Tampilkan postingan dengan label meet and greet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meet and greet. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2016

Bercerita Tentang Mika di Malang :)

Howdy-do, peeps! Ah, selalu senang kalau bisa kembali ke sini. Rasanya seperti pulang ke rumah, ---rumah di dunia maya maksudnya, hihihi. Kalau ada di antara kalian yang membaca post-postku sebelumnya (atau mengikutiku di Facebook dan Instagram) pasti tahu kalau tanggal 2 Desember lalu aku mengisi sebuah acara Hari AIDS Sedunia di kota Malang. Nah, sekarang aku mau cerita soal pengalaman selama di sana. Dan apa kabar cerita Halloween ku yang ditunda-tunda terus untuk di post? Hehehe, untuk sekarang nonton dulu vlog nya di sini saja, ya. Soalnya karena sebuah alasan (---yang cheessy dan konyol) aku belum bisa menulis ceritanya :p

Di bulan November lalu aku dihubungi oleh Dina, salah satu anggota tim dari Indonesian Future Leaders chapter Malang untuk menjadi pembicara di event peringatan Hari AIDS Sedunia. Aku belum pernah mendengar apa itu IFL, tapi dengan quick search di internet aku jadi tahu kalau itu adalah organisasi non profit yang berfokus pada kegiatan youth empowerment dan social voluntarism. Aku langsung tertarik, ---tapi nggak langsung memutuskan untuk mengiyakan. Alasannya selain tempatnya jauh (tahun lalu aku jadi pembicara di Surabaya dalam keadaan sakit, uhuhu), juga karena sudah jauh-jauh hari ada kelompok dukungan sebaya (group support ODHA dan OHIDA) yang memintaku membantu acaranya di Bandung. Aku meminta waktu untuk berunding dulu dengan Bapak, tapi sebelum kami membuat keputusan dapat kabar kalau acara yang di Bandung batal. Hehehe, tahun ini rupanya aku ditakdirkan untuk memperingati Hari AIDS Sedunia jauh dari rumah :) 

Setiap kali melihat ke belakang aku selalu takjub dan nggak menyangka dengan apa saja yang sudah dilalui... Masih jelas rasanya hari dimana Mika, my forgetful angel, meninggalkanku untuk mengambil sayapnya di surga. Waktu itu rasanya aku sangat terpuruk dan nggak berdaya. Mungkin kesannya berlebihan, tapi memang itulah yang aku rasakan. Aku terlalu terbiasa ada Mika. Selama 3 tahun dengannya aku berubah dari Indi yang pemalu dan nggak nyaman dengan kondisi fisik menjadi Indi yang dengan bangga memakai brace scoliosisnya di luar baju dan merasa 'nggak kurang' dibandingkan remaja-remaja lain. Dengannya aku merasa aman dan percaya kalau aku bisa melakukan 'apapun'. Dan Mika juga lah yang membangkitkan keterpurukanku setelah ia meninggal. Semangatnya membuatku sadar kalau ia nggak akan suka aku terus-terusan murung. Dan berhenti 'membicarakannya' justru membuatku menjadi denial, ---sulit mengiklaskan. Keberanian untuk menghadapi kepergiannya justru malah membuat Mika seolah selalu ada. I face my fears, ---aku berbagi kisah tentang Mika. Dan aku lakukan ini bukan hanya untuknya, tapi juga untukku. 

Jadi pada tanggal 2 Desember lalu, pagi-pagi sekali aku dan Bapak sudah berada di Bandara untuk menuju Surabaya. Penerbangan dari Bandung belum ada yang langsung tiba di Malang, jadi kami harus berangkat sedini mungkin untuk mengejar sesiku yang akan berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Aku sebenarnya ditawari untuk berangkat 1 hari sebelumnya, tapi karena aku sedang sedikit demam jadi kupikir lebih baik sedekat mungkin dengan waktu acara. Aku baru tidur 2 jam karena sebelumnya sedang menyelesaikan interview dengan Hunter Kelch (perbedaan waktu 2 negara membuatku harus begadang, hehehe). Aku pikir akan bisa tidur di pesawat, tapi ternyata aku tetap terjaga sampai tiba di Surabaya. Penerbangannya super lancar, dan kami mendapatkan pesawat yang nyaman dan lega. Tapi di sampingku ada perempuan yang "mengkahwatirkan". Ia terus-terusan facetime dengan pacarnya (---atau siapapun itu) sampai ditegur 3 kali oleh pramugari dan sepanjang perjalanan terus-terusan mengecek makeup nya. Ugh, why oh why?!! :p

Waktu tiba di Bandara Juanda.

Meski begitu mood ku dan Bapak tetap super bagus. Kami hanya menunggu sebentar ketika tiba di Bandara Juanda karena Eko dan Rizki dari IFL sudah menjemput dan siap untuk mengantarkan ke Malang. Rasanya seperti de javu, begitu menginjakkan kaki di Surabaya udara langsung terasa hangat (---panas, hehe). Biasanya aku prefer cuaca dingin, tapi rasanya aku rindu Surabaya, teringat keramahan teman-teman di sana, huhuhu, ---jadi mellow :p Tapi 2 teman baru dari Malang ini pun nggak kalah ramah. Sepanjang perjalanan mereka terus bercerita tentang tempat-tempat yang kami lewati. Seperti tour guide, hehe. Dan itu membantuku dan Bapak untuk tetap terhibur di perjalanan yang super macet dan didera hujan deras karena kami banyak tertawa. Sebagai penutup perjalanan sebelum tiba di guesthouse kami juga diajak mampir ke restoran pecel "Kawi". Di sana rasa pecelnya super nikmat! Sayang untuk lidahku terlalu pedas jadi nggak sanggup untuk menghabiskan 1 porsi :p

Pecel “Kawi” yang nikmat tapi pedas :p

Seperti kata Mika, selalu ada yang pertama kali untuk segalanya. Begitu juga dengan pengalaman sebagai speaker kali ini. Kalau biasanya disediakan hotel, kali ini panitia menyediakan sebuah kamar di guesthouse. Ternyata tempatnya nyaman sekali dan homie, ---ada teras untuk bersantai dan kolam ikannya. Lucunya, nama guesthouse nya Bandoeng, cocok sekali dengan kota asalku, hahaha. Yang pertama terpikir olehku ketika tiba adalah tidur, tapi lagi-lagi aku betah terjaga. Mungkin saking lelahnya, plus harus menyiapkan speech ku nanti. Kalau Bapak sih, 5 menit nempel di bantal suara ngoroknya langsung terdengar :p Ya, sudah aku hanya sekedar rebahan sambil memeluk Onci, boneka kelinciku. Sekitar pukul setengah 2 siang handphoneku berdering, rupanya Salsa dan Ferdy dari IFL sudah menunggu di lobby untuk menjemput kami. So excited! Rasanya lelahku langsung hilang seketika :)

Di guesthouse “Bandoeng” setelah berganti baju.

Malang masih diguyur hujan, dan ini membuat perjalanan (lagi-lagi) sedikit terhambat. Butuh waktu lumayan lama untuk tiba di lokasi, padahal jaraknya dekat, lho. Tapi asyiknya aku jadi bisa lihat kiri-kanan dan melihat-lihat taman di kota Malang. By the way, dari sekian banyak tempat yang kukunjungi rasanya di sinilah yang suasana dan udaranya mirip di Bandung. Sejuk dan banyak taman kotanya. Sampai-sampai Bapak bilang kalau difoto dan nggak bilang dimana lokasinya, orang Bandung pasti mengira kami sedang di alun-alun, hihihi. Akhirnya kami tiba juga di Cafe Gembira, lokasi dari event Close the Gap. Sebelum dimulai aku sempat mengobrol dengan Dina dan briefing secara singkat. Berhubung segmenku kebagian sore, jadi aku nggak sempat melihat pengisi acara sebelumnya. Katanya sih ada pameran karya teman-teman ODHA, dan sebagian masih ada di display. Sayang karena lumayan sibuk hanya Bapak yang sempat melihat-lihat.

Tiba di Cafe Gembira untuk event “Close the Gap”.

Nggak menunggu lama, sebelum teh manis hangat yang disediakan habis aku sudah naik ke lantai 2 untuk nonton bareng film Mika. Secara singkat aku mengenalkan diri kepada audiences yang sudah hadir. Kursi-kursi yang disediakan nggak semuanya terisi, tapi menurutku jumlah audiences bukan yang utama tapi antusiasme merekalah yang aku harapkan :) Aku nggak bisa cerita tentang detailnya, ya. Yang pasti menonton kembali "diary" ku bersama Mika selalu membuat perasaan campur aduk. Ada yang bikin tertawa, tapi ada juga yang membuat air mataku jatuh. Ada saat-saat di mana aku merasa nggak sanggup untuk menontonnya kembali, tapi ada juga saat di mana aku merasa "okay". Dan kali ini perasaan gue adalah yang kedua, ---meskipun malam sebelumnya aku baru saja menonton film "Mika" di TV. Ya, air mataku memang sedikit keluar, tapi lebih banyak tersenyumnya. Thank God :)

Film “Mika” diputar di layar besar.

Sepanjang pengalamanku nonton bareng film "Mika", baru kali ini dapat audiences yang 'adem' (baca: sepi). Biasanya, saat adegan lucu mereka tertawa, dan saat adegan sedih ada isak tangis. Minimal ada celetukan-celetukan komentar. Sempat bertanya-tanya juga dalam hati, apakah filmnya kurang seru bagi mereka? Atau apakah mereka bosan? ---padahal kabarnya banyak di antara mereka yang belum pernah menontonnya, lho. Makanya waktu film berakhir dan terdengar tepuk tangan yang riuh aku lega sekali. Rupanya mereka hanya pemalu. Terbukti saat sesi tanya-jawab mereka hapal dan paham betul dengan ceritanya, ---bahkan mendetail! Ternyata diam-diam mereka memperhatikan, ya, hehehe. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan pun cukup smart. Dengan senang hati aku menjawabnya karena nggak ada satupun yang menyinggu privacy ku dan jauh dari kesan kepo. Yay, good job Malang :))

Suasana waktu nobar film “Mika”.

Setelah nggak ada lagi pertanyaan yang ingin mereka ajukan, aku sharing tentang isu kesenjangan yang (sayangnya) masih terjadi di keseharian kita. Meski event ini dalam rangka Hari AIDS Sedunia, tapi apa yang terjadi pada ODHA sebenarnya bisa terjadi juga pada kita. Bayangkan bagaimana rasanya dibedakan hanya karena kondisi kita, padahal di balik itu kita adalah manusia yang "sama". I mean, ---well, iya manusia memang berbeda-beda tapi bukan berarti harus dibeda-bedakan, kan? Dengan memahami dulu kondisi yang terjadi aku yakin akan menumbuhkan empati dan menghilangkan 'kebiasaaan' untuk judging. Lagipula, apa gunanya menghakimi? Kita bisa membenci seseorang mati-matian dan itu cuma membuat semuanya lebih buruk. Lebih baik perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, be nice. Kita nggak pernah tahu apa yang seseorang bisa lakukan atau apa pengaruh mereka di masa depan. Dulu banyak orang yang berkata buruk tentang Mika. But look at him now...

Sesi sharing.

Aku berbicara tentang kesenjangan yang sering terjadi di keseharian kita.


Aku pernah membaca komentar di blog ini (atau di media sosialkuyang lain? Maaf lupa, hehe) yang isinya kurang lebih bahwa yang terpenting justru edukasi soal pencegahan penularan virus HIV, bukan soal masalah kesenjangannya. Tapi menurutku keduanya sama pentingnya. Bahkan edukasi mengenai kesetaraan bisa jadi lebih mudah diterima karena bisa dimengerti oleh anak-anak sekalipun. Contohnya saja sepupuku yang berusia 10 tahun bertanya tentang alasan mengapa Mika dikucilkan, bukan bertanya tentang asal usul virusnya ketika menonton "Mika". Ini sih mengenai perspektif, ---mana yang efektif mana yang nggak tergantung kepada siapa kita 'berbicara'. Aku percaya nggak ada cara 'kampanye' yang salah atau buruk. Kapan-kapan aku akan bahas lebih jauh lagi, tapi sekarang balik lagi ke event Close the Gap yang keren dulu, ya :)

Setelah sharing, sesiku ditutup dengan foto bersama dan interview. --Well, nggak benar-benar selesai, sih, hehehe. Setelah 'turun panggung' justru audiences lebih akrab untuk bertanya dan mengajak selfie. Meski agak crowded tapi aku happy sekali dengan reaksi mereka. Aku selalu terbuka untuk menjawab pertanyaan asalkan itu bukan hal-hal yang terlalu pribadi (---kurasa aku sudah cukup banyak berbagi kisah tentang Mika, kan). Satu pertanyaan yang banyak ditanyakan adalah soal pendapatku mengenai sukses atau nggak nya acara ini. Dan, ya menurutku acara ini sukses! Nggak ada acara yang sempurna, tapi menurutku "Close the Gap" ini berhasil mengcaptured apa pesan yang ingin disampaikan. Aku suka dengan konsep semua orang duduk bersama untuk menonton film dan berbincang, ---tanpa harus disebut 'kamu ODHA dan aku bukan'. Karena honestly acara yang dibuat seperti itu malah berkesan seperti freak show. Itu lho show yang isinya orang-orang diberi label "si A", si B" atau "si C". Barbar sekali (---meminjam istilah Robin Williams), dan justru malah membuat kesenjangan semakin terasa.

Foto bersama. —-Iya, bapakku juga ikutan :D

Aku dan Bapak nggak langsung diantarkan kembali ke guesthouse. Tapi kami makan siang (super late, hehe) dulu sambil masih berbincang dengan beberapa kru IFL. Thumbs up lho buat chef dari Cafe Gembira yang secara khusus membuatkanku masakan vegan meskipun itu nggak ada di menu. Meski kesannya 'biasa' tapi saat penyelenggara acara memperhatikan hal-hal kecil yang sifatnya personal, bisa membuatku lebih nyaman, lho! :) Aku dan Bapak lalu diantar oleh Salsa dan Ferdy untuk melihat-lihat kota Malang setelah kami sedikit rapi-rapi (hehe) di guesthouse. Meski waktunya singkat karena sudah malam tapi kesampaian juga untuk melihat Tugu Malang dan mobil odong-odong yang super ramai, hehehe. Aku juga membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada dompet batik berwarna pink yang cuteee sekali. Sayangnya cuma 1, jadi aku berikan sama iparku deh (---karena gue baik, lol).

Berfoto bersama Bapak. Maunya sih Tugu Malangnya kelihatan, tapi ternyata gelap :p

Keesokan paginya setelah tidur beberapa jam (---tradisiku dan Bapak kalau nggak ada Ibu pasti ngobrol sampai pagi), kami diantarkan ke Bandara Juanda untuk pulang menuju Bandung. Aku kembali bertemu dengan Dina dan ia mengantarkan kami sampai gate untuk mengucapkan sampai jumpa. Pertemuanku dengan teman-teman baru di Malang memang singkat tapi begitu berkesan. Aku harap bisa kembali lagi suatu hari, ---dan tentu aku juga berharap telah meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Apa yang aku lakukan memang nggak banyak, tapi aku berusaha berbagi apa yang kumiliki. Aku berbicara, agar Mika selalu ada, ---agar semangat Mika selalu ada di hati orang-orang yang mendengarkan kisahnya :)

vlog perjalanan, sesi sharing dan jalan-jalan

smile,

Indi

________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 24 November 2016

Malang! Aku Akan Hadir di Sana untuk Hari AIDS Sedunia :)



Hai bloggies! Nggak terasa ya sekarang sudah memasuki akhir bulan November (---dan aku masih juga belum menulis tentang acara Halloweenku di rumah, hehe). Kalau sudah masuk tanggal-tanggal segini biasanya aku jadi (semakin sering) teringat dengan Mika. Kenapa? Tentu saja karena tanggal 1 Desember yang diperingati sebagai hari AIDS sedunia sudah semakin dekat. Mungkin ada di antara kalian yang masih asing dengan Mika. Siapa ia? Mika adalah laki-laki yang aku kenal ketika baru saja lulus SMP. Kami lalu mengalami masa berpacaran yang sangaaat menyenangkan dan penuh kenangan sampai akhirnya Mika meninggal 3 tahun kemudian. Mika adalah pacar pertamaku, ---dan ia juga seorang AIDS fighter. Hari AIDS sedunia selalu mengingatkan aku padanya. Bukan hanya karena ia meninggal di bulan yang sama, tapi juga karena 'perjuangannya' melawan stigma dan diskiminasi... Mika sekarang memang sudah di surga, tapi aku nggak ingin perjuangannya berhenti, ---aku ingin melanjutkannya.

Aku lakukan sebisanya. Awalnya aku menulis kisah Mika di blog agar bisa berbagi apa yang kutahu tentangnya. ---Iya, tentang Mika, bukan tentang HIV/AIDS, karena aku ingin Mika "dinilai" dari kepribadiannya, bukan dari apa yang ia idap. Nggak disangka tulisan-tulisanku tentang Mika pun diangkat menjadi buku dengan judul "Waktu Aku sama Mika" pada tahun 2009 oleh Homerian Pustaka, dan pada tahun 2013 lalu difilmkan dengan judul "MIKA" oleh Investasi Film Indonesia. Jalanku untuk menyebarkan awareness lewat kisah Mika pun semakin terbuka. Meski pelan tapi pasti. Semakin banyak pembaca atau penonton film yang menghubungiku untuk sekedar berbagi kisah karena merasa terwakili atau malah mengucapkan terima kasih karena sebelumnya selalu "berprasangka buruk" terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Itu membuatku senang dan lega, karena artinya Mika tetap 'hidup' untuk terus berjuang :)

Selain melalui tulisan dan film aku juga melanjutkan perjuangan Mika melalui suara. Dengan senang hati aku selalu berusaha bisa untuk menghadiri undangan sebagai pembicara atau narasumber jika ada yang meminta. Media tulisan dan visual memang bagus, tapi kehadiran secara langsung tentu lebih memudahkanku untuk menyampaikan secara lebih personal. Dan tahun ini kesempatanku untuk menjadi pembiacara datang dari IFL Chapter Malang atau Indonesia Future Leaders dalam program Close the Gap, sebagai salah satu bagian dari Global Change Maker yang ingin membantu terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya pada point ke-3 (Good Health and Well-being). Dan juga visi dari UNAIDS (zero new HIV infections, zero discrimination, and zero AIDS-related deaths). Program ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara penularan dan pencegahan virus HIV, juga tentang permasalahan sosial antara ODHA dan non-ODHA yang tanpa disadari ada di lingkungan sekitar kita.

Nah, Close the Gap tahun ini mempunyai tema "Selaras Tanpa Stigma" dan mempunyai 3 rangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 27 November, 1 dan 3 Desember 2016. Aku sendiri akan berada di acara puncak, yaitu pada tanggal 3 Desember.


Selaras Tanpa Stigma 
Talkshow, Pameran Hasil Kreativitas ODHA, Pementasan Teater dari Komunitas, Bedah Film “Mika” bersama Indi Sugar
Hari & Tanggal: Sabtu, 3 Desember 2016
Tempat: Cafe Gembira
Alamat: Jl. M.T. Haryono, Ruko Istana Dinoyo Blok E1 - E2 Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang
Pukul: 11.00 - 20.00 WIB


Sesiku akan berlangsung pada pukul 2 siang, tapi aku sarankan teman-teman hadir dari awal karena acaranya pasti akan seru dan bermanfaat sekali. Kalian juga bisa ikut berkontribusi lho untuk perubahan sosial dan kesehatan ini. caranya dengan cara berdonasi melalui https://kitabisa.com/closethegap2016
By the way, aku sering sekali dikira belum bisa move on dari Mika. Well, semua yang aku lakukan ini awalnya memang darinya. Tapi setelah semakin dewasa aku sadar bahwa ini lebih luas daripada yang kukira. Ini tetap untuk Mika, tapi bukan segalanya tentang Mika. Aku juga melakukan ini untuk Mika-Mika yang lain, agar kita sebagai manusia bisa hidup berdampingan tanpa prasangka hanya karena sesuatu yang kita idap. Dan aku yakin nggak sedang diam di tempat. Aku terus maju. Melanjutkan hidupku, ---tapi tanpa perlu melupakan Mika :)


smile,

Indi

_______________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Kamis, 04 Agustus 2016

Cerita Launching "Indi Sugar's Sweets" di Bazaar Pesona Ramadhan :)


O my God... O my God... dari mana saja aku? *pura-pura amnesia, hehehe* Tahu-tahu saja sudah masuk bulan Agustus sekarang. Selamat memasuki bulan baru ya, teman-teman. Semoga bulan ini lebih baik dari sebelumnya. Amen... :)
Hmm, sebenarnya aku nggak ke mana-mana, sih. Tapi aku punya penyakit "anak kecil", ---terlalu excited mau cerita banyak hal yang dialami tapi malah bingung mau yang mana dulu. Persis kaya anak kecil disuruh milih mainan baru, hihihi. Untuk menulis yang sekarang saja aku sampai tutup semua tab di komputer, mencoba nggak melihat foto-foto pengalamanku sebulan ke belakang karena bisa-bisa ganti tema di tengah tulisan :p Tulisan itu memang lebih tricky daripada foto, sih. Kalau foto bisa langsung upload sesegera mungkin karena paling keren aku cuma crop sama resize saja, sedangkan tulisan prosesnya lebih panjang, ---terkadang harus membangun mood. Tapi repotnya kalau kaya aku, mood baru mulai on, eh sudah pengen cerita hal lain. Ah, sudah cukup dengan blabbingnya, sekarang aku mau mulai cerita :D

Seperti yang pernah diceritakan di sini, 2 bulan lalu aku meluncurkan sebuah label sweets alias camilan yang bernama "Indi Sugar's Sweets". Sebenarnya ini nggak pure ideku, tapi atas dukungan orangtua juga, khususnya Ibu. Kebetulan beliau dan dua orang temannya (---yang sudah aku anggap sebagai tante) juga mempunyai usaha kue kering yang bernama Mawarsari, jadi produk mereka bisa meramaikan booth ku ketika launching. Sengaja aku mengambil waktu di bulan Juni karena sudah dekat dengan Lebaran, biasanya banyak yang mencari camilan untuk jamuan silaturahmi. Ya, sambil menyelam minum air lah ceritanya. Aku mau belajar jadi pengusaha, dan kalau ada untungnya bisa buat bekal liburan, hehehe. Bapak bilang sih jangan jadi beban. Yang penting aku have fun dan untuk menambah pengalaman. Makanya waktu ditawari untuk ikut bazar, aku langsung setuju. Sepertinya itu tempat yang tepat untuk launching "Indi's Sugar's Sweets".

Bazar yang aku dan Ibu ikuti, ---eh plus Bapak karena beliau ikut mengantar--- diadakan di Gedung Direktorat Pajak Jakarta Selatan dari tanggal 16-17 Juni 2016. Namanya "Semarak Bazaar Ramadhan" dan meskipun diadakan di lantai 2 tapi bazar ini terbuka untuk umum. Kami pergi dari Bandung waktu matahari belum terbit, kira-kira pukul 4 subuh karena loading barang hanya boleh dilakukan sampai sebelum pukul 9 pagi (buseeeeet). Aku sempat agak pengen menangis, soalnya belum tidur semalaman dan kondisi juga sedang nggak fit. Aku baru saja dapat "surat cinta" dari dokter, katanya aku kena hernia dan kista, jadi buat duduk di mobil berjam-jam rasanya.... (coba tebak, lol). Let alone soal scoliosis lah yang sudah pasti menambah kemeriahan suasana. Tapi mau gimana lagi, rencana ini sudah ada sebelum aku sakit dan semangatku juga sebenarnya lagi oke-oke nya. Untuk menyiasati agar aku nggak terlalu menderita (lol), cushion kesayangan pun sengaja ikut diboyong dan menemani sepanjang perjalanan. Thank God kami tiba tepat waktu dan bisa mendekor booth dulu sebelum pengunjung mulai berdatangan.



Karena sekalian launching, ---yang artinya pengunjung sama sekali belum tahu belum tahu tentang produkku, jadi kami berusaha supaya booth terlihat se-catchy mungkin. Sejak 1 minggu sebelumnya aku dan Ibu memikirkan tentang temanya. Akhirnya kami putuskan untuk memakai nuansa pink dan girly supaya cukup memakai benda-benda yang sudah aku punya. Untuk logonya pun aku yang desain, lho. Biar hemat yang penting meriah, hehehe. Oh iya, sebenarnya kami juga sudah mencetak backdrop. Tapi rupanya posisi booth kami pas di depan jendela, jadi nggak boleh ditempel apa-apa :( Untung saja banner kami warnanya cukup terang, jadi masih terlihat stand out di antara keramaian :p


Agak nervous karena ini adalah my very first bazaar. Waktu sudah menunjukan pukul 10 tapi suasananya masih sepi, hanya ada beberapa orang kantor saja yang berlalu-lalang. Bisa dimengerti sih karena selain di hari kerja, posisi kami yang di lantai 2 pun membuat pengunjung agak sulit untuk mencapainya. Eh, jangankan pengunjung sih, kami saja harus diantar security ke lokasi karena kurangnya petunjuk, hihihi. Syukurlah satu jam kemudian pengunjung mulai ramai, ---meski sebagian besar hanya melihat-lihat saja. Aku dan Ibu juga masih bingung dengan cara memperkenalkan produk kami karena masih malu-malu :p Akhirnya aku memberanikan diri untuk melangkah keluar dari booth dan mulai berseru, "Silakan mampir. Kami punya coklat, kue kering, permen. Mbak, Bu, Kakak, Pak..." Rupanya cara itu berhasil! Pengunjung mulai melirik booth kami dan kami pun mendapat pembeli pertama! Hore! :D


Jam-jam berikutnya terasa lebih mengalir dan cepat. Booth kami hampir selalu ada pembeli dan akhirnya jajaran toples "Indi Sugar's Sweets" yang dipajang di rak pun harus kuisi ulang. "Sedikit-sedikit tapi pasti," begitu kata Ibu waktu melihat sisa dagangan kami. Rasa sakitku pun jadi nggak terlalu terasa karena sibuk melayani dan beramah-tamah dengan pengunjung. Dan tahu apa best part nya? Kalau ada waktu luang aku bisa berkeliling dan mencicipi makanan yang dijual di sana. Favoritku adalah booth masakan Bali yang letaknya ada di sebrang sebelah kanan booth ku. Ya, ampun aku sampai nambah 2 kali saking enaknya :p Lucunya abang yang menjaga booth gantian berkunjung dan membeli 1 toples bola-bola cokelatku, hehehe, ya ampuuuun :D



Semakin sore kejutan pun berdatangan. Yang pertama kami dikunjungi oleh keluarga "lama" nya Eris, anjing kami. Mungkin masih ada yang ingat kalau 6 tahun yang lalu Eris diberikan oleh seorang Ibu baik hati untuk mengobati hatiku setelah ditinggal Veggie, anjingku yang mati karena epilepsi. Nah, beliau datang bersama anaknya ke boothku. Surprise sekali, selain memborong sweets dan kue kering, mereka juga membawa kado untuk Eris yang berulang tahun di bulan Mei lalu. Ya, ampun kalau nggak malu rasanya aku mau menangis :'D Dan kejutan kedua adalah aku kedatangan beberapa pembacaku. Katanya mereka tahu tentang bazar ini dari instagram dan memutuskan untuk datang. Waaa, jadi terharu, rasanya kaya meet and greet dadakan, hihihi.


Bazar selesai pukul 3 sore. Karena lokasinya di dalam kantor jadi cukup menguntungkan, kami nggak harus membawa barang-barang lagi karena ada security 24 jam. Dan itu sangat membantu karena tanpa beres-beres pun tenagaku sudah terkuras, hehehe. Sebisa mungkin aku berusaha agar "nggak semakin sakit" karena bazar masih 1 hari lagi. Supaya nggak "cape di jalan" kami putuskan untuk nggak pulang ke Bandung, tapi menginap di villa keluarga di Purwakarta. Rasanya lucu juga, menginap di villa tapi hampir nggak menikmati apa-apa. Hanya numpang mandi air hangat, exercise ringan dan tahu-tahu ketiduran. Paginya sudah wuzzz lagi ke Jakarta. Hihihi, nggak apa deh, buat pengalaman :D

Hari kedua rupanya benar-benar puncaknya. Jumlah pengunjung jauuuuh lebih banyak dari hari sebelumnya dan lebih antusias! Sampai-sampai aku susah pegang kamera untuk mengabadikan moment. Agak sayang juga, sih, tapi yang penting tetap terekam dalam hati (---apaan coba? Lol). Rupanya ada beberapa pembeli kemarin yang mengajak teman-temannya untuk mampir :) Kue-kue Ibu laris manis, produk Manies dan camilan Bandung yang juga ikut meramaikan jauh lebih laris dibanding hari sebelumnya. Begitu juga dengan produk "Indi Sugar's Sweets" yang kalaupun ada yang nggak jadi beli tapi tetap diambil fotonya karena packagingnya imut, hehehe *boleh dong bangga?*






Aku, Ibu dan Bapak sudah super lelah ketika bazar berakhir, tapi kami juga super senang. Pengalaman launching sekaligus bazar pertama ini sangat berharga untuk kami. Secara kasar Bapak menghitung kalau produk "Indi Sugar's Sweets" laku 70% yang artinya lebih baik dari yang diperkirakan (---dan sisanya terjual hanya beberapa hari setelah bazar). Mungkin setelah ini aku akan ikut bazar lagi, ---mungkin jika mendekati hari Natal atau tahun baru nanti ;) Aku nggak bohong, bekerja ditemani scoliosis, hernia dan kista memang nggak mudah. Kadang gue bahkan nggak bisa bedakan sakit yang sedang aku alami itu sumbernya dari mana, lol :p Tapi aku berhasil melewatinya, aku belajar, aku dapat pengalaman dan teman baru. It's awesome. Aku jadi nggak sabar untuk mencoba hal-hal baru lagi. Karena buatku nggak ada istilah "mumpung masih muda" atau "mumpung masih sehat". Usia berapa pun nggak ada kata terlambat untuk belajar. Dan (aku harap) dalam keadaan sakit atau sehat, semangatku nggak akan berubah :) Amen!



yang kemarin nyanyi, nulis buku, eh sekarang jualan kue, lol,

Indi

Btw, karena di post sebelumnya banyak yang bilang nggak tahu aku tampil di NET TV (karena aku kasih kabar mendadak, ---sorry, aku juga baru tahu, hehehe). Nih, aku kasih link untuk nonton in case ada yang penasaran, hihihi. Klik di sini.


(Update 8/3/2024. Aku masih melanjutkan bisnis di bidang kuliner, kini dengan nama “Indi Sugreen” yang berfokus pada makanan plant based).


___________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: 081322339469

Rabu, 15 Juni 2016

Kamu di Jakarta? Yuk, Cicipi "Indi Sugar's Sweets" Sambil Ngabuburit! :)


Halooooo teman-teman bloggies! Siapa nih yang tinggal di Jakarta? Ayo angkat tanggannya. ---Eh, nggak usah deh, dari sini juga nggak kelihatan, hihihi :p Kita ketemuan, yuk! Tanggal 16 sampai 17 Juni 2016 nanti aku akan ada di sana, tepatnya di Gedung Direktorat Pajak. Kedatangan ku ke sana dalam rangka memperkenalkan brand makanan milikku yang bernama "Indi Sugar's Sweets". Ya, semacam launching kecil-kecilan, deh, hihihi. 

Mungkin ada yang heran, kok dari penulis aku bisa mendadak tertarik dengan dunia makanan. Well, aku juga heran. ---Lol, just kidding! :p Aku memang senaaaaaang sekali ngemil, terutama segala macam sweets dan desserts. Kalau ada yang masih ingat dengan film MIKA, di sana aku senang sekali setiap menerima lollipop dari Mika. Nah, di real life pun gitu, segala macam permen, es krim dan cokelat akan kuhabiskan tanpa menunggu lama :D Dari sanalah ide "Indi Sugar's Sweets" dibuat, agar kecintaan terhadap berbagai macam sweets bukan aku saja yang menikmati, tapi juga banyak orang ;)

"Indi Sugar's Sweets" menyediakan macam-macam cemilan manis seperti cokelat isi biskuit, cokelat isi kacang, jelly, permen dan lain sebagainya. Eits, meski banyak sweets yang beredar di pasaran, produkku beda, dong ;) Selain harganya bersaing (---betul, coba bandingkan saja, lol), rasa dan kualitasnya sangat terjaga. Saat dikemas aku pastikan agar sweets nya nggak lengket dan cacat, bahkan di kemasan yang paling kecil pun disertakan silica gel. Dan yang nggak kalah penting, packagingnya rapi dan as sweet as a sugar, dong, hihihi.


Launching diadakan di Bazar Dharma Wanita DJP, tepatnya di booth "Indi Sugar's Sweets". By the way, meski judulnya sweets, tapi untuk yang nggak suka manis aku juga disupport oleh "Mekar Sari" yang menyediakan beraneka macam kue kering (cocok nih buat persiapan lebaran) dan "Manies" yang menyediakan bola-bola susu dan jajanan khas Bandung termasuk keripik pedas dan seblak! Yumm :) Dan untuk yang mau berkunjung, nggak usah khawatir sulit untuk menemukan booth nya karena "Indi Sugar's Sweets" punya banner berwarna pink catchy dengan fotoku dan Ibu :p



Aku tunggu kedatangan teman-teman semua untuk menikmati sweets dan jajanan lainnya di;

Semarak Bazaar Ramadhan
Booth "Indi Sugar's Sweets"
Waktu: 16-17 Juni 2016, pukul 10.00-15.00
Tempat: Gedung Direktorat Pajak
Jl. Gatot Subroto 40-42 Jakarta Selatan
(Aula Gedung A Lantai 2)

Ajak teman, saudara, orangtua, pasangan, tetangga, ---dan siapapun yang kalian mau, hihihi. Sampai bertemu di sana! ;)


as sweet as a sugar and everything nice,

Indi

______________________________

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 09 Desember 2015

Menjadi Tamu di Acara "Komitmen Bersama Perilaku Sehat dan Bertanggung Jawab" (World AIDS Day 2015) :)

Howdy dooooo, bloggies? Waaaah, rupanya belakangan aku kurang produktif di dunia kecil kesayangan ini :( Bukan karena aku malas, tapi seperti biasanya Desember selalu jadi bulan yang sibuk, ---dan tentu jadi bulan yang penuh kesan. Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, dan di tanggal 24 Desember 11 tahun yang lalu adalah hari dimana Mika, my AIDS fighter pulang ke surga. Gak heran kan kenapa bulan ini terasa begitu berarti untukku :) Dulu aku memang bersedih dan menutup diri, tapi sekarang pengalaman hidup bersama Mika justru menjadi kesempatanku untuk berbagi, ---dan itu membuat Mika tetap hidup :)

Kesempatanku kali ini datang dari D-100 community, Kelompok Dukungan Sebaya dari RS. Borromeus Bandung. Mungkin teman-teman masih ada yang ingat perkenalan dengan mereka dimulai ketika aku diundang oleh ODHA Berhak Sehat sebagai bintang tamu di acara gathering mereka, dan di sana D-100 juga hadir. Lalu 2 bulan kemudian giliran D-100 yang mengundangku dalam rangka Hari AIDS Sedunia, kami nonton bareng film Mika di Taman Film Bandung. Dan sekarang, 1 tahun kemudian mereka mengundangku dengan konsep acara yang berbeda. D-100 bekerja sama dengan Klinik Antonius dari RS. Borromeus untuk mensosialisasikan HIV/AIDS kepada masyarakat umum dengan menggelar acara di Car Free Day Dago Bandung. Tujuannya agar yang sedang kebetulan jalan-jalan pagi pun bisa ikut bergabung ;)

Karena diadakan di area Car Free Day jadi aku harus bangun pagi-pagi sekali. Sempat hampir terlambat karena aku bangunnya kesiangan, tapi entah keajaiban darimana aku bisa mandi dengan kecepatan super hingga bisa tiba tepat waktu, hihihi. Di acara ini aku berjualan novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" yang hasilnya akan digunakan untuk membeli susu formula bagi ODHA. ---Orang dengan HIV/AIDS yang nggak bisa memberi ASI. Aku juga mendapat titipan kue-kue dari Dhian (kalau sudah menonton film Mika pasti tahu ia siapa, hihihi) yang juga untuk didonasikan. Selain D-100 dan klinik Antonius, acara ini juga didukung oleh WPA (Warga Peduli AIDS) Kebon Pisang, STKS dan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Bandung. Jadi tentu acaranya macam-macam dan super fun karena banyak yang terlibat.

Sebelum dimulai aku dengan dibantu teman-teman D-100 mengatur booth sederhana yang berisi novel-novelku dan kue-kue Dhian. Seperti biasa, wajib serba pink karena itu warna kesukaanku. Sampai-sampai taplak dan sign-nya bawa sendiri dari rumah, lho, hihihi. Sementara itu MC mulai menarik perhatian masyarakat Bandung yang sedang berjalan-jalan. Awalnya sih masih sepi, yang lalu-lalang baru beberapa saja. Tapi lama-lama jadi ramai, apalagi ada spanduk putih sebagai aksi solidaritas yang siapa saja boleh memberikan cap tangannya sebagai bentuk dukungan. Sambil mendengarkan pengetahuan tentang HIV/AIDS pengunjung juga bisa memeriksa kesehatannya secara gratis. Kapan lagi kan bisa cek tensi darah sambil olahraga pagi? :D






Pengunjung yang mampir ke booth kami juga mendapatkan hadiah-hadiah menarik. Ada goodie bag dari RS. Borromeus, pin dan lain sebagainya. Tapi tentu saja ada syaratnya, mereka harus berani bertanya atau menjawab pertanyaan seputar HIV/AIDS. Momen ini membuatku senang sekaligus miris... Aku senang karena mulai banyak masyarakat yang punya rasa penasaran tinggi dan tanpa ragu bertanya. Tapi juga miris karena masih banyak yang takut dengan ODHA. Misalnya saja ada seorang Ibu yang bilang bahwa ia nggak mau bersalaman dengan ODHA. Padahal kan HIV nggak menular melalui kontak sehari-hari. Dan seandainya saja Ibu itu tahu siapa saja di antara kami yang ODHA, mungkin beliau sudah kabur, hihihi. Untungnya rekan-rekan KPA dan WPA tetap sabar untuk menjelaskan bagaimana fakta yang sebenarnya. Kalau makan bersama, bersalaman, berciuman atau pakai toilet bersama aman untuk dilakukan, karena HIV hanya menular melalui 3 cairan tubuh, yaitu darah, cairan kelamin dan air susu ibu. Semoga saja sepulang dari sini ilmu barunya nggak pernah dilupakan, ya ;)

Aku juga berbagi tentang novel-novel yang aku tulis, dan alasan kenapa aku mengangkat isu HIV/AIDS. Surprise, ternyata ada cukup banyak pengunjung yang sudah mengenal karya-karyaku, bahkan ada yang sudah menonton film Mika juga! Rasanya seperti meet and greet dadakan karena banyak yang meminta foto dan tanda tangan, hihihi. Lucunya ada seorang pengunjung yang berkomentar, "Mika itu romantis, ya..." Aww, jadi kangen sama Mika, deh :') Tapi buatku ini adalah bonus, karena tujuan awalnya tetap untuk mensosialisasikan HIV/AIDS. Jangan sampai mereka hanya mengagumi Mika tapi saat berhadapan dengan ODHA tetap ketakutan. Seperti yang sudah sering aku bilang, aku dan Mika sebenarnya nggak jauh berbeda. Scoliosis dan HIV/AIDS sama-sama belum ada obat tuntasnya, jadi kenapa harus takut? Aku harap orang bisa stop judging seseorang dari penyakit yang diidapnya. Aku yakin semua orang juga lebih memilih sehat, jadi jangan memperburuk keadaan dengan label-label yang nggak penting :)





Oh, iya ada beberapa kejadian menarik nih waktu acara berlangsung. "Produk" yang paling laris rupanya balon-balon merah menyala yang menjadi dekorasi boothku. Sebelum novel-novel dan kue-kuenya habis, anak-anak yang lalu-lalang sudah mengantri sambil mencolek-colek aku,"Teh, Teh, minta balonnya, Teh," hihihi. Untung saja sebelum acara selesai kelarisan balon-balon itu menular pada novel-novelku. Semuanya sold out! Yay! Aku senang sekali karena artinya kami bisa berdonasi dengan maksimal. Malah ada yang membeli 1 buah novel dengan harga 3 kali lipat dari harga aslinya. Terharu sekali :') Dan yang juga berkesan ada seorang scolioser yang menghampiriku untuk bertanya tentang scoliosis dan SpineCor (soft brace). Meskipun beda tema berbagi ilmu memang bisa di mana saja, aku senang sekali kalau bisa membantu.



Waktu acara selesai, nggak terasa aku sudah berdiri selama kurang lebih 4 jam. Kalau dalam keadaan normal mungkin aku sudah pingsan (tapi tenang deh, kan dekat Rumah Sakit, lol). Nah, berhubung acaranya seru dan banyak yang membantuku selama acara berlangsung, ---termasuk Bapak dan Ray yang bergantian jadi fotografer, daya tahan tubuhku pun jadi berkali-kali lipat, hihihi. Aku selalu senang jika diundang menghadiri acara seperti ini. Karena meski sederhana dan santai, tapi pesannya lebih mudah sampai karena nggak berkesan menggurui. Dan aku harap ini bukan hanya mengenai HIV/AIDS. Tapi mengenai diri kita sebagai sesama manusia dan mahkluk Tuhan. Sudah seharusnya kita semua hidup berdampingan dan saling mendukung. Dari kecil kita sudah diajarkan bahwa setiap orang itu berbeda, tapi berbeda bukan berarti alasan untuk berprasangka buruk! ;)




yang diajarkan mika bahwa manusia itu seperti apel,

Indi

nb: Sepulang dari acara aku bertemu dengan salah seorang pembaca saat sedang mengantri di kasir supermarket. Katanya ia menyukai karyaku sejak SD dan sekarang sudah kuliah. Wah, time does really fly... mudah-mudahan aku selalu bisa berkarya dan nggak berhenti mencoba hal-hal baru. Amen... :)


__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Selasa, 23 Juni 2015

Berkat ODHA Awareness 2015; Akhirnya Bertemu dengan Teman-Teman Pembaca di Surabaya! :)

Howdy-do, bloggies! Semoga semuanya dalam keadaan baik, dan bagi yang sedang berpuasa semoga lancar, ya :)
Selalu senang kalau bisa kembali ke sini, ---ke dunia kecilku--- untuk bercerita. Tanggal 13 Mei 2015 lalu aku diundang sebagai bintang tamu di acara “ODHA Awareness” yang diadakan oleh Opo Jare Unika Widya Mandala Surabaya. Iya, ini diadakan di hari yang sama dengan interview-ku di Colors Radio (baca ceritanya di sini). Jadi setelah selesai dari sana aku (dan juga Bapak) diantarkan ke Hotel Oval untuk berganti baju lalu langsung dilanjutkan ke kampus Unika Widya Mandala. Maunya sih waktu itu aku segera membagi cerita lengkapnya di sini, tapi berhubung sedang ada banyak PR menulis jadi baru sempat sekarang. Meski begitu semoga teman-teman tetap bisa merasakan keseruan acaranya lewat tulisanku yang tertunda ini, ya :)

Sekitar pukul 1 siang aku dan Bapak tiba di kampus Unika Widya Mandala. Di sana aku langsung bertemu dengan kru Opo Jare dan Ibu Mita, dosen mereka. Sempat khawatir dengan raut wajahku yang (pasti) terlihat datar, tapi ternyata mereka sudah tahu bahwa aku sedang sakit demam berdarah dan gejala tipus, hehehe. Satu mug besar jus jambu pun disuguhkan untukku. Sambil meneguknya aku berdoa semoga manfaatnya segera terasa, karena meski hatiku super excited tubuh rasanya lemaaaaas sekali, ---bahkan untuk bicara pun perlu tenaga ekstra. Nggak lama kemudian aku dikenalkan dengan narasumber dari Delta Crisis dan Alvin, yang akan menjadi moderator nanti. Sambil menikmati jus jambu (well, seharusnya lunch, tapi aku belum nafsu makan) kami diberi gambaran tentang bagaimana talk show nya nanti. Audiences kabarnya sudah mulai menonton film Mika dan aku baru akan muncul setelah filmnya selesai. Hmm, sebenarnya sih awalnya aku diminta untuk ikut nonton, tapi aku khawatir akan mendadak mellow. Karena meskipun aku sudah jauh lebih kuat, tapi tetap saja melihat “kepulangan” Mika nggak akan pernah mudah.





Film sebentar lagi selesai, aku pun bersiap dengan menunggu di depan ruang Dinoyo tempat diadakannya talk show. Sambil menunggu aku mengintip buku tamu untuk melihat siapa saja yang hadir. Ternyata ada beberapa nama yang aku kenal sebagai follower di Twitter dan Instagramku! Rasa lemas pun segera terlupakan, apalagi setelah tahu bahwa ada 190 pendaftar, ---melebihi target yang hanya 100 orang. Aku sadar dengan kondisi kesehatanku, keringat dingin yang terus mengalir dan suaraku yang agak gemetar nggak bisa ditutupi. Tapi aku ingin tampil maksimal. Moment ini sudah aku tunggu sejak lama, Surabaya adalah salah satu kota yang aku ingin kunjungi. Teman-teman pembaca di sini termasuk yang paling aktif berkomunikasi denganku di media sosial, jadi jangan sampai aku menyia-nyiakan kesempatan ini :)





Sekitar 30 menit kemudian aku dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan, suasana masih agak senyap karena film MIKA baru saja selesai. Tanpa menunggu lama aku dan seorang narasumber dari Delta Crisis dipersilakan untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Alvin langsung membacakan profil kami, sementara mataku langsung melihat ke arah audiences, mencari wajah-wajah yang familiar. Tapi rupanya hanya Bapak saja yang aku kenal, hehehe, karena mengenali seseorang hanya dari akun media sosialnya saja ternyata nggak mudah :) 
Seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya, tema yang dibahas oleh acara ini memang agak berbeda dengan acara-acara yang pernah aku hadiri sebelumnya. Jika biasanya kampanye HIV/AIDS difokuskan pada informasi tentang virusnya, cara penyebarannya, dan lain sebagainya, ---acara ini justru berfokus pada ODHA, Orang dengan HIV/AIDS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Dan tentu saja yang akan aku bagi adalah kisah tentang Mika, laki-laki yang menjadi pacarku selama 3 tahun, yang juga menjadi inspirasi dari novel “Waktu Aku sama Mika” dan film “Mika”.






Alvin mengajukan pertanyaan padaku dan narasumber dari Delta Crisis. Ia bertanya apa yang membuatku mau berpacaran dengan Mika meskipun ia ODHA. Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa dulu aku bahkan nggak tahu apa itu HIV/AIDS. Meskipun Mika langsung berterus terang dengan statusnya tapi itu sama sekali nggak mempengaruhiku, karena well... itu tadi; aku sama sekali nggak tahu apa itu HIV/AIDS. Aku menyukai Mika karena kepribadiannya, ia adalah sosok laki-laki yang menyenangkan, spontan dan juga sangat melindungiku. Dulu aku adalah remaja yang pemalu, sering merasa tertinggal karena banyak aktivitasku yang terhambat karena harus memakai brace untuk scoliosisku. Tapi karena Mika aku merasa menjadi remaja yang seutuhnya. Karena Mika aku jadi tahu bagaimana rasanya makan di pinggir jalan, bolos waktu pelajaran olahraga (well, not really ‘bolos’, sih, aku kan memang nggak boleh ikut pelajaran itu), naik angkot, nongkrong di toko CD bekas, dan hal-hal seru lainnya. Setelah aku tahu apa itu HIV/AIDS pun penilaianku terhadap Mika pun sama sekali nggak berubah. Aku nggak melihat adanya alasan mengapa aku harus takut padanya. Mika hanya sedang sakit, ---sama seperti banyak orang lain di dunia. Dan Mika selalu melihatku sebagai aku, bukan dari scoliosis yang kuidap atau brace yang kupakai. Jadi kenapa aku harus memperlakukannya secara berbeda?





Setelah sesi sharing selesai audiences pun dipersilakan untuk bertanya padaku dan narasumber dari Delta Crisis. Nah, di sini aku mulai mengenali wajah-wajah mereka yang sering berkomunikasi denganku lewat media sosial :) Pertanyaan yang diajukan audiences adalah seputar ODHA dan penerimaan masyarakat terhadap mereka, ---apa saja problem yang mereka hadapi dan apa yang harus kita lakukan untuk membuat semuanya lebih baik. Menurutku dengan kita menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat, dan nggak memperlakukan mereka secara ‘berbeda’ bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan memberi label atau dengan men-judge macam-macam. Aku berprinsip bahwa aku harus memperlakukan orang lain seperti aku ingin orang lain memperlakukanku. Aku nggak mau diberi label, hanya dikenal sebagai seorang scolioser, tapi aku ingin dikenal sebagai aku, ---sebagai Indi :)

Sebelum acara ditutup Alvin bertanya tentang harapan-harapanku. Well, harapanku sederhana saja, aku ingin suatu hari jika orang bertanya tentang Mika, mereka akan bertanya, “Bagaimana rasanya berpacaran dengan Mika?”, bukan malah bertanya bagaimana rasanya berpacaran dengan ODHA. Stop memberi label, I’ve told you :) Oh, iya aku juga membawa 5 buah novel “Guruku Berbulu dan Berekor” dari Homerian Pustaka untuk 5 audiences yang beruntung. Mereka dipilih secara random, lewat sticker yang ditinggalkan di kursi penonton. Tadinya sih aku juga mau membawa lolipop, tapi berhubung sedang sakit jadi batal, deh hunting permen kesukaanku itu. Tapi semoga teman-teman tetap senang dengan hadiahnya, ya :)







Sebenarnya acara sudah selesai, tapi panitia bertanya apakah aku bersedia jika ada audiences yang ingin berfoto bersama atau meminta tandatangan. Meski lemasnya mulai terasa, tapi aku selalu bersemangat jika bisa bertemu dengan teman-teman pembaca secara langsung. Jadi tentu saja aku setuju. Ah, ternyata nggak salah aku hadir di sini meskipun sedang sakit, semuanya ramah-ramah, lho! Sambil berfoto juga aku sempat mengobrol singkat dengan mereka. Ada Regika, follower twitterku sejak lama yang rupanya juga sama scolioser. Ada Caca, pembaca setiaku dari mulai “Waktu Aku sama Mika” sampai yang bukuku yang terbaru “Conversation for Preschoolers”. Pute, pacar penyiar Colors Radio yang sebelumnya mewawancaraiku juga datang, meski sempat nyasar terlebih dahulu. Wah, benar-benar bikin terharu :’D Apalagi banyak  di antara mereka yang membawa karya-karyaku untuk ditandatangani, malah ada juga titipan dari teman-teman mereka yang berhalangan hadir. Surprise... surprise, beberapa dari mereka memberi early birthday gifts, lho, dan... rupanya mereka tahu bahwa aku senang dengan Hello Kitty, hehehe. Acara yang seharusnya selesai jam 4 sore pun molor menjadi jam 6 sore karena mereka (dan aku!) begitu antusias :)











Aku dan Bapak langsung diantarkan ke Hotel Oval, di sana sudah ada keluarga Rosa; mama, papa dan adiknya. Rupanya adiknya Rosa, Agatha ingin bertemu denganku, ia pun mengajak 2 orang temannya untuk menemuiku. Mini meet and greet pun terjadi, hihihi. Keluarganya Rosa ramah sekali, mereka menawarkan untuk mengajakku dan Bapak melihat-lihat Surabaya. Tawaran yang super menggiurkan karena aku dan Bapak sama-sama baru pertama kali ke kota ini. Tapi aku belum mengiyakan tawaran mereka karena kondisiku yang sedang drop. Aku bilang jika keesokan harinya sehat, dengan senang hati aku ingin melihat-lihat Surabaya dan ingin berfoto di patung buaya, hehehe. Setelah itu aku pamit untuk ke kamar, di sana aku makan malam di atas tempat tidur, minum obat, lalu terlelap sambil mengingat betapa menyenangkannya acara ODHA Awareness yang baru saja aku hadiri. Tentu saja nggak lupa aku berdoa agar ada ketika bangun tidur ada keajaiban dengan kesehatanku.
Well, apakah doaku terkabul? Ceritanya akan aku lanjutkan di tulisan berikutnya, ya. See ya! :D





Nb:  Atas permintaan pihak Delta Crisis aku nggak bisa menyebut nama narasumber dan membagi kisahnya di sini. Semoga melalui tulisan ini pesan acaranya yang positif tetap tersampaikan, ya :)



yang baru sehari di surabaya,

Indi

 _____________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469