Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2017

Scoliosis, HIV/AIDS dan Skripsi

Sore itu aku menunggu Bapak pulang dengan nggak sabar. Gue ada janji dengan seseorang pukul 4 sore sementara waktu sudah menunjukan pukul setengah 4 sore, ---lebih sedikit. Desember selalu menjadi bulan yang sibuk untuk keluargaku. Ibu dan Bapak sibuk dengan pekerjaannya di bidang fashion, sementara aku sibuk dengan kegiatan yang berhubungan dengan hari AIDS sedunia. Tapi hari itu aku berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang mahasiswi dari salah satu universitas di Bandung. Aku sudah berjanji jauh-jauh hari, jadi meskipun sebentar aku harus bisa.

Menunggu Bapak untuk mengantarkanku wawancara.

Waktu akhirnya Bapak datang aku masih belum bisa lega. Sepanjang jalan sangat macet. Mungkin karena tempat kami janjian berada di pusat kota, mungkin karena banyak yang sedang menghabiskan libur akhir tahun, ---atau mungkin juga karena keduanya. Setelah masuk area parkir aku jadi agak menyesal karena memilih mall sebagai tempat pertemuan. Aku dan Bapak harus memutar beberapa kali sebelum menemukan tempat yang kosong. Uh, 15 menit, lho... Padahal maksudku memilih mall agar tempatnya mudah dijangkau dan jaraknya fair bagi kedua belah pihak, tapi malah begini :'D Kalau dipikir lucu juga ya, seharusnya sebagai warga Bandung aku sadar kalau musim liburan Bandung pasti jadi milik bersama :p

Seperti yang aku duga, Dyah, ---nama mahasiswi itu, sudah menungguku di area food court. Ah, rasanya nggak enak sekali karena sudah membuatnya menunggu selama 15 menit:( Dyah ingin mewawancaraiku sebagai narasumber untuk skripsinya yang bertema scoliosis. Rupanya ia juga seorang scolioser, ---yang kurvanya lebih kecil dariku, dan dulu sempat terapi di tempat yang sama denganku. Tanpa berlama-lama ia langsung mengeluarkan handphonenya untuk merekam dan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku sudah sering menjadi narasumber, ---bahkan sebelum skripsiku sendiri selesai, hehehe, ---tapi kali ini agak berbeda karena pertanyaan-pertanyaan Dyah yang unik.

Sama seperti yang sudah-sudah, selalu ada pertanyaan 'standar' seperti, kapan aku tahu mengidap scoliosis dan tentang terapi-terapi apa saja yang sudah pernah aku lakukan. Tapi lalu Dyah bertanya tentang terapi favorite dan least favorite ku. Hahaha, biasanya pertanyaan seperti itu diajukan kalau bicara soal film, musik atau bahkan makanan kan :D Dyah juga bertanya tentang apa yang aku pikirkan jika ada game dengan tema scoliosis. Well, honestly meski aku berusaha 'memasyarakatkan' scoliosis dengan cara menyematkannya di daily basis, tapi soal game sama sekali belum pernah terpikir :O Genius! Rupanya Dyah memang ada rencana untuk membuat game scoliosis. Aku belum tahu seperti apa detailnya, tapi mendengarnya saja sudah membuatku super happy :D

Setelah wawancara selesai aku langsung pamit untuk pulang. Agak terburu-buru, tapi aku pastikan Dyah mendapatkan semua jawaban yang ia butuhkan. Aku berpesan padanya jika masih ada yang kurang bisa mengirimiku email dan akan kujawab kemudian. Fiuh, lega rasanya karena akhirnya ada janji wawancara skripsi di Bulan Desember yang terpenuhi. Sebenarnya di bulan yang sama cukup banyak yang memintaku menjadi narasumber, tapi sayangnya terpaksa harus aku tolak karena waktunya kurang pas. Aku selalu berusaha untuk menyempatkan memenuhi meskipun sebatas via email atau telepon. Kalau ada yang terlewat rasanya 'ganjel' sekali. Mungkin teman-teman heran kenapa aku segitu ngototnya soal skripsi ini. Memang apa untungnya untukku?

Bersama Dyah. Meski sedikit terburu-buru tapi semua pertanyaan sudah terjawab :)



Scoliosis, HIV/AIDS; Dua Hal Berbeda tapi Sama yang Jarang Dibicarakan

Aku didiagnosis mengidap scoliosis ketika berusia 13 tahun dan 2 tahun kemudian mengenal Mika yang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Selain saling mencintai, kami juga punya persamaan lain yaitu memiliki 'sesuatu' di tubuh kami yang somehow orang jarang sekali mau membicarakannya. Aku masih ingat dulu ketika awal menggunakan brace (penyangga tulang belakang untuk scoliosis), keluarga besarku enggan sekali membicarakannya. Aku nggak yakin dengan alasan tepatnya. Entah karena denial, berpura-pura brace ku invisible atau malah karena menganggap scoliosis bukan sesuatu hal yang penting. Ibu dan Bapak pun awalnya begitu, mereka hampir nggak pernah membicarakannya kecuali jika memang harus sekali, ---seperti misalnya saat mendaftar ke sekolah baru. 

Karena sudah terbiasa aku pun jadi sempat menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Aku jadi ikut enggan membicarakannya, bahkan saat ada teman satu kelas yang bertanya tentang kondisiku. Tapi pelan-pelan aku dan orangtua mulai sering membicarakan tentang scoliosis, terutama karena mereka akhirnya sadar bahwa apa yang aku alami bukan sekedar masalah 'kosmetik'. Ini mempengaruhiku 24 jam sehari dan sepanjang hidupku. Kami mulai berinisiatif untuk 'memasyarakatkan' scoliosis pada lingkungan sekitar. Aku di-encourage untuk memakai brace di luar baju dan bahkan menjadi narasumber untuk beberapa acara TV dengan didampingi Ibu dan Bapak.

Tapi jika bicara soal keluarga besar lain lagi ceritanya. Ada salah satu om ku yang nggak setuju jika aku bercerita tentang scoliosis di media, terutama TV. Beliau bahkan sampai mengutarakan keberatannya kepada Bapak. Alasannya sungguh membuatku tersinggung. Beliau berkata bahwa aku nggak perlu melakukan itu, dan dengan jujur soal kondisiku bisa membuat laki-laki 'berpikir dua kali' untuk dekat denganku (---padahal nggak ngaruh ya, yang naksir aku banyak, lol). Aku nggak akan cerita tentang detailnya, yang pasti ini sempat membuat orangtuaku meradang. Apalagi pernyataan om ku itu nggak mendasar; beliau hanya tahu scoliosis sebagai 'masalah' fisik. Syukurlah pada akhirnya om ku meminta maaf. Goal ku adalah agar suatu hari nggak ada lagi yang berpikir seperti beliau. Karena saat aku berbicara tentang scoliosis sebenarnya ada misi penting di dalamnya (---akan aku jelaskan di bawah).

HIV/AIDS mungkin sekilas terkesan jauh berbeda dengan scoliosis. Tapi semenjak mengenal Mika aku jadi sadar bahwa 'kondisi' kami nggak jauh berbeda. Sama seperti scoliosis, orang juga enggan membicarakan tentang HIV/AIDS. ---Bahkan lebih buruk lagi, pengidapnya mendapatkan stigma dan diskriminasi. Aku masih ingat ketika SMA teman-teman dan guru nggak begitu mengganggap Mika. Jika pun ia dibicarakan pasti hanya dari sisi negatifnya saja. Mika bisa melakukan seribu kebaikan dan orang masih juga nggak bisa melihatnya. Orang nggak akan peduli betapa Mika membuatku happy, membuatku lebih percaya diri dan hal-hal baik lainnya. Yang mereka lihat hanya satu: virus yang ia idap. Padahal Mika lebih dari itu. Mika adalah laki-laki tercerdas dengan sense of humor terbaik yang pernah aku kenal!


Speak UP! Raise the awareness!

Semakin dewasa aku semakin sadar bahwa berpura-pura dan menolak membicarakan scoliosis dan HIV/AIDS hanya membuat keadaan semakin buruk. Let's talk about scoliosis first. Berapa banyak orang yang tahu apa itu scoliosis? Berapa banyak orang yang tahu bahwa scoliosis bisa jadi sesuatu yang serius terutama jika kurva pengidapnya sudah besar? Sayangnya masih sedikit. Bahkan memiliki anggota keluarga yang mengidap scoliosis pun bukan jaminan memiliki pengetahuan yang cukup. Aku mengerti bahwa sebagian orang enggan membicarakannya karena dari luar scoliosis hanya terlihat seperti tulang yang bengkok. Padahal scoliosis bisa mempengaruhi kualitas hidup pengidapnya karena, ---of course organ tubuh lainnya pun ikut terpengaruh.

Aku bersyukur karena sekarang semakin banyak media yang bisa digunakan untuk 'bicara'. Dari berbagai macam sosial media, blog sampai situs-situs unggah video gratis. Aku bisa memberikan informasi yang benar (---well, aku berusaha) tentang scoliosis dan berbagi tentang kehidupanku sebagai seorang scolioser. Semakin banyak orang yang tahu tentang scoliosis maka semakin berkurang pula ke ignorant-an orang tentang isu ini. Scoliosis memang bukan hal yang menyenangkan, tapi deteksi dini bisa mempermudah koreksi dan penanganan pengidapnya. Sering kali aku menerima email dari para orangtua yang baru sadar anaknya mengidap scoliosis setelah menonton film Mika! Siapa sangka, hal sesederhana melihat caraku berjalan dan melihat lengkung punggungku di film bisa 'menyelamatkan' anak-anak remaja mereka. Banyak di antara mereka yang ketahuan saat kurvanya masih kecil sehingga belum membutuhkan operasi :)

Dengan berani berbicara juga membuat scolioser lain yang tadinya bersembunyi mulai bermunculan. Banyak di antara mereka yang ragu untuk bicara karena takut dibilang manja atau dikira ingin diistimewakan. Dan itu juga yang terjadi padaku dulu. Betapa takutnya untuk berbicara tentang kondisiku pada guru olahraga karena khawatir dinilai lemah dan menjadi bahan ejekan teman-teman. Dan hal terpenting yang "didapat" dari speak up adalah bisa membuat scolioser sadar bahwa mereka nggak sendirian. Saat sedang berjuang di ruang fisioterapi, saat sedang memakai brace 23 jam setiap hari, saat sedang menunggu di pinggir lapangan sementara teman-teman sekalas mengikuti pelajaran olahraga, ---mereka, kita akan ingat bahwa di suatu tempat ada scolioser lain yang juga sedang merasakan hal yang sama :)

Dan tentang Mika, aku merasa ia bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan dalam berbagai hal jika saja orang melihat ia di luar status HIV nya. Menolak untuk membicarakan, berpura-pura nggak ada yang terjadi dan meng-ignore keberadaannya hanya membuat keadaan semakin buruk. Dan yang aku maksud sebagai 'semakin buruk' bukan hanya tentang Mika, tapi juga tentang mereka. Aku berani bilang dengan menolak Mika mereka miss out banyak hal seru dan menarik tentang Mika. Mereka nggak akan pernah tahu betapa cerdas dan betapa hangatnya kepribadian Mika hanya karena mereka 'takut' dengan HIV/AIDS. Aku nggak menyalahkan mereka, karena apa yang sudah melekat selama berpuluh-puluh tahun pasti susah sekali dihilangkan. Saat mendengar HIV/AIDS yang melintas di benak kebanyakan orang pasti kesan seram. Padahal benarkah demikian?

Karena menolak membicarakannya orang terkadang lupa bahwa HIV/AIDS 'sama saja' seperti flu dan virus lainnya. Siapa saja bisa terjangkit dan belum tentu karena apa yang dilakukannya. Tahukah kalian bahwa banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang juga berstatus sebagai ODHA? Dan jika pun ada orang yang terjangkit virus HIV karena lifestyle atau sesuatu yang mereka lakukan... we are all human after all. Kita nggak punya hak untuk men-judge atau berkata hal buruk tentang mereka. Mari kita mencoba menilai seseorang 'melampaui' apa yang ia idap. Perlakukan setiap orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Terdengar klise dan sangat PPKN, ---but it works, haha, trust me. Kenapa kita mengucilkan seseorang sebelum mengenalnya lebih jauh? Padahal kita nggak tahu apa pengaruhnya orang itu terhadap diri kita, ---bahkan orang banyak jika saja diberikan kesempatan.

Aku pakai Mika sebagai contoh kecilnya saja, bahwa banyak orang di sekitarnya yang miss out dengan kepribadian luar biasa Mika (---saat mengetik ini pun aku tiba-tiba teringat dengan aksi ala 'rockstar' nya yang membanting gitar imajiner, hahaha). Kita mungkin pernah membaca berita tentang seorang anak yang dikucilkan atau diusir dari desanya karena ia mengidap HIV. Atau malah pernah menonton video tentang anak yatim piatu yang sulit diadopsi karena ia mengidap HIV. Coba bicarakan tentang HIV/AIDS, speak up, ---edukasi diri sendiri dengan fakta-faktanya maka 2 headline tersebut akan terasa janggal karena tiba-tiba kita nggak lagi melihat ada kata "HIV" di judulnya. Siapa yang tahu di masa depan apa yang terjadi dengan anak-anak itu? Mereka bisa saja calon penemu hebat, calon pemimpin hebat, ---siapa tahu. Dan kita missing out hanya karena menolak kehadiran mereka.


Scoliosis dan HIV/AIDS Sekarang

Things will get better, aku percaya itu. Perjalanan memang masing panjang. Bahkan keluarga besarku belum 100% menerima baik tentang scoliosis (baca: kalau scoliosis itu nggak lebih dari masalah kosmetik a.k.a nggak penting) juga tentang HIV/AIDS. Tapi aku percaya nggak ada hal yang sia-sia, dan yang instan pun belum tentu baik. Aku menikmati perjalananku dalam memasyarakatkan scoliosis dan menghapuskan stigma pada ODHA. Aku nggak akan pernah berhenti speak up dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun itu. Kalau ini film Toy Story, situasi sekarang mirip seperti saat Woody dan teman-teman melihat claws saat hampir dibakar di pembuangan sampah. "I see the light", hehehe (---eh, kok malah film Tangled, lol). Sepupuku yang berusia 10 tahun bisa secara santai berbicara tentang bagaimana HIV bisa menjangkiti tubuh seseorang tanpa di "sssh" oleh orangtuanya karena dianggap tabu. Dan aku pun bisa tersenyum lebar ketika iparku bercerita bertemu dengan seseorang yang menggunakan brace di luar baju dengan penuh percaya diri. 

Sekali lagi, I believe things (will) get better. Berpura-pura nggak melihat apa yang terjadi di sekitar kita nggak membuat situasi menjadi lebih baik. Speak up, ---beritahu dunia bahwa kita ada. Bukan karena ingin diistimewakan tapi karena semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan :)


Lagu yang aku ciptakan untuk teman-teman istimewa :) #scoliosisawareness


girl with a cheeky spine,

Indi

___________________________________________
*Ingin mendukungku dengan memiliki karya-karyaku? Klik www.homerianshop.com dan ketik judul novelku (Waktu Aku sama Mika/Karena Cinta Itu Sempurna/Guruku Berbulu dan Berekor) di kolom "cari".
*Ingin berkontribusi untuk novel Guruku Berbulu dan Berekor Part 2? Kirim cerita menarik dan menginspirasi kalian dengan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com. Royalti untuk didonasikan ke penampungan hewan.


___________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 24 November 2016

Malang! Aku Akan Hadir di Sana untuk Hari AIDS Sedunia :)



Hai bloggies! Nggak terasa ya sekarang sudah memasuki akhir bulan November (---dan aku masih juga belum menulis tentang acara Halloweenku di rumah, hehe). Kalau sudah masuk tanggal-tanggal segini biasanya aku jadi (semakin sering) teringat dengan Mika. Kenapa? Tentu saja karena tanggal 1 Desember yang diperingati sebagai hari AIDS sedunia sudah semakin dekat. Mungkin ada di antara kalian yang masih asing dengan Mika. Siapa ia? Mika adalah laki-laki yang aku kenal ketika baru saja lulus SMP. Kami lalu mengalami masa berpacaran yang sangaaat menyenangkan dan penuh kenangan sampai akhirnya Mika meninggal 3 tahun kemudian. Mika adalah pacar pertamaku, ---dan ia juga seorang AIDS fighter. Hari AIDS sedunia selalu mengingatkan aku padanya. Bukan hanya karena ia meninggal di bulan yang sama, tapi juga karena 'perjuangannya' melawan stigma dan diskiminasi... Mika sekarang memang sudah di surga, tapi aku nggak ingin perjuangannya berhenti, ---aku ingin melanjutkannya.

Aku lakukan sebisanya. Awalnya aku menulis kisah Mika di blog agar bisa berbagi apa yang kutahu tentangnya. ---Iya, tentang Mika, bukan tentang HIV/AIDS, karena aku ingin Mika "dinilai" dari kepribadiannya, bukan dari apa yang ia idap. Nggak disangka tulisan-tulisanku tentang Mika pun diangkat menjadi buku dengan judul "Waktu Aku sama Mika" pada tahun 2009 oleh Homerian Pustaka, dan pada tahun 2013 lalu difilmkan dengan judul "MIKA" oleh Investasi Film Indonesia. Jalanku untuk menyebarkan awareness lewat kisah Mika pun semakin terbuka. Meski pelan tapi pasti. Semakin banyak pembaca atau penonton film yang menghubungiku untuk sekedar berbagi kisah karena merasa terwakili atau malah mengucapkan terima kasih karena sebelumnya selalu "berprasangka buruk" terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Itu membuatku senang dan lega, karena artinya Mika tetap 'hidup' untuk terus berjuang :)

Selain melalui tulisan dan film aku juga melanjutkan perjuangan Mika melalui suara. Dengan senang hati aku selalu berusaha bisa untuk menghadiri undangan sebagai pembicara atau narasumber jika ada yang meminta. Media tulisan dan visual memang bagus, tapi kehadiran secara langsung tentu lebih memudahkanku untuk menyampaikan secara lebih personal. Dan tahun ini kesempatanku untuk menjadi pembiacara datang dari IFL Chapter Malang atau Indonesia Future Leaders dalam program Close the Gap, sebagai salah satu bagian dari Global Change Maker yang ingin membantu terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya pada point ke-3 (Good Health and Well-being). Dan juga visi dari UNAIDS (zero new HIV infections, zero discrimination, and zero AIDS-related deaths). Program ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara penularan dan pencegahan virus HIV, juga tentang permasalahan sosial antara ODHA dan non-ODHA yang tanpa disadari ada di lingkungan sekitar kita.

Nah, Close the Gap tahun ini mempunyai tema "Selaras Tanpa Stigma" dan mempunyai 3 rangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 27 November, 1 dan 3 Desember 2016. Aku sendiri akan berada di acara puncak, yaitu pada tanggal 3 Desember.


Selaras Tanpa Stigma 
Talkshow, Pameran Hasil Kreativitas ODHA, Pementasan Teater dari Komunitas, Bedah Film “Mika” bersama Indi Sugar
Hari & Tanggal: Sabtu, 3 Desember 2016
Tempat: Cafe Gembira
Alamat: Jl. M.T. Haryono, Ruko Istana Dinoyo Blok E1 - E2 Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang
Pukul: 11.00 - 20.00 WIB


Sesiku akan berlangsung pada pukul 2 siang, tapi aku sarankan teman-teman hadir dari awal karena acaranya pasti akan seru dan bermanfaat sekali. Kalian juga bisa ikut berkontribusi lho untuk perubahan sosial dan kesehatan ini. caranya dengan cara berdonasi melalui https://kitabisa.com/closethegap2016
By the way, aku sering sekali dikira belum bisa move on dari Mika. Well, semua yang aku lakukan ini awalnya memang darinya. Tapi setelah semakin dewasa aku sadar bahwa ini lebih luas daripada yang kukira. Ini tetap untuk Mika, tapi bukan segalanya tentang Mika. Aku juga melakukan ini untuk Mika-Mika yang lain, agar kita sebagai manusia bisa hidup berdampingan tanpa prasangka hanya karena sesuatu yang kita idap. Dan aku yakin nggak sedang diam di tempat. Aku terus maju. Melanjutkan hidupku, ---tapi tanpa perlu melupakan Mika :)


smile,

Indi

_______________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Sabtu, 06 Februari 2016

Dan Bulan Februari Dimulai Dengan...

Hi bloggieeeees! It's me again Indi! Hihihi, tumben ya baru 2 hari aku langsung bikin post baru. Padahal kan biasanya 2 minggu sekali saja sudah hebat :p Sebenarnya aku nggak sedang dikejar deadline (yaiyalah), tapi karena koneksi internet di rumah sedang up and down, ---kebanyakan down nya---, jadi aku putuskan untuk menulis sesuatu di sini. Mumpung sekarang koneksi sedang lancar. Well, bukan menulis sesuatu yang panjang, sih. Hanya ingin share apa yang terjadi belakangan. Bulan Februari memang baru dimulai, tapi aku sudah menerima beberapa surprise. Mau tahu apa saja? :)

1. Menerima Buku Profile Kartini Next Generation Award 2015
Yay, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Tahun 2015 lalu aku menjadi salah satu finalis dari 22 perempuan di Kartini Next Generation Award. Ini adalah ajang untuk perempuan-perempuan tangguh (aduh, aku tangguh gitu? Hihi) yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Di ajang yang diadakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika ini aku menjadi finalis di bidang kesehatan dan lingkungan. Para finalis diminta untuk menulis essay untuk dibukukan yang nantinya akan dibagikan pada peserta (atau finalis) KNG berikutnya. Jadi bisa saling berbagi dan menginspirasi :) Essayku yang berjudul "Scoliosis dan AIDS, Aku Tidak Takut" berada di halaman 21 sampai 28 (iya, lumayan panjang, lol). Di sana aku bercerita tentang awal mula mengapa bisa tertarik dengan isu scoliosis dan HIV/AIDS, juga bagaimana awal tertarik dengan dunia tulis menulis. Aku senang dan bangga sekali bisa menjadi bagian dari Kartini Next Generation. Memang aku belum ada apa-apanya dibandingkan finalis yang lain, tapi bisa sampai sejauh ini membuatku semakin bersemangat untuk berkarya dan berbagi! :)






2. Terpilih Menjadi Pengajar di Kelas Inspirasi Bandung 4
Aku sudah beberapa kali diajak oleh teman-teman pembaca untuk mendaftar, tapi entah kenapa keberanianku belum muncul. Sampai akhirnya Ray yang mengajak dan kubilang "Iya". Surprise, ternyata kami berdua terpilih meskipun di bidang yang berbeda. Kami senang, bangga dan excited sekali, apalagi ketika tahu bahwa ada lebih dari 1.000 orang yang mendaftar! Well, sebenarnya aku agak nervous juga, sih, hihihi. Soalnya selama ini aku hanya pernah mengajar anak-anak balita. Tapi nggak apa-apa, yang penting aku akan berusaha sebaik mungkin. Pengalaman baru=pelajaran baru :)



3. Film MIKA Tayang Kembali di SCTV
Dalam rangka liburan SCTV kembali menayangkan film MIKA! Meskipun film ini sudah ditayangkan berkali-kali di SCTV, ---dan First Media tapi aku selalu merasa senang. Setiap menonton kembali film ini selalu mengingatkan akan masa-masa yang aku pikir "mustahil" untuk dilalui, tapi nyatanya aku survive bahkan untuk menuliskannya kembali di novel "Waktu Aku sama Mika" dan dijadikan film. Menontonnya kembali juga membuatku teringat bahwa apa yang dicapai sejauh ini adalah berkat Ibu, Bapak dan tentu saja Mika, petarung AIDS sejatiku. Kalau teman-teman belum pernah menontonnya atau kangen dengan film Mika, saksikan malam ini 6 Februari 2016 pukul 24.00 WIB di SCTV. Semoga kalian juga merasakan hal yang sama denganku ketika menontonnya :)



Perjalananku di tahun 2016 ini masih sangaaaaaat panjang. Ini baru awalnya saja. Semoga apapun yang aku lakukan ke depan akan lebih baik dari hari ini, dan aku nggak takut dengan hal-hal baru. Amen. Doa yang sama untuk kalian! Let's rock this year :)

yang di film digendong vino bastian, lol,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 09 Desember 2015

Menjadi Tamu di Acara "Komitmen Bersama Perilaku Sehat dan Bertanggung Jawab" (World AIDS Day 2015) :)

Howdy dooooo, bloggies? Waaaah, rupanya belakangan aku kurang produktif di dunia kecil kesayangan ini :( Bukan karena aku malas, tapi seperti biasanya Desember selalu jadi bulan yang sibuk, ---dan tentu jadi bulan yang penuh kesan. Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, dan di tanggal 24 Desember 11 tahun yang lalu adalah hari dimana Mika, my AIDS fighter pulang ke surga. Gak heran kan kenapa bulan ini terasa begitu berarti untukku :) Dulu aku memang bersedih dan menutup diri, tapi sekarang pengalaman hidup bersama Mika justru menjadi kesempatanku untuk berbagi, ---dan itu membuat Mika tetap hidup :)

Kesempatanku kali ini datang dari D-100 community, Kelompok Dukungan Sebaya dari RS. Borromeus Bandung. Mungkin teman-teman masih ada yang ingat perkenalan dengan mereka dimulai ketika aku diundang oleh ODHA Berhak Sehat sebagai bintang tamu di acara gathering mereka, dan di sana D-100 juga hadir. Lalu 2 bulan kemudian giliran D-100 yang mengundangku dalam rangka Hari AIDS Sedunia, kami nonton bareng film Mika di Taman Film Bandung. Dan sekarang, 1 tahun kemudian mereka mengundangku dengan konsep acara yang berbeda. D-100 bekerja sama dengan Klinik Antonius dari RS. Borromeus untuk mensosialisasikan HIV/AIDS kepada masyarakat umum dengan menggelar acara di Car Free Day Dago Bandung. Tujuannya agar yang sedang kebetulan jalan-jalan pagi pun bisa ikut bergabung ;)

Karena diadakan di area Car Free Day jadi aku harus bangun pagi-pagi sekali. Sempat hampir terlambat karena aku bangunnya kesiangan, tapi entah keajaiban darimana aku bisa mandi dengan kecepatan super hingga bisa tiba tepat waktu, hihihi. Di acara ini aku berjualan novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" yang hasilnya akan digunakan untuk membeli susu formula bagi ODHA. ---Orang dengan HIV/AIDS yang nggak bisa memberi ASI. Aku juga mendapat titipan kue-kue dari Dhian (kalau sudah menonton film Mika pasti tahu ia siapa, hihihi) yang juga untuk didonasikan. Selain D-100 dan klinik Antonius, acara ini juga didukung oleh WPA (Warga Peduli AIDS) Kebon Pisang, STKS dan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Bandung. Jadi tentu acaranya macam-macam dan super fun karena banyak yang terlibat.

Sebelum dimulai aku dengan dibantu teman-teman D-100 mengatur booth sederhana yang berisi novel-novelku dan kue-kue Dhian. Seperti biasa, wajib serba pink karena itu warna kesukaanku. Sampai-sampai taplak dan sign-nya bawa sendiri dari rumah, lho, hihihi. Sementara itu MC mulai menarik perhatian masyarakat Bandung yang sedang berjalan-jalan. Awalnya sih masih sepi, yang lalu-lalang baru beberapa saja. Tapi lama-lama jadi ramai, apalagi ada spanduk putih sebagai aksi solidaritas yang siapa saja boleh memberikan cap tangannya sebagai bentuk dukungan. Sambil mendengarkan pengetahuan tentang HIV/AIDS pengunjung juga bisa memeriksa kesehatannya secara gratis. Kapan lagi kan bisa cek tensi darah sambil olahraga pagi? :D






Pengunjung yang mampir ke booth kami juga mendapatkan hadiah-hadiah menarik. Ada goodie bag dari RS. Borromeus, pin dan lain sebagainya. Tapi tentu saja ada syaratnya, mereka harus berani bertanya atau menjawab pertanyaan seputar HIV/AIDS. Momen ini membuatku senang sekaligus miris... Aku senang karena mulai banyak masyarakat yang punya rasa penasaran tinggi dan tanpa ragu bertanya. Tapi juga miris karena masih banyak yang takut dengan ODHA. Misalnya saja ada seorang Ibu yang bilang bahwa ia nggak mau bersalaman dengan ODHA. Padahal kan HIV nggak menular melalui kontak sehari-hari. Dan seandainya saja Ibu itu tahu siapa saja di antara kami yang ODHA, mungkin beliau sudah kabur, hihihi. Untungnya rekan-rekan KPA dan WPA tetap sabar untuk menjelaskan bagaimana fakta yang sebenarnya. Kalau makan bersama, bersalaman, berciuman atau pakai toilet bersama aman untuk dilakukan, karena HIV hanya menular melalui 3 cairan tubuh, yaitu darah, cairan kelamin dan air susu ibu. Semoga saja sepulang dari sini ilmu barunya nggak pernah dilupakan, ya ;)

Aku juga berbagi tentang novel-novel yang aku tulis, dan alasan kenapa aku mengangkat isu HIV/AIDS. Surprise, ternyata ada cukup banyak pengunjung yang sudah mengenal karya-karyaku, bahkan ada yang sudah menonton film Mika juga! Rasanya seperti meet and greet dadakan karena banyak yang meminta foto dan tanda tangan, hihihi. Lucunya ada seorang pengunjung yang berkomentar, "Mika itu romantis, ya..." Aww, jadi kangen sama Mika, deh :') Tapi buatku ini adalah bonus, karena tujuan awalnya tetap untuk mensosialisasikan HIV/AIDS. Jangan sampai mereka hanya mengagumi Mika tapi saat berhadapan dengan ODHA tetap ketakutan. Seperti yang sudah sering aku bilang, aku dan Mika sebenarnya nggak jauh berbeda. Scoliosis dan HIV/AIDS sama-sama belum ada obat tuntasnya, jadi kenapa harus takut? Aku harap orang bisa stop judging seseorang dari penyakit yang diidapnya. Aku yakin semua orang juga lebih memilih sehat, jadi jangan memperburuk keadaan dengan label-label yang nggak penting :)





Oh, iya ada beberapa kejadian menarik nih waktu acara berlangsung. "Produk" yang paling laris rupanya balon-balon merah menyala yang menjadi dekorasi boothku. Sebelum novel-novel dan kue-kuenya habis, anak-anak yang lalu-lalang sudah mengantri sambil mencolek-colek aku,"Teh, Teh, minta balonnya, Teh," hihihi. Untung saja sebelum acara selesai kelarisan balon-balon itu menular pada novel-novelku. Semuanya sold out! Yay! Aku senang sekali karena artinya kami bisa berdonasi dengan maksimal. Malah ada yang membeli 1 buah novel dengan harga 3 kali lipat dari harga aslinya. Terharu sekali :') Dan yang juga berkesan ada seorang scolioser yang menghampiriku untuk bertanya tentang scoliosis dan SpineCor (soft brace). Meskipun beda tema berbagi ilmu memang bisa di mana saja, aku senang sekali kalau bisa membantu.



Waktu acara selesai, nggak terasa aku sudah berdiri selama kurang lebih 4 jam. Kalau dalam keadaan normal mungkin aku sudah pingsan (tapi tenang deh, kan dekat Rumah Sakit, lol). Nah, berhubung acaranya seru dan banyak yang membantuku selama acara berlangsung, ---termasuk Bapak dan Ray yang bergantian jadi fotografer, daya tahan tubuhku pun jadi berkali-kali lipat, hihihi. Aku selalu senang jika diundang menghadiri acara seperti ini. Karena meski sederhana dan santai, tapi pesannya lebih mudah sampai karena nggak berkesan menggurui. Dan aku harap ini bukan hanya mengenai HIV/AIDS. Tapi mengenai diri kita sebagai sesama manusia dan mahkluk Tuhan. Sudah seharusnya kita semua hidup berdampingan dan saling mendukung. Dari kecil kita sudah diajarkan bahwa setiap orang itu berbeda, tapi berbeda bukan berarti alasan untuk berprasangka buruk! ;)




yang diajarkan mika bahwa manusia itu seperti apel,

Indi

nb: Sepulang dari acara aku bertemu dengan salah seorang pembaca saat sedang mengantri di kasir supermarket. Katanya ia menyukai karyaku sejak SD dan sekarang sudah kuliah. Wah, time does really fly... mudah-mudahan aku selalu bisa berkarya dan nggak berhenti mencoba hal-hal baru. Amen... :)


__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Selasa, 01 Desember 2015

Film MIKA: Orang Baik itu ya Orang Baik :)

Orang baik itu ya orang baik, ---gak pakai "tapi". Kalau ada yang bilang Mika baik tapi dia ODHA, aku gak suka. Menilai orang itu kan seharusnya dari sifatnya, bukan dari apa yang ia idap. Aku juga gak suka kok kalau ada yang bilang, "Indi itu baik tapi dia scoliosis." Karena apa yang aku idap gak akan bikin aku jadi buruk. Hati itu bagian dari diri kita yang paling dalam. Saat kamu sakit, saat kamu sehat, jika kamu jaga hatimu selalu, kamu orang baik, ---gak pakai "tapi" :)

Dalam rangka hari AIDS Sedunia saksikan film Mika yang diinspirasi oleh novel Waktu aku Sama Mika​ dan Karena Cinta itu Sempurna​ (yang diambil dari kisah nyataku dan Mika). Hari ini pukul 23:30 WIB di SCTV. 



____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 23 Juni 2015

Berkat ODHA Awareness 2015; Akhirnya Bertemu dengan Teman-Teman Pembaca di Surabaya! :)

Howdy-do, bloggies! Semoga semuanya dalam keadaan baik, dan bagi yang sedang berpuasa semoga lancar, ya :)
Selalu senang kalau bisa kembali ke sini, ---ke dunia kecilku--- untuk bercerita. Tanggal 13 Mei 2015 lalu aku diundang sebagai bintang tamu di acara “ODHA Awareness” yang diadakan oleh Opo Jare Unika Widya Mandala Surabaya. Iya, ini diadakan di hari yang sama dengan interview-ku di Colors Radio (baca ceritanya di sini). Jadi setelah selesai dari sana aku (dan juga Bapak) diantarkan ke Hotel Oval untuk berganti baju lalu langsung dilanjutkan ke kampus Unika Widya Mandala. Maunya sih waktu itu aku segera membagi cerita lengkapnya di sini, tapi berhubung sedang ada banyak PR menulis jadi baru sempat sekarang. Meski begitu semoga teman-teman tetap bisa merasakan keseruan acaranya lewat tulisanku yang tertunda ini, ya :)

Sekitar pukul 1 siang aku dan Bapak tiba di kampus Unika Widya Mandala. Di sana aku langsung bertemu dengan kru Opo Jare dan Ibu Mita, dosen mereka. Sempat khawatir dengan raut wajahku yang (pasti) terlihat datar, tapi ternyata mereka sudah tahu bahwa aku sedang sakit demam berdarah dan gejala tipus, hehehe. Satu mug besar jus jambu pun disuguhkan untukku. Sambil meneguknya aku berdoa semoga manfaatnya segera terasa, karena meski hatiku super excited tubuh rasanya lemaaaaas sekali, ---bahkan untuk bicara pun perlu tenaga ekstra. Nggak lama kemudian aku dikenalkan dengan narasumber dari Delta Crisis dan Alvin, yang akan menjadi moderator nanti. Sambil menikmati jus jambu (well, seharusnya lunch, tapi aku belum nafsu makan) kami diberi gambaran tentang bagaimana talk show nya nanti. Audiences kabarnya sudah mulai menonton film Mika dan aku baru akan muncul setelah filmnya selesai. Hmm, sebenarnya sih awalnya aku diminta untuk ikut nonton, tapi aku khawatir akan mendadak mellow. Karena meskipun aku sudah jauh lebih kuat, tapi tetap saja melihat “kepulangan” Mika nggak akan pernah mudah.





Film sebentar lagi selesai, aku pun bersiap dengan menunggu di depan ruang Dinoyo tempat diadakannya talk show. Sambil menunggu aku mengintip buku tamu untuk melihat siapa saja yang hadir. Ternyata ada beberapa nama yang aku kenal sebagai follower di Twitter dan Instagramku! Rasa lemas pun segera terlupakan, apalagi setelah tahu bahwa ada 190 pendaftar, ---melebihi target yang hanya 100 orang. Aku sadar dengan kondisi kesehatanku, keringat dingin yang terus mengalir dan suaraku yang agak gemetar nggak bisa ditutupi. Tapi aku ingin tampil maksimal. Moment ini sudah aku tunggu sejak lama, Surabaya adalah salah satu kota yang aku ingin kunjungi. Teman-teman pembaca di sini termasuk yang paling aktif berkomunikasi denganku di media sosial, jadi jangan sampai aku menyia-nyiakan kesempatan ini :)





Sekitar 30 menit kemudian aku dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan, suasana masih agak senyap karena film MIKA baru saja selesai. Tanpa menunggu lama aku dan seorang narasumber dari Delta Crisis dipersilakan untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Alvin langsung membacakan profil kami, sementara mataku langsung melihat ke arah audiences, mencari wajah-wajah yang familiar. Tapi rupanya hanya Bapak saja yang aku kenal, hehehe, karena mengenali seseorang hanya dari akun media sosialnya saja ternyata nggak mudah :) 
Seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya, tema yang dibahas oleh acara ini memang agak berbeda dengan acara-acara yang pernah aku hadiri sebelumnya. Jika biasanya kampanye HIV/AIDS difokuskan pada informasi tentang virusnya, cara penyebarannya, dan lain sebagainya, ---acara ini justru berfokus pada ODHA, Orang dengan HIV/AIDS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Dan tentu saja yang akan aku bagi adalah kisah tentang Mika, laki-laki yang menjadi pacarku selama 3 tahun, yang juga menjadi inspirasi dari novel “Waktu Aku sama Mika” dan film “Mika”.






Alvin mengajukan pertanyaan padaku dan narasumber dari Delta Crisis. Ia bertanya apa yang membuatku mau berpacaran dengan Mika meskipun ia ODHA. Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa dulu aku bahkan nggak tahu apa itu HIV/AIDS. Meskipun Mika langsung berterus terang dengan statusnya tapi itu sama sekali nggak mempengaruhiku, karena well... itu tadi; aku sama sekali nggak tahu apa itu HIV/AIDS. Aku menyukai Mika karena kepribadiannya, ia adalah sosok laki-laki yang menyenangkan, spontan dan juga sangat melindungiku. Dulu aku adalah remaja yang pemalu, sering merasa tertinggal karena banyak aktivitasku yang terhambat karena harus memakai brace untuk scoliosisku. Tapi karena Mika aku merasa menjadi remaja yang seutuhnya. Karena Mika aku jadi tahu bagaimana rasanya makan di pinggir jalan, bolos waktu pelajaran olahraga (well, not really ‘bolos’, sih, aku kan memang nggak boleh ikut pelajaran itu), naik angkot, nongkrong di toko CD bekas, dan hal-hal seru lainnya. Setelah aku tahu apa itu HIV/AIDS pun penilaianku terhadap Mika pun sama sekali nggak berubah. Aku nggak melihat adanya alasan mengapa aku harus takut padanya. Mika hanya sedang sakit, ---sama seperti banyak orang lain di dunia. Dan Mika selalu melihatku sebagai aku, bukan dari scoliosis yang kuidap atau brace yang kupakai. Jadi kenapa aku harus memperlakukannya secara berbeda?





Setelah sesi sharing selesai audiences pun dipersilakan untuk bertanya padaku dan narasumber dari Delta Crisis. Nah, di sini aku mulai mengenali wajah-wajah mereka yang sering berkomunikasi denganku lewat media sosial :) Pertanyaan yang diajukan audiences adalah seputar ODHA dan penerimaan masyarakat terhadap mereka, ---apa saja problem yang mereka hadapi dan apa yang harus kita lakukan untuk membuat semuanya lebih baik. Menurutku dengan kita menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat, dan nggak memperlakukan mereka secara ‘berbeda’ bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan memberi label atau dengan men-judge macam-macam. Aku berprinsip bahwa aku harus memperlakukan orang lain seperti aku ingin orang lain memperlakukanku. Aku nggak mau diberi label, hanya dikenal sebagai seorang scolioser, tapi aku ingin dikenal sebagai aku, ---sebagai Indi :)

Sebelum acara ditutup Alvin bertanya tentang harapan-harapanku. Well, harapanku sederhana saja, aku ingin suatu hari jika orang bertanya tentang Mika, mereka akan bertanya, “Bagaimana rasanya berpacaran dengan Mika?”, bukan malah bertanya bagaimana rasanya berpacaran dengan ODHA. Stop memberi label, I’ve told you :) Oh, iya aku juga membawa 5 buah novel “Guruku Berbulu dan Berekor” dari Homerian Pustaka untuk 5 audiences yang beruntung. Mereka dipilih secara random, lewat sticker yang ditinggalkan di kursi penonton. Tadinya sih aku juga mau membawa lolipop, tapi berhubung sedang sakit jadi batal, deh hunting permen kesukaanku itu. Tapi semoga teman-teman tetap senang dengan hadiahnya, ya :)







Sebenarnya acara sudah selesai, tapi panitia bertanya apakah aku bersedia jika ada audiences yang ingin berfoto bersama atau meminta tandatangan. Meski lemasnya mulai terasa, tapi aku selalu bersemangat jika bisa bertemu dengan teman-teman pembaca secara langsung. Jadi tentu saja aku setuju. Ah, ternyata nggak salah aku hadir di sini meskipun sedang sakit, semuanya ramah-ramah, lho! Sambil berfoto juga aku sempat mengobrol singkat dengan mereka. Ada Regika, follower twitterku sejak lama yang rupanya juga sama scolioser. Ada Caca, pembaca setiaku dari mulai “Waktu Aku sama Mika” sampai yang bukuku yang terbaru “Conversation for Preschoolers”. Pute, pacar penyiar Colors Radio yang sebelumnya mewawancaraiku juga datang, meski sempat nyasar terlebih dahulu. Wah, benar-benar bikin terharu :’D Apalagi banyak  di antara mereka yang membawa karya-karyaku untuk ditandatangani, malah ada juga titipan dari teman-teman mereka yang berhalangan hadir. Surprise... surprise, beberapa dari mereka memberi early birthday gifts, lho, dan... rupanya mereka tahu bahwa aku senang dengan Hello Kitty, hehehe. Acara yang seharusnya selesai jam 4 sore pun molor menjadi jam 6 sore karena mereka (dan aku!) begitu antusias :)











Aku dan Bapak langsung diantarkan ke Hotel Oval, di sana sudah ada keluarga Rosa; mama, papa dan adiknya. Rupanya adiknya Rosa, Agatha ingin bertemu denganku, ia pun mengajak 2 orang temannya untuk menemuiku. Mini meet and greet pun terjadi, hihihi. Keluarganya Rosa ramah sekali, mereka menawarkan untuk mengajakku dan Bapak melihat-lihat Surabaya. Tawaran yang super menggiurkan karena aku dan Bapak sama-sama baru pertama kali ke kota ini. Tapi aku belum mengiyakan tawaran mereka karena kondisiku yang sedang drop. Aku bilang jika keesokan harinya sehat, dengan senang hati aku ingin melihat-lihat Surabaya dan ingin berfoto di patung buaya, hehehe. Setelah itu aku pamit untuk ke kamar, di sana aku makan malam di atas tempat tidur, minum obat, lalu terlelap sambil mengingat betapa menyenangkannya acara ODHA Awareness yang baru saja aku hadiri. Tentu saja nggak lupa aku berdoa agar ada ketika bangun tidur ada keajaiban dengan kesehatanku.
Well, apakah doaku terkabul? Ceritanya akan aku lanjutkan di tulisan berikutnya, ya. See ya! :D





Nb:  Atas permintaan pihak Delta Crisis aku nggak bisa menyebut nama narasumber dan membagi kisahnya di sini. Semoga melalui tulisan ini pesan acaranya yang positif tetap tersampaikan, ya :)



yang baru sehari di surabaya,

Indi

 _____________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 04 Juni 2015

Malam Renungan AIDS Nasional 2015: Aku datang untuk Mika :)

Awalnya aku nggak mau datang, tapi Hendra BBM berkali-kali untuk mengingatkanku bahwa acaranya tinggal beberapa hari lagi. 
"Nggak mau, ah, nanti sedih, terus nangis," aku balas BBM Hendra.
"Nggak, nanti kan ditemenin. Ada aku, ada yang lain juga," begitu balasnya lagi.
Pokoknya aku janji nggak akan menangis.

Dan akhirnya hadirlah aku di sana, di Malam Renungan AIDS Nusantara 2015 yang diadakan di Taman Musik Centrum Bandung. Mataku langsung mencari wajah-wajah yang dikenal. Baru beberapa langkah aku sudah disambut oleh Anies (atau kalau sedang manja kupanggil "Teteh Anies", hehehe) yang langsung memelukku akrab. Hendra rupanya belum datang, padahal dia yang sibuk membujukku. Tapi aku nggak kesepian, di sana juga sudah ada Ayu, teman sekaligus pengelola dari ODHA Berhak Sehat (lihat post-ku tentang OBS di sini). Apalagi handphone ku langsung bergetar, rupanya ada mention dari Rumah Cemara yang mengucapkan selamat datang untukku. Psst, sampai sekarang aku belum tahu lho siapa admin Twitter dan Facebooknya RC, makanya aku langsung clingak-clinguk cari siapa yang sedang pegang HP, hihihi :)




Semakin jauh aku melangkah semakin banyak juga wajah yang kukenal. Malah ada yang sudah sering mengobrol di dunia maya, tapi ini jadi pertemuan kali pertama! Seorang perempuan cantik 'histeris' ketika melihatku dan langsung mencium pipi kiri dan kananku. Beberapa detik kemudian aku ikut histeris karena ia ternyata seorang teman yang sudah kukenal selama 8 tahun di dunia maya (iya 8 tahun, aku nggak salah ketik). Aku memanggilnya "Kak Rose", yang ternyata dianggap "ajaib" oleh teman-temannya karena hanya aku yang memanggilnya begitu. Ia lalu memanggil suaminya yang juga berteman denganku di dunia maya bahkan sebelum aku mengenal Kak Rose. Dengan malu-malu aku menyalaminya karena ternyata ia masih muda padahal aku selalu memanggilnya "Om Riki", hihihi :p
Aku langsung merasa nyaman, suasananya akrab dan gembira sekali. Soal rasa takutku, mungkin hanya parno saja, ---seperti biasanya.




Malam Renungan AIDS Nusantara diperingati di bulan Mei setiap tahun. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi komunitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), keluarga dan masyarakat untuk mengenang orang-orang yang telah dulu pulang karena AIDS. Bukan hanya untuk ODHA atau yang pernah ditinggalkan sepertiku, tapi MRAN ini juga boleh diikuti oleh umum. Menurutku ini bagus karena bisa menjadi ajang silaturahmi sekligus sosialisasi tentang HIV/AIDS. Dan karena acaranya di tempat terbuka sepertinya banyak masyarakat sekitar yang ikut penasaran dan bahkan ikut bergabung, which is really nice :)

Nggak lama kemudian Hendra datang dengan sekantung perbekalannya (belanja dulu ternyata dia, hehehe) dan langsung bergabung denganku dan Anies. Lalu disusul oleh Nova yang sama sepertiku, baru memutuskan untuk pergi di menit-menit terakhir. Aku mengenal mereka bertiga dari piknik OBS, yang dilanjutkan dengan perkenalan lalu bergabung di grup mereka, D-100 (baca tentang nobar film MIKA bersama mereka di sini). Waktu kami sudah duduk paduan suara Maranatha sedang membawakan beberapa lagu. Perasaan merinding mulai datang, yang membuatku melirik Hendra penuh arti, 'Awas ya kalau aku sampai nangis.' :p





Di MRAN ini ada quilt yang dibuat oleh keluarga dan sahabat dari mereka yang sudah dulu pulang (totalnya ada 86 quilt). Nova bertanya padaku kenapa aku nggak membawa quilt untuk Mika. Well, sebenarnya alasannya agak cengeng sih... Melihat quilt dengan nama orang lain tertulis di atasnya saja sudah membuatku berkaca-kaca, apalagi jika membaca nama Mika... Tapi aku tetap meletakkan setangkai bunga di atas quilt-quilt itu untuk mereka yang juga sama seperti Mika. Susah diungkapkan dengan kata-kata tentang perasaanku yang seperti roller coaster. Melihat puluhan nama dengan keluarga dan sahabat yang hadir membuatku sadar bahwa dunia ini bukan hanya mengenai aku dan Mika, bukan aku yang paling bersedih, ---dulu aku egois karena merasa nggak ada yang mengerti perasaanku. Tapi ternyata banyak orang yang kehilangan yang mereka cintai karena AIDS. Aku jadi merasa bersalah... Tapi di sisi lain aku juga merasa hangat, karena beberapa dari orang yang hadir mengenal Mika, meskipun hanya lewat novel dan film. Setiap ada yang menghampiri dan memberi tahu perasaan mereka tentang Mika, mereka berempati padaku, ---well saling, karena kami mempunyai pengalaman yang sama.








Setelah kata sambutan dari Atalia Kamil, istri dari Ridwan Kamil, walikota Bandung acara dilanjutkan dengan testimoni. Langsung saja aku berdiri dan mencari-cari alasan untuk meninggalkan tempat. Kalau dibilang cengeng, biarin... aku mungkin memang cengeng. Tapi aku benar-benar nggak siap untuk mendengarkan kisah-kisah kehilangan dari teman-teman baruku ini. Untung saja Hendra mau menemaniku keluar area. Bilangnya sih aku mau beli minum, padahal dari kejauhan aku mendengarkan suara samar-samar dari speaker, ---memastikan sesi testimoninya sudah selesai waktu aku kembali. 

Aku dan Hendra kembali tepat ketika testimoni terakhir selesai, tinggal acara penutupan. Kami diminta untuk menyalakan lilin dan berdiri mengelilingi quilt. Kami lalu berdoa untuk keluarga dan sahabat yang telah dulu pulang. Aku teringat Mika dan mulai menahan air mata yang rasanya sebentar lagi jatuh sambil  memeluk diri sendiri. Aku nggak ikut menyalakan lilin, alih-alih berdiri di paling pojok dikelilingi oleh Hendra, Anies dan Nova. Dari speaker terdengar lagu "Lilin-Lilin Kecil", semua ikut bernyanyi, termasuk aku. Lalu dilanjutkan dengan lagu "Usah Kau Lara Sendiri". Di bagian refrain, kertas lirik yang kubaca tiba-tiba menjadi buram. Air mataku ternyata sudah nggak bisa ditahan, aku menangis. Gue berusaha menghapusnya dengan punggung tangan, tapi air mata gue terus keluar. Gue ingat Mika, aku ingat teman-temannya yang juga sudah pulang. Aku juga teringat dengan nama-nama yang kubaca di quilt, dengan orang-orang yang ditinggalkan, ---yang jumlahnya ada banyak sekali di seluruh dunia. Aku melanggar janji, I let my self to cry. Aku pikir dengan menahan perasaan akan membuatku kuat. Tapi aku salah, menangis bukan berarti lemah. Nggak ada yang salah dari mengeluarkan perasaan, dengan menghindarinya jutsru aku malah pura-pura atau menutup mata, ---menjadi pengecut. Mungkin aku nggak akan menemukan obatnya, tapi akan berusaha menghilangkan stigma dan segala cap-cap konyol lainnya terhadap ODHA. Aku akan terus berjuang untuk Mika dan Mika-Mika yang lain. Janji.
Ada yang mau ikut?




Tulisan ini nggak diikutkan ke kontes, aku hanya berbagi pengalaman :)

a fighter,

Indi

Update 2024: Dengan hati yang pedih aku mengetik ini, Nova, teman kami (di foto terakhir aku sedang merangkulnya) telah pulang bersama Mika ke surga...

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469