Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Jumat, 24 Oktober 2014

A Day in My Life: Stayed Home Author. Yay! :)

Horeee, akhirnya bisa kembali ke dunia kecil gue ini, hihihi. Karena beberapa sebab (termasuk laptop yang eror, sniff) gue nggak bisa pakai blog dengan maksimal, otomatis hobi blog walking gue pun terganggu. Tapi syukurlah sekarang sudah kembali normal, jadi buat teman-teman semua siap-siap saja ya blognya kembali kedatangan gue, hihihi. Dan selamat datang untuk member-member baru di blog ini, semoga menikmati tulisan-tulisan gue yang (seringnya sih) random :p 

Nah, ngomong-ngomong soal random, post kali ini isinya bakal macam-macam. Seperti yang pernah gue sebut, belakangan ini ada beberapa aktivitas gue yang berubah. Ada yang berkurang, ada yang bertambah. Ada juga hal-hal baru dengan beberapa hal lama. Semuanya seru dan (semoga) menambah pengalaman :) Salah satu yang berkurang adalah gue berhenti mengajar di preschool. Well, terkadang suka kangen juga sih dengan anak-anak yang super adorable di sana, tapi dengan hari dan aktivitas gue yang full of blessing, harusnya gue nggak boleh komplain, kan? ;)

Jadi sekarang gue mau share tentang apa yang gue lakukan selama 1 hari penuh. Setiap hari tentu ada hal-hal yang berbeda. Tapi seenggaknya inilah gambaran kegiatan gue sehari-hari :)
Seperti seluruh orang lain di dunia, gue memulai hari dengan bangun dari tidur (of course, lol). Hal pertama yang gue lakukan setelah bangun adalah memberi makan 3 ekor ikan mas gue yang hobi berantem; Bless, Luck dan Faith. Setelah itu gue bermain sebentar bersama Eris, anjing golden retriever gue yang super lucu. Biasanya sih sampai 1 jam setelah bangun gue nggak banyak bergerak, cuma main sama pets lalu dilanjutkan dengan "mengumpulkan kesadaran" di ruang TV sambil menunggu Ibu selesai masak. Setelah perut kenyang, baru deh gue fully charged dan siap beraktivitas :D

Bless, Luck and Faith, 3 ekor ikan mas gue :)

Kalau biasanya gue langsung mandi dan siap-siap pergi ke preschool, dengan bekerja di rumah gue bisa lebih santai. Gue bekerja dengan memakai piyama dan bahkan sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan gue (lebih tepatnya sambil sing along, lol). Minggu ini ada 2 orang teman pembaca yang minta dibuatkan desain baju, jadi gue kerjakan satu per satu. Sebenarnya gue sudah nggak menerima pemesanan lagi di Toko Kecil Indi, tapi berhubung ada waktu, rasanya sayang kalau ditolak. Sekaligus menjaga agar tetap kreatif juga, jangan sampai gue lupa bagaimana caranya mendesain baju, hihihi. Setelah desain selesai gue mencocokan kain, kancing, dan lain-lainnya, lalu dikirimkan ke tempat produksi. Tiga minggu kemudian siap dikirim ke alamat masing-masing pemesan, deh :)

Di hari ketika gue membuat tulisan ini gue kedatangan tamu, Miss Rifa dan Bunda (plus Sadiq, putranya). Mereka adalah teman-teman gue ketika di preschool. What a nice surprise! Karena kebetulan gue sedang nggak kemana-mana, mereka jadi alasan gue untuk mandi dan ganti baju, hihihi. Meskipun belum lama gue meninggalkan preschool, tapi kami sudah saling kangen. Kami bertukar cerita dan tentunya cemal-cemil. Berhubung gue sangat berjiwa Peter Pan, jadi gue menyuguhkan marshmallow dan cokelat. Langsung deh dapat protes, mereka bilang ini menu-menu penyebab sakit gigi. Tapi nyatanya dilahap juga, malah sisanya dibawa pulang :D Sebelum berpamitan kami berfoto dulu. Yang jadi fotografernya anak SD, alias Sadiq, hihihi. What a sweet boy, dia mau menunggui bundanya hangout sama teman-teman. Lucunya dia betah banget di kamar gue, katanya dia juga mau punya kamar seperti ini, tapi versi Cars, bukan Hello Kitty, hahaha :D



Waktu mereka pulang ternyata hari sudah menjelang sore. Seperti biasa kalau sudah ngobrol gue suka lupa waktu :p Nah, sore-sore itu jadwalnya gue ajak Eris jalan-jalan. Nggak jauh-jauh kok, cuma keliling komplek. Kadang sambil mampir ke warung atau beli es kelapa muda di ujung jalan. Pokoknya asal gue dan Eris mendapatkan exercise ringan deh; gue sampai keringetan dan Eris sampai kehausan :p Jalan-jalan sore juga jadi ajang Eris fashion show, maklum lah dia suka banget pakai baju dan show off sama sama siapapun. Gue nya sih nggak ada yang nyapa, tapi Eris jadi pusat perhatian. Semacam selebriti komplek :p

Eris nggak sabar mau jalan-jalan. Foto candid by Ibu :p

Gue dan Eris pulang ke rumah menjelang magrib, sekitar beberapa menit sebelum adzan berkumandang. Gue langsung lap kaki dan sisir bulu Eris, kalau lagi nggak terlalu posesif sama bajunya biasanya gue lepas dan baru dipakai lagi sebelum tidur. Sekalian juga gue cek bajunya, kalau kotor gue langsung cuci, kalau bersih bisa dipakai untuk tidur malam. Eris cuma punya 4 baju; 3 kaos dan 1 dress. Nah, kebayangkan kan kalau dia mau pakai baju setiap hari gue harus nyuci seberapa sering, hihihi. 
Urusan Eris selesai tinggal gue yang ganti baju. Kadang mandi sore, kadang langsung pakai piyama (plus cuci muka, tangan dan kaki, dong). Tergantung cuaca dan mood :p Sebelum masuk ke kamar yang merangkap my office gue hangout sama keluarga. Biasanya nonton TV, makan malam, ngobrol random atau online bareng :)

Pajama's time! Iya, gue bawa bungkus kado. Random, hahaha :D

Oh, iya online barengnya nggak berarti gue nggak online di waktu selain itu, lho. Biasanya kalau dekat handphone gue juga balas-balas pesan yang masuk. Kalau nggak di twitter, email, facebook ya instagram. Kalau untuk blog gue lebih nyaman di PC :) Tapi di waktu setelah family time itu memang lebih gue khususkan lagi, sebisa mungkin semua pesan (at least sebagian besar) dibalas. Karena membaca komentar, support atau pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman pembaca itu benar-benar bikin gue makin semangat. Kadang kalau mood lagi agak jelek gue bisa senyum lagi karena baca email. Asal nggak dapat email yang super kepo saja tapi, hihihi. 

Sebelum naik ke tempat tidur gue menulis naskah buku kelima. Gue bersyukur sekarang bisa lebih full mengerjakannya karena bekerja di rumah. Sekarang sudah setengah jalan, doakan saja agar lancar dan cepat selesai, ya :) Sambil menulis biasanya gue dengar musik, nah musik yang sesuai dengan naskah gue kali ini adalah Aerosmith, RHCP, G n R, The Doors dan sedikit John Frusciante. Kira-kira ada yang bisa tebak nggak gue menulis tentang apa? :D Selain musik, camilan juga jadi teman gue. Kadang gue makan salad, cokelat, keripik atau malah hanya sekedar jus. Tergantung mood dan isi kulkas :p

Khusus naskah gue tulis di laptop yang ini :)

Camilan favorit waktu malam!

Camilan musuh dokter gigi, hihihi.

Waktu menulis ini nih yang kadang kurang disiplin. Bisa sampai larut malam dan bertemu pagi lagi :( Harus gue ubah... Tapi kalau (sedang) bisa tepat waktu, gue biasanya beri reward untuk diri sendiri. Nggak susah-susah kok, cukup nonton DVD atau baca buku. Berhubung hanya sekedar pengantar tidur biasanya gue hanya nonton film-film yang sudah sering gue tonton. Favorit gue adalah Mika (nggak apa-apa dong film sendiri? Lol) dan film-filmnya Robin Williams (Mrs. Doubtfire for the win!). Tapi kalau mau kilat gue nonton satu atau dua episode Haunting Hour (dan sebangsanya) saja cukup. Begitu mata mulai berat, gue sempatkan untuk nengokin Eris dan selimuti dia. Setelah itu baru gue terlelap dengan tenang :)

Movie time!! :)

Di hari 'tanpa tamu' gue bisa menulis lebih awal, tapi tetap waktu paling nyaman memang malam hari (menjelang pagi, bad habit, Indi!). Jadwal gue juga jadi berbeda jika harus menghadiri suatu undangan (seperti acara dengan ODHA Berhak Sehat kemarin) atau ada pekerjaan lain yang hanya bisa dilakukan di luar rumah. Tapi bagaimana pun keadaannya gue sangat bersyukur dengan pekerjaan yang gue miliki sekarang. Gue sangat menikmati setiap hari yang dilalui. Meski nggak selalu mudah (bekerja dimana dan  apapun selalu ada tantangannya, lho), tapi itu nggak menghalangi gue untuk bahagia :)
Jadi inilah satu hari bersama gue. Bagaimana kegiatan sehari-hari kalian, teman-teman? :)

nb: Gue sedang mempersiapkan event untuk hari AIDS sedunia, lho. Ada ide? Silakan tulis di kolom komentar ;)


happy girl,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 15 Oktober 2014

Piknik Seru Sambil Berbagi Ilmu bersama ODHA Berhak Sehat dan Indi Sugar :)


What I wore? Hair Bow, Overall dress, Top: Toko Kecil Indi | Watch: Sanrio | Socks: Pasar Baru | Shoes: Chello 


Howdy do, my bloggies friends! Semoga semuanya baik-baik saja ya meskipun cuaca sedang agak kering ;) Beberapa waktu lalu gue sempat menyebutkan bahwa ada beberapa hal baru yang sedang gue kerjakan belakangan ini. Nah, salah satunya pada tanggal 11 Oktober 2014 kemarin gue diundang oleh ODHA Berhak Sehat untuk sharing sekaligus kopi darat di Taman Cibeunying Bandung. Ketika ditawari, gue langsung mengiyakan meskipun sebelumnya hanya mengenal ODHA Berhak Sehat (disingkat “OBS”) dari twitter. Alasannya tentu saja karena menurut gue visi dan misi dari OBS sangat positif. Mereka ingin memberikan informasi tentang isu HIV/AIDS pada masyarakat baik tua maupun muda dengan cara yang “berbeda”, yang tentu saja akan lebih efektif dari pada cara yang konvensional :D

Mungkin ada teman-teman yang belum tahu kenapa gue bisa terlibat dengan isu HIV/AIDS. Well, pada awalnya gue juga sama seperti kebanyakan anak-anak seusia gue pada waktu itu (15 tahun), sama sekali nggak tahu apa-apa soal HIV/AIDS sampai suatu hari bertemu dengan Mika, pacar pertama gue yang sampai hari ini gue anggap sebagai laki-laki luar biasa. Mika adalah laki-laki yang berusia 7 tahun diatas gue yang juga seorang ODHA, orang dengan HIV/AIDS. Bersamanya gue mendapatkan pelajaran tentang banyak hal, membuat gue menjadi pribadi yang semakin positif meskipun hidup Mika sendiri nggak mudah. Banyak orang yang memberinya label-label negatif, temasuk beberapa teman gue. Itulah yang membuat gue ingin mengenal tentang isu HIV/AIDS setelah kepergian Mika di tahun 2004 lalu.

Gue excited sekali saat bersiap-siap untuk kopi darat bersama sahabat OBS. Selain nggak sabar untuk sharing tentang pengalaman bersama Mika, gue juga nggak sabar untuk bertemu teman-teman baru. Apalagi konsep kopi daratnya unik sekali, yaitu piknik di taman kota. Dari rumah gue membawa sedikit bekal untuk dinikmati bersama di sana; satu kotak roti dan beberapa batang lollipop. Hehehe, gue memang bukan anak-anak lagi, tapi untuk gue lollipop adalah permen yang punya nilai historis, karena dulu Mika selalu memberi gue lollipop setiap kami bertemu :)

Gue sudah bersiap dengan lollipop dan pita merah yang disematkan di dada kiri :)

Waktu gue tiba di Cibeunying Park banyak hal-hal yang mengejutkan (---selain gue nyasar sampai satu jam karena mengikuti petunjuk dari 4 juru parkir berbeda, lol---). Di sana sudah ada Ayu dan Sindi, admin dari ODHA Berhak Sehat dan beberapa teman-teman yang baru saja gue kenal ketika sharing berlangsung. Latar belakang mereka berbeda-beda, ada karyawan, guru, wirausahawan sampai dengan ibu rumah tangga. Nah, yang paling istimewa ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta! :) Kami saling berkenalan dan berbagi kisah dengan santai, sambil diiringi canda dan cemal-cemil. Menyenangkan sekali.

Mengenalkan diri :)

Meski lupa bawa tikar tapi tetap betah, hihihi.

Meski kesannya santai, tapi kami mendapatkan banyak ilmu. Latar belakang kami yang berbeda membuat kami bisa bertukar infomasi-informasi seputar HIV/AIDS. Gue jadi tahu bagaimana ARV itu bekerja (well, sebenarnya gue menulis tentang ini di skripsi, tapi nggak terlalu mendalam), gue juga jadi tahu bagaimana ARV bisa menyebar ke seluruh Indonesia. Bahkan kami berbagi hal-hal yang mendasar, seperti misalnya tentang hal-hal yang bisa menularkan HIV, karena ada beberapa dari kami yang belum tahu. Dan itu membuat gue sangat sangat sangat salut, mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang HIV/AIDS karena mereka peduli, bukan ‘hanya’ karena ada teman atau keluarga mereka yang mengidap :)

Piknik ini sepertinya sudah cukup untuk menjelaskan tentang apa yang ingin disampaikan oleh OBS. Kami makan bersama, duduk bersama, saling berangkulan tanpa melihat latar belakang. Kami semua sama, ODHA atau bukan it doesn’t matter. Itulah kekuatan dari sharing, kita jadi nggak menduga-duga dan takut karena sesuatu yang nggak jelas. Jika nggak ada yang bilang, orang yang melihat kami pasti nggak ada yang bisa membedakan siapa diantara kami yang ODHA dan bukan :) Dulu gue merasa Mika sama saja seperti gue, nggak ada yang membedakan kami apalagi kami saling jatuh cinta. Tapi orang-orang bilang itu karena gue nggak mengerti apa itu HIV/AIDS, karena gue nggak tahu kenapa Mika bisa begitu. Setelah dewasa gue sadar bahwa gue nggak salah, tapi merekalah yang memberikan prasangka dan judgment sebelum benar-benar mengenal Mika. Padahal siapa saja bisa terjangkit HIV, bahkan anak-anak, dan memberi label pada ODHA tentu saja bukan hal yang bijak. Mereka nggak mengerikan, mereka hanya sakit. Dan kita juga bisa begitu, kan?

Nggak terasa langit semakin gelap dan adzan magrib sudah terdengar. Keasyikan kebersamaan kami membuat waktu nggak terasa. Kami betah saja duduk berlama-lama beralaskan rumput karena admin OBS lupa membawa tikar, hihihi. Sebelum ditutup ada beberapa hadiah yang dibagikan. Semua yang hadir mendapatkan stiker ODHA Berhak Sehat dan salah seorang peserta, Syifa mendapatkan hadiah istimewa berupa T shirt karena sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Gue juga mendapatkan sebuah buku yang berisi kumpulan cerita pendek dari IPPI Indonesia yang berjudul “Aku Kartini Bernyawa Sembilan”, senang sekali :) Dan untuk teman-teman baru di sana gue juga membawa 2  buah novel “Karena Cinta Itu Sempurna” yang berisi biografi mini gue termasuk menceritakan saat-saat gue bersama Mika. Semoga saja memberi manfaat :)

Ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta dapat hadiah istimewa! Hihihi. Congrats, Syifa! :)

Diwakili Ayu, gue mendapatkan buku kumpulan cerpen "Aku Kartini Bernyawa Sembilan" :)

Novel Karena Cinta Itu Senpurna untuk Andri dan Anis :)

Sebelum berpamitan kami berfoto bersama. Perasaan gue begitu senang dan bangga atas piknik yang diselenggarakan oleh ODHA Berhak Sehat ini. Ayu, Hendra, Anis, Deni, Andri, Sindi, Lina, Syifa dan Rini menjadi teman-teman baru gue. Sungguh luar biasa apa yang mereka lakukan, membuka diri untuk berbagi dan menerima ilmu-ilmu baru. Menurut gue membuka diri untuk hal baru adalah hal yang indah. Dulu gue nggak tahu apa-apa soal scoliosis dan baru mencaritahu setelah gue sendiri mengidap scoliosis di usia 13 tahun. Gue juga baru mencari tahu tentang HIV/AIDS setelah gue berpacaran dengan Mika. Memang nggak ada kata terlambat, tapi mencari tahu karena kita peduli dan bukan karena merasa “harus” akan lebih baik. Itu membuat kita open minded dan menghentikan dari prasangka-prasangka akibat keenggaktahuan kita terhadap suatu hal. Rini dan Syifa ingin tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS setelah membaca novel “Waktu Aku sama Mika”. Mereka nggak mengenal Mika, tapi mereka peduli dan ingin melakukan perubahan. Jika mereka bisa, gue percaya semua juga bisa. Langkah ODHA Berhak Sehat ini mungkin terlihat kecil, kami hanya sekelompok orang. Tapi bayangkan jika setelah pulang semuanya membagi kisah tentang pertemuan ini pada teman-teman, keluarga atau bahkan di sosial media... 
Let’s start sharing! ;)

Berpose dengan stiker dari ODHA Berhak Sehat :)

Thanks a lot untuk Bapak yang menemani gue sepanjang sore. Love you, Daddy! :)

Link:
-          ODHA Berhak Sehat
-          IPPI Indonesia
-          Indi Sugar


Lollipop girl,


Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 12 Oktober 2014

Lagu Anak-Anak Indonesia Favorit Indi Sugar :)

Teman-teman masih ingat nggak sih waktu TV masih ramai oleh penyanyi-penyanyi cilik dan lagu-lagunya bagus? Well, kalau yang usianya di bawah gue kayanya nggak ingat ya (atau belum lahir), soalnya sepertinya yang seusia gue ini jadi generasi terakhir yang sempat menikmati tayangan keren di TV, hihihi.

Banyak sekali nama-nama yang muncul, ada yang betulan bisa bernyanyi ada juga yang belum bisa dan memanfaatkan "cute factor". Tapi semuanya menghibur dan kerennya mereka tetap bergaya anak-anak meskipun kalau di "hari ini" yang seusia mereka sudah pada bikin girlband atau boyband :p 

Gue punya beberapa favorit. Dulu setiap kali ada Trio Kwek-Kwek di TV pasti gue langsung duduk manis di depan TV. Mereka keren, kecil-kecil harmonisasi suaranya sudah bagus. Pernah suatu kali waktu sedang mandi gue mendengar ada suara mereka di TV. Berhubung lagu yang sedang dinyanyikan belum pernah lihat video clip nya, gue langsung buru-buru keluar kamar mandi deh meskipun masih basah kuyup, hehehe. Gue juga suka Kenny. Actually I had a 'mini crush' on him, lol. Meskipun one hit wonder tapi lagu yang berjudul "Cinta Untuk Mama" itu sangat berbekas di hati gue, sampai video clipnya saja gue hapal alurnya :p Yang lainnya tentu saja Sherina. Siapa sih yang nggak ikut menghayal-hayal waktu nonton "Petualangan Sherina"? :D

Untuk tribute pada penyanyi-penyanyi cilik yang sekarang sudah pada besar itu, gue menyanyikan lagu-lagu mereka. Tentu saja nggak semua, tapi yang cukup mudah untuk diikuti karena gue bukan penyanyi, hehehe. Tapi selain untuk tribute gue memang masih sering bernyanyi lagu anak-anak, lho di saat shower time. Ya, selang-seling dengan lagu rock tentunya :D 
Ini dia beberapa lagu yang gue nyanyikan, yang direkam seadanya dan hanya one take karena kalau lama-lama gue pasti langsung malu-malu, hihi.

1. Pelangiku


Lagu ini diambil dari album pertama Sherina Munaf yang berjudul Andai Aku Besar Nanti dan diciptakan oleh Elfa Secioria. Waktu kecil gue amaze sekali dengan gaya Sherina di video clip ini yang memakai kemeja kedodoran. Gue sempat coba, tapi malah berakhir seperti Scarecrow dari dongeng Wizard of Oz, hahaha :)

2. Cinta Untuk Mama


Waktu lihat video clip nya, gue langsung terharu sama Kenny yang dicuekin mamanya karena sibuk bekerja, sniff. Hihihi. Beberapa waktu lalu gue sempat bertanya pada pencipta lagunya, Seli Pontoh tentang keberadaan si 'little boy'. Ternyata kabar terakhirnya Kenny sudah bekerja, lho. Wah, semoga suatu hari ia rilis album baru ya. Kangen sama suara melengking nan naif nya :)

3. Andai Aku Punya Sayap


Nah, kalau lagu ini awalnya gue malah nggak perhatikan. Mungkin karena video clip nya agak-agak gloomy, tentang anak-anak yang ayahnya meninggal. Tapi setelah dengar liriknya ternyata indah dan nggak ada gloomy-gloomy nya, malah imajinatif, hihi. Lagu ini dinyanyikan oleh Ita dan Tara. Jadi penasaran, apakah ini satu-satunya lagu anak-anak yang Dewi Lestari ciptakan? :)

Kalau teman-teman, apa lagu anak-anak kesukaan kalian? Share di kolom komentar, ya! ;)

smile,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 06 Oktober 2014

Undangan Piknik untuk seluruh Indi's Friend di Bandung! :)

Howdy-do my pals? Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya :)
Gue mau mengundang teman-teman, terutama yang tinggal di daerah Bandung untuk ikutan piknik, nih. Iya, piknik sungguhan di taman rumput dengan bekal makanan dari rumah sambil mengobrol akrab!:D Mungkin beberapa dari teman-teman ada yang sudah lama nggak merasakan keseruan piknik karena kesibukan atau sulitnya menemukan tempat yang tepat. Nah, sekarang waktunya kita bernostalgia sambil menambah pengetahuan ---dengan cara yang fun tentunya--- :)


Piknik yang akan dilaksanakan tanggal 11 Oktober pukul 3 sore di Taman Cibeunying ini diadakan oleh ODHA Berhak Sehat atau biasa disingkat OBS. Teman-teman mungkin sudah sering mendengar tentang OBS di berbagai sosial media, terutama di Facebook dan Twitter. Nah, kalau belum kenal gue ceritakan sedikit tentang OBS, ya. ODHA Berhak Sehat adalah movement yang mengajak masyarakat dan komunitas HIV/AIDS untuk lebih paham tentang isu HIV/AIDS. Salah satu misi OBS adalah mengurasi stigma dan diskriminasi yang sering kali didapat oleh ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Kalau teman-teman sudah pernah membaca novel-novel gue, "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" atau sudah pernah menonton versi filmnya, "MIKA", mungkin sedikit banyak tahu tentang apa itu HIV/AIDS. Karena di sana gue menceritakan tentang hari-hari gue ketika berpacaran dengan Mika, laki-laki luar biasa yang juga seorang AIDS fighter :)

Cara ikutan piknik ini mudah sekali, lho;
1. Follow akun twitter gue (@missbabbitt) dan OBS (@ODHABerhakSehat)
2. Twitpic foto kalian yang sedang memakai pita merah ke @missbabbitt dan @ODHABerhakSehat dengan hastag #ikutandong #kopdarOBSBandung
3. Setelah itu OBS akan memfollow balik dan mengirimkan DM yang berisi detail acara.


Agar nanti mudah untuk saling mengenali, jangan lupa sematkan pita merah di pakaian teman-teman. Dan tentu saja jangan lupa bawa bekal masing-masing untuk piknik di bawah langit kota Bandung yang indah :) Tuh, sudah kebayang betapa serunya kan? Sambil cemal-cemil kita juga bisa lebih mengenal apa itu HIV/AIDS. Jadi nanti teman-teman bisa lebih tahu tentang apa yang dulu terjadi pada Mika. Dijamin memberikan banyak manfaat. Dan nanti kita akan pulang nggak hanya dengan pengetahuan baru tapi juga bawa oleh-oleh goodie bag dari OBS, lho! Ayo, twit pic ditunggu mulai sekarang sampai tanggal 8 Oktober 2014, ya! :)

sugar kecilnya Mika,

Indi 


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 28 September 2014

Requested post: How to Donate your Hair? :)

Hai bloggies, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik, dan untuk yang sedang sakit tentu saja semoga cepat sembuh :) Keadaan gue sendiri baik dan bersemangat, ada beberapa hal baru yang sedang gue kerjakan dan ada beberapa rencana untuk akhir tahun ini. Selalu excited jika mempunyai pengalaman baru, hihihi. Nanti kalau semuanya sudah ‘siap’ akan gue ceritakan di sini. Doakan saja semua berjalan lancar, ya ;)
Sebelum gue bercerita tentang ‘hal-hal baru’, sekarang gue mau berbagi cerita tentang yang baru saja dialami. Mungkin teman-teman masih ada yang ingat kalau beberapa bulan yang lalu gue mendonasikan rambut ke Locks of Love. Nah, gue baru saja menerima kartupos dari mereka. Isinya ucapan terima kasih atas donasi gue untuk anak-anak yang membutuhkan wig alias rambut palsu. Kebanyakan yang menerima wig donasi dari mereka adalah pengidap alopecia areta, yang sampai sekarang belum ada obatnya. Dan sisanya adalah pasien kanker, korban luka bakar dan beberapa penyakit lain yang menyebabkan rontoknya rambut secara permanen :( Meskipun gue nggak bisa bertemu dengan anak yang menerima rambut gue secara langsung, tapi gue senang karena seenggaknya ada bagian kecil dari gue yang membuatnya tersenyum :)

Karena menerima kartupos tersebut gue jadi ingat bahwa ada banyak teman-teman di blog, Facebook, Twitter dan Instagram yang bertanya pada gue tentang cara mendonasikan rambut. Well, sebenarnya gue sudah pernah ceritakan plus share videonya di sini. Tapi berhubung nggak semuanya pernah baca post itu, jadi gue putuskan untuk membanginya lagi. Kali ini akan gue jelaskan secara step by step agar mudah diikuti ditambah beberapa daftar beberapa organisasi (plus alamatnya) yang menerima donasi rambut.
Okay, here we go... :)
  •  Pertama, cuci bersih rambut lalu keringkan. Jika memiliki rambut keriting, coba catok lurus terlebih dahulu agar mudah mengukur panjangnya. Pastikan kondisi rambut sehat dan belum pernah mengalami proses bleaching. Jika hanya di cat itu masih bisa diterima.
  • Ikat rambut, lalu ukur dengan penggaris untuk memastikan panjang yang tepat. Letakan penggaris di bawah ikat rambut. Jika rambut sangat tebal boleh ikat rambut jadi beberapa bagian. Jangan lupa untuk ikat ujung bawah rambutnya juga. (Catatan penting: Donasi rambut minimal panjang 10 inci).
  •  Gunting rambut di ATAS ikat rambut dengan rapi.
  •  Masukan rambut yang sudah dipotong ke dalam kantong zip lock (dapatkan di toko plastik, toko buku atau toko peralatan membuat kue).
  •  (Optional) Di selembar kertas, tulis nama, alamat lengkap dan alamat email kita. Ini agar mereka bisa mengirimkan sertifikat atau ucapan terima kasih atas donasi kita.
  • Lalu masukan zip lock yang sudah berisi rambut dan kertasnya ke dalam amplop ber ‘pad’. Jika sulit untuk menemukannya, kita bisa melapisi amplop coklat biasa dengan bubble wrap.
  •  Jangan lupa pastikan kita menulis alamat organisasi dengan benar dan dengan nilai prangko yang cukup agar paket rambut kita nggak ‘nyangkut’ di suatu tempat. Rambut yang sudah terlalu lama, apalagi rusak nggak bisa dibuat wig.



  • Rambut yang beruban juga diterima, lho. Tapi nggak dengan rambut extension atau dread lock :)

  

Bagaimana? Mudah sekali, kan ;) Mudah-mudahan step by step dari gue bisa dipahami, ya. Sedikit tips, pastikan orang yang membantu memotong rambut mengerti dengan step by step nya. Karena kesalahan kecil seperti memotong rambut di bawah karet misalnya, bisa membuat rambut tercecer dan terpaksa dibuang, deh. Atau teman-teman bisa tunjukan video yang gue share pada stylish di salon atau teman yang membantu sebelum mulai memotong rambut :)

Jika ada yang menebak asalan gue mendonasikan rambut karena pernah terkena tumor payudara, maka jawabannya adalah: salah, hehehe. Sebenarnya ide ini muncul karena nggak sengaja. Teman-teman gue sering berkomentar tentang betapa cepatnya rambut gue panjang. Dalam 1 bulan saja bisa sampai 2 kali ke salon untuk memotong poni. Dan karena gue nggak terlalu nyaman dengan rambut panjang, maka secara rutin rambut gue disapu begitu saja di lantai salon bahkan sebelum menyentuh bahu. Tanpa sadar selama ini ternyata gue menyia-nyiakan rambut, padahal banyak sekali orang yang menginginkannya. Sejak itulah gue bertekad untuk memanjangkan rambut selama 6 bulan (dan melewati bahu, hahaha) lalu mendonasikannya dengan menyisakan panjang rambut di bawah telinga :)
Menurut gue donasi rambut juga cocok untuk teman-teman yang takut jarum suntik atau terpaksa nggak bisa mendonasikan darah karena mengidap penyakit yang ditularkan lewat darah. Donasi rambut bisa untuk siapa saja, bahkan anak-anak sekalipun selama memiliki rambut yang sehat dan panjang rambut yang cukup.



Hari ini, 5 bulan setelah berdonasi rambut gue sudah tumbuh sekitar 9 cm. Nggak sabar rasanya menunggu rambut gue kembali melewati bahu dan didonasikan lagi :) Rambut palsu memang nggak bisa menyembuhkan alopecia areata, kanker atau luka bakar. Sebagai perempuan yang sudah 15 tahun hidup bersama scoliosis gue anggap rambut palsu sama seperti jaket yang dulu sering gue pakai. Gue mengerti betul bahwa jaket memang nggak bisa menyembuhkan scoliosis. Tapi dengan memakainya gue bisa berbaur dengan teman-teman sebaya dan mereka menilai tanpa melihat apa gue idap, secara netral tanpa merasa ‘kasihan’ sebelum melihat kepribadian gue. Dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar :) Bukan berarti gue nggak bahagia dengan yang Tuhan berikan. Gue sangat bersyukur dan bangga dengan tubuh yang dirancang secara spesial oleh Tuhan khusus untuk gue. Tapi sesekali gue ingin dilihat secara ‘netral’, dan gue percaya semua orang pun begitu :) Trust me, ada anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan rambut. Dan hanya dengan 10 inci dari rambut yang kita punya bisa membuatnya tersenyum lebar :)


Donasikan rambut ke sini:
Locks of Love
234 Southern Blvd.
West Palm Beach, FL 33405-2701

Little Princess Trust
Sheridan House
114-116 Western Road 
HOVE
BN3 1DD (UK)

Pantene Beautiful Lengths
Attn: 192-123
806 SE 18th Ave.
Grand Rapids, MN 55744

Wigs for Kids
4231 Center Ridge Road, Westlake, Ohio 44145

Shave for Hope
Ini event Indonesia, belum ada informasi lagi kapan akan diadakan. Kontak mereka di twitter: @shaveforhope


cheers,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 21 September 2014

Seorang Guru Berusia 6 Tahun :)


Keponakan gue yang baru berusia 6 tahun suka sekali lihat-lihat foto atau nonton video di handphone gue. Kalau ke rumah, dia sering request, 
"Kak, lihat video teman Kakak yang main gitar itu, dong."
Hehe, maksudnya John Frusciante, idola gue, tapi dia selalu menganggap apa yang ada di handphone gue itu 'teman' atau 'saudara' :)
Keponakan gue ini belum bisa main gitar, bahkan belum pernah pegang gitar sungguhan, tapi selalu senang jika melihat John Frusciante bermain gitar. Belakangan dia mulai perhatikan kalau di tangan John banyak abses. Tadi dia bertanya,
"Kak, tangan Om nya sakit, ya?"
Gue sebenarnya agak deg-degan, karena menjelaskan tentang "abses yang disebabkan penggunaan heroin" pada anak usia 6 tahun bukan pilihan yang bijak. Jadi gue putuskan untuk bilang,
"Iya, tangan Om nya lagi sakit."
Keponakan gue lalu minta gue pause videonya, dia mengamati tangan John lama sekali. Dengan jarinya ia membelai monitor, seperti menenangkan anak kecil yang baru saja terluka. Dengan sungguh-sungguh dia berkata,
"Cepat sembuh ya, Om," lalu memberinya ciuman kecil.

Mendengar dan melihat reaksinya gue langsung tertawa sekaligus terharu. Anak berusia 6 tahun menunjukan empati pada seseorang yang bahkan belum pernah dia temui. Kita (well, gue) rasanya harus belajar banyak dari anak-anak. Betapa mereka nggak pernah menjudge seseorang hanya karena luarnya. Dan saat mereka bertanya, mereka bertanya karena peduli. Bukan karena "kepo" dan ingin mendapat jawaban untuk kemudian sekedar berkomentar, "Oh..." tanpa empati, sekedar memuaskan rasa penasaran.
God bless you, little boy. Semoga kemurnian hatimu bertahan sampai selamanya. Amen... :)



"My arms are... are pretty badly scarred. I guess people are always wondering so I might as well say that.. um.. that the way my arms got the way that they look, um... it was from abscesses, which came from shooting huge amounts of drugs. The result could have been a lot worse, so I'm happy to have the scars from a period of my life when I was living destructively, just as a... as a sign of what I've been through. And, uh... these days, I-I'm (tergagap), you know, being healthy and taking care of my body is so important to me. But looking at it here, is seems like my arms have gotten better since then, so... that's nice to see." 


proud auntie,

Indi 

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Sabtu, 06 September 2014

"Guruku Berbulu dan Berekor", a Charity Novel :)


Hi Bloggies, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik, ya. Dan kalau ada yang sedang sakit, semoga cepat sembuh :)

Novel Guruku Berbulu dan Berekor ditemani foto Veggie waktu bayi :)

Gue tumbuh di tengah keluarga yang mencintai hewan. Sejak kecil selalu saja ada hewan peliharaan di rumah. Dari mulai burung, ikan, kucing, hamster, kura-kura, tikus sampai anjing. Gue selalu diajarkan oleh Ibu dan Bapak untuk mencintai dan menghormati sesama makhluk Tuhan, termasuk hewan. Kami memastikan hewan-hewan yang tinggal di rumah nyaman dan terawat, tanpa berarti memanusiakan mereka. Hingga mereka menjadi lebih dari sebagai hewan peliharaan, tapi juga menjadi sahabat dan bahkan guru! :)

Ketika gue beranjak remaja gue mempunyai hewan peliharaan sendiri, seekor anjing golden retriever betina bernama Veggie. Kami tak terpisahkan, kemana pun gue pergi Veggie (hampir) pasti ikut. Termasuk pergi keluar kota, kami berbagi bangku belakang mobil, hihihi. Ketika Veggie tumbuh besar dokter mengatakan bahwa ia mengidap epilepsi, nggak bisa disembuhkan. Yang bisa gue dan keluarga lakukan hanya berdoa dan memastikan ia nyaman selama sisa hidupnya. Meskipun begitu, Veggie tetap menjadi anjing yang penuh semangat. Ia belajar banyak trik baru dan selalu melindungi gue. Pernah suatu kali Iie (tante gue) pura-pura sakiti gue, dan Veggie dengan sigap langsung menyerangnya! 

Sayangnya di usianya yang belum 7 tahun Veggie harus pulang ke surga. Gue dan keluarga merasa kehilangan sekali. Bukan hanya sebagai hewan peliharaan, tapi Veggie juga menjadi sahabat, guru sekaligus motivator yang mengajarkan kami agar selalu bersemangat dalam keadaan apapun. 

Pengalaman gue dan keluarga dengan hewan peliharaan kami, terutama Veggie menginspirasi gue untuk menulis sebuah novel yang didedikasikan untuk hewan-hewan di seluruh dunia. Gue percaya, bukan hanya kami yang mempunyai pengalaman mengesankan dengan hewan peliharaan. Maka gue mengajak orang-orang yang mempunyai/pernah mempunyai hewan peliharaan untuk menuliskan kisah mereka. Melalui internet gue mengenalkan project ini dan mempersilakan siapapun untuk mengirimkan kisahnya pada gue. Yup, siapapun: dari berbagai profesi, usia dan latar belakang. Bahkan ada diantara mereka yang mengirimkan rekaman audio karena (merasa) nggak bisa menulis. Kisah-kisah itu lalu gue susun jadi sebuah naskah, termasuk kisah tentang Veggie si anjing pemberani. Lalu jadilah novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" :)

Gue sadar meskipun banyak yang mencintai hewan, tapi ada juga orang-orang yang memperlakukan hewan seolah benda nggak bernyawa. Misalnya saja, ada yang begitu tertarik dengan keimutan puppy di balik kaca pet shop, membelinya dan memamerkannya pada teman dan kerabat. Tapi setelah puppy itu tumbuh lalu menjadi anjing tua, ia pun dijual kembali atau malah diterlantarkan begitu saja... 
Jadi gue putuskan royalti dari novel "Guruku Berbulu dan Berekor" digunakan untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan. Setiap royalti yang gue terima akan disalurkan pada penampungan-penampungan hewan di seluruh Indonesia. Dan dengan kisah-kisah di novel ini gue harap bisa membantu menyebarkan pesan kepedulian pada hewan-hewan di sekitar kita. Untuk mencintai dan menghormati mereka, karena setiap mahkluk Tuhan pasti ada tempat dan fungsinya masing-masing di dunia ini, bukan untuk disakiti.


Sejak awal novel "Guruku Berbulu dan Berekor" beredar di pasaran, gue sudah sadar dengan kesulitan yang akan gue hadapi. Genre seperti novel ini masih jarang peminatnya, apalagi pembaca mengharapkan gue menulis lebih banyak lagi tentang Mika (dari novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna"). Tapi gue percaya dengan maksud baik dan kesungguh-sungguhan gue ketika menulis novel ini pasti akan membuahkan hasil. Entah itu besar, entah itu kecil, tapi gue percaya "Guruku Berbulu dan Berekor" akan mempunyai tempat istimewa di hati pembaca dan para penyayang hewan :)

Setiap gue membaca komentar-komentar pembaca tentang novel ini rasanya hati gue hangat dan semakin optimis akan kehidupan hewan-hewan di sekitar kita. Gue percaya semuanya akan semakin membaik. 

"Aku pernah baca buku kakak yang judulnya “Guruku Berbulu dan Berekor“. Awalnya aku ngeliat judulnya itu ngerasa unik gitu, jadi tertarik untuk baca. Ternyata isi bukunya juga menarik, klop deh." 
(Zia)

"Ada resensi Guruku Berbulu dan Berekor (di majalah Gadis)  yang membuat aku membeli bukunya. Dan ternyata memang bener-bener seru..." 
(Angie dan Sanae)

"Setelah membaca Guruku berbulu dan Berekor jadi kepengen nambah hewan peliharaan lagi."
(Andre Prasyawan)


Apalagi setelah gue menerima royaltinya dan menyalurkannya pada hewan-hewan yang membutuhkan. Perasaan senang dan harunya benar-benar nggak bisa diungkapkan! Yang pasti gue berterima kasih dan bersyukur pada teman-teman yang sudah membantu project ini, baik dengan menyumbangkan kisah atau dengan membeli novel "Guruku Berbulu dan Berekor". Setelah royalti pertama didonasikan pada ARAC (Animal Rescue and Adoption Center) atau adopsianjing.com yang merupakan komunitas non formal yang menggalang bantuan bagi para hewan, royalti kedua yang gue terima sudah didonasikan pada 2 ekor anjing golden retriever yang diterlantarkan di jalan tol. Oleh Mbak Reny (penemu dan pe-rescue) mereka diberi nama Dhana dan Dhani. Mereka berdua dalam keadaan sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk pulih. Semoga donasi dari novel "Guruku Berbulu dan Berekor" bisa membantu mereka. Amen.... :)


Perjalanan novel ini tentu masih jauh. Tujuan project gue ini baru dikenal oleh sebagian kecil orang, tapi gue nggak akan berhenti berusaha. Gue yakin langkah kecil gue jika dibantu dengan teman-teman semua maka akan lebih cepat sampai. Jadi jika teman-teman ingin membantu mewujudkan kehidupan yang lebih baik untuk hewan-hewan di sekitar kita melalui novel "Guruku Berbulu dan Berekor", kalian bisa membelinya dengan harga Rp. 45.000 di Indi Sugar Official Store. Caranya cukup SMS atau whatsapp ke 081322339469. Dan seluruh royalti akan disumbangkan pada penampungan-penampungan hewan di Indonesia.
Selalu menyenangkan jika bisa membantu sesama mahkluk hidup, kan? :)



"Menyelamatkan seekor hewan tidak akan mengubah dunia, tapi akan mengubah dunia untuk hewan itu..."
(Guruku Berbulu dan Berekor, halaman 17)

salam,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469