Selasa, 06 Oktober 2020

Ketika Indi (Akhirnya) Menjadi Annie


Pernah nggak sih kalian punya cita-cita masa kecil yang nggak kesampaian sampai dewasa?

Gue pernah, ---dan akhirnya berhenti karena usia. Bukan, bukan karena menyerah, tapi apa yang gue cita-citakan itu hanya bisa dilakukan oleh anak-anak. Jadi begitu menginjak usia 18, gue tahu kalau harus say good bye sama cita-cita gue itu. Bukan melupakan, tapi lebih tepatnya mengikhlaskan, hehe :) 



Gue masih ingat waktu pertama kali menonton film musikal "Annie" versi Disney yang dirilis tahun 1999 lalu (---iya, sudah lama sekali). Mata dan telinga gue sama sekali nggak bisa beranjak dari adegan demi adegan, lagu demi lagu... tarian demi tarian. Padahal, jauh sebelumnya gue sudah pernah menonton film berjudul sama dengan versi yang lain. Tapi entah mengapa versi Disney ini sangat melekat di hati. Mungkin saja karena Alicia Morton, gadis yang memerankan Annie berambut lurus seperti gue. Sementara di semua versi lain Annie, si gadis yatim piatu selalu digambarkan berambut keriting menggemaskan seperti versi versi comic stripnya (yang ada sebelum versi broadway apalagi filmnya)


Gue yang pemalu, ---jauh lebih pemalu dari sekarang, hehe, ---mulai berani mencoba menyanyikan lagu-lagunya. Silently, hanya sekedar lip sync sampai akhirnya berani mengeluarkan suara. Di dunia gue, gue adalah Annie. Tapi gue nggak berani memberitahu siapapun. Hanya Tuhan dan boneka-boneka di kamar lah yang menjadi penonton musikal gue. Beranjak remaja gue mulai memberitahu cita-cita gue pada orang-orang terdekat. Orangtua, terutama. Reaksi mereka? Ternyata tanpa gue beritahu pun mereka sudah tahu, hehe. Terutama Ibu. Mungkin karena sudah terlihat jelas. DVD "Annie" saja gue putar berulang-ulang, lalu inspirasi style untuk dress gue pun kebanyakan diambil dari film itu. Jadi mereka nggak terkejut lagi. Kalau sama teman-teman, gue memang nggak terang-terangan karena of course, ---gue tahu diri. Usia gue sudah mulai ketuaan untuk memerankan Annie, dan gue juga nggak bisa bernyanyi. Apa kata meraka kalau tiba-tiba saja gue bilang ingin muncul di pertunjukan musikal? Mau jadi peran utama lagi! Pasti mereka bingung, hahaha.


Tapi gue pikir kalau kesempatan menjadi pemeran utama terlewat, at least gue masih bisa menjadi Annie "ramai-ramai". Lalu mulailah gue menghasut pelatih paduan suara gue untuk membawakan lagu-lagu "Annie". ---Namanya Kak Immanuel, hampir tiap latihan gue bujuk terus sambil memaksanya mendengar lagu-lagunya. Berhasil? Hampir! Karena justru ketika Kak Immanuel dan teman-teman padus setuju, datanglah berita buruk. Dana untuk membuat konser mini kurang, padahal kami sudah berlatih bahkan siap dengan konsep kostumnya. Paduan suara dibubarkan... begitu juga dengan cita-cita gue, huhuhu...


Dulu gue ikut paduan suara bukan karena merasa bisa bernyanyi. Bernyanyi di kamar mandi saja jarang, apalagi di depan umum, hehe. Tujuan gue ikut karena gue ingin bernyanyi tapi nggak mau menonjol. Aneh kan? Maunya dapat peran Annie tapi pemalunya setengah mati :D Waktu di penghujung usia remaja gue masih mikir mungkin suatu hari gue akan berani untuk ikut audisi musikal, mungkin gue masih masih bisa "paksa" usia gue untuk dapatkan peran Annie. Tapi beranjak dewasa gue tahu kalau mustahil untuk memerankan anak usia 10-11 tahun (Alicia Morton waktu itu 12 tahun waktu memerankan Annie). Tubuh gue semakin tinggi, belum lagi suara gue nggak senaif dulu karena sudah mengenal pahit manis kehidupan, ahahaha (becanda!)


Akhirnya gue sampai dititik benar-benar ikhlas bahwa gue nggak bisa memerankan Annie. Tapi tetap, gue menjadikan film musikal itu sebagai inspirasi. Filmnya masih gue putar here and there. Bahkan waktu gue punya film layar lebar sendiri yang berjudul Mika, gue minta Ibu membuatkan dress istimewa untuk dipakai ke pemutaran perdana. Dress berwarna merah dengan pita putih di pinggang, seperti Annie :) Gue kembali menjadi Annie di my own world saja. Hampir nggak pernah gue menyebut namanya lagi kecuali saat keluarga atau teman-teman dekat bertanya (ada satu orang teman yang dari dulu sampai sekarang selalu memanggil gue dengan sebutan 'Kakak Annie', namanya Wilson). Bahkan suami pun nggak tahu kalau dulu gue punya obsesi untuk memerankan Annie. Ia tahu gue punya dress merah, tapi ia sama sekali nggak menyangka kalau dress itu punya nilai historis sampai akhirnya gue ceritakan :)


Di premiere film gue sendiri, Mika, gue memakai dress Annie :)


Gue punya teman yang berada jauh dari sini, di Jepang. Namanya John Pak. Beliau usianya jauh di atas gue, mungkin seusia dengan Bapak. Kami bisa berteman karena sama-sama bermain ukulele. Bisa dibilang gue adalah fansnya karena saat mengikuti channel musiknya, gue masih sangat baru di dunia ukulele. Diawali dengan saling bertukar komentar, kartu pos, lalu kami pun berkolaborasi. Sudah cukup lama terakhir kami bermain musik bersama, mungkin karena sama-sama sibuk, ---setahu gue John memang nggak banyak melakukan kolaborasi belakangan. Bulan lalu, entah dapat ilham darimana, gue tiba-tiba saja berkomentar di salah satu videonya, "Seharusnya kamu bikin kolaborasi ala karantina, pasti seru!". Eh, malamnya gue dapat pesan dari beliau yang ternyata meminta gue untuk mengisi satu line di lagu yang sedang dikerjakannya. Rasanya senang sekali, karena gue memang rindu berkolaborasi dengannya (---iya, meskipun gue cuma mengisi beberapa detik saja). Tapi rasa senang gue rupanya belum apa-apa, karena setelahnya John menginginkan kolaborasi yang lebih imbang, dan gue mendapat kehormatan untuk memilih lagunya! Bisa tebak kan apa yang gue pilih?! :D


Tentu saja gue memilih salah satu lagu dari musikal "Annie". Gue bahkan sudah tahu lagu yang mana yang cocok untuk kami. Tapi sebelum gue beritahu John, gue beritahu Shane lebih dulu tentang siapa itu Annie. Saking senangnya gue sampai berkaca-kaca menceritakan tentang obsesi masa kecil gue (ahahaha...). Dan dengan lantangnya gue bilang, "AKU AKHIRNYA JADI ANNIE! CITA-CITAKU AKHIRNYA TERCAPAIIIIII!" Shane mungkin bingung, tapi gue mana peduli, gue terlalu bahagia! Bahkan saking bahagianya gue langsung WhatsApp Ibu untuk minta dikirimi dress Annie buatannya. Nggak lupa gue juga bilang tentang rencana kolaborasi gue dengan John Pak, yang ternyata membuat Ibu terharu. Katanya beliau bangga sama gue karena akhirnya mendapat apa yang sudah lama diimpikan :')

... Dan di sini gue baru sadar kalau John belum tentu setuju dengan pilihan lagu gue. Lah, gue bilang saja belum, kok :'D


Syukurlah, ternyata John setuju dan menganggap lagu "I Don't Need Anything But You" adalah pilihan yang bagus :) Gue bersemangat sekali, ---bisa dibilang agak over, huhu. Masih di malam yang sama gue langsung mengirimkan video lagu asli, chords dan lirik lagunya agar John bisa mengerjakan bagiannya. Sedangkan bagian gue? Sudah beres! Iya, sesemangat itu coba. Rasanya ada yang memacu adrenalin gue sampai-sampai gue tahan nggak tidur semalaman demi 'menjadi Annie'. Gue sampai meminta maaf berkali-kali pada John karena gue khawatir membuatnya terburu-buru. Tapi John bisa mengerti, katanya beliau tahu betapa gue sangat menyukai Annie, dan ia senang karena bisa menjadi bagian dari apa yang sangat berarti untuk gue. Oh, my... gue terharu banget sampai-sampai sedikit menangis waktu mengetik balasan pesannya. Lalu akhirnya tangisan gue yang 'sedikit' pun berubah menjadi menangis betulan, ---karena Shane ternyata ingin menjadi bagian dari cita-cita masa kecil gue juga. Ia setuju untuk bermain gitar untuk mengiringi kolaborasi kami!




Proses rekaman musik dan videonya terasa seperti mimpi, semuanya berjalan dengan cepat. Tahu-tahu saja video clipnya sudah tayang. Dan rasa bahagia gue jadi berlipat-lipat karena Ibu dan Bapak terus-terusan mengirimi gue pesan tentang betapa bangganya mereka. Mungkin saat membaca tulisan ini ada di antara kalian yang menganggap kalau gue dan keluarga bereaksi berlebihan. "Masa nyanyi di YouTube doang bangga," begitu mungkin di benak kalian. Hehehe, itu nggak apa-apa, kok dan sangat wajar. Karena apa yang menjadi 'prestasi' bagi setiap orang kan berbeda. Dan belum tentu orang lain juga punya perasaan yang sama (kecuali kalau suatu hari internet bisa punya virtual feeling, jadi saat membaca tulisan kalian juga bisa sekalian merasakan perasaan si penulis, lol). Buat gue berhasil membawakan salah satu lagu dari musikal Annie ini adalah pengingat bahwa nggak ada kata terlambat dalam menggapai sesuatu. Apa yang kita cita-citakan mungkin nggak bisa terwujud di saat itu juga, tapi bukan berarti mustahil, ---bisa saja nanti :)


Video clip "I Don't Need Anything But You" dengan gue sebagai Annie. Yay! :)

Untuk yang membuka blog ini di mobile mode, klik DI SINI untuk menonton video clipnya.


Gue pikir 'cerita Annie' hanya sampai di sini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Tengah malam ketika mengecek notifikasi di instagram, gue menerima komentar yang menurut gue... aneh. Dari seseorang yang bernama Sacha Charnin Morrison. Isinya seperti ini;

"Dari semua versi TV dan film, Annie 1999 lah yang paling mirip dengan versi panggungnya. Ayah saya adalah yang mengubah dari kartun menjadi musikal (dengan bantuan banyak orang). Teruslah bernyanyi, di suatu tempat ayahku bisa mendengarnya." ---Komentar diakhiri dengan emoji tepuk tangan dan hati berwarna merah. 

Nggak cukup satu kali gue membaca komentarnya agar yakin dengan maksudnya. Ayah? Siapa yang ia sebut Ayah? Karena penasaran gue ketik namanya di mesin pencari Google. Dan hasilnya benar-benar membuat gue kena mini heart attack. Sacha adalah putri dari almarhum Martin Charnin, ---konseptor dari musikal Annie!



Keesokan harinya gue dan Shane menginap di rumah Ibu dan Bapak, bisa ditebak dong gue langsung bersemangat untuk bercerita tentang komentar manis yang gue terima. Gue bilang, gue merasa sangat diberkahi karena kejutan datang bertubi-tubi. Gue pikir waktu akhirnya bisa membawakan salah satu lagu Annie saja sudah lebih indah dari apa yang pernah gue impikan, tapi rupanya masih ada kejutan lain. Ibu dan Bapak menggoda dengan bilang kalau gue pasti salah lihat, atau yang berkomentar itu akun palsu. Lalu kami tertawa sampai perut kami sakit, hahaha :D Gue bilang, "Lihat saja sendiri kalau nggak percaya," sambil menyerahkan handphonenya pada Ibu. Tapi gue lupa kalau untuk membuka layarnya dibutuhkan password, jadi gue ambil kembali handphonenya. Dan saat itulah gue melihat ada notifikasi yang masuk. Seseorang baru saja memfollow gue di instagram.


Alicia Morton.


Gue difollow oleh ALICIA MORTON!


---Itu Annie sungguhan!!


OMG!



yang akhirnya menjadi Annie,


Indi



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 01 September 2020

Menang atau Kalah? :) Update dari Kompetisi Kejar Mimpi!

 



Haiiiii, kali ini gue mau post singkat saja. Gue mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyaaaak untuk teman-teman di sini yang sudah mendukung waktu gue ikutan kompetisi cover lagu di "Kejar Mimpi" (gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga). Gue berada di urutan 25. Secara tekhnis gue kalah, tapi gue tetap merasa menang karena berhasil mengalahkan rasa takut gue :)

"Apa kemampuan bermusik gue terlalu biasa?"

"Apa gue terlalu 'tua' untuk belajar sesuatu yang baru?"

"Bagaimana nanti dengan komentar orang-orang?"


Siapa peduli? Yang penting gue mencoba, lakukan yang terbaik dan bersenang-senang. Deg-degan karena menunggu hasil lomba itu lebih asyik daripada nggak melakukan apa-apa ;) 

Gue juga mau ucapkan selamat kepada para pemenang dan semua yang berpartisipasi. Kalian hebat! :)


Video cover "Ibu Pertiwi", lagu wajib untuk kompetisi. Gue bernyanyi dan bermain ukulele di sini. Sementara Shane, suami gue, bermain gitar dan jadi cameraman :p



yay!

Indi


---------------------------------

Dapatkan novel "Waktu Aku sama Mika" di: 0878 43333019 (WhatsApp Shira Media),

dan dapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di 0877 81930045 (WhatsApp Haura Publishing).

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 18 Agustus 2020

Memperingati Hari Kemerdekaan RI ala Indi dan Shane di Rumah Saja

Di pengingat kenangan Facebook gue muncul foto dari tahun kemarin. Gue, Shane dan Ali, ---keponakan gue, berpegangan tangan di depan depan tiang canopi yang dihiasi bendera merah putih. Gue memakai kebaya merah, Shane yang memakai batik tampak mengernyit karena teriknya cahaya matahari. Sementara yang Ali memakai baju pangsi Sunda tersenyum nakal ke arah kamera, ---yang anehnya terlihat lebih mungil dari yang gue ingat (sepertinya setiap berganti tahun gue terus-terusan merasa Ali tumbuh dengan cepat, hahaha). Ya, kami baru saja selesai merayakan hari kemerdekaan Indonesia waktu foto itu diambil. Saking lamanya berdiam di rumah gue jadi terkejut sendiri kalau itu BARU satu tahun yang lalu. Tahun kemarin gue masih ikut pawai bersama Ali dan Shane di sekitar sekolah, juga masih menonton pawai dari RT dan RW lain dari balik pagar rumah orangtua gue. Somehow mengingat semua itu jadi terasa janggal. Jangankan untuk berdesakan di pawai pawai, untuk antri di kasir supermarket saja sekarang rasanya "salah".


16 Agustus 2020

Kalau saja kemarin gue nggak membuka Facebook, mungkin gue akan lupa kalau besok adalah hari jadinya Indonesia. Gak ada kemeriahan di luar, bendera juga nggak kelihatan dari balkon rumah kami. Memang tinggal di apartemen itu terkadang terasa terasing. Apa yang terjadi di bawah, yang sebenarnya jaraknya dekat saja kadang kami nggak tahu. Suasana festive nggak akan terasa kalau bukan gue dan Shane sendiri yang ciptakan, ---paling-paling kalau ada kembang api saja jadi kami jadi punya clue kalau sedang ada perayaan di luar sana, hehe.

Gue bilang sama Shane kalau kami bahkan nggak punya bendera di sini, sementara gue rindu dengan suasana tujuhbelasan :') Shane pun menenangkan gue. Katanya mungkin kami bisa menemukan bendera kecil untuk dipajang di balkon, nanti malam saat kami ke supermarket untuk berbelanja keperluan dapur. Gue yang tadinya mellow langsung semangat berganti baju dan mulai memikirkan apa saja yang akan gue beli untuk besok :)

Gue pikir akan seru jika kami bisa punya "Hari Indonesia", ---pokoknya seharian serba Indonesia, dari mulai makanan, pakaian sampai tontonan. Jadi gue pun mulai memenuhi keranjang dengan apapun yang khas Indonesia, ---selama itu vegan, hehe. Nasi tutug oncom, nasi kuning, kacang koro, teh botol, coklat Bali, air kelapa, mi lidi, dan segala macam produk makanan lokal lainnya. Sampai-sampai gue baca satu persatu lho labelnya, supaya yakin kalau produknya memang asli buatan sini :p Di sela-sela berbelanja nggak lupa gue kirim pesan sama Ibu agar mengirimkan beberapa kebaya untuk dipakai besok. Meski nggak kemana-mana nggak ada salahnya kan untuk tetap merayakan hari kemerdekaan :)


17 Agustus 2020

Gue bangun tidur kesiangan. Mungkin karena malamnya terlalu excited sampai-sampai susah tidur, hehehe. Waktu gue membuka mata Shane langsung bertanya gue mau makan apa. "Mau nasi tutug oncom," jawab gue. Dan ternyata itu cukup membuat suami gue heran, karena saat gue tidur dia sudah sarapan sereal dan pisang sementara langsung minta makan nasi :p Tapi dia setuju, karena sebelumnya dia belum pernah mengenal "oncom". Jadi sekalian saja dijadikan menu makan siang untuknya, dan menu sarapan untuk gue, hehe. 

Nasi tutug yang kami makan itu tipe instan, cukup dimasukan ke rice cooker lalu diberi bumbu. Tertarik membeli karena ada tulisan "100% Indonesia" nya. Menurut gue rasanya berbeda dengan buatan sendiri atau membeli di restoran. Nasinya sedikit kering dan oncomnya kurang nendang. Tapi rasanya cukup enak, kok. Sampai-sampai gue nambah dua kali :) Lain dengan lidah Shane, katanya rasanya terlalu pedas dan dia nggak akan makan nasi tutug ini kalau saja gue gue nggak minta xD Yaaa, selera orang beda-beda sih ya, dan karena yang dicoba pertama kali adalah versi instan, menurut gue sih itu bukan perkenalan yang tepat :p Tapi jangan khawatir, masih ada nasi kuning. Shane suka sekali nasi kuning. Dulu, waktu masih pacaran kalau di rumah orangtua kami selalu disediakan nasi kuning untuk sarapan. Lengkap pakai bihun, timun dan kerupuk. Nikmat sekali :D

Setelah perut kenyang, gue mencoba kebaya-kebaya yang dikirim Ibu. Ada 4 kebaya, dan semuanya bagus-bagus. Bikin gue bingung memilihnya. Akhirnya setelah fashion show dadakan di depan Shane, pilihan jatuh ke kebaya merah berlengan panjang. Ukurannya paling pas di badan gue dan modelnya juga gue suka karena simple dan manis. Gue nggak punya kain samping, jadi gue padukan kebayanya dengan rok dress batik yang gue "sulap" jadi rok, hehehe. Cocok juga ternyata. Sedangkan Shane memakai kemeja batik merah yang dulu dibuat dalam rangka Chinese New Year. Yang penting serasi, kami nggak perlu pakai serba baru ;)

Gue memang sengaja pilih kebaya. Kenapa nggak simply pakai baju merah-putih saja yang jelas-jelas warna bendera Indonesia? Karena menurut gue kebaya itu itu istimewa dan somehow selalu membuat gue merasa "cantik". Bukan hanya merasa cantik secara fisik (it's not a bad thing, love yourself, gurl!) tapi juga secara mental. Nggak ada yang salah kalau kita itu jumpalitan, ikut panjat pinang, betulin genteng, ikutan ngejar layangan, dst, etc. Tapi dengan sesekali memakai kebaya bisa jadi pengingat kalau gue (kita) adalah perempuan Indonesia yang kuat, ---yang juga tetap bisa santun dan lembut :)

Oh iya gue itu punya kebiasaan buat pakai pita rambut yang match dengan baju yang gue pakai. Dan spesial untuk hari ini gue pakai pita merah dan putih. Agak ketutupan rambut sih, tapi semoga tetap kelihatan di foto, hehehe. Ini idenya Shane, katanya daripada pakai yang warna merah saja mending dibuat seperti bendera :D

Untuk pilihan film Indonesia ternyata nggak semudah memilih makanan dan kebaya, hehehe. Pilihan judulnya memang banyak, tapi sayang nggak semuanya punya teks terjemahan bahasa Inggris :') Shane memang nggak keberatan menonton film berbahasa Indonesia tanpa teks. Asal ceritanya simple biasanya dia bisa menerka-nerka alurnya dari awal sampai akhir. Tapi gue mau hari ini istimewa, gue dan suami gue harus sama-sama bisa menikmati filmnya. Dan... akhirnya pilihan jatuh ke "Reuni Z" karena kami sudah kehabisan ide mau cari film dimana lagi :p Film ini diputar di Iflix, reviewnya sangat meragukan (kebanyakan review negatif, huhu) tapi kami mau kasih kesempatan.

Dan ternyata kami sama sekali nggak menyesal. Filmnya nggak bisa dibilang jelek. Iya sih lack of logic, dan ada beberapa jokes yang cringing dan keterluan karena ditujukan ke anak SMA, tapi secara keseluruhan kami terhibur dan kagum karena film Zombie lokal masih jarang. 

Kalau dipikir seharusnya hari terasa lebih pendek karena gue bangun kesiangan. Tapi entah kenapa hari ini terasa lebih panjang dibandingkan kemarin (in a good way). Rasanya gue bisa merasakan setiap detiknya dengan maksimal. Bahkan Shane pun yang biasanya tidur awal barusan tidur lebih larut. Kalau kalian, bagaimana Agustusannya? Di rumah saja seperti kami? Atau di daerahnya ada lomba-lomba seperti biasanya? Apapu itu, semoga menyenangkan ya :) Di waktu yang sedang nggak mudah seperti ini gak ada salahnya untuk sedikit loosen up. Biar hari ini jadi pengingat kalau kita kuat, kalau dulu kita menang. Dan sekarang kita tetap berjuang meski untuk hal yang berbeda. Get well soon, Indonesia! :)


yang suka pakai kebaya,


Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Senin, 27 Juli 2020

"Waktu Aku sama Mika" Kembali! :)

Hai bloggies! Apa kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Kelihatannya sih di daerah gue hampir semuanya sudah beraktivitas seperti biasa, kantor sudah banyak yang buka, pertokoan jam operasionalnya kembali seperti dulu, ---hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Gue dan Shane juga termasuk yang masih bekerja dari rumah, jadi harus kreatif supaya nggak jenuh, hehe. Apalagi sekarang sudah masuk musim kemarau yang artinya matahari sedang teriiiiik sekali. Bawaannya kepengen main di luar, kalau bisa sih berenang atau minimal jalan-jalan di mall sambil makan es krim :D Tapi jangan dulu deh, gue dan Shane memilih untuk membatasi keluar rumah karena lebih aman. Apalagi tante dan saudaranya kakak ipar yang di Amerika juga terkena corona, ---better hati-hati daripada menyesal kan :)

Selama keabsenan gue di blog ini sebenarnya banyak yang terjadi, dan rasanya ingin menebus buat cerita semuanya setelah mood (haha) dan laptop gue kembali. Tapi 2 minggu lalu ternyata laptop gue ada yang meminjam, jadi keinginan gue harus tertunda. Saat seperti ini laptop dan internet memang jadi esensial sih, ya. Apa-apa kebanyakan dikerjakan lewat internet :'D Saat gue "hilang" itu, ada kabar yang menggembirakan. Gue memang sempat menyentilnya sekilas di sini, tapi belum pernah menceritakan secara lengkap. "Waktu Aku sama Mika", novel karya gue kembali dipinang oleh penerbit. Kisah gue dan almarhum Mika kali dihidupkan kembali oleh penerbit Shira Media dengan konsep yang lebih segar dan manis :) Kontrak gue dengan penerbit sebelumnya memang sudah habis. Sempat ada keinginan buat menerbitkannya secara indie, tapi rupanya seperti jodoh, di saat yang tepat Shira Media menghubungi gue untuk menawarkan kontrak.

"Waktu Aku sama Mika".

"Waktu Aku sama Mika" adalah kisah yang nggak pernah gue rencanakan untuk menjadi novel. Bahkan tulisan gue dibaca orang lain pun sebelumnya nggak pernah terbayangkan. Dulu gue menulis kisah cinta masa SMA murni demi "melegakan" perasaan gue. Sama sekali nggak ada alur, sama sekali nggak ada konsep. Bisa dibilang sekedar curahan hati. Orang mungkin menyebutnya cinta monyet. Tapi buat gue jatuh cinta dengan Mika adalah salah satu bagian dari pengalaman berharga, yang membantu proses penerimaan diri dan mengubah cara pandang gue terhadap dunia menjadi lebih positif :) Waktu itu gue berusia 15 tahun, serba kebingungan dengan dunia remaja yang entah mengapa gue selalu nggak bisa berbaur. Sebanyak apapun gue mencoba, gue selalu asing. Gue pikir scoliosis membuat gue berbeda, ---bukan dalam arti yang positif. Brace, atau penyangga punggung gue terlalu visible dan mungkin membuat orang lain nggak nyaman untuk bergaul dengan gue. Lalu datang Mika, yang membuktikan pada gue bahwa manusia itu seperti apel. Dari luar mungkin tampak berbeda, seperti kulit apel yang berwarna-warni. Tapi dalamnya sama saja. We are all human. Untuk pertama kalinya gue merasa diterima dan mulai belajar untuk melihat sesuatu seperti sudut pandang Mika. Bagi gue Mika adalah sosok laki-laki yang sempurna, dia bagai malaikat untuk gue, ---terlepas dia adalah seorang ODHIV, orang dengan HIV.




Lebih Personal
Waktu penerbit memberi tahu kalau akan ada edisi istimewa terbatas "Waktu Aku sama Mika", gue senang sekali. Gue pikir setelah sekian lama kisah gue dan Mika "hidup", sekarang adalah waktu yang tepat untuk memiliki penanda atau kenang-kenangan yang bisa gue simpan sampai nanti :) Ada 500 paket novel bertanda tangan dan totebag bergambar serasi dengan sampul "Waktu Aku sama Mika". Iya, gue benar-benar menandatangani semuanya, satu persatu. Lumayan pegal, tapi gue sangat bersemangat meskipun sempat jatuh sakit. (---Bukan sakit karena kelelahan tanda tangan lho, ya, memang kebetulan saja waktunya bersamaan, hehehe). Selain perasaan senang, sebenarnya gue juga merasa cemas. Soalnya 500 itu bukan jumlah yang sedikit. Apa mungkin pembaca gue sebanyak itu? Hehe. Tapi berkat dukungan ortu dan Shane gue bisa menepis pikiran yang kurang positif. There's no such thing as bad book. Setiap buku istimewa, hanya harus menemukan hati yang tepat untuk ditempati. Iya, kan? ;)

Menandatangani 500 halaman pertama novel "Waktu Aku sama Mika"! :D

Totebag yang bisa didapatkan di paket istimewa.


Akhirnya di Toko Buku!
Entahlah kenapa, gue punya kebiasaan malu-malu dan cemas nggak jelas (---mungkin related sama diagnosis OCD gue? IDK). Waktu tahu novel gue sudah ada di toko buku (offline dan online), gue ingin sekali melihatnya sendiri. Tapi gue malu kalau ke toko buku dan mencari-cari novel gue di sana. Padahal kalau dipikir, siapa juga yang akan memperhatikan ya? Huhu. Setelah ada beberapa teman pembaca yang membeli novel "Waktu Aku sama Mika" di toko buku mention gue di medsos, akhirnya gue pun membulatkan tekad untuk melihatnya sendiri. Toko buku pertama yang gue kunjungi dengan Shane adalah Gramedia cabang Merdeka Bandung. Waktu itu kami habis dari bioskop bersama teman-teman kerja. Gue pikir sekalian saja ke toko buku. Ternyata benar ada, di rak paling besar! :'D Jujur, rasanya overwhelming. Gue sampai beberapa kali meremas lengan Shane supaya bisa menahan diri untuk nggak memekik, hahaha. Nggak lupa gue mengambil foto, ---setelah nengok kanan-kiri takut ada yang memperhatikan :p

Menemukan "WASM" di rak Gramedia Merdeka Bandung!

"Waktu Aku sama Mika" di rak Togamas Supratman Bandung.

Selain Gramedia, novel "Waktu Aku sama Mika" juga ada di toko buku-toko buku lainnya seperti Togamas, Jendela dan lain-lain. Di toko online juga ada. Mudahnya sih tinggal mengetik judulnya saja di Shopee, Tokopedia atau medsos seperti Instagram dan Twitter. Nanti akan muncul nama-nama toko yang menjual novel gue :) Oh iya, tapi khusus edisi bertanda tangan dan totebag hanya dijual di toko online saja (termasuk di website resmi Shira media) karena jumlahnya terbatas.

Menjadi Best Seller
Dulu gue nggak pernah membayangkan tulisan gue dibaca oleh orang lain. Bisa menerbitkan buku rasanya seperti mimpi, ---apalagi waktu tahu kalau karya gue dipajang di rak "Paling Laris". Rasanya lebih indah dari mimpi! :') Apalagi gue tahunya bukan karena dapat kabar dari penerbit atau teman pembaca, tapi gue melihatnya dengan mata kepala sendiri. Waktu itu gue dan Shane baru saja selesai dari dokter, karena lapar kami mampir ke tempat pizza dulu. Di sana ada toko buku, lalu iseng-iseng kami mencari novel gue. Sepuluh menit pencarian, kami nggak menemukannya dan gue pun menyerah. Tapi suami gue rupanya masih penasaran dan meminta gue untuk bertanya pada petugasnya. Mulai deh gue cemas karena setelah waktu lumayan lama dia belum juga menemukan dimana novelnya. Rasanya gue sudah mau kabur saja, hehe. Sampai akhirnya ada petugas lain yang tahu dan ternyataaaa... gue dan Shane sudah melewati tempat yang dimaksud berkali-kali! Kami memang sama sekali nggak terpikir untuk mengecek ke sana karena itu rak best seller. Gue pikir too good to be true saja kalau sampai ada di sana. Setelah petugasnya pergi baru deh gue bisa heboh-heboh sedikit. Terharu, nggak menyangka, bahagia, semua jadi satu. Novel gue best seller! :')

Satu-satunya foto yang Shane ambil karena waktu kami di sana tokonya sedang mati lampu, hahaha.

Ekspresi bahagia gue waktu tahu novel "WASM" ada di jajaran buku laris :)

Bersama Shane yang selalu mendukung dan siap sedia mengantar gue ke toko buku :)



Terbitnya (lagi) "Waktu Aku sama Mika" adalah salah satu hal terindah yang terjadi sama gue di masa "nggak mudah" sekarang ini. Gue bersyukur memiliki keluarga dan tempat tinggal yang membuat gue nyaman. Tapi jujur ada kalanya gue merasa stuck karena harus diam di rumah. Meski istilahnya WFH alias work from home, tetap saja rasanya berbeda. Apalagi karena sebelumnya gue terbiasa berinteraksi langsung dengan orang-orang di tempat gue bekerja paruh waktu. Nah, membaca komentar-komentar pembaca tentang novel "Waktu Aku sama Mika" ternyata bisa mengobati kerinduan gue. Terkadang gue sempatkan untuk sedikit mengobrol, apalagi jika mereka merasa related dengan kisah gue dan Mika.
Ungkapan perasaan gue di sini rasanya nggak sebanding dengan apa yang sebenarnya gue rasakan, no words can dercribe how happy and grateful I am. Kisah cinta gue dan Mika memang nggak sempurna, ---seenggak sempurna kondisi fisik kami. Tapi melihat apa yang novel ini capai rasanya aman untuk bilang, "Terima kasih telah melihat gue dan Mika ‘melampaui’ kondisi kami. Terima kasih!" :)



selalu sugarpie-nya Mika,

Indi



Dapatkan "Waktu Aku sama Mika" di toko buku seluruh Indonesia (Togamas, Gramedia, dll), www.shiramedia.com (WhatsApp: 087843333019) dan di berbagai toko buku online (gunakan keywords: 'Waktu Aku sama Mika' di Instagram, Facebook, Twitter, Shopee, Bukalapak dan Tokopedia).

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com



Sabtu, 27 Juni 2020

Ulang Tahun Kali Ini Yang... Penuh Cinta! :)



Kalau sering mampir ke sini, mungkin teman-teman tahu kalau gue sangat suka dengan ulang tahun. Buat gue ulang tahun itu hari yang magical, ---bayangkan kita mengenang hari dimana kita dilahirkan, dimana kita sangat ditunggu dan diharapkan :) Selama gue hidup di dunia ini, setiap ulang tahun selalu dirayakan bersama keluarga, atau lebih tepatnya disyukuri bersama. Nggak perlu macam-macam, cukup berkumpul bersama keluarga dan tiup lilin untuk simbolis bertambahnya usia saja sudah cukup. Apalagi setelah gue mengenal Shane hari ulang tahun jadi terasa lebih istimewa karena ulang tahun kami selisih 10 hari saja, double blessing! :)

Tapi siapa yang menyangka tradisi berkumpul yang biasanya gue rasa sebagai hal "sederhana" menjadi suatu kemewahan di ulang tahun kali ini. ---Yup, apalagi kalau bukan karena si covid 19, hahaha :'D Meski sudah mulai banyak orang menerapkan "new normal", tapi gue dan keluarga masih stay di rumah masing-masing. Gue di rumah bersama Shane, sementara Ibu dan Bapak juga berdua di rumah mereka yang jaraknya sebenarnya nggak jauh dari kami. Meski hati ini sebenarnya rindu, tapi gue menahan diri untuk nggak bilang sama Ibu Bapak kalau ingin merayakan ulang tahun bersama. Jadi gue berusaha keep cool, kalau ngobrol di whatsapp sama sekali nggak pernah membahas soal ulang tahun, hahaha :p

Tepat di hari ulang tahun Shane, 29 Mei 2020 lalu, kami nggak bertemu Ibu dan Bapak. Mereka hanya mengucapkan selamat lewat whatsapp. Begitu juga anggota keluarga yang lain seperti Nenek dan keluarga mertua gue. Pokoknya sepi, hanya ada kami berdua di rumah :'D Sempat punya ide buat baking birthday cake berdua, tapi malah mager dan beralih jadi ngerjain lagu. Iya, seaneh itu kadang kami, mau semager apapun kalau soal musik selalu semangat. Dulu saja kami bertemunya gara-gara musik, lho. Nggak pakai kenalan, langsung to the point kolaborasi musik dan akhirnya nikah, hahaha. Anyway, jadi ceritanya kami bikin music cover plus video clip spesial ulang tahunnya Shane gitu. Kami bawakan lagu The Velvet Underground yang judulnya Stephanie Says. Serius, prosesnya seruuuu banget. Gue nyanyi dan main ukulele. Sementara Shane yang main gitar, isi keyboard, biola dan xylophone. Eh, dia juga ngisi backing vocal sedikit. Penasaran nggak sih, soalnya semenjak nikah dia lebih sering main alat musik daripada nyanyi :p Pas bikin video clipnya ternyata hujan, padahal lagi musim kemarau, huhu. Tapi memang mood kami lagi sangat baik jadi cuek saja, lanjut nyanyi-nyanyi di bawah rintik hujan kaya film India. Setelah selesai, rasa happy jadi berlipat-lipat. Nggak sepi lagi. Kami sampai bilang kalau ini tuh best birthday celebration ever :)



Di saat gue pikir nggak mungkin ulang tahun kami menjadi lebih baik lagi, Tanggal 7 Juni 2020, satu hari sebelum ulang tahun gue Ibu dan Bapak memutuskan untuk mampir ke rumah kami. It's been awhile, dan gue benar-benar nggak nyangka bakal bisa merayakan hari istimewa gue (kami, ---gue dan Shane) bersama mereka. Sampai-sampai saat mereka on the way, gue tanya dulu apa mereka akan naik atau hanya menitipkan kado di lobby apartemen, hahaha :'D Ibu bilang, beliau dan Bapak ingin memberi kado langsung, jadi minta Shane untuk menjemput mereka di lobby. Jantung gue rasanya seperti mau meledak, ---saking senangnya! Gue yang tadinya sedang bermalas-malasan di tempat tidur sambil membaca buku Goosebumps, langsung cuci muka dan mengepang rambut supaya terlihat agak segar. Shane pun segera mencuci piring-piring kotor sisa late breakfast kami (maksudnya sarapan di waktu makan siang karena kami kalau bangun suka nggak nanggung-nanggung siangnya, lol) supaya dapur terlihat rapi. Oh iya, yang bikin gue tambah senang (dan haru), sepanjang perjalanan menuju rumah kami Ibu dan Bapak mendengarkan musik ciptaan gue dan Shane di tape, lalu mengirimkan videonya lewat whatsapp. Aww! :')

Ibu dan Bapak bilang mereka hanya bisa sebentar saja di rumah kami. Tentu kami maunya bertemu lama, kalau bisa nginap sekalian, hahaha, tapi dengan bisa bertemu saja sudah kejutan yang luar biasa :'D Rasanya tiba-tiba semua terasa normal, gue jadi lupa kalau keadaan di luar sana sedang "sakit". Kami berkumpul, nyanyi happy birthday, tiup lilin, ketawa-ketawa dan dapat kado. Waktu kadonya dibuka kami nggak bisa berhenti tertawa. Gue dapat figurin Kakek-Nenek yang sedang main musik. Kata Ibu, itu gue dan Shane yang sudah tua tetap suka main musik, hahaha. Kado untuk Shane juga ternyata nggak kalah lucunya, dia dapat kotak musik dengan bentuk biola. Kalau dibuka ada ballerina yang menari di atas cermin. Aw! Hahaha :D Dan rupanya Ibu diam-diam merekam kami ketika buka kado, lho. Katanya sengaja biar nanti bisa ditonton lagi. Setelah Ibu dan Bapak pulang, kami nggak bisa berhenti membicarakan keseruan yang baru kami alami. Shane malah nggak bisa berhenti bermain dengan kotak musiknya, hihihi.












Keesokan harinya gue dan Shane pergi ke Rumah Sakit untuk mengambil cek darah dan sekalian USG payudara gue. Awalnya sih rasanya mellow karena pas banget sama hari ulang tahun gue, 8 Juni 2020. Tapi itu sebelum tahu kalau Ibu dan Bapak bakal datang ke rumah. Karena setelah sudah dapat kejutan, gue ternyata jadi biasa saja menghabiskan hari ulang tahun di RS. Malah rasanya ulang tahun gue sudah lewat karena dirayakan lebih cepat, hahaha. ---Soal kenapa gue harus ke RS, mungkin akan gue ceritakan lain kali, ya. Terlalu panjang kalau diceritakan semuanya di sini, dan gue ingin berfokus sama cerita ulang tahun gue dan Shane saja sekarang :)
Kami nggak pulang dulu waktu menunggu hasil Lab karena takutnya hanya buang-buang waktu saja di jalan. Padahal lumayan lama, lho, tapi kami merasa lebih mending menunggu sambil santai (dan jajan nasi Padang, hahaha) daripada bermacet-macet. Setelah akhirnya pulang ke rumah, keadaan gue sudah drop alias low batt, lol. Yang terpikir hanya berganti baju dengan piyama terus tidur-tiduran. Eh, ternyata Shane berinisiatif untuk tetap merayakan ulang tahun gue (lagi!). Dia ke mini market yang ada di gedung apartemen, lalu beli bahan-bahan untuk bikin kue tart. Setelah itu dia langsung baking kue, ---sebisanya. Terharu melihat suami gue "berjuang" aduk adonan sampai hias kuenya. Lengkap pakai lilin juga, yang buat gue sih super niat karena semuanya cuma dapat dari mini market :'D Kami tiup lilin berdua, makan kue berdua, setelah itu tidur siang berdua soalnya ngantuk berat, hahaha.







Saat sedang seperti ini ternyata rasa cinta keluarga jadi lebih terasa. Gue selalu tahu kalau keluarga gue sayang dengan gue dan Shane, tapi melihat mereka tetap berusaha menyenangkan kami disaat pertemuan kami terbatas membuat mata gue lebih terbuka. Nenek gue yang sudah sepuh mengirimi kami pesan ulang tahun yang lucu, lengkap dengan emojinya. Katanya beliau belajar bikin emoji sendiri pakai iPhone, ---plus mengirimi kami kado setelahnya :) Juga keluarga mertua gue, meski sepertinya tahun ini sepertinya nggak bisa berkunjung ke Indonesia, tapi kami tetap merayakan ulang tahun "bersama". Sejak gue dan Shane masih pacaran, ibu mertua gue punya kebiasaan untuk mengirimi kami kartu ucapan ulang tahun yang diselipkan hadiah uang untuk kami. Iya, beliau masih memperlakukan kami seperti anak-anak, hahaha. Tapi tahun ini rasanya "beda", gue jadi sadar apa yang dilakukannya adalah upaya mengisi absensi kehadirannya bersama kami. Beliau meminta Shane untuk mengajak gue makan malam menggunakan uang beliau, katanya anggap saja kami makan malam bersama-sama :') Di blog ini gue sering bercerita betapa gue sangat bersyukur memiliki Ibu, Bapak dan suami yang hangat dan penuh cinta. Tapi ternyata gue "lupa" kalau gue juga diberkahi dengan mertua yang baik hati dan memiliki rasa cinta yang mungkin bisa menyamai orangtua kandung gue.



Saat sedang menulis ini pun rasanya gue masih sedang berulang tahun. Sungguh perhatian dari orang-orang tersayang gue memberikan rasa bahagia yang panjang. Gue semakin yakin bahwa keluarga nggak selalu harus saling berdekatan, tapi keluarga selalu saling mengingat dan mencintai. Ah, rasanya gue kehabisan kata-kata... Gue cuma bisa bilang, gue beruntung, gue diberkahi... Setuju? :)


birthday girl,

Indi

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Jumat, 12 Juni 2020

Bisakah "Guruku Berbulu dan Berekor" Membantu?

Gue tadinya nggak mau memulai tulisan ini dengan sesuatu yang serius. Tapi, let's get real, situasi memang sedang sulit belakangan. Pandemik membuat semuanya berubah. Gue bersyukur masih bisa merasakan perut kenyang, masih bisa haha hihi nonton film meski membatasi penggunaan TV kabel, ---masih punya tempat tinggal yang meskipun nggak luas tapi bisa melindungi gue (dan Shane) dari keadaan yang sedang "berbeda" ini. Iya, gue juga kena PHK masal, pekerjaan gue sebagai parttimer di sebuah sekolah terpaksa harus berhenti. Tapi gue nggak mau merasa menjadi "korban" karena bukan cuma gue yang kehilangan pekerjaan. ----Dan again, gue bilang gue beruntung, ---karena masih memiliki pekerjaan lain. Semua orang merasakannya meski kadarnya berbeda-beda. Bahkan bukan kita saja sebagai manusia, gue lihat di berita banyak sekali binatang yang hidupnya berubah. Terutama yang hidup di zoo dan penampungan karena mereka mengandalkan kita sebagai manusia untuk makan. Sedih sekali.

Gue bersyukur kebutuhan hidup gue tercukupi. Meski untuk memberi bukan selalu menjadi hal mudah buat gue. Bukan, ---bukan berarti gue pelit ya :D Keadaan sekarang memang membuat apa yang gue bagi jadi lebih sedikit, sementara jumlah yang memerlukan bantuan semakin banyak. Tapi gue nggak mau menyerah, gue yakin ada jalan. Keadaan ini kita rasakan bersama-sama, dan untuk memperbaikinya juga harus dilakukan bersama. Akhirnya, bulan lalu entah bagaimana awalnya gue mendapat ide untuk menghidupkan kembali novel "Guruku Berbulu dan Berekor" (bagian 2) yang pernah terbit tahun 2017 lalu. Goal dari novel ini adalah untuk membantu binatang-binatang yang hidup di penampungan karena royaltinya disalurkan untuk mereka. Tapi karena satu dan lain hal novel ini berhenti dicetak, ---salah satunya karena gue menerbitkan secara mandiri sementara gue sama sekali belum memiliki pengalaman. Sekarang gue putuskan untuk memakai penerbit. Harapannya tentu saja supaya lebih terarah dan semakin banyak orang mendapat informasi tentang "Guruku Berbulu dan Berekor". Soal membeli atau nggak itu belakangan. Yang terpenting kesempatan ke arah sana semakin besar. Dan tentu semakin banyak yang membeli akan semakin banyak pula jumlah yang didonasikan :)


Apa gue mengambil keuntungan? Well, dari yang sudah-sudah gue malah menambahkan jika sedang ada rezeki lebih. Tujuan gue murni untuk membantu, bukan untuk mendapat keuntungan apalagi mencari popularitas. Gue nggak sendirian dalam menulis novel ini. Banyak relawan yang menyumbangkan cerita inspiratif mereka tentang pengalaman bersama binatang peliharaannya, dan, yup, mereka juga nggak mendapatkan bayaran sedikit pun. Kami semua bekerja sama membangun sebuah novel yang berisi banyak kisah, ---yang bisa menghangatkan siapa saja yang membacanya. Bahkan jika bukan penyanyang binatang sekalipun. Karena gue yakin perasaan sayang itu universal, siapa saja bisa merasakannya :)
Kalau ditanya apa kisah favorit gue di novel ini, gue bingung. Semuanya sama istimewa. Lebih baik gue pilih saja secara acak kutipannya untuk dibagikan di sini, agar kalian ada gambaran seperti apa isi dari novel "Guruku Berbulu dan Berekor" :)
Ini salah satunya;

"Sejak saat itu, aku belajar bahwa binatang yang setia bukan hanya anjing. Apapun binatangnya, asal kita menjadikannya sahabat dan keluarga, mereka sudah tahu apa yang akan diperbuatnya. Mereka hanya akan setia."

Atau yang ini;

"Aku melambaikan tangan kepada sahabat kecilku, mungkin bukan hanya sahabat karena selama ini kami lebih mirip seperti sepasang kekasih. Saling mengasihi dan saling mengandalkan feeling satu sama lain. Feeling bagiku dan insting adalah istilah yang tepat baginya."


Bagaimana? Sudah terbayang bagaimana isinya? :)
Gue bahagia karena bisa mendapatkan banyak kisah yang beragam. Nggak hanya tentang binatang-binatang yang bisa dibilang "umum" sebagai peliharaan seperti kucing, anjing atau ikan. Tapi juga ada kambing, monyet, sugar glider dan lain sebagainya. Karena memang begitulah kenyataannya. Binatang itu banyak, dan semuanya berharga, ---nggak ada satu binatang pun yang punya less right buat hidup berdampingan dengan kita. Di situasi sekarang ini banyak penampungan dan kebun binatang yang mulai kesulitan untuk memelihara mereka (terutama dalam hal pakan). Gue ingin sekali membantu mereka. Bahkan gue ingin semua mahkluk yang ada di dunia ini nggak kelaparan. ---Well, mungkin "semua" kesannya besar dan mustahil ya. Tapi nggak ada yang mustahil jika dilakukan bersama, dan berusaha meskipun kecil itu lebih baik daripada nggak melakukan apa-apa. Sekarang gue memang nggak (belum) punya uang yang banyak atau tempat yang luas untuk menampung para binatang terlantar. Tapi gue menggunakan apa yang gue bisa, apa yang gue miliki... yaitu menulis :)

Penerbit yang menerbitkan "Guruku Berbulu dan Berekor" bukan penerbit besar. Promosi dan penjualannya masih terbatas memanfaatkan internet. Gue harap dengan ditulis di sini bisa sedikit lebih ter-notice oleh penggemar buku dan animal lovers yang kebetulan membaca tulisan ini. 
Dengan humble gue persembahkan kepada kalian, sebuah novel "Guruku Berbulu dan Berekor". Yang mudah-mudahan bisa mendapat tempat di hati siapa saja yang membacanya, sekaligus membantu binatang-binatang yang membutuhkan (donasi yang disalurkan akan diupdate di blog ini). 

Telah tersedia di Haura Bookstores dengan harga Rp. 40.000 (bonus pembatas buku). 
Whatsapp pemesanan: +62 877 81930045.
Jika kesulitan silakan DM gue di Instagram @indisugarmika



Gue ucapkan terima kasih untuk yang telah menyempatkan membaca. Gue senang jika ada yang ikut berdonasi dengan cara membeli novel ini. Tapi jika nggak bisa, it's okay, gue hanya minta doanya. Semoga keadaan ini cepat membaik. Nggak apa jika dibilang gue terlalu optimis. Itu lebih baik daripada menjadi orang yang pesimis ;)

cheers,

Indi

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 28 Mei 2020

Lebaran Rasa Karantina (Setelah Dua Bulan nggak Bertemu!)

Hore! Lebaran datang, hati pun senang! :D Hehe, ---eh, masih berlaku nggak ya saat di tengah pandemik seperti ini? ---Lebaran kali ini memang "beda", tentu, ---rasanya semua orang juga tahu. Jadi kayanya gue nggak perlu menulis tentang betapa bedanya, or how much I miss Lebaran tahun-tahun sebelumnya, ya karena gue rasa semua orang juga merasakan hal yang sama. Buat gue Lebaran itu selalu "menyenangkan", ada vibe tersendiri yang nggak bisa gue rasakan di hari-hari biasa, entah kenapa. Bahkan di saat nggak bisa bertemu secara langsung dengan keluarga besar pun ada keakraban yang berbeda saat video call atau chatting dengan mereka dibanding biasanya. Ajaib ya! :) 
Oh iya, sampai lupa. Minal aidin walfaidzin :) Dari lubuk hati yang terdalam, mohon maafkan jika ada tulisan gue yang menyinggung kalian di blog atau di sosial media gue lainnya. Mari kita mulai semuanya dari awal lagi dan saling ingatkan jika ada kekhilafan. Maaf lahir batin :)

Puasa dan Lebaran kali ini adalah kali pertama gue dan Shane tinggal di rumah sendiri. Dua tahun sebelumnya kami masih pacaran, dan tahun berikutnya kami baru menikah (cieee, hahaha). Sejak pertama kali pindahan, kami sudah deal untuk mengunjungi rumah orangtua satu minggu sekali dan menginap kadang-kadang. Tapi rupanya rencana kami nggak sejalan dengan skenario yang sudah ditulis Tuhan, ---Corona datang dan kami pun  mematuhi anjuran untuk nggak kemana-mana. Jadi semenjak bulan Februari kami belum bertemu mereka sama sekali. Meski sebenarnya jarak rumah kami dan ortu literally hanya sejauh "keluar kompleks lalu belok kiri", tetap saja gue nggak mau ambil resiko. Gue pikir lebih baik patuh sekarang dan gunakan kesempatan untuk bertemu hanya untuk saat sangat penting saja. Meski di rumah hanya berdua saja, gue dan Shane tetap berusaha melakukan "tradisi" sebelum Lebaran seperti di rumah Ibu dan Bapak. Salah satunya beres-beres rumah dan mencuci semua pakaian kotor! Haha, seru sekali, seharian kami benar-benar sibuk. Shane membersihkan kamar mandi sementara gue beres-beres kamar. Lalu dilanjutkan dengan membersihkan ruang TV bersama-sama. Kami sampai kelelahan dan beberapa kali ketiduran di sofa. Tapi hati kami senang dan terasa hangat sekali. I've told you, Lebaran selalu punya vibe yang berbeda :)


Ruang TV yang biasanya berantakan sudah rapi. Balkon juga bersih, sih, siiiih. Itu lantainya masih basah, hehe.


Dapur baru rapi pas tengah malam, soalnya dipakai masak. Pas difoto pun masih banyak alat masak yang berceceran :p


Jujur, ini spot yang paling malas buat kami bersihkan: jendela kamar! Ribet aja gitu harus dilap satu-satu tirainya, hahaha.


Kasur sudah divakum sampai ke sela-sela, Onci, boneka kelinci gue pun tidur nyenyak :p


Hari Lebaran akhirnya benar-benar tiba. Setelah lebih dari dua bulan akhirnya gue dan Shane akan segera bertemu Ibu Bapak lagi. Pagi-pagi, setelah sarapan dan mandi kami bergegas pergi ke rumah mereka. Nggak ada kontak dengan orang lain sebelum kami masuk ke dalam mobil (---salah satu "keuntungan" tinggal di apartemen, yang saat "normal" malah dianggap kekurangan). Kami memang sudah berkomitmen untuk menjaga diri, baik gue dan Shane, juga orangtua jangan sampai bertemu orang jika nggak terpaksa. Sadly, itu artinya kami nggak bisa berlebaran tanpa Nenek, yang meskipun rumahnya dekat tapi kami khawatir kalau di sana ternyata menerima tamu. 
Waktu kami tiba rasanya surreal, ---kaya mimpi, melihat Bapak membukakan pagar garasi dengan baju kokonya. Melihat Eris yang mengibas-ngibas ekornya karena akhirnya melihatku lagi! Ibu sudah menunggu kami di dalam, dengan bersemangat beliau bercerita tentang betapa ia merindukan kami, ---juga tentang masakan Lebaran yang sudah beliau siapkan khusus untuk kami. Gue nggak menyangka akan ada saat seperti ini, dimana untuk memeluk mereka saja rasanya canggung. Bukan, bukan karena gue sudah dewasa dan malu. Tapi karena terlalu lama nggak bertemu dan pendemik ini menakuti kami untuk berdekatan :( Tapi setelah dipikir ketakutan kami tanpa alasan, kami disiplin, ---kami sama-sama nggak kemana-mana. Dan akhirnya kami berpelukan kembali untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua bulan :')


Outfit Lebaran. Gak ada baju baru, yang penting bersih dan rapi :)


Sebenarnya gak ada beda sih antara syle Lebaran sekarang sama sebelumnya. Kami lebih nyaman bergaya santai, gak punya sepatu khusus atau harus pakai makeup. Again, yang penting bersih dan rapi :)


Suasana di rumah tetap seperti Lebaran-Lebaran yang lalu rupanya. Ada bunga sedap malam, kue, kue dan masakan Ibu. Ah, it's so nice to back home again :') Biasanya hal pertama yang dilakukan adalah berfoto bersama, tapi berhubung cuma ada kami berempat jadi camerannya ditaruh di meja, ---kami berfoto pakai timer, hahaha. Seru sekali. Untuk menghasilkan 2 foto saja harus pakai trial and error dulu karena belum pernah sebelumnya :D Yang bikin haru, Ibu dan Bapak excited sekali dengan kedatangan kami, sampai-sampai beberapa malam sebelum Lebaran mereka mengirimi gue foto-foto masakan yang mereka buat. Bapak malah bikin surprise, beliau bilang sedang belajar bikin ayam palsu, ---yang maksudnya daging ayam tiruan dari nabati karena gue dan Shane vegan :D Benar saja, di meja makan sudah tersedia berbagai macam hidangan khas Lebaran, yang semuanya vegan karena memang khusus untuk kami berdua saja. Ada gulai shiitake, potato schotel dengan susu soya, pangsit tofu, acar, sambal goreng kentang, dan tentu saja primadonanya "ayam palsu" ala Bapak. Katanya beliau belajar dari YouTube dan waktu mencobanya dapur jadi berantakan sekali, sampai-sampai harus pindah ke ruang TV, hahaha. We really appreciate that, Pak! Bingung mau bilang apa punya orangtua yang sangat suportif dengan keputusan kami menjadi vegan. Gue cuma bisa bersyukur :)

WhatsApp dari Ibu. Aw! :)

WhatsApp Bapak tentang ayam palsu, haha.

Akhirnya ada foto bersama yang sukses, sebelumnya 3 kali percobaan gak ada yang siap, hahaha.


Pose ini idenya Ibu. Iya deh, biar kerasa Lebarannya. Salaman virtual! :D


Semua makanan yang disediakan rasanya enaaaaak sekali. Selesai makan, dua jam kemudian kami sudah makan lagi. Pokoknya kegiatan kami selama di sana kalau nggak ngobrol-ngobrol, nonton, main sama Eris ya makan, lol. Rasanya seperti kembali lagi ke masa kecil, Ibu senang sekali setiap kali gue dan Shane bilang ingin makan. Dengan semangat beliau pasti bergegas menghangatkan makanan meskipun sedang ditengah melakukan sesuatu. Selalu ada sisi positif dari semua hal, jujur gue dan Shane bukan tipe orang yang pandai mingle atau beramah-tamah dengan orang asing. Dan Lebaran ala karantina ini ternyata lebih cocok dengan kami. Jaraaaaang sekali kami masuk ke dalam kamar (kecuali saat akan tidur, of course). Biasanya kami selalu canggung kalau kedatangan tamu dan memilih stay di kamar. Tapi kali ini rasanya kami memiliki quality time yang lebih banyak.
Lucunya TV juga seperti mendukung kehadiran kami. Seharian diputar film-film Disney di saluran Fox. Dari mulai Haunted Mansion sampai Lion King, kami marathon sampai malam (dan ketiduran di sofa, haha). Di rumah sendiri pun gue dan Shane memang senang menonton film, tapi kalau sama orangtua rasanya beda. Lebih ramai, lebih hangat.


Semuanya vegan! No meat, no dairy, no egg! Yay! :D


Close up daging vegan buatan Bapak. Beliau bangga sekali karena hasilnya mirip, hahaha.


Nonton Lion King sampai nangis.


Selain dengan orangtua tentu gue juga rindu dengan Eris. Salah satu alasan kenapa kami pindah ke tempat yang nggak jauh dari rumah ortu ya supaya bisa sering-sering bertemu Eris. Tapi karena pandemik tentu kerinduan gue harus ditahan. Meski gue tetap rutin mengiriminnya hadiah, tentu rasanya beda. Jadi kesempatan bertemu ini gue gunakan sebaik-baiknya. Dua bulan nggak bertemu artinya dua bulan pula Eris belum grooming. Bapak tentu rutin menyisirinya, tapi yang bisa membersihkan telinga dan menggunting kukunya hanya gue. Sedih melihat bulunya yang sudah semakin lebat dan kukunya yang sudah semakin panjang. Gue jadi merasa bersalah meskipun memang nggak ada yang bisa gue lakukan (siapa suruh datang Corona!).  ---Hebatnya, seperti mengerti, Eris nggak banyak protes. Hanya sesekali menghindar lalu membiarkan gue merawatnya sampai dia (semakin) cantik :) Seharusnya Eris juga dimandikan, tapi berhubung Bandung sedang mendung jadi gue urungnya. Waktu luangnya kami gunakan saja untuk bermain lempar tangkap sampai lelah. Oh iya, tanggal 22 Mei Eris berulang tahun yang ke 11 (still, and always be my little girl). Gue dan Shane bikin perayaan kecil-kecilan untuknya. Kami membuatkan Eris kue ulang tahun untuk, tapi tanpa kado karena nggak ada pet shop yang buka. Kapan-kapan gue ceritakan di post terpisah ya. Karena banyak yang mau gue share tentang Eris.


Ada yang cemberut karena gue minta foto pas dia lagi main. Gemaaas! :D


Sebelum potong kuku. Nanti gue share afternya ya :)


Lebaran hari kedua aktivitas kami tetap sama. Makan tetap menjadi kegiatan favorit, hehe. Kalau di hari pertama gue dan Shane kompakan memakai batik saat tiba di rumah ortu, hari kedua kami blasss berpiyama dari bangun tidur sampai malam :D Well, Ibu dan Bapak juga sama sih, karena nggak ada siapa-siapa juga kan. Biasanya kalau kumpul lebaran tanpa sadar jadi ada age group nya, atau kelompok berdasarkan usia :p Misalnya Ibu Bapak bakal gabung sama grup Om Tante, sedangkan gue biasanya sama sepupu-sepupu. Bukan pilih-pilih, tapi biasanya yang mau diajak main games ya yang muda-muda saja. Kalau ajak Ibu biasanya beliau bilang "pusing", hehehe. Tapi berhubung sekarang hanya ada berempat jadi kami ngobrol-ngobrolnya juga berempat saja. Dan itu ternyata seru sekali! Misalnya, gue jadi tahu kalau film pertama yang gue tonton adalah "Aladdin", dan itu juga ternyata alasan mengapa gusa akhirnya jadi suka dengan alm. Robin Williams. Atau saat gue dan Shane bercerita pada Bapak tentang film Jumanji versi baru dan beliau langsung membandingkannya dengan versi lama, hahaha. Lucunya beliau bisa menebak bagaimana ending Jumanji baru lho, bahkan bertaruh kalau nanti akan ada sekuelnya lagi. Hmm, let's see :D


Hari kedua masih tetap makan-makan :D


Perpaduan yang nikmat sekali. Lontong gak kenyang, gue nambah nasi :p


Pangsit tofu. Sekali makan bisa 6 potong. Enaaaak banget. Ibu dapat resepnya dari aplikasi vegan.

Sebelum pulang kami dibekali banyak makanan :') Semuanya sudah divakum jadi tinggal dihangatkan. Ini "ayam vegan" buatan Bapak.


Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi gue benar-benar berusaha menikmati setiap moment Lebaran kali ini dengan orangtua dan Eris. Sampai-sampai gue rela kurang tidur demi menghabiskan waktu sama mereka (itulah kenapa gue ketiduran di sofa melulu). Berat rasanya waktu gue dan Shane harus pulang ke rumah kami. Ibu juga sebenarnya meminta agar kami stay semalam lagi, tapi ada ikan peliharaan yang sendirian di rumah. Ingin menangis rasanya waktu kami masuk ke dalam mobil dan melambai sambil bilang "See you" (---kami nggak suka bilang "good bye"). Belum tahu kapan lagi kami akan bertemu. Belum tahu kapan pendemik ini berakhir. Gue dan Shane cuma bisa berdoa, semoga nggak lama lagi agar kami bisa bertemu kapan pun kami mau. Tapi tetap, ---gue, Shane sangat bersyukur. Kami bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bertemu dan mengabiskan waktu bersama keluarga meski 1 malam saja. Kami juga bersyukur karena diberikan kesehatan yang baik jadi bisa menikmati waktu yang singkat ini dengan maksimal. Lebaran, bagaimana pun keadaannya tetap saja istimewa tetap moment yang bahagia. Hanya karena kami nggak bisa bersama untuk waktu yang lama dan nggak bisa berkumpul dengan keluarga besar, bukan berarti jadi nggak berkesan. 

Sekali lagi, selamat Lebaran ya teman-teman. Bisa menghabiskan waktu dengan keluarga atau pun nggak, jangan lupa, kita beruntung masih bertemu Lebaran :)

peluk semua dari jauh,

Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com