Rabu, 06 Maret 2019

Rasis itu...

Rasis itu waktu ada yang belajar bahasa Inggris dan dipermalukan cuma gara-gara grammarnya salah-salah dikit, tapi waktu ada orang asing bisa bahasa Indonesia sepatah dua patah doang langsung ditepokin kaya nonton sirkus.

Rasis itu waktu ada yang kawin campur, punya baby terus dikomentarin, "Lucu banget, untung ayah/ibunya dari xxx kan jadi memperbaiki keturunan."

Rasis itu waktu lebih percaya bahasa Inggrisnya orang asing yang padahal bukan dari negara berbahasa Inggris, dibandingkan orang Indonesia yang beneran sekolah bahasa. (Eh, dijadiin guru terus digaji lebih dibanding guru lokal lagi!).

Rasis itu waktu produsen kosmetik lokal bikin foundation yang warnanya terang semua padahal orang Indonesia kulitnya beragam. Dari kekuningan sampai gelap dan semuanya cantik.

Iya, yang sering rasis sama kita malah kita sendiri.

Foto oleh Shane, yang mencintai gue tanpa melihat warna kulit.

xx,

Indi Sugar



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 19 Februari 2019

AADM: Ada Apa dengan Mangkuk Ayam?



Huaaaa, untung nggak lupa password, saudara-saudara! Hahaha :'D Jadi gini ceritanya, kemarin laptop gue ini dipinjam dari mulai ipar sampai Ibu sama Bapak. Dan mereka itu logout semua sosial media gue, termasuk blog. Alasannya kenapa? Nggak tahu, ipar gue udah balik sekarang dan ortu gue lagi pacaran, nggak bisa diganggu buat ditanyain alasannya, lol. Kebiasaan buruk gue sih, nggak pernah off dan nggak pernah ingat atau catat password. Jadi begitu online di tempat lain, atau seperti sekarang ada yang pinjam laptop, gue pasti kelimpungan. Ya sudah, belajar dari kesalahan. Mulai malam ini gue menghapal password dan nggak usah bikin yang ribet-ribet amat yang penting aman :p 
Gue kepengen banget nulis sejak minggu lalu, ada beberapa ide tapi bingung harus pilih yang mana duluan. Kalau orang normal mungkin nggak banyak omong langsung saja nulis, ya :p Tapi gue malah suka nggak konsen kalau kebanyakan ide, otak jadi nggak fokus. Makanya gue lebih pilih sampai euforia di kepala gue selesai dan tulis apa saja yang tertinggal paling akhir. 

Sekarang gue memilih untuk menulis yang paling ringan. Kenapa? Karena selain sedang "riweuh", gue juga sedang nggak enak badan. Kelopak mata gue bengkak seperti hampir meletus (---emang balon hijau, lol). Kalau menulis yang serius-serius nanti baper, terus nangis dan mata gue makin parah, hahaha. Ini tentang hal yang random banget sih, tapi gue rasa seru kalau dibahas. Yaitu tentang mangkuk gambar ayam jago! Iya, itu lho mangkuk yang sering dipakai abang-abang penjual mie ayam, atau bakso dan sebangsanya. Gue jadi penasaran berat setelah lihat Joe Jonas beberapa tahun lalu pakai jaket karya desainer Indonesia (Sherly Hartono) yang bergambar mangkuk legendaris itu di Instagram. Kira-kira darimana asalnya, ya? Banyak yang bilang itu asli Indonesia. Soalnya dari sejak zaman nenek gue bocah juga sudah ada, apalagi di jaket JJ gambar mangkuk ayam jago disandingkan dengan petai dan mata uang rupiah, yang mana Indonesia banget. Tapi gue belum yakin, soalnya seingat gue mangkuk yang sama pernah gue lihat di film-film Cina. Terus, gue juga penasaran kenapa gambarnya ayam? Apa karena identik dengan mie ayam? Kenapa nggak sapi saja ya, kan bakso terbuat dari daging sapi, hahaha. Dan pencarian gue pun dimulai...

Jaket Mangkuk ayam karya Sherley Hartono

Narasumber pertama gue itu Bapak. Gue tanya sama beliau kenapa kalau beli mie di abang-abang mangkuknya selalu gambar ayam. Dan beliau jawab.... "Nggak tahu", saudara-saudara! :'D Sebagai narasumber terpaksa beliau gue coret karena sama sekali nggak membantu, hahaha. Well, at least dari sana gue jadi tahu kalau beliau ternyata shionya ayam jago :p Katanya sih, memang "dari sononya" kita pakai mangkuk ayam, dan ada pepatah kalau bangun kesiangan nanti rezeki dipatok ayam. Ah, bisa saja (---sotoy) bapak gue ini, hahaha.
Teman-teman gue juga sama cluelessnya, termasuk teman gue yang berprofesi sebagai penjual mie ayam yang biasa nangkring di depan Yomart. Jadi kami ceritanya selalu bertegur sapa, padahal gue nggak pernah beli mienya juga secara gue vegan. Tapi pertemanan memang nggak mengenal perbedaan kan ya. ---Cieeeeh (apaan sih, lol). Akhirnya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahu saling sapa, gue beli juga mienya. Ya, maksudnya biar percakapan bisa lebih panjang gitu, soalnya biasanya sekedar tentang keadaan sekitar. Gue pesan 2 porsi mie ayam tanpa ayam dan pinjam mangkuk ayamnya. Nah lho, bingung kan dia, hahaha. Setelah gue perhatikan kok disamping ayam itu kaya ada bunganya ya, bukan sekedar tanaman ijo-ijo yang selama ini gue asumsikan sebagai sosin yang suka ada di mie ayam (sotoy gue...). Gue langsung tanya sama si abang yang biasa dipanggil Mas Gigi Besi itu, siapa tahu dia tahu filosofinya. Tapi katanya tiap mangkuk beda-beda, mirip tapi nggak selalu sama. Dan benar saja, dari 5 mangkuk yang menumpuk di gerobak 2 diantaranya ada merk micinnya.




Karena teman-teman nggak ada yang tahu (atau at least ngasih gue penjelasan yang agak nyambung), akhirnya gue tanya saja sama sahabat karib kental bagai kepompong kesayangan gue. Siapa lagi kalau bukan... Google. Iya, iya ini sahabat kalian juga kan kalau lagi buntu :p Hasil dari pencarian gue rupanya banyaaak banget, dan banyak diantaranya yang setengah-setengah alias nggak sampai beres. Tapi sebagai detektif yang baik gue akhirnya mengerti dan akan coba rangkai ceritanya di sini. Jadi kalau gue lupa bisa dibaca-baca lagi, siapa tahu keluar di soal ujian, hahaha.

Bukan dari Indonesia dan bukan juga gambar sosin -_-
Nah, bener firasat gue ternyata. Meski gue Indi yang bukan anak indigo tapi gue bisa merasakan kalau Indonesia bukan tempat asal mangkuk ayam jago ini. Nggak pakai mistis-mistisan, alasan gue logis saja karena di film-film kungfu pun mangkuk ini sering muncul. Dan benar, asalnya adalah dari negeri Cina. Di sana mangkuk ini dipanggil Jigongwan atau Jijiaowan, jika dilafalkan oleh orang-orang di Cina bagian selatan. Mangkuk ini sudah ada sejak zaman Dinasti Ming, di periode pemerintahan Kaisar Chenghua (1465-1487). Kala itu beliau memesan empat buah cawan dengan gambar ayam jago dan ayam betina ke pengrajin khusus kekaisaran di Propinsi Jiangxi. Setelah itu beliau kembali memesan cawan, tapi dengan gambar yang sedikit berbeda yaitu ayam jago, ayam betina dan anak ayam. Konon cawan ini sebagai tanda cinta untuk istrinya yang melambangkan kemakmuran. Aww, so sweet ya :)


Cawan itu disebut sabagai Jigangbei atau cawan ayam. Ji artinya ayam, yang pelafalannya mirip dengan Jia yang berarti rumah. Jadi seperti simbolis gitu, mangkuk dengan gambar ayam = rumah ayam. Got it, got it? :D (Emang jagoan dah orang zaman dulu bikin ginian). Yang merah-merah itu, yang gue pikir bunga ternyata gambar tanaman peoni yang melambangkan kekayaan. Dan yang gue pikir sosin itu ternyata pohon kelapa -_- Hahaha, maaf gue sotoy banget :'( Dipilihnya pohon kelapa juga bukan cuma asal match sama desain mangkuknya, lho. Daun pisang yang berdaun lebar ternyata melambangkan keberuntungan untuk keluarga. Keren ya? Dan Kaisar Wanli (memerintah tahun 1572-1620) juga Kaisar Kangxi (memerintah tahun 1661-1722) dari Dinasti Qing juga ternyata setuju lho sama gue (maaf sok akrab). Saking kerennya, mereka sangat suka dengan cawan tersebut dan berani mematok harga mahal untuk gambar ayam jago! Kaisar Qian Long (memerintah tahun 1735-1796) bahkan membuat puisi khusus yang memuja mangkuk ayam jago itu pada 1776.

Nah, pada masa dinasti Qing lah mangkuk ayam jago mulai diproduksi secara masal. Karena mangkuk bergambar naga dan phoenix harganya lebih mahal, maka masyarakat menengah ke bawah banyak menggunakan mangkuk ini. Selain itu ayam jago dilambangkan sebagai kerja keras untuk mencapai kemakmuran. Karena setiap pagi para petani selalu dibangunkan oleh kokok ayam jago! Sedaaaaap ;)

Kenapa bisa dipakai abang-abang mie ayam?
Sampai sekarang gue masih belum nemu gimana kronologis lengkapnya mangkuk ayam bisa sampai sini. Yang pasti sejak awal abad 20 mangkuk ini memang menyebar kemana-mana, terutama ke negara-negara Asia Tenggara. Mungkin saja karena perantau ikut membawa mangkuk ayam jago dan filosofinya ikut menyebar jadi semakin banyak orang yang ikut menggandrungi (---aduh bahasanya, hahaha). Tentu saja seiring dengan moderenisasi desain mangkuk ini nggak selalu digambar dengan tangan, tapi kebanyakan sudah menggunakan mesin. Kebanyang dong tangan bisa gempor kalau satu-satu digambarin, hahaha. 

Yang beredar di Indonesia sendiri merupakan hak ciptanya PT. Lucky Indah Keramik. Jadi memang asli buatan sini, bukan dari dari Cina. Kata sahabat gue sih (maksudnya Google, lol) perusahaan ini didirikan sejak tahun 1972. Jadi sebelum itu mungkin siapa saja bebas memproduksi mangkuk ayam jago. Tapi kalau sekarang sudah dilarang untuk menjual produk mangkuk termasuk piring, tatakan cangkir, tea set, dinner set, poci, cangkir, gelas, tutup cangkir, dan vase bunga dengan desain yang mereka sebut "cap ayam jago" itu. Karena termasuk ke pelanggaran hak cipta. Jadi meskipun desainnya menggiurkan, sebelum membeli baiknya kita hati-hati dulu dengan membaca labelnya. Dan distributor PT. Lucky Indah Keramik pun hanya satu lho, yaitu PT Kencana Makmur Mitra Abadi. 

Jadi begitulah kira-kira tentang asal usul mangkuk ayam, pembaca yang budiman. Ya... meski nggak terlalu detail tapi lumayan bisa mengurangi rasa penasaran gue. (Dan semoga perasaan kalian juga jika kalian memang senang kepo dengan hal-hal berguna dan berfaedah, amin). Sebenarnya agak sayang sih kalau abang-abang penjual mie, bubur, atau soto sekarang nggak tahu apa makna dibalik mangkuk mereka. Karena menurut gue kalau saja mereka sampai tahu mungkin semangat berdagang mereka semakin membara. ---Selain semangat dari anak dan istri yang menunggu di rumah tentunya :D Dan entah itu filosofi soal ayam jago dari bapak gue yang ngasal, atau filosofi sebenarnya dari negeri Cina, gue suka semuanya karena memang positif. Siapa sangka saat kita menikmati semangkuk makanan ternyata ada makna yang keren dibaliknya, ya ;)


Keponakan gue, Ali dengan semangat ayam jago!


salam ayam jago,

Indi


----------------------------------------------------------------------------------------------

Oh iya meskipun telat, izinkan gue dan suami gue Shane mengucapkan Happy Chinese New Years. May all your wishes comes true! :)

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 13 Januari 2019

Menikah dengan WNA di KUA. Gratis dan Cepat. Kok Bisa???

Setelah menikah gue jadi sering ditanyain soal susah atau nggaknya menikah dengan Warga Negara Asing. Well, dulu gue juga gitu, ---penasaran. Karena katanya sih ribet, jadi pas diajakin nikah langsung "malas" duluan, hahaha. Tapi kenyataan itu mitos, namanya menikah pasti ada prosesnya. Ribet ya kalau dibikin ribet, kalau kita mengikuti aturan sebenarnya ringan-ringan saja, kok.


Gue dan Shane hanya melalui proses pacaran yang sebentar. Begitu kami saling suka dia langsung memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan mengajak menikah. Semenjak itu gue langsung googling dan tanya-tanya sama teman-teman yang menikah dengan WNA tentang bagaimana prosesnya. Hampir semuanya menjawab, "Ribet dan banyak biaya ini itu!" Untung saja gue bisa mengalahkan rasa "malas menikah", dan setelah dijalani akhirnya membuktikan kalau menikah itu mudah dan murah, ---sekalipun dengan WNA. Mungkin ada yang berpikir, "Ah, murah ya karena lo punya duit atau orangtua lo kaya!" Eits, jangan berprasangka dulu, Ferguso! Kami menikah dengan biaya sendiri (baca: Shane). Dan FYI, gue dan Shane masih muda, penghasilan kami nggak banyak. Jadi silakan simpulkan sendiri pernyataan gue ini :) Gue share proses pernikahan kami di sini juga semata-mata untuk menyimpan kenangan, dan siapa tahu bermanfaat. Karena gue yakin, I'm not the only one yang mikir-mikir dulu untuk menikah karena takut ribet, hehehe.


Membuat CNI

Jujur gue sempat nangis semalaman karena gue malaaaaas sekali kalau harus dealing dengan segala keribetan yang konon katanya bakal terjadi. Eh, bukan murni malas sih. Tapi juga karena ada perasaan nggak enak, takutnya saking ribetnya gue jadi harus minta bantuan ortu buat nyupir karena harus bolak-balik ke sana-sini. Sampai akhirnya gue putuskan untuk stop googling dan berjanji untuk cari tahu sendiri. Gue tanya lagi sama Shane, apa dia yakin untuk menikah karena selama pengalaman gue berpacaran (ecieeeeh, lol) baru kali ini ada laki-laki yang langsung mengajak menikah di hari pertama berpacaran (iya, bahkan sebelum kami bertemu). Dengan mantap Shane menjawab kalau dia nggak mau mundur dan bakal menjalani segala prosesnya. Jawabannya ini semakin membuat gue semangat, screw yang bilang ribet, gue nggak takut, hehehe :p Langkah pertama gue dan Shane datang ke KUA terdekat dan bertanya tentang persyaratan menikah. Meski sudah tahu dari hasil googling sebelumnya, tapi kami pura-pura polos supaya mensugesti kalau kami nggak perlu takut, hehe.

Kami nggak lama-lama di sana, petugasnya hanya memberi kami catatan yang ditulis tangan. Isinya ternyata hanya persyaratan menikah standar. Alias sama seperti menikah dengan WNI. Bedanya setelah itu kami diminta untuk membuat surat izin menikah dulu dari negara Shane (Amerika), baru setelah itu kembali lagi. "Gitu doang?" batin gue sambil cengengesan (dalam hati, lol). Meski Shane nggak bawa surat-suratnya ke Indonesia, tapi semua bisa dalam bentuk scan/foto. Jadi dia minta ibunya untuk mengirimkan akta kelahiran, dll via email. Sedangkan untuk izin menikah ternyata maksudnya CNI atau Certificate of No Impediment. Untuk mendapatkannya harus ke kedutaan negara calon mempelai WNA. Nggak menunggu lama kami langsung menghubungi kedutaan via telepon dan akhirnya bertukar pesan di email. Yang perlu datang hanya Shane saja, dan dia mendapat jadwal 2 minggu setelah bertukar pesan. Hanya perlu membawa passport, akta kelahiran dan biaya sekitar Rp.400.000 (gue lupa tepatnya).

Meski gue nggak diperlukan, tapi gue tetap ikut ke kedutaan Amerika di Jl. Medan Merdeka Jakarta. Alasannya? Ya, kepengen saja daripada di rumah sendirian, hehehe. Padahal gue sudah tahu kalau nggak boleh masuk, tapi siapa tahu bisa jajan-jajan di sana. Di luar dugaan lalu lintas sangat lancar, jadi perjalanan Bandung-Jakarta pun sangat cepat sehingga kami tiba jauuuuh lebih awal dari waktu perjanjian. Bersyukur Shane langsung diizinkan masuk. Meski sayang impian gue untuk berkuliner gagal karena lokasi kedutaannya nggak asyik, ---tempat parkir jauh dan cuaca sedang panaaaas sekali. Untung saja 15 menit kemudian Shane keluar, kalau nggak, mungkin gue bisa pingsan dehidrasi di trotoar kedutaan, hehehe. Dan... that's it! CNI sudah didapat. Cepat sekali, dan no drama seperti yang orang pernah bilang pada kami :)


Terjemahkan Dokumen ke Bahasa Indonesia

CNI selesai kami pun kembali ke KUA. Siap menikah ceritanya (ciee cieee...). Tapi ternyata pihak KUA minta agar CNI dan akta kelahiran Shane diterjemahkan dulu ke Bahasa Indonesia (meski sebenarnya CNI sudah bilingual). Kami disarankan untuk kembali lagi ke kedutaan karena penerjemahnya harus yang tertunjuk, nggak bisa sembarangan. Tentu kami nggak menurut begitu saja. Untuk urusan ini kami mencoba mencari penerjemah tersumpah di daerah Bandung, dan ternyata... bisa! Biayanya pun murah sekali, untuk 2 halaman nggak lebih dari Rp. 200.000. Dan God bless abang Gojek, kami nggak perlu datang karena dokumen bisa dikirim via email dan diambil oleh Gojek! ;) 

Prosesnya cepat sekali, hanya 3 hari itupun karena terpotong weekend. Kalau hari biasa sepertinya bisa sehari saja. Oh iya berhubung yang diterjemahkan itu literally semuanya, jadi gue harus pastikan waktu scan kertasnya nggak terpotong. Karena sampai tulisan yang sekecil kuman pun harus terbaca, hehehe. 


Mencari Cincin dan Baju

Gue ingin pernikahan yang sederhana. Sejak awal sudah bilang sama Shane bahwa gue nggak mau dirias ataupun pakai baju yang ribet. Gue ingin momentnya indah dan santai, jadi semua pihak bisa menikmati suasana dan nggak ada "jarak". Syukurlah Shane setuju, dan ternyata pernikahan impian dia juga seperti itu. Karena sudah satu ide, jadi kami pun mengesampingkan soal baju dan lebih mendahulukan cincin. Alasannya karena untuk baju nggak perlu waktu lama untuk dipersiapkan, ---kalau mau pun kami bisa saja pakai baju yang sudah ada. Tapi kalau cincin pasti butuh waktu karena size jari gue memang agak besar. Jadwal menikah di KUA sudah dapat, dan jaraknya 5 hari dari pemesanan cincin. Mepet? Nggak juga. Asalkan sudah tahu mana cincin yang dipilih, waktu penyesuaian ukuran cincin sebenarnya cepat, kok. 

Kami beli cincin di dua tempat berbeda. Untuk Shane, karena dia hanya mau yang modelnya simple tanpa aksesoris tambahan, kami mencari di sepanjang Jl. Otista Bandung. Di sana banyak sekali toko emas, jadi kalau pun di toko pertama nggak ada yang cocok kami bisa cari di tempat lain. Baru 2 tempat kami datangi, Shane sudah langsung menjatuhkan pilihan. Sedangkan untuk gue, kami mencari di mall. Tepatnya di Frank & Co. Dan sama seperti Shane, gue pun nggak perlu waktu lama untuk jatuh hati dengan salah satu cincin di sana. Pilihan jatuh ke diamond ring yang menurut gue cantik tapi tetap sederhana. Karena size gue nggak ada, cincin baru akan siap satu hari sebelum hari pernikahan kami. 



Ketika cincin gue selesai, nggak sabar rasanya mau langsung dipakai. Tapi tentu belum boleh dong, hehehe. Sekalian Shane juga membelikan mahkota bunga dan dress batik untuk hari istimewa kami. Beberapa hari sebelumnya padahal Shane sudah membelikan dress, lho. Tapi tiba-tiba saja dia melihat yang menurutnya lebih bagus. Menurut kami menikah nggak harus pakai "baju khusus". Yang penting nyaman, bersih dan sopan. Sempat gue ajak berkeliling mall tapi Shane tetap teguh dengan keputusannya memakai kemeja batik yang sudah dia punya sejak beberapa bulan lalu. Kebetulan memang belum sempat dipakai. Dan waktu dilihat-lihat... ternyata match dengan dress gue! :)


The Day

Kami menikah tanggal 26 Oktober 2018. Jujur, kami nggak memilih tanggal karena percaya kalau semua hari itu baik. Waktu Shane memberi tahu ibunya beliau langsung terharu. Ternyata tanggal dan bulannya sama persis dengan pernikahan pertamanya (---dengan ayah kandung Shane), dan juga pernikahan orangtuanya, aww! :D 
Kabar pernikahan gue dan Shane membuat beberapa pihak terkejut, tapi juga berbahagia. Sengaja kami memberi kabar pada teman-teman dan kerabat yang nggak terlalu dekat beberapa hari setelahnya agar prosesi berlangsung khidmat. Jadi yang hadir ketika itu hanya orangtua, nenek, dan beberapa om dan tante. Sedangkan ibu mertua datang setelahnya karena menyesuaikan dengan hari libur beliau. 

Meski gue belum pernah menghadiri prosesi pernikahan orang lain, tapi sepertinya nggak ada bedanya antara WNI dengan WNA. Pukul 7 pagi gue bangunkan Shane untuk bersiap (---dia masih tidur di kamar atas karena belum sah, hehehe) dan sehabis sarapan kami mandi lalu berangkat ke KUA bersama keluarga. Di sana dilakukan proses ijab kabul dan setelahnya kami langsung mendapatkan buku nikah. Ada istilah "sebaiknya kalau ada yang berniat baik jangan dipersulit", dan itu nyatanya benar. Daripada berijab kabul dengan Bahasa Indonesia yang mana Shane nggak mengerti, kami memilih menggunakan Bahasa Inggris. Alasannya agar dia benar-benar paham apa yang dia ucapkan dan juga paham makna dari pernikahan. Jadi bukan hanya dengan membaca catatan di kertas lalu semua orang berkata "sah" padahal kurang menjiwai. Penghulu juga memberikan wejangan dengan 2 bahasa, Indonesia dan Inggris. Termasuk dalam versi tertulis agar bisa dibaca-baca lagi. Karena "sederhana" bukan berarti main-main. Gue nggak mau kami hanya sekedar mengejar buku nikah sementara prosesinya hanya asal lewat.



Dan begitulah, kami sah menjadi pasangan suami istri. Sepanjang hidup gue inilah moment terindah yang gue alami. Semuanya terasa soooo beautiful :) Yang agak menggangu keindahan hanya satu sebenarnya. Kami sempat mengalami pungli di KUA dengan jumlah 2 juta rupiah. Tapi no worry, uang Shane sudah kembali karena gue langsung melaporkan ke akun Instagram KUA. Dan no hurt feeling, ---kami sudah saling bermaafan. Semoga jangan terulang lagi, ya. Karena zaman sudah modern, jadi kalau ada pungli tinggal dilaporkan saja. Dan kalau benar kenapa harus takut ;) As simple as that!

***

Kalau dihitung harinya proses pengurusan pernikahan kami sebenarnya malah lebih singkat dibanding sepupu-sepupu gue yang menikah lebih dulu (dengan WNI). Gue sangat sangat sangat bersyukur karena memutuskan untuk mencari tahu sendiri daripada mendengar apa kata orang. Gue juga bersyukur karena nggak merepotkan orangtua selama proses. ---I know, namanya ortu pasti akan senang kalau dimintai bantuan untuk pernikahan anaknya. Tapi gue ingin Ibu dan Bapak kebagian happy nya saja, duduk manis menyaksikan pernikahan kami tanpa harus pusing masalah CNI dan KUA :) Gue juga salut dengan Shane yang berusaha sekeras mungkin agar gue (juga keluarga) nggak mengeluarkan biaya sepeserpun. Bahkan untuk yang seharusnya bagian gue (---akan gue ceritakan nanti), dia tetap nggak mau menerima sepeser pun. Bless his heart :)

Gue harap tulisan ini membantu siapapun yang ragu menikah karena takut ribet dan khawatir masalah biaya. Pernikahan gue dan Shane adalah bukti kalau menikah dengan Warga Negara Asing itu nggak seseram yang orang-orang bilang. Menurut pengalaman kami apa yang membuat lama dan ribet itu justru kalau mempelai nggak siap. Ya, kalau hal kecil seperti akta kelahiran saja nggak ada bagaimana mau lancar? :p Untuk biaya pun jika apa-apa diurus sendiri, tanpa harus melalui pelantara sebenarnya sangat murah. Dan jangan lupa, menikah di KUA itu gratis terkecuali jika weekend atau dilaksanakan di lain tempat. Itu pun hanya dikenai biaya Rp. 600.000. Juga termasuk jika pasangan kita mualaf lho, ya. Jangan mau bayar, karena agama itu bukan untuk dijual belikan.

Jadi kalau ada di antara kalian yang membaca tulisan ini dan punya pacar WNA tapi belum mengajak/mau diajak menikah dengan alasan ribet dan mahal, tunjukan saja tulisan ini. Kalau sudah ditunjukan tapi masih nggak mau juga padahal katanya serius... wah, hati-hati! *becanda :p




yang nama belakangnya jadi dua,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 08 Januari 2019

We've Made It!



Selamat tahun baruuuuuuu! :) Eh, boleh ngucapin nggak sih? Hehehe. Jujur sekarang gue takut salah kalau bikin ucapan (---ntar ada yang balas 'gue nggak rayain'). Soalnya di grup whatsapp unfaedah gue ramai banget soal ngebanned terompet dan segala macam atribut yang pas gue kecil identik banget dengan tahun baru. Di satu sisi gue senang soalnya suasana di komplek rumah jadi lebih senyap, nggak ada yang niup terompet. Di sisi lain gue sedih dong lihat penjaja terompet dst etc di jalanan yang sepi pembeli :( Gue sih no comment kalau ada yang bikin argumen tentang agama, tapi buat gue sendiri selama dilakukan dengan tertib dan nggak berlebihan ya why not? Kita tinggal di Indonesia kok, dan tahun memang berganti, ---buktinya saja kalendernya ganti angka, kan, hehehe. Gue sendiri nggak punya tradisi khusus tiap tahun baru, yang penting kumpul dengan keluarga dan buat gue itu positif. Kalau ada yang bilang, "Kumpul keluarga mah bisa tiap hari kali!", well, lucky you then. Manusiawi kok kalau ingin sesuatu yang istimewa sesekali. Dan tahun baru itu cuma "moment" alias penanda kalau 365 hari sudah dilalui. Melewatinya dengan sedikit perayaan bersama keluarga sambil bersyukur buat gue nggak ada yang salah :)

Buat gue dan Shane ini adalah tahun baru pertama yang kami lalui bersama secara langsung. ---Maksudnya kami berada di tempat yang sama, gitu :p Soalnya tahun baru 2018 lalu, waktu kami masih sahabatan dilalui dengan makan pizza bersama tapi lewat telepon. Gue di Indonesia dan dia di Amerika. Perbedaan waktu kami juga 13 jam, jadi pas pergantian hari gue doang yang heboh sendiri, hehehe. Gue dan Shane excited sekali, tapi lebih fokus ke quality timenya sih karena kami nggak ada rencana bakal ngapain. Yang penting barengan. We can do whatever we want, mau melek sampai pagi juga boleh. Karena meski kami nggak kerja kantoran, tapi break tahun baru ini memang bertepatan dengan selesainya salah satu project gue. Shane sih bilangnya kepengen nonton film bareng saja, mungkin kami bisa cari speakers yang agak bagusan karena punya gue yang lama sudah rusak. Gue setuju, dan berhubung ada dua keponakan gue di rumah jadi kami juga mau sekalian cari kembang api biar mereka ikut happy. Jadilah siang harinya di malam tahun baru gue dan Shane ke mall terdekat buat cari speakers dan kembang api. Dan berhubung tahun lalu kami makan pizzanya terpisah sepuluh ribu miles lebih (lol), jadi kami putuskan buat beli bahan-bahannya sekalian. Mau masak berdua ceritanya, hehe.


Oh iya, beberapa hari sebelumnya gue dan Shane sudah beli kado buat Ibu, Bapak dan dua keponakan. Kami sebenarnya sudah rencanakan ini jauh-jauh hari, cuma karena gue sedang nggak enak badan jadi belanjanya rada mepet. Eh, bukan "rada" lagi sih, tapi memang mepet. Mall sudah mau tutup sampai kami diusir halus gitu, tapi apa daya kami pura-pura budeg saja karena memang butuh :p Gue yakin we can choose something better kalau ada waktu lebih, tapi nggak apalah, anggap saja ini sebagai kenang-kenangan karena sudah melalui tahun 2018. Ini semacam kebiasaan bagi gue untuk bagi-bagi kado (---meski nggak bisa dibilang "tradisi" karena ada kalanya gue bokek, hehe). Buat seru-seruan saja, biasanya gue taruh kado-kadonya di ruang TV waktu orangtua gue tidur, jadi pas bangun mereka kaget, hehehe :D Kalau sedang ada rezeki lebih kadang gue juga belikan sesuatu buat karyawan yang bekerja untuk Ibu, termasuk untuk hewan-hewan peliharaan gue juga (mudah-mudahan tahun depan, ya!). Dan berhubung keponakan-keponakan gue itu masih bayi-bayi, jadi timing bagi kadonya agak diubah sedikit, ---di sore hari biar masih pada segar bugar!

Sepulang dari mall gue dan Shane langsung panggil the boys, Ali dan Abi yang lagi sibuk berantakin ruang TV. Orangtua mereka harus lembur di bank karena akhir tahun, jadi kami kebagian dikunjungi sampai malam. Usia mereka 3 dan 1,5 tahun alias usia-usia yang bikin dilema; jauh kangen, tapi kalau dekat kadang bikin pusing, hahaha. Ali sudah mengerti dengan konsep kado. Jadi dia excited sekali untuk buka pembungkusnya, termasuk yang punya adiknya. Kalau diingat-ingat Ali itu memang selalu antusias dengan "hari besar". Entah karena dulu sering menghabiskan waktu sama gue, atau memang dia terlahir kaya gitu :p Ingatannya kuat sekali, meski baru 3 kali merayakan Halloween tapi dia ingat dengan 2 yang terakhir, termasuk kostum dan makanannya. Hampir tiap hari dia bertanya kapan Halloween lagi. Lucunya dia juga mengerti kalau hantu pas Halloween itu bohongan semua, jadi dia malah semangat buat lihat bukannya takut, hehehe. Juga dengan moment tahun baru ini, dia semangat untuk main kembang api sampai-sampai ruang TV dia beresin sehabis dapat kado supaya bisa cepat-cepat ke halaman rumah :D



Seperti kedua keponakan gue, Ibu dan Bapak juga dapat kado lebih cepat. Ya, kalau nunggu sampai malam gue takut mereka pikir gue lupa buat kasih kado, lol. Reaksi mereka sungguh overwhelming. Masih merinding kalau gue bayanginnya, padahal kadonya sederhana banget; sandal buat Ibu dan termos elektrik buat Bapak. Beruntung gue sempat abadikan reaksi mereka lewat kamera handphone jadi bisa gue lihat berulang-ulang. Memang ya, namanya kado itu sekecil apapun pasti bikin senang. Gue juga dapat kado lho, dari Shane, ---ada makanan, piyama dan baju baru. Sampai hari ini bajunya belum gue terima karena dia pesan online gitu. Tumben banget gue pilih model overall celana padahal biasanya pakai dress. Soalnya desainnya lucu banget sih gambar mangkuk ayam ala-ala penjual mie. Jadi nggak sabar dan juga penasaran gue kaya apa kalau pakai celana, hehehe. Ibu mertua gue juga kirim kado yang harus kami jemput ke kantor pos karena terkena bea cukai, sniff... Isinya banyak banget, ada pernak-pernik Hello Kitty buat gue dan The Beatles buat Shane. Senang sekali, karena gue juga dapat sekantung pita rambut dengan berbagai warna. Secara gue punya kebiasaan pakai matching hair bow dengan baju, hahaha (Jojo Siwa mah lewat). By the way, gue bilang "sniff" bukan karena gue kecewa harus bayar bea cukai, ya. Namanya kado, itu pasti tanggungan si pemberi. Tapi jujur gue memang agak bete karena urusan bea cukai ini merusak kejutan. Soalnya jika harga barang di atas 100USD pasti dikirimi email dengan pertanyaan isi barang. Niatnya mau bikin kejutan tapi gue jadi harus nanya-nanya sama ibu mertua apa isinya, haduh :( Ini bukan pengalaman pertama, waktu gue dan Shane masih temenan (ecieeeeh...) dia sempat kirim hadiah natal ke sini. Setelah melewati proses bea cukai yang habis 2 jutaan rupiah, rupanya paketnya dibuka dulu dan ada 1 barang (cover CD) yang hilang. Ditambah bonus ada jejak sepatu pula di suratnya. Gue mengerti sih, itu aturan. Tapi gue harap petugasnya bisa lebih hati-hati lagi, kan namanya hadiah pasti ingin diberikan dengan kondisi terbaik, dong.


*Link video ada di akhir post*

Jadi gue bersyukur banget, gue dan Shane sudah tinggal bersama. Nggak perlu lagi ada masalah dalam "kado-kadoan". Lagian bukannya gue gombal, TBH ada dia di sini saja sudah jadi kado terbaik buat gue. Keluarga gue tumbuh, kalau dulu hanya Ibu dan Bapak, sekarang ada dia juga :) Dan apa kado yang gue kasih buat Shane? Well, sampai tulisan ini dibuat gue belum kasih apa-apa, lol. Gue belum pro nih sebagai seorang istri, jadi mau ngasih juga bingung soalnya ntar pakai duit dia juga kan, hahaha. Just kidding. Rencananya gue akan belikan dia kaset kosong untuk dipakai merekam musik-musik buatannya. Agak susah carinya di sini, nggak seperti di negaranya yang penggunaannya masih populer. Kalau ada yang punya rekomendasi seller boleh lah kontak gue :p *Lah, tulisan gue jadi kemana-mana ya.
Setelah acara buka kado yang super menghangatkan hati, kami pindah ke halaman rumah untuk main kembang api. Sebenarnya yang main gue sama Shane saja sih, para bocah cuma nonton :D Mau gue kasih pegang tapi khawatir sama percikannya, lumayan pedih juga lho. Pssst, dulu waktu gue kecil paling takut kalau disuruh pegang kembang api sendiri, di otak gue sudah kaya pegang dinamit saja. Tapi syukurlah semakin besar semakin berani karena kalau nggak kan malu di depan para bocah :p Ali beberapa kali pengen coba pegang, what a brave boy, dia kayanya gak takut meski jarak pegangan ke belerangnya dekat sekali. Yang gue beli ini jenis kembang apinya pendek-pendek, cuma berapa detik sudah habis. Lebih aman, tapi lumayan nyebelin karena lebih lama usaha bakarnya daripada nyalanya, hahaha. Ada celetukan kocak dari Ali, gue kan bikin bentuk-bentuk gitu dari kembang api, waktu gue tanya dia mau bentuk apa, dia jawab, "BRI." Spontan gue dan Shane ngakak. Entah dia cuma nyebut huruf-huruf random, atau dia bermaksud bilang namanya bank. Ini bocah memang nggak terduga :D



Di tengah acara kembang api ipar gue datang buat jemput the boys. Dia juga bawa bola yang bisa nyala-nyala gitu. Sudah pasti mereka girang, tapi karena berebutan bolanya nggak berumur panjang. Suara petasan di luar pun kalah sama tangisan mereka, hahaha. Gue sih nggak lihat gimana kejadiannya, yang pasti Ali jadi ngambek sama adiknya dan dia menolak ikut pulang. Setelah itu dia kelelahan dan tertidur sambil memeluk boneka doggynya. ---Well, rupanya bukan cuma dia saja yang lelah. Nggak lama setelah Ali, gue dan Shane pun menyusul. Nggak tahu kenapa badan rasanya lelah padahal masih jauh ke tengah malam. Rencana bikin pizza dan cookies bareng pun batal karena kami langsung ke alam mimpi. Kami baru terbangun karena Eris, anjing gue kaget dengan suara petasan. Waktu lihat jam ternyata sudah tahun baru! (---mau ngejokes soal "tidur setahun" tapi basi, ah, lol). Apa ada yang terasa beda? Nop. Semua masih terasa sama seperti tahun kemarin. Tapi kami saling senyum, "We've made it." Kami berhasil melewati tahun 2018 dengan pahit manisnya. Gue dan Shane berhasil melewati fase persahabatan kami dan memutuskan untuk naik ke level yang lebih tinggi. Gue dan Shane berhasil tetap "waras" meski income terbesar kami terhenti dan terus bangkit. Gue dan Shane berhasil menghandle OCD gue dan stop dengan segala macam terapi obat. Gue dan Shane keluar dari zona nyaman dan nggak ada sedikit keinginanpun untuk kembali. Dan yang terpenting gue dan Shane berhasil mengalahkan ketakutan kami sendiri yang pernah bilang kalau hubungan kami "mustahil". Lihat dimana kami sekarang! We've made it... We've made it! Kami berhasil bertahan dan melihat ke belakang membuat yakin kalau kami pasti bisa melewati tahun-tahun yang akan datang. 


*Pizza dan cookies pun dibuat keesokan harinya*

Well, selamat tahun baru untuk semuanya, ---yang merayakan atau tidak, yang pro kembang api atau tidak :p 
Suka atau nggak, here we are now. Why being so negative, tahun baru bisa menjadi penanda untuk melihat apa yang sudah kita lalui dan lalukan. Tahun baru juga bisa digunakan untuk break sejenak, "puji" diri sendiri atas pencapaian sekecil apapun. Bukannya narsis, terlalu keras sama diri sendiri kadang membuat kita terus membanding-bandingkan dan lupa kalau kita juga "hebat". We are worthy. Kalau kalian merasa down, pssst lihat kalendernya sudah ganti lho. Masih ada kesempatan ;)






that sleepy girl,

Indi


----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 30 Desember 2018

Singapore Trip: Happy Tapi Kok Minta Pulang?

Hah? Sudah malam tahun baru saja besok :O Time does flies, ya... Rasanya kayak baru kemarin gue asyik edit-edit novel kelima, eh tahu-tahu saja sudah mau berganti tahun. Jujur saja rasanya gue kurang produktif di tahun 2018. Bukan karena 100% malas sih, tapi ada beberapa hal yang berubah dan "mengeluarkan" gue dari zona nyaman, ---yang bikin harus adaptasi dari awal. Kalau saja bisa kembalikan waktu, gue mau. Tapi ini kan dunia nyata bukan Twilight Zone, hehehe. Jadi daripada disesali lebih baik sih diperbaiki. I'm gonna be a better me. Amen! :) 
Dari sekian hal yang membuat gue "keluar dari zona nyaman" ada satu hal yang sama sekali nggak gue sesali alias nggak mau ganti dengan apapun. Ada yang bisa tebak apa? Well, kalau sempat baca post gue yang kemarin-kemarin pasti tahu. ---Gue punya suami! Selain keinginan dari diri sendiri, dialah yang membantu gue pelan-pelan kembali ke track. Gue bersyukur dia, ---Shane, nggak memaksakan agar gue bisa kembali produktif secara instan, malah kemarin kami sempat jalan-jalan singkat ke Singapore untuk berlibur sekaligus me-restart tubuh gue :)


Ide jalan-jalan ini sebetulnya nggak seluruhnya ide suami. Dia memang berencana mengajak gue ke Singapore untuk suatu keperluan, tapi lalu ibu mertua punya ide agar gue juga bisa bersenang-senang di sana. "Hadiah natal untuk Indi", begitu katanya. Ya sudah yang tadinya gue hanya membawa piyama banyak-banyak (karena niatnya mau stay di hotel saja, hehehe), jadi ditambah beberapa dress deh biar kece :p By the way, ada yang ingat dengan cerita liburan gue sebelum ini kah? Nah, setelah pengalaman yang sampai sekarang meninggalkan trauma itu gue jadi wanti-wanti sama Shane untuk membaca baik-baik dulu review hotel tempat kami menginap nanti. Jangan sampai foto-foto di situsnya bagus tapi setelah sampai ternyata jauh berbeda. Gue sih lebih percaya apa kata pelanggan daripada kata situs karena bisa saja dimanis-manisin. Syarat yang gue minta juga nggak muluk-muluk, asal bersih, wifi kenceng, ada bathup, dan bakal nilai plus kalau ada hair dryer karena gue malas bawa tas berat-berat. Maklum dari zaman masih bocah tas traveling gue cuma satu dan ukurannya nggak besar-besar amat, hehehe. Akhirnya setelah Shane punya 3 kandidat hotel dia nemu juga hotel yang pas. Keesokan paginya kami langsung terbang ke Singapore, deh :)

Kami terbang dari Bandung dengan menggunakan pesawat Air Asia. Nggak sempat sarapan dan waktu tiba sudah pas-pasan dengan waktu boarding. Sebenarnya ada sih waktu sedikit, tapi kami sempat ditanya-tanya dulu sama petugas imigrasi karena Shane over stayed. Iya, meski kami sudah menikah suami gue masih pakai visa on arrival, jadi hanya berlaku 30 hari. Dan dia sudah tinggal di sini selama 8 bulan, ---jadi coba hitung saja berapa kali dia harus meninggalkan Indonesia setiap bulan agar bisa bersama gue. Saking seringnya Bandung-Singapore-Bandung jadi terasa seperti ke mall saja, karena berangkat pagi sorenya sudah di Bandung lagi. Awalnya rasanya sih kasihan, kok demi pacar begini amat. Tapi sekarang gue malah merasa wajar, you need to fight for love, benar nggak? :) 
Setelah selesai dengan urusan imigrasi (---yang menurut Shane petugasnya flirting sama gue karena kami disangka temenan, bhahahahaaaa) penerbangan berjalan lancar. Nggak sempat tidur sih karena perut lapar dan menu di pesawat nggak ada yang vegan friendly. Tapi mood kami baik sekali, sepanjang perjalanan ngobrol terus dan main cilukba dengan penumpang cilik yang duduk di depan kami, hehehe.


Setiba di Changi airport kami nggak langsung ke hotel tapi cari makan dulu. Sekalian Shane juga ajak gue berkeliling karena airport ini sudah jadi "tempat tinggal" keduanya selama 8 bulan terakhir (aww...). Pilihan gue nggak jauh-jauh sama nasi padang. Paling aman deh, soalnya ada menu perkedel sama terong dan nasinya segunung jadi dijamin kenyang dan vegan. Selesai makan kami duduk-duduk sambil main ukulele. Mau menginjakan kaki ke luar rasanya malaaaaas banget, soalnya matahari lagi terik-teriknya. Jadi kami santai dulu sambil menunggu waktu check in hotel. Ini nih salah satu alasan kenapa gue cinta sama Shane, kami sama-sama malas panas-panasan, hehehe. Oh iya, dulu pas gue ke Singapore sama Bapak kami boros banget gara-gara pakai taksi kemana-mana. Bersyukur gue diberitahu teman, Wilson namanya, untuk pakai aplikasi Grab saja karena lebih murah dan cepat dapatnya. Aplikasinya nggak perlu khusus, secara otomatis bakal baca lokasi gue meski download app nya pas di Indonesia. Pokoknya ini life saver banget karena dari pintu terminal kami rupanya cukup susah untuk dapat taksi dan kendaraan umum lainnya. Saking susahnya driver yang jemput kami sempat salah lokasi. Untung saja beliau sabar banget dan mau muter-muter tanpa charge kami lebih *fiuuuh* :D


Hotel yang Shane pilih itu namanya Grand Pasific. Entah deh masih ada hubungannya dengan hotel yang bernama sama di Bandung atau nggak. Jarak dari airport sekitar 20 menitan, tepatnya di Victoria Street. Kesan pertama, gue suka dengan suasana daerahnya yang sepi. Nggak gitu banyak turis lalu lalang dan hotelnya juga sederhana. Kalau kata Shane sih, "Gedungnya tua, tapi tuanya tua dalam artian bagus." ---Nggak tahu deh apa maksudnya, hahaha :') Kami kebagian di lantai 10, di kamar paling ujung dekat tangga darurat. Gue dan Shane langsung girang, soalnya itu artinya kami bisa nyanyi dan main ukulele sampai larut tanpa takut ada yang merasa terganggu. Hore! Sudah dua kali berturut-turut saat menginap kami kebagian kamar yang "bebas merdeka", sungguh kebetulan yang menyenangkan :D Prinsip kami sih mending menginap di tempat yang lumayan supaya fasilitas toiletries atau personal carenya lengkap. Jadi space di tas bisa buat alat musik, laptop dan, ehm... boneka kelinci gue, hehehe. Paling hanya sabun cuci muka dan deodoran saja yang bawa dari rumah, lainnya seperti lotion, qtips, dll sudah ada. Karena happy ala kami ya begitu, bisa menulis, bisa nonton film, bisa main musik, bisa santai... Rasanya kaya surga dunia, hehehe. 



Shane langsung rebahan di kasur sementara gue langsung berendam air hangat. Rasanya nyaman sekali setelah paginya gue mandi agak keburu-buru. Sayangnya gue lupa bawa bath boom yang mertua gue kasih, jadi cuma pakai shower gel biasa. Gue juga sudah siap bawa HP ke kamar mandi supaya bisa sambil nonton film, tapi rupanya wifi selalu putus-nyambung begitu di wilayah tub. Jadi ya sudah gue merem-melek saja sambil menikmati siang menjalang sore. Setelah selesai gue pun menyusul Shane yang sudah terlelap (mungkin kelamaan nunggu gue, hehehe). Saking nyenyaknya kami terbangun tengah malam dalam keadaan lapar. Insting pertama gue langsung ajak Shane jalan kaki buat cari makan murah-meriah. Tapi lalu gue sadar kalau di daerah ini restoran sudah pada tutup, dan yang buka 24 jam cuma mini market. Yah... makan mie instannya besok-besok saja dulu deh... Masa lagi liburan sudah berasa kaya pas akhir bulan di rumah, hehehe :p Hasil cek google restoran terdekat yang masih buka jaraknya di atas 4 KM semua. Jangankan cuci muka, buat ganti piyama dengan yang baju yang agak mendingan saja gue sudah malas... Akhirnya kami putuskan untuk pakai grab food. Agak asing dengan aplikasinya karena di Bandung kami biasa pakai gofood atau delivery order ke restorannya langsung. Sempat 2 kali gagal karena jaraknya di luar area, dan waktu akhirnya dapat ternyata makanan Meksiko. Padahal awalnya gue lagi kepengen banget makanan India, hehehe. Tapi nggak apa-apa deh, soalnya Baja Bowl dari Baja Fresh Mexican Grill ternyata enak banget! Gue sampai habiskan 2 mangkuk besar dan setelahnya... langsung tidur lagi. Kekenyangan!


Karena aktivitas hari pertama kami cuma makan-tidur-makan-tidur, besoknya kami bangun pagi-pagi sekali. Rambut gue agak lepek jadi sekalian saja gue mau coba jajal kemampuan hair dryer hotel. Diluar dugaan, meski kecil ternyata oke juga. Anginnya kuat banget, sampai-sampai rambut gue yang tebal ini lumayan cepat keringnya. Sayangnya colokan di wastafel kamar mandi hanya untuk shaver. Jadi sehabis rambut kering gue nggak bisa styling pakai catokan di sana :( Untung saja gue banyak akalnya (lol). Gue pakai kamera selfie HP gue sebagai cermin! Agak-agak kagok sih, tapi it work. Sudah kece kami niatnya mau cari sarapan di luar. Alasannya karena menginap ternyata exclude sarapan. Seumur-umur nginep di hotel baru kali ini buat sarapan harus bayar, huhuhu. Tapi iseng-iseng kami tanya berapa harganya, ternyata terjangkau (kalau nggak salah sekitar 200 ribuan per orang) dan all you can eat! Ya sudah kami makan di sana, namanya Sun's Cafe. Menunya ala makanan rumah gitu, dan ada pilihan untuk vegan. Gue dan Shane puas banget dan berandai-andai kalau saja kami bisa makan "menu sarapan" untuk makan siang dan malam juga. Kan bisa hemat tuh. Secara pas kami hitung-hitung untuk makan malam yang lalu habis 500 ribuan. Mending gue makan di Ampera deh bisa traktir sekeluarga plus gratis teh anget :') 





Keinginan gue buat main ukulele sepuasnya tercapai juga. Mungkin karena nggak was-was ada yang terganggu rasanya jadi lebih kreatif. Gue bikin lagu di sana, ---tepatnya pas lagi nongkrong di kamar mandi, hehehe. Gue dan Shane memang nggak banyak keluar, sebagian besar waktu kami dihabiskan di kamar saja. Kami hanya keluar untuk makan, itu pun nggak jauh-jauh. Ada restoran namanya Din Tai Fung yang jaraknya cuma 2 belokan dari hotel. Sejauh ini rasa makanannya jadi yang paling memuaskan lidah gue, soalnya pedas dan nendang. Sedangkan sisanya kami makan di kamar saja sambil genjang-genjreng ukulele. Eh, ngomong-ngomong ada pengalaman cukup horror lho di kamar kami. Seperti yang gue sudah gue sebutkan, kamar kami ada di ujung. Jadi sisi kirinya mentok dan sisi kanan langsung ke tempat tidur kamar lain bukan kamar mandi. Di depan kamar kami juga kosong dan kamar kami menghadap ke jalan, jadi suara yang terdengar harusnya cuma lalu-lalang kendaraan saja. Tapi beberapa kali kami dengar ada suara air mengalir, seperti orang pakai shower dan flush toilet gitu. Padahal gue sudah cek kalau ada yang pakai kamar mandi nggak terdengar tuh ke luar. Pernah lagi asyik nonton TV tiba-tiba saja ada "suara-suara". Malah yang lumayan bikin deg-degan lampu kamar kami suka kaya ada yang mainin. Seram-seram kocak, soalnya kami senang nonton film horror tapi kalau ngalamin ternyata takut juga, hahaha.







Di hari ketiga gue kepengen pulang. Padahal seharusnya kami menginap satu malam lagi, bahkan sudah berencana ganti hotel segala biar nggak bosan. Entah kenapa gue kepikiran melulu ikan gue, Fish O'Fish. Jadi sebelum berangkat gue memang sempat nangis kejer gara-gara si ikan lagi sakit pop eye (mata bengkak). Sudah diobati dan minta saran sama teman-teman di grup tapi kondisinya masih gitu-gitu saja. Yang bikin makin khawatir dia jadi susah makan, padahal biasanya lahap. Selama di Singapore gue whatsapp bapak gue terus buat nanya keadaannya. Katanya sih baik-baik, tapi karena nggak kirim bukti foto kok gue jadi curiga (---padahal rupanya memang baik-baik saja, lol). Gue bilang sama Shane kalau pulangnya lebih baik dipercepat saja. Toh gue sudah dapat cukup waktu untuk refreshing dan lama-lama bingung juga mau ngapain lagi. Sayangnya karena mendadak kami nggak dapat tiket yang langsung ke Bandung kecuali kalau berangkat pagi-pagi sekali. Well, itu sih nggak mungkin karena gue minta pulangnya saja sudah hampir tengah hari. Gue pikir sudahlah kami ke airport dulu siapa tahu ada yang cancel dan jadi rezeki kami. Jadilah kami check out dan jalan-jalan dulu sebentar. ---Maksudnya literally jalan kaki sambil ngalor-ngidul karena Shane rupanya belum mantap untuk pulang. Kami mampir dulu ke Food Republic dan ngobrol-ngobrol di sana. Kami bahas apa plus-minusnya kalau kami pulang sekarang atau besok. Tapi nggak butuh waktu lama Shane pun setuju untuk pulang, alasannya karena cuaca sangat panas dan setelah dihitung baju bersih dia juga tinggal satu, hahaha. Jadilah kami pesan Grab dan menuju airport.




Pas banget sampai di airport ibu gue video call. Beliau kaget karena gue sudah mau pulang dan belum dapat tiket. Kayanya Ibu khawatir kalau gue bakal nginep di airport saking malas kemana-mananya :p Tapi gue jelaskan kalau Shane sedang cari tiket, dan terakhir waktu kami cek ada penerbangan ke Jakarta untuk sore hari. Syukurlah ternyata kami kebagian meski sisa hanya beberapa seats saja, ---dan gue masih kebagian window seat pula! Alhamdulillah! :D Pokoknya gue girang-segirangnya. Kami cuma punya waktu 30 menit sebelum boarding, dan itu gue pakai untuk beli oleh-oleh baju buat Ali keponakan gue, sementara Shane beli burger sayur untuk bekal di pesawat karena tahu nggak ada menu vegan di udara. Kami sempat berselisih, karena waktu kami sudah dipanggil Shane ternyata masih belum kembali. Padahal gue sudah ingatkan dia untuk lari. Gue sampai bilang kalau sampai kami ketinggalan gue mau nangis kejer, hahaha. *becanda*
Waktu kami duduk di pesawat rasanya gue lega banget. Nggak sabar untuk tidur di kamar kami dan ketemu lagi sama keluarga dan hewan-hewan peliharaan di rumah. Singapore memang negara yang menyenangkan, gue nggak pernah kecewa setiap kali berkunjung ke sana. Tapi nggak ada yang mengalahkan nyamannya rumah dan nikmatnya masak di dapur sendiri :))


Rupanya memang benar, gue hanya perlu refreshing. Keluar dari rutinitas ternyata membuat gue rindu untuk kembali produktif. Mungkin karena terlalu larut dengan kemageran, bikin gue lupa tentang "pentingnya" liburan. Serius guys, jangan pernah menyepelekan kekuatan dari ambil break buat diri sendiri. Nggak usah jauh-jauh, nggak usah lama-lama. Yang penting beri diri sendiri waktu untuk rehat because you deserve it! ;)



nb: Gue deg-degan banget waktu buka pintu kamar, takutnya Fish O'Fish kenapa-napa. Rupanya oh rupanya, dia malah jauuuuh lebih sehat dari sebelumnya. Gue memang suka khawatir berlebih ya, hahaha :D


penggemar burger sayur,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 13 Desember 2018

Glamorous Camping? Indi Happy atau Nelangsa? :p

Kayanya bukan lagi rahasia bagi orang-orang dekat gue, kalau gue itu lebih suka aktivitas indoor daripada outdoor! :p Eh, bukan berarti gue nggak suka alam atau nature, lho. Gue suka, ---bahkan paling hobi lihat pemandangan. Tapi kalau boleh memilih gue pasti akan lebih prefer menghabiskan waktu di dalam ruangan setelah berjalan-jalan di alam. Bisa menginap di hotel, villa, atau di rumah teman. Pokoknya asalkan nggak tidur di luar gue nggak masalah. Well, IDK, menurut gue tidur di bawah bintang hanya terdengar indah di film atau di novel saja. Gue terlalu "takut" dengan udara dingin dan gigitan nyamuk. Jadi jalan-jalannya cukup siang sampai sore saja deh, sisanya di kamar, hehehe. Nah, beruntungnya gue punya suami yang (hampir) sepemikiran. Dia juga suka alam, tapi kalau istirahat pilihnya ya di ruangan meski dia suka kegiatan outdoor macam mengendarai dirt bike, main skateboard dan lain sebagainya (---gue mah nggak, lol).

Makanya waktu Om gue menawari kami untuk menginap, gue nggak pakai ragu bilang kalau kami pengen tempat yang damai (jauh dari hiruk pikuk kota, bosan gue sebagai orang Bandung, hehehe) dan nyaman. Mau di gunung pun nggak masalah, tapi kalau bisa ---ehm, menginapnya di hotel. Biar sehabis lelah jalan-jalan gue bisa nonton film, berendam air panas atau malah dipijitin. Itulah kenapa gue selalu menolak kalau jalan-jalannya bareng orang lain alias grup, karena gue pasti (dianggap) ngerepotin minta ini-itu. Tapi ya mau gimana lagi gue itu orangnya seimbang, suka alam tapi juga suka moderenisasi :p *ngeles*
Om gue bilang dia minta tolong temannya buat cari hotel yang lokasinya di alam buat kami. Setelah dapat gue langsung dapat kiriman video lewat whatsapp yang isinya kondisi tempat menginap dan pemandangan sekitarnya. Waktu menonton gue dan Shane langsung curiga, kok nggak seperti hotel. Tapi pemandangannya sih bagus, menghadap danau dan sunyiiiii banget. Ternyata benar saja, setelah googling tempat yang dicarikan temannya Om gue itu ternyata villa. Tadinya gue mau nawar, minta menginap di hotel saja. Tapi setelah dipikir berkali-kali plus diskusi mondar-mandir sama ortu dan suami, akhirnya gue deal. Di video pemandangannya bagus, nggak apalah tanpa room service yang penting sepadan dengan apa yang kami lihat nanti :)

Lokasinya di Pangalengan-Jawa Barat. Gue nggak akan bilang dimana tepatnya (kalian akan tahu alasannya nanti), tapi yang pasti cukup populer dan reviewnya banyak di Google. Karena sudah tahu bakal menginap di villa, gue dan Shane bawa perlengkapan lengkap. Dari mulai makanan (instan dan sayuran, dasar vegan! Lol), selimut, losion anti nyamuk, gitar dan ukulele untuk anti bosan, sampai obat-obatan. Perjalanan cukup jauh dari rumah kami di Bandung Selatan. Berkelok-keloknya bikin pusing tapi pemandangannya memanjakan mata, hijau di mana-mana! Shane sampai sering ambil video dari dalam mobil karena kagum. Mood kami juga bagus, bawaannya cekikikan terus, mungkin karena excited :) Sayangnya ketika tiba tempatnya ternyata nggak seindah yang video... Begitu turun kami langsung mencium bau amis dan banyaaaak sekali lalat. Gue nggak lebay, ini lalat banyaknya sampai masuk ke dalam villa dan nempel-nempel di jendela DALAM kamar! Speechless, waktu barang-barang diturunkan dari mobil gue nggak rela. Tapi mau gimana lagi, kami sudah deal dan akhirnya ditinggal berdua saja di sana. Then the nightmare begin... Waktu kami mulai beres-beres gue mulai notice kalau dapurnya kotor banget. Di peralatan makannya masih ada kecap ---or whatever lah nempel-nempel. Gue dan Shane langsung berinisiatif cuci semuanya dan begitu rak diangkat... ADA KECOA, SAUDARA-SAUDARA! Gue coba nggak panik dan minta Shane lap meja, dll dengan tisu basah antiseptik (lap yang di sana sudah compang-camping dan bau, hiks), sementara gue hidupkan anti nyamuk elektrik yang rupanya nggak mempan untuk mengusir lalat. 

Waktu dicek, kamar mandi rupanya nggak ada air. Pusing tujuh keliling lah kami, sudah datang jauh-jauh maunya istirahat malah "harus" beres-beres. Kami sampai nggak berani menginjakan kaki di kamar karena selain jendela, tempat tidur juga dilalerin. Gue sampai pengen nangis mikir gimana cara lewatin malem kalau kondisinya kaya gini. Shane lalu ajak gue melihat-lihat keluar villa sambil mencari orang yang bisa dimintai tolong. Bad idea! Lalat semakin banyak, bahkan beberapa langkah saja dari villa kami gue baru ngeh kalau ada seonggok (maaf) pup. Ya Tuhaaaan, fix gue mau minta pulang saja *cry emoji* 
Tapi ternyata nggak semudah itu. Handphone gue nggak ada sinyalnya dan wifi juga mati. Petugas villa entah dimana dan hari juga sudah mulai gelap. Sumpah dah gue lebih baik diserang zombie daripada diserang lalat, hahaha. Kami pun jalan ke luar wilayah villa dengan harapan dapat sinyal. Lumayan jauh, tapi akhirnya dapat. Saking leganya gue sampai nggak mau balik lagi ke villa, biar deh gue berdiri di sana dilalerin asal bisa telepon. Dan akhirnya, setelah 2 jam kami dijemput!

Di mobil kami sudah siap-siap terlelap, ---lelah fisik dan batin :p Tapi malah ditawari untuk menginap di tempat lain. Langsung saja kami tolak, waktu semakin larut dan yang gue pengen waktu itu cuma mandi terus salin pakai piyama :( Om gue yang lagi OTW ke luar kota whatsapp  bilang supaya minta dicarikan hotel. Dia bersikeras agar gue dan Shane tetap jadi menginap di tempat yang nyaman. Bimbang deh gue, hati sebenarnya pengen pulang tapi nggak enak kalau menolak permintaan Om yang notabene cuma ingin menyenangkan gue. Akhirnya setelah diskusi sedikit dengan Shane yang mulai tampak seperti zombie, kami setuju untuk menginap di tempat lain dengan syarat harus BERSIH dan gue bisa mandi. Orang travelnya setuju, dan dia merekomendasikan resort yang katanya nyaman dan pasti gue suka. Waktu dia tunjukan fotonya gue dan Shane lihat-lihatan. Not again... Lagi-lagi bukan hotel. Bahkan tempatnya semi outdoor karena konsepnya glamping, alias camping yang "glamour". Di kepala gue langsung keluar naskah panjang kesewotan gue tentang kenapa ini travel nggak mau kasih kami hotel saja. Terserah deh mau hotel bintang satu juga asalkan kami bisa tidur di dalam kamar. Tapi di kenyataan gue cuma ngangguk saja. ---Akika lelah, bo :(

Tentang Glamping

Malam, lupa jam berapa, akhirnya kami tiba di lokasi resort glamping. Kata orang travelnya begini, "Lihat saja dulu, kalau nggak suka boleh pulang." Gue nggak becanda, gue masuk ke lobby pakai sarung di kepala, sudah kaya ninja saja. Kesan gue dan Shane waktu menginjakan kaki di sana; look nice (waaaaay nicer daripada tempat sebelumnya), mirip lobby hotel "normal" dan kekinian. Gue sih cuma bisa membatin saja kenapa kami nggak dibawa ke sini dari awal. Memang belum lihat bagaimana suasana area glampingnya sih, tapi at least dari lobbynya saja sudah terlihat bersih. Herannya waktu gue setuju buat menginap di sini, pihak resort butuh waktu cukup lama untuk mengantarkan kami ke "kamar" (---pakai tanda kutip karena bukan kamar konvensional ya, hehehe). Lobbynya semi outdoor dan Lembang sedang hujan, jadi terbayang dong gimana dinginnya kami. Untung saja di sini sepi banget, jadi nggak banyak orang yang lihat gue jadi Lutung Kasarung. Well, sebenernya sih bodo amat, yang penting anti masuk angin :p

Pemandangan malam hari, waktu kami tiba.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Kami diantarkan ke "kamar" yang (gue pikir) berupa tenda camping. Tapi ternyata itu hanya dari luarnya saja. Begitu petugas membuka resleting tenda terlihatlah isinya yang terlihat seperti kamar pada umumnya. Tempat tidur luas, kotak penyimpanan, kamar mandi lengkap dengan air panasnya, juga termos elektrik untuk memaskan air! Waktu gue perhatikan ternyata rangkanya permanen dan lantainya juga terbuat dari semen, bukan tanah. Langsung lah gue membuang nafas lega *fiuh* Dibandingkan tempat yang sebelumnya, yang ngakunya villa ternyata malah lebih hommy di sini (lebih dekat dengan rumah gue juga. Asyem, buang-buang waktu saja di jalan). Petugasnya nanya apa gue dan Shane mau pindah lokasi atau tetap di kamar yang ditawarkan saja. Kami langsung sepakat kalau nggak mau lihat-lihat lagi meskipun kiri-kanan-bawah kamar kami kosong. Setelah itu kami diberi kunci dan gemboknya, juga diingatkan kalau sampai jam 10 malam ada bonfire yang bisa dinikmati bersama pengunjung resort lainnya.

Meski ngarepnya ada bathup buat berendam, tapi adanya shower dengan air panas juga good enough. Sementara Shane beres-beres barang bawaan kami, gue mandi lalu berganti dengan piyama. Padahal paginya gue sudah mandi, tapi mungkin karena di mobil berjam-jam plus dilalerin rasanya badan gue kotor banget, ---banget! Eh, gue surprise lho dengan kamar mandinya, selain air panasnya stabil, perlengkapannya juga lengkap. Ada shower cap segala yang biasanya cuma gue temui di hotel yang "bagus". Kesannya memang sepele, tapi dengan mandi rupanya bisa mereset mood gue, hehehe :p Kami sempat kepikiran mau ikutan bonfire, tapi setelah dipikir-pikir rasanya lebih nyaman di kamar saja. Tawaran genjrang-genjreng gitar sambil membakar marshmallow pun nggak terlalu menggiurkan bagi kami. Alasannya karena kami vegan (masa mau bakar kapas? Lol), juga karena kami membawa gitar dan ukulele sendiri dari rumah. Di dalam kamar kami merasa lebih bebas bermain musik sekeras apapun karena kebetulan kami satu-satunya yang mengisi kamar di jajaran atas. Kalau di depan orang lain kan gawat, kami suka nggak kira-kira kalau nyanyi :p

Tenda alias kamar kami tampak depan. Kiri-kanan sama bawah nggak berpenghuni, hehehe.


Kamar mandinya tanpa bathup, tapi air panasnya stabil, bikin betah. Dari sabun sampai losion juga sudah tersedia.


Itu selimut Shane yang bawa sendiri dari rumah, soalnya kami suka agak "gimanaaa" gitu pakai selimut orang lain :'D Oh, btw itu si Onci, boneka kelinci gue juga ikut.


Nggak ada TV di kamar kami karena katanya sih konsepnya less gadget. Wifi tetap ada yang fungsinya untuk memanggil butler kalau lapar tengah malam. Tapi bukan Indi namanya kalau nggak segala dibawa, hahaha. Dengan menggunakan wifi gue dan Shane menonton film horror di laptop! Untung saja wifinya cukup kencang, jadi hanya 2 kali buffer dan sisanya aman. Sengaja pilih horror (Creep 2, karena sudah nonton yang pertama) karena itulah satu-satunya genre film yang kami nggak pernah bosan. Herannya setelah filmnya habis kami nggak ngantuk sama sekali, padahal sebelumnya kami terkantuk-kantuk di mobil. Pilihan aktivitas di tengah malam juga nggak banyak (ya kali, lol), kalau nggak makan ya lagi-lagi main musik. Oh iya, kami masak mie instan dan bubur kacang di termos elektrik, lho. Karena tadinya sudah berencana buat masak-masak di villa jadi kami bawa sekantung besar makanan. Kan sayang kalau dibuang. Cukup menantang juga, tapi hasilnya enak. Apalagi gue juga sudah iris-iris sayur dari rumah, jadi kami nggak kekurangan gizi. Istri idaman banget kan gue :D *wek!*

Semenjak menikah kalau gue insomnia Shane juga ketularan. Padahal dulu dia sih cuek saja kalau gue melek, ---atau sebaliknya. Jadilah kami zombie berdua. By the way, mungkin sih ini karena suasana di sini kurang cocok dengan "style" kami beristirahat. Tendanya sih nyaman dan cukup bersih (debu-debu di sudut atap mah wajar lah, rumah gue juga gitu, hehe), tapi polusi suaranya kencang bangeeet. Gue pikir karena kami di gunung jadi bakal sunyi gitu, tapi ternyata suara jalan raya terdengar banget. Apalagi suara motor yang ngebut-ngebut ngepot, bikin elus dada :'( Belum lagi karena di kamar nggak ada AC atau heater (hanya kipas di langit-langit) bikin malam yang dingin semakin terasa. Tenda pun jadi sedikit berkibar-kibar dan bikin kami rebutan selimut. Akhirnya gue dan Shane memutuskan untuk berjalan-jalan di luar saja. Biarlah kalau badan kami jadi berpeluh lagi setelah mandi, lebih baik daripada menahan dingin. Lagipula kami memang berjiwa horror, sudah lama memimpikan untuk bisa jalan-jalan tengah malam tapi di daerah kami terlalu ramai, hehehe. Ternyata seru juga, kami jadi bisa melihat suasana di sekitar resort termasuk tempat bonfire yang kami lewatkan. Tapi yang paling seru sih waktu kami sembunyi-sembunyi dari penjaga malam. Setiap cahaya senternya diarahkan ke dekat kami, kami langsung jongkok. Nggak apalah mengkhayal jadi buronan daripada bosan :p

Setelah jadi "buronan" pun kami tetap belum mengantuk. Sekitar jam 3 pagi (pokoknya menjelang subuh gitu) kami masuk kembali ke kamar dengan sepatu yang penuh lumpur karena hujan gerimis. Rasanya antara perasaan sama badan gue nggak singkron. Badan sudah lelah selelah-lelahnya, tapi setiap dengar suara bising dari jalan raya gue otomatis melek dan siap siaga. Syukurlah gue masih diberi tidur sama Tuhan, menjelang pagi gue akhirnya tidur sebentar (dan katanya Shane menyusul terlelap nggak lama setelah gue) dan bangun sekitar jam 8. Gue agak-agak pusing gimana gitu, sebelum tidur Shane bungkus badan gue pakai selimut ala-ala kepompong supaya gue merasa aman. Iya sih ampuh, tapi kan nggak bisa gerak, hahaha. Lagi-lagi bersyukur karena kami sudah siap obat-obatan, jadi begitu waktunya sarapan gue sudah segar kembali. Sarapannya di cafe dekat lobby yang cukup okay, tapi sayang banyak lalat. Jangan-jangan lalat dari villa sebelumnya ngikut, nih, lol. Tapi rasa makanannya cukup mengobati. Kami pesan nasi goreng (iya, sarapannya perpaket gitu, nggak all you can eat, huhu), buah-buahan, kopi dan jus mangga. Nilai plusnya mereka memasak ketika ada yang memesan, alias fresh. Terbukti karena waktu kami request nasi goreng vegan mereka menyanggupi padahal nggak ada di menu :)

Pemandangan ketika kami bangun. Indah ya, meski agak gelap karena musim hujan :)

Bangun tidur ku terus nongkrong, tidak lupa minta difoto :p

Waktu nggak bisa tidur kami jalan-jalan sampai ke bawah, lho (lihat di belakang gue).


Karena masih pagi kami jadi bisa lihat pemandangan resort dengan lebih jelas. Dan ternyata indaaaaaah sekali. Sampai hampir lupa kalau semalam bisingnya sudah kaya nonton balap liar :') Karena lagi musim hujan langit jadi nggak terlalu cerah, tapi tetap saja rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Shane langsung punya inisiatif untuk merekam gue bernyanyi dan bermain ukulele sambil memperlihatkan suasana resort. Kocak juga sih, karena lagu yang gue mainkan "Twoday" belum pernah direkam. Jadi gue cuma sok-sok lipsync gitu. Terbukti waktu videonya dicocokan dengan lagunya ternyata nggak match. Untung saja kemampuan mengedit Shane lumayan. Baru kali ini videonya duluan yang direkam baru lagu, hahaha :D Gue nggak tahu dengan hari-hari lain, tapi waktu gue dan Shane stay kayanya nggak banyak yang menginap. Waktu sarapan kami hanya bertemu dengan 2 tamu lainnya. Juga waktu merekam video kami cuma bertemu dengan beberapa petugas yang berjaga. Bagus juga sih, jadi berasa shooting video clip beneran :D *boom cess!*

Ini ayunan buat anak-anak sebenarnya. Tapi gue bebas pakai sepagian, soalnya sepi, hehehe.


Nggak ada yang ambil foto kami, ya sudah selfie :p


Nah, ini malah aneh. Gue lagi selfie eh Shane ambil foto gue, hahaha.


Ada musik = bikin lebih happy :))



Jadi apakah pengalaman glamping kami menyenangkan? Shorta! Karena sebenarnya bisa lebih baik kalau saja suasana nggak bising dan di kamar ada heather. Please jangan ada yang nanya kenapa suami gue orang Amerika yang biasa kena salju masih juga kedinginan padahal cuma hujan. Ya atuh, kan mereka juga pakai heater, saudara-saudara :') Kami sih menikmati sekali pemandangannya, juga fasilitas kamarnya. Tapi kalau bisa memilih ya lebih pilih hotel yang dekat dengan alam saja. Atau seenggaknya motel, yang penting kamar berdinding sungguhan. Apa gue merekomendasikan para pembaca yang budiman untuk mencoba glamping? IYA! Saran gue carilah tempat yang jauuuuuuh sejauh-jauhnya dari jalan raya supaya terasa menyatu dengan alam, bukan dengan knalpot :( Menurut gue glamping ini cocok banget buat yang rindu camping tapi keadaan kurang memungkinkan. Misalnya terkendala kesehatan (nggak bisa melewati jalan terjal berliku) atau sudah berkeluarga dan ada balita (eh tapi banyak juga sih balita yang naik gunung, pokoknya you know what I mean lah ya). Mudah-mudahan sih tulisan gue ini bisa memberi ide untuk kemana kalian mengisi liburan akhir tahun nanti. Dan juga untuk yang penasaran semoga pengalaman gue memberi gambaran. Terakhir, jangan lupa kalau setiap orang punya kesukaan yang berbeda. Kalau kami nggak betah karena dingin, siapa tahu kalian malah suka. So give it a try! :)

"TWODAY". Lagu baru gue dan Shane yang videonya dishoot waktu kami glamping :)


yang kemana-mana bawa sayur dan ukulele,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com