Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Minggu, 30 Agustus 2015

Indi Sugar Menantang Kalian Potong Rambut untuk Kanker! :)

Teman-teman yang waktu itu ramai bertanya tentang donasi rambut mana nih suaranya? :) Gue sempat dapat banyak sekali tanggapan dan pertanyaan tentang donasi yang gue lakukan tahun lalu, tapi ternyata banyak yang batal ikutan dengan alasan biaya pengiriman rambut yang cukup mahal :(
Nah, sekarang ada alternatifnya nih teman-teman. Kalian tetap bisa ikut berdonasi tanpa harus membayar mahal :)

Gue ajak kalian untuk mengikuti tantangan Shave for Hope 2015. Caranya seperti ini:
1. Buat video yang berisi before dan after pemotongan rambut kalian. Untuk laki-laki sampai botak dan untuk perempuan minimal di atas bahu.
2. Di video berikan ucapan untuk Shave for Hope dan pesan untuk adik-adik yang mengidap kanker.
3. Jangan lupa akhiri video dengan tagline, "Be the hero, be the hope".

Setelah itu upload video kalian ke YouTube dengan judul #SFH2015Challenge, nantinya setiap video akan dihargai Rp.100.000 dan uangnya akan digunakan untuk donasi atau untuk bantuan biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C. Kirim melalui email link video kalian ke sfh2015challenge@gmail.com, dan... selesai! Dengan cara sesederhana itu kalian sudah membuat perubahan :)

Ayo, langsung lakukan ya, teman-teman. Potong rambutnya gak perlu di salon, bisa minta bantuan keluarga atau teman karena yang penting syarat pemotongannya terpenuhi (nanti setelahnya baru bisa dirapikan). Videonya ditunggu sampai BESOK, 31 Agustus 2015. Tolong sebarkan juga tentang kabar ini agar semakin banyak yang ikutan! Kalau masih bingung kalian bisa lihat video gue yang disertakan di bawah ini:


Be the hero, be the hope. Kalian juga bisa ;)


let's shave for hope,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 28 Agustus 2015

Belajar Selfie dengan Universal Clip Lens dari @ealymorning_shop (Review) :)

Well... I'm not a "selfie" person, hahaha. Gue nggak tahu apa ada diantara kalian yang notice kalau gue senang sekali difoto tapi jaraaaang sekali selfie. Seringnya sih difotoin orang lain, ---terutama oleh Bapak, fotografer favorit gue :D Alasannya gara-gara malas cari angle yang bagus buat foto, dan... seram saja kalau lihat hasil foto isinya wajah semua :p 



Sebenarnya kadang kepengen juga sih bisa selfie, soalnya nggak setiap waktu gue pergi dengan orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil foto. Atau kalaupun ada, nggak semua orang mengerti apa yang gue mau alias asal jepret (kalau ini Ibu ahlinya, beliau suka ambil foto gue tanpa melihat ke kamera, hahaha). Nah, ini yang bikin gue akhirnya kepikiran buat belajar selfie. Nggak ada kata terlambat buat belajar, kan? Lol.

Makanya kemarin pagi waktu Universal Clip Lens dari @earlymorning_shop tiba di rumah gue happy banget. Selain karena excited mau nyobain, gue juga excited karena bentuk clip nya kepala Hello Kitty yang super imut. Sudah tahu dong kalau gue fans berat dari kucing berpita yang satu itu? Hihihi. Packagingnya juga cute banget, kotaknya bergambar Hello Kitty dan di dalamnya ada mini pouch yang juga bergambar, ---of course, Hello Kitty :D Di dalam satu kemasan ini ada 3 lensa, yaitu Fish eye, Macro dan Wide Angle Lens. Ketiganya mempunyai fungsi masing-masing. Yang pertama katanya sih jadi bisa lihat unreal world lebih luas (dari sudut pandang mata ikan kali, ya? Hahaha), yang kedua untuk mengambil object kecil agar lebih jelas dan yang terakhir untuk mengambil gambar lebih lebar, sesuai namanya.


Cara pakainya mudah sekali, tinggal dijepitkan ke handphone tepat di kameranya. Nggak merusak HP dan bisa dipindah-pindah dari kamera depan ke belakang. Hmm, mungkin ada yang penasaran, apa hubungannya selfie sama lensa? Kan tinggal buka kamera depan terus ambil foto, deh. Nah, kalau buat gue yang nggak begitu sreg dengan hasil foto yang isinya "hanya wajah", lensa yang bisa meng-capture background atau minimal sedikit dari outfit gue tentu jadi pilihan ;)

Yang pertama gue coba yaitu Fish Eye Lens. Begitu dipasang dan lihat ke kamera, gue langsung... "Whoaaa, kok ajaib ya?". Soalnya object yang gue ambil jadi lebih fokus dan pemandangan sekitarnya  ikut terbawa. Gue coba foto satu object, ---salah satu tanaman Ibu dengan Fish Eye Lense dan dengan kamera saja dari jarak yang sama. Hasilnya ternyata jauuuh berbeda. Seolah gue mengambil foto dari jarak yang lebih jauh karena pintu yang tadinya nggak terlihat jadi terlihat di foto yang menggunakan Fish Eye Lens. Nggak percaya? Nih gue share foto berfore dan afternya :)


Yang kedua, ---dan yang paling bikin gue excited yaitu Wide Angle Lense. Awalnya gue coba mengambil  salah satu sudut di halaman rumah. Supaya gampang lihat hasilnya gue pakai sepeda Mang Ayi, ---tukang reparasi sofa, untuk menjadi patokan. Seperti sebelumnya, gue berdiri di tempat yang sama. Saat mengambil foto hanya dengan kamera saja, sepeda hanya terlihat bagian stangnya saja. Dan setelah memakai Wide Angle Lens ternyata joknya pun terlihat, ---even better (or wider? Lol), pengki dan sapu lidi yang seharusnya disembunyikan dari pandangan pun jadi ikut terlihat, hihihi. Langsung saja gue coba untuk selfie menggunakan Wide Angle Lens, dan.... suka banget sama hasilnya! Hasil foto jadi nggak "hanya wajah" dan gue jadi bisa menunjukan outfit gue yang berbunga-bunga :p Sepertinya sih kalau mau best result bisa dengan bantuan tongsis, dan lensa yang ini juga bakal membantu banget kalau mau foto bareng dengan teman-teman. Oh, iya mau lihat hasil belajar selfie gue? Nih, gue tunjukan :p




Dan yang ketiga, Macro Lens, sayangnya gue nggak bisa tunjukan hasilnya di sini. Gue sudah coba, ternyata memang membuat object kecil jadi besar tapi sayangnya blurry :( Gue nggak tahu apa ini karena kesalahan gue sebagai pengguna atau kamera di HP gue yang nggak support (HP gue sudah seusia dengan anak TK, lol). Kapan-kapan gue akan coba lagi dan tentu akan gue share hasilnya. Tapi buat gue sih itu bukan big deal, Fish Eye Lens dan Wide Angle Lens nya sudah bikin gue super happy, ---memudahkan gue untuk selfie, hihihi. Setelah ini gue pasti akan lebih sering ambil foto sendiri dan mempelajari angle yang keren. Jadi lain kali kalau gue lagi sendirian nggak perlu kebingungan lagi deh kalau mau difoto :p Kalau teman-teman ingin Universal Clip Lens seperti yang gue punya ini, langsung saja ke:
instagram @earlymorning_shop, atau hubungi ownernya yang super ramah di sini:
  082299203179
Dijamin deh, taking picture will never be the same again ;)

cheese,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 22 Agustus 2015

L'OREAL PARiS Fall Repair 3x (review) :)


Yeaaaay, weekend!!! Siapa yang excited kaya gue kalau akhir pekan tiba, nih? Hihihi. Kalau gue sih sudah pasti bersemangat (---maksudnya ekstra bersemangat daripada weekdays, lol), soalnya bisa punya lebih banyak waktu untuk kumpul dengan orang-orang yang gue sayang, dengan Eris, untuk hobi dan tentu... untuk "me time"! :D 

Me time versi gue nggak aneh-aneh, kok, biasanya cukup dengan lip-sync lagu-lagu rock di kamar (iya, nggak aneh cuma absurd, lol), nonton film atau merawat diri. Nah, untuk urusan merawat diri gue nggak selalu melakukannya di salon. Kadang rumah malah terasa lebih nyaman karena bebas untuk menambahkan apa saja ke "day spa ala gue". Mau melakukan perawatan rambut sama badan sekaligus juga bisa, nggak makan waktu banyak pula soalnya bisa sekalian waktu sedang mandi, hihihi. 

Lucky me, beberapa waktu lalu gue terpilih untuk mengikuti uji coba produk di Home Tester Club, dan gue mendapatkan L'OREAL PARiS FALL RESIST 3x, masker rambut untuk rambut rontok. Meskipun rambut gue nggak begitu rontok, tapi produk ini cocok banget sama misi gue yang sedang memanjangkan rambut untuk didonasikan. Jadi gue pengen rambutnya nggak sekedar panjang tapi juga sehat! Di kemasannya nih ada tulisan mengenai rambut yang diwarnai, katanya masker ini berfungsi memberikan nutrisi dan membuat rambut tetap sehat. Gue memang hanya mewarnai rambut secara ringan (tanpa bleach, ect, hanya cat agar warna rambut gue lebih terang dari warna aslinya), tapi memang diakui bahwa semakin panjang rambut vitamin apapun yang gue pakai sepertinya hanya sampai akar hingga ke tengah rambut sedangkan ujungnya cenderung kering.



Kemasan yang gue dapat adalah L'OREAL PARiS FALL REPAIR 3x isi 4, alias untuk pemakaian 1 bulan. Dan waktu menulis ini gue baru memakainya 1 kali. Cara pemakaiannya sangat mudah, malah sebenarnya nggak ada bedanya dengan memakai conditioner. Setelah keramas aplikasikan produk pada rambut yang masih basah, diamkan 1 sampai 2 menit lalu bilas sampai bersih. Selesai! Yup, as simple as that, ---jadi sebanarnya nggak perlu menunggu weekend untuk me time yang seperti ini. Berhubung rambut gue tebal, proses mengeringkan rambutnya malah jauh lebih lama daripada proses pakai maskernya, hihihi :D

Kesan gue setelah memakai produk ini rasanya rambut menjadi lebih lembut. Proses bilas yang biasanya agak terhambat karena harus memisahkan helai-helai rambut sekarang menjadi mudah. Lembutnya pun tahan sampai proses pengeringan rambut, gue nggak perlu pakai sisir bergigi jarang dulu karena rambut sudah langsung "teratur" dengan sendirinya. Setiap habis keramas gue keringkan rambut dengan menggunakan hair dryer dan itu butuh waktu sekitar 30 menit-1 jam untuk benar-benar kering (betul, nggak salah ketik, kok, rambut gue memang bandel). Jadi efek lembut dan mudah diatur ini cukup membantu gue untuk menghemat waktu; no more nyangkut-nyangkut dulu di sisir, deh, hehehe.

Apa gue suka dengan produk ini? Yup, meskipun masih perlu 3 kali pemakaian lagi untuk hasil maksimal tapi sejauh ini gue puas dengan hasilnya. Sepertinya kalau dipakai rutin rambut gue akan semakin lembut dan terhindar dari rambut bercabang. Rambut yang kusut itu akan sulit untuk disisir, dan kalau disisir keras-keras, of course rambut bisa jadi bercabang. Menurut gue rambut bercabang itu salah satu musuh untuk memanjangkan rambut, soalnya bikin nggak panjang-panjang. Bayangkan saja, rambut belum tumbuh maksimal eh sudah patah di tengah karena bercabang, hihihi. Jadi nutrisi yang maksimal merupakan solusi yang tepat untuk semakin melancarkan misi gue ini :p

Meski rambut gue nantinya akan dipotong tapi memiliki rambut yang sehat itu penting. Kalau didonasikan tentu penerimanya akan senang jika mendapatkan rambut yang indah. Makanya sebisa mungkin gue merawat rambut agar selalu sehat :) 
Nah, kalau teman-teman bagaimana, ---apa "me time" versi kalian di waktu weekend. Atau ada yang ingin mencoba L'OREAL PARiS FALL REPAIR 3x juga? Share with me! :)

ilovemyhair,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 18 Agustus 2015

Little Victory :)

Howdy do, my bloggie pals! Bagaimana long weekendnya? Semoga menyenangkan dan... nggak ada yang lagi sakit kaya gue, hihihi. Liburan gue menyenangkan of course, hanya saja demam dan batuk yang belum kunjung sembuh membuat beberapa aktivitas jadi terbatas. Selama long weekend gue hanya di rumah, atau paling jauh ya ke ujung komplek untuk jalan-jalan sore. Beruntungnya karena sedang suasana Agustusan alias hari kemerdekaan Indonesia sekitar rumah jadi ramai. Gue nggak perlu jauh-jauh deh untuk mencari hiburan, hihihi.

Seperti yang (mungkin) teman-teman tahu, jalan-jalan sore bersama Eris sudah menjadi rutinitas gue setiap hari. Nggak jauh-jauh, sih, paling hanya keliling komplek atau kalau sedang nggak terlalu fit bolak-balik di depan rumah pun jadi. Tujuannya 'sambil menyelam minum air', alias satu kegiatan dengan 2 manfaat. Yang pertama tentu agar Eris, anjing golden retriever mungil gue tetap bugar dan nggak merasa bosan. Dan yang kedua sebagai bentuk exercise rutin gue sebagai pegidap scoliosis. Menurut anjuran dokter seenggaknya gue harus exercise 20 menit sehari agar otot gue menjadi kuat dan nggak kaku. Apalagi gue memakai SpineCor, berjalan-jalan sore bagus untuk membiasakan tubuh gue dengan soft brace yang harus dipakai beberapa jam sehari itu. Meski istilahnya "exercise" tapi gue menikmati sekali rutinitas ini. Malah bisa dibilang salah satu kegiatan yang paling gue tunggu-tunggu sepanjang hari, hehehe. Bayangkan saja, selain membuat badan sehat jalan-jalan juga sekaligus refreshing. Menyenangkan sekali :D


Kalau soal fun part nya jalan-jalan sore, teman-teman yang hobi jogging atau yang rutin dog walking pasti tahu rasanya. Dari mulai kenalan sama orang baru sampai ngobrol random kesana-kemari sudah jadi hal yang biasa. Malah kadang-kadang bukan cuma gue yang dapat teman baru, tapi Eris nya sekalian, ---kalau ada yang kebetulan sedang jalan-jalan dengan anjingnya juga, hehehe. Tapi namanya di tempat umum terkadang nggak cuma hal fun yang bisa terjadi, tapi juga hal-hal yang kurang menyenangkan. Gue tahu ini nggak terjadi di setiap neighborhood, tapi at least dari grup animal lovers yang gue ikuti hal yang gue alami ternyata juga terjadi pada sebagian anggotanya dan hewan peliharaannya, ---bukan cuma pada anjing.

Well, di beberapa tempat, ---termasuk di tempat tinggal gue anjing itu 'not for eveyone', bahkan untuk anjing semanis Eris sekalipun. Terkadang di waktu sedang berjalan-jalan ada saja anak-anak yang berkomentar nggak enak. Dari mulai yang bawa-bawa ras sampai bawa-bawa agama. Bahkan ada diantara mereka yang melempar batu secara sengaja ke pagar rumah untuk memancing Eris supaya menggonggong. Dalam hati gue kesal, sih. Tapi gue yakin perkataan dan perbuatan semacam itu nggak muncul begitu saja dari mereka. Anak-anak selalu melihat contoh, dan sayangnya role model mereka belum tentu baik. Yang lebih seram, terkadang kalau gue papasan dengan ibu-ibu yang sedang berjalan-jalan dengan anaknya, mereka melontarkan kata-kata yang super ajaib seperti, "Hiiii, awas ada anjing nanti digigit." Atau, "Hiii, awas jangan dekat-dekat," ---dengan nada jijik seolah melihat kotoran. Gue selalu berusaha menjadi pemilik yang baik, jika di luar rumah Eris selalu gue ikat dengan menggunakan leash dan kami selalu berjalan di pinggir. Jadi mustahil bagi Eris untuk sampai berdekatan dengan mereka. Meski ini nggak terjadi setiap hari, tapi tetap saja membuat gue sedih karena kadang-kadang kepikiran sampai rumah :(



Gue nggak pernah menilai seseorang dari rasnya, dari warna kulitnya, dari agamanya dan hal-hal semacam itu. Buat gue orang yang baik adalah yang kepribadiannya baik, ---dan gue percaya agama/kepercayaan manapun mengajarkan cinta kasih. Saat ada hal yang nggak sesuai dengan apa yang kita percaya kita nggak perlu "memberi label" atau malah berkata hal buruk. Indonesia itu negara yang isinya penuh keragaman dan itu yang membuat kita kaya. Berbeda kepercayaan bukan berarti harus membenci. Justru seharusnya saling menghargai :)

Satu hari sebelum peringatan kemerdekaan gue berjalan-jalan dengan Eris. Waktu itu cuacanya cerah sekali, dan bukan cuma kami saja yang ingin menikmati sore, tapi juga anak-anak yang tinggal di belakang perumahan. Tiba-tiba saja seorang anak laki-laki mendekati kami, dengan gayanya yang supel ia bercerita bahwa di rumahnya ada kucing. Katanya kucingnya makan cat food dan kalau mandi harus di pet shop karena di rumah nggak ada hair dryer. Gue tertawa mendengarnya dan langsung jatuh hati, ---karena anak itu sepertinya ingin membelai Eris. Melihat gelagatnya langsung saja gue tanya, "Kamu mau kenalan sama Eris?" Dengan cepat ia mengangguk dan langsung bersiap meletakan tangannya di kepala Eris. Tapi belum sempat tangannya menyentuh kepala Eris, temannya yang memakai sepeda meneriakkan kata-kata rasis. Sontak gue terkejut dan melihat wajah anak itu. Dalam hati gue ingin marah, tapi sadar bahwa ia hanya anak-anak. Jadi gue putuskan untuk membalasnya dengan senyuman.


Gue berpikir, sampai kapan hal seperti ini akan terjadi? Sampai kapan anak-anak ini nggak menghargai keragaman? Well, kalaupun bagi mereka anjing itu "nggak baik" seenggaknya mereka harus mengenal apa itu "saling menghargai" dan "sopan santun". Don't yell, ---karena itu nggak sopan, ---apalagi kalau sampai melempari dengan batu. Akhirnya gue beranikan diri mengumpulkan mereka di ujung jalan, di tempat yang paling sering dilalui karena dekat dengan kantor Kelurahan. Sengaja gue pilih tempat yang ramai agar anak-anak ini nggak merasa sedang diintimidasi dan agar orangtua atau pejalan kaki yang melihat tahu bahwa gue bermaksud baik dan nggak ada yang ditutup-tutupi.


Awalnya hanya ada 3 anak yang berkumpul, tapi kehadiran Eris rupanya menarik perhatian anak-anak lain hingga akhirnya ada 8 anak yang mengelilingi kami. Gue bertanya pada mereka alasan mengapa sampai membenci anjing. Salah satu dari anak-anak itu menjawab begini, "Soalnya anjing itu galak, suka gigit." Gue pun bertanya balik padanya, apakah ia pernah digigit anjing. Ternyata jawabannya, "Nggak pernah". Dan asumsi galak yang ia dapatkan adalah karena ia pernah melempar anjing dengan batu dan anjing itu balik mengejarnya! Oh, my... :( Waktu gue tanya alasan mengapa ia melempat batu jawabannya ternyata super mengejutkan. Rupanya orangtuanya yang mengizinkan ia melakukan itu. Dan kenapa? Sepertinya hanya ia dan Tuhan yang tahu asalannya...

Gue pun menjelaskan bahwa anjing dan hewan lain juga punya perasaan. Jika disakiti tentu saja akan marah, dan kalau marah anjing akan mengigit karena nggak bisa bicara seperti manusia. Mendengar penjelasan gue anak-anak itu mengangguk-angguk mengerti. Lucunya salah satu dari mereka bertanya, "Oh, jadi anjing juga bisa mati seperti kita, ya?" Hehehe, gue sampai nggak tahan untuk tertawa. See that? Mereka itu masih polos, hal negatif yang mereka lakukan pasti berasal dari orang lain. Kalau dilihat-lihat mereka ini rata-rata masih TK dan paling tua kelas 3 SD. Waktu seusia mereka lingkungan yang gue tahu ya hanya orangtua, keluarga dan sekolah. Lalu anak yang lainnya ikut bertanya, "Tapi kenapa kalau saya lewat depan rumah teteh Eris nya marah?" Gue balik bertanya, "Kamu lewat depan rumahnya sambil lempar batu nggak?" Dengan malu-malu ia pun mengakui terkadang melempar botol minuman untuk menarik perhatian Eris. Dan lagi-lagi gue harus bisa menahan rasa kesal karena kelakuan "polos" mereka. Gue jelaskan, kalau ingin binatang baik pada kita maka kita pun harus berbuat baik pada mereka. Jangan sampai karena binatang nggak punya pikiran seperti kita lalu diartikan boleh bertindak seenaknya pada mereka.

Anak-anak itu semakin lama posisi berdirinya semakin dekat dengan Eris, bahkan salah satu dari mereka mulai membelai-belai punggung Eris (awkward, lol). Kesempatan ini gue gunakan untuk bercerita lebih banyak lagi. Gue bilang binatang dan manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, dan kalau mau kita tentu bisa berteman dengan mereka, ---seperti gue dan Eris misalnya. Kalau diperlakukan dengan baik binatang akan percaya dengan manusia dan nggak akan menyerang tanpa alasan. "Sama seperti manusia, binatang juga bisa belajar. Mau lihat nggak?" tanya gue pada anak-anak yang semakin antusias. Eris pun menunjukan kehebatannya untuk "duduk", "bersalaman" dan "berdiri" di depan mereka. Saking takjubnya anak-anak itu sampai bersorak-sorak dan menarik perhatian abang tukang bakso yang langsung berhenti dan ikut melihat aksi Eris, hehehe. Ah, bangga sekali rasanya :)

Menyadari kesalahan mereka anak-anak itu pun meminta maaf pada Eris, ---dan itu tanpa gue minta, lho. Mereka menyodorkan tangan kanannya pada Eris dan langsung disambut dengan tapal kaki depan Eris yang mungil! Hihihi, lucu sekali, ---sekaligus mengharukan. Sebelum berpisah mereka berjanji akan menyapa Eris baik-baik jika bertemu di jalan dan nggak akan menyakiti binatang lagi. Perasaan gue lega bukan main. Rasanya kehawatiran gue untuk berjalan-jalan sore sudah menghilang. Gue memang nggak bisa memaksa semua orang untuk mengerti, tapi seenggaknya sore itu adalah kemerdekaan kecil untuk gue dan Eris... :)


blessed girl,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 09 Agustus 2015

Recreate Poltergeist III (Making Memory of my Long Hair)

Creepy...


Gue masih sangat kecil ketika pertama kali menontonnya. Waktu itu gue belum mengantuk, jadi memutuskan untuk ikut menonton TV bersama Ibu dan Bapak. Film itu diputar di RCTI, --- waktu belum ada sinetron yang mendominasi jam tayang malam. Gue ingat betul betapa ketakutannya ketika melihat adegan boneka badut yang duduk di kursi sementara dahan pohon menggaruk-garuk dari luar jendela kamar. Poltergeist itu judulnya. Dibuat saat gue belum terlahir ke dunia ini tapi bisa membuat gue jatuh cinta saat pertama kali menontonnya. I love being scared. Lol. 

Gue sangat menyukai ketiga seri Poltergeist (---yang kemudian gue tonton di Trans TV), meskipun sutradaranya sudah berganti di seri yang terakhir. Mungkin karena kehadiran Carol Anne yang diperankan oleh alm. Heather O’Rourke di film itu. She was soooo adorable! Pipi tembam dan rambut terangnya terlihat sangat angelic, sampai-sampai dulu gue berandai-andai ingin punya anak seperti dia suatu hari nanti, hahaha. Dan waktu tahu kalau ternyata little girl yang sangat gue kagumi itu sudah meninggal dunia (hanya 4 bulan sebelum Poltergeist III rilis) rasanya sangat sedih. Mungkin terdengar aneh karena gue masih 2 tahun waktu ia meninggal, ---tapi begitulah yang gue rasakan :(

Dan baru-baru ini Poltergeist dibuat remake-nya. Gue nggak percaya waktu mendengarnya, karena... hey, ini klasik! Membuat remake dari film ini sama saja dengan mencoba mengulang sukses besarnya ET. Tapi gue tetap menontonnya, karena nggak mau menilai sesuatu sebelum melihatnya sendiri. Dan pendapat gue, hmm, well... nggak sebagus yang diharapkan. Tapi over all cukup menghibur karena masih ada beberapa momen menegangkan. Dan menontonnya juga lumayan bikin gue merinding-merinding gimana... gitu. Soalnya di film ini ada beberapa adegan yang di recreate dari film originalnya oleh Maddi, ---yang menggantikan peran Carol Anne.  She’s cute too. Tapi gue kangen sama wajah lugunya Heather O’Rourke dan rambut panjangnya yang indah. Ah, film Poltergeist memang sangat berkesan untuk gue :’)

Bapak sampai keliling-keliling rumah untuk cari lokasi yang pas untuk scene ini :D
1988 VS 2015 :)

Dulu gue ingin menjadi Carol Anne, (sampai sekarang) gue memelihara ikan mas di kamar supaya mirip dengan karakternya. Malah gue ingin sekali punya rambut panjang berponi sepertinya, tapi selalu gagal karena gue nggak tahan dengan rasa gerah. Mungkin teman-teman juga tahu bahwa sebelumnya rambut gue paling panjang hanya sedikit di bawah telinga, belum pernah menyentuh bahu. Tapi karena tahun lalu gue mulai mendonasikan rambut untuk dibuat wig, mulailah gue termotivasi untuk memanjangkan rambut. Selain membayangkan wajah happy anak-anak yang menerima rambut gue, Carol Anne juga ikut menjadi motivasi. Gue mengiming-imingi diri sendiri dengan berkata; Rambut panjang = mirip Carol Anne, hehehe.

Sekarang rambut gue sudah melewati bahu. Terkadang masih terasa mengganggu apalagi di musim panas seperti belakangan, tapi gue juga mulai sayang. Keinginan gue untuk potong rambut nggak sebesar dulu lagi, mungkin karena sudah terbiasa dengan rambut ‘baru’ ini. Tapi bukan berarti gue jadi membatalkan niat untuk berdonasi, hehehe. Jadwal pemotongan rambut sudah semakin dekat dan gue merasa harus membuat sedikit kenang-kenangan sekaligus memberi reward pada diri sendiri karena sudah berhasil menahan diri nggak potong rambut selama setengah tahun (well, kecuali trimming ya, karena gue nggak mau rambut gue bercabang). Setelah dipikir-pikir akhirnya gue tahu apa reward yang tepat untuk diri sendiri; Recreate Poltergeist Scenes! Alias membuat ulang adegan-adegan di film Poltergeist :D

Atas request Bapak gue tambahkan garis hitam di fotonya. "Supaya mirip", begitu kata Bapak.

Jadi kemarin sore dengan dibantu Bapak gue mewujudkan impian masa kecil untuk menjadi Carol Anne. Setelah bercerita bahwa gue ingin melakukan ini untuk making memory (---dan sebagai dedikasi untuk alm. Heather O’Rourke, tentu), Bapak ikut senang dan beliau bersemangat sekali dengan project sederhana ini. Kami putuskan untuk Recreate adegan-adegan di Poltergeist III karena itu film terakhirnya Heather dan karena gue punya onesie yang sama, hehehe (thanks, Ibu!). Dengan cepat gue dan Bapak menonton kembali trailer film itu lalu mengambil gambar beberapa adegannya. Seperti biasa, Bapak berperan menjadi fotografer dan beliau dengan sungguh-sungguh melakukannya untuk gue. 

Meski mengandalkan feeling (yep, kami sama sekali nggak mencetak gambar adegan-adegan yang akan di recreate, hahaha), tapi kami ingin seakurat mungkin. Untuk urusan pose gue serahkan sepenuhnya pada Bapak karena ingatan beliau lebih bagus dari gue. Nah, lucunya Bapak malah lebih bersemangat dan lebih kretaif daripada “modelnya”. Untuk recreate phone scene Bapak sampai cabut telepon rumah untuk dijadikan properti foto, lho! Dan ini membuat Ibu kebingungan beliau pikir teleponnya hilang, hehehe.

Halo? They're hereeeee... 

Hasilnya nggak sempurna, tapi gue menyukainya. Gue menghargai sekali usaha Bapak untuk mewujudkan keinginan gue menjadi Carol Anne. I’m making memory, dan Bapak jadi salah satu bagiannya :) Mungkin ada yang mengganggap gue aneh karena ingin mengenang rambut yang hanya dalam jangka waktu beberapa bulan akan tumbuh kembali. Atau malah ada yang mengganggap gue lebay? Go ahead :) Menjadi seseorang yang mendonasikan rambut membuat gue sadar bahwa rambut adalah bagian tubuh yang sangat berharga. Untuk gue, dan banyak orang lainnya mungkin ini ‘hanya’ rambut. Tapi bagi orang lain rambut bisa jadi hal yang sangat diimpikan. Jika gue ingin rambut seperti Heather O’Rourke, di luar sana ada yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan rambut pendek yang gue punya, ---atau malah untuk sebagian saja dari rambut yang gue punya. Jadi ini adalah cara gue untuk mengingatkan diri sendiri bahwa gue beruntung, gue diberkahi karena punya rambut. Dan kalau pun nggak punya, ---rambut bukan sesuatu yang menjadikan kita, tapi hati :)

Ps: Untuk membaca post dan melihat video mengenai donasi rambut pertama gue bisa lihat di sini: klik.

carol anne 27 years later,

Indi

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 04 Agustus 2015

Jatuh Cinta Lagi dengan SpineCor (Hope for Scolioser) :)


Howdyyyyy bloggies! Apa kabar semuanya? Hehehe, liburan sudah selesai dan sekarang waktunya kembali ke aktivitas masing-masing, ya. Well, kalau gue sih jujur saja masih kangen deangan suasana Lebaran. Loads of foods, dikunjungi sepupu-sepupu, jalan-jalan.... :p Tapi kalau begitu terus bisa-bisa hari libur jadi nggak istimewa, hehehe. Jadi sambil menunggu libur panjang berikutnya gue  mengerjakan project-project yang sudah direncanakan. Semoga kita semua selalu semangat, ya ;)

Sepertinya teman-teman di sini sudah tahu bahwa gue adalah seorang scolioser, atau pengidap scoliosis. Sejak usia 13 tahun sampai dewasa sudah banyak terapi yang gue coba, dari mulai terapi fisik sampai bracing. Yang paling lama gue jalani adalah bracing dengan boston brace selama 5 tahun. Kurva gue bertahan nggak bertambah selama beberapa waktu tapi lama kelamaan, wuzzzz, naik dari 35 derajat ke hampir 60 derajat, huhuhu. Nah, 9 bulan terakhir gue mulai bracing dengan SpineCor, ---brace yang bentuknya soft berbeda dengan tipe lain. Meski belum dalam hitungan tahun ternyata gue sudah bisa merasakan hasilnya, kurva gue turun menjadi 40 derajat! Yup, hanya 5 derajat lebih besar dari saat pertama kali scoliosis gue terdeteksi :'D Luar biasa banget, kan? Tapi nyamannya SpineCor pun kadang bukan tanpa godaan. Adaaaa saja hal yang bikin gue 'lupa' untuk disiplin. Seringnya sih karena gue sudah merasa puas dengan hasil yang gue capai, hehehe.

Ada yang nyangka nggak, kalau gue pakai SpineCor di balik dress ini? ;)
Hihihi, SpineCor tersembunyi dengan sempurna karena cuma sedikit lebih tebal dari tank top :)

Atas saran dokter gue, dr. Natalie Liem dari Spine Body Center, gue menghubungi Tante Novi, ibu dari salah seorang pasiennya yang juga pemakai SpineCor. Katanya supaya bisa tahu langsung pengalaman Fahira, karena ia termasuk salah satu pasien yang sukses. Kenapa ia sukses? Ya, karena disiplin dalam pemakaian SpineCor nya, dong, hihihi. Dengan bantuan Dr. Natalie gue menerima email yang berisi testimoni dari Tante Novi. Seru banget bacanya, dan Tanta Novi juga mengizinkan gue untuk berbagi ceritanya di sini, lho! ;)

"Berawal dari rasa penasaran kami melihat tulang belikat kanan anak kami “Fahira Syifa Machfudz” yang lebih menonjol dari pada tulang belikat kirinya tapi tidak ada keluhan apapun saat itu...
BINGUNG.....
Kenapa ini? Ada apa dengan anakku? neneknya yang pertama kali sadar dan memaksa kami untuk memeriksakan keanehan itu tapi kami juga tidak tahu harus kemana dan harus ke dokter apa kami memeriksakannya.
Karena pada saat itu Fahira masih berumur 12 tahun maka saya bawa dia ke dokter spesialis anak dan beliau merujuk ke dokter spesialis tulang. Tibalah kami bertemu dengan dokter spesialis tulang, beliau tidak banyak bicara hanya bilang “Oo anak ibu skoliosis.”
Sudah??
Hanya itu yang dikatakannya sambil mencatat report medisnya.
Sementara saya yang seorang ibu yang khawatir dengan kondisi anaknya menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter itu selanjunya mengenai sakitnya anak saya. Tapi kata2 itu tak kunjung keluar dari mulut beliau. Sampai akhirnya dengan sedikit memaksa dan sok tahu saya bertanya tentang apa itu SKOLIOSIS?
Dok.. skoliosis itu apa?
Kenapa bisa terjadi skoliosis pada anak kami?
Apa penyebabnya?
Adakah obat yang akan menyembuhkannya?
Lalu apa yang akan terjadi kalau kami membiarkan skoliosi itu pada anak kami? 

Ini jawaban beliau;
"Skoliosis itu tulang punggung yang bengkok, penyebabnya ya banyak bisa karena kebiasaan buruk yang dilakukan berulang-ulang atau memang keturunan. Nanti saya kenalin deh sama orang yang suka bikin jaket untuk skoliosis (hard brace maksudnya), dia bisa bikin dengan harga murah daripada ibu harus beli ke Singapur harganya mahal di sana bisa 8 jutaan lebih ditambah lagi nanti setiap 3 bln sekali dia hrs memeriksakan ulang posisi brace dan tubuh si anak."
Saat itu saya betul-betul khawatir dengan kondisi anak saya yang harus memakai hard brace itu, mengingat orang yang pakai behel gigi saja suka mengeluh sariawan karena tekanan benda keras di gusi, dan itu pasti akan terjadi pada anakku juga, di beberapa bagian tubuh tertentunya, ditambah lagi dengan adanya hard brace itu, gerakan anakku dalam bergaul menjadi tidak leluasa, kasihan ya (pikir saya).
Selama setahun kami mencari jalan bagaimana caranya kami dapat memberikan pengobatan kepada anak kami tanpa harus membatasi ruang geraknya dia dan tidak menyulitkannya, kami beri dia les private berenang dengan guru khusus, yoga dan mencari tahu tentang pengobatan alternatif sampai menemukan rumah skoliosis, ternyata banyak ya pengidap scoliosis di Indonesia ini.
Selang setahun berlalu, saya bawa kembali fahira ke dokter yang tadi dan saya minta untuk di Xray dan hasilnya dia bacakan dan memang tidak ada perubahan yang berarti.
SEDIH :(
Tapi tetap saya saya googling dan kaget saya begitu saya membuka google dan menemukan kasus skoliosis yang amat sangat parah dan harus di operasi kemudian setelah operasipun pasien tidak seratus persen sembuh tetap ada efek sampingnya, takut saya bacanya.  

Dengan searching sampai lah kami menemukan Spine Body Center. Kesan pertama bertemu dengan Dr. Fong and team yang menawarkan SpineCor®, membuat hati saya tenang meskipun pada saat itu saya hampir tidak mempercayai nya. Disamping kekecewaan saya terhadap dokter yang pertama saya temui, saya juga tidak percaya, masa tali temali bisa membuat skoliosis anak kami sembuh? dengan harga yang ditawarkan, mungkin saat itu saya berpikir mending beli sepeda motor saja. Tapi untung pikiran itu hanya melintas begitu saja yang akhirnya saya memutuskan untuk membelinya.
Tidak semudah yang di bayangkan, ternyata awal mengenakan brace amat sangat mengganggu bagi anakku, ada saja alasannya. Dia harus bangun 10 atau 15 menit lebih awal dari biasanya. Kemudian rasa pegal yang mendera, dia jadi sering bete di awal penyesuaian.
Tak henti2 kami di rumah menasehati, dari mulai bahasa yang amat sangat manis sampai ancaman pernah kami lakukan, ancaman dengan memperlihatkan gambar2 kasus skoliosis yang parah. Team dari Spine Body Center juga demikian, mereka memberikan pujian agar anak kami mau dan tidak malas memakai SpineCor® brace.
Hari berlalu waktu berjalan tak terasa sudah hampir 5 tahun anak kami memakai SpineCor® brace itu, terimakasih Tuhan kami masih dicukupkan rejeki hingga sampailah kami menemani anak kami menjalani pengobatan dengan hasilnya saat ini. Berdasarkan progress selama 5 tahun ini, kami merasa sangat puas dengan perkembangan perubahan derajat kebengkokannya, yang cukup stabil, tidak bertambah derajatnya. Info yang  kami peroleh, derajat kebengkokan akan terus bertambah seiring dengan waktu, akan tetapi dalam kondisi anak kami, derajat kebengkokan tetap stabil dari awal menggunakan SpineCor® sampai saat ini.
Tulangnya belikatnya sudah tidak terlalu menonjol lagi, meskipun masih ada. Minimal jika dia memakai baju modis tidak terlalu terlihat kelainannya dan meskipun dia memakai brace tapi kegiatannya tak terbatasi dia masih tetap berkegiatan sebagaimana anak ABG lainnya, di sekolah bahkan dia masih mengikuti les dan kejuaraan dance hiphop dan meraih juara 1 sejabodetabek lomba dance hiphop."
SpineCor gak bikin gerakan terbatas. Tuh, lihat masih bisa menang lomba dance :)

Wah, inspiring sekali ya ceritanya? Bikin gue semakin semangat agar terus disiplin dalam pemakaian SpineCor! Gue bahagia sekali dengan kemajuan yang gue dapat sejak memakai SpineCor, tapi bukan berarti gue boleh merasa cukup. Gue bisa lebih baik dari ini, seperti Fahira yang setiap tahun semakin membaik kondisinya. Membaca cerita Tante Novi juga membuat gue tersenyum, karena rupanya bukan hanya gue yang tertolong dengan SpineCor. Ada Fahira, dan mungkin banyak orang lain di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Berbagi cerita, meskipun nggak bertemu langsung bisa membuat orang yang membacanya termotivasi. Gue termotivasi karena membaca cerita Fahira. Apakah kalian kenal dengan seorang scolioser? Atau malah kalian juga scolioser? Jangan berhenti berbagi, karena siapa tahu cerita kalian menjadi harapan bagi orang yang membacanya! :)


nb: Gue dan Fahira memakai SpineCor dari Spine Body Center (APL Tower Lt. 25, samping Central Park, tlp: 021 33072111). Di sana kalian bisa mendapatkan SpineCor resmi dengan dokter-dokter yang berpengalaman. 

cheers,

Indi

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 26 Juli 2015

Don't Kill Me!



Kalau ada acara kumpul-kumpul gue sering mendadak cemas dan pengen mengurung diri di kamar. Apalagi kalau kerabat-kerabat yang seusia dengan Ibu dan Bapak datang. Uh, mau menghilang saja rasanya... Bukan, gue bukan ingin menghindari mereka, ---tapi asap rokoklah yang membuat gue ketakutan setengah mati! 

“Tradisi” merokok sepertinya memang sudah mendarah daging. Semenjak gue kuliah pemandangan asap mengepul jadi pandangan sehari-hari. Saat gue lagi makan siang di kantin, lagi menunggu dijemput pulang, bahkan di dalam kelas, ---jika kebetulan kebagian dosen yang entah kenapa merasa nggak berdosa untuk membunuh mahasiswanya pelan-pelan. Katanya sih merokok bisa menambah keakraban, apalagi jika ditemani oleh kopi dan camilan hangat. At least begitulah kata teman-teman laki-laki dan om-om gue, kalau sudah berkumpul sambil merokok bisa dipastikan betah berlama-lama. Ya, mungkin seperti suku Indian yang gue lihat di film koboi, mereka menghisap calumet sambil berkumpul setelah hari yang panjang untuk kedamaian. Bedanya teman-teman dan om-om gue ini hidupnya di zaman modern, ---zaman dimana banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu selain dengan merokok.

What I wore: Dress: Toko Kecil Indi (my design) | Shoes: Noche | Ukulele: Mahalo

Gue nggak bermasalah dengan perokok. Ibu dan Bapak perokok berat, begitu juga dengan Ray, meskipun frekuensi merokoknya sudah banyak berkurang dibandingkan dulu. Yang menjadi masalah buat gue itu perokok egois, ---perokok yang hobi bagi-bagi penyakit. I hate to admit, tapi om-om gue juga termasuk perokok egois. Kalau sedang acara kumpul-kumpul mereka dengan ringannya menghisap rokok sambil mengajak ngobrol keponakannya alias gue. Bla... bla... bla... wajah mereka tersenyum tapi di waktu bersamaan mereka juga mencekik gue. Posisi gue jadi serba salah, kalau menghindar dianggap nggak sopan sedangkan kalau tetap diam sama saja dengan nggak sayang diri sendiri. Padahal keinginan untuk melindungi diri dari asap rokok ini bukan tanpa usaha, lho. Gue sudah berusaha, ---sangat keras. Dari mulai acting batuk ala sinetron, meminta dengan baik-baik, meminta Ibu dan Bapak untuk nggak merokok saat ada om-om gue (supaya mereka nggak enak, lol), sampai dengan menyembunyikan asbak dan membuang rokok mereka diam-diam.


Rumah Ibu dan Bapak cukup luas, tapi daerah garasi pun termasuk no smoking area karena di sana ada Eris (our lovely dog), lengkap dengan baju-baju dan segala perlengkapannya. Sayangnya om-om gue (dan kerabat lainnya) menganggap kalau it’s okay untuk merokok di dekat hewan. Dan saat gue bilang “jangan” malah gue yang dianggap berlebihan. Dulu pun Ibu dan Bapak begitu, mereka kadang merokok sambil bermain bersama Eris di garasi atau halaman. Prinsip mereka (dulu) asalkan nggak merokok di dalam rumah atau dekat-dekat gue artinya aman. Tapi sekarang setelah mereka tahu bahaya nikotin, jangankan dekat Eris, dekat bajunya pun nggak berani. Mereka hanya merokok sambil mengurung diri di ruang ber hexos fan atau di luar, di kursi yang letaknya dekat dengan pagar rumah.

Semoga meja di semua rumah bisa begini; nggak ada asbak dan rokoknya :)

Gue sadar karena sudah dianggap “tradisi” merokok itu susah ditinggalkan dan dianggap wajar. Untuk meyakinkan Ibu dan Bapak bahwa tindakan mereka bisa membunuh gue pun perlu waktu yang cukup lama. Karena gambar-gambar di bungkus rokok nggak bisa menakuti mereka, gue pakai pendekatan lain. Gue bilang bahwa rokok bukan hanya mempengaruhi mereka, tapi juga gue, anaknya, ---ralat; anak kesayangannya. Dan dengan merokok di ruang terpisah bukan berarti gue aman, tapi bisa saja gue tetap dalam bahaya. Nikotin bisa menempel di kulit, di baju, di tirai, di taplak meja, di sofa dan lain sebagainya. Jadi jika Ibu dan Bapak merokok di ruang TV sementara gue sedang di dalam kamar, gue masih bisa terpapar nikotin dari sofa yang habis mereka duduki, atau dari pelukan hangat yang mereka beri, ---bahkan ketika rokoknya sudah dibuang jauh-jauh. Ibu dan Bapak memang masih merokok, tapi sekarang selain hanya merokok di tempat yang telah disepakati mereka juga selalu mengganti baju segera setelah merokok. Mereka takut membuat gue sakit, mereka takut membunuh gue

Gue mandapatkan banyak komentar ketika menulis status tentang ini di Facebook, terutama dari perokok. Mereka bilang gue nggak mengerti perasaan mereka yang kecanduan, bahkan ada yang bilang bahwa usaha gue akan sia-sia karena merokok itu sudah “tradisi”. Well, gue memang nggak kecanduan rokok, tapi gue pernah kecanduan hal lain. Kalian tahu apa yang gue lakukan? Gue cari bantuan! Ikut support group, cari terapis. Kecuali jika memang belum mau berenti merokok, so go ahead, silakan merokok sebanyak-banyaknya tapi make sure jangan ajak orang lain untuk sakit. Gue nggak melarang orang untuk merokok, toh negara saja melegalkan rokok. Gue cuma minta agar perokok nggak egois. Teman gue anaknya harus dirawat di Rumah Sakit gara-gara terpapar nikotin dari baju ayahnya (suami teman gue). Jika memang belum mau menjaga kesehatan diri sendiri, please... at least jangan sakiti keluarga, teman-teman atau bahkan orang asing yang nggak sengaja duduk di tempat bekas kalian merokok. Jika memang gambar-gambar di bungkus rokok belum bisa membuat kalian takut, please ingat  bahwa itu bukan hanya bisa menimpa kalian, tapi juga orang lain. Don’t be selfish. Don’t kill us...

Don’t kill me,

Indi

Fakta tentang rokok: 
~ Racun dari rokok yang menempel di baju, perabot rumah tangga, dll nggak akan hilang sampai berbulan-bulan, bahkan jika di ruangan ber hexos fan sekalipun.
~ Hanya melewati orang yang sedang merokok di jalan pun asapnya bisa menempel di baju kita dan dampaknya bukan hanya pada kita, tapi juga orang kita temui di rumah nanti (misalnya: anak, orangtua, etc)


 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469