Tampilkan postingan dengan label childhood hero. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label childhood hero. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Tulisan untuk Robin Williams, dari Seorang Penggemar

11 November 2014
Ini mungkin bakal kedengeran aneh, tapi hari ini gue akan bercerita tentang Robin Williams. Ya, I know, ini sudah 2 bulan sejak kepergiannya, tapi rasanya baru siap untuk membagi perasaan gue di sini. Sebagai fans beratnya, teman-teman gue banyak yang heran kenapa gue nggak tampak terlalu sedih dengan kepergiannya, nggak update status tentangnya 3 kali sehari dengan isi yang mengharu biru, nggak membicarakan sebab dari kepergiannya... Jawabannya sederhana; karena gue nggak mengenalnya secara personal. Gue bukan teman, kerabat apalagi keluarga. Gue hanya fans. Dan gue rasa meratapi kepergiannya di media sosial bukan hal bijak. Robin Williams memiliki keluarga, 3 orang anak yang sangat ia cintai yang tentu saja berduka. Bayangkan jika kita berada di posisi mereka, bagaimana rasanya membaca banyak tulisan yang isinya "menyayangkan", "menyesalkan" atau "menertawakan" kepergian ayah kita?

Jadi waktu itu, pagi-pagi sekali. Gue baru saja mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Sambil mengeringkan rambut gue mengecek handphone dan menemukan sebuah update twitter dari Sharon Osbourne. Mata gue langsung terasa panas dan nggak percaya dengan yang gue baca. Robin Williams meninggal dunia... Ya, gue menangis. Dan gue akui itu bukan tangisan kecil. Tanpa gue sadari nafas gue mulai tersenggal-senggal dan air mata gue menetes deras. Gue lalu mencoba menenangkan diri, menarik nafas  dan meneguk segelas air. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk menstabilkan emosi gue. Dengan mata sembab akhirnya gue berhasil berpakaian dan berpikir logis. Di kepala gue memang ada pertanyaan "Kenapa?" yang terus-terusan terlintas, tapi gue putuskan untuk menyimpannya sendiri dan mengucapkan rasa bela sungkawa sewajarnya pada Zelda, putri dari Robin Williams lewat akun twitter nya. 

Gue masih ingat pertama kali melihatnya. Bersama Ibu dan Bapak gue menonton film Mrs. Doubtfire yang kelak menjadi film favorit gue sepanjang masa. Gue sangat menyukai tokoh Natalie yang diperankan oleh Mara Wilson. Di film ia diceritakan sebagai seorang anak yang sangat dekat dengan ayahnya (Robin Williams), yang secara kebetulan di kehidupan nyata ia seusia dengan gue, ---dan gue juga sangat dengan dengan Bapak. Mungkin itu jadi salah satu alasan mengapa gue merasa related dengan film Mrs. Doubtfire. Setelah menonton pertama kali gue langsung merengek untuk menonton ulang filmnya. Syukurlah VCD nya disewakan di rental dekat rumah, jadi gue bisa menonton sesering gue mau. Setiap kali menonton Mrs. Doubtfire, gue selalu tertawa, terharu, dan menemukan hal baru. Gue tumbuh bersama film itu, literally. Dari kecil sampai beranjak remaja. Dari hanya tertawa karena gerakan lucu yang dibuat Robin Williams sampai tertawa karena akhirnya gue mengerti lelucon yang tadinya hanya membuat Ibu dan Bapak tertawa. Lambat laun gue menemukan bahwa film itu sangat menginspirasi, semakin menambah alasan mengapa gue sangat terobsesi dengan Mrs. Doubtfire...

Lalu gue tumbuh menjadi seorang remaja. Setiap minggu gue tetap setia untuk datang ke rental dan menyewa VCD Mrs. Doubtfire. Kondisi keping VCD nya sudah nggak terlalu bagus, cover plastiknya lepas karena sering dibuka tutup. Entah mengapa membuat gue sedih. Mungkin terlalu banyak orang yang menyewa VCD ini dan nggak semuanya memperlakukannya dengan hati-hati. Dan sebuah ide nakal pun muncul, ketika gue kembali ke rental untuk mengembalikan VCD gue membuat wajah sangat menyesal. Dengan sedikit terisak gue berkata pada pegawai rental bahwa gue nggak sengaja menghilangkan VCD nya. Tentu saja ia nggak langsung percaya, gue telah menyewa VCD yang sama selama bertahun-tahun dan selalu kembali dengan selamat. Tapi gue tetap bersikeras, ---lalu nggak bisa menahan senyum ketika pegawai rental berkata gue harus membayar denda sebesar Rp. 40.000. Gue menang.

Dress gue mirip seperti Mrs. Doubtfire di scene kolam renang :)

Gue mempunyai VCD Mrs. Doubtfire sendiri. Well, ini milik rental tapi kan gue sudah membayar denda. Gue bisa menontonnya kapan saja gue rindu. Adegan Daniel Hillard (Robin Williams) yang menari dengan diiringi lagu Dude (Looks Likes a Lady) menjadi favorit gue. Bagaimana nggak, itu adalah lagu dari band kesukaan gue Aerosmith. Gue juga hapal dengan dialog-dialognya, termasuk 'nyanyian spontan' Robin Williams di adegan Raptor Rap. 
Gue sangat bahagia mendapatkan apa yang gue mau. Tapi hati kecil gue merasa bersalah, meski gue membayar denda tetap saja gue berbohong. Pihak rental nggak tahu bahwa sebenarnya VCD nya nggak hilang... Akhirnya, dengan perasaan menyesal yang semakin besar gue mengembalikan VCD nya kembali. Gue bersedih karena harus berpisah dengan Mrs. Doutfire, tapi akan lebih sedih lagi jika gue menjadi seorang pencuri.

Mungkin teman-teman heran, kenapa gue nggak punya VCD Mrs. Doubtfire sendiri padahal sangat menyukai film itu. Bukan tanpa usaha, selain meminjam ke rental gue juga mencari ke berbagai toko CD, tapi selalu kehabisan. Bahkan gue sampai meninggalkan nomor telepon di Disc Tarra untuk berjaga jika ada kiriman VCD Mrs. Doubtfire lagi. Sambil menunggu gue pun mengoleksi film-film Robin Williams yang lain. Dari hasil menabung gue akhirnya memiliki puluhan judul VCD dan DVD Robin Williams. Beberapa ada yang sulit didapat karena harus memesan terlebih dahulu, tapi yang paling sulit dicari tetap Mrs. Doubtfire.

Selama pencarian VCD itu kekaguman gue terhadap Robin Williams semakin bertumbuh. Jika awalnya gue hanya menikmati peran-perannya yang kocak seperti di film Hook, Jack, Patch Adams atau Flubber, lama kelamaan gue juga menikmati peran-perannya yang serius. Perannya di film The Fisher King sebagai orang dengan gangguan jiwa membuat gue patah hati dan merasa meyesal untuknya. Atau perannya di One Hour Photo sebagai maniak yang kesepian membuat gue gemas sekaligus bersedih. Death Poet of Society, House of D, Man of the Year, Death the Smoochy, Night Listener dan banyak banyak banyak.... lagi. Gue nggak pernah kecewa dengan actingnya. Ia bisa jadi siapa saja.


Lalu, beberapa tahun kemudian ketika gue kelas 2 SMA ada kejutan menyenangkan. Seorang teman Ibu yang tahu bahwa gue menyukai film-film Robin Williams menelepon untuk bertanya apakah gue sudah mempunyai VCD Mrs. Doubtfire. Dengan suka cita gue menjawab "belum" dan memintanya untuk membelikannya dulu lalu berjanji uangnya akan gue ganti. Gue bahagia bukan main, akhirnya setelah menunggu sekian tahun Mrs. Doubtife masuk ke dalam koleksi film gue :) Judul-judul lain pun sering gue tonton ulang, tapi tetap Mrs. Doubtfire jadi yang paling sering. Waktu kecil gue sempat memiliki kalender yang ditandai setiap kali gue menonton film itu (I know, kinda silly, lol). Tapi entah kenapa dihitungan ke 50 gue berhenti dan gue nggak ingat sudah berapa ratus kali totalnya gue menonton film itu :)

Gue berduka, sangat. Waktu perjalanan bekerja pun air mata gue beberapa kali keluar. Gue mengungkapkan perasaan gue pada Ibu, Bapak dan Ray, tapi nggak sama yang lain. Jika gue menangis meraung-raung, merengek dan marah karena Robin Williams pergi, itu artinya gue egois. Gue nggak boleh merasa jadi orang yang paling berduka sedunia, sementara ada keluarga dan kerabatnya yang pasti merasa lebih kehilangan. Gue putuskan untuk mengekspresikan perasaan gue dengan lebih positif, sebisanya. Koleksi film-film Robin Williams akan gue gunakan untuk membuat "A Week for Robin Williams", 1 minggu yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Gue beruntung lahir di masa kejayaannya, ketika ia bermain di banyak film. Tapi untuk anak-anak yang lebih muda dari gue, mereka mungkin hanya menonton filmnya beberapa tahun kemudian setelah dirilis. Atau malah baru mengenal filmnya justru ketika Robin Williams sudah pergi.

Jadi gue bawa beberapa VCD dan DVD Robin Williams ke preschool tempat gue bekerja. Gue memilih film-film harmless yang cocok dengan usia murid-murid gue yang masih di bawah 3 tahun. Mereka nggak mengenal film-filmnya, tentu saja, tapi meraka antusias ketika memilih judul film untuk movie time. Akhirnya film "Happy Feet" lah yang menjadi pilihan. Sengaja gue meredupkan lampu kelas dan membesarkan volume suara TV. Lalu gue melihat pemandangan yang luar biasa, anak-anak duduk dengan manis dan terpukau dengan suara Robin Williams. Ali, salah satu murid gue bahkan menggoyang-goyangkan kepalanya ketika mendengar Robin Williams bernyanyi. Dalam sejarah gue mengajar, ini adalah movie time yang paling sukses! Biasanya anak-anak selalu berlarian kesana-kemari setelah beberapa menit film dimulai, tapi Robin Williams ternyata berhasil membuat mereka terhipnotis. Gue ikut senang, meski dalam hati ada sedikit haru karena anak-anak nggak tahu bahwa pemeran Ramon (dan juga Lovelace) sudah meninggal... :)

Preschoolers juga nonton film Robin Williams :)

Ada beberapa teman yang mencoba menyinggung tentang penyebab kepergian Robin Williams pada gue. Karena reaksi gue terhadap kepergiannya mereka mengira gue nggak tahu apa-apa. Padahal mereka salah... Gue sudah tahu bahkan di hari ia pergi, tapi gue memang menolak membicarakannya. Gue sengaja nggak menonton TV, membaca berita atau melihat di internet tentang itu. Gue nggak mau melihat/membaca media yang memberikannya label-label atau judgement yang menyakitkan. Di hari pertama saja timeline gue sudah penuh dengan update tentang Robin Williams dari berbagai media, bahkan dari fans yang menyudutkanya. For God sake, ia sudah meninggal. Membaca beritanya bahkan membuat gue lebih sedih daripada menghadapi kepergiannya. Gue mengerti ia seorang public figure, tapi kenapa harus melupakan fakta jika ia juga seorang suami, seorang ayah, bagian dari sebuah keluarga yang sangat mencintainya. Gue nggak mau Bapak (yes, my dad), dibicarakan seolah beliau hanya objek, bukan makhluk hidup. Dan gue percaya keluarga Robin Williams juga nggak menginginkan ia dibicarakan seperti itu. Kita mungkin sering mendengar cerita tentang hidupnya dari media, tapi nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. 

Di hari terakhir "A Week for Robin Williams" gue menonton film favorit gue sepanjang masa, Mrs. Doubtfire. Gue masih tertawa ketika mendengar lelucon-leluconnya, masih merasa 'malu' ketika mendengar lelucon dewasanya :) Tapi arti filmnya ini jadi lebih dalam dari sebelumnya. Monolog Robin Williams tentang keluarga membuat gue tersenyum haru; 
''Beberapa keluarga hanya mempunyai Ibu, sementara keluarga lainnya hanya mempunyai Ayah. Mereka mungkin tak bertemu untuk beberapa hari, minggu, tahun... bahkan selamanya. Tapi selama masih ada cinta, kita akan selalu terikat menjadi sebuah keluarga."
Kepergian Robin Williams bukan berarti ia sudah nggak memiliki cinta, ini hanya sudah waktunya. Dan tulisan ini hanya ungkapan perasaan gue. Sebuah hadiah kecil yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Untuk seorang idola, dari seorang penggemar...



nb: Bapak bercerita waktu kecil film pertama yang gue tonton di bioskop adalah Alladin. Dan beberapa bulan yang lalu ketika gue menulis list film kartun 2 dimensi terbaik di majalah GoGirl gue memasukan Alladin ke dalam list. 
Ya, Alladin, salah satu film Robin Williams... Sungguh kebetulan yang manis :)

a fans,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Steve Irwin; Obsesi Masa Kecil yang Menjadi Inspirasi :)

The Irwin's Family.

14 November 2014
Jadi tadi, menjelang malam, setelah mandi sore gue bersantai di atas tempat tidur ---dengan satu mangkuk popcorn dan remote TV di tangan. Gue memang nggak keluar rumah, hujan sepanjang hari jadi aktivitas gue hanya di depan komputer dan bermain lempar tangkap di dalam garasi bersama Eris, anjing gue. Ngemil di atas tempat tidur nggak apa, hanya sesekali ini gue pikir, hihihi. Lalu saat tangan berselancar di remote, dari channel ke channel, gue melihat sesuatu yang familiar. Ada seorang penyanyi laki-laki berambut pendek sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Bukan, bukan dia yang menarik perhatian gue. Tapi 3 orang berpakaian berwarna khaki yang sedang duduk di sofa. Setelah beberapa detik penuh keenggakyakinan, kamera mulai meng-zoom salah satu dari mereka. Segera gue bangun dari tempat tidur, berlari ke ruang TV dan merebut remote dari Bapak yang sedang menonton Harry Potter. "Pak! Pak! Lihat ada siapa di TV!" Gue tertawa girang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Terri, Bindi dan Robert "Bob" Irwin ada di acara Hitam Putih Trans 7. Bagaimana bisa gue nggak tahu kehadiran mereka di Indonesia sementara gue memfollow twitter mereka dan bahkan twitter Australia Zoo. Acara sepertinya sudah berlangsung setengah jalan, jadi gue terlewat untuk mengetahui tujuan mereka datang ke sini. Dengan tangan gemetar gue mengambil handphone dan mengetik kata kunci "Bindi Irwin di Indonesia" di kolom google. Nggak banyak berita yang keluar, kecuali bahwa mereka sempat ke Gandaria City Jakarta untuk promo "Wild But True" nya Robert Irwin. Nggak ada informasi apakah mereka sudah kembali ke Australia atau belum. Di layar televisi pun nggak ada keterangan apakah mereka tampil live atau taping. Gue heran mengapa di twitter mereka sama nggak menyebutkan tentang rencana kehadiran ke Indonesia, padahal biasanya mereka (terutama Bindi dan Terri) selalu update pada penggemarnya. 
"Sudah, Jakarta kan dekat. Kalau mereka masih di sana hari minggu kita bisa susul," begitu kata Bapak.



Bagi teman-teman sebaya gue Irwin's Family mungkin nggak begitu populer, tapi bagi gue mereka adalah hero! Terutama Steve Irwin, ayah dari Bindi dan Robert sekaligus suami dari Terri yang telah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu. Steve Irwin adalah bagian dari masa kecil gue, bagian dari khayalan dan obsesi yang kemudian membentuk tentang masa dewasa yang gue inginkan. Dulu, setiap sore gue selalu menonton The Crocodile Hunter, dimana Steve menunjukan kepiawaiannya dalam menangkap buaya sekaligus berbagi tentang rasa hormatnya kepada hewan buas yang cantik itu. Gue ingat ia menyebut dirinya "Steve-O" dan berbicara dengan lantang. Ketika ada buaya mendekat ia akan memelankan suaranya dengan logatnya yang sangat khas (saat mengetik ini pun rasanya gue mendengar ia berbicara di kepala gue, hihihi). Menontonnya di TV rasanya seperti mengikuti kehidupannya. Mungkin gue masih kecil tapi gue sudah bisa merasakan bahwa ia adalah pria yang baik. Gue ingat ketika ia berbicara tentang Terri istrinya. Betapa Steve sangat mencintainya sehingga Terri rela untuk meninggalkan negara asalnya. "Cinta pada pandangan pertama," begitu katanya. Juga ketika Bindi putri pertamanya lahir, lalu disusul oleh Robert putra keduanya. Ia sosok ayah yang penyanyang dan menyenangkan, membuat gue semakin mengaguminya. Gue juga ikut menangis ketika Sui anjing kesayangannya mati karena sakit dan sudah tua...

Buku harian gue, 12 tahun yang lalu.

Steve Irwin semakin menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang. Sejak bayi gue memang selalu dikelilingi binatang peliharaan, tetapi Steve membuat gue mempunyai tujuan. Gue mulai tertarik dengan konservasi fauna, mencari tahu kemana gue harus membantu jika ada binatang-binatang terlantar. Gue juga belajar untuk menghormati, sekecil apapun binatang yang ada di sekitar gue. Gue mulai dengan membuat "animal diary", yaitu sebuah buku harian yang memuat update tentang binatang peliharaan gue dan binatang-binatang yang terkenal. Kisah pertama yang gue tulis adalah tentang seekor Panda tua di Cina, yang sedihnya berakhir mati karena sakit :( Dengan uang jajan yang ditabung cukup lama gue juga membeli VCD-VCD Steve Irwin. Dan ketika Crocodile Hunter nggak ada lagi di TV gue semakin sering menonton ulang koleksi VCD nya.

Ketika mendengar kabar tentang kepergiannya gue sangat terkejut. Ada rasa haru yang aneh karena gue nggak pernah mengenalnya secara personal. Dunia kehilangan salah satu penghuni terbaiknya, seseorang yang (at least di mata gue) mempunyai aksi nyata untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Meski begitu kepergiannya nggak membuat gue berhenti terinspirasi. Bindi, putrinya yang mulai besar mempunyai acara sendiri dan berbagi passion yang sama dengan ayahnya. Gue ingat melihatnya di acara Oprah, ia bernyanyi lagu rap "Trouble in the Jungle" dengan lirik sederhana yang menyentuh. Ia meneruskan jejak ayahnya dengan caranya sendiri dan melakukannya karena ingin, bukan hanya karena sebuah keharusan. Bindi membuat semangat gue semakin besar. Gue bangga menjadikannya seorang inspirasi baru meski ia berusia lebih muda dari gue.

Koleksi VCD Steve Irwin "The Crocodile Hunter" hasil menabung dari uang jajan :)


Waktu kecil punya buku harian yang isinya tentang binatang.

Ide Bapak untuk menyusul keluarga Irwin ke Jakarta terpaksa batal. Mereka ternyata sudah kembali ke Australia dan entah kapan akan berkunjung kembali ke sini. Mengingat bahwa gue hanya terlambat beberapa hari dengan jarak yang cukup dekat membuat gue merasa kecolongan. Padahal ingin rasanya gue menyapa Terri, Bindi dan Robert sambil menyampaikan rasa kagum gue terhadap mereka. Gue juga ingin menunjukan koleksi VCD-VCD  dan "animal diary" gue agar Bindi dan Robert tahu betapa berpengaruhnya ayah mereka terhadap gue... Bapak menenangkan gue, beliau bilang ini mungkin bukan waktunya. Suatu hari akan ada kesempatan dengan skenario indah untuk bertemu mereka. Seperti ketika tahun lalu Aerosmith yang sudah gue tunggu sejak berusia 7 tahun batal datang ke Indonesia. Tuhan ternyata punya rencana lain untuk mempertemukan kami di Singapore dengan jalan yang bahkan nggak berani gue impikan. Mungkin suatu hari gue yang menemui mereka di Australia, siapa tahu... Yang pasti sambil menunggu hari itu datang gue akan terus menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang, dengan rasa hormat seperti yang diajarkan oleh keluarga Irwin.


note:
*Tanggal 15 November diperingati sebagai hari Steve Irwin (Steve Irwin Day) untuk menghormati hidup dan legacy nya. Meskipun gue selalu memakai dress colorful, gue ingin selama 1 hari saja memakai setelan khaki ala Irwin's Family :)
*Foto gue yang sedang memegang VCD-VCD Steve Irwin dilihat oleh account Australia Zoo (kebun binatang milik Irwin's Family) dan mereka berkomentar "Thanks for being a wildlife warrior!". Really made my day :)
* Gue membuat novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" yang royaltinya didonasikan untuk penampungan-penampungan hewan di Indonesia. Meskipun hanya langkah kecil, gue harap bisa melanjutkan spirit dari Steve Irwin :)
*Dan yes, nama gue "Indi". Seperti "Bindi" tapi tanpa huruf "B", hihihi.

***

Update:
Australia Zoo akhirnya membaca postingan ini! Sungguh sebuah kehormatan! :)



Crikey!

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469