Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Steve Irwin; Obsesi Masa Kecil yang Menjadi Inspirasi :)

The Irwin's Family.

14 November 2014
Jadi tadi, menjelang malam, setelah mandi sore gue bersantai di atas tempat tidur ---dengan satu mangkuk popcorn dan remote TV di tangan. Gue memang nggak keluar rumah, hujan sepanjang hari jadi aktivitas gue hanya di depan komputer dan bermain lempar tangkap di dalam garasi bersama Eris, anjing gue. Ngemil di atas tempat tidur nggak apa, hanya sesekali ini gue pikir, hihihi. Lalu saat tangan berselancar di remote, dari channel ke channel, gue melihat sesuatu yang familiar. Ada seorang penyanyi laki-laki berambut pendek sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Bukan, bukan dia yang menarik perhatian gue. Tapi 3 orang berpakaian berwarna khaki yang sedang duduk di sofa. Setelah beberapa detik penuh keenggakyakinan, kamera mulai meng-zoom salah satu dari mereka. Segera gue bangun dari tempat tidur, berlari ke ruang TV dan merebut remote dari Bapak yang sedang menonton Harry Potter. "Pak! Pak! Lihat ada siapa di TV!" Gue tertawa girang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Terri, Bindi dan Robert "Bob" Irwin ada di acara Hitam Putih Trans 7. Bagaimana bisa gue nggak tahu kehadiran mereka di Indonesia sementara gue memfollow twitter mereka dan bahkan twitter Australia Zoo. Acara sepertinya sudah berlangsung setengah jalan, jadi gue terlewat untuk mengetahui tujuan mereka datang ke sini. Dengan tangan gemetar gue mengambil handphone dan mengetik kata kunci "Bindi Irwin di Indonesia" di kolom google. Nggak banyak berita yang keluar, kecuali bahwa mereka sempat ke Gandaria City Jakarta untuk promo "Wild But True" nya Robert Irwin. Nggak ada informasi apakah mereka sudah kembali ke Australia atau belum. Di layar televisi pun nggak ada keterangan apakah mereka tampil live atau taping. Gue heran mengapa di twitter mereka sama nggak menyebutkan tentang rencana kehadiran ke Indonesia, padahal biasanya mereka (terutama Bindi dan Terri) selalu update pada penggemarnya. 
"Sudah, Jakarta kan dekat. Kalau mereka masih di sana hari minggu kita bisa susul," begitu kata Bapak.



Bagi teman-teman sebaya gue Irwin's Family mungkin nggak begitu populer, tapi bagi gue mereka adalah hero! Terutama Steve Irwin, ayah dari Bindi dan Robert sekaligus suami dari Terri yang telah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu. Steve Irwin adalah bagian dari masa kecil gue, bagian dari khayalan dan obsesi yang kemudian membentuk tentang masa dewasa yang gue inginkan. Dulu, setiap sore gue selalu menonton The Crocodile Hunter, dimana Steve menunjukan kepiawaiannya dalam menangkap buaya sekaligus berbagi tentang rasa hormatnya kepada hewan buas yang cantik itu. Gue ingat ia menyebut dirinya "Steve-O" dan berbicara dengan lantang. Ketika ada buaya mendekat ia akan memelankan suaranya dengan logatnya yang sangat khas (saat mengetik ini pun rasanya gue mendengar ia berbicara di kepala gue, hihihi). Menontonnya di TV rasanya seperti mengikuti kehidupannya. Mungkin gue masih kecil tapi gue sudah bisa merasakan bahwa ia adalah pria yang baik. Gue ingat ketika ia berbicara tentang Terri istrinya. Betapa Steve sangat mencintainya sehingga Terri rela untuk meninggalkan negara asalnya. "Cinta pada pandangan pertama," begitu katanya. Juga ketika Bindi putri pertamanya lahir, lalu disusul oleh Robert putra keduanya. Ia sosok ayah yang penyanyang dan menyenangkan, membuat gue semakin mengaguminya. Gue juga ikut menangis ketika Sui anjing kesayangannya mati karena sakit dan sudah tua...

Buku harian gue, 12 tahun yang lalu.

Steve Irwin semakin menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang. Sejak bayi gue memang selalu dikelilingi binatang peliharaan, tetapi Steve membuat gue mempunyai tujuan. Gue mulai tertarik dengan konservasi fauna, mencari tahu kemana gue harus membantu jika ada binatang-binatang terlantar. Gue juga belajar untuk menghormati, sekecil apapun binatang yang ada di sekitar gue. Gue mulai dengan membuat "animal diary", yaitu sebuah buku harian yang memuat update tentang binatang peliharaan gue dan binatang-binatang yang terkenal. Kisah pertama yang gue tulis adalah tentang seekor Panda tua di Cina, yang sedihnya berakhir mati karena sakit :( Dengan uang jajan yang ditabung cukup lama gue juga membeli VCD-VCD Steve Irwin. Dan ketika Crocodile Hunter nggak ada lagi di TV gue semakin sering menonton ulang koleksi VCD nya.

Ketika mendengar kabar tentang kepergiannya gue sangat terkejut. Ada rasa haru yang aneh karena gue nggak pernah mengenalnya secara personal. Dunia kehilangan salah satu penghuni terbaiknya, seseorang yang (at least di mata gue) mempunyai aksi nyata untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Meski begitu kepergiannya nggak membuat gue berhenti terinspirasi. Bindi, putrinya yang mulai besar mempunyai acara sendiri dan berbagi passion yang sama dengan ayahnya. Gue ingat melihatnya di acara Oprah, ia bernyanyi lagu rap "Trouble in the Jungle" dengan lirik sederhana yang menyentuh. Ia meneruskan jejak ayahnya dengan caranya sendiri dan melakukannya karena ingin, bukan hanya karena sebuah keharusan. Bindi membuat semangat gue semakin besar. Gue bangga menjadikannya seorang inspirasi baru meski ia berusia lebih muda dari gue.

Koleksi VCD Steve Irwin "The Crocodile Hunter" hasil menabung dari uang jajan :)


Waktu kecil punya buku harian yang isinya tentang binatang.

Ide Bapak untuk menyusul keluarga Irwin ke Jakarta terpaksa batal. Mereka ternyata sudah kembali ke Australia dan entah kapan akan berkunjung kembali ke sini. Mengingat bahwa gue hanya terlambat beberapa hari dengan jarak yang cukup dekat membuat gue merasa kecolongan. Padahal ingin rasanya gue menyapa Terri, Bindi dan Robert sambil menyampaikan rasa kagum gue terhadap mereka. Gue juga ingin menunjukan koleksi VCD-VCD  dan "animal diary" gue agar Bindi dan Robert tahu betapa berpengaruhnya ayah mereka terhadap gue... Bapak menenangkan gue, beliau bilang ini mungkin bukan waktunya. Suatu hari akan ada kesempatan dengan skenario indah untuk bertemu mereka. Seperti ketika tahun lalu Aerosmith yang sudah gue tunggu sejak berusia 7 tahun batal datang ke Indonesia. Tuhan ternyata punya rencana lain untuk mempertemukan kami di Singapore dengan jalan yang bahkan nggak berani gue impikan. Mungkin suatu hari gue yang menemui mereka di Australia, siapa tahu... Yang pasti sambil menunggu hari itu datang gue akan terus menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang, dengan rasa hormat seperti yang diajarkan oleh keluarga Irwin.


note:
*Tanggal 15 November diperingati sebagai hari Steve Irwin (Steve Irwin Day) untuk menghormati hidup dan legacy nya. Meskipun gue selalu memakai dress colorful, gue ingin selama 1 hari saja memakai setelan khaki ala Irwin's Family :)
*Foto gue yang sedang memegang VCD-VCD Steve Irwin dilihat oleh account Australia Zoo (kebun binatang milik Irwin's Family) dan mereka berkomentar "Thanks for being a wildlife warrior!". Really made my day :)
* Gue membuat novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" yang royaltinya didonasikan untuk penampungan-penampungan hewan di Indonesia. Meskipun hanya langkah kecil, gue harap bisa melanjutkan spirit dari Steve Irwin :)
*Dan yes, nama gue "Indi". Seperti "Bindi" tapi tanpa huruf "B", hihihi.


Crikey!

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 12 November 2014

Update Scoliosis Gue: Alasan Lain Kenapa Memakai SpineCor :)


Haiiiiiii, bloggies apa kabar? Semoga semuanya baik, ya :) In case ada yang bertanya, kabar gue juga baik, hihihi. Gue lagi happy dengan another good news dari perkembangan scoliosis gue. Sudah pada tahu kan kalau selama 6 bulan terakhir gue memakai SpineCor alias soft brace? (lihat cerita sebelumnya di sini, di sini dan di sini). Jadi beberapa waktu lalu gue kembali bertemu dengan Dr. Natalie, karena selama pemakaian SpineCor setiap 1 bulan sekali gue harus review. Setelah perjalanan yang super macet (Bandung-Jakarta saja sampai 6 jam lebih, dong!) rasa pegalnya langsung terbayar. Dr. Natalie berkata tulang belakang gue "amazing". Masih terlalu dini untuk x ray ulang, tapi dia optimis dengan hasilnya :)

Sejak hari pertama gue memakai SpineCor sampai hari ini, gue masih takjub dengan cara kerjanya yang 'nggak terasa'. Waktu gue pakai boston brace, 23 jam sehari, 7 hari seminggu (yang pernah menonton film MIKA pasti tahu maksud gue, hihi), aktifitas gue jadi terbatas. Gue nggak bisa menunduk, tidur menyamping dan melakukan semua hal yang memutuhkan kelenturan alami tubuh gue. Tapi dengan SpineCor gue melakukan semuanya tanpa hambatan, bahkan kalau nggak gue beri tahu orang pasti nggak mengira kalau gue memakai brace karena SpineCor bisa tersembunyi dengan sempurna di balik baju. Meski sangat lentur dan tipis (yup, nggak memberi "efek gemuk" seperti boston brace) SpineCor membuat hidup gue lebih berkualitas. Keluhan khas yang ditimbulkan dari scoliosis seperti kebas, kesemutan dan pegal-pegal sedikit demi sedikit berkurang, jadi kegiatan gue sehari-haripun lebih maksimal :)

SpineCor tersembunyi di balik baju dan super nyaman :)


Meski awal keinginan gue memakai SpineCor adalah karena melihat Lourdes, putrinya Madonna yang tetap super stylish meskipun scoliosis. Sekarang alasan kenapa gue memakai SpineCor semakin bertambah. Gue diberitahu oleh Dr. Natalie tentang fakta-fakta yang bikin gue semakin semangat untuk lebih membaik. Pertama, SpineCor ternyata terbukti lebih efektif 3,7 kali daripada hard brace (seperti boston brace yang dulu gue pakai) untuk mencegah operasi. Karena lebih baik dalam menstabilkan dan mengendalikan scoliosis. Dan yang kedua, SpineCor secara klinis sudah terbukti memiliki 89% keefektifan terhadap pasien. Ini menurut penelitan selama 10 tahun terhadap lebih dari 40 pasien, lho. Jadi meskipun sekali scoliosis tetap scoliosis, dengan SpineCor kesempatan gue untuk membaik lebih besar :)

Meski tipis tapi keefektifannya mencapai 89% :)


Gue berbagi pengalaman gue selama memakai SpineCor di blog ini karena tahu betul bagaimana nggak nyamannya scoliosis. Gue baru ketahuan setelah kurva mencapai 35 derajat. Masih ringan, tapi sebenarnya sudah bisa terlihat ciri-cirinya. Tapi dulu gue dan keluarga sama sekali nggak mengerti apa itu scoliosis, padahal cara mendeteksinya sangat mudah. Gunakan metode "Adam's Forward Bend Test", yaitu membungkuk seperti gerakan shalat rukuk, lalu dengan bantuan orang lain lihat permukaan punggung kita, apakah terlihat menonjol sebelah atau nggak. Jika terlihat ada yang menonjol segera konsultasikan dengan dokter, karena penggunaan SpineCor akan lebih efektif jika kurva masih kecil. Meski begitu bukan berarti yang sudah terlanjur berkurva besar nggak bisa memakai SpineCor. Ada faktor lain yang juga menjadi penyebab efektif atau nggaknya Spinecor, seperti usia dan kedisiplinan. Yang kedua itu jauh lebih penting daripada faktor kurva dan usia. Gue sudah berusia mature (di atas 18) dengan kurva besar (52 derajat) buktinya masih bisa turun 12 derajat dengan pemakaian teratur sesuai yang dianjurkan dokter :D

Gue tahu kadang membicarakan scoliosis itu nggak mudah. Dulu gue juga selalu menghindar kalau ada yang menyinggung tentang kelainan tulang belakang gue ini. Alasannya karena nggak semua orang mengerti dan karena tahu bahwa scoliosis nggak bisa sembuh dengan minum obat 3 kali sehari dan istirahat yang cukup ---somehow bikin gue sedih---. Tapi sekarang gue rasa yang terbaik adalah dengan membicarakannya, dengan sharing. Karena scoliosis bukan akhir segalanya dan dengan kemajuan tekhnologi, kita, scolioser bisa membaik :) Jadi jika ada diantara teman-teman yang juga scoliosis, atau mengenal seseorang yang scoliosis, please jangan dibiarkan tapi segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Oh iya, waktu review pemakaian SpineCor gue diberitahu bahwa Back Up Clinic sekarang sudah berganti nama menjadi Spine Body Center. Lokasinya berdekatan dengan yang lama, kok. Yaitu di APL Tower lantai 25 (samping Central Park Mall) Jakarta. Jika mau bertanya seputar SpineCor atau membuat janji dengan dokternya bisa telepon ke (021) 2933 9295
Bulan depan gue juga akan kembali lagi ke sana untuk review, nggak sabar dengan hasilnya, hihihi. Okay, sekian dulu ya update tentang pemakaian SpineCor nya, sekarang gue mau tidur dulu karena sudah super larut. See you, teman-teman! :D

smile,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 07 November 2014

Ada Hello Kitty di Wadah Bekal Gue! :D

Horeee, di Lock&Lock sekarang ada gambar idola gue :D

Howdy-do, bloggies?!! Ah, nggak terasa ya sekarang sudah masuk bulan November. Rasanya baru saja gue melewati ulang tahun Puja dan Bapak, lalu Halloween, eh tahu-tahu bulan sudah berganti, hihihi. Tapi nggak apa-apa, itu artinya kita menikmati hari-hari sepanjang bulan Oktober, dan semoga saja bulan ini juga ya ;)

Teman-teman pembaca 'Dunia Kecil Indi' mungkin sudah tahu kalau gue selalu bawa bekal dari rumah. Hihi, dan bukan cuma untuk piknik tapi juga ketika gue bekerja. Meskipun ada yang bilang seperti anak TK, tapi gue nyaman-nyaman saja, tuh. Dari mulai TK, sekolah, kuliah sampai sekarang gue tetap betah bawa makanan dari rumah :) Alasannya, gue adalah penggemar berat masakan Ibu, jadi dimanapun maunya cita rasa yang sudah akrab di lidah. Dan gue juga pesco vegetarian, jadi kadang sulit menemukan menu yang 'aman'. Juga tentu saja karena alasan kebersihan, dengan membawa bekal dari rumah gue tahu persis seperti apa proses memasaknya dan wadah untuk membawanya :)

Berhubung gue suka banget dengan karakter Hello Kitty (nah kalau ini sih seluruh dunia juga tahu, hihihi), jadi wadah bekal alias lunch box gue pun harus bergambar si kucing centil itu. Gue punya beberapa dan modelnya pun lucu-lucu. Tapi kata Ibu gue harus waspada, karena bahannya dari plastik nggak jelas bisa saja berbahaya untuk kesehatan jika dipakai terlalu lama. Hiii, seram, ya :( Gue pun jadi sering berganti-ganti lunch box karena takut lapisan plastiknya terkikis setelah sering dicuci dan nantinya malah termakan bersama bekal gue :O
Kadang-kadang gue dibujuk Ibu untuk memakai lunch box Lock&Lock miliknya. Beliau bilang punyanya lebih aman daripada punya gue. Kalau sudah begitu gue menurut karena alasannya kesehatan. Dan supaya tetap ada Hello Kitty nya, jadi gue tempeli saja dengan sticker, huhuhu :')

Tapi sekarang gue punya Lock&Lock bergambar Hello Kitty sungguhan, lho! Sepertinya memang too good to be true ya, tapi setelah melihatnya sendiri gue percaya :D Berbeda dengan milik Ibu, Lock&Lock gue ini edisi Hello Kitty yang tampilannya lebih cute dan stylish. Saking stylish nya lunch box yang biasanya tersembunyi sekarang malah gue jinjing dengan percaya diri. Soalnya tas nya pun bergambar Hello Kitty, sih, hihihi. Meskipun imut, kalau soal kualitas ternyata sama kerennya seperti punya Ibu. Lunch box gue terbuat dari bahan-bahan yang aman seperti Polypropylene dan plastik Tritan. Tanpa BPA yang artinya aman untuk dipakai seluruh keluarga, termasuk anak-anak. Keren sekali, ya :)



Selain aman dan imut, lunch box Lock&Lock Hello Kitty ini juga ringkas untuk dibawa kemana-mana. Di dalam salah satu box ada wadah berukuran kecil yang bisa dilepas pasang. Cocok untuk membawa beberapa buah potong, permen atau puding supaya nggak tercampur. Modelnya yang transparant juga membuat gue nggak harus membuka lunch box satu persatu untuk mengambil makanan yang gue inginkan, jadi membantu gue untuk lebih rapi, deh, hihihi.



Oh, iya selain lunch box, Lock&Lock ternyata punya tumbler (vacuum bottle) dengan edisi Hello Kitty juga, lho! Senang sekali, karena super cute gue jadi termotivasi buat minum lebih banyak, hihihi. Kalau soal keamanan Lock&Lock memang nggak perlu diragukan, deh. Di tutup tumbler terdapat silicon, jadi nggak perlu khawatir soal bocor. Permukaan botolnya juga lebar jadi gampang banget buat dibersihkan. Oh, iya gue kan suka banget minum jus. Kemarin gue coba isi tumbler ini dengan jus stroberi, ternyata sampai sore masih fresh dan dingin lho! Ini karena di bagian dalam tumbler terdapat 4 lapis stainless steel, jadi baik minuman dingin maupun panas akan tahan sampai 8 jam :D



Hihi, gue jadi nggak sabar untuk piknik atau bepergian jauh. Lunch box dan tumbler gue pasti jadi yang paling cute diantara teman-teman gue :D Eh, tapi kalau mau cute bareng-bareng juga nggak apa-apa, kok, biar kompak ;) Dan sekarang Ibu nggak khawatir lagi dengan wadah untuk bekal gue, malah beliau penasaran dengan model lain Lock&Lock edisi Hello Kitty ini. Katanya selain aman dan ringkas bentuknya juga lucu, jadi bagus buat koleksi. Horeeee, senang deh kalau Ibu juga senang, siapa tahu nanti dibelikan model yang lain :p
Nah, siapa nih diantara teman-teman yang juga suka bawa bekal? Ceritakan pengalaman kalian, ya! :)

cheers,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 02 November 2014

Halloween Costumes DIY Project: Tinker Bell and Peter Pan :)

Yay, Halloween! Teman-teman yang sering mampir ke sini pasti tahu kalau gue suka sekali dengan Halloween. Setiap tahun gue pasti berusaha untuk memakai kostum dan berdandan seperti tokoh kesukaan gue :D Untuk teman-teman yang belum tahu, Halloween ala gue bukan Halloween seperti di Irlandia, negara asalnya yang berhubungan dengan kepercayaan dan arwah. Tapi hanya untuk bersenang-senang bersama keluarga, Ray atau teman-teman. Nggak ada 'trick', yang ada hanya 'treat' dan marathon film yang nggak harus seram, hihihi :)

Menurut gue yang paling awesome menganai Halloween ---selain permen--- adalah proses pembuatan kostum. Setiap tahun gue selalu berusaha hanya mengeluarkan budget minimal saja untuk kostum. Semakin kecil biaya yang dikeluarkan, maka gue semakin bangga. Beruntung sekali gue mempunyai Ibu dan Bapak yang sangat suportif. Mereka selalu senang jika bisa membantu gue dengan memberikan ide atau membuatkan kostum. Gue tahu ada orang tua yang menganggap Halloween itu "apa-apaan", tapi nggak dengan Ibu dan Bapak, mereka mengerti bahwa ini sekedar have fun yang hanya satu tahun sekali :)

Tahun lalu gue menjadi Dorothy Gale, idola gue dari dongeng Wizard of Oz. Untuk tahun ini ada beberapa tokoh yang melintas di kepala gue. Sempat terpikir untuk jadi Princess Anna dari Frozen, soalnya sepupu-sepupu cilik gue selalu rebutan jadi Queen Elsa kalau lagi roleplay, jadi ceritanya gue mengalah :p Tapi lalu gue terpikir dengan kepergian aktor favorit gue, Robin Williams, gue jadi ingin memakai kostum yang didedikasikan untuknya. Banyak filmnya yang berkesan (I'm his big fans, kapan-kapan gue ceritakan, ya), salah satunya adalah Hook yang menceritakan masa dewasa Peter Pan. Gue nggak pernah suka dengan ide Peter Pan tumbuh dewasa, tapi dengan Robin Williams filmnya ternyata jadi briliant! :) Karena gue perempuan dan suka pakai dress, jadi gue putuskan untuk menjadi Tinker Bell dan Ray yang menjadi Peter Pan. Gue re-watch beberapa versi film Peter Pan dan buka kembali buku ceritanya untuk referensi kostum, sambil memikirkan juga bahan-bahan apa saja yang sudah ada di rumah gue. 
Oh, iya Mika dulu terobsesi sekali dengan Neverland (tempat ringgal Peter Pan). Jadi gue rasa kostum ini juga bisa didedikasikan untuknya. Mika dan Robin Williams, dua orang "Peter Pan" yang sama-sama sudah pulang ke Neverland :)


Kostum Tinker Bell
Sama seperti Peter Pan, Tinker Bell juga punya banyak versi. Yang paling sederhana dan mudah diikuti adalah versi Disney yang juga favorit gue (buku cerita yang gue punya keluaran Disney, hehehe). Yang dibutuhkan untuk menjadi Tinker Bell adalah:
1. Dress.
Tink punya model dress spesifik yang menurut gue terlalu terbuka dan bakal hanya tersimpan di lemari saja jika Halloween selesai. Jadi gue buat (baca: gue yang mendesain dan Ibu yang membuat) dengan model sesuka gue, yang terpenting terlihat fairy dan bisa dipakai lagi untuk sehari-hari :) Kain yang digunakan berjenis katun dengan harga yang paling terjangkau di toko kain. Gue buat bagian bawahnya mengembang dan ditempeli pompom-pompom kecil sebagai pixie dust nya :)

2. Sayap
Nah, ini lumayan menantang. Harga sayap ala peri yang dijual di toko kostum dan mall ternyata cukup tinggi, sampai-sampai bikin gue sempat pikir-pikir lagi untuk menjadi Tinker Bell. Untung saja Bapak sangat kreatif. Beliau membuat sayap dari bahan-bahan yang sudah ada seperti gantungan baju, stocking bekas dan lakban. Dengan bantuan tang, Bapak membengkokkan 4 buah gantungan baju lalu membentuknya menjadi sayap dan melekatkannya dengan lakban. Setelah itu dibungkus dengan stocking bekas. Supaya tampilannya nggak terlalu terlihat sebagai project low budget (lol), gue hiasi sayap dengan pompom dan glitter. Ini juga berfungsi sebagai penutup lubang-lubang bekas jempol kaki gue di stocking :D




3. Sepatu 
Tink pakai sepatu dengan pompom besar di ujungnya. Sayangnya gue hanya punya yang ukurannya kecil-kecil. Jadi gue lekatkan saja 3 buah pompom di masing-masing sepatu. Supaya mudah dilepas kembali gue lekatkan dengan mountain tape dan fabric glue :)


4. Aksesoris rambut 
Rambut gue panjangnya lagi nanggung. Pendek enggak, tapi panjang pun belum, hehehe. Untuk membuat cepol ala Tink yang di puncak kepala, ternyata lumayan membutuhkan banyak hairspray dan gue nggak nyaman. Jadi dari sisa kain gue buat saja bentuk daun dan digambari dengan glitter. Lalu gue tempel ke bando dengan menggunakan mountain tape supaya letaknya bisa diatur dan dilepas kalau sudah nggak dipakai.


Gue puas dengan hasilnya. Setelah dipadukan ternyata cukup terlihat seperti Tinker Bell :) Budget yang dikeluarkan pun sangat minimal, gue hanya membeli kain hijau dan glitter. Itu pun sisanya masih banyak dan bisa dipakai kerajinan tangan yang lain. Untuk gantungan baju, tenang saja, Bapak memakai yang sudah karatan, kok, hehehe. Dan melihat hasilnya gue rasa masih bisa dipakai sampai tahun-tahun kedepan karena nggak kalah seperti buatan toko! Ibu sampai bergurau kalau gue bisa saja menjualnya dan orang-orang akan membelinya karena jauh lebih murah dari di toko :D



Untuk kostum Peter Pan yang akan dipakai Ray malah lebih mudah lagi. Disiapkannya pun benar-benar last minute, hanya 1 hari sebelum Halloween. Ray sempat menelepon gue sepulang bekerja, katanya ia sedang berada di mall dan mau mencari kaus hijau untuk kostum Peter Pan nya. Langsung saja gue larang dan memintanya menggunakan apa yang ada di rumah. Lebih baik uangnya digunakan untuk membeli permen yang banyak :D

Kostum Peter Pan:
Sama seperti kostum gue, supaya mudah gue mengambil referensi dari versi Disney (yup, sama seperti tahun sebelumnya kostum Ray gue yang "desain", hehehe). Kostum Peter Pan sama-sama berwarna hijau seperti Tinker Bell, tapi hijaunya sedikit lebih tua. Yang khas adalah topi yang berhiaskan bulu merah di sebelah kiri. Kreasi kostum Peter Pan gue seperti ini:
1. Baju
Berhubung gue bilang untuk memakai apa yang ada, akhirnya Ray memakai kemeja polos berwarna hijau tuanya. Dengan membuka kancing atas dan memakainya dengan cara nggak dimasukan ke dalam celana, tampilannya langsung mirip kostum Peter Pan.
2. Topi
Gue belum pernah coba cari, sih. Tapi sepertinya akan sulit mencari topi ala Peter Pan apalagi dengan budget yang minimal, hehehe. Jadi gue mencari video tutorial cara membuat topi Peter Pan sederhana di YouTube. Ternyata caranya mudah, gue tinggal melipat bahan seperti cara melipat perahu-perahuan yang diajarkan waktu kecil. Bedanya dengan video, gue mengganti bahan kertas karton dengan kain flanel. Super cheap, tapi tampilannya bikin beda, mirip topi sungguhan. Untuk bulu merah yang disematkan di sisi kiri, gue memotong box bekas lensa kontak dan membentuknya menjadi bulu. Untuk warnanya gue menempelkan kain perca berwarna merah. Kebetulan Ibu punya butik, jadi gue bisa minta sisa-sisa kain, hehehe.


3. Celana
Ingat nggak kalau pemeran Peter Pan selalu perempuan kecuali di film terbaru (produksi tahun 2003)? Sepertinya agak kurang enak dilihat kalau laki-laki dewasa pakai legging ya? Hehehe. Jadi gue minta Ray menggantinya dengan celana berwarna coklat atau hijau yang ketat. Tapi yang Ray punya dan bermodel skinny hanya yang berwarna hitam. Berhubung bukan hal yang iconic jadi warna apapun asal gelap nggak masalah :)
4. Sepatu dan sabuk
Well, gue sama sekali nggak mempermasalahkan; asalkan boots dan lilitkan sabuk di pinggang, jadilah Peter Pan!


Dan yay! Lagi-lagi gue puas dengan hasilnya. Setelah semuanya dipadukan Ray terlihat seperti Peter Pan, hanya saja ia berkacamata minus, hehehe. Budget yang dikeluarkan pun hampir Rp.0, kecuali untuk membeli flanel. Itu pun hanya terpakai sedikit, sisanya gue pakai untuk menutupi lakban di sayap, hehehe.
Dan inilah kami berdua, menjadi Tinker Bell dan Peter Pan dengan kostum yang sangat membuat kami senang meskipun dengan budget yang minimal. Karena seperti kata Peter Pan, yang kita butuhkan hanyalah Faith, Trust, Pixie dust... dan sedikit kreativitas! Hihihi :)


bangerang,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 30 Oktober 2014

Horeeeee.... MIKA, film yang Diinspirasi oleh Kisah Gue akan tayang di TV lagi! :D

Hai bloggies! Ada kabar gembira, nih! Sebentar lagi film MIKA akan diputar di TV untuk kedua kalinya :)
Film MIKA ini adalah film yang sangat gue banggakan, bukan hanya karena ini diambil dari kisah hidup gue, tapi karena perjalanannya yang cukup panjang. Bayangkan saja, hampir 2 tahun setelah perencanaan (baca: sejak gue ditawari) film ini baru bisa terealisasikan. Perjuangannya pun cukup berat, setelah sempat berganti kru dan lain sebagainya film MIKA akhirnya ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia sejak 15 Januari 2013 :)


Film MIKA diinspirasi oleh Waktu Aku sama Mika, novel pertama gue yang diterbitkan oleh Homerian Pustaka. Meskipun awalnya kumpulan tulisan gue yang dinovelkan ini sekedar untuk konsumsi pribadi (buku harian), tapi ternyata (thank God) telah dicetak ulang sebanyak belasan kali :) Gue juga bangga dan bahagia karena film MIKA diterima oleh penikmat film di Indonesia dan luar negeri. Jumlah penontonnya yang cukup banyak membuat film ini sempat masuk ke dalam list 10 film paling banyak ditonton sepanjang tahun 2013 di Indonesia. Dan terpilih sebagai film yang diputar di IFF Australia! :)


Kisah film ini sederhana, sesederhana novelnya dan kisah hidup gue. Menceritakan tentang gue (diperankan oleh Velove Vexia) yang divonis dokter mengidap scoliosis hingga harus menggunakan brace (penyangga tulang belakang). Di tengah-tengah rasa nggak nyaman gue datanglah Mika (diperankan oleh Vino Bastian), laki-laki yang berusia 7 tahun lebih tua dari gue dan sangat penuh semangat meskipun ia ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Gue dan Mika segera menjadi dekat lalu berpacaran. Sama seperti pasangan remaja lainnya, kami makan bersama, naik angkot bersama dan berbagi hobi masing-masing. Yang membedakan kami hanyalah komentar-komentar orang-orang tentang hubungan kami, terutama tentang Mika. Tapi di mata gue Mika sosok yang tegar, ia sangat menerima dan selalu punya cara untuk membuat gue menjadi pribadi yang lebih baik :)

Menurut gue film ini sukses untuk meng-capture bagaimana semangat Mika. Vino Bastian beracting sangat total bahkan berusaha mengikuti setiap detail dari karakter Mika (termasuk dengan menurunkan berat badan sebanyak 10 kg!). Velove Vexia juga begitu menjiwai perannya sebagai gue. Ia benar-benar memakai brace sepanjang syuting dan memotong poninya agar lebih mirip dengan gue (meskipun tetap saja terlihat super cantik). Pemeran Ibu, Bapak dan karakter-karakter lainnya juga menurut gue sangat pas. Thumbs up untuk tim castingnya. Dan ini juga pasti berkat keseriusan mereka yang rela jauh-jauh datang ke rumah gue untuk survey dan wawancara :) Teman-teman semua jangan lupa nonton ya! ;)





MIKA
(dari novel Waktu Aku sama Mika)
1 November 2014 (sabtu), pukul 22:30 WIB
Di SCTV


sugar pie kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 24 Oktober 2014

A Day in My Life: Stayed Home Author. Yay! :)

Horeee, akhirnya bisa kembali ke dunia kecil gue ini, hihihi. Karena beberapa sebab (termasuk laptop yang eror, sniff) gue nggak bisa pakai blog dengan maksimal, otomatis hobi blog walking gue pun terganggu. Tapi syukurlah sekarang sudah kembali normal, jadi buat teman-teman semua siap-siap saja ya blognya kembali kedatangan gue, hihihi. Dan selamat datang untuk member-member baru di blog ini, semoga menikmati tulisan-tulisan gue yang (seringnya sih) random :p 

Nah, ngomong-ngomong soal random, post kali ini isinya bakal macam-macam. Seperti yang pernah gue sebut, belakangan ini ada beberapa aktivitas gue yang berubah. Ada yang berkurang, ada yang bertambah. Ada juga hal-hal baru dengan beberapa hal lama. Semuanya seru dan (semoga) menambah pengalaman :) Salah satu yang berkurang adalah gue berhenti mengajar di preschool. Well, terkadang suka kangen juga sih dengan anak-anak yang super adorable di sana, tapi dengan hari dan aktivitas gue yang full of blessing, harusnya gue nggak boleh komplain, kan? ;)

Jadi sekarang gue mau share tentang apa yang gue lakukan selama 1 hari penuh. Setiap hari tentu ada hal-hal yang berbeda. Tapi seenggaknya inilah gambaran kegiatan gue sehari-hari :)
Seperti seluruh orang lain di dunia, gue memulai hari dengan bangun dari tidur (of course, lol). Hal pertama yang gue lakukan setelah bangun adalah memberi makan 3 ekor ikan mas gue yang hobi berantem; Bless, Luck dan Faith. Setelah itu gue bermain sebentar bersama Eris, anjing golden retriever gue yang super lucu. Biasanya sih sampai 1 jam setelah bangun gue nggak banyak bergerak, cuma main sama pets lalu dilanjutkan dengan "mengumpulkan kesadaran" di ruang TV sambil menunggu Ibu selesai masak. Setelah perut kenyang, baru deh gue fully charged dan siap beraktivitas :D

Bless, Luck and Faith, 3 ekor ikan mas gue :)

Kalau biasanya gue langsung mandi dan siap-siap pergi ke preschool, dengan bekerja di rumah gue bisa lebih santai. Gue bekerja dengan memakai piyama dan bahkan sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan gue (lebih tepatnya sambil sing along, lol). Minggu ini ada 2 orang teman pembaca yang minta dibuatkan desain baju, jadi gue kerjakan satu per satu. Sebenarnya gue sudah nggak menerima pemesanan lagi di Toko Kecil Indi, tapi berhubung ada waktu, rasanya sayang kalau ditolak. Sekaligus menjaga agar tetap kreatif juga, jangan sampai gue lupa bagaimana caranya mendesain baju, hihihi. Setelah desain selesai gue mencocokan kain, kancing, dan lain-lainnya, lalu dikirimkan ke tempat produksi. Tiga minggu kemudian siap dikirim ke alamat masing-masing pemesan, deh :)

Di hari ketika gue membuat tulisan ini gue kedatangan tamu, Miss Rifa dan Bunda (plus Sadiq, putranya). Mereka adalah teman-teman gue ketika di preschool. What a nice surprise! Karena kebetulan gue sedang nggak kemana-mana, mereka jadi alasan gue untuk mandi dan ganti baju, hihihi. Meskipun belum lama gue meninggalkan preschool, tapi kami sudah saling kangen. Kami bertukar cerita dan tentunya cemal-cemil. Berhubung gue sangat berjiwa Peter Pan, jadi gue menyuguhkan marshmallow dan cokelat. Langsung deh dapat protes, mereka bilang ini menu-menu penyebab sakit gigi. Tapi nyatanya dilahap juga, malah sisanya dibawa pulang :D Sebelum berpamitan kami berfoto dulu. Yang jadi fotografernya anak SD, alias Sadiq, hihihi. What a sweet boy, dia mau menunggui bundanya hangout sama teman-teman. Lucunya dia betah banget di kamar gue, katanya dia juga mau punya kamar seperti ini, tapi versi Cars, bukan Hello Kitty, hahaha :D



Waktu mereka pulang ternyata hari sudah menjelang sore. Seperti biasa kalau sudah ngobrol gue suka lupa waktu :p Nah, sore-sore itu jadwalnya gue ajak Eris jalan-jalan. Nggak jauh-jauh kok, cuma keliling komplek. Kadang sambil mampir ke warung atau beli es kelapa muda di ujung jalan. Pokoknya asal gue dan Eris mendapatkan exercise ringan deh; gue sampai keringetan dan Eris sampai kehausan :p Jalan-jalan sore juga jadi ajang Eris fashion show, maklum lah dia suka banget pakai baju dan show off sama sama siapapun. Gue nya sih nggak ada yang nyapa, tapi Eris jadi pusat perhatian. Semacam selebriti komplek :p

Eris nggak sabar mau jalan-jalan. Foto candid by Ibu :p

Gue dan Eris pulang ke rumah menjelang magrib, sekitar beberapa menit sebelum adzan berkumandang. Gue langsung lap kaki dan sisir bulu Eris, kalau lagi nggak terlalu posesif sama bajunya biasanya gue lepas dan baru dipakai lagi sebelum tidur. Sekalian juga gue cek bajunya, kalau kotor gue langsung cuci, kalau bersih bisa dipakai untuk tidur malam. Eris cuma punya 4 baju; 3 kaos dan 1 dress. Nah, kebayangkan kan kalau dia mau pakai baju setiap hari gue harus nyuci seberapa sering, hihihi. 
Urusan Eris selesai tinggal gue yang ganti baju. Kadang mandi sore, kadang langsung pakai piyama (plus cuci muka, tangan dan kaki, dong). Tergantung cuaca dan mood :p Sebelum masuk ke kamar yang merangkap my office gue hangout sama keluarga. Biasanya nonton TV, makan malam, ngobrol random atau online bareng :)

Pajama's time! Iya, gue bawa bungkus kado. Random, hahaha :D

Oh, iya online barengnya nggak berarti gue nggak online di waktu selain itu, lho. Biasanya kalau dekat handphone gue juga balas-balas pesan yang masuk. Kalau nggak di twitter, email, facebook ya instagram. Kalau untuk blog gue lebih nyaman di PC :) Tapi di waktu setelah family time itu memang lebih gue khususkan lagi, sebisa mungkin semua pesan (at least sebagian besar) dibalas. Karena membaca komentar, support atau pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman pembaca itu benar-benar bikin gue makin semangat. Kadang kalau mood lagi agak jelek gue bisa senyum lagi karena baca email. Asal nggak dapat email yang super kepo saja tapi, hihihi. 

Sebelum naik ke tempat tidur gue menulis naskah buku kelima. Gue bersyukur sekarang bisa lebih full mengerjakannya karena bekerja di rumah. Sekarang sudah setengah jalan, doakan saja agar lancar dan cepat selesai, ya :) Sambil menulis biasanya gue dengar musik, nah musik yang sesuai dengan naskah gue kali ini adalah Aerosmith, RHCP, G n R, The Doors dan sedikit John Frusciante. Kira-kira ada yang bisa tebak nggak gue menulis tentang apa? :D Selain musik, camilan juga jadi teman gue. Kadang gue makan salad, cokelat, keripik atau malah hanya sekedar jus. Tergantung mood dan isi kulkas :p

Khusus naskah gue tulis di laptop yang ini :)

Camilan favorit waktu malam!

Camilan musuh dokter gigi, hihihi.

Waktu menulis ini nih yang kadang kurang disiplin. Bisa sampai larut malam dan bertemu pagi lagi :( Harus gue ubah... Tapi kalau (sedang) bisa tepat waktu, gue biasanya beri reward untuk diri sendiri. Nggak susah-susah kok, cukup nonton DVD atau baca buku. Berhubung hanya sekedar pengantar tidur biasanya gue hanya nonton film-film yang sudah sering gue tonton. Favorit gue adalah Mika (nggak apa-apa dong film sendiri? Lol) dan film-filmnya Robin Williams (Mrs. Doubtfire for the win!). Tapi kalau mau kilat gue nonton satu atau dua episode Haunting Hour (dan sebangsanya) saja cukup. Begitu mata mulai berat, gue sempatkan untuk nengokin Eris dan selimuti dia. Setelah itu baru gue terlelap dengan tenang :)

Movie time!! :)

Di hari 'tanpa tamu' gue bisa menulis lebih awal, tapi tetap waktu paling nyaman memang malam hari (menjelang pagi, bad habit, Indi!). Jadwal gue juga jadi berbeda jika harus menghadiri suatu undangan (seperti acara dengan ODHA Berhak Sehat kemarin) atau ada pekerjaan lain yang hanya bisa dilakukan di luar rumah. Tapi bagaimana pun keadaannya gue sangat bersyukur dengan pekerjaan yang gue miliki sekarang. Gue sangat menikmati setiap hari yang dilalui. Meski nggak selalu mudah (bekerja dimana dan  apapun selalu ada tantangannya, lho), tapi itu nggak menghalangi gue untuk bahagia :)
Jadi inilah satu hari bersama gue. Bagaimana kegiatan sehari-hari kalian, teman-teman? :)

nb: Gue sedang mempersiapkan event untuk hari AIDS sedunia, lho. Ada ide? Silakan tulis di kolom komentar ;)


happy girl,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 15 Oktober 2014

Piknik Seru Sambil Berbagi Ilmu bersama ODHA Berhak Sehat dan Indi Sugar :)


What I wore? Hair Bow, Overall dress, Top: Toko Kecil Indi | Watch: Sanrio | Socks: Pasar Baru | Shoes: Chello 


Howdy do, my bloggies friends! Semoga semuanya baik-baik saja ya meskipun cuaca sedang agak kering ;) Beberapa waktu lalu gue sempat menyebutkan bahwa ada beberapa hal baru yang sedang gue kerjakan belakangan ini. Nah, salah satunya pada tanggal 11 Oktober 2014 kemarin gue diundang oleh ODHA Berhak Sehat untuk sharing sekaligus kopi darat di Taman Cibeunying Bandung. Ketika ditawari, gue langsung mengiyakan meskipun sebelumnya hanya mengenal ODHA Berhak Sehat (disingkat “OBS”) dari twitter. Alasannya tentu saja karena menurut gue visi dan misi dari OBS sangat positif. Mereka ingin memberikan informasi tentang isu HIV/AIDS pada masyarakat baik tua maupun muda dengan cara yang “berbeda”, yang tentu saja akan lebih efektif dari pada cara yang konvensional :D

Mungkin ada teman-teman yang belum tahu kenapa gue bisa terlibat dengan isu HIV/AIDS. Well, pada awalnya gue juga sama seperti kebanyakan anak-anak seusia gue pada waktu itu (15 tahun), sama sekali nggak tahu apa-apa soal HIV/AIDS sampai suatu hari bertemu dengan Mika, pacar pertama gue yang sampai hari ini gue anggap sebagai laki-laki luar biasa. Mika adalah laki-laki yang berusia 7 tahun diatas gue yang juga seorang ODHA, orang dengan HIV/AIDS. Bersamanya gue mendapatkan pelajaran tentang banyak hal, membuat gue menjadi pribadi yang semakin positif meskipun hidup Mika sendiri nggak mudah. Banyak orang yang memberinya label-label negatif, temasuk beberapa teman gue. Itulah yang membuat gue ingin mengenal tentang isu HIV/AIDS setelah kepergian Mika di tahun 2004 lalu.

Gue excited sekali saat bersiap-siap untuk kopi darat bersama sahabat OBS. Selain nggak sabar untuk sharing tentang pengalaman bersama Mika, gue juga nggak sabar untuk bertemu teman-teman baru. Apalagi konsep kopi daratnya unik sekali, yaitu piknik di taman kota. Dari rumah gue membawa sedikit bekal untuk dinikmati bersama di sana; satu kotak roti dan beberapa batang lollipop. Hehehe, gue memang bukan anak-anak lagi, tapi untuk gue lollipop adalah permen yang punya nilai historis, karena dulu Mika selalu memberi gue lollipop setiap kami bertemu :)

Gue sudah bersiap dengan lollipop dan pita merah yang disematkan di dada kiri :)

Waktu gue tiba di Cibeunying Park banyak hal-hal yang mengejutkan (---selain gue nyasar sampai satu jam karena mengikuti petunjuk dari 4 juru parkir berbeda, lol---). Di sana sudah ada Ayu dan Sindi, admin dari ODHA Berhak Sehat dan beberapa teman-teman yang baru saja gue kenal ketika sharing berlangsung. Latar belakang mereka berbeda-beda, ada karyawan, guru, wirausahawan sampai dengan ibu rumah tangga. Nah, yang paling istimewa ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta! :) Kami saling berkenalan dan berbagi kisah dengan santai, sambil diiringi canda dan cemal-cemil. Menyenangkan sekali.

Mengenalkan diri :)

Meski lupa bawa tikar tapi tetap betah, hihihi.

Meski kesannya santai, tapi kami mendapatkan banyak ilmu. Latar belakang kami yang berbeda membuat kami bisa bertukar infomasi-informasi seputar HIV/AIDS. Gue jadi tahu bagaimana ARV itu bekerja (well, sebenarnya gue menulis tentang ini di skripsi, tapi nggak terlalu mendalam), gue juga jadi tahu bagaimana ARV bisa menyebar ke seluruh Indonesia. Bahkan kami berbagi hal-hal yang mendasar, seperti misalnya tentang hal-hal yang bisa menularkan HIV, karena ada beberapa dari kami yang belum tahu. Dan itu membuat gue sangat sangat sangat salut, mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang HIV/AIDS karena mereka peduli, bukan ‘hanya’ karena ada teman atau keluarga mereka yang mengidap :)

Piknik ini sepertinya sudah cukup untuk menjelaskan tentang apa yang ingin disampaikan oleh OBS. Kami makan bersama, duduk bersama, saling berangkulan tanpa melihat latar belakang. Kami semua sama, ODHA atau bukan it doesn’t matter. Itulah kekuatan dari sharing, kita jadi nggak menduga-duga dan takut karena sesuatu yang nggak jelas. Jika nggak ada yang bilang, orang yang melihat kami pasti nggak ada yang bisa membedakan siapa diantara kami yang ODHA dan bukan :) Dulu gue merasa Mika sama saja seperti gue, nggak ada yang membedakan kami apalagi kami saling jatuh cinta. Tapi orang-orang bilang itu karena gue nggak mengerti apa itu HIV/AIDS, karena gue nggak tahu kenapa Mika bisa begitu. Setelah dewasa gue sadar bahwa gue nggak salah, tapi merekalah yang memberikan prasangka dan judgment sebelum benar-benar mengenal Mika. Padahal siapa saja bisa terjangkit HIV, bahkan anak-anak, dan memberi label pada ODHA tentu saja bukan hal yang bijak. Mereka nggak mengerikan, mereka hanya sakit. Dan kita juga bisa begitu, kan?

Nggak terasa langit semakin gelap dan adzan magrib sudah terdengar. Keasyikan kebersamaan kami membuat waktu nggak terasa. Kami betah saja duduk berlama-lama beralaskan rumput karena admin OBS lupa membawa tikar, hihihi. Sebelum ditutup ada beberapa hadiah yang dibagikan. Semua yang hadir mendapatkan stiker ODHA Berhak Sehat dan salah seorang peserta, Syifa mendapatkan hadiah istimewa berupa T shirt karena sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Gue juga mendapatkan sebuah buku yang berisi kumpulan cerita pendek dari IPPI Indonesia yang berjudul “Aku Kartini Bernyawa Sembilan”, senang sekali :) Dan untuk teman-teman baru di sana gue juga membawa 2  buah novel “Karena Cinta Itu Sempurna” yang berisi biografi mini gue termasuk menceritakan saat-saat gue bersama Mika. Semoga saja memberi manfaat :)

Ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta dapat hadiah istimewa! Hihihi. Congrats, Syifa! :)

Diwakili Ayu, gue mendapatkan buku kumpulan cerpen "Aku Kartini Bernyawa Sembilan" :)

Novel Karena Cinta Itu Senpurna untuk Andri dan Anis :)

Sebelum berpamitan kami berfoto bersama. Perasaan gue begitu senang dan bangga atas piknik yang diselenggarakan oleh ODHA Berhak Sehat ini. Ayu, Hendra, Anis, Deni, Andri, Sindi, Lina, Syifa dan Rini menjadi teman-teman baru gue. Sungguh luar biasa apa yang mereka lakukan, membuka diri untuk berbagi dan menerima ilmu-ilmu baru. Menurut gue membuka diri untuk hal baru adalah hal yang indah. Dulu gue nggak tahu apa-apa soal scoliosis dan baru mencaritahu setelah gue sendiri mengidap scoliosis di usia 13 tahun. Gue juga baru mencari tahu tentang HIV/AIDS setelah gue berpacaran dengan Mika. Memang nggak ada kata terlambat, tapi mencari tahu karena kita peduli dan bukan karena merasa “harus” akan lebih baik. Itu membuat kita open minded dan menghentikan dari prasangka-prasangka akibat keenggaktahuan kita terhadap suatu hal. Rini dan Syifa ingin tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS setelah membaca novel “Waktu Aku sama Mika”. Mereka nggak mengenal Mika, tapi mereka peduli dan ingin melakukan perubahan. Jika mereka bisa, gue percaya semua juga bisa. Langkah ODHA Berhak Sehat ini mungkin terlihat kecil, kami hanya sekelompok orang. Tapi bayangkan jika setelah pulang semuanya membagi kisah tentang pertemuan ini pada teman-teman, keluarga atau bahkan di sosial media... 
Let’s start sharing! ;)

Berpose dengan stiker dari ODHA Berhak Sehat :)

Thanks a lot untuk Bapak yang menemani gue sepanjang sore. Love you, Daddy! :)

Link:
-          ODHA Berhak Sehat
-          IPPI Indonesia
-          Indi Sugar


Lollipop girl,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469