Tampilkan postingan dengan label Ukulele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukulele. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2020

Menang atau Kalah? :) Update dari Kompetisi Kejar Mimpi!

Dengan sertifikat dari kompetisi musik “Kejar Mimpi”.

Aku berada di urutan 25 dari ratusan peserta :)


Haiiiii, kali ini aku mau post singkat saja. Aku mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyaaaak untuk teman-teman di sini yang sudah mendukung waktu aku ikutan kompetisi cover lagu di "Kejar Mimpi(gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga). Aku berada di urutan 25. Secara tekhnis aku kalah karena nggak berada di 10 besar, tapi aku tetap merasa menang karena berhasil mengalahkan rasa takutku :)

"Apa kemampuan bermusikku terlalu biasa?"

"Apa aku terlalu 'tua' untuk belajar sesuatu yang baru?"

"Bagaimana nanti dengan komentar orang-orang?"


Siapa peduli? Yang penting aku mencoba, lakukan yang terbaik dan bersenang-senang. Deg-degan karena menunggu hasil lomba itu lebih asyik daripada nggak berusaha melakukan apa-apa ;) 

Aku juga mau ucapkan selamat kepada para pemenang dan semua yang berpartisipasi. Kalian hebat! :)


Video cover "Ibu Pertiwi", lagu wajib untuk kompetisi. Aku bernyanyi dan bermain ukulele di sini. Sementara Shane, suamiku, bermain gitar dan jadi cameraman :p



yay!

Indi


---------------------------------

Dapatkan novel "Waktu Aku sama Mika" di: 0878 43333019 (WhatsApp Shira Media),

dan dapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di 0877 81930045 (WhatsApp Haura Publishing).

-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Minggu, 13 Maret 2016

Datang sebagai Inspirator, Pulang dengan Membawa Inspirasi! (Kelas Inspirasi Bandung)

Haloooo, howdy-do bloggies?! Aduh, rasanya malu-malu gimana gitu untuk bilang kalau sekarang aku mengetik ini dalam keadaan kurang enak badan. Padahal di post sebelumnya aku bilang akan kembali update kalau sudah sehat. Tapi ternyata... tenggorokanku kembali nggak enak sekarang, huhuhu :( Mudah-mudahan saja nanti pagi sudah baikan karena hari senin aku perlu suara gue untuk, ---ehm,--- sebuah surprise yang baru saja aku dapat (ceritanya next time, ya, hihihi). Anyway, meski begitu aku akan menepati janji untuk bercerita tentang pengalaman menjadi inspirator pengajar di Kelas Inspirasi Bandung. Tulisan kali ini mungkin nggak akan sedetail biasanya (menghemat tenaga, hihihi), tapi aku janji akan berusaha sebaik mungkin ;)

Seperti yang aku sebutkan sebelumnya di tulisan tentang pengalaman mengikuti briefing, ini adalah kali pertama aku mengikuti Kelas Inspirasi. Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu teman-teman pembaca mendukungku untuk mengikuti Kelas Inspirasi, tapi aku selalu ragu. Pasalnya aku merasa belum pantas disebut sebagai “profesional”. Memang aku sudah sudah menulis sejak usia 7 tahun, tapi  hasilnya hanya belasan buku harian (---aku mungkin penulis buku harian profesional, lol). Baru ketika dewasa aku lebih serius menulis dan menghasilkan beberapa buku yang diterbitkan. Tapi tetap, aku merasa masih harus banyak belajar :) Sampai akhirnya tahun ini aku mendapat dukungan semakin banyak, termasuk dari Ray. Rasanya aku jadi lebih percaya diri. Dan setelah dipikir mengapa aku harus menunggu lebih lama? Lebih baik aku berbagi apa yang dimiliki sekarang, karena ilmu tentu akan semakin bertumbuh jika nggak disimpan sendiri.




Singkat cerita aku ditempatkan di SDN Griba 13 Bandung bersama belasan orang lainnya dari kelompok 50. Perasaan deg-degan terasa ketika aku memasuki kelas pertama, yaitu kelas 1-C. Tapi aku yakin pengalaman sebagai guru di sebuah preschool internasional selama 3 tahun sedikit banyak akan membantu. Segera setelah aku menyapa anak-anak, —atau “adik-adik” karena mereka ngotot memanggilku “Kakak”, hehehe, —perasaan deg-degan pun segera berganti dengan semangat. Mereka begitu welcome dan antusias dengan kedatanganku. Karena waktu ajar perkelas dipukul rata menjadi hanya 30 menit, aku langsung memperkenalkan diri dan bercerita tentang profesiku. Istilah “penulis” rupanya belum akrab di telinga mereka, bahkan ada yang mengira bahwa penulis adalah kata lain dari pelukis. Tapi setelah aku menjelaskan tentang peran penulis dalam kehidupan sehari-hari mereka langsung mengerti. Sengaja aku nggak menjelaskan secara mendetail karena yang menjadi tujuan hanya untuk mengenalkan bahwa di dunia ada berbagai macam profesi yang menyenangkan, dan penulis adalah salah satunya. Dalam proses perkenalan ini aku usahakan agar berlangsung dengan fun. Misalnya saja ketika aku menjelaskan tentang alur, latar dan tokoh dari sebuah cerita, aku tanyakan pada mereka cerita apa yang ingin dijadikan contoh. Adik-adik di kelas 1 kompak menjawab SpongeBob Squarepants, sementara di kelas yang lebih tua jawabannya lebih bervariasi; Upin-Ipin dan Frozen! Dengan mengikuti apa yang mereka sukai, istilah-istilah dalam dunia menulis pun lebih mudah dipahami. Aku amaze sekali dengan adik-adik di kelas 1 yang sudah tahu beda alur maju dan mundur lewat salah satu episode Spongebob.





Penulis nggak selalu identik dengan buku, karena yang menulis naskah film atau lagu pun sama-sama disebut penulis. Lagi-lagi dengan mengikuti apa yang mereka sukai aku menyebutkan contoh-contohnya (—dan wow, aku jadi sadar kalau lagu “Sambalado” begitu terkenal di kalangan anak-anak, hehehe). Ada moment lucu tapi juga cerdas yang gue alami di kelas 3. Yaitu ketika ada seorang anak dengan wajah terkejut berkomentar,“Jadi film horor itu ditulis orang ya, Kak? Hantunya juga pura-pura dong, kaya cerita Spongebob!” Sontak aku tertawa mendengarnya, apalagi ketika ia menambahkan bahwa suatu hari ia akan membuat cerita yang lebih bagus agar bisa bekerja di Hollywood. Semoga berhasil, kiddo!  





Karena sebagian besar dari mereka adalah penggemar berat Spongebob, aku pun menamai alat peraga mengajar dengan “kotak imajinasi”, —seperti permainan kesukaan Spongebob dan Patrick. Menjadi seorang penulis terkadang harus menjelaskan sesuatu yang nggak terlihat, —yang sifatnya imajinatif. Jadi aku mengajak adik-adik untuk menebak benda-benda yang berada di dalam kotak tanpa harus melihatnya. Nggak disangka semangat mereka untuk maju ke depan kelas besar sekali, meski beberapa dari mereka minta dibisiki bocoran viariasi kata agar teman-temannya bisa membayangkan benda yang mereka pilih dari dalam kotak, hihihi. Sepertinya ini adalah aktivitas favorit mereka ketika bersamaku di kelas, adik-adik di kelas 6 bahkan meminta waktu ekstra 5 menit agar bisa bermain lebih lama. By the way, kelas 6 adalah kelas yang paling heboh sekaligus polite. Mereka nggak segan untuk menunjukan ketertarikan terhadap outfit yang aku pakai. Dan waktu melihatku kegerahan 2 adik laki-laki di sana langsung sigap naik ke atas meja untuk menyalakan kipas angin! Hahaha, how cute! :D

Pertemuan di kelas aku tutup dengan mengajak mereka bernyanyi bersama. Sengaja aku membawa ukulele dari rumah, sekaligus sebagai contoh dari profesi penulis lagu. Lagu yang kami nyanyikan berjudul “Raihlah Cita-Cita”, liriknya ditulis olehku dengan nada sederhana yang mirip seperti lagu “ABC”.

“Ayo kawan kita bersama
Raihlah Cita-Cita
Jadilah apa saja
Semua yang kau suka.”





Menjadi inspirator pengajar adalah pengalaman yang sangat berharga. Banyak moment mengharukan dan mengejutkan yang aku alami. Seorang anak bernama Damian masuk ke kelasku sebanyak 2 kali, padahal teman-temannya sudah pulang (kelas 1 dan 2 pulang lebih awal). Ketika ditanya alasannya rupanya ia ingin mendengarku bermain ukulele lagi, katanya dulu ia hanya tahu bahwa itu adalah ‘gitar kecil yang dibawa pengamen’, hihihi. Atau ketika adik-adik dari kelas 6 mengajak aku selfie agar mereka nggak lupa bahwa kami pernah bertemu. Rasanya aku ingin memeluk mereka satu persatu dan mengucapkan terima kasih karena telah membuat hari itu menjadi salah satu hari terbaik di hidupku. Bertemu dengan adik-adik di SDN. Griba 13 mengingatkan aku bahwa terwujudnya cita-cita berawal dari semangat yang besar dan tanpa rasa takut.
Aku datang untuk menginspirasi, tapi aku pulang dengan membawa sejuta inspirasi dari mereka! Thanks a lot untuk kesempatannya, Kelas Inspirasi :)







yang dibilang lebih cocok dipanggil 'kakak' daripada 'teteh' sama adik-adik, lol,

Indi

_______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 03 Juli 2015

Indi dan Inis: Our Sleepover Story :)

Aku senang sekali waktu tahu Inis akhirnya datang ke Bandung. Sejak jauh-jauh hari aku dan Inis membicarakan rencana menginap, jalan-jalan dan hal-hal seru lainnya yang ingin kami lakukan jika bertemu nanti.  Rasa excited ku melebihi pertemuan-pertemuan  yang sebelumnya karena ini adalah kali pertama kami akan bertemu di Bandung, ---setelah sebelumnya selalu bertemu di Jakarta. Well, Inis sendiri sebenarnya nggak tinggal di Jakarta, sih, tapi di Makassar. Profesinya lah yang membuat ia sering mampir ke sana. Inis adalah seorang penyanyi ‘lulusan’ 10 besar X Factor Indonesia season pertama. Dari sana juga aku pertama kali mengenalnya dan langsung mengaguminya. Nggak disangka ternyata ia juga menyukai film “Mika” yang diinspirasi oleh novelku, “Waktu Aku sama Mika”. Perkenalan singkat yang terjadi melalui layar kaca dan layar lebar itu (hehehe) ternyata cukup untuk menjadikan kami teman baik. Mungkin karena kami juga sama-sama scolioser, ---pengidap scoliosis :)

Bersiap menjemput Inis. Cuma pose, yang nyetir Bapak, hahaha :D

Rencananya pertemuan kami akan sebentar saja, Inis hanya berada satu malam di Bandung untuk mengurus pekerjaannya, lalu bertemu aku di salah satu pusat perbelanjaan sebelum kembali ke Jakarta. Tapi ketika kami janjian lewat BBM tiba-tiba saja muncul ide untuk menginap dulu di rumahku! Urusan nggak bawa baju sih belakangan, bisa lah pakai punyaku meskipun Inis lebih mungil dari aku, hehehe. Segera saja aku minta izin pada Bapak dan Ibu bahwa ada teman yang akan menginap di rumah. Mereka mengizinkan dan senang, tentu saja, ---meskipun kaget karena begitu mendadak :D Dengan diantar Bapak aku menemui Inis di pusat perbelanjaan. Mumpung sedang di Bandung, ---yang konon banyak pakaian berkualitas dengan harga lebih hemat dibandingkan tempat lain---, Inis pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja.

Soal belanjanya sih nggak perlu diceritakan, sudah pasti berdesak-desakan karena banyak yang berbelanja sambil ngabuburit (atau sekalian untuk lebaran juga, hihihi). Tapi yang menarik, ternyata Inis itu pintar menawar, lho. Biasanya aku selalu “oke-oke” saja dengan harga yang ditawarkan, makanya langsung mengeluarkan dompet begitu diberitahu harganya ketika aku mau membeli stocking. Tapi dengan sigap Inis menawar terlebih dahulu untukku sebelum uang yang aku keluarkan berpindah ke tangan penjual. Wow, sepertinya aku harus belajar darinya, karena menawar merupakan "must have skill" kalau tinggal di Bandung, hehehe. Setelah selesai rencananya aku dan Inis akan makan malam di luar, tapi Bapak bilang lalu lintas sudah semakin macet karena bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya kami langsung pulang ke rumah setelah membeli beberapa bahan masakan dan camilan di supermarket di dekat rumah.

Ada Inis di rumah terasa sangat menyenangkan. Aku satu-satunya girl di rumah (---kecuali kalau Eris juga dihitung, hehehe) dan sekarang jadi ada teman untuk girly talk, sharing tentang scoliosis, bahkan untuk melakukan hal-hal konyol. Kami tidur larut sekali, sepertinya topik pembicaraan kami nggak ada habis-habisnya. Inis juga sempat mencoba SpineCor (soft brace untuk scoliosis) milikku. Meskipun ukurannya nggak pas, tapi katanya terasa sangat nyaman. Inis juga sama sepertiku, di masa remaja sempat memakai boston brace yang rasanya sangat kaku. Mudah-mudahan saja bisa segera menyusulku untuk memakai SpineCor, ya. Amen... :) Aku sering membicarakan tentang perasaanku sebagai seorang scolioser kepada orangtua, sahabat, bahkan Ray. Tapi dengan Inis rasanya berbeda. Kami saling mengerti perasaan satu sama lain karena apa yang aku alami juga Inis alami. Ah, mungkin begini rasanya punya sister, huhuhu.

Saking randomnya sampai tengah malam kamarku masih ramai, ---atau kalau istilah Ibu; berisik banget, hehehe. Setelah selesai mengobrol aku dan Inis langsung asyik bernyanyi sambil main ukulele. Waktu di mobil, di perjalanan ke rumah Inis sempat bilang kalau ingin bernyanyi denganku. Tentu saja aku juga mau (---kapan lagi duet dengan lulusan X Factor, hihihi), apalagi setelah diingat-ingat ternyata ada salah satu follower di Instagram yang meminta kami untuk berduet. Jadi ya sudah sekalian memenuhi request. Tapi kami baru sadar kalau sudah memakai piyama yang kayanya nggak begitu nyaman untuk dilihat di video. Jadi kami putuskan untuk merekam penampilan kami di pagi hari nanti dan segera bersiap untuk beristirahat, ---setelah menghabiskan 2 potong lumpia mix mayonnaise dan Boncabe di atas tempat tidur, hehehe (jangan ditiru, aku langsung sakit perut).

Berfoto untuk thumbnail YouTube. Tadinya akan dihapus, tapi aku putuskan untuk disimpan, hehehe :)
Inis dan Indi :)

Ketika alarm berbunyi kami bersusah payah untuk bangun. Waktu tidur kami super singkat dan ke-randoman yang kami lakukan rupanya membuat stamina terkuras. Tapi begitu ingat kalau kami harus memanfaatkan waktu agar bisa menikmati quality time berdua, kami langsung bergantian masuk ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari. Aku dan Inis pun super sibuk, kami menggotong kursi meja makan dan kursi di kamarku ke halaman depan. Bukan, kami bukan mau pindahan, tapi ini demi kualitas rekaman kami karena aku nggak punya tripod untuk menyangga kamera, hehehe. Setelah semuanya siap kami pun langsung beraksi. Jangan bayangkan yang serius-serius, aku itu bukan penyanyi, bermain ukulele pun nggak bagus-bagus amat. Makanya kami cuma bersenang-senang. Pembagian suara seadanya, ---atau lebih tepatnya Inis yang menyesuaikan nada dengan suaraku yang seadanya, hehehe :D Nih, aku share videonya, siapa tahu teman-teman mau dengar :p


Nggak terasa hari sudah semakin siang, Inis pun membereskan barang-barang bawaanya ke dalam tas. Mobil travel yang akan mengantarkannya ke Jakarta akan berangkat nanti sore, jadi kami punya sedikit waktu lagi untuk bersama. Dengan diantar Bapak kami melihat-lihat kota Bandung dari dalam mobil, ---yang sayangnya nggak bisa berhenti di tempat-tempat menarik karena sedang super macet. Rasanya belum puas untuk melakukan banyak girly thing bersama, tapi jadwal keberangkatan mobil travel Inis sudah semakin dekat. Kami pun berpisah di depan pool travel tanpa bisa menemani sampai mobil berangkat karena tempat parkirnya sudah penuh :( Aku dan Inis berharap agar bisa segera kembali bertemu. Mungkin sehabis Lebaran, setelah Inis merayakan hari besar dengan keluarganya di Makassar. Ah, can’t wait. Really! Siapa yang menyangka bahwa TV dan bioskop bisa menjadi awal pertemanan kami? And now I already missing that special girl from the talent show :’)

yang bukan penyanyi tapi penulis, ---tapi suka main ukulele,

Indi

nb: Tolong support aku di GoGirl! Passion Pitch 2015, ya. Caranya "like" dan berikan komentar di video ini.  Terima kasih :)


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here

Selasa, 21 April 2015

Cerita Shooting "Majalah Pagi" TV One ala Indi :p

Tanggal 18 April 2015 lalu rumahku ---well, rumah orangtuaku sih sebenarnya, hehehe--- kedatangan tamu istimewa. Mereka adalah kru "Majalah Pagi" dari TV One. Sekitar 2 minggu sebelumnya mereka sudah menghubungi Ray untuk meminta izin meliput kegiatanku sehari-hari. Tentu saja dengan senang hati aku setuju, asalkan Eris boleh ikut shooting :p *just kidding*

Sekitar jam 1 siang mereka tiba dan langsung menjelaskan padaku konsepnya. Aku akan muncul pada sebuah segmen yang berisi kegiatanku ditambah wawancara singkat. Setelah aku mengerti dan kami deal (yes, aku memang "agak" cerewet kalau masalah isi liputan, hehehe) shooting pun langsung dimulai, ---tepat ketika matahari sedang terik-teriknya! :'D

Yang pertama diambil adalah scene aku sedang menulis novel. Well, aku memang sedang mengerjakan novel baru, tapi kalau diminta menulis sungguh-sungguh dengan kamera di belakangku ya agak sulit karena merasa diawasi. Ini seperti deja vu karena beberapa tahun lalu pernah ada stasiun TV yang meliputku ketika sedang menulis novel ketiga. Waktu itu aku cuma nulis random dan berharap cameraman nggak iseng zoom in tulisanku. Nah aku berharap hal yang sama juga sekarang :p

Selanjutnya adalah scene 'membalas pesan-pesan pembaca'. Aku membuka Facebook, Twitter, YouTube dan tentu saja dunia kecilku ini :) Saking asyiknya aku sampai minta waktu lebih karena masih mengetik balasan di YouTube, hehehe. Karena shooting dilakukan di dalam rumah keringatku jadi sering menetes, apalagi cuaca sedang terik dan ditambah lampu sorot. Meski begitu aku bersyukur karena kru-nya menyenangkan.

Berhubung bertepatan (eh, lewat dikit, ding) dengan waktunya makan siang, jadi scene "kumpul keluarga" mengambil setting di ruang makan ketika aku, Ibu dan Bapak sedang makan. Lucunya, setelah gambar yang diperlukan terpenuhi Ibu dan Bapak memilih untuk melanjutkan makan sementara aku kembali shooting. "Sayang kalau cuma acting," begitu kata Bapak, hehehe.




Di sela-sela shooting Om cameraman mengambil gambar dari karya-karyaku (buku-buku dan film) juga sertifikat dan penghargaan yang pernah aku terima. Aduh, jumlahnya tentu belum banyak. Tapi aku merasa senang karena apa yang kukerjakan mendapatkan apresiasi :)




Aku juga meminta bantuan Ibu sebentar untuk menemaniku di scene 'mendesain baju'. Hehehe, Ibu semangat sekali, sampai-sampai lupa kalau yang diliput adalah kegiatanku, bukan beliau. Tapi nggak apa-apa, aku malah senang dan sepertinya malah membuat segmen ini semakin berwarna :D 




Ini juga jadi kali pertama permainan ukuleleku muncul di TV. Senang sekaligus ragu, soalnya jari-jari tangan kananku sedang terluka, kulitnya terkelupas dan berdarah lumayan banyak. Baru satu hari kemarin kering, jadi aku sama sekali nggak latihan karena masih sakit untuk dipakai strumming. Tapi aku pikir ini kesempatan bagus. Jadi dengan suaraku yang seadanya (kok mendadak nervous? Lol) dan mengandalkan jari telunjuk, jadilah my very first ukulele performance on TV :p





Video behind the scene permainan ukuleleku bisa dilihat di sini:



Diakhiri dengan wawancara singkat di ruang tamu, tibalah scene puncak yang sangat kutunggu-tunggu, yaitu jalan-jalan dengan Eris, hahahaha :D Ini sih sebenarnya request spesial dariku. Sebelumnya aku sudah bilang sama Ray kalau ketika diliput nanti aku ingin ada Eris di salah satu scene. Thank God dikabulkan :'D Karena sudah menjelang magrib jadi jalan-jalan dilakukan dengan singkat. Meski begitu 'aksi' Eris tetap banyak, dari mulai makan rumput sampai peluk (baca: tabrak) kru Majalah Pagi satu persatu, hehehe. Fans Eris, alias bocah-bocah yang sering main sore di sekitar komplek pun ambil bagian di scene ini, soalnya mereka sibuk banget panggil-panggil Eris jadi mending diajak sekalian :D






Thank God prosesnya berjalan lancar dari awal sampai akhir. Meski sempat terik tapi ketika shooting di luar rumah justru cuaca berubah sejuk (menuju mendung, hehehe). Aku juga senang dan bersyukur karena diberikan kembali kesempatan untuk berbagi kisah. Semoga dengan segmenku yang super singkat ini bisa memberikan gambaran tentang kehidupanku sebagai penulis, pet lovers, desainer, ---yang juga seorang scolioser. Bahwa kelainan atau penyakit apapun jangan sampai dijadikan sebuah 'label'. Kita semua istimewa, just the way we are! ;)

the uke girl on tv, lol,

Indi


Ps: Aku belum diberitahu kapan tayangnya. Nanti kalau sudah pasti akan kukabari di sini. Oh iya, aku terpilih sebagai finalis Kartini Next Generation 2015. Malam penganugerahan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2015 di Gedung BPTT Thamrin Jakarta jam 1 siang. Kalau mau mampir boleh, ---atau untuk yang jauh mohon doanya, ya :))

Keywords: Pengalaman shooting.




 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Sabtu, 14 Maret 2015

Indi Goes to Mexico! :)

Dua bulan yang lalu aku ingin belajar bermain ukulele karena kupikir itu adalah alat musik yang menyenangkan. Waktu mulai menguasainya, aku selalu bermain karena membuat hatiku bahagia, bukan untuk mengesankan orang lain apalagi menjadi terkenal.

Siapa sangka sebuah video permainan ukulele yang kuupload di YouTube untuk kalangan teman-teman ternyata ditonton oleh sebuah media! Seorang penyiar menemukan videoku dan memutuskan untuk memutarnya di radio Desorden Comun. Itu sebuah radio di Mexico! Iya, aku gak salah ketik... MEXICO! :D




Waktu itu tanggal 13 Maret, lewat tengah malam. Sambil mengedit naskah aku mendengarkan radio tersebut secara streaming. Sedang ada segmen "Red Hot Chili Peppers and John Frusciante Special", para idolaku. Lalu aku mendapatkan pesan dari radio tersebut yang isinya, "Indi, I have a surprise for you." Terkejut dan penasaran karena aku nggak mengenal mereka, buru-buru aku mengetik balasannya untuk bertanya. Tapi sebelum pesanku terkirim terdengarlah suara yang sangat familiar di telingaku... tentu saja, karena itu suaraku sendiri yang sedang bernyanyi dan bermain ukulele! 

Membayangkan bahwa ada (banyak) orang dari belahan dunia lain, dari tempat yang bahkan belum pernah aku kunjungi, membuatku merinding ---bahkan hampir menangis. Ini luar biasa, kejutan menyenangkan yang bahkan belum pernah kuimpikan. Sepanjang 2 jam acara mereka memutarkan lagu-lagu dari RHCP dan John, ---dan cover dariku tiba-tiba muncul di antara karya-karya hebat mereka. Sungguh suatu kehormatan... meski sampai sekarang pun aku nggak tahu kenapa bisa ada di sana :')

Tapi aku bersyukur, sangat bersyukur dan berterima kasih. Karena sekali lagi diingatkan Tuhan bahwa aku nggak perlu jadi ahli, nggak perlu jadi yang paling pandai. Asalkan mengerjakan sesuatu dengan suka cita dan bersungguh-sungguh pasti ada hasil! :)


Ini coverku yang mereka putarkan di radio :)


the 5th member of RHCP, lol,

Indi


Keywords: John Frusciante, Red Hot Chili Peppers, pemain ukulele perempuan, pengalaman masuk radio, Meksiko.


 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 25 Februari 2015

My Instant Happiness :)

Hai bloggies, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya. Dan untuk yang merayakan, Go Xi Fa Cai! Selamat tahun baru! Semoga tahun ini menjadi lebih baik dan penuh berkah, amen...
Kabarku sendiri sedang kurang baik, belakangan sering pusing dan lemas. Well, sebenarnya salahku sendiri, sih. Jadwal istirahat yang berantakan pasti membuat kesehatanku semakin turun. Padahal salah satu resolusi tahun 2015 kan ingin jadwal tidur dan bangunku semakin teratur. Harus semakin semangat untuk berusaha nih,  karena ini sudah mau masuk bulan Maret,  uhuhuhu :’) Tapi aku juga patut bersyukur karena ada resolusi lain yang sudah direalisasikan. Meskipun pelan-pelan tapi perkembangannya pasti, yaitu bermain ukulele! ;)

Aku sempat share keinginanku untuk belajar di blog ini (baca ceritanya di sini). Meskipun nggak ada yang mengajari dan belum punya ukulele sendiri, aku sangat ingin untuk belajar alat musik lagi setelah sempat belajar drum dan piano lalu berhenti di tengah jalan. Pada pertengahan bulan Januari akhirnya sebuah ukulele impian berwarna pink menjadi milikku. Semenjak saat itu hampir setiap hari aku berlatih lewat internet. Beruntung sekali di YouTube banyak ‘master’ ukulele yang memiliki channel pribadi dan rajin membagi ilmu, aku jadi bisa belajar dengan biaya yang nyaris gratis ---hanya perlu niat, listrik dan wifi saja, hihihi.


My instant happiness :)


Alat musik baru ini membuat hidupku ikut berubah. I barely touched my phone! Ternyata selain Eris ada juga hal lain yang bisa membuatku menjauh dari HP untuk waktu yang cukup lama. Kalau di rumah tanganku hampir selalu menggenggam ukulele. Kalau sebelumnya aku selalu bingung kalau mati lampu (apalagi di luar hujan jadi nggak bisa main sama Eris), sekarang tinggal mainkan ukulele dan aku akan asyik bahkan sampai lampu kembali menyala. Ukulele benar-benar  instant happiness. Lagu apapun akan terdengar riang dan menyenangkan, ---dan karena suaranya yang merdu aku pun jadi merasa bisa bernyanyi, hihihi. Pernah waktu aku ke Jakarta iseng-iseng membawa ukulele di kursi belakang mobil. Ternyata aku nggak menyesal, saat macet aku bisa memainkannya sambil sing along dengan lagu-lagu rock dari idolaku. Karena bentuknya kecil, jadi handy untuk dibawa kemana-mana, tapi tetap bisa diajak ber-rock and roll bahkan untuk mengiringi Steven Tyler sekalipun :D


"The Show" salah satu lagu termudah, tapi favoritku karena catchy :) 


Reaksi teman-teman beragam waktu tahu aku bermain ukulele. Ada yang nggak menyangka, karena aku selalu dikenal sebagai “penikmat” musik bukan pemain musik. Ada juga yang menganggapnya lucu karena mereka hanya tahu ukulele sebagai alat musik ‘milik’ pengamen, jadi menganggapku mempelajarinya karena nggak mampu membeli gitar, bukan karena pilihan (well ukulele and guitar has different chords and strings, so this is obviously a choice). Tapi ada juga teman-teman yang mengaku ikut senang dan sangat mendukungku. Mereka nggak menyangka dalam waktu yang singkat aku sudah (lumayan) menguasai alat musik imut ini. Lewat internet mereka mengikuti perkembanganku dan memberi semangat agar membagi video-videonya jika aku belajar lagu baru. Seperti Dara, temanku sejak kecil yang juga owner dari The Dream’s Cake. Beberapa waktu yang lalu saat kami bertemu, ia berkata bahwa sudah mengikuti videoku bahkan saat aku masih kesulitan untuk memainkan chords sederhana seperti G dan F, sampai sekarang sudah bisa memainkan banyak lagu. Hihihi, jadi malu :D


Lagunya Oasis pun jadi riang dibawakan dengan ukulele, hihihi :)


Ukulele juga membantuku berkenalan dengan idola-idolaku. Layaknya menulis yang mengantarkanku untuk bertemu Aerosmith dan mendapatkan sapaan langsung dari keluarga Irwin (alm. Steve Irwin si Crocodile Hunter), si mungil ini membuatku berkesempatan untuk bicara dengan orang-orang yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya! Yang pertama adalah band Walk Off the Earth, aku memberanikan diri untuk menyapa mereka di fans page dan secara kebetulan dua orang favoritku, Gianni dan Taylor sedang online. Aku ceritakan bahwa musik mereka membuat ketertarikan dengan ukulele semakin bertambah dan menginspirasiku untuk terus berkarya. Guess what?!! Taylor memberikanku alamatnya dan dengan senang hati ingin melihat karya-karyaku! Whoooaaa, the coolness level on that conversation is too daaaaarn high! Aku senang luar biasa, dan ---of course, terharu :’)

Dan yang baru saja kemarin terjadi aku berkenalan dengan Richard Hefner. Ia adalah pemain banjo dan ukulele senior yang sangat aku kagumi. Video-videonya sangat membantu perkembangan permainan ukuleleku. (Lagi-lagi) aku beranikan diri untuk menyapanya dan apa yang terjadi selanjutnya membuatku senyum-senyum bahkan saat mengetik tulisan ini. Richard membalas pesanku dengan hangat; “You sound great! I subscribe to your channel and I’ll be sure to watch all of your uke videos. You sound like you’ve been playing a long time!” Kata-katanya membuatku semakin bersemangat. Well, mungkin saja ia memang berkata seperti itu untuk membesarkan hatiku, but it doesn't matter, yang penting efeknya sangat positif. Aku jadi ingin belajar lagi dan lagi, agar suatu hari bisa sehebat Richard :) Dan ternyata bukan itu saja, barusan waktu aku mengecek instagram, ada namanya sebagai follower terbaruku! Ini beyond awesome...


 Video terbaruku, membawakan lagu "DoReMi, I'm Yours dan The Show" sekaligus :)


Ibu sempat kaget melihat jari-jari tangan kiriku yang rusak akibat terlalu sering menekan strings. Tapi pada akhirnya ia berkata bahwa kebahagiaanku lebih penting. Waktu pertama kali menemukan bahwa menulis adalah passionku, Ibu dan Bapak membiarkanku menulis sebanyak yang aku mau, tanpa bertanya akan dijadikan apa kesukaaniu ini nantinya. Aku hanya perlu mengerjakan apa yang disukai dengan hati riang dan tanpa keterpaksaan. Jika sekarang aku menjadi penulis, anggap itu sebagai bonus dan itu bukan karena aku ‘beruntung’ tapi  karena hasil dari kesungguhan saat gue mengerjakannya. Begitu juga dengan ukulele, aku memainkannya karena itu membuat hatiku gembira. Nggak ada seorang pun yang berhak untuk menjudge apa yang aku lakukan itu keren atau nggak keren. Passion = happiness. Dan kebahagiaan itu selalu benar (mana ada orang yang bahagia karena berbuat salah). So, follow your passion, guys ---apapun itu. Karena itu adalah jalan kalian menuju ke kebahagiaan :)



Uke girl,

Indi

Video-videoku yang lain bisa dilihat di sini :)
Keywords: belajar ukulele, belajar alat musik, pemain ukulele perempuan Bandung.



 ________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 30 Januari 2015

Kata Ibu dan Bapak, "Kamu Pantas Mendapatkannya." :)

Jadi akhirnya aku mendapatnya. Sebuah ukulele sungguhan berwarna pink yang lebih bagus daripada yang pernah  kubayangkan. Hari itu, di malam hari Ibu berkata besok aku harus menemani Bapak ke bank dan pulangnya akan ada kejutan untukku. Benar saja, aku diajak ke sebuah toko musik dan diizinkan untuk memilih ukulele yang paling kusuka. Dan aku melihatnya, jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku menunjuknya sambil tersenyum ke arah Bapak. Beliau bertanya berapa harganya, sedikit ragu tapi lalu berkata bahwa aku pantas mendapatkannya. Hampir tak percaya, tapi hari itu aku membawa pulang sebuah ukulele ---yang menurut penjualnya, kualitas terbaik di kelas pemula.


Ini dia si ukulele pink Mahalo dari Arts series (Hearts, for girls)


Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya (baca di sini). Aku memang nggak pernah meminta ukulele pada Ibu dan Bapak. Keinginanku untuk belajar masuk ke dalam resolusi tahun 2015 dan setiap hari aku selalu rutin berlatih meskipun hanya lewat internet dan tanpa ukulele. Awalnya mereka sama sekali nggak memperhatikan, tapi lama-lama penasaran dengan apa yang aku lakukan ketika duduk berlama-lama di depan komputer (---aku diam saja waktu Ibu bilang ada cemilan di meja makan, dari sanalah beliau tahu ada ‘sesuatu’ yang terjadi padaku, lol). Bapak lebih menunjukan rasa penasarannya dibandingkan Ibu, beliau bertanya mengapa aku tertarik dengan ukulele. Waktu aku ceritakan alasannya (baca di sini) beliau tertawa, katanya “Kenapa nggak main gitar saja supaya lebih keren?” Aku ikut tertawa karena tahu bahwa beliau hanya bergurau. Lagipula, aku hapal sekali dengan watak Bapak; Apapun asalkan benar-benar aku suka beliau pasti mendukung.

Aku bertahan untuk nggak meminta ukulele dari Ibu dan Bapak agar mereka melihat keseriusanku belajar, biar mereka yang memutuskan apakah aku pantas untuk mendapatkan alat musik Hawaii tersebut atau nggak. Untuk mendukung proses belajar aku membeli cuklele alias kentrung ---gitar mini yang serig digunakan oleh pengamen. Aku bahkan sempat meminta tutorial singkat dari seorang pengamen yang aku temui. Ternyata itu sangat membantu, seenggaknya aku jadi tahu beberapa chords dasar dan cara merawat ukuleleku kelak. Berlatih dengan kentrung juga konon membuat jari-jariku semakin kuat karena memakai string untuk gitar, hahaha :D

Kadang sambil berlatih aku melihat-lihat gambar ukulele di internet. Aku punya merk impian, punya warna impian juga. Tapi aku berjanji jika suatu hari punya, aku akan senang dengan apapun yang kelak kumiliki. Aku memang sengaja nggak meminta, juga nggak membeli sendiri. Aku ingin ukulele pertamaku istimewa, diberi dari orang-orang yang paling kusayang. Sempat terpikir juga sih, jangan-jangan Ibu dan Bapak nggak ngeh kalau aku ingin dihadiahi ukulele. Sejak kuliah aku memang jarang sekali meminta. Meskipun aku masih tinggal bersama mereka tapi selalu diusahakan untuk mandiri secara finansial. Untuk kebutuhan sehari-hari aku menggunakan uang sendiri, begitu juga untuk kesehatan seperti waktu aku operasi tumor payudara dan operasi impaksi. Untuk kendaraan pun, thank God aku sudah punya sendiri (si mobil Hello Kitty ---yang masih dicicil, hihihi). Jadi untuk ukulele yang termasuk ‘sepele’ mungkin saja Ibu dan Bapak mengira aku juga akan membelinya sendiri.


Semalam setelah mendapatkan hadiah istimewa langsung dipakai untuk bermain, hihihi :)


Tapi bersungguh-sungguh ternyata memang selalu ada hasilnya, dan aksi juga bisa powerful seperti kata-kata. Ibu dan Bapak akhirnya melihat keseriusanku selama ini dan mereka memutuskan untuk memberiku hadiah terindah. Bapak bilang aku konyol, dengan sebuah ukulele yang harganya gak seberapa sudah bisa membuatku berteriak-teriak kegirangan di toko musik dan tersenyum senang seharian. Hahaha, mudah-mudahan saja meski tanpa kata-kata ---hanya dengan reaksi silly ku, Ibu dan Bapak tahu betapa aku merasa beruntung, bersyukur, blessed dan super duper beyond bahagia! :)

Nb: Video ini dibuat setelah 1 minggu berlatih ukulele. Well, ya masih banyak kesalahan, tapi aku ingin membawakan lagu ini sejak lama. “Teenager in Love” yang originalnya dibawakan oleh Dion and The Belmots lalu di-cover oleh Red Hot Chili Peppers, sekarang dibawakan juga oleh Indi Sugar, hihihi.




mini frusciante, lol,

Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 21 Januari 2015

Bring it the uke it will complete the groove :)

Aku dan ukulele pertamaku :)



Empat hari yang lalu ukulele pertamaku akhirnya tiba! Aku bersemangat sekali dan secara otodidak belajar lagu pertamaku dalam waktu 3 hari. (Thanks to YouTube!)
Hari ini aku merekam sesi latihanku sepulang dari acara pernikahan keluarga (itu menjelaskan kenapa seputar mataku hitam karena makeup yang luntur, hehe). Mungkin membosankan untuk didengar karena aku memainkan 2 bait dari "You Are my Sunshine" berulang-ulang. Aku harus belajar menjaga tempo dan melatih agar tangan kananku terbiasa. Masih agak kaku karena dalam sehari-hari aku terbiasa menggunakan tangan kiri :)



xx,
Indi Sugar

Keywords: ukulele pertama, belajar bermain ukulele, youtuber.



_____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 14 Januari 2015

Indi Ingin Bermain Ukulele (Tentang Kado Impian) :)

Gue terbangun dengan posisi tangan kanan berada di atas perut ---masih sedikit naik turun seperti gerakan strumming alias genjrang-genjeng.
Setelah sepenuhnya sadar gue segera terkikik geli dan turun dari tempat tidur, mengambil cuk lele dan memainkannya. Itu tadi mimpi yang sangat konyol... :)

***

Gue sudah bilang pada Bapak kalau gue ingin belajar bermain ukulele. Juga pada Ibu, pada Ray... bahkan pada Eris. Tapi mereka bilang (kecuali Eris, karena ia seekor anjing, hihihi) gue lebih baik belajar bermain gitar saja dulu, karena lebih mudah dan ada Bapak yang bisa mengajarkan. Bapak bahkan mengira kalau keinginan gue ini hanya main-main. Beliau bilang, "Katanya mau jadi rockstar seperti Aerosmith, masa mainnya ukulele? Gitar dong biar keren." 
Ya, meskipun sama-sama dipetik, mungkin karena ukulele ukurannya mungil di mata Bapak jadi kurang garang... Eh, lagian gue perempuan ngapain juga garang-garang? Begini deh kalau punya Bapak yang terobsesi sama rock and roll, hehehe.

Tapi gue memang sungguh-sungguh ingin belajar alat musik Hawaii ini. Setiap hari gue berguru pada master-master ukulele lewat internet. Mempelajari chord-chordnya dan fingering di invisible ukulele gue. Ya, gue memang belum punya ukulele sendiri, tapi it wont stop me. Setiap kali melihat idola-idola gue bermain ukulele, rasa semangat gue menjadi semakin tinggi. Mungkin akan butuh waktu yang nggak sebentar, tapi gue percaya akan bisa seperti mereka.
Perkenalan gue dengan ukulele sendiri justru terjadi dengan nggak sengaja, tapi malah membuat terkenang-kenang. Waktu itu gue baru saja dipertemukan dengan Aerosmith, band yang sangat gue kagumi sejak kecil. Karena ingin segera 'mengulang moment' gue mencari video mereka ketika konser di Singapore. Alih-alih mendapat videonya, gue malah menemukan video Steven Tyler (the vocalist, member favorit gue) sedang mengucapkan happy birthday pada Willie Nelson, rekan sesama musisinya. Di sana Steven Tyler bernyanyi sambil memainkan alat musik yang sekarang menjadi obsesi gue; ukulele. 

Untuk persiapan bermain ukulele yang sesungguhnya, gue membeli cuk lele ---atau biasa disebut gitar mini, kentrung, kencrung alias gitar kecil yang biasa digunakan pengamen. Well, sebenarnya ukelele dan cuk lele (seharusnya) sama saja, cuma entah kenapa banyak musisi jalanan yang menyebutnya 'gitar cuk'. Katanya sih (iya, gue sempat mengobrol dengan pengamen yang mampir ke toko alat musik) yang mereka pakai ini versi rip off dari ukulele. Jadi bentuk boleh sama, tapi bahan yang digunakan beda. Bahkan senarnya pun bukan nilon khusus ukulele (nylgut), tapi dari tali bekas raket tenis. "Lebih irit, bisa minta dari toko olah raga, tuh," begitu katanya. Selain itu konon suaranya lebih nyaring daripada ukulele biasa, jadi cocok untuk dipakai mengamen di jalanan atau di dalam kendaraan umum.

Sebelum punya ukulele sungguhan, gue berlatih dengan si rip off ini dulu :)

Jadilah setiap hari gue berlatih menggunakan ukulele versi rip off ini. Begitu bangun tidur, bahkan sebelum sarapan gue langsung berlatih. Sebelum tidur gue juga berlatih lagi. Adik gue yang kamarnya tepat di atas kamar gue kadang protes, katanya kalau malam gue berisik, mana fals lagi, hahaha. Kebiasaan baru ini juga sedikit merubah penampilan gue. Yang biasanya kuku super rapi dengan cat warna-warni sekarang mulai chipped, lengkap dengan kapalan di ujung jari. Tapi gue nggak menyesal, karena bahkan sebelum gue bisa bermain ukulele pun sudah ada sisi positifnya; gue jadi jarang pegang handphone, hihihi.

Meski dengan semangat menggebu-gebu (lol, beneran ini), bukan berarti tanpa hambatan. Kadang kalau jari-jari mulai terasa sakit (resiko pakai rip off ya begini, hehehe), mood gue jadi turun. Apalagi kalau telapak tangan gue mulai keringetan, pasti jadi semakin susah untuk menjaga jari agar tetap stabil. Kalau sudah begitu, gue langsung ingat-ingat lagi tujuan gue; Ingin bisa bermain ukulele! Sesulit apapun gue harus konsisten, meskipun belajar otodidak. Menonton video-video musik juga membantu untuk menaikan mood gue, salah satunya dari Walk of the Earth, karena Sarah, satu-satunya perempuan di grup itu juga bermain ukulele :)

Harapan gue sih ada yang memberi hadiah ukulele sungguhan... Gue nggak perlu merk tertentu, dengan kualitas begini-begitu atau dengan model yang super keren. Yang terpenting bisa dipakai untuk mensupport passion gue. Ukulele juga bukan alat musik yang langka di Indonesia. Selain ada merk-merk buatan luar negeri, di sini juga sudah banyak pengrajin yang membuat ukulele. Misalnya di Salatiga, Solo atau Bali. Kalau di Bandung sendiri, sih gue belum dengar ada pengrajinnya. Tapi itu kan bukan masalah, zaman sekarang mau dari kota manapun juga bisa dikirim melalui jasa pengiriman barang. Apalagi dengar-dengar sekarang untuk barang fragile macam ukulele pun dijamin aman karena bisa pakai packaging kayu. Pasti memudahkan sekali untuk yang ingin memberi gue hadiah, ya, hehehe.

Mungkin teman-teman bertanya-tanya, kenapa gue nggak membeli ukulele dengan uang sendiri saja. Apalagi harganya nggak terlalu mahal. Untuk yang kualitasnya cukup bagus saja harganya hanya setara dengan 3 hari uang saku anak SMA zaman sekarang (gue anak zaman dulu, lol). Well, iya sih kalau dilihat dari harga mungkin nggak seberapa. Tapi gue ingin ini menjadi hadiah agar rasanya istimewa. Apalagi jika didapat dari orang-orang yang gue sayang, pasti akan berkesan sekali. Makanya sekarang gue ingin tunjukan pada Ibu, Bapak dan Ray (juga Eris, hehehe) bahwa gue memang sungguh-sungguh belajar ---bahwa gue nggak main-main dengan apa yang ingin gue capai. Jadi jika suatu hari gue mendapatkan kado yang sudah gue impikan ini, mereka nggak akan kecewa! :)




uke girl,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469