Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2020

Ketika Indi (Akhirnya) Menjadi Annie


Pernah nggak sih kalian punya cita-cita masa kecil yang nggak kesampaian sampai dewasa?

Aku pernah, ---dan akhirnya berhenti karena usia. Bukan, bukan karena menyerah, tapi apa yang aku cita-citakan itu hanya bisa dilakukan oleh anak-anak. Jadi begitu menginjak usia 18, aku tahu kalau harus say good bye sama cita-cita ku itu. Bukan melupakan, tapi lebih tepatnya mengikhlaskan, hehe :) 


Annie, Disney (1999).


Aku masih ingat waktu pertama kali menonton film musikal "Annie" versi Disney yang dirilis tahun 1999 lalu (---iya, sudah lama sekali). Mata dan telingaku sama sekali nggak bisa beranjak dari adegan demi adegan, lagu demi lagu... tarian demi tarian. Padahal, jauh sebelumnya aku sudah pernah menonton film berjudul sama dengan versi yang lain. Tapi entah mengapa versi Disney ini sangat melekat di hati. Mungkin saja karena Alicia Morton, gadis yang memerankan Annie berambut lurus sepertiku. Sementara di semua versi lain Annie, si gadis yatim piatu selalu digambarkan berambut keriting menggemaskan seperti versi versi comic stripnya (yang ada sebelum versi broadway apalagi filmnya)


Aku yang pemalu, ---jauh lebih pemalu dari sekarang, hehe, ---mulai berani mencoba menyanyikan lagu-lagunya. Silently, hanya sekedar lip sync sampai akhirnya berani mengeluarkan suara. Di duniaku, aku adalah Annie. Tapi aku nggak berani memberitahu siapapun. Hanya Tuhan dan boneka-boneka di kamar lah yang menjadi penonton pertunjukan musikalku. Beranjak remaja aku mulai memberitahu cita-citaku pada orang-orang terdekat. Orangtua, terutama. Reaksi mereka? Ternyata tanpa kuberitahu pun mereka sudah tahu, hehe. Terutama Ibu. Mungkin karena sudah terlihat jelas. DVD "Annie" saja aku putar berulang-ulang, lalu inspirasi style untuk dressku pun kebanyakan diambil dari film itu. Jadi mereka nggak terkejut lagi. Kalau sama teman-teman, aku memang nggak terang-terangan karena of course, ---aku tahu diri. Usiaku sudah mulai ketuaan untuk memerankan Annie, dan aku juga nggak bisa bernyanyi. Apa kata meraka kalau tiba-tiba saja aku bilang ingin muncul di pertunjukan musikal? Mau jadi peran utama lagi! Pasti mereka bingung, hahaha.


Tapi aku pikir kalau kesempatan menjadi pemeran utama terlewat, at least aku masih bisa menjadi Annie "ramai-ramai". Lalu mulailah aku menghasut pelatih paduan suaraku untuk membawakan lagu-lagu "Annie". ---Namanya Kak Immanuel, hampir tiap latihan aku bujuk terus sambil memaksanya mendengar lagu-lagunya. Berhasil? Hampir! Karena justru ketika Kak Immanuel dan teman-teman padus setuju, datanglah berita buruk. Dana untuk membuat konser mini kurang, padahal kami sudah berlatih bahkan siap dengan konsep kostumnya. Paduan suara dibubarkan... begitu juga dengan cita-citaku, huhuhu...


Dulu aku ikut paduan suara bukan karena merasa bisa bernyanyi. Bernyanyi di kamar mandi saja jarang, apalagi di depan umum, hehe. Tujuanku ikut karena aku ingin bernyanyi tapi nggak mau menonjol. Aneh kan? Maunya dapat peran Annie tapi pemalunya setengah mati :D Waktu di penghujung usia remaja aku masih mikir mungkin suatu hari aku akan berani untuk ikut audisi musikal, mungkin aku masih bisa "paksa" usiaku untuk dapatkan peran Annie. Tapi beranjak dewasa aku tahu kalau mustahil untuk memerankan anak usia 10-11 tahun (Alicia Morton berusia 12 tahun waktu memerankan Annie). Tubuhku semakin tinggi, belum lagi suaraku nggak senaif dulu karena sudah mengenal pahit manis kehidupan, ahahaha (becanda!)


Akhirnya aku sampai di titik benar-benar ikhlas bahwa aku nggak bisa memerankan Annie. Tapi tetap, aku menjadikan film musikal itu sebagai inspirasi. Filmnya masih kuputar here and there. Bahkan waktu aku punya film layar lebar sendiri yang berjudul Mika, aku minta Ibu membuatkan dress istimewa untuk dipakai ke pemutaran perdana. Dress berwarna merah dengan pita putih di pinggang, seperti Annie :) Aku kembali menjadi Annie di my own world saja. Hampir nggak pernah aku menyebut namanya lagi kecuali saat keluarga atau teman-teman dekat bertanya (ada satu orang teman yang dari dulu sampai sekarang selalu memanggilku dengan sebutan 'Kakak Annie', namanya Wilson). Bahkan suami pun nggak tahu kalau dulu aku punya obsesi untuk memerankan Annie. Ia tahu aku punya dress merah, tapi ia sama sekali nggak menyangka kalau dress itu punya nilai historis sampai akhirnya aku ceritakan :)


Aku memakai dress “Annie” di pemutaran perdana filmku sendiri, “Mika”. Somehow dress ini membuatku less deg-degan :D


Aku punya teman yang berada jauh dari sini, di Jepang. Namanya John Pak. Beliau usianya jauh di atasku, mungkin seusia dengan Bapak. Kami bisa berteman karena sama-sama bermain ukulele. Bisa dibilang aku adalah fansnya karena saat mengikuti channel musiknya, aku masih sangat baru di dunia ukulele. Diawali dengan saling bertukar komentar, kartu pos, lalu kami pun berkolaborasi. Sudah cukup lama terakhir kami bermain musik bersama, mungkin karena sama-sama sibuk, ---setahuku John memang nggak banyak melakukan kolaborasi belakangan. Bulan lalu, entah dapat ilham darimana, aku tiba-tiba saja berkomentar di salah satu videonya, "Seharusnya kamu bikin kolaborasi ala karantina, pasti seru!". Eh, malamnya aku dapat pesan dari beliau yang ternyata memintaku untuk mengisi satu line di lagu yang sedang dikerjakannya. Rasanya senang sekali, karena aku memang rindu berkolaborasi dengannya (---iya, meskipun aku cuma mengisi beberapa detik saja). Tapi rasa senangku rupanya belum apa-apa, karena setelahnya John menginginkan kolaborasi yang lebih imbang, dan aku mendapat kehormatan untuk memilih lagunya! Bisa tebak kan lagu apa yang aku pilih?! :D


Tentu saja aku memilih salah satu lagu dari musikal "Annie". Aku bahkan sudah tahu lagu yang mana yang cocok untuk kami. Tapi sebelum aku beritahu John, aku beritahu Shane lebih dulu tentang siapa itu Annie. Saking senangnya aku sampai berkaca-kaca menceritakan tentang obsesi masa kecil aku (ahahaha...). Dan dengan lantangnya kubilang, "AKU AKHIRNYA JADI ANNIE! CITA-CITAKU AKHIRNYA TERCAPAIIIIII!" Shane mungkin bingung, tapi aku mana peduli, aku terlalu bahagia! Bahkan saking bahagianya aku langsung WhatsApp Ibu untuk minta dikirimi dress Annie buatannya. Nggak lupa aku juga bilang tentang rencana kolaborasiku dengan John Pak, yang ternyata membuat Ibu terharu. Katanya beliau bangga sama aku karena akhirnya mendapat apa yang sudah lama diimpikan :')

... Dan di sini aku baru sadar kalau John belum tentu setuju dengan pilihan laguku. Lah, aku bilang saja belum, kok :'D


Syukurlah, ternyata John setuju dan menganggap lagu "I Don't Need Anything But You" adalah pilihan yang bagus :) Aku bersemangat sekali, ---bisa dibilang agak over, huhu. Masih di malam yang sama aku langsung mengirimkan video lagu asli, chords dan lirik lagunya agar John bisa mengerjakan bagiannya. Sedangkan bagianku? Sudah beres! Iya, sesemangat itu coba. Rasanya ada yang memacu adrenalinku sampai-sampai aku tahan nggak tidur semalaman demi 'menjadi Annie'. Aku sampai meminta maaf berkali-kali pada John karena aku khawatir membuatnya terburu-buru. Tapi John bisa mengerti, katanya beliau tahu betapa aku sangat menyukai Annie, dan ia senang karena bisa menjadi bagian dari apa yang sangat berarti untukku. Oh, my... aku terharu banget sampai-sampai sedikit menangis waktu mengetik balasan pesannya. Lalu akhirnya tangisanku yang 'sedikit' pun berubah menjadi menangis betulan, ---karena Shane ternyata ingin menjadi bagian dari cita-cita masa kecilku juga. Ia setuju untuk bermain gitar untuk mengiringi kolaborasi kami!


Sudah sangat siap untuk bernyanyi dan bermain ukulele! :)


Dress Annie ku, yang selalu terasa magical saat aku memakainya :)


Proses rekaman musik dan videonya terasa seperti mimpi, semuanya berjalan dengan cepat. Tahu-tahu saja video clipnya sudah tayang. Dan rasa bahagiaku jadi berlipat-lipat karena Ibu dan Bapak terus-terusan mengirimiku pesan tentang betapa bangganya mereka. Mungkin saat membaca tulisan ini ada di antara kalian yang menganggap kalau aku dan keluarga bereaksi berlebihan. "Masa nyanyi di YouTube doang bangga," begitu mungkin di benak kalian. Hehehe, itu nggak apa-apa, kok dan sangat wajar. Karena apa yang menjadi 'prestasi' bagi setiap orang kan berbeda. Dan belum tentu orang lain juga punya perasaan yang sama (kecuali kalau suatu hari internet bisa punya virtual feeling, jadi saat membaca tulisan kalian juga bisa sekalian merasakan perasaan si penulis, lol). Buatku berhasil membawakan salah satu lagu dari musikal Annie ini adalah pengingat bahwa nggak ada kata terlambat dalam menggapai sesuatu. Apa yang kita cita-citakan mungkin nggak bisa terwujud di saat itu juga, tapi bukan berarti mustahil, ---bisa saja nanti :)


Video clip "I Don't Need Anything But You" dengan aku sebagai Annie. Yay! :)

Untuk yang membuka blog ini di mobile mode, klik DI SINI untuk menonton video clipnya.


Aku pikir 'cerita Annie' hanya sampai di sini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Tengah malam ketika mengecek notifikasi di instagram, aku menerima komentar yang menurutku... aneh. Dari seseorang yang bernama Sacha Charnin Morrison. Isinya seperti ini;

"Dari semua versi TV dan film, Annie 1999 lah yang paling mirip dengan versi panggungnya. Ayah saya adalah yang mengubah dari kartun menjadi musikal (dengan bantuan banyak orang). Teruslah bernyanyi, di suatu tempat ayahku bisa mendengarnya." ---Komentar diakhiri dengan emoji tepuk tangan dan hati berwarna merah. 

Nggak cukup satu kali aku membaca komentarnya agar yakin dengan maksudnya. Ayah? Siapa yang ia sebut Ayah? Karena penasaran aku ketik namanya di mesin pencari Google. Dan hasilnya benar-benar membuatku kena mini heart attack. Sacha adalah putri dari mendiang Martin Charnin, ---konseptor dari musikal Annie!


Dapat komentar dari putri konseptor musikal “Annie” :’)


Keesokan harinya aku dan Shane menginap di rumah Ibu dan Bapak, bisa ditebak dong aku langsung bersemangat untuk bercerita tentang komentar manis yang kuterima. Aku bilang, aku merasa sangat diberkahi karena kejutan datang bertubi-tubi. Aku pikir waktu akhirnya bisa membawakan salah satu lagu Annie saja sudah lebih indah dari apa yang pernah kuimpikan, tapi rupanya masih ada kejutan lain. Ibu dan Bapak menggoda dengan bilang kalau aku pasti salah lihat, atau yang berkomentar itu akun palsu. Lalu kami tertawa sampai perut kami sakit, hahaha :D Aku bilang, "Lihat saja sendiri kalau nggak percaya," sambil menyerahkan handphonenya pada Ibu. Tapi aku lupa kalau untuk membuka layarnya dibutuhkan password, jadi aku ambil kembali handphonenya. Dan saat itulah aku melihat ada notifikasi yang masuk. Seseorang baru saja memfollowku di Instagram.


Alicia Morton.


Aku difollow oleh ALICIA MORTON!


---Itu Annie sungguhan!!


OMG!


Annie sungguhan :’D



yang akhirnya menjadi Annie,


Indi



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 10 Mei 2020

Persembahan Lagu Ibu Pertiwi dari Indi

Yuhuuu, teman-teman adakah yang memiliki akun Instagram? Pasti banyak iya nggak sih? Soalnya ibuku saja pakai dan aktif di sana, hahaha.
Nggak, kok, ---aku bukan mau ngomongin Instagram. Tapi ingin meminta bantuan kalian, mudah-mudahan berkenan yaaa.
Jadi aku mengikuti sebuah kontes bernyanyi (cover song) yang diadakan oleh "Kejar Mimpi" gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga. Visinya yaitu untuk membentuk generasi muda Indonesia yang positif. Meski aku nggak bisa-bisa amat nyanyi dan main ukulele, tapi boleh dong ikutan. Apalagi aku selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang positif, hihi.

Kalian bisa support aku dengan cara menonton video clip dan tinggalkan "like". Kalau mau ditambah komentar, boleeeh. Aku malah semakin senang, hehehe. Step by stepnya seperti ini:

1. Buka aplikasi instagram.

2. Di kolom "Search" atau "Cari" ketik @indisugarmika. Nah, itu akunku.

3. Lihat post terbaruku, atau video yang ada di fitur IGTV. 

4. Silakan tonton video clipnya, nikmati dan jika suka tinggalkan "like" (juga komentar).


Atau langsung saja klik direct link ini: HERE

Simple kan :)


Lagu yang wajib yang dibawakan adalah "Ibu Pertiwi". Baru ngeh ternyata cocok sekali dengan situasi sekarang, sampai-sampai aku nggak bisa menahan haru waktu membawakannya... :')
Seluruh proses rekaman dan editing dilakukan di rumah dan hanya menggunakan handphone (Iphone 11). Selain bernyanyi, aku juga bermain ukulele. Sementara Shane, suamiku bermain gitar dan keyboard electric. Aku ucapkan terima kasih banyak banyak banyak untuk yang berkenan mendukung. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Dan... get well soon, world! 

xx,

Indi Sugar


-------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 15 Juni 2019

Ulang Tahun yang "Kejepit".

Gimana sih rasanya punya hari lahir yang selalu "kejepit"? Aku tahu rasanya! Waktu lahir aku lebih cepat dari tanggal perkiraan dokter. Alhasil aku lahir di malam Lebaran, waktu Ibu mau beli baju baru. Malah waktu mau mendarat di dunia pun aku literally kejepit, alias terlilit tali pusat, hahaha. 
Setelah dewasa aku jadi terbiasa kalau ulang tahunku jatuh di bulan puasa atau Lebaran (dan somehow libur nasional lain). Nggak selalu, of course karena kalender masehi dan hijriah nggak selalu match. Tapi cukup sering sampai aku jadi semakin ahli bikin bukber atau makan-makan lain dalam rangka perayaan ulang tahun :p

Punya hari ulang tahun di saat orang-orang sibuk dengan keluarga masing-masing, termasuk bersiap mudik memang cenderung membuat hari jadiku terlupakan. Biasanya teman-teman hanya mengucapkan selamat lewat chat dan hanya 1 atau 2 orang yang benar-benar bisa hadir. Kalau mau agak banyakan ya itu dia, aku pakai modus ngajak makan-makan, hahaha. TBH, aku nggak pernah anggap perayaan ultah sebagai sesuatu yang wajib. Yang terpenting sih hanya bisa berkumpul dengan keluarga, ---atau istilah kami mengenang betapa bersyukurnya atas kelahiran anggota keluarga baru (aku)

Tahun ini ulang tahunku kejepit lagi. Kalau 3 tahun kemarin berturut-turut di bulan puasa, tahun ini pas banget di libur Lebaran yang terjepit! Tanggal 8 Juni, tepat di saat orang-orang bersiap untuk kembali ke kampung halaman masing-masing dan anak-anak sekolah (at least di daerahku) sudah mau kembali ke sekolah. Rencanaku tadinya ingin tiup lilin saja di rumah bersama keluarga, suami plus 1 atau 2 teman dekatku. Tapi setelah dipikir-pikir kok mustahil ya karena mereka kan masih belum di Bandung, hahaha. Shane, alias sang suami memberi ide untuk staycation saja, sekalian mengabiskan waktu berdua karena pas Lebaran rumah ramai terus, lol. Aku setuju, karena setelah dipikir mungkin 'tradisi' ulang tahunku harus sedikit berubah karena sudah punya suami. Jadi aku menghargai ide-ide dia, nggak selalu tentang aku :) By the way, rupanya Shane ini sudah ada rencana buat memberi surprise liburan jauh sebelum hari ulang tahunku. Tapi karena aku sudah harus masuk kerja di hari senin, rencana untuk stay di luar Bandung jadi batal. Katanya nanti saja menunggu break sekolah di akhir Juni.

Sehari sebelum hari H di rumah sudah terasa vibes ulang tahunku. Maksudnya Ibu dan Bapak mulai bertanya apa kado yang aku mau, hahaha, bocah banget ya. Tapi ini memang kebiasaan dan buat seru-seruan saja. Aku nggak pernah meminta apa-apa, kok :) Sebalnya, Shane nampak lurus-lurus saja. Nggak ikutan heboh membicarakan ulang tahunku. Dia malah sibuk dengan laptopnya, mencoba booking hotel di sana dan sini karena sedang peak season (resiko ultah kejepit, hahaha). Ada beberapa hotel yang jadi kandidat, tapi sayang yang aku taksir tenyata sudah fully booked. Malamnya Shane bilang mau ke mini market buat beli obat sakit kepala. Pulangnya dia langsung masuk dapur dan lama banget nggak nongol-nongol. Eh, rupanya dia beli bahan-bahan cake dan dia baking cake ulang tahun buatku! Hahaha, nggak jadi sebal deh. Aku malah terharu... :') Meski nggak bisa-bisa amat urusan dapur tapi dia tetap berusaha dan hasilnya enak. Nggak ada foto yang proper di moment tiup lilin karena aku dan Shane sudah berpiyama, tapi kenangan ini sudah pasti nggak akan aku lupakan :)


Berpose dengan kue ulang tahun yang Shane buat. Kejutan! :D

Kado dari Ibu dan Bapak. Isinya ada dua karena ultahku dan Shane hanya selisih 10 hari :)

Pagi-pagi sebelum kami berangkat untuk staycation ternyata ada insiden kecil. Eris, anjing kami telinganya infeksi sampai mengeluarkan nanah. Cepat-cepat aku dan Shane bawa dia ke dokter hewan terdekat. Bersyukur sekali kliniknya sudah buka, karena di hari yang kejepit ini kebanyakan dokter hewan masih tutup. Menurut dokter luka Eris akibat dari keteledoran groomer yang memandikannya menggunakan sampo terlalu keras, dan kurang bersih saat membilasnya. Karena lukanya cukup besar, aku jadi ketar-ketir dan hampir membatalkan rencana menginap. Tapi dokter menenangkan, katanya luka seperti ini sangat cureable meski perlu waktu cukup lama, dan kalau ada apa-apa Eris bisa dirawat inapkan. Akhirnya setelah aku ceramah panjang lebar pada Ibu-Bapak tentang bagaimana cara merawat luka Eris, berangkatlah aku dan Shane dengan hati yang lebih tenang. 

Oh iya aku lupa bilang. Kami staycation di hotel Prama Grand Preanger Bandung, nggak jauh-jauh dari rumah, hahaha. Meski begitu, ketika tiba di hotel aku langsung merasakan suasana yang berbeda. Lebih relax dan happy, ---pokoknya vibes birthday girl nya terasa, lol. Kamar yang Shane booking adalah tipe Naripan suite. Ruangannya cukup luas, lengkap dengan 2 buah unit TV dan bathup. Cocok banget buatku yang hobinya nggak jauh-jauh dari nonton film horor dan berendam lama-lama. Tumben banget, biasanya kalau menginap di hotel begitu tiba kami langsung selonjoran, tapi kali ini kami langsung main ukulele, haha. Idenya Shane buat bawa 2 ukulele (biasanya satu) supaya kami bisa jamming. Pas banget karena aku punya lagu baru yang belum ada video clipnya, judulnya "Love Tofu", jadi kami juga bisa shooting di sini. Puas bermain ukulele kami mulai lapar. Setelah melihat-lihat menu restoran hotel ternyata nggak ada yang cocok bagi kami yang vegan. Untung saja lokasi hotel nggak terlalu jauh dari Jl. Braga, jadi kami bisa mencari makan di sana. Sebenarnya kalau saja nggak hujan kami bisa jalan kaki, dan waktu tempuhnya lebih cepat daripada menggunakan mobil. Tapi mau bagaimana lagi, hujannya nggak nyantai lengkap dengan angin kencang yang siap menerbangkan rokku.


Lagu baru ciptaanku (Shane bermain gitar di sini, dan aku bermain ukulele). Love Tofu.


Pojok kamar hotel yang dekat jendela. Ada TV, sofa dan kursi  untuk bersantai.

Bisa makan-makan sambil nonton TV di sini.

Di area tempat tidurnya ada TV lagi, jadi bisa nonton sambil rebahan :p

Onci bonekaku sudah istirahat duluan :p Eh iya, ini salah satu hotel yang menyediakan guling, lho.

Cuma bisa foto berdua kalau pakai timer :D

Batik ultah kami dari Shane. Bukan dari koleksi yang sama tapi match ya :D

Kami parkir di mall Braga City Walk, setelah itu menyebrang ke restoran Braga Permai karena di sana nggak ada spot parkir. Kehujanan sedikit karena payung kami terlalu kecil, tapi nggak apa-apa sih kami belum mandi ini :p Restoran ini selalu jadi favorit, menunya akrab di lidah dan suasananya nyaman. Bahkan waktu ibu mertuaku datang ke Indonesia, kami juga makan di sini. Menu favoritku adalah pizza sayur dan lumpia goreng. Sayangnya lumpianya habis, jadi diganti dengan pisang goreng. Pas kan hujan-hujan makan pisang goreng sambil minum teh hangat, hahaha. Shane juga tampak menikmati makanannya, dan itu membuat aku tambah happy. Meskipun ini ulang tahunku, tapi aku nggak mau happy-happy sendiri saja. The more the merrier, ---makin ramai makin seru. Dan rupanya dua keponakanku ingin membuat suasana makin seru juga. Iparku kirim pesan, katanya dia, suami dan anak-anak sudah menunggu di lobby untuk memberi kado. Tuh, kan ramai betulan! :D Jadilah sisa pisang goreng kami bungkus dan kami bergegas ke hotel karena nggak mau mereka menunggu terlalu lama.

Benar saja begitu kami tiba di hotel, Ali, keponakanku yang usianya 3 tahun langsung menyambut sambil bilang, "Happy birthday". Suasana kamar yang tadinya sunyi langsung ramai dengan kehadiran mereka. Apalagi para bayi ini ingin berendam di bathup. Banjir kemana-mana. Tapi karena mereka senang, aku juga senang (---cuma nggak senang bagian mengepel lantainya saja sih, hahaha). Lucunya, Ali pikir kamar hotel ini apartemen baruku dan Shane. Dia menolak pulang dan ingin menginap. Setelah dibujuk untuk datang lagi besok pagi, akhirnya dia menurut. Waktu quality time berdua pun akhirnya datang juga, hahaha. Kami berencana untuk menonton film horror. Tapi sebelumnya aku mandi dan makan malam dulu. Nggak ke mana-mana, kami memesan dari kamar hotel. Sayang menu yang kami mau nggak ada, jadi terpaksa diganti dengan nasi goreng yang rasanya hambar dan kurang sepadan dengan harga. Sempat bingung juga film apa yang akan kami tonton. Aku merasa TV yang di depan tempat tidur jaraknya terlalu jauh (maklum, mataku minus hampir 6, lol), sedangkan kalau menonton dari sofa rasanya kurang nyantai. Akhirnya kami memilih "The House with a Clock in its Walls" dan menontonnya dari laptop di tempat tidur! Kurang berasa gregetnya sih, tapi yang penting santai dan suaranya maksimal karena... guess what... Shane memutuskan untuk membawa speakers dari rumah, hahaha.

Kekenyangan di Braga Permai.

The babies yang merecoki kami dan kadonya, hahahaha.

Kami baru menonton setengah jalan tapi kelopak mata sudah semakin berat. Jadi kami putuskan untuk tidur dan melanjutkannya di pagi hari. Nggak tahu gimana dengan Shane, tapi aku tidur nyenyak sekali. Sampai alarm berbunyi pun aku masih setengah tidur, hahaha. Meski mengantuk aku paksakan untuk bangun, mandi cepat (semi mandi, nggak keramas, lol) dan berganti pakaian karena sarapan hanya disediakan sampai jam 10 pagi saja. Untuk vegan kaya kami, menu yang disediakan sangat terbatas. Tapi yang penting perut kenyang saja, deh, banyakin karbo :p Shane makan bubur kacang, kentang goreng, bala-bala dan sayur nangka. Aku juga sama, hanya minus bubur kacang dan diganti kwetiau beranjau daging sapi. Supaya nggak mubazir aku coba pilih-pilih sebelum dipindahkan ke piring. Kan meski nggak makan daging bukan berarti boleh buang-buang daging, dong ;) Sampai kamar hotel kami hanya ngopi-ngopi saja lalu melanjutkan nonton film semalam, sisanya cuma selonjoran karena barang-barang sudah masuk ke dalam tas semua supaya waktu check out nggak ribet. 

Bersantai di dekat kolam renang sehabis sarapan.

Ini kursi konsepnya gimana, mau nyandar susah xD Oya, batik ini juga kembaran dengan Shane tapi gak ada fotonya. Kalau mau lihat bisa nonton vlog kami. Shane lho yang milih :p


Link video vlog ulang tahun. Kalau bosan lihat mukaku di sini, di vlog banyak muka Shane tuh, hahaha.


Akhirnya selesai juga waktu staycation kami. Singkat, tapi lebih dari cukup untuk membuatku happy sehappy-happynya :) Ini ulang tahun yang sangat istimewa karena untuk pertama kalinya kami rayakan sebagai pasangan suami-istri. Rasanya seperti kemarin padahal sudah 2 tahun yang lalu, aku dan Shane baru saling kenal di internet dan membuat lagu bersama bertepatan dengan hari ulang tahunku waktu itu. Pertemanan jarak jauh, Amerika-Indonesia, dan siapa yang tahu kami sekarang hidup di satu negara dan menikah. Di moment ini juga aku rasanya jadi lebih mengenal karakter Shane. Inisiatifnya untuk membuat kue ulang tahun sendiri really touched my heart... Ternyata deep inside dia laki-laki yang manis despite dari luar terlihat cuek. Nggak pernah sebelumnya aku merasa seperti ini. I'm blessed. Aku berdoa semoga masih banyak ulang tahun-ulang tahun berikutnya yang aku habiskan bersamanya, amin :)


birthday girl,

Indi


-----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 26 Mei 2019

Musik Indie ala Indi. Mungkinkah Menang???

Hey bloggiiiiiiies! Apa kabar? Bagimana puasanya, masih lancar ya? Matahari Bandung sedang terik-teriknya. Kalau tengah hari suhunya bisa 31 derajat celsius! Syukurlah aku nggak tergoda dengan segala macam iklan minuman (---termasuk Marjan. Jadi ini prestasi banget ya, hehehe). Yang menjadi godaan justru radang tenggorokan yang datang dan pergi. Minggu lalu aku sudah ke dokter, sembuh, eh sekarang kambuh lagi. Salahku sendiri sih, kurang minum dan kebanyakan pedas :p

Anyway, tulisanku kali ini nggak akan panjang-panjang. Jadi, di bulan puasa ini aku mengikuti kontes musik di Inspira TV. Namanya "Amazing Ramadhan Music Cover Challenge". Nah, timingnya mungkin kurang pas karena suaraku sedang serak, but I do it anyway karena menurutku ini kesempatan untuk menggembangkan hobi bermusikku. Meski jauh dari berpengalaman dan belum punya peralatan yang proper, tapi aku tetap semangat. Jauh-jauh aku buang perasaan untuk membandingkan diri dengan peserta lain yang (sejauh ini aku lihat) lebih matang (baca: punya tim) dan musik juga videonya well produce :) Aku rekam lagu "Amazing Ramadhan" versiku di kamar, dengan aransemen yang dikerjakan sendiri. Yup, meski nggak punya band (hanya ada Shane yang membantu dengan gitar, ukulele dan keyboard) aku putuskan nggak memakai karaoke track yang sudah disediakan agar aku bisa membawakan lagunya dengan style sendiri. Sementara untuk videonya aku menggunakan handphone Iphone 6s milik Shane, ---yang sayangnya mati di tengah shooting karena over heat, huhuhu :') Shooting pun dilanjutkan menggunakan handphone android milikku karena keadaan nggak memungkinkan untuk re-shoot di lain waktu.

Para peserta diminta untuk mengupload video cover ke channel YouTube masing-masing, dan nanti pemenangnya akan ditentukan berdasarkan jumlah penonton. Well, saat tulisan ini dibuat aku memang tertinggal dalam jumlah view meski menjadi peserta pertama yang mengupload video... Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tetap bersemangat dan nggak mau menyerah :) 
Jadi dengan segala kerendahan hati aku meminta teman-teman yang membaca tulisan ini untuk menonton videoku (link disertakan di bawah). Aku akan senang sekali jika kalian bisa memberikan komentar atau masukan. Karena meski aku mengerjakan semuanya secara indie (---maksudnya di kamar, hehe) tapi aku tetap ingin dinilai berdasarkan kualitas. Menurutku itu lebih adil daripada berdasarkan jumlah penonton :)
Terima kasih.

Klik untuk menonton video "Amazing Ramadhan" versi Indi Sugar


________________________________________

UPDATE:


Aku dapat juara ketiga! Jujur, aku nggak menyangka dan langsung histeris pas nonton pengumumannya di TV :') Hehehe... Video yang digarap kurang maksimal karena handphone over heat bikin aku pesimis, apalagi aku cukup kesulitan untuk menambah jumlah viewers di videoku. Aku bahagia sekali, ada hasil dari usahaku dan Shane. Tapi bukan berarti aku akan berhenti bermusik kalau kalah, karena menjadi pemenang hanya "bonus". Aku melakukannya murni dari hati karena aku suka. Di foto ini aku memegang sertifikat dan memakai kaus hadiah dari Inspira TV. Aku juga mendapat uang tunai yang langsung aku gunakan untuk membeli obat Eris anjingku (telinganya infeksi). Praise the Lord... dapat hadiah di waktu yang tepat :)
Buat teman-teman yang membaca ini, aku ucapkan terima kasih banyak untuk dukungan dan doanya. Terima kasih telah "ada" untukku meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung! *peluk*



xx,

Indi


----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 13 Desember 2018

Glamorous Camping? Indi Happy atau Nelangsa? :p

Kayanya bukan lagi rahasia bagi orang-orang dekatku, kalau aku itu lebih suka aktivitas indoor daripada outdoor! :p Eh, bukan berarti aku nggak suka alam atau nature, lho. Aku suka, ---bahkan paling hobi lihat pemandangan. Tapi kalau boleh memilih aku pasti akan prefer menghabiskan waktu di dalam ruangan setelah berjalan-jalan di alam. Bisa menginap di hotel, villa, atau di rumah teman. Pokoknya asalkan nggak tidur di luar aku nggak masalah. Well, IDK, menurutku tidur di bawah bintang hanya terdengar indah di film atau di novel saja. Aku terlalu "takut" dengan udara dingin dan gigitan nyamuk. Jadi jalan-jalannya cukup siang sampai sore saja deh, sisanya di kamar, hehehe. Nah, beruntungnya aku punya suami yang (hampir) sepemikiran. Dia juga suka alam, tapi kalau istirahat pilihnya ya di ruangan meski dia suka kegiatan outdoor macam mengendarai dirt bike, main skateboard dan lain sebagainya (---aku mah nggak, lol).

Makanya waktu Om Reza, adiknya ibuku menawari kami untuk menginap, aku nggak pakai ragu bilang kalau kami pengen tempat yang damai (jauh dari hiruk pikuk kota, bosan aku sebagai orang Kota Bandung, hehehe) dan nyaman. Mau di gunung pun nggak masalah, tapi kalau bisa ---ehm, menginapnya di hotel. Biar sehabis lelah jalan-jalan aku bisa nonton film, berendam air panas atau malah dipijitin. Itulah kenapa aku selalu menolak kalau jalan-jalannya bareng orang lain alias grup, karena aku pasti (dianggap) ngerepotin minta ini-itu. Tapi ya mau gimana lagi aku itu orangnya seimbang, suka alam tapi juga suka moderenisasi :p *ngeles*
Om bilang dia minta tolong temannya, orang travel buat cari hotel yang lokasinya di alam buat kami. Setelah dapat aku langsung dapat kiriman video lewat whatsapp yang isinya kondisi tempat menginap dan pemandangan sekitarnya. Waktu menonton aku dan Shane langsung curiga, kok nggak seperti hotel. Tapi pemandangannya sih bagus, menghadap danau dan sunyiiiii banget. Ternyata benar saja, setelah googling tempat yang dicarikan temannya Om itu ternyata villa. Tadinya aku mau nawar, minta menginap di hotel saja. Tapi setelah dipikir berkali-kali plus diskusi mondar-mandir sama ortu dan suami, akhirnya aku deal. Di video pemandangannya bagus, nggak apalah tanpa room service yang penting sepadan dengan apa yang kami lihat nanti :)

Lokasinya di Pangalengan-Jawa Barat. Aku nggak akan bilang di mana tepatnya (kalian akan tahu alasannya nanti), tapi yang pasti cukup populer dan reviewnya banyak di Google. Karena sudah tahu bakal menginap di villa, aku dan Shane bawa perlengkapan lengkap. Dari mulai makanan (instan dan sayuran, dasar vegan! Lol), selimut, losion anti nyamuk, gitar dan ukulele untuk anti bosan, sampai obat-obatan. Perjalanan cukup jauh dari rumah kami di Bandung Kota. Berkelok-keloknya bikin pusing tapi pemandangannya memanjakan mata, hijau di mana-mana! Shane sampai sering ambil video dari dalam mobil karena kagum. Mood kami juga bagus, bawaannya cekikikan terus, mungkin karena excited :) Sayangnya ketika tiba tempatnya ternyata nggak seindah yang video... Begitu turun kami langsung mencium bau amis dan banyaaaak sekali lalat. Aku nggak lebay, ini lalat banyaknya sampai masuk ke dalam villa dan nempel-nempel di jendela DALAM kamar! Speechless, waktu barang-barang diturunkan dari mobil aku nggak rela. Tapi mau gimana lagi, kami sudah deal dan akhirnya ditinggal berdua saja di sana. Then the nightmare begin... Waktu kami mulai beres-beres aku mulai notice kalau dapurnya kotor banget. Di peralatan makannya masih ada kecap ---or whatever lah nempel-nempel. Aku dan Shane langsung berinisiatif cuci semuanya dan begitu rak diangkat... ADA KECOA, SAUDARA-SAUDARA! Aku coba nggak panik dan minta Shane lap meja, dll dengan tisu basah antiseptik milikku (lap yang di sana sudah compang-camping dan bau, hiks), sementara aku hidupkan anti nyamuk elektrik yang rupanya nggak mempan untuk mengusir lalat. 


Seperti ini kira-kira gambar dan video yang dikirimkan orang travel (foto dari Google). Jauh banget sama kenyataannya yang kotor. Bahkan danaunya pun sedang surut :(


Waktu dicek, kamar mandi rupanya nggak ada air. Pusing tujuh kelilinglah kami, sudah datang jauh-jauh maunya istirahat malah "harus" beres-beres. Kami sampai nggak berani menginjakan kaki di kamar karena selain jendela, tempat tidur juga dilalerin. Aku sampai pengen nangis mikir gimana cara lewatin malem kalau kondisinya kaya gini. Shane lalu ajak aku melihat-lihat keluar villa sambil mencari orang yang bisa dimintai tolong. Bad idea! Lalat semakin banyak, bahkan beberapa langkah saja dari villa kami aku baru ngeh kalau ada seonggok (maaf) pup. Ya Tuhaaaan, fix aku mau minta pulang saja *cry emoji* 
Tapi ternyata nggak semudah itu. Handphoneku nggak ada sinyalnya dan wifi juga mati. Petugas villa entah di mana dan hari juga sudah mulai gelap. Sumpah dah aku lebih baik diserang zombie daripada diserang lalat, hahaha. Kami pun jalan ke luar wilayah villa dengan harapan dapat sinyal. Lumayan jauh, tapi akhirnya dapat. Saking leganya aku sampai nggak mau balik lagi ke villa, biar deh aku berdiri di sana dilalerin asal bisa telepon. Dan akhirnya, setelah 2 jam kami dijemput!

Di mobil kami sudah siap-siap terlelap, ---lelah fisik dan batin :p Tapi malah ditawari untuk menginap di tempat lain. Langsung saja kami tolak, waktu semakin larut dan yang aku pengen waktu itu cuma mandi terus salin pakai piyama :( Om ku yang lagi OTW ke luar kota whatsapp bilang supaya minta dicarikan hotel. Dia bersikeras agar aku dan Shane tetap jadi menginap di tempat yang nyaman. Bimbang deh aku, hati sebenarnya pengen pulang tapi nggak enak kalau menolak permintaan Om yang notabene cuma ingin menyenangkanku. Karena semua kekacauan ini bukan salahnya, murni dari pihak travel DAN villanya. Akhirnya setelah diskusi sedikit dengan Shane yang mulai tampak seperti zombie, kami setuju untuk menginap di tempat lain dengan syarat harus BERSIH dan aku bisa mandi. Orang travelnya setuju, dan dia merekomendasikan resort yang katanya nyaman dan pasti aku suka. Waktu dia tunjukan fotonya aku dan Shane lihat-lihatan. Not again... Lagi-lagi bukan hotel. Bahkan tempatnya semi outdoor karena konsepnya glamping, alias camping yang "glamour". Di kepalaku langsung keluar naskah panjang kesewotanku tentang kenapa ini travel nggak mau kasih kami hotel saja. Terserah deh mau hotel bintang satu juga asalkan kami bisa tidur di dalam kamar. Tapi di kenyataan aku cuma ngangguk saja. ---Akika lelah, bo :(


Tentang Glamping

Malam, lupa jam berapa, akhirnya kami tiba di lokasi resort glamping di Lembang, namanya Trizara. Kata orang travelnya begini, "Lihat saja dulu, kalau nggak suka boleh pulang." Aku nggak becanda, aku masuk ke lobby pakai sarung di kepala, sudah kaya ninja saja. Kesanku dan Shane waktu menginjakan kaki di sana; looks nice (waaaaay nicer daripada tempat sebelumnya), mirip lobby hotel "normal" dan kekinian. Aku sih cuma bisa membatin saja kenapa kami nggak dibawa ke sini dari awal. Memang belum lihat bagaimana suasana area glampingnya sih, tapi at least dari lobbynya saja sudah terlihat bersih. Herannya waktu aku setuju buat menginap di sini, pihak resort butuh waktu cukup lama untuk mengantarkan kami ke "kamar" (---pakai tanda kutip karena bukan kamar konvensional ya, hehehe). Lobbynya semi outdoor dan Lembang sedang hujan, jadi terbayang dong gimana dinginnya kami. Untung saja di sini sepi banget, jadi nggak banyak orang yang lihat aku jadi ninja. Well, sebenernya sih bodo amat, yang penting anti masuk angin :p

Pemandangan malam hari, waktu kami tiba.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Kami diantarkan ke "kamar" yang (kupikir) berupa tenda camping. Tapi ternyata itu hanya dari luarnya saja. Begitu petugas membuka resleting tenda terlihatlah isinya yang terlihat seperti kamar pada umumnya. Tempat tidur luas, kotak penyimpanan, kamar mandi lengkap dengan air panasnya, juga termos elektrik untuk memanaskan air! Waktu aku perhatikan ternyata rangkanya permanen dan lantainya juga terbuat dari semen, bukan tanah. Langsunglah aku membuang napas lega *fiuh* Dibandingkan tempat yang sebelumnya, yang ngakunya villa ternyata malah lebih hommy di sini (lebih dekat dengan rumahku juga. Asyem, buang-buang waktu saja di jalan). Petugasnya nanya apa aku dan Shane mau pindah lokasi atau tetap di kamar yang ditawarkan saja. Kami langsung sepakat kalau nggak mau lihat-lihat lagi meskipun kiri-kanan-bawah kamar kami kosong. Setelah itu kami diberi kunci dan gemboknya, juga diingatkan kalau sampai jam 10 malam ada bonfire yang bisa dinikmati bersama pengunjung resort lainnya.

Meski ngarepnya ada bathup buat berendam, tapi adanya shower dengan air panas juga good enough. Sementara Shane beres-beres barang bawaan kami, aku mandi lalu berganti dengan piyama. Padahal paginya aku sudah mandi, tapi mungkin karena di mobil berjam-jam plus dilalerin rasanya badanku kotor banget, ---banget! Eh, aku surprise lho dengan kamar mandinya, selain air panasnya stabil, perlengkapannya juga lengkap. Ada shower cap segala yang biasanya cuma aku temui di hotel yang "bagus". Kesannya memang sepele, tapi dengan mandi rupanya bisa mereset moodku, hehehe :p Kami sempat kepikiran mau ikutan bonfire, tapi setelah dipikir-pikir rasanya lebih nyaman di kamar saja. Tawaran genjrang-genjreng gitar sambil membakar marshmallow pun nggak terlalu menggiurkan bagi kami. Alasannya karena kami vegan (masa mau bakar kapas? Lol), juga karena kami membawa gitar dan ukulele sendiri dari rumah. Di dalam kamar kami merasa lebih bebas bermain musik sekeras apapun karena kebetulan kami satu-satunya yang mengisi kamar di jajaran atas. Kalau di depan orang lain kan gawat, kami suka nggak kira-kira kalau nyanyi :p


Tenda alias kamar kami tampak depan. Kiri-kanan sama bawah nggak berpenghuni, hehehe.


Kamar mandinya tanpa bathup, tapi air panasnya stabil, bikin betah. Dari sabun sampai losion juga sudah tersedia.


Itu selimut Shane yang bawa sendiri dari rumah, soalnya kami suka agak "gimanaaa" gitu pakai selimut orang lain :'D Oh, btw itu si Onci, boneka kelinciku juga ikut.


Nggak ada TV di kamar kami karena katanya sih konsepnya less gadget. Wifi tetap ada yang fungsinya untuk memanggil butler kalau lapar tengah malam. Tapi bukan Indi namanya kalau nggak segala dibawa, hahaha. Dengan menggunakan wifi aku dan Shane menonton film horror di laptop! Untung saja wifinya cukup kencang, jadi hanya 2 kali buffer dan sisanya aman. Sengaja pilih horror (Creep 2, karena sudah nonton yang pertama) karena itulah satu-satunya genre film yang kami nggak pernah bosan. Herannya setelah filmnya habis kami nggak ngantuk sama sekali, padahal sebelumnya kami terkantuk-kantuk di mobil. Pilihan aktivitas di tengah malam juga nggak banyak (ya kali, lol), kalau nggak makan ya lagi-lagi main musik. Oh iya, kami masak mie instan dan bubur kacang pakai air dari termos elektrik, lho. Karena tadinya sudah berencana buat masak-masak di villa jadi kami bawa sekantung besar makanan. Kan sayang kalau dibuang. Cukup menantang juga, tapi hasilnya enak. Apalagi aku juga sudah iris-iris sayur dari rumah, jadi kami nggak kekurangan gizi. Istri idaman banget kan aku :D *wek!*

Semenjak menikah kalau aku insomnia Shane juga ketularan. Padahal dulu dia sih cuek saja kalau aku melek, ---atau sebaliknya. Jadilah kami zombie berdua. By the way, mungkin sih ini karena suasana di sini kurang cocok dengan "style" kami beristirahat. Tendanya sih nyaman dan cukup bersih (debu-debu di sudut atap mah wajar lah, rumahku juga gitu, hehe), tapi polusi suaranya kencang bangeeet. Aku pikir karena kami di gunung jadi bakal sunyi gitu, tapi ternyata suara jalan raya terdengar banget. Apalagi suara motor yang ngebut-ngebut ngepot, bikin elus dada :'( Belum lagi karena di kamar nggak ada AC atau heater (hanya kipas di langit-langit) bikin malam yang dingin semakin terasa. Tenda pun jadi sedikit berkibar-kibar dan bikin kami rebutan selimut. Akhirnya aku dan Shane memutuskan untuk berjalan-jalan di luar saja. Biarlah kalau badan kami jadi berpeluh lagi setelah mandi, lebih baik daripada menahan dingin. Lagipula kami memang berjiwa horror, sudah lama memimpikan untuk bisa jalan-jalan tengah malam tapi di daerah kami terlalu ramai, hehehe. Ternyata seru juga, kami jadi bisa melihat suasana di sekitar resort termasuk tempat bonfire yang kami lewatkan. Tapi yang paling seru sih waktu kami sembunyi-sembunyi dari penjaga malam. Setiap cahaya senternya diarahkan ke dekat kami, kami langsung jongkok. Nggak apalah mengkhayal jadi buronan daripada bosan :p

Setelah jadi "buronan" pun kami tetap belum mengantuk. Sekitar jam 3 pagi (pokoknya menjelang subuh gitu) kami masuk kembali ke kamar dengan sepatu yang penuh lumpur karena hujan gerimis. Rasanya antara perasaan dan badanku nggak singkron. Badan sudah lelah selelah-lelahnya, tapi setiap dengar suara bising dari jalan raya aku otomatis melek dan siap siaga. Syukurlah aku masih diberi tidur sama Tuhan, menjelang pagi aku akhirnya tidur sebentar (dan katanya Shane menyusul terlelap nggak lama setelah aku) dan bangun sekitar jam 8. Aku agak-agak pusing gimana gitu, sebelum tidur Shane bungkus badanku pakai selimut ala-ala kepompong supaya aku merasa aman. Iya sih ampuh, tapi kan nggak bisa gerak, hahaha. Lagi-lagi bersyukur karena kami sudah siap obat-obatan, jadi begitu waktunya sarapan aku sudah segar kembali. Sarapannya di cafe dekat lobby yang cukup okay, tapi sayang banyak lalat. Jangan-jangan lalat dari villa sebelumnya ngikut, nih, lol. Tapi rasa makanannya cukup mengobati. Kami pesan nasi goreng (iya, sarapannya perpaket gitu, nggak all you can eat, huhu), buah-buahan, kopi dan jus mangga. Nilai plusnya mereka memasak ketika ada yang memesan, alias fresh. Terbukti karena waktu kami request nasi goreng vegan mereka menyanggupi padahal nggak ada di menu :)


Pemandangan ketika kami bangun. Indah ya, meski agak gelap karena musim hujan :)

Bangun tidur ku terus nongkrong, tidak lupa minta difoto :p

Waktu nggak bisa tidur kami jalan-jalan sampai ke bawah, lho (lihat di belakangku).


Karena masih pagi kami jadi bisa lihat pemandangan resort dengan lebih jelas. Dan ternyata indaaaaaah sekali. Sampai hampir lupa kalau semalam bisingnya sudah kaya nonton balap liar :') Karena lagi musim hujan langit jadi nggak terlalu cerah, tapi tetap saja rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Shane langsung punya inisiatif untuk merekamku bernyanyi dan bermain ukulele sambil memperlihatkan suasana resort. Kocak juga sih, karena lagu yang  kumainkan "Twoday" belum pernah direkam. Jadi aku cuma sok-sok lipsync gitu. Terbukti waktu videonya dicocokan dengan lagunya ternyata nggak match. Untung saja kemampuan mengedit Shane lumayan. Baru kali ini videonya duluan yang direkam baru lagu, hahaha :D Aku nggak tahu dengan hari-hari lain, tapi waktu aku dan Shane stay kayanya nggak banyak yang menginap. Waktu sarapan kami hanya bertemu dengan 2 tamu lainnya. Juga waktu merekam video kami cuma bertemu dengan beberapa petugas yang berjaga. Bagus juga sih, jadi berasa shooting video clip beneran :D *boom cess!*


Ini ayunan buat anak-anak sebenarnya. Tapi aku bebas pakai sepagian, soalnya sepi, hehehe.

Nggak ada yang ambil foto kami, ya sudah selfie :p

Nah, ini malah aneh. Aku lagi selfie eh Shane ambil fotoku, hahaha.

Ada musik = bikin lebih happy :))


Jadi apakah pengalaman glamping kami menyenangkan? Shorta! Karena sebenarnya bisa lebih baik kalau saja suasana nggak bising dan di kamar ada heather. Please jangan ada yang nanya kenapa suamiku orang Amerika yang biasa kena salju masih juga kedinginan padahal cuma hujan. Ya atuh, kan mereka juga pakai heater, saudara-saudara :') Kami sih menikmati sekali pemandangannya, juga fasilitas kamarnya. Tapi kalau bisa memilih ya lebih pilih hotel yang dekat dengan alam saja. Atau seenggaknya motel, yang penting kamar berdinding sungguhan. Apa aku merekomendasikan para pembaca yang budiman untuk mencoba glamping? IYA! Saranku carilah tempat yang jauuuuuuh sejauh-jauhnya dari jalan raya supaya terasa menyatu dengan alam, bukan dengan knalpot :( Menurutku glamping ini cocok banget buat yang rindu camping tapi keadaan kurang memungkinkan. Misalnya terkendala kesehatan (nggak bisa melewati jalan terjal berliku) atau sudah berkeluarga dan ada balita (eh tapi banyak juga sih balita yang naik gunung, pokoknya you know what I mean lah ya). Mudah-mudahan sih tulisan aku ini bisa memberi ide untuk ke mana kalian mengisi liburan akhir tahun nanti. Dan juga untuk yang penasaran semoga pengalamanku memberi gambaran. Terakhir, jangan lupa kalau setiap orang punya kesukaan yang berbeda. Kalau kami nggak betah karena dingin, siapa tahu kalian malah suka. So give it a try! :)


"TWODAY". Lagu baruku dan Shane yang videonya dishoot waktu kami glamping :)


yang kemana-mana bawa sayur dan ukulele,

Indi

-----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 08 Agustus 2018

Bermain Ukulele dan Menjadi MC di Pet Festival :)

Kalau ada tawaran untuk dapat pengalaman baru rasanya selalu campur aduk, antara semangat pengen coba sama ragu takut nggak bisa, hehehe. Jujur, meski aku hobi banget nyemangatin orang buat mencoba hal baru tapi sebenarnya aku sendiri nggak sepemberani itu :p Kadang aku takut duluan dan menolak, dan kadang (---nah ini nih yang parah banget) aku malah "menggantung jawaban", nggak nolak tapi pas hari H langsung kabur, hahaha. Belakangan aku sedang berusaha mengurangi sifat tak terpuji itu (lol), sebisa mungkin aku mencoba tantangan baru dan kalau nggak sanggup aku harus tegas. Sehabis Lebaran kemarin aku dapat tawaran mengisi acara di Pet Festival Bekasi. Lucunya aku sudah menanti-nanti tawaran ini, tapi pas beneran dapat ternyata deg-degan juga, haha. Maklum tawarannya benar-benar "ajaib", aku diminta menjadi MC sekaligus membawakan beberapa lagu. Padahal tahu sendiri kan kalau aku ini penulis...

Yang paling semangat mendukungku buat mengambil tawaran ini Bapak, padahal jarak Bandung-Bekasi cukup jauh dan beliau lah yang akan menyetir. Katanya kalau ditolak aku nggak akan tahu rasanya bernyanyi dan bermain ukulele di atas panggung sungguhan. Iya, "sungguhan" karena pengalamanku nyanyi di panggung cuma di acara preschool yang ditonton bocah-bocah, dan di panggung audisi acara bakat yang baru masuk 100 besar aku langsung gugur, hahaha. Alasan lain mengapa PD ku jadi meningkat adalah adanya Shane, pacarku. Masih dari idenya Bapak, katanya kalau aku "macet" di panggung Shane bisa nutupin dengan gitarnya. Well, ide bagus karena permainan ukuleleku masih terbatas. Dan aku pikir bakal fun kalau kami melakukan sesuatu bersama-sama. 

Acaranya diadakan di South Lake Park, Mutiara Gading City Bekasi dari tanggal 23 sampai 24 Juni 2018. Pas macet-macetnya karena masih libur Lebaran. Sempat dilema juga sih karena kalau bolak-balik kasihan Bapak yang menyetir. Dan lagi acaranya sampai sore, kalau pulang dulu bisa-bisa keburu pagi dan kami kapan tidurnya dong, hahaha. Untung akhirnya Mas Wiweko dari Animals Lovers yang mengundangku bersedia menyediakan hotel. Soal gimana caranya 1 kamar muat 3 orang biarlah kami pikir belakangan. Yang penting aku sudah tahu gambaran acaranya dan apa saja yang harus dilakukan di sana. Less deg-degan, ---dan berhubung susah mencari waktu untuk latihan berdua Shane di rumah, kami putuskan untuk berlatih di mobil saja, di perjalanan nanti.

Lokasi acaranya di tepi danau. Asyik, ya? Jadi pengen nyebur, hehehe.

23 Juni 2018
Meski tahu harus bangun sangat awal tapi aku dan Shane masih saja nekat bergadang yang berakhir naas karena kami nyaris nggak tidur semalaman (lol). Suasana libur Lebaran masih masih sangat kuat, rasanya nggak rela kalau harus dilewatkan. Aku pikir biar nanti saja tidur di mobil, berhubung perjalanan cukup memakan waktu. Jadi rencananya setengah perjalanan untuk tidur dan setengah lagi untuk berlatih. Tapi rupanya rencana tinggal rencana. Kami nyasar sampai berkali-kali dan sempat hampir menyerah karena meski dibantu Google map tetap saja berputar di tempat yang sama :( Syukurlah titik cerah akhirnya justru datang dari Alfamart, hahaha. Bukan dari Alfamart nya sih, tapi kami punya ide konyol untuk berhenti di setiap cabang yang ditemui dan bertanya dengan siapapun yang kami temui di sana. Hasilnya rupanya lebih akurat dari Google map. Bahkan ibu-ibu yang terakhir kami temui memberi arahannya detaiiiiiiil sekali, sampai kami takjub! :D

Kami tiba tepat waktu dan langsung disambut oleh matahari yang sangat terik meskipun masih pagi. Lokasinya di area terbuka, di tepi danau buatan yang dikelilingi wisata outdoor semacam outbound dan trampolin. Dari pintu masuk ke lokasi cukup jauh tapi bisa terdengar sayup-sayup suara MC dan musik. Oh iya, aku bukan MC utama di sana, tapi mendampingi seorang MC bernama Sandi. Awalnya aku dipasangkan dengan Gaung, tapi di detik-detik terakhir diganti karena dia harus mengurus komunitas reptilnya. Meski aku diberitahu apa-apa saja yang harus dilakukan tapi Mas Wiweko bilang sebagian besar aku harus improvisasi. Lagu yang dibawakan pun nggak bisa dipastikan harus berapa banyak karena tergantung berapa lama jeda dari satu segmen ke lainnya. Dan di sana juga sebenarnya ada home band, tapi aku diundang sebagai tamu. Aku sudah bilang sama Shane jika lagu yang kami siapkan kurang, langsung "hajar" saja dengan lagu apapun yang kami tahu. Yang penting nggak sepi, hahaha.

Dan terbukti, belum juga mulai cuap-suap sebagai MC, aku langsung diminta membawakan lagu. Aku dan Shane pun naik panggung lalu langsung diperkenalkan oleh Sandi sambil sedikit diwawancara. Sudah aku duga sih bakal ada sedikit kendala, Shane mau ditanya apapun nggak akan menjawab. Bukan karena dia jutek, tapi memang belum bisa berbahasa Indonesia, hahaha :D Untung saja Sandi sangat kocak dan luwes, suasana jadi santai. Setelah dipersilakan kami bawakan 3 buah lagu; "And I Love" nya The Beatles, "If I" nya Indi Sugar (lol) alias lagu ciptaanku, dan "One Day" yang juga ciptaanku. Eh, aku agak-agak terharu lho waktu bawakan "One Day". Pasalnya, ehm, tahun lalu di bulan yang sama aku dan Shane merekam lagu itu jauh-jauhan. Aku di Indonesia dan dia di Amerika. Siapa sangka satu tahun kemudian kami bawakan lagunya berdekatan, ---sebelahan, dan dia jadi pacarku pula :'p

Aku nggak selalu main ukulele. Ada beberapa lagu yang hanya dibawakan dengan iringan gitar Shane.



Momen bersejarah tertangkap video. Pertama kalinya aku dan Shane membawakan lagu "One Day" berdekatan, lol.

***


Konsep Pet Festival ini mengenalkan dan mengedukasi masyarakat tentang hewan. Jadi sebenarnya nggak berpusat pada hewan peliharaan saja. Di sini juga ada burung-burung yang dilindungi dari Taman Mini Indonesia Indah agar bisa dilihat lebih dekat oleh pengunjung. Komunitas yang terlibat antara lain; Animals Lovers, Expose, Paspamres, Koi, PSGB, ACI, Ahay Bird Sanctuary dan IBA. Mereka membawa hewan kesayangan dan koleksi masing-masing agar bisa berinteraksi. Pokoknya di area yang luas ini mereka tersebar, termasuk di "taman sentuh" alias di mini petting zoo. Tugasku sebagai MC (---yang masih ngos-ngosan habis nyanyi karena bukan penyanyi betulan, lol) adalah menggiring pengunjung agar nggak malu-malu. Maklum, banyak yang mengira kalau harus membeli tiket lagi untuk masuk ke area ini. Padahal gratis, cukup membeli tiket masuk South Lake Park saja dan mereka bebas berada di Pet Festival sampai acara selesai.

Burung Julang Emas. Oh my! Cantik sekali! :D

Kebanyakan pengunjung yang hadir adalah keluarga dengan anak yang masih kecil-kecil. Mereka-mereka inilah yang paling kelihatan antusias. Agar semakin menarik aku dan Sandi juga membuat kuis yang pertanyaannya gampang-gampang. Seperti nama-nama hewan dan karakternya. Yang bisa menjawab benar tentu dapat hadiah, yaitu goodie bag berisi snacks. Anak-anak sangat bersemangat, malah ada yang sampai nangis karena ingin hadiah tapi malu menjawab, hahaha. Meski kesannya sepele tapi cara ini efektif untuk mengenal karakter berbagai hewan. Jadi jika lain kali bertemu akan paham bagaimana cara menghadapinya. Terutama untuk hewan berbahaya seperti ular dan biawak. By the way, "bahaya" yang dimaksud adalah kalau kita nggak tahu cara menghandlenya, ya. Karena pada dasarnya hewan itu mempunyai insting dan meski sudah jinak kita tetap harus berhati-hati.

Di area Taman Sentuh atau Petting Zoo.


Aku, Sandi dan Gaung (yang awalnya akan menjadi partnerku).


Sandi sangat membantuku, tanpa dia mungkin suasana nggak akan ramai. Kalau aku blank dengan cepat dia mengisi kekosongan dengan jokesnya. Aku bersyukur baik Mas Wiweko maupun Sandi memaklumi karena ini adalah pengalaman pertamaku. Bahkan mereka berbaik hati mengizinkanku untuk "watch and learn", jadi nggak perlu menggintil Sandi kemana-mana tapi cukup melihat dan mempelajari untuk lain kesempatan. Cara ini cukup efektif sih, semakin lama aku jadi semakin PD dan mulai berani mengeluarkan inisiatif jokes. Nggak lucu juga nggak apa-apa deh, yang penting usaha, hahaha :p 

Sebelum acara selesai aku dan Shane membawakan 2 lagu lagi; "Here, There and Everywhere" nya The Beatles dan "The Will to Death" nya John Frusciante. Duh, akhirnya kesampaian juga impianku bawain lagunya John sang idola di depan umum, hahaha. 
Biar badan rasanya capek maksimal (---efek cuaca panas sepertinya) tapi aku lega karena saat meeting akhir penyelenggara puas dengan kesuksesan acara di hari pertama ini. Tentu aku juga menyadari belum ada apa-apanya dibanding Sandi, tapi aku janji di hari kedua akan lebih maksimal lagi :) Berhubung aku satu-satunya pengisi acara yang berasal dari luar kota jadi diizinkan untuk ke hotel duluan. Aku, Shane dan Bapak pun pamit. Hotel sudah dibooking oleh penyelenggara jadi kami (harusnya) sudah tinggal istirahat saja. Asyik! :D

Tapi Tuhan rupanya ingin kami berpetualang dulu. Lagi-lagi Google map nggak banyak membantu dan malah bikin kami berputar di tempat yang sama sampai 4 kali! Jarak South Lake Park ke Hotel Amaris cukup jauh dan ternyata di daerah sini banyak hotel dengan nama yang mirip. Jadi kalau nanya sama orang mereka kebanyakan bingung dan malah memberi arahan ke hotel yang lain :'D Waktu akhirnya tiba aku sudah nggak berbentuk, deh. Semua tas dan ukulele Shane yang gotong (padahal dia sendiri bawaannya banyak) karena buat jalan saja rasanya berat untuk menyeret kaki, hahaha. Kami langsung pesan extra bed karena di kamar hanya ada 2 tempat tidur. Tapi... ehm... ternyata mereka nggak punya extra bed, saudara-saudara!!! :')

Akhirnya diputuskan Bapak tidur di satu tempat tidur sementara aku dan Shane berjejalan di tempat tidur yang lain. Gimana caranya? Nah, ini yang bikin aku takjub sama Shane karena bisa tidur dengan posisi nggak biasa. Dia berbaring melintang dengan kaki ditekuk, hahaha (---iyes, kakiku nindihin perut dia). Kebayang nggak sih ukuran tempat tidur yang harusnya buat sendiri itu ditempati berdua? Shane bahkan sesekali tiduran di lantai untuk sekedar meluruskan kaki. Pokoknya kalau ditotal kami berdua hanya tidur 2 jam karena selain posisi nggak nyaman, kami juga kelaparan dan harus menunggu abang Gojek sampai jam 3 pagi karena restoran hotel sudah tutup. Kalau Bapak? Well, beliau sih nyenyak. Ngoroknya saja terasa getarannya sampai tempat tidur kami :D


24 Juni 2018
Meski bangun pas-pasan tapi aku dan Shane nggak ribet ataupun terburu-buru karena sudah mandi sebelum tidur. Jadi kami langsung ganti baju, sarapan dan berangkat. Latihannya sama seperti kemarin kami lakukan di perjalanan saja. Ada 2 lagu lain yang kami siapkan dan keduanya dari John Frusciante (---mimpi apa aku bisa bawain lagu idola 2 hari berturut-turut, uhuhu...). "Chances" dan "Interior Two" adalah lagu-lagu yang pernah aku bawakan sebelumnya di channel YouTube ku, jadi perfect untuk dijadikan back up songs kalau-kalau mendadak diminta. Aku merasa lebih relax sih, mungkin karena sudah lebih mengenal rutenya jadi nggak perlu ribet dengan Google map lagi. Sepanjang jalan aku, Shane dan Bapak banyak tertawa dan ini sangat aku syukuri :)

Bapak yang setia menemani dan mengabadikan momen.


Si pacar siaga, hahaha.


Kami tiba tepat waktu, susunan acara hampir sama seperti kemarin. Bedanya aku dan Shane tampil di tengah acara, bukan di awal. Ada beberapa kejutan menyenangkan yang hadir di hari kedua ini. Pertama, pengunjungnya lebih ramai dibanding sebelumnya. Kedua, sepupu dan dua keponakanku datang untuk melihatku tampil (hahaha, malu!). Dan ketiga, aku bertemu dengan beberapa teman pembaca. Aku senang sekali bisa menyapa dan berfoto bersama dengan mereka. Cuma sayangnya ada beberapa orang yang memperlakukan Shane seperti "objek wisata". Mereka mengajak berfoto bahkan tanpa bertanya siapa dia dan langsung pergi setelahnya. Aku sampai malu :( Out of topic, nih. Indonesia kan dikenal ramah, aku jadi sedih kalau ada yang asal jawil dan cekrak-cekrek saja... (maaf curhat, hiks).

Tapi di luar itu semuanya menyenangkan. Aku juga mulai berani memulai duluan untuk berbicara di depan pengunjung meski dagi dig dug, hahaha. Mungkin karena sudah lebih relax, aku juga jadi bisa lebih menikmati isi acara. Jadi nggak cuma sekedar mengenalkan komunitas yang akan tampil lalu langsung cari-cari bahan nge-MC lagi. Bagian favoritku adalah waktu ada komunitas yang menjelaskan bagaimana apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan ular. Dari mulai cara membedakan mana yang berbisa dan mana yang nggak, sampai cara menangani jika sampai tergigit ular berbisa. Sayang baik Bapak ataupun Shane nggak ada yang merekam part ini jadi aku nggak bisa share banyak. Tapi aku ingat jelas bahwa selama ini banyak yang salah kaprah dengan penanganan pertama saat terkena gigitan ular. Instead dihisap atau malah diikat lebih baik perlakukan seperti korban patah tulang. Misalnya bagian lengan yang tergigit, maka usahakan agar bagian itu nggak banyak digerakan (bisa disangga dengan kayu, etc) lalu segera bawa ke Rumah Sakit. 

Sini Dek, ikut naik panggung :D


Di hari kedua foto lebih sedikit karena kamera mati. Untung saja saat turun panggung Shane sempat ambil video dengan handphone nya :)


Selain itu aku juga melihat aksi burung-burung cerdas. Sumpah kocak banget, kalau nggak ingat lagi "tugas" mungkin aku bakal konsen menonton bersama parah bocah yang memenuhi sekitar panggung, hahaha. Pokoknya aku merasa di hari kedua ini lebih maksimal segala-galanya. Microphone yang sempat mati dan aku yang sempat lupa lirik (lol) rasanya nggak terlalu penting. Antusias pengunjung dan pengisi acara bikin moodku super baik :) Dan rupanya bukan hanya aku yang merasa bahwa hari kedua ini sangat maksimal. Di meeting sebelum kami pulang pihak penyelenggara pun sangat puas, bahkan rencananya akan diadakan rutin setiap bulan! Wah, meski keterlibatanku di acara ini cuma secuil, tapi aku ikut senang! Mas Wiweko bilang kepadaku dan Shane agar kami jangan kapok untuk diundang kembali. Karena rencananya di akhir bulan Agustus mereka ingin kami hadir kembali.

Di perjalanan pulang kebahagiaan kami masih terbawa. Apaaaa saja dibahas, termasuk sedikit memberi "catatan" tentang apa saja yang harus diperbaiki jika ada kesempatan di lain waktu. Selebihnya... aku dan Shane terlelap! Kami lelah bukan main karena sehabis acara sama sekali nggak kembali ke hotel dan langsung menuju Bandung. Tubuhku rasanya rindu dengan tempat tidur di kamar yang meski sempit tapi nggak harus dibagi dengan Shane, hihihi. Meski begitu aku merasa lelah ini sangat sepadan. Banyak yang bilang Indonesia kurang peduli dengan keberadaan hewan, baik pets ataupun hewan dilindungi. Tapi Pet Festival ini membuktikan sebaliknya, banyak orang-orang yang peduli dan benar-benar "do something" untuk menyebarkan awareness. Aku bangga menjadi bagian mereka :)
Yang aku harapkan sekarang semoga acara seperti ini bukan hanya di Bekasi, tapi diseluruh wilayah Indonesia! Boleh aku dapat "amin" nya, teman-teman? ;)

Vlog. Yang mudah-mudahan bisa menangkap keseruan Pet Festival :)


yang main ukulele tapi suka malu-malu kucing,

Indi


_______________________________________

Flash news:


Teman-teman, aku dibantu oleh para relawan menulis sebuah buku yang berjudul "Guruku Berbulu dan Berekor" (bagian dua). Buku ini berisi kumpulan kisah nyata mengenai manusia dan hewan peliharaannya. Hasil penjualan dari buku digunakan untuk membantu hewan-hewan di penampungan (royalti cetakan pertama sudah disalurkan ke Shelter Pak Johan). Jika teman-teman ingin memiliki bukunya sekaligus berdonasi, silakan kontak aku. Harga buku Rp. 60.000 dan bisa dikirim ke seluruh wilayah Indonesia. Trims! :)


_________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com