Halo! Indi di sini! Penulis dari "Waktu Aku sama Mika", "Karena Cinta itu Sempurna", "Guruku Berbulu dan Berekor", "Conversation for Preschoolers" dan Indi nyata dari Film Mika. Welcome to "DUNIA KECIL INDI"! Salam kenal :)
Yay! So excited! Malam ini (16 Maret 2015) pukul 23.00 WIB film Mika akan ditayangkan kembali di SCTV!
Film ini diinspirasi oleh novelku yang berjudul "Waktu Aku sama Mika" (best seller, published by Homerian Pustaka).
Film yang disutradarai oleh Lasja Susatyo ini menceritakan tentang aku (Indi, diperankan oleh Velove Vexia) yang mengidap scoliosis sehingga harus memakai brace (penyangga) selama 23 jam setiap hari. Suatu hari aku bertemu dengan Mika (diperankan oleh Vino Bastian), seorang pemuda baik hati yang juga ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Ia mengubah hari-hariku menjadi lebih positif dan berwarna :)
Selain di Indonesia film Mika pernah diputar di IFF, Melbourne Australia, lho. Di sana film ini mendapatkan sambutan yang positif. Jadi teman-teman di sini jangan sampai ketinggalan, ya, hihihi. Support terus perfilman Indonesia :)
trailer film MIKA
***********************************************
Update 17 Maret 2015
"MIKA" menjadi trending topic world wide di Twitter. Aku bangga dan terharu sekali, karena setiap diputar ulang selalu menjadi trending meskipun tayangnya larut malam :') Tapi terlebih dari itu, aku bahagia karena semua mention yang masuk memberi komentar positif tentang film Mika. Lega rasanya pesan yang ingin aku (dan Mika) sampaikan diterima dengan baik oleh teman-teman penonton. TERIMA KASIH BANYAK telah menyempatkan untuk menyaksikan film Mika. Aku nggak bisa lihat Mika sekarang, tapi aku yakin ia sedang tersenyum di surga sana karena sekarang semakin banyak yang mengerti bahwa AIDS bukan kutukan Tuhan :)
sugarpie kecilnya Mika yang sudah besar,
Indi
Keywords: Penulis novel perempuan, novel romance remaja, novel yang difilmkan.
___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469
Film MIKA adalah sebuah film Indonesia yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika" yang ditulis berdasarkan kisah nyata gue dan Mika.
Film ini menceritakan tentang gue yang divonis scoliosis (kelainan tulang belakang) dan berkenalan dengan Mika, laki-laki yang mengidap AIDS. Bersama kami menghadapi hari sampai akhirnya berpacaran dan menjadi pribadi semakin kuat meskipun fisik kami lemah.
Film ini disutradarai oleh Lasja Susatyo dan dibintangi oleh Vino Bastian (sebagai Mika), Velove Vexia (sebagai Indi), Izur Muchtar (sebagai Bapak), Dona Harun (sebagai Ibu) dan masih banyak yang lainnya.
Film Mika diputar di bioskop seluruh Indonesia pada tahun 2013 lalu dan sempat menjadi film dengan jumlah penonton paling banyak. Beberapa bulan setelah tayang di bioskop Indonesia, film Mika juga berkesempatan untuk diputar di IFF Melbourne Australia :)
Nah untuk yang belum pernah menontonnya (atau yang rindu dengan film ini, hihihi), gue dan D-100 Community mengajak teman-teman untuk nobar alias nonton bareng. Film MIKA akan diputar pada;
Minggu, 7 Desember 2014
Pukul 16.00
Di Taman Film Bandung
(Bawah jalan layang Pasupati, Tamansari)
Acara ini gratis! Silakan membawa teman sebanyak-banyaknya karena tempatnya sangat luas dan menggunakan layar super besar (4x8 meter) ala bioskop. Asyik sekali, kan? Sampai bertemu di sana, ya! :)
Hai bloggies! Ada kabar gembira, nih! Sebentar lagi film MIKA akan diputar di TV untuk kedua kalinya :)
Film MIKA ini adalah film yang sangat aku banggakan, bukan hanya karena ini diambil dari kisah hidupku, tapi karena perjalanannya yang cukup panjang. Bayangkan saja, hampir 2 tahun setelah perencanaan (baca: sejak aku ditawari) film ini baru bisa terealisasikan. Perjuangannya pun cukup berat, setelah sempat berganti kru dan lain sebagainya film MIKA akhirnya ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia sejak 15 Januari 2013 :)
Film MIKA diinspirasi oleh Waktu Aku sama Mika, novel pertamaku yang diterbitkan oleh Homerian Pustaka. Meskipun awalnya kumpulan tulisanku yang dinovelkan ini sekedar untuk konsumsi pribadi (buku harian), tapi ternyata (thank God) telah dicetak ulang sebanyak belasan kali :) Aku juga bangga dan bahagia karena film MIKA diterima oleh penikmat film di Indonesia dan luar negeri. Jumlah penontonnya yang cukup banyak membuat film ini sempat masuk ke dalam list 10 film paling banyak ditonton sepanjang tahun 2013 di Indonesia. Dan terpilih sebagai film yang diputar di IFF Australia! :)
Kisah film ini sederhana, sesederhana novelnya dan kisah hidupku. Menceritakan tentangku (diperankan oleh Velove Vexia) yang divonis dokter mengidap scoliosis hingga harus menggunakan brace (penyangga tulang belakang). Di tengah-tengah rasa nggak nyamanku datanglah Mika (diperankan oleh Vino Bastian), laki-laki yang berusia 7 tahun lebih tua dariku dan sangat penuh semangat meskipun ia ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Aku dan Mika segera menjadi dekat lalu berpacaran. Sama seperti pasangan remaja lainnya, kami makan bersama, naik angkot bersama dan berbagi hobi masing-masing. Yang membedakan kami hanyalah komentar-komentar orang-orang tentang hubungan kami, terutama tentang Mika. Tapi di mataku Mika sosok yang tegar, ia sangat menerima dan selalu punya cara untuk membuatku menjadi pribadi yang lebih baik :)
Menurutku film ini sukses untuk meng-capture bagaimana semangat Mika. Vino Bastian beracting sangat total bahkan berusaha mengikuti setiap detail dari karakter Mika (termasuk dengan menurunkan berat badan sebanyak 10 kg!). Velove Vexia juga begitu menjiwai perannya sebagaiku. Ia benar-benar memakai brace sepanjang syuting dan memotong poninya agar lebih mirip denganku (meskipun tetap saja terlihat super cantik). Pemeran Ibu, Bapak dan karakter-karakter lainnya juga menurutku sangat pas. Thumbs up untuk tim castingnya. Dan ini juga pasti berkat keseriusan mereka yang rela jauh-jauh datang ke rumahku untuk survey dan wawancara :) Teman-teman semua jangan lupa nonton ya! ;)
MIKA
(dari novel Waktu Aku sama Mika)
1 November 2014 (sabtu), pukul 22:30 WIB
Di SCTV
sugar pie kecilnya Mika yang sudah besar,
Indi
___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469
Howdy-do my pals? Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya :)
Gue mau mengundang teman-teman, terutama yang tinggal di daerah Bandung untuk ikutan piknik, nih. Iya, piknik sungguhan di taman rumput dengan bekal makanan dari rumah sambil mengobrol akrab!:D Mungkin beberapa dari teman-teman ada yang sudah lama nggak merasakan keseruan piknik karena kesibukan atau sulitnya menemukan tempat yang tepat. Nah, sekarang waktunya kita bernostalgia sambil menambah pengetahuan ---dengan cara yang fun tentunya--- :)
Piknik yang akan dilaksanakan tanggal 11 Oktober pukul 3 sore di Taman Cibeunying ini diadakan oleh ODHA Berhak Sehat atau biasa disingkat OBS. Teman-teman mungkin sudah sering mendengar tentang OBS di berbagai sosial media, terutama di Facebook dan Twitter. Nah, kalau belum kenal gue ceritakan sedikit tentang OBS, ya. ODHA Berhak Sehat adalah movement yang mengajak masyarakat dan komunitas HIV/AIDS untuk lebih paham tentang isu HIV/AIDS. Salah satu misi OBS adalah mengurasi stigma dan diskriminasi yang sering kali didapat oleh ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Kalau teman-teman sudah pernah membaca novel-novel gue, "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" atau sudah pernah menonton versi filmnya, "MIKA", mungkin sedikit banyak tahu tentang apa itu HIV/AIDS. Karena di sana gue menceritakan tentang hari-hari gue ketika berpacaran dengan Mika, laki-laki luar biasa yang juga seorang AIDS fighter :)
Cara ikutan piknik ini mudah sekali, lho;
1. Follow akun twitter gue (@missbabbitt) dan OBS (@ODHABerhakSehat)
2. Twitpic foto kalian yang sedang memakai pita merah ke @missbabbitt dan @ODHABerhakSehat dengan hastag #ikutandong #kopdarOBSBandung
3. Setelah itu OBS akan memfollow balik dan mengirimkan DM yang berisi detail acara.
Agar nanti mudah untuk saling mengenali, jangan lupa sematkan pita merah di pakaian teman-teman. Dan tentu saja jangan lupa bawa bekal masing-masing untuk piknik di bawah langit kota Bandung yang indah :) Tuh, sudah kebayang betapa serunya kan? Sambil cemal-cemil kita juga bisa lebih mengenal apa itu HIV/AIDS. Jadi nanti teman-teman bisa lebih tahu tentang apa yang dulu terjadi pada Mika. Dijamin memberikan banyak manfaat. Dan nanti kita akan pulang nggak hanya dengan pengetahuan baru tapi juga bawa oleh-oleh goodie bag dari OBS, lho! Ayo, twit pic ditunggu mulai sekarang sampai tanggal 8 Oktober 2014, ya! :)
Pernah nggak kalian mengalami sesuatu yang
kalian pikir nggak akan mungkin untuk dialami sama diri sendiri? No, no, no,
ini bukan seperti waktu gue berumur 7 tahun bermimpi untuk bertemu the greatest
rock band ever, Aerosmith dan ternyata terwujud 20 tahun kemudian. Tapi gue
bicara tentang sesuatu yang sudah divonis mustahil atau kalaupun ada
kemungkinan itu keciiiiil sekali. Nah, gue baru saja mengalaminya. Bahkan
sambil mengetik tulisan ini pun gue masih belum sepenuhnya percaya karena...
mungkin jika ada orang yang posisinya sama seperti gue dan membaca tulisan ini
mungkin menganggap too good to be true.
Ini tentang scoliosis. Iya, tentang kelainan
tulang belakang yang didiagnosa saat gue berusia 13 tahun dan membuat gue
memakai boston brace selama 5 tahun, setiap hari selama 23 jam per hari.
Setelah brace dilepas karena tulang gue sudah mature, kurva scoliosis gue
memiliki kelengkungan 52 derajat. Pasti setiap scolioser sudah mendengar
tentang ini dari dokter, bahwa kurva di atas 40 derajat disarankan untuk
mengambil tindakan operasi. Setelah 5 tahun penggunaan brace ternyata kurva gue
masih tetap di atas batas “aman” dari pisau bedah. Apalagi setelah tulang gue
mature kemungkinan untuk berkurangnya kurva lewat jalan lain selain operasi
(baca: bracing, fisioterapi, dll) katanya sudah nggak ada. Good news nya,
kemungkinan besar kurva gue nggak akan bertambah buruk. Meski sebenarnya di
atas 50 derajat itu rasanya benar-benar nggak nyaman (gue nggak mau bilang
buruk, ya, lol).
Meski begitu gue sebisa mungkin menghindari
operasi. Proses penyembuhan yang memakan waktu, resiko dan tentu saja biaya
menjadi pertimbangan gue. Mengabaikan kata-kata dokter yang menyatakan bahwa
“kalau tulang sudah mature tapi kurva mau berkurang ya harus operasi”, gue
mencari terapi alternatif. Eh, tapi bukan berarti di luar medis, ya. Maksudnya
gue mencari terapi untuk merawat scoliosis gue secara aman dan hasilnya bisa
dipertanggung jawabkan. Perjalanan gue dimulai dengan mencoba chiropractic. Awalnya
dari Canadian berganti ke Japanese chiropractic. Hasilnya baik, rasa sakit gue
berkurang banyak dan siklus menstruasi gue pun menjadi lancar. Tapi sayangnya
setiap kali gue libur terapi rasa sakitnya kembali dan setelah melakukan x ray,
kurva gue ternyata nggak berkurang.
Banyak yang salah mengartikan bahwa sembuh
dari scoliosis = tulang punggung yang lurus. Padahal scoliosis sendiri bukan
penyakit, tapi kelainan. Dan kelainan tentu saja nggak bisa disembuhkan, tapi
bisa diminimalisir. Bahkan ada beberapa dokter yang berkata jika tulang
belakang bengkok sampai 15 derajat, itu nggak bisa dikategorikan sebagai
scoliosis karena nggak ada anatomi tubuh manusia yang benar-benar lurus. Bahkan
dengan operasi scoliosis pun tetap akan menyisakan sekian derajat, tergantung
dari usia pasien dan seberapa besar kurva sebelum operasi. Makanya yang gue
cari adalah terapi untuk meminimalisir kurva dan rasa sakitnya, seenggaknya
sampai kurva gue di angka “aman”, tanpa perlu melakukan operasi :)
Dan gue pun menemukan spinecor (baca
lengkapnya di sini), sebuah soft brace yang bisa dipakai oleh scolioser yang
bahkan sudah bertulang mature (bahkan manula!). Bentuknya elastis dan dipakai
dibalik baju, berbeda sekali dengan Boston brace yang sebelumnya gue pakai.
Jika Boston brace lebih sering disebut sebagai brace yang bisa mempertahankan
kurva, spinecor ini malah katanya bisa mengurangi kurva. Jadi pada tanggal 16
Mei oleh Dr. Natalie dari Spine Body Center gue dipasangi spinecor yang harus
dipakai selama 6 jam perhari. Untuk memastikan gue diminta untuk x ray, dan
hasilnya tentu saja gue masih stuck di 52 derajat, hehehe. Gue diminta untuk
kembali lagi 7 hari kemudian dengan membawa hasil x ray terbaru. Rasanya harap-harap cemas. Boston brace yang
kerasnya minta ampun saja nggak berhasil membuat kurva gue berkurang di usia
remaja. Bagaimana dengan spinecor yang rasanya lembut dan dipakai di usia
dewasa ini?
Dan ternyata miracle happen! Setelah diukur
sebanyak 3 kali ---karena gue nggak percaya dengan hasilnya---, kurva gue
berkurang 12 derajat. Dari 52 ke 40! Gue hampir menangis waktu mencoba ukur
sendiri dan hasilnya tetap nggak berubah. Terharu... Karena gue tahu bahkan
dengan operasi pun pasti menyisakan sekian derajat. Dan kurva scoliosis gue
berkurang 12 derajat TANPA operasi. Praise the Lord! :’) Dr. Natalie berkata
bahwa setiap pasien pasti hasilnya berbeda-beda, tergantung usia, besarnya
kurva dan lain sebagainya. Gue bisa berhasil karena kedislipinan gue memakai
spinecor. Gue memakainya sesuai aturan sehari, saat bekerja, menulis bahkan
bermain dengan Eris. Ternyata benar apa yang dikatakan Dr. Natalie, dengan
spinecor semakin banyak bergerak justru membuat hasilnya lebih maksimal :)
Sebagai ungkapan rasa syukur, ketika sudah di
Bandung gue mengundang Ray untuk mengadakan syukuran bersama. Ray membawakan gue
kue tart dan gue menyiapkan cemilan untuk berdua. Sederhana, tapi yang penting
ada sesuatu yang bisa dikenang. I love celebrating something, meskipun sebuah
pencapaian kecil karena membuat semangat gue jadi terpacu. Dan gue sama sekali
nggak pernah menyangka akan merayakan berkurangnya kurva gue. Yay, 40 derajat!
Sudah di batas aman pisau bedah, hehehe. Thank God :)
Ray sedang menikmati kue tart :)
Me and my Ray. We're really thanking God! :)
Gue mau menikmati masa-masa pencapaian ini
dulu, tapi bukan berarti gue akan berhenti berusaha. Perjalanan gue masih
panjang, masih 18 bulan lagi sampai brace gue bisa dikurangi frekuensi
pamakaiannya. Dengan hasil seperti ini gue semakin optimis dan semangat memakai
spinecor. Dokter dulu memang pernah bilang bahwa tulang gue yang sudah mature
ini nggak bisa dikurangi kurvanya kecuali dengan jalan operasi, tapi ternyata
spinecor bisa. Menjadi seorang solioser memang bukan hal termudah di dunia,
tapi selalu ada jalan. Dan spinecor lah jalan gue :)
Sebelum bracing dan setelah bracing, 7 hari kemudian :)
Gue merasa blessed sudah menemukan spinecor
dari Spine Body Center. Harganya memang nggak murah, tapi hasilnya sepadan. Gue
bisa menjadi lebih produktif dan bugar. Lagipula jika dibandingkan dengan biaya
operasi, spinecor jauuuh lebih terjangkau ;)
Jika ada teman-teman yang membaca post ini
seorang scolioser atau mengenal seseorang yang scoliosis, coba deh sarankan
untuk ke Spine Body Center di APL Tower lantai 25 (sebelah Central Park Mall) di Jakarta. Atau bisa telepon dulu ke 021-2933 9295. Jangan dulu takut
atau menyerah karena usia dan besarnya kurva. Selalu ada harapan! :)
Hai teman-teman! Gue punya kabar yang menyenangkan, nih. Tanggal 18 Mei nanti gue diundang sebagai bintang tamu di workshop "Dari Menulis Jadi Buku". Acaranya akan diadakan di Cafe Celebrate Bandung. Selain bisa ngobrol-ngobrol seru dan berbagi cerita tentang bagaimana gue bisa menerbitkan buku, teman-teman yang hadir juga akan mendapatkan ilmu kepenulisan dari Bunda Herafi Zaskia :) Buat yang kangen dengan duet gue dan Ray juga boleh, karena di acara ini Ray kembali menjadi MC, hehehe.
Pokoknya selain seru acara ini juga dijamin kaya manfaat, hihihi. Yuk ditunggu kehadirannya, jangan lupa ajak teman-teman yang lain. Workshop ini untuk umum. Pelajar, mahasiswa, bahkan yang sudah bekerja pun boleh ikut, karena meski judulnya 'belajar' tapi tetap santai dan fun :)
Untuk pendaftaran silakan SMS atau whatsapp ke 081312027870/085720521903 (Dipo). Secepatnya, ya, karena tempatnya terbatas ;)
Sampai ketemu tanggal 18 Mei nanti! :)
sugarpie honey girl,
Indi
"Dari Menulis Jadi Buku" dipersembahkan oleh Buttermint dan disponsori oleh Celebrate Cafe, Papyrus Photo dan JKT 66
Hari Rabu siang, seperti biasa aku dan Miss. Rifa rekan kerja ku di preschool selonjoran di karpet sehabis makan siang. Ini menjadi ritual nggak tertulis kami, mengobrol berdua saja memisahkan diri dari teman-teman yang lain sambil memikirkan apa yang harus disiapkan untuk besok. Aku melirik ke arah jam dinding, masih 1 jam lagi sebelum waktunya pulang. Aku mengambil boneka beruang besar dan bersandar malas kepadanya. Terkantuk-kantuk. Tiba-tiba HP ku bunyi. Ada sebuah pesan masuk dari Vino Bastian. Vino adalah seorang teman baik yang aku kenal karena project film Mika. Iya, ia adalah yang memerankan almarhum Mika :)
"Indi, jangan lupa jam 18.30 nanti datang ya ke premiere Madre. Ajak Bapak dan Ibu juga".
Aku nggak langsung membalasnya, tapi meneruskan kembali obrolan random bersama Miss. Rifa. Kami sedang bercerita tentang teman masing-masing dan sudah sampai pada giliran Miss. Rifa. Ia bercerita semalam salah seorang temannya mengiriminya pesan, berbincang ringan sampai akhirnya bertanya tentang pekerjaannya. Dengan bangga Miss. Rifa menjawab bahwa ia menjadi guru di preschool. Tapi nggak disangka si teman malah berkomentar tentang "penghasilan" yang Miss. Rifa dapatkan dari profesinya ini. Yang dimaksud dengan "penghasilan" tentu saja materi. Si teman mempertanyakan apakah itu cukup untuk menghidupi kebutuhan sehati-harinya dan bertanya apakah berminat berganti profesi dengan penghasilan yang lebih besar.
Miss. Rifa bercerita sambil tertawa. Ia lalu bertanya apakah aku merasa apa yang kudapatkan nggak sepadan dengan yang aku kerjakan. Aku balas tertawa, mengubah posisiku dari selonjoran jadi berbaring."Memangnya berapa yang pantas kita minta untuk seharian dengan anak-anak dan bisa berbaring di sela-sela pekerjaan?"
Dan kami pun tertawa bersama.
Menjadi guru merupakan cita-citaku. Pilihan. Jadi apa yang kucapai sekarang ini merupakan apa yang aku inginkan sejak lama. Bukan karena aku mencari pekerjaan "apa saja" asalkan nggak menggangur lama setelah aku lulus kuliah. Preschool atau TK adalah tempat pertama yang aku datangi ketika ijazahku keluar. Aku ditolak di 2 preschool dan akhirnya diterima bekerja di sebuah preschool berbasis kurikulum British. Aku bahagia karena cita-citaku menjadi kenyataan dan sejak hari pertama aku bekerja sampai hari ini aku sangat menikmatinya. Melelahkan, namun selalu penuh rasa syukur. Begitu juga Miss. Rifa, ini memang pekerjaan yang ia inginkan dan materi sama sekali bukan alasan kenapa ia bertahan mengajar selama 3 tahun terakhir ini.
Bukan cuma miss. Rifa, aku juga sering mendapat pertanyaan yang sama, bahkan dari keluargaku. Apakah penghasilanku cukup untuk menghidupi kebutuhanku?
Sebenarnya pertanyaan itu nggak etis menurutku, bertanya tentang penghasilan seseorang buatku bukan hal yang wise. Tapi aku berpikir positif saja, mungkin orang bertanya begitu karena mereka peduli, hehe. Kadang aku teringat dengan teman-teman kuliah yang mempunyai profesi sama denganku. Kebanyakan dari mereka berpenghasilan setengah dari yang aku hasilkan dengan jam kerja yang lebih panjang. Apakah mereka mendapatkan pertanyaan yang sama? Bagaimana mereka menanggapinya? Tapi sebelum aku bertanya sepertinya raut wajah mereka sudah menjelaskan segalanya. Teman-temanku selalu tampak gembira dan nggak pernah mengeluh kekurangan. Hmm... mungkin itu karena mereka sudah menyadari sesuatu... :)
"Eh, tadi pesan dari siapa? Sudah dijemput?" Miss.Rifa tiba-tiba teringat dengan HP ku yang berbunyi tadi. Aku menggeleng dan menjelaskan bahwa itu dari Vino yang mengundangku ke Premiere film barunya. Aku dan Miss. Rifa sama-sama melirik jam dinding. Kami terkikik, masih banyak waktu. "Rezeki, Ndi, masih jam segini. Sampai rumah kamu masih bisa mandi, makan, dandan, pilih-pilih baju.Kalau orang lain belum tentu sudah sampai rumah, jam 5 juga baru bubaran". Aku tersenyum sambil bangkit dari posisi berbaring, meraih cubby untuk menyiapkan pekerjaan besok pagi. "Iya, Miss. Rifa, ini rezeki aku. Aku punya banyak."
Setelah percakapan dengan miss. Rifa, aku merenungkan apa yang sudah kudapat selama ini dan bertanya-tanya apakah aku sudah berterima kasih pada Tuhan dengan cara yang pantas. Aku terkadang berkata, "nggak punya budget", "uang belum cukup" dan lain sebagainya, tapi aku lupa bahwa aku punya waktu. Iya, aku punya waktu di saat orang lain mungkin mengeluh kekurangan waktu dan meminta pada Tuhan sedikit saja waktu untuk bertemu orangtuanya atau menghabiskan waktu bersama pasangannya. Aku punya banyak, aku masih punya waktu berjam-jam perhari untuk mengobrol panjang lebar dengan Bapak, berselisih dengan Ibu (lol), berbuat iseng pada Adik, bermain dengan Eris, anjingku dan berlama-lama di minimarket dengan Ray untuk mencari camilan kesukaan kami. Aku punya banyak rezeki, bukan uang, tapi dalam bentuk lain. Dan Miss. Rifa benar, di rabu sore aku masih sempat untuk mandi dan bersiap-siap dengan pantas untuk ke premiere film sementara tamu yang lain mungkin baru saja pulang bekerja dan belum sempat ganti baju. Thank God.
Aku sering bilang bahwa manusia pasti diciptakan Tuhan dengan fungsinya masing masing dan setiap manusia juga pasti sudah ada rezekinya. Tapi aku lupa bahwa pengertianku terlalu sempit. Dulu aku berpikir bahwa saat seseorang mendapat 10 dan lainnya mendapat 5 itu artinya ia memang pantas dan cukup dengan 5. Memang nggak sepenuhnya salah, tapi rezeki bukan berarti selalu angka. Tuhan telah menyediakan gantinya, rezeki dalam bentuk lain. Miss. Rifa selalu bilang bahwa ia orang yang paling tahan banting sedunia, dalam 1 bulan ia paling hanya 1 kali sakit, sementara aku pasti ada saja flu atau demam yang menghampiri dalam 1 minggu. Aku biasanya hanya tersenyum setiap Miss. Rifa bilang, "rezeki" saat ia melihat daftar hadirnya yang full. Tapi sekarang berbeda, hatiku menyadari penuh bahwa itu memang rezeki. Bagian Miss. Rifa yang Tuhan berikan istemewa untuknya :)
Keesokan harinya di kamis siang. Seperti biasa aku dan Miss. Rifa menjalankan ritual nggak tertulis kami. Aku masih sedikit kekenyangan dan langsung selonjoran sambil bersandar di tembok. Miss. Rifa dengan wajah cerianya menceritakan bahwa ia senang karena ini hari terakhir bekerjanya di minggu ini. "Besok libur, jadi aku langsung pulang ke Purwakarta sore ini. Senang bisa makan masakan rumah lebih cepat 1 hari". Aku tertawa dan pura-pura nggak mau kalah dengan membalas perkataannya, "Aku dong mau jalan-jalan sama Ray, mau cari buku murah. Asyik, kan?" Kami tertawa dan melanjutkan pekerjaan kami sampai jam 2 siang dengan perasaan senang.
Sorenya aku dan Ray janjian di sebuah toko elektronik. Ray nggak bisa jemput aku karena ia harus bekerja dan hari ini sengaja izin pulang lebih cepat. Aku menunggu di foodcourt yang lumayan lenggang karena masih jam nya orang-orang di sekolah atau di kantor :) Sekitar 10 menit kemudian Ray datang, kami langsung mengobrol seru sambil berjalan menuju sebuah kios aksesoris HP. Ray pernah bilang bahwa suatu hari ia akan membelikanku casing HP berbentuk Minnie Mouse, dan aku senang sekali karena akhirnya saatnya tiba! Saking senangnya ketika aku mendapatkannya aku langsung pakai casingnya dan nggak mau dimasukan ke dalam tas. Aku menentengnya terus bahkan sampai kami berjalan kaki dan tiba di toko buku di gedung sebrang :D
Meet my new best friend: Minnie Mouse! :p
Sore itu aku mendapatkan banyak rezeki, banyak berkah. Well, mungkin bukan "mendapat", tapi "melihat" karena setiap hari seharusnya memang penuh dengan berkah. Tapi kali itu aku lebih menyadarinya, mataku menjadi lebih terbuka dan sensitif melihat apa yang kudapat. Aku dan Ray berada di depan tumpukan buku-buku obral. Kami seperti raksasa yang berdiri di antara gunung-gunung kecil. Kami mulai menggali dan memilih. Buku-buku nggak diletakan sesuai tema, harga apalagi disusun di rak. Semua benar-benar digeletakan begitu saja dan butuh kejelian bahwa di sana mungkin saja ada harta karun. Entah sudah berapa lama sampai tahu-tahu kakiku pegal dan aku mendapatkan dua buah buku seharga rp.20.000 dan rp. 5.000 saja! Buku yang kudapat pun bukan sembarangan, tapi best seller pada zamannya. Aku gembira sekali dan dengan bangga menunjukkan buku-buku itu berkali-kali pada Ray, berulang kali bercerita bahwa salah satu dari buku itu sudah difilmkan dan aku menyukainya. Ray juga mendapatkan buku yang ia inginkan, 1 buah buku resep memasak yang ia cari selama... aku lupa berapa lama, yang pasti cukup lama sampai aku minta kami segera pindah tempat, hehehe.
Berbelanja buku obral seperti ini bukan yang pertama kali kami lakukan. Kami sudah lakukan ini beberapa kali tapi baru kali ini aku sadar bahwa Tuhan mengganti sesuatu yang nggak aku punya dengan hal lain. Beberapa orang mungkin hanya punya waktu beberapa jam untuk mencari buku, tapi aku punya waktu sepanjang sore untuk berpetualang di tumpukan buku dan membawa pulang harta karun.
Harta karunku! Aku lebih dulu menonton film "Saving Shiloh" dan baru sekarang punya bukunya. 5 ribu saja! ;)
Kami memutuskan untuk makan malam di coffee shop dekat toko buku. Ketika kami berjalan tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu yang rasanya familiar. Kami melewatinya, lalu aku tiba-tiba sangat ingin untuk menoleh. Ya, ampun! Ternyata ada poster "Waktu Aku sama Mika" di lorong toko buku! Sejak kapan ada di sana? Ya, ampun! Aku kaget sekali dan terharu. Posternya besar dan ada lampunya, sejajar dengan buku-buku best seller lain. Aku langsung berteriak-teriak nggak karuan, cepat-cepat menyerahkan HP ku pada Ray supaya ia mengambil fotoku. Ray juga senang dan terus-terusan berkata, "Congrats, Hon." Satpam yang berada di sana memperhatikan kami terus, aku pikir ia akan melarang kami menambil foto tapi rupanya malah tersenyum geli, hehehe. Orang-orang yang lalu-lalang pun memandang kami (well, terutama aku) dengan heran, tapi aku nggak peduli karena aku begitu senang. Selesai berfoto aku memandangi poster itu selama beberapa detik, membaca semua tulisan yang ada di sana dan melihat setiap detailnya. Ada gambar poster film Mika dan cover novel "Waktu Aku sama Mika" di sana. Juga ada gambar Vino dan Bastian dan Velove Vexia yang sedang makan pizza. Aku tersenyum bangga. Novelku masuk jajaran best seller dan difilmkan. Ini merupakan rezeki dari Tuhan. Ia memberikan banyak waktu luang setelah aku bekerja, jadi aku bisa menulis dan berkarya lebih banyak. Aku benar-benar bersyukur, Tuhan maha baik dengan memberikanku rezeki dari banyak pintu. Mungin sedikit aneh bahwa waktu itu aku bersyukur di depan poster, hehehe, tapi ini jadi pelajaran untukku bahwa setiap hal yang kulihat, setiap hal yang kurasakan selalu terselip rezeki dari Tuhan di sana. Dan kali ini aku melihatnya melalui sebuah poster.
"Waktu Aku sama Mika" dan "MIKA" the movie :)
Hahaha, gak bisa berhenti nyengir! :p
Pizza untuk moment istimewa!
Sebenarnya pasti hanya aku dan Ray yang tahu bahwa aku adalah penulis dari novel yang posternya dipajang di lorong. Tapi entah kenapa aku berjalan dengan bangga menuju coffee shop sambil terus tersenyum dan terkadang terkikik (lol, aku memang silly). Ketika sampai kami memesan pizza dan Ray mengucapkan selamat padaku sekali lagi. Pizza adalah makanan perayaan bagi kami. Tadinya bagiku karena setiap kali aku berulang tahun atau ada moment istimewa pasti memesan pizza (itulah kenapa pizza menjadi makanan icon film Mika dan novel Waktu Aku sama Mika, hehehe). Tapi setelah ada Ray pizza menjadi makanan istimewa untuk kami berdua :) Aku mendapatkan hari jumat yang menyenangkan. Aku mempunyai waktu berkualitas dengan Ray, mendapatkan hadiah kejutan (aww, Minnie Mouse, lol), berburu buku-buku bagus, melihat poster dengan namaku di sana dan makan pizza dengan keju yang banyak. Tapi yang paling istimewa adalah aku pulang ke rumah dengan membawa pelajaran berharga, bahwa rezeki bukan selalu tentang angka dan nggak ada satu makhluk Tuhan pun yang kekurangan. Jika aku nggak punya suatu hal, pasti Ia menggantinya dengan hal lain. Istimewa, khusus untukku. Aku juga percaya apapun pekerjaan yang kupunya, selama aku berusaha dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan mencukupkan apa yang aku butuhkan. Aku berjanji akan lebih membuka mata dan hati untuk melihat hal-hal yang ada di sekitarku. Tuhan memberikanku banyak rezeki: waktu, kesehatan (aku cukup fit untuk pengidap scoliosis 58 derajat), teman-teman yang baik, keluarga yang bahagia, sense of humor dan banyak lainnya. Dan... eh, tunggu! Aku menulis post ini di minggu malam. Ini adalah rezeki! Karena hari bekerjaku adalah selasa sampai jumat jadi aku punya 1 hari libur ekstra dibandingkan orang lain, hihihi... Tuhan, Kau memang maha baik! Lewat Miss. Rifa aku diingatkan apa itu rezeki. Terima kasih untuknya, dan aku merasa sangat blessed diberikan kesempatan untuk mengenalnya.
Waktu sudah semakin larut, sekarang sudah waktunya aku naik ke atas tempat tidur dan menyusup ke balik selimut. Aku masih punya waktu 1 hari penuh untuk beristirahat sebelum hari selasa mulai kembali bekerja. Ini rezeki. Dan Tuhan beri aku banyak :)
Berpose dengan poster film MIKA. Siapa yang menyangka! :’)
Hai, bloggies! Apa kabar? Sekarang sedang musim hujan dan dari yang kulihat di TV Jakarta sedang kebanjiran, ya... Aku juga dapat kabar dari salah seorang sepupu yang tinggal di sana bahwa beberapa jalan terpaksa nggak bisa dilewati karena berbahaya, bahkan beberapa kantor dan sekolah diliburkan. Wah, semoga saja cepat berlalu, dan untuk sekarang semoga teman-teman di Jakarta diberikan kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan. Amen... Doaku dan keluarga di Bandung selalu ada untuk kalian :)
Beberapa hari sebelum aku mendengar kabar tentang banjir di Jakarta, aku dan keluarga sempat ke sana. Tepatnya pada tanggal 15 Januari lalu untuk menghadiri gala premiere film Mika di Kemang Village. Yup, Mika, film yang diinspirasi dari novel pertamaku "Waktu Aku sama Mika" akhirnya diputar juga di bioskop :) Aku sangat excited dan sedikit deg-degan waktu di perjalanan. Suasana di mobil sangat gembira karena kami (aku, Ibu, Bapak dan Puja, my brother) nggak bisa berhenti goofing around dan mengobrol sepanjang perjalanan. Nggak lupa diselingi beberapa lagu konyol yang kami nyanyikan sampai suara kami serak, hehehe. Aku bersyukur karena keluargaku ikut bahagia dengan project film ini. Mereka nggak bisa berhenti memuji dan menggodaku tentang hal ini :)
Perjalanannya memang menyenangkan, tapi bukan berarti tanpa hambatan. Hujan beberapa kali turun, kadang besar kadang rintik-rintik, malah sempat membuat Bapak dan Puja bergantian menyetir karena khawatir mata lelah akibat memaksakan melihat menembus hujan. Setelah sampai Jakarta kami juga sempat nyasar beberapa kali, hehehe, karena tempat yang kami tuju rupanya masih baru, jadi saat bertanya pada penduduk sekitar banyak yang nggak tahu. Untung saja akhirnya kami menemukan tempatnya tepat sebelum hujan bertambah buruk dan tepat 1 jam sebelum acara dimulai. Ketika sampai di area parkir aku bertemu dengan Habibie, temanku yang juga akan datang ke gala premiere. Aku janjian dengan 2 teman yang lain, yaitu Adipati dan Dara, tapi sampai kami sekeluarga masuk ke dalam mall mereka belum juga datang. Mungkin karena hujan.
Kami langsung mencari tempat makan di dalam mall. Karena sebentar lagi acara dimulai, kami mencari tempat yang dekat dengan lokasi gala premiere, yaitu di samping bioskop. Ternyata di sana aku bertemu kembali dengan Habibie yang mempunyai alasan sama kenapa memilih tempat itu, hehehe. Setelah beberapa menit aku kembali menemukan wajah yang familiar, bukan kedua teman yang sedang ditunggu melainkan Om Izhur Muchtar pemeran Bapak di film Mika. Lucu sekali karena ketika beliau menyapa kami, aku dan Puja justru mengomentari tentang betapa miripnya beliau dengan Bapak :D Saking miripnya aku sampai meminta mereka duduk berdampingan lalu mengambil fotonya, hihihi.
Brother!
Ini mirip apa kembar? Hehehe :p
Setelah makan kami dan Habibie langsung ke bioskop, di sana ternyata sudah penuh dengan pers, kru dan cast Mika juga para undangan. Sempat kebingungan mau kemana, hahaha, sampai ada Mas David dari IFI menyapa dan mempersilakan kami menunggu di cafe. Aku sebenarnya merasa nggak enak karena harus meninggalkan Habibie, apalagi 2 orang temanku yang lain entah dimana. Aku juga sudah diberitahu berkali-kali bahwa nanti aku pasti akan sibuk jadi tas dan handphone lebih baik dititipkan saja pada anggota keluargaku. Tapi dasar bandel, aku ngotot bawa-bawa tas besar dan handphone ke mana-mana sampai beberapa kali jatuh dan marah-marah sendiri, hahaha. Padahal sebetulnya percuma karena nampaknya sinyal HP ter-block di dalam bioskop, dan aku harus keluar dulu untuk menghubungi teman-teman. Syukurlah Dara akhirnya datang tepat sebelum aku diminta kembali ke cafe (sepertinya aku sempat membuat kesal karena terus-terusan bolak-balik, hehehe).
Aku bertemu dengan Vino, pemeran Mika, yang langsung duduk di meja yang sama untuk berbicara tentang perannya di film. Aku memang baru melihat trailer dan behind the scene nya saja, tapi entah kenapa aku percaya Vino bersungguh-sungguh dengan perannya ini. Hatiku lega karena Vino juga menghormati Mika sebagai seorang fighter dan ingin "menghidupkan" Mika kembali dengan caranya sendiri. Sayangnya di tengah obrolan kami sudah dipanggil untuk jumpa pers, padahal masih banyak yang ingin aku bicarakan. Saat kami berjalan menuju tempat jumpa pers Velove, pemeran Indi di film datang (iya, dia jadi aku, hehehe). Kami berkenalan singkat dan langsung berkumpul dengan cast dan kru yang lain. Aku masih ngotot bawa tas sendiri waktu itu, tapi setelah satu kali lagi terjatuh, okay dengan terpaksa aku titipkan tas Hello Kitty kesayanganku pada Ibu :p
Ibu dan Vino.
Aku bingung harus ngapain waktu jumpa pers, hehehe, maklum pertama kali. Tapi setelah melihat yang lain ternyata yang aku lakukan cuma harus berdiri dan menjawab pertanyaan. Lucunya aku beberapa kali mau "dadah-dadah" sama Ibu yang berada di balik kerumunan pers, tapi sayang yang terlihat aku seperti sedang "dadah-dadah" sama kamera, hahaha :D Setelah itu kami langsung bubar dan menunggu untuk masuk teater. Waktu mau menghampiri Ibu ada yang memanggilku dari belakang. Wah, ternyata itu Adipati. Aku pikir dia nggak jadi datang karena sudah jauh dari jam janjian kami, tapi ternyata dia terjebak macet. Berhubung waktunya hanya sedikit, jadi kami nggak sempat ngobrol, hanya berbasa-basi sebentar, berfoto lalu masuk ke teater dengan terpisah. Habibie dan Dara juga entah dimana, aku celingak-celinguk nggak ketemu, hehehe. Btw, aku senang Adipati datang ke premiere Mika. Karena biasanya aku yang datang ke premiere film dia, nah kali ini sebaliknya :)
and then...
Horeee, gantian Adi yang ke premiere filmku :D
Jujur saja, aku agak canggung di sana. Bukan, bukan dengan suasananya, tapi karena kebiasaanku yang kalau jalan selalu gandengan dengan Ibu dan Bapak kali ini harus berjalan lebih dulu bersama para cast dan kru. Sampai-sampai aku nggak bisa berhenti menoleh ke belakang dan selalu bertanya, "Ibu mana?", "Bapak mana?" pada siapapun yang berada di dekatku setiap kali merasa 'kehilangan' mereka, hehehe. Teater pertama yang kami masuki adalah teater tempat peserta nonton bareng (kalau nggak salah mereka dari "Gudang Film"), di sana kami langsung berjejer, membelakangi screen dan menyapa mereka. Kami juga melakukan sesi tanya jawab singkat. Sayangnya di dalam teater dilarang mengambil foto, jadi meski aku sudah lirik-lirik Bapak untuk minta di foto beliau tetap menyimpan kameranya di saku kemeja, huhuhu :")
Teater kedua yang kami masuki adalah teater pers. Hampir sama seperti sebelumnya, ada sapaan dan tanya jawab, cuma bedanya kali ini boleh mengambil foto. Asyik, asyik, hehehe. Nggak apa-apa deh dibilang norak. Ini kan pengalaman yang berharga :) Di sela-sela acara aku sempat bertanya pada Velove bagaimana rasanya memakai brace, karena di film dia memerankan aku yang mengidap scoliosis dan harus memakai brace (penyangga tubuh) 23 jam per hari. Katanya rasanya pegal dan sulit sekali untuk memakainya saat adegan digendong. Wah, salut untuknya karena dia memakainya selama hampir 2 minggu! :) Setelah itu, kami baru memasuki teater yang terakhir, tempat kami akan menonton "Mika" untuk pertama kalinya. Karena belum terbiasa berdiri dalam jangka waktu yang lama, kaki dan punggungku lumayan sakit, tapi perasaanku bahagia :)
Dari kamera pers :)
Deg-degan, begitulah rasanya waktu lampu teater diredupkan. Bayangkan, aku dan keluarga akan menonton film yang diinspirasi dari kisah hidupku... Aku sempat menahan napas beberapa detik dan langsung tersenyum waktu filmnya dimulai. Aku nggak akan bercerita tentang alur filmnya di sini, tapi perasaanku benar-benar campur aduk. Melihat beberapa adegan rasanya seperti flashback karena digambarkan dengan sangat real. Aku juga tertawa dan menangis di beberapa scene... Waktu film selesai aku langsung melihat wajah Ibu dan Bapak, mereka juga ternyata menangis. Terutama Ibu, matanya terlihat sembab sekali. Kami langsung berpelukan beberapa saat dan nggak beranjak dari kursi sampai screen benar-benar hitam. Lasja, sutradara yang telah mewujudkan film ini menghampiri kami dan bertanya tentang pendapat kami setelah menonton Mika. Ibu bilang filmnya bagus dan pesannya tersampaikan dengan baik. Bapak bilang pemilihan aktornya sangat bagus sehingga semuanya terlihat natural. Sedangkan aku... aku cuma bisa tersenyum dan bilang, "Mika 'hidup' lagi".
Teater sudah sepi dan di bangku penonton hanya tinggal Habibie yang ditemani Mbak dan seorang temannya. Aku menghampiri mereka dan bertanya pendapat mereka tentang film yang baru saja mereka tonton. Syukurlah mereka menyukainya. Habibie bilang filmnya bagus dan bermakna. Thank God :) Karena aku nggak bisa menemukan Adipati dan Dara aku mau langsung pamit pulang saja, tapi ternyata Vino menunggu kami di depan screen. Aku berterima kasih padanya karena telah membawa kembali Mika dan mengenalkannya pada orang-orang yang belum sempat mengenalnya. Vino bilang dia senang dan bersyukur jika aku dan keluarga puas. Dia bilang semoga di surga sana Mika sedang tersenyum melihat kami. Amen... Amen... :)
Vino ternyata pilihan yang tepat untuk memerankan Mika!
Aku dan keluarga langsung pamit pulang setelah mengucapkan terima kasih pada semua yang terlibat di film ini. Bagian kostum, lapangan, dll semuanya telah memberikan yang terbaik untuk film ini. Aku tahu karena aku bisa melihat dari hasilnya. Oh, iya aku ternyata bertemu dengan banyak teman-teman pembaca di sana, aku ingin sekali menyapa semuanya tapi sayang waktu sudah semakin larut dan kami harus pulang ke Bandung. jadi seandainya ada di antara teman-teman yang bertemu denganku waktu itu tapi belum sempat berfoto atau mengobrol, aku minta maaf... Lain kali kita bertemu lagi, ya :)
Suasana perjalanan pulang sama seperti ketika perginya, kami bahagia dan semua nggak bisa berhenti menggodaku. Bedanya kali ini energi kami benar-benar sudah banyak berkurang dan dengan pengalaman yang baru. Ibu dan Bapak bisa mengenal Mika lebih baik, bukan dari sekedar apa yang aku ceritakan, yang mereka baca di buku harianku, atau bahkan dengan pertemuan singkat mereka yang jarang berjalan baik... Seperti yang kubilang sebelumnya, Mika seolah hidup kembali. Ibu bahkan bilang bahwa dulu nggak pernah membenci Mika, beliau hanya khawatir denganku karena Mika jauh lebih tua dariku. Dan untuk pertama kalinya aku dengar dari Ibu bahwa dia bahagia karena tahu Mika membuatku bahagia. Ah... what a perfect day... :)
Hujan turun kembali, Ibu jadi satu-satunya yang tertidur di perjalanan pulang. Bapak dan Puja sibuk membicarakan film Mika sementara aku menanggapinya dengan senyuman. Aku sedikit bertanya-tanya dalam hati apakah Mika bangga denganku? Apakah yang aku lakukan ini benar? Apakah Mika bahagia karena banyak orang yang mengetahui kisahnya? Ah, aku rasa yang terpenting aku mempunyai maksud baik dengan film ini, aku percaya Mika tersenyum saat aku berusaha melakukan hal yang benar. Aku ingin yang menonton nggak takut lagi jika bertemu dengan orang yang seperti Mika, aku juga ingin orang-orang nggak memandang sepele lagi tentang kesehatan tulang belakang seperti apa yang aku alami. Aku jadi ingat sesuatu yang Vino katakan ketika pers bertanya tentang perasaannya memerankan Mika. Dia bilang, "Buat gue Mika bukanlah sosok, tapi jiwa yang bisa diteruskan kepada orang lain. Jadi, perjuangan Indi nggak terputus. Mika adalah...", kata-katanya terhenti, lalu dia menoleh ke arahku dan bertanya, "Mika adalah apa Indi?"
Dengan mantap aku tersenyum dan menjawab, "AIDS fighter!".
Iya, aku harap yang menonton film ini bisa merasakan semangat Mika. He's a real fighter. Bahkan kepergiannya nggak bisa menghentikan perjuangannya.
Mika nggak pernah benar-benar pergi... :)
sugar kecilnya Mika yang sudah besar,
Indi
nb: Sampai tanggal 27 Januari 2013 Film Mika (IFI dan First Media Production, dengan sutradara Lasja. S) sudah ditonton oleh 109.429 penonton yang artinya berada di urutan kedua perolehan penonton terbanyak dari film-film yang beredar di tahun ini.Penghasilan dari film ini akan digunakan untuk membantu "Mika-Mika" yang lain.
***
Twitter: here | Facebook: here | Contact Person: 081322339469