Halo! Indi di sini! Penulis dari "Waktu Aku sama Mika", "Karena Cinta itu Sempurna", "Guruku Berbulu dan Berekor", "Conversation for Preschoolers" dan Indi nyata dari Film Mika. Welcome to "DUNIA KECIL INDI"! Salam kenal :)
Wah, masih suasana Lebaran, nih! Maaf lahir batin ya, teman-teman :) Gimana nih, apakah ada yang masih menikmati liburan Lebaran? Atau sudah mulai beraktivitas normal lagi? Aku sendiri sih sudah terasa perubahannya, kue-kue sudah pada habis dan sudah nggak ada "excuse" lagi kalau mau bangun siang, hahaha :p Meski ada sisi senangnya karena toko-toko sudah nggak libur (kemarin-kemarin aku susah cari cemilan tengah malam, doooongs!) tapi aku sudah kembali rindu dengan suasana Lebaran. Soalnya hari-hari biasa susah banget buat bertemu dengan saudara-saudara yang tinggal di luar kota, dan... susah buat makan di luar soalnya nggak bisa pakai alasan "bosan menunya itu-itu lagi", hahaha.
Ngomong-ngomong soal makan di luar, aku ada kenang-kenangan dari bulan puasa kemarin, tepatnya tanggal 4 Juni 2018 yang lalu. Masih ada yang ingatkah dengan postku tentang restoran vegan "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir"? Nah, tulisanku rupanya dibaca oleh pihak mereka dan mendapat respon yang positif. Mereka bahkan menghubungi dan mengajakku untuk berbagi pengalaman sebagai seorang vegan. Karena aku (dan juga pacarku, Shane) betulan suka dengan makanan di sana, aku pun mengiyakan. Ditambah karena peningkatan kualitas mereka juga terlihat nyata (---terutama toilet yang sekarang sudah jauh lebih bersih), semakin semangatlah aku untuk diwawancarai.
Meski waktu wawancara dilakukan setelah aku dan Shane memesan makanan, tapi itu sama sekali nggak mengganggu karena kami sedang menunggu waktu berbuka, ---jadi sekalian ngabuburit. Prosesnya juga cepat dan semuanya sopan (nilai plus, aku paling nggak nyaman sama yang grasak-grusuk, lol). Oh iya, wawancara ini untuk ditayangkan di channel dan juga restoran mereka juga, lho. Kalau sudah pernah ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" pasti tahu apa yang gue maksud, di sana banyak monitor besar yang menayangkan wawancara, testimoni atau video edukatif tentang vegan lainnya. Waktu tulisan ini dibuat sih videonya sudah bisa ditonton, tapi in case ada yang ingin tahu tapi belum bisa mampir ke Bandung di sini aku copy-kan wawancaranya, ya. Semoga bermanfaat! :)
Q: Sejak kapan jadi vegan?
A: Waktu usia 15, saya mulai menjadi pesco-vegetarian atau masih makan ikan tapi tidak makan daging-dagingan. Saya mulai menjadi vegan sebenarnya masih baru, ---baru Desember 2016 kemarin.
Q: Mengapa menjadi vegan?
A: Waktu itu saya pikir, "Hmm, kenapa saya harus mengorbankan nyawa mahluk hidup lain sementara itu hanya untuk rasa kenyang yang sesaat?" Dan saya berpikir kira-kira ada alternatif apa ya agar saya bisa makan kenyang, happy, tanpa mengkonsumsi hewani. Karena saya ragu, kalau saya makan daging, saya tidak tahu dagingnya berasal dari mana. 'Apa hewan-hewan itu happy sebelum mereka disembelih?', 'Apa manusia memperlakukan mereka dengan baik?' Jadi ya sudah, saya decide saat itu juga untuk stop (makan produk hewani sama sekali) begitu saja.
Q: Apa yang kamu rasakan setelah menjadi vegan?
A: Saya merasa lebih sehat, saya merasa lebih bahagia. Dan yang paling penting hilang perasaan guilty, ---hilang perasaan bersalah karena "tidak harus" worry dengan apa yang terjadi dengan hewan-hewan sebelum saya makan. Karena dengan mengkonsumsi makanan non hewani saya bisa lebih yakin (dengan apa yang masuk ke tubuh saya) karena lebih mudah untuk dimasak di rumah. Jika kita diberi choice antara hewan dan tumbuhan, pasti secara naluriah kita akan memilih tumbuhan dibandingkan harus berburu (menangkap hewan dan memasaknya sendiri). Menurut saya mengkonsumsi sayur-sayuran (menjadi vegan) lebih masuk akal.
***
Aku sih nggak pernah against non-vegan, ya. Orangtuaku juga makan daging kok, bahkan pacarku saja baru jadi vegan sekitar 4 bulan kemarin, setelah pindah ke rumah ortuku (---dulunya sih dia fans berat keju, hahaha). Pernyataanku 100% menurut pengalaman pribadi saja dan nggak menganggap vegan lebih baik dari non vegan apalagi sampai against suatu kepercayaan. Karena aku percaya manusia dan hewan ditakdirkan hidup berdampingan. Jadi selama pemanfaatannya masuk akal dan nggak berlebihan, ya why not? Aku jadi vegan simply karena aku punya pilihan. Ini zaman modern, makan enak nggak harus daging dan kebutuhan giziku juga terpenuhi ;) Jadi silakan wawancaraku ini kalau ada diambil manfaatnya, dan kalau nggak ada lumayanlah buat baca-baca :p
Buat yang nggak bisa lihat langsung juga aku sudah upload videonya di channelku, ---tapi versi edit berhubung si pacar nongol di sebelah dan nggak ngeh kalau dia in frame (---nguap dua kali dong dia, ya ampun, hahaha). Kalau kalian, ada kenang-kenangan apa libur bulan Puasa dan Lebaran? Adakah yang mampir ke resto favorit juga? ;)
yang suka makan enak,
Indi
_____________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com
Hi bloggies! How's your weekend? Semoga menyenangkan ya! Ngomong-ngomong soal weekend, apa nih aktivitas favorite kalian? Hangout? Atau di rumah sajakah kaya aku? Hihihi. Jujur, aku hampir selalu milih buat menghabiskan waktu di rumah sih. Nulis, bikin musik, masak, kumpul sama keluarga, main sama Eris anjingku, or simply snuggling sama si pacar. Aku cuma ke luar kalau lagi kepengen banget, misalnya saja lagi craving sesuatu. Kaya kemarin nih, aku kepengeeeen banget makan telur ceplok, rendang sama sate! ---Tunggu! Sebelum protes, iya aku masih (dan akan tetap) vegan, kok. Yang aku mau ini bukan menu-menu sungguhan, tapi versi vegannya alias cruelty free! ;)
Sejak beralih dari pesco vegetarian, ke vegetarian lalu ke vegan, selera makanku nggak berubah. Aku masih tetap suka makanan dengan kaya bumbu dan segar. Dulu aku sering ditakut-takuti sama orang sekitar, katanya kalau jadi vegetarian susah cari makan, hahaha. Tapi ternyata buktinya nggak kok, bahkan setelah jadi vegan pun aku bisa makan enak dan sesuai selera. Caranya ya gampang, tinggal masak sendiri. Kalau menunya hewani ya tinggal "divegankan". Sekarang kan apa-apa mudah dicari di internet, dan layanan pesan-antar via aplikasi juga memudahkanku untuk membeli bahan-bahannya. Nah, tapi bagaimana kalau aku lagi malas? Ya, beli saja masakan yang sudah jadi. Memang tempatnya nggak sebanyak restoran biasa, tapi restoran vegan itu ADA kok, dan bukan hal "mewah" :)
Aku tinggal di Bandung. Sejak masih jadi pesco vegetarian (vegetarian yang mengkonsumsi ikan) bertahun-tahun lalu, aku sudah punya restoran favorite. Namanya "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir". Aku tahu tempat ini justru dari temanku yang bukan vegan! Dia cerita sama aku kalau ada restoran dengan harga terjangkau yang makanannya enak-enak. Penasaran, aku pun langsung cari alamatnya dan... aku jatuh cinta pada pandangan pertama, hahaha. Waktu dulu sih aku belum berani pesan yang macam-macam di sana, cuma nasi dan sayuran. Padahal aku tahu kalau tersedia menu meat alternative juga, tapi nggak berani pesan karena takut mahal. Maklum masih bocah :D Kalau sekarang sih sudah berani, bukan karena banyak duit tapi karena tahu kalau harganya terjangkau.
Menurutku restoran ini seleranya universal banget, nggak hambar. Seandainya almarhum Kakek makan di sini aku yakin beliau pasti suka karena dulu harus makan menu vegan Rumah Sakit yang rasanya yucky :( Makanya aku sering rekomendasi tempat ini, bahkan sama yang meat eater sekalipun. Dan sumpah aku nggak diendorse lho, hahaha. Termasuk sama pacarku, Shane. Well, singkat cerita tentang dia, dulu dia bukan vegan. Tapi semakin lama kenal dia mulai cerita kalau sebenarnya dia nggak suka masakan dari hewani, terutama telur. Tapi kadang merasa nggak ada pilihan dan rasanya "nggak enak" kalau sudah disediakan makan sama ibunya tapi nggak dimakan. Nah di hari pertama dia tiba di Indonesia (sebelumnya tinggal di Amerika), pola makan Shane berubah. Dia plek mengikuti menu makanku. Awalnya kupikir hanya karena kami tinggal serumah, tapi rupanya saat makan di luar pun selalu menolak daging. Pernyataan "aku vegan" memang nggak pernah keluar dari mulutnya, tapi after one month of being meat and dairy free, rasanya aman untuk menyebut kalau dia juga vegan :)
Salah satu spot foto di "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir".
Shane baru berkunjung ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" dua kali. Sama sepertiku, dia juga rupanya falling in love at the first sight sampai aku jealous, --JK :D Makannya lahaaaap banget, padahal rasa Indonesia pasti baru buat lidah dia. Nah yang mau aku ceritain sekarang itu tentang kunjungan dia yang kedua (dan ke sekian ratus kali buatku, lol). Jadi ceritanya aku mendadak banget kepengen telur ceplok, rendang dan sate. Kenapa? Aku juga nggak tahu, pokoknya mendadak malas masak (padahal biasanya juga si pacar yang masak, hahaha). Akhirnya menjelang malam kami putuskan ke "Kehidupan" untuk early dinner. Suasana nggak terlalu ramai, kami jadi bisa leluasa memilih tempat. Tanpa ragu aku langsung memilih nasi soto, rendang, terong bumbu cabai dan sayuran. Sedangkan si pacar, dia selalu ragu buat mencoba hal baru. Seperti kunjungan sebelumnya dia memilih nasi goreng ditambah mie keriting setelah kupelototin karena kelamaan milih :p
Tempat duduk yang kami pilih, dekat sekali dengan display makanannya.
Aku ngiler dengan menu rendang karena sempat mencicipi rendang yang iparku pesan beberapa waktu lalu. Rasanya ternyata enak dan pedas. Teksturnya mirip seperti daging sungguhan, meski kalau soal rasa aku lupa-lupa ingat karena sudah lama nggak makan teman, ---eh hewan. Meski kepedesan (karena terong yang aku pesan juga pedas) tapi aku makan sampai ludes termasuk dengan bumbu-bumbunya. Nikmat banget dimakan sama nasi dan sayuran. Kalau soal terongnya sih jangan ditanya. Rasanya setiap makan di sana jadi menu wajib yang aku pesan, hahaha. Alasannya karena aku cukup picky, kalau terongnya benyek biasanya aku nggak suka. Nah, terong "Kehidupan" tuh rasanya fresh dan cabainya juga "nendang". Saking nendangnya aku sampai pesan teh manis plus bonus dapat bibir dower, hahaha.
Rendang, terong cabai, sosin, tahu kecap dan daun pepaya (---atau singkong??).
Nasi soto plus sambal.
Mie keriting dan pangsit punya si pacar. Ah, suka dengan ide sumpit reusable nya :)
Soto, menu lain yang aku incar juga "terinspirasi" dari iparku yang pernah memesan menu ini buat Ali, keponakanku yang masih berusia 2 tahun. Yup, karena tanpa MSG dan santan makanan di sana jadi aman buat anak-anak. Rasanya waktu itu mau nyicip tapi nggak enak kalau nyosor makanan bocah xD Dan akhirnya keinginanku tercapai! Rasanya hampir sama seperti yang kubayangkan, cuma menurut lidahku agak kurang tajam rasanya. Kalau jeruknya ditambah pasti kukasih nilai 10. Nasi, sayur, terong dan rendang membuatku kekenyangan. Bahkan buat membuat piring dan mangkukku cling bersih pun kepayahan, hahaha. Padahal telur ceplok idamanku belum tercapai. Akhirnya kuputuskan untuk tetap pesan nasi goreng plus si sunny side up tapi untuk dibawa ke rumah. Oh iya, meski kekenyangan aku masih sempat mencicipi mie keriting si pacar, lho :p Next time aku juga harus pesan, soalnya rasa mie nya pas banget sama seleraku. Kuahnya juga gurih dan harum. Cuma bagian pangsitnya agak terlalu "enek" buatku, makan satu saja cukup. Lainnya sih perfect, sampai sambal dan emping pun aku lahap :D
Jadi lagi-lagi aku dan Shane cukup puas dengan "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir". Kenapa "cukup"? Karena menurut kami masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Dan dari sudut pandangku yang sudah ke sana sejak zaman bocah, rasanya ada kualitas yang menurun. Misalnya saja menu-menu meat alternative yang hilang juga dekorasi yang berkurang. Dulu aku sempat berfoto di jajaran bunga matahari yang instagramable banget tapi sekarang sudah nggak ada :( Dan yang paling aku soroti masalah kebersihan toiletnya. Rasanya semakin lama semakin nggak terawat. Nah, kemarin itu rasanya paling gawat. Aku sudah kebelet banget dan dari 2 toilet nggak ada satu pun yang mending, banyak tisu di lantai dan berjejalan di lubang toilet (ewww...). Terpaksa aku dan pacar jalan kaki ke resto fast food di ujung jalan buat numpang pipis :( Mudah-mudahan sih tulisanku ini dibaca sama pihak "Kehidupan", karena aku pernah membuat review di YouTube dan mereka merespon. Tapi kalau pun nggak aku tetap akan berusaha menghubungi mereka karena ini demi kebaikan. Kalau kualitas semakin bagus kan semakin banyak yang berkunjung dan tertarik dengan veganism. So, don't take this as a mean comment ya, ini saran :)
Wah, ternyata bertemu teman pembaca. Sayang ya nggak menyapa :(
Take out food packaging nya rapi, suka! :)
Ini foto setelah nasi goreng dan telur ceplok impiannya dihangatkan di microwave. Masih tetap enak! Oya, jangan tertipu dengan tampilannya, ini bukan telur sungguhan ya. Hanya namanya yang sama karena ini 100% VEGAN! :)
Apa aku merekomendasikan restoran ini? Tentu, iya! Buat teman-teman yang membaca post ini dan belum pernah ke sana, ayo datang ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" di Jl. Pajajaran No. 63 Pasir Kaliki, Cicendo Bandung. Mereka buka dari pagi sampai jam 9 malam. Jika kalian datang untuk mencari makanan enak tempat ini worth it sekali, tapi ya itu dia dari segi kebersihan memang harus dibenahi. Oh iya, satu lagi yang lupa aku sebutkan. Packaging untuk take out foodnya rapi, lho. Nasi gorengku utuh sampai rumah. Tapi aku nggak yakin apa ini berlaku juga untuk menu sate karena aku pernah pesan via Gofood dan hanya dibungkus plastik :O Well, sekian dulu tulisanku. Meski ada kekurangan tapi restoran ini salah satu bukti kalau jadi vegan itu nggak ribet dan nggak mahal. Nih aku contohnya, sering bokek tapi selalu bisa makan enak! Hahahaha. Cheers! :)
yang kalau foto pacarnya gak boleh ikutan tapi fotonya ada kok di instagram, lol,
Indi
(*Untuk teman-teman vegan di Tangerang, aku juga punya rekomendasi tempat makan enak yang terjangkau lho, klik di sini. Juga yang mau dengar kolaborasi musik baruku dengan si pacar, klik di sini)
______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com
Halooooooo... Masih adakah yang mampir di sini? Hehehe, semoga saja ada ya. It's been awhile aku nggak cerita-cerita sama kalian. Padahal baru didua post sebelumnya ya aku bertanya hal yang sama, ---dan itu sudah lebih dari 1 bulan yang lalu! Geez xD Tapi kali ini alasannya bukan malas. Malah faktanya belakangan aku sedang semangat-semangatnya karena banyak hal baru yang aku lakukan. Terutama aku sedang mengeksplor kemampuan bermusik. Karena meskipun aku jadi anggota choir selama 5 tahun, belum pernah sekalipun aku "dilirik" sama pelatih. Kehadiranku hanya sebatas antara ada dan tiada, ---alias nggak terlalu dibutuhkan, tapi kalau aku nggak ada juga kadang dicariin :p Aku justru baru tahu kalau aku "bisa" bermusik setelah off dari choir. Tanpa bayang-bayang puluhan teman di-choir ternyata aku lebih percaya diri dan bisa menunjukkan warnaku yang sesungguhnya. Tapi bukan berarti aku stop menjadi penulis ya, karena menurutku musik sama saja dengan menulis. Bedanya saat bercerita aku harus menambahkan melody :) Selain itu yang membuatku absen dari dunia kecil ini adalah karena so much thing going on belakangan. Dari mulai hal-hal yang bikin happy sampai hal-hal yang bikin hatiku sedikit kosong (eg. ada seorang sahabat yang meninggal dunia, juga ada seorang sahabat yang baru pindah jadi komunikasi dibatasi dulu). Sekarang aku akan mencoba mencicil menceritakan apa saja yang terlewat. Dan akan dimulai oleh 2 moment yang menurutku paling berharga diantara semuanya, yaitu: Ulang tahunku dan pengalaman membuat jingle sebuah preschool. How cool is that? Hehehe :p
1. Kejutan Ulang Tahun di mana Keluargaku went Vegan for a Day dan Lagu Baru!
Kalau sering mampir ke sini pasti sudah hapal banget sama ke-excited-an aku setiap berulang tahun. Tapi tahun ini ada yang beda karena bertepatan dengan bulan puasa. Awalnya aku mau mengundang beberapa teman untuk berbuka bersama, tapi setelah dipikir rasanya kurang bijak karena pulangnya bisa terlalu malam dan mereka jadi skip ibadah :( Jadi aku putuskan saja tahun ini tanpa perayaan dan aku jalani hariku seperti biasa. Tapi rupanya orang-orang di sekitarku nggak membiarkan hari istimewaku berlalu begitu saja. Begitu tiba di tempat bekerja lampu kelasku mati, dan begitu dinyalakan aku lihat note yang berisi birthday wishes lengkap dengan gambar Hello Kitty! Ya, ampun, rupanya itu surprise dari Miss. Rifa, partner sekaligus sahabatku sejak tahun 2012. Rasanya terharuuuuu sekali. Sampai-sampai note nya aku keep dan dipajang di kamar, hahaha :D Miss. Rifa bilang sih aku berlebihan karena itu cuma surprise kecil, tapi menurutku saat seseorang mengingat moment istimewa seperti ini, ---it's beyond precious! :)
Aku nggak berharap hadiah apa-apa lagi, note dari Miss. Rifa sukses membuatku ekstra happy saat bekerja. But, there's another surprise! Waktu aku ambil handphone di loker ada pesan dari iparku, katanya, "Kak, kata Ibu pulang kerja mau makan di mana? Kita makan sama-sama, Kakak pilih tempat makan vegan saja." Waaaa, saking happy nya aku sampai baca berkali-kali dan malah lupa untuk balas pesannya, hehehe. Setepat waktu mungkin aku meninggalkan tempat bekerja dan pulang ke rumah karena tahu pasti butuh waktu untuk berganti pakaian dan ---minimal cuci muka. Tapi, lagi-lagi, saat pulang ke rumah ada kejutan! Dan ini datang dari seseorang yang nggak aku duga!
Mungkin ada yang masih ingat kalau tahun lalu aku berkolaborasi dengan Shane Combs, musisi asal Amerika (lihat kolaborasi kami di sini). Nah, siapa sangka hubungan yang awalnya idola dan penggemar itu berubah menjadi persahabatan. Aku nggak bisa cerita gimana awalnya sih, it just happened. Rupanya aku dan Shane itu berulang tahun di waktu yang hanya terpaut 10 hari! Kami sebelumnya sudah sering bicara tentang betapa kerennya menjadi "Gemini fella" (plus sama Eris juga sih, anjingku, lol) dan berencana untuk membuat sesuatu lagi bersama, tapi berhubung Shane akan pindah ke California aku jadi pesimis dengan rencana itu :( Entah dapat wangsit darimana rupanya Shane memutuskan untuk menyelesaikan project ulang tahun kami sebelum tanggal 8 Juni berakhir a.k.a di hari ulang tahunku. Jadilah kami ngebut mengerjakannya BEBERAPA MENIT saja begitu aku tiba di rumah. Thanks to technology, kami menggunakan video call untuk berkomunikasi dan itu memakan waktu kurang lebih 3 jam. Pantatku sampai kram rasanya karena duduk di lantai sementara kabel charger menempel terus-terusan di handphone. Well, it's kinda dangerous, tapi berhubung perasaanku lagi campur-campur antara excited pengen cepat menyelesaikan lagu, mellow karena bakal ditinggal (kami kan tergantung WIFI, lol) sama mood pengen becanda melulu, bikin aku jadi "betah" dengan posisi ekstrim begitu. Telepon baru selesai setelah Ibu terus-terusan nongol di kamar untuk "mengingatkan" secara halus kalau kami mau makan malam bersama, hahaha. Gagal lah rencanaku untuk cuci muka dulu sebelum pergi :p
Lagu yang kami buat sebenarnya nggak 100% baru. Lirik dan melody nya aku tulis sekitar 8 bulan yang lalu. Waktu itu Shane langsung suka dan ingin memainkannya. Tapi berhubung lagunya super girly aku jadi nggak tega kalau melibatkan sahabat laki-lakiku itu, lol. Tapi ternyata Shane benar-benar menyukainya, jadi ia membuat aransemen baru plus kami juga tambahkan sedikit bagian dari lagu "All You Need is Love" nya The Beatles sebagai tribute to the band ---dan juga karena Shane mengidolakan mereka. Lagu yang kami buat sebagai hadiah ulang tahun kami (aneh nggak sih kalimatnya, hehe) itu berjudul "One Day" dan bisa didengar di sini. Aku sih suka banget sama hasilnya. ---Bukannya narsis lho, aku hanya bangga karena finally ada orang yang bisa merealisasikan musik yang ada di kepalaku. ---Karena dengan kemampuan bermusikku yang masih terbatas, normally semua ini hanya bisa diimajinasikan saja. Semoga kalian juga enjoy dengan musik kami, ya :)
Dengar laguku dan Shane di sini. Pakai headphones akan lebih maksimal! :)
Akhirnya setelah terburu-buru ganti baju dan sedikit ditegur karena video call terlalu lama (---padahal anaknya sedang berkarya lho, Ibu, Bapak, hehe) kami (aku, ortu, Nenek, Ipar dan si Ali Connolly) berangkat juga untuk makan malam. Karena aku diizinkan untuk memilih tempat, langsung saja aku menyebut "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir", restoran vegan yang selalu jadi favoriteku bahkan semenjak aku masih jadi pesco-vegetarian :) Bisa diduga, tempatnya penuuuh sekali begitu kami tiba. Tapi berhubung ini ulang tahunku jadi nggak ada yang tega untuk menyalahkanku :p Lagipula late dinner nya jadi terobati dengan kearakraban kami. Plus keluargaku ternyata menikmati menu vegan dan amaze sama "daging palsu" yang mereka makan, hahaha. Well, aku sih nggak berharap mereka jadi vegan apalagi didekat-dekat hari Lebaran seperti ini, tapi melihat mereka enjoy dan bilang kalau akan mampir ke sini lagi juga bikin aku happyyyy :D
Kesannya repetitif, tapi memang setiap ulang tahun aku selalu bilang kalau ini adalah "best birthday" karena begitu kenyataannya. Tuhan maha baik dan maha adil. Tahun lalu aku kehilangan orang yang kusayangi dan tahun ini "diganti" dengan kehadiran seorang sahabat baru, sahabat lama dan keluarga yang super-super aku cintai. I'm blessed, ---rasanya "malu" jika aku meminta lebih. Aku berjanji akan menjadi orang yang lebih baik agar pantas mendapatkan apa yang sudah dan kelak aku dapatkan di masa depan :)
2. Terlibat di Pembuatan Jingle Sebuah Preschool dan Tampil di Hadapan Oompa-Loompa.
Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau aku sedang mengeksplor kemampuan bermusik. Nah, ini sepertinya membuat aku sedikit nekat, lol. Di awal bulan Juni bosku bertanya apakah ada di antara employees nya yang bisa membuat lagu untuk preschoolnya. Jadi liriknya sudah ada, tapi belum ada melody. Entahlah dapat keberanian dari mana dengan PD nya aku bilang, "Sini sama aku saja, deh. Aku bisa bikin lagu." Dan.... setelahnya aku kaget dengan jawaban yang keluar dari mulut sendiri, hahaha. Pengalamanku membuat lagu hanya sebatas have fun untuk disimpan di laptop dan beberapa saja yang diupload ke YouTube. Jadi bisa dibayangkan dong betapa blank nya aku :'D Tapi berhubung sudah sok cool, aku bawa liriknya ke rumah dan baru galau setelah malam datang.
Sempat terpikir untuk curang, pakai melody yang sudah ada atau minta dibuatkan Shane. Tapi waktu aku tanya ia apakah bisa membuat lagu anak-anak jawabannya hanya, "What??", hahahaha. Jadilah aku langsung mengalihkan pembicaraan dan bilang, "Never mind" :'D Akhirnya aku humming liriknya saja dan biarkan jari-jariku bergerak memetik ukulele. It's miracle! Hanya dalam waktu 5 menit lagunya selesai! Aku nggak yakin dengan reaksi bosku sih, soalnya aku juga nggak ngerti "standar jingle" itu gimana. Tapi sambil tutup mata dan deg-degan (---eh, ngintip dikit sih) aku kirim lagunya melalui whatsapp. It was so rough, ada suara berdehem di awal dan tanpa mixing. Satu menit... dua menit aku menunggu dan akhirnya ada jawaban. Laguku langsung diapprove! OH, MY GOD!!! Aneh sih, tapi aku syukuri saja. Mungkin bosku selaranya random, hahahaha *sujud syukur*
Tapi kejutan besarnya justru ada di acara puncak alias school leavers nya preschool. Aku diminta untuk membawakan lagunya di atas panggung! Ahahahaha, antara excited sama geli sih ini namanya :D Sudah pasti ada beberapa teman yang menggodaku. Dari mulai dipanggil "Maria" (itu lho, tokoh di The Sound of Music yang mengajarkan bocah-bocah bernyanyi) sampai dibilang kalau aku akan perform di hadapan Oopa Loompa :'D Terlanjur sudah nekat mengiyakan bikin lagu, aku iyakan lagi saja permintaan untuk tampilnya. Ini memang bukan pertama kalinya aku perform di depan umum, sebelumnya pernah di tiga stasiun TV nasional dan beberapa kali di kalangan "terbatas". Tapi di depan anak-anak dan orangtua murid? Oh, no, ini bakal jadi moment pertama kali xD
Satu minggu sebelum acara aku sempat gladiresik dan bikin aku geli segelinya karena laguku diputar di playground. Bayangkan saja, mendengar suara sendiri saat bekerja itu kan awkward banget, hahaha. Tapi aku tetap berusaha profesional, ---gelinya ditahan dulu sampai waktu bekerja selesai. Dan aku juga ingin penampilanku di hari H maksimal. Jadi segala silly thought itu harus disingkirkan dulu :) Aku berlatih saat gladiresik juga di rumah, ---bahkan untuk outfitnya pun aku siapkan. Thank God, penampilan perdanaku di preschool berjalan lancar. Meski aku sudah "tahu", tapi nggak bosan-bosannya aku mengingatkan diri sendiri untuk menganggap semua pekerjaan serius. Besar kecilnya panggung, sedikit banyaknya audiences sama sekali nggak boleh mempengaruhi penampilanku. I just want to do my best :)
Well... itulah dua moment yang sangat berkesan buatku di bulan Juni. Sebentar lagi bulan akan berganti dan aku masih belum tahu apa yang sudah menanti. Yang pasti aku akan menjalani hari sebaik mungkin, dan sisanya aku serahkan pada Tuhan :) Oh iya, besok sudah hari Lebaran, nih. Mohon maaf lahir dan batin, ya. Nanti akan aku usahakan untuk bersilaturahmi ke blog teman-teman. Sampai ketemu! :)
that ukulele girl,
Indi
(Diedit 5/3/2024. Sahabat yang berkolaborasi musik denganku itu sekarang jadi suamiku, ahahahahahaha, sungguh sebuah plot twist).
______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com