Tampilkan postingan dengan label Scolioser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Scolioser. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2013

"Scolioser" Meeting :)

Halo, halo, halooo bloggies! Hahaha, gue menulis ini di hari terakhir libur pre school, lho. Kinda lazy to work, rasanya masih pengen liburan (karena gue nggak benar-benar libur, ada pekerjaan lain, sniff). But, well, gue kangen sama anak-anak :)  Jadi sambil menunggu "the day" lebih baik gue menceritakan dulu apa yang sudah gue alami kemarin. Karena setelah mulai bekerja pasti akan ada banyak cerita baru :)

What I wore? Dress and hair bow: design by me | Shoes: Gosh

Kemarin, waktu 17 Agustus (happy birthday, Indonesia!) adalah hari yang menyenangkan buat gue. Akhirnya gue bertemu langsung dengan seorang teman yang sebelumnya hanya berkomunikasi lewat telepon dan internet. Namanya Iin, atau biasa gue panggil Inis, akronim dari nama lengkapnya. Perkenalan gue dan Iin terjadi dengan cara yang cukup unik, yaitu dengan peran dari followers gue di twitter! Hehehe, kalau biasanya orang berkenalan karena saling follow atau berteman di facebook, gue dan Iin justru belum pernah menemukan akun satu sama lain.


Gue masih ingat betul bagaimana kejadiannya. Di suatu sore gue dan Ray berjalan-jalan, menunggu waktunya dinner. Lalu handphone gue berbunyi cukup sering, hingga membuat gue penasaran untuk meliriknya. Ternyata ada puluhan mention masuk ke akun gue dengan isi yang hampir sama, "Indi, ada pengidap scoliosis ikut audisi di X Factor." Gue ingin segera menontonnya, tapi sayang di mall tempat kami berjalan-jalan hanya ada TV yang memutar siaran luar negeri. Syukurlah gue ingat kalau X Factor mempunyai channel youtube sendiri, jadi gue lega karena bisa menonton tayangan re-run nya di rumah.

Keesokan harinya gue langsung menemukan rekaman audisi Iin. Waktu itu yang gue pikir adalah, "wow, this girl is really great!" dan nggak ingat kalau sebelumnya orang-orang mengenalkannya kepada gue karena sama-sama mengidap scoliosis. Sebagai ungkapan rasa kagum gue tinggalkan sebuah komentar di sana. Meskipun tahu ini bukan akun Iin, tapi seenggaknya X Factor tahu bahwa dukungan terhadap salah satu kontestannya bertambah 1 suara, hehehe. Sebelum log out, iseng-iseng gue membaca komentar-komentar yang lain. Salah satunya ada yang mencantumkan akun twitter Iin. Gue lalu putuskan untuk menyimpannya meskipun belum terpikir untuk menghubunginya. Siapa tahu nanti kita bisa berteman, begitu gue pikir.

Setelah beberapa hari tersimpan di memory handphone, akhirnya gue putuskan untuk menghubungi Iin. Just a simple message:
"Hai Inis, aku Indi. Aku juga scolioser. Salam kenal." 
Lucky me, ternyata saat itu ia sedang online dan langsung membalas pesan gue. Terjadi percakapan singkat dan beberapa menit kemudian kami sudah saling follow :) Selama perkenalan di twitter itu kami nggak pernah membicarakan tentang scoliosis, hanya sapaan-sapaan ringan yang cukup membuat gue tersenyum. Waktu itu film Mika (yang diambil dari novel pertama gue, "Waktu Aku sama Mika") belum tayang di bioskop dan Iin baru saja lolos jadi peserta X Factor.

Setelah film Mika tayang secara umum gue mulai sibuk untuk mempromosikannya. Gue senang sekali karena tanggapan penikmat film Indonesia sangat positif. Nggak menyangka, ternyata Iin juga tertarik untuk menontonnya. Gue menerima pesan di inbox twitter yang berisi bahwa teman-temannya menganjak ia menonton film Mika karena tokoh Indi (gue, lol) mengingatkan mereka padanya. Gue nggak sabar menunggu kabar dari Iin setelahnya, gue ingin tahu apakah ia menyukai filmnya atau nggak. Karena mendengar pendapat dari seseorang yang juga mengidap scoliosis pasti akan terasa lebih 'akrab' bagi gue.

Dan yup, akhirnya sebuah kabar menyenangkan datang. Iin menyukai filmnya dan mengajak gue bertukar nomor handphone. Lebih menyenangklan lagi Iin ternyata merasa bahwa apa yang digambarkan di film sangat real. Ia juga merasakan apa yang gue rasakan ketika harus memakai brace dan bagaimana terbatasnya aktivitas sehari-hari. Meski belum pernah bertemu gue merasa Iin teman berbicara yang mengasyikan. Percakapan kami pun semakin berkembang, dari scoliosis kami menemukan persamaan lain yaitu kami sama-sama suka desain! Bukan itu saja, kami sama-sama suka binatang. Iin suka kucing dan anjing, sedangkan gue, seperti yang sudah kelihatan... I'm a dog person, hehehe :p

Semakin sering kami mengobrol, semakin besar juga keinginan untuk bertemu. Sayangnya sulit sekali menemukan waktu yang pas. Kami berdua sama-sama nggak tinggal di Jakarta. Dan uniknya meskipun pekerjaan kami menuntut harus cukup sering ke sana, waktunya selalu berlainan. Akhirnya, kemarin gue putuskan untuk menyempatkan menemuinya. Liburan gue nggak lama lagi selesai dan Iin juga hanya bisa berada di Jakarta sampai tanggal 25 Agustus. 

Jadi dengan persiapan seadanya gue ke Jakarta diantar Bapak. Berbekal 1 buah mini suitcase yang di dalamnya ada novel Karena Cinta itu Sempurna oleh-oleh untuk Iin, kami pergi jam 11 pagi. Syukurlah karena masih suasana liburan jalanan nggak terlalu macet. Tapi cuaca sedang panas-panasnya. AC di mobil nggak cukup untuk membuat gue bebas dari keringat. Kening dan telapak tangan gue basah sekali. Sampai-sampai begitu ada mall terdekat kami berhenti dulu dan gue cuci muka di sana, hahaha. Padahal, tempat kami janjian nggak jauh lho sama Slipi Jaya, mall tempat gue cuci muka. Tapi namanya juga sudah nggak tahan :p

facial wash etc, water bottle, KARENA CINTA ITU SEMPURNA, towel dan iphone :)

Sekitar jam 2 siang akhirnya gue dan Bapak sampai di Central Park. Lucunya butuh waktu lebih dari 30 menit untuk kami masuk ke dalam mall. Gedung parkirnya penuuuuh sekali, dan kami kebagian di lantai 10, hahaha. Iin sudah ada di sana sejak jam 12 dan itu membuat gue merasa nggak enak :( Syukurlah setelah 2 kali salah lantai (2 orang security=2 keterangan berbeda, lol) gue bertemu dengan Iin yang sedang duduk di foodcourt. Yaiy! Nggak nyangka akhirnya kami bertemu juga :)

Bertemu dengan Iin secara langsung lebih seru daripada lewat telepon. Meski ini adalah pertemuan yang pertama tapi percakapan kami langsung seru. Sebelum gue datang ternyata Iin habis beli baju lucu untuk kucingnya Cleo. Karena ia juga suka anjing jadi gue tunjukan foto Eris, anjing golden retriever gue yang selalu kelihatan seperti puppy, hehehe. Selain sama-sama suka binatang dan scoliosis ternyata kami juga punya persamaan lain, yaitu: punya masalah gigi! Ya, ampun ternyata kami sama-sama harus menghadapi pisau bedah gara-gara gigi kami bandel. Gigi depan Iin nggak mau turun (tumbuh ke bawah) sedangkan gue, gigi geraham belakang tumbuh ke arah yang salah sehingga harus dibedah. Uh, membicarakannya saja sudah buat kami ngilu, hehehe.

Us :)

Meskipun kami mengobrol santai, tapi soal scoliosis kami membicarakannya cukup serius. Kami sama-sama divonis di usia 13 tahun dan kurva kami di atas 50 derajat yang artinya masuk dalam kategori berat. Gue 58 derajat dan Iin 54 derajat. Kami sama-sama aktif dan mempunyai aktivitas normal (atau malah lebih dari normal? Lol), sangat menikmati itu tapi juga nggak bisa bohong bahwa rasa sakitnya sering mengganggu. Iin menyayangkan bahwa fasilitas perawatan scoliosis di Makassar masih sangat terbatas. Kami memakai Boston brace dengan harga yang hampir sama (punya gue lebih murah) tapi kualitasnya berbeda. Punya gue kelihatan jauh lebih baik, dan tentu saja untuk pilihan terapi gue juga punya lebih banyak karena tinggal di Bandung.

Padahal, menurut Iin di sekolahnya dulu bukan hanya ia yang mengidap scoliosis. Tapi yang lain memilih membiarkannya saja, nggak ditangani karena nggak tahu bahwa bracing dan fisioterapi bisa membantu. Berutunglah Iin mempunyai keinginan kuat untuk "sembuh" (baca: membaik) dan mencari tahu tentang penanganan yang tepat. Mumpung di Jakarta ia juga mencari tempat terapi dan jika ternyata harus pakai brace Iin ingin yang lebih fashionable.

Meski nggak langsung menyadari, tapi semakin dewasa gue semakin sadar bahwa scoliosis bukan akhir dari segalanya. Meski nggak bisa disembuhkan tapi scoliosis bisa dirawat agar kurvanya nggak bertambah atau malah berkurang. Gue dan Iin punya harapan bahwa suatu hari penanganan untuk scoliosis ada di mana-mana, nggak hanya di kota besar. Dan kami heran kenapa desain brace itu sangat nggak menarik, ya? Hehehe. Padahal sebagian besar pengidapnya adalah perempuan yang biasanya terdeteksi di usia remaja. Gue dan Iin jadi punya cita-cita untuk menjadi desainer brace. Gue mau bikin brace bermotif, dan kata Iin minimal setiap scolioser harus punya 3 brace dengan warna berbeda supaya bisa di match dengan baju yang dipakai. Amen for that! :p
Ide menjadi desainer brace mungkin terdengar konyol, tapi menurut kami alasan kenapa banyak scolioser remaja yang menolak memakai brace bukan hanya karena nggak nyaman, tapi juga karena warnanya nggak menarik. Gue harap suatu hari kami menwujudkan ini hingga semakin banyak scolioser yang percaya diri memakai brace setiap hari :) 



Pertemuan dengan Iin membuat perasaan gue semakin positif. Gue selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan fungsinya masing-masing. Nggak ada yang kekurangan, karena kekurangan fisik hanya di mata manusia, bukan di mataNya. Iin adalah contoh nyata, dan gue yakin masih banyak orang sepertinya di luar sana. Beberapa mungkin sudah yakin dengan kemampuan diri, tapi beberapa lagi harus diingatkan, seperti Iin yang mengingatkan gue dan sebaliknya.

Jam 5 sore gue dan Bapak pamit pulang. Meski singkat tapi pertemuan dengan Iin terasa berkesan. Sebelum benar-benar berpisah gue memberikan novel Karena Cinta itu Sempurna padanya. Novel itu berisi perjalanan hidup gue, termasuk proses pencarian terhadap penanganan scoliosis yang panjang. Gue harap sama seperti filmnya, buku itu akan membuatnya merasa nggak sendirian. Kami berfoto beberapa kali, berpelukan singkat dan dalam beberapa menit gue sudah berada di dalam mobil, di perjalanan menuju Bandung. Sambil melepaskan sepatu dan memejamkan mata berharap bisa beristirahat selama 3 jam perjalanan, gue memikirkan tentang ide yang gue dan Iin bicarakan. Kami sudah melawan keraguan terhadap diri sendiri sampai sejauh ini. Jika selanjutnya membuat brace fashionable untuk scolioser, kenapa nggak? Sepertinya nggak ada yang nggak mungkin jika kami berusaha dan berdoa. 

Jadi, kapan kita mulai desain brace nya, Iin? ;)


nb: Scoliosis can be upsetting and depressing diagnosis. Tapi bukan berarti menghalangi pengidapnya dari kesuksesan. Contohnya Liz Taylor, Kurt Cobain, Linda Blair, Liza Minelli, Sarah Michelle Gellar... dan siapa mau jadi selanjutnya? ;)


cheers,

Indi
Vote gue di GOSH photo contest. klik di sini :) 

____________________________________________________
My twitter: here | My facebook: here | Contact me: 081322339469 

Senin, 09 Juli 2012

The Interview: My Color :)



Hi bloggies, apa kabar? How's your week? Semoga meski sibuk tetap bisa bersantai di hari minggu, ya :)
Gue menulis post ini sepulang karaoke-ing sama Ray. Sudah sekitar satu bulan kami nggak pergi keluar bersama. Pekerjaan Ray sedang sibuk-sibuknya dan gue sedang mengerjakan beberapa hal baru yang sangat menyita waktu. Jadi waktu kami akhirnya dapat quality time lagi, dengan 3 jam non-stop karaoke lagu-lagu yang 70 persen pilihan gue, rasanya really refreshing, hehehe :)

Bulan kemarin, saat kegiatan gue sedang padat-padatnya gue mendapatkan beberapa tawaran untuk interview di media cetak. Seperti biasa sebelum menerima gue pasti 'memeriksa' dulu image dari media tersebut. Well, sebenarnya gue nggak pikir image dari suatu media bakal berpengaruh banyak sama gue, sih, semua kan tergantung apa yang gue kemukakan di sana. Tapi image suatu media berpengaruh terhadap apa yang mereka tulis. Pernah suatu kali ada sebuah majalah yang menginginkan kisah hidup gue dimuat di sana, 3 halaman penuh, ekslusif. I was so flattered, sampai majalahnya terbit dan gue membaca sendiri apa yang dimuat di sana. Kisahnya dilebih-lebihkan. Too much drama dan ada beberapa data soal diri gue yang nggak sesuai dengan fakta. Gue agak marah dan langsung menghubungi reporternya saat itu juga, tapi majalah sudah terlanjur beredar dan yang bisa gue lakukan cuma mengkonfirmasi tulisan yang dimuat lewat Facebook dan jika ada yang bertanya langsung. Begitulah, meski gue sudah memberikan informasi yang jelas, mereka tetap menulisnya dengan 'gaya drama' karena image majalah mereka memang begitu.

Sebelum gue menulis novel kegiatan yang gue lakukan sehari-hari adalah sekolah, mendesain pakaian dan menulis untuk kesenangan pribadi. Jika ada media yang menginginkan gue, itu bisa dipastikan untuk berbagi cerita tentang pengalaman sebagai pengidap scoliosis. Yup, gue memang scolioser, terdeteksi sejak usia 13 tahun, memakai alat bantu brace selama 5 tahun dan berakhir di kelengkungan 58 derajat yang penuh berkah. Gue nggak pernah malu dengan fakta itu dan dengan senang hati berbagi cerita karena di luar sana gue tahu banyak anak-anak, terutama anak perempuan yang mempunyai keterbatasan yang sama. Nggak pernah ada sedikitpun niat gue untuk minta dikasihani atau mencari sensasi dengan menceritakan pengalaman gue, semuanya murni, dari hati yang paling dalam gue ingin membantu. Karena mengenali gejala scoliosis sejak dini bisa berpengaruh banyak dengan masa depan anak tersebut. Dan gue termasuk salah satu yang beruntung karena ditangani dengan benar.

Lalu, pada tahun 2009 ada penerbit yang membaca tulisan gue di blog. Tanpa proses yang terlalu lama mereka langsung menawarkan kontrak untuk menerbitkan novel. Gue terkejut bukan main, tapi setelah 1 minggu berpikir gue langsung setuju dan 3 bulan kemudian terbitlah novel perdana gue yang berjudul, "Waktu Aku sama Mika". Keluarga, sahabat dan beberapa kerabat ikut bahagia tapi juga surprise karena sebelumnya mereka nggak tahu bahwa gue bisa (baca: suka) menulis. Hanya Ibu dan Bapak yang tahu, itu pun sebatas menulis di buku harian. Gue senang sekali dengan reaksi positif mereka yang terus men-support supaya gue nggak berhenti berkarya. Mereka suka karya gue, dan itu lebih berharga daripada mendapat piala, karena gue diakui memiliki kemampuan tanpa melihat sisi gue sebagai pengidap scoliosis. Fair. Gue dinilai dengan cara yang sama seperti orang lain.


What I wore: Dress: Glow | Shoes: Michelle CLA | Ribbon: my mum's sewing bow :)


Setelah itu setiap kali ada media yang meminta gue berbagi cerita, gue pasti menceritakan bahwa gue sudah menjadi penulis. Gue mempunyai buku yang dalam beberapa bulan penjualan saja sudah menjadi best seller. Itu membanggakan, seenggaknya untuk gue :)
Seperti yang sebelumnya gue ceritakan, gue sama sekali nggak pernah malu atau minta dikasihani dengan status gue, tapi juga nggak ingin dinilai dari situ saja. Gue juga sama, manusia utuh yang mempunyai kemampuan dibalik kekurangan gue. Ingin sekali suatu hari media meminta gue bercerita tentang buku gue saja (sekarang 'buku-buku' karena hampir 3 novel yang terbit, yaiy!) tanpa embel-embel yang lain. Tapi ternyata itu sulit sekali, setiap kali ada email atau telepon yang meminta interview, pasti saja gue diminta mengulang cerita yang sama...

Lalu gue memutuskan untuk menolak sementara waktu jika ada yang menawari untuk interview yang 'itu-itu' saja. Iya, sementara saja, sampai orang-orang bisa melihat bahwa gue lebih dari itu dan sekaligus untuk mengetes kemampuan diri juga. Kita nggak akan pernah tahu sudah berhasil sejauh mana sampai orang menilai kita dengan fair, kan? :)
Jadi ketika beberapa waktu lalu gue dihubungi oleh sebuah koran dan mereka meminta gue 'mengulang cerita', dengan sehalus mungkin gue menjelaskan bahwa gue juga seorang penulis, dan alangkah senangnya kalau diminta bercerita tentang pekerjaan gue. Gue menawarkan untuk bercerita 'apa yang gue punya' dan kalau nantinya mereka tetap menyebutkan gue sebagai pengidap scoliosis, it's okay, karena faktanya memang begitu. Sayangnya mereka nggak setuju. Mereka ingin mengangkat kisah hidup gue dan soal buku gue cukup jadi 'selingan' saja. Wow, gue baru sadar bahwa scoliosis gue jauh lebih besar dari novel gue. Bahkan menjadi best seller saja masih nggak cukup untuk membuat mereka 'tertarik' dengan karya-karya gue.


Sesuai tekad gue, gue menolak interview dengan koran tersebut. Gue mengemukakan alasannya sejelas mungkin, bahwa gue ingin dinilai secara adil: pekerjaan gue dulu, bagus atau tidak, baru silakan ceritakan tentang siapa gue. Tapi mereka bilang bahwa pembaca akan lebih tertarik dan terinspirasi justru dengan kisah gue sebagai scolioser, bukan yang lainnya. Well, mereka kan belum coba sebaliknya, jadi kenapa nggak mencoba? Tapi sudahlah, menjelaskan sesuatu memang sering kali nggak mudah, dan media mungkin saat ini lebih suka mengenal gue sebagai "Indi yang scoliosis" bukan "Indi yang penulis". Padahal gue mau saja berbagi cerita, gue cuma butuh break, sebentar saja.
Jangan salah mengira, gue cukup aktif berinteraksi dengan teman-teman di Masyarakat Skoliosis Indonesia, lho. Gue bisa bercerita tentang scoliosis kapan saja karena itu bagian dari diri gue. Nah, bukankah kemampuan diri juga bagian dari diri sendiri? :)

Gue punya teman, namanya Ginan. Ia seorang pekerja keras yang usianya lebih tua dari gue. Jujur saja sebelum gue mengenal bakat-bakatnya gue hanya mengenalnya sebagai temannya Mika, pengidap HIV/AIDS. Lalu seiring berjalannya waktu gue mulai tahu bahwa ia sangat aktif bermain sepak bola dan menjadi juara dimana-mana. Ia juga seseorang yang memperjuangkan kaum marjinal! Waktu gue tahu bahwa ia mendapatkan "Hero Award" dari acara Kick Andy gue langsung, "Wow... ia benar-benar hebat" dan gue sama sekali nggak 'mengingat' status kesehatannya. Ia dinilai utuh karena memaksimalkan kemampuan yang diberikan Tuhan.
Gue ingat sebuah kata yang selalu diucapkannya ketika gue mencapai sesuatu, sekecil apapun itu. Kata itu adalah "Mamprang". Awalnya gue nggak mengerti dan nggak berniat menanyakan artinya karena ia memang punya banyak stock kata-kata 'asing' (lol). Tapi setelah berkali-kali mendengar (terakhir ketika gue terpilih sebagai salah satu anak muda menginspirasi versi adalahkita.com), akhirnya gue bertanya juga. Dan ternyata 'mamprang' berarti show who you are, show your ability, tunjukan apa yang kamu punya, jangan takut-takut ibaratnya harimau. Gue setuju, itu memang benar. Somehow satu kata 'aneh' itu terasa ajaib di telinga dan hati gue. Kalau sekarang media masih betah dengan cerita scoliosis gue, yang seharusnya dilakukan bukanlah kesal, tapi mencoba lebih keras lagi menunjukan kemampuan diri, sampai akhirnya diakui. Gue akan terus membagi cerita gue selama itu bisa membantu dan bermanfaat. Mungkin suatu hari media yang suka menyelipkan 'bumbu drama' akhirnya sadar bahwa kisah sederhana dan nyata juga bisa disukai pembaca dan tetap inspiring :)

Sekarang gue akan menjadikan masa 'break' ini untuk mengukur kemampuan diri sekaligus kesempatan untuk mengembangkan diri. Memang sulit jika sudah terlanjur di 'cap', tapi sulit bukan berarti nggak bisa :) Dan thank God dua hari yang lalu radio Pro2 Semarang meminta gue untuk live interview selama satu jam non stop. Tahu untuk apa? Itu murni untuk membicarakan novel-novel dan project gue selanjutnya! Thank God :)) Gue akan terus menunjukan apa yang gue bisa, gue mau dinilai secara adil dan tanpa embel-embel lain. Gue tetap dan akan selalu menjadi "Indi si Scolioser", tapi gue lebih dari itu, seenggaknya, let me try. Gue bangga menjadi diri sendiri, gue nggak mau menukar scoliosis gue dengan apapun, apapun, apapun. Karena gue nggak menganggapnya sebagai beban, tapi bagian dari diri gue sendiri seperti hal nya kemampuan gue :) I am me, gue akan mengusahakan yang terbaik dan seadil mungkin untuk hidup. So, show your true color, guys. Atau pinjam istilahnya Ginan, "Mamprang!" :D

it's me,
Indi

nb: buku yang gue pegang berjudul "Being Remember" hadiah dari Kinanti Kitty, penulisnya sendiri. Kalian bisa menghubunginya di sini :)

________________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. My Shop? HERE. Sponsorship? HERE.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Me and my dear friend, Thie :)


Ini tengah malam, dan aku sudah bersiap istirahat. Tapi tiba-tiba saja aku teringat dengan obrolan via BBM dengan sahabatku, Thie.

Kemarin Thie bilang bahwa dagangannya laku keras. "Benar-benar penuh berkah", itu dia bilang. Aku mengiyakan. Aku bilang, pasti ada jalan kalau kita mau berusaha dan berdoa pada Tuhan.


***

Thie dan aku.


Aku mengenal Thie kira-kira 2 atau 3 tahun yang lalu lewat Facebook. Nggak ingat kapan tepatnya. Yang aku ingat cuma betapa cocoknya kami dan betapa bahagianya kami menjadi pribadi yang "berbeda" dari kebanyakan orang. Ya, Thie juga memiliki disability, sama sepertiku. Aku scoliosis sejak kecil, sekarang dan selamanya. Sedangkan Thie, Tuli (mereka lebih suka disebut Tuli, dengan T besar dibandingkan tuna rungu) sejak lahir.

Jangan bayangkan Thie sebagai pribadi yang pasif atau pemalu. Ia sangat periang dan mudah bergaul. Ia bahkan bersekolah di sekolah umum setelah sebelumnya nggak betah di sekolah luar biasa. Soal kegiatan, nggak tanggung-tanggung, Thie di SMA aktif menari Saman, malah ikut eskul fotografi segala. Waktu awal kenal, aku aku sempat bingung bagaimana ia bisa menari Saman. Setahuku Saman itu kan mengandalkan pendengaran penarinya supaya gerakanannya kompak. Ternyata Thie punya cara lain. Ia nggak bisa mendengar, tapi ia bisa berhitung. Ia menghitung ketukannya dan mengingat gerakan pelatih ketika latihan. Sisanya, ia murni mengandalkan feeling! Wow, salut sekali. She's such a talented girl :)

Bersama kami sering share soal ketertarikan kami di dunia seni. Aku senang menulis dan mendesain. Sedang Thie senang dengan dunia fotografi. Nggak ada "batasan" dalam obrolan kami. Kami bercerita seperti dua gadis normal yang bisa mencapai apapun. Aku bilang, aku akan menulis buku yang lebih sukses dari pada The Lord of the Ring, lebih tebal dari Harry Potter dan lebih menarik dari bukunya Arswendo Atmowiloto. Aku bahkan akan punya butik yang cabangnya ada di seluruh dunia (hehehe). Thie bilang ia akan punya studio sendiri dan karya-karyanya akan lebih indah dari karya Darwis Triadi.
Iya, setinggi itulah cita-cita kami, dan kami tidak main-main dalam mencapainya meski itu nggak mudah.



Salah satu karya Thie. Bagus, kan? :D

Novel-novelku yang menjadi best seller :)


Salah satu dress hasil desainku.

 

Thie juga pernah diejek, sama sepertiku ketika masih memakai penyangga. Masa kecilnya nggak mudah dan penuh perjuangan. Ia pernah dipanggil "Budeg" dan kesulitan untuk berteman, tapi pada akhirnya ia berhasil membuktikan bahwa ia memiliki otak yang sama normalnya dengan teman-teman sekelasnya. Ia bahkan --percaya atau nggak-- bisa bicara dengan jelas hampir seperti orang kebanyakan!
Aku jadi ingat beberapa hari sebelum kami memutuskan untuk bertemu. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat chatting dan SMS. Thie khawatir aku akan kesulitan berkomunikasi dengannya secara langsung. "Aku takut kamu nggak ngerti ngomong aku", itu katanya. Lalu aku balas, "Kamu kan bisa tulis, jadi aku tinggal baca apa yang mau kamu bilang". Tapi ternyata itu nggak perlu. Aku bisa mengerti perkataannya dengan sangat jelas. Bahkan lebih asyik mengobrol dengannya secara langsung daripada lewat tulisan. Kami berdua sama-sama "cerewet" dan nggak bisa berhenti membicarakan apa yang biasanya perempuan kebanyakan sukai: boys, food and cute stuff, hehehe. Ya, she's that normal. We are that normal :)





Sekarang usia kami sudah memasuki masa dewasa, masa "matang" atau masa di mana kami (seharusnya) bisa hidup mandiri. Kami semakin bisa menerima kekurangan kami. Aku akan selamanya scoliosis dan Thie akan selamanya Tuli. Aku nggak akan pernah bisa berlari dan Thie nggak akan pernah bisa mendengar. Tapi biarlah. "Memang kenapa? We're fine and grateful", itu kami bilang. Tuhan menciptakan kami seperti ini karena inilah yang Ia inginkan. Itu yang tercocok untuk kami.







Thie tetap menekuni hobinya di dunia fotografi dan aku tetap menulis dan mendesain. Jika perkerjaan formal nggak terlalu ramah pada kami, itu nggak buat kami terlalu khawatir. Aku dan Thie ---secara terpisah-- mulai berwirausaha--berdagang--- dan melakukan apapun yang kami bisa untuk tetap bertahan di dunia yang menyenangkan namun penuh tantangan ini. Kami sadar kami harus berusaha lebih keras dari pada orang lain. Tapi juga percaya kalau kami berusaha dan berdoa pasti ada jalan untuk kami. 

Kembali lagi pada obrolan semalam, Thie bertanya aku sedang apa selarut ini. Aku bilang,
"Aku lagi nunggu Ray, dia lagi antar coklat-coklat pesanan pelangganku".
Lalu Thie membalas, "Ya, ampun! Sama! Terry juga jadi kurirku, lho, hehehe".
Aku nggak bisa nahan diri untuk tertawa dan membalas, "Wah, kurir kita ganteng-ganteng ya, Thie? Hehehehehe".

Lihat, kan? Selalu ada jalan. Pasangan kami, keluarga, teman... dan yang terpenting Tuhan, selalu bersama kami. Kami baik-baik saja dan siap mencapai cita-cita. Iya, kan Thie? ;)






Tulisan ini spesial gue persembahkan untuk Thie. Gue sudah janji akan menulis tentang kami di blog sejak lama dan senang akhirnya bisa terwujud :) Ada satu cita-cita gue dan Thie yang belum tercapai, kami ingin muncul di halaman majalah yang sama. Berkali-kali kami muncul di majalah tapi selalu terpisah. Untuk sekarang seenggaknya kami muncul di halaman blog yang sama, hehehe :)

Jumat, 15 Juli 2011

Pelajaran Baru :)

It's weekend already? Ya, ampuuun... Nggak terasa ya teman-teman blogger sekarang sudah akhir minggu lagi! :D So how's your weekdays going? Aku harap fun and fine, ya... Aku sendiri berjalan seperti biasa, masih dengan kerjaan yang sama, kesibukan yang sama, kesantaian (ini betul nggak sih dalam Bahasa Indonesia? Lol) yang sama, juga ke'asyik'an yang sama. So far so good :)

Sekarang aku mau cerita soal kemarin, tepatnya hari Kamis tanggal 14 Juli lalu. Jadi sejak 2 bulan lalu aku ganti tempat terapi (aku mengidap scoliosis 55 derajat). Yang tadinya di Canadian Chiropractic jadi di Japanese Chiropractic. Alasannya sih sederhana, aku ingin terapi yang lebih ringan (It was so tiring, badly...) tapi dengan hasil yang optimal. Akhirnya setelah googling sana-sini dan dapet rekomendasi dari salah satu acara TV, aku memutuskan untuk mencoba Japanese Chiropractic. Dan seperti biasa, aku kemarin diantar Bapak untuk terapi. Di perjalanan aku mau dengar CD, tapi tanpa sengaja yang menyala malah DVD player. Heran, siapa yang masukin DVD kesini, apalagi ini DVD film "Hachiko"... Waktu aku tanya Bapak, katanya tadi pagi ada yang servis DVD player mobil, nah waktu Bapak diminta cobain sudah betul atau belum, secara random Bapak ambil DVD "Hachiko"! Duh, duh... padahal aku mencoba hindari film ini, soalnya meski sudah 3 kali nonton tetap saja nangisnya sampai banjir, huhuhu...

Terpaksa aku dan Bapak nonton Hachiko sepanjang perjalanan yang lumayan jauh (baca: Bapak curi-curi nonton karena sambil nyetir, hahaha), soalnya kotak CD tertinggal di garasi dan film ini cuma satu-satunya yang ada di mobil. Lama-lama kami menikmati juga, ya kami coba lihat sisi baiknya saja, seenggaknya versi Richard Gere ini nggak se "menyiksa" versi Jepang (aku trauma 3 hari 3 malam gara-gara film itu, inget terus sama si Veggie anjingku yang ada di surga, hiks...), lol. Bapak bilang, beliau kagum sekali dengan si Hachi, soalnya selain bisa melindungi tuannya dia juga anjing yang loyal. Aku sih cuma manggut-manggut saja. Setuju, juga nahan senyum teringat Eris, adiknya Veggie yang loyal tapi sayangnya penakut, hihihi.


Hachi lagi tiduran gara-gara ditinggal tuannya pergi, hiks.


Japanese Chiropractic di Jl. Cihampelas Bandung.



Nggak terasa perjalanan satu jam selesai juga, kami sampai di tempat terapi dengan tepat waktu (terlambat 10 menit, sih, tapi nggak apa, lol). Aku keluar mobil dengan sedikit malu-malu, pasalnya ini percobaan pertama aku pakai dress dipadukan dengan kaos kaki, hihihi. Sebetulnya aku nggak maksud eksperimen, sih. Tapi di tempat terapi ini memang diwajibkan pakai kaos kaki supaya mempermudah sesi terapi. Aku sempat ngaca sebentar di spion mobil, dress Greeny  Day dipadukan dengan kaos kaki hadiah dari Ray (khusus dalam rangka "selamat terapi di tempat baru", lho) ternyata OK juga. Ini juga didukung dengan komentar Bapak yang bilang, "Bagus, kok" begitu melihat wajah pede nggak pedeku, hehehe :D


Dress Greeny Day dari Toko Kecil Indi.





Terapisku ini orang Indonesia, btw. Iya, lokal nggak seperti kebanyakan chiropractor yang biasanya "impor", lol. Tapi tetap dia kuliah chiropractic di Jepang, bukan abal-abal karena di ruang prakteknya tergantung ijasah diploma, hehehe.
Kali ini sesi terapi nggak berjalan seperti biasanya, kami banyak sekali mengobrol. Aku bercerita kalau di perjalanan kami menonton "Hachiko" lagi untuk keempat kalinya. Dari situ dengan cepat cerita berkembang, terapisku menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun di Jepang. Di sana, dia hidup sangat sederhana karena menjadi satu-satunya mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Jangankan keluarga, teman satu negarapun nggak ada yang bisa "membantunya" di sana. Suatu hari, terapisku bertemu dengan anjing Akita yang sangat besar (Akita itu jenis anjing seperti Hachiko), meski dia tahu bahwa Akita adalah anjing yang bertempramen nggak begitu baik (they’re not a family dog seperti Golden Retriever, dll), tapi dia penasaran dan mencoba memanggilnya. Ternyata seiring berjalannya waktu mereka mulai bersahabat, malah pemilik anjing Akita tersebut mengizinkan terapisku untuk membawanya pulang dan memeliharanya. Sayang, karena keterbatasan tempat dan biaya untuk makan (anjing sebesar itu butuh 4 cup dog food perhari sepertinya, hehehe) dia pun menolak untuk mengadopsinya.

Aku selama ini nggak pernah tertarik dengan Jepang, menurutku, aku belum terlalu mengenal negara sendiri jadi buat apa aku mempelajari negara lain? Aku sudah cukup puas menjadi warga negara Indonesia meskipun nggak tulen-tulen amat (yes, my grandma has Chinese blood, that’s why my skin is so pale and my eyes are so small, lol). Pengetahuanku tentang Jepang cuma satu: di sana ada sekelompok orang yang suka cosplay dan aku BENCI kalau terus-terusan ditanya, "Kamu suka cosplay, ya?" cuma gara-gara aku sering pakai dress+stocking (baru tahu aku kalau Ksatria Baja Hitam suka pakai kostum kayak aku, hahaha).
Tapi ternyata dengan mengenal aku bisa belajar. Contoh sederhananya saja Hachiko, aku jadi bisa belajar soal kesetiaan. Well, mungkin kalian pikir setiap anjing itu loyal, they will do anything for her/his man, gitu kan? Eits, ini Akita lho! Ada yang tahu tempramennya? Please googling dulu dan kalian akan surprise betapa "manis"nya si Hachiko ini dibanding teman-teman satu rasnya. Ternyata Akita yang sebegitu kerasnya juga bisa turunin egonya demi tuan tersayang. Kenapa kita yang manusia nggak bisa seperti dia? :)

Cerita berlanjut ke soalnya lain, masih inget aku sempat (sering, ding! Lol) mengeluhkan tentang minimnya fasilitas difabel di Indonesia? Nah, terapisku cerita kalau di Jepang banyak sekali aturan "nggak tertulis" yang memudahkan para difabel (different ability people, iya, termasuk aku). Jadi di stasiun kereta (asik amat ya di Shibuya ada patung Hachiko, mau dong difotoooo) di sana ada banyak eskalator, nah secara nggak tertulis masyarakat di sana sudah bikin aturan kalau pegangan sebelah kiri berlaku untuk orang-orang yang lagi nggak terburu-buru (hanya berdiri diam di atas eskalator), nah pegangan yang kanan khusus untuk orang-orang yang memang memutuskan berjalan meski di atas eskalator. Keren, kan? Jadi nggak akan ada lagi yang "tabrakan" dan yang nggak bisa jalan cepat nggak perlu merasa "diteror" dari belakang (pengalaman pribadi aku ini mah, hahaha). Sederhana, tapi efektif. Padahal kalau Indonesia niat, mudah banget kan menirunya? Ayok ditiru (dimulai dari aku, semoga nggak ada yang protes dan teriak "Woi, minggir-minggir" dari belakang).
Hebatnya lagi, eskalator tangganya bisa berubah jadi flat, lho (itu kayak yang di mall-mall, hehehe). Jadi kalau ada berkursi roda mau lewat situ, operator tinggal pencet 1 tombol dan tadaaaa, eskalator seketika bisa jadi wheelchair access! :D Kalau sudah gitu, konon katanya orang lain yang kakinya masih sehat pasti langsung pindah ke tangga tanpa dikomando. Waw, hebat! Disiplin dan toleransi sekali ya :)

Keasyikan cerita, sesi terapi yang harusnya memakan waktu 2 jam ini pun melar jadi 3 jam, hihihi. Tapi ini nggak masalah karena aku pasien terakhir. Masih banyak sebetulnya cerita yang terapisku bagi soal Jepang (soal pasar tradisionalnya, tempat potong rambutnya, kampusnya, dll), tapi dua cerita ini saja aku rasa sudah cukup "menjelaskan" kenapa aku bisa belajar sesuatu dari mengenal. Aku rasa inilah yang disebut open minded. 

Kita jangan menjudge sesuatu sebelum mengenal terlebih dahulu. Kita harus coba meluangkan waktu sebentaaaar saja untuk berkenalan dengan sesuatu atau at least mengintip karena dari situ kita dapat belajar.

Seperti sesi terapi kali ini, siapa yang sangka dari terapi rutin ini aku bisa mendapat ilmu baru? *wink*



nb: Ada yang pernah perhatikan nggak kalau snack Tao Kae Noi (nori alias rumput laut) ini unik banget? Dari namanya memang Hokkien abis, tapi bahan-bahannya dari Jepang (nori kan ada di hampir semua masakan Jepang) tapi produksinya di Thailand! Hahaha, just found out. Ternyata selama ini aku sering makan tanpa baca kemasannya :D

sweetest smile,

INDI



do not copy any design by toko kecil indi. thanks :)

Rabu, 06 Juli 2011

INDI Featured: SEKAR Magazine :)

Akhinya majalah SEKAR edisi 60 terbit juga! Yup, di majalah inilah profileku dimuat. Wawancara dilakukan di pertengahan bulan Juni lalu, sangat mendadak dan cuma berjarak 1 hari dari pemotretan katalog online shopku. Sempet takut kelelahan, tapi karena ini pengalaman pertama aku wawancara bareng Ibu (biasanya sendirian, kalaupun berdua hanya untuk acara fashion di TV), jadi langsung aku iyakan deh! :)

Untuk wawancara aku pakai dress "Red Roses" rancanganku yang jadi koleksi terbaru "Toko Kecil Indi". Manis kan dress'nya? :)





Oya, alasan aku pakai dress ini nggak lain dan nggak bukan supaya mengimbangi wajahku yang pucat. No, no, aku nggak lagi sakit. Aku memang terlahir dengan kulit yang sangat-sangat putih, dan hari itu aku males banget buat pakai bedak dan lipstik, hehehe.

Yuk, kita intip majalahnya....




Covernya kuning dan size majalah ini cukup besar. Khas banget majalah nyokap-nyokap, hihihihi. Dan ini isinya:









Tiga halaman full menceritakan pengalaman hidupku dari sudut pandang Ibu, teman-teman. Di sini juga diceritakan rencanaku ke depan (novel dan... ada apa hayo bulan Desember? Hihihi).

Untuk yang mau baca lengkapnya, silakan, monggo dibaca majalah SEKAR nya. Sudah terbit di seluruh Indonesia, kok. Bisa dicari di toko buku, mini market dan tukang koran sejak awal bulan Juli sampai pertengahan Juli nanti. Harganya murah-meriah, Rp. 13.500.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat! ;)



big smile,

Indi

Rabu, 02 Maret 2011

Lakukan saja! :)


Ah, senangnya akhirnya aku bisa nulis lagi di sini. Meski baru 2 minggu belakangan saja sibuknya, tapi rasanya sudah berbulan-bulan, hehehe. Apalagi sibuknya makin "terasa" waktu baca banyak pesan dari pembaca yang bilang kalau mereka nggak kebagian buku (plus tanda tangan) ku. Sedih dan "capek" banget rasanya, soalnya maunya aku sih semua kebagian buku. Tapi ada daya (ya ampun kata-katanya, lol) jatah buku dari penerbit sudah habis, bis, bis :)

Tapi hari ini, di sinilah aku, santai di depan komputer di dalam kamar. Baru saja ganti baju pakai piyama, cuci muka, tangan, kaki dan baluran minyak telon (iya, iya, aku memang nggak mandi, lol). Ada sesuatu yang sudah lama pengen aku share, dan hari ini rasanya hari yang tepat.
Jadi begini ceritanya...
*just ignored my "norak" language, lol*






Banyak yang bertanya, kenapa novel "Waktu Aku sama Mika" punyaku bisa terbit. Padahal sebelumnya aku belum pernah menulis dan nggak pernah kenal sesorang yang bisa menerbitkan buku. Ada yang menebak aku menerbitkan dengan biaya sendiri, tapi tentu saja tebakan itu salah :) Sebetulnya "Waktu Aku sama Mika" sama sekali nggak direncanakan untuk dibukukan, tapi itu cuma diary pribadiku yang setelah 1 tahun baru diputuskan untuk dibuat blog'nya di Friendster. Nggak disangka, ternyata ada seorang penyunting dari Homerian Pustaka yang baca post-post pendekku. Dia bertanya apa aku berminat untuk membukukan tulisan-tulisanku. Wah, aku keget bukan main waktu disodori kontrak. Sampai-sampai aku sempet bengong selama 1 minggu, hehehe. Tapi dengan yakin aku bilang "YA!" untuk kontrak itu.

Aku nggak pernah tahu kalau novelku ternyata bisa mempengaruhi pembacanya. Ada yang bilang bahwa membaca kisahku membuat dia tahu lebih banyak tentang scoliosis, ada juga yang menjadi lebih "berdamai" dengan HIV/AIDS. Bahkan ada juga yang mengaku merasa "aman" setelah membaca bukuku karena dia--mereka--senasib dengan kisah yang ada dibukuku ("Waktu Aku sama Mika" menceritakan tentang hari-hariku sebagai pengidap scoliosis dan ketika aku berpacaran dengan Mika, seorang pengidap AIDS, btw). Semenjak itu, aku jadi tahu sesuatu: Untuk didengarkan aku hanya perlu bicara. Aku hanya perlu... lakukan saja!



"Waktu Aku sama Mika", sudah 4 kali cetak ulang :)



Waktu kecil aku punya banyak mimpi. Dari mulai mimpi jadi model video clip Michael Jackson (seriously!), bikin perusahaan es krim sendiri, sampai mimpi punya sekolah keren yang fasilitasnya support buat pengidap scoliosis kaya aku (hehehe, yang satu ini benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi). Tapi sayang, waktu kecil itu sampai "mimpi doang". Aku sama sekali nggak berusaha mewujudkan semuanya. Rasanya sudah cukup nikmat ngebayangin aku digendong MJ sambil bawa lilin (wuahahaha) atau ngebayangin belajar di sekolah yang nggak ada tangganya, pakai lift dan ada kelas yoga chiropractic'nya.
Sekarang sih memang sudah terlambat. MJ sudah ada di surga, minatku terhadap es krim nggak sebesar dulu dan aku sudah lulus sekolah.

Hmm, coba ya kalau dulu aku kepikiran buat speak up--bicara--sama seseorang yang lebih dewasa, mungkin wajahku sekarang ada di video clip "Heal the World", hehehehe. Hush! Itu sih artinyaku masih cuma bermimpi tanpa melakukan apa-apa :p
"Waktu Aku sama Mika" jadi langkah kecilku, semenjak itu aku mulai lakukan sesuatu, bukan cuma bermimpi. Aku ingin banyak orang tahu tentang HIV/AIDS. Aku ingin menghapuskan prasangka dan ketakutan masyarakat awam tentang penyakit tersebut. Terdengar naif? Memang :) Tapi toh aku tetap lakukan. Aku mulai menjadi relawan di Yayasan AIDS, menulis buletin untuk kampus dan membuat pin-pin kecil yang isinya quote-quote buatan aku sendiri. Mungkin yang memperhatikan cuma sedikit, mungkin yang berubah juga cuma sedikit. Tapi aku nggak peduli. Sedikit lebih baik dari tidak sama sekali dan aku percaya kebaikan itu menular. Aku yakin di luar sana ada orang yang "tertular" dan melanjutkan niat baikku. Dan aku juga yakin, Tuhan pasti membantu umatnya yang berdoa dan mengusahakan perubahan baik, sekecil apapun itu :)

Begitu juga soal scoliosis. Aku mulai bicara dan nggak lagi diam tapi ingin didengarkan. Aku sadar banyak scolioser-scolioser (pengidap scoliosis) yang kurang terperhatikan. Ironisnya, pengidapnya sendiri yang kurang perhatian. Sebabnya memang macam-macam, bisa karena kekurangan informasi atau karena kurangnya biaya untuk berobat (okay, scoliosis memang nggak ada obatnya, tapi at least ada terapi untuk memperlambat/mengurangi kelengkungannya). Padahal 9 dari 10 pengidap scoliosis adalah perempuan, yang biasanya suatu hari akan menikah dan memiliki anak. Kebanyakan perempuan yang mengidap scoliosis anaknya akan mengidap kelainan yang sama. Ini memang sulit dicegah tapi tentu saja kalau diketahui sejak dini bisa ditanggulangi/diminimalisir tingkat kerusakannya.
Jujur saja, untuk hal ini langkahku untuk didengar agak tertatih-tatih. Aku memulainya dengan mengirim surat pada majalah Gogirl. Nggak disangka ternyata suratku bukan cuma dibalas, tapi reporternya datang untuk mewawancaraiku! Dari satu majalah ke majalah lain, aku mulai bicara dan memberitahu apa itu scoliosis pada siapa saja yang membaca. Tawaran untuk bicara di acara launching Masyarakat Scoliosis Indonesia pun datang. Lebih banyak lagi yang bisa aku bagi. Malah, bahagia sekali waktu akhirnya aku bisa muncul di TV. Sebuah surat yang aku kirim kepada Rosiana Silalahi ternyata dijawab melalui telepon dua hari kemudian oleh Rossy--panggilan Rosiana Silalahi--sendiri. Aku ditawari untuk tampil diacaranya (Rossy-Global TV) dengan tema "Menembus Batas". Tanpa ragu (tapi bukan berarti tanpa grogi, hihihi) aku menerima tawaran itu. Bahagianya aku bisa bercerita banyak dan memberikan informasi soal scoliosis lebih banyak. Aku juga bangga karena bisa ada disana untuk berbicara, padahal aku bukan "siapa-siapa". Berbeda dengan bintang tamu-bintang tamu yang biasanya (sempat ada Krisdayanti, Jusuf Kalla, dll). Tapi sayangnya, untuk bebicara di media lokal ternyata jalannya panjaaaaaaaaaaang kayak coki-coki, lol. Aku baru bisa bicara di TV Bandung justru setelah sebelumnya ada di media-media luar Jawa Barat. Agak aneh. Dan sulit... Tapi aku lega karena usahaku membuahkan hasil :)



Untuk program "Rossy".


Untuk program "Hati ke Hati".



Begitulah, tiba-tiba aku lebih berani untuk mengeluarkan ide, mengemukakan pendapat tanpa takut ditolak. Hidupku nggak selalu mudah, kok. Untuk novel keduaku  saja sempat mengalami revisi dan sedikit pengunduran tanggal terbit sebelum akhirnya bisa ada di rak-rak Gramedia dan toko buku lain :) Tapi apapun itu, aku nggak mau mundur untuk mewujudkan mimpi-mimpiku... mimpi untuk perubahan. Aku percaya langkah kecilku pasti ada artinya. Pasti ada yang membantu dan Tuhan bantu aku.
Beberapa waktu lalu aku bahkan punya ide "gila" untuk membuat buku tentang hewan. Rasanya masih jarang sekali orang Indonesia yang menerbitkan, dan untuk peminatnya juga aku belum tahu. Dengan sedikit nekat aku mengirim email pada penerbit. Aku jelaskan konsep bukunya dan tujuan buku ini untuk amal. Royaltinya akan aku sumbangkan ke Kebun Binatang dan organisasi-organisasi fauna.
Kalian tahu apa jawabannya?
Mereka bilang, "YA!" :)

Ya, untuk mewujudkan sesuatu memang nggak mudah. Tapi nggak ada ruginya mencoba. Lebih baik mengeluarkan sedikit tenaga untuk bicara, bertanya dan mengemukakan maksud kita. Lakukan! Kalaupun nggak--belum--berhasil, toh akan ada kesempatan lain dan pasti ada pelajaran yang diambil. Lagipula--sekali lagi--, Tuhan pasti membantu niat baik umatNya.

Jadi apa impian kalian? ;)



"Karena Cinta Itu Sempurna" at the bookstores NOW!


--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Baca tulisan-tulisan blogger/artikel tentangku disini:

- Blog Sisca
- Blog Fatara
- Blog Sheila
- Blog Ocky
- Blog Ahmed (he's my classmate)
- Blog Adina

- Blog Frey
- Blog Aryba
- Blog Avi
- Blog Bobby
- Blog Ucig
- Lintas Berita: Waktu Aku sama Mika
- Ngerumpi.com: Waktu Aku sama Mika
- Forum kafe Gaul,
dan lain-lain :)



Senin, 24 Januari 2011

Keajaiban untuk Indi :)

Sekecil apapun keajaiban selalu terjadi, setiap hari. Aku percaya.
Bagaimana dengan kalian?
:)





Hari ini sama seperti hari minggu sebelum, sebelum dan sebelumnya. Gua harus pergi terapi ke klinik yang jaraknya 30 menit ---40 menit kalau macet--- dari rumah. Cuaca agak mendung, jadi aku putusin untuk pakai baju panjang dan bawa minyak telon (sebetulnya sesuai isi SMS Ray yang ingetin supaya aku pakai sesuatu yang hangat, hihi).
Setelah mampir dulu di rumah nenek yang lagi sakit (getwell, Nek :)), aku sampai di tempat terapi jam 5 sore. Nggak lupa aku bawa foto hasil rontgen kemarin.
Dalem hati deg-deg'an juga, berdoa, semoga hasilnya baik---at least scoliosisku nggak bertambah parah, amen...



My cute purple OOTD.



Seperti biasa aku langsung exercise dan setelahnya menunggu giliran treatment sambil ditemani Ray. Kami ngobrol-ngobrol nggak jelas. Temanya pindah-pindah, dari mulai Oprah Winfrey, bath up aneh berbentuk ulekan yang kami lihat di majalah, acaranya dr. Phil, sampai ujung-ujungnya ngomongin scoliosisku...
Aku bilang sama Ray kalau aku deg-deg'an berat dengan sesi terapi kali ini. Aku khawatir kalau tulangku bertambah parah dan aku bakal freak out karena nggak bisa nerima kenyataan (nah, yang ini lebay, hihihihihi).
Ray tenangin aku. Katanya, dia yakin kalau tulangku baik-baik aja dan nggak memburuk karena aku rajin terapi.
Belum tuntas obrolan kami, tiba-tiba saja sudah waktunya giliran aku masuk ruangan treatment.
*Glup!*



Deg-degan di ruang tunggu.



Di ruangannya, dr. Albert (yup, he's my chiropractor) lagi sibuk ukur kelengkungan sudut tulang belakangku lewat hasil foto rontgen yang sebelumnya aku titipkan sama salah satu asistennya.
Di belakang punggungnya, aku sibuk atur napas supaya nggak pingsan (lol). Nggak tahu kenapa di mataku foto tulang belakang itu keliatan acak-acakan banget. Kayanya tulang belikatku keliatan sempit dan pinggulku naik sebelah. Hiks...
Lalu,
"Kelengkungan kamu sebelumnya 55 dan 18 derajat, sekarang kelengkungan kamu 55 dan 13 derajat".


Aku malah diem kaya patung. Niatku  sebenernya pengen jerit-jerit, tapi nggak tahu kenapa saking senengnya aku malah diem!


Foto dari sesi terapiku minggu sebelumnya.



Keluar dari ruangan treatment aku langsung kasih tahu Ray. Dia seneng banget dan kasih aku selamat. Di dalam pelukan singkatnya rasanya aku pengen nangis, tapi takut dibilang cengeng, hihi.
Semenjak aku 13 tahun (pertama mendapat vonis scoliosis) kelengkungan tulang belakangku selalu bertambah setiap tahunnya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, kelengkunganku berkurang!


Sebelum pulang Ray beliin aku cupcake blueberry sebagai penanda keajaiban kecil yang aku (kami) dapat hari ini. Setelah hari ini rasanya aku semakin percaya bahwa keajaiban bisa terjadi meski untuk situasi termustahil sekalipun.
Nah sekarang, bagaimana dengan kalian? ;)




Penanda keajaiban kecil hari ini.



nb: kami bertemu dengan salah seorang pembaca novelku yang manis, namanya "Widya" (maaf kalau spellingnya salah). Aku cuma mau bilang, terima kasih sudah say hi, aku seneng banget :)
Untuk teman-teman pembaca yang lain, please kalau ketemu jangan diam saja dan malah tulis komentar di FB/twitter setelahnya. Karena seperti yang sudah sering aku bilang, aku senang bertemu dengan teman baru ;)




Smile,
Indi





(Diedit 29/02/2024. I'm no longer with Ray, dan sekarang sudah happily married with Shane). 

Kamis, 20 Januari 2011

13 Things About Me! :)


Halo teman-teman blogger! Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan baik, ya dan nggak ada yang lagi terserang kelopak-mata-bengkak-tibatiba kaya aku, hehehe.

Setelah sekian tahun aku nge-blog (bukan di sini, tapi di blog lain. Kalau di sini sih baru beberapa bulan, lol), aku baru sadar kalau aku belum pernah ceritain fakta-fakta "menarik" tentang diriku. Padahal biasanya blogger hobi banget bikin postingan macam "10 fakta tentangku", "7 things about me", "kehebatan-kehebatan aku yang diakui dunia", atau blah, blah dan lain sebagainya.
Nah, gimana kalau postku kali ini bahas tentang fakta-fakta unikku? Setuju?
Tidaaaak!!!...
Ya, sudah aku lanjutkan *pura-pura nggak denger yang protes bilang "tidak", hehehe*


1. Scolioser
Aku lahir dalam keadaan normal, gemuk dan sehat. Tapi diusia 9 tahun aku mulai nunjukin gejala-gejala scoliosis, seperti postur badan miring dan gerakan yang terbatas. Lalu baru di usia 13 dokter beri aku vonis scoliosis dengan kelengkungan 35 derajat dan mengharuskan aku memakai penyangga tubuh (back brace) selama 23 jam sehari. Yup, aku cuma punya jeda 1 jam perhari untuk melepas brace dan melakukan hal-hal pribadi seperti mandi dan melepas rasa pegal. Aku baru melepas brace di usia 18 tahun (atau kurang, sebelum lulus SMA tepatnya) dan menggantinya dengan terapi yang rutin karena tulangku sudah berenti tumbuh. Sampai hari ini aku masih terapi dan berusaha meminimalisir bertambahnya kelengkungan tulang belakangku yang sekarang sudah 55 derajat.




2. Naturally brunette

Believe it or not, tapi warna alisku memang lebih tua dari warna rambutku!
Waktu lahir rambutku warnanya keemasan, mungkin nama kerennya "strawberry blonde", hehehe. Ajaibnya, alisku warnanya hitam. Sampai-sampai nyokap bilang waktu lahir kepalaku nampak botak saking kontrasnya warna alis dan rambut, lol. Tapi seiring bertambahnya usia warna rambutku semakin gelap. Sampai detik ini, brunette lah warna tertua rambutku. Entah apa nanti akan bertambah tua sampai hitam legam? Who knows?! Hehehehe.


3. I use my left hand to eat

It's my habit since i wasa  baby. Maaf kalau mengganggu mata kalian, lol :D


4. Oh, Heather...
Aku pernah menangis untuk Heather O'Rourke selama semaleman. Sekalipun aku nggak pernah mengenal dia (dia bahkan meninggal waktu aku masih berusia 2 tahun), tapi somehow dia selalu jadi "anak impian" ku. Karena dia lah aku jadi ingin punya anak perempuan ketika menikah nanti. Rambut panjangnya, pipi tembamnya, wajah angelic'nya. She's so perfectly cute! RIP, Heather :')




5. I'm a tidy girl
Aku nggak pernah bisa pergi kemana-mana sebelum beresin kamar. Meski aku terlambat untuk janji sekalipun!




6. I don't mind being fashionably-nerdy

Banyak orang yang nanya kenapa aku selalu pakai feety (stocking tebal pelindung cuaca dingin) dan dress ala anak-anak Amerika tahun 30'an. Jawabanku sederhana aja: Karena nyaman. Aku nggak keberatan dibilang culun, ketinggalan jaman atau jauh dari kata "pretty". Buatku klasik nggak pernah ketinggalan jaman dan jadi diri sendiri adalah fashion yang paling baik.




7. Yes, I am truly a dork
Sejak aku balita, Bokap lebih suka beliin aku buku dari pada boneka. Jadi sejak aku mulai bisa baca ---usiaku 4 tahun--- aku nggak bisa berhenti baca buku. Dari mulai dongeng, ensiklopedia sampai novel-novel klasik. Lucunya, dari ratusan buku yang aku punya, aku cuma punya 2 nama penulis Indonesia di rak bukuku, yaitu: Arswendo Atmowiloto dan... aku sendiri!




8. I love bows & nail polish

They're just so cute and girly :)





9. I'm a movie lovers

Selain buku, hal lain yang aku pikirin kalau insomnia adalaha film. Aku punya ratusan DVD dari berbagai macam genre film. Kebanyakan sih film-film festival Prancis, film keluarga dan film-film musikal. Aku menikmati banget saat-saat nonton di atas tempat tidurku ditemani teh/coklat panas dan cemilan ringan :)




10. I'm a dog wishperer

I'm not joking or try to be funny. Aku mengerti bahasa anjing.
(ya, silakan teriak "Freaaaaaaak" dibelakangku, hehehe...).




11. Excuse me, this girly lady is a rock and roll fans too

Orang-orang sering salah menilaiku. Yah, bukan salah siapa-siapa sih, dengan haircut dan outfit yang selalu aku pakai siapapun nggak akan menyangka kalau aku itu die hard fans'nya Aerosmith! Hahahaha :)
Yup, sejak aku usia 7 tahun alu sudah mengagumi mereka, mendengar musiknya dan mengoleksi semua CD'nya. Bukan itu saja, aku bahkan punya gantungan kunci, topi, t shirt, poster sampai DVD official dari Aerosmith!
So don't judge a book by it's cover, guys ;)




12. I don't eat meat

Aku mulai jadi perscabegetarian sejak usia 15 tahun. Kenapa? I can't answer it, sorry :)


13. Walking to the bookstore and realize i see my name on the book cover

Terima kasih Tuhan novel perdanaku sudah dicetak (hampir) 5 kali. Tapi aku cuma punya 1 copy terbitan pertama di rumah. Hahaha, aku serius! Aku bahkan nggak tahu apa bedanya cetakan bukuku yang pertama, kedua, ketiga, dst, dst :D


***





Surprise? Biasa aja? Atau malah males baca postku kali ini? Hehehe... Kalau ada yang merasa biasa saja waktu baca post ini, terima kasih, artinya kalian sudah cukup mengenalku. Buat yang merasa surprise, ya, ini lah aku, semoga kalian bisa lebih mengenalku sekarang.

Aku nggak keberatan dibilang freak, nerd atau dork. Aku suka jadi diri sendiri karena itu rasanya nyaman. Aku rasa saat orang lain berkata sesuatu tentang kita, jelek atau buruk, itu tandanya mereka peduli. Lagipula, aku selalu percaya bahwa setiap manusia tercipta "spesial" :) So, bagaimana dengan kalian? Sudah siap berbagi tentang fakta-fakta unik kalian? ;)

xo,
Indi


*foto-foto: dokumentasi pribadi, foto heather: heatherOrourke.net