Tampilkan postingan dengan label Harry Potter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harry Potter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 September 2021

Harry Potter Birthday Party! Kue ala Hagrid dan Vegan! :D




Aku nulis ini menjelang subuh, tepatnya jam 2 lewat 32 menit. Kenapa? Nggak tahu, tiba-tiba saja pengen cerita. Padahal kemarin sudah ada niatan mau cerita yang lain, tapi sekarang malah berubah pikiran jadi pengen cerita tentang ulang tahunku dan Shane yang... sudah lama lewat, hahaha :D Aku bukannya belum tidur, tapi terbangun karena merasa lapar dan gerah. Setelah perut kenyang aku belum mengantuk lagi. Jadi di sini lah aku sekarang. Mungkin karena suasana sepi dan nggak ada teman ngobrol (karena of course Shane masih tidur), pikiranku jadi kemana-kemana. Tiba-tiba teringat dengan moment ulang tahunku yang dirayakan bareng Shane dengan tema yang sudah lama aku impikan... Harry Potter! --Iya, Harry Potter yang itu xD Mungkin ada orang yang menganggap aneh atau bahkan konyol. Tapi buatku nggak sama sekali. Aku pertama kali membaca novelnya di usia 12 atau 13 tahun dan langsung terbawa sampai dunia nyata, hahaha. Bahkan waktu novelnya diadaptasi jadi film aku masih ingat dengan jelas moment ke bioskop diantar Bapak sambil berdandan ala Harry Potter lengkap dengan tanda kilat di kening :p


Intinya, Harry Potter itu segitu berartinya buat hidupku. Meski nggak nyata, tapi waktu remaja aku merasa kalau kehidupan Harry dan teman-temannya itu relatable dengan hidupku. Jadi aku ingin at least sekali saja seumur hidup untuk merayakan hari ulang tahunku dengan tema Harry Potter!

Lalu bagaimana dengan Shane?

Meski Harry Potter juga populer di Amerika, tapi dia belum pernah membaca buku atau pun menonton filmnya. Pengetahuan dia hanya sejauh pernah mendengar namanya saja, tapi bagaimana ceritanya dia sama sekali nggak tahu :D 

Ulang tahunku jatuh di tanggal 8 Juni, sedangkan Shane di tanggal 29 Mei, ---selisih 10 hari saja. Kalau untuk sekedar makan-makan atau tiup lilin di hari ulang tahun dia oke-oke saja, tapi untuk dirayakan dia nggak pernah mau. Terkecuali jika dirayakan bersamaku (lalu aku merayakan kembali tepat di hari ultahku, lol), dia mau. Soal tema dia juga menyerahkan padaku. Pokoknya Shane ngikut-ngikut saja, deh, hehehe xD


Kebetulan banget, suatu hari waktu kami menginap di rumah orangtua, di TV kabel menayangkan film-film Harry Potter. Maraton gitu, jadi dimulai dari yang pertama sampai akhir. Shane akhirnya untuk pertama kali dalam seumur hidupnya berkenalan juga dengan Harry dkk :D Dia hanya menonton yang pertama sampai ketiga, itu pun nggak full karena biasanya kami sambil beraktivitas sementara TV menyala. Tapi buatku sudah cukup. Yang penting kalau nanti ada yang nanya (lah?) Shane tahu siapa itu Harry Potter, hahaha.

Berhubung sudah kenalan, Shane jadi ikut excited untuk memilih-milih pernik ulang tahun. Tapi tetap aku yang paling banyak hunting karena "Shane takut salah", hehehe. Aku dapat garland (flag bunting), kaos dan cake toppernya di toko online. Sementara sisanya seperti piring kertas, gelas kertas dan camilan aku beli di minimarket komplek apartemen. Sebenarnya aku sudah mengurangi pemakaian peralatan pesta sekali pakai gitu. Tapi itu kemauan Ali, ---maklum dia sih kalau lihat orang ultah berasa acaranya dia juga :p Ya sudahlah asalkan benar-benar untuk sekali saja.


Setelah semuanya siap, justru yang terpenting lah yang belum ada sampai mendekati hari H... Kue ulang tahun! Soalnya mencari kue vegan yang bisa diantar dan bisa custom made di Bandung bukan hal mudah. Sudah segala kata kunci aku masukkan di Google demi mencari kue impian tapi tetap juga nggak ketemu. Nah, di saat aku hampir menyerah dan bersiap minta tolong Shane untuk bikinin kue Oreo andalan saja (bhahaha), ternyata datanglah titik terang! :') Tanpa sengaja aku menemukan penjual bento cake di Instagram yang punya vegan option. Langsung saja nggak pakai narik napas dulu aku hubungi lewat DM dan bertanya apakah bisa membuat kue custom. Dan jawabannya adalah... BISA! Yay! Dengan deg-degan ku jelaskan kalau aku ingin kuenya seperti kue buatan Hagrid yang diberikan pada Harry di ulang tahunnya yang ke 11. Lengkap dengan retakan di atas kuenya, ---karena ceritanya kedudukan Hagrid waktu di motor xD Dan aku ingin kue seperti yang di versi film, bukan buku. Di buku nggak diceritakan kalau Hargrid typo saat menulis ucapan selamat di atas kue, tapi di film berbeda. Tulisannya, "Happee Birthdae Harry" ---dan menurutku akan unik kalau punya aku jadi, "Happee Birthdae Indi" :D


Screenshot dari film yang aku pakai sebagai referensi kue ulang tahun.



THE DAY!


Tadinya aku ingin merayakan ulang tahun kami di tanggal 5 Juni karena lebih dekat ke tanggal ulang tahunku yang sebenarnya dan karena jatuh di hari sabtu. Tapi tiba-tiba saja Ibu meminta untuk lebih awal karena beliau dan Bapak ada keperluan di tanggal 5. Jujur awalnya aku cukup kecewa karena tanggal 4 Juni bertepatan dengan jadwal sekolah Ali. Aku dan Shane pasti sibuk, ---dan dengan adanya Ali di rumah kami rencana mendekor terancam terhambat. Tahu sendiri lah anak usia 5 tahun itu gimana, hahaha. Beberapa rencana yang sudah matang pun harus diubah. Kami sudah berencana membeli ay*m goreng vegan untuk dimakan bersama, tapi di tanggal 4 restorannya tutup. Untung saja ada restoran pizza yang punya menu vegetarian dan kami bisa minta dibuatkan khusus jadi vegan. Juga rencana mendekor yang seharusnya dilakukan malam hari pun dilakukan setelah Ali sekolah dan seadanya. Mandi? Ah, mana sempat. Rambutku lepek banget dan akhirnya diputuskan untuk ganti kaos saja. Yang penting pakai kaos Harry Potter, sudah berasa ultahnya aku :p


Dari sekian banyak pilihan kaos Harry Potter akhirnya pilih ini karena desainnya simple.


Tiap ultah belum lengkap kalau nggak berpose di depan kue, hahaha.


Ali pilih sendiri kaosnya. Nggak nyambung sama tema tapi yang penting pegang tongkat :p


Karena mendadak ganti hari, aku jadi lupa kalau Ibu Mertua memberi satu set DVD Harry Potter sebagai hadiah ulang tahun awal (---well, sebenarnya dalam bentuk uang tunai, jadi aku belikan saja beberapa barang, hehehe). Tadinya akan dipajang bersama koleksi novel-novelku tapi nggak ingat dan malah disimpan di rak kamar! Huaaaaa :') Tapi nggak apa, diluar penampilanku yang kaya habis lari maraton dan lupa pajang DVD, semuanya berjalan sesuai rencana. Ali juga nggak bosan karena dia dilibatkan dalam mempersiapkan ultahku dan Shane. Tugas dia memasang topper di atas pizza vegan xD Oya, berbeda dengan Shane, Ali sudah akrab dengan Harry Potter bahkan sebelum dia lancar berbicara. Di Halloween keduanya, di usia 1 tahun 11 bulan, Ali memakai kostum Harry Potter sementara aku memakai kostum Moaning Myrtle. Selain karena aku suka Harry Potter, waktu itu alasannya karena aku nggak punya budget banyak dan keadaan mentalku sedang nggak stabil (---mungkin ada beberapa teman di sini yang tahu ceritanya). Yang biasanya aku sangat antusias, waktu itu aku sama sekali nggak mau kemana-mana, bahkan sudah berniat untuk melewati Halloween. Tapi Bapak bilang aku harus semangat dan ingat kalau Halloween selalu bikin aku happy. Jadi mendadak lah aku dan Bapak ke supermarket buat beli supply Halloween, sementara di rumah (mantan) iparku mendekor ruang tamu. Satu-satunya tema yang kepikiran ya cuma Harry Potter karena paling mudah, dan jadilah Halloween dadakan. Duh, jadi terharu kalau aku mengingat moment itu :') Tuh, kurang berarti gimana coba Harry Potter sama hidupku, hahaha :')


Halloween kedua Ali sebagai Harry Potter di usia 1 tahun 11 bulan. Ya ampun mungil banget :')


Versus foto yang di atas, jadi now and then judulnya.


Harusnya figurin Gollum itu diganti sama koleksi DVD Harry Potter, tapi kelupaan, hahaha.


Kelihatan nggak sih kalau ada foto Harry, Ron dan Hermione di garlandnya :)



THE PARTY!


Setelah rumah kami sedikit rapi (---ya, mana bisa rapi maksimal di hari sekolah, hahaha), aku langsung menghubungi Ibu dan Bapak untuk segera datang. Nggak lupa sambil mengirimkan fotoku dan Shane (yang diambil Ali) dengan kaos Harry Potter kami. Ibu bilang kaosnya lucu. Iya, sedikit humor, tulisannya Harry Potter tapi logonya "HP" merk printer, hahaha.

Kue ulang tahun datang di waktu yang tepat. Tadinya aku sempat pesimis kalau kue akan tiba dengan selamat mengingat jarak toko yang jauh dan dikirim menggunakan jasa Gojek. Tapi ketika Shane menjemputnya di lobby matanya langsung berbinar-binar. Dia bilang, "WOW! INI KUE PALING MIRIP YANG PERNAH AKU LIHAT! GAMBAR DI INTERNET NGGAK ADA YANG SEBAGUS INI!" Langsung saja aku nggak sabar untuk segera melihatnya. Dan benar saja, bagus! Warna dan detail retakan bekas pantat Hagrid nya (lol) mirip sekali. ---Sampai-sampai kami nggak sadar kalau ada spelling error. Huruf "P" nya kelebihan satu, dan kurang huruf "T"! Hahahaha. Tapi it's okay, semua orang bisa salah. Dan ini kesalahan kecil sekali dibanding dengan kemiripan kuenya. Apalagi bukan cuma tampilan luarnya, tapi sampai dalamnya juga mirip karena ini kue cokelat! ---seperti buatan Hargrid! :D


Bagus banget :') Bikin typonya termaafkan. Mana rasanya enak banget lagi.


Kata Ali supaya suasana Hogwarts lebih terasa, dia ingin kukunya dicat ungu dan diberi gliter. Katanya karena penyihir kukunya seperti itu (lho?), bhahahaha. Oke deh, aku menurut saja, ---padahal aku belum pernah lihat Harry Potter kukunya dicat :p Ibu dan Bapak yang baru tiba pun langsung bergabung di pesta kecil kami. Selain membawa kado mereka juga ternyata membawa mie vegan. ---Tradisi nggak tertulis, kalau ultah mesti makan mie. Ada yang sama? :D

Ibu suka dengan dekorasi yang kami buat, tapi tentu Bapak yang lebih mengenal Harry Potter jadi beliau yang cerewet memberi berkomentar sana-sini. ---Shane bilang Bapak itu seperti kritikus, lol. Benar juga, ya :p


Kata Ali ini kuku penyihir, hahaha.


Mie vegan kiriman Ibu dan Bapak. Enak banget dan masih ada sisa sampai malam :p


Sebelum kami makan-makan Ibu ingin kami tiup lilin dulu. Padahal aku sudah lumayan lapar, hahaha. Katanya kurang terasa ulang tahunnya kalau nggak foto sambil tiup lilin dan potong kue :p Sebenarnya agak sedih juga sih, soalnya artinya kuenya bakal dipotong. Tapi ya masa mau dijadiin pajangan. Untung saja aku sempat ambil foto dan video buat kenang-kenangan. (Kalau teman-teman perlu untuk inspirasi desain kue yang mirip banget sama punya Harry, boleh banget lho simpan foto punyaku). Di sini nih Ali mulai manyun. Gara-garanya aku dan Shane jadi pusat perhatian. Maklum lah, meski sudah pada dewasa di mata ortu tetap saja aku dan Shane ini bocah-bocah. Jadi Ibu dan Bapak heboh sibuk nyanyi, ambil foto dan rekam kami... sementara Ali juga ingin diperhatikan, hahaha. Alhasil waktu kami tiup lilin Ali nggak mau ikutan :'D  Btw, tiup lilinya sampai diulang 2 kali lho. Soalnya tiap dikasih aba-aba buat tiup barengan somehow Shane selalu duluan, hahaha. Kesel kan :p Akhirnya aku sudah males ngulang dan berkesimpulan kalau yang penting lilinnya mati. 


Dari foto saja kelihatan kan kalau Shane yang tiup lilin duluan :")


Ali manyunnya sebentar. Setelah kebagian potongan kue dia happy lagi dan sibuk sendiri sama kuenya. Aku surprise lho sama rasanya. Enak banget! Rasa manisnya pas dan rasa cokelatnya lumayan kuat. Biasanya aku nggak gitu suka sama icing kue dan milih makan dalamnya saja, tapi ini sih beda. Teksturnya juga lembut dan nggak kering. Ibu dan Bapak, ---sang kritikus, juga approve. Mereka bilang rasanya enak. Dan kalau aku nggak bilang katanya mereka nggak akan tahu kalau ini vegan. Hehehe, kebiasaan ya, orang selalu berpikir kalau kue (dan makanan) vegan bakal kurang enak dibanding makanan non vegan. Padahal ya nggak gitu juga. Bahan-bahan kue kan banyak yang vegan friendly. Kalau bikinnya bener ya rasanya pasti enak :D Shane beli kue ini di Mamayu (silakan googling untuk alamat dan kontaknya). Nggak kok, bukan endorse :p Aku dan keluarga beneran suka rasanya dan cuma ingin berbagi info, siapa tahu ada yang mencari kue vegan juga :) 

Sehabis makan kue dilanjutkan dengan makan mie kiriman Ibu dan Bapak. Aku sih sehabis mie langsung kenyang, jadi nggak makan pizza. Tapi Ibu, Ali dan Shane makan masing-masing satu potong. Kalau Ibu katanya selain memang masih ingin makan juga penasaran sama rasa pizza vegan. Beliau tertipu, melihat tampilannya dikira dari Pizza Hut padahal bukan, hahaha. Kami dapat dari Pizza 37 (again, bukan endorse, lol). Selain enak harganya juga terjangkau. Kalau pesan biasanya aku dan Shane nggak pernah kurang dari 2 pan. Sok silakan googling kalau ingin tahu alamatnya :D


Pizza vegan customize dengan topper yang dipasang Ali :D


Setelah perut kenyang kami lanjut buka kado. Ada dua kado dari Ibu dan Bapak, aku dan Shane masing-masing dapat satu. Lucunya ada kado tambahan yaitu satu garland "Happy Birthday" buat dipakai tahun depan, hahaha. Ya, ampuuuun sampai segitunya berpikir tentang masa depan xD Sedangkan kado yang spesial untukku isinya music box berbentuk windmill. Lucu banget, tanpa sengaja aku jadi koleksi benda-benda kaya gini karena sering dapat kado dari Ibu dan Bapak. Tahun lalu justru Shane yang dapat kado music box berbentuk biola :D Tahun ini Shane dapat miniatur becak onthel. Bentuknya real sekali dan roda-rodanya bisa berputar. Segera saja Shane dapat ide untuk menaruh figurin Kakek-Nenek hadiah dari ortuku tahun lalu di atasnya, hahaha. Aku memang lebih senang mendapat kado barang dibandingkan uang. Rasanya lebih berkesan saja karena tahu orang yang memberi benar-benar memilih sesuatu spesial untukku :) Ibu Mertua pun tahu sebenarnya, tapi berhubung terhalang jarak jadi lebih mudah untuk mengirimkan uang. Meski begitu tetap satu tahun sekali ketika Natalku dan Shane tetap mendapat kado dalam bentuk barang :)


Shane amaze dengan becak othelnya (---aku juga, cuma nggak kelihatan di foto, lol).


Terima kasih Ibu, Bapak, Ali untuk hari yang luar biasa. Peluuuuuk :')


Rasanya aku nggak rela perayaan ultah kami selesai. Berkumpul dengan keluarga rasanya memang nggak pernah "terlalu lama", ---selalu terasa kurang. Tapi Ibu, Bapak dan Ali harus pulang dan kembali dengan aktivitas mereka. Juga aku dan Shane yang harus kembali bekerja, ---setelah sebelumnya beres-beres rumah dulu, haha :D Waktu mereka berpamitan rasanya sepi sekali. Aura pestanya sudah nggak terasa, menyisakan dua orang dewasa yang pakai kaos Harry Potter dan akan dipakai sampai sisa hari sebagai piama :'D 

Aku bersyukur sejak dulu orangtuaku selalu merayakan ulang tahunku, ---dan sekarang dilanjutkan dirayakan dengan Shane. Mengeksprsikan rasa syukur memang bisa kapan saja. Tapi saat membuat satu hari khusus rasanya lebih istimewa. Ulang tahun itu adalah hari peringatan ketika kita dilahirkan. Dan menurut kami, perasaan bahagia ketika seseorang lahir harus dikenang kembali di hari ulang tahunnya. You know, untuk mengingatkan betapa mereka dicintai dan betapa mereka sangat dinantikan kehadirannya di dunia :) Sederhana tapi berarti :)


Ya... begitulah cerita ulang tahunku dan Shane yang mendadak ingin diceritakan ketika menjelang subuh seperti ini xD Kayanya aku bisa tidur dengan nyenyak sekarang (---eh, tapi nggak bisa tidur sampai siang sih ada kerjaan, hahaha). Aku bersyukur, kadang yang bagi orang lain "ah, cuma gitu doang" justru bisa bikin aku happy luar biasa. Aku ingin ulang tahun dengan tema Harry Potter dan aku dapat, ya sudah cukup begitu. Nggak perlu mewah-mewah atau sekalian boyong keluarga ke Hogwarts segala, begini juga sudah terdebest buat gua. Apalagi ada Shane yang sekarang ikutan tertarik sama Harry Potter :D Harapan di ulang tahunku dan Shane sederhana. Aku nggak berharap tiba-tiba Corona menghilang tahun depan. Cukup berikan kesempatan aku dan Shane berkumpul lagi bersama keluarga, itu sudah menjadi "kemewahan" yang luar biasa :)

Bisa bantu aminkan, teman-teman? :)


(Untuk pengguna mobile klik di sini untuk menonton vlog ultah Indi dan Shane)



rictumsempra!,


Indi


---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Kamis, 26 Oktober 2017

Halloween 2017: Kado Cinta dari Keluarga :)

Boo!
Ini akhir Oktober, sudah bisa tebak dong tulisanku kali ini tentang apa? Hihihi. Kalau rajin mampir ke sini pasti sudah tahu kalau aku selalu excited dengan Halloween. Malah saking excitednya aku ingin kalau sepanjang bulan Oktober-November Halloween terus berlangsung, hihihi. Kalau kalian baru mampir ke sini mungkin kalian bingung dan bertanya-tanya "Kok di Indonesia ada Halloween, sih?". Well, aku sangat menghormati origin tradisi ini dan nggak ada sedikit pun maksud untuk disrespecful. Bagiku (dan keluarga) Halloween adalah waktunya berkumpul dan being creative, hampir sama seperti "holiday" yang lain. Mungkin kalian bisa cek tag "Halloween" di blog ini karena aku sudah sering share tentang cerita Halloween "ala aku" :)

Belakangan ini bukan waktu yang mudah bagi keluargaku. Bergantian dari kami harus dirawat di Rumah Sakit, ---dengan penyakit yang cukup berat. Termasuk aku yang baru saja didiagnosis dengan suatu kondisi yang belum siap aku ceritakan di sini. Pokoknya kondisi "baru" ku ini menguras energi banget, sampai-sampai aku kehilangan seseorang yang aku sayang, (---aku harap ini temporari dan ia akan kembali setelah keadaan lebih stabil... Amen). Tapi aku (well, kami) beruntung meski dengan yang terjadi belakangan, keluarga aku tetap solid. Entah apa jadinya kalau tanpa mereka, mungkin aku nggak akan "sekuat" sekarang. Kehadiran mereka, terutama Ibu dan Bapak menjadi pendukung paling besar bagiku. ---Lalu apa hubungannya dengan Halloween? Hihi, believe it or not ini juga salah satu "tanda cinta" mereka untukku :)

Mungkin karena terlalu banyak yang terjadi, aku jadi nggak sadar kalau Oktober hampir berakhir. Masih ingat betul tahun kemarin aku dan Ipar membicarakan tentang rencana Halloween tahun ini. Tapi semua orang nampaknya sudah lupa, ---atau aku pikir begitu. Di suatu siang saat semua berkumpul di ruang TV, aku bergurau tentang betapa bosannya aku karena nggak ada satu channel pun yang memutar film horror. Lalu tiba-tiba saja iparku bertanya akan jadi apa aku Halloween kali ini. Kaget, juga somehow pertanyaannya terdengar menggelikan, aku terkikik. "I don't know, mungkin kita skip saja Halloween kali ini," jawabku, ---meski sebenarnya nggak sungguh-sungguh. Iparku tampak kecewa, she love Halloween as much as I do. Aku jadi berpikir, hati kecilku sebenarnya nggak rela kalau harus skip Halloween. Tapi aku sama sekali nggak punya rencana apa-apa. Biasanya Ibu selalu membuatkan kostum untukku, tapi dengan keadaan seperti sekarang aku bahkan nggak berani untuk bertanya karena takut merepotkan. Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke supermarket dan membeli sedikit treats untuk Halloween. Waktu aku minta izin sama Ibu, guess what??!... Beliau senang sekali! Ibu langsung meminta Bapak mengantarku. Katanya kalau aku masih ingat dengan Halloween, artinya aku "baik-baik saja", hihihi. Aww, Mom! :D



Sementara aku dan Bapak berbelanja treats, iparku membuat dekorasi Halloween di rumah. Mungkin kesannya berlebihan, tapi aku terharu banget karena Bapak super excited waktu memilih-milih treats. Bentuk crackers yang akan dipakai untuk membuat kue graveyard saja beliau pikirkan sampai matang, hihihi. Waktu kami tiba di rumah, dekorasi yang iparku buat sudah hampir selesai. Ya,ampun tahun ini sepertinya tingkat excited keluargaku berkali-kali lipat dibandingkan aku sendiri. Aku jadi menyesal dengan niatku untuk skip Halloween :'D Aku langsung masuk dapur untuk membuat treats. Dari tahun ke tahun andalan aku itu dirt cake, tapi berhubung sizenya semakin besar namanya pun berubah menjadi "graveyard cake" :p Ini sebenarnya cuma cake biasa yang di atasnya ditaburi remahan Oreo, tapi karena aku vegan, aku ganti telur di cakenya dengan pisang. Yang lucu, setelah aku beri "nisan" iparku menghiasi cakenya dengan hantu-hantuan. Nama cakenya pun jadi diubah jadi "ghost in the graveyard", deh, hahaha.



Untuk kostum, aku dan ipar sepakat untuk keep it simple. Dibandingkan memakai kembali kostum tahun kemarin, kami pikir lebih baik memakai yang sudah ada tapi belum pernah dipakai. Kami putuskan tema tahun ini diinspirasi oleh Harry Potter. Berhubung sehari-hari aku berkacamata, aku pun jadi Moaning Myrtle. Sedangkan si kecil Ali, keponakanku jadi Harry Potter. Kami cukup memakai kacamata dan sweater, plus untuk Ali jidatnya dilukis gambar halilintar oleh iparku, hahaha. Dibandingkan tahun kemarin Ali jauuuuuh lebih excited kali ini. Semua treats ingin ia coba dan ia amaze sekali dengan dekorasinya. Ia terus-terusan bilang, "Bagus... bagus" dan minta digendong supaya bisa melihat dari dekat :D Oh iya, aku sama sekali nggak ikut mendekorasi, lho. Semuanya dilakukan oleh Ipar dan Bapak. Jadi waktu aku masuk ruang tamu rasa amaze ku kira-kira sama dengan Ali, ---tapi ditambah teary eyes sendikit :p



Lihat videonya di sini :)

Meski semuanya serba dadakan dan tanpa rencana, tapi aku merasa ini Halloween yang paling berkesan. Somehow aku merasa suasananya jauh lebih hangat daripada yang sudah-sudah. Mungkin karena di tengah masa sulit ini kami masih bisa berkumpul. Apalagi meski semuanya excited, aku merasa bahwa mereka membuat Halloween party sederhana ini untukku... :) 
Halloween. Setiap tahun selalu ada cerita yang istimewa. Dan tahun ini... Ini Halloween paling penuh cinta yang pernah aku alami :)

pumpkinlove,

Indi


_______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 15 Oktober 2013

My DIY Halloween Costumes Project: Dorothy Gale from Wizard of Oz and Harry Potter :)

Howdy-do my friends!
Tulisan gue kali ini bakal berbeda dari biasanya. Mungkin bagi sebagian orang temanya nggak penting (memangnya tulisan gue pernah penting? Lol), tapi gue putuskan untuk membaginya karena ini bulan Oktober yang artinya identik dengan suasanan menyeramkan tapi seru yaitu... HALLOWEEN! :)
Nah, mengerti kan kenapa gue bilang kalau tulisan kali ini temanya nggak penting. Karena Halloween memang bukan budaya Indonesia dan nggak banyak orang yang exited dengan perayaan ini. Jangankan exited, seringnya malah nggak ngeh kalau sudah Halloween dan satu-satunya ciri adalah kalau televisi mulai memutar film-film horor, hehehe.

Kalau sudah baca tulisan tentang perayaan Halloween gue tahun lalu mungkin teman-teman akan mengerti kenapa gue menyukainya. Bukan karena suka yang seram-seram, ya, gue malah penakut (kecuali untuk Twilight Zone, karya-karya R. L Stine dan Stephen King. Lol, weird), tapi gue sangat menikmati pesta kostum dan treat (nggak pakai "trick"). Gue suka sekali berdandan seperti tokoh-tokoh di dunia dongeng. Meski di Irlandia, negara asalnya identik dengan kostum seram, di Indonesia Halloween lebih identik dengan kostum apa saja asalkan fun. Belum lagi di prechool tempat gue bekerja setiap Halloween pasti ada perayaan dan bebas mengajar. Jadi pantas saja kan kalau gue menyukainya ;)

Tahun ini gue memutuskan untuk jadi Dorothy Gale dari Wizard of Oz. Setelah tahun sebelumnya gue menjadi Carol Anne dari Poltergeist supaya identik dengan seram, tahun ini gue sedikit melanggar aturan preschool gue yang mengikuti Halloween ala Irlandia, hehehe. Dorothy adalah tokoh perempuan manis yang tanpa sengaja pergi jauh dari Kansas dan harus mencari penyihir dari Oz untuk menemukan jalan pulang. Meski ada unsur magic, Dorothy justru sama sekali nggak punya kekuatan magis, ia hanya kebetulan berada di situasi yang mengharuskannya melawan penyihir jahat. Gue belum dapat persetujuan buat pakai kostum ini di preschool, sih, tapi gue akan memakai kostum Dorothy ini untuk bersenang-senang dan merayakan di tempat lain saja bersama Ray :D

Meski tahun ini ada kemungkinan akan mempunyai dua kostum, bukan berarti gue akan membeli kostum baru. Justru gue ingin menguji sejauh mana kreatifitas gue, hihihi. Halloween ala gue itu tentang bersenang-senang, jadi jangan sampai malah menjadi beban dengan merasa harus mengeluarkan uang. Sama seperti tahun lalu, Ray juga akan memakai kostum yang gue pilihkan. Setelah menjadi John Frusciante, tahun ini ia akan menjadi Harry Potter, tokoh idola masa kecil gue yang kostumnya cukup mudah ditiru hanya dengan modal membongkar lemari baju :p

Berhubung sudah menonton film Wizard of Oz berkali-kali gue jadi hapal betul dengan kostum Dorothy. Yang gue lakukan selanjutnya tinggal mengingat-ingat item apa saja yang sangat iconic darinya, dan apa saja yang bisa gue temukan di rumah untuk menjadikan gue (cukup mirip) dengan Dorothy.
Nah, sekarang gue akan membagi tips bagaimana untuk menjadi Dorothy Gale di perayaan Halloween. Dan tentu, setelah itu akan gue jelaskan juga bagaimana cara menjadi Harry Potter. Keduanya adalah versi gue dan tentu saja dengan budged bersahabat ;)


Dorothy Gale dari Wizard of Oz.


1. Di sepanjang film Dorothy memakai dress overall bermotif kotak-kotak. Waktu film berubah menjadi berwarna (sebelumnya hitam-putih) penonton bisa melihat bahwa warna dress Dorothy adalah biru-putih. Gue mencari sisa kain di rumah dengan warna yang mirip, dan syukurlah menemukannya :D Berhubung hanya ada sedikit jadi gue membuatnya dengan bentuk "celemek". Meski berbeda dengan model aslinya, jika dilihat dari depan akan tetap terlihat mirip dengan dress Dorothy di film. 
Tapi jika nggak mempunyai kain yang sama persis, kalian bisa memakai dress bermotif kotak-kotak dengan warna apa saja, toh di awal film penonton nggak tahu apa warna dress yang sebenarnya, hehehe. Atau let's make it simple, dress berwarna biru polos pun sudah cukup mewakili karena ciri khas outfit Dorothy yaitu sederhana.

2. Untuk dalaman Dorothy memakai kaos berleher tinggi dengan lengan puff. Gue menggantinya dengan kemeja putih berleher tinggi bekas seragam paduan suara gue. Jika nggak punya gunakan kaos putih polos atau kemeja lengan pendek.

3. Di awal film sampai pertengahan, rambut Dorothy dikepang dua dan diikat dengan pita yang senada dengan dress nya. Berhubung rambut gue pendek, jadi gue mengikuti gaya rambut Dorothy di akhir film, yaitu diurai dengan pita besar di puncak kepala. Sebenarnya Dorothy menjalin rambut terdepannya dari kiri dan kanan lalu dijepit oleh pita. Tapi, sekali lagi, rambut gue masih terlalu pendek jadi gue menyelipkan pita ke bando polos dan memakainya secara tegak.
Jika rambut kalian lebih panjang dari gue lebih baik buat dua buah kepang sederhana, karena itu identik dengan Dorothy waktu bernyanyi "Somewhere Over the Rainbow" di awal film :)

4. Dorothy kabur bersama Toto, anjing teriernya dan sebuah keranjang piknik. Eris, anjing gue terlalu besar untuk berperan sebagai Toto, hehehe. Jadi gue menggantinya dengan boneka yang dipinjam dari preschool dan meminjam keranjang buah-buahan milik Ibu. Detail ini lebih baik jangan dilewatkan karena sangat iconic. Lihat saja gambar Dorothy berbagai versi di atas. Semuanya sedang membawa anjing dan keranjang kan ;)

5. Sepatu Ruby Dorothy sering menjadi icon untuk poster di pagelaran musikal Wizard of Oz. Mungkin karena inilah satu-satunya unsur magis yang dimiliki Dorothy (ia bisa pulang dengan cara mengetuk sepatunya). Ada cara untuk membuat sepatu ruby sendiri, yaitu dengan menempelkan gliter merah ke sepatu yang akan dipakai. Atau jika ingin mudah beli saja sepatu bergliter, hehehe. Tapi gue memutuskan untuk memakai sepatu merah milik Ibu. Meskipun tanpa gliter tapi modelnya cukup mirip dengan yang dipakai Dorothy. Lagipula yang terpenting adalah warnanya. Dengan kombinasi semuanya ditambah kaos kaki berwarna putih (atau biru) gue sudah bisa dikenali sebagai Dorothy :)





Video untuk detail kostum Dorothy Gale: 


Harry Potter.




1. Harry Potter identik dengan kacamata minusnya. Ini sangat mudah untuk Ray karena ia memang bermata minus, hehehe. Di novel disebutkan bahwa Harry memakai kacamata bulat, tapi gue biarkan Ray memakai kacamata sehari-harinya saja. Karena selain nggak memungkinkan untuk memakai kacatama bulat milik gue (minus kami berbeda), model apapun juga nggak masalah karena yang terpenting memberi kesan nerdy ;)

2. Seragam sekolah Harry terdiri dari kemeja putih, dasi belang-belang merah-kuning, celana hitam dan sepatu hitam. Gue meminta Ray menggali sebaik mungkin ke dalam lemarinya untuk menemukan item-item yang mendekati. Syukurlah ia menemukan semuanya kecuali warna dasinya yang berbeda, yaitu belang-belang biru. 

3.Harry sering memakai sweater abu-abu di atas kemejanya. Ray nggak punya sweater tapi ia punya ide sendiri dengan menambahkan cardigan abu-abu! Nice, Ray! :D

4. Jubah ala Harry menjadi sentuhan favorit gue. Karena tanpa itu kostumnya akan mirip seragam sekolah biasa dan tentu saja akan kurang aura mistisnya, hihihi. Gue meminjam toga bekas wisuda adik dan melepas bagian kerahnya. Jubah dipakai di atas seragam dan cerdigan tanpa diresletingkan. Biarkan menjuntai seperti gaya cueknya Harry. Jika kalian sayang untuk melepas kerah toga, pakai saja toga secara terbalik, resletingkan dari dalam sampai setengah, jangan tutupi seluruh kemejanya ;)

5. Sentuhan terakhir gue meminjamkan Ray magic wand ala Harry Potter koleksi gue. 
Jika nggak punya magic wand, kalian bisa membuatnya sendiri dengan cara menggulung koran berlapis-lapis lalu warnai dengan cat air. Atau cari saja ranting pohon yang bentuknya cukup lurus. 
Dengan perpaduan semuanya pasti terlihat cukup identik dengan Harry Potter. Tambahkan gambar halilintar di kening jika perlu. 




Gue puas sekali dengan dua buah kostum Halloween karya gue tahun ini. Dengan bangga gue menyebutkan bahwa budged yang dikeluarkan untuk keduanya adalah 0 rupiah ditambah sekian creativity (lol). Gue dan Ray sudah mengetes kedua kostum ini dengan memakainya ke tempat umum (tunggu post selanjutnya untuk cerita lengkapnya) dan ternyata orang-orang sudah bisa mengenali tokoh yang kostumnya kami pakai :D
Semoga tulisan gue (yang nggak penting ini, hehe) bisa memberi ide untuk teman-teman yang akan menghadiri pesta kostum Halloween. Atau untuk para cosplayer mungkin... siapa tahu sekali-kali bisa memanfaatkan apa yang ada di lemari dibanding membeli atau menyewa :)



Okay, selamat Halloween ala masing-masing, teman-teman. Sekarang waktunya gue menonton film sebelum tidur. Hmmm, yang nggak terlalu seram apa, ya? Hihihi, gue bahkan kadang takut kalau nonton ET! :D


treat or treat,

Indi


***
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 20 Oktober 2011

Meet my Friend, Harry Potter :)






Howdy-do, teman-teman!
Tadinya aku mau post tentang Halloween, tapi berhubung masih terlalu awal dan malah jadi spoiler aku bakal pakai kostum apa (hihihi, sebetulnya sudah pasti pada bisa tebak, sih, lol), akhirnya aku putuskan untuk post tentang sesuatu yang lain, tentang idola masa kecilku.

Aku punya banyak idola. Yang terlama adalah Aerosmith. Aku mengagumi mereka sejak aku masih 7 tahun. Tapi sebetulnya ada satu idola yang muncul di masa pra remajaku, tanpa sengaja... Ah, biar aku ceritakan dari awal ya...

11 tahun yang lalu, satu hari sebelum hari ulang tahunku, aku diminta Ibu dan Bapak untuk memilih hadiah yang aku inginkan di sebuah mall. Seperti biasa ---sejak dulu dan sekarang--- aku langsung memilih untuk masuk ke toko buku. Di sana aku terus memilih, memilih dan memilih... Mengambil setiap buku dengan hati-hati, membaca resensi-nya lalu meletakannya kembali ke rak buku. Sampai aku menemukan buku yang 'tepat'. Buku itu bersampul coklat, bergambar seorang anak laki-laki berkacamata, bersepatu keds dan sedang mencoba menangkap bola. "Harry Potter? Aku belum pernah dengar...", itu yang aku pikir. Tanpa menunggu lama aku langsung tunjukan buku itu pada Ibu dan Bapak dan mereka segera membawanya ke kasir. Di rumah aku langsung membaca buku itu sampai habis. Aku bergadang sampai pagi di hari sekolah...

Meskipun bukunya sudah habis dibaca dalam satu malam, tapi aku terus memikirkan isinya sampai berbulan-bulan kemudian (bahkan mempengaruhi hidupku sampai sekarang). Bagaimana nggak, aku bisa merasakan ikatan yang kuat dengan Harry Potter. Kami sama-sama berkacamata tebal (yup, sampai sekarang setiap kali aku berfoto pakai kaca mata, itu artinya real glasses, kacamata minus 4 dan 5), berbadan kurus dan sering diejek di sekolah. Not to mention that we had the same haircut, ya :)
Aku jadi merasa punya teman, punya seseorang yang mengerti dan tahu bagaimana rasanya jadi aku. Tanpa disadari aku semakin percaya diri dan berhenti meributkan hal-hal kecil dengan keluarga.
Aku ingat waktu itu aku masih satu kamar dengan Adik. Aku sering ribut di malam hari karena adik melewati 'batas teritori' aku. Tapi semenjak aku mengenal Harry Potter aku nggak meributkan hal itu lagi. Harry tinggal di lemari kecil dan sering diganggu oleh saudara tiri nya, remember?
Bahkan Harry membantuku untuk menjadi lebih bersyukur. Aku nggak pernah lagi malas makan dan menyisakan makanan di piring, karena aku tahu Harry sering kelaparan dan tidur dalam keadaan perut kosong...

Ibu dan Bapak menyambut idola baruku dengan senang hati (lebih senang hati dibanding ketika aku pertama kali mengaku "jatuh cinta" dengan Steven Tyler, lol). Mereka setuju kalau Harry Potter membantuku menghadapi masa pra remaja. Sayangnya, di waktu itu Harry Potter belum sepopuler sekarang. Aku harus menunggu munculnya buku kedua dengan sunyi-senyap, tanpa gembar-gembor di media seperti sekarang. Syukurlah, berkat seorang penjaga perpustakaan yang baik aku nggak ketinggalan edisi kedua Harry Potter. Aku bahkan membaca cetakan yang pertama :)

Lalu tiba-tiba saja demam Harry Potter di mana-mana. Teman-teman satu kelas yang sebelumnya memanggilku 'dork' karena aku membawa buku Harry Potter ke dalam kelas pun ikut terserang 'Potter Fever'. Rupanya Harry Potter diadaptasi menjadi sebuah film dan akan diputar segera di Indonesia. "Aku harus nonton... Aku harus nonton!", aku terus-terusan menggumamkan itu. Buatku (waktu itu) rasanya nggak adil kalau aku yang lebih dulu mengenal Harry tapi malah teman-temanku yang menonton duluan. Aku bilang pada Bapak bahwa aku ingin jadi penonton pertama dan aku harus mengantri tiket lebih awal dari siapapun di dunia ini. Dan Bapak setuju...

Aku sampai di bioskop 2 jam lebih awal. Aku memakai sweater hitam, syal kuning merah (seperti punya Harry), lengkap dengan tanda petir di jidatku yang aku lukis pakai pensil alis milik Ibu. Bapak terus-terusan memegang tanganku erat-erat karena aku terus-terusan berusaha lari supaya bisa melihat kalau aku adalah yang pertama di antrian.
Tapi ternyata salah... Puluhan anak-anak dan orang dewasa sudah menunggu di sana sambil berselonjor kaki. Hatiku tiba-tiba mencelos, Harry bukan lagi milikku seorang, tapi milik banyak anak dan orang dewasa lainnya. Dengan ogah-ogahan aku berselonjor di ujung antrian sementara Bapak menghitung jumlah orang yang mengantri di depan gue. "Supaya bisa dibandingkan dengan jumlah kursi bioskop", itu katanya. Aku sedikit tenang waktu Bapak bilang bahwa kami masih kebagian kursi. Dengan harapan baru aku langsung berdiri waktu pintu loket dibuka. Aku menunggu, menunggu dan menunggu. Tapi giliranku nggak pernah datang. Tiket sudah habis di tengah antrian...
Aku hampir menangis. Bapak ikut kecewa karena ia juga sudah menunggu selama 2 jam tanpa hasil. Bapak menghampiri loket yang sudah ditutup dan bertanya mengapa bisa kehabisan padahal menurut jumlah antrian seharusnya masih cukup sampai untuk beberapa orang di belakang kami. Petugas loket nggak bisa menjawab, ia hanya meminta maaf. Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya tentang berapa banyak tiket yang boleh dibeli saat kita mengantri tiket bioskop. Bukannya ada batas maksimal? Ah, membingungkan!

Kekecewaanku berubah menjadi kemarahan. Di perjalanan pulang aku menjadi rewel dan hampir menangis betulan. Lalu Bapak punya ide untuk membawaku ke bioskop lain. Katanya ada sebuah bioskop lama yang sudah ditinggalkan penggemar, mungkin di sana antriannya nggak terlalu panjang. Aku setuju, terlebih Bapak juga semangat. Mungkin karena ia ikut penasaran dengan Harry Potter, hehehe. Dan benar saja, di sana antriannya nggak terlalu panjang, malah waktu kami sudah di dalam ruangan, ada 1 barisan yang kosong.
Film dimulai, aku segera bersiap untuk kembali larut dengan kisahnya. Wah, Christopher Columbus! Itu kan orang yang sama dengan yang membuat dua film kesukaanku: Mrs. Doubtfire dan Home Alone. Pasti aku juga akan suka dengan film nya yang ini. Tapi hey! Siapa itu?? Apa itu Harry Potter? Kenapa tanda petirnya agak miring ke sebelah kanan? Di buku kan ada di tengah... Dan itu siapa? Bibi Petunia? Kenapa ia terlalu 'normal'? Dibuku kan ia kurus dan berwajah seperti kuda...
Gue nggak bisa berhenti bertanya pada Bapak kenapa semuanya terlihat berbeda. Bapak bilang terkadang sutradara menyesuaikan naskahnya supaya sesuai dengan tampilan visual. Ah, tapi aku nggak puas. Satu-satunya tokoh yang terlihat sama cuma Ron Weasley...


OOTD: Hair clip: CandyButton | Glasses: Braga | Top: Harry Potter | Skirt: Simple Chic | Legging: Simple Chic | Shoes: Kameli.





Ternyata aku nggak terlalu tertarik dengan filmnya, apalagi semakin lama ke-nggak miripan film dengan buku semakin besar. Aku cuma mengikuti film Harry Potter sampai seri ke 3 di bioskop. Semuanya aku tonton ditemani Bapak dan di seri ketiga Bapak malah ketiduran! Hahahaha... Tapi aku tetap mengikuti bukunya dan menyukainya seperti pertama kali aku membacanya.
Aku ingat waktu buku seri ketiganya keluar. Ada promo di sebuah toko buku yang menyebutkan bahwa pembeli pertama berhak atas buku Harry Potter edisi spesial (hard cover) dan sebuah mug bergambar Harry Potter. Nggak mau keduluan, aku menyimpan dulu uang muka sebesar 50% di toko buku. Ibu bilang aku konyol banget, karena bahkan bukunya belum sampai di Indonesia. Tapi aku tetap bersikeras bahwa harus jadi orang pertama dan nggak mau kejadian di bioskop terulang lagi. Gawatnya 3 hari sebelum bukunya datang aku terserang alergi parah. Seluruh tubuhku gatal-gatal dan membengkak. Aku sudah ke dokter dan memohon supaya bengkakku berkurang, tapi dokter nggak bisa apa-apa dan memintaku menunggu selama satu minggu. Setiap hari aku berdoa dan berdoa supaya alergiku membaik, tapi ternyata di hari ketiga keadaanku masih tetap sama. Bapak menawarkan supaya ia saja yang mengambil bukunya, toh secara teknis aku sudah jadi pemilik buku itu dan nggak perlu takut bukunya diambil orang. Tapi aku tetap bersikeras untuk mengambil bukunya sendiri. Aku ingin jadi orang pertama yang menyentuh buku itu setelah petugas toko buku (iya, petugas percetakan dan pengiriman buku nggak dihitung, lol). Akhirnya aku pergi ke toko buku dengan memakai jaket tebal, topi, sarung tangan dan masker untuk menutupi kulitku yang merah dan bengkak. Dan aku pun berhasil menjadi pembeli buku pertama yang menakut-nakuti seluruh pengunjung toko buku, hahaha. Silly Indi!

Seiiring berjalannya waktu dan habisnya masa remajaku, ketertarikan dengan Harry Potter semakin berkurang. Aku tetap menganggapnya 'teman', pasti. Tapi aku nggak lagi rela melakukan apa saja untuk mendapatkan bukunya. Aku jadi lebih bersabar dan nggak menganggapnya masalah besar kalau aku terlambat membeli bukunya selama satu atau dua bulan. Dan dengan film nya, aku semakin nggak tertarik. Aku hanya menonton ketika DVD nya rilis atau diputar di TV. Kenangan terakhirku menonton Harry Potter (setelah yang seri ke 3) di bioskop adalah menonton seri yang ke 7, seri terakhir. Aku menonton dengan Ray dan kami nggak bisa berhenti tertawa karena Daniel pemeran Harry Potter, tampak begitu pendek dan berisi, semakin jauh dengan gambaran Harry Potter di buku, hihihi. Meski begitu, sama sekali nggak mengurangi kecintaanku dengan kisah Harry Potter yang sederhana tapi mengagumkan :)







Tadi siang Bapak bertanya di mana aku menyimpan semua koleksi pernak-pernik Harry Potterku. Aku bilang mungkin ada di kamar dan sebagian ada di rumah kami yang lama. Tiba-tiba saja aku ingin mengenang kembali masa kecil dan pra remajaku, sebelas tahun yang lalu ketika berkenalan dengan seorang anak laki-laki bernama Harry Potter. Dengan sedikit mencari-cari aku menemukan beberapa, memang nggak banyak tapi cukup membuat aku dan Bapak tersenyum lucu.
Hari ini dan selamanya aku akan mengenang Harry Potter sebagai anak laki-laki bertubuh kurus yang memiliki bekas luka di tengah jidatnya, bukan di agak ke kanan seperti di film. Harry Potter yang membuatku lebih bersyukur, berani dan membantu melewati masa pra-remajaku yang sulit.
Terima kasih, Harry... my friend ;)






salam,
INDI