Tampilkan postingan dengan label Idola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idola. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2020

Ketika Indi (Akhirnya) Menjadi Annie


Pernah nggak sih kalian punya cita-cita masa kecil yang nggak kesampaian sampai dewasa?

Aku pernah, ---dan akhirnya berhenti karena usia. Bukan, bukan karena menyerah, tapi apa yang aku cita-citakan itu hanya bisa dilakukan oleh anak-anak. Jadi begitu menginjak usia 18, aku tahu kalau harus say good bye sama cita-cita ku itu. Bukan melupakan, tapi lebih tepatnya mengikhlaskan, hehe :) 


Annie, Disney (1999).


Aku masih ingat waktu pertama kali menonton film musikal "Annie" versi Disney yang dirilis tahun 1999 lalu (---iya, sudah lama sekali). Mata dan telingaku sama sekali nggak bisa beranjak dari adegan demi adegan, lagu demi lagu... tarian demi tarian. Padahal, jauh sebelumnya aku sudah pernah menonton film berjudul sama dengan versi yang lain. Tapi entah mengapa versi Disney ini sangat melekat di hati. Mungkin saja karena Alicia Morton, gadis yang memerankan Annie berambut lurus sepertiku. Sementara di semua versi lain Annie, si gadis yatim piatu selalu digambarkan berambut keriting menggemaskan seperti versi versi comic stripnya (yang ada sebelum versi broadway apalagi filmnya)


Aku yang pemalu, ---jauh lebih pemalu dari sekarang, hehe, ---mulai berani mencoba menyanyikan lagu-lagunya. Silently, hanya sekedar lip sync sampai akhirnya berani mengeluarkan suara. Di duniaku, aku adalah Annie. Tapi aku nggak berani memberitahu siapapun. Hanya Tuhan dan boneka-boneka di kamar lah yang menjadi penonton pertunjukan musikalku. Beranjak remaja aku mulai memberitahu cita-citaku pada orang-orang terdekat. Orangtua, terutama. Reaksi mereka? Ternyata tanpa kuberitahu pun mereka sudah tahu, hehe. Terutama Ibu. Mungkin karena sudah terlihat jelas. DVD "Annie" saja aku putar berulang-ulang, lalu inspirasi style untuk dressku pun kebanyakan diambil dari film itu. Jadi mereka nggak terkejut lagi. Kalau sama teman-teman, aku memang nggak terang-terangan karena of course, ---aku tahu diri. Usiaku sudah mulai ketuaan untuk memerankan Annie, dan aku juga nggak bisa bernyanyi. Apa kata meraka kalau tiba-tiba saja aku bilang ingin muncul di pertunjukan musikal? Mau jadi peran utama lagi! Pasti mereka bingung, hahaha.


Tapi aku pikir kalau kesempatan menjadi pemeran utama terlewat, at least aku masih bisa menjadi Annie "ramai-ramai". Lalu mulailah aku menghasut pelatih paduan suaraku untuk membawakan lagu-lagu "Annie". ---Namanya Kak Immanuel, hampir tiap latihan aku bujuk terus sambil memaksanya mendengar lagu-lagunya. Berhasil? Hampir! Karena justru ketika Kak Immanuel dan teman-teman padus setuju, datanglah berita buruk. Dana untuk membuat konser mini kurang, padahal kami sudah berlatih bahkan siap dengan konsep kostumnya. Paduan suara dibubarkan... begitu juga dengan cita-citaku, huhuhu...


Dulu aku ikut paduan suara bukan karena merasa bisa bernyanyi. Bernyanyi di kamar mandi saja jarang, apalagi di depan umum, hehe. Tujuanku ikut karena aku ingin bernyanyi tapi nggak mau menonjol. Aneh kan? Maunya dapat peran Annie tapi pemalunya setengah mati :D Waktu di penghujung usia remaja aku masih mikir mungkin suatu hari aku akan berani untuk ikut audisi musikal, mungkin aku masih bisa "paksa" usiaku untuk dapatkan peran Annie. Tapi beranjak dewasa aku tahu kalau mustahil untuk memerankan anak usia 10-11 tahun (Alicia Morton berusia 12 tahun waktu memerankan Annie). Tubuhku semakin tinggi, belum lagi suaraku nggak senaif dulu karena sudah mengenal pahit manis kehidupan, ahahaha (becanda!)


Akhirnya aku sampai di titik benar-benar ikhlas bahwa aku nggak bisa memerankan Annie. Tapi tetap, aku menjadikan film musikal itu sebagai inspirasi. Filmnya masih kuputar here and there. Bahkan waktu aku punya film layar lebar sendiri yang berjudul Mika, aku minta Ibu membuatkan dress istimewa untuk dipakai ke pemutaran perdana. Dress berwarna merah dengan pita putih di pinggang, seperti Annie :) Aku kembali menjadi Annie di my own world saja. Hampir nggak pernah aku menyebut namanya lagi kecuali saat keluarga atau teman-teman dekat bertanya (ada satu orang teman yang dari dulu sampai sekarang selalu memanggilku dengan sebutan 'Kakak Annie', namanya Wilson). Bahkan suami pun nggak tahu kalau dulu aku punya obsesi untuk memerankan Annie. Ia tahu aku punya dress merah, tapi ia sama sekali nggak menyangka kalau dress itu punya nilai historis sampai akhirnya aku ceritakan :)


Aku memakai dress “Annie” di pemutaran perdana filmku sendiri, “Mika”. Somehow dress ini membuatku less deg-degan :D


Aku punya teman yang berada jauh dari sini, di Jepang. Namanya John Pak. Beliau usianya jauh di atasku, mungkin seusia dengan Bapak. Kami bisa berteman karena sama-sama bermain ukulele. Bisa dibilang aku adalah fansnya karena saat mengikuti channel musiknya, aku masih sangat baru di dunia ukulele. Diawali dengan saling bertukar komentar, kartu pos, lalu kami pun berkolaborasi. Sudah cukup lama terakhir kami bermain musik bersama, mungkin karena sama-sama sibuk, ---setahuku John memang nggak banyak melakukan kolaborasi belakangan. Bulan lalu, entah dapat ilham darimana, aku tiba-tiba saja berkomentar di salah satu videonya, "Seharusnya kamu bikin kolaborasi ala karantina, pasti seru!". Eh, malamnya aku dapat pesan dari beliau yang ternyata memintaku untuk mengisi satu line di lagu yang sedang dikerjakannya. Rasanya senang sekali, karena aku memang rindu berkolaborasi dengannya (---iya, meskipun aku cuma mengisi beberapa detik saja). Tapi rasa senangku rupanya belum apa-apa, karena setelahnya John menginginkan kolaborasi yang lebih imbang, dan aku mendapat kehormatan untuk memilih lagunya! Bisa tebak kan lagu apa yang aku pilih?! :D


Tentu saja aku memilih salah satu lagu dari musikal "Annie". Aku bahkan sudah tahu lagu yang mana yang cocok untuk kami. Tapi sebelum aku beritahu John, aku beritahu Shane lebih dulu tentang siapa itu Annie. Saking senangnya aku sampai berkaca-kaca menceritakan tentang obsesi masa kecil aku (ahahaha...). Dan dengan lantangnya kubilang, "AKU AKHIRNYA JADI ANNIE! CITA-CITAKU AKHIRNYA TERCAPAIIIIII!" Shane mungkin bingung, tapi aku mana peduli, aku terlalu bahagia! Bahkan saking bahagianya aku langsung WhatsApp Ibu untuk minta dikirimi dress Annie buatannya. Nggak lupa aku juga bilang tentang rencana kolaborasiku dengan John Pak, yang ternyata membuat Ibu terharu. Katanya beliau bangga sama aku karena akhirnya mendapat apa yang sudah lama diimpikan :')

... Dan di sini aku baru sadar kalau John belum tentu setuju dengan pilihan laguku. Lah, aku bilang saja belum, kok :'D


Syukurlah, ternyata John setuju dan menganggap lagu "I Don't Need Anything But You" adalah pilihan yang bagus :) Aku bersemangat sekali, ---bisa dibilang agak over, huhu. Masih di malam yang sama aku langsung mengirimkan video lagu asli, chords dan lirik lagunya agar John bisa mengerjakan bagiannya. Sedangkan bagianku? Sudah beres! Iya, sesemangat itu coba. Rasanya ada yang memacu adrenalinku sampai-sampai aku tahan nggak tidur semalaman demi 'menjadi Annie'. Aku sampai meminta maaf berkali-kali pada John karena aku khawatir membuatnya terburu-buru. Tapi John bisa mengerti, katanya beliau tahu betapa aku sangat menyukai Annie, dan ia senang karena bisa menjadi bagian dari apa yang sangat berarti untukku. Oh, my... aku terharu banget sampai-sampai sedikit menangis waktu mengetik balasan pesannya. Lalu akhirnya tangisanku yang 'sedikit' pun berubah menjadi menangis betulan, ---karena Shane ternyata ingin menjadi bagian dari cita-cita masa kecilku juga. Ia setuju untuk bermain gitar untuk mengiringi kolaborasi kami!


Sudah sangat siap untuk bernyanyi dan bermain ukulele! :)


Dress Annie ku, yang selalu terasa magical saat aku memakainya :)


Proses rekaman musik dan videonya terasa seperti mimpi, semuanya berjalan dengan cepat. Tahu-tahu saja video clipnya sudah tayang. Dan rasa bahagiaku jadi berlipat-lipat karena Ibu dan Bapak terus-terusan mengirimiku pesan tentang betapa bangganya mereka. Mungkin saat membaca tulisan ini ada di antara kalian yang menganggap kalau aku dan keluarga bereaksi berlebihan. "Masa nyanyi di YouTube doang bangga," begitu mungkin di benak kalian. Hehehe, itu nggak apa-apa, kok dan sangat wajar. Karena apa yang menjadi 'prestasi' bagi setiap orang kan berbeda. Dan belum tentu orang lain juga punya perasaan yang sama (kecuali kalau suatu hari internet bisa punya virtual feeling, jadi saat membaca tulisan kalian juga bisa sekalian merasakan perasaan si penulis, lol). Buatku berhasil membawakan salah satu lagu dari musikal Annie ini adalah pengingat bahwa nggak ada kata terlambat dalam menggapai sesuatu. Apa yang kita cita-citakan mungkin nggak bisa terwujud di saat itu juga, tapi bukan berarti mustahil, ---bisa saja nanti :)


Video clip "I Don't Need Anything But You" dengan aku sebagai Annie. Yay! :)

Untuk yang membuka blog ini di mobile mode, klik DI SINI untuk menonton video clipnya.


Aku pikir 'cerita Annie' hanya sampai di sini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Tengah malam ketika mengecek notifikasi di instagram, aku menerima komentar yang menurutku... aneh. Dari seseorang yang bernama Sacha Charnin Morrison. Isinya seperti ini;

"Dari semua versi TV dan film, Annie 1999 lah yang paling mirip dengan versi panggungnya. Ayah saya adalah yang mengubah dari kartun menjadi musikal (dengan bantuan banyak orang). Teruslah bernyanyi, di suatu tempat ayahku bisa mendengarnya." ---Komentar diakhiri dengan emoji tepuk tangan dan hati berwarna merah. 

Nggak cukup satu kali aku membaca komentarnya agar yakin dengan maksudnya. Ayah? Siapa yang ia sebut Ayah? Karena penasaran aku ketik namanya di mesin pencari Google. Dan hasilnya benar-benar membuatku kena mini heart attack. Sacha adalah putri dari mendiang Martin Charnin, ---konseptor dari musikal Annie!


Dapat komentar dari putri konseptor musikal “Annie” :’)


Keesokan harinya aku dan Shane menginap di rumah Ibu dan Bapak, bisa ditebak dong aku langsung bersemangat untuk bercerita tentang komentar manis yang kuterima. Aku bilang, aku merasa sangat diberkahi karena kejutan datang bertubi-tubi. Aku pikir waktu akhirnya bisa membawakan salah satu lagu Annie saja sudah lebih indah dari apa yang pernah kuimpikan, tapi rupanya masih ada kejutan lain. Ibu dan Bapak menggoda dengan bilang kalau aku pasti salah lihat, atau yang berkomentar itu akun palsu. Lalu kami tertawa sampai perut kami sakit, hahaha :D Aku bilang, "Lihat saja sendiri kalau nggak percaya," sambil menyerahkan handphonenya pada Ibu. Tapi aku lupa kalau untuk membuka layarnya dibutuhkan password, jadi aku ambil kembali handphonenya. Dan saat itulah aku melihat ada notifikasi yang masuk. Seseorang baru saja memfollowku di Instagram.


Alicia Morton.


Aku difollow oleh ALICIA MORTON!


---Itu Annie sungguhan!!


OMG!


Annie sungguhan :’D



yang akhirnya menjadi Annie,


Indi



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 17 Januari 2015

Kejutan dari Keluarga Irwin :)

Jika teman-teman mengikuti tulisan gue di blog ini, mungkin ada yang masih ingat bahwa beberapa lalu gue menulis tentang betapa powerfulnya internet (baca di sini). Waktu kita memposting sesuatu dan memutuskan untuk membuat akun "public" itu artinya kita harus siap jika tulisan kita dibaca oleh siapa saja. Termasuk oleh orang-orang yang sebelumnya sama sekali nggak kita sangka.

Di awal tahun ini gue kembali mendapatkan buah dari kekuatan internet. Tahun lalu ketika keluarga Irwin datang ke Indonesia gue nggak bertemu dengan mereka karena ketinggalan info. Padahal mereka adalah idola gue sejak kecil, terutama alm. Steve Irwin si Crocodile Hunter yang sangat pemberani. Gue sangat menunggu-nunggu kedatangan mereka ke Indonesia, karena gue ingin sekali menyampaikan rasa kagum dan mengucapkan terima kasih atas dedikasi Terri (isti alm. Steve Irwin), Bindi dan Robert (anak-anak alm. Steve Irwin) pada lingkungan hidup, terutama pada dunia fauna. Kedatangan mereka membuat memory masa kecil gue bangkit. Gue masih ingat bagaimana dulu setiap sore selalu duduk di depan TV menunggu-nunggu sapaan khas Steve Irwin yang lantang ---Lalu gue putuskan untuk membagi kisah nostalgia gue di sini.

Keluarga Irwin, waktu Steve masih ada. What a beautiful family :)

Setelah menulis kenangan tentang pahlawan masa kecil, perasaan gue menjadi lega. Meskipun gue belum berkesempatan untuk memberitahu Terri, Bindi dan Robert secara langsung tapi seenggaknya gue bisa berbagi dengan teman-teman pembaca tentang betapa hebatnya idola gue itu :)
Satu bulan kemudian, Ray (yang merangkap sebagai manager gue) mengabari bahwa ia dihubungi oleh seseorang bernama Mas Danar. Katanya ia adalah EO yang mendatangkan keluarga Irwin ke Indonesia. Dan alasan mengapa ia menghubungi gue karena ia membaca tulisan gue di blog dan ingin membantu menyampaikan pesan gue kepada keluarga Irwin LANGSUNG! Ya, ampun gue terkejut sekali :'D

Gue nggak mau bohong, waktu Ray memberi kabar gue langsung menangis haru. Meski Mas Danar hanya akan membantu menyampaikan ---nggak ada jaminan bahwa pesan gue akan dibalas, tapi gue sangat senang karena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan perasaan gue setelah selama12 tahun hanya bisa melihat mereka di TV. Di hari yang sama gue langsung menulis surat yang ditujukan kepada Terri, Bindi dan Robert, dan dikirimkan kepada Mas Danar untuk diteruskan kepada mereka. Mas Danar berkata bahwa kalau saja seandainya ia tahu gue sejak lama, pasti waktu itu ia mempertemukan gue langsung dengan para wildlife warrior idola gue itu. Ah... tapi sudahlah, gue sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini :)

Meskipun kadang bertanya-tanya dalam hati tentang nasib surat gue (apakah sampai, apakah dibaca, dan apakah-apakah yang lainnya), tapi gue selalu menahan diri untuk nggak bertanya pada Mas Danar tentang hal ini. Gue sudah sangat beruntung, nggak perlu meminta lebih :) Lalu sesuatu yang sampai hari ini pun masih membuat gue tersenyum lebar terjadi; Terri Irwin me-mention gue di twitter. Ia mengucapkan terima kasih karena gue telah menjadi Wildlife Warrior yang baik, dan berharap semoga suatu hari gue bisa ke Australia Zoo. Waaaaah, ternyata surat gue benar-benar sampai! Bahkan lebih baik dari itu, Terri membalasnya langsung ---ditambah retweet dari Bindi juga. Gue benar-benar nggak menyangka, apalagi link blog ini yang gue sertakan di surat pun benar-benar dibuka. Yep, mereka membaca blog yang followernya masih jauuuh sekali dari akun mereka ini :'D

Gue bahagia, luar biasa bahagia. Sulit rasanya menuliskan bagaimana perasaan gue karena rasanya nggak ada kata-kata yang tepat buat menggambarkannya. Akhirnya pesan gue untuk keluarga Irwin sampai. Meskipun Steve sudah nggak ada, tapi buat gue Terri dan anak-anaknya pun sama hebatnya karena sampai sekarang (dan gue yakin selamanya) mereka meneruskan legacy Steve Irwin. Ah, it couldn't be better, ini bahkan lebih baik dari mimpi. Gue hanya ingin surat gue sampai, tapi malah dapat balasan langsung dari istri mendiang si Crocodile Hunter! :)

Ternyata gue salah. Gue pikir ini nggak bisa lebih baik lagi, tapi ternyata BISA! Satu hari setelah tahun baru, waktu gue baru saja bangun tidur ada sebuah paket yang sudah menunggu gue di depan pintu kamar. Kata Bapak itu untuk gue, tapi beliau nggak tahu itu dari siapa. Rupanya Ibu dan Bapak sudah menunggu-nunggu gue bangun karena penasaran dengan isinya. Apalagi gue, karena yakin sekali belakangan nggak memesan apa-apa dari toko online. Waktu gue baca pengirimnya ternyata Discovery Kids. Langsung saja gue teringat kalau si kecil Robert (well, he's 11, not so little, sih, tapi kan lebih muda dari gue, hehehe) punya acara baru di sana dengan judul Wild But True. Gue langsung deg-degan... Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kelurga Irwin.


Benar saja, isinya ternyata merchandise dari Discovery Kids dan sebuah buku Robert Irwin! Gue mendapat tas ransel berwarna biru, topi khaki (yang langsung ditaksir Ibu), flash disc imut berbentuk robot dan buku Big Book of Dinosaurs. Gue langsung bersorak girang, lebih girang dari saat gue menerima gaji pertama, hehehe. Ini luar biasa, kado tahun baru terbaik yang gue terima :') Apalagi bukunya Robert itu memang sudah lama gue inginkan, tapi belum sempat beli meskipun sudah beberapa kali mengecek ke web Australia Zoo. Senang sekali (ya, ampun sudah ada berapa kata "senang" di tulisan ini? Hehehe) gue mendapatkan buku ini sebagai hadiah. Gue langsung membacanya dan di hari yang sama menyelesaikan 11 halaman pertama. Gue nggak pernah tertarik sama dinosaurus sebelumnya, tapi sekarang gue jadi pengen tahu lebih banyak. Apalagi setelah tahu kalau "Jurassic" itu ternyata cuma salah satu periode. Gue pikir itu kata lain dari dinosaurus, seperti di film, lol :p




Gue bersyukur sekali menyempatkan beberapa menit dari hidup gue untuk menulis perasaan gue di blog. Kalau saja gue hanya menggerutu karena nggak bertemu dengan keluarga Irwin, hal luar biasa ini mungkin nggak akan terjadi. Sekarang rasa kagum gue pada mereka bertambah. Bukan hanya karena pemberani, menjadi real hero yang melakukan sesuatu untuk perubahan yang lebih baik, mereka juga menghargai penggemarnya. Terri, Bindi dan Robert adalah inspirasi untuk gue, luar biasa rasanya mereka menyempatkan untuk 'mendengarkan' apa yang gue rasakan dan memberikan feed back. Gue harap suatu hari bisa menjadi pribadi yang sehebat mereka, yang melakukan aksi nyata dan tetap humble :)

Oh iya, waktu membaca buku "Big Book of Dinosaurs" gue tahu di halaman depannya ada tulisan berwarna hitam. Gue pikir tulisan itu memang tercetak di bukunya. Tapi keesokan harinya gue baru sadar sesuatu. Ada jejak spidol di balik halamannya. Ya, ampun! Itu ternyata tulisan tangan Robert! Tulisan tangan Robert khusus untuk gue!
I'm blessed.... :')



ps: Acara Robert Irwin, Wild But True tayang di Discovery Kids setiap hari selasa. Jika belum sempat mengenal Steve Irwin, kalian harus mengenal Robert. He's as aweseom as his dad!


wildlife warrior,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 14 Januari 2015

Indi Ingin Bermain Ukulele (Tentang Kado Impian) :)

Gue terbangun dengan posisi tangan kanan berada di atas perut ---masih sedikit naik turun seperti gerakan strumming alias genjrang-genjeng.
Setelah sepenuhnya sadar gue segera terkikik geli dan turun dari tempat tidur, mengambil cuk lele dan memainkannya. Itu tadi mimpi yang sangat konyol... :)

***

Gue sudah bilang pada Bapak kalau gue ingin belajar bermain ukulele. Juga pada Ibu, pada Ray... bahkan pada Eris. Tapi mereka bilang (kecuali Eris, karena ia seekor anjing, hihihi) gue lebih baik belajar bermain gitar saja dulu, karena lebih mudah dan ada Bapak yang bisa mengajarkan. Bapak bahkan mengira kalau keinginan gue ini hanya main-main. Beliau bilang, "Katanya mau jadi rockstar seperti Aerosmith, masa mainnya ukulele? Gitar dong biar keren." 
Ya, meskipun sama-sama dipetik, mungkin karena ukulele ukurannya mungil di mata Bapak jadi kurang garang... Eh, lagian gue perempuan ngapain juga garang-garang? Begini deh kalau punya Bapak yang terobsesi sama rock and roll, hehehe.

Tapi gue memang sungguh-sungguh ingin belajar alat musik Hawaii ini. Setiap hari gue berguru pada master-master ukulele lewat internet. Mempelajari chord-chordnya dan fingering di invisible ukulele gue. Ya, gue memang belum punya ukulele sendiri, tapi it wont stop me. Setiap kali melihat idola-idola gue bermain ukulele, rasa semangat gue menjadi semakin tinggi. Mungkin akan butuh waktu yang nggak sebentar, tapi gue percaya akan bisa seperti mereka.
Perkenalan gue dengan ukulele sendiri justru terjadi dengan nggak sengaja, tapi malah membuat terkenang-kenang. Waktu itu gue baru saja dipertemukan dengan Aerosmith, band yang sangat gue kagumi sejak kecil. Karena ingin segera 'mengulang moment' gue mencari video mereka ketika konser di Singapore. Alih-alih mendapat videonya, gue malah menemukan video Steven Tyler (the vocalist, member favorit gue) sedang mengucapkan happy birthday pada Willie Nelson, rekan sesama musisinya. Di sana Steven Tyler bernyanyi sambil memainkan alat musik yang sekarang menjadi obsesi gue; ukulele. 

Untuk persiapan bermain ukulele yang sesungguhnya, gue membeli cuk lele ---atau biasa disebut gitar mini, kentrung, kencrung alias gitar kecil yang biasa digunakan pengamen. Well, sebenarnya ukelele dan cuk lele (seharusnya) sama saja, cuma entah kenapa banyak musisi jalanan yang menyebutnya 'gitar cuk'. Katanya sih (iya, gue sempat mengobrol dengan pengamen yang mampir ke toko alat musik) yang mereka pakai ini versi rip off dari ukulele. Jadi bentuk boleh sama, tapi bahan yang digunakan beda. Bahkan senarnya pun bukan nilon khusus ukulele (nylgut), tapi dari tali bekas raket tenis. "Lebih irit, bisa minta dari toko olah raga, tuh," begitu katanya. Selain itu konon suaranya lebih nyaring daripada ukulele biasa, jadi cocok untuk dipakai mengamen di jalanan atau di dalam kendaraan umum.

Sebelum punya ukulele sungguhan, gue berlatih dengan si rip off ini dulu :)

Jadilah setiap hari gue berlatih menggunakan ukulele versi rip off ini. Begitu bangun tidur, bahkan sebelum sarapan gue langsung berlatih. Sebelum tidur gue juga berlatih lagi. Adik gue yang kamarnya tepat di atas kamar gue kadang protes, katanya kalau malam gue berisik, mana fals lagi, hahaha. Kebiasaan baru ini juga sedikit merubah penampilan gue. Yang biasanya kuku super rapi dengan cat warna-warni sekarang mulai chipped, lengkap dengan kapalan di ujung jari. Tapi gue nggak menyesal, karena bahkan sebelum gue bisa bermain ukulele pun sudah ada sisi positifnya; gue jadi jarang pegang handphone, hihihi.

Meski dengan semangat menggebu-gebu (lol, beneran ini), bukan berarti tanpa hambatan. Kadang kalau jari-jari mulai terasa sakit (resiko pakai rip off ya begini, hehehe), mood gue jadi turun. Apalagi kalau telapak tangan gue mulai keringetan, pasti jadi semakin susah untuk menjaga jari agar tetap stabil. Kalau sudah begitu, gue langsung ingat-ingat lagi tujuan gue; Ingin bisa bermain ukulele! Sesulit apapun gue harus konsisten, meskipun belajar otodidak. Menonton video-video musik juga membantu untuk menaikan mood gue, salah satunya dari Walk of the Earth, karena Sarah, satu-satunya perempuan di grup itu juga bermain ukulele :)

Harapan gue sih ada yang memberi hadiah ukulele sungguhan... Gue nggak perlu merk tertentu, dengan kualitas begini-begitu atau dengan model yang super keren. Yang terpenting bisa dipakai untuk mensupport passion gue. Ukulele juga bukan alat musik yang langka di Indonesia. Selain ada merk-merk buatan luar negeri, di sini juga sudah banyak pengrajin yang membuat ukulele. Misalnya di Salatiga, Solo atau Bali. Kalau di Bandung sendiri, sih gue belum dengar ada pengrajinnya. Tapi itu kan bukan masalah, zaman sekarang mau dari kota manapun juga bisa dikirim melalui jasa pengiriman barang. Apalagi dengar-dengar sekarang untuk barang fragile macam ukulele pun dijamin aman karena bisa pakai packaging kayu. Pasti memudahkan sekali untuk yang ingin memberi gue hadiah, ya, hehehe.

Mungkin teman-teman bertanya-tanya, kenapa gue nggak membeli ukulele dengan uang sendiri saja. Apalagi harganya nggak terlalu mahal. Untuk yang kualitasnya cukup bagus saja harganya hanya setara dengan 3 hari uang saku anak SMA zaman sekarang (gue anak zaman dulu, lol). Well, iya sih kalau dilihat dari harga mungkin nggak seberapa. Tapi gue ingin ini menjadi hadiah agar rasanya istimewa. Apalagi jika didapat dari orang-orang yang gue sayang, pasti akan berkesan sekali. Makanya sekarang gue ingin tunjukan pada Ibu, Bapak dan Ray (juga Eris, hehehe) bahwa gue memang sungguh-sungguh belajar ---bahwa gue nggak main-main dengan apa yang ingin gue capai. Jadi jika suatu hari gue mendapatkan kado yang sudah gue impikan ini, mereka nggak akan kecewa! :)




uke girl,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 22 Desember 2014

Tulisan untuk Robin Williams, dari Seorang Penggemar

11 November 2014
Ini mungkin bakal kedengeran aneh, tapi hari ini gue akan bercerita tentang Robin Williams. Ya, I know, ini sudah 2 bulan sejak kepergiannya, tapi rasanya baru siap untuk membagi perasaan gue di sini. Sebagai fans beratnya, teman-teman gue banyak yang heran kenapa gue nggak tampak terlalu sedih dengan kepergiannya, nggak update status tentangnya 3 kali sehari dengan isi yang mengharu biru, nggak membicarakan sebab dari kepergiannya... Jawabannya sederhana; karena gue nggak mengenalnya secara personal. Gue bukan teman, kerabat apalagi keluarga. Gue hanya fans. Dan gue rasa meratapi kepergiannya di media sosial bukan hal bijak. Robin Williams memiliki keluarga, 3 orang anak yang sangat ia cintai yang tentu saja berduka. Bayangkan jika kita berada di posisi mereka, bagaimana rasanya membaca banyak tulisan yang isinya "menyayangkan", "menyesalkan" atau "menertawakan" kepergian ayah kita?

Jadi waktu itu, pagi-pagi sekali. Gue baru saja mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Sambil mengeringkan rambut gue mengecek handphone dan menemukan sebuah update twitter dari Sharon Osbourne. Mata gue langsung terasa panas dan nggak percaya dengan yang gue baca. Robin Williams meninggal dunia... Ya, gue menangis. Dan gue akui itu bukan tangisan kecil. Tanpa gue sadari nafas gue mulai tersenggal-senggal dan air mata gue menetes deras. Gue lalu mencoba menenangkan diri, menarik nafas  dan meneguk segelas air. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk menstabilkan emosi gue. Dengan mata sembab akhirnya gue berhasil berpakaian dan berpikir logis. Di kepala gue memang ada pertanyaan "Kenapa?" yang terus-terusan terlintas, tapi gue putuskan untuk menyimpannya sendiri dan mengucapkan rasa bela sungkawa sewajarnya pada Zelda, putri dari Robin Williams lewat akun twitter nya. 

Gue masih ingat pertama kali melihatnya. Bersama Ibu dan Bapak gue menonton film Mrs. Doubtfire yang kelak menjadi film favorit gue sepanjang masa. Gue sangat menyukai tokoh Natalie yang diperankan oleh Mara Wilson. Di film ia diceritakan sebagai seorang anak yang sangat dekat dengan ayahnya (Robin Williams), yang secara kebetulan di kehidupan nyata ia seusia dengan gue, ---dan gue juga sangat dengan dengan Bapak. Mungkin itu jadi salah satu alasan mengapa gue merasa related dengan film Mrs. Doubtfire. Setelah menonton pertama kali gue langsung merengek untuk menonton ulang filmnya. Syukurlah VCD nya disewakan di rental dekat rumah, jadi gue bisa menonton sesering gue mau. Setiap kali menonton Mrs. Doubtfire, gue selalu tertawa, terharu, dan menemukan hal baru. Gue tumbuh bersama film itu, literally. Dari kecil sampai beranjak remaja. Dari hanya tertawa karena gerakan lucu yang dibuat Robin Williams sampai tertawa karena akhirnya gue mengerti lelucon yang tadinya hanya membuat Ibu dan Bapak tertawa. Lambat laun gue menemukan bahwa film itu sangat menginspirasi, semakin menambah alasan mengapa gue sangat terobsesi dengan Mrs. Doubtfire...

Lalu gue tumbuh menjadi seorang remaja. Setiap minggu gue tetap setia untuk datang ke rental dan menyewa VCD Mrs. Doubtfire. Kondisi keping VCD nya sudah nggak terlalu bagus, cover plastiknya lepas karena sering dibuka tutup. Entah mengapa membuat gue sedih. Mungkin terlalu banyak orang yang menyewa VCD ini dan nggak semuanya memperlakukannya dengan hati-hati. Dan sebuah ide nakal pun muncul, ketika gue kembali ke rental untuk mengembalikan VCD gue membuat wajah sangat menyesal. Dengan sedikit terisak gue berkata pada pegawai rental bahwa gue nggak sengaja menghilangkan VCD nya. Tentu saja ia nggak langsung percaya, gue telah menyewa VCD yang sama selama bertahun-tahun dan selalu kembali dengan selamat. Tapi gue tetap bersikeras, ---lalu nggak bisa menahan senyum ketika pegawai rental berkata gue harus membayar denda sebesar Rp. 40.000. Gue menang.

Dress gue mirip seperti Mrs. Doubtfire di scene kolam renang :)

Gue mempunyai VCD Mrs. Doubtfire sendiri. Well, ini milik rental tapi kan gue sudah membayar denda. Gue bisa menontonnya kapan saja gue rindu. Adegan Daniel Hillard (Robin Williams) yang menari dengan diiringi lagu Dude (Looks Likes a Lady) menjadi favorit gue. Bagaimana nggak, itu adalah lagu dari band kesukaan gue Aerosmith. Gue juga hapal dengan dialog-dialognya, termasuk 'nyanyian spontan' Robin Williams di adegan Raptor Rap. 
Gue sangat bahagia mendapatkan apa yang gue mau. Tapi hati kecil gue merasa bersalah, meski gue membayar denda tetap saja gue berbohong. Pihak rental nggak tahu bahwa sebenarnya VCD nya nggak hilang... Akhirnya, dengan perasaan menyesal yang semakin besar gue mengembalikan VCD nya kembali. Gue bersedih karena harus berpisah dengan Mrs. Doutfire, tapi akan lebih sedih lagi jika gue menjadi seorang pencuri.

Mungkin teman-teman heran, kenapa gue nggak punya VCD Mrs. Doubtfire sendiri padahal sangat menyukai film itu. Bukan tanpa usaha, selain meminjam ke rental gue juga mencari ke berbagai toko CD, tapi selalu kehabisan. Bahkan gue sampai meninggalkan nomor telepon di Disc Tarra untuk berjaga jika ada kiriman VCD Mrs. Doubtfire lagi. Sambil menunggu gue pun mengoleksi film-film Robin Williams yang lain. Dari hasil menabung gue akhirnya memiliki puluhan judul VCD dan DVD Robin Williams. Beberapa ada yang sulit didapat karena harus memesan terlebih dahulu, tapi yang paling sulit dicari tetap Mrs. Doubtfire.

Selama pencarian VCD itu kekaguman gue terhadap Robin Williams semakin bertumbuh. Jika awalnya gue hanya menikmati peran-perannya yang kocak seperti di film Hook, Jack, Patch Adams atau Flubber, lama kelamaan gue juga menikmati peran-perannya yang serius. Perannya di film The Fisher King sebagai orang dengan gangguan jiwa membuat gue patah hati dan merasa meyesal untuknya. Atau perannya di One Hour Photo sebagai maniak yang kesepian membuat gue gemas sekaligus bersedih. Death Poet of Society, House of D, Man of the Year, Death the Smoochy, Night Listener dan banyak banyak banyak.... lagi. Gue nggak pernah kecewa dengan actingnya. Ia bisa jadi siapa saja.


Lalu, beberapa tahun kemudian ketika gue kelas 2 SMA ada kejutan menyenangkan. Seorang teman Ibu yang tahu bahwa gue menyukai film-film Robin Williams menelepon untuk bertanya apakah gue sudah mempunyai VCD Mrs. Doubtfire. Dengan suka cita gue menjawab "belum" dan memintanya untuk membelikannya dulu lalu berjanji uangnya akan gue ganti. Gue bahagia bukan main, akhirnya setelah menunggu sekian tahun Mrs. Doubtife masuk ke dalam koleksi film gue :) Judul-judul lain pun sering gue tonton ulang, tapi tetap Mrs. Doubtfire jadi yang paling sering. Waktu kecil gue sempat memiliki kalender yang ditandai setiap kali gue menonton film itu (I know, kinda silly, lol). Tapi entah kenapa dihitungan ke 50 gue berhenti dan gue nggak ingat sudah berapa ratus kali totalnya gue menonton film itu :)

Gue berduka, sangat. Waktu perjalanan bekerja pun air mata gue beberapa kali keluar. Gue mengungkapkan perasaan gue pada Ibu, Bapak dan Ray, tapi nggak sama yang lain. Jika gue menangis meraung-raung, merengek dan marah karena Robin Williams pergi, itu artinya gue egois. Gue nggak boleh merasa jadi orang yang paling berduka sedunia, sementara ada keluarga dan kerabatnya yang pasti merasa lebih kehilangan. Gue putuskan untuk mengekspresikan perasaan gue dengan lebih positif, sebisanya. Koleksi film-film Robin Williams akan gue gunakan untuk membuat "A Week for Robin Williams", 1 minggu yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Gue beruntung lahir di masa kejayaannya, ketika ia bermain di banyak film. Tapi untuk anak-anak yang lebih muda dari gue, mereka mungkin hanya menonton filmnya beberapa tahun kemudian setelah dirilis. Atau malah baru mengenal filmnya justru ketika Robin Williams sudah pergi.

Jadi gue bawa beberapa VCD dan DVD Robin Williams ke preschool tempat gue bekerja. Gue memilih film-film harmless yang cocok dengan usia murid-murid gue yang masih di bawah 3 tahun. Mereka nggak mengenal film-filmnya, tentu saja, tapi meraka antusias ketika memilih judul film untuk movie time. Akhirnya film "Happy Feet" lah yang menjadi pilihan. Sengaja gue meredupkan lampu kelas dan membesarkan volume suara TV. Lalu gue melihat pemandangan yang luar biasa, anak-anak duduk dengan manis dan terpukau dengan suara Robin Williams. Ali, salah satu murid gue bahkan menggoyang-goyangkan kepalanya ketika mendengar Robin Williams bernyanyi. Dalam sejarah gue mengajar, ini adalah movie time yang paling sukses! Biasanya anak-anak selalu berlarian kesana-kemari setelah beberapa menit film dimulai, tapi Robin Williams ternyata berhasil membuat mereka terhipnotis. Gue ikut senang, meski dalam hati ada sedikit haru karena anak-anak nggak tahu bahwa pemeran Ramon (dan juga Lovelace) sudah meninggal... :)

Preschoolers juga nonton film Robin Williams :)

Ada beberapa teman yang mencoba menyinggung tentang penyebab kepergian Robin Williams pada gue. Karena reaksi gue terhadap kepergiannya mereka mengira gue nggak tahu apa-apa. Padahal mereka salah... Gue sudah tahu bahkan di hari ia pergi, tapi gue memang menolak membicarakannya. Gue sengaja nggak menonton TV, membaca berita atau melihat di internet tentang itu. Gue nggak mau melihat/membaca media yang memberikannya label-label atau judgement yang menyakitkan. Di hari pertama saja timeline gue sudah penuh dengan update tentang Robin Williams dari berbagai media, bahkan dari fans yang menyudutkanya. For God sake, ia sudah meninggal. Membaca beritanya bahkan membuat gue lebih sedih daripada menghadapi kepergiannya. Gue mengerti ia seorang public figure, tapi kenapa harus melupakan fakta jika ia juga seorang suami, seorang ayah, bagian dari sebuah keluarga yang sangat mencintainya. Gue nggak mau Bapak (yes, my dad), dibicarakan seolah beliau hanya objek, bukan makhluk hidup. Dan gue percaya keluarga Robin Williams juga nggak menginginkan ia dibicarakan seperti itu. Kita mungkin sering mendengar cerita tentang hidupnya dari media, tapi nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. 

Di hari terakhir "A Week for Robin Williams" gue menonton film favorit gue sepanjang masa, Mrs. Doubtfire. Gue masih tertawa ketika mendengar lelucon-leluconnya, masih merasa 'malu' ketika mendengar lelucon dewasanya :) Tapi arti filmnya ini jadi lebih dalam dari sebelumnya. Monolog Robin Williams tentang keluarga membuat gue tersenyum haru; 
''Beberapa keluarga hanya mempunyai Ibu, sementara keluarga lainnya hanya mempunyai Ayah. Mereka mungkin tak bertemu untuk beberapa hari, minggu, tahun... bahkan selamanya. Tapi selama masih ada cinta, kita akan selalu terikat menjadi sebuah keluarga."
Kepergian Robin Williams bukan berarti ia sudah nggak memiliki cinta, ini hanya sudah waktunya. Dan tulisan ini hanya ungkapan perasaan gue. Sebuah hadiah kecil yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Untuk seorang idola, dari seorang penggemar...



nb: Bapak bercerita waktu kecil film pertama yang gue tonton di bioskop adalah Alladin. Dan beberapa bulan yang lalu ketika gue menulis list film kartun 2 dimensi terbaik di majalah GoGirl gue memasukan Alladin ke dalam list. 
Ya, Alladin, salah satu film Robin Williams... Sungguh kebetulan yang manis :)

a fans,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 05 Mei 2013

(Masih) Menunggu...

Sabtu, 4 Mei 2013

Pagi-pagi sekali gue sudah bangun. Sarapan tanpa disuruh dan langsung mandi tanpa kembali berbaring di sofa. Bapak bilang gue aneh, tapi gue nggak peduli dan sebelum beliau sadar gue sudah berdiri di garasi. Menunggu diantarkan ke suatu tempat yang istimewa.

Masih ingat tulisan gue tentang Aerosmith yang "ini"? Yup, betul, waktunya semakin dekat. Tinggal 7 hari lagi sampai gue dan Bapak bisa berdiri di front row sambil berharap-harap cemas Steven Tyler akan melemparkan harmonikanya untuk kami, hehehe. Kami sudah benar-benar siap, stamina, mental, dan bahkan Bapak sudah menyarankan gue segera membuat surat untuk Steven Tyler. Kemungkinan akan sampai memang kecil, tapi Bapak bilang nggak ada salahnya mencoba. Rasa exited kami semakin hari semakin menggebu. Kami selalu terkikik ketika membicarakannya. Mata gue berbinar dan Bapak pura-pura mengejek. Lalu kabar bahagia yang lainnya datang menghampiri kami. Aerosmith Indonesia, sebuah perkumpulan pengagum Aerosmith mengundang gue untuk interview di Global Radio Jakarta. Tentu saja ini dalam rangka menyambut kedatangan Aerosmith yang sebentar lagi :D

Jadilah kami menempuh perjalanan menuju Jakarta. Bapak di balik kemudi dan gue asyik mengganti-ganti CD di bangku penumpang. PUMP, Big Ones, Just Push Play dan album-album Aerosmith lainnya sudah gue siapkan dan pastikan cukup untuk menemani perjalanan kami. Bapak bertanya apakah gue hapal dengan sejarah Aerosmith. Gue bilang, "ini interview, Pak, bukan ujian", tapi Bapak tetap bertanya hal yang sama sampai gue mogok bicara. Beliau lalu tertawa dan berkata bahwa ia hanya menggoda gue. Beberapa saat kemudian gue ikut tertawa, nggak kalah kencang. Karena sebenarnya gue sudah tahu dari awal bahwa beliau hanya becanda dan gue tadi hanya pura-pura ngambek :)

Gue bernyanyi terus. Dengan penghayatan penuh, ekspersi konyol dan membuat suara serak ala rocker. Sesekali gue melirik Bapak, memastikan suara gue nggak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bapak juga ikut menyanyi, tapi suaranya nggak jelas, hanya bergumam dan baru agak terdengar di bagian refrain lagunya saja, hehehe. Tapi gue lega, karena itu artinya Bapak nggak terganggu. Kami begitu terus sampai 2 jam kemudian. Gue sudah menghabiskan 1 botol minuman dan mulai kehilangan energi untuk bernyanyi. Gue bertanya pada Bapak kapan kami sampai. Tapi beliau nggak tahu pasti, "sudah dekat", cuma begitu katanya. Gue sangat kahwatir kami nyasar, dan sayangnya, kami ternyata memang nyasar.

Kami baru bisa menemukan MNC tower, tempat dimana Global Radio berada setelah 4 jam perjalanan. Gue berkeringat sangat banyak karena tegang. Dalam hati gue berdoa supaya nggak terlambat meski sebenarnya gue sadar sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati. Gue berjalanan secepat mungkin dan meninggalkan Bapak yang sibuk mencari tempat parkir. Nggak lama kemudian gue bertemu Hans, menyalaminya dan sebisa mungkin menyembunyikan suara nafas gue yang hampir terdengar seperti dinosaurus, lol. Ajaibnya, semua yang ada di sana ternyata belum memulai interviewnya karena menunggu kedatangan gue. Selain Hans admin dari Aerosmith Indonesia, ada Wihel, seorang fans Aerosmith dan Lupi penyiar di sana. Kami mengobrol dulu dan baru berhenti setelah Bapak menemukan tempat kami. Karena ternyata mereka juga memutuskan untuk mengajak Bapak interview!

Awalnya jelas saja beliau menolak, seperti biasa Bapak lebih memilih jadi fotografer gue, mengabadikan setiap moment dari putri kecilnya ini. Tapi setelah gue bujuk dan ditambah sedikit tarikan di lengan (hihi), akhirnya beliau mau juga duduk di depan mikrofon :) Sebelum interview benar-benar dimulai Hans dan Wihel selalu menggoda bahwa gue adalah 'die hard fans' Aerosmith. Mereka bilang kalau mau bertanya yang sulit-sulit mending sama gue saja. Gue langsung melirik Bapak sambil nyengir. De javu, di mobil kan Bapak yang bergurau soal "sejarah Aerosmith", hehehe. 

Wihel, Bapak, Indi, Lupi, Hans :)

Interview berjalan lancar dan menyenangkan. Gue sesekali berbuat konyol tapi sepertinya semuanya bisa memaklumi karena gue terlalu exited setelah menunggu bad boys from Boston ini selama 20 tahun. Berkali-kali gue bilang bahwa akhirnya impian gue jadi nyata dan penantian gue terbayar. Dengan semangat gue menceritakan persiapan untuk konser nanti. Dari mulai pakaian dan apa yang akan gue lakukan kalau mempunyai kesempatan menemui mereka secara personal. Gue ingin sekali memberikan surat kepada Steven Tyler yang isinya ucapan terima kasih gue. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar konyol, tapi ia memang memberikan pengaruh positif kepada gue. Gue nggak akan seperti sekarang jika saja waktu berumur 7 tahun gue melewatkan video clip Crazy di TV (baca cerita lengkapnya di sini).

Bapak sangat menikmati suasana interview. Beliau sering menimpali gue dan mentertawakan setiap kali gue berbicara sesuatu yang konyol. Gue senang Bapak berlaku seolah nggak ada yang mendengar kami, hehehe. Lalu apa yang Bapak katakan menjadi kenyataan. Gue benar-benar ditanya soal sejarah Aerosmith! Untung saja bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah hal-hal yang sudah gue ketahui sejak berusia 10 tahun: kapan Aerosmith berdiri dan kapan Steven Tyler berulang tahun. Hehehe, ternyata itu ya yang disebut sebagai "die hard fans" :p




Banyak moment berkesan selama interview 1 jam itu. Gue bercerita bahwa berkat Aerosmith gue berlatih bermain harmonika dan drum ketika masih kecil untuk menemukan bakat gue. Meski kedua alat musik itu sampai sekarang belum dikuasai tapi apa yang gue lakukan ternyata membantu apa yang gue inginkan dan gue suka sebenarnya. Gue suka menulis, dan ingin berkarya seperti Aerosmith. Dari hati, tulus, meski dalam bentuk seni yang berbeda. Lalu tiba-tiba Bapak mendekati mikrofon dan berkata, "Indi bukan sekedar nge-fans sama Aerosmith. Tapi ia terinspirasi". Gue mengangguk dan tersenyum. Tadinya mau melanjutkan bicara tapi takut menangis karena gue terharu dengan kata-kata Bapak...

Tapi bukan hanya moment mengharukan yang kami alami. Ada kenangan lucu yang gue dan Bapak bagi tadi. Kami pernah hampir mencuri poster "Just Push Play" Aerosmith di salah satu toko kaset. Gue memang masih kecil waktu itu, tapi sebenarnya sudah mengerti bahwa mencuri itu salah. Entah terinspirasi dari mana, gue tiba-tiba merengek meminta diambilkan poster itu pada Bapak. Mungkin karena takut gue menangis Bapak mengambilnya dan sempat berjalan sejauh beberapa meter. Tapi lalu kami tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, dan dengan canggung Bapak mengembalikan poster itu ke tempat semula sambil diikuti tatapan heran orang-orang di sana, hahahaha :D Kami hampir nggak bisa berhenti tertawa waktu menceritakannya. Aerosmith memang sebuah band, tapi bagi kami lebih dari itu. Kehadiran mereka bisa membawa suasana haru sampai konyol :)

Interview ditutup dengan sesuatu yang agak mengerikan, kami ditantang untuk bernyanyi! Hehehe, kami sepakat menyanyikan lagu "Crazy". Gue melirik sekilas pada Bapak dan diluar dugaan beliau tampak exited sekali. Padahal Bapak paling malu bernyanyi di depan umum, apalagi Global radio bisa didengar oleh seluruh warga Jakarta, hehehe. Kami bernyanyi bagian refrain-nya saja. Meski pelan, gue bisa mendengar suara Bapak dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar. Bapak berani mengalahkan rasa malunya, beliau pasti sedang bahagia sekali!

Gue dan Bapak langsung pamit pulang. Perjalanan kami masih jauh, another 4 hours dan hari sudah mulai gelap. Gue senang sekali bisa bertemu dengan Hans, Wihel dan Lupi. Ini adalah pertama kalinya gue dan Bapak bertemu dengan komunitas pengagum Aerosmith. Perjalanan pulang sama menyenangkannya seperti ketika pergi. Gue melanjutkan marathon CD Aerosmith, Bapak mengikutinya dengan gumaman dan terkadang kami mengenang-ngenang apa yang baru saja kami alami. Karena belum sempat makan malam kami memutuskan untuk mampir ke Burger King. Gue adalah seorang pesco vegetarian, dan hampir nggak punya pilihan lain selain kentang goreng kalau makan di sana. Tapi ini menjadi tradisi nggak tertulis, kami harus ke sana karena Steven Tyler menjadi bintang iklan Burger King! Hahaha... Jangan anggap serius, tentu saja kami hanya main-main dan melakukannya karena menganggap itu lucu :D

Gue membeli veggie's burger dari tempat lain dan hanya membeli kentang goreng dan soda di Burger King. Bapak bilang nggak apa-apa, yang penting aura Aerosmith nya tetap terasa, lol. Kami melanjutkan perjalanan kembali setalah Bapak selesai makan, sedangkan gue sengaja menyisakan kentang gorengnya. Best part, jangan cepat-cepat karena ini makanan kesukaan Aerosmith, hehehe. Lalu handphone gue berbunyi. Ada pesan singkat dari Aerosmith Indonesia. Gue langsung tersenyum karena pasti isinya mengenai Aerosmith. "Baru juga ketemu sudah kangen kita lagi nih, Pak", gue bergurau. Gue akan membacakan pesan itu keras-keras, tapi lalu berhenti ketika gue sadar isinya bukan berita baik...

"Aerosmith batal konser di Jakarta"
.
Suara gue datar, tanpa emosi. Bahkan gue juga kaget kenapa bisa seperti itu padahal biasanya gue sangat ekspresif. Bapak sepertinya nggak percaya dengan pendengarannya, beliau bilang "hah?" berkali-kali. Gue membacakan untuknya satu kali lagi dan langsung bersandar ke jendela mobi. Nggak menangis dan cuma terdiam. Bapak juga. Pelan-pelan ia mematikan CD player yang sedang memutarkan lagu "Blind Man". Suasana mobil begitu sepi dan entah kenapa mendadak canggung. Gue nggak berani menatap Bapak karena takut melihat wajah kecewanya. Dua jam yang lalu impian kami rasanya sudah di depan mata, dan tiba-tiba hilang bahkan saat kami masih jauh dari rumah. Gue nggak tahu harus berkomentar apa. 20 tahun gue menunggu dan itu sudah menjelaskan segalanya.

Lalu tiba-tiba dada gue terasa sesak. Tangis gue akhirnya meledak, air mata gue nggak bisa ditahan. Gue menangis seperti bayi. Di tengah tangis gue bercerita tentang sesuatu yang seharusnya menjadi kejutan untuk Bapak. Diam-diam gue sudah memesan T shirt official Aerosmith untuk beliau. Harganya bagi gue nggak murah dan gue khusus menabung untuk itu. Gue ingin Bapak memakainya ketika konser nanti karena selama ini Bapak belum punya T shirt Aerosmith. Sejak dulu semuanya buat gue. Hanya buat gue. Dan gue ingin memberikan satu hari istimewa untuk Bapak.

Gue terus menangis. Benar-benar nggak tertahan. Lalu Bapak terkekeh, seperti memaksakan tertawa. Gue melihat wajahnya, akhirnya, dan jelas sekali beliau sedih. Bapak mencoba menenangkan gue, beliau bilang bisa saja Aerosmith berubah pikiran, mungkin konsernya hanya diundur sebentar. "Kaosnya buat nanti saja, terima kasih sudah dibelikan. Nanti dipakai waktu kita nonton konser Aerosmith selanjutnya, ya..."
Kata-kata Bapak sama sekali nggak menenangkan gue. Gue menangis tanpa suara dan merubah posisi duduk gue jadi meringkuk menghadap ke kiri. Membelakangi Bapak dan memejamkan mata gue.

Dalam gelap gue membayangkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Berambut acak-acakan berponi dengan gigi ompong sedang menatap serius ke layar TV. Ia begitu begitu terhipnotis dengan apa yang baru dilihatnya. Bapaknya berkata, "mereka itu Aerosmith", dan gadis itu pun tersenyum konyol. "Aku mau bertemu mereka, Pak". Bapaknya tersenyum lalu menjawab, "suatu hari, Indi... Suatu hari...".

Dan 20 tahun kemudian gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu masih menunggu "suatu hari" nya akan datang. Sekarang ia mungkin bersedih, kecewa, dan marah. Tapi dibalik itu, di lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap gadis kecil yang sama. Ia akan kembali tersenyum konyol dan suatu hari akan memberikan langsung surat yang ditulis tangan olehnya dengan hati-hati kepada Steven Tyler. Mungkin ditambah menjabat tangannya. Mungkin ditambah tepukan hangat di bahu. Mungkin. Siapa yang tahu. Yang pasti suatu hari ia nggak perlu menunggu lagi.
Amen...

daddy's little girl,


Indi
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 14 Oktober 2012

IDOL :)






Hellooooooow, weekend! Gue senang bisa bertemu lagi, hahahaha :D How's your week, guys? Fun? Semoga ya :) Gue selalu senang dengan weekend, karena meski terkadang masih harus bekerja, di weekend gue selalu punya waktu ekstra untuk melakukan hobi dan bersantai. Tapi bukan berarti gue nggak suka weekdays, ya. I love everyday! Gue suka semua hari sesuai fungsinya. Gue menikmati hari-hari bekerja tapi juga selalu gembira menyambut hari libur :D Minggu ini berjalan (thank God) lancar buat gue. Semuanya smooth dan bisa di-handle. Gue nyaris nggak percaya karena minggu sebelumnya gue sempat pesimis nggak bisa menikmati mengajar di kelas baru. Ya, gue rindu dengan murid-murid di kelas yang lama, tapi ternyata mengajar di kelas baru juga asyik. Beda usia, beda tantangan. Pengalaman yang didapat pun berbeda, tapi hidup memang selalu berjalan, dan nggak wise jika gue berharap terus-terusan mendapat 'hari kerja' yang sama, kan? Gue memang memerlukannya untuk terus berkembang :)
Ngomong-ngomong soal pekerjaan, gue jadi ingat dengan dua orang sepupu gue, Gaby dan Billa yang usianya hampir sama dengan murid-murid gue. Nah, gue punya cerita tentang mereka berdua...

Gaby dan Billa adalah sepupu termuda gue. Usia mereka baru 6 dan 5 tahun sehingga banyak yang mengira bahwa mereka adalah keponakan gue. Mereka tinggal di Jakarta, sedangkan gue tinggal di Bandung,paling banyak kami hanya bertemu satu kali seminggu. Awalnya mereka nggak dekat dengan gue karena hampir selalu datang saat gue sedang kelelahan (weekend!) dan sedang (berpura-pura) tidur. Tapi semuanya berubah waktu gue tahu bahwa... mereka mengidolakan gue!
Well, ya, uhm... mungkin kalian tertawa waktu membaca ini. Gue tahu gue bukan orang hebat, berprestasi apalagi selebriti yang suka muncul di TV sampai-sampai bisa punya penggemar, hehe. Tapi Gaby dan Billa benar-benar memperlakukan gue sebagaimana seorang idola. They're praise me like I'm a super duper great person :D

Billa minta rambutnya disisiri supaya mirip gue, dan Gaby minta diajarkan menggunakan HP :D

What I wore? Hairgrip: Random | Ring: Random | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: Noche


Gaby yang lebih dulu meng-copy gaya gue. Ia ingin rambutnya dipotong dengan model bob klasik lengkap dengan poni persis seperti gue. Lalu Billa mengikuti, meski rambutnya ikal tapi ia juga ingin potongan rambut yang sama. Mereka tahu gue suka sekali dengan aksesoris rambut, hampir bisa dipastikan setiap hari gue memakai bando atau minimal pita kecil di rambut gue. Mereka juga mengikutinya dan selalu memakai model bando atau pita yang sama dengan yang gue punya. Hebatnya, nggak pernah satu kali pun mereka meminjam atau meminta aksesoris milik gue, tapi mereka pasti bisa menemukan yang hampir sama!
Begitu juga dengan gaya berpakaian. Gaby dan Billa ikut-ikutan lebih memilih dress dan rok dibanding model pakaian apapun di dunia, sama seperti gue. Model sepatu pun maunya semirip mungkin dengan yang gue pakai. Syukurlah kebanyakan sepatu gue bermodel flat. Seram kan kalau anak-anak pakai high heels? Hehehehe. Gaby bahkan sekarang mulai ikut les balet. Alasannya supaya ia bisa memakai stocking yang sama seperti gue! Oh la la... lucu sekali mereka :)

Mereka bahkan meniru tingkah laku gue. Pose foto, cara bicara, cara berjalan bahkan makanan kesukaan. Nggak jarang gue memergoki Gaby sedang berlatih "menjadi gue" di cermin. Jari-jarinya membentuk "V sign" dan kakinya disilangkan, hehehe. Atau Billa yang kalau makan mie maunya pakai sumpit karena gue juga begitu. Lucu sekali melihat tingkah mereka. Rasanya seperti melihat diri sendiri dalam bentuk mini. Ada perasaan bangga juga karena seperti yang sudah gue bilang, gue bukan siapa-siapa. Dan mengetahui ada yang mengidolakan rasanya menjadi sebuah penghargaan untuk gue yang nggak bisa tergantikan dengan apapun.

Mungkin ada yang meragukan cerita gue, how come ordinary girl seperti gue ada yang mengidolakan, ya? Hehehe. Tapi gue nggak mengada-ada. Bahkan Ray yang baru pertama kali bertemu Gaby dan Billa pun langsung tahu bahwa mereka adalah fans berat gue. "They're just... so you", begitu kata Ray. Waktu itu gue dan Ray baru pulang dari sebuah acara dan di rumah sudah ada Gaby dan Billa. Mereka menyambut gue di pintu dan langsung memberi gue bingkisan berisi makanan dan pernak-pernik :D Meski malu-malu karena ada Ray, mereka mengikuti gue masuk ke dalam rumah dan berlomba-lomba menaruh sepatu tepat di samping sepatu gue! Gaby akhirnya menang setelah memaksa Billa menaruh sepatunya di belakang miliknya dengan alasan ia lebih tua, hahaha. Nggak sampai di situ saja, Gaby dan Billa langsung berdebat tentang sepatu siapa yang lebih mirip sepatu gue. Bisa gawat kalau mereka bertengkar hanya gara-gara sepatu, jadi langsung saja gue menengahi dan bilang bahwa sepatu mereka sama miripnya seperti sepatu gue :)

Billa "memeriksa" isi tas gue. Ia penasaran dengan 'kertas minyak'.



Gaby dan Billa belakangan punya kebiasaan baru. Sejak 3 minggu yang lalu mereka memanggil gue dengan sebutan-sebutan yang ajaib, seperti "Tuan" atau "Yang mulia". Mereka memanggil gue seperti itu sambil terus membuntuti gue. Bahkan saat gue berada di kamar mandi mereka terus memanggil gue dari balik pintu. Awalnya gue biarkan saja sampai mereka memanggil gue, uhm, "Tuhan"! Gue kaget sekali dan langsung memberi tahu mereka bahwa nggak baik memanggil seseorang seperti itu. Mereka menurut, langsung berhenti. Tapi gue jadi sadar sesuatu bahwa ternyata memang mereka mengidolakan gue sebesar itu!

Sepertinya gue harus mulai melihat "fenomena idola-idolaan" ini dari kacamata Gaby dan Billa. Selama ini gue berpikir bahwa ini just a cute thing, lucu-lucuan yang membuat orang tertawa jika mendengar cerita ini. Tapi bagi mereka lebih dari itu. Mereka benar-benar mengagumi gue dan di mata mereka apa yang gue lakukan selalu benar, selalu bagus... Gaby dan Billa masih polos, baru sedikit hal yang mereka lihat. Di dunia mereka hanya ada gue karena (tentu saja) belum pernah melihat bahwa di luar sana banyak sekali tokoh-tokoh hebat yang layak untuk dikagumi, bahwa potongan rambut itu nggak sekedar bob dan model pakaian itu bukan sekedar rok dan dress terusan. Jadi wajar saja jika mereka selalu meng-copy apapun yang gue lakukan.

Jangan sampai gue membuat kesalahan dan mereka menirunya. Gue harus lebih berhati-hati dalam berperilaku, berkata-kata dan bahkan berpakaian. Suatu hari nanti Gaby dan Billa akan dewasa dan sadar bahwa di dunia ini bukan hanya ada gue dan mereka (mungkin) akan menemukan role model baru. Tapi sebelum itu terjadi gue harus menjaga agar gue menjadi idola yang baik. Ya, I know, kinda funny gue menyebut kata "idola", tapi faktanya memang begitu: mereka mengidolakan gue.

Gaby dan Billa mengajarkan gue sesuatu, bahwa menjadi idola bukanlah hal mudah. Menjadi idola bukan sekedar tentang menjadi populer dan mempunyai prestasi bagus. Tapi menjadi idola juga berarti bertanggung jawab dengan perilaku diri sendiri dan nggak memberi pesan yang salah pada penggemar. Terbayang di benak gue bagaimana sulitnya menjadi orang-orang hebat yang gue kagumi. Bagaimana sulitnya menjadi Steven Tyler, menjadi John Frusciante? Beruntung sekali mereka nggak pernah memberikan gue pesan yang salah ketika gue masih sangat muda dan menganggap mereka selalu benar.
Sekarang biarlah gue, Gaby dan Billa sama-sama belajar. Gue akan belajar menjaga perilaku dan menjadi idola yang baik bagi mereka. Dan Gaby juga Billa, biarlah mereka belajar bahwa saat dunia kecil mereka habis dan bertumbuh dewasa, mereka akan melihat banyak hal baru dan (semoga) tetap mengenang gue sebagai orang yang baik, meskipun bukan sebagai idola mereka lagi.

Jadilah gadis yang baik, Gaby, Billa... :)



kakaknya Gaby dan Billa,

Indi



update:
* Tulisan baru gue untuk Green Smile bisa dibaca di sini.
* Baru saja diinterview oleh situs Cek n Ricek dan berharap isinya bukan gosip :p
* Gue sedang bingung dengan kostum Halloween party besok :( Any idea? :)
* Blog ini menerima sponsorship. Hubungi gue di namaku_indikecil@yahoo.com atau di sini dan sini untuk keterangan lanjut.
* Senang punya banyak teman baru di blog ini \(^^)/ Terima kasih ya, teman-teman!

Jumat, 10 Agustus 2012

Hello, Hello Kitty :)

Hayyyy, bloggies! Apa kabar? Semoga semuanya baik-baik saja ya :) Gue juga baik, terkecuali kalau sakit lutut gue mau dihitung, hihihi. Semua berjalan dengan baik di bulan Agustus ini, thank God, apa yang sudah direncanakan sedikit-sedikit mulai terwujud. Salah satunya project novel ke tiga gue yang sudah selesai cetak dan akan beredar secara resmi di seluruh Indonesia sesudah lebaran nanti. Senang :D Mohon doanya ya, teman-teman :)

Nah, kali ini gue nggak akan cerita tentang novel ke tiga gue, apalagi soal pekerjaan. Tapi gue mau cerita sesuatu yang ringan dan membuat gue tersenyum belakangan ini. Sejak kecil gue selalu punya idola. Dari mulai tokoh kartun sampai tokoh yang nyata. Seingat gue, idola pertama gue adalah Mickey Mouse, lalu berganti Sailor Moon, lalu Barbie, lalu berganti banyak tokoh kartun lain yang gue sudah nggak ingat, hihihi. Meski ada banyak, tapi selalu ada kesamaan, tokoh yang gue suka pasti memberikan pelajaran buat gue, atau bahasa orang dewasanya: inspiring. Iya, serius, bahkan Barbie menginspirasi gue, lho. Siapa bilang boneka cantik itu cuma bagus untuk didandani dan diganti bajunya? Barbie itu "sosok" perempuan yang cerdas, lho. Lihat saja pekerjaan yang dia punya, dari mulai dokter sampai pemain band! Wah, perempuan yang serba bisa, kan? Hihihi :) Barbie membuat gue semangat untuk belajar banyak hal dan membuat gue percaya bahwa brain dan beauty harus berjalan beriringan :)

Sampai gue dewasa pun setiap kali gue menyukai sesuatu (nggak pakai kata "idola" lagi, ya. "Idola" kata yang terlalu berat untuk orang dewasa, lol) pasti ada alasannya, pasti karena memberikan pengaruh baik baik buat gue. Hmm, apa terdengar terlalu serius? Hihihi, gue memang selalu percaya bahwa hal sekecil apapun bisa berpengaruh terhadap gue. Misalnya saja gue sedang pakai dompet bergambar Mickey Mouse, maka setiap kali gue mau mengambil uang, gue akan mengingat Mickey yang hidup sederhana tapi akan berusaha sekeras mungkin untuk membuat Minnie bahagia. Sweet. Membuat gue tersenyum :))

Nah, belakangan gue memperhatikan sesuatu yang nggak biasa dari barang-barang di sekitar gue. Gue sangat suka warna pink dan selama masih memungkinkan gue senang jika barang yang gue pakai sehari-hari juga berwarna pink. Ternyata ada 1 tokoh yang jarang gue perhatikan padahal perniknya ada di mana-mana, terutama di kamar gue, yaitu Hello Kitty! Selama ini sepertinya gue hanya tahu bahwa warnanya pink dan cute, tapi nggak mengenal tokohnya.
Di pre school tempat gue bekerja, banyak yang bertanya apakah gue Hello Kitty, dan gue selalu menjawab "nggak". Well, she's cute for sure, tapi seperti gue bilang tadi, gue nggak tahu apa-apa tentangnya.

Lalu gue putuskan untuk berlaku "adil" dengan tokoh yang satu ini. Gue mencari tahu tentang si kucing imut ini. Bagaimana karakternya, dan apa "alasan bagus" kenapa gue harus menyukainya. Ternyata faktanya cukup mengejutkan, lho! Hello Kitty ini ternyata punya profesi yang pasti diinginkan oleh seluruh manusia di dunia.Dia ahli membuat orang lain merasa senang! How cute :) Dia juga menyukai sesuatu yang sangat indah, yaitu persahabatan. Dan soal percintaan dia sangat setia, sejak kecil dia hanya punya satu pasangan bernama Daniel Star. Hello Kitty juga cerdas, lho. Dia menguasai bahasa Inggris, musik dan seni visual! Awww, gue langsung jatuh cinta, she's really adorable :)

Jadi, sekarang kalau ada yang bertanya apakah gue suka Hello Kitty, gue akan langsung menjawab "IYA!". Karena di balik wajah cute nya ternyata dia mempunyai karakter yang inspiring!
Hello, Hello Kitty. You're my new idol... eh, kesukaan baru, hihihi :))



Celengan, hihihi :)

Head set, hadiah dari Ray :)

Super cute body mist! Nggak sabar mau coba lotion'nya juga :)

Hello Kitty Lotion: The packaging just toooo cute :p

Harusnya bukaannya di samping, jadi gue nggak perlu sobek gambar Hello Kitty'nya :p

Jam dinding. Tik-tok :)

Bouncy pillow. Hughug :)

Handphone :)

Jam tangan :)

Hard case blackberry kesukaan :D

Cring.. cring... Gantungannya bisa bunyi, lho :)

Mouse pad yang menemani waktu gue post tulisan ini :D

Wallpaper dan stylus! :)

Sisir hadiah dari Ray :)

Kuas pembersih keyboard :D Unik, ya? Hahahaha....

Botol minuman lipat.

Hardcase Nokia :D

Dan.... ada satu kesamaan yang nggak disengaja antara gue dan Hello Kitty. Kami sama-sama bergolongan darah "A" dan suka pakai pita pink di sebelah kiri, hihihi ;)





Miawmiau,

Indi :)

Contact me? Here and Here.