juga membutuhkan mainan untuk menemani melewati hari-harinya saat menjalani perawatan. Mainan adaptatif adalah pilihan yang wise, kalian bisa membawakan sesuatu yang bisa dimainkan oleh kaki seperti "simon says" (maaf gue lupa apa istilahnya) atau ring dengan berbagai ukuran yang bisa dimainkan di pergelangan kaki. Nenek Jamal juga membutuhkan benda-benda yang bisa membuatnya nyaman seperti selimut, daster atau baju ganti.

Jika ada teman-teman yang tinggal di Bandung, atau sedang mengunjungi Bandung. Kalian bisa menjenguk Jamal di sini: 
Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung (RSHS)
Kamar inap anak, Kemuning. Lantai 2 kamar 2 atas nama: Jamaludin.


salam,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 28 Januari 2017

Ikut Menulis bersama Indi di "Guruku Berbulu dan Berekor 2', yuk! :)

Howdy-do bloggies?! Yay, weekend sudah tiba :D Untuk yang sekolah atau bekerja sekarang waktunya untuk santai sejenak sebelum menghadapi hari senin. Eh, untuk gue juga sih meskipun gue sudah lulus dan nggak bekerja kantoran, hihihi. Bulan ini cukup menyibukkan untuk gue, selain harus menyelasaikan PR yang tertunda di tahun lalu, gue juga sedang mengerjakan beberapa project. Sepertinya gue akan lebih menseriusi (word? lol) hobi menggenjreng ukulele, di bulan ini ada beberapa musisi (YouTuber) yang mengajak gue berkolaborasi. Dan tentu ada project menulis juga yang sedang gue kerjakan, salah satunya adalah "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua. Dan gue ingin mengajak kalian untuk terlibat di dalamnya! :)

Mungkin diantara kalian sudah ada yang pernah mendengar tentang "Guruku Berbulu dan Berekor", ---atau mungkin malah sudah pernah membacanya. Novel ketiga gue itu terbit di bulan Juli tahun 2012 lalu. Berbeda dengan dua novel terdahulu yang bercerita tentang hubungan gue dan cinta pertama gue, ---Mika, "Guruku Berbulu dan Berekor" bercerita tentang hubungan gue dengan mahkluk-mahkluk ciptaan Tuhan yang nggak kalah menggemaskannya (eh...) dengan Mika, yaitu para hewan, hihihi. Sebelum ada Eris, anjing golden retriever yang setia menemani sejak 7 tahun yang lalu ada Veggie anjing cantik yang super cerdas. Juga ada Black, anjing gagah yang setia, Mr. Jingles, tikus yang cerdas, Marco, burung nuri yang cerewet dan masih banyaaaaak lagi. Mereka semua mempunyai tempat istimewa di hati gue, dan mereka bukan "sekedar" hewan peliharaan tapi juga guru! 



Nggak bosan-bosannya gue bercerita tentang Veggie yang mengajari gue (dan keluarga) banyak hal. Di tahun-tahun terakhir hidupnya Veggie mengidap epilepsi (gangguan syaraf otak) tapi itu nggak menghentikannya untuk menikmati hidup. Saat kondisinya sedang baik ia senang berlari-lari sambil mengejar bayangannya sendiri. Semangat belajarnya pun sangat luar biasa, Veggie mengerti berbagai macam tricks dan dengan bangga menunjukkannya pada seluruh penghuni rumah :) Kehadiran Veggie yang hanya 6 tahun sudah cukup untuk mengubah hidup gue menjadi lebih positif. Jika Veggie dengan segala keterbatasannya tetap live the fullest, mengapa gue nggak bisa? Dan gue percaya ini juga dialami oleh teman-teman yang memiliki hewan peliharaan. Well, memiliki pets mungkin memang bukan untuk semua orang, tapi kisah-kisahnya tentu bisa menghangatkan hati siapa saja yang membacanya. Karena itulah novel "Guruku Berbulu dan Berekor" hadir :)

Bukan hanya gue yang berbagi cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" tapi gue juga mengajak para pemilik hewan peliharaan untuk berbagi ceritanya di sana. Amazingly, gue berhasil mengumpulkan 30-an kisah inspiratif yang dikirim dari berbagai penjuru Indonesia! (---Ups, plus satu cerita yang dikirim dari Belanda). Dan para kontributor bukan hanya berasal dari berbagai tempat, tapi juga dari berbagai macam profesi dan usia ---dari mulai anak-anak sampai nenek berusia 70 tahunan. Gue membuat ini sebagai ucapan terima kasih kepada hewan-hewan yang hadir di hidup gue, jadi hasilnya pun gue kembalikan pada mereka. Royalti novel digunakan untuk membantu penampungan-penampungan dan hewan-hewan yang membutuhkan (lihat tag: Guruku Berbulu dan Berekor). Terakhir, royalti telah disalurkan pada Peduli Kucing, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak kucing semua ras.


"Guruku Berbulu dan Berekor" bagian pertama tentu hanya mampu merekam secuil pengalaman luar biasa dari para penyayang hewan. Itulah mengapa gue mengajak kalian untuk membagikan kisah-kisah inspiratif di "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua. Sama seperti yang sebelumnya, kalian hanya perlu mengirimkan cerita pengalaman bersama hewan peliharaan atau hewan yang pernah kalian temui. Nggak harus mengharukan, hihihi. Yang penting pengalaman yang dibagi memiliki pelajaran berharga. Kalau masih ragu-ragu untuk menulis, no worry, semua cerita yang terpilih akan gue sunting. Eh, bukan berarti tulisan gue bagus, ya... Kita sama-sama belajar :)

Yuk, Ikut Menyumbang Cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian 2! :)


1. Ceritakan pengalaman menarik dan inspiratif kalian bersama hewan peliharaan atau hewan yang pernah ditemui. 
2. Ketik rapi dengan jenis huruf Calibri, spasi 1,2 dan ukuran kertas A4.
3. Kirimkan ke email namaku_indikecil@yahoo.com, sertakan nama, profesi dan domisili kalian.
4. Cerita ditunggu paling lambat Rabu, 28 Februari 2017.
5. Jika punya pertanyaan silakan mention ke twitter @missbabbitt atau instagram @indisugarmika.

Gue harap novel "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua ini nantinya tetap mendapat tempat istimewa di hati para membaca, ---atau bahkan lebih baik lagi :) Sengaja gue memilih buku sebagai media untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan. Karena selain karena menulis adalah passion gue, lewat royaltinya mereka yang nggak bisa berdekatan dengan hewan pun bisa tetap turut membantu. Jadi tunggu apa lagi? Segera buka laptop, kirimkan cerita kalian dan menjadi bagian dari langkah kecil gue, ---kita, "Guruku Berbulu dan Berekor 2" :)

murid dan sahabatnya Eris,

Indi
Dapatkan "Guruku Berbulu dan Berekor" pertama di sini. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 14 Januari 2017

Scoliosis, HIV/AIDS dan Skripsi

Sore itu gue menunggu Bapak pulang dengan nggak sabar. Gue ada janji dengan seseorang pukul 4 sore sementara waktu sudah menunjukan pukul setengah 4 sore, ---lebih sedikit. Desember selalu menjadi bulan yang sibuk untuk keluarga gue. Ibu dan Bapak sibuk dengan pekerjaannya di bidang fashion, sementara gue sibuk dengan kegiatan yang berhubungan dengan hari AIDS sedunia. Tapi hari itu gue berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang mahasiswi dari salah satu universitas di Bandung. Gue sudah berjanji jauh-jauh hari, jadi meskipun sebentar gue harus bisa.

Menunggu Bapak untuk mengantarkan gue wawancara.

Waktu akhirnya Bapak datang gue masih belum bisa lega. Sepanjang jalan sangat macet. Mungkin karena tempat kami janjian berada di pusat kota, mungkin karena banyak yang sedang menghabiskan libur akhir tahun, ---atau mungkin juga karena keduanya. Setelah masuk area parkir gue jadi agak menyesal karena memilih mall sebagai tempat pertemuan. Gue dan Bapak harus memutar beberapa kali sebelum menemukan tempat yang kosong. Uh, 15 minutes worth, lho... Padahal maksud gue memilih mall agar tempatnya mudah dijangkau dan jaraknya fair bagi kedua belah pihak, tapi malah begini :'D Kalau dipikir lucu juga ya, seharusnya sebagai warga Bandung gue sadar kalau musim liburan Bandung pasti jadi milik bersama :p

Seperti yang gue duga, Dyah, ---nama mahasiswi itu, sudah menunggu gue di area food court. Ah, rasanya nggak enak sekali karena sudah membuatnya menunggu selama 15 menit:( Dyah ingin mewawancarai gue sebagai narasumber untuk skripsinya yang bertema scoliosis. Rupanya ia juga seorang scolioser, ---yang kurvanya lebih kecil dari gue, dan dulu sempat terapi di tempat yang sama dengan gue. Tanpa berlama-lama ia langsung mengeluarkan handphonenya untuk merekam dan mengajukan beberapa pertanyaan. Gue sudah sering menjadi narasumber, ---bahkan sebelum skripsi gue sendiri selesai, hehehe, ---tapi kali ini agak berbeda karena pertanyaan-pertanyaan Dyah yang unik.

Sama seperti yang sudah-sudah, selalu ada pertanyaan 'standar' seperti, kapan gue tahu mengidap scoliosis dan tentang terapi-terapi apa saja yang sudah pernah gue lakukan. Tapi lalu Dyah bertanya tentang terapi favorite dan least favorite gue. Hahaha, biasanya pertanyaan seperti itu diajukan kalau bicara soal film, musik atau bahkan makanan kan :D Dyah juga bertanya tentang apa yang gue pikirkan jika ada game dengan tema scoliosis. Well, honestly meski gue berusaha 'memasyarakatkan' scoliosis dengan cara menyematkannya di daily basis, tapi soal game sama sekali belum pernah terpikir :O Genius! Rupanya Dyah memang ada rencana untuk membuat game scoliosis. Gue belum tahu seperti apa detailnya, tapi mendengarnya saja sudah membuat gue super happy :D

Setelah wawancara selesai gue langsung pamit untuk pulang. Agak terburu-buru, tapi gue pastikan Dyah mendapatkan semua jawaban yang ia butuhkan. Gue berpesan padanya jika masih ada yang kurang bisa mengirimi gue email dan akan gue jawab kemudian. Fiuh, lega rasanya karena akhirnya ada janji wawancara skripsi di Bulan Desember yang terpenuhi. Sebenarnya di bulan yang sama cukup banyak yang meminta gue menjadi narasumber, tapi sayangnya terpaksa harus gue tolak karena waktunya kurang pas. Gue selalu berusaha untuk menyempatkan memenuhi meskipun sebatas via email atau telepon. Kalau ada yang terlewat rasanya 'ganjel' sekali. Mungkin teman-teman heran kenapa gue segitu ngototnya soal skripsi ini. Memang apa untungnya untuk gue?

Bersama Dyah. Meski sedikit terburu-buru tapi semua pertanyaan sudah terjawab :)

Scoliosis, HIV/AIDS; Dua Hal Berbeda tapi Sama yang Jarang Dibicarakan

Gue didiagnosis mengidap scoliosis ketika berusia 13 tahun dan 2 tahun kemudian mengenal Mika yang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Selain saling mencintai, kami juga punya persamaan lain yaitu memiliki 'sesuatu' di tubuh kami yang somehow orang jarang sekali mau membicarakannya. Gue masih ingat dulu ketika awal menggunakan brace (penyangga tulang belakang untuk scoliosis), keluarga besar gue enggan sekali membicarakannya. Gue nggak yakin dengan alasan tepatnya. Entah karena denial, berpura-pura brace gue invisible atau malah karena menganggap scoliosis bukan sesuatu hal yang penting. Ibu dan Bapak pun awalnya begitu, mereka hampir nggak pernah membicarakannya kecuali jika memang harus sekali, ---seperti misalnya saat mendaftar ke sekolah baru. 

Karena sudah terbiasa gue pun jadi sempat menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Gue jadi ikut enggan membicarakannya, bahkan saat ada teman satu kelas yang bertanya tentang kondisi gue. Tapi pelan-pelan gue dan orangtua mulai sering membicarakan tentang scoliosis, terutama karena mereka akhirnya sadar bahwa apa yang gue alami bukan sekedar masalah 'kosmetik'. Ini mempengaruhi gue 24 jam sehari dan sepanjang hidup gue. Kami mulai berinisiatif untuk 'memasyarakatkan' scoliosis pada lingkungan sekitar. Gue di encourage untuk memakai brace di luar baju dan bahkan menjadi narasumber untuk beberapa acara TV dengan didampingi Ibu dan Bapak.

Tapi jika bicara soal keluarga besar lain lagi ceritanya. Ada salah satu om gue yang nggak setuju jika gue bercerita tentang scoliosis di media, terutama TV. Beliau bahkan sampai mengutarakan keberatannya kepada Bapak. Alasannya sungguh membuat gue tersinggung. Beliau berkata bahwa gue nggak perlu melakukan itu, dan dengan jujur soal kondisi gue bisa membuat laki-laki 'berpikir dua kali' untuk dekat dengan gue (---padahal nggak ngaruh ya, yang naksir gue banyak, lol). Gue nggak akan cerita tentang detailnya, yang pasti ini sempat membuat orangtua gue meradang. Apalagi pernyataan om gue itu nggak mendasar; beliau hanya tahu scoliosis sebagai 'masalah' fisik. Syukurlah pada akhirnya om gue meminta maaf. Goal gue adalah agar suatu hari nggak ada lagi yang berpikir seperti beliau. Karena saat gue berbicara tentang scoliosis sebenarnya ada misi penting di dalamnya (---akan gue jelaskan di bawah).

HIV/AIDS mungkin sekilas terkesan jauh berbeda dengan scoliosis. Tapi semenjak mengenal Mika gue jadi sadar bahwa 'kondisi' kami nggak jauh berbeda. Sama seperti scoliosis, orang juga enggan membicarakan tentang HIV/AIDS. ---Bahkan lebih buruk lagi, pengidapnya mendapatkan stigma dan diskriminasi. Gue masih ingat ketika SMA teman-teman dan guru nggak begitu mengganggap Mika. Jika pun ia dibicarakan pasti hanya dari sisi negatifnya saja. Mika bisa melakukan seribu kebaikan dan orang masih juga nggak bisa melihatnya. Orang nggak akan peduli betapa Mika membuat gue happy, membuat gue lebih percaya diri dan hal-hal baik lainnya. Yang mereka lihat hanya satu: virus yang ia idap. Padahal Mika lebih dari itu. Mika adalah laki-laki tercerdas dengan sense of humor terbaik yang pernah gue kenal!

Speak UP! Raise the awareness!

Semakin dewasa gue semakin sadar bahwa berpura-pura dan menolak membicarakan scoliosis dan HIV/AIDS hanya membuat keadaan semakin buruk. Let's talk about scoliosis first. Berapa banyak orang yang tahu apa itu scoliosis? Berapa banyak orang yang tahu bahwa scoliosis bisa jadi sesuatu yang serius terutama jika kurva pengidapnya sudah besar? Sayangnya masih sedikit. Bahkan memiliki anggota keluarga yang mengidap scoliosis pun bukan jaminan memiliki pengetahuan yang cukup. Gue mengerti bahwa sebagian orang enggan membicarakannya karena dari luar scoliosis hanya terlihat seperti tulang yang bengkok. Padahal scoliosis bisa mempengaruhi kualitas hidup pengidapnya karena, ---of course organ tubuh lainnya pun ikut terpengaruh.

Gue bersyukur karena sekarang semakin banyak media yang bisa digunakan untuk 'bicara'. Dari berbagai macam sosial media, blog sampai situs-situs unggah video gratis. Gue bisa memberikan informasi yang benar (---well, gue berusaha) tentang scoliosis dan berbagi tentang kehidupan gue sebagai seorang scolioser. Semakin banyak orang yang tahu tentang scoliosis maka semakin berkurang pula ke ignorant-an orang tentang isu ini. Scoliosis memang bukan hal yang menyenangkan, tapi deteksi dini bisa mempermudah koreksi dan penanganan pengidapnya. Sering kali gue menerima email dari para orangtua yang baru sadar anaknya mengidap scoliosis setelah menonton film Mika! Siapa sangka, hal sesederhana melihat cara gue berjalan dan melihat lengkung punggung gue di film bisa 'menyelamatkan' anak-anak remaja mereka. Banyak diantara mereka yang ketahuan saat kurvanya masih kecil sehingga belum membutuhkan operasi :)

Dengan berani berbicara juga membuat scolioser lain yang tadinya bersembunyi mulai bermunculan. Banyak diantara mereka yang ragu untuk bicara karena takut dibilang manja atau dikira ingin diistimewakan. Dan itu juga yang terjadi pada gue dulu. Betapa takutnya untuk berbicara tentang kondisi gue pada guru olahraga karena khawatir dinilai lemah dan menjadi bahan ejekan teman-teman. Dan hal terpenting yang "didapat" dari speak up adalah bisa membuat scolioser sadar bahwa mereka nggak sendirian. Saat sedang berjuang di ruang fisioterapi, saat sedang memakai brace 23 jam setiap hari, saat sedang menunggu di pinggir lapangan sementara teman-teman sekalas mengikuti pelajaran olahraga, ---mereka, kita akan ingat bahwa di suatu tempat ada scolioser lain yang juga sedang merasakan hal yang sama :)

Dan tentang Mika, gue merasa ia bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan dalam berbagai hal jika saja orang melihat ia di luar status ODHA nya. Menolak untuk membicarakan, berpura-pura nggak ada yang terjadi dan meng-ignore keberadaannya hanya membuat keadaan semakin buruk. Dan yang gue maksud sebagai 'semakin buruk' bukan hanya tentang Mika, tapi juga tentang mereka. Gue berani bilang dengan menolak Mika mereka miss out banyak hal seru dan menarik tentang Mika. Mereka nggak akan pernah tahu betapa cerdas dan betapa hangatnya kepribadian Mika hanya karena mereka 'takut' dengan HIV/AIDS. Gue nggak menyalahkan mereka, karena apa yang sudah melekat selama berpuluh-puluh tahun pasti susah sekali dihilangkan. Saat mendengar HIV/AIDS yang melintas di benak kebanyakan orang pasti kesan seram. Padahal benarkah demikian?

Karena menolak membicarakannya orang terkadang lupa bahwa HIV/AIDS 'sama saja' seperti flu dan virus lainnya. Siapa saja bisa terjangkit dan belum tentu karena apa yang dilakukannya. Tahukah kalian bahwa banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang juga berstatus sebagai ODHA? Dan jika pun ada orang yang terjangkit virus HIV karena lifestyle atau sesuatu yang mereka lakukan... we are human after all. Kita nggak punya hak untuk men-judge atau berkata hal buruk tentang mereka. Mari kita mencoba menilai seseorang 'melewati' apa yang ia idap. Perlakukan setiap orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Terdengar klise dan sangat PPKN, ---but it works, haha, trust me. Kenapa kita mengucilkan seseorang sebelum mengenalnya lebih jauh? Padahal kita nggak tahu apa pengaruhnya orang itu terhadap diri kita, ---bahkan orang banyak jika saja diberikan kesempatan.

Gue pakai Mika sebagai contoh kecilnya saja, bahwa banyak orang di sekitarnya yang miss out dengan kepribadian luar biasa Mika (---saat mengetik ini pun gue tiba-tiba teringat dengan aksi ala 'rockstar' nya yang membanting gitar imajiner, hahaha). Kita mungkin pernah membaca berita tentang seorang anak yang dikucilkan atau diusir dari desanya karena ia mengidap HIV. Atau malah pernah menonton video tentang anak yatim piatu yang sulit diadopsi karena ia mengidap HIV. Coba bicarakan tentang HIV/AIDS, speak up, ---edukasi diri sendiri dengan fakta-faktanya maka 2 headline tersebut akan terasa janggal karena tiba-tiba kita nggak lagi melihat ada kata "HIV" di judulnya. Siapa yang tahu di masa depan apa yang terjadi dengan anak-anak itu? Mereka bisa saja calon penemu hebat, calon pemimpin hebat, ---siapa tahu. Dan kita missing out hanya karena menolak kehadiran mereka.

Scoliosis dan HIV/AIDS Sekarang

Things get better, gue percaya itu. Perjalanan memang masing panjang. Bahkan keluarga besar gue belum 100% menerima baik tentang scoliosis (baca: kalau scoliosis itu nggak lebih dari masalah kosmetik a.k.a nggak penting) juga tentang HIV/AIDS. Tapi gue percaya nggak ada hal yang sia-sia, dan yang instan pun belum tentu baik. Gue menikmati perjalanan gue dalam memasyarakatkan scoliosis dan menghapuskan stigma pada ODHA. Gue nggak akan pernah berhenti speak up dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun itu. Kalau ini film Toy Story, situasi sekarang mirip seperti saat Woody dan teman-teman melihat claws saat hampir dibakar di pembuangan sampah. "I see the light", hehehe (---eh, kok malah film Tangled, lol). Sepupu gue yang berusia 10 tahun bisa secara santai berbicara tentang bagaimana HIV bisa menjangkiti tubuh seseorang tanpa di "sssh" oleh orangtuanya karena dianggap tabu. Dan gue pun bisa tersenyum lebar ketika ipar gue bercerita bertemu dengan seseorang yang menggunakan brace di luar baju dengan penuh percaya diri. 

Sekali lagi, I believe things (will) get better. Berpura-pura nggak melihat apa yang terjadi di sekitar kita nggak membuat situasi menjadi lebih baik. Speak up, ---beritahu dunia bahwa kita ada. Bukan karena ingin diistimewakan tapi karena semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan :)

Lagu yang gue ciptakan untuk teman-teman istimewa :) #scoliosisawareness

the girl with cheeky spine,

Indi

_____________________________________________________
*Ingin mensupport gue dengan memiliki karya-karya gue? Klik www.homerianshop.com dan ketik judul novel gue (Waktu Aku sama Mika/Karena Cinta Itu Sempurna/Guruku Berbulu dan Berekor) di kolom "cari".
*Ingin berkontribusi untuk novel Guruku Berbulu dan Berekor Part 2? Kirim cerita menarik dan menginspirasi kalian dengan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com. Royalti untuk didonasikan ke penampungan hewan.


______________________________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 04 Januari 2017

Dream Come True 2016: Berduet dengan Para Idola! :)

Wah, sekarang rupanya sudah tahun 2017! Hihihi. New year's eve gue tertidur sebelum tengah karena kelelahan, jadi rasanya seperti mimpi kalau sudah berganti tahun :D Bagaimana nih dengan malam tahun baru teman-teman? Semoga menyenangkan, ya. Dan kalau ada yang main petasan semoga nggak menganggu lingkungan sekitar. ---Ups, curhat nih, soalnya Eris anjing gue yang super imut semalam benar-benar nggak bisa tidur karena kaget dengan suara petasan dan kembang api, hiks :( Lingkungan rumah orangtua gue memang ajaib, kalau siang sepertinya penghuninya orang dewasa semua. Tapi di malam tahun baru, entah darimana asalnya bocah-bocah itu datang, ---dan orang dewasanya malah hilang, hehehe.

Ah, tapi sudahlah. Gue maklumi saja jika ributnya satu tahun sekali. Asalkan jangan sering-sering karena bisa-bisa yang stress bukan cuma Eris, tapi seisi rumah :D Mungkin saja mereka begitu riuh merayakan pergantian tahun karena sangat happy bisa menjalankan semua resolusi tahun 2016, hehehe. Gue juga pasti supeeeeer happy kalau goals gue tercapai. Ya... meski nggak sampai main-main petasan, sih. Cukup menangis haru sambil berdiri di atas kasur sementara di playlist terdengar lagu "Climb Every Mountain", lol. Teman-teman sendiri bagaimana? Ada yang menulis resolusi kah? Dan bagaimana hasilnya? Well, gue sendiri nggak literally menulisnya lalu menempelnya di tembok. Tapi gue memang punya beberapa hal yang ingin dicapai di tahun 2016. Salah satunya menerbitkan buku kelima yang sayangnya harus tertunda karena masalah 'pribadi' :( Syukurlah meski begitu ada resolusi lain yang tercapai dan gue sangat bangga karenanya! :)

Tahun 2016 adalah tepat satu tahunnya gue mengenal ukulele. Dan sejak pertama kali memainkannya gue langsung jatuh cinta, hihihi. Awalnya gue memainkannya hanya untuk diri sendiri dan sesekali menguploadnya ke YouTube. Tapi komentar-komentar viewers ternyata membuat gue lebih semangat belajar dan, ---ehm berani untuk bernyanyi :p Dalam proses belajar, gue terinspirasi dengan beberapa musisi YouTube senior. Nggak selalu yang sama-sama memainkan ukulele, tapi gue salut dengan kreatifitas dan konsistensi mereka dalam berkarya. Apalagi sampai bisa menghasilkan karya viral. Wah, gue sih ditonton sama 100 viewers yang isinya kalau nggak teman ya saudara saja sudah girang banget, hehehe :p Saat melihat video-video mereka kadang gue berandai-andai bagaimana rasanya kalau bisa berkolaborasi dengan mereka. Gue tahu kesempatan itu nggak akan datang secara ajaib, jadi gue berusaha meningkatkan kemampaun diri dulu agar layak untuk bekerja bersama mereka. Siapa sangka di tahun 2016 impian gue terwujud! :D Gue bisa berkolaborasi dengan beberapa dari mereka, ---dan bahkan salah satu dari mereka ingin membawakan lagu original karya gue! Waaaah, saat mengetik ini pun gue masih nggak menyangka :')

1. Berkolaborasi (ramai-ramai) dengan Pockets, si "Legenda" Kazookeylele (Skotlandia)



Gue suka sekali dengan Red Hot Chili Peppers, terutama era John Frusciante dan karya-karya solonya John sendiri. ---Well, kalau sering mampir ke channel "Indi Sugar Taufik" mungkin nggak perlu disebutkan lagi karena sebagian besar yang gue bawakan ya cover lagu mereka, hehehe. Suatu hari di awal tahun 2016, di list rekomendasi YouTube gue melihat judul video yang sangat menarik perhatian; Red Hot Chili Peppers -Can't Stop - Ukulele -Pockets. Tanpa berlama-lama langsung saja gue klik, dan... whoah, gue amaze dengan permainan Pockets, yang nggak hanya memainkan ukulele tapi juga alat musik lain. Saking amazenya, gue sampai langsung menonton videonya dua kali berturut-turut dan setelahnya baru ingat untuk berkomentar, hehehe :p Gue bilang kalau ia "awesome", lalu beberapa menit kemudian Pockets membalas dan kami berbincang sedikit.  Gue pikir, ---well sepertinya timingnya yang tepat karena kami online di waktu bersamaan (waktu itu hampir pukul 2 pagi). Jadi gue 'cuma' lucky bisa kebetulan berbicara dengannya.  

Tapi ternyata bukan kebetulan, nggak lama setelah itu Pockets menjadi salah satu subscribers di channel 'alakadar' gue. Bahkan di salah satu videonya ia menyebut gue sebagai "orang ter happy yang pernah ia lihat" dan meminta fans nya untuk berkunjung ke channel gue! Aww, gue senang sekali, ---plus malu-malu karena rasanya gue nggak ada apa-apanya dibanding ia :'D Sedikit tentang Pockets, kalian mungkin pernah melihat video viral "Skateboarding Lobster", nah lagu yang kalian dengar di latar asalnya dari video Pockets. Pada tahun 2008 ia membuat video cover "The Final Countdown" dari Europe dengan alat musik uniknya yang bernama kazokeylele. Video itu sekarang sudah ditonton sebanyak LEBIH dari tujuh juta kali dengan total channel views sebanyak LEBIH dari 10 juta kali (gue ngetiknya gemeteran, lol). Tapi bukan video itu saja lho yang keren. Coba deh kalian kunjungi channelnya, kemungkinan besar kalian menemukan lagu favorite di sana karena genre musik yang Pockets bawakan luas sekali. Ia bahkan punya beberapa lagu original.

Singkat cerita, di bulan Mei 2016 Pockets mengajak subscribersnya berkolaborasi dengannya. Gue ingin sekali mengikutinya, tapi sayang kemampuan bermain ukulele gue belum 'selumayan' hari ini. Di lagu yang akan dibawakan, "With a Little Help from My Friends" ada beberapa chords yang belum akrab di jari-jari gue. Gue berlatih, berlatih dan berlatih, ---tapi sampai hampir deadline permainan gue masih juga fals, hahaha (ukulele kalau fals nyakitin telinga, lho). Gue pun berterus terang padanya dan guess what?! Gue diziinkan untuk bernyanyi tanpa harus bermain ukulele :'D Jadilah gue menjadi bagian kecil di "The Biggest Ukulele Collaboration" bersama 12 kolaborator lainnya yang berasal dari berbagai negara. Yang membuat gue semakin terharu, videonya diupload 2 hari saja sebelum gue berulang tahun. Jadi rasanya seperti early birthday present dan ulang tahun gue dirayakan bersama mereka :'D Sampai hari ini, kolaborasi Pockets adalah yang terbesar untuk gue. Sampai kapanpun akan gue kenang meski mungkin suatu hari ada yang lebih besar lagi. ---Apalagi berkat kolaborasi ini setelahnya gue jadi tahu cara memainkan "B", hahaha.



2. Berkolaborasi Membawakan Lagu Ciptaan Gue dengan Shane Combs, Artist yang Kreatif (Amerika)



Cerita kolaborasi gue dengan Shane agak ajaib. Jika Pockets adalah pribadi yang upbeat dan cepat akrab, Shane justru kebalikannya. Gue menemukannya dari video-video cover John Frusciante yang ia buat. Seperti biasa, gue selalu excited tingkat tinggi jika ada yang membawakan lagu dari idola gue. Apalagi Shane ini berbeda, covernya begitu raw tapi penuh penjiwaan. Hmm, gimana ya menjelaskannya, ---well produce tapi nggak over produce. Gue betah sekali berada di channelnya dan cukup sering juga meninggalkan komentar meski nggak pernah dibalas :p Menurut gue nggak masalah sih mengekspsresikan kekaguman pada idola, nggak perlu berharap apa-apa karena apa yang gue sampaikan itu tulus :) Suatu hari gue menemukan komentarnya di salah satu video Princess Chelsea (check her music, she's amazing). Karena kaget ia mendengarkan musik yang sama dengan gue, gue pun me-reply nya dengan bilang bahwa gue surprise melihat ia di sini. Dan ternyata yang membuat gue lebih surprise lagi adalah jawabannya. Ia bilang ia tahu Princess Chelsea dari video cover yang gue buat! Oh, ya ampun, ternyata diam-diam ia menengok channel gue meskipun nggak meninggalkan komentar! Hahaha, lagi-lagi gue malu :p

Di akhir bulan Oktober gue mengupload lagu ciptaan gue yang berjudul "One Day". Lagu ini gue ciptakan di tengah malam waktu tiba-tiba saja ada nada random yang terlintas di kepala gue, hihihi. Lagunya jauh sekali dari "rapi", apa yang gue upload adalah percobaan pertama waktu merekam dan volumenya nggak diubah sama sekali. Tapi rupanya (SURPRISEEEEEE) lagu ini menarik perhatian Shane. Ia meninggalkan beberapa komentar yang isinya antara lain bertanya tentang chords lagu "One Day", bahwa ia play along dengan lagu gue, bertanya tentang kontak gue... dan akhirnya mengajak kolaborasi! Wah, saking senangnya gue sampai laporan sama si Bapak. "Pak, Pak, akhirnya aku di notice dong sama Shane." Huahahaha. Ehm, ---selanjutnya kami pun berkomunikasi via private message. Tadinya Shane ingin kami membawakan lagu "One Day". Tapi menurut gue liriknya begitu girly (---tentang perempuan yang berkhayal akan bertemu pangerannya, lol), jadi gue tawarkan saja lagu lain yang gue ciptakan tahun 2015 lalu. Judulnya "Secret Note to John". Gue rasa ini lebih cocok karena lagunya memang gue tulis sebagai ucapan terima kasih pada John Frusciante yang musiknya telah membantu gue melewati masa-masa sulit ketika ditinggal Alm. Mika. Shane setuju, dan ia ingin lagunya apa adanya tanpa mengubah apa yang gue buat. Ia hanya akan menambahkan gitar, drum, backing vocal dan mixed lagunya agar lebih enak didengar. (Tapi gue putuskan untuk memberikan space agar ia bisa memasukan solo gitarnya yang keren).

Pengerjaannya sangat singkat. Kami hanya begadang 2 malam (perbedaan waktunya besaaaar sekali) dan semuanya selesai. Meski gue much much much smaller YouTuber (account nya memiliki lebih dari 8 juta viewers!) tapi ia sangat mendengarkan pendapat gue, --- dan itu membuat gue semakin kagum dengannya. Shane juga membuat artwork khusus untuk lagu ini yang gue gunakan sebagai latar untuk video clip nya. Kehadiran Shane di "Secret Note to John" membuat lagu sederhana gue menjadi lebih berwarna. Sampai-sampai Bapak, sebagai orang pertama yang mendengar lagu ini ketika pertama kali gue ciptakan, kagum karena terdengar pangling, hehehe. Hubungan gue dan Shane pun berubah menjadi nggak terlalu canggung setelah kami berkolaborasi. Ia bahkan menyemangati gue untuk membuat album sendiri dan kami berencana untuk membuat lagu bersama. Hmmm, bagaimana teman-teman, apa membuat album bisa gue masukan ke dalam list resolusi tahun 2017? Hehehe.


3. Kolaborasi Beda Generasi dengan Ukuleleist Senior, John Pak (Jepang)



Gue sudah lupa bagaimana awalnya menemukan channel John Pak, yang pasti beliau adalah salah satu pemain ukulele pertama yang channelnya gue subscribe. Meski viewersnya sudah lebih dari satu juta (---gue baru dua ratus ribuan, hehe) tapi John cukup rajin membalas komentar-komentar penggemarnya. Selain permainan ukulelenya, gue juga kagum dengan kreatifitasnya dalam membuat video. Lagu apapun yang dibawakan, pasti videonya keren dan cocok. Meski John cukup rajin berkolaborasi, tapi gue merasa nggak pantas untuk satu video dengannya. Bukannya gue merendah, tapi gue tahu diri, hehehe. Terbukti, di akhir 2015 lalu gue terpaksa menolak ketika (akhirnyaaaa) diajak berkolaborasi karena lagunya terlalu sulit :( Gue sedih bukan main, tapi gue dan John tetap berteman baik :) Mungkin karena perbedaan usia kami yang jauh, John jadi sangat care dengan gue. Bahkan pernah suatu kali ia mengirimi gue gantungan handphone Hello Kitty edisi khusus Hawaii karena tahu gue mengoleksi benda-benda bergambar si kucing girly itu. Ibu dan Bapak pun nggak segan untuk menitipkan salam padanya karena gue sering menunjukan video-videonya.

Di penghujung tahun 2016 akhirnya tawaran berkolaborasi datang lagi! OMG, I'm so thrilled!:D Sebagai tribute bagi Charmian Carr, actress yang memerankan Liesl di "The Sound of Music", John ingin kami membawakan lagu "Sixteen Going on Seventeen". Gue tentu langsung saja mengiyakan karena selain kesempatan ini sudah ditunggu-tunggu, Liesl juga tokoh yang paling gue sukai di film! Bahkan sebelum kolaborasi ini pun gue sudah hapal dengan part nya Liesl. Ada cerita konyol, nih, beberapa tahun lalu waktu bekerja di preschool, gue dan Miss. Rifa (lead teacher gue di kelas) sukaaaa banget ngobrolin adegan Liesl waktu dansa terus dicium di tengah hujan. Kami selalu bilang, "Mau dong jadi dia," hahahaha. Nggak kebayang kalau Miss. Rifa tahu sekarang impian gue "menjadi" Liesl benar-benar terwujud :p  Oh iya untuk kolaborasi ini John saja yang bermain ukulele, gue hanya bernyanyi. Sebenarnya gue ingin sekali bermain ukulele dengannya. Tapi kata Bapak lebih baik gue ikuti saja karena yang mengajak pun John, dan beliau yakin kesempatan akan datang lagi :)

Waktu part suara gue direkam sebenarnya kondisi gue lagi sedikit uhuk-uhuk. Mungkin karena kebanyakan makan yang manis-manis, ---maklum hari curang akhir tahun, hehehe. Gue berusaha sebaik mungkin, tapi tetap hasilnya nggak "selumayan" biasanya. Syukurlah John bilang suara gue bagus, dan itu membuat rasa "bersalah" gue berkurang :') Tepat sebelum tahun baru kolaborasi kami selesai diedit. John sebelumnya sudah memberitahu konsep video clipnya, tapi tetap saja ketika melihatnya langsung gue amaze! Gue seolah-olah sedang berada di dalam frame foto dan bergerak untuk bernyanyi bersama John. Rapi sekali. Siapa yang menyangka kalau semuanya dilakukan di dua negara berbeda :D Dan ternyata kejutannya belum selesai, John bilang di tahun 2017 ini kami harus berkolaborasi lagi dan kali ini idenya diserahkan pada gue. Ya, ampun... nggak apa-apa deh kalau kalian mau bilang gue lebay. Tapi reaksi gue benar-benar seperti Liesl yang teriak "Wiiiiiii" sambil hujan-hujanan, hahaha :)


Gue benar-benar happy dan bersyukur dengan hal-hal yang terjadi pada gue di tahun 2016 kemarin. Iya, semua, ---termasuk beberapa hal yang agak menyedihkan kalau dibahas di sini. Karena gue percaya setiap hal terjadi karena suatu alasan. Gue sudah berusaha keras untuk novel gue, tapi ternyata gagal untuk selesai tepat waktu. Tapi hey, lihat sisi baiknya. Ketika mentok ide menghampiri, gue punya lebih banyak waktu luang untuk belajar benyanyi dan bermain ukulele. Dan setelahnya justru inspirasi jadi mengalir lebih lancar :D Di tahun 2016 juga gue (lagi-lagi) belajar bahwa sesuatu yang awalnya dikira nggak mungkin bisa saja terjadi. Mungkin selama ini kita menganggap bahwa idola itu unreachable, padahal mereka juga sama seperti kita; manusia, hehehe. Untuk di notice oleh mereka kita nggak perlu begging atau caper, tapi cukup menjadi diri sendiri dan tunjukan kemampuan kita. Gue tahu, gue masih harus banyaaaaaaak belajar, ---but I'm sure I'm getting better :) Jadi bagaimana bloggies, sudah siap menghadapi tahun 2017? Share rencana kalian di kolom komentar, ya. ---Dan... of course, doa terbaik untuk kita semua. Selamat tahun baruuuu! :)

QOTD: Kapan ya ada musisi lokal yang notice gue dan mengajak kolaborasi? :p


ukulele girl yang kadang gak main ukulele, lol,

Indi

______________________________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Vegan tapi Junk Food? Kok Bisa? :O