Tampilkan postingan dengan label MSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MSI. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2010

Scoliosis Is a Gift From God

Hi, aku Indi. Aku bahagia, menyelesaikan sekolah dengan baik dan juga seorang scolioser.
Ya, scolioser atau pengidap kelainan tulang belakang yang abnormal kearah samping di leher, dada dan pinggang yang biasa disebut scoliosis.
Waktu aku menulis postingan ini, kelengkunganku 55 derajat. Jalanku timpang dan kesulitan untuk menggerakkan tubuh bagian kanan. Tapi seperti yang sudah aku sebutkan di atas, aku bahagia. Dan aku menganggap scoliosis sebagai anugerah dari Tuhan.



***

Aku masih berusia 9 tahun waktu tahu ada yang aneh dari tubuhku. Sebagai seorang gadis kecil yang sedang mengalami masa pra pubertas, aku mulai mencoba-coba untuk memakai mini set (itu lho, training bra for young lady. Lol). Anehnya, kedua buah dadaku nggak fit di cup mini set. Awalnya nyokap pikir itu karena usiaku yang masih terlalu muda, tapi ternyata kecurigaanku makin bertambah waktu aku menginjak usia 11 tahun.
Aku mengalami menstruasi pertama dengan nyeri yang amat sangat. Ortuku nggak tahu apa penyebabnya. Begitu juga dengan dokter anak yang menanganiku sejak lahir. Dia nggak lihat ada yang salah dari tubuhku.


Hari ini, scoliosis 55 derajat.



Lalu di usia 13 akhirnya aku dapet jawaban pasti atas keanehan yang ku alami. Tanpa sengaja, aku baca artikel tentang scoliosis disuatu tabloid kesehatan. Hanya untuk iseng aku mencoba tips "Cara Mendeteksi Scoliosis". Aku mulai membungkuk dan melihat pantulan tubuhku di cermin. Kaget. Ada yang salah. Punggung bagian kananku tampak menonjol seperti hampir lepas. Waktu itu aku sedikit panik, tapi mencoba tenang dan menceritakan semuanya pada ortu. Beruntung mereka langsung membawaku ke RS khusus tulang.

Hasil pemeriksaan dokter menunjukan kalau kemiringan scoliosisku sudah 35 derajat. Belum termasuk parah, tapi tinggal 5 derajat lagi untuk masuk kategori parah.
Dokter langsung menyarankanku untuk pakai brace alias penyangga tulang belakang. Tadinya aku ngotot buat nolak, soalnya selain bentuknya yang nggak manusiawi (sekeras besi, menutupi seluruh bagian tubuh sampai panggul dan hanya ada 3 buah lubang "bernapas": di ketiak dan di pusar!), aku juga harus pakai selama 23 jam sehari. Tapi akhirnya aku nyerah juga, soalnya otak sadarku 100% tahu, kalau tanpa brace tubuhku justru malah nggak terkontrol. Suka gerak sana-sini yang malah memperparah scoliosisku.


Sesi terapi yang menyenangkan.


Pemotretan untuk majalah sport.



Aku harus kompromi sama banyak hal semenjak aku pakai brace (baca: semenjak ketahuan scoliosis). Aku nggak bisa lagi lari, loncat, noleh sana-sini dan bebas pakai semua model baju. Kompromi sama hal terakhir jadi yang paling sulit buat aku sebagai seorang remaja. Aku cuma bisa bilang "Da-dah" sama koleksi T shirt ketatku. Soalnya kalaupun nekat aku pake, bisa-bisa tonjolan skrup kelihatan jelas dan aku malah kelihatan kaya robot, bukannya keren! Begitu juga dengan kegiatan modeling yang otomatis harus aku tinggalin (aku sering jadi model untuk butik di tempat nyokap dulu bekerja). Bikin aku sedih dan nggak tahu kegiatan apalagi yang pas buatku.


Gueststar di launching Masyarakat Skoliosis Indonesia.


Profilku di majalah GoGirl!


Profil dan resensi novelku di M Teens.


"Waktu Aku sama Mika". Novel tentang kehidupanku sebagai scolioser.



Tapi lalu Tuhan kasih aku alternatif lain untuk tujuan hidup. Semenjak aku nggak lagi bisa bebas main di luar rumah seperti anak-anak lain, aku mulai menulis. Menulis, menulis dan menulis. Sampai akhirnya aku lupa dengan cita-cita yang pengen jadi model. Terbukti, walau lambat tapi pasti Tuhan semakin menunjukan kalau scoliosis dan aku adalah padanan yang paling sempurna. Dimulai dari artikel kecil di majalah remaja sampai novel akhirnya bisa aku hasilkan. Semua itu Ia tunjukkan melalui scoliosis.

Kadang aku masih mengeluh dengan rasa sakit yang aku alami. Masih sebal kalau panggulku sakit.  Atau masih manyun kalau lagi buru-buru tapi nggak bisa jalan dan naik tangga dengan cepat. Tapi itu jarang terjadi. Jarang sekali, malah. Seringnya aku malah menganggap kalau scoliosis itu anugerah dari Tuhan. Dengan kata lain, kado, hadiah atau berkat.

Aku nggak bisa bayangin diriku tanpa mengidap scoliosis. Mungkin aku nggak akan pernah seperti ini, nggak akan pernah tahu kalau aku sebenernya bisa menulis dan punya fungsi dalam hidup. Aku bukan aku yang sekarang kalau tanpa scoliosis. Seandainya ada yang ingin menukar hidupku sekarang dengan apapun, aku nggak akan pernah mau. Ini yang terbaik untukku. Ini jalan Tuhan!...



Resensi novelku di Jawa Pos.


Profilku di majalah Kartika.






My Page (FB): Indi Sugar
My Group (FB): Waktu aku Sama Mika