Minggu, 15 September 2019

Tentang Pindahan.

Ah, akhirnya bisa kembali menyentuh laptop... Belakangan jangankan laptop, buat pakai lipbalm saja kadang gue lupa, hahaha. Gue dan Shane sudah resmi moving out, teman-teman! Akhirnya! :) Sekarang gue excited sekali untuk cerita gimana seru (dan ribetnya) waktu kami pindahan. Dari mulai drama status Shane yang WNA sampai susahnya say good bye sama baju-baju gue yang jumlahnya 3 lemari (---maksa mau dibawa semua, wkwk). Tulisan ini bukan tips n tricks pindahan lho, ya. Ini murni pengalaman gue (dan Shane) sebagai newlywed muda yang mengurusi apa-apa berdua saja. Kalau bermanfaat ya syukur, tapi kalau nggak... makasih lho sudah dibaca :p

Kami menyiapkan tempat tinggal di usia 6 bulan pernikahan. Nggak ada perencanaan khusus tentang "rumah idaman", semuanya mengalir begitu saja. Karena gue dan Shane dari sejak pacaran pun bukan tipe yang banyak teori kapan harus ini-itu. Kalau kami siap ya ayok, kalau belum ya nggak usah memaksakan. Yang terpenting kenyamanan kami, karena yang menikah juga kan kami, hehehe. Jadi kalau ada yang bilang kok kami menunggu 6 bulan baru punya rumah ya cuek. Juga, kalau ada yang bilang kami terkesan terburu-buru pun cuek. Karena yang tahu kapan timing tepat ya kami. ---Apa yang pas buat pasangan lain belum tentu cocok buat gue dan Shane, begitu juga sebaliknya. Gue sangat dekat dengan Ibu dan Bapak, hampir semua hal kami bicarakan. Tapi untuk soal rumah beliau-beliau ini nggak pernah turut campur. Mau lokasinya dimana, seperti apa, mereka menyerahkan sepenuhnya sama gue dan suami. Jadi waktu gue menyodorkan brosur apartemen sepulang kerja pada Ibu, beliau langsung bertanya kapan bisa melihat-lihat ke sana bersama Bapak.


Pulang Kerja "dapat" Rumah

Seperti biasa gue dan Shane pulang kerja bersama-sama. Di perjalanan, iseng, gue menunjuk gedung apartemen yang letaknya berlawanan dengan arah pulang. Gue bilang, 
"Tinggal di situ asyik kali, ya. Kerja nggak takut kesiangan lagi, tinggal ngesot." 
Respon Shane ternyata di luar dugaan, dia langsung bertanya apa gue ingin melihat-lihat dalamnya. Waktu itu gue pikir boleh juga buat iseng, asal jangan lama-lama saja karena belum makan siang, hehe. 
Entah kenapa setelah di dalam gedung kami langsung betah. Yang tadinya sekedar melihat-lihat jadi bicara panjang lebar dengan pihak marketingnya. ---Yang tadinya hanya minta brosur jadi janjian bertemu untuk berbicara lebih lanjut. Kami lalu pamitan sambil bertukar nomor handphone. 

Gue dan Shane sama-sama masih belajar menjadi orang dewasa. Kami masih belum mengerti bagaimana "cara" membeli rumah. Let alone deh rumah, untuk beli tiket pesawat sendiri saja kadang masih deg-degan... Secara kasar kami menghitung penghasilan bulanan Shane dan membaginya jadi beberapa bagian, mengira-ngira tipe manakah yang paling pas dengan kondisi keuangan *kami.
(*Meski yang digunakan adalah uang yang Shane hasilkan, tapi tetap dihitung sebagai "uang kami" karena kami sepakat setelah menikah apa yang Shane miliki adalah milik gue juga).
Yang terpenting nggak memaksakan, kecil bukan masalah. Kami ingin nggak kesulitan ketika mencicilnya dan masih ada sisa untuk keperluan sehari-hari dan menabung. Setelah hitung-hitung berdua, di rumah gue langsung tanya Bapak tentang gimana proses pembelian rumah. Sebenarnya kami bisa saja langsung bertanya sama pihak marketing, tapi gue lebih percaya sama Bapak. ---Dan supaya kesannya gue nggak blank-blank amat juga sih, hehehe. 




Menikah "Rasa" Single!

Mungkin karena terlalu excited, gue dan Shane lupa kalau WNA nggak boleh punya properti di sini. Pikiran gue waktu itu simple banget, urusan beli rumah biar diserahkan sama suami, atas nama suami, ---sama seperti orang-orang kebanyakan. Jadi yang disiapkan ya data-data Shane saja. Tapi ternyata eh ternyata... nggak bisa! Dan entah kenapa pihak apartemennya nggak langsung bilang, padahal saat pertemuan pertama pun kami sudah bilang kalau Shane baru setahun di Indonesia dan pakai Kitas, bukan ganti kewarganegaraan. Setelah sedikit drama, akhirnya diputuskan kalau sertifikat dibuat atas nama gue. Agak sebal juga sih, soalnya gue jadi berasa single. Yang ditelponin, yang ditanya-tanyain dan disuruh tanda tangan cuma gue doang. Ada sedikit perasaan nggak enak juga sama Shane meski katanya sih dia nyantai saja. Apalagi karena pernikahan beda negara jadi notaris menyarankan kami membuat surat kesepakatan yang isinya menyatakan  jika ada apa-apa dengan pernikahan kami (amit-amit, ketok meja!) maka hanya gue yang berhak atas kepemilikan apartemen. TBH, ini sempat mengganggu mood gue buat beberapa waktu. Tapi namanya aturan nggak mungkin juga kami langgar. Jadi gue coba fokus ke bagaimana fun nya mendekor rumah pertama kami saja supaya mood membaik.






Rumah Halloween Kami

Akhirnya 3 bulan kemudian, alias di usia 9 bulan pernikahan, kami mulai mencicil isi rumah. Apakah seru seperti yang dibayangkan? Iya! Apakah mudah? ---Well, nggak juga! :D Meski kami sudah membagi-bagi penghasilan Shane, tapi tetap saja terkadang ada pengeluaran nggak terduga. Apalagi jika kami lupa untuk menghitung hal-hal printilan yang sebenarnya penting, seperti biaya keamanan dan token, hehehe. Jadi budget untuk furnitur harus diatur ulang deh. Kami nggak punya merk favorit atau harus banget pakai style yang sedang hype. Asal modelnya kami suka dan harganya terjangkau saja. Oh iya, gue sempat ngotot membawa seluruh barang-barang dari rumah orangtua. Yang mana sangat mustahil, karena rumah kami mungil sekali, hihi. Hikmahnya gue jadi belajar untuk memilih, dan meninggalkan apa yang sudah jarang dipakai. Atau istilah kerennya downsizing. Hanya yang penting-penting saja yang dibawa. Ukulele sebagian gue tinggalkan, juga baju-baju gue. Dari 3 lemari gue hanya membawa 1 lemari. Toh, jarak ke rumah orangtua juga nggak terlalu jauh. Jadi kami sering bolak-balik, dalam satu minggu ada satu hari kami menginap di sana. 

Kalau diingat lagi ke belakang, sebenarnya lucu juga. Akhir tahun 2017 lalu waktu gue dan Shane awal bersahabat, kami sering berandai-andai tentang apa yang dilakukan kalau kami punya kesempatan bertemu. Banyak hal "ajaib" yang kami khayalkan, salah satunya adalah memiliki rumah bersama dengan tema Halloween. Maunya kamar kami letaknya bersebelahan agar gampang kalau mau ngobrol, nggak perlu video call seperti di dunia nyata, hahaha. Dan rupanya sekarang menjadi nyata. Kami punya rumah bersama dengan tema Halloween. ---Sebagai suami istri, jadi kami bahkan nggak perlu tidur di kamar yang berbeda :) Oh, kami punya alasan sentimentil lho mengapa pakai tema Halloween. Kami mulai bersahabat di Halloween 2017 dan menikah di Halloween 2018. Jadi bukan sekedar alasan iseng.




Kami sangat menikmati tinggal di rumah pertama kami. Nggak banyak yang berubah seperti waktu pacaran dan tinggal di rumah orangtua sebenarnya, tugas memasak masih dipegang oleh Shane dan gue yang bertugas mengatur "mau pakai baju apa", hehe. Bedanya kami jadi belajar untuk memiliki, lebih menghargai apa yang kami punya. Gue bangga dengan Shane yang berusaha untuk pernikahan kami. Rumah kami memang sederhana, tapi itu bukan hal yang penting. Kemauan Shane untuk memperjuangkan sesuatu dan melakukan hal-hal untuk pertama kali adalah yang buat gue matter! Gue juga bangga karena Shane memiliki prinsip untuk nggak termakan gengsi, hanya dapatkan apa dia tahu dia mampu. 
Seperti yang gue bilang sebelumnya, judulnya juga bukan tips n tricks, gue hanya bisa sharing. Jangan pernah memaksakan. Dan untuk memiliki rumah pertama itu nggak ada istilah terlalu cepat atau terlalu lambat. Yang ada hanya waktu yang tepat, karena hanya kita yang tahu kapan kita mampu :)




cheers,

Indi

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 10 Juli 2019

(How to) Stop Bad Moment(s) from Ruining my Entire Day!

Sekarang sudah tengah malam, gue sedang ingin menulis yang ringan-ringan saja sambil ditemani segelas teh dingin tanpa gula yang Shane buatkan. Selain karena rindu dengan dunia kecil yang belakangan sering gue tinggalkan ini (huhu..), gue juga sedang memberi kesempatan Shane untuk menyelesaikan tantangan membuat musik selama 10 hari berturut-turutnya. Jadi gue bisa bersantai di lantai bawah, sementara suami gue berkutat dengan alat-alat musiknya :) Kami berdua belakangan punya banyak waktu senggang. Shane yang bekerja online jam kerjanya fleksible, dan gue yang Maret lalu mulai bekerja kembali di preschool juga sedang libur semester. Rutinitas kami kalau nggak selonjoran, makan, nonton film, paling ya main musik, hahaha. Baru kemarin saja kami keluar rumah seharian, itu pun karena diajak orangtua, adik dan ipar gue jalan-jalan.

Selama Shane tinggal di Bandung sama gue, kami jarang sekali bepergian jauh. Ya, terkecuali kalau ada yang mengantar atau memang memang nggak bisa menolak, misalnya urusan dokumen. Alasannya selain gue orangnya mageran, Shane juga nggak terbiasa dengan lalu lintas di sini yang jauh berbeda dengan Michigan. Mobil sampai tergores di beberapa tempat karena tersenggol pengendara motor. Dari sudut pandang hukum sih harus gue akui kalau Shane nggak salah, ia berkendara di jalurnya, nggak menyalip dan hanya berjalan ketika lampu hijau. Tapi sudah jadi "tradisi" buruk di sini kalau motor nyempil di antara 2 mobil saat sedang macet itu sah-sah saja, dan menyebrang dimana saja itu acceptable! Dulu waktu masih berstatus sahabat kami sering video call, jadi sedikit banyak gue hapal kondisi lalu lintas kampung halamannya yang super teratur dan damai. Gue jadi keikut stres kalau membayangkan di posisi Shane, TBH, hahaha. Apalagi waktu ibu mertua gue mampir ke sini, ekspresi "seram"nya waktu melihat angkot yang saling nyalip benar-benar nggak dibuat-buat. Yang tadinya menganggap normal ke-chaosan kota Bandung, sekarang mata gue jadi terbuka. Makanya gue sekarang kami hanya pilih tempat yang dekat-dekat saja kalau hangout, less stress. Kemarin pun gue bilang kalau mau pakai Grab saja, tapi ternyata Bapak menawarkan diri untuk menyetir. Jadi... Oke deh, gue setuju! ;)

Pernah nggak sih merasa kalau sesuatu dianggap normal karena sudah biasa terjadi? Padahal sebenarnya kita juga tahu itu sebenarnya salah tapi helpless? Gue sama keluarga hangout di Paris Van Java alias PVJ. Sudah lamaaaa banget gue nggak ke sana, soalnya gue mah orangnya nggak terlalu tahu trend. Mall ya sama saja mall, cari yang dekat. Mana peduli kalau ada yang bilang PVJ lebih oke, hehehe. Anyway, kami naik mobil masing-masing, gue dan Shane sama Bapak, sedangkan Ibu dan keluarga adik gue sudah sampai lebih dulu. Katanya mereka ada di Sky level, alias rooftop jadi kami langsung menyusul tanpa perlu mengelilingi mall nya dulu. Tempat ini kayaknya lagi hype banget, di Instagram banyak yang posting foto sedang berpose di sini. Begitu sampai gue langsung "disambut" sama ibu-ibu yang dengan cueknya membuang sisa marshmallow anaknya ke lantai. Hati gue jadi dilema antara mau negur atau pura-pura nggak lihat. Setelah sekian detik dengan suara sedikit gemetar gue beranikan untuk menegur. 
"Hei!" ---kata gue sambil melihat ke arah si ibu dan menunjuk marshmallow yang ia buang. Tapi bukannya malu, ia malah membalas pandangan gue dengan menantang :( Waaa, males gue berurusan sama ibu-ibu. Gue langsung remas tangan Shane dan mempercepat langkah. Batin gue, kenapa dia yang marah, padahal dia sudah jelas salah.

Hal "kecil" itu bikin suasana hati gue jadi kurang baik. Keluarga adik gue ada di area anak, perlu jalan kaki lumayan jauh untuk ke sana. Di perjalanan rasanya kiri-kanan ada saja yang salah. Yang nyampah ternyata banyak, ada mini zoo  (Lactasari Farm) yang gue nggak support sama sekali... Gue nggak mendukung eksploitasi binatang dalam bentuk apapun. Pikiran tentang binatang yang dikandangi, disentuh manusia dengan resiko stress dan over feeding karena banyaknya pengunjung bikin hati mellow. Gue nggak yakin kalau goals dari mini zoo ini untuk edukasi anak. Toh di areanya juga nggak ada keterangan yang detail tentang binatang-binatangnya. Kesannya hanya untuk hiburan dan objek foto lucu-lucuan para orangtua anak-anak saja :( Padahal kalau cuma demi foto yang instagramable nggak perlu melibatkan binatang juga sih. Kan bisa bikin tempat wisata foto dengan patung-patung lucu atau apalah. Dan biarkan binatang tetap hidup di habitatnya dan penangkaran yang kompeten. (Silakan googling "are petting zoo humane?")

Untung saja kami segera bertemu adik gue. Ia menyarankan gue untuk berjalan-jalan dulu di taman bunga matahari supaya nggak bosan menunggu anak-anaknya yang masih asyik main trampoline. Jujur, sebelum ke sini gue pernah lihat foto-fotonya di Instagram dan bikin gue tergiur. Dari foto-fotonya terlihat indah dan segar sekali. Bayangkan saja, ada warna-warni taman di atas atap sementara di bawah adalah lalu lintas sibuk kota Bandung. ---Kan amazing sekali :D Untuk masuk ke area taman dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang. Hanya gue dan Shane saja yang masuk, karena Bapak memutuskan menunggui cucu-cucunya bermain. By the way, ekspektasi gue dari awal memang nggak terlalu tinggi, jadi nggak kaget pas melihat tamannya yang nggak terlalu besar. Suasananya cukup ramai, sampai gue bingung mau ngapain. Mau duduk-duduk di bangku pun segan karena orang-orang bergantian berfoto di sana, uhuhu :'D Menurut gue sih tamannya cukup indah dan terawat. Tapi sayang nggak ada petugas di dalam yang mengingatkan pengunjung agar nggak terlalu "masuk" ke kerumunan bunga matahari. Kan kasihan jadi terinjak-injak. Heran deh, demi foto doang sampai harus brutal :( Akhirnya gue hanya meminta Shane mengambil beberapa foto lalu kami keluar dari taman untuk makan. Right on time, keponakan-keponakan gue ternyata sudah selesai bermain dan mereka juga lapar. Karena sudah lama nggak ke mall ini jadi gue pilih tempat makan yang masih di area roof top saja dan namanya familiar. 




Kami makan di Sushi Tei karena di sana ada pilihan menu vegetariannya. Meski gue dan Shane vegan, tapi dengan adanya menu vegetarian pun sudah good enough kok buat kami. Tinggal request tanpa susu dan telur saja sudah bisa menyulap menu vegetarian jadi vegan :) Ajaibnya suasana hati gue langsung membaik. Bukan karena perut yang lapar sudah terisi makanan, tapi karena gue dikelilingi orang-orang yang gue cintai. Kami banyak bergurau, banyak tertawa, juga banyak makan, hahaha. Gue bahagia melihat Ibu dan Bapak di usia senjanya tetap harmonis dan saling menggoda. Gue bahagia melihat keluarga adik yang berjuang dari bawah menuju kemapanan meski masih muda. ---Energi dari lunch time ini sangat positif. Hampir lupa kalau sebelumnya gue hampir menyesal untuk pergi keluar rumah. Apalagi setelah selesai makan gue mampir ke toko buku Gramedia dan menemukan novel "Waktu Aku sama Mika" terbitan baru karya gue dipajang di rak paling atas. Rasanya gue seperti anak-anak lagi, karena dengan cerewet "pamer" kepada seluruh anggota keluarga sampai pipi gue sakit! :D




*Foto-foto:
~ Menikmati menu vegetarian di Sushi Tei
~ Waktu Aku sama Mika di Gramedia PVJ


Ternyata sesederhana itu menyembuhkan suasana hati gue. Cukup dengan melihat dan mengingat hal-hal kecil yang gue miliki. Memang nggak akan mengubah lalu lintas Bandung jadi lancar atau membuat si ibu-ibu galak berhenti buang sampah sembarangan. Tapi bersyukur itu menyembuhkan. Jangan sampai hal-hal kecil merusak keseluruhan hari. Jangan sampai karena beberapa hal buruk dari kota Bandung gue jadi melupakan hal-hal baik yang terjadi sini. Membandingkan sesuatu itu human nature. Dan salah tetap saja salah meski sudah menjadi kebiasaan, ---there's no such thing as menormalkan kesalahan. Kadang kita baru sadar betapa "buruk" nya sesuatu setelah seseorang menunjukannya. Tapi sambil berusaha memperbaikinya jangan sampai membutakan mata kita tentang hal-hal baik. Tetap be grateful :) Dan gue pun baru belajar tentang ini semua setelah kejadian di Paris Van Java.
Ah, kayaknya segini dulu deh tulisan santai gue. Gue nggak mau kalau dilanjutkan lama-lama jadi tulisan serius, hahaha. Sekarang gue mau minta Shane bikinin mie instan pakai cabai saja deh. Biar tidurnya nyenyak. Oh iya, mie instan juga bikin terseyum dan perlu disyukuri. Setuju?






Asal jangan sering-sering saja :p





kisses,

Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 15 Juni 2019

Ulang Tahun yang "Kejepit".

Gimana sih rasanya punya hari lahir yang selalu "kejepit"? Gue tahu rasanya! Waktu lahir gue lebih cepat dari tanggal perkiraan dokter. Alhasil gue lahir di malam Lebaran, waktu Ibu mau beli baju baru. Malah waktu mau mendarat di dunia pun gue literally kejepit, alias terlilit ari-ari, hahaha. 
Setelah dewasa gue jadi terbiasa kalau ulang tahun gue jatuh di bulan puasa atau Lebaran. Nggak selalu, of course karena kalender masehi dan hijriah nggak selalu match. Tapi cukup sering sampai gue jadi semakin ahli bikin bukber dalam rangka perayaan ulang tahun :p

Punya hari ulang tahun di saat orang-orang sibuk dengan keluarga masing-masing, termasuk bersiap mudik memang cenderung membuat hari jadi gue terlupakan. Biasanya teman-teman hanya mengucapkan selamat lewat chat dan hanya 1 atau 2 orang yang benar-benar bisa hadir. Kalau mau agak banyakan ya itu dia, gue pakai modus bukber, hahaha. TBH, gue nggak pernah anggap perayaan ultah sebagai sesuatu yang wajib. Yang terpenting sih hanya bisa berkumpul dengan keluarga, ---atau istilah kami mengenang betapa bersyukurnya atas kelahiran anggota keluarga baru (gue)

Tahun ini ulang tahun gue kejepit lagi. Kalau 3 tahun kemarin berturut-turut di bulan puasa, tahun ini pas banget di libur Lebaran yang terjepit! Tanggal 8 Juni, tepat disaat orang-orang bersiap untuk kembali ke kampung halaman masing-masing dan anak-anak sekolah (at least di daerah gue) sudah mau kembali ke sekolah. Rencana gue tadinya ingin tiup lilin saja di rumah bersama keluarga, suami plus 1 atau 2 teman dekat gue. Tapi setelah dipikir-pikir kok mustahil ya karena mereka kan masih belum di Bandung, hahaha. Shane, alias sang suami memberi ide untuk staycation saja, sekalian mengabiskan waktu berdua karena pas Lebaran rumah ramai terus, lol. Gue setuju, karena setelah dipikir mungkin 'tradisi' ulang tahun gue harus sedikit berubah karena sudah punya suami. Jadi gue menghargai ide-ide dia, nggak selalu tentang gue :) By the way, rupanya Shane ini sudah ada rencana buat memberi surprise staycation jauh sebelum hari ulang tahun gue. Tapi karena gue sudah harus masuk kerja di hari senin, rencana untuk stay di luar Bandung jadi batal. Katanya nanti saja menunggu break sekolah di akhir Juni.

Sehari sebelum hari H di rumah sudah terasa vibe ulang tahun gue. Maksudnya Ibu dan Bapak mulai bertanya apa kado yang gue mau, hahaha, bocah banget ya. Tapi ini memang kebiasaan dan buat seru-seruan saja. Gue nggak pernah meminta apa-apa, kok :) Sebalnya, Shane nampak lurus-lurus saja. Nggak ikutan heboh membicarakan ulang tahun gue. Dia malah sibuk dengan laptopnya, mencoba booking hotel di sana dan sini karena sedang peak season (resiko ultah kejepit, hahaha). Ada beberapa hotel yang jadi kandidat, tapi sayang yang gue taksir tenyata sudah fully booked. Malamnya Shane bilang mau ke mini market buat beli obat sakit kepala. Pulangnya dia langsung masuk dapur dan lama banget nggak nongol-nongol. Eh, rupanya dia beli bahan-bahan cake dan dia baking cake ulang tahun buat gue! Hahaha, nggak jadi sebal deh. Gue malah terharu... :') Meski nggak bisa-bisa amat urusan dapur tapi dia tetap berusaha dan hasilnya enak. Nggak ada foto yang proper di moment tiup lilin karena gue dan Shane sudah berpiyama, tapi kenangan ini sudah pasti nggak akan gue lupakan :)



Foto-foto:
*Berpose dengan kue ulang tahun yang Shane buat. Kejutan!
*Kado dari Ibu dan Bapak. Isinya ada 2 karena ulang tahun gue dan Shane hanya selisih 10 hari.


Pagi-pagi sebelum kami berangkat untuk staycation ternyata ada insiden kecil. Eris, anjing kami telinganya infeksi sampai mengeluarkan nanah. Cepat-cepat gue dan Shane bawa dia ke dokter hewan terdekat. Bersyukur sekali kliniknya sudah buka, karena di hari yang kejepit ini kebanyakan dokter hewan masih tutup. Menurut dokter luka Eris akibat dari keteledoran groomer yang memandikannya menggunakan sampo terlalu keras, dan kurang bersih saat membilasnya. Karena lukanya cukup besar, gue jadi ketar-ketir dan hampir membatalkan rencana menginap. Tapi dokter menenangkan, katanya luka seperti ini sangat cureable meski perlu waktu cukup lama, dan kalau ada apa-apa Eris bisa dirawat inapkan. Akhirnya setelah gue ceramah panjang lebar pada Ibu-Bapak tentang bagaimana cara merawat luka Eris, berangkatlah gue dan Shane dengan hati yang lebih tenang. 

Oh iya gue lupa bilang. Kami staycation di hotel Prama Grand Preanger Bandung, nggak jauh-jauh dari rumah, hahaha. Meski begitu, ketika tiba di hotel gue langsung merasakan suasana yang berbeda. Lebih relax dan happy, ---pokoknya vibe birthday girl nya terasa, lol. Kamar yang Shane booking adalah tipe Naripan suite. Ruangannya cukup luas, lengkap dengan 2 buah unit TV dan bathup. Cocok banget buat gue yang hobinya nggak jauh-jauh dari nonton film horor dan berendam lama-lama. Tumben banget, biasanya kalau menginap di hotel begitu tiba kami langsung selonjoran, tapi kali ini kami langsung main ukulele, haha. Idenya Shane buat bawa 2 ukulele (biasanya 1) supaya kami bisa jamming. Pas banget karena gue punya lagu baru yang belum ada video clipnya, judulnya "Love Tofu", jadi kami juga bisa shooting di sini. Puas bermain ukulele kami mulai lapar. Setelah melihat-lihat menu restoran hotel ternyata nggak ada yang cocok bagi kami yang vegan. Untung saja lokasi hotel nggak terlalu jauh dari Jl. Braga, jadi kami bisa mencari makan di sana. Sebenarnya kalau saja nggak hujan kami bisa jalan kaki, dan waktu tempuhnya lebih cepat daripada menggunakan mobil. Tapi mau bagaimana lagi, hujannya nggak nyantai lengkap dengan angin kencang yang siap menerbangkan rok gue.

Lagu baru ciptaan gue (Shane bermain gitar di sini, dan gue bermain ukulele). Love Tofu.









Foto-foto:
*Suasana kamar tidur kami. Agak berbeda dengan yang kami lihat online tapi tetap nyaman.
*Hanya bisa berfoto berbedua kalau pakai timer, haha. Batik ultah gue ini dari Shane. Nggak seragaman tapi cocok, ya :)


Kami parkir di mall Braga City Walk, setelah itu menyebrang ke restoran Braga Permai karena di sana nggak ada spot parkir. Kehujanan sedikit karena payung kami terlalu kecil, tapi nggak apa-apa sih kami belum mandi ini :p Restoran ini selalu jadi favorit, menunya akrab di lidah dan suasananya nyaman. Bahkan waktu ibu mertua gue datang ke Indonesia, kami juga makan di sini. Menu favorit gue adalah pizza sayur dan lumpia goreng. Sayangnya lumpianya habis, jadi gue ganti dengan pisang goreng. Pas kan hujan-hujan makan pisang goreng sambil minum teh hangat, hahaha. Shane juga tampak menikmati makanannya, dan itu membuat gue tambah happy. Meskipun ini ulang tahun gue, tapi gue nggak mau happy-happy sendiri saja. The more the merrier, ---makin ramai makin seru. Dan rupanya dua keponakan gue ingin membuat suasana makin seru juga. Ipar gue kirim pesan, katanya dia, suami dan anak-anak sudah menunggu di lobby untuk memberi kado. Tuh, kan ramai betulan! :D Jadilah sisa pisang goreng kami bungkus dan kami bergegas ke hotel karena nggak mau mereka menunggu terlalu lama.

Benar saja begitu kami tiba di hotel, Ali, keponakan gue yang usianya 3 tahun langsung menyambut sambil bilang, "Happy birthday". Suasana kamar yang tadinya sunyi langsung ramai dengan kehadiran mereka. Apalagi para bayi ini ingin berendam di bathup. Banjir kemana-mana. Tapi karena mereka senang, gue juga senang (---cuma nggak senang bagian mengepel lantainya saja sih, hahaha). Lucunya, Ali pikir kamar hotel ini apartemen baru gue dan Shane. Dia menolak pulang dan ingin menginap. Setelah dibujuk untuk datang lagi besok pagi, akhirnya dia menurut. Waktu quality time berdua pun akhirnya datang juga, hahaha. Kami berencana untuk menonton film horror. Tapi sebelumnya gue mandi dan makan malam dulu. Nggak kemana-mana, kami memesan dari kamar hotel. Sayang menu yang kami mau nggak ada, jadi terpaksa diganti dengan nasi goreng yang rasanya hambar dan kurang sepadan dengan harga. Sempat bingung juga film apa yang akan kami tonton. Gue merasa TV yang di depan tempat tidur jaraknya terlalu jauh (maklum, mata gue minus hampir 6, lol), sedangkan kalau menonton dari sofa rasanya kurang nyantai. Akhirnya kami memilih "The House with a Clock in its Walls" dan menontonnya dari laptop di tempat tidur! Kurang berasa gregetnya sih, tapi yang penting santai dan suaranya maksimal karena... guess what... Shane memutuskan untuk membawa speakers dari rumah, hahaha.



Foto-foto:
*Wajah kekenyangan tapi happy.
*The babies yang merecoki kami dan kadonya, hahaha.


Kami baru menonton setengah jalan tapi kelopak mata sudah semakin berat. Jadi kami putuskan untuk tidur dan melanjutkannya di pagi hari. Nggak tahu gimana dengan Shane, tapi gue tidur nyenyak sekali. Sampai alarm berbunyi pun gue masih setengah tidur, hahaha. Meski mengantuk gue paksakan untuk bangun, mandi cepat (semi mandi, nggak keramas, lol) dan berganti pakaian karena sarapan hanya disediakan sampai jam 10 pagi saja. Untuk vegan kaya kami, menu yang disediakan sangat terbatas. Tapi yang penting perut kenyang saja, deh, banyakin karbo :p Shane makan bubur kacang, kentang goreng, bala-bala dan sayur nangka. Gue juga sama, hanya minus bubur kacang dan diganti kwetiau beranjau daging sapi. Supaya nggak mubazir gue coba pilih-pilih sebelum dipindahkan ke piring. Kan meski nggak makan daging bukan berarti boleh buang-buang daging, dong ;) Sampai kamar hotel kami hanya ngopi-ngopi saja lalu melanjutkan nonton film semalam, sisanya cuma selonjoran karena barang-barang sudah masuk ke dalam tas semua supaya waktu check out nggak ribet. 




Foto-foto:
*Sebenarnya gue pakai batik kembaran sama Shane, tapi nggak sempat difoto. Lihat di vlog saja ya. Ini batik Shane yang pilih :)

Link video vlog ulang tahun. Kalau bosan lihat muka gue di sini, di vlog banyak muka Shane tuh, hahaha.


Akhirnya selesai juga waktu staycation kami. Singkat, tapi lebih dari cukup untuk membuat gue happy sehappy-happynya :) Ini ulang tahun yang sangat istimewa karena untuk pertama kalinya kami rayakan sebagai pasangan suami-istri. Rasanya seperti kemarin padahal sudah 2 tahun yang lalu, gue dan Shane baru saling kenal di internet dan membuat lagu bersama bertepatan dengan hari ulang tahun gue waktu itu. Pertemanan jarak jauh, Amerika-Indonesia, dan siapa yang tahu kami sekarang hidup di satu negara dan menikah. Di moment ini juga gue rasanya jadi lebih mengenal karakter Shane. Inisiatifnya untuk membuat kue ulang tahun sendiri really touch my heart... Ternyata deep inside dia laki-laki yang manis despite dari luar terlihat cuek. Nggak pernah sebelumnya gue merasa seperti ini. I'm blessed. Gue berdoa semoga masih banyak ulang tahun-ulang tahun berikutnya yang gue habiskan bersamanya, amin :)


birthday girl,

Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 26 Mei 2019

Musik Indie ala Indi. Mungkinkah Menang???

Hey bloggiiiiiiies! Apa kabar? Bagimana puasanya, masih lancar ya? Matahari Bandung sedang terik-teriknya. Kalau tengah hari suhunya bisa 31 derajat celsius! Syukurlah gue nggak tergoda dengan segala macam iklan minuman (---termasuk Marjan. Jadi ini prestasi banget ya, hehehe). Yang menjadi godaan justru radang tenggorokan yang datang dan pergi. Minggu lalu gue sudah ke dokter, sembuh, eh sekarang kambuh lagi. Salah gue sendiri sih, kurang minum dan kebanyakan pedas :p

Anyway, tulisan gue kali ini nggak akan panjang-panjang. Jadi, di bulan puasa ini gue mengikuti kontes musik di Inspira TV. Namanya "Amazing Ramadhan Music Cover Challenge". Nah, timingnya mungkin kurang pas karena suara gue sedang serak, but I do it anyway karena menurut gue ini kesempatan untuk menggembangkan hobi bermusik gue. Meski jauh dari berpengalaman dan belum punya peralatan yang proper, tapi gue tetap semangat. Jauh-jauh gue buang perasaan untuk membandingkan diri dengan peserta lain yang (sejauh ini gue lihat) lebih matang (baca: punya tim) dan musik juga videonya well produce :) Gue rekam lagu "Amazing Ramadhan" versi gue di kamar, dengan aransemen yang dikerjakan sendiri. Yup, meski nggak punya band (hanya ada Shane yang membantu dengan gitar, ukulele dan keyboard) gue putuskan nggak memakai karaoke track yang sudah disediakan agar gue bisa membawakan lagunya dengan style sendiri. Sementara untuk videonya gue menggunakan handphone Iphone 6s milik Shane, ---yang sayangnya mati ditengah shooting karena over heat, huhuhu :') Shooting pun dilanjutkan menggunakan handphone android milik gue karena keadaan nggak memungkinkan untuk re-shoot di lain waktu.

Para peserta diminta untuk mengupload video cover ke channel YouTube masing-masing, dan nanti pemenangnya akan ditentukan berdasarkan jumlah penonton. Well, saat tulisan ini dibuat gue memang tertinggal dalam jumlah view meski menjadi peserta pertama yang mengupload video... Tapi seperti yang gue bilang sebelumnya, gue tetap bersemangat dan nggak mau menyerah :) 
Jadi dengan segala kerendahan hati gue meminta teman-teman yang membaca tulisan ini untuk menonton video gue (link disertakan di bawah). Gue akan senang sekali jika kalian bisa memberikan komentar atau masukan. Karena meski gue mengerjakan semuanya secara indie (---maksudnya di kamar, hehe) tapi gue tetap ingin dinilai berdasarkan kualitas. Menurut gue itu lebih adil daripada berdasarkan jumlah penonton :)
Terima kasih.

klik untuk menonton video "Amazing Ramadhan" versi Indi Sugar

xx,

Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 09 Mei 2019

Dealing with Family Bully! (Menghadapi Orang Dekat yang Membully)

Tebak gue dimana sekarang?
Gue lagi ngetik di restoran fast food, pakai Wifi gratisan bawa laptop dari rumah dalam rangka nemenin suami kerja, hahaha. Sekarang hampir tengah malam dan kami keluar rumah karena nggak mau mengganggu jam tidur orangtua gue. ---Iya, lima bulan sudah usia pernikahan gue dan Shane, dan kami masih tinggal bersama mereka. Rencana kami memang pindah secepat mungkin tapi karena satu dan lain hal harus ditunda. "Rumah kami" sih sudah dalam proses, tapi masih menyicil sedikit-sedikit. Jadi ya... sampai kami bisa pindah, gue dan Shane menikmati waktu dulu sebagai anak mami :p Syukurlah pekerjaan kami fleksibel, bisa dilakukan dimana saja in case suasana rumah nggak memadai. 

Ngomong-ngomong soal suami, apa yang mau gue share sekarang ada hubungannya dengan sosok yang sedang mengetik di sebrang gue ini (---namanya gratisan duduknya nggak bisa milih samping-sampingan, hahaha). Percaya nggak kalau beberapa tahun lalu gue sempat percaya kalau hidup gue bakal berakhir unmarried dan dicap sebagai orang aneh? Jangankan suami, bisa diterima oleh orang-orang dekat (selain keluarga inti maksunya) pun sempat gue pikir mustahil. Penyebabnya bukan karena gue merasa nggak pantas. Tapi kata-kata salah seorang kebarat gue lah yang membuat gue merasa begitu. Sering kali gue mendengarnya memberi gue label-label sampai gue lupa mana diri gue yang sebenarnya dan mana yang "karangan dia". Iya. Gue dibully oleh yang seharusnya gue hormati, ---dia salah satu kerabat keluarga gue.

Iya, dua bocah ini pasangan suami istri :)

Sejak kecil gue 'berbeda'. Gue satu-satunya anak yang memakai brace (penyangga tulang belakang) di sekolah dan di keluarga karena scoliosis. Dan gue sangat baik-baik saja dengan itu, ---kecuali tentu di masa remaja labil yang sebagian besar mood gue dipengaruhi hormon, hahaha ---sisanya, I live my life. Apalagi gue dibesarkan oleh orangtua yang sangat suportif. Apapun yang gue lakukan, selama itu nggak menyakiti diri sendiri dan orang lain mereka selalu mendukung. Disaat sepupu-sepupu gue didorong orangtua mereka untuk mengambil jurusan tertentu, orangtua gue malah sebaliknya. Jurusan seni musik pilihan gue yang dianggap kurang menjanjikan oleh Om dan Tante dianggap keren oleh Ibu dan Bapak. Cara gue berpakaian, pilihan karir, keputusan menjadi vegetarian di usia remaja, sampai menulis buku pertama gue, semua dilakukan dengan restu mereka.

Percaya diri gue baik, ---atau istilah Bapak "sesuai porsi". Semakin dewasa ide-ide yang dulu ada diangan mulai gue wujudkan satu persatu. Seajaib apapun itu, Ibu dan Bapak selalu mendengarkan dan nggak meremehkan ide gue. Suatu hari gue mulai speak up tentang pengalaman sebagai seorang scolioser. Di TV, radio, majalah... you name it, ---gue bersuara dengan menggebu untuk raising awareness. Gue nggak mau ada orangtua yang kecolongan dengan perkembangan fisik anak-anak mereka. Nggak ada sedikit pun niat untuk dikasihani apalagi mencari sensasi. Gue merasa apa yang gue lakukan positif. ---Demi Tuhan. Sampai akhirnya ada yang berkata sebaliknya.

Maret 2019, novel gue "Waktu Aku sama Mika" ada di toko buku. Gue nggak akan berhenti berkarya dan menyebarkan awareness tentang scoliosis :)

Dia, ---atau lebih tepatnya 'beliau' karena usianya lebih tua dari Ibu dan Bapak, ---mulai merasa keberatan dengan apa yang gue lakukan. Kata-katanya begitu menusuk sampai menjadi luka permanen di hati gue. Menurutnya gue nggak seharusnya 'mengumbar' tentang kekurangan fisik. Karena jikalau beliau mempunyai putra dan tahu calon menantunya mengidap scoliosis, maka beliau nggak akan merestui hubungan mereka. 
...WHAT THE F?!!...
Gue nggak percaya itu keluar dari mulut seorang yang sangat berpendidikan dan terpandang. Masih ingat dengan jelas waktu itu gue seketika menangis. Gue merasa kecil sekecil-kecilnya. Semua niat positif gue jadi terasa sia-sia karena ternyata malah dianggap aib. Beliau dan orangtua gue langsung bersitegang. Terutama Bapak, beliau sangat tersinggung sampai menantang untuk berkelahi. Meski sekarang mereka (katanya) sudah saling memaafkan, hubungan mereka nggak pernah sama seperti dulu lagi.

Entah karena gue cucu perempuan pertama atau karena dianggap berbeda, beliau begitu 'memperhatikan' gue. Awalnya gue menganggapnya sebagai hal positif, tapi lama kelamaan terasa terlalu mencampuri. Pernah suatu kali beliau mengkritik model rambut gue yang selalu berponi. Katanya kekanakan, lebih pantas dibelah dua dan disisir ke belakang. Menurut beliau cara berpakaian gue juga aneh. ---Aneh, bukan dalam artian unik yang positif, tapi aneh karena menurutnya harus diubah. Meski Ibu nggak pernah berkata apa-apa tapi gue yakin hatinya juga turut sakit. Baju-baju yang gue pakai semuanya buatan beliau. ---Dibuat penuh cinta dan rasa bangga, ---apa rasanya sesuatu yang dibuat dengan sungguh-sungguh ternyata malah dibilang 'aneh'?... Cara berpakaian gue jugalah yang menurutnya membuat gue susah mendapatkan pacar. Padahal, saat itu gue sedang menjalin hubungan dengan laki-laki, dan orangtua gue tahu itu.

Mungkin ada yang nggak percaya, gue yang sering dibilang ceria ini pernah mengalami fase dimana gue merasa rendah. Luka karena kata-kata kadang lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Gue jadi memikirkannya terus-terusan. Model rambut yang sudah hampir seumur hidup gue pakai mendadak jadi nggak lagi cocok ketika gue melihatnya di cermin. Baju yang tadinya gue pikir paling cantik sedunia jadi malu untuk gue pakai ke acara formal karena takut dianggap seperti anak-anak. Seketika gue juga jadi merasa bahwa orang hanya melihat gue sebagai sosok yang dikasihani. ---Gue nggak mungkin dicintai dengan tulus. Mungkin hubungan percintaan gue nggak akan berakhir kemana-mana. Mungkin 'beliau' benar. Gue nggak akan pernah menikah.

Embrace my style. Dress ini Ibu yang desain dan gue bangga :)

Luar biasa betapa kata-kata bisa begitu mempengaruhi gue. Tadinya gue pikir gue sudah benar-benar mengenal diri sendiri, ---sudah tahu apa passion dan tujuan hidup gue. Tapi lalu gue merasa menjadi bukan siapa-siapa, nggak berarti. Syukurlah fase itu akhirnya berlalu setelah gue berdamai dengan diri sendiri. Gue mulai berusaha untuk nggak memusatkan pikiran dengan label-label yang 'beliau' berikan, alih-alih mulai mendengarkan pujian-pujian sekecil apapun dari orang-orang sekitar gue, ---yang menghargai apa yang gue lakukan. Kenapa gue harus berpusat dengan satu orang yang negatif sementara yang positif sebenarnya lebih banyak? Lambat laun gue mulai kembali, kebahagiaan gue dan orangtua lebih penting daripada harus memuaskan 'standar' seseorang yang bahkan nggak mengenal gue dengan baik.

Sekarang setelah bertahun-tahun berlalu apakah gue masih marah dengan 'beliau'? Well... tentu terkadang perasaan itu datang, karena seperti yang gue bilang; kata-katanya meninggalkan luka di hati. Tapi yang terpenting gue bangkit, ---kembali menjadi Indi yang bahkan lebih pemberani dari sebelumnya. I trust my self more than anyone else. Gue nggak mau over thinking. Saat akan melakukan sesuatu dan gue yakin bahwa itu positif dan niatnya baik, maka tanpa ragu akan gue lakukan. Gue bangga menjadi gue yang berponi, yang scoliosis, yang sudah menjadi vegan, dan ---gue yang senang main ukulele meskipun fals, hahaha. Nggak akan gue izinkan apapun mengubahnya, sekalipun itu bully dan label-label dari seseorang yang 'disegani'.

Punya lagu yang didengar orang dan masuk TV hanya bonus. Yang terpenting adalah perasaan gue yang happy saat bermain ukulele :)

Terkadang kita lupa betapa powerfulnya kata-kata. Saat kita menyakiti seseorang secara fisik maka terlihat jelas lukanya. Tapi saat hati seseorang sakit lukanya nggak akan terlihat sampai orang itu menunjukan emosi. Dan "nggak terlihat" bukan berarti nggak real, kata-kata bisa mempengaruhi seseorang sampai sebegitu dalamnya, bahkan berpotensi merusak masa depan. Lebih baik tetap berikan kata-kata positif segatal apapun mulut kita untuk berkomentar. Ingin mengkritik atau memberi masukan? Ya, gunakan kata-kata yang santun. Bicara kan gratis, jangan merasa berat :)
Kalau ada di antara kalian yang mengalami hal seperti gue, ---dibully oleh orang dekat, ---atau siapapun, ---please ingat kalau kita semua berarti dan unik. Percayalah pada diri sendiri lebih dari orang lain. Karena nggak ada yang lebih mengenal kita selain diri sendiri. Do everything that make you happy, selama itu nggak merugikan orang lain. Dan kalau merasa depresi jangan dipendam sendiri, search for help, nggak perlu malu.

Oh, well... Shane sekarang sudah menyelesaikan pekerjaannya dan gue juga sudah menghabiskan potongan kentang goreng terakhir beberapa menit yang lalu. Sebentar lagi kami akan pulang, ---mungkin nonton film dulu sebelum tidur, hehe. 
Hmm, by the way, kalian tahu nggak... setiap malam saat berbaring di samping Shane, gue selalu terseyum dan membatin,
"Lihat di mana gue sekarang. Gue berhasil 'mengalahkan' bully." :)


it's me,

Indi 

ps: Gue sempat terkena demam tifoid selama 3 minggu, dan selama itu pula gue nggak ngapa-ngapain (huhu...). Sebagai come back gue dan suami mengcover lagu yang musik, video dan mixingnya 100% dilakukan oleh kami berdua. Kalau mau dengar dan support karya kami boleh banget. Klik link ini untuk videonya.


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 06 Maret 2019

Rasis itu...

Rasis itu waktu ada yang belajar bahasa Inggris dan dipermalukan cuma gara-gara grammarnya salah-salah dikit, tapi waktu ada orang asing bisa bahasa Indonesia sepatah dua patah doang langsung ditepokin kaya nonton sirkus.

Rasis itu waktu ada yang kawin campur, punya baby terus dikomentarin, "Lucu banget, untung ayah/ibunya dari xxx kan jadi memperbaiki keturunan."

Rasis itu waktu lebih percaya bahasa Inggrisnya orang asing yang padahal bukan dari negara berbahasa Inggris, dibandingkan orang Indonesia yang beneran sekolah bahasa. (Eh, dijadiin guru terus digaji lebih dibanding guru lokal lagi!).

Rasis itu waktu produsen kosmetik lokal bikin foundation yang warnanya terang semua padahal orang Indonesia kulitnya beragam. Dari kekuningan sampai gelap dan semuanya cantik.

Iya, yang sering rasis sama kita malah kita sendiri.

Foto oleh Shane, yang mencintai gue tanpa melihat warna kulit.

xx,

Indi Sugar



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 19 Februari 2019

AADM: Ada Apa dengan Mangkuk Ayam?



Huaaaa, untung nggak lupa password, saudara-saudara! Hahaha :'D Jadi gini ceritanya, kemarin laptop gue ini dipinjam dari mulai ipar sampai Ibu sama Bapak. Dan mereka itu logout semua sosial media gue, termasuk blog. Alasannya kenapa? Nggak tahu, ipar gue udah balik sekarang dan ortu gue lagi pacaran, nggak bisa diganggu buat ditanyain alasannya, lol. Kebiasaan buruk gue sih, nggak pernah off dan nggak pernah ingat atau catat password. Jadi begitu online di tempat lain, atau seperti sekarang ada yang pinjam laptop, gue pasti kelimpungan. Ya sudah, belajar dari kesalahan. Mulai malam ini gue menghapal password dan nggak usah bikin yang ribet-ribet amat yang penting aman :p 
Gue kepengen banget nulis sejak minggu lalu, ada beberapa ide tapi bingung harus pilih yang mana duluan. Kalau orang normal mungkin nggak banyak omong langsung saja nulis, ya :p Tapi gue malah suka nggak konsen kalau kebanyakan ide, otak jadi nggak fokus. Makanya gue lebih pilih sampai euforia di kepala gue selesai dan tulis apa saja yang tertinggal paling akhir. 

Sekarang gue memilih untuk menulis yang paling ringan. Kenapa? Karena selain sedang "riweuh", gue juga sedang nggak enak badan. Kelopak mata gue bengkak seperti hampir meletus (---emang balon hijau, lol). Kalau menulis yang serius-serius nanti baper, terus nangis dan mata gue makin parah, hahaha. Ini tentang hal yang random banget sih, tapi gue rasa seru kalau dibahas. Yaitu tentang mangkuk gambar ayam jago! Iya, itu lho mangkuk yang sering dipakai abang-abang penjual mie ayam, atau bakso dan sebangsanya. Gue jadi penasaran berat setelah lihat Joe Jonas beberapa tahun lalu pakai jaket karya desainer Indonesia (Sherly Hartono) yang bergambar mangkuk legendaris itu di Instagram. Kira-kira darimana asalnya, ya? Banyak yang bilang itu asli Indonesia. Soalnya dari sejak zaman nenek gue bocah juga sudah ada, apalagi di jaket JJ gambar mangkuk ayam jago disandingkan dengan petai dan mata uang rupiah, yang mana Indonesia banget. Tapi gue belum yakin, soalnya seingat gue mangkuk yang sama pernah gue lihat di film-film Cina. Terus, gue juga penasaran kenapa gambarnya ayam? Apa karena identik dengan mie ayam? Kenapa nggak sapi saja ya, kan bakso terbuat dari daging sapi, hahaha. Dan pencarian gue pun dimulai...

Jaket Mangkuk ayam karya Sherley Hartono

Narasumber pertama gue itu Bapak. Gue tanya sama beliau kenapa kalau beli mie di abang-abang mangkuknya selalu gambar ayam. Dan beliau jawab.... "Nggak tahu", saudara-saudara! :'D Sebagai narasumber terpaksa beliau gue coret karena sama sekali nggak membantu, hahaha. Well, at least dari sana gue jadi tahu kalau beliau ternyata shionya ayam jago :p Katanya sih, memang "dari sononya" kita pakai mangkuk ayam, dan ada pepatah kalau bangun kesiangan nanti rezeki dipatok ayam. Ah, bisa saja (---sotoy) bapak gue ini, hahaha.
Teman-teman gue juga sama cluelessnya, termasuk teman gue yang berprofesi sebagai penjual mie ayam yang biasa nangkring di depan Yomart. Jadi kami ceritanya selalu bertegur sapa, padahal gue nggak pernah beli mienya juga secara gue vegan. Tapi pertemanan memang nggak mengenal perbedaan kan ya. ---Cieeeeh (apaan sih, lol). Akhirnya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahu saling sapa, gue beli juga mienya. Ya, maksudnya biar percakapan bisa lebih panjang gitu, soalnya biasanya sekedar tentang keadaan sekitar. Gue pesan 2 porsi mie ayam tanpa ayam dan pinjam mangkuk ayamnya. Nah lho, bingung kan dia, hahaha. Setelah gue perhatikan kok disamping ayam itu kaya ada bunganya ya, bukan sekedar tanaman ijo-ijo yang selama ini gue asumsikan sebagai sosin yang suka ada di mie ayam (sotoy gue...). Gue langsung tanya sama si abang yang biasa dipanggil Mas Gigi Besi itu, siapa tahu dia tahu filosofinya. Tapi katanya tiap mangkuk beda-beda, mirip tapi nggak selalu sama. Dan benar saja, dari 5 mangkuk yang menumpuk di gerobak 2 diantaranya ada merk micinnya.




Karena teman-teman nggak ada yang tahu (atau at least ngasih gue penjelasan yang agak nyambung), akhirnya gue tanya saja sama sahabat karib kental bagai kepompong kesayangan gue. Siapa lagi kalau bukan... Google. Iya, iya ini sahabat kalian juga kan kalau lagi buntu :p Hasil dari pencarian gue rupanya banyaaak banget, dan banyak diantaranya yang setengah-setengah alias nggak sampai beres. Tapi sebagai detektif yang baik gue akhirnya mengerti dan akan coba rangkai ceritanya di sini. Jadi kalau gue lupa bisa dibaca-baca lagi, siapa tahu keluar di soal ujian, hahaha.

Bukan dari Indonesia dan bukan juga gambar sosin -_-
Nah, bener firasat gue ternyata. Meski gue Indi yang bukan anak indigo tapi gue bisa merasakan kalau Indonesia bukan tempat asal mangkuk ayam jago ini. Nggak pakai mistis-mistisan, alasan gue logis saja karena di film-film kungfu pun mangkuk ini sering muncul. Dan benar, asalnya adalah dari negeri Cina. Di sana mangkuk ini dipanggil Jigongwan atau Jijiaowan, jika dilafalkan oleh orang-orang di Cina bagian selatan. Mangkuk ini sudah ada sejak zaman Dinasti Ming, di periode pemerintahan Kaisar Chenghua (1465-1487). Kala itu beliau memesan empat buah cawan dengan gambar ayam jago dan ayam betina ke pengrajin khusus kekaisaran di Propinsi Jiangxi. Setelah itu beliau kembali memesan cawan, tapi dengan gambar yang sedikit berbeda yaitu ayam jago, ayam betina dan anak ayam. Konon cawan ini sebagai tanda cinta untuk istrinya yang melambangkan kemakmuran. Aww, so sweet ya :)


Cawan itu disebut sabagai Jigangbei atau cawan ayam. Ji artinya ayam, yang pelafalannya mirip dengan Jia yang berarti rumah. Jadi seperti simbolis gitu, mangkuk dengan gambar ayam = rumah ayam. Got it, got it? :D (Emang jagoan dah orang zaman dulu bikin ginian). Yang merah-merah itu, yang gue pikir bunga ternyata gambar tanaman peoni yang melambangkan kekayaan. Dan yang gue pikir sosin itu ternyata pohon kelapa -_- Hahaha, maaf gue sotoy banget :'( Dipilihnya pohon kelapa juga bukan cuma asal match sama desain mangkuknya, lho. Daun pisang yang berdaun lebar ternyata melambangkan keberuntungan untuk keluarga. Keren ya? Dan Kaisar Wanli (memerintah tahun 1572-1620) juga Kaisar Kangxi (memerintah tahun 1661-1722) dari Dinasti Qing juga ternyata setuju lho sama gue (maaf sok akrab). Saking kerennya, mereka sangat suka dengan cawan tersebut dan berani mematok harga mahal untuk gambar ayam jago! Kaisar Qian Long (memerintah tahun 1735-1796) bahkan membuat puisi khusus yang memuja mangkuk ayam jago itu pada 1776.

Nah, pada masa dinasti Qing lah mangkuk ayam jago mulai diproduksi secara masal. Karena mangkuk bergambar naga dan phoenix harganya lebih mahal, maka masyarakat menengah ke bawah banyak menggunakan mangkuk ini. Selain itu ayam jago dilambangkan sebagai kerja keras untuk mencapai kemakmuran. Karena setiap pagi para petani selalu dibangunkan oleh kokok ayam jago! Sedaaaaap ;)

Kenapa bisa dipakai abang-abang mie ayam?
Sampai sekarang gue masih belum nemu gimana kronologis lengkapnya mangkuk ayam bisa sampai sini. Yang pasti sejak awal abad 20 mangkuk ini memang menyebar kemana-mana, terutama ke negara-negara Asia Tenggara. Mungkin saja karena perantau ikut membawa mangkuk ayam jago dan filosofinya ikut menyebar jadi semakin banyak orang yang ikut menggandrungi (---aduh bahasanya, hahaha). Tentu saja seiring dengan moderenisasi desain mangkuk ini nggak selalu digambar dengan tangan, tapi kebanyakan sudah menggunakan mesin. Kebanyang dong tangan bisa gempor kalau satu-satu digambarin, hahaha. 

Yang beredar di Indonesia sendiri merupakan hak ciptanya PT. Lucky Indah Keramik. Jadi memang asli buatan sini, bukan dari dari Cina. Kata sahabat gue sih (maksudnya Google, lol) perusahaan ini didirikan sejak tahun 1972. Jadi sebelum itu mungkin siapa saja bebas memproduksi mangkuk ayam jago. Tapi kalau sekarang sudah dilarang untuk menjual produk mangkuk termasuk piring, tatakan cangkir, tea set, dinner set, poci, cangkir, gelas, tutup cangkir, dan vase bunga dengan desain yang mereka sebut "cap ayam jago" itu. Karena termasuk ke pelanggaran hak cipta. Jadi meskipun desainnya menggiurkan, sebelum membeli baiknya kita hati-hati dulu dengan membaca labelnya. Dan distributor PT. Lucky Indah Keramik pun hanya satu lho, yaitu PT Kencana Makmur Mitra Abadi. 

Jadi begitulah kira-kira tentang asal usul mangkuk ayam, pembaca yang budiman. Ya... meski nggak terlalu detail tapi lumayan bisa mengurangi rasa penasaran gue. (Dan semoga perasaan kalian juga jika kalian memang senang kepo dengan hal-hal berguna dan berfaedah, amin). Sebenarnya agak sayang sih kalau abang-abang penjual mie, bubur, atau soto sekarang nggak tahu apa makna dibalik mangkuk mereka. Karena menurut gue kalau saja mereka sampai tahu mungkin semangat berdagang mereka semakin membara. ---Selain semangat dari anak dan istri yang menunggu di rumah tentunya :D Dan entah itu filosofi soal ayam jago dari bapak gue yang ngasal, atau filosofi sebenarnya dari negeri Cina, gue suka semuanya karena memang positif. Siapa sangka saat kita menikmati semangkuk makanan ternyata ada makna yang keren dibaliknya, ya ;)


Keponakan gue, Ali dengan semangat ayam jago!


salam ayam jago,

Indi


----------------------------------------------------------------------------------------------

Oh iya meskipun telat, izinkan gue dan suami gue Shane mengucapkan Happy Chinese New Years. May all your wishes comes true! :)

------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com