Tampilkan postingan dengan label Event Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event Bandung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2019

Tulisan Pendek di Akhir Tahun 2019 :)

Nggak terasa tahun 2019 akan segera berakhir. --- Well, at least buatku begitu, nggak terasa. Dibandingkan dengan tahun kemarin, tahun ini terasa sangat cepat buatku. Rasanya baru kemarin aku main kembang api di halaman rumah ortuku sama keponakan, eh tahu-tahu sekarang ada di sini, lagi nulis di rumahku sendiri sambil minum soda yang sudah flat, hahaha. Tahun 2019 adalah tahun yang baik buatku, dalam artian ada momen-momen menyenangkan tapi ada juga momen-momen yang.... begitulah, yang nggak bisa dibilang buruk tapi juga nggak bisa dibilang bagus. Ulang tahun pernikahan yang pertama adalah salah satu momen menyenangkan dan nggak terlupakan. Aku belum sempat menceritakannya di sini (---mungkin nanti). Juga waktu untuk pertama kalinya menjadi juara 3 di kontes musik, yang buatku "luar biasa" karena sebelumnya hanya sampai 100 besar saja, hahaha. Dulu, aku selalu nggak sabar untuk berbagi cerita di sini, apapun akan aku share dengan cepat. Tapi sekarang berbeda, dan aku rasa perubahan ini adalah proses pendewasaanku di tahun 2019.

Kalau sudah menikah hidup akan berubah, begitu kata teman-teman. Ada yang sibuk menjadi ibu rumah tangga, ada yang sibuk menjadi ibu baru, ada yang sibuk mengurus keuangan rumah tangga, dan lain sebagainya... Tapi aku nggak setuju. ---Bukan berarti teman-teman aku salah, tapi setiap pernikahan itu berbeda. Apa yang aku alami belum tentu sama dengan mereka, begitu juga sebaliknya. Aku masih tetap aku, dengan rutinitas yang sama. Meski berumah tangga terpisah dari orangtua sejak bulan keenam menikah, aku dan Shane nggak mendadak menjelma jadi "ibu-ibu" dan "bapak-bapak". Kami tetap act like a best friend. Aku tetap hangout bersama teman-teman perempuan, Shane pun bisa berjam-jam menghabiskan waktu dengan bermain musik dan kami tetap sama-sama happy :) Kami nggak pernah dipusingkan dengan "kata orang" tentang apa dan bagaimana pernikahan itu seharusnya. Buat kami nggak ada benar nggak ada salah. Jalani saja semua dengan santai (dan bertanggung jawab). Karena pernikahan seharusnya fun, dan kami bersyukur bisa mengalaminya.

Tapi aku tetap "berubah", dan itu bukan kerena pernikahan. Aku hanya menjadi dewasa, as simple as that. Shane (atau siapapun) nggak pernah melarang atau memintaku melakukan sesuatu. Aku boleh pakai tato di wajah kalau mau, atau nggak mandi satu minggu tanpa alasan, hahaha. Semakin bertambah usia, semakin aku berpikir sebelum melakukan sesuatu. Dulu aku adalah orang yang sangat vocal dalam mengemukakan pendapat, hampir setiap hari aku menulis di status Facebook. Ada keenngaknyamanan sedikit saja aku pasti langsung share. It's not a bad thing, tapi sekarang aku lebih berhati-hati dengan dampaknya. Sebisa mungkin aku menghindari agar nggak ada yang merasa tersinggung, atau malah aku yang terkena masalah. Aku berusaha mengerem agar nggak over share. Punya gadget baru, habis makan di restoran fancy, difollow sama idola memang "keren". Tapi aku merasa nggak perlu update puluhan foto dan menulis status panjang lebar buat menceritakan itu semua. Bukan berarti aku stop berbagi, hanya membatasi. Aku sendiri senang banget kok baca cerita atau lihat-lihat foto teman-temanku. Melihat orang lain bahagia kan bikin ikut bahagia. Jadi nggak ada yang salah dengan berbagi pengalaman dalam bentuk tulisan atau foto :)

Kita memang nggak punya mesin waktu, nggak bisa bolak-balik buat melihat apa yang terjadi sama kita kalau kita ubah skenario hidup dari A ke B seperti buku Goosebumps zaman dulu (hayo ada 90's babies atau kids nggak di sini? haha). Jadi aku nggak bisa tahu apa yang terjadi seandainya sekarang aku belum menikah. Tapi bukan berarti tanpa pernikahan aku nggak akan "berubah". Nggak ada yang bisa menghalangi seseorang dari proses pendewasaan terkecuali pikirannya sendiri. Intinya, perubahan status bukan berarti membuat seseorang otomatis menjadi dewasa. Aku bisa saja sedang duduk di sebelah Steven Tyler sekarang, di penerbangan kelas utama tapi kalau aku "memilih" untuk stuck, ya aku nggak akan dewasa.
Well, anyway sebenarnya inti dari post aku kali ini cuma mau mengucapkan selamat hari Natal dan tahun baru, kok, entah kenapa jadi panjang lebar, hahaha. Nggak apa-apa ya sekedar berbagi, lagipula aku rindu "ngobrol" sama kalian (haloooo readers) karena cukup lama nggak menulis di sini.


Outfit Christmas kompakan sama Ali, dibuatkan oleh Ibu :)

Sama Shane juga kompakan dong! :D


Oh iya, aku juga punya kabar yang mungkin saja bermanfaat buat teman-teman yang belum tahu mau kemana buat liburan akhir tahun. Di 4 kota di Indonesia; Bandung, Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta sedang ada event "Out of the Boox", lho. Di sana kita bisa membeli buku-buku dari segala macam genre, lokal dan internasional dengan diskon sampai 90%! Keren banget, kan. Event ini diadakan sampai tanggal 30 Desember 2019. Jadi kalau mau beli buku buat kado tahun baru masih bisa banget! Pssst, novelku "Waktu Aku sama Mika" juga ada di sana. Boleh banget dijadiin kado, atau buat koleksi jaga-jaga kalau yang satunya lecek :p Buat lokasi di masing-masing kota bisa dilihat di gambar ya (silakan googling kalau bingung dengan alamat lengkapnya). Dimulai dari pukul 9.00 sampai 21.00 WIB, ---khusus di Surabaya sampai pukul 21.30 WIB! Besok rencananya aku dan Shane juga mau ke "Out of the Boox" yang di Bandung. Mau beli buku buat stock liburan, maklum sedang mager maksimal malas kemana-mana mending baca buku, hahaha. 




Sekali lagi, Merry Christmas and Happy New Year, ya. Semoga di tahun 2020 segalanya menjadi lebih baik buat kita semua, dan semua rencana yang tertunda bisa terealisasi. Amin.

Sekian tulisan singkatku yang campur aduk kali ini. Soda flatku sudah habis jadi sekarang mau tidur dulu. Eh, besok ada yang mau ke "Out of the Boox" juga kah? Siapa tahu kita bertemu ;)


yang sedang dalam proses menjadi dewasa,

Indi




------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 16 April 2016

Beautypreneurship Tour 2016: Pink Up by Puspita Martha

Halooooo weekend! Gimana kabar teman-teman? Semoga baik, ya. Aku juga baik, cuma semalam ada sedikit "meltdown moment" jadi sekarang mataku agak sepet untuk lihat monitor :D Beberapa hari yang lalu aku sedang jarang di rumah, sempat pergi sama keluarga sampai larut malam sampai kejebak macet (5 jam, dong) dan juga menghadiri sebuah event yang menyenangkan. Sekarang aku akan bercerita tentang event nya saja, ya. Soalnya kalau soal cerita tentang macet pinggangku suka sensi, hihihi. 



Jadi tanggal 12 April 2016 lalu aku mendapatkan undangan untuk menghadiri Beautypreneurship Tour 2016 PINK UP Seminar and Hair Show yang diadakan oleh Puspita Martha. Event ini diadakan di Ballroom The Trans Luxury Hotel Bandung yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumahku. Mumpung lagi ada free time, jadi kuajak juga Ibu dan Ray untuk menemani. Dari email yang aku terima acara dimulai jam 12:30 siang, tapi karena aku terlambat bangun (---nggak ada yang bangunin, ehm) jadi kami baru tiba jam 13:20 siang. Eh, rupanya acaranya memang molor, jadi kami tiba di waktu yang tepat, deh. Pas opening banget, hehehe. Acara dibuka dengan penampilan model-model yang berpakaian serba hitam. Mereka berjalan di atas catwalk sambil membawa payung yang juga berwarna hitam. Cukup sukses juga entrance nya karena berhasil membuat audiences untuk menoleh ke arah mereka. Setelah itu, tanpa jeda langsung disusul oleh penampilan MC nya (OMG, maaf lupa namanya, huhuhu) yang membawakan lagu Corazon Espinado, ---yang membuat aku throwback ke saat menjadi bocah yang keluyuran sampai larut malam untuk mencari kaset Santana, hehehe. Btw, mas-mas MC ini somehow mengingatkan dengan temanku, Daniel. Padahal wajahnya beda banget. Mungkin suaranya? Ah, sudahlah, skip xD




Yang hadir di acara ini bukan hanya aku, Ibu dan Ray (yaiyalaaaaah, lol) tapi juga pihak-pihak yang tertarik dengan dunia kecantikan, khususnya rambut. Dari hasil interview singkatku dengan audiences yang hadir (baca: tanya-tanya waktu coffee break, lol) mereka kebanyakan menggeluti dunia salon. Malah ada juga yang sengaja meliburkan salonnya selama 1 hari demi hadir ke acara ini. Keren! ---Dan itu memang nggak salah, sih, soalnya di sini diberi tips-tips bermanfaat untuk meningkatkan performa dalam menjalankan profesi mereka. Sayang ya Mas Ryan salon langgananku nggak ikutan datang, padahal kan bisa mencuri ilmu, hihihi. Edwin Waas, kepala sekolah dari Puspita Martha International Beauty School dan Henny S. Nugraha dari Salon Pro Indonesia turut hadir di acara ini. Juga ada tamu-tamu penting lainnya dan media yang meliput acara ini. 


Foto: ~ Ikanov Tambunan
~ Alexandra Tilaar

Di sini kami diperkenalkan dengan produk-produk PINK UP yang super keren. PINK UP adalah produk untuk rambut yang berbahan organik dan tanpa residu, jadi aman untuk dipakai sehari-hari. Well, just my two cent nih, aku berterima kasih sekali kalau semakin banyak produk yang menggunakan bahan organik, soalnya untuk orang yang serba sensitif kaya aku produk organik itu udah kaya hero without cape, hehehe. Kami disuguhi pengenalan produk-produk PINK UP yang obviously bikin aku gemas karena warnanya serba pink. Ada Aqua gel, Hold on, Cristal care, Mou Mousse, Push Up, Great Shot, Flex gum, dan masih banyaaaak lagi. Favoritku dan Ibu adalah Push Up karena bisa jadi life saver kalau nggak sempat keramas, hehehe. Kru nya baik-baik, lho. Waktu beberapa produk dikelilingkan supaya kami bisa coba, Ibu request untuk mencoba Push Up. Eh, rupanya benar-benar diberi sample, bahkan dipakaikan segala :D Kami juga bisa melihat demo langsung dari produk-produknya yang dipraktekkan oleh Yudin (hairdressing maestro), Sendy Gothic (Supervisor Tim Artistik PT. Martha Beauty Gallery) dan Rissa Mariana (salah satu lulusan Diploma of Bridal International di Puspita Martha)


Karena terinspirasi dari style para villain di film-film yang glamour pada model didandani sedemikian rupa dengan tatanan rambut yang super unik oleh Yudin, Sendy dan Rissa. Rasanya jadi seperti sedang melihat pertunjukan sulap, hehehe. Meski style mereka berbeda, tapi hasil akhirnya sama-sama keren. Audiences juga dibuat surprise karena awalnya para model hanya didandani "setengah jadi", baru di akhir acara diperlihatkan hasil akhirnya. Yang paling aku kenali adalah style rambut yang terinspirasi Maleficent, karena lengkap dengan horns nya jadi terlihat sangat menonjol. By the way, sambil demo mereka juga memberikan tips-tips bermanfaat dan menjawab beberapa pertanyaan audiences, lho. Yang seru waktu Yudin memberikan tips bagaimana cara menyasak rambut dengan cepat. Ibu sampai serius banget memperhatikannya, hehehe. Pantas saja sih, soalnya tangan Yudin memang secepat Edward the Scissorhand :p






Oh iya, di acara ini juga diperkenalkan Beauty Trend Center, sebuah trend forecast provider berbayar yang baru ada di Indonesia. Pelanggan bisa mendapatkan informasi mengenai perkembangan trend dunia kecantikan, rambut, fashion dan lain sebagainya. Untuk para profesional ini tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja mereka, ---harus kasih tahu Mas Ryan nih, hehehe. Oleh Tengku Arshyaly Faith (Creative Director Beauty Trend Center) kami juga diberikan informasi tentang tren warna dan style tahun 2016-2017. Waktu Ibu lihat ada warna merah di big screen beliau langsung usap-usap rambutnya. Rupanya warna rambut Ibu sedang tren! Padahal beliau sih cat warna terang karena sudah beruban, hehehe. Tapi berhubung disuguhi warna-warna keren di sini, Ibu langsung berniat mengganti warna rambutnya jadi highlight gray seperti rambutnya Rissa Mariana. Haduh, kalah gaul nih anaknya, hihihi :D


Foto: ~Tengku Arshyaly Faith
~ Dengan Ibu

Acara selesai sekitar jam 5 sore. Meski cukup lama tapi waktu terasa sangat cepat, mungkin karena aku enjoy, ya. Gara-gara hadir di sini aku mendadak jadi lebih tertarik sama dunia hair styling. Tahu sendiri kan, selama ini yang aku tahu hanya sebatas sisir, basic treatment dan cat rambut, hihihi. Apalagi di Puspita Martha International Beauty School ada program study tour ke Italy. Duh, pasti asyik bisa belajar sambil jalan-jalan. Kalau sekarang sih harus menabung dulu, hehehe. Overall, aku happy dapat kesempatan untuk hadir di sini. Begitu juga dengan Ibu yang super excited sepanjang acara. Bagaimana dengan Ray? Well, sebagai fotografer dadakan dia sama sekali nggak komplain, jadi aku anggap dia juga happy :p Untuk teman-teman di Banjarmasin, tanggal 10 Mei 2016 nanti giliran kalian lho yang bisa menikmati Beautypreneurship 2016. Untuk seminar dan hair show price nya Rp. 350.000, sedangkan untuk workshop Rp. 500.000. Info lengkapnya buka saja akun instagram @puspitamarthaid :)



cheers,

Indi
________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 16 Februari 2016

Kelas Inspirasi: Briefing di Gedung Sate, Apa yang Terjadi? ;)





Howdy-do bloggies! Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya. Nggak ada yang kelaparan menjelang pagi kaya aku, hehehe. Tubuhku sepertinya kelelahan, karena di malam hari aku ketiduran dan terbangun dalam keadaan perut keroncongan karena sebelumnya too tired to eat :p Sekarang aku sedang merebus spageti sederhana dan sambil menunggunya matang aku putuskan untuk mampir dulu ke sini untuk bercerita tentang sesuatu yang baru saja aku alami. Nggak apa-apa ya, sambil menyelam minum air, ---sambil masak sambil sharing, hehehe. 

Beberapa waktu yang lalu aku diajak Ray untuk mendaftar ke "Kelas Inspirasi Bandung". Meski belum pernah mendaftar, tapi aku sudah cukup sering mendengar tentang Kelas Inspirasi. Pasalnya beberapa pembacaku cukup sering menyebutnya dan mendukungku untuk menjadi salah satu pengajar atau inspirator di sana. Tapi selalu saja aku tolak karena, well, ---aku merasa belum pantas disebut sebagai profesional. Meski memiliki 4 judul buku yang terbit dan sebuah film, tapi rasanya masih harus banyaaaaaaaaak belajar. Karena di tahun ini Ray ikut mendaftar jadi aku putuskan untuk lebih mempelajari tentang program ini melalui website resminya. Rupanya yang bisa menjadi inspirator adalah profesional yang sudah punya pengalaman di bidangnya masing-masing selama 2 tahun dan bersedia cuti di hari inspirasi. Sebagai penulis yang bekerja di mana dan kapan saja (nih sambil masak saja bisa, hehehe), cuti tentu bukan masalah. Tapi soal pengalaman? Novel pertamaku terbit 7 tahun lalu, tapi apakah aku profesional? Well, I don't know... Akhirnya aku putuskan biar pihak "Kelas Inspirasi" saja yang memutuskan dan akupun mengisi formulir pendaftaran dengan sungguh-sungguh :)

Waktu itu koneksi internet di rumah sedang bermasalah, jadi aku mampir ke tempat Adik dan iparku untuk menyelesailkan beberapa pekerjaan menggunakan wifi di sana. Hampir saja aku menutup laptop ketika sudut mata menangkap judul salah satu email yang baru masuk. Dengan perasaan excited dan juga nervous aku langsung klik pesan yang berada di list paling atas itu. Surprise! Isinya ternyata kabar bahwa aku terpilih sebagai salah satu pengajar/inspirator di Kelas Inspirasi! :D Dan kejutannya ternyata belum selesai karena Ray juga terpilih meskipun di bidang yang berbeda. Oh, iya sudah ada yang tahu belum ya profesinya Ray itu apa? ---Selain jadi host dan managerku tentunya, hehehe. Ray adalah Business dan Leisure Manager :)


Di hari Valentine, ---14 Februari 2016 kemarin, seluruh relawan yang terpilih, termasuk relawan dokumentasi berkumpul di Gedung Sate Bandung untuk briefing. Wah suasananya ramaiiiiiii sekali, sampai-sampai aku pikir bakal susah untuk mencari Ray karena kami berbeda kelompok, hehehe. Syukurlah meskipun pesertanya tumpah-ruah semuanya terjadwal dengan baik, ---hanya molor sedikit dari waktu yang ditentukan. Di briefing ini selain pembagian kelompok juga jadi ajang silaturahmi, termasuk tatap muka dengan panitia dan perwakilan SD tempat di mana aku akan mengajar nanti. Seluruh peserta juga diberikan tips and trick untuk membantu kesiapan di hari inspirasi nanti (aku mah tetep saja nervous, hehehe). Yang lucu ternyata aku satu kelompok dengan kakak kelas waktu di Universitas Pasundan Seni Musik. Dulu kami nggak saling kenal, tapi mengenal orang-orang yang sama. Nah, sekarang malah waktunya kami berkenalan, hehehe. Aku juga sedikit mengobrol dengan guru-guru perwakilan dari SD. Griba 13, karena nanti di sanalah aku dan teman-teman satu kelompok ditempatkan.







Sedikit tentang Kelas Inspirasi, ini adalah gerakan ketika para profesional turun ke Sekolah Dasar (SD) selama sehari untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja, juga untuk memberikan motivasi dalam meraih cita-cita. Satu hari tersebut diharapkan menjadi bibit bagi para siswa untuk bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka. Tujuan dari Kelas Inspirasi ini ada dua, yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para profesional. Serta agar para profesional, ---khususnya kelas menengah secara lebih luas dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi yang pertama diadakan pada 25 April 2012, bermula dari teman-teman Indonesia Mengajar dan beberapa teman profesional yang ingin berkontribusi pada pendidikan Indonesia. Di Bandung sendiri ini adalah Kelas Inspirasi kali ke empat :)






Pukul 12 lewat sedikit briefing pun selesai, aku dan Ray kembali bertemu dan langsung membicarakan tentang rencana makan siang, ---sambil sesekali diselipi obrolan tentang Kelas Inspirasi. Ini bukan hari kasih sayang yang biasa bagi kami tapi tentu salah satu yang terbaik :) Aku nggak akan bohong, I'm a bit nervous, tapi juga excited. Aku harap ketika bertemu adik-adik nanti mereka tahu bahwa di dunia ini ada banyak profesi, termasuk penulis. Tapi mereka nggak harus menjadi penulis, ---jadilah apa yang mereka inginkan karena semua profesi itu baik, semuanya KEREN. Yang aku harapkan hanya agar mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh, apapun passion yang mereka miliki. Karena salah satu best feeling in the world adalah ketika mengerjakan sesuatu yang aku suka. Aku harap mereka juga merasakan hal yang sama :)









what's your name again?

Indi

Foto-foto: Dipo, Ray, Adjie, dokumentasi KI dan @inimahbandung

________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 09 Desember 2015

Menjadi Tamu di Acara "Komitmen Bersama Perilaku Sehat dan Bertanggung Jawab" (World AIDS Day 2015) :)

Howdy dooooo, bloggies? Waaaah, rupanya belakangan aku kurang produktif di dunia kecil kesayangan ini :( Bukan karena aku malas, tapi seperti biasanya Desember selalu jadi bulan yang sibuk, ---dan tentu jadi bulan yang penuh kesan. Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, dan di tanggal 24 Desember 11 tahun yang lalu adalah hari dimana Mika, my AIDS fighter pulang ke surga. Gak heran kan kenapa bulan ini terasa begitu berarti untukku :) Dulu aku memang bersedih dan menutup diri, tapi sekarang pengalaman hidup bersama Mika justru menjadi kesempatanku untuk berbagi, ---dan itu membuat Mika tetap hidup :)

Kesempatanku kali ini datang dari D-100 community, Kelompok Dukungan Sebaya dari RS. Borromeus Bandung. Mungkin teman-teman masih ada yang ingat perkenalan dengan mereka dimulai ketika aku diundang oleh ODHA Berhak Sehat sebagai bintang tamu di acara gathering mereka, dan di sana D-100 juga hadir. Lalu 2 bulan kemudian giliran D-100 yang mengundangku dalam rangka Hari AIDS Sedunia, kami nonton bareng film Mika di Taman Film Bandung. Dan sekarang, 1 tahun kemudian mereka mengundangku dengan konsep acara yang berbeda. D-100 bekerja sama dengan Klinik Antonius dari RS. Borromeus untuk mensosialisasikan HIV/AIDS kepada masyarakat umum dengan menggelar acara di Car Free Day Dago Bandung. Tujuannya agar yang sedang kebetulan jalan-jalan pagi pun bisa ikut bergabung ;)

Karena diadakan di area Car Free Day jadi aku harus bangun pagi-pagi sekali. Sempat hampir terlambat karena aku bangunnya kesiangan, tapi entah keajaiban darimana aku bisa mandi dengan kecepatan super hingga bisa tiba tepat waktu, hihihi. Di acara ini aku berjualan novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" yang hasilnya akan digunakan untuk membeli susu formula bagi ODHA. ---Orang dengan HIV/AIDS yang nggak bisa memberi ASI. Aku juga mendapat titipan kue-kue dari Dhian (kalau sudah menonton film Mika pasti tahu ia siapa, hihihi) yang juga untuk didonasikan. Selain D-100 dan klinik Antonius, acara ini juga didukung oleh WPA (Warga Peduli AIDS) Kebon Pisang, STKS dan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Bandung. Jadi tentu acaranya macam-macam dan super fun karena banyak yang terlibat.

Sebelum dimulai aku dengan dibantu teman-teman D-100 mengatur booth sederhana yang berisi novel-novelku dan kue-kue Dhian. Seperti biasa, wajib serba pink karena itu warna kesukaanku. Sampai-sampai taplak dan sign-nya bawa sendiri dari rumah, lho, hihihi. Sementara itu MC mulai menarik perhatian masyarakat Bandung yang sedang berjalan-jalan. Awalnya sih masih sepi, yang lalu-lalang baru beberapa saja. Tapi lama-lama jadi ramai, apalagi ada spanduk putih sebagai aksi solidaritas yang siapa saja boleh memberikan cap tangannya sebagai bentuk dukungan. Sambil mendengarkan pengetahuan tentang HIV/AIDS pengunjung juga bisa memeriksa kesehatannya secara gratis. Kapan lagi kan bisa cek tensi darah sambil olahraga pagi? :D






Pengunjung yang mampir ke booth kami juga mendapatkan hadiah-hadiah menarik. Ada goodie bag dari RS. Borromeus, pin dan lain sebagainya. Tapi tentu saja ada syaratnya, mereka harus berani bertanya atau menjawab pertanyaan seputar HIV/AIDS. Momen ini membuatku senang sekaligus miris... Aku senang karena mulai banyak masyarakat yang punya rasa penasaran tinggi dan tanpa ragu bertanya. Tapi juga miris karena masih banyak yang takut dengan ODHA. Misalnya saja ada seorang Ibu yang bilang bahwa ia nggak mau bersalaman dengan ODHA. Padahal kan HIV nggak menular melalui kontak sehari-hari. Dan seandainya saja Ibu itu tahu siapa saja di antara kami yang ODHA, mungkin beliau sudah kabur, hihihi. Untungnya rekan-rekan KPA dan WPA tetap sabar untuk menjelaskan bagaimana fakta yang sebenarnya. Kalau makan bersama, bersalaman, berciuman atau pakai toilet bersama aman untuk dilakukan, karena HIV hanya menular melalui 3 cairan tubuh, yaitu darah, cairan kelamin dan air susu ibu. Semoga saja sepulang dari sini ilmu barunya nggak pernah dilupakan, ya ;)

Aku juga berbagi tentang novel-novel yang aku tulis, dan alasan kenapa aku mengangkat isu HIV/AIDS. Surprise, ternyata ada cukup banyak pengunjung yang sudah mengenal karya-karyaku, bahkan ada yang sudah menonton film Mika juga! Rasanya seperti meet and greet dadakan karena banyak yang meminta foto dan tanda tangan, hihihi. Lucunya ada seorang pengunjung yang berkomentar, "Mika itu romantis, ya..." Aww, jadi kangen sama Mika, deh :') Tapi buatku ini adalah bonus, karena tujuan awalnya tetap untuk mensosialisasikan HIV/AIDS. Jangan sampai mereka hanya mengagumi Mika tapi saat berhadapan dengan ODHA tetap ketakutan. Seperti yang sudah sering aku bilang, aku dan Mika sebenarnya nggak jauh berbeda. Scoliosis dan HIV/AIDS sama-sama belum ada obat tuntasnya, jadi kenapa harus takut? Aku harap orang bisa stop judging seseorang dari penyakit yang diidapnya. Aku yakin semua orang juga lebih memilih sehat, jadi jangan memperburuk keadaan dengan label-label yang nggak penting :)





Oh, iya ada beberapa kejadian menarik nih waktu acara berlangsung. "Produk" yang paling laris rupanya balon-balon merah menyala yang menjadi dekorasi boothku. Sebelum novel-novel dan kue-kuenya habis, anak-anak yang lalu-lalang sudah mengantri sambil mencolek-colek aku,"Teh, Teh, minta balonnya, Teh," hihihi. Untung saja sebelum acara selesai kelarisan balon-balon itu menular pada novel-novelku. Semuanya sold out! Yay! Aku senang sekali karena artinya kami bisa berdonasi dengan maksimal. Malah ada yang membeli 1 buah novel dengan harga 3 kali lipat dari harga aslinya. Terharu sekali :') Dan yang juga berkesan ada seorang scolioser yang menghampiriku untuk bertanya tentang scoliosis dan SpineCor (soft brace). Meskipun beda tema berbagi ilmu memang bisa di mana saja, aku senang sekali kalau bisa membantu.



Waktu acara selesai, nggak terasa aku sudah berdiri selama kurang lebih 4 jam. Kalau dalam keadaan normal mungkin aku sudah pingsan (tapi tenang deh, kan dekat Rumah Sakit, lol). Nah, berhubung acaranya seru dan banyak yang membantuku selama acara berlangsung, ---termasuk Bapak dan Ray yang bergantian jadi fotografer, daya tahan tubuhku pun jadi berkali-kali lipat, hihihi. Aku selalu senang jika diundang menghadiri acara seperti ini. Karena meski sederhana dan santai, tapi pesannya lebih mudah sampai karena nggak berkesan menggurui. Dan aku harap ini bukan hanya mengenai HIV/AIDS. Tapi mengenai diri kita sebagai sesama manusia dan mahkluk Tuhan. Sudah seharusnya kita semua hidup berdampingan dan saling mendukung. Dari kecil kita sudah diajarkan bahwa setiap orang itu berbeda, tapi berbeda bukan berarti alasan untuk berprasangka buruk! ;)




yang diajarkan mika bahwa manusia itu seperti apel,

Indi

nb: Sepulang dari acara aku bertemu dengan salah seorang pembaca saat sedang mengantri di kasir supermarket. Katanya ia menyukai karyaku sejak SD dan sekarang sudah kuliah. Wah, time does really fly... mudah-mudahan aku selalu bisa berkarya dan nggak berhenti mencoba hal-hal baru. Amen... :)


__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Kamis, 04 Juni 2015

Malam Renungan AIDS Nasional 2015: Aku datang untuk Mika :)

Awalnya aku nggak mau datang, tapi Hendra BBM berkali-kali untuk mengingatkanku bahwa acaranya tinggal beberapa hari lagi. 
"Nggak mau, ah, nanti sedih, terus nangis," aku balas BBM Hendra.
"Nggak, nanti kan ditemenin. Ada aku, ada yang lain juga," begitu balasnya lagi.
Pokoknya aku janji nggak akan menangis.

Dan akhirnya hadirlah aku di sana, di Malam Renungan AIDS Nusantara 2015 yang diadakan di Taman Musik Centrum Bandung. Mataku langsung mencari wajah-wajah yang dikenal. Baru beberapa langkah aku sudah disambut oleh Anies (atau kalau sedang manja kupanggil "Teteh Anies", hehehe) yang langsung memelukku akrab. Hendra rupanya belum datang, padahal dia yang sibuk membujukku. Tapi aku nggak kesepian, di sana juga sudah ada Ayu, teman sekaligus pengelola dari ODHA Berhak Sehat (lihat post-ku tentang OBS di sini). Apalagi handphone ku langsung bergetar, rupanya ada mention dari Rumah Cemara yang mengucapkan selamat datang untukku. Psst, sampai sekarang aku belum tahu lho siapa admin Twitter dan Facebooknya RC, makanya aku langsung clingak-clinguk cari siapa yang sedang pegang HP, hihihi :)




Semakin jauh aku melangkah semakin banyak juga wajah yang kukenal. Malah ada yang sudah sering mengobrol di dunia maya, tapi ini jadi pertemuan kali pertama! Seorang perempuan cantik 'histeris' ketika melihatku dan langsung mencium pipi kiri dan kananku. Beberapa detik kemudian aku ikut histeris karena ia ternyata seorang teman yang sudah kukenal selama 8 tahun di dunia maya (iya 8 tahun, aku nggak salah ketik). Aku memanggilnya "Kak Rose", yang ternyata dianggap "ajaib" oleh teman-temannya karena hanya aku yang memanggilnya begitu. Ia lalu memanggil suaminya yang juga berteman denganku di dunia maya bahkan sebelum aku mengenal Kak Rose. Dengan malu-malu aku menyalaminya karena ternyata ia masih muda padahal aku selalu memanggilnya "Om Riki", hihihi :p
Aku langsung merasa nyaman, suasananya akrab dan gembira sekali. Soal rasa takutku, mungkin hanya parno saja, ---seperti biasanya.




Malam Renungan AIDS Nusantara diperingati di bulan Mei setiap tahun. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi komunitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), keluarga dan masyarakat untuk mengenang orang-orang yang telah dulu pulang karena AIDS. Bukan hanya untuk ODHA atau yang pernah ditinggalkan sepertiku, tapi MRAN ini juga boleh diikuti oleh umum. Menurutku ini bagus karena bisa menjadi ajang silaturahmi sekligus sosialisasi tentang HIV/AIDS. Dan karena acaranya di tempat terbuka sepertinya banyak masyarakat sekitar yang ikut penasaran dan bahkan ikut bergabung, which is really nice :)

Nggak lama kemudian Hendra datang dengan sekantung perbekalannya (belanja dulu ternyata dia, hehehe) dan langsung bergabung denganku dan Anies. Lalu disusul oleh Nova yang sama sepertiku, baru memutuskan untuk pergi di menit-menit terakhir. Aku mengenal mereka bertiga dari piknik OBS, yang dilanjutkan dengan perkenalan lalu bergabung di grup mereka, D-100 (baca tentang nobar film MIKA bersama mereka di sini). Waktu kami sudah duduk paduan suara Maranatha sedang membawakan beberapa lagu. Perasaan merinding mulai datang, yang membuatku melirik Hendra penuh arti, 'Awas ya kalau aku sampai nangis.' :p





Di MRAN ini ada quilt yang dibuat oleh keluarga dan sahabat dari mereka yang sudah dulu pulang (totalnya ada 86 quilt). Nova bertanya padaku kenapa aku nggak membawa quilt untuk Mika. Well, sebenarnya alasannya agak cengeng sih... Melihat quilt dengan nama orang lain tertulis di atasnya saja sudah membuatku berkaca-kaca, apalagi jika membaca nama Mika... Tapi aku tetap meletakkan setangkai bunga di atas quilt-quilt itu untuk mereka yang juga sama seperti Mika. Susah diungkapkan dengan kata-kata tentang perasaanku yang seperti roller coaster. Melihat puluhan nama dengan keluarga dan sahabat yang hadir membuatku sadar bahwa dunia ini bukan hanya mengenai aku dan Mika, bukan aku yang paling bersedih, ---dulu aku egois karena merasa nggak ada yang mengerti perasaanku. Tapi ternyata banyak orang yang kehilangan yang mereka cintai karena AIDS. Aku jadi merasa bersalah... Tapi di sisi lain aku juga merasa hangat, karena beberapa dari orang yang hadir mengenal Mika, meskipun hanya lewat novel dan film. Setiap ada yang menghampiri dan memberi tahu perasaan mereka tentang Mika, mereka berempati padaku, ---well saling, karena kami mempunyai pengalaman yang sama.








Setelah kata sambutan dari Atalia Kamil, istri dari Ridwan Kamil, walikota Bandung acara dilanjutkan dengan testimoni. Langsung saja aku berdiri dan mencari-cari alasan untuk meninggalkan tempat. Kalau dibilang cengeng, biarin... aku mungkin memang cengeng. Tapi aku benar-benar nggak siap untuk mendengarkan kisah-kisah kehilangan dari teman-teman baruku ini. Untung saja Hendra mau menemaniku keluar area. Bilangnya sih aku mau beli minum, padahal dari kejauhan aku mendengarkan suara samar-samar dari speaker, ---memastikan sesi testimoninya sudah selesai waktu aku kembali. 

Aku dan Hendra kembali tepat ketika testimoni terakhir selesai, tinggal acara penutupan. Kami diminta untuk menyalakan lilin dan berdiri mengelilingi quilt. Kami lalu berdoa untuk keluarga dan sahabat yang telah dulu pulang. Aku teringat Mika dan mulai menahan air mata yang rasanya sebentar lagi jatuh sambil  memeluk diri sendiri. Aku nggak ikut menyalakan lilin, alih-alih berdiri di paling pojok dikelilingi oleh Hendra, Anies dan Nova. Dari speaker terdengar lagu "Lilin-Lilin Kecil", semua ikut bernyanyi, termasuk aku. Lalu dilanjutkan dengan lagu "Usah Kau Lara Sendiri". Di bagian refrain, kertas lirik yang kubaca tiba-tiba menjadi buram. Air mataku ternyata sudah nggak bisa ditahan, aku menangis. Gue berusaha menghapusnya dengan punggung tangan, tapi air mata gue terus keluar. Gue ingat Mika, aku ingat teman-temannya yang juga sudah pulang. Aku juga teringat dengan nama-nama yang kubaca di quilt, dengan orang-orang yang ditinggalkan, ---yang jumlahnya ada banyak sekali di seluruh dunia. Aku melanggar janji, I let my self to cry. Aku pikir dengan menahan perasaan akan membuatku kuat. Tapi aku salah, menangis bukan berarti lemah. Nggak ada yang salah dari mengeluarkan perasaan, dengan menghindarinya jutsru aku malah pura-pura atau menutup mata, ---menjadi pengecut. Mungkin aku nggak akan menemukan obatnya, tapi akan berusaha menghilangkan stigma dan segala cap-cap konyol lainnya terhadap ODHA. Aku akan terus berjuang untuk Mika dan Mika-Mika yang lain. Janji.
Ada yang mau ikut?




Tulisan ini nggak diikutkan ke kontes, aku hanya berbagi pengalaman :)

a fighter,

Indi

Update 2024: Dengan hati yang pedih aku mengetik ini, Nova, teman kami (di foto terakhir aku sedang merangkulnya) telah pulang bersama Mika ke surga...

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469