Tampilkan postingan dengan label tumor payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tumor payudara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2020

Ulang Tahun Kali Ini Yang... Penuh Cinta! :)



Kalau sering mampir ke sini, mungkin teman-teman tahu kalau aku sangat suka dengan ulang tahun. Buatku ulang tahun itu hari yang magical, ---bayangkan kita mengenang hari di mana kita dilahirkan, di mana kita sangat ditunggu dan diharapkan :) Selama aku hidup di dunia ini, setiap ulang tahun selalu dirayakan bersama keluarga, atau lebih tepatnya disyukuri bersama. Nggak perlu macam-macam, cukup berkumpul bersama keluarga dan tiup lilin untuk simbolis bertambahnya usia saja sudah cukup. Apalagi setelah aku mengenal Shane hari ulang tahun jadi terasa lebih istimewa karena ulang tahun kami selisih 10 hari saja, double blessing! :)

Tapi siapa yang menyangka tradisi berkumpul yang biasanya aku rasa sebagai hal "sederhana" menjadi suatu kemewahan di ulang tahun kali ini. ---Yup, apalagi kalau bukan karena si covid 19, hahaha :'D Meski sudah mulai banyak orang menerapkan "new normal", tapi aku dan keluarga masih stay di rumah masing-masing. Aku di rumah bersama Shane, sementara Ibu dan Bapak juga berdua di rumah mereka yang jaraknya sebenarnya nggak jauh dari kami. Meski hati ini sebenarnya rindu, tapi aku menahan diri untuk nggak bilang sama Ibu Bapak kalau ingin merayakan ulang tahun bersama. Jadi aku berusaha keep cool, kalau ngobrol di whatsapp sama sekali nggak pernah membahas soal ulang tahun, hahaha :p

Tepat di hari ulang tahun Shane, 29 Mei 2020 lalu, kami nggak bertemu Ibu dan Bapak. Mereka hanya mengucapkan selamat lewat whatsapp. Begitu juga anggota keluarga yang lain seperti Nenek dan keluarga mertuaku. Pokoknya sepi, hanya ada kami berdua di rumah :'D Sempat punya ide buat baking birthday cake berdua, tapi malah mager dan beralih jadi ngerjain lagu. Iya, seaneh itu kadang kami, mau semager apapun kalau soal musik selalu semangat. Dulu saja kami bertemunya gara-gara musik, lho. Nggak pakai kenalan, langsung to the point kolaborasi musik dan akhirnya nikah, hahaha. Anyway, jadi ceritanya kami bikin music cover plus video clip spesial ulang tahunnya Shane gitu. Kami bawakan lagu The Velvet Underground yang judulnya Stephanie Says. Serius, prosesnya seruuuu banget. Aku nyanyi dan main ukulele. Sementara Shane yang main gitar, isi keyboard, biola dan xylophone. Eh, dia juga ngisi backing vocal sedikit. Penasaran nggak sih, soalnya semenjak nikah dia lebih sering main alat musik daripada nyanyi :p Pas bikin video clipnya ternyata hujan, padahal lagi musim kemarau, huhu. Tapi memang mood kami lagi sangat baik jadi cuek saja, lanjut nyanyi-nyanyi di bawah rintik hujan kaya film India. Setelah selesai, rasa happy jadi berlipat-lipat. Nggak sepi lagi. Kami sampai bilang kalau ini tuh best birthday celebration ever :)



Di saat aku pikir nggak mungkin ulang tahun kami menjadi lebih baik lagi, Tanggal 7 Juni 2020, satu hari sebelum ulang tahunku Ibu dan Bapak memutuskan untuk mampir ke rumah kami. It's been awhile, dan aku benar-benar nggak nyangka bakal bisa merayakan hari istimewaku (kami, ---aku dan Shane) bersama mereka. Sampai-sampai saat mereka on the way, aku tanya dulu apa mereka akan naik atau hanya menitipkan kado di lobby apartemen, hahaha :'D Ibu bilang, beliau dan Bapak ingin memberi kado langsung, jadi minta Shane untuk menjemput mereka di lobby. Jantungku rasanya seperti mau meledak, ---saking senangnya! Aku yang tadinya sedang bermalas-malasan di tempat tidur sambil membaca buku Goosebumps, langsung cuci muka dan mengepang rambut supaya terlihat agak segar. Shane pun segera mencuci piring-piring kotor sisa late breakfast kami (maksudnya sarapan di waktu makan siang karena kami kalau bangun suka nggak nanggung-nanggung siangnya, lol) supaya dapur terlihat rapi. Oh iya, yang bikin aku tambah senang (dan haru), sepanjang perjalanan menuju rumah kami Ibu dan Bapak mendengarkan musik ciptaanku dan Shane di tape, lalu mengirimkan videonya lewat whatsapp. Aww! :')

Ibu dan Bapak bilang mereka hanya bisa sebentar saja di rumah kami. Tentu kami maunya bertemu lama, kalau bisa nginap sekalian, hahaha, tapi dengan bisa bertemu saja sudah kejutan yang luar biasa :'D Rasanya tiba-tiba semua terasa normal, aku jadi lupa kalau keadaan di luar sana sedang "sakit". Kami berkumpul, nyanyi happy birthday, tiup lilin, ketawa-ketawa dan dapat kado. Waktu kadonya dibuka kami nggak bisa berhenti tertawa. Aku dapat figurin Kakek-Nenek yang sedang main musik. Kata Ibu, itu aku dan Shane yang sudah tua tetap suka main musik, hahaha. Kado untuk Shane juga ternyata nggak kalah lucunya, dia dapat kotak musik dengan bentuk biola. Kalau dibuka ada ballerina yang menari di atas cermin. Aw! Hahaha :D Dan rupanya Ibu diam-diam merekam kami ketika buka kado, lho. Katanya sengaja biar nanti bisa ditonton lagi. Setelah Ibu dan Bapak pulang, kami nggak bisa berhenti membicarakan keseruan yang baru kami alami. Shane malah nggak bisa berhenti bermain dengan kotak musiknya, hihihi.












Keesokan harinya aku dan Shane pergi ke Rumah Sakit untuk mengambil cek darah dan sekalian USG payudaraku. Awalnya sih rasanya mellow karena pas banget sama hari ulang tahunku, 8 Juni 2020. Tapi itu sebelum tahu kalau Ibu dan Bapak bakal datang ke rumah. Karena setelah sudah dapat kejutan, aku ternyata jadi biasa saja menghabiskan hari ulang tahun di RS. Malah rasanya ulang tahunku sudah lewat karena dirayakan lebih cepat, hahaha. ---Soal kenapa aku harus ke RS, mungkin akan aku ceritakan lain kali, ya. Terlalu panjang kalau diceritakan semuanya di sini, dan aku ingin berfokus sama cerita ulang tahunku dan Shane saja sekarang :)
Kami nggak pulang dulu waktu menunggu hasil Lab karena takutnya hanya buang-buang waktu saja di jalan. Padahal lumayan lama, lho, tapi kami merasa lebih mending menunggu sambil santai (dan jajan nasi Padang, hahaha) daripada bermacet-macet. Setelah akhirnya pulang ke rumah, keadaanku sudah drop alias low batt, lol. Yang terpikir hanya berganti baju dengan piyama terus tidur-tiduran. Eh, ternyata Shane berinisiatif untuk tetap merayakan ulang tahunku (lagi!). Dia ke mini market yang ada di gedung apartemen, lalu beli bahan-bahan untuk bikin kue tart. Setelah itu dia langsung baking kue, ---sebisanya. Terharu melihat suamiku "berjuang" aduk adonan sampai hias kuenya. Lengkap pakai lilin juga, yang buat aku sih super niat karena semuanya cuma dapat dari mini market :'D Kami tiup lilin berdua, makan kue berdua, setelah itu tidur siang berdua soalnya ngantuk berat, hahaha.







Saat sedang seperti ini ternyata rasa cinta keluarga jadi lebih terasa. Aku selalu tahu kalau keluargaku sayang denganku dan Shane, tapi melihat mereka tetap berusaha menyenangkan kami di saat pertemuan kami terbatas membuat mataku lebih terbuka. Nenekku yang sudah sepuh mengirimi kami pesan ulang tahun yang lucu, lengkap dengan emojinya. Katanya beliau belajar bikin emoji sendiri pakai iPhone, ---plus mengirimi kami kado setelahnya :) Juga keluarga mertuaku, meski sepertinya tahun ini nggak bisa berkunjung ke Indonesia, tapi kami tetap merayakan ulang tahun "bersama". Sejak aku dan Shane masih pacaran, Ibu Mertua punya kebiasaan untuk mengirimi kami kartu ucapan ulang tahun yang diselipkan hadiah uang untuk kami. Iya, beliau masih memperlakukan kami seperti anak-anak, hahaha. Tapi tahun ini rasanya "beda", aku jadi sadar apa yang dilakukannya adalah upaya mengisi absensi kehadirannya bersama kami. Beliau meminta Shane untuk mengajakku makan malam menggunakan uang beliau, katanya anggap saja kami makan malam bersama-sama :') Di blog ini aku sering bercerita betapa aku sangat bersyukur memiliki Ibu, Bapak dan suami yang hangat dan penuh cinta. Tapi ternyata aku "lupa" kalau aku juga diberkahi dengan mertua yang baik hati dan memiliki rasa cinta yang mungkin bisa menyamai orangtua kandungku.

Dapat kado-kado susulan dari Emah (Nenek), Asih (teman kerja) dan Uak :’)


Saat sedang menulis ini pun rasanya aku masih sedang berulang tahun. Sungguh perhatian dari orang-orang tersayangku memberikan rasa bahagia yang panjang. Aku semakin yakin bahwa keluarga nggak selalu harus saling berdekatan, tapi keluarga selalu saling mengingat dan mencintai. Ah, rasanya aku kehabisan kata-kata... Aku cuma bisa bilang, aku beruntung, aku diberkahi... Setuju? :)


birthday girl,

Indi

-------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 01 Maret 2017

Hadiah untuk Eris si Pet Therapist :)



Baru saja sampai di rumah Ibu berkata kalau ada paket untukku. Waktu dicek ternyata paketnya bukan buatku, tapi Eris! Hahaha. Wah, aku langsung penasaran dan membuka paket yang ukurannya cukup besar itu. Isinya karpet khusus hewan peliharaan!:D Beberapa waktu lalu aku sempat mengikuti giveaway yang diadakan oleh akun instagram @carameldanial yang informasinya gue dapat dari Yayasan Peduli Kucing. Syaratnya sederhana, peserta diminta untuk mengupload foto bersama hewan peliharaan dan menceritakan apa saja yang mereka lakukan sebagai pet therapy bagi "pawrent" nya. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang yang tahu tentang "terapi hewan". Aku sih nggak memikirkan tentang menang atau kalah karena memang selalu bahagia jika bercerita tentang Eris :)

Sejak menjadi bagian keluarga 7 tahun yang lalu, aku selalu menganggap Eris istimewa. ---Well, setiap makhluk Tuhan tentu punya keistimewaan masing-masing, dan keistimewaan Eris adalah sifatnya yang pengertian. Karena mengidap severe scoliosis dan masih memakai brace 12 jam perhari, aku nggak bisa berlari karena bisa menimbulkan rasa nyeri. Eris selalu mengimbangi langkahku saat kami berjalan-jalan sore dan nggak pernah mencoba berlari. Padahal ia bisa saja melakukannya kalau mau. Tapi lain ceritanya kalau ia unleash alias tanpa tali... Wuzz! Eris bisa berlari secepat angin! Hihihi. Melihatnya seperti itu membuatku ikut merasakan sensasi bebas luar biasa.



Tiga tahun yang lalu Eris juga pernah menemukan sebuah tumor besar di payudara kiriku. Awalnya aku mengira ada sisa makanan yang menempel di baju karena ia terus-terusan mengendusnya. Tapi karena semakin lama semakin sering, aku pun penasaran dan memeriksakan diri ke dokter. Untung saja belum terlambat. Operasi berjalan dengan lancar, hanya waktu penymbuhannya yang cukup sulit. Aku merasakan sakit yang amat sangat karena bekas jahitan terus mengeluarkan darah. Di saat itulah Eris nggak pernah meninggalkanku, ---membuat aku merasa nyaman. Dengan kata lain, Eris lah yang "merawat" mentalku selama sakit sementara orangtuaku merawat secara fisik. Eris adalah terapisku :)

Pengalamanku dengan Eris rupanya mirip dengan pengalaman Addinda Sonang Danial, pemilik akun @carameldanial. Ini juga yang menjadi alasannya mengadakan giveaway. Dinda adalah pengidap kanker leukimia dan ia memiliki pet therapist bernama Caramel. Caramel adalah seekor anjing terlantar yang diadopsinya tepat sebelum akan disuntik mati! Dari situs pawsunion.com aku jadi tahu betapa luar biasanya Caramel. Ia bisa tahu jika kondisi Dinda sedang drop, bahkan di saat Dinda merasa baik-baik saja. Dan saat waktunya minum obat Caramel akan mengambil lalu melemparkan obatnya agar diminum. Jika Dinda nggak mau meminumnya, Caramel akan menggonggong terus seolah mengingatkan. Amazing! :) 




Mungkin sudah banyak teman-teman yang tahu tentang pet therapy, tapi just in case aku akan menjelaskannya lagi sedikit. Pet therapy adalah terapi yang melibatkan hewan di dalamnya. Biasanya pet therapy dibutuhkan saat seseorang dalam proses penyembuhan dari masalah kesehatan seperti mental health, kanker, penyakit jantung dan lain sebagainya. Pet therapy juga bisa berfungsi agar seseorang bisa lebih "nyaman" dengan apa yang diidapnya. Contohnya seperti aku. Scoliosis nggak bisa disembuhkan (karena bukan penyakit, tapi kondisi yang hanya bisa dikoreksi), tapi dengan Eris rasanya lebih mudah untuk menjalani hari. Hewan apapun bisa menjadi pet therapist karena berbeda dengan service dog, "tugas" pet therapist adalah untuk membantu kita merasa nyaman. Tapi mereka bisa juga double sebagai service dog, seperti Caramel yang bisa mengingatkan Dinda untuk minum obat.

Balik lagi ke cerita Eris dan hadiahnya, awalnya ia agak "terancam" dengan karpet barunya. Mungkin karena berbulu ia jadi mengira kalau itu hewan lain. Sampai-sampai Eris menggeram dan menggigitnya, lho! Hahaha :D Tapi hanya sebentar karena setelah itu Eris langsung duduk santai di atasnya, bahkan lama-lama ia minta disisiri sambil tiduran di sana :) Aku baru tahu kalau karpet @petcarpet_id rupanya mendonasikan sebagian dari hasil penjualannya ke Yayasan Peduli Kucing. Rasanya membuatku semakin happy karena tahu bahwa banyak yang peduli dengan keberadaan hewan-hewan di sekitar kita. Kalau kalian punya anjing atau kucing akusarankan untuk membelinya karena selain berdonasi, kualitas karpetnya juga memang bagus. Kalau Eris bica bicara bahasa manusia, ia pasti akan memberi testimoni panjang lebar tentang karpet barunya, hahaha.

Aku senang, bersyukur dan berterima kasih dengan hadiah yang diberikan @carameldanial untuk Eris. Rasanya semakin meyakinkan kita bahwa hewan memang memiliki maksud dan fungsi untuk tinggal berdampingan dengan kita, ---mereka bukan hanya "sekedar" hewan. Sekali lagi, menang atau kalah bukan masalah untukku. Aku akan selalu menyayangi Eris dengan tulus karena aku percaya Eris juga nggak pernah meragukanku. Dan aku membagi cerita ini (mudah-mudahan) bisa menjadi pengingat agar nggak ada lagi yang menyakiti hewan. Kalian boleh merasa "nggak suka" atau geli saat melihat mereka. Tapi nggak perlu menyakiti atau mengusiknya. Selalu ingat bahwa di suatu tempat ada orang-orang yang tertolong sekali dengan keberadaan mereka. ---Bahkan yang nyawanya diselamatkan oleh mereka. Seperti Eris yang menyelamatkanku dan Caramel yang menyelamatkan Dinda :)

yang sangat beruntung 'memiliki' Eris,

Indi


(Punya pengalaman serupa dengan hewan peliharaan? Kirim cerita kalian ke namaku_indikecil@yahoo.com. Cerita yang menarik akan dimuat di buku Guruku Berbulu dan Berekor 2 yang royaltinya digunakan untuk membantu hewan-hewan terlantar).


-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 23 Januari 2016

Menjadi Pemenang Utama di Dogs of Indonesia. Ah, Tapi Bukan Itu Intinya ;)

Aku selalu percaya kalau setiap mahkluk diciptakan Tuhan dengan fungsi masing-masing. Semuanya punya manfaat, semuanya saling berhubungan. Termasuk hewan. 
6 tahun lalu, ---waktu Eris pertama kali hadir, aku tahu bahwa ia adalah salah satu berkah yang Tuhan berikan. Meskipun ia berkaki empat, nggak seperti teman-temanku yang lainnya tapi ia menjalankan fungsinya sebagai seekor sahabat dengan baik. Ia menemani saat aku sedih, saat aku senang. Ia juga juga memiliki empati, ---tahu kapan waktunya untuk becanda dan kapan aku sedang butuh istirahat. Selain menjadi sahabat Eris juga bagian dari keluarga. Jika Ibu tiba di rumah, selain bertanya apakah aku sudah makan, beliau juga pasti akan bertanya tentang si mungil Eris, hihihi :)

Aku juga percaya bahwa apa yang kita lakukan akan berbalik kembali pada diri kita. Jika kita memperlakukan setiap mahkluk, ---termasuk hewan, dengan baik dan hormat, bukan nggak mungkin mereka akan mencari cara untuk membalas kebaikan kita. Ingat Steve Irwin? Seumur hidupnya ia selalu dikelilingi hewan, ---terutama hewan buas seperti buaya. Tapi ia selalu percaya bahwa hewan-hewan itu nggak akan pernah menyakitinya. Ia bilang kuncinya adalah rasa hormat dan saling percaya. Well, aku memang masih jauh dari Steve Irwin, ---jauuuuuuh bangeeeeeet malah, hehehe. Tapi aku pernah mengalami hal yang sama dengan Mr. Irwin. Tahun 2013 lalu Eris melakukan sesuatu yang luar biasa, ---she saved my life :)

Terima kasih Dogs of Indonesia :)

Hari itu aku sedang bersiap untuk berangkat kerja. Seperti hari-hari yang lain aku menyalakan pompa untuk water heater yang terletak di ujung garasi. Tapi ada yang berbeda dari Eris, tiba-tiba saja ia menerjang dadaku dan menggaruknya seolah ingin mengeluarkan sesuatu. Awalnya kupikir ia mencium sisa makanan, tapi setelah memeriksanya aku yakin bahwa baju yang dipakai saat itu dalam keadaan bersih. Kebingungan, aku bergegas ke kamar mandi dan memeriksa bagian dada. Aku nggak menemukan sesuatu yang mencurigakan, tapi lalu... deg, jariku meraba sebuah benjolan di dada sebelah kiri. Karena khawatir, sepulang bekerja langsung aku periksakan pada dokter. Singkat cerita setelah melalui proses ultra sound dan lain sebagainya... benjolan itu ternyata tumor dengan diameter sebesar bola ping-pong. Yup, itu bukan tumor yang kecil.

Iie (tante) dan Tia juga beri hadiah bando lho buat Eris :)

Berkat Eris tumorku diangkat sebelum menyebar dan ganas. Dokter yang menanganiku pun sampai amaze karena letak tumornya yang jauh di belakang, ---dengan diraba sekitas saja nggak mungkin terasa. Itulah kenapa aku bilang Eris menyelamatkan nyawaku. Tanpa Eris, belum tentu aku masih berada di sini sekarang :)  Cerita tentang Eris yang pertama kali aku ceritakan di sini pun lama-lama semakin menyebar. Tulisanku dishare berkali-kali, dimuat di media online Vemale, sampai akhirnya masuk ke program Spotlite Trans 7. It's beyond amazing, cerita kami yang tadinya hanya diketahui oleh kalangan tebatas jadi semakin meluas. Dan baru-baru ini, ketika ada kontes 1001 Cerita dari Dogs of Indonesia aku putuskan untuk membagikan pengalaman ini lagi. Aku nggak berharap untuk menang, tapi aku berharap cerita kami akan memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Ide kontesnya sangat fun, cenderung lucu. Jadi para pemilik anjing ditantang untuk membuat cerita based on karakter anjingnya masing-masing. Nah, tokoh yang menginspirasinya boleh diambil dari tokoh-tokoh fiksi. Aku memilih Scooby Doo, karena sejak pertama kali melihat Eris ia selalu mengingatkanku sama anjing konyol itu, hihihi. Matanya besar, agak penakut, hobi makan dan yang pasti sama-sama bisa menemukan monster jahat! Bedanya monster yang Eris temukan dalam bentuk tumor. Sama-sama happy ending :D Aku mengirimkan ceritanya waktu hampir deadline karena handphoneku sempat bermasalah. Syukurlah ceritaku tetap diterima dan rupanya masuk menjadi pemenang harian, --- yang nantinya akan dipilih lagi untuk menjadi pemenang utama dan pemenang favorit. Sampai sini saja sudah jadi big surprise, karena kulihat peserta lain banyak yang kreatif dalam penulisan ceritanya :)

Ucapan selamat :)

Hadiah Voucher MAP :)

Tanggal 17 Januari 2016, ketika aku sedang bersiap untuk beristirahat tiba-tiba saja aku teringat untuk melihat pengumuman pemenang. Karena handphoneku mati seharian (yes, aku perlu ganti handphone sepertinya, lol) jadi nggak ada satu notifikasi pun yang masuk. Dan... surprise, surprise... aku dapat mention dari Dogs of Indonesia yang berisi bahwa ceritaku dan Eris menjadi pemenang utama! O, my God! Saking kagetnya aku nggak langsung balas tapi refresh page nya berkali-kali, ---kalau-kalau mereka salah mention. Tapi nop, mereka nggak salah, karena beberapa hari kemudian aku menerima hadiahnya; voucher MAP dan ucapan selamat kecil untuk Eris. Aku nggak tahu vouchernya akan dibelikan apa, tapi karena tahu kalau nggak bisa dibelanjakan di pet shop jadi aku hadiahi Eris dengan homemade treats istimewa dan jalan-jalan sore (sekaligus jumpa fans Eris, hihihi!). Dan tanteku yang mendengar tentang kemenangan ini pun ikut memberi Eris hadiah, yaitu sebuah bando rusa yang lucu :)

Bocah-bocah ini fansnya Eris, kemana pun selalu mengikuti, hihihi. 

Hadiahnya tentu membuat aku, ---dan Eris--- senang, tapi menurutku bukan itu intinya. Mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita tentang apa yang terjadi padaku dan Eris adalah yang terpenting. Aku senang bisa memberitahu dunia bahwa setiap mahkluk di dunia memiliki fungsi dan saling berhubungan. Mungkin ada yang berpikir kalau Eris hanya seekor anjing, tapi seriously guys, di dunia ini nggak ada yang "hanya", semuanya istimewa dengan caranya masing-masing. Jadi next time, kalau sedang makan di restoran dan ada kucing mampir jangan ditendang. Siapa tahu nanti ia melakukan sesuatu yang baik untuk kalian. Be nice, ---kalau kata Ibu dulu; Jangan mencubit kalau nggak mau dicubit! :)

blessed girl,

Indi

____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 29 Maret 2014

Gue dan Eris ---si golden retriever kecil--- ada di Spotlite Trans 7! :)


Pada tanggal 20 Maret lalu gue mendapat kejutan yang menyenangkan. Di tengah-tengah pekerjaan di preschool handphone gue nggak berhenti bergetar karena banyak sekali pesan yang masuk. Meskipun penasaran tapi gue baru bisa membukanya di jam makan siang. Ternyata pesan-pesan itu berasal dari teman-teman, pembaca dan beberapa keluarga jauh gue. Kabarnya mereka melihan gue dan Eris (anjing gue) di TV. Wah, gue kebingungan sekali karena gue ingat betul terakhir kali diwawancari media TV itu di tahun lalu, sedangkan di tahun 2014 ini belum pernah. Karena penasaran gue segera menulis status di di twitter dan facebook untuk menanyakan di program apakah mereka melihat gue. Nggak perlu menunggu lama, gue langsung tahu bahwa ada kisah tentang persahabatan gue dan Eris di Spotlite Trans 7. What a nice surprise! :)

Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa di akhir tahun lalu nyawa gue diselamatkan oleh anjing yang sudah gue anggap sahabat, Eris. Ia 'memberitahu' bahwa ada sesuatu yang salah di tubuh gue lewat endusan dan gerakannya yang seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Karena penasaran gue segera memeriksakan diri ke dokter dan ternyata ada tumor di payudara kiri! Berkat Eris tumor gue belum menyebar dan bisa segera diangkat, sehingga gue pun pulih dengan cepat. Gue dan keluarga menganggap Eris pahlawan yang menyelamatkan gue, tapi kami nggak pernah menyangka kisah ini menyebar dengan begitu cepat. Setelah muncul di Vemale.com (baca di sini), kisah kami sekarang muncul di Spotile Trans 7 (Aksi Hebat Manusia dan Hewan).

Senang dan terharu sekali rasanya, semoga kisah ini bisa memberi manfaat bagi yang menyaksikan, terutama perempuan untuk lebih aware dengan tubuhnya. Dan tentu saja agar semua orang yang mempunyai hewan peliharaan semakin menyadari bahwa setiap mahkluk ciptaan Tuhan pasti mempunyai fungsi :)

Video Spotlite bisa ditonton di sini:

woof you little girl,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 11 Maret 2014

Update dari Indi :)

Hai teman-teman, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya. Dan untuk yang sedang sakit atau terkena musibah, semoga cepat diberikan kesembuhan dan doa gue selalu bersama kalian. Amen :) 
Rasanya baru saja merayakan pergantian tahun, eh, tahu-tahu sudah bulan Maret ya, hehehe. Nah, di bulan-bulan sebelumnya ada beberapa precious moments yang sudah terjadi, dan gue rasa harus diabadikan di sini agar suatu hari bisa gue kenang kembali dan bahkan menambah semangat gue dalam berkarya dan hal-hal lainnya :D

Eris Jadi Pahlawan
Yang pertama adalah, kisah heroik Eris muncul di Vemale.com! Bahagia dan bangga sekali rasanya waktu mendapatkan kabar ini. Kisah Eris yang menyelamatkan nyawa gue dengan memberitahu adanya tumor di payudara kini bisa dibaca oleh banyaaaak sekali orang di Indonesia. Sampai gue menulis post ini, kisah Eris sudah mendapatkan 284 like, 88 Facebook share dan 42 twit di twitter. Semoga saja dengan menyebarnya kisah ini semakin banyak perempuan yang aware dengan kesehatan payudaranya, dan tentu saja jadi lebih sayang dengan hewan peliharaannya :)
Kisah Eris bisa dibaca di sini.


Indi Sugar Official Store
Sebenarnya keinginan ini sudah ada cukup lama, tapi baru sekarang akhirnya terlaksana. Thank God sekarang gue mempunyai official store yang menjual novel-novel (Waktu Aku sama Mika, Karena Cinta itu Sempurna, Guruku Berbulu dan Berekor) dan merchandise gue :) Lewat Indi Sugar Official Store teman-teman pembaca akan lebih mudah untuk mendapatkan karya-karya gue karena pesanan akan diantar langsung ke alamat tujuan. Bukan itu saja, setiap pemesanan akan mendapatkan bonus stiker Indi's Friend dan untuk setiap pemesanan 1 paket novel akan mendapatkan tandatangan. Asyik sekali, kan :D Indi Sugar Official Store mempunyai halaman Facebook di sini dan bisa dihubungi melalui SMS atau whatsapp di 081322339469 :)

Sedang menandatangani novel untuk teman pembaca :)
Novel-novel gue dan stiker Indi's Friend :)

Film Kartun 2 Dimensi Terbaik ala Indi
What a nice surprise, salah satu follower gue di twitter bilang bahwa ia melihat gue di majalah GoGirl. Setelah gue cek ternyata benar saja, di rubrik "Post Anything" ada List "5 2D Cartoon Movie" ala gue! Hehehe :) Jadi untuk teman-teman yang sudah punya majalah GoGirl edisi Maret 2014 silakan intip halaman 77 ya :D


I'm a YouTube Partner
Waktu pertama kali bikin akun di YouTube tahun 2011 lalu, tujuan gue hanya untuk mengikuti perkembangan karir solo John Frusciante. Maklum, waktu itu sedang masa berkabung setelah ia meninggalkan Red Hot Chili Peppers, hehehe. Tapi tahun lalu gue mulai iseng membuat video dan mengunggahnya ke sana meskipun belum punya subscriber. Nah, tahun ini ada kejutan menyenangkan dari YouTube. Akun gue akhirnya verify karena sudah memiliki lebih dari 10.000 viewers (sampai sekarang sudah mencapai 33.328 viewers, yay!). Nah, kemarin adalah perdana gue mengunggah video dengan "keistimewaan" sebagai partner YouTube. Gue sekarang bisa punya tumbnail cuztomise. Hore! :D 


Ya, itulah beberapa precious moments yang belakangan gue alami. Mungkin bagi sebagian orang yang gue capai adalah 'hal kecil'. Tapi untuk gue sendiri hal-hal ini membuat gue tersenyum ketika mengingatnya, dan tentu saja, menambah semangat gue :)
Jadi hal apa saja yang sudah terjadi pada kalian selama tahun 2014 ini? Share me! :D

Blessed girl,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 20 November 2013

My Breast Tumor Story :)

Ah, akhirnya gue dapat kesempatan untuk berbagi tentang "perjalanan menuju kesembuhan dari tumor payudara" gue :D 
Teman-teman yang sudah membaca tulisan-tulisan gue sebelumnya pasti sudah tahu bahwa semua begitu mendadak dan agak membingungkan. Tanggal 1 November yang lalu dengan bantuan naluri Eris, anjing golden retriever gue, dokter menemukan tumor di payudara kiri gue. Dan satu hari kemudian dari hasil USG ketahuan bahwa tumor gue sudah cukup besar, yaitu berdiameter sekitar 3 Cm dan harus segera dioperasi. Yang membuat gue bingung bukan rasa takut karena harus berhadapan dengan pisau bedah, tapi karena semua begitu mendadak gue harus atur-atur waktu dengan jadwal pekerjaan yang sudah diatur sejak lama. Syukurlah untuk pekerjaan di preschool gue bisa langsung minta cuti, tapi untuk pekerjaan yang sudah jauh-jauh hari disanggupi, terpaksa jadwal operasi lah yang mengalah. Di detik-detik yang seharusnya beristirahat dalam rangka pasca operasi, gue malah masih sempat menjadi pembicara tamu di "Club of Public Speaking UNPAD" (baca ceritanya di sini), hehe. Syukurlah meski saat itu keadaan gue sedang kurang baik (batuk, pilek, demam, etc) tapi hasil tes gue tetap bagus dan operasi tetap dilakukan sesuai jadwal, alias hanya 3 hari setelah gue menjadi pembicara! :p

Hasil USG payudara kiri gue. Yang bulat hitam itu adalah tumornya.

Meski waktunya sangat pendek untuk persiapan mental (hanya 10 hari sejak ketahuan punya tumor!) tapi gue sangat siap untuk menjalankan operasi. Di tengah-tengah pekerjaan (yup, gue tetap bekerja di preschool dan hanya izin 1 hari untuk tes di Lab) gue menyempatkan diri untuk googling dan bertanya pada beberapa orang yang pernah mengalami operasi yang sama. Bukan itu saja, dengan mengabaikan bahwa gue bisa saja "beresiko mundur" (lol), gue juga membuka video-video proses operasi tumor payudara! Well... memang seram sih, tapi at least gue tahu bahwa 80% dari operasi serupa berpotensi berhasil, dan tentu saja itu membuat gue semakin optimis :)

Jadi pada tanggal 11 November gue beserta Ibu dan Bapak pergi ke Rumah Sakit Immanuel Bandung untuk operasi pengangkatan tumor payudara gue. Dengan berbekal doa, CD Aerosmith untuk diputar selama operasi dan sebuah boneka Hello Kitty pemberian Ray, kami sudah stand by sejak jam 2 sore meski operasi dijadwalkan 1 jam lagi. Suasana hati gue sangat tenang dan terkadang malah over exited karena sebagai penggemar serial ER gue ingin melihat ruang operasi secara langsung, hehehe. Yang mengganggu gue hanya satu, yaitu perasaan lapar yang amat sangat karena gue diminta untuk berpuasa terlebih dahulu. Nah, karena dasarnya memang sleepy head, gue malah makan di larut malam dan memilih tidur sampai menjelang siang hingga puasa yang seharusnya hanya 6 jam jadi bablas sampai (terasa seperti) ratusan jam :( Apalagi ternyata jadwal operasi gue harus diundur 1 jam karena dokter Kiki Ahmad sedang mengoperasi pasien lain. Untung saja batere handphone gue sudah terisi full, jadi sambil menunggu gue, Ibu dan Bapak googling foto-foto Steven Tyler! Hehehe, I know, I know... kinda silly, tapi kadang kami sekeluarga merasa "kenal" dengan vokalis band Aerosmith itu. Kami melihat-lihat foto Mr. Tyler sejak dia kecil, muda sampai sekarang. Ibu yang penasaran dengan bentuk jari kaki Steven Tyler pun (wut???) jadi lupa dengan perasaan nervous nya dan berganti menjadi banyak tawa. Iya, meski gue yang akan dioperasi tapi Ibu memang terlihat agak khawatir. Sejak tiba di ruang tunggu beliau terus berdoa, dan ternyata Steven Tyler bisa membuatnya lebih relax, hehehe. Kami baru saja mau googling foto-foto Ozzy Osbourne ketika seorang perawat memanggil nama gue dan meminta kami semua pindah ke ruang tunggu khusus.

Gue berpose di ruang tunggu, hehehe :)

Kami menunggu sambil menonton film "Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest" di televisi yang disediakan. Gue perhatikan ada 2 pasien lain yang juga menunggu giliran operasi dengan ditemani keluarga masing-masing. Yang seorang adalah perempuan yang tampaknya lebih muda dari gue, sedangkan yang seorang lagi sepertinya hampir seusia dengan nenek gue. Gue menonton film sambil terus memeluk boneka, sementara Ibu cukup exited dengan kegantengan Johnny Depp. Sedangkan Bapak? Beliau sedikit terkantuk-kantuk dan nggak peduli dengan filmnya karena sudah menonton beberapa kali, hehehe. Sekitar 10 menit kemudian nama gue dipanggil oleh seorang perawat. Gue, Ibu dan Bapak langsung buru-buru masuk ke ruang operasi dengan bawaan masing-masing. Tapi ternyata gue hanya boleh ditemani satu orang. Itu pun hanya sampai garis kuning. Gue pilih Ibu karena beliau perempuan, lalu memeluk Bapak sekilas sambil mengucapkan sampai jumpa. Nah, baru sekarang gue merasa agak nervous. Gue sedikit memohon pada perawat dan dokter agar diizinkan membawa boneka supaya perasaan gue lebih tenang. Sayangnya boneka nggak boleh menyentuh meja operasi, tapi mereka berjanji akan meletakannya di tempat yang cukup dekat dengan gue dan kami akan segera bertemu setelah gue sadar nanti. Gue setuju, lalu dengan bantuan Ibu gue berganti baju dengan kostum rumah sakit. Setelah itu gue langsung dibaringkan di dalam ruangan kaca. Dari baliknya gue melambaikan tangan pada Ibu yang berdiri di belakang garis kuning sambil meremas-remas baju yang tadi gue pakai.
"Jangan kusut," gue berbisik sambil melotot dan menjulurkan lidah. Mencoba membuat Ibu ---dan juga gue--- agar lebih tenang...

Ruang kaca tadi rupanya berfungsi untuk membuat gue steril. Seorang perawat memberitahu bahwa gue akan merasa seperti ditiup dan akan lebih baik jika gue menutup mata. Dengan perasaan yang satu tingkat lebih nervous dari sebelumnya gue bertanya apakah tekanan udaranya akan kuat. Perawat itu tersenyum dan berkata, "Nggak". Dia lalu menghitung mundur dan tiba-tiba saja tekanan udara yang SANGAT kuat muncul dari atas ruang kaca! Entah mengapa gue merasa ini lucu sekali. Poni gue jadi acak-acakan dan gue berusaha merapikannya dengan jari sambil tertawa-tawa meski tahu itu percuma. Luar biasa, mood gue langsung kembali ceria. Perawat yang tadi dan seorang dokter anastesi ikut tertawa ketika gue dipindahkan ke meja operasi. Gue jadi nggak yakin bahwa tindakan tadi adalah untuk membuat gue steril, karena setelah apa yang gue alami sepertinya mereka menyemprotkan gas tertawa untuk menjaga pasien agar nggak nervous selama operasi, hehehe. Seorang perawat lalu mencoba memakaikan topi steril, tapi setelah beberapa kali percobaan akhirnya gue memakainya sendiri. "Rambutnya terlalu tebal", dia berkomentar sambil tertawa karena melihat gue mengibas-ngibas rambut dengan cara yang dibuat-buat. Dokter anastesi memasangkan 2 buah plester di bahu gue, entah untuk apa. Gue juga nggak bertanya karena kami malah sibuk mengobrol. Sambil menunjuk ke arah pintu dia berkata bahwa boneka gue ada dekat sekali dengan ruangan ini. Tanpa kacamata dan lensa kontak gue nggak bisa melihat dengan jelas, tapi gue yakin sedang dikelilingi dengan wajah-wajah yang ramah. Seorang perawat memasangkan infus di punggung lengan kiri gue. Katanya itu adalah obat anti alergi karena gue mempunya list alergi yang cukup panjang, hehehe. Lalu satu suntikan diberikan di tempat yang sama, katanya itu obat bius. Tapi gue nggak merasa mengantuk, melainkan merasa sedikit kesemutan di wajah dan pegal yang amat sangat di lengan kiri. Karena nggak nyaman gue langsung protes, "Dok, aku nggak ngantuk nih! Jangan-jangan nanti waktu dioperasi aku masih sadar." Semua menanggapinya dengan tertawa, lalu dokter anastesi menjelaskan bahwa gue akan mengantuk setelah "meniup balon". Dia menunjukan sebuah benda yang selama ini gue pikir bernama "masker oksigen". "Ini balonnya," dia menambahkan. Gue mengerlingkan mata karena sadar sedang diperlakukan seperti anak kecil. "Ayo tiup balonnya sekarang." Gue tertawa, lalu "Pffffhhh", meniupnya sekencang-kencangnya. Gue nggak merasakan reaksi apa-apa lalu membaca doa tidur kencang-kencang.
"Eh, eh! Aku ngantuk! Aku ngantuk! Good night semuanya!" 
Gue berkata begitu cepat karena tiba-tiba merasa SANGAT mengantuk.

***

Gue merasa ada yang sedang mengelus-elus lengan kanan gue. Pelan-pelan gue membuka mata dan melihat beberapa sosok perawat, dokter anastesi dan dokter Kiki Ahmad sedang berdiri di hadapan gue. Tiba-tiba gue tersenyum lebar, salah seorang perawat mengacungkan boneka Hello Kitty lalu meletakkannya di pelukan gue. Segera gue memeluknya erat-erat hingga berhimpitan dengan dada. "Jangan dulu, tadi kan baru operasi," seorang perawat mengingatkan sambil meletakkannya hingga selevel dengan perut gue.
Kedip.. kedip... gue melirik ke arah dada kiri yang sudah tertutup plester.
Astaga! Gue baru ingat kalau ini "dalam rangka" operasi pengangkatan tumor payudara! Semuanya terasa begitu cepat! Saking cepatnya gue mengira bahwa tadi sama sekali nggak tertidur. Makanya gue begitu girang ketika bertemu kembali dengan boneka Hello Kitty. Karena seingat gue, tadi dengan ditemani Steven Tyler yang memakai cat kuku berwarna ungu, kami sedang mencari-cari boneka itu ke seluruh penjuru rumah sakit. Ah, iya! Pantas saja tadi Steven Tyler bisa bicara bahasa Indonesia. Seharusnya gue sudah langsung sadar kalau itu cuma mimpi, hehehe.

Seorang perawat meminta gue untuk mencoba kembali tidur. Katanya gue pasti masih lemas karena masih dalam pengaruh obat bius. Tapi gue menolak karena sama sekali nggak merasa mengantuk. Yang terjadi malah gue merasa sangat segar dan bersemangat. Mimpi yang baru gue alami tadi terasa begitu nyata. Entah karena masih terpengaruh "gas tertawa" atau memang cerewet, gue langsung mengambil posisi setengah duduk dan bercerita tentang mimpi super keren yang detailnya sangat gue ingat dengan jelas. Lucunya seluruh perawat mau mendengarkan sambil mengelilingi tempat tidur gue. Saking semangatnya alat deteksi jantung yang ditempelkan di jempol gue sampai lepas berkali-kali. "Aku lepas saja, ya? Sudah sehat kok," ---hingga gue harus berhenti sebentar dan meletakan alat itu dulu di bantal, lalu melanjutkan cerita kembali dengan diikutii anggukan kepala para perawat yang terlihat sangat antusias. Errr... atau seenggaknya pura-pura antusias, hehehe.

Suara gue sepertinya mengganggu seorang pasien yang juga baru tersadar dari pengaruh obat bius. Dia adalah seorang ibu yang sebelumnya sempat bertemu di ruang tunggu khusus. Karena asyik bercerita gue jadi nggak sadar bahwa di ruangan ini ada 2 pasien lain yang juga baru menjalani operasi yang sama.
"Dok, air.... Dokter, sakit..." suaranya terdengar parau dan kesakitan sehingga membuat gue sedikit takut dan langsung terdiam. Perawat yang berdiri paling dekat dengan gue sepertinya mengerti dengan perubahan ekspresi wajah gue. Dia langsung meminta gue kembali berbaring dan mendorong tempat tidur gue ke seberang ruangan yang diberi sekat tirai berwarna hijau. "Nah, makanya sebelum dibius bayangkan yang indah-indah saja, jadi waktu bangun nggak kesakitan," dia berbisik sambil menutup tirai rapat-rapat dan meninggalkan gue berdua saja dengan boneka Hello Kitty.


Gue lalu menunggu, menunggu dan menunggu. Dari jam dinding yang ditempel di ujung ruangan dan sedikit terhalang oleh tirai gue bisa mengintip bahwa waktu kira-kira sudah menunjukan pukul 7 malam. Terdengar suara kursi roda dan tempat tidur dorong dari seberang ruangan. Dua orang pasien lain sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Nah, bagaimana dengan gue? Dengan perasaan cemas karena ditinggal sendirian dan pegal karena bosan berbaring gue memanggil seorang perawat yang tampaknya nggak terlalu sibuk. Gue bertanya kapan boleh meninggalkan ruangan dan dia menjawab "nanti." Nggak puas dengan jawabannya gue nggak kehabisan akal. Gue yang sudah ingin cepat-cepat berganti baju dan pulang ke rumah pun berpura-pura ingin pipis, hehehe. Tapi perawat itu ternyata punya cara untuk menahan gue: dia menyodorkan pispot dan meminta gue pipis di atas tempat tidur, hahaha! Wah, gawat deh kalau begini. Maksud gue berpura-pura kan supaya diizinkan keluar ruangan. 
"Malu!" akhirnya gue putuskan untuk menolak dengan wajah yang dibuat (pura-pura) ketus. Bukannya takut, perawat malah tertawa karena reaksi gue. Katanya, memang sudah tugasnya untuk membantu pasien supaya nggak banyak bergerak dulu, jadi gue nggak punya alasan untuk malu. Hmm... stock alasan gue jadi habis, deh. Ya sudah gue mengaku bahwa sudah bosan karena berbaring terus dan ingin segera pulang. Acting wajah memelas gue berhasil, meski dia nggak mengizinkan gue berjalan-jalan tapi gue boleh duduk sambil menunggu Ibu dan Bapak menjemput gue. Katanya sekarang bisa saja gue merasa segar, tapi harus hati-hati karena bisa tiba-tiba pusing dan malah pingsan. 

Nggak disangka kami berdua malah menjadi akrab. Sambil menunggu Ibu dan Bapak datang gue melanjutkan cerita tentang mimpi gue yang tadi, hehehe. Dari soal mimpi obrolan kami melebar sampai jauuuuh sekali. Dia bercerita bahwa anak perempuannya juga menyukai Hello Kitty dan punya boneka yang sama dengan gue. Dia bahkan menunjukan ipad nya yang dipenuhi dengan gambar tempel Hello Kitty, hehehe. Eris juga ikut menjadi tokoh di obrolan super seru-cerewet kami (untung pasien lain sudah pindah, lol). Gue bercerita bahwa anjing gue lah yang pertama kali menemukan tumor di dada kiri yang tadi baru saja diangkat. Kami pun langsung membanjiri kata-kata pujian untuk Eris. Kalau dia manusia mungkin telinganya sudah merah sekarang, hehehe. Perawat yang baik hati itu menjelaskan bahwa penciuman anjing sangat tajam, dan yang Eris cium adalah "bau busuk" yang dikeluarkan dari tumor tapi nggak cukup kuat untuk tercium oleh manusia. 
Di tengah-tengah obrolan kami Ibu muncul dari balik tirai dengan wajah yang terlihat cemas. Beliau langsung menciumi pipi dan kening gue berkali-kali. Katanya beliau lega sekali karena operasinya berjalan lancar dan gue tampak sehat :) Ah, senang rasanya ketika akhirnya perawat berkata gue sudah boleh berganti baju dan minum sedikit air untuk memastikan nggak ada komplikasi setelah operasi. Gue langsung melompat dari atas tempat tidur dan membongkar tas ransel yang Ibu bawa. Gue minum beberapa teguk air dari botol minum yang sengaja dibawa dari rumah, memakai lensa kontak (yang langsung membuat perawat 'shock' karena khawatir gue pusing) dan mengganti kostum rumah sakit dengan baju dan rok berwarna pink kesayangan gue. Nggak lupa gue sedikit menyisir rambut dan memakai parfum supaya bau antiseptik nggak terlalu tercium. "Centil," Ibu berbisik kepada perawat dan dibalas dengan senyuman yang hampir seperti tawa.

Perawat bertanya apakah gue merasa mual atau pusing. Gue menjawab bahwa semua terasa baik-baik saja kecuali perut gue yang terasa lapar. Gue ingin sekali segera makan pizza, salad dan minum berbotol-botol teh manis (lol). Perawat berkata gue boleh makan semuanya ketika pukul 9 malam nanti, setelah yakin bahwa kondisi gue baik-baik saja. Meski gue sudah cuek jalan-jalan di dalam ruangan, tapi ternyata gue masih harus menunggu perawat lain datang untuk membawa gue ke ruang pemulihan. Di sana nanti gue akan diperiksa kembali oleh dokter dan diberitahu apakah harus dirawat inap atau sudah boleh pulang ke rumah. Gue ingin langsung pulang ke rumah tentu saja, karena dulu pernah mengalami dirawat di rumah sakit selama 8 hari, dan gue benar-benar bosan sampai setiap hari mencoba memaksa sipapun yang menjenguk untuk menyelundupkan junk food :( Hehehe...

Nggak menungu lama seorang perawat laki-laki (yang tadinya gue panggil "suster laki-laki", lol) datang sambil mendorong kursi roda. Katanya, meski gue merasa sehat tapi tetap harus menuruti prosedur ini, karena kalau gue nggak menurut nanti malah dia yang dimarahi dokter. Hmm, kasian juga kalau dia harus dimarahi gara-gara gue, ya... 
Oh, iya sebelum berpisah dengan perawat yang menemani gue di ruang operasi, kami foto-foto dulu, lho. Ya, ampun dia lucu sekali. Katanya dia senang dengan gaya berpakaian dan rambut gue yang tebal. Mengingatkan dengan Hari yang bernyanyi lagu "Gwiyomi" katanya. Ruangan pun kembali ramai dengan suara kami, karena kami berpose untuk foto sambil terus tertawa :D Gue, Ibu dan Bapak ---yang baru saja datang menyusul masuk ruangan pun--- berpamitan. Perawat yang super kocak itu mendoakan agar gue selalu sehat, dan kalau sampai suatu hari kembali lagi ke rumah sakit harus untuk kesempatan launching novel, bukan untuk operasi atau masalah kesehatan lainnya, hehehe. Gue, Ibu dan Bapak meng"amen"kan doanya. Dengan canggung gue duduk di kursi roda dan melambaikan tangan padanya. Samar-samar gue mendengar dia bernyanyi lagu "Gwiyomi" sambil tertawa. Sebenarnya gue malu, tapi gue putuskan untuk meminta perawat yang sedang mendorong gue menghentikan kursi rodanya. Gue mengangkat kedua tangan di depan wajah, menempelkan jari telunjuk dan jari jempol sehingga menyisakan 3 jari yang berdiri tegak. Dengan gerakan cepat gue meniru gaya Hari dan mulai bernyanyi, "Gwi.. Gwi... Gwiyomi. Gwiyomi!"

Baru keluar dari ruang operasi tapi malah gue doang yang tanpa kostum rumah sakit :p

Gue diantar ke ruang pemulihan dan diminta kembali berbaring. Tapi gue benar-benar nggak merasa lelah jadi duduk-duduk saja di atas tempat tidur sambil mengobrol dengan Ibu dan Bapak. Mereka penasaran dengan apa yang gue rasakan selama pengangkatan tumor. Hehe, mereka lucu, gue kan dibius jadi sudah pasti nggak bisa merasakan apa-apa. Sebagai gantinya gue ceritakan tentang mimpi yang super keren gue dan apa yang terjadi setelah gue sadar. Dokter Kiki sempat menunjukan tumor di dalam toples yang tadinya berada di dalam payudara gue. Bentuknya seperti bakso dan ewww, ternyata terlihat lebih besar daripada yang terlihat di USG. Bapak tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya. Katanya beruntung gue seorang vegetarian, karena kalau bukan pasti gue akan trauma seumur hidup terhadap bakso urat, hehehe. Nantinya tumor gue akan dibawa ke Lab untuk diperiksa apakah ada sel kankernya atau nggak. 
Selama menunggu hasil pemeriksaan dokter, Iie (tante) dan Uak ternyata datang menjenguk. Mereka kebingungan karena gue sudah memakai baju biasa dan tampak ceria. Iie malah meyangka bahwa gue sedang bersiap-siap dioperasi. Dan bukan hanya Iie saja ternyata yang "tertipu". Seorang perawat datang untuk membawakan makan malam dan dia berdiri kebingungan di depan kami. Katanya, "Maaf, ini pasiennya yang mana, ya?"
Hehehehe...

Sambil menunggu kabar dokter gue sempat meminta lipgloss pada Ibu untuk main dandan-dandanan :p
Ini bekas infus hampir terbawa pulang, hahaha...

Syukurlah hasil pemeriksaan menunjukan bahwa gue baik-baik saja. Meskipun alergi tapi gue nggak ada masalah dengan anastesi dan jahitan operasinya. Gue sempat mengintip lukanya dan mengira-ngira panjang dari jahitannya sekitar 3 Cm. Tepat di daerah areola sesuai permintaan gue, karena meski letak tumornya agak di atas gue ingin bekas lukanya lebih samar karena warna areola cenderung gelap di bandingkan daerah payudara lain :) 
Dua orang perawat yang akan mengantarkan gue ke mobil bertanya lagi apakah gue benar-benar siap untuk pulang. Dengan mantap gue jawab "Iya!" sambil mengedipkan sebelah mata ala Mr. Bean, hehehe. Salah satu dari mereka berkata bahwa gue adalah "anak super" karena dua pasien yang dioperasi bersamaan dengan gue tadi memilih untuk rawat inap selama 2 hari. Gue tertawa. Gue tahu betul bahwa gue bukan "anak super". Gue ingin pulang karena tahu pasti nanti akan terasa lebih nyaman jika di rumah. Makan masakan Ibu, dipijiti Bapak jika badan gue sakit dan yang terpenting bisa tetap dekat dengan Eris yang telah menyelamatkan nyawa gue. Rasa sakit pasca operasinya mungkin akan terasa sama saja, baik dirawat di rumah sakit atau di kamar tidur yang gue sebut dengan Neverland. Tapi jika dikelilingi dengan orang-orang (dan juga seekor anjing, hehehe) yang gue cintai pasti rasanya lebih ringan ;)

Bye bye Rumah Sakit :D
Gue sampai ke rumah sekitar pukul 10 malam, hanya 3 jam setelah gue selesai operasi. Eris sudah menunggu di garasi dengan ekornya yang bergoyang-goyang bahagia. Gue memeluknya longgar dan mencium puncak kepalanya. Eris mengendus dada gue sebentar, lalu menatap gue keheranan. "Sudah hilang kan baunya?" gue bertanya menggodanya sambil tertawa konyol. 
Tanpa berganti baju dengan piyama gue langsung meminta Bapak untuk membelikan pizza dan salad di restoran terdekat. Gue benar-benar kelaparan sampai-sampai terus menunggu Bapak di depan pintu ketika beliau pergi. 30 menit kemudian apa yang gue inginkan akhirnya ada di hadapan gue. Seperti Oliver Twist yang menemukan makanan di bak sampah gue mengangkat satu potong pizza tinggi-tinggi, berdoa dan langsung melahapnya dengan suka cita. "Mau? Mau?" gue menawari Ibu dan Bapak sambil terus mengunyah. Mereka hanya tersenyum dan membiarkan gue makan sendirian karena tahu itu hanya penawaran basa-basi, hehehe. Sebelum pizzanya habis gue langsung melahap saladnya langsung dari kotaknya, menyisakannya setengah lalu kembali lagi menikmati pizza. Wah, memang bukan pemandangan yang indah untuk dilihat, tapi trust me, rasanya nikmat sekali! :D 


Tapi tiba-tiba saja, O-oww, dada kiri gue terasa nyeri. Gue melihat jam dinding dan waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Itu artinya reaksi obat bius gue sudah habis! 
"Yah, mulai terasa deh efek operasinya..." gue manyun sambil menatap pizza yang tersisa setengah pan lagi. 
Bagi ukuran "manusia normal" mungkin nampaknya gue sudah menghabiskan cukup banyak. Tapi bagi gue jumlah yang tepat itu ya harus 1 pan, nggak kurang nggak lebih, hehehe.
"Aku minum obat sekarang terus tidur, deh. Pizza nya dilanjutkan buat nanti sarapan," gue berkata sambil masuk ke dalam kamar, sementara Ibu dan Bapak tertawa di belakang gue. Dari sudut mata gue melihat Bapak mengambil 1 potong pizza. Gue tersenyum. Pura-pura nggak melihat.


Setelah itu gue tidur cukup nyenyak. Mimpi super keren yang gue alami di meja operasi ternyata masih bersambung. Gue mengizinkan Steven Tyler bermain dengan boneka Hello Kitty milik gue setelah dia mengajarkan cara mengecat kuku kaki dengan warna ungu mengkilap. 
Dan pagi-pagi sekali gue terbangun karena perasaan ngilu di payudara kiri. Sedikit mengganggu tapi nggak seburuk apa yang gue dengar dari orang-orang yang pernah mengalaminya. Gue sarapan di atas tempat tidur lalu menghabiskan sepanjang hari dengan menonton film tanpa ada yang menyuruh tidur cepat. 
Well, ini memang bukan perasaan paling nyaman sedunia, tapi gue yakin bisa melaluinya sampai gue benar-benar sembuh total. 
Karena kalau rasa sakitnya diabaikan, sebenarnya ini terasa seperti sedang liburan! Hehehe :p


anak super, lol,

Indi



*Catatan: 
~ 4 hari setelah operasi plester penutup jahitan dilepas. Rasanya ngilu dan membuat payudara gue sensitif bahkan jika hanya bersentuhan dengan kaos tipis.
~ Bengkak di payudara menjalar sampai ke dada, leher dan lengan setelah hari ke dua atau tiga. Menurut dokter itu wajar jadi nggak perlu terlalu khawatir. Gue mengatasinya dengan minyak telon dan kantung air panas.
~ Berhubung tumor gue cukup dalam (sekitar 4 Cm dari permukaan) dokter meminta gue untuk bersabar dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Mengangkat lengan dan tidur miring itu rasanya "wow" banget. Jadi gue disarankan untuk keramas di salon/dibantu orang lain dan tidur dengan posisi terlentang. Dokter beri gue morfin untuk membantu meredakan nyerinya, dan gue suka :p
~ Proses penyembuhan setiap pasien berbeda-beda. Ada yang cepat, ada juga yang lambat tapi pasti. Letak tumor, kedalamannya dan kondisi pasien mempengaruhi dalam proses penyembuhan. Jadi jangan dibanding-bandingkan ;)
~ Hasil Lab sudah keluar, dan nggak ditemukan sel kanker di tumor gue. Thank God! :)
~ Pukul 3 sore nanti jahitan gue akan dilepas. Semoga semuanya lancar. Amen :)

_________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 04 November 2013

Ketika Seekor Anjing Mencium Ada yang Salah Pada Sahabatnya: "Woof, Kamu punya Tumor, Indi!"









Sejak pertama kali Eris hadir di kehidupan gue, gue langsung tahu kami akan menjadi sahabat. Eris selalu ada saat gue senang atau sedih, selalu setia untuk mendengarkan cerita-cerita khayalan yang akan sangat memalukan jika manusia yang mendengar. Setiap kali gue pergi Eris selalu menunggu dengan sabar lalu mengibaskan ekornya dengan riang saat gue kembali. Mengizinkan gue membenamkan wajah di lehernya yang berbulu halus saat gue bersedih. Terkadang ia bahkan menaruh kaki depannya yang besar di pangkuan gue seolah berkata, "Semua akan baik-baik saja."

Tapi gue nggak pernah menyangka bahwa Eris akan menyelamatkan nyawa gue, memberi tahu gue sesuatu sebelum semuanya terlambat...
Beberapa bulan lalu Eris sering sekali mengendus bagian dada gue. Kalau sudah begitu gue hanya tertawa dan berpura-pura mengusirnya sambil bergurau bahwa ia sudah terlalu besar untuk menyusu. Gue nggak menganggapnya serius karena Eris adalah anjing yang jinak. Ia senang menyusup di antara ketiak kalau gue sedang berjongkok, atau mendekatkan kepalanya ke kaki gue kalau sedang berdiri. Tapi lama kelamaan Eris mulai mengendus bagian dada gue secara teratur. Jika gue sedang berjongkok ia akan mendekat dan nggak akan berhenti sampai gue berdiri. Aneh memang, tapi gue pikir mungkin ia mencium bau bekas makan siang gue, karena terkadang ada yang tertumpah.

Lalu gue mulai perhatikan sesuatu: Eris hanya mengendus bagian dada kiri gue! Karena penasaran, sebelum bermain dengan Eris gue memakai baju yang bersih dan mencari tahu apakah ia akan tetap mengendus dada gue. Ternyata pergantian baju nggak mempengaruhinya sama sekali. Eris tetap mengendus dada gue. Bagian kiri!

Gue langsung memeriksa dada kiri gue. Mencari apa yang salah, mencari apa yang Eris cium. Tapi gue nggak menemukan apa-apa, semua normal di mata gue. Nggak ada benjolan, rasa sakit apalagi bau yang menusuk. Gue pun kembali dengan gurauan "Eris mau menyusu" dan pura-pura mengusirnya saat ia mulai mengendus.

Sampai 2 hari yang lalu, pagi-pagi sekali Eris berlari ke arah gue dengan kecepatan penuh. Ia menabrak gue dan berdiri dengan bertumpu pada kaki-kaki belakangnya sementara kaki-kaki depannya ada di dada gue. Ia mengendus dada kiri gue, salah satu kaki depannya mengais-ngais seperti hendak merobek piyama yang gue pakai. Kebingungan. Gue hanya bisa terdiam selama beberapa detik lalu tersadar bahwa Eris mencoba memberi tahu gue sesuatu. Tapi apa? Gue benar-benar bingung.

Dengan terburu-buru gue masuk ke kamar mandi, melepas piyama dan memeriksa dada kiri gue dengan teliti. Selama beberapa menit gue nggak menemukan apa-apa tapi gue terus mencari karena yakin sekali Eris mencoba memberi tahu bahwa ada yang salah. Lalu... Deg! Jantung gue rasanya mau copot. Telunjuk kanan gue menyentuh sesuatu yang keras seperti pantat telur ayam. Gue yakin ada benda asing di dada kiri gue tapi nggak yakin dengan ukurannya. Apa ini? Apakah ini kelenjar yang muncul saat mau menstruasi? Bisa saja. Tapi hati kecil gue tetap nggak tenang. Gue percaya Eris mencium sesuatu!

Gue bekerja seperti biasanya. Nyaris melupakan apa yang gue temukan beberapa jam sebelumnya. Gue sempat memberi tahu tentang benjolan yang gue temukan pada Ibu dan beliau setuju untuk mengantar gue ke dokter sepulang bekerja. Gue juga memberi tahu tentang ini pada beberapa rekan kerja gue, terutama yang sudah mempunyai anak karena mungkin lebih mengerti. Mereka menyarankan gue untuk pergi ke dokter umum karena bisa saja yang gue temukan hanya kelenjar yang nggak berbahaya. 
"Kamu akan bilang apa nanti sama dokter? 'Seekor anjing bilang saya sakit?' ", tanya Miss. Alison dengan logat Inggrisnya. "Itu benar, tapi tentu akan kedengaran aneh sekali." ia menambahkan. 

Tapi gue putuskan untuk melakukannya.
Dengan ditemani Ibu gue berkata pada dokter bahwa Eris mengendus dada kiri gue. Dokter kebingungan tapi tetap memeriksa gue. Setelah beberapa saat ia berhenti, membetulkan letak kacamatanya dan berkata lambat-lambat,
"Ini tumor payudara. Sudah sebesar bola pingpong dan harus di operasi."

Gue terkejut. Tapi entah kenapa gue tersenyum dengan perasaan lega. Gue beruntung mempercayai naluri Eris dan mengalahkan keraguan gue untuk berkata bahwa seekor anjing lah yang memberitahu gue bahwa ada yang salah. Gue benar-benar beruntung. Tuhan sangat menyayangi gue dan memberikan keajaibanNYA lewat Eris. 
Gue beruntung benjolannya masih sebesar bola pingpong, bukan bola kasti.
Gue beruntung yang bersarang di dada kiri gue ini tumor, yang karena cepat terdeteksi belum menjadi kanker.
Gue beruntung mempunyai sahabat sebaik Eris. Karena meski dengan bahasa yang berbeda ia tetap mencoba untuk berbicara pada gue. She's my hero! :)

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Eris! :)


woof you,

Indi


________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469