Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Minggu, 26 April 2015

Menjadi Salah Satu dari 22 Perempuan Hebat di Kartini Next Generation Awards 2015. Boleh pingsan?? :D

Semuanya terasa begitu cepaaaaaat. Saking cepatnya gue jadi nggak punya waktu untuk shock dan harus mulai mempersiapkan semuanya...

Ketika baru bangun tidur gue mendapatkan mention di Twitter dari Ayu. Isinya begini; "kamu ada di urutan nomer 16 seleksi tahap awal @KartiniNextGen kah???"
Oh, wait... WAIT! Mata gue yang masih lengket seketika mendadak segar. Otak gue pun langsung berputar. Kartini Next Generation? Apa itu? Memangnya kapan gue daftar?? Satu menit... dua menit... Astaga!! Rupanya gue pernah mendaftarkan diri tahun lalu tapi nggak lolos. Dan gue sudah lupa karena nggak berharap untuk masuk sebagai finalis. Ya, Tuhan... segera gue bangkit dari tempat tidur untuk keluar dari kamar dan mau mengabari Ibu dan Bapak. Tapi belum juga membuka pintu, HP gue berbunyi. "Halo?" tanya gue karena nomornya nggak dikenal.
"Selamat siang Indi, saya dari Kartini Next Generation. Selamat ya, mbak masuk sebagai finalis. Penjurian tahap akhirnya tanggal 20 April di Jakarta... bla bla bla... blaaa."
Tanggal 20? Itu sih cuma 2 hari lagi! Ya, ampun.... *pingsan*

***

19 April 2014
Gue, Ibu dan Bapak berangkat ke Jakarta. Sengaja kami memilih malam-malam agar nggak terlalu macet. Panitia sudah menyediakan kamar hotel di Grand Cemara untuk kami supaya gue nggak terlambat untuk penjurian besok pagi. Sepanjang perjalanan Bapak dan Ibu penasaran berat kenapa gue bisa jadi finalis KNG. "Kapan daftarnya?", "Kok nggak bilang-bilang?" daaaan seterusnya. Padahal gue juga sama bingungnya dengan mereka. Gue happy dan bersyukur, of course. Tapi juga deg-degan karena ketika membaca profile finalis lain, semuanya sudah hebat-hebat :'D

Kartini Next Genaration Award ini adalah event bergengsi tahunan yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yang diselenggarakan bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ini adalah sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada kaum perempuan di Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di berbagai bidang baik untuk peningkatan kapasitas, pengetahuan, e-literasi maupun kesejahteraan di masyarakat. 
Dan tema tahun ini adalah "Woman as a Driver of Progress”, yaitu penghargaan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang telah memberikan kontribusi nyata berupa kepemimpinan, keteladanan serta upaya tertentu yang mendorong terjadinya perbaikan kualitas dan kemajuan di lingkungannya secara konsisten serta memberikan dampak positif bagi banyak orang dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Wow banget, kan? Gue sampai nggak mau ingat-ingat selama di mobil. Takutnya malah nervous terus nangis, hahaha.

Perjalanan terbilang sangat lancar. Kami hanya berhenti 1 kali di rest area untuk makan dan peregangan sana-sini supaya nggak pegal, lalu dilanjutkan kembali. Yang lucu justru ketika hampir sampai, kami salah masuk hotel karena namanya mirip. Harusnya Grand Cemara, tapi malah ke Hotel Cemara. Padahal kami sudah menunggu beberapa menit lho karena mbak resepsionisnya sedang sibuk. Rupanya sebelum kami sudah ada beberapa finalis yang juga salah hotel, hahaha.

Sebelum makan malam :)

Sudah pakai outfit nyaman untuk tidur di mobil, hihihi.

Syukurlah jaraknya ternyata nggak terlalu jauh. Kurang dari 10 menit kami sudah tiba di hotel yang benar. Finalis dan panitia lain nampaknya sudah beristirahat. Jadi tinggal gue dan orang tua gue lah yang berlalu-lalang di lobby. Karena sudah larut kami langsung ganti baju dan naik ke atas tempat tidur. Tapi gue dan Bapak nggak langsung istirahat lho, kami berlatih dulu untuk presentasi di penjurian besok paginya. Gue sampai tertawa-tawa kencang (mudah-mudahan nggak mengganggu tamu lain, ya, lol) karena Bapak berpura-pura menjadi juri. Tapi tentu saja pertanyaannya banyak yang nggak serius, hahaha.

Syukurlah kami dapat twin bed room, jadi gue bisa tidur sendirian :D

Ini Onci, boneka yang selalu ikut sama gue sejak usia 8 tahun :)

Haish si Bapak, hahaha.

Berlatih presentasi menggunakan flash cards. Thank you so much untuk Irfan yang bantuin bikin ini 1 malam sebelumnya:'D



20 April 2015

Pakai dress batik rangrang desain gue dan buatan Ibu :)

Rupanya gue jadi salah satu finalis yang datangnya paling cepat, hahaha. Waktu gue dan orang tua tiba di Gedung BPTT Thamrin suasana masih sepi. Kami 1 lift dengan Ibu Dewi Motik yang juga kebingungan dengan senyapnya suasana (hiiiiiii...). Beliau rupanya sebagai juri untuk kelompok A, sedangkan gue sendiri berada di kelompok B. Karena sepinya gedung kami sempat beberapa kali salah masuk, syukurlah di lantai 3 tanda-tanda kehidupan mulai muncul. Ada beberapa panitia yang sedang mempersiapkan acara penjurian. 

Bersama Nadhira, sama-sama dari Bandung dan sama-sama tahu mendadak :D

Sebagian finalis Kartini Next Generation Award 2015 :)

Nggak lama kemudian finalis lain mulai tiba satu persatu. Gue jadi satu-satunya yang didampingi orang tua, karena rupanya finalis lain nggak tahu kalau boleh ditemani oleh pendamping. Jadi para suami dan keluarga malah menunggu di luar. Bapak dan Ibu jadi agak canggung karena di ruangan hanya ada finalis, juri dan panitia, tapi gue tetap meminta mereka untuk stay supaya perasaan gue lebih tenang :D Tapi lama-lama gue membiarkan Ibu dan Bapak berjalan-jalan karena suasana semakin hangat. Para finalis sudah mulai saling mengobrol seru. Gue bahkan langsung menemukan teman. Namanya Nadhira, ia juga finalis asal Bandung yang berhasil mengolah garam mentah berkualitas asli Indonesia (tuh kah hebat)

Kami dari berbagai daerah di Indonesia! Sebenarnya ada seorang finalis lagi tapi ia tinggal di Amerika.

Para juri yang baik-baik, hihihi.

Sebelum penjurian dimulai diadakan dulu doa bersama dan beberapa pidato. Rasanya hati ini jadi penuh haru... Nggak menyangka saja kalau gue ternyata menjadi salah 1 dari 22 perempuan Indonesia yang terpilih menjadi finalis. Apalagi waktu kami bernyanyi lagu Indonesia Raya, langsung semi-semi menangis (hihihi, nggak mau ngaku nangis).
Somehow hati gue lebih tenang, mungkin karena semalam telah berlatih bersama Bapak. Jadi waktu diberi tahu bahwa gue adalah peserta pertama yang dipanggil untuk penjurian (iya, PERTAMA), gue langsung melangkah dengan mantap ke depan para juri.

Setelah menyapa para juri (Septiana Tangkary, Jetti R. Hadi, Sri Safitri, Ashwin Sasongko, Sigit Widodo, Carlia Isneniwati, Gemala Hatta) gue langsung mengeluarkan setumpuk flash cards dari dalam tas. Iya, gue nggak pakai power point atau semacamnya. Meskipun judulnya memanfaatkan TIK, buat gue kalau bertemu langsung lebih baik sampaikan secara konvensional, supaya lebih akrab :) Dengan senyum yang (diusahakan) percaya diri gue mulai pun memulai presentasi; "Pada suatu hari, seorang laki-laki dan perempuan saling jatuh cinta..."

Sedang mendongeng di hadapan juri :)

Iya, gue mendongeng di hadapan juri. Ibu bukan karena ingin unik atau berbeda, tapi ini yang ternyaman untuk gue lakukan. Gue sempat menjadi lead teacher di preschool dan sangat menikmati story telling, jadi kenapa nggak gue gunakan sekarang? 
Cerita gue dimulai dengan Ibu dan Bapak yang saling jatuh cinta, lalu mempunyai seorang anak perempuan, yaitu gue. Ketika remaja gue divonis mengidap scoliosis oleh dokter dan gue pun merasa sedih. Tapi Ibu dan Bapak selalu mendukung dan percaya dengan kemampuan gue. Ditambah gue berkenalan, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang sangat suportif, semakin bertambahlah percaya diri gue. Di itu gue menyimpulkan bahwa kasih sayang ternyata bisa membuat seseorang menjadi kuat. Setelah Mika meninggal, gue mulai membagi kisah-kisah gue di internet. Tadinya hanya untuk mencurahkan perasaan, tapi ternyata banyak pembaca yang merasa "nggak sendirian" atau "terwakili" dengan cerita gue. Kasih sayang ternyata nggak perlu langsung bertemu dengan internet pun kita bisa berbagi, dan... gue rasa teman-teman sudah tahu dengan sisa kisah gue, kan :)

Karya-karya gue. Gue juga bercerita bahwa lewat internet gue bertemu dengan banyak orang hebat :)

Gue amaze karena para juri excited dengan presentasi gue, sampai-sampai waktu 30 menit pun ngggak terasa. Mereka bertanya banyak hal, termasuk visi dan misi ke depan gue dalam bidang kesehatan khususnya scoliosis dan HIV/AIDS. Yang menarik Ibu Gemala Hatta (yup, beliau adalah salah satu putri Bung Hatta) memberikan gue pesan yang sangat berharga. Katanya gue harus mengajak scolioser lain untuk berkarya. Gue jangan berhenti membuat buku, ceritanya boleh apa saja tapi selipkan pesan-pesan tentang kesehatan. Katanya di Indonesia banyak pengidap scoliosis yang belum "terdaftar" karena scolioser banyak yang pengetahuannya masih minim. Aduh, gue terharu sekali... Dan yang bikin gue bahagia, seluruh juri baiknya minta ampun, mereka ramah dan bersahaja. Gue sudah lupa dengan perasaan ingin muntah, deh, hehehe. 

Begitu keluar ruangan wajah gue dan orang tua gue langsung sumringah. Legaaa :D


Masih 20 April 2015, siang hari

Karena menjadi peserta pertama yang melewati proses penjurian, gue pun diizinkan untuk pulang terlebih dulu. Gue dan orang tua putuskan untuk kembali ke Bandung karena masih harus bersiap-siap untuk hari penobatan lusa.  Hati gue lega bukan main, sepanjang perjalanan pulang bibir gue terus tersenyum. Bukan hanya karena bisa menjadi finaslis KNG 2015 yang membuat gue bangga, tapi gue juga bangga karena bisa mengalahkan rasa takut untuk melakukan sesuatu yang baru.
Ibu dan Bapak nggak henti-hentinya memuji gue, katanya mereka bangga mempunyai putri seperti gue. Uh, kalau saja gue nggak malu-malu kucing sudah nangis bombay nih pasti, hehehe.

Di perjalanan pulang gue ketiduran, waktu buka mata sudah di rest area :D

Ih, belum mandi dari kemarin, hahaha :D

Bapak dan Ibu, katanya beliau bangga sama gue. Thank God... :)

Gue masuk sebagai finalis dalam bidang "Kesehatan dan Lingkungan Hidup". Masih banyak yang harus gue pelajari, pengalaman gue masih imut ---seimut ukuran sepatu gue, hehehe. Menjadi finalis KNG mudah-mudahan semakin memantapkan langkah gue ke depan, karena hal besar tentu dimulai dari hal kecil. Terima kasih kepada Tuhan YME atas semua berkah yang telah (dan akan) Ia diberikan. Kepada Ibu, Bapak, keluarga, Ray, juga teman-teman termasuk teman-teman di blog ini. Waktu penjurian gue juga bercerita tentang kalian, lho. I'm blessed to have you, guys! Sampai bertemu di post report gue tentang hari penobatan. See ya! :)

blessed daughter,

Indi

Kamis, 23 April 2015

Kulit Kering Gue Akhirnya Ada Tandingannya! (JAFRA Review)


Namanya sih sudah sering dengar, katanya yang pakai juga sudah banyak tapi gue sama sekali belum pernah coba. JAFRA, brand yang belakangan sering disebut teman-teman di kontak BBM akhirnya membuat gue penasaran. Sebagai bukan pengguna kosmetik (hehehe, pakai bedak dan lip gloss buat gue=dandan) biasanya gue cuek jika ada yang menawari. Tapi dengan banyaknya review yang gue baca, akhirnya jadi tertarik mencoba :D

Sebelum sempat membeli, eh tiba-tiba saja Yui (teman) bilang mau mengirimi gue produk JAFRA. Jelas gue langsung nyengir lebar. Kok dia kaya bisa baca pikiran gue, ya? Hehehe. Karena Yui tahu kalau gue nggak pernah pakai make up, ia menawari gue produk perawatan kulit. Wah, gue baru tahu kalau ternyata bukan hanya ada kosmetik, tapi JAFRA juga ada produk face-body care dan juga parfumnya. Setelah bertanya-tanya singkat, akhirnya gue setuju untuk dikirimi Royal Olive Body Lotion.



Sebagai penggemar lotion (yup, kulit tubuh gue sensitif dan kering), gue sudah pernah mencoba berbagai macam brand dan jenis. Kesan pertama gue ketika mencoba Royal Olive Body Lotion; aromanya haruuuum sekali. Menenangkan sekaligus mewah. Kulit gue juga terasa lembab waktu pertama kali mengoleskan lotionnya. Tapi itu waktu yang terlalu dini untuk memberikan penilaian, jadi gue menggunakan dulu Royal Olive Body Lotion hingga habis setengahnya baru menulis review ini ;)

Beberapa hari pemakaian kulit gue terasa lebih lembab, terutama di bagian sikut dan lengan atas. Well, terkadang memang harus diulang beberapa kali sehari agar lembabnya lebih tahan lama, tapi menurut gue sih wajar-wajar saja karena bisa saja lotionnya hilang karena aktivitas sehari-hari. Ketika penjurian Kartini Next Generation pun gue membawa lotion ini untuk bekal menginap di hotel. Jakarta cuacanya puaaanaaaas, dan Royal Olive Body Lotion bisa membuat kulit gue terasa lebih sejuk.



Over all gue suka dengan produk ini, soalnya terasa nyaman bahkan untuk di kulit super sensitif seperti gue. Menurut Yui semua produk JAFRA memang aman untuk orang seperti gue juga ibu hamil dan menyusui. Apalagi bebas alkohol, pork dan nggak diuji cobakan pada hewan. Bikin makin tenang pakainya, hehehe. Kalau satu botol lotion ini sudah habis, sepertinya gue akan membeli sendiri produk ini, soalnyauntuk menemukan produk yang cocok untuk gue memang agak sulit.

Kalau teman-teman tertarik dengan Royal Olive Body Lotion dan produk JAFRA lainnya (kosmetik dan parfum) bisa whatsapp atau Line Yui di 08997571234 atau BBM ke 75E55848 untuk pertanyaan dan pemesanan. 
By the way, salah satu alasan kenapa gue nggak tertarik dengan make up adalah kulit gue yang sensitif. Tapi berhubung JAFRA produk yang aman, mungkin gue akan mulai sedikit berdandan.... Hmm, let's see! :p

loveyourskin,

Indi

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 21 April 2015

Cerita Shooting "Majalah Pagi" TV One ala Indi :p

Tanggal 18 April 2015 lalu rumah gue ---well, rumah orang tua gue sih sebenarnya, hehehe--- kedatangan tamu istimewa. Mereka adalah kru "Majalah Pagi" dari TV One. Sekitar 2 minggu sebelumnya mereka sudah menghubungi Ray untuk meminta izin meliput kegiatan gue sehari-hari. Tentu saja dengan senang hati gue setuju, asalkan Eris boleh ikut shooting :p *just kidding*

Sekitar jam 1 siang mereka tiba dan langsung menjelaskan pada gue konsepnya. Gue akan muncul pada sebuah segmen yang berisi kegiatan gue ditambah wawancara singkat. Setelah gue mengerti dan kami deal (yes, gue memang "agak" cerewet kalau masalah isi liputan, hehehe) shooting pun langsung dimulai, ---tepat ketika matahari sedang terik-teriknya! :'D

Yang pertama diambil adalah scene gue sedang menulis novel. Well, gue memang sedang mengerjakan novel baru, tapi kalau diminta menulis sungguh-sungguh dengan kamera di belakang gue ya agak sulit karena merasa diawasi. Ini seperti deja vu karena beberapa tahun lalu pernah ada stasiun TV yang meliput gue ketika sedang menulis novel ketiga. Waktu itu gue cuma nulis random dan berharap cameraman nggak iseng zoom in tulisan gue. Nah gue berharap hal yang sama juga sekarang :p

Selanjutnya adalah scene 'membalas pesan-pesan pembaca'. Gue membuka Facebook, Twitter, YouTube dan tentu saja dunia kecil gue ini :) Saking asyiknya gue sampai minta waktu lebih karena masih mengetik balasan di YouTube, hehehe. Karena shooting dilakukan di dalam rumah keringat gue jadi sering menetes, apalagi cuaca sedang terik dan ditambah lampu sorot. Meski begitu gue bersyukur karena kru-nya menyenangkan.

Berhubung bertepatan (eh, lewat dikit, ding) dengan waktunya makan siang, jadi scene "kumpul keluarga" mengambil setting di ruang makan ketika gue, Ibu dan Bapak sedang makan. Lucunya, setelah gambar yang diperlukan terpenuhi Ibu dan Bapak memilih untuk melanjutkan makan sementara gue kembali shooting. "Sayang kalau cuma acting," begitu kata Bapak, hehehe.


Di sela-sela shooting Om cameraman mengambil gambar dari karya-karya gue (buku-buku dan film) juga sertifikat dan penghargaan yang pernah gue terima. Aduh, jumlahnya tentu belum banyak. Tapi gue merasa senang karena apa yang gue kerjakan mendapatkan apresiasi :)


Gue juga meminta bantuan Ibu sebentar untuk menemani gue di scene "mendesain baju". Hehehe, Ibu semangat sekali, sampai-sampai lupa kalau yang diliput adalah kegiatan gue, bukan beliau. Tapi nggak apa-apa, gue malah senang dan sepertinya malah membuat segmen ini semakin berwarna :D 


Ini juga jadi kali pertama permainan ukulele gue muncul di TV. Senang sekaligus ragu, soalnya jari-jari tangan kanan gue sedang terluka, kulitnya terkelupas dan berdarah lumayan banyak. Baru satu hari kemarin kering, jadi gue sama sekali nggak latihan karena masih sakit untuk dipakai strumming. Tapi gue pikir ini kesempatan bagus. Jadi dengan suara gue yang seadanya (kok mendadak nervous? Lol) dan mengandalkan jari telunjuk, jadilah my very first ukulele's performance on TV :p




Video behind the scene permainan ukulele gue bisa dilihat di sini:

Diakhiri dengan wawancara singkat di ruang tamu, tibalah scene puncak yang sangat gue tunggu-tunggu, yaitu jalan-jalan dengan Eris, hahahaha :D Ini sih sebenarnya request spesial dari gue. Sebelumnya gue sudah bilang sama Ray kalau ketika diliput nanti gue ingin ada Eris di salah satu scene. Thank God dikabulkan :'D Karena sudah menjelang magrib jadi jalan-jalan dilakukan dengan singkat. Meski begitu 'aksi' Eris tetap banyak, dari mulai makan rumput sampai peluk (baca: tabrak) kru Majalah Pagi satu persatu, hehehe. Fans Eris, alias bocah-bocah yang sering main sore di sekitar komplek pun ambil bagian di scene ini, soalnya mereka sibuk banget panggil-panggil Eris jadi mending diajak sekalian :D




Thank God prosesnya berjalan lancar dari awal sampai akhir. Meski sempat terik tapi ketika shooting di luar rumah justru cuaca berubah sejuk (menuju mendung, hehehe). Gue juga senang dan bersyukur karena diberikan kembali kesempatan untuk berbagi kisah. Semoga dengan segmen gue yang super singkat ini bisa memberikan gambaran tentang kehidupan gue sebagai penulis, pet lover, desainer, ---yang juga seorang scolioser. Bahwa kelainan atau penyakit apapun jangan sampai dijadikan sebuah 'label'. Kita semua istimewa, just the way we are! ;)

the uke girl on tv, lol,

Indi

Ps: Gue belum diberitahu kapan tayangnya. Nanti kalau sudah pasti akan gue kabari di sini. Oh iya, gue terpilih sebagai finalis Kartini Next Generation 2015. Malam penganugerahan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2015 di Gedung BPTT Thamrin Jakarta jam 1 siang. Kalau mau mampir boleh, ---atau untuk yang jauh mohon doanya, ya :))




 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Senin, 13 April 2015

Beruntung

Howdy doooo, bloggieeees? Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya. Di Bandung sedang musim hujan, bikin betah buat snuggling di tempat tidur sambil nonton DVD, hihihi. Eh, tapi petirnya cukup bikin seram, apalagi di tengah hari, waktu banyak orang beraktivitas di luar ruangan. Semoga kita semua terlindung dari bahaya, ya. Jangan lupa payung atau jas hujan dan jauhi sesuatu yang rawan rubuh jika sedang di luar ;)

Musim hujan juga bikin gue dan Eris, si golden retriever imut lebih sering beraktivitas di rumah. Meski hujannya di siang hari terkadang masih ada rintik-rintik hujan sampai sore, kalau pun reda jalanan bisa dipastikan becek. Sesekali sih gue dan Eris tetap jalan-jalan sore, tapi gue batasi, paling 2 kali saja seminggu. Soalnya Eris kalau jalan senangnya pilih-pilih yang ada kubangan airnya, hahaha. Di rumah gue usahakan Eris tetap aktif, kami main lempar tangkap atau sekedar kejar-kejaran di garasi. Pokoknya jangan sampai Eris terlalu banyak diam, karena kalau Eris banyak bergerak = olah raga gratis nan menyenangkan untuk gue, hahaha. Lucunya Eris selalu “minta” dipakaikan baju kalau main main, ---termasuk main di rumah! Gue nggak tahu kenapa ia senang sekali dressed up sementara kebanyakan anjing lain menolak kalau didandani. Yang pasti gue jadi semakin gemas dengan Eris dan langsung mengabadikan gambarnya di kamera gue :)

Main di halaman sekaligus roleplay jadi kelinci, hihihi :)

Koleksi foto Eris banyak sekali tersimpan di memory kamera dan handphone gue. Nggak jarang gue menjadikannya display picture untuk akun BBM dan whatsapp. Sampai-sampai teman-teman gue menyangka Eris yang membalas jika mereka sedang BBM-an dengan gue, hahaha (masa iya anjing bisa bisa ngetik pakai paws nya yang mirip tangan Doraemon, lol). Pemilik lama Eris, yang juga berteman dengan gue di BBM sering memberi komentar jika gue memajang foto baru Eris. Kadang sekedar candaan jika melihat Eris sedang berekspresi konyol, atau bertanya tentang kabar anjing yang dulu tinggal di Jakarta bersamanya itu. Tapi yang paling sering adalah ia mengucap syukur karena Eris dirawat oleh gue. Katanya Eris adalah “Lucky Dog”...


Jika gue ditanya tentang asal usul Eris dan menjawab bahwa Eris adalah anjing yang diberikan secara cuma-cuma, biasanya orang langsung berasumsi negatif tentang alasan mengapa Eris diberikan. Ya, sebagai orang yang aktif di grup penyanyang hewan gue juga mengerti, karena banyak sekali kasus orang yang menghibahkan hewan peliharaannya karena sudah tak sanggup mengurus atau malah (ini yang paling buruk) bosan. Tapi Eris berbeda. Sejak lahir ia dikelilingi oleh orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita dan penuh cinta. Segala keperluannya terpenuhi dengan sangat baik. Ia tinggal di rumah dengan halaman yang sangat luas dilengkapi dengan kolam renang yang bisa ia pakai kapanpun. Dan yang terpenting ia mendapatkan kasih sayang yang tulus setiap hari. Alasan mengapa Eris diberikan kepada gue murni karena kebaikan hati dan feeling bahwa secara mental gue lebih membutuhkan Eris daripada siapapun, ---termasuk pemiliknya yang telah merawat Eris sejak hari pertamanya hadir ke dunia.


Gue merasa nggak enak setiap kali pemilik lama Eris memanggilnya dengan sebutan “Lucky Dog”, karena menurut gue yang beruntung justru gue karena bisa bersahabat dengannya selama hampir 6 tahun belakangan ini. Eris sudah merubah hidup gue menjadi lebih baik. Bersama Eris saat gue sedang bahagia maka kebahagiaan gue akan berkali-kali lipat. Dan saat sedang bersedih hati gue lebih cepat terobati karena merasa nggak pernah sendirian. Eris bahkan turut berperan dengan kehadiran gue sampai saat ini. Well, gue tahu ini berkat Tuhan, tapi  Eris yang menjadi salah satu jalannya. Lewat penciumannya Eris pernah menemukan sebuah tumor besar di payudara gue. Tanpanya tumor gue mungkin memburuk karena butuh waktu lebih lama untuk terdeteksi. Jadi literally Eris telah menyelamatkan nyawa gue... Jelas sekali gue lah yang beruntung.


Tapi pemilik lamanya tetap bersikeras bahwa Eris adalah “Lucky Dog”. Katanya Eris beruntung karena bertemu gue. Ia bisa melihat raut bahagia Eris dari foto-foto yang gue ambil. “Wajahnya selalu tersenyum,” begitu katanya. Ia yakin gue menyayangi Eris dengan tulus dan itu artinya Eris sama sekali nggak berkekurangan ---meskipun tanpa kolam renang dan mainan yang banyak.
Well... sepertinya adil jika sekarang gue sebut bahwa gue dan Eris sama-sama beruntung. Karena gue yakin Eris juga menyayangi gue dengan tulus :)

Lucky girl,

Indi

Nb:
Tanggal 18 April 2015 nanti gue akan shooting taping untuk program Majalah Pagi TV One. Doakan berjalan lancar, ya. Dan of course, gue pasti akan usahakan Eris untuk ikut muncul :p

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 03 April 2015

Support Indi ke Surabaya! :)



Banyak berkah yang gue dapat sebagai penulis, salah satunya adalah bisa pergi ke tempat-tempat baru. Baik itu di luar kota, pulau atau negeri. Kalau saja gue nggak terjun ke dunia menulis mungkin tempat paling jauh yang gue kunjungi cuma warung di sebrang rumah. Itu pun wajib dengan ditemani Eris, anjing kesayangan gue, hehehe (kiddiiiiiing). Itu karena gue tipe orang yang lebih nyaman di rumah, sampai bekerja pun lebih senang di dalam kamar.  Tapi semakin lama gue semakin terbiasa dan excited, apalagi kalau diundang ke tempat yang sudah lama gue impikan.

Seperti beberapa bulan lalu ketika gue mendapat kabar akan diundang ke Surabaya rasanya super excited. Karena setiap kali mengadakan event meet and greet, banyak teman-teman pembaca di Surabaya yang bertanya kapan gue akan berkunjung ke kota mereka. Biasanya gue akan menjawab, "Mudah-mudahan secepatnya dapat undangan ke sana." Nah, sekarang akhirnya doa gue jadi kenyataan! 

Bulan Mei 2015 nanti gue diundang oleh Universitas Widya Mandala untuk sharing di sana. Serunya acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Nanti nggak hanya ada meet and greet, tapi sekaligus nonton bareng film Mika dan mendapatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dari LSM (gue belum dapat namanya) di Surabaya. Pokoknya dijamin seru dan bermanfaat.
Syarat ikutannya juga mudah, tinggal follow akun twitter @IndisFriendsSBY, dan dari sana akan diberitahu infomasi lengkapnya dari mulai tanggal, tempat dan susunan acaranya. Kalau mau memberi saran juga bisa langsung mention ke sana :D



Gue harap kunjungan pertama ke Surbaya ini berjalan lancar. Dan untuk teman-teman yang di luar Surabaya tetap support gue dengan cara follow @IndisFriendsSBY (atau bisa ke akun gue @missbabbitt), ya. Semoga akan ada tempat-tempat lain yang akan gue kunjungi. Karena bisa bertemu dengan teman-teman pembaca (dan teman-teman baru) juga merupakan berkah yang indah untuk gue. Sampai bertemu! ;)

cheers,

Indi

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 26 Maret 2015

Shooting Penuh Kejutan ala Inspira TV :)

Howdy do, bloggies? Aaaah, kangen rasanya untuk berbagi cerita di dunia kecil gue ini. Belakangan gue sedang agak sibuk jadi nggak sempat untuk menulis di sini, bahkan untu blog walking sekalipun :( Iya, gue nggak salah ketik, kok, memang “agak sibuk” bukan sibuk banget. Tapi gue memang belum punya kekuatan seperti super blogger yang bisa menyempatkan untuk mampir di sela-sela kesibukan yang banyak, hihihi. Ya, yang pasti gue selalu usahakan untuk nggak ‘asal menulis’ atau ‘asal post yang penting update’. Gue sungguh-sungguh senang berbagi di sini, jadi diusahakan sebaik mungkin ---sesedikit apapun pengunjung di blog ini. Oh, iya sekalian gue mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyak untuk teman-teman yang mengikuti cerita-cerita gue di sini. Barusan gue habis terharu-biru, soalnya baru sadar kalau followers “Dunia Kecil Indi” sudah ribuan. Padahal rasanya terakhir gue lihat masih ratusan. Sekali lagi, thank you so much, guys :’)

Gue sekarang mau cerita tentang kemarin malam, hari rabu tanggal 25 Maret 2015. Gue menjadi bintang tamu di acara “Saling Sharing” nya Inspira TV. Setiap kali gue menghadiri undangan, pasti ada warna-warninya, begitu juga kali ini. Jadi berbeda seperti stasiun TV-stasiun TV yang lain, Inspira ini semuanya serba super dadakan! Hihihi, waktu ngetik ini saja bikin jantung gue dag-dig-dug. Jadi hanya 2 hari sebelumnya Ray dihubungi oleh pihak Inspira TV untuk menanyakan kesediaan gue menjadi bintang tamu. Setelah setuju, skrip baru dikirim keesokan harinya dan hanya beberapa jam saja sebelum shooting gue diberitahu bahwa dress code nya harus baju panjang! Ya, Tuhan... sampai bengong gue baca whatsapp nya, huhuhu :’) Mungkin bagi kebanyakan orang itu bukan big deal, tapi bagi gue yang selalu menyiapkan outfit 1 hari sebelum acara, pengumuman mendadak bisa bikin pusing luar biasa. Apalagi karena jarak antara lokasi dan rumah yang cukup jauh (plus macet) gue sudah siap rapi-jali waktu membaca pesannya. Jadilah gue kembali ke kamar dan menghabiskan 10 menit ekstra untuk menatap lemari pakaian, huhuhu.
[Btw, sampai gue menulis ini pun masih belum tahu alasan kenapa harus pakai outfit berlengan dan menutupi kaki. Karena biasanya gue hanya diberitahu harus memakai casual atau formal. Dan dress-dress yang biasa gue pakai nggak ada yang terlalu terbuka, bahkan banyak diantaranya yang aman digunakan untuk menghadiri acara Ramadhan di TV. Tapi setiap stasiun TV pasti punya aturannya masing-masing and I’m totally okay with that. Hanya saja diberitahu lebih awal pasti akan lebih baik *smile* ]
Last minute outfit. Kata Bapak nggak match, and I know it :p

Shooting dijadwalkan pukul 19:00 WIB di lantai 2 Rockstar Music Cafe Bandung. Tapi ternyata diundur menjadi sekitar pukul 20:00 WIB karena ada trouble dengan peralatan mereka. Sambil menunggu, gue yang diantar oleh Bapak melihat-lihat poster yang tersebar di dinding cafe. Kami fans berat musik rock, jadi datang ke tempat seperti ini selalu menyenangkan. Bapak bertaruh kalau di sini pasti nggak ada poster Aerosmith, band idola gue sejak kecil. Benar saja, menurut ownernya pun (atau manager? Maaf kalau salah) di sini memang nggak dipasang poster mereka karena lagu-lagunya jarang diputar di sini. Aww, itu jawaban yang lumayan bikin gue manyun, tapi sukses bikin Bapak tertawa puas. Maklum, kami suka aliran musik yang sama tapi beda idola. Bapak bilang kalau sudah banyak poster Rolling Stones buat apa ada Aerosmith, hahaha. That’s rude, Dad! :p

At least ada Janis Joplin, idola gue. Kalau punya anak wajib deh dikasih nama Janis, hahaha :D
Ditemani oleh Bapak :)

Akhirnya gue dipanggil untuk shooting. Another surprise ternyata ada perubahan bintang tamu, jadi list pertanyaan untuk gue pun berubah. Episode ini berjudul “Dari Buku ke Film”  dan akan membahas novel gue, “Waktu Aku sama Mika” yang menginspirasi sebuah film layar lebar berjudul MIKA. Karena menceritakan tentang kisah gue yang mengidap scoliosis, maka (rencananya) akan ada bintang tamu lain yaitu dokter dari rumah sakit tulang di Bandung yang akan memberikan berbagi tentang fakta-fakta scoliosis. Tapi karena beliau berhalangan, jadi diganti dengan 2 orang ilustrator untuk cover buku. Meskipun ter-surprise-surprise,  gue lega karena bintang tamunya masih di dunia buku jadi pasti bisa saling bertukar pengalaman :)

Sempat nolak di make up, tapi akhirnya nyerah juga :p
Hasil make up nya lucu :) Ini outfit gue sebelum pakai bolero :')

Gue menjadi bintang tamu yang muncul di segmen pertama. Dimasta, host program “Saling Sharing” (sekaligus penyiar radio dan penulis) berhasil membuat gue semakin semangat. Ia sangat ramah dan kocak, hihihi. Seperti biasanya gue menceritakan awal mula pembuatan novel  “Waktu Aku sama Mika” sampai bisa diterbitkan. Lalu setelah itu tentang proses pembuatan film sampai (thank God) menjadi salah satu film yang paling banyak ditonton sepanjang tahun 2013 dan berkesempatan diputar di Australia. Waktu membahas tentang Vino Bastian yang memerankan Mika, Dimasta berkata bahwa tadinya ia yang mendapatkan peran tersebut, tapi nggak jadi karena dulu rambutnya panjang sampai kaki. Hahaha, somehow itu ngingetin gue sama lagu “Just Push Play” nya Aerosmith :D Dan ngomong-ngomong soal Aerosmith, waktu gue bercerita tentang (calon) novel baru yang berkisah mengenai perjalanan seorang anak perempuan yang ingin bertemu dengan band rock idolanya, Dimasta memanggil gue dengan nama “Indi-Smith”. Lucunya teman-teman gue pun dulu memanggil dengan nama “Smith” untuk membedakan gue dengan “Indi-Indi” yang lain :D






Setelah 2 kali jeda iklan (kalau gue nggak salah ingat, ya), Hari dan Dwi, bintang tamu selanjutnya dipanggil. Sama seperti gue mereka pun bercerita tentang profesinya, termasuk karya-karya apa saja yang sudah pernah dihasilkan. Dan sama juga seperti menulis, membuat ilustrasi harus memiliki idealisme tapi juga harus tetap mendengarkan keinginan klien. Melihat hasil kerja mereka yang keren-keren rasanya ingin juga jika suatu hari bekerja sama dengan mereka, hihihi. Oh, iya Hari sudah membuat lebih dari 500 ilustrasi cover buku, lho. Wow! Hebatnya... Jangan dibandingkan dengan gue yang bikin gambar lingkaran saja butuh waktu 1 menit, ---dan itu pun masih lebih mirip dengan awan, lol.


Bersama Dimasta :)

Setelah mendapatkan banyak (bangeeet) ‘kejutan’ gue bersyukur karena shooting berjalan lancar dan menyenangkan. Kru nya bekerja dengan kompak dan cekatan, bahkan nggak kalah rapi dengan stasiun TV-stasiun TV yang sudah lebih lama berdiri. Gue percaya dalam waktu yang nggak terlalu lama mereka pasti akan lebih baik lagi :) Gue juga nggak pulang dengan percuma karena berkenalan dengan orang-orang hebat dan mendapatkan ilmu-ilmu baru ---yang mana paling gue tunggu-tunggu setiap kali menghadiri sebuah undangan. Sebuah pengalaman berharga terjadi lagi di dunia kecil gue kemarin malam. I feel blessed karena jatuh cinta dengan apa yang gue tekuni sekarang. Mungkin ada yang bilang kalau yang gue lakukan “hanya” menulis. Tapi menurut gue there’s no such thing as “hanya”. Semua  profesi itu hebat, semua profesi itu ada hasilnya. Dan kita selalu bisa berkembang selama punya passion untuk belajar termasuk dari orang-orang yang baru kita ditemui ;)

Smiley girl,


Indi
 _______________________________________________________

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 16 Maret 2015

Film MIKA Ditayangkan Kembali MALAM INI di SCTV! :)


Yay! So excited! Malam ini (16 Maret 2015) pukul 23.00 WIB film Mika akan ditayangkan kembali di SCTV!
Film ini diinspirasi oleh novel gue yang berjudul "Waktu Aku sama Mika" (best seller, published by Homerian Pustaka)

Film yang disutradarai oleh Lasja Susatyo ini menceritakan tentang gue (Indi, diperankan oleh Velove Vexia) yang mengidap scoliosis sehingga harus memakai brace (penyangga) selama 23 jam setiap hari. Suatu hari gue bertemu dengan Mika (diperankan oleh Vino Bastian), seorang pemuda baik hati yang juga ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Ia mengubah hari-hari gue menjadi lebih positif dan berwarna :)

Selain di Indonesia film Mika pernah diputar di IFF, Melbourne Australia, lho. Di sana film ini mendapatkan sambutan yang positif. Jadi teman-teman di sini jangan sampai ketinggalan, ya, hihihi. Support terus perfilman Indonesia :)


trailer film MIKA




***********************************************
Update 17 Maret 2015



"MIKA" menjadi trending topic world wide di Twitter. Gue bangga dan terharu sekali, karena setiap diputar ulang selalu menjadi trending meskipun tayangnya larut malam :') Tapi terlebih dari itu, gue bahagia karena semua mention yang masuk memberi komentar positif tentang film Mika. Lega rasanya pesan yang ingin gue (dan Mika) sampaikan diterima dengan baik oleh teman-teman penonton. TERIMA KASIH BANYAK telah menyempatkan untuk menyaksikan film Mika. Gue nggak bisa lihat Mika sekarang, tapi gue yakin ia sedang tersenyum di surga sana karena tahu sekarang semakin banyak yang mengerti bahwa AIDS bukan kutukan Tuhan :)


sugarpie kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi


 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469