Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Jumat, 29 April 2016

Courtesy of You... ---wait, WHO?

Kalau diingat banyak hal berubah sejak gue kecil sampai sekarang. I know, ---hahaha, kata-kata ini lebih cocok jika diucapkan oleh Ibu atau Bapak. Tapi sungguh, di waktu hidup gue yang belum selama mereka ini gue sudah merasakan banyak perubahan. Rasanya seperti kemarin gue menonton film drama keluarga produksi Hollywood sebelum waktunya tidur, dan sekarang di jam yang sama hanya ada serial-serial Turki. Dan rasanya juga masih seperti kemarin waktu salah satu stasiun TV menjanjikan pemutaran film berkualitas dengan "rasa" bioskop, dan sekarang stasiun yang sama sudah penuh dengan iklan bahkan saat berita diputar, hihihi. Nggak semuanya jelek, sih. Banyak hal yang gue rasa jadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Ada yang masih ingat "good" old days waktu harus mengeluarkan uang puluhan ribu rupiah hanya untuk mengerjakan tugas sekolah di warnet? Hanya dalam waktu beberapa tahun wifi sudah ada dimana-mana dan gue, ---juga para murid dan mahasiswa lain hanya perlu bermodalkan laptop dan teh botol supaya nggak kena usir, hihihi. Kemudahan berinternet juga berarti kemudahan untuk mencari data. Gue nggak harus berjam-jam membuka buku satu persatu di perpustakaan untuk mencari bahan untuk ujian yang tinggal menghitung hari.

Eh, semakin ditulis kok jadi semakin terasa ya kalau memang banyak hal yang berubah, hehehe. Terutama soal acara TV, belakangan memang banyak yang menghilang. Gue masih ingat dulu acara "home video" sangat populer di TV lokal (---karena kalau di TV kabel sih sampai sekarang juga ada). Sampai-sampai Komeng dan teman-temannya pun pernah membuat versi lokalnya di salah satu stasiun TV (itu lho, yang slogannya "Uhuy!", hehehe). Konsep acaranya sih simple, jadi pemirsa diminta mengirimkan video yang menangkap moment menarik, ---bisa moment lucu, crime atau fenomena alam, tergantung program TV nya. Lalu yang terpilih akan ditayangkan dan pengirimnya akan mendapatkan reward. Minimal pemenang mendapat merchandise berlogo acaranya yang kalau dipakai bikin bangga, hehehe. Dan yang paling besar tentu sejumlah uang sekaligus diundang ke studio TV untuk muncul di ujung acara. Pokoknya berkat acara-acara seperti ini jadi banyak orang yang berlomba-lomba mengabadikan moment candid (---termasuk gue, lol). Soalnya itu adalah satu-satunya cara untuk membagi video karya kita agar bisa ditonton oleh banyak orang.


But well, itu beberapa tahun yang lalu, ---yang terasa seperti ratusan tahun lalu saking berbedanya, hehehe. Sekarang sudah ada YouTube, Vimeo, Dailymotion dan situs-situs berbagi video lain yang mudah diakses. Siapa saja bisa menggunggah video dan membaginya kepada keluarga, teman, bahkan ke virtual friends yang ada di akun media sosial. Contohnya saja gue yang salah satu pengguna YouTube. Sekarang tanpa acara-acara "home video" pun sudah puas karena video-video gue tetap bisa ditonton oleh banyak orang. Bayangkan saja seorang YouTuber amatir (baca: nggak jelas) seperti gue channelnya sudah ditonton sebanyak 160.000-an kali. Entah yang mampir benar-benar suka dengan video-video gue atau sekedar nyasar, tapi kita semua bisa setuju kalau itu bukan angka yang kecil. Atau istilah lainnya; siapa saja bisa menjadi bintang. Coba bandingkan dengan dulu, mana pernah terbayang video gue banyak yang menonton, ---bahkan termasuk oleh idola gue! Oh my technology! Look how far you brought us! :p


Yang bercita-cita jadi reporter pun sekarang bisa mereportase suatu kejadian dan langsung diunggah ke channel milik sendiri. Nggak jarang kita melihat atau membaca sebuah berita lebih dulu justru dari sebuah channel/blog personal dibandingkan dari stasiun TV. Mau jadi sutradara? Bisa. Mau jadi penyanyi? Bisa. Bahkan mau pamer resep-resep andalan juga bisa cukup dengan modal kamera (atau handphone) dan koneksi internet. Keberadaan situs berbagi video ini menggeser trend acara "home video" dan membawa trend yang baru; acara TV yang sumber videonya berasal dari situs-situs tersebut, terutama YouTube! Meski kesannya lazy, tapi acara-acara seperti ini sukses, lho. Buktinya ada salah satu program musik yang tiba-tiba berganti konsep menjadi acara yang berfokus ke pemutaran-pemutaran video. Bahkan sekarang acaranya diputar di waktu primetime. Meski berbeda stasiun TV, konsep acaranya sih rata-rata sama. Kalau nggak memutar video-video lucu, ya sudah pasti tentang crime atau "tangga video" (chart). Bagi sebagian orang acara-acara seperti ini sangat menghibur. Ibu dan Bapak juga salah satu (--eh dua) penggemarnya, hampir setiap malam mereka menontonnya di ruang TV. Tapi bagi gue dan pengguna situs berbagi video lain bisa jadi membosankan, pasalnya video-video yang ditayangkan rata-rata video yang memang sudah viral. Atau bahkan ada juga yang malah menganggapnya menyebalkan, lho!

Gue punya teman on line, namanya Edward. Kami berkenalan melalui akun YouTube ketika gue akan mengikuti event Shave for Hope (mencukur rambut untuk pasien kanker). Edward ini cukup rajin mengunggah video dan kualitasnya pun bagus. Suatu hari waktu sedang menonton acara talkshow di TV gue mengenali video pendukung yang diputar di sana. ---Itu video milik Edward! Dengan perasaan bangga gue langsung menghubunginya via twitter dan mengucapkan selamat. Tapi rupanya, uh-oh, ia sama sekali nggak tahu bahwa videonya diputar. Kebingungan, karena merasa nggak pernah memberi izin ia pun mencoba menghubungi admin talkshow tersebut. Too bad nggak ada jawaban, ---bahkan sampai dengan hari ini.
Oddly enough, beberapa bulan kemudian giliran video gue dan Eris yang diambil dan diputar ulang di salah satu program "tangga video". Sama seperti Edward, gue juga nggak diberi kabar. Tahu-tahu teman dan keluarga gue sudah ramai memberikan selamat. Saking bingungnya gue sampai mengira kalau pernah shooting bertahun-tahun lalu tapi sudah nggak ingat, hehehe. Tapi rupanya acara tersebut mengambil video dari akun YouTube gue...

Setelah kita mengunggah video ke situs berbagi video, itu artinya siapa saja bisa menontonnya dan siapa saja bisa membaginya. Apa itu salah? Nop, karena namanya saja sudah "situs berbagi", kalau mau disimpan sendiri ya silakan ganti settingnya menjadi "private". Kita nggak bisa mengatur siapa saja yang 'boleh' menotonnya once kita klik "public". Bukan nggak mungkin pihak TV pun bisa mampir (atau nyasar) ke akun kita. Meski sama-sama diputar di TV tapi "aturannya" sudah berbeda dengan dulu. No reward, disebut nama akunnya pun sudah beruntung meski seringnya hanya ditulis; courtesy of youtube. Jangan salah, gue nggak menginginkan reward (---tapi kalau dikasih nggak menolak, hehehe). Gue hanya ingin ada sedikit ramah tamah dari pihak TV. Ask me politely, tanyakan apakah video gue boleh dipakai untuk keperluan acara mereka. Toh gue akan dengan senang hati memberi izin.

Mungkin ada yang mengira karena YouTube adalah pemilik lisensi untuk mendistribusikan video-video yang diunggah di sana jadi siapa saja bisa bebas untuk menggunakannya. Gue juga awalnya mengira begitu, tapi dengan sedikit kemauan untuk membaca halaman FAQ nya, gue jadi tahu kalau itu sebenarnya nggak boleh. Di sana disebutkan bahwa pengupload tetap menjadi pemilik dari video, ---bukan YouTube. Jadi jika ada pihak yang ingin menggunakan atau memutar ulang video, pihak tersebut harus menghubungi pengupload nya. Bahkan YouTube sendiri nggak punya hak untuk mengedit atau menggunakan video-video di situsnya untuk kepentingan komersial, KECUALI jika sudah mendapatkan izin.
Berikut gue kutip pernyataan yang diambil dari situs YouTube;
Credit the content owner. Though YouTube has a license to distribute the video, it's the YouTube user who owns the content. We encourage you to reach out to users directly when you find video you'd like to use, and to provide attribution by displaying the username or the real name of the individual, if you've obtained it. Credit YouTube in your re-broadcast of the video. When you show a YouTube video on television, please include on-screen and verbal attribution. Contacting a YouTube user. Clicking on a YouTube username will take you to the user's channel, where you can see what personal information he or she has shared (name, web site, location, etc.). From here, you can use YouTube's on-site messaging system to contact the user. First, you must be logged into your own YouTube account. Then, click on the username of the individual you'd like to reach out to and select "Send Message."

Nah, sudah cukup jelas kan, bahkan YouTube sendiri encourage pihak yang ingin menggunakan video untuk menghubungi pemilik videonya langsung. Jadi karena hak milik tetap ada di pemilik video/pengunggah, kalau kita mau menuntut stasiun TV yang menayangkan video tanpa izin ya bisa-bisa saja :) Sejauh ini yang dilakukan oleh pihak TV hanya sampai nomor 2 saja, itu pun tulisannya sangat keciiiil dan warnanya agak nge-bland sama background video, hehehe. Apa gue akan menuntut? Of course nggak, karena video yang gue buat pun hanya untuk have fun dan gue happy kalau ditonton oleh banyak orang. Lalu kalau begitu apa tujuan gue menulis panjang lebar di sini? Well, gue hanya ingin mengenang "the good old days" yang nggak serba mudah seperti sekarang tapi justru orang lebih mengenal tatak krama. Dulu pihak TV meluangkan waktu untuk mengabari pemilik video satu persatu via telepon karena pengguna email dan medsos belum banyak. Sedangkan sekarang dengan adanya email dan direct message di akun YouTube pihak TV malah nggak dimanfaatkan dengan. Padahal It took literally one minute saja lho untuk mengetik pesan :(
Jangan sampai kemudahan yang kita dapat sekarang disamakan dengan "menggampangkan". Please don't turn into robot. Gue yakin pemilik video akan merasa dihargai jika dihubungi. Karena terkadang keramahan malah terasa lebih berkesan daripada diberi reward :))

yang suka bikin video cover ukulele,

Indi

______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 24 April 2016

Jelajah Musi Triboatton: Sambil Berolahraga sambil Melihat Keindahan Sungai Musi :)

Gue cinta Bandung. Gue lahir, besar dan berkarya di Bandung. Kalau ditanya suatu hari ingin membesarkan keluarga dimana (cieee...) jawabannya pasti di Bandung. Pokoknya gue adalah tipe orang yang bangga dengan "ke-Bandung-an" gue, ---kalau perlu logat gue ditebelin biar jelas keaslian Bandungnya, hahaha. Termasuk kalau ditanya kemana tempat wisata favorit gue, jawabannya sudah pasti Bandung. Udaranya sejuk, banyak kuliner lezat terjangkau, taman kota dimana-mana, wisata belanja juga lengkap. ---Kurang apa lagi? Tapi rupanya kecintaan terhadap Bandung bikin gue lupa kalau Indonesia itu luas, masih banyak tempat indah yang belum gue kunjungi. Kesadaran gue bermula waktu melihat salah satu foto dari akun @pesonasriwijaya yang muncul di rekomendasi timeline instagram. Waktu itu gue pikir, "Waaaah, sungainya indah banget. Ada dimana ya tempatnya?" 
Dan surprise, surprise... itu ternyata ada di Indonesia!

Tepatnya di Sumatera Selatan, dan yang gue lihat itu namanya Sungai Musi. Gue pun mencoba mengingat-ingat dimana pernah mendengar nama itu sebelumnya. Oh iya... rupanya waktu di sekolah Bu Guru pernah bercerita bahwa Sungai Musi adalah sungai yang terpanjang di pulau Sumatera dan membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Silly me, selama ini gue hanya tahu kalau Palembang terkenal dengan pempeknya :( Untung sekarang sudah zamannya internet, dengan quick search gue jadi tahu lebih banyak soal Sungai Musi. Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota Palembang pun ternyata melintas di atas sungai ini, dan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sampai sekarang sungai ini digunakan sebagai sarana transportasi utama masyarakat. Scroll up, scroll down, ---eh kok jadi tertarik untuk berkunjung, ya? Apalagi waktu tahu kalau di sana akan diadakan Musi Triboatton 2016.


Musi Triboatton itu apa, sih? Well, gue juga asing waktu mendengar namanya tapi setelah tahu langsung amaze dan menyesal kenapa baru tahu sekarang, huhuhu. Ternyata ini adalah olahraga yang menggabungkan 3 jenis olahraga air sekaligus; arung jeram, kayak, dan perahu naga. Dan kerennya, selain akan menghadapi tantangan yang beragam peserta juga bisa sambil menikmati keindahan alam Sumatera Selatan dari sungai (---pasti bukan gue doang yang ngiri, hehehe). Event Musi Triboatton 2016 adalah yang kelima kali diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Agenda promosi wisata sungai yang terkait olahraga dan budaya ini ditargetkan untuk diikuti ratusan peserta dari 10 negara. Artinya, sambil berolahraga juga sambil mengenalkan Sungai Musi ke dunia internasional :)

Ada empat kabupaten dan satu kota yang akan menjadi tuan rumah event ini, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Kabupaten Musi Rawas (Mura), Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Empat Lawan, dan Kota Palembang. Rencananya sebanyak 20 tim peserta Musi Triboatton akan melalui lima etape. Start dimulai dari Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pendopo Barat, Kabupaten Empat Lawang. Lalu dilanjutkan di Desa Ulak Mengkudu Lapangan SDN 14 Empat Lawang, sebagai lokasi estafet peserta dan finish di Jembatan Kuning-Tebing Tinggi untuk etape pertama. Etape kedua akan dilaksanakan di Desa Muara Kelingi-Kabupaten Musirawas. Etape ketiga akan dilaksanakan di Kota Sekayu-Kabupaten Musi Banyuasin. Etape keempat dimulai dari Dermaga Pangumbuk, Kabupaten Banyuasin. Dan terakhir, etape kelima yang akan menjadi titik akhir peserta yaitu di Kecamatan 10 Ulu-Kota Palembang.

Semakin banyak tahu, semakin ingin pula gue ke sana (---thanks, internet, lol). Ternyata banyak sekali tempat dan event menarik di Indonesia selain Bandung tercinta, salah satunya Musi Triboatton di Palembang ini. Event ini akan dimulai tanggal 11sampai 15 Mei 2016. Pembukaannya akan diadakan di Gelanggang Remaja Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin 12 Mei nanti dan dilanjutkan dengan awal kegiatan yang dimulai di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pendopo Barat, Kabupaten Empat Lawang. Waaaah, it's getting closeeeee. Kira-kira gue bisa ke sana nggak, ya? Atau adakah teman-teman yang berencana ke sana? Boleh lho ajak gue, hihihi ;)


yang mau ikut berjelajah,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 22 April 2016

Theme Park ala Pasar Malam di Bandung Carnival Land :)

Theme park! Hore! Gue suka sekali dengan theme park alias taman hiburan. Untuk yang sering mampir ke Dunia Kecil Indi pasti tahu deh kalau gue bisa menghabiskan waktu seharian kalau sudah berpetualang di berbagai wahana. Gue bahkan punya tempat favorit, yaitu salah satu in door theme park di Bandung yang bisa gue kunjungi beberapa kali dalam setahun, ---sampai-sampai rasanya seperti bermain di rumah sendiri, hehehe. Nah, beberapa waktu lalu gue baru tahu kalau di Bandung ada theme park out door murah meriah yang katanya nggak kalah seru dengan tempat favorit gue. Terlambat banget sih, karena ternyata tempatnya sudah dibuka sejak tahun 2011 lalu :( Tapi sebagai theme park hunter sejati, gue rasa lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali (lol). Jadi pada tanggal 17 April lalu gue pun mengajak Ray untuk mencoba wahana-wahana di sana. 

Biasanya kalau gue pergi ke theme park selalu pakai rencana. Tapi kali ini lumayan spontan, karena gue ajak Ray sepulang kami mengunjungi undangan pernikahan. Itulah kenapa kami berdua memakai batik, hehehe. Untung saja gue membawa sepatu flat sebagai ganti kitten heels dan tas tangan kecil yang lebih colorful daripada yang gue pakai sebelumnya. Kami masih terlihat sedikit terlalu resmi, sih, ---tapi well, ini lebih baik daripada harus pulang ke rumah dulu :p Dan keputusan untuk nggak pulang dulu ternyata sangat tepat kerena kami terjebak macet. Saking macetnya di beberapa titik mobil sampai nggak bergerak sama sekali. Dan parahnya lagi kami nggak hapal jalan! Hahaha. Untunglah kami bertemu banyak orang yang dengan ramah menunjukan jalan :) Jadi sebelum sore kami sudah tiba di "Bandung Carnival Land", yang letaknya satu gerbang dengan kolam renang Karang Setra (Jl. Sirna Galih No. 15, Bandung).

Yup, theme park yang kami kunjungi bernama "Bandung Carnival Land". Sebelum ke sini gue membaca beberapa review dan melihat foto-fotonya di internet. So tempting! Kebanyakan foto diambil ketika malam dan lampu-lampu yang menyala kelihatan indaaaah sekali. Apalagi teman gue juga bercerita tentang tempat ini dan membuat gue semakin 'menyesal' karena baru menemukan tempat ini. Tapi ketika tiba di area parkir gue mendadak ragu-ragu. "Apa ini tempat yang sama dengan yang gue lihat di internet?"... Hanya ada beberapa mobil saja yang parkir di sana, dan di loket hanya ada kami yang membeli tiket. Tapi well, gue pikir mungkin di dalam akan banyak pengunjung. Jadi Ray membeli sebuah tiket terusan seharga Rp. 50.500 untuk gue, dan sebuah tiket masuk seharga Rp. 25.500 untuk dirinya sendiri (seperti biasa Ray akan menjadi juru foto, hehehe). Lagipula kami memang nggak terlalu suka theme park yang terlalu crowded, jadi mungkin tempat ini akan cocok untuk kami ;)



Begitu kami melangkahkan kaki ke dalam theme park... surprise... Kami nggak melihat siapapun selain kami berdua! Bahkan nggak ada suara musik yang biasanya terdengar bahkan di theme park kelas mall sekalipun. Rasanya jadi seperti sedang di serial Goosebumps (lol, I'm a fangirl), apalagi wahana yang pertama kami lihat adalah rumah hantu. Karena kebingungan, kami ke toilet dulu, ---sekaligus menyegarkan diri setelah macet yang cukup membuat berkeringat. Syukurlah ketika gue keluar dari toilet bertemu dengan 4 orang anak bersama beberapa orang dewasa yang sedang mengantri wahana 4 dimensi. Sedikit awkward gue berbasa-basi dengan salah satu dari mereka dan ended up dengan ikut masuk ke teater. Nggak lama kemudian Ray menyusul dan kami langsung langsung duduk di seat jajaran tengah setelah diberi kacamata 4D. It was reallyyyy dark, pijakannya yang dari kayu pun agak berdecit. By the way, tiket milik Ray hanya bisa dipakai untuk 1 wahana, jadi jika ia ingin naik yang lain harus bayar sejumlah uang, ---yang gue lupa tanyakan berapa. Suasana semakin gelap lagi ketika film dimulai. Agak nervous juga karena di seat kami nggak ada safety belt nya. Tapi rupanya kursi memang hanya bergerak ke kiri dan kanan, itu pun sangat jarang jadi nggak khawatir terjatuh. Padahal filmnya seru, lho. Lebih menegangkan daripada di theme park tetangga, hehehe. Gue nggak terkesan, ---mungkin karena gue berharap terlalu banyak. Tapi untuk anak-anak sepertinya cocok, karena penonton-penonton cilik yang duduk di barisan depan tampak menikmati.


Setelah itu gue mengajak Ray untuk naik "Dragon Swing", semacam permainan "Kora-kora" yang ada di Dufan, hanya ukurannya lebih kecil. Tapi Ray memutuskan untuk nggak ikut dan hanya mengambil foto-foto gue. Yang naik hanya beberapa orang saja dan hanya gue yang berteriak dan tertawa lepas. Mungkin karena yang lain malu-malu ya, hehehe. Rasanya memang nggak sedasyat Kora-Kora, tapi cukup menantang apalagi kalau duduk di ujung. Cocok nih buat yang suka sensasi berayun tapi takut muntah :p Dari atas gue bisa melihat beberapa orang dewasa yang bersama anak-anak di wahana sebelumnya. Mereka rupanya dari Jakarta dan nggak ikut bermain, hanya menemani. Yup, meski menegangkan gue masih bisa melihat ke sekeliling, ---bahkan bisa mengobrol dengan Ray dan memberi semangat pada anak yang duduk di belakang gue, hehehe. Saking seringnya gue bermain di theme park, lama-lama sense of deg-degan gue jadi tumpul kayanya.



Di "Dragon Swing" gue sempat berkenalan dengan 2 pengunjung perempuan yang sama-sama berasal dari Bandung. Well, gue nggak tanya siapa nama mereka, sih, but we're literally together selama sisa waktu gue dan Ray berada di BCL. Rombongan yang dari Jakarta sudah beristirahat, jadi hanya kami yang tersisa. Kalau gue nggak sok akrab, artinya gue benar-benar akan bermain sendirian karena Ray sibuk dengan kameranya. Pokoknya kami seolah sudah lama kenal, --- kami bahkan berdiskusi soal wahana mana yang selanjutnya akan dinaiki, hahaha. Lalu pilihan jatuh kepada "Kursi Terbang", wahana yang mirip sekali dengan "Ontang-Anting" di Dufan tapi (lagi-lagi) berukuran lebih kecil. Gue memilih duduk di paling luar, supaya lebih 'terasa' dan bisa dadah-dadah sama Ray. Wahana ini asyik juga, tingkat ketegangannya kurang cocok untuk anak-anak (---di sini ada versi mininya juga, btw). Gue pernah naik wahana serupa di Mall of Indonesia, and this is definitely better! Kalau boleh Kursi Terbang ini gue bawa pulang, deh, hehehe.



Mungkin karena sedang super sepi pegawainya juga jadi agak malas-malasan. Tiket Ray seharusnya hanya untuk 1 wahana, tapi mereka sepertinya nggak peduli. Nggak ada pengecekan tiket, atau at least ditanya sebelum menaiki wahana. Sepertinya asumsi mereka Ray juga punya tiket terusan seperti gue. Terbukti waktu gue minta ditemani untuk menaiki "Ulat Gila", Ray lolos begitu saja. Sayang sekali ya, padahal semangat pegawainya berpengaruh lho sama mood pengunjung :( Wahana ini bisa jadi pengobat rindu bagi warga Bandung yang pernah menghabiskan masa kecil di mall Kings, yang sekarang, ---sadly, sudah terbakar. Di sana ada "Ulil", wahana yang entah nama aslinya apa dan menjadi icon arena permainan Kings. Ulat Gila ini bentuknya mirip dengan Ulil, hanya dan track nya melewati beberapa terowongan kecil. Rasanya pun benar-benar mengingatkan gue pada di Ulil, ---srudak-sruduk bikin sakit badan! Hahaha, gue dan Ray sampai tertawa terbahak-bahak. What a sweet throwback. Sayang banget keponakan-keponakan dan sepupu-sepupu gue belum sempat mengenal Ulil, hiks. Ray sampai punya ide untuk membawa krucil ke sini, at least supaya mereka mengenal versi penerusnya, hihihi.



Dua orang yang bersama gue menyarankan agar wahana "Mangkuk Tsunami" jadi yang berikutnya kami naiki. Gue sih oke-oke saja, lagipula sudah nggak banyak pilihan lagi. Wahana yang tersisa kebanyakan hanya untuk anak-anak. Kami bertiga naik di satu "mangkuk", dan 3 orang anak rombongan dari Jakarta juga naik di 'mangkuk' lainnya. Sekilas wahana ini mengingatkan dengan "Poci Poci" milik Dufan, tapi lantainya bergelombang dan pegangannya nggak bisa diputar. I don't expect much, lah. Tapi ternyata... Oh, my God, dari seluruh wahana yang gue naiki inilah yang terfavorit! :D Gerakan mangkuknya nggak hanya memutar, tapi juga naik-turun. A little pro tip, jangan naik ini dalam keadaan perut penuh, kalian bisa muntah, ---trust me :p Sensasi yang gue rasakan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti ini seperti perpaduan "Dragon Rider" dari theme park sebelah dan "Poci-Poci"! Bahkan 2 teman baru yang sebelumnya malu-malu sudah bisa tertawa lepas di wahana ini :)


Masih ingat dengan rumah hantu yang menyambut gue dan Ray ketika datang? Gue yang berani masuk rumah hantu theme park tetangga sendirian 2 kali berturut-turut ini nyalinya menciut ketika diajak ke rumah hantu di sini. Suasanya agak 'berbeda', no fancy CGI atau dekor yang wah tapi bawaannya bikin merinding. Ray nggak mau masuk sendirian, ---dan 2 teman baru juga menolak masuk kalau gue nggak ikut. Ya, ampun berasa orang penting, hehehe. Gue sempat masuk beberapa langkah dan diikuti oleh yang lain. Tapi begitu melihat suasananya yang gelap, gue pun keluar lagi. Lucunya 2 perempuan di belakang gue langsung lari terbirit-birit! :D Katanya sih hantu-hantunya hanya patung. Tapi dulu, waktu tempat ini pertama dibuka aktor-aktor lah yang berperan menjadi hantu. Teman gue bilang aktornya ada yang iseng, kakinya dipegang dan bikin ia panik. Nah, gue takut kalau di dalam ternyata masih ada aktornya. Gue kalau panik bisa bahaya, suka tiba-tiba nendang dan mukul random, hahaha.



Wahana terakhir yang gue naiki adalah "Sepeda Udara". Perjuangan juga untuk naikknya, karena letaknya di atas jadi harus menaiki anak tangga yang nggak sedikit. Sebenarnya 'perjuangannya' bisa lebih dinikmati kalau saja theme park nya dijaga dengan baik. Gue bisa bayangkan beberapa tahun yang lalu tempat ini pasti indah sekali. Banyak lampion dan patung-patung tokoh kartun yang asyik untuk dijadikan spot berfoto. Tapi sekarang semuanya tampak terbengkalai dan agak menyeramkan karena kurang penerangan :( Menurut gue Sepeda Udara ini jadi least favorite di BCL. Selain safety belt nya nggak berfungsi, rel nya juga sedikit berderit, ---bikin gue khawatir. Padahal kalau saja dirawat dengan baik ini bisa jadi wahana yang menyenangkan. Mirip monorail di Taman Topi Bogor, tempat favorit gue waktu kecil :) Alhasil gue ingin cepat-cepat tiba dan sebisa mungkin nggak melihat ke bawah, hehehe.



Dengan harga tiket yang terjangkau bermain di sini sebenarnya sepadan, kok. Pilihan permainannya pun imbang antara untuk orang dewasa dan anak-anak. Tapi ya itulah, menurut gue seharusnya tempat ini bisa lebih dimaksimalkan. Dari mulai hal kecil saja, misalnya tambahkan musik yang meriah, jaga kebersihannya, perbaiki fasilitas yang sudah rusak, dan yang nggak kalah penting semangat bekerja para pegawainya. Kalau tempat ini semakin terbengkalai bukan nggak mungkin akan ditinggalkan dan wisatawan lebih memilih tempat lain meskipun tiketnya lebih mahal. Di luar itu semua, gue (dan Ray) happy bisa menghabiskan sore di Bandung Carnival Land, a lot of good laugh dan dapat teman baru juga. Kalau sudah musim liburan gue juga mau ajak sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan gue ke sini. Theme Park ini cocok untuk wisata murah meriah sekeluarga (---nggak ada larangan bawa cemilan, jadi bisa piknik di sini). But don't expect too much, just enjoy the carnival vibe! :)

yang mainnya pakai baju batik,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 16 April 2016

Beautypreneurship Tour 2016: Pink Up by Puspita Martha

Halooooo weekend! Gimana kabar teman-teman? Semoga baik, ya. Gue juga baik, cuma semalam ada sedikit "meltdown moment" jadi sekarang mata gue agak sepet untuk lihat monitor :D Beberapa hari yang lalu gue sedang jarang di rumah, sempat pergi sama keluarga sampai larut malam sampai kejebak macet (5 jam, dong) dan juga menghadiri sebuah event yang menyenangkan. Sekarang gue akan bercerita tentang event nya saja, ya. Soalnya kalau soal cerita tentang macet pinggang gue suka sensi, hihihi. 



Jadi tanggal 12 April 2016 lalu gue mendapatkan undangan untuk menghadiri Beautypreneurship Tour 2016 PINK UP Seminar and Hair Show yang diadakan oleh Puspita Martha. Event ini diadakan di Ballroom Trans Luxury Hotel Bandung yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah gue. Mumpung lagi ada free time, jadi gue ajak juga Ibu dan Ray untuk menemani. Dari email yang gue terima acara dimulai jam 12:30 siang, tapi karena gue terlambat bangun (---nggak ada yang bangunin, ehm) jadi kami baru tiba jam 13:20 siang. Eh, rupanya acaranya memang molor, jadi kami tiba di waktu yang tepat, deh. Pas opening banget, hehehe. Acara dibuka dengan penampilan model-model yang berpakaian serba hitam. Mereka berjalan di atas catwalk sambil membawa payung yang juga berwarna hitam. Cukup sukses juga entrance nya karena berhasil membuat audiences untuk menoleh ke arah mereka. Setelah itu, tanpa jeda langsung disusul oleh penampilan MC nya (OMG, maaf lupa namanya, huhuhu) yang membawakan lagu Corazon Espinado, ---yang membuat gue throwback ke saat menjadi bocah yang keluyuran sampai larut malam untuk mencari kaset Santana, hehehe. Btw, mas-mas MC ini somehow mengingatkan dengan teman gue, Daniel. Padahal wajahnya beda banget. Mungkin suaranya? Ah, sudahlah, skip xD




Yang hadir di acara ini bukan hanya gue, Ibu dan Ray (yaiyalaaaaah, lol) tapi juga pihak-pihak yang tertarik dengan dunia kecantikan, khususnya rambut. Dari hasil interview singkat gue dengan audiences yang hadir (baca: tanya-tanya waktu coffee break) mereka kebanyakan menggeluti dunia salon. Malah ada juga yang sengaja meliburkan salonnya selama 1 hari demi hadir ke acara ini. Keren! ---Dan itu memang nggak salah, sih, soalnya di sini diberi tips-tips bermanfaat untuk meningkatkan performa dalam menjalankan profesi mereka. Sayang ya Mas Ryan salon langganan gue nggak ikutan datang, padahal kan bisa mencuri ilmu, hihihi. Edwin Waas, kepala sekolah dari Puspita Martha International Beauty School dan Henny S. Nugraha dari Salon Pro Indonesia turut hadir di acara ini. Juga ada tamu-tamu penting lainnya dan media yang meliput acara ini. 


Foto: ~ Ikanov Tambunan
~ Alexandra Tilaar

Di sini kami diperkenalkan dengan produk-produk PINK UP yang super keren. PINK UP adalah produk untuk rambut yang berbahan organik dan tanpa residu, jadi aman untuk dipakai sehari-hari. Well, just my two cent nih, gue berterima kasih sekali kalau semakin banyak produk yang menggunakan bahan organik, soalnya untuk orang yang serba sensitif kaya gue produk organik itu udah kaya hero without cape, hehehe. Kami disuguhi pengenalan produk-produk PINK UP yang obviously bikin gue gemas karena warnanya serba pink. Ada Aqua gel, Hold on, Cristal care, Mou Mousse, Push Up, Great Shot, Flex gum, dan masih banyaaaak lagi. Favorit gue dan Ibu adalah Push Up karena bisa jadi life saver kalau nggak sempat keramas, hehehe. Kru nya baik-baik, lho. Waktu beberapa produk dikelilingkan supaya kami bisa coba, Ibu request untuk mencoba Push Up. Eh, rupanya benar-benar diberi sample, bahkan dipakaikan segala :D Kami juga bisa melihat demo langsung dari produk-produknya yang dipraktekkan oleh Yudin (hairdressing maestro), Sendy Gothic (Supervisor Tim Artistik PT. Martha Beauty Gallery) dan Rissa Mariana (salah satu lulusan Diploma of Bridal International di Puspita Martha)


Karena terinspirasi dari style para villain di film-film yang glamour pada model didandani sedemikian rupa dengan tatanan rambut yang super unik oleh Yudin, Sendy dan Rissa. Rasanya jadi seperti sedang melihat pertunjukan sulap, hehehe. Meski style mereka berbeda, tapi hasil akhirnya sama-sama keren. Audiences juga dibuat surprise karena awalnya para model hanya didandani "setengah jadi", baru di akhir acara diperlihatkan hasil akhirnya. Yang paling gue kenali adalah style rambut yang terinspirasi Maleficent, karena lengkap dengan horns nya jadi terlihat sangat menonjol. By the way, sambil demo mereka juga memberikan tips-tips bermanfaat dan menjawab beberapa pertanyaan audiences, lho. Yang seru waktu Yudin memberikan tips bagaimana cara menyasak rambut dengan cepat. Ibu sampai serius banget memperhatikannya, hehehe. Pantas saja sih, soalnya tangan Yudin memang secepat Edward the Scissorhand :p






Oh iya, di acara ini juga diperkenalkan Beauty Trend Center, sebuah trend forecast provider berbayar yang baru ada di Indonesia. Pelanggan bisa mendapatkan informasi mengenai perkembangan trend dunia kecantikan, rambut, fashion dan lain sebagainya. Untuk para profesional ini tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja mereka, ---harus kasih tahu Mas Ryan nih, hehehe. Oleh Tengku Arshyaly Faith (Creative Director Beauty Trend Center) kami juga diberikan informasi tentang tren warna dan style tahun 2016-2017. Waktu Ibu lihat ada warna merah di big screen beliau langsung usap-usap rambutnya. Rupanya warna rambut Ibu sedang tren! Padahal beliau sih cat warna terang karena sudah beruban, hehehe. Tapi berhubung disuguhi warna-warna keren di sini, Ibu langsung berniat mengganti warna rambutnya jadi highlight gray seperti rambutnya Rissa Mariana. Haduh, kalah gaul nih anaknya, hihihi :D


Foto: ~Tengku Arshyaly Faith
~ dengan Ibu

Acara selesai sekitar jam 5 sore. Meski cukup lama tapi waktu terasa sangat cepat, mungkin karena gue enjoy, ya. Gara-gara hadir di sini gue mendadak jadi lebih tertarik sama dunia hair styling. Tahu sendiri kan, selama ini yang gue tahu hanya sebatas sisir, basic treatment dan cat rambut, hihihi. Apalagi di Puspita Martha International Beauty School ada program study tour ke Italy. Duh, pasti asyik bisa belajar sambil jalan-jalan. Kalau sekarang sih harus menabung dulu, hehehe. Overall, gue happy dapat kesempatan untuk hadir di sini. Begitu juga dengan Ibu yang super exited sepanjang acara. Bagaimana dengan Ray? Well, sebagai fotografer dadakan dia sama sekali nggak komplain, jadi gue anggap dia juga happy :p Untuk teman-teman di Banjarmasin, tanggal 10 Mei 2016 nanti giliran kalian lho yang bisa menikmati Beautypreneurship 2016. Untuk seminar dan hair show price nya Rp. 350.000, sedangkan untuk workshop Rp. 500.000. Info lengkapnya buka saja akun instagram @puspitamarthaid :)



cheers,

Indi
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 09 April 2016

How to Deal with School Days as a Scolioser? :)



Yaaaaay, weekend! Lol, OMG, sepertinya opening gue kurang variatif. Sering banget tulisan dibuka dengan betapa excited nya gue dengan weekend atau hari libur yang tiba. Tapi mau gimana lagi, kesempatan gue menulis biasanya memang muncul di hari-hari seperti ini, hihihi. Lagipula, siapa sih yang nggak suka weekend? Well, meski pasti ada yang jawab, "Gueeee!" sambil mengacungkan tangan, tapi gue yakin kebanyakan dari kita menyukainya. Pekerja kantoran (mostly) libur di hari sabtu dan minggu, begitu juga anak-anak sekolah yang dengan happy dadah-dadah sama pelajaran di kelas, ---tapi welcoming homework, lol :D Pokoknya weekend adalah waktu dimana gue bisa menulis sampai larut tanpa harus dagdigdug karena sadar besok mesti bangun pagi-pagi ;) Ngomong-ngomong soal sekolah, sejak SD sampai sekarang gue selalu merasakan hal yang sama; mixed feeling antara fun sama challenging. Gue sangat menikmati saat-saat berkumpul dengan teman-teman dan belajar hal-hal baru (---well, nggak selalu, sih, lol). Tapi gue juga merasakan beberapa tantangan seperti PR yang super banyak dan terkadang peer pressure. Sekolah memang bukan the easiest thing in the world, gue yakin kita nggak selalu mengalami hal manis. Terkadang pahit, atau minimal kecut, hihihi. Dan sebagai seorang scolioser(---pengidap scoliosis, kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping) tantangan di sekolah bisa saja jadi terasa lebih berat. Tanpa bermaksud menganggap scoliosis sebagai beban (it's a bless, trust me), dealing dengan brace atau menghadapi pelajaran olahraga bisa jadi saat-saat yang begitu membingungkan. Gue juga pernah mengalami, ---kebingungan sebagai murid baru di SMP dan baru saja didiagnosis mengidap scoliosis oleh dokter. Tapi seiring dengan berjalannya waktu gue mulai menemukan tricks yang membuat hari-hari di sekolah terasa lebih nyaman :)

"Scoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya."



1. Bagaimana cara memberitahu kepala sekolah dan guru-guru?

Gue mengerti bahwa bagi sebagian scolioser berbicara tentang scoliosis bukan hal yang terlalu nyaman untuk dilakukan. Tapi penting sekali bagi kepala sekolah dan guru-guru untuk mengetahui kondisi kesehatan kita, terutama guru olah raga. Jumlah scolioser yang banyak bukan jaminan pahamnya masyarakat terhadap scoliosis, ---termasuk guru-guru kita. Bawalah surat pengantar dari dokter dan jika perlu ditemani oleh orangtua untuk membantu menjelaskan bahwa kondisi kita bukan hal yang "sementara".
(Yes, scoliosis bisa dikoreksi dengan cara bracing, fisioterapi atau operasi. Tapi ini bukanlah kondisi yang bisa dikoreksi dalam waktu yang cepat).


2. Mintalah tugas pengganti untuk pelajaran olahraga.


Setiap scolioser memiliki kondisi yang berbeda. Jika dokter melarang kita untuk berlari dan melompat, maka manfaatkanlah waktu berenang saat pelajaran olahraga. Gerakan renang sangat baik untuk menguatkan otot, dan itu artinya sangat baik juga untuk menjaga postur tubuh kita. Agar tetap mendapatkan nilai dengan cara yang fair mintalah tugas pengganti, misalnya saja tugas menulis atau mengumpulkan artikel. Well, tanpa berlari dan melompat pun sebenarnya kita tetap bisa masuk ke dalam tim olahraga, kok. Tawarkan diri untuk menjadi "asisten pelatih, aka guru kita", ---tugas apapun yang diberikan itu bukan masalah karena nggak ada yang namanya "peran kecil" di dalam sebuah tim ;)


3. Sesuaikan seragam sekolah.


Jika memakai brace di balik seragam, otomatis kemeja dan rok kita akan terasa lebih sempit. Untuk menyiasatinya kita bisa memakai seragam yang sizenya 1 nomor lebih besar dari biasanya. Gue sendiri lebih nyaman untuk memakai seragam yang lebih besar dibandingkan menutupi brace dengan jaket, karena saat udara panas rasanya cukup menyiksa. Brace + gerah = not good, bisa biang keringat, hihihi.


4. Hadapi bully.


Bullying bisa menimpa siapa saja, termasuk kita. Dan saat dibully kebanyakan dari kita mengira bahwa scoliosis dan brace adalah penyebabnya. Padahal bullying terjadi karena kita sendiri yang "membiarkannya". Bully is just like dogs, they can sniff your fear. Hanya karena tulang kita yang bengkok bukan berarti kita menjadi kurang dibandingkan yang lain. Jadi jangan takut, keep your chin up! Karena nggak ada seorang pun yang pantas untuk dibully. Tapi jika kita sudah merasa terancam (secara mental atau fisik), jangan ragu untuk melaporkannya pada orang dewasa, ---misalnya guru atau orangtua. It doesn't make you a "snitch", because sometimes you need help to defend your self.


5. Sediakan tempat untuk menyimpan brace.


Nggak semua sekolah punya loker dengan space yang cukup besar. Terkecuali jika memakai brace bertipe soft seperti yang SpineCor yang gue pakai, maka tempat penyimpanan nggak menjadi masalah karena bisa dengan mudah dilipat dan dimasukan ke dalam tas. Tapi jika memakai brace dengan tipe hard (seperti boston, dll) yang ukurannya lebih besar, maka gunakan kantung plastik atau kantung parasut untuk tempat penyimpanan. Penting sekali untuk menjaga kebersihan brace meskipun hanya ditinggalkan sebentar untuk pelajaran berenang. Jangan lupa, brace adalah our second skin :D



Dengan atau tanpa scoliosis sekolah memang selalu menantang, ---tapi sekaligus menyenangkan. It's okay untuk mempunyai fase khawatir atau sedikit takut saat menghadapi hal yang baru. Memberi waktu pada diri sendiri untuk terbiasa bukan berarti lemah atau cengeng. Dan seperti fase memakai brace, sekolah juga suatu hari akan selesai. Jadi nikmatilah, because life is good. Life is always good :)


yang paling suka pelajaran olahraga karena bisa ketemu mika,

Indi


Get your own SpineCor here:
Indo Sehat Utama
APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470

(021) 29339295 / 29339296.
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 05 April 2016

Uh oh, Musim Hujan! Takut Hot Spot? Jangan Khawatir, Ada Cara Mengatasinya ;)

Musim hujan lagi! Yay! Gue suka sekali dengan hujan karena membuat film horor lebih seram dari seharusnya dan makanan jadi lebih nikmat dari biasanya, hihihi. Pokoknya kalau hujan tiba, ---dan kebetulan sedang ada waktu luang, bisa dipastikan gue sedang tenggelam di balik buku, film atau, --of course pizza :D Tapi di balik ke-happy-an gue, hujan juga membuat gue harus memberikan perhatian ekstra pada Eris, ---my super cute golden retriever. Pasalnya saat hujan anjing dengan bulu panjang dan tebal seperti Eris jadi rentan terhadap berbagai penyakit kulit. Apalagi karena exercise di luar rumah (baca: jalan-jalan sore) nggak memungkinkan, daya tahan tubuh pun otomatis jadi nggak se-fit biasanya. Terbukti beberapa waktu yang lalu Eris terkena flu. Tubuhnya panas dan nafsu makannya menurun karena penciumannya ikut terganggu (anjing selalu mengendus makanannya terlebih dulu, btw). Untung saja hanya dalam waktu 2 hari kondisinya membaik, ---pasti berkat disuntik Pak. Dokter nih, hihihi. Tapi gue belum bisa lega karena Eris juga terkena hot spot di beberapa bagian tubuhnya. Aww, poor baby :D


Teman-teman yang memiliki anjing pasti akrab dengan istilah hot spot, ---atau tepatnya dipaksa akrab, karena terkadang meski sudah dicegah sedemikian rupa tetap saja ia punya cara untuk sok akrab sama sahabat kaki empat kita :p Untuk yang belum tahu, gue akan jelaskan sedikit tentang hot spot. Meski namanya kece dan terdengar seperti BFF nya wifi, hot spot yang ini nggak ada hubungannya sama internet, lho. Tapi ini adalah infeksi kulit atau reaksi alergi terhadap bakteri yang disebabkan oleh luka pada anjing. Penyebabnya macam-macam, bisa karena cuaca, kutu, cara mandi yang nggak betul (masih ada sisa sampo atau masih basah), parasit dan lain sebagainya. Sama seperti namanya, area kulit yang terkena hot spot memang terasa panas jika disentuh, warnanya kemerahan dan di bagian yang terinfeksi bulunya akan rontok alias pitak. Karena rasanya panas dan gatal, anjing akan terus menggaruk, ---atau bahkan menggigiti bagian yang sakit tanpa henti. Kalau sudah begitu masalah pun jadi nggak "se-simple" sakit kulit. Karena jika lama dibiarkan anjing bisa stress dan memicu munculnya penyakit lain. Makanya sebisa mungkin hot spot harus langsung diobati sebelum bertambah parah.

Eris sendiri sudah beberapa kali terkena hot spot. Gue ingat waktu pertama kali menemukan spot kecil di bagian punggungnya, awalnya gue kira hanya luka biasa. Setelah beberapa hari bukannya membaik, tapi luka Eris malah semakin meluas! Lukanya pun berair dan mengeluarkan bau lembab, ---seperti cucian yang belum kering plus agak amis. Bingung dan sedikit panik, gue membawanya ke dokter hewan, ---dan dari sanalah gue mengenal istilah hot spot. Dengan obat suntik dan salep yang dokter berikan Eris pun berangsur-angsur sembuh. Karena penasaran dan nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, ---well, at least berusaha, ---gue mencari tahu lebih banyak tentang hot spot dari internet juga dari teman-teman yang lebih perpengalaman. Semenjak itu gue jadi lebih tenang karena sudah bisa meng-handle sendiri jika si sok akrab ini kembali lagi, hihihi. Dan karena cara-cara yang gue lakukan selalu berhasil untuk menyembuhkan hot spot Eris, gue pikir nggak ada salahnya untuk membaginya di sini, siapa tahu bermanfaat :) 
Disclaimer; Gue bukan expert dalam masalah kesehatan anjing. Metode yang gue lakukan sebisa mungkin natural dan minim efek samping. Silakan koreksi atau beri masukan jikan ada yang salah :)

1. Jaga kebersihan 
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Well, cara ini memang nggak benar-benar menghindari hot spot. Tapi lingkungan yang bersih tentu membantu menjaga kesehatan anjing dan hewan peliharaan lain di rumah. Gue biasanya membersihkan lantai dengan menggunakan air, pembersih lantai dan sedikit antiseptik secara terpisah. Setelah itu dikeringkan sampai benar-benar kering. Kalau perlu Eris dimasukan ke dalam kandang terlebih dahulu karena lantai yang basah memang sangat mengundang sekali untuk dipakai selonjoran, terutama saat cuaca panas. Bulu yang lembab akan mengundang bakteri dan yup, itu akan terasa semakin gatal dan merangsang anjing untuk menggaruknya lebih hebat lagi.

2. Ganti makanannya
Sama seperti manusia, beberapa jenis makanan juga bisa memicu gatal-gatal pada anjing. Eris biasanya gue hindarkan dari makanan beragi (tahu, tempe, roti, dll) dan telur. Gue juga mengganti dog food nya dari jenis basah ke jenis kering karena menurut pengalaman gue makanan basah membuat gatalnya semakin parah. Kalau diperlukan gue juga mengganti jenis (merk) dog food atau mengganti menu yang dimasak sendiri. Sebagai camilan gue memberi Eris ubi yang direbus atau dikukus karena ubi alias sweet potato sangat bagus untuk bulu anjing. Terkadang bulu yang tumbuh di bekas pitak karena hot spot jadi agak kasar jika dibandingkan dengan yang lain. Nah, ubi membantu agar bulu yang tumbuh menjadi mengkilap dan tebal :)



3. Gunakan bawang putih
Bawang putih berguna sebagai antibiotik alami. Kandungannya bisa membersihkan hot spot dari dalam darah (sumber: anjingkitadotcom). Meski di berbagai situs disebutkan bahwa dosis yang tepat untuk anjing berbadan besar adalah 2 potong bawang, tapi gue hanya memberi Eris seujung kuku saja dan nggak setiap hari. Alasannya karena bawang putih (dan bawang-bawang jenis lainnya) bisa membuat anjing anemia. Caplak (salah satu penyebab luka hot spot) tentu akan malas menempel pada anjing yang anemia, tapi salah-salah malah anjingnya yang sakit karena kekurangan darah. Cara lain untuk mengobati hot spot yaitu dengan mencampur bawang putih yang sudah dihaluskan ke dalam air mandi. Gue sendiri belum pernah mencoba cara yang kedua ini karena takut baunya menempel. Tapi jika teman-teman khawatir dengan keamanan mengkonsumsi langsung, cara ini bisa dicoba.

4. Mandikan dengan benar
Gue beruntung karena Eris sangat super-duper chill ketika dimandikan, jadi memperkecil kemungkinan adanya sisa sampo yang tertinggal. Tapi tetap saja mandi menjadi kegiatan yang tricky, karena saking chill nya Eris lebih suka duduk ketika bulunya dikeringkan, hihihi. Cute sih kelihatannya, tapi bulu yang nggak kering sempurna itu bisa memicu hot spot. Untuk mengatasinya gue meminta Eris untuk "bobo", ---atau anjing lain mengenalnya dengan istilah "lay down", lol, ---lalu gue mengeringkan sisi kanan dan kiri tubuhnya bergantian. Dengan cara ini bagian-bagian sulit seperti bokong dan sela-sela jari pun bisa lebih mudah dikeringkan. Jika sudah terlanjur terkena hot spot gue menggunakan sampo khusus untuk perawatan kulit anjing. Sampo jenis ini bisa ditemukan di berbagai pet shop, merk nya juga beragam hanya pastikan saja nggak membeli yang tanpa label alias abal-abal. Kalau ragu bisa dikonsultasikan pada dokter hewan.


5. Gunakan tembakau
Okay, mungkin reaksi kalian sama seperti gue ketika pertama kali mendengar cara yang ini. Waktu itu gue pikir, "Whaaaat, masa anjing disuruh merokok???", hihihi :O Tapi tenang, tembakaunya bukan untuk dihisap kok, tapi untuk disemprotkan ke kulitnya yang sakit. Resep ini gue dapatkan dari Om Paul Sing, pemilik Golden Top Kennel. Pengalamannya merawat banyaaaaak sekali golden retriever membuat Om Paul pandai untuk mengatasi banyak masalah kesehatan pada anjing tanpa menggunakan obat-obatan kimia, termasuk untuk hot spot. Resep yang gue gunakan sudah disederhanakan dari aslinya karena perawatan Eris dibarengi dengan cara-cara yang gue sebutkan di atas. Gue menggunakan tembakau dari satu batang rokok kretek dan mencampurnya dengan bawang putih yang sudah diulek halus. Setelah itu campur kedua bahan dengan 2 gelas air dan didihkan, ---atau kalau malas boleh juga dimasukan ke dalam microwave selama 2 menit. Tuangkan "ramuan ajaib" ke dalam botol sempot, dan setelah dingin semprotkan ke kulit yang sakit. Hindari bagian mulut ya, karena tembakau bisa menjadi racun jika tertelan. Untuk resep Om Paul yang asli, teman-teman bisa lihat di sini: http://anjingkita.com/wmview.php?ArtID=24043.

6. Pakaikan Elizabethan collar
Elizabethan collar adalah kalung berbentuk corong yang berguna untuk mencegah anjing menjilat atau mengigiti bagian tubuhnya. Kalau dulu gue menjadikan cone of shame ini sebagai opsi pertama, sekarang malah menjadikannya opsi terakhir. Dulu proses penyembuhan hot spot Eris lebih lambat karena belum menggunakan cara-cara di atas. Lukanya sulit sekali mengering karena Eris terus-terusan menjilatinya. Yang paling seram kalau salep dari dokter juga ikut dijilat! O... ow... not good, kan? Makanya meski nggak tega (---dan gue harus menahan ketawa karena Eris nampak lucu, hehehe) tapi gue tetap pakaikan setiap hari, termasuk saat tidur agar lukanya cepat kering. Mungkin teman-teman juga nggak tega kalau harus memakaikan Elizabethan collar pada si kesayangan. Tapi trust me, ini lebih baik daripada membiarkan mereka menyakiti diri sendiri, kan? ;) Apalagi sekarang modelnya sudah beragam dan ada yang diberi busa juga, jadi kalau malam tetap bisa tidur nyenyak :)

7. Alihkan perhatiannya
Gue juga punya alergi dan kalau kambuh saat gue sedang nggak melakukan apa-apa rasanya.... gatalnya jadi berkali-kali lipat! Padahal kalau kambuhnya saat jalan-jalan di mall rasanya nggak terlalu parah, hihihi. Eris juga rupanya merasakan hal yang sama, saat sendirian ia menggaruk, menjilat, bahkan mengigiti tubuhnya dengan gemas. Tapi saat diajak melakukan kegiatan ia menjadi lupa dengan perasaan gatal dan panasnya. Berhubung sedang musim hujan kegiatan jalan-jalan sore gue ganti dengan bermain bola di garasi. Menurut gue ini adalah cara bagus karena garasi tentu lebih aman dibandingkan dengan bermain di jalan yang banyak sisa genangan hujan, ---dan setelah kelelahan Eris tentu akan tidur dengan sangat nyanyak, hihihi :) Kalau bosan dengan kegiatan fisik biasanya Eris gue ajak bicara atau menonton video di handphone. Pokoknya jangan sampai Eris terfokus dengan hot spot di tubuhnya.


Tapi selain cara-cara di atas menurut gue yang terpenting adalah menjaga agar Eris tetap happy. Karena anjing yang happy berarti anjing yang "sehat". Gue memang nggak (---belum bisa) membelikan Eris dog food yang mahal, jalan-jalan ke tempat keren atau membelikannya banyak aksesoris untuk mendukung kecentilannya. Tapi gue percaya bahwa happy juga bisa didapat jika kita memberikan kasih sayang yang tulus pada hewan peliharaan kita. I love Eris soooo much, dan gue selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Love is free, love heals everything. Jadi kenapa nggak kita berikan juga untuk sahabat berbulu dan berekor kita? ;)
Okay, sekian tulisan gue kali ini. Semoga bermanfaat untuk menghadapi musim hujan yang nikmat-nikmat tricky, hihihi. By the way, apa teman-teman juga punya hewan peliharaan? Share dong di kolom komentar :)

cheers,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 30 Maret 2016

Pelajaran yang didapat Ketika Menghadiri Resepsi Pernikahan...

Wedding invitation.
"Uh, lagi?"
Mungkin terdengar kasar---atau aneh, tapi begitulah reaksi gue. Sejak kecil sampai sekarang gue nggak pernah excited dengan segala yang berhubungan dengan wedding stuff. Ini bukan karena gue sensi dengan pertanyaan "kapan nyusul", karena sudah 8 tahun I had a serious relationship with Ray. So, definitely not jomblo, ya, hehehe. Tapi gue adalah girly girl yang orang bilang "not so girly" karena malas ribet. Konon setiap anak perempuan mempunyai impian untuk menjadi pengantin, tapi untuk gue membayangkannya saja sudah seram. Pakai makeup, duduk dan berdiri di pelaminan berjam-jam... Uh, pakai bb cream saja gue sudah jerawatan, apalagi kalau harus dibikin "pangling". Pokoknya setiap mendengar tentang wedding, gue langsung teriak "Nooooo... jangan libatkan gueee", ---dalam hati. Karena kalau berteriak di depan calon pengantin itu namanya rude, hehehe. Don't get me wrong, tentu suatu hari gue akan menikah. Tapi sambil menunggu waktunya tiba, bukan berarti gue bisa free dari segala makeup dan ini-itu. Terutama ketika yang menikah adalah anggota keluarga...

Gue sangat senang waktu tahu kalau Dani, sepupu gue akan menikah dengan his longtime girlfriend, Dila. Kebetulan beberapa tahun yang lalu Dila pernah mewawancari gue untuk video dan website Greensmile. Meski nggak begitu mengenalnya, tapi akan memilikinya sebagai ipar membuat gue excited karena kami mempunyai passion yang sama di bidang lingkungan hidup :) Sampai gue ingat bahwa keluarga harus memakai seragam dan makeup agar terlihat kece dan berbeda dengan tamu yang lain. Jantung gue langsung deg-degan. Why oh why... kenapa di keluarga gue ada tradisi seperti ini? Bisakah gue memakai apapun yang ada di lemari dan cukup memakai bedak tipis? Well, jawabannya tentu "tidak". Demi menjaga kekompakan gue harus membuat baju baru dari kain seragam yang sudah disediakan oleh pihak pengantin. Ini mengingatkan gue dengan film 28 Dresses. Seperti di film, gue punya banyak dress pengiring pengantin dan semuanya hanya berakhir di lemari karena kebanyakan modelnya nggak cocok untuk dipakai sehari-hari, hehehe. By the way, resepsi pernikahan diadakan di Jakarta sementara gue tinggal di Bandung. Dengan pertimbangan jarak dan waktu karena resepsi diadakan di malam hari, akhirnya diputuskan untuk nggak menyetir mobil sendiri dan kami (gue, Ray dan keluarga adik gue) memutuskan memakai jasa sewa mobil sekaligus sopirnya sementara Ibu dan Bapak lebih dulu berangkat satu hari sebelumnya.

Sebenarnya bukan pernikahan yang gue takuti, tapi segala macam prosesi membuat gue ingin menjadi anak-anak selamanya saja. Dulu gue pernah bertanya pada Ibu kenapa pengantin harus didandani dan dipajang di pelaminan. Waktu itu Ibu menjawab bahwa semuanya dilakukan agar berkesan, bisa dikenang sampai hari tua nanti, ---dan yang termanis di resepsi pernikahan pengantin bisa merasakan menjadi raja dan ratu selama sehari. Tapi gue nggak mengerti, bukankah berkumpul bersama di satu meja sambil mengobrol seru dengan teman dan keluarga tentang betapa beruntungnya bisa menikahi seseorang yang sangat dicintai akan lebih berkesan dibandingkan dengan menyalami tamu undangan di pelaminan dan makan belakangan? Semakin dewasa gue belajar bahwa versi fun dan berkesan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Bagi gue makeup dan highheels merupakan nightmare, tapi bagi orang lain bisa saja itu adalah hal yang sangat mereka inginnya. Gue nggak harus seperti itu, of course. Ketika hari itu datang menikmati musik dan kumpul-kumpul would be perfect for me and Ray. Tapi seperti yang sudah gue sebutkan barusan, versi fun setiap orang itu berbeda-beda, jadi di perjalanan gue bolak-balik ingatkan diri sendiri supaya nggak berwajah masam. Berempati, bayangkan jika gue ada di posisi pengantin dan ini adalah hari yang sangat mereka impikan.

Ibu dan Bapak mengerti dengan karakter gue yang 'girly but not so girly' (apaan coba, lol). Mereka selalu mencarikan jalan tengah agar gue happy tapi tetap mengikuti tradisi. Supaya kedua belah pihak senang, dan nggak ada yang (terlalu) memaksakan diri. Seperti di acara-acara pernikahan sebelumnya (OMG, gue benar-benar terdengar seperti film 28 dresses, hehehe) pihak pengantin selalu memberi kain seragam untuk dipakai anggota keluarga. Biasanya gue menjadi pengiring pengantin, ---literally jalan di belakang mereka, jadi harus kompak dengan sepupu-sepupu gue yang lain. Gue yang clumsy ini nggak pantas untuk pakai dress panjang karena bisa-bisa terpeleset dan dikenang seumur hidup oleh tamu undangan. Jadi untuk gue model dress sengaja dibedakan, tapi tetap dengan kain yang sama. Dan untuk sepatu, karena gue nggak bisa memakai high heels (not good for my back, lah) jadi diganti dengan kitten heels, ---yang menurut gue sih tetap nggak nyaman, masih lebih enak flat shoes atau flatform. Nah, biasanya yang susah 'kabur' itu kalau urusan makeup, soalnya orang-orang langsung gemas melihat wajah gue yang lebih polos dari adik sepupu yang masih SD. Kalau perlu mereka bakal mengejar-ngejar gue sambil bawa lipstik demi membuat wajah gue jadi presentable, hehehe. Syukurlah kali ini gue diizinkan untuk nggak dimakeup oleh mbak-mbak makeup artist karena ipar gue lumayan akrab dengan lipstik dan kawan-kawannya. Gue hanya dipakaikan bb cream, bulu mata palsu, eye liner, blush on dan lipstik tipis, ---tanpa eye shadow, pensil alis dan lainnya. Lega sekali waktu melihat cermin ternyata wajah gue masih dikenali. Soalnya entah karena belum terbiasa, atau memang begitu kenyataannya, makeup selalu membuat gue merasa seperti pemeran antagonis, hehehe.



Resepsi pernikahan diadakan malam, tapi keluarga diharapkan untuk berkumpul pukul 12 siang untuk, ---believe it or not, makeup! Keluarga plus kerabat berkumpul di rumah mempelai dan hotel untuk bergantian dirias. Tadinya gue pikir bakal too early karena acara masih sangat lama, bisa-bisa makeup nya luntur duluan. Tapi rupanya untuk mengerjakan 1 orang membutuhkan waktu lebih dari 1 jam; makeup wajah, rambut, pakaian... Wah, pantas saja Ibu sudah stand by dari pukul 11, hehehe. Berhubung gue nggak menggunakan jasa makeup artist dan untuk rambut hanya perlu dikepang (catok rambutnya pun sendiri, lol) jadi gue punya banyaaaaaak waktu sampai resepsi tiba. Sambil menunggu gue ajak Ray berjalan-jalan ke mall yang lokasinya nggak jauh dari rumah om gue. Rupanya mall sedang direnovasi, jadi hanya lantai 1 dan 2 saja yang ramai. Meski begitu kami sangat menikmati our escape date. Setiap lantai kami jelajahi dan berakhir dengan membeli sepatu, kaus kaki dan kaus dalam yang super murah. Setelah berjalan-jalan mood gue menjadi semakin bagus, seperti me-refresh tubuh dan pikiran setelah perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang melelahkan. Gue tahu setelah ini gue akan kembali ke kenyataan sebagai pengiring pengantin yang harus berdiri sampai larut malam, ---dengan sepatu yang bisa membuat scoliosis gue marah selama 1 minggu. Tapi at least gue akan berusaha melakukannya dengan happy, for my family :)


Oh, satu hal lagi yang belum gue sebutkan tentang tradisi di acara pernikahan keluarga, secara nggak resmi gue dipilih sebagai big sister bagi adik-adik sepupu gue, Gaby dan Billa yang usianya 8 dan 10 tahun. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak mereka masih balita sampai-sampai banyak yang mengira bahwa mereka benar-benar adik gue. Psst, mudah-mudahan mereka nggak baca tulisan ini, karena mereka selalu protes jika diperkenalkan sebagai sepupu, ---maunya sebagai adik kandung saja, hihihi. Tradisi ini memberikan keuntungan sekaligus "memberi keterbatasan" bagi gue. Sisi baiknya tentu karena gue bisa mendapatkan semua hal seru yang mereka dapat dari orang dewasa lainnya. Es krim, happy meal, jalan-jalan ke mall... you named it deh pokoknya. Tapi di sisi lain mereka juga begitu terikat dengan gue sampai-sampai "me time" jadi hal yang hampir mustahil. Sebenarnya gue bukan satu-satunya sepupu mereka yang sudah dewasa, tapi somehow Gaby dan Billa selalu memilih gue. Sampai-sampai nama gue sering dijadikan senjata oleh orangtua mereka untuk membujuk kalau mereka malas melakukan sesuatu, hahaha. Dan belakangan "adik" gue bertambah 1, namanya Anissa, anak dari sepupu gue, ---si mempelai pria. Well, sebenarnya secara teknis gue adalah tantenya Anissa, tapi karena usianya nggak jauh dari Gaby dan Billa ia ikut-ikutan ingin menjadi adik gue. So kali ini gue menjadi big sister bagi mereka bertiga. Sebelum resepsi dimulai gue berharap mereka nggak akan berebutan untuk menggandeng tangan gue, karena obviously, ---tangan gue hanya dua, hahaha.


Pukul 7 malam resepsi pernikahan dimulai. Karena keluarga pengantin harus sudah berada di gedung sebelum acara dimulai, jadi gue harus pandai-pandai mencuri waktu untuk beristirahat. Untunglah ada beberapa kursi di salah satu sudut, jadi gue bisa melepas sepatu dan membiarkan kaki untuk bernapas lega, hihihi. Entah ada apa dengan kaki gue, setiap memakai sepatu ber-heels, ---sekalipun kitten heels, pasti ujung-ujung jarinya sakit semua. Sementara pada orangtua sibuk beramah-tamah dengan kerabat dan tamu yang mulai berdatangan, para sepupu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekedar mondar-mandir, selfie bahkan ada yang menenangkan anak-anak mereka karena sudah mulai rewel. Sedangkan gue mengobrol random dengan Ray sambil sesekali membalas sapaan kerabat yang melintas. Tapi itu nggak bertahan lama karena Gaby, Billa dan Anissa sudah datang. Belum apa-apa gue sudah ditantang untuk membuat sebuah kursi untuk bisa muat diduduki kami berempat! Padahal kursi yang kosong masih banyak, lho. Tapi mereka berlomba-lomba untuk duduk paling dekat dengan gue. Cepat-cepat gue berdiri supaya adil karena 3 gadis kecil yang berkelahi saat pernikahan = not good, lol. Setelah berdiri pun rupanya masalah belum selesai, ---seperti yang gue khawatirkan mereka benar-benar berebutan untuk menggandeng tangan gue! Hahaha, OMG, that was beyond cute, Billa menggandeng tangan kiri gue sementara Gaby dan Anissa menggandeng tangan kanan gue, ---Anissa menggenggam jempol gue kuat sekali, hahaha. Tapi yang paling lucu adalah ketika giliran keluarga gue berfoto bersama pengantin, Billa dengan percaya diri mengikuti gue ke studio mini dan mengingatkan (lagi) bahwa ia adalah adik gue, hahaha. Tentu Billa nggak diizinkan ikut, tapi jujur saja melihat wajah seriusnya membuat gue terharu. Awww...

Acara seremonial baru "benar-benar" dimulai setelah sesi foto; doa, pidato, tari-tarian dan lain sebagainya. The girls sangat excited untuk menonton Tari Merak dari jarak dekat dan itu membuat gue cukup kewalahan karena, ---of course--- mereka minta ditemani. Tapi seperti yang sudah gue sebutkan sebelumnya, ada 2 sisi dari menjadi seorang kakak. The bright side is... gue bisa berkeliling dan mencicipi banyak makanan tanpa perlu merasa canggung. Well, akhirnya gue mengerti kenapa Ibu dan Bapak dulu sering menjadikan gue alasan. Karena sekarang gue bisa merasakan keuntungannya. "Gaby, mau mau chocolate melt, ya? Yuk, ambil," ---dan gue pun mengambil porsi yang paling besar untuk gue sendiri, hehehe. Rasa pegal di kaki dan berat di wajah (bahkan makeup ringan pun kalau dipakai lama-lama terasa berat) memang nggak hilang. Gue masih bisa merasakannya tapi at least perhatian gue teralih karena ada mereka. Pukul 9 malam, 1 jam sebelum acara selesai gue pamit untuk pulang lebih dulu. Sebenarnya masih ada 1 sesi foto lagi, tapi karena sebelum acara juga sudah jadi gue pikir itu bukan masalah. Berpamitan dengan adik-adik gue seperti biasa dibumbui sedikit drama, gue harus mengantar mereka ke pelaminan karena selain bersama gue mereka hanya mau bersama orangtuanya! Hahaha, obviously I'm not ready for kids, ---yet :'D


Begitu tiba di mobil gue langsung melepas kitten heels dan menggantinya dengan sepatu yang gue beli di mall sebelumnya. I'm so happy for Dani dan Dilla, tapi gue benar-benar nggak sabar untuk tiba di rest area dan menghapus semua riasan dari wajah. Hati gue masih bertanya-tanya mengapa resepsi pernikahan harus identik dengan berdandan? Mengapa pengantin harus dipajang di pelaminan? Dan lain sebagainya. Tapi setelah gue pikir-pikir, memang apa masalahnya dengan semua itu? Yang terpenting adalah kebahagiaan pengantin. Mungkin memang inilah hal yang mereka inginkan, ---yang sejak kecil diimpikan, seperti gue yang bermimpi ingin makan-makan bersama keluarga dengan diiringi konser musik kecil di hari pernikahan gue nanti, ---no need to dressed up. Sedikit berkorban seharusnya bukan masalah, ---karena versi fun bagi setiap orang itu beda-beda, dan gue juga pasti bersedih jika ada yang berwajah masam ketika "hari gue" tiba. Well, sepertinya nggak berlebihan jika gue menyebut resepsi pernikahan sebagai tempat untuk belajar tentang keberagaman. Gue berlajar bertoleransi, gue belajar menghormati dan gue belajar untuk ikut happy saat orang lain happy. Memang nggak mudah untuk happy saat tumit mulai lecet, tapi bukan berarti nggak bisa :)
By the way sebelum kalian mengira bahwa tulisan tentang pernikahan ini adalah kode. Jawabannya adalah; "Nooooo." Suatu hari gue akan menikah, tapi not very soon lah. Lagipula, ingat pesan Gaby, Billa dan Annisa; "No boyfriend until you're 30, Kak!" 
Oh, kasihan Ray, hahaha :D


yang kakinya masih sakit,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469