Tampilkan postingan dengan label spinecor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spinecor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2016

Indi's Scoliosis Life: Kulit Sehat dan Tetap Bersih saat pakai Brace? Bisa, dong! ;)

*Scroll ke atas*
*Scroll ke bawah*

Rupanya sudah 5 bulan ya sejak aku menulis tentang scoliosis di sini :O Padahal tujuan membuat series "Indi's Scoliosis Life" di YouTube sebenarnya untuk melengkapi post ku di blog "Dunia Kecil Indi", bukan untuk menggantikan. Jadi kalau di sini versi tulisannya, di series ISL versi videonya karena terkadang kata-kata atau foto saja nggak cukup untuk menjelaskan apa ingin aku sampaikan, terutama kalau berkaitan soal brace. Eh, tapi pada kenyataannya aku malah lupa untuk share di sini, huhuhu. Maaf ya, terutama untuk teman-teman scolioser (---pengidap scoliosis; kondisi tulang belakang yang melengkung ke arah samping) yang tetap rajin untuk mampir ke sini dan meninggalkan komentar :) Mulai sekarang aku akan berusaha untuk lebih konsisten dan berusaha untuk membagi apa saja yang sudah aku share di YouTube, ---mumpung belum ketinggalan banyak, hihihi. Kalau aku mangkir lagi, tolong jewer ya :p


Kali ini aku akan membahas sesuatu yang relatable banget dengan para scolioser, ---tapi ajaibnya justru jarang sekali dibahas (serius, aku sampai research dengan googling sana-sini)
Tentang masalah kulit! 
Yup, banyak sekali scolioser yang mengalaminya, terutama jika harus menggunakan brace dalam jangka waktu yang lama. Masalah kulit yang dihadapi biasanya gatal-gatal, kemerahan atau berbagai macam alergi kulit lainnya. Meski kesannya seram tapi sebenarnya itu wajar, kok. Karena sekeren-kerennya teknologi brace terbaru, tetap saja menghambat kulit kita untuk bernapas, hehehe. Problem lain yang biasa dihadapi juga soal kurang maksimalnya saat kita membersihkan tubuh. Scoliosis jika sudah severe (berat) biasanya kelenturan tubuhnya berkurang dan membuat kita kesulitan menjangkau beberapa bagian tubuh. Tapi no worry, aku akan share solusinya. Meskipun nggak 100% menghilangkan masalah (---maaf, aku bukan si Jinny, hihihi), mudah-mudahan cara di bawah ini bisa mengatasi ;)

1. Relaxing bath every once in awhile!
Meski aku exercise dan stretching secara rutin tapi tetap kurva scoliosis yang besar membuat kelenturan tubuhku terbatas. Mandi bisa menjadi kegiatan yang cukup menantang, terutama untuk menjangkau punggung dan sela-sela jari kaki. Supaya urusan membersihkah tubuh tetap maksimal, aku biasanya berendam dengan air hangat sebanyak satu kali seminggu. Selain bermanfaat untuk membersihkan seluruh anggota tubuh, ini juga membantu mengurangi back pain dan pegal-pegal. Kalau perlu gunakan bubble bath atau aroma therapy supaya tubuh semakin relax :)


2. Kurangi "brace mark" dengan scrub buatan sendiri
Banyak scolioser yang harus memakai brace dalam waktu yang lama setiap harinya. Atau... bisa dibilang sepanjang hari, karena biasanya brace harus dipakai 23 jam per hari, hihihi. Baik itu brace dengan tipe hard atau brace dengan tipe soft, keduanya berpotensi meninggalkan bekas di kulit kita. Aku sendiri selalu memakai tank top di baliknya, tapi tetap saja si "special mark" ini tetap ada terutama di daerah bawah lengan, dada dan perut. Meski kita nggak perlu malu with those marks, tapi jika bisa dikurangi kan kenapa nggak ;) Aku biasanya membuat simple scrub dari minyak zaitun (atau bisa diganti dengan minyak kelapa), gula dan sedikit perasan lemon. Campurkan ketiga bahan tersebut, lalu aku gosok memutar ke tempat-tempat yang memiliki brace mark. Hasilnya memang nggak instan, tapi pelan-pelan warna kehitamannya akan memudar, kok.



3. Mousturize is a MUST!
Kulit tubuhku sangat kering dan sensitif. Jangankan brace, kaus yang ketat saja bisa meninggalkan bekas di kulit. Dari mulai bekas kemerahan, kehitaman karena dibiarkan terlalu lama, sampai yang paling parah lecet! Huhuhu. Untuk mencegahnya aku selalu mengoleskan pelembab kulit dulu sebelum memakai brace. Seringnya aku memakai body lotion, tapi kalau sedang membutuhkan perlindungan ekstra aku menggantinya dengan minyak kelapa (coconut oil). Bahan alami ini bagus sekali untuk melembabkan kulit, termasuk membantu menghaluskan kembali luka parut/lecet akibat brace. Supaya praktis dan nggak tumpah-tumpah, aku masukkan minyak kelapa ke dalam jar lalu disimpan di dalam kulkas selama 30 menit. Suhu yang dingin mengubah minyak menjadi solid dan kalau dibiarkan akan lembut seperti Vaseline. Kalau nggak mau cepat mencair campurkan minyak kelapa dengan bahan lain, misalnya essential oil (aku pakai lavender). Tapi setelah memakai pelembab jangan langsung pakai brace, ya. Biarkan dulu sampai meresap, and... you're ready to go! :)


Simple banget ya tips nya? Hehehe. Meski begitu mudah-mudahan tetap bermanfaat. Dan buat yang masih speechless karena baru dapat vonis dan merasa scoliosis itu kaya kiamat mini terutama karena harus pakai brace, please ingat kalau fungsi brace itu untuk membantu kita, ---bukan menyiksa :) Jadi sedihnya sebentar saja dan jangan lupa senyum kembali. Seperti kata Stephen Hawking (sok kenal, hehe), pasti akan selalu ada jalan dan kalau buntu cari jalan yang lain, hihi. Aku juga sempat merasa nggak sanggup dengan urusan bracing ini. Tapi lihat, 7 years with my BFF brace and keep going! Hambatan-hambatan yang aku hadapi dulu pelan-pelan ada solusinya, termasuk soal kesehatan kulit :)

Untuk teman-teman non scolioser, thank you so much ya sudah menyempatkan membaca. Meski mungkin ini nggak practical buat kalian, tapi mudah-mudahan bisa meningkatkan scoliosis awareness. Atau kalau mengenal teman atau kerabat yang mengidap scoliosis, boleh banget lho di-share :) Dan oh, by the way untuk episode "Indi's Scoliosis Life" selanjutnya aku akan membahas tentang "Scoliosis Stereotype". Menurut kalian stereotype apa sih yang sering melekat sama scolioser? Coba tulis dalam 1 atau 2 kalimat stereotype atau image apa yang ingin kalian patahkan. Nanti akan aku bacakan satu persatu di video ;) Okay, sampai bertemu lagi. Ingat ya, kalau aku mangkir lagi tolong jewer, ---tapi pelan-pelan saja, hihihi :)



yang pernah mimpi menang tanding catur sama stephen hawking,

Indi

Get your own SpineCor (soft brace)
Indo Sehat Utama
Ruko Garden Shopping Arcade, Blok B-09 BB Kawasan Podomoro City, Jl. Podomoro Avenue - Tanjung Duren Selatan jakarta Barat 11470. 
Phone: 021 2940 8696

_______________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 09 April 2016

How to Deal with School Days as a Scolioser? :)



Yaaaaay, weekend! Lol, OMG, sepertinya openingku kurang variatif. Sering banget tulisan dibuka dengan betapa excited nya aku dengan weekend atau hari libur yang tiba. Tapi mau gimana lagi, kesempatanku menulis biasanya memang muncul di hari-hari seperti ini, hihihi. Lagipula, siapa sih yang nggak suka weekend? Well, meski pasti ada yang jawab, "Akuuuu!" sambil mengacungkan tangan, tapi aku yakin kebanyakan dari kita menyukainya. Pekerja kantoran (mostly) libur di hari sabtu dan minggu, begitu juga anak-anak sekolah yang dengan happy dadah-dadah sama pelajaran di kelas, ---tapi welcoming homework, lol :D Pokoknya weekend adalah waktu di mana aku bisa menulis sampai larut tanpa harus dagdigdug karena sadar besok mesti bangun pagi-pagi ;) Ngomong-ngomong soal sekolah, sejak SD sampai sekarang aku selalu merasakan hal yang sama; mixed feeling antara fun sama challenging. Aku sangat menikmati saat-saat berkumpul dengan teman-teman dan belajar hal-hal baru (---well, nggak selalu, sih, lol). Tapi aku juga merasakan beberapa tantangan seperti PR yang super banyak dan terkadang peer pressure. Sekolah memang bukan the easiest thing in the world, aku yakin kita nggak selalu mengalami hal manis. Terkadang pahit, atau minimal kecut, hihihi. Dan sebagai seorang scolioser(---pengidap scoliosis, kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping) tantangan di sekolah bisa saja jadi terasa lebih berat. Tanpa bermaksud menganggap scoliosis sebagai beban (it's a bless, trust me), dealing dengan brace atau menghadapi pelajaran olahraga bisa jadi saat-saat yang begitu membingungkan. Aku juga pernah mengalami, ---kebingungan sebagai murid baru di SMP dan baru saja didiagnosis mengidap scoliosis oleh dokter. Tapi seiring dengan berjalannya waktu aku mulai menemukan tricks yang membuat hari-hari di sekolah terasa lebih nyaman :)

"Scoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya."




1. Bagaimana cara memberitahu kepala sekolah dan guru-guru?

Aku mengerti bahwa bagi sebagian scolioser berbicara tentang scoliosis bukan hal yang terlalu nyaman untuk dilakukan. Tapi penting sekali bagi kepala sekolah dan guru-guru untuk mengetahui kondisi kesehatan kita, terutama guru olahraga. Jumlah scolioser yang banyak bukan jaminan pahamnya masyarakat terhadap scoliosis, ---termasuk guru-guru kita. Bawalah surat pengantar dari dokter dan jika perlu ditemani oleh orangtua untuk membantu menjelaskan bahwa kondisi kita bukan hal yang "sementara".
(Yes, scoliosis bisa dikoreksi dengan cara bracing, fisioterapi atau operasi. Tapi ini bukanlah kondisi yang bisa dikoreksi dalam waktu yang cepat).


2. Mintalah tugas pengganti untuk pelajaran olahraga.


Setiap scolioser memiliki kondisi yang berbeda. Jika dokter melarang kita untuk berlari dan melompat, maka manfaatkanlah waktu berenang saat pelajaran olahraga. Gerakan renang sangat baik untuk menguatkan otot, dan itu artinya sangat baik juga untuk menjaga postur tubuh kita. Agar tetap mendapatkan nilai dengan cara yang fair mintalah tugas pengganti, misalnya saja tugas menulis atau mengumpulkan artikel. Well, tanpa berlari dan melompat pun sebenarnya kita tetap bisa masuk ke dalam tim olahraga, kok. Tawarkan diri untuk menjadi "asisten pelatih, aka guru kita", ---tugas apapun yang diberikan itu bukan masalah karena nggak ada yang namanya "peran kecil" di dalam sebuah tim ;)


3. Sesuaikan seragam sekolah.


Jika memakai brace di balik seragam, otomatis kemeja dan rok kita akan terasa lebih sempit. Untuk menyiasatinya kita bisa memakai seragam yang sizenya 1 nomor lebih besar dari biasanya. Aku sendiri lebih nyaman untuk memakai seragam yang lebih besar dibandingkan menutupi brace dengan jaket, karena saat udara panas rasanya cukup menyiksa. Brace + gerah = not good, bisa biang keringat, hihihi.


4. Hadapi bully.


Bullying bisa menimpa siapa saja, termasuk kita. Dan saat dibully kebanyakan dari kita mengira bahwa scoliosis dan brace adalah penyebabnya. Padahal bullying terjadi karena kita sendiri yang "membiarkannya". Bully is just like dogs, they can sniff your fear. Hanya karena tulang kita yang bengkok bukan berarti kita menjadi kurang dibandingkan yang lain. Jadi jangan takut, keep your chin up! Karena nggak ada seorang pun yang pantas untuk dibully. Tapi jika kita sudah merasa terancam (secara mental atau fisik), jangan ragu untuk melaporkannya pada orang dewasa, ---misalnya guru atau orangtua. It doesn't make you a "snitch", because sometimes you need help to defend your self.


5. Sediakan tempat untuk menyimpan brace.


Nggak semua sekolah punya loker dengan space yang cukup besar. Terkecuali jika memakai brace bertipe soft seperti yang SpineCor yang aku pakai, maka tempat penyimpanan nggak menjadi masalah karena bisa dengan mudah dilipat dan dimasukan ke dalam tas. Tapi jika memakai brace dengan tipe hard (seperti boston, dll) yang ukurannya lebih besar, maka gunakan kantung plastik atau kantung parasut untuk tempat penyimpanan. Penting sekali untuk menjaga kebersihan brace meskipun hanya ditinggalkan sebentar untuk pelajaran berenang. Jangan lupa, brace adalah our second skin :D



Dengan atau tanpa scoliosis sekolah memang selalu menantang, ---tapi sekaligus menyenangkan. It's okay untuk mempunyai fase khawatir atau sedikit takut saat menghadapi hal yang baru. Memberi waktu pada diri sendiri untuk terbiasa bukan berarti lemah atau cengeng. Dan seperti fase memakai brace, sekolah juga suatu hari akan selesai. Jadi nikmatilah, because life is good. Life is always good :)


yang paling suka pelajaran olahraga karena bisa ketemu mika,

Indi


Get your own SpineCor here:
Indo Sehat Utama
APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470

(021) 29339295 / 29339296.
_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 04 Maret 2016

Indi's Scoliosis Life: SpineCor Update! :)

Hi bloggies! I'm back! ---Well, not "back" back, sih, karena hari ini rupanya aku belum bisa menulis panjang-panjang. Di post yang sebelumnya aku bercerita tentang pengalaman mengikuti briefing Kelas Inspirasi Bandung, seharusnya sekarang aku bercerita tentang Hari Inspirasinya. Tapi berhubung aku sedang masa pemulihan (flu, batuk dan demam, uh, bukan kombinasi yang bagus), jadi sekarang aku akan bercerita tentang update singkat dari scoliosisku. Bagi yang belum tahu, aku mengidap scoliosis sejak usia 13 tahun dan 1 tahun belakangan memilih SpineCor sebagai treatment untuk tulang belakangku.

Minggu lalu aku bertemu dengan dr. Natalie Liem untuk mereview pemakaian SpineCor ku. Sama seperti brace pada umunya, SpineCor juga harus dicek secara berkala untuk memastikan ukurannya pas dengan tubuh pasien. Meskipun masa pertumbuhan sudah berhenti (biasanya di atas usia 18), tapi bukan berarti tubuh nggak mengalami perubahan, lho. Makanya check up berkala itu sangat perlu, ---reminder untuk diri sendiri karena jadwal check up ku belakangan agak berantakan, hihihi. Biasanya saat pemeriksaan jika diperlukan akan diberikan beberapa perubahan pada SpineCor, dan kali ini ada 2 hal yang berubah dari set up nya, yaitu: ada tambahan band dan pada bagian dada atas menjadi lebih flat. Aku nggak tahu pasti apa alasannya, tapi ini artinya ada perubahan di tubuhku, ---in this case artinya baik :) By the way, ini juga salah satu alasan kenapa aku memilih SpineCor, saat tubuh berubah dokter hanya perlu mengganti/menggeser band saja. Aku nggak perlu mengganti keseluruhan brace karena sifatnya elastis. Yay! Lebih baik dari braceku yang sebelumnya, dong ;)


Aku sangat suka dengan set up yang baru. Meskipun memang SpineCor itu terasa nyaman, tapi sekarang rasanya lebih nyaman lagi. Karena lebih pas di bagian dada atas, keberadaannya semakin tersamar jika aku menggunakannya di balik baju, hihihi. Dan yang terpenting rasanya bisa lebih menyangga tulang belakangku. Lihat saja dari foto-fotonya, sooooo much better than before, kan? ;)
Dr. Natalie nggak bilang apa-apa soal kurvaku, ia hanya bilang kalau tanpa diberitahu pun sangat terlihat bahwa aku disiplin dalam pemakaian SpineCor. Dari wajahnya sih sepertinya ia puas (boleh dong bangga, hihihi). Goal dari pemakaian SpineCor dan segala macam treatment scoliosis sebenarnya untuk mempertahankan kurva dan mengurangi rasa sakit, tapi jika sampai ada pengurangan itu namanya bonus. Dan sejauh ini kurvaku berkurang 12 derajat dari 58 ke 40 derajat dengan pemakaian SpineCor. Tugasku sekarang adalah untuk menjaga agar kurva tetap stabil meskipun tanpa SpineCor.


Dulu karena belum mengerti aku hanya berfokus pada tulang belakang, ---karena scoliosis memang kelainan tulang belakang. Yang aku perhatikan adalah postur tubuh, misalnya cara duduk, dll dan asupan kalsium. Tapi ternyata otot yang kuat akan menyangga tulang dengan lebih baik. Makanya dokter menyarankan aku untuk melatih otot agar bisa menjaga kurva menjadi stabil. Tapi jangan seram, melatih otot nggak perlu angkat beban atau olahraga berat, kok, hehehe. Untuk scolioser cukup dengan exercise rutin dan lebih baik lagi kalau pilates. Tempat pilates sekarang bisa ditemukan hampir di tiap sudut kota, tapi untuk scolioser dengan kurva besar sepertiku disarankan untuk mengikuti pilates khusus scoliosis. Pilates memang baik untuk tubuh secara umum, tapi nggak semua gerakan baik untuk orang dengan severe scoliosis. Jadi sekarang aku sedang mencari kelas pilates yang suitable dengan kondisiku (dan yang jaraknya nggak jauh dari rumah supaya nggak capek di jalan). Kalau teman-teman punya informasi, boleh dong share di sini ;)

Secara keseluruhan hasil reviewku baik. Mulai sekarang aku akan memakainya 12 jam every other day (yup, dokter izinkan aku untuk pakai secara selang-seling). Mungkin bagi awam ini terdengar lama, tapi sebenarnya ini jauh lebih sebentar lho dibandingkan dengan penggunaan Boston brace yang 23 jam perhari, 7 hari selama seminggu, ---nggak pakai libur, hihihi. 
Untuk teman-teman scolioser, aku mau mengingatkan supaya nggak terlalu ngotot dengan kurva. Bracing, fisioterapi, surgery, ---atau apapun treatment yang dipilih, berkurangnya kurva itu bonus (tapi kalau pakai SpineCor bonusnya memang lebih banyak, hihihi). Kalau dapat bonus syukuri, tapi kalau nggak pun please don't be sad karena kualitas hidup ditentukan oleh semangat kita, bukan kurva kita ;)


bent not broken,

Indi

Get your own SpineCor here:
Indo Sehat Utama
APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470
(021) 29339295 / 29339296.

_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 04 Februari 2016

Indi's Scoliosis Life: Pakai Brace? No Worry! :)


Howdy do, bloggies? Wah, nggak terasa ya sudah bulan Februari lagi, hihihi. Padahal rasanya aku baru saja mengucapkan happy new year sama kalian :D Ngomong-ngomong soal tahun baru, aku memang belum share soal resolusiku di sini. Tapi yang (mudah-mudahan) terlihat tanpa perlu disebutkan adalah keinginanku untuk lebih merawat kesehatan, terutama untuk scoliosis. Kalau teman-teman subscribe channel YouTube ku, "Indi Sugar Taufik" pasti tahu kalau aku memulai seri "Indi's Scoliosis Life" yang episode-episodenya berisi tentang kehidupanku sebagai seorang scolioser, ---pengidap scoliosis. Nggak hanya bercerita soal pengalaman, aku juga share tips-tips yang mudah-mudahan bermanfaat bagi sesama scolioser. Misalnya saja tips mengenai brace dan latihan-latihan ringan yang baik untuk tulang belakang. Selain untuk berbagi hal-hal bermanfaat, dibuatnya seri ini juga memacuku untuk hidup lebih sehat. Bagaimana nggak, soalnya aku dipaksa untuk membuat episode baru seiap minggu. Jadinya sambil menyelam minum air, kan, hihihi.

Seri "Indi's Scoliosis Life" dibuat dengan Bahasa Indonesia dan disertai subtitle Bahasa Inggris yang muncul secara otomatis. Ini karena viewers channel YouTube nomor satuku ternyata berasal dari Amerika, sedangnya Indonesia menduduki peringkat kedua atau malah kadang-kadang ketiga, hihihi. Ini juga aku lakukan agar channelku lebih universal, karena scolioser tentu bukan berasal dari Indonesia saja. By the way aku nggak random begitu saja menggunakan media YouTube, lho. Meski selama ini aku (berusaha) aktif di blog untuk berbagi, ide untuk merambah ke YouTube muncul setelah melihat jumlah viewersku di sana. Begitu sadar kalau memiliki cukup banyak viewers, ---lebih dari 100.000, aku merasa kalau channel "Indi Sugar Taufik" harus digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat selain untuk berbagi video-video saat aku bermain ukulele. Tapi tentu aku nggak akan meninggalkan blog Dunia Kecil Indi untuk berbagi, karena nggak semua teman-teman di sini akrab dengan YouTube (---dan membuka blog ini tentu lebih ringan dibandingkan dengan video). Jadi aku akan mencoba untuk membuat episode-episode "Indi's Scoliosis Life" dalam bentuk tulisan di sini.

Sekarang aku akan berbagi tips nyaman saat memakai scoliosis brace atau SpineCor, yang merupakan episode ketiga dari "Indi's Scoliosis Life". Sebagai scolioser yang sudah memakai brace sejak usia 13 tahun, ---23 jam setiap hari, aku sudah mengalami pahit manis bersama si rompi warrior ini, hihihi. Meski brace berfungsi untuk membantu scolioser, tapi memakainya dalam jangka waktu lama bisa menjadi nggak nyaman. Terutama jika dipakai saat beraktivitas dan di udara yang panas. Uh, kulit bisa gatal-gatal dan sulit sekali digaruk :D Untung saja pengalaman membuatku semakin expert (lol) dalam mengatasinya. Well, memang nggak akan senyaman saat sama sekali nggak menggunakan brace, sih. Tapi kujamin langkah-langkah kecil ini membuat lebih brace jadi lebih terasa acceptable ;)



1. Keep your brace clean!
Tahukah teman-teman bahwa brace bisa dicuci? Well, aku yakin dokter juga sudah memberitahu soal ini. Tapi in case kalian nggak paid attention (lol), brace tipe Boston dan SpineCor itu bisa banget dijaga kebersihannya, lho. Untuk Boston bisa dibersihkan menggunakan rubbing alcohol, sedangkan untuk SpineCor bisa dicuci menggunakan tangan atau menggunakan mesin cuci dengan cara dimasukkan ke dalam laundry bag terlebih dahulu. Brace yang bersih mencegah kulit kita terserang alergi dan iritasi. Dan jika yang digunakan adalah tipe SpineCor sepertiku, mencuci dengan rutin tentu membantu melembutkan ujung-ujungnya sehingga lebih nyaman untuk dipakai.

2. You need to go? Then GO!
Okay, yang ini memang membuat dilema, tapi trust me, saat teman-teman merasa ingin ke kamar kecil, then go, jangan ditahan! Melepas brace dan memasang kembali brace memang nggak mudah, dan kadang cukup memakan waktu terutama kalau sedang di sekolah atau kampus. Tapi menahan keinginan buang air kecil mungkin malah membuat kalian sakit. Lebih baik sempatkan saat jam istirahat untuk mampir ke kamar kecil meskipun rasanya nggak mau-mau amat. Untuk yang menggunakan SpineCor sebenarnya ada cara agar nggak perlu melepaskan seluruh brace tapi tetap bisa buang air dengan nyaman. Next time aku akan share tipsnya, ya ;)

3. Jangan lupakan kaus dalam
Brace yang menempel langsung dengan kulit tentu beresiko memberikan gesekan. Bukan nggak mungkin kita terkena biang keringat dan lebih ekstrimnya lagi luka-luka kecil yang gatalnya minta ampun. Karena kulitku super sensitif, waktu masih menggunakan Boston Brace luka-luka itu jadi langganan dan meninggalkan bekas sampai sekarang. Syukurlah sekarang aku menggunakan SpineCor yang jauh lebih lembut. Tapi sebenarnya biang keringat dan luka-luka itu bisa diminimalisir dengan penggunaan kaus dalam yang baik, lho. Sebelum memakai brace, gunakan kaus dalam atau tank top yang berbahan katun. Make sure kaus dalamnya cukup menutupi daerah dada dan bawah ketiak karena di bagian-bagian itulah kita rawan berkeringat.

4. Bye bye push up bra ;)
Ada beberapa tipe brace yang modelnya menutupi dada, atau menyilangi dada seperti SpineCor yang aku pakai. Untuk perempuan pasti rasanya kurang nyaman. Untuk mengatasinya selalu gunakan bra tanpa kawat, atau sports bra agar bisa menyangga dada kita tanpa perasaan tertekan. Kalau teman-teman ngotot tetap ingin memakai bra berkawat... well, jangan bilang aku nggak kasih tahu soal ini, ya, hihihi :p

5. Jaga kelembaban kulit
Kulit yang kering tentu akan lebih mudah untuk terkena iritasi. Merawat kulit yang tertutup brace memang sedikit tricky, tapi tentu, selalu ada solusi ;) Gunakan lotion setiap habis mandi dan biarkan meresap terlebih dahulu sebelum memakai brace. Krim yang mengandung aloe vera dan vitamin E juga sangat membantu untuk mengurari rasa gatal dan kemerahan. Aku memilih perawatan double dari luar dan dalam, yaitu menggunakan lotion sekaligus mengkonsumsi kapsul vitamin E. Air putih juga bisa menjaga kulit kita tetap lembap, minimal minum 8 gelas sekali dan you good to go! :)


Nah, itu dia 5 tips dariku untuk menjaga hari-hari scolioser yang menggunakan brace agar tetap nyaman. Menggunakan brace kadang memang nggak nyaman dan butuh waktu untuk beradaptasi. Tapi jangan takut, perasaan nggak nyaman di awal itu hanya fase. Begitu teman-teman beradaptasi brace akan terasa seperti sahabat, hihihi. Eh, aku nggak main-main, lho, jangan pernah mengganggap brace sebagai musuh. You might hate it, tapi jangan lupa bahwa brace diciptakan untuk membantu kita. Untuk membuat kita beraktivitas lebih lama tanpa rasa sakit, untuk menjaga agar kurva kita nggak bertambah, dan tentu untuk mengingatkan bahwa kita adalah scoliosis warrior. Jadi kalau setelah melakukan tips-tips ini kalian masih merasa nggak nyaman, just remember; saat kita nggak bisa menjaga punggung kita tetap tegak, brace always keep your back straight! :D 


embrace your brace,

Indi

_____________
Get your own SpineCor here: Spine Body Center/Indo Sehat Utama APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470, telepon: (021) 29339295.

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 16 Desember 2015

My Scoliosis Daily Care :)

Scoliosis, ---atau skoliosis. Sejak berusia 13 tahun aku sudah nggak asing dengan kata yang satu itu. Kami, ---aku dan scoliosis berteman dengan akrab karena dokter bilang ia akan bersamaku selamanya. Bahkan saking akrabnya kami menjadi sebuah kesatuan, hihihi. Bagaimana nggak, setiap masuk kelas atau sekolah baru aku harus ikut memperkenalkan si scoliosis ini pada pihak sekolah. Karena kalau nggak bisa-bisa akan berakibat nggak baik untuk kesehatanku. Lama-lama bukan cuma aku saja yang akrab dengan scoliosis, tapi teman-teman dan guru-guru yang tadinya nggak tahu pun mulai berkenalan dengan soulmateku ini :D 

Scoliosis, atau kelainan tulang belakang ke arah samping ini penyebabnya bermacam-macam. Dari mulai idiofatik (nggak diketahui sebabnya) sampai efek samping dari beberapa sindrom. Karena itulah nggak ada seorang pun yang terjamin bebas dari scoliosis, dari mulai bayi sampai orang lanjut usia. Biasanya begitu seseorang terdiagnosis mengidap scoliosis dokter akan meminta anggota keluarganya untuk melakukan pemeriksaan fisik, karena scoliosis juga bisa diturunkan. Aku sendiri adalah satu-satunya yang mengidap scoliosis di keluarga, ---well itu kalau Bapak nggak dihitung, sih, hehehe. Kata dokter tulang Bapak juga agak bengkok, tapi hanya scoliosis ringan dan nggak berbahaya. Begitu juga Ibu dan Adik, mereka sama-sama nggak mengidap scoliosis :) 

Karena aku satu-satunya scolioser, ---pengidap scoliosis di keluarga, awalnya kami sama sekali nggak tahu harus berbuat apa. Aku hanya memakai boston brace (penyangga) selama 23 jam perhari sesuai anjuran dokter. Tapi semakin lama ilmuku dan keluarga semakin bertambah karena mulai berkenalan dengan scolioser lain dan of course internet! ;) Semenjak itu aku nggak hanya memakai brace, tapi mulai fisioterapi dan melakukan latihan ringan di rumah. Sampai sekarang pun, di usia di mana tulang sudah berhenti tumbuh, aku tetap rutin merawat scoliosis. Karena selain scoliosis akan ada berada bersamaku selamanya, seiiring bertambahnya usia tentu kurvaku juga akan tetap bertambah meskipun hanya sedikit-sedikit :)

Pengidap scoliosis itu banyak, terutama perempuan karena tubuh perempuan lebih mudah terkena scoliosis idiofatik, ---dan lebih memerlukan treatment daripada laki-laki. Itulah mengapa aku mencoba sesering mungkin berbagi tentang scoliosis di media sosial yang aku punya. Selain untuk mengenalkan scoliosis kepada banyak orang, tentu aku ingin sharing dengan teman-teman sesama scolioser tentang terapi atau brace apa yang pernah atau sedang aku gunakan sekarang. Berbagi itu menambah ilmu, kan? Aku senang mendapatkan banyak tanggapan positif dari post yang aku share ;) Eh, tapi ada saja lho orang yang berkomentar negatif, ---cenderung 'menggampangkan' malah. Karena memakai SpineCor, soft brace yang harganya lebih mahal dibandingkan brace tipe lain, aku beberapa kali dikomentari seperti ini; "Nggak heran bisa beli brace mahal, orangtuamu uangnya banyak." Atau dikomentari, "Kamu sih enak orangtua peduli, kalau aku apa-apa urus sendiri," saat aku mengupload foto Ibu atau Bapak. Sebenarnya aku malas mengomentari ini, tapi kalau diam mungkin yang berkomentar akan mengira aku mengiyakan mereka. Yang pasti I know that I'm a lucky girl, dan aku sangat-sangat-sangat bersyukur. Aku sangat berusaha keras untuk masalah kesehatan, termasuk scoliosis. Dengan bangga aku bilang bahwa sejak kuliah nggak memakai uang orangtua sepeser pun untuk perawatan scoliosis. Dari mulai fisioterapi sampai untuk bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung saat harus adjustment SpineCor. Yup, memang ada yang aku korbankan dengan jadi nggak bisa sering hangout/belanja seperti teman-teman lain, tapi ini adalah pilihan aku :) Dan soal orangtua yang peduli, ---well mereka awalnya juga blank dengan kondisiku, sampai-sampai disalah artikan sebagai nggak peduli. Jadi aku, sebagai seorang anak mungkin bisa memberi masukan pada teman-teman yang bilang kalau orangtuanya nggak peduli, bahwa terkadang mereka juga sama seperti kita, clueless, nggak tahu harus berbuat apa. Daripada melabeli orangtua sebagai "nggak peduli", kenapa nggak sedikit-sedikit memperkenalkan tetang scoliosis saja? Atau... cobalah mulai taking care diri sendiri, karena kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mengenal tubuh kita lebih baik? ;)

Soal merawat scoliosis aku nggak setuju kalau harus selalu dikaitkan dengan biaya yang banyak. Karena sebenarnya banyak kok yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Modalnya hanya meluangkan waktu dan jangan malas, ---karena mampu membeli brace paling mahal sedunia pun nggak akan membuat scoliosis terkoreksi kalau nggak dipakai, hihihi. Aku bukan dokter atau ahli kesehatan, tapi seperti biasa aku akan berbagi berdasarkan pengalaman. Ada beberapa rutinitas yang menurutku membantu memperbaiki kondisi scoliosis gue :)

1. Stretching
Hal pertama yang aku lakukan ketika bangun tidur adalah stretching atau peregangan. Aku sangat menikmati saat-saat bangun dari tempat tidur dan dalam beberapa menit saja tubuh menjadi lebih segar. Nggak ada gerakan khusus, scolioser atau bukan, siapapun cocok untuk melakukan ini. Buka kaki selebar bahu, lalu angkat tangan ke atas dan rentangkan dengan jarak sedikit melebihi bahu. Selanjutnya tinggal posisi tangan dan tubuh saja yang diubah-ubah, sementara kaki tetap di tempat yang sama. Untuk jelasnya aku sertakan foto ketika aku sedang stretching dengan dibantu oleh tali skipping. Kalau nggak punya, tali skipping bisa diganti dengan handuk kecil atau benda lain yang cukup kuat untuk ditarik. Stretching baik untuk membuat tubuh menjadi relax dan mengurangi rasa kaku. Meski nggak membuat kurva scoliosis berkurang, tapi trust me, nggak ada salahnya jika dilakukan secara rutin. At least aktivitas ini jauh lebih baik daripada langsung menatap layar handphone ketika bangun tidur, kan? Ups! Hihihi :)



2. Bracing
Nggak semua scolioser butuh brace/penyangga. Aku sendiri berhenti menggunakan boston brace setelah 5 tahun karena tulangku sudah berhenti tumbuh. Tapi satu tahun belakangan ini aku memutuskan untuk memakai SpineCor, brace dengan tipe yang lentur (soft). Pertimbanganku memakai SpineCor adalah karena dibandingkan jenis yang lain brace ini lebih efektif dalam mengurangi kurva dan menghindari operasi. SpineCor juga membantuku untuk lebih aktif karena mengurangi rasa nyeri yang biasanya mengganggu aktivitas. Well, brace ini memang nggak murah tapi karena bisa dicicil di Spine Body Center, APL Tower lt. 25 Jakarta (021-2933 9295), kenapa nggak dipertimbangkan? :)



3. Exercise
Kalau anak sekolah sih kebanyakan rutin berolahraga ya karena ada pelajarannya, hihihi. Eh, tapi nggak semua, lho. Banyak scolioser yang nggak boleh berlari atau melompat, terutama di masa pertumbuhan karena menyebabkan kurva semakin cepat bertambah. Sebagai gantinya aku hanya mengikuti pelajaran berenang di sekolah karena itu bagus untuk tulang belakang. Meski di rumah nggak ada kolam renang bukan berarti aku diam. Setiap sore aku rutin berjalan-jalan di sekitar rumah bersama Eris, my super cute dog :D Dengan berjalan kaki tubuhku jadi terbiasa untuk bergerak dan semakin kuat. Selain menjadi teman, Eris juga berguna lho untuk melatih otot. Sudah naluri seekor anjing kalau lihat kucing pasti penasaran. Nah, kalau Eris mulai tarik-tarik leash sebagai human yang baik aku harus tarik balik. Kebayang dong bagaimana kuatnya anjing golden retriever? Hihihi :p 
Jalan-jalan sore tentu bukan satu-satunya exercise gratis yang bisa dilakukan di rumah, tapi untuk sekarang baru ini yang aku lakukan. Aku sedang mencari jenis exercise lain yang menyenangkan tapi juga aman untuk scoliosis :)



4. Healthy Meals
Masih ingat dengan 4 sehat 5 sempurna? Hehehe, old school banget ya kedengerannya :D Tapi menurutku itu adalah cara yang paling sederhana untuk memenuhi gizi seimbang kita. Meskipun aku seorang pesco-vegetarian, tapi aku selalu berusaha variatif dan seimbang dalam menu sehari-hari. Biasanya scolioser memiliki digest problem, ---termasuk aku, jadi menu sayur kaya serat jangan sampai ketinggalan. Dokterku, dr. Natalie menyarankan untuk minum prune juice agar terhindar dari sembelit. Tapi karena di supermarket susah dapat aku menggantinya dengan minuman prebiotic. Yang murah meriah itu Yakult, tapi lumayan ampuh apalagi kalau sehari minum 2. Ini bukan iklan lho, ya :D



Well, segitu saja daily care scoliosis yang aku bagi sekarang. Lain kali akan aku share lagi hal-hal yang berkaitan dengan my super best friend ini (---iya, dong masa mau musuhan sama scoliosis? Hihihi). Mungkin nanti aku juga akan membuat episode khusus tentang scoliosis di channel YouTube Indi Sugar Taufik. Masih agak bingung sih harus memulai dari mana, tapi let's see ;) Kalau teman-teman ada saran atau ada pertanyaan seputar scoliosis juga boleh. Nanti akan aku jadikan masukan untuk tulisan atau video selanjutnya. 
"Jadi scolioser memang menantang, tapi hey tanpa scoliosis pun hidup memang harus up and down, kan? Yang pernah sakit punggung bukan cuma scolioser, tapi semua orang. Yang pernah cepat lelah juga bukan cuma scolioser, tapi semua orang, hihihi. Tubuh kita dirancang Tuhan sudah yang paling tepat. Don't always blame scoliosis lah, ya! :)"
video daily care scoliosisku


cheers,

Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 17 Oktober 2015

Scoliosis? Jangan Sampai Diabaikan! ;)

Teman-teman, sudah tahu belum scoliosis itu apa? Nah, hari ini aku akan mengenalkan kalian dengan sesuatu yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun. Yup, aku sudah bersama scoliosis sejak berusia 13 tahun :) Scoliosis adalah kondisi kesehatan tulang belakang yang memiliki kelainan 3 dimensi dengan struktur yang nggak simetris. Meskipun 3 dimensinya rumit, tapi ketika dirontgen kelainan tulang belakang yang berbentuk S atau C ini akan terlihat lurus, lho!

Ada 3 etiologi scoliosis (penyebab), yang pertama adalah idopatik, atau nggak diketahui penyebabnya. Ini terjadi sebanyak 80-85% dari kasus scoliosis yang ditemukan, termasuk scoliosis yang aku idap. Yang kedua adalah kongenital, atau kelainan dalam pertumbuhan. Dan yang ketiga adalah neoromuskeletal, atau kondisi syaraf dan otot yang bisa menyebabkan scoliosis. Secara umum ada 2 jenis pengobatan untuk scoliosis, yaitu bedah dan intervensi non bedah, juga perawatan non bedah seperti latihan, rehabilitasi dan beberapa teknik konservatif lainnya.

Tapi tahukah kalian, sejak tahun 2007 (sesuai J. Paed Ortho) SpineCor ditemukan sebagai pengobatan non bedah yang paling efektif untuk scoliosis! :D Cara kerja soft brace (penyangga) yaitu dengan "mengajarkan" tubuh kita untuk kembali ke biomekanik normal. Keren, kan? ;) 
Mungkin kalian bertanya-tanya, karena baru ada 8 tahun kira-kira banyak nggak sih yang sudah memakai SpineCor? Jawabannya, tentu saja! Selain aku yang sudah memakainya selama 11 bulan belakangan, di bawah ini aku share foto-foto before dan after pengidap scoliosis yang juga menggunakan SpineCor.

Hasil rontgen pasien berusia 21 tahun setelah memakai SpineCor :)

Hasil rontgen pasien besusia 14 tahun setelah memakai SpineCor :)

Meskipun sama-sama melengkung, setiap jenis scoliosis itu unik lho, teman-teman. Tindakan yang diambil pun tentu harus berbeda-beda. Hasil riset membuktukan bahwa SpineCor terbukti efektif 89% untuk menstabilisasi dan memperbaiki scoliosis. Dan hasil riset terhadap 400 pengidap scoliosis selama 10 tahun, SpineCor ternyata hasilnya konsisten! Cool! Aku makin semangat deh untuk memakai brace yang super keren ini ;)

Di balik dress merah ini aku memakai SpineCor, lho. Nggak terlihat, kan? ;)

Adakah di antara teman-teman yang mengidap scoliosis? Jika kalian sudah mencoba bermacam-macam terapi dan pengobatan tapi hasilnya kurang berkenan (---well, seperti aku dulu), SpineCor ini sangat pantas untuk dicoba. Aku dan banyak scolioser lain sudah banyak terbantu, dan aku harap semakin banyak yang merasakan "keajaiban" SpineCor, hihihi. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang SpineCor, kalian bisa membuka situs Spine Body Center di www.spinebodycenter.com. Alamatnya di APL Tower, Lt. 25 Jakarta, atau hubungi langsung ke 021 29339295. Dr. Anthony Fong konsultan mereka, pasti dengan senang hati membantu kalian.

Saranku, jika merasa ada yang "salah" dengan tulang belakang kalian, segera periksakan ya. Karena mencegah itu tentu lebih baik daripada mengobati. Tapi jika sudah terlanjur terkena scoliosis, don't be sad... yuk kita lawan sama-sama dengan SpineCor! ;)

cheers,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 04 Agustus 2015

Jatuh Cinta Lagi dengan SpineCor (Hope for Scolioser) :)


Howdyyyyy bloggies! Apa kabar semuanya? Hehehe, liburan sudah selesai dan sekarang waktunya kembali ke aktivitas masing-masing, ya. Well, kalau aku sih jujur saja masih kangen deangan suasana Lebaran. Loads of foods, dikunjungi sepupu-sepupu, jalan-jalan.... :p Tapi kalau begitu terus bisa-bisa hari libur jadi nggak istimewa, hehehe. Jadi sambil menunggu libur panjang berikutnya aku mengerjakan project-project yang sudah direncanakan. Semoga kita semua selalu semangat, ya ;)

Sepertinya teman-teman di sini sudah tahu bahwa aku adalah seorang scolioser, atau pengidap scoliosis. Sejak usia 13 tahun sampai dewasa sudah banyak terapi yang aku coba, dari mulai terapi fisik sampai bracing. Yang paling lama aku jalani adalah bracing dengan boston brace selama 5 tahun. Kurvaku bertahan nggak bertambah selama beberapa waktu tapi lama kelamaan, wuzzzz, naik dari 35 derajat ke hampir 60 derajat, huhuhu. Nah, 9 bulan terakhir aku mulai bracing dengan SpineCor, ---brace yang bentuknya soft berbeda dengan tipe lain. Meski belum dalam hitungan tahun ternyata aku sudah bisa merasakan hasilnya, kurvaku turun menjadi 40 derajat! Yup, hanya 5 derajat lebih besar dari saat pertama kali scoliosisku terdeteksi :'D Luar biasa banget, kan? Tapi nyamannya SpineCor pun kadang bukan tanpa godaan. Adaaaa saja hal yang bikin aku 'lupa' untuk disiplin. Seringnya sih karena aku sudah merasa puas dengan hasil yang kucapai, hehehe.

Ada yang nyangka nggak, kalau aku pakai SpineCor di balik dress ini? ;)
Hihihi, SpineCor tersembunyi dengan sempurna karena cuma sedikit lebih tebal dari tank top :)

Atas saran dokterku, dr. Natalie Liem dari Spine Body Center, aku menghubungi Tante Novi, ibu dari salah seorang pasiennya yang juga pemakai SpineCor. Katanya supaya bisa tahu langsung pengalaman Fahira, karena ia termasuk salah satu pasien yang sukses. Kenapa ia sukses? Ya, karena disiplin dalam pemakaian SpineCor nya, dong, hihihi. Dengan bantuan Dr. Natalie aku menerima email yang berisi testimoni dari Tante Novi. Seru banget bacanya, dan Tante Novi juga mengizinkanku untuk berbagi ceritanya di sini, lho! ;)

"Berawal dari rasa penasaran kami melihat tulang belikat kanan anak kami “Fahira Syifa Machfudz” yang lebih menonjol dari pada tulang belikat kirinya tapi tidak ada keluhan apapun saat itu...
BINGUNG.....
Kenapa ini? Ada apa dengan anakku? neneknya yang pertama kali sadar dan memaksa kami untuk memeriksakan keanehan itu tapi kami juga tidak tahu harus kemana dan harus ke dokter apa kami memeriksakannya.
Karena pada saat itu Fahira masih berumur 12 tahun maka saya bawa dia ke dokter spesialis anak dan beliau merujuk ke dokter spesialis tulang. Tibalah kami bertemu dengan dokter spesialis tulang, beliau tidak banyak bicara hanya bilang “Oo anak ibu skoliosis.”
Sudah??
Hanya itu yang dikatakannya sambil mencatat report medisnya.
Sementara saya yang seorang ibu yang khawatir dengan kondisi anaknya menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter itu selanjunya mengenai sakitnya anak saya. Tapi kata2 itu tak kunjung keluar dari mulut beliau. Sampai akhirnya dengan sedikit memaksa dan sok tahu saya bertanya tentang apa itu SKOLIOSIS?
Dok.. skoliosis itu apa?
Kenapa bisa terjadi skoliosis pada anak kami?
Apa penyebabnya?
Adakah obat yang akan menyembuhkannya?
Lalu apa yang akan terjadi kalau kami membiarkan skoliosi itu pada anak kami? 

Ini jawaban beliau;
"Skoliosis itu tulang punggung yang bengkok, penyebabnya ya banyak bisa karena kebiasaan buruk yang dilakukan berulang-ulang atau memang keturunan. Nanti saya kenalin deh sama orang yang suka bikin jaket untuk skoliosis (hard brace maksudnya), dia bisa bikin dengan harga murah daripada ibu harus beli ke Singapur harganya mahal di sana bisa 8 jutaan lebih ditambah lagi nanti setiap 3 bln sekali dia hrs memeriksakan ulang posisi brace dan tubuh si anak."
Saat itu saya betul-betul khawatir dengan kondisi anak saya yang harus memakai hard brace itu, mengingat orang yang pakai behel gigi saja suka mengeluh sariawan karena tekanan benda keras di gusi, dan itu pasti akan terjadi pada anakku juga, di beberapa bagian tubuh tertentunya, ditambah lagi dengan adanya hard brace itu, gerakan anakku dalam bergaul menjadi tidak leluasa, kasihan ya (pikir saya).
Selama setahun kami mencari jalan bagaimana caranya kami dapat memberikan pengobatan kepada anak kami tanpa harus membatasi ruang geraknya dia dan tidak menyulitkannya, kami beri dia les private berenang dengan guru khusus, yoga dan mencari tahu tentang pengobatan alternatif sampai menemukan rumah skoliosis, ternyata banyak ya pengidap scoliosis di Indonesia ini.
Selang setahun berlalu, saya bawa kembali fahira ke dokter yang tadi dan saya minta untuk di Xray dan hasilnya dia bacakan dan memang tidak ada perubahan yang berarti.
SEDIH :(
Tapi tetap saya saya googling dan kaget saya begitu saya membuka google dan menemukan kasus skoliosis yang amat sangat parah dan harus di operasi kemudian setelah operasipun pasien tidak seratus persen sembuh tetap ada efek sampingnya, takut saya bacanya.  

Dengan searching sampai lah kami menemukan Spine Body Center. Kesan pertama bertemu dengan Dr. Fong and team yang menawarkan SpineCor®, membuat hati saya tenang meskipun pada saat itu saya hampir tidak mempercayai nya. Disamping kekecewaan saya terhadap dokter yang pertama saya temui, saya juga tidak percaya, masa tali temali bisa membuat skoliosis anak kami sembuh? dengan harga yang ditawarkan, mungkin saat itu saya berpikir mending beli sepeda motor saja. Tapi untung pikiran itu hanya melintas begitu saja yang akhirnya saya memutuskan untuk membelinya.
Tidak semudah yang di bayangkan, ternyata awal mengenakan brace amat sangat mengganggu bagi anakku, ada saja alasannya. Dia harus bangun 10 atau 15 menit lebih awal dari biasanya. Kemudian rasa pegal yang mendera, dia jadi sering bete di awal penyesuaian.
Tak henti2 kami di rumah menasehati, dari mulai bahasa yang amat sangat manis sampai ancaman pernah kami lakukan, ancaman dengan memperlihatkan gambar2 kasus skoliosis yang parah. Team dari Spine Body Center juga demikian, mereka memberikan pujian agar anak kami mau dan tidak malas memakai SpineCor® brace.
Hari berlalu waktu berjalan tak terasa sudah hampir 5 tahun anak kami memakai SpineCor® brace itu, terimakasih Tuhan kami masih dicukupkan rejeki hingga sampailah kami menemani anak kami menjalani pengobatan dengan hasilnya saat ini. Berdasarkan progress selama 5 tahun ini, kami merasa sangat puas dengan perkembangan perubahan derajat kebengkokannya, yang cukup stabil, tidak bertambah derajatnya. Info yang  kami peroleh, derajat kebengkokan akan terus bertambah seiring dengan waktu, akan tetapi dalam kondisi anak kami, derajat kebengkokan tetap stabil dari awal menggunakan SpineCor® sampai saat ini.
Tulangnya belikatnya sudah tidak terlalu menonjol lagi, meskipun masih ada. Minimal jika dia memakai baju modis tidak terlalu terlihat kelainannya dan meskipun dia memakai brace tapi kegiatannya tak terbatasi dia masih tetap berkegiatan sebagaimana anak ABG lainnya, di sekolah bahkan dia masih mengikuti les dan kejuaraan dance hiphop dan meraih juara 1 sejabodetabek lomba dance hiphop."
SpineCor gak bikin gerakan terbatas. Tuh, lihat masih bisa menang lomba dance :)

Wah, inspiring sekali ya ceritanya? Bikin aku semakin semangat agar terus disiplin dalam pemakaian SpineCor! Aku bahagia sekali dengan kemajuan yang kudapat sejak memakai SpineCor, tapi bukan berarti aku boleh merasa cukup. Aku bisa lebih baik dari ini, seperti Fahira yang setiap tahun semakin membaik kondisinya. Membaca cerita Tante Novi juga membuatku tersenyum, karena rupanya bukan hanya aku yang tertolong dengan SpineCor. Ada Fahira, dan mungkin banyak orang lain di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Berbagi cerita, meskipun nggak bertemu langsung bisa membuat orang yang membacanya termotivasi. Aku termotivasi karena membaca cerita Fahira. Apakah kalian kenal dengan seorang scolioser? Atau malah kalian juga scolioser? Jangan berhenti berbagi, karena siapa tahu cerita kalian menjadi harapan bagi orang yang membacanya! :)


nb: Aku dan Fahira memakai SpineCor dari Spine Body Center (APL Tower Lt. 25, samping Central Park, tlp: 021 33072111). Di sana kalian bisa mendapatkan SpineCor resmi dengan dokter-dokter yang berpengalaman. 

cheers,

Indi

 _______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 29 April 2015

Another Scoliosis Talk with Iin :)

Kalau ngobrol sama teman pasti bisa ke mana-mana. Yang tadinya lagi ngobrolin "ini" bisa nyambung ke "itu". Tapi justru bikin seru, seperti yang aku alami tanggal 22 April kemarin.

What a nice surprise, Iin temanku datang ke acara penobatan Kartini Next Generation Award 2015 di Jakarta. Aku yang dari Bandung lumayan kesepian karena hanya ditemani Ibu, Bapak dan Nenek. Teman-temanku nggak ada yang bisa datang, termasuk Ray karena sedang hari kerja. Beruntung sekali Iin bisa datang, dan bahkan ditemani mamanya sehingga membuat mejaku jadi ramai, hehehe. Perkenalanku dan Iin ini cukup unik, kami berkenalan lewat twitter dan berlanjut ke dunia nyata karena memiliki kesamaan, yaitu: sama-sama scolioser!

Suatu hari di tahun 2013 banyak follower twitter yang mention aku tentang penampilan Iin di audisi X Factor. Katanya ada penyanyi bersuara bagus yang juga mengidap scoliosis sama sepertiku. Aku yang sedang di luar buru-buru pulang ke rumah dan mencari videonya di YouTube. Ternyata benar saja, suaranya baguuuus sekali! Berkat salah satu komentar di videonya aku menemukan akun twitter Iin. Langsung saja aku mengontaknya dan memperkenalkan diri. Nah, kebetulannya hanya selang beberapa hari Iin menonton "Mika", film yang diinspirasi dari novelku, "Waktu Aku sama Mika".

Ini pertemuan kami yang kedua. Yang pertama kami bertemu di Central Park Jakarta. Dalam rangka apa? Dalam rangka... pengen ketemu saja pokoknya, hehehe. Aku tahu Iin sedang di Jakarta saat itu, jadi aku menemuinya sebelum ia pulang ke Makassar. Nah, tanggal 22 lalu giliran Iin yang menemuiku, di saat yang istimewa pula! Ini kali pertama aku bertemu dengan mamanya Iin. Aku memanggilnya 'Tante'. Ternyata Tante ini persis seperti putrinya, ramai dan gampang akrab, hehehe. Belum apa-apa kami langsung ngobrol ke sana-ke mari seperti sudah sering bertemu. Bahkan ada salah seorang finalis yang menyangka bahwa aku dan Iin kakak-adik :D

Dari macam-macam obrolan yang paling seru tentu saja soal scoliosis. Aku dan Iin sama-sama mempunyai kurva yang berat, yaitu diatas 50 derajat. Kami juga sama-sama sempat memakai boston brace dalam jangka waktu yang cukup lama. Ternyata sama sepertiku, kurva Iin pun nggak berkurang dengan pemakaian brace tipe itu. Salut dengan Tante yang rajiiiiin banget searching soal scoliosis, baik itu source nya dari luar atau dari dalam negeri, termasuk dari (ehm...) blog ini, hehehe. Sampai-sampai Tante juga tahu nama-nama selebritis yang juga scolioser. Cool!





Waktu pertemuan pertamaku dan Iin, kami berbicara tentang SpineCor, soft brace yang kabarnya sudah banyak membantu scolioser di luar negeri. Waktu itu kami berandai-andai suatu hari bisa memakai SpineCor dan beraktivitas dengan lebih nyaman. Eh, siapa sangka beberapa bulan semenjak pertemuan itu aku benar-benar memakai SpineCor karena ternyata sudah tersedia di Indonesia! Makanya waktu ketemu lagi aku langsung excited cerita bagaimana pengalamanku dengan brace yang super soft ini. 

Rupanya Iin pun sudah mampir ke Spine Body Center, tempat di mana aku membuat SpineCor beberapa minggu sebelumnya. Tapi Iin belum belum mulai fitting, "Nabung dulu, Isyaallah tahun ini," begitu katanya. Amen, aku dan keluarga doakan semoga cepat terkabul, ya :) 
Setelah merasakan banyak perubahan positif semenjak memakai SpineCor aku berharap kalau scolioser lain juga merasakan hal yang sama. Scoliosis kadang menyakitkan, dan hard brace malah membuat gerak tubuh terbatas juga menimbulkan pegal-pegal. Tapi dengan SpineCor 'koreksi' pun jadi nggak terasa, seolah tubuhku sedang memakai baju biasa saja.

Tante juga nggak sabar agar Iin cepat pakai SpineCor. Rupanya beliau tahu kalau Lourdes, anaknya Madonna juga pakai. Wah, benar-benar mama yang cool, nih! :D Btw, selain karena "dipakai seleb" ada alasan-alasan lain yang lebih penting lho kenapa aku (dan juga teman-teman yang sudah pakai) memilih SpineCor,
1. SpineCor terbukti lebih efektif 3,7 kali daripada hard brace (seperti boston brace yang dulu kupakai) untuk mencegah operasi. Karena lebih baik dalam menstabilkan dan mengendalikan scoliosis. 
2. SpineCor secara klinis sudah terbukti memiliki 89% keefektifan terhadap pasien. Ini menurut penelitan selama 10 tahun terhadap lebih dari 40 pasien, lho. Jadi meskipun sekali scoliosis tetap scoliosis, dengan SpineCor kesempatan aku untuk membaik lebih besar.
3. Meski bentuk badan berubah, misalnya tambah gemuk atau tambah kurus, SpineCor bisa disesuaikan kembali (re-adjustment). Itu juga artinya biaya yang dikeluarkan lebih sedikit karena bisa dipakai untuk jangka waktu lama ;)
4. SpineCor bisa dicuci, jadi tentu kebersihannya lebih terjaga. Aku gampang sekali terkena biang keringat, tapi sampai sekarang kulit yang terkena SpineCor tetap sehat, karena setiap minggu aku seolah memakai brace yang baru, hehehe.
5. Dengan SpineCor gerak tubuh yang dulunya mustahil dilakukan ketika memakai hard brace bisa dilakukan dengan nyaman. Karena elastis aku bisa membungkuk, duduk di lantai, dll tanpa masalah.
6. Dan yang terakhir adalah yang paling aku suka. Saking tipisnya (dibanding brace tipe lain) yang tahu kalau aku sedang memakai SpineCor ya hanya aku sendiri, kecuali kalau aku bilang-bilang, hehehe. Mau pakai outfit apapun nggak masalah, karena SpineCor bisa bersembunyi dengan sempurna ;)





Selain ngobrolin tentang SpineCor, aku, keluaga, Iin dan Tante juga setuju kalau banyak pengidap scoliosis yang nggak sadar bahwa ia seorang scolioser. Mungkin karena kurang disosialisasikan jadi orang banyak yang berasumsi bahwa scoliosis hanya masalah "kosmetik" alias tampilan luar. Padahal dengan tulang yang bengkok tentu mempengaruhu organ dalam kita, lho. Misalnya jantung, paru-paru, pencernaan dan lain-lain. Atau ada juga scolioser yang malah menutup diri atau malu. Padahal berbagi itu salah satu cara untuk melegakan perasaan, lho. Asalkan pada porsinya saja, bukannya malah minta dikasihani.






Aku bersyukur Iin berkata dengan bangga bahwa ia seorang scolioser saat audisi X Factor. Tanpa sadar ia sudah menginspirasi orang lain untuk bangga dengan dirinya sendiri dengan kondisi apapun yang Tuhan berikan. Iin juga membuktikan bahwa semua orang pasti punya bakat dan tetap bisa dinilai utuh meskipun ada bagian tubuh yang 'berbeda'. Dan tentu saja berkat keberaniannya kami bisa berteman. Tante sampai bergurau kalau saja Iin nggak menyebut "scoliosis" saat audisi mungkin kami nggak akan saling mengenal. Hehehe, betul juga, ya :D 

Pertemuanku dengan Iin dan mamanya kali itu sangat berkesan sekali. Aku senang karena ada teman yang hadir saat moment terpentingku. Juga aku senang karena di pertemuan santai pun kami bisa saling menguatkan. Waktu aku pulang ke rumah, aku dan Iin sama-sama meng-upload foto kami di Instagram. Ada komentar dari Iin di sana;
"Aku seneng banget bisa datang!!! Bangga banget sama Kak Indi! Hell yeah, scolioser dari X Factor dan penulis cantik yang tulisannya udah difilmin di "Waktu Aku sama Mika" bertemu. Terus menginspirasi semua scolioser ya Kak Indi, NEVER LOSE HOPE. Percaya diri dan kejar mimpi bareng-bareng."

Yes, Iin, let's catch our dreams and never lose hope. Tapi kamu harus tahu kalau kamu juga menginspirasi! :)


proud scolioser,

Indi


nb: Mohon maaf jika pertanyaan seputar SpineCor di post sebelumnya ada yang nggak terbalas. Aku berusaha sebaik mungkin untuk membalas satu persatu. Silakan tinggalkan alamat email saja di kolom komentar. Untuk pertanyaan mengenai medis, dll lebih baik hubungi langsung Spine Body Center di APL Tower, Lt. 25, Jakarta Barat (samping Central Park Mall) atau telepon ke (021) 2933 9295. Aku ditangani oleh Dr. Natalie Liem, MSc, PhD. Tapi jika ingin mengetahui pengalamanku dengan SpineCor, dengan senang hati aku share :)




 ______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469