Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

Oh, my God, Oh, my God! Gue Lollipop Girl nya Mika! :)

Hai bloggies! Apa kabar? Ini hari senin, mungkin beberapa diantara kalian ada yang sudah mulai masuk sekolah, bekerja atau malah masih punya 1 hari libur ekstra? Hehehe. Gue sendiri sedang menikmati hari libur terakhir, sudah berpiyama setelah makan malam dan sekarang duduk di depan komputer :) Mungkin ada yang sempat membaca/masih ingat dengan post-post gue sebelumnya yang menceritakan tentang kebingungan gue untuk memilih konser Aerosmith atau Mika yang akan diadakan di hari yang sama. Well, ternyata konser Mika dimajukan dan gue sangat senang karena bisa menonton keduanya. Tapi ternyata ada kabar buruk, konser Aerosmith batal dan gue menerima kabar tersebut hanya 2 jam setelah interview di Global Radio Jakarta tentang penyambutan band rock legend tersebut. That was really really really... sad... :'( Gue sudah menunggu konser ini sejak masih berusia 7 tahun dan memikirkan kapan kesempatan ini akan datang lagi membuat perasaan gue nggak karuan. Gue bahkan nggak terlalu memikirkan konser Mika lagi. Meski tiket sudah dibeli 2 bulan sebelum konser, satu hari menjelang hari H gue masih belum tahu dimana tiket bisa ditukarkan, jam berapa konser dimulai dan dimana konser akan diadakan...

Mika juga idola gue, tapi mungkin karena baru mengenalnya selama 6 tahun jadi perasaan sedih karena konser Aerosmith batal menutup segala ke-exited-an untuk menghadiri konsernya. Gue menghindari mendengar CD Aerosmith dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka. Setiap gue pergi ke tempat kerja di perjalanan gue mendengar CD-CD lain seperti Red Hot Chili Peppers, Queen dan... Mika. Meski perasaan sedihnya masih ada, tapi cukup berhasil untuk membuat gue berhenti membicarakan Aerosmith. Setiap hari gue diantar Bapak, jadi menghindari obrolan tersebut sangat sulit. Mendengarkan CD-CD Mika secara berulang-ulang ternyata membuat memori gue kembali ke 6 tahun lalu, dimana gue pertama kali memutuskan untuk membeli album pertamanya dan mulai mengidolakannya. Tepat semalam sebelum konser Mika tiba-tiba gue mengambil keputusan: Okay, gue akan bersenang-senang di konser Mika dan gue akan menjadi Lollipop Girl!



Yup, dan gue pun berusaha mewujudkan keinginan gue untuk jadi Lollipop Girl dalam satu malam. Oh, iya "Lollipop Girl" adalah icon dari lagu Mika di album pertamanya "Life in Cartoon Motion" yang digambarkan sebagai seorang gadis pirang berponi yang memakai dress berwarna pink. In case jika diantara kalian ada yang belum tahu :) Sebenarnya gue sudah punya dress yang mirip dengan Lollipop Girl versi kartun, tapi setelah googling ternyata dress Lollipop Girl versi real agak berbeda dengan yang kartun. Dengan bantuan Ibu gue membuat desainnya, mencari kain yang tepat dan menjahitnya. Dress Lollipop Girl gue pun selesai hanya 7 jam sebelum konser!
Segera setelah itu gue mencoba dress-nya dan langsung pergi ke Jakarta dengan Bapak. Dress Lollipop Girl digantung di bangku belakang mobil dan gue memakai dress santai, berharap bisa tidur di perjalanan karena kurang istirahat. Ibu bilang gue harus bersenang-senang dan jangan biarkan Aerosmith merusak hari gue. Hehehe, iya Ibu, iya :)

Pagi-pagi sebelum berangkat, mencoba dulu dress Lollipop Girl :)

Perjalanan terbilang sangat lancar (atau Bapak bilang, "terlalu lancar", lol), jam 1 siang kami sudah sampai di Jakarta sementara konser baru dimulai jam 8 malam. Nggak sulit menemukan Gandaria City karena semalam gue sempat print petanya dari internet. Tempat penukaran tiket masih sangat sepi, hanya ada 3 orang lain di sana. Tapi what a surprise, ada beberapa fans Mika dari "Mika for Indonesia" yang sudah menunggu di antrian masuk venue! Wah, dunno why pemandangan ini membuat gue tersenyum. Mereka ternyata mengenali gue karena pernah membaca blog ini. Setelah sedikit bertukar sapa dan gue bertanya-tanya sedikit tentang konsernya, gue menandatangani spanduk bertulisakan "Terima Kasih Mika" yang rencananya akan diberikan pada Mika. Suasana hati gue langsung berubah drastis, dan itu membuat Bapak lega. Katanya konser ini pasti menyenangkan karena gue akan bertemu dengan banyak teman baru.

Karena konser masih sangat lama, kami putuskan untuk berjalan-jalan dulu. Kami mampir ke Gramedia dan melihat-lihat buku baru. Sekalian melihat novel-novel gue juga, hehehe. Nggak disangka-sangka di sana ada sekelompok remaja yang menyapa dan mengajak berfoto karena mereka adalah pembaca novel-novel gue. Aww, sweet... Ternyata Bapak benar, gue akan bertemu dengan banyak teman baru :) Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang. Sengaja kami makan lama-lama karena nggak mau menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan akhirnya malah membeli sesuatu. Maklum gue suka nggak tahan kalau lihat toko CD dan pernak-pernik perempuan, hihihi. Tapi ternyata meski kami berusaha untuk lama-lama, sudah diselingi ngobrol dan santai-santai, waktu masih jauuuuh sekali ke jam 8 malam. Ya sudah kami putuskan untuk kembali ke mobil dan... tidur! Hahahaha...

Jam 6 sore meskipun masih sangat mengantuk gue putuskan untuk mengecek antrian menuju venue. Bapak bilang gue jangan dulu ganti baju karena waktu 2 jam itu masih lumayan lama. Tapi ternyata antrian sudah lumayan panjang dan teman-teman dari "Mika for Indonesia" sudah menagih dress Lollipop Girl gue, hehehe. Mereka meminta gue untuk segera memakai dress-nya dan foto bersama. Ya, sudah kami kembali lagi ke mobil, gue mengganti dress di bangku belakang dan kembali lagi untuk berfoto :) Gue dan Bapak mengantri jauh di belakang "Mika for Indonesia" karena kami berada di blue line sedangkan mereka di green. Sempat terpikir untuk meng-upgrade tiket, tapi urung karena ternyata penonton nggak terlalu padat.

Bersama Mika for Indonesia

Gue yang sudah memakai dress Lollipop Girl jadi mudah dikenali, banyak yang memanggil gue dengan nama "Lollipop" dan lucunya mereka bertanya apakah rambut gue asli atau wig, hahaha. Ini menyenangkan karena mengantri dan menunggu bukan kesukaan gue. Dan dress Lollipop Girl ini membantu gue mendapatkan teman mengobrol :) Lalu tiba-tiba saja ada seorang kru dari sebuah stasiun TV menghampiri gue. Dia bertanya apakah gue bersedia diwawancarai untuk program fashion street di NET TV, stasiun TV nasional yang akan launching 16 Mei nanti. Tentu saja gue bersedia. Dress ini dibuat dengan bersusah payah dan hanya dalam waktu semalam, akan menyenangkan jika Ibu tahu dress buatannya banyak dikagumi :) 


Akhirnya kami semakin mendekati venue yang berada di Skenoo Hall. Gue semakin merasa nyaman dan nggak terlalu mempermasalahkan karena harus menunggu sambil berdiri. Bagaimana nggak, gue sudah kenal dengan orang-orang yang menganti di depan, belakang dan samping gue, hehehe. Kami hampir nggak bisa berhenti mengobrol! :) Di tengah obrolan gue dihampiri oleh kru Trans 7, mereka ingin mewawancarai gue. Dengan senang hati gue iya-kan dan gue diminta untuk menceritakan kenapa memilih untuk menjadi "Lollipop Girl". Gue bercerita bahwa sejak album "Life in Cartoon Motion" keluar, selain Grace Kelly, Lollipop lah yang paling mencuri perhatian gue. Apalagi setelah tahu bahwa lagu ini mempunya icon yang manis. Langsung saja gue ingin menjadi Lollipop Girl dari Indonesia, hehehe. Wah, ternyata dress ini membawa banyak berkah dan kebahagiaan. Gue bersyukur karena memutuskan memakai dress ini, padahal awalnya gue akan memakai dress seperti gadis di video clip Grace Kelly. Ternyata Lollipop Girl adalah icon yang paling mudah dikenali ya meskipun setelah itu masih ada 2 album Mika yang baru! :)



Waktu mengantri jadi semakin nggak terasa, gue dan teman-teman baru diajak untuk berfoto di booth Close Up. Lalu gue ditawari untuk membuat video testimoni konser Mika. Lucky me, gue mendapatkan hadiah power bank disaat hand phone gue low batt, hehehe. 10 menit kemudian gue, Bapak dan yang lainnya sudah berada di dalam venue. Sampai di dalam venue pun ternyata masih banyak yang meminta gue untuk berfoto. Well, sepertinya nggak ada yang tahu nama asli gue. Semuanya hanya bertanya, "Lollipop boleh foto?" dan langsung mengambil foto meskipun terkadang gue nggak siap, lol. Tapi gue sama sekali nggak terganggu karena mood gue sangat-sangat-sangat bagus. Sebentar lagi gue akan bertemu dengan idola gue. Hore! :)


Teman-teman baru :)
Dapat hadiah :)

Salut, konser dimulai hampir tepat waktu. Mika muncul dengan menggunakan celana hitam, kemeja putih, jas hitam dan topi hitam. Bapak bilang dia kelihatan tampan, tapi menurut gue yang seperti itu namanya "cute", hahaha. Gue nggak bisa  berhenti bernyanyi dan menari, semua lagu yang Mika bawakan adalah yang gue suka. Ehmm, sepertinya memang gue hampir suka semua lagunya, sih :p Di saat penonton lain sibuk mengacungkan kamera dan HP untuk mengabadikan konser, gue sama sekali nggak terpengaruh. Gue hanya ingin menikmati konsernya, dan waktu 2 jam pasti terasa sebentar sekali. I don't want to miss a thing deh pokoknya (oops, kok jadi judul lagu Aerosmith, ya? Lol)

Bapak juga ikut bersenang-senang, lho.

Ini adalah konser pertama gue. Gue memang bukan orang yang suka dengan keramaian, tapi gue berjanji jika itu untuk Aerosmith gue rela beramai-ramai. Dan di konser Mika ini, ajaibnya nggak terlalu padat, masih banyak space yang tersisa. Kalaupun gue mau duduk-duduk masih bisa, AC pun sangat terasa, sama sekali nggak gerah :) Di konser ini juga gue akhirnya merasakan "merinding" moment, hehehe. Itu lho moment ketika idola kita menyanyikan lagu yang pas sekali dengan suasana hati. Dari sekian banyak lagu hanya "Origin on Love" yang membuat gue meneteskan air mata tanpa sadar. Gue sampai harus menghapus air mata beberapa kali karena terus keluar sampai lagu selesai. Suddenly I miss my Mika. Iya, my Mika, my hero, my AIDS fighter. Lagu ini membuat gue teringat dengan kenangan-kenangan manis yang gue lalui bersamanya. Juga tentang betapa polosnya gue di masa-masa itu. Ah... :') Gue menoleh ke arah Bapak, jaga-jaga takut disangka konyol gue langsung pasang wajah serius dan bilang, "Aku ingat Mika aku, ya, bukan yang lagi nyanyi sekarang". Hahahaha :)


Di tengah konser tiba-tiba gate pembatas green dan blue dibuka. Guess, what, gue dan Bapak termasuk yang beruntung untuk pindah ke green! Wah, gue senang bukan main. Tuhan maha baik, niat gue untuk upgrade tiket ternyata dikabulkan dengan cuma-cuma :D Jarak gue dan Mika dekat sekali, hanya terhalang 1 lapis pagar dan tepat di samping panggung. Bapak sempat mengambil foto gue yang dekat sekali dengan Mika, tapi hasilnya konyol karena lengan gue melingkar di pagar sambil sibuk menyanyi. Hahaha, salah-salah disangka pemandangan di kebun binatang :p Sampai konser selesai kami nggak pindah tempat dan tetap di sana sampai venue sepi dan sebagian besar penonton pulang. Gue masih amaze dengan pertunjukan tadi. Meski Mika nampak terburu-buru karena harus langsung ke X Factor, tapi dia tampil sangat maksmimal. Suaranya sebagus di CD!


Proud Lollipop Girls all around the world. Am I the only Asian? :p


Gue bertemu kembali dengan teman-teman "Mika for Indonesia", mereka beruntung jadi choir dadakan untuk mengiringi beberapa lagu Mika, hehehe. Kami langsung sibuk bertukar cerita tentang keseruan konser tadi. Dari mereka gue jadi tahu bahwa sebelum Mika membawakan lagu "Lollipop" mamanya dan Yasmine kakaknya bertanya tentang perempuan yang memakai dress Lollipop Girl. Oh, my God! It was me!!! Katanya mamanya dan Yasmine sudah diberitahu bahwa nama gue Indi, tapi sayang mereka nggak bisa menemukan gue karena sebelum pindah  gue masih berada di tengah kerumuman. Wah... sayang sekali gue melewatkan kesempatan bertemu mereka... Gue jadi agak sedih, apalagi kru dan security (sepertinya) nggak percaya dengan cerita  mereka. Padahal, kami nggak memaksa untuk bertemu hanya minta disampaikan bahwa gue masih di sini, belum pulang in case mamanya Mika atau Yasmine bertanya.

Tapi ya sudah, perjalanan gue dan Bapak menuju rumah kan masih sangat panjang, 4 jam. Yang penting gue sudah berusaha menyampaikan :) Sebelum benar-benar keluar venue ada beberapa penonton yang mengajak gue untuk berfoto. Sebenarnya agak malu karena rambut gue sudah acak-acakan, hehehe. Tapi berhubung mereka sangat ramah (malah ada yang menenangkan gue dengan bilang, "nggak apa-apa kamu masih kelihatan seperti Lollipop Girl, kok", hehe) gue jadi merasa nyaman. Bapak malah bergurau kalau tadi beliau menghitung totalnya ada lebih dari 40 orang yang mengajak gue berfoto. Hahaha, ada-ada saja :)

Gue dan Bapak menuju tempat parkir. Meskipun toilet masih ada yang buka tapi gue sengaja nggak mengganti dress Lollipop Girl dengan baju ganti. Gue masih tersenyum-senyum membayangkan apa yang sudah gue alami. Dress ini benar-benar penuh berkah dan kebahagiaan. Gue juga jadi belajar bahwa seharusnya nggak terlarut dengan kesedihan "Aerosmith". Beruntung, bersyukur gue memberikan Mika kesempatan untuk membuat gue bahagia malam ini, karena jika nggak mungkin gue masih stuck dengan kesedihan gue.

 

Sambil terkantuk-kantuk gue mendengar Bapak bicara, "Eh, tahu nggak, tadi waktu kamu sibuk foto-foto ada ibu-ibu bule yang lihatin kamu terus. Dia sepertinya mau menyapa, tapi kamu sibuk. Dia senyumin kamu sekilas terus masuk ke belakang panggung".
Tiba-tiba kantuk gue hilang. Gue jadi teringat dengan cerita tentang mama dan kakaknya Mika tadi. Cepat-cepat gue buka HP dan mencoba beberapa kata kunci di google. Setelah keluar hasilnya gue tunjukan fotonya pada Bapak.

"Nah, iya... Itu yang tadi lihatin kamu. Memang itu siapa?"
Mata gue langsung melotot, kalau saja ini sinetron wajah gue pasti sudah di shoot zoom in-zoom out...
Oh, my God... Oh my God... It was his Mom... IT WAS MIKA'S MOM!!!
*pingsan*


lollipop girl,

Indi
foto Mika di atas panggung by Nanda.

Facebook: here | Twitter: here | Contact Person: 081322339469


Minggu, 05 Mei 2013

(Masih) Menunggu...

Sabtu, 4 Mei 2013

Pagi-pagi sekali gue sudah bangun. Sarapan tanpa disuruh dan langsung mandi tanpa kembali berbaring di sofa. Bapak bilang gue aneh, tapi gue nggak peduli dan sebelum beliau sadar gue sudah berdiri di garasi. Menunggu diantarkan ke suatu tempat yang istimewa.

Masih ingat tulisan gue tentang Aerosmith yang "ini"? Yup, betul, waktunya semakin dekat. Tinggal 7 hari lagi sampai gue dan Bapak bisa berdiri di front row sambil berharap-harap cemas Steven Tyler akan melemparkan harmonikanya untuk kami, hehehe. Kami sudah benar-benar siap, stamina, mental, dan bahkan Bapak sudah menyarankan gue segera membuat surat untuk Steven Tyler. Kemungkinan akan sampai memang kecil, tapi Bapak bilang nggak ada salahnya mencoba. Rasa exited kami semakin hari semakin menggebu. Kami selalu terkikik ketika membicarakannya. Mata gue berbinar dan Bapak pura-pura mengejek. Lalu kabar bahagia yang lainnya datang menghampiri kami. Aerosmith Indonesia, sebuah perkumpulan pengagum Aerosmith mengundang gue untuk interview di Global Radio Jakarta. Tentu saja ini dalam rangka menyambut kedatangan Aerosmith yang sebentar lagi :D

Jadilah kami menempuh perjalanan menuju Jakarta. Bapak di balik kemudi dan gue asyik mengganti-ganti CD di bangku penumpang. PUMP, Big Ones, Just Push Play dan album-album Aerosmith lainnya sudah gue siapkan dan pastikan cukup untuk menemani perjalanan kami. Bapak bertanya apakah gue hapal dengan sejarah Aerosmith. Gue bilang, "ini interview, Pak, bukan ujian", tapi Bapak tetap bertanya hal yang sama sampai gue mogok bicara. Beliau lalu tertawa dan berkata bahwa ia hanya menggoda gue. Beberapa saat kemudian gue ikut tertawa, nggak kalah kencang. Karena sebenarnya gue sudah tahu dari awal bahwa beliau hanya becanda dan gue tadi hanya pura-pura ngambek :)

Gue bernyanyi terus. Dengan penghayatan penuh, ekspersi konyol dan membuat suara serak ala rocker. Sesekali gue melirik Bapak, memastikan suara gue nggak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bapak juga ikut menyanyi, tapi suaranya nggak jelas, hanya bergumam dan baru agak terdengar di bagian refrain lagunya saja, hehehe. Tapi gue lega, karena itu artinya Bapak nggak terganggu. Kami begitu terus sampai 2 jam kemudian. Gue sudah menghabiskan 1 botol minuman dan mulai kehilangan energi untuk bernyanyi. Gue bertanya pada Bapak kapan kami sampai. Tapi beliau nggak tahu pasti, "sudah dekat", cuma begitu katanya. Gue sangat kahwatir kami nyasar, dan sayangnya, kami ternyata memang nyasar.

Kami baru bisa menemukan MNC tower, tempat dimana Global Radio berada setelah 4 jam perjalanan. Gue berkeringat sangat banyak karena tegang. Dalam hati gue berdoa supaya nggak terlambat meski sebenarnya gue sadar sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati. Gue berjalanan secepat mungkin dan meninggalkan Bapak yang sibuk mencari tempat parkir. Nggak lama kemudian gue bertemu Hans, menyalaminya dan sebisa mungkin menyembunyikan suara nafas gue yang hampir terdengar seperti dinosaurus, lol. Ajaibnya, semua yang ada di sana ternyata belum memulai interviewnya karena menunggu kedatangan gue. Selain Hans admin dari Aerosmith Indonesia, ada Wihel, seorang fans Aerosmith dan Lupi penyiar di sana. Kami mengobrol dulu dan baru berhenti setelah Bapak menemukan tempat kami. Karena ternyata mereka juga memutuskan untuk mengajak Bapak interview!

Awalnya jelas saja beliau menolak, seperti biasa Bapak lebih memilih jadi fotografer gue, mengabadikan setiap moment dari putri kecilnya ini. Tapi setelah gue bujuk dan ditambah sedikit tarikan di lengan (hihi), akhirnya beliau mau juga duduk di depan mikrofon :) Sebelum interview benar-benar dimulai Hans dan Wihel selalu menggoda bahwa gue adalah 'die hard fans' Aerosmith. Mereka bilang kalau mau bertanya yang sulit-sulit mending sama gue saja. Gue langsung melirik Bapak sambil nyengir. De javu, di mobil kan Bapak yang bergurau soal "sejarah Aerosmith", hehehe. 

Wihel, Bapak, Indi, Lupi, Hans :)

Interview berjalan lancar dan menyenangkan. Gue sesekali berbuat konyol tapi sepertinya semuanya bisa memaklumi karena gue terlalu exited setelah menunggu bad boys from Boston ini selama 20 tahun. Berkali-kali gue bilang bahwa akhirnya impian gue jadi nyata dan penantian gue terbayar. Dengan semangat gue menceritakan persiapan untuk konser nanti. Dari mulai pakaian dan apa yang akan gue lakukan kalau mempunyai kesempatan menemui mereka secara personal. Gue ingin sekali memberikan surat kepada Steven Tyler yang isinya ucapan terima kasih gue. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar konyol, tapi ia memang memberikan pengaruh positif kepada gue. Gue nggak akan seperti sekarang jika saja waktu berumur 7 tahun gue melewatkan video clip Crazy di TV (baca cerita lengkapnya di sini).

Bapak sangat menikmati suasana interview. Beliau sering menimpali gue dan mentertawakan setiap kali gue berbicara sesuatu yang konyol. Gue senang Bapak berlaku seolah nggak ada yang mendengar kami, hehehe. Lalu apa yang Bapak katakan menjadi kenyataan. Gue benar-benar ditanya soal sejarah Aerosmith! Untung saja bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah hal-hal yang sudah gue ketahui sejak berusia 10 tahun: kapan Aerosmith berdiri dan kapan Steven Tyler berulang tahun. Hehehe, ternyata itu ya yang disebut sebagai "die hard fans" :p




Banyak moment berkesan selama interview 1 jam itu. Gue bercerita bahwa berkat Aerosmith gue berlatih bermain harmonika dan drum ketika masih kecil untuk menemukan bakat gue. Meski kedua alat musik itu sampai sekarang belum dikuasai tapi apa yang gue lakukan ternyata membantu apa yang gue inginkan dan gue suka sebenarnya. Gue suka menulis, dan ingin berkarya seperti Aerosmith. Dari hati, tulus, meski dalam bentuk seni yang berbeda. Lalu tiba-tiba Bapak mendekati mikrofon dan berkata, "Indi bukan sekedar nge-fans sama Aerosmith. Tapi ia terinspirasi". Gue mengangguk dan tersenyum. Tadinya mau melanjutkan bicara tapi takut menangis karena gue terharu dengan kata-kata Bapak...

Tapi bukan hanya moment mengharukan yang kami alami. Ada kenangan lucu yang gue dan Bapak bagi tadi. Kami pernah hampir mencuri poster "Just Push Play" Aerosmith di salah satu toko kaset. Gue memang masih kecil waktu itu, tapi sebenarnya sudah mengerti bahwa mencuri itu salah. Entah terinspirasi dari mana, gue tiba-tiba merengek meminta diambilkan poster itu pada Bapak. Mungkin karena takut gue menangis Bapak mengambilnya dan sempat berjalan sejauh beberapa meter. Tapi lalu kami tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, dan dengan canggung Bapak mengembalikan poster itu ke tempat semula sambil diikuti tatapan heran orang-orang di sana, hahahaha :D Kami hampir nggak bisa berhenti tertawa waktu menceritakannya. Aerosmith memang sebuah band, tapi bagi kami lebih dari itu. Kehadiran mereka bisa membawa suasana haru sampai konyol :)

Interview ditutup dengan sesuatu yang agak mengerikan, kami ditantang untuk bernyanyi! Hehehe, kami sepakat menyanyikan lagu "Crazy". Gue melirik sekilas pada Bapak dan diluar dugaan beliau tampak exited sekali. Padahal Bapak paling malu bernyanyi di depan umum, apalagi Global radio bisa didengar oleh seluruh warga Jakarta, hehehe. Kami bernyanyi bagian refrain-nya saja. Meski pelan, gue bisa mendengar suara Bapak dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar. Bapak berani mengalahkan rasa malunya, beliau pasti sedang bahagia sekali!

Gue dan Bapak langsung pamit pulang. Perjalanan kami masih jauh, another 4 hours dan hari sudah mulai gelap. Gue senang sekali bisa bertemu dengan Hans, Wihel dan Lupi. Ini adalah pertama kalinya gue dan Bapak bertemu dengan komunitas pengagum Aerosmith. Perjalanan pulang sama menyenangkannya seperti ketika pergi. Gue melanjutkan marathon CD Aerosmith, Bapak mengikutinya dengan gumaman dan terkadang kami mengenang-ngenang apa yang baru saja kami alami. Karena belum sempat makan malam kami memutuskan untuk mampir ke Burger King. Gue adalah seorang pesco vegetarian, dan hampir nggak punya pilihan lain selain kentang goreng kalau makan di sana. Tapi ini menjadi tradisi nggak tertulis, kami harus ke sana karena Steven Tyler menjadi bintang iklan Burger King! Hahaha... Jangan anggap serius, tentu saja kami hanya main-main dan melakukannya karena menganggap itu lucu :D

Gue membeli veggie's burger dari tempat lain dan hanya membeli kentang goreng dan soda di Burger King. Bapak bilang nggak apa-apa, yang penting aura Aerosmith nya tetap terasa, lol. Kami melanjutkan perjalanan kembali setalah Bapak selesai makan, sedangkan gue sengaja menyisakan kentang gorengnya. Best part, jangan cepat-cepat karena ini makanan kesukaan Aerosmith, hehehe. Lalu handphone gue berbunyi. Ada pesan singkat dari Aerosmith Indonesia. Gue langsung tersenyum karena pasti isinya mengenai Aerosmith. "Baru juga ketemu sudah kangen kita lagi nih, Pak", gue bergurau. Gue akan membacakan pesan itu keras-keras, tapi lalu berhenti ketika gue sadar isinya bukan berita baik...

"Aerosmith batal konser di Jakarta"
.
Suara gue datar, tanpa emosi. Bahkan gue juga kaget kenapa bisa seperti itu padahal biasanya gue sangat ekspresif. Bapak sepertinya nggak percaya dengan pendengarannya, beliau bilang "hah?" berkali-kali. Gue membacakan untuknya satu kali lagi dan langsung bersandar ke jendela mobi. Nggak menangis dan cuma terdiam. Bapak juga. Pelan-pelan ia mematikan CD player yang sedang memutarkan lagu "Blind Man". Suasana mobil begitu sepi dan entah kenapa mendadak canggung. Gue nggak berani menatap Bapak karena takut melihat wajah kecewanya. Dua jam yang lalu impian kami rasanya sudah di depan mata, dan tiba-tiba hilang bahkan saat kami masih jauh dari rumah. Gue nggak tahu harus berkomentar apa. 20 tahun gue menunggu dan itu sudah menjelaskan segalanya.

Lalu tiba-tiba dada gue terasa sesak. Tangis gue akhirnya meledak, air mata gue nggak bisa ditahan. Gue menangis seperti bayi. Di tengah tangis gue bercerita tentang sesuatu yang seharusnya menjadi kejutan untuk Bapak. Diam-diam gue sudah memesan T shirt official Aerosmith untuk beliau. Harganya bagi gue nggak murah dan gue khusus menabung untuk itu. Gue ingin Bapak memakainya ketika konser nanti karena selama ini Bapak belum punya T shirt Aerosmith. Sejak dulu semuanya buat gue. Hanya buat gue. Dan gue ingin memberikan satu hari istimewa untuk Bapak.

Gue terus menangis. Benar-benar nggak tertahan. Lalu Bapak terkekeh, seperti memaksakan tertawa. Gue melihat wajahnya, akhirnya, dan jelas sekali beliau sedih. Bapak mencoba menenangkan gue, beliau bilang bisa saja Aerosmith berubah pikiran, mungkin konsernya hanya diundur sebentar. "Kaosnya buat nanti saja, terima kasih sudah dibelikan. Nanti dipakai waktu kita nonton konser Aerosmith selanjutnya, ya..."
Kata-kata Bapak sama sekali nggak menenangkan gue. Gue menangis tanpa suara dan merubah posisi duduk gue jadi meringkuk menghadap ke kiri. Membelakangi Bapak dan memejamkan mata gue.

Dalam gelap gue membayangkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Berambut acak-acakan berponi dengan gigi ompong sedang menatap serius ke layar TV. Ia begitu begitu terhipnotis dengan apa yang baru dilihatnya. Bapaknya berkata, "mereka itu Aerosmith", dan gadis itu pun tersenyum konyol. "Aku mau bertemu mereka, Pak". Bapaknya tersenyum lalu menjawab, "suatu hari, Indi... Suatu hari...".

Dan 20 tahun kemudian gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu masih menunggu "suatu hari" nya akan datang. Sekarang ia mungkin bersedih, kecewa, dan marah. Tapi dibalik itu, di lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap gadis kecil yang sama. Ia akan kembali tersenyum konyol dan suatu hari akan memberikan langsung surat yang ditulis tangan olehnya dengan hati-hati kepada Steven Tyler. Mungkin ditambah menjabat tangannya. Mungkin ditambah tepukan hangat di bahu. Mungkin. Siapa yang tahu. Yang pasti suatu hari ia nggak perlu menunggu lagi.
Amen...

daddy's little girl,


Indi
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 10 Maret 2013

Pelajaran Berharga dari Bapak, Aerosmith dan Mika

"Pak, nanti aku mau ketemu Aerosmith. Kalau mereka nggak ke Indonesia tetap aku kejar, deh asalkan masih di Malaysia dan Singapur".

"Memang kamu punya uang? Sudah nggak takut lagi naik pesawat?"

"Ya... aku kan nabung. Naik pesawat juga nggak apa-apa, asal aku ketemu Steven Tyler. Tapi nanti temani, ya Pak?"

"Memang kapan Aerosmith mau datang?"

"Nggak tahu... Kan baru khayalan... Pokoknya temani, ya?"

"Iya..."


Itulah percakapan random-berulang gue dengan Bapak. Di perjalanan menuju mall. Di perjalanan menuju tempat kerja. Di sela-sela menonton TV. Selalu saja gue mengulang menyebutkan khayalan gue tentang bertemu Aerosmith. Bagaimana nggak, gue sudah menyukai band rock asal Amerika itu sejak gue berusia 7 tahun. Gue mengoleksi CD, kaset, poster, kaos, topi, dan... apapun, apapun itu asalkan tentang Aerosmith. Mungkin diantara teman-teman bloggies ada yang sudah tahu kenapa gue sangat menyukai Aerosmith. Gue bahkan pernah menulis tentang itu di sini. Gue menyukai mereka bukan sekedar karena musik mereka bagus atau personel mereka keren, tapi juga karena pengalaman pribadi gue sebagai remaja yang mirip dengan Steven Tyler, vokalis mereka yang juga personel favorit gue. Mereka adalah band besar dengan penggemar yang banyak, dan mempunyai masa lalu sebagai anak sekolah biasa (bukan yang popular) yang memberi bukti bahwa siapapun bisa menjadi something meski banyak orang yang menganggap sepele :)

Bapak sering menggoda gue dengan bertanya siapa saja musisi atau band yang ingin gue datangi konsernya selain Aerosmith. Kalau sudah begitu gue pasti pura-pura ngambek karena artinya Bapak secara nggak langsung bilang bahwa gue nggak akan pernah bertemu Aerosmith, hehehe. Tapi meski begitu gue tetap menjawab pertanyaan beliau. "Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers dan Mika". Begitulah jawaban gue. Bapak bilang, salah kalau gue menjawab Michael Jackson karena ia sudah meninggal, dan untuk jawaban Red Hot Chili Peppers gue juga harus pikir-pikir lagi karena John Frusciante, gitaris favorit gue sudah nggak di sana. Akhirnya gue ralat kembali jawabannya. Gue bilang, "Kalau bukan Aerosmith itu artinya harus Mika!"
Berada di dunia khayalan bersama Bapak memang selalu terasa menyenangkan. Membuat gue merasa jadi gadis kecilnya Bapak untuk waktu yang nggak pernah berakhir :)

Gue memang punya banyak idola, tapi grup band idola gue yang nomor satu selalu Aerosmith. Semua orang juga tahu. Hehe, at least semua teman-teman sekolah dan keluarga besar sudah tahu. Sampai-sampai Aerosmith begitu identik dengan gue. Waktu gue bergabung dalam kelompok paduan suara gue selalu dipanggil "Smith" kependekan dari Aerosmith untuk membedakan gue dengan anggota lain yang juga bernama "Indi". Waktu SMA gue juga dipanggil "Steve" kependekan dari Steven Tyler dengan alasan yang juga sama. Gue nggak kesal karena nggak menjadi "Indi" satu-satunya, sebaliknya gue merasa bangga karena disamakan dengan band yang di mata gue sangat tangguh. Mereka pernah mengalami kecelakaan parah, terlibat narkoba, bahkan diserang oleh penyakit yang nggak bisa dibilang ringan. Tapi mereka berhasil bangkit dan bertahan sampai sekarang. Gue anggap itu sebagai doa agar gue sekuat mereka :)

Selain Aerosmith gue juga menyukai Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers (era alm. Slovak dan Frusciante), Queen, Beatles, Mika dan banyak lagi. Tapi entahlah konser yang sangat ingin gue datangi hanya Aerosmith dan Mika (tapi kalau John Frusciante masih di RHCP pasti lain cerita, lol), yang lainnya rasanya cukup gue lihat di video sekalipun seandainya mereka masih aktif menggelar konser. Ngomong-ngomong soal Mika, sepertinya memang jarang yang tahu bahwa gue menyukai musiknya. Setiap kali gue menyebut nama "Mika" pasti yang diingat lebih dulu adalah almarhum Mika, pacar gue ketika SMA yang menjadi inspirasi dalam menulis novel (dan sekarang ada versi layar lebarnya juga) :) Bahkan orang-orang di sekitar gue pun sering menyangka bahwa gue sedang membicarakan Mika yang sudah almarhum ketika gue membicarakan Mika yang musisi asal Lebanon itu, hehehe. Tapi sebenarnya memang ada hubungannya diantara kedua Mika itu. Mereka memang nggak saling mengenal, tapi gue mempunyai cerita istimewa dibaliknya. Jadi pada tahun 2006 gue memutuskan untuk membagi kisah tentang alm. Mika di blog jejaring sosial gue. Waktu itu banyak pembaca yang berkomentar bahwa nama "Mika" terdengar janggal untu seorang laki-laki. Tapi gue bilang bahwa itu memang nama pemberian dari orang tuanya, dan di suatu tempat, di belahan dunia sana pasti ada orang yang juga bernama Mika. Lalu satu tahun kemudian, ketika gue membaca sebuah majalah remaja, ada artikel singkat dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah: MIKA. Gue langsung tersenyum karena itu adalah nama yang sama dengan laki-laki yang membuat gue bahagia selama 3 tahun yang penuh berkah sebelum akhirnya ia pulang karena mengalah dengan AIDS nya. Gue langsung menunjukan artikel itu pada Silmi sepupu gue, dan di malam yang sama kami langsung menonton videonya di MTV. Gue langsung menyukai musiknya dan memutuskan untuk membeli CD nya satu minggu kemudian. Meski diselingi kontroversi, bagi gue banyak lirik-lirik lagu Mika yang menginspirasi :) Somehow ada sedikit tentang Mika yang mengingatkan gue pada alm. Mika. Mungkin rambut ikalnya yang panjang dan badannya yang kurus :)

Jadi beberapa waktu yang lalu ketika gue mendapat kabar bahwa Mika akan datang ke Indonesia, percakapan random-berulang dengan Bapak pun sedikit berubah...

"Pak, siapa idola nomor 1 aku?"

"Aerosmith".

"Kalau nomor dua?"

"Karena Red Hot Chili Peppers sudah keluar list, ya pasti Mika".

"Kalau Mika ke sini gimana, Pak?"

"Ah, bohong!"

"Beneran ini Pak! Akhirnya ada juga idolaku yang datang ke Indonesia, hehehe. Boleh nonton, nggak?"

"Boleh. Kalau nunggu Aerosmith takutnya nggak akan pernah datang".

"Ih, Bapak...."


Dan kami pun tertawa.

Sebelum pengumuman kapan tiketnya mulai dijual, gue dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan tentang konser Mika. Kami mendengar CD-CD nya saat perjalanan ke tempat bekerja dan mulai mengkhayal tentang baju yang akan gue pakai nanti. Karena gue senang mendesain baju gue bilang bahwa gue akan memakai baju seperti gadis kecil di video klip "Grace Kelly", hihihi, seru sekali :) Lalu  ketika akhirnya voucher tiket (pre sale) mulai dijual, gue langsung mencari info tentang dimana bisa mendapatkannya. Tapi ternyata hasilnya membuat gue sedih, voucher tiket hanya bisa dibeli di salah satu cabang Seven Eleven di Jakarta selama 24 jam, selebihnya berlaku harga normal. Gue yang tinggal di Bandung dan bekerja sampai sore bingung bukan main. Bagaimana caranya supaya gue mendapatkan tiket sebelum jam 12 malam? Apakah gue harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta dan mengabaikan kesehatan gue? Gue meminta pendapat pada Bapak dan Ibu tentang jalan keluarnya, tapi mereka juga sama kebingungannya seperti gue. Ketika waktu menunjukan jam 8 malam rasa sedih gue semakin besar, gue mulai menangis sendirian di dalam kamar dan berdoa pada Tuhan untuk jalan yang terbaik. Mungkin terdengar konyol karena ini hanya sebuah konser, tapi gue adalah tipe orang rela menabung untuk dipakai di moment yang jarang terjadi, dan sekarang lah moment itu akhirnya tiba. Lalu tanpa disangka-sangka, Gina, salah seorang sepupu gue yang tinggal di Jakarta bersedia mampir ke Seven Eleven dan membelikan vouchernya untuk gue. Bukan proses yang mudah karena tanda pengenal yang dipakai harus sama dengan tanda pengenal yang dibawa ketika menonton konser. Dengan bantuan Gina dan kebaikan pegawai Seven Eleven (mereka membantu via twitter dan telepon, how sweet!), akhirnya gue mendapatkan voucher itu meski tanda pengenal yang digunakan dikirim melalui foto, hehehe. Gue senang sekali dan bersyukur. Akhirnya, mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, gue akan bertemu idola gue :)

Tanpa sengaja gue bikin dress seperti si gadis lolipop'nya Mika :) Btw, kelihatan banget gue baru nangis, hihi..

Meski konsernya masih 2 bulan lagi, Ibu sudah kasih banyak wejangan sama gue. Nanti gue nggak boleh pisah sama Bapak, nanti harus pakai stocking yang tebal, dan banyak lagi, hehehe. Gue menanggapinya dengan senyuman karena tahu Ibu nggak akan melarang gue nonton konser, beliau mengerti bahwa kesempatan gue bertemu salah satu idola gue sangat langka.
Di tengah kebahagiaan gue tiba-tiba ada kabar mengejutkan. Well, seharusnya sih menggembirakan seandainya waktunya tepat...
Waktu di mobil, di perjalanan menuju sebuah toko elektronik bersama Bapak, handphone gue bunyi terus-terusan. Aneh, inbox di facebook, mention di twitter, BBM dan lain sebagainya menerima laporan dalam waktu bersamaan. Karena penasaran gue langsung membuka pesan yang paling baru masuk. Isi pesan itu membuat perasaan gue campur aduk, tapi gue putuskan untuk membaca dulu sisanya karena siapa tahu hanya candaan. Sampai seluruh pesan terbaca, isinya ternyata sama. Semuanya memberi tahu berita yang mereka pikir akan membuat gue berteriak histeris: Aerosmith akhirnya akan datang ke Indonesia.
Di waktu yang bersamaan dengan Mika...Tanggalnya, bulannya... Tepat sama.

Gue nggak berteriak histeris. Butuh waktu beberapa menit sebelum gue membacakan pesan yang masuk satu per satu pada Bapak. Bahkan waktu gue membaca pun perasaan gue masih bingung, apakah gue sedang senang atau sedih. Bapak nggak percaya dengan apa yang didengarnya. Beliau pikir gue becanda, tapi setelah melihat wajah gue yang serius dan memerah karena menahan tangis, Bapak akhirnya percaya.

"Kamu senang nggak mau ketemu Aerosmith?"

"Waktunya bersamaan dengan konser Mika, Pak..."

"Iya, tapi kamu senang nggak? Kan sudah nunggu berapa tahun? Hampir 20 tahun, ya?"


Gue terdiam, bertanya pada hati gue sendiri. Apakah gue senang? Apakah gue senang?...
"Iya, Pak senang, aku nanti minta Steven Tyler tandatangani lengan aku ya? Terus aku jadikan tato permanen, boleh?"


Bapak tertawa.

"Tapi konser Mika nya gimana, Pak? Kan sudah beli tiket..."

"Jangan dulu dipikirkan, nikmati saja dulu perasaan senangnya..."

Dengan sebagian kecil koleksi Aerosmith gue. Iya, gue punya banyak karena mengumpulkan sejak umur 7 :)

Gue senang, senang, senaaaaang sekali. Bayangkan, gue menunggu kesempatan untuk bertemu Aerosmith sejak gue berusia 7 tahun dan sekarang akhirnya hampir terwujud. Tapi di sisi lain gue sangat kebingungan karena gue sudah membeli tiket konser Mika dan meskipun baru mengenal Mika selama 6 tahun tapi gue sudah jatuh cinta dengan musiknya. Saking bingungnya gue jadi takut untuk bermimpi bisa bertemu dengan Aerosmith. They're my number one idol, akan sangat menyedihkan jika ingat gue nggak bisa bertemu mereka. Bapak sempat menggoda gue bahwa inilah rasanya galau. Gue belum pernah merasa galau karena seorang pemuda dan sekarang gue galau karena laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Bapak. Beliau pikir ini lucu, tapi gue hanya bisa tersenyum sedikit :') Bapak bertanya, seandainya gue belum membeli tiket Mika, manakah yang akan gue pilih, konser Aerosmith atau Mika. Dengan mantap gue menjawab tentu saja konser Aerosmith. Lalu Bapak dengan ringan menanggapi jawaban gue, "Kalau begitu, pilihlah Aerosmith!"

Gue masih bingung, tapi sepertinya Bapak benar. Yang harus gue lakukan adalah bertanya pada diri sendiri tentang apa yang gue inginkan. Gue menginginkan Aerosmith, gue sudah tahu itu sejak hampir dari 20 tahun yang lalu. Lalu kenapa sekarang ragu? Pasti karena tiket Mika yang sudah gue beli. Gue sudah membeli dua buah tiket dari hasil menabung. Iya, dua buah karena gue ingin sekali mengajak Bapak. Akan gue kemanakan tiketnya? Haruskah gue beri pada orang yang gue percaya karena nanti harus membawa kartu identitas gue ketika menonton konser? Ketika hati gue semakin bertanya-tanya, gue ulang kembali satu buah pertanyaan yang ditekankan oleh Bapak. "Apa yang gue mau? Apa yang gue mau? Apa yang gue mau?". Pikiran gue kembali ke masa kecil gue, moment dimana pertama kali gue melihat video klip Aerosmith dan jatuh cinta dengan lirik "Livin' on the Edge"...
"Gue pilih karena gue menginginkannya. Gue pilih Aerosmith".

Bapak bilang seharusnya gue nggak bingung ketika Mika dan Aerosmith datang secara bersamaan, tapi seharusnya gue bersyukur. Gue sering berdoa bahwa suatu hari idola-idola gue datang ke Indonesia, dan sekarang menjadi kenyataan. Bapak bilang ini kesempatan gue untuk belajar memilih. Mungkin akan ada yang dikorbankan tapi pilihan harus tetap diambil, atau gue nggak akan mendapatkan apa-apa sama sekali. Mungkin bagi orang lain ini hanya sebuah konser, bukan hal serius yang perlu dipikirkan sungguh-sungguh. Tapi Bapak melihatnya lebih dari itu. Konser dan hal lain yang terjadi dalam hidup semuanya harus dilewati, kita nggak bisa lari dari itu, dan dalam prosesnya sering kali kita dihadapkan dengan pilihan. Lucu, tapi sepertinya benar, Aerosmith dan Mika membantu proses pendewasaan gue.

Gue nggak akan melihat konser warna-warni ala Mika dan memakai dress ala gadis kecil di video klip "Grace Kelly". Gue juga nggak akan mendengar Mika bernyanyi lagu "Elle Me Dit" yang sudah gue hapalkan jauh-jauh hari untuk sing along bersamanya. Tapi Bapak bilang jangan ingat-ingat apa yang gue lewatkan, tapi pikirkan apa yang akan gue dapatkan nanti. Gue akhirnya akan bertemu dengan idola masa kecil gue. Dapat sebuah tato, mungkin, lol. Dan akan berteriak "Honey!" ketika Aerosmith membawakan lagu "Crazy". Sekali lagi, dari setiap pilihan pasti akan ada yang dikorbankan, kita nggak bisa dapat semua yang kita mau tapi kita selalu bisa menikmati apa yang kita dapat. Semalam dengan bantuan seorang teman gue berhasil membeli 2 buah voucher tiket Aerosmith untuk gue dan Bapak. Sempat bingung untuk memilih antara VIP dan premium. Tapi kali ini gue yang memutuskan sendiri. Gue pilih premium. Gue memang akan melewatkan makanan gratis dan tempat duduk ala VIP, tapi gue mendapatkan akses untuk berdiri dekat dengan panggung dan dapat kesempatan lebih besar untuk menangkap harmonika, selendang atau topi jika Steven Tyler melemparnya atau nggak sengaja menjatuhkannya, lol. Gue nggak pernah menyangka Aerosmith dan Mika bisa memberikan gue pelajaran sebesar ini. Melalui Bapak mereka telah mengajarkan sebuah hal penting yang disebut dengan pilihan :)

"Pak, sebetulnya aku masih ada sedih 1 persen lho karena nggak jadi nonton Mika..."

"Masa? Kan dulu kamu hampir tiap hari ketemu Mika, sampai bolos sekolah segala, hahaha".

"Ih, bukan Mika yang itu, Bapaaaaaak..."


:D




walk this way,
INDI

twitter: here
facebook: here
contact person: 081322339469