Tampilkan postingan dengan label purwakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label purwakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2020

Kapan Harus Menikah?

Yay, aku kembali! ---Well, semoga saja aku benar-benar "kembali" aktif menulis di sini, ya. Bukan balik sebentar terus menghilang lagi, ahahaha. Buatku rajin menulis itu murni agar otakku tetap aktif, juga agar ada dokumentasi perjalanan hidupku karena nggak semua hal bisa diabadikan dengan foto. Kalau ada yang membaca aku senang, tapi kalau pun nggak itu bukan masalah. Nggak akan aku jadikan alasan untuk stop menulis. Lalu, kemana sajakah aku selama 4 bulan terakhir? Jawabannya cukup complicated. Pertama, aku malas. Iya, setelah pindah ke rumah baru semenjak menikah segala "setting" berubah. Ada space khusus untukku menulis di sini, kamar kecil lengkap dengan meja dan kursinya. Tapi aku belum terbiasa, karena meski suasana di sini nyaman tapi tetap saja aku perlu adaptasi. Dan untuk mengatasinya aku kurang bijak. Alih-alih mencoba, aku malah lebih rajin baca buku atau menonton film sekarang, hahaha. Dan kedua, laptopku yang memang usianya sudah tua semakin sulit untuk digunakan. Frekuensi tiba-tiba mati karena over heatnya semakin sering, lemotnya semakin luar biasa. Akhirnya aku jadi lebih sering bermain dengan laptopnya Shane, ---tapi bukan untuk menulis. Bersyukur kemarin aku dapat laptop "baru". ---Bukan model baru maksudnya, ini model sudah lumayan jadul tapi ini waaaay better dari laptop lamaku. Seharusnya alasanku untuk "malas" jadi berkurang, dong sekarang. Kita lihat saja sama-sama, ya! Hahaha :p

By the way, aku mau cerita soal sesuatu yang sebenarnya sudah lama aku rencanakan. Tapi karena alasan yang aku sebutkan di atas, dan somehow lupa terus, akhirnya malah nggak jadi-jadi. Aku rasa sekarang waktu yang tepat karena sahabatku, Rifa baru saja menikah (sebelum pandemik yang terjadi sekarang ini, ---Oh, God please lindungi kami semua). Yup, aku mau membahas soal pernikahan. Kalau soal "acara" pernikahanku dan Shane sih sudah pernah ya, yang sekarang mau kubahas itu tentang my thought about getting married. Mungkin  teman-teman yang sering membaca blog ini dari dulu tahu kalau aku nggak pernah membahas soal rencana menikah, meskipun saat itu aku punya long term boyfriend, ---delapan tahun. Well, itu karena aku nggak pernah punya rencana menikah muda dan nggak punya target usia kapan harus menikah. Aku adalah tipe orang yang let it flow. Kalau cocok ayo jalani, kalau nggak ya sudah tinggalkan. Nggak ada dalam kamusku "sia-sia" atau "buang waktu" hanya karena suatu hubungan nggak berakhir di pernikahan. Buatku pernikahan itu perjalanan, bukan sebuah goal yang tiap orang HARUS mengalaminya.

Balik lagi ke sahabatku, Rifa. Kami sangat dekat, dengannya aku bisa bercerita apa saja. Begitu juga sebaliknya. Tapi bukan berarti kami selalu "setuju" dalam segala hal. Apa yang aku yakini, sukai, nggak selalu sama dengan Rifa. Dan untuk kami itu bukan masalah :) Berbeda denganku, Rifa selalu ingin menikah, menjadi seorang istri dan ibu. Pokoknya setiap kali berhubungan dengan laki-laki, tujuannya untuk menikah dan ingin langsung punya anak. Tentu aku sangat mendukung goalnya ini meski nggak sejalan denganku. Setiap kali ia dekat dengan seseorang, aku selalu dengan excited bertanya tentang kelanjutannya. Rifa sangat "pandai" berandai-andai, dengan lancar ia bercerita bagaimana kehidupan pernikahannya kelak dan itu membuatku ikut bahagia :D Sampai-sampai kubilang kalau ingin ia yang menikah duluan suatu hari, hahaha.

Tapi ternyata realitanya berbeda, akulah yang menikah lebih dulu. ---Dengan sahabat sendiri yang sebelumnya nggak pernah aku gembar-gemborkan. Pacaran yang singkat, tanpa tunangan, tanpa resepsi. Buru-buru? Nop. Aku menikah karena aku TAHU sudah tiba waktu yang tepat. Tentu pernikahanku mengejutkan banyak orang, termasuk Rifa (bahkan beberapa anggota keluargaku). Memang serba salah, ya. Mendadak menikah bikin gempar, eh santai nggak nikah-nikah malah ditanya melulu, lol. Orangtuaku menikah di usia yang secara umum dianggap muda. ---Aku bilang dianggap karena muda itu relatif. Misalnya, menurutku menikah usia 35 itu masih muda, tapi ada juga orang yang bilang telat, ---yang mana aku sangat nggak suka dengan istilah "telat nikah". There's no such thing as that, lah. Katanya kalau usiaku sekian harus sudah menikah, biar pas umurnya, biar ini, biar itu, biar masih cantik, biar punya anaknya belum terlalu tua, bla bla blaaaa... I called that BS! Beruntungnya aku dibesarkan oleh orangtua yang sangat suportif open minded. Sama sepertiku, mereka juga berpendapat kalau nggak ada patokan usia kapan manusia harus menikah. Kalau sudah siap dan mau menikah ya silakan, tapi kalau nggak siap (atau malah nggak mau) ya sudah. Dorongan-dorongan dari luar bisa berbahaya karena bisa membuat toxic marriage. Just imagine, kamu sebenarnya nggak mau menikah, tapi demi "menyenangkan" orang lain kamu menjalaninya dengan setengah hati. Your happiness matter, buddy!

Waktu Rifa menikah, aku bahagia sekali. Aku tahu ini sudah lama ia impikan, dan aku tahu kalau ia memang sudah SIAP. Keinginan ini datang dari dirinya sendiri, setelah menemukan laki-laki yang tepat ia nggak mau menunggu lama. Ini menjadikan moment pernikahannya nggak cuma istimewa buatnya, tapi juga untukku. Aku datang jauh-jauh bersama Shane dan juga Bapak dari Bandung ke resepsinya di Purwakarta. Her face... ia terlihat sumringah dan bersemangat. Aku dan Shane sampai hampir nggak mengenalinya karena ia terlihat cantik dengan gaun lebarnya.
Waktu aku mengetik ini I miss her so darn much, seperti yang kubilang, kami bersahabat tapi aku dan Rifa "nggak sama". Setelah menikah ia berfokus dengan rumah tangganya, waktu untuk teman-temannya banyak berkurang, ---termasuk denganku. Sementara aku, setelah menikah nggak ada yang berubah. Aku masih hangout dengan teman-teman sebanyak sebelumnya, ---malah lebih seru karena Shane juga ikut. Tapi lagi-lagi, buatku itu nggak masalah. Setiap orang boleh menentukan pilihannya dan saat nggak sesuai denganku bukan berarti harus memusuhi. Setiap rumah tangga bekerja dengan cara yang berbeda-beda ;)

Pengantin yang berbahagia, Rifa dan Robby :)

Kemeja yang Shane pakai adalah hadiah dariku (dibuatkan oleh Ibu) waktu kami masih berteman dan belum pernah bertemu langsung. Shane juga waktu itu mengirimiku hadiah ukulele, Tascam dan banyak lainnya :)

Jadi kapan dong usia yang tepat untuk menikah menurutku? NGGAK ADA. Pernikahan itu bukan perlombaan. Manusia boleh menikah kapanpun (asal cukup umur, siap mental dan finansial) atau malah nggak menikah sama sekali. Keinginan dan goal hidup setiap orang itu berbeda. Jangan lupa kalau kadang usia juga nggak berarti apa-apa. Bisa saja yang berusia 25 tahun lebih siap (dan lebih ingin) untuk menikah dibandingkan temannya yang berusia 40 tahun.
Dan well, sekarang bulan puasa sebentar lagi Lebaran tiba. Kalau nih... kalau-kalau saja corona sudah pergi dan kita punya kesempatan buat kumpul-kumpul, please stop bertanya "Kapan nikah?" (dan 'kapan-kapan' yang lain seperti tentang anak, pekerjaan, etc). Itu bukan urusanmu. Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang basi itu malah jadi beban atau malah melahirkan pernikahan yang terpaksa. Aku nggak becanda, ada kenalanku (masih kerabat sih...) yang akhirnya menikah karena bosan ditanya terus. Padahal ia mengaku kalau ia nggak cinta sama istrinya. Dan sekarang, guess what?! Ia berencana punya anak. Kenapa? Karena cape ditanya melulu! See that, ia (dan istri dan anak kelak) adalah korban dari pertanyaan basi tersebut. Bagus kalau pada akhirnya mereka bisa cope with the situation dan menjalani pernikahan yang tulus. Nah kalau nggak? Mau disalahkan? Ah, aku jamin paling orang-orang yang nanya melulu itu langsung ngeles dengan bilang, "Kan gue cuma nanya."
Kan somplak.


yang waktu itu menikah karena (akhirnya) ingin,

Indi


Update: Di tahun 2022, Robby, suami Rifa sadly passed away… Mereka dikaruniai satu anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Aku, Shane dan keluarga turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya. Semoga Rifa dan putrinya selalu dalam lindungan Tuhan. Amin…

---------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 08 April 2012

Daddy's Perspective :)

Hi bloggies! Ini aku, Indi, balik lagi dengan lebih cepat. Alasannya tentu saja karena ini sedang (yaiy!) long weekend! :D So, how's your holiday, guys? Fun? Aku harap begitu ya, dan untuk yang merayakan Paskah, aku ucapkan, "May the promise of Easter fill your heart with peace and joy! Happy Easter!" :)

Weekend kali ini terasa sangat spesial karena aku bisa melepas kangen dengan Bapak. Pasalnya, satu bulan belakangan ini beliau sedang bekerja di Purwakarta, ada proyek keluarga. Dan beliau hanya bisa pulang beberapa hari saja setiap satu minggu :( Padahal tahu sendiri kan aku dekat sekali dengan Bapak. Apa-apa maunya sama Bapak, soal makanan saja lebih suka buatan Bapak daripada Ibu (eits, bukan berarti masakan Ibu nggak enak, lho, beliau sangat pintar masak), hehehe. Pokoknya aku itu Daddy's little girl meskipun sudah besar. Jadi selama Bapak bekerja, banyak sekali hal yang aku rindukan...
Aku beranikan diri meminta Ibu untuk mengunjungi Bapak meski keadaan di rumah sebenarnya nggak terlalu memungkinkan, Ibu sedang sibuk. Tapi tanpa disangka-sangka ternyata Ibu setuju. "Soalnya Ibu juga kangen Bapak", begitu katanya, hihihi... Jadilah kami berdua berangkat ke Purwakarta di tanggal 6 April kemarin. Baru 10 menit perjalanan, Bapak sudah meneleponku 4 kali dan SMS aku berkali-kali untuk menanyakan kami sudah sampai mana. Beliau juga sangat kangen kami! :D

Di perjalanan aku semangat sekali bercerita pada Ibu tentang apa rencanaku dengan Bapak nanti. Aku bilang aku akan minta Bapak foto aku yang banyaaaaaaaak sekali seperti kebiasaan kami di rumah. Aku sudah pakai baju baru yang khusus kudesain beberapa hari sebelumnya, dan aku juga sudah mandi, sudah wangi. Pokoknya sudah siap! :) Tapi Ibu bilang aku nggak boleh mengganggu Bapak, karena beliau di sana untuk bekerja, bukan liburan. Ah, aku agak kecewa mendengar Ibu bilang seperti itu, masa Bapak nggak boleh libur beberapa jam saja untuk menghibur anaknya? Tapi sudahlah aku coba pikirkan yang baik-baik saja, apalagi aku percaya, Bapak selalu punya cara untuk membuatku senang ;)

Satu setengah jam kemudian kami sampai di Purwakarta. Aku langsung mencari Bapak di setiap sudut villa keluarga kami. Sayangnya Bapak nggak ada...
Oya, villa ini tadinya tanah kosong milik Kakek dan Nenek, lalu beberapa tahun kemudian keluarga besar kami membangun villa peristirahatan di sini, yang sejak saat itu dijadikan tempat berkumpul kami setiap tahun. Dan sekarang dengan ide dari salah satu kakak Ibu, di lingkungan sekitar villa sedang dibangun beberapa fasilitas untuk warga sekitar seperti masjid, rumah pintar dan rumah singgah. Nah, Bapak dan beberapa anggota keluarga lain lah yang bergantian mengawasi orang-orang yang sedang mengerjakan proyek ini.


Dress baru yang kudesain sendiri :)

Sepatu yang dibeli beberapa minggu sebelumnya. Cuma 50 ribu, dapat di rak diskon ;)








Beberapa menit nggak ada tanda kehadiran Bapak ---hanya ada Kakek di villa---, aku langsung SMS beliau pakai huruf besar semua, "PAAAAAK, AKU SUDAH SAMPAIIIIIII". Dan beberapa saat kemudian, bagai adegan di film-film drama, aku mendengar suara mobil dari kejauhan. Aku langsung bergegas ke arah datangnya suara itu, dan..... Bapak ada di sana sedang mengemudi dengan ngebut! Susah sekali menggambarkan perasaanku waktu melihat Bapak, mungkin di sini aku hanya bisa mengetik 'senang-senang-senang-senang-senang-senang-senang-senaaaaang!', tapi percayalah perasanku gue sangat-sangat beragam :'D Aku langsung memeluk Bapak dan mencium tangannya, dengan semangat aku bercerita tentang apa saja yang kualami selama beliau nggak ada. Bapak mengomentari semuanya, bahkan tentang baju baruku. Katanya "bagus", apalagi ditambah dengan tubuhku yang nampak gemukan. Hihihi, senangnya diperhatikan :)
Bapak meminta kerabat di sana untuk menyiapkan makan siang, tapi aku menolak. Aku bilang, aku nggak mau makan sebelum foto-foto dulu seperti biasanya. Pura-pura merengek, aku bilang nggak mau bajuku keburu kusut jadi harus cepat-cepat difoto selagi rapi. Bapak tertipu! Beliau langsung mengajakku ke hutan jati di samping villa diikuti dengan tatapan marah Ibu, hihihi...


Aku dan Engki, kakekku. I love him so much :)


Aku dan Ibu :)


Luar biasa rasanya waktu Bapak berhenti bekerja dulu sejenak demi aku. Iya, demi aku, putrinya yang bukan anak-anak lagi. Beliau menuntunku melewati akar-akan yang menyembul di sepanjang hutan sambil menceritakan tentang ide foto-fotonya nanti. Just me and my daddy. Aku percaya inilah impian setiap gadis di dunia, dan aku bahagia sekali masih bisa mengalaminya... :)
Bapak menunjuk sebuah pohon, menyuruhku berpose di sana dan membidikan kameranya. Klik. Sebuah foto indah karya Bapak pun berhasil dibuat...


Berpose di hutan jati.


Belum ada setengah jam langit tiba-tiba mendung disusul oleh hujan rintik-rintik. Bapak dan aku bergegas menuju kembali ke villa. Aku sedikit cemberut karena kami baru dapat beberapa foto saja. Tapi Bapak menghibur, katanya setelah makan siang hujan pasti reda, dan kami bisa melanjutkan foto-foto lagi. Aku menurut dan segera makan dengan lahap. Sop, kacang panjang, bahkan ikan sungai yang biasanya nggak suka pun aku habiskan. Entahlah, semuanya terasa enak :)
Bapak nggak ikut makan siang. Hanya gue, Ibu dan seorang kerabat bernama Nek Iyah yang yang tinggal di villa. Sementara Bapak dan Kakek kembali mengawasi proyek. Ibu kembali mengingatkanku supaya nggak mengganggu pekerjaan Bapak. Katanya foto-fotonya sudah cukup dan bisa dilanjutkan di hari Selasa ketika Bapak pulang. Aku mengangguk meski sebenarnya masih mau foto-foto...

















Foto-foto karya Bapak. Bagus kan semuanya? :)



Selesai makan siang HP ku berbunyi. SMS dari Bapak! Isinya adalah ajakan untuk melihat proyek rumah pintar yang hampir selesai. Aku langsung mengajak Ibu untuk cepat-cepat pergi selagi hujannya reda. Seharian hujan datang dan pergi, jadi aku takut hujan tiba-tiba datang lagi sebelum kami tiba di tempat Bapak.
Di sana aku melihat banyak bangunan bagus, rumput-rumput rapi dan tanaman yang ditata teratur. Aku membuka pintu bangunan yang paling dekat dan melihat isinya. Wah, luar biasa indah... Perpustakaan lengkap dengan bangku-bangku yang nyaman. Lalu Bapak bertanya apa aku membawa kamera. Aku bilang semua barang-barang, termasuk kamera ada di dalam tas Ibu. Bapak meninggalkanku di perpustakaan sendirian, dan beberapa menit kemudian beliau kembali dengan membawa kamera. "Foto-foto lagi, yuk!". Begitu ajaknya.
Dengan semangat dan senang hati ---tentu saja---, aku langsung bergaya sambil tersenyum. Bapak memberi isyarat supaya aku mengikutinya setelah foto pertama selesai. Katanya, "Ayo, kita foto-foto di luar saja. Kalau ketahuan Ibu nanti dia marah".
Bapak mengambil foto sambil bertanya banyak hal padaku, tentang apa saja yang beliau lewati selama nggak ada di rumah. Beliau juga memintaku menceritakan tentang pengalaman pertama aku mengajar TK dan tentang novel ketigaku. Aku bercerita dengan semangat, banyak tertawa meski kadang diselingi rengekan betapa aku merindukannya. Aku nggak mau terlihat rewel, tentu saja. Tapi perasaan rindu dengan hal-hal kecil dari Bapak memang nggak bisa ditutupi. Tanpa Bapak, nggak ada yang bisa aku dan adik ajak 'berkreasi' di dapur karena Ibu nggak suka kalau dapur acak-acakan.


Di depan perpustakaan.





















 
OOTD: Bow headband: My DIY | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: Nevada

Entah bagaimana aku terlihat di foto, keringat sudah membasahi seluruh tubuhku. Rambutku sangat lengket dengan kulit kepala dan bajuku sudah sangat kusut. Cuaca juga sudah berubah beberapa kali dari mendung ke terik sekali hingga sebaliknya. Yang aku tahu aku sangat berbahagia sehingga bisa dipastikan aku sedang tersenyum di setiap foto yang Bapak ambil, bahkan yang candid sekalipun.
Hari sudah semakin gelap dan Ibu sudah semakin nggak sabar menunggu kami. "Sudah waktunya pulang, Bapak besok harus bekerja lagi", begitu katanya. Sebelum aku benar-benar masuk mobil Bapak sempat mengambil fotoku lagi tapi sayang hasilnya blur. Aku bilang "biar saja" dan memeluknya dari dalam mobil sambil mengingatkan agar beliau cepat pulang. Lalu aku ingat satu hal. Ada yang belum kami lakukan semenjak aku sampai di sini. Aku membuka kembali pintu mobil dan menyerahkan kamera pada Ibu.
"Bu, tolong ambil fotoku dengan Bapak".





daddy's little girl,

Indi



 __________________________________________
Beberapa waktu yang lalu aku mendapat titipan satu paket baju-baju layak pakai dari Naomi, owner dari Tokyo Animefashion untuk diberikan pada teman-teman yang membutuhkan. Kebetulan di Purwakarta aku bertemu dengan Elas, anak perempuan yang tepat sekali untuk menerima paket ini. She was really happy! :) Thanks a lot, Naomi, semoga Tuhan membalas kebaikanmu! Amen...





_____________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.