Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Tulisan untuk Robin Williams, dari Seorang Penggemar

11 November 2014
Ini mungkin bakal kedengeran aneh, tapi hari ini gue akan bercerita tentang Robin Williams. Ya, I know, ini sudah 2 bulan sejak kepergiannya, tapi rasanya baru siap untuk membagi perasaan gue di sini. Sebagai fans beratnya, teman-teman gue banyak yang heran kenapa gue nggak tampak terlalu sedih dengan kepergiannya, nggak update status tentangnya 3 kali sehari dengan isi yang mengharu biru, nggak membicarakan sebab dari kepergiannya... Jawabannya sederhana; karena gue nggak mengenalnya secara personal. Gue bukan teman, kerabat apalagi keluarga. Gue hanya fans. Dan gue rasa meratapi kepergiannya di media sosial bukan hal bijak. Robin Williams memiliki keluarga, 3 orang anak yang sangat ia cintai yang tentu saja berduka. Bayangkan jika kita berada di posisi mereka, bagaimana rasanya membaca banyak tulisan yang isinya "menyayangkan", "menyesalkan" atau "menertawakan" kepergian ayah kita?

Jadi waktu itu, pagi-pagi sekali. Gue baru saja mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Sambil mengeringkan rambut gue mengecek handphone dan menemukan sebuah update twitter dari Sharon Osbourne. Mata gue langsung terasa panas dan nggak percaya dengan yang gue baca. Robin Williams meninggal dunia... Ya, gue menangis. Dan gue akui itu bukan tangisan kecil. Tanpa gue sadari nafas gue mulai tersenggal-senggal dan air mata gue menetes deras. Gue lalu mencoba menenangkan diri, menarik nafas  dan meneguk segelas air. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk menstabilkan emosi gue. Dengan mata sembab akhirnya gue berhasil berpakaian dan berpikir logis. Di kepala gue memang ada pertanyaan "Kenapa?" yang terus-terusan terlintas, tapi gue putuskan untuk menyimpannya sendiri dan mengucapkan rasa bela sungkawa sewajarnya pada Zelda, putri dari Robin Williams lewat akun twitter nya. 

Gue masih ingat pertama kali melihatnya. Bersama Ibu dan Bapak gue menonton film Mrs. Doubtfire yang kelak menjadi film favorit gue sepanjang masa. Gue sangat menyukai tokoh Natalie yang diperankan oleh Mara Wilson. Di film ia diceritakan sebagai seorang anak yang sangat dekat dengan ayahnya (Robin Williams), yang secara kebetulan di kehidupan nyata ia seusia dengan gue, ---dan gue juga sangat dengan dengan Bapak. Mungkin itu jadi salah satu alasan mengapa gue merasa related dengan film Mrs. Doubtfire. Setelah menonton pertama kali gue langsung merengek untuk menonton ulang filmnya. Syukurlah VCD nya disewakan di rental dekat rumah, jadi gue bisa menonton sesering gue mau. Setiap kali menonton Mrs. Doubtfire, gue selalu tertawa, terharu, dan menemukan hal baru. Gue tumbuh bersama film itu, literally. Dari kecil sampai beranjak remaja. Dari hanya tertawa karena gerakan lucu yang dibuat Robin Williams sampai tertawa karena akhirnya gue mengerti lelucon yang tadinya hanya membuat Ibu dan Bapak tertawa. Lambat laun gue menemukan bahwa film itu sangat menginspirasi, semakin menambah alasan mengapa gue sangat terobsesi dengan Mrs. Doubtfire...

Lalu gue tumbuh menjadi seorang remaja. Setiap minggu gue tetap setia untuk datang ke rental dan menyewa VCD Mrs. Doubtfire. Kondisi keping VCD nya sudah nggak terlalu bagus, cover plastiknya lepas karena sering dibuka tutup. Entah mengapa membuat gue sedih. Mungkin terlalu banyak orang yang menyewa VCD ini dan nggak semuanya memperlakukannya dengan hati-hati. Dan sebuah ide nakal pun muncul, ketika gue kembali ke rental untuk mengembalikan VCD gue membuat wajah sangat menyesal. Dengan sedikit terisak gue berkata pada pegawai rental bahwa gue nggak sengaja menghilangkan VCD nya. Tentu saja ia nggak langsung percaya, gue telah menyewa VCD yang sama selama bertahun-tahun dan selalu kembali dengan selamat. Tapi gue tetap bersikeras, ---lalu nggak bisa menahan senyum ketika pegawai rental berkata gue harus membayar denda sebesar Rp. 40.000. Gue menang.

Dress gue mirip seperti Mrs. Doubtfire di scene kolam renang :)

Gue mempunyai VCD Mrs. Doubtfire sendiri. Well, ini milik rental tapi kan gue sudah membayar denda. Gue bisa menontonnya kapan saja gue rindu. Adegan Daniel Hillard (Robin Williams) yang menari dengan diiringi lagu Dude (Looks Likes a Lady) menjadi favorit gue. Bagaimana nggak, itu adalah lagu dari band kesukaan gue Aerosmith. Gue juga hapal dengan dialog-dialognya, termasuk 'nyanyian spontan' Robin Williams di adegan Raptor Rap. 
Gue sangat bahagia mendapatkan apa yang gue mau. Tapi hati kecil gue merasa bersalah, meski gue membayar denda tetap saja gue berbohong. Pihak rental nggak tahu bahwa sebenarnya VCD nya nggak hilang... Akhirnya, dengan perasaan menyesal yang semakin besar gue mengembalikan VCD nya kembali. Gue bersedih karena harus berpisah dengan Mrs. Doutfire, tapi akan lebih sedih lagi jika gue menjadi seorang pencuri.

Mungkin teman-teman heran, kenapa gue nggak punya VCD Mrs. Doubtfire sendiri padahal sangat menyukai film itu. Bukan tanpa usaha, selain meminjam ke rental gue juga mencari ke berbagai toko CD, tapi selalu kehabisan. Bahkan gue sampai meninggalkan nomor telepon di Disc Tarra untuk berjaga jika ada kiriman VCD Mrs. Doubtfire lagi. Sambil menunggu gue pun mengoleksi film-film Robin Williams yang lain. Dari hasil menabung gue akhirnya memiliki puluhan judul VCD dan DVD Robin Williams. Beberapa ada yang sulit didapat karena harus memesan terlebih dahulu, tapi yang paling sulit dicari tetap Mrs. Doubtfire.

Selama pencarian VCD itu kekaguman gue terhadap Robin Williams semakin bertumbuh. Jika awalnya gue hanya menikmati peran-perannya yang kocak seperti di film Hook, Jack, Patch Adams atau Flubber, lama kelamaan gue juga menikmati peran-perannya yang serius. Perannya di film The Fisher King sebagai orang dengan gangguan jiwa membuat gue patah hati dan merasa meyesal untuknya. Atau perannya di One Hour Photo sebagai maniak yang kesepian membuat gue gemas sekaligus bersedih. Death Poet of Society, House of D, Man of the Year, Death the Smoochy, Night Listener dan banyak banyak banyak.... lagi. Gue nggak pernah kecewa dengan actingnya. Ia bisa jadi siapa saja.


Lalu, beberapa tahun kemudian ketika gue kelas 2 SMA ada kejutan menyenangkan. Seorang teman Ibu yang tahu bahwa gue menyukai film-film Robin Williams menelepon untuk bertanya apakah gue sudah mempunyai VCD Mrs. Doubtfire. Dengan suka cita gue menjawab "belum" dan memintanya untuk membelikannya dulu lalu berjanji uangnya akan gue ganti. Gue bahagia bukan main, akhirnya setelah menunggu sekian tahun Mrs. Doubtife masuk ke dalam koleksi film gue :) Judul-judul lain pun sering gue tonton ulang, tapi tetap Mrs. Doubtfire jadi yang paling sering. Waktu kecil gue sempat memiliki kalender yang ditandai setiap kali gue menonton film itu (I know, kinda silly, lol). Tapi entah kenapa dihitungan ke 50 gue berhenti dan gue nggak ingat sudah berapa ratus kali totalnya gue menonton film itu :)

Gue berduka, sangat. Waktu perjalanan bekerja pun air mata gue beberapa kali keluar. Gue mengungkapkan perasaan gue pada Ibu, Bapak dan Ray, tapi nggak sama yang lain. Jika gue menangis meraung-raung, merengek dan marah karena Robin Williams pergi, itu artinya gue egois. Gue nggak boleh merasa jadi orang yang paling berduka sedunia, sementara ada keluarga dan kerabatnya yang pasti merasa lebih kehilangan. Gue putuskan untuk mengekspresikan perasaan gue dengan lebih positif, sebisanya. Koleksi film-film Robin Williams akan gue gunakan untuk membuat "A Week for Robin Williams", 1 minggu yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Gue beruntung lahir di masa kejayaannya, ketika ia bermain di banyak film. Tapi untuk anak-anak yang lebih muda dari gue, mereka mungkin hanya menonton filmnya beberapa tahun kemudian setelah dirilis. Atau malah baru mengenal filmnya justru ketika Robin Williams sudah pergi.

Jadi gue bawa beberapa VCD dan DVD Robin Williams ke preschool tempat gue bekerja. Gue memilih film-film harmless yang cocok dengan usia murid-murid gue yang masih di bawah 3 tahun. Mereka nggak mengenal film-filmnya, tentu saja, tapi meraka antusias ketika memilih judul film untuk movie time. Akhirnya film "Happy Feet" lah yang menjadi pilihan. Sengaja gue meredupkan lampu kelas dan membesarkan volume suara TV. Lalu gue melihat pemandangan yang luar biasa, anak-anak duduk dengan manis dan terpukau dengan suara Robin Williams. Ali, salah satu murid gue bahkan menggoyang-goyangkan kepalanya ketika mendengar Robin Williams bernyanyi. Dalam sejarah gue mengajar, ini adalah movie time yang paling sukses! Biasanya anak-anak selalu berlarian kesana-kemari setelah beberapa menit film dimulai, tapi Robin Williams ternyata berhasil membuat mereka terhipnotis. Gue ikut senang, meski dalam hati ada sedikit haru karena anak-anak nggak tahu bahwa pemeran Ramon (dan juga Lovelace) sudah meninggal... :)

Preschoolers juga nonton film Robin Williams :)

Ada beberapa teman yang mencoba menyinggung tentang penyebab kepergian Robin Williams pada gue. Karena reaksi gue terhadap kepergiannya mereka mengira gue nggak tahu apa-apa. Padahal mereka salah... Gue sudah tahu bahkan di hari ia pergi, tapi gue memang menolak membicarakannya. Gue sengaja nggak menonton TV, membaca berita atau melihat di internet tentang itu. Gue nggak mau melihat/membaca media yang memberikannya label-label atau judgement yang menyakitkan. Di hari pertama saja timeline gue sudah penuh dengan update tentang Robin Williams dari berbagai media, bahkan dari fans yang menyudutkanya. For God sake, ia sudah meninggal. Membaca beritanya bahkan membuat gue lebih sedih daripada menghadapi kepergiannya. Gue mengerti ia seorang public figure, tapi kenapa harus melupakan fakta jika ia juga seorang suami, seorang ayah, bagian dari sebuah keluarga yang sangat mencintainya. Gue nggak mau Bapak (yes, my dad), dibicarakan seolah beliau hanya objek, bukan makhluk hidup. Dan gue percaya keluarga Robin Williams juga nggak menginginkan ia dibicarakan seperti itu. Kita mungkin sering mendengar cerita tentang hidupnya dari media, tapi nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. 

Di hari terakhir "A Week for Robin Williams" gue menonton film favorit gue sepanjang masa, Mrs. Doubtfire. Gue masih tertawa ketika mendengar lelucon-leluconnya, masih merasa 'malu' ketika mendengar lelucon dewasanya :) Tapi arti filmnya ini jadi lebih dalam dari sebelumnya. Monolog Robin Williams tentang keluarga membuat gue tersenyum haru; 
''Beberapa keluarga hanya mempunyai Ibu, sementara keluarga lainnya hanya mempunyai Ayah. Mereka mungkin tak bertemu untuk beberapa hari, minggu, tahun... bahkan selamanya. Tapi selama masih ada cinta, kita akan selalu terikat menjadi sebuah keluarga."
Kepergian Robin Williams bukan berarti ia sudah nggak memiliki cinta, ini hanya sudah waktunya. Dan tulisan ini hanya ungkapan perasaan gue. Sebuah hadiah kecil yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Untuk seorang idola, dari seorang penggemar...



nb: Bapak bercerita waktu kecil film pertama yang gue tonton di bioskop adalah Alladin. Dan beberapa bulan yang lalu ketika gue menulis list film kartun 2 dimensi terbaik di majalah GoGirl gue memasukan Alladin ke dalam list. 
Ya, Alladin, salah satu film Robin Williams... Sungguh kebetulan yang manis :)

a fans,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 28 Februari 2014

Edelweiss (Sound of Music~OST) by Me :)



Funny story behind this video:
Yesterday I've finished re-watching "Annie" and today I decided to dressed like Annie the little orphan. I asked my dad to take some pictures, but he suggested to have it recorded. I said I would like to sing, and looked for Annie's original soundtrack on my playlist. But accidentally I found "Edelweiss", a song from "Sounds of Music". I sang it spontaneously and my dad didn't missed to record me. That's why in the end of video I said,
"This song is way too fast. I wanna have another song". Lol :p


Ps: Maria von Trapp, "little girl" yang dulu menginspirasi tokoh Louisa di film musikal Sound of Music meninggal dunia 4 hari yang lalu. Hati gue sangat merasa kehilangan karena waktu kecil gue sangat terobsesi dengan filmnya (literally, gue menontonnya ratusan kali). Tapi di sisi lain gue juga tersenyum karena baru tahu bahwa cucu-cucu Maria (anak-anak dari saudara-saudaranya. Maria tidak menikah) meneruskan jejaknya dalam dunia musik sebagai The von Trapp Children. 

smile,

Indi


***
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 02 Desember 2013

Launching Marvel 4D: New Movie "Avengers Battle in Bali" Trans Studio Bandung :)

What I wore? Headband: my DIY | Dress: Minimal | T shirt: Trans Studio | Necklace: Accessarie | Socks: BIP | Shoes: GOSH

Hai bloggies! Gue menulis ini masih dalam suasana "liburan", nih, hehehe. Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu dari tulisan-tulisan sebelumnya bahwa gue baru saja operasi pengangkatan tumor payudara pada tanggal 11 November lalu, dan sejak tulah gue menjalani masa "liburan" dari aktivitas sehari-hari. Tapi meskipun "liburan" bukan berarti gue di rumah saja, lho. Entah gue ini tangguh atau memang pasien yang bandel, tapi 5 hari sejak pasca operasi saja sudah jalan-jalan untuk interview di radio CBL, dan 2 hari setelah lepas jahitannya langsung mampir ke Trans Studio Bandung untuk memenuhi undangan launching Marvel 4D, hehehe. Tapi tentu saja nggak lama-lama, dong. Kesehatan gue masih belum memungkinkan, dan gue nggak mau merusak "liburan" ini dengan bed rest karena kelelahan :)

Pasca operasi tubuh gue memang terasa lemah. Kepala gue sering pusing dan juga mengalami beberapa masalah perut seperti sembelit dan mual-mual. Tapi di luar itu dan ditambah nyeri-nyeri di daerah dada, gue merasa cukup fit. Memang sih kadang perasaan fit nya agak-agak blur sama perasaan bosan. Jadi gue harus hati-hati mengartikan apakah badan gue itu sehat betulan atau karena bosan jadi ingin bergerak terus, hahaha :D Waktu mendapat telepon dari Trans Studio mengenai undangannya, gue baru saja bangun tidur dan menjawabnya dengan "iya-iya" yang cepat. Karena exited gue lupa bahwa tanggal 22 November itu besok, dan langsung menyetujui tanpa ingat kondisi kesehatan gue. Untung saja ternyata gue cukup fit (ini fit betulan, bukan perasaan, hahaha), semalam sebelumnya nafsu makan gue mulai kembali dan pusingnya berkurang. Syukurlah :)

Karena undangannya hanya untuk satu orang, jadi gue hanya diantar Bapak sampai loby Trans Studio Mall dan akan dijemput Ray ketika pulang. Di sana ternyata sudah banyak rombongan dari berbagai kampus yang duduk-duduk di area seputar Trans Studio meskipun mall dan gate wahana belum dibuka. Sempat sedikit bingung karena dimana-mana hanya tampak mahasiswa dengan macam-macam jas almamaternya, nggak tampak undangan yang lain. Sampai gue bertemu dengan salah satu kru Trans Studio yang langsung membawa gue ke gate untuk langsung bergabung dengan para undangan dan media. Ternyata yang lain sudah menunggu di studio Marvel dan sedang bersiap-siap menonton behind the scene nya. Hore!



Hanya 20 orang saja lho mendapat undangan ini, dan gue adalah salah satunya. Beruntung sekali rasanya bisa jadi salah satu dari sedikit orang yang dapat kesempatan untuk menonton lebih dulu, dapat akses masuk Trans Studio sebelum dibuka (iya, jadi hanya kami di sana) dan boleh main sepuasnya sampai tutup. Apalagi episode Super Heroes Marvel 4D yang baru ini istimewa, lho. Dari judulnya saja "Avengers Battle in Bali" sudah ketahuan kalau bakal beda dari yang sebelum-sebelumnya. Yup, film ini mengambil setting di Bali yang dibuat oleh lisensi Marvel Amerika sesuai dengan permintaan khusus Trans Studio Bandung! Keren banget, kan? Dan yang pasti bikin bangga bisa melihat Indonesia didatangi tokoh-tokoh super hero dari Marvel :D
Di sela pemutaran behind the scene, gue dan yang lainnya dapat kesempatan untuk tanya jawab dan saling mengenal dengan sesama sahabat Trans Studio. Meski baru pertama kali bertemu tapi suasana sangat akrab dan santai, apalagi ditambah dengan kehadiran Wolverine dan Captain America yang kocak, hehehe. Setelah itu kami langsung berpindah ke teater dan tibalah saat yang paling ditunggu: Pemutaran perdana "Avengers Battle in Bali."

Sebelum pakai kacamata 4D ;)

Captain America nya imut banget, hehehe :p

Durasi 12,5 menit yang berlangsung benar-benar bikin gue sibuk teriak-teriak, hehehe. Ini bukan yang pertama kalinya gue menonton Marvel 4D, tapi kali ini terasa jauh lebih seru. Efek-efeknya lebih terasa dan nyata. Bayangkan saja selain seat nya melonjak ke sana-kemari, gue juga bisa merasakan efek angin, air, aroma api, asap, gelembung sabun bahkan kelitikan di kaki! Hahaha, gue yang pakai rok pendek sampai harus angkat kaki karena kaget :p Film ini bercerita tentang Tony Stark yang memiliki laboratorium pembangkit nuklir di Bali. Ketika sedang mengadakan konferensi pers tiba-tiba saja dr. Doom yang bekerja sama dengan Loki berusaha merebut reaktor nuklir tersebut. Untung saja ada Hulk, Captain America, Thor, Iron Man dan Spiderman yang bertempur untuk mengalahkan mereka. Meski tenaga nuklir sempat dipancarkan ke satelit senjata untuk menghancurkan Bali, tapi akhirnya mereka berhasil menyelamatkan bumi dari kehancuran. Yang unik, selama adegan-adegan pertempuran berlangsung kita bisa melihat Pura Bali dan Gunung Gede, lho. Jadi suasana Indonesia, khususnya Bali benar-benar terasa!



Wajah-wajah takjub langsung terlihat setelah film selesai, semua setuju bahwa tadi adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Kami semua lalu berfoto di depan teater Marvel 4D dan dilanjutkan dengan jamuan makan siang oleh Ibu Triya Santi selaku Manager Marketing Communication Trans Studio Bandung. Moment ini juga sekaligus menjadi kesempatan para undangan dan media untuk mengajukan pertanyaan seputar film yang baru saja ditonton. Bahkan ada sedikit kuis berhadiah juga. Sayangnya gue nggak kebagian karena ragu dengan jawaban sendiri, padahal ternyata jawaban gue benar :p Tapi meski begitu gue tetap nggak pulang dengan tangan kosong, semua undangan mendapatkan kaos "Avegers Battle in Bali" dengan desain yang ekslusif. Selain itu gue juga sempat berkenalan dengan 2 orang undangan lain, namanya Arif dan Rizki. Salah satu dari mereka sampai bolos kuliah demi menonton film ini, lho. Nih, gue upload fotonya supaya teman-teman kampusnya iri (atau malah dimarahi dosen, hehehe).








Setelah itu acara ditutup dan kami dibebaskan untuk bermain sepuasnya di wahana Trans Studio. Berhubung kesehatan belum terlalu baik, jadi gue hanya memilih satu permainan sebelum berpamitan dengan yang lain. Nggak disangka ketika mengantri wahana Dragon Rider ternyata bertemu dengan sekelompok pembaca novel "Waktu Aku sama Mika" yang mengajak berfoto bersama! Wah, kebahagiaan gue jadi berkali-kali lipat, deh :) 
Pokoknya terima kasih banyak-banyak-banyak untuk Trans Studio Bandung atas undangannya. Sungguh kebetulan yang menyenangkan dapat hiburan singkat (tapi memuaskan) di saat gue belum bisa beraktivitas lama-lama :D Sejak awal dibuka gue sudah jatuh cinta dengan theme park indoor yang satu ini, dan sekarang kecintaan gue jadi makin bertambah. Semoga ada kesempatan lagi untuk mampir ke Trans Studio dalam waktu dekat. Hmm, kalau untuk bermalam tahun baru bersama keluarga sepertinya seru juga, ya? Hihihi *wink*

proud Indonesian,

Indi


__________________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | contact person: 081322339469

Kamis, 20 Januari 2011

13 Things About Me! :)


Halo teman-teman blogger! Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan baik, ya dan nggak ada yang lagi terserang kelopak-mata-bengkak-tibatiba kaya aku, hehehe.

Setelah sekian tahun aku nge-blog (bukan di sini, tapi di blog lain. Kalau di sini sih baru beberapa bulan, lol), aku baru sadar kalau aku belum pernah ceritain fakta-fakta "menarik" tentang diriku. Padahal biasanya blogger hobi banget bikin postingan macam "10 fakta tentangku", "7 things about me", "kehebatan-kehebatan aku yang diakui dunia", atau blah, blah dan lain sebagainya.
Nah, gimana kalau postku kali ini bahas tentang fakta-fakta unikku? Setuju?
Tidaaaak!!!...
Ya, sudah aku lanjutkan *pura-pura nggak denger yang protes bilang "tidak", hehehe*


1. Scolioser
Aku lahir dalam keadaan normal, gemuk dan sehat. Tapi diusia 9 tahun aku mulai nunjukin gejala-gejala scoliosis, seperti postur badan miring dan gerakan yang terbatas. Lalu baru di usia 13 dokter beri aku vonis scoliosis dengan kelengkungan 35 derajat dan mengharuskan aku memakai penyangga tubuh (back brace) selama 23 jam sehari. Yup, aku cuma punya jeda 1 jam perhari untuk melepas brace dan melakukan hal-hal pribadi seperti mandi dan melepas rasa pegal. Aku baru melepas brace di usia 18 tahun (atau kurang, sebelum lulus SMA tepatnya) dan menggantinya dengan terapi yang rutin karena tulangku sudah berenti tumbuh. Sampai hari ini aku masih terapi dan berusaha meminimalisir bertambahnya kelengkungan tulang belakangku yang sekarang sudah 55 derajat.




2. Naturally brunette

Believe it or not, tapi warna alisku memang lebih tua dari warna rambutku!
Waktu lahir rambutku warnanya keemasan, mungkin nama kerennya "strawberry blonde", hehehe. Ajaibnya, alisku warnanya hitam. Sampai-sampai nyokap bilang waktu lahir kepalaku nampak botak saking kontrasnya warna alis dan rambut, lol. Tapi seiring bertambahnya usia warna rambutku semakin gelap. Sampai detik ini, brunette lah warna tertua rambutku. Entah apa nanti akan bertambah tua sampai hitam legam? Who knows?! Hehehehe.


3. I use my left hand to eat

It's my habit since i wasa  baby. Maaf kalau mengganggu mata kalian, lol :D


4. Oh, Heather...
Aku pernah menangis untuk Heather O'Rourke selama semaleman. Sekalipun aku nggak pernah mengenal dia (dia bahkan meninggal waktu aku masih berusia 2 tahun), tapi somehow dia selalu jadi "anak impian" ku. Karena dia lah aku jadi ingin punya anak perempuan ketika menikah nanti. Rambut panjangnya, pipi tembamnya, wajah angelic'nya. She's so perfectly cute! RIP, Heather :')




5. I'm a tidy girl
Aku nggak pernah bisa pergi kemana-mana sebelum beresin kamar. Meski aku terlambat untuk janji sekalipun!




6. I don't mind being fashionably-nerdy

Banyak orang yang nanya kenapa aku selalu pakai feety (stocking tebal pelindung cuaca dingin) dan dress ala anak-anak Amerika tahun 30'an. Jawabanku sederhana aja: Karena nyaman. Aku nggak keberatan dibilang culun, ketinggalan jaman atau jauh dari kata "pretty". Buatku klasik nggak pernah ketinggalan jaman dan jadi diri sendiri adalah fashion yang paling baik.




7. Yes, I am truly a dork
Sejak aku balita, Bokap lebih suka beliin aku buku dari pada boneka. Jadi sejak aku mulai bisa baca ---usiaku 4 tahun--- aku nggak bisa berhenti baca buku. Dari mulai dongeng, ensiklopedia sampai novel-novel klasik. Lucunya, dari ratusan buku yang aku punya, aku cuma punya 2 nama penulis Indonesia di rak bukuku, yaitu: Arswendo Atmowiloto dan... aku sendiri!




8. I love bows & nail polish

They're just so cute and girly :)





9. I'm a movie lovers

Selain buku, hal lain yang aku pikirin kalau insomnia adalaha film. Aku punya ratusan DVD dari berbagai macam genre film. Kebanyakan sih film-film festival Prancis, film keluarga dan film-film musikal. Aku menikmati banget saat-saat nonton di atas tempat tidurku ditemani teh/coklat panas dan cemilan ringan :)




10. I'm a dog wishperer

I'm not joking or try to be funny. Aku mengerti bahasa anjing.
(ya, silakan teriak "Freaaaaaaak" dibelakangku, hehehe...).




11. Excuse me, this girly lady is a rock and roll fans too

Orang-orang sering salah menilaiku. Yah, bukan salah siapa-siapa sih, dengan haircut dan outfit yang selalu aku pakai siapapun nggak akan menyangka kalau aku itu die hard fans'nya Aerosmith! Hahahaha :)
Yup, sejak aku usia 7 tahun alu sudah mengagumi mereka, mendengar musiknya dan mengoleksi semua CD'nya. Bukan itu saja, aku bahkan punya gantungan kunci, topi, t shirt, poster sampai DVD official dari Aerosmith!
So don't judge a book by it's cover, guys ;)




12. I don't eat meat

Aku mulai jadi perscabegetarian sejak usia 15 tahun. Kenapa? I can't answer it, sorry :)


13. Walking to the bookstore and realize i see my name on the book cover

Terima kasih Tuhan novel perdanaku sudah dicetak (hampir) 5 kali. Tapi aku cuma punya 1 copy terbitan pertama di rumah. Hahaha, aku serius! Aku bahkan nggak tahu apa bedanya cetakan bukuku yang pertama, kedua, ketiga, dst, dst :D


***





Surprise? Biasa aja? Atau malah males baca postku kali ini? Hehehe... Kalau ada yang merasa biasa saja waktu baca post ini, terima kasih, artinya kalian sudah cukup mengenalku. Buat yang merasa surprise, ya, ini lah aku, semoga kalian bisa lebih mengenalku sekarang.

Aku nggak keberatan dibilang freak, nerd atau dork. Aku suka jadi diri sendiri karena itu rasanya nyaman. Aku rasa saat orang lain berkata sesuatu tentang kita, jelek atau buruk, itu tandanya mereka peduli. Lagipula, aku selalu percaya bahwa setiap manusia tercipta "spesial" :) So, bagaimana dengan kalian? Sudah siap berbagi tentang fakta-fakta unik kalian? ;)

xo,
Indi


*foto-foto: dokumentasi pribadi, foto heather: heatherOrourke.net