Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Semarang, Bagian Pertama: Perjalanan Serba 13 yang Penuh Berkah :)


Pernah nggak teman-teman mengalami kejadian yang benar-benar di luar rencana dan hampir nggak tahu harus ngapain? Nah, gue baru saja mengalaminya. Tepatnya hari kamis kemarin, ketika gue sudah menyiapkan semuanya dan tiba-tiba saja berubah dari apa yang diharapkan. Sampai hari ini pun rasanya gue masih terkenang-kenang dengan kejadian itu ;)

Cerita dimulai ketika gue mendapat undangan dari AIESEC Universitas Diponegoro Semarang untuk menghadiri project sosial mereka yang disebut ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus). Gue exited sekali, karena acaranya bertujuan untuk meningkatkan kepedulian remaja terhadap HIV/AIDS. Apalagi hasil dari acara ini akan didonasikan kepada pasien kanker. Tapi lalu gue khawatir, Semarang jaraknya cukup jauh dari Bandung dan gue (ehm...) seorang aerophobia alias takut terbang. Meskipun Ibu dan Bapak sudah meyakinkan gue berkali-kali bahwa pakai pesawat itu aman, tapi gue tetap menolak. Well, sebenarnya sempat mengiyakan satu kali, sih, tapi lalu berubah pikiran 1 hari sebelum berangkat, hehehe. Akhirnya gue putuskan untuk menggunkana kereta api meski akan memakan waktu 8 jam. Gue pikir, 8 jam itu nggak terlalu buruk, bisa digunakan untuk tidur karena kereta akan pergi di malam hari. Dan ketika bangun pasti kereta sudah sampai stasiun karena dijadwalkan tiba jam 5.50 pagi :)

Siap tempur dengan travel bag, boneka dan koper mini berisi camilan :p

Jadi hari kamis malam gue pergi ke stasiun dengan ditemani Bapak. Sebelumnya gue sudah packing untuk persiapan menginap 1 malam dan memakai pakaian hangat karena perjalanan malam-subuh pasti akan sangat dingin. Sekitar jam 9.30 malam kami sudah berada di dalam kereta dan beberapa menit kemudian kereta mulai berangkat, sesuai dengan jadwal :)

Di gerbong yang gue tumpangi bangkunya hampir terisi semua. Rata-rata penumpangnya sudah seusia Bapak dan sibuk dengan gadget masing-masing. Ada yang mendengarkan lagu, mengetik, bahkan membuka sosial media, hehehe. Sepertinya hanya gue saja yang memperhatikan bahwa di TV sedang diputar film Night at the Museum 2. Gue sangat terhibur, karena dulu waktu film itu ada di bioskop gue terlambat masuk teater dan melewatkan bagian awalnya. Ketika sudah sampai pertengahan film, gue mulai mengantuk. Apalagi di gerbong ini memang cuma gue satu-satunya yang masih terjaga. Tapi ternyata untuk tertidur di dalam kereta nggak semudah yang gue kira, banyak penumpang yang mendengkur, termasuk Bapak! Hehehe... Akhirnya gue memakai headset dan mendengarkan musik sampai tertidur. Bersyukur sekali karena sebelum pergi gue memutuskan untuk memasukan beberapa lagu John Frusciante ke handphone. Entah kenapa gue selalu berpikir bahwa suaranya cocok untuk didengarkan di kereta api :p

Di perjalanan: Pilih duduk dekat jendela :D

Kebanyakan penumpang tertidur atau sibuk dengan gadget.

Gue terbangun waktu subuh, beberapa penumpang juga sudah bangun sementara yang lainnya masih tidur termasuk Bapak. Karena perkiraan kereta akan tiba di Semarang sebentar lagi, jadi gue pergi ke toilet dan merapikan diri (tapi susah, lol). Baru saja gue kembali duduk di bangku, ada pengumuman dari masinis, katanya kereta akan terlambat 10 menit karena ada perbaikan rel. Gue langsung membangunkan Bapak dan SMS Ray untuk memberi kabar pada yang menjemput di stasiun nanti bahwa kami akan terlambat. Karena hanya sebentar jadi gue nggak kembali tidur dan duduk dengan tegak menunggu kereta kembali berjalan.

Tapi ternyata ini bukan untuk terakhir kali. Kereta baru berjalan sebentar sudah berhenti lagi. Begitu terus sampai beberapa kali dan lagi-lagi masinis berkata bahwa HANYA 10 menit. Gue benar-benar nggak enak karena yang menjemput sudah stand by dari jam 5.30 ternyata :( Karena terlalu lama sebagain besar penumpang kembali tidur, sedangkan gue sama sekali nggak mengantuk. Tiba-tiba saja gue melihat ada 2 orang petugas berjalan ke ujung gerbong. Salah satu dari mereka bertanya berapa lama lagi kereta akan tiba di Semarang. Petugas yang satunya nggak menjawab, ia hanya mengacungkan 4 jari dan menggerakan mulutnya tanpa suara, "4 jam."

Oh, my God, Oh, my God! Gue kaget bukan main, membayangkan harus duduk 4 jam ke depan setelah 8 jam perjalanan rasanya bikin gue sedih. Cepat-cepat gue kembali SMS Ray dan minta untuk menyampaikan bahwa kereta akan sangat terlambat. Setelah itu gue memberitahu Bapak tentang kabar yang gue "dapat" dari petugas. Beliau nggak percaya dan berkata bahwa kereta pasti akan tiba sebentar lagi. Tapi lalu ada pengumuman kembali dari masinis... Kereta akan berhenti dulu selama 40 menit. Langsung saja penumpang yang sudah kelelahan protes dan menyayangkan karena nggak ada antisipasi sejak awal. Gue yang juga sudah mulai bosan langsung berdiri dan berkata, "Bukan 40 menit, tadi aku dengar 4 jam, lho."
Dan langsung disambut dengan protes yang lebih keras. Gue pikir lebih baik penumpang tahu yang sebenarnya daripada ditutup-tutupi. Seenggaknya bisa menyiapkan mental untuk 4 jam ke depan, hehehe.

Gerbong langsung ramai dengan kesibukan penumpang yang memberi kabar pada penjemput di stasiun lewat handphone. Gue yang sudah pegal (rasanya susah dijelaskan, lol) memutuskan untuk berjalan-jalan dan melihat suasana di luar lewat pintu penghubung gerbong. Ternyata di sebrang kereta ada sawah! Langsung saja gue mengajak Bapak untuk berfoto. Nggak peduli dengan wajah berminyak dan baju acak-acakan, yang penting gue bisa melakukan sesuatu yang fun dan melupakan sejenak delay yang sangat lebay ini, hehehe. 

Ternyata pemandangannya indah :)




Gue berfoto, berpose seolah baru saja mandi dan berdandan cantik. Mood gue langsung berubah 180 derajat, sungguh banyak tawa dan gue kembali cerewet. Beberapa penumpang bahkan mulai mengikuti jejak gue yang turun dari kereta. Ada yang duduk-duduk, merokok ada juga yang menonton aksi gue, hehehe. Gue bahkan sempat mengobrol dengan beberapa dari mereka. Ya, sekedar obrolan ringan karena nggak semua penumpang punya teman mengobrol di perjalanan seperti gue dan Bapak :) Ada yang pertama kali naik kereta, ada pula yang jauh-jauh dari Palembang karena ingin tahu Semarang itu seperti apa. Mereka rata-rata menyesal nggak memilih pesawat. Kalau gue sih nggak, kalau naik pesawat mungkin sepanjang jalan akan dihabiskan dengan nervous. Karena sejauh ini perjalanan udara yang gue lakukan dengan hati ikhlas dan damai hanya waktu ke Singapore untuk bertemu dengan Aerosmith, hehehe :p No, seriously, gue nggak menyesal, karena di pesawat belum tentu bisa mendapat percakapan random seperti ini :)





Kereta kembali berjalan, tapi hanya untuk beberapa menit. Lagi-lagi masinis berkata bahwa kereta hanya berhenti sebentar, tapi kenyataanya ternyata untuk 2 jam! Gue sudah sangat kelelahan tapi tetap mencoba menikmati perjalanan. Gue kembali mendengarkan lagu dan mengisi perut dengan camilan. Tadinya sih gue berharap akan sarapan di hotel, tapi sepertinya kereta baru akan tiba ketika waktu makan siang :') Setelah bosan mendengarkan lagu gue melepas headset dan samar-samar mendengar musik yang berasal dari film Mr. Bean Holiday. Yup, gue memang hapal dengan hampir seluruh dialog, musik dan efek suara di film itu, bahkan tanpa melihat adegannya karena itu salah satu film kesukaan gue, hehehe. TV yang dipasang di kereta mati, jadi awalnya gue pikir ada penumpang yang menonton film di gadget nya. Tapi karena penasaran waktu Bapak mau ke toilet gue minta supaya beliau intip gerbong sebelah dan lihat TV nya. Ternyata benar saja, di sana sedang diputar film Mr. Bean Holiday! Langsung saja gue mencegat petugas yang kebetulan lewat di gerbong dan protes karena TV nya mati, hehehe. Beberapa menit kemudian TV menyala dan gue menikmati film nya meski tinggal setengah jalan, hehehe.

Keterlambatan yang katanya hanya "sebentar" itu ternyata jadi 5 jam. Iya, bahkan bukan 4 jam. Meski wajah gue sudah sekusut baju gue, tapi senang sekali bisa tiba di Semarang dengan selamat. Apalagi dengan apa yang sudah gue alami di atas kereta, gue nggak mau menukarnya dengan apapun. 13 jam yang penuh kebahagiaan. Gue percaya semua hal yang terjadi pasti ada maksudnya, Tuhan selalu menyelipkan kebahagiaan bagaimana pun kondisi kita. Gue percaya buruk itu "hanya" yang kita pikir :)
Di atas kereta selama 13 jam di tanggal 13, tahun 2013 di gerbong yang memuat sampai seat 13 dan ternyata tiba di stasiun jam 1 siang lewat beberapa menit (iya, alias jam 13 lewat, hehehe). What a cute number :)

Ketika sampai di hotel gue langsung mandi, berganti piyama dan makan siang di atas tempat tidur. What a day, gue nggak sanggup berjalan-jalan untuk melihat kota Semarang. Begitu juga dengan makan malam, gue memesannya dari hotel dan makan di atas tempat tidur. Gue hanya turun jika mau ke toilet, hehehe. Semua yang terjadi memang selalu ada alasannya. Karena kelelahan gue jadi tidur sangat nyenyak, padahal biasanya gue nggak nyaman jika di tempat asing. Dan ini bisa membuat gue bisa bangun pagi-pagi untuk menghadiri charity event "The Long Journey"! O, my God, I'm blessed! :)

Makan siang dengan Pop Mie karena ini makanan khas jika melalukan perjalanan, hehehe.

Makan malam di tempat tidur :)

toot toot train girl,

Indi

______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 14 Oktober 2013

Ulang Tahun Bapak yang Istimewa :)

Setiap ulang tahun itu istimewa, berkesan. Dengan atau tanpa kado, karena hadiah terbesar adalah ketika Tuhan memberikan usia pada umatnya untuk menikmati hari esok yang penuh berkah. 8 Oktober lalu Bapak berulang tahun. Sama seperti ulang tahun-ulang tahun sebelumnya beliau mendapatkan ucapan selamat dari Ibu, gue, adik dan juga kerabat. Sama seperti ulang tahun-ulang tahun sebelumnya juga, beliau bersuka cita dan bersyukur karena orang-orang yang berada di sekitarnya mengingat hari istimewanya. 

Bapak nggak pernah mengharapkan kado, biasanya hari ulang tahunnya dijalani seperti hari-hari biasa. Bedanya di malam hari kami sekeluarga selalu menyempatkan berkumpul untuk potong kue dan tiup lilin. Tapi tahun ini gue sedang banyak pengeluaran, jadi hanya bisa mengganti kue tart dengan kado sederhana yang dibeli dari supermarket beserta sebuah kartu ucapan. Gue memberikannya sebelum jam 12 malam, sebelum kami sekeluarga pergi tidur. Bapak senang sekali dan nggak bertanya tentang tradisi potong kue. Dalam hati gue berdoa semoga Bapak suka dengan kadonya :)


Kado sederhana untuk Bapak.
Kartu ucapan selamat ulang tahun :)

Di siang harinya, saat gue sedang bekerja ada sebuah pesan singkat dari Vino Bastian yang mengundang gue dan keluarga untuk menonton film terbarunya, Air Mata Terakhir Bunda. Karena mendadak Ibu nggak bisa ikut hadir dan gue hanya ditemani oleh Bapak. Sungguh kebetulan yang menyenangkan, kami bisa menghabiskan waktu berdua saja di hari ulang tahunnya. Apalagi filmnya tentang keluarga yang membuat kami mempunyai quality time yang menyenangkan. Di dalam bioskop Bapak sempat berbisik bahwa ini adalah perayaan ulang tahun yang menyenangkan. Meskipun tanpa rencana dan ini bukan acara untuk ulang tahunnya, beliau tetap berkata bahwa ini seperti "perayaan" khusus untuk dirinya :)

Setelah film selesai gue dan Bapak akan segera pamit pulang karena sudah pasti Vino dan cast lainnya akan sibuk dengan penggemar mereka. Tapi ternyata Vino memanggil gue dan mengajak untuk foto bersama. Gue langsung menyerahkan handphone pada Bapak untuk mengambil foto kami, tapi Vino meminta Bapak untuk bergabung. Nggak disangka Vino, Happy Salma dan Rizky Hanggono lalu bergantian menyalami Bapak dan mengucapkan selamat ulang tahun. Gue bisa melihat wajah Bapak berbinar-binar. Ucapan selamat memang sederhana, tapi ampuh untuk membuat hari seseorang menjadi luar biasa.
Di perjalanan pulang Bapak nggak bisa berhenti bercerita tentang betapa berkesannya hari ulang tahunnya. Beliau nggak menyangka bahwa apa yang terjadi di hari ini seolah memang dibuat khusus untuknya.


Cast "Air Mata Terakhir Bunda" mengucapkan selamat ulang tahun :)
Foto bersama :)

Gue senang dan lega, meski tanpa kue tart tapi ulang tahun Bapak tetap meriah. Jika gue berulang tahun dan diucapkan selamat oleh selain anggota keluarga rasanya sangat wajar, tapi bagi Bapak tentu saja berbeda. Di usianya sekarang frekuensi berkomunikasi dengan teman-temannya tentu saja berkurang, ditambah lagi beliau juga nggak aktif menggunakan media sosial, jadi gue mengerti mengapa Bapak senang sekali ketika mendapat ucapan dari orang-orang selain anggota keluarganya.

Ketika sampai di rumah, kami mengira kejutan sudah habis dan nggak sabar untuk bercerita tentang apa yang Bapak alami di bioskop. Tapi ternyata datang sesuatu yang paling nggak kami duga: tradisi potong kue dan tiup lilin! Puja, adik gue membelikan sebuah kue tart kecil untuk Bapak sepulang bekerja. Bapak terkejut bukan main dan nggak henti-hentinya bersyukur atas apa yang beliau dapat di hari ulang tahunnya. Gue ikut gembira dan bersyukur. Sama seperti Bapak gue juga nggak menyangka ulang tahun Bapak akan seperti ini. Setiap ulang tahun selalu istimewa, tapi ini namanya beyond istimewa ;) Hehehe...


Akhirnya.... sebuah perayaan bersama keluarga :)

Tuhan memang selalu menyiapkan skenario indah untuk umat-Nya, dan gue bersyukur bisa ikut berada di dalamnya di saat ulang tahun Bapak.

"Selamat ulang tahun, Bapak. Semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Tuhan. Semoga kita semua bisa menikmati tahun-tahun berikutnya dengan penuh berkah sebagai sebagai sebuah keluarga yang penuh syukur: Ibu, Bapak, aku dan adik. Selalu. Amen..."


Indi

__________________________________________

Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 28 September 2013

Quality Time with Ibu dan Bapak :)

What I wore? Headband: my DIY | Dress: Toko Kecil Indi | Ring: TSM/BIP? | Sling bag: Columbus | Shoes: GOSH

Hai, hai, haiiii, bloggies apa kabar? Setelah meet and greet "Indi goes to Depok" tanggal 15 September lalu ternyata tenaga gue cukup terkuras. Gue kena flu dan sampai sekarang masih belum sembuh, metabolisme tubuh juga sedikit kacau. Syukurlah setelah periksa ke dokter ternyata gue hanya perlu istirahat dan menghindari stress. Semoga teman-teman semua sehat-sehat, ya. Please perhatikan alarm tubuh, jangan cuek lalu tahu-tahu sakit, hehehe. 
Satu minggu setelah meet and greet berlalu gue menerima kejutan dari Ibu dan Bapak. Sebenarnya sih, gue tahu bahwa mereka nggak bermaksud menjadikan ini kejutan. Tapi tiba-tiba saja hari biasa berubah menjadi waktu berkualitas yang menyenangkan bagi kami bertiga! :)

Satu hari sebelum hari penuh kejutan itu Ibu mengajak gue untuk pergi ke mall. Beliau minta ditemani untuk melihat-lihat model pakaian terbaru, untuk inspirasinya mendesain pakaian. Gue yang saat itu belum mandi dan sedang asyik snuggling di sofa langsung menolak dan menyarankan untuk pergi keesokan harinya saja. Tapi Ibu berkata bahwa besok sudah waktunya berbelanja bahan-bahan untuk butiknya, sudah nggak ada waktu untuk ke mall. Sebenarnya gue merasa nggak enak karena nggak bisa menemani Ibu. Tapi perasaan malas berpadu dengan piyama yang nyaman memang susah dikalahkan, hehehe.

Ready to go :)
Bapak dan Ibu :)

Keesokan harinya, tiba-tiba saja Ibu kembali mengajak gue ke mall. Gue sedikit bingung karena seharusnya ini waktunya Ibu dan Bapak belanja ke bahan-bahan keperluan butik. Tapi melihat Ibu dan Bapak sudah siap dengan pakaian rapi, gue langsung mandi dan sengaja memilih baju yang senada dengan warna baju Ibu. 
Di perjalanan Ibu bercerita bahwa kami akan ke Istana Plaza, rencana belanja bahan-bahan diubah menjadi hari berikutnya. Katanya, sudah lama kami nggak berjalan-jalan bertiga saja seperti waktu gue kecil dulu. Apalagi kebetulan Puja, adik gue sedang asyik pergi bersama teman-temannya, hehehe.

Setibanya di mall gue sama sekali nggak punya rencana, gue hanya membawa sedikit uang dan memutuskan untuk menemani Ibu dan Bapak berkeliling saja. Meski gue dekat sekali dengan mereka, tapi gue selalu segan untuk meminta sesuatu. Pasalnya gue bukan lagi anak-anak dan sudah terbiasa memenuhi segala kebutuhan sendiri sejak lulus kuliah. Meski belum bisa memberi hal-hal besar, tapi gue selalu usahakan untuk menutup biaya internet dan koran di rumah :) Menemani Ibu berbelanja saja sudah menjadi hal yang menyenangkan, kok. Mungkin karena sama-sama perempuan gue jadi bisa memberi masukan sepatu, tas atau baju mana yang cocok untuk beliau. Gue mengikuti Ibu setiap kali beliau memasuki sebuah konter fashion. Sedangkan Bapak, tentu saja menunggu dengan sabar sambil sesekali memberikan komentar, hehehe.

Gue sangat menikmati sekali waktu kami bertiga. Berjalan-jalan dengan sahabat dan pasangan memang menyenangkan, tapi berjalan-jalan dengan orang tua itu MEGA MENYENANGKAN, hehehe. Gue menemani Ibu di fitting room, memilih-milih baju mana yang paling cocok. Bahkan kadang Bapak juga ikut masuk daripada bosan menunggu di luar, hehehe. Setelah dapat sepatu dan tas yang cocok ternyata Ibu masih belum selesai berbelanja, beliau mengajak kami masuk ke sebuah konter lagi. Tapi kali ini berbeda, kami bukan masuk ke konter fashion dewasa.

Kami masuk ke sebuah konter fashion remaja. Ibu dan Bapak langsung memilih-milih baju di sana. Ternyata... itu untuk gue! Gue senang bukan main dan langsung menyetujui semua item yang mereka pilih, hehehe. Oya, meski gue bukan lagi remaja, tapi untuk membeli pakaian dan aksesoris pasti ke konter remaja karena ukuran dan pilihan warnanya lebih sesuai dengan tubuh gue. Ibu dan Bapak memilihkan gue dua buah atasan dan sebuah rok berwarna merah. Gue sampai nggak bisa berhenti tersenyum saking senangnya :)

Setelah itu ternyata masih ada kejutan lain. Gue melihat sebuah dress merah dipajang di display konter fashion lainnya. Dress nya bagus sekali, gue menginginkannya tapi uang yang gue bawa nggak mencukupi. Naluri seorang ibu memang kuat sekali termasuk dalam hal shopping, hehehe. Beliau mengajak gue masuk dan meminta gue mencoba dress itu. Ternyata pas sekali di tubuh gue. Makin besarlah keinginan gue memiliki dress itu. Apalagi Ibu meminta gue menunjukkannya kepada Bapak. Beliau langsung berkomentar bahwa dress itu cocok sekali gue pakai. Dan di sini lah kejutannya, mereka memutuskan untuk membelikan dress itu untuk gue! Wah, gue terharu sekali, siapa sangka gue dibelikan sebanyak ini padahal sudah bukan anak-anak lagi. Ada perasaan nggak enak sebenarnya, karena seharusnya sekarang giliran gue yang memberikan banyak hal pada mereka, bukan sebaliknya.

Lol, fitting room :p
Sambil menunggu Ibu :D

Ibu dan Bapak sepertinya mengerti perasaan gue, karena setelah belanja mereka mengajak gue dinner di Hoka-Hoka Bento dan menjelaskan semuanya. Mereka berkata bahwa gue jarang sekali meminta sesuatu, bahkan saat masih kecil, jadi mereka ingin memberikan gue sesuatu sesekali. Bapak bilang meskipun gue sudah besar tetap saja gue putri kecil mereka dan orang tua akan senang sekali jika bisa memberikan sesuatu untuk gue. Gue tersenyum mengerti dan perasaan senang gue terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Di tengah-tengah dinner gue kehabisan udang. Sebenarnya gue dapat paket dinner lengkap, tapi karena gue pesco-vegetarian jadi nggak bisa makan seluruhnya. Gue memutuskan untuk membeli udang tambahan dan sudah siap berdiri. Tapi Ibu meminta gue duduk kembali dan membiarkan Bapak yang membelikannya untuk gue. Hal kecil, tapi gue benar-benar terharu. Waktu kecil hal seperti ini mungkin dianggap biasa, tapi setelah gue besar hal-hal seperti ini terasa begitu menyentuh. Mungkin teman-teman bloggie yang masih kecil belum merasakan apa yang gue rasakan. Tapi percaya, deh suatu hari ini akan terjadi jadi jangan pernah lupakan hal-hal kecil yang pernah orang tua berikan :)

With my beautiful mom :)
Our simple dinner :)
"Kesibukan" Ibu ketika sampai rumah, hihihi :)
Sweet treats from Ibu dan Bapak :)

Karena acara jalan-jalan dadakan ini gue mengerti, bahwa sampai kapanpun posisi gue tetap sebagai anak. Nggak peduli seberapa besar, seberapa dewasa pun gue tumbuh, gue tetap menjadi seorang anak. Begitu juga mereka, Ibu dan Bapak tetap akan menjadi orang tua dan mereka akan bahagia jika bisa membahagiakan gue kapanpun itu, saat gue masih kecil, sekarang ataupun nanti. Meski awalnya canggung tapi gue sangat senang dengan bagaimana Ibu dan Bapak perlakukan gue. Sepertinya dengan memberikan sesuatu pada putrinya membuat Ibu dan Bapak tetap merasa jadi orang tua sesungguhnya. Merasa nggak 'ditinggalkan' , selalu dibutuhkan oleh putri kecilnya. Gue tahu suatu hari akan tinggal terpisah dengan mereka, mungkin nggak setiap hari bisa pulang ke rumah. Tapi gue tahu satu bahwa membuat mereka bahagia bukan hanya dengan memberikan mereka hal, tapi selalu membuat mereka merasa dibutuhkan. I love you, Ibu. I love you, Bapak. Always :)


blessed daughter,

Indi

________________________________________________
Twitter: here | Facebook: here | contact person: 081322339469

Minggu, 16 Juni 2013

Tema Ulang Tahun yang Sama Terulang Lagi. Tapi Kali Ini... LEBIH BAIK! :)


Classic birthday girl pose :p

Setiap mau ulang tahun gue pasti sakit. Iya, pasti, artinya tanpa kecuali, bahkan di saat gue lupa kalau sebentar lagi akan ulang tahun. Sakitnya sih macam-macam, dari yang sepele seperti sakit tenggorokan sampai yang sangat mengganggu seperti alergi atau demam. Awalnya sih gue nggak sadar, tapi setelah dewasa gue mulai bertanya pada Bapak dan Ibu. Ternyata mereka juga nggak tahu alasannya, yang pasti menurut mereka gue selalu begitu sejak kecil, hehehe. Ada yang bilang ini sugesti, karena sering sakit gue jadi sudah "siap" sakit ketika ulang tahun hampir tiba. Tapi seperti yang gue bilang tadi, gue bahkan kadang lupa kalau sebentar lagi mau ulang tahun. Jadi mana mungkin bisa tersugesti? Ah, pokoknya begitu, sampai hari ini masih jadi misteri, hehehe. 

Ulang tahun gue jatuh di tanggal 8 Juni. Tahun ini sejak jauh-jauh hari gue sudah memikirkan ide untuk ulang tahun gue. Tuhan begitu baik memberikan gue banyak berkah tahun ini, dari mulai film MIKA yang tayang dan diterima oleh masyarakat Indonesia, lalu dilanjutkan dengan diputar di IFF Melbourne sampai dengan impian masa kecil gue yang akhirnya terwujud: bertemu dengan Aerosmith secara personal. Gue pikir, akan menyenangkan jika ulang tahun gue sekalian sebagai bentuk dari rasa syukur atas berkah-berkah yang luar biasa ini. Gue sudah menyiapkan daftar teman-teman yang akan gue undang, tema acara dan lain sebagainya. Tapi setelah waktunya benar-benar dekat perhatian gue ternyata terpecah pada banyak hal. Telinga gue mengalami infeksi dan harus berobat ke Rumah sakit. Sementara pekerjaan gue di preschool sedang sibuk-sibuknya karena sebentar lagi akan school leavers. Ketika akhirnya punya waktu untuk bernapas sejenak, gue malah baru ingat kalau ulang tahun akan segera tiba! Dan itu hanya 2 hari sebelum tanggal 8 Juni. Tema yang sudah disiapkan terpaksa dibatalkan karena waktu sudah habis, dan rencana mengundang teman-teman pun berantakan karena provider handphone gue (entah kenapa) error sehingga gue hanya bisa mengabari lewat Facebook saja. Padahal nggak semua teman gue aktif berinternet.

Sempat sedih, gue berniat membatalkan semuanya. Tapi Bapak bilang waktunya belum terlambat dan gue masih bisa bersenang-senang meski tanpa tema yang sudah gue rencanakan sebelumnya. Semangat gue bangkit kembali, beberapa teman ternyata bisa datang meski diundang secara mendadak dan gue memesan kue ulang tahun kecil, yang syukurlah bisa selesai dengan cepat (thank you, Dreams Cake) :) Mungkin yang sering membaca blog ini tahu bahwa di keluarga gue ada tradisi untuk 'merayakan' ulang tahun setiap anggota keluarga. Menurut kami ulang tahun adalah moment yang istimewa, yaitu mengulang atau mengenang kembali moment dimana gue atau siapa pun yang berulang tahun dilahirkan. Ketika gue lahir seluruh keluarga bersuka cita, maka setiap tahun kami mengulangnya, mengingat betapa bersyukur dan bahagianya ketika pertama kali gue hadir. Dan ulang tahun juga terkadang kami jadikan moment untuk berkumpul. Setelah dewasa menjadi semakin sulit untuk mendapatkan waktu bersama, dan ulang tahun adalah waktu yang tepat :)

Di malam ulang tahun, Eris, anjing keluarga kami tiba-tiba terlihat lemas. Biasanya ia selalu semangat jika gue mengajaknya bermain lempar tangkap dengan Tuan Jeruk dan Nyonya Kelinci, mainan karetnya. Gue memeriksa suhu tubuhnya dan nggak menemukan ada yang salah. Nafsu makannya juga baik meski ia terlihat nggak terlalu bersemangat. Gue berpikir positif dan mengira Eris hanya malas. Gue dan Bapak pun meninggalkannya untuk pergi ke supermarket yang jaraknya sangat dekat dengan rumah. Tapi gue ternyata nggak bisa berkonsentrasi memilih bahan makanan dan camilan untuk ulang tahun keesokan harinya, tiba-tiba gue teringat Eris dan memutuskan untuk pulang. Untuk dekor dan lainnya biarlah gue beli nanti pagi, begitu gue pikir, dan malam ini lebih baik membawa Eris ke dokter hewan untuk memastikan ia baik-baik saja. Ternyata dokter hewan sangat ramai, Eris mendapat nomor urut 7 dan kami harus menunggu cukup lama. Syukurlah Eris nggak rewel dan ketika gilirannya diperiksa tiba dokter memberikan kabar baik, anjing golden retriever kami ternyata hanya terkena radang tenggorokan dan kami pun pulang dengan perasaan senang.

Pagi-pagi sekali di hari ulang tahun, Ibu dan Bapak memberikan ciuman selamat segera setelah gue bangun tidur. Gue bahagia dan semangat bukan main. Gue langsung mengajak Bapak untuk membeli dekor sebelum teman-teman gue datang. Tapi lalu gue menyadari sesuatu, Eris masih terlihat lemas dan ia menolak sarapan. Karena takut terjadi sesuatu yang nggak diinginkan gue dan Bapak kembali membawanya ke dokter. Gue nggak sempat mandi langsung menuntun Eris ke dalam mobil. Setelah sampai ternyata dokter hewan lebih ramai dari semalam, Eris mendapat nomor urut 15. Kami menunggu sambil menghibur Eris yang sudah kelihatan bosan. Waktu gue melirik handphone ternyata waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, dan salah seorang teman ternyata sudah bersiap untuk ke rumah gue. Jangankan dekor, gue bahkan sudah nggak memikirkan lagi tentang mandi dan hanya menghkawatirkan Eris. Kalau teman gue ternyata sampai lebih dulu ke rumah dibanding gue, gue meminta maaf soal itu, tapi benar-benar nggak bisa melakukan apa-apa. Ketika gilirannya tiba dokter memeriksa Eris dengan lebih seksama dari kemarin. Hasilnya tetap, ia terkena radang tenggorokan dan karena itulah ia menolak sarapan. Eris diberi vitamin dan penambah nafsu makan. Gue menjadi lebih tenang karena dokter meminta gue untuk nggak terlalu khawatir.

Gue tiba di rumah dalam keadaan kumal, pakaian gue penuh bulu dan liur Eris. Bagaimana nggak, kami duduk berdua di bangku belakang mobil sedan dan gue hampir selalu memeluknya erat. Suasana rumah tampak seperti hari-hari biasa, nggak ada dekor, bahkan Ibu belum selesai masak karena tiba-tiba ada keperluan. Untuk membatalkan undangan sudah terlambat, tapi kalau teman-teman gue datang apa yang akan gue lakukan? Semuanya benar-benar di luar rencana. Gue memutuskan untuk mencuci muka, berganti baju dan menyisir rambut. Jika teman-teman datang seenggaknya gue tampak rapi, hehehe. Selama gue bersiap-siap ternyata Bapak dibantu Bi Yati, sekretarisnya Ibu telah menyelesaikan memasak spageti dan salad, thank God. Sambil menunggu teman-teman datang gue dan Bapak mengobrol, kami kelelahan tapi juga exited dengan ulang tahun ini. Sambil sedikit bergurau gue berkata bahwa sebenarnya sangat menginginkan ulang tahun yang bertema. Tahun lalu ulang tahun gue bertema Spongebob dan sayang sekali Bapak nggak bisa hadir karena bekerja. Dan tahun ini ketika keluarga kami lengkap berkumpul ternyata semuanya di luar rencana. Bapak bertanya tema apa yang gue inginkan. Gue tersenyum lemah dan berkata, "Aerosmith..."

Diluar dugaan, Bapak berusaha mewujudkan keinginan gue! Dua orang teman gue sudah di perjalanan dan bisa datang kapan saja. Tapi Bapak berkata bahwa kami masih punya waktu. Dengan sigap beliau menurunkan 2 buah poster besar Aerosmith di kamar gue dan menyuruh gue mencetak foto pertemuan gue dan Steven Tyler di Singapore bulan Mei lalu. Gue mulai mengerti apa rencana Bapak tapi masih nggak menyangka dengan apa yang beliau sedang lakukan. Sambil menunggu mencetak foto, Bapak mengambil koleksi Aerosmith apa saja yang bisa diraihnya. Topi, scarf, foto Aerosmith handmade kado dari si kembar Della dan Dilla tahun lalu... Dengan gerakan sangat cepat semuanya Bapak pindahkan ke ruang tamu lalu ditata. Hasilnya sangat luar biasa, ruang tamu terlihat seolah sudah didekor seharian. Semuanya terlihat rapi dan terencana. Gue benar-benar terharu. Sambil terpekik gue mengucapkan terima kasih kepada Bapak, dan hanya beberapa menit saja setelah dekor selesai, Dhian, sahabat gue sejak SMA tiba di depan rumah.

Scarf dan topi jadi sentuhan yang manis :)
Ah, thanks Daddy :*
Dhian yang pertama datang :)
Waktu gue berulang tahun ke 15, Ibu dan Bapak pernah memberi gue kejutan ulang tahun dengan tema Aerosmith. Waktu itu mereka mengundang 2 orang teman gue dan ketika bangun tidur tiba-tiba sudah ada kue ulang tahun bertuliskan Aerosmith dan sebuah T shirt dengan tulisan yang sama. Ulang tahun itu begitu berkesan untuk gue, Aerosmith telah menginspirasi gue untuk berkarya dan berani menghadapi masa remaja yang sulit. Dan di usia gue yang sekarang ini semuanya terulang, Bapak kembali memberikan kejutan ulang tahun dengan tema Aerosmith. Begitu mendadak, tapi sama berkesannya seperti dulu. Apalagi sekarang rasanya semakin nyata karena gue sudah pernah bertemu dengan Aerosmith secara personal hanya 2 minggu sebelum ulang tahun gue. Sungguh kado awal yang sangat luar biasa. Dulu gue hanya bisa melihat nama band mereka tertulis di atas kue ulang tahun gue, dan sekarang ada foto mereka di sana, bersama gue! Dulu gue hanya bisa bermimpi dan sekarang gue benar-benar merayakan ulang tahun gue bersama mereka berkat kebaikan Sound Rythm dan ide cemerlang Bapak. 

Nggak lama kemudian teman-teman gue yang lain datang dalam waktu yang hampir bersamaan. Cut Hanna datang bersama suami dan anaknya, lalu disusul oleh Dilla dan Rini yang memang pergi bersamaan. Gue bahagia ketika teman-teman gue memuji dekorasi ruang tamu karya Bapak. Gue nyengir setiap kali mendengar komentar "niat banget" mengingat ini semua dilakukan tanpa rencana. Dilla tersenyum senang ketika mengetahui kado darinya menjadi bagian dari dekor ulang tahun gue, bersebelahan dengan kue yang bergambar foto mereka dan gue. Kami mengobrol dan tertawa penuh suka cita. Ini adalah pertemuan pertama gue dengan mereka setelah bertemu Aerosmith, dan gue diminta bercerita (secara berulang-ulang) tentang pertemuan yang ajaib itu. Dengan senang hati gue mengulang sebanyak yang mereka minta. Teman-teman memang sudah sangat mengenal gue, mereka tahu betapa gue sangat terinspirasi dengan Aerosmith dan ikut senang dengan apa yang gue alami :) Di waktu yang tepat keperluan Ibu selesai dan beliau datang ke tengah-tengah kami, suasana semakin hangat, yang belum datang tinggal Ray yang masih dalam perjalanan dari kantornya.

Cut Hanna dan Keluarga 
Rini dan Dilla kompak pakai baju merah, hehehe.
Chit chatting :)

Kami menikmati spageti dan salad buatan Ibu (yang dibantu Bapak dan Bi Yati) dan minum banyak sekali soda. Infeksi telinga gue masih terasa tapi rasa bahagia gue menutupi segalanya, terlebih keadaan Eris sudah jauh lebih baik dan mau makan 1 mangkuk kaldu ayam yang dicampur dog food. Ray datang sebelum kami selesai makan dan segera menyusul dengan membawa 1 piring spageti. Percakapan kami semakin menyenangkan dan suasana semakin ramai. Teman-teman gue cukup lama nggak bertemu dengan Ray, dan ini adalah pertemuan pertama gue dengan Melody, anak dari Cut Hanna. Seperti reuni kecil, hanya saja dengan Aerosmith dimana-mana, hehehe. Setelah kami selesai makan Ibu dan Bapak memberikan doa dan harapan untuk gue. Mereka berharap agar gue selalu diberikan kesehatan dan apa yang gue kerjakan sekarang ini menjadi semakin baik. Gue selalu terharu dengan saat-saat seperti ini, tapi lalu Bapak 'merusak' nya dengan meminta semuanya bernyanyi "Selamat Ulang Tahun" dengan konyol. Untung saja kali ini nggak berhasil karena gue sudah histeris duluan melihat lelehan lilin yang menetes-netes di wajah Aerosmith. Gue langsung meniup lilinnya sebelum lagu selesai, hehehe.

FOODS! Hasilnya luar biasanya meski memasaknya kilat. My mom memang SUPER! :)
Ciuman dari Ibu dan Bapak :)
Nyanyinya buru-buru, takut lilin-lilin di atas kue keburu meleleh, hehehe.
The girls :)

Teman-teman dan Ray tinggal di rumah sampai malam (kecuali Cut Hanna dan keluarganya yang lebih dulu pulang). Kami sepertinya nggak pernah kehabisan bahan obrolan, pasti ada saja yang dibahas dan ditertawakan. Ketika waktunya potong kue tiba semua menjadi histeris, teman-teman bertaruh gue nggak akan tega memotongnya. Semua memanas-manasi agar gue memotong wajah Steven Tyler lebih dulu. Mereka sangat tahu bahwa ia adalah member Aerosmith yang pengaruhnya paling besar pada gue. Tentu saja itu nggak gue lakukan dan malah mengulur-ngulur waktu sambil memegang pisau, hehehe. Dilla bahkan mengambil foto gue dan kue berkali-kali, untuk perpisahan katanya. Sedangkan Ray yang memang selalu di balik kamera menahan tawa sambil terus mengambil foto kami. Akhirnya, dengan sedikit air mata gue memotong wajah Brad Whitford tepat di tengah, nggak melihatnya dan memberikannya kepada Dhian :p

OMG... My awesome birthday cake! :p
Teman-teman: antara manas-manasin dan nggak tega kuenya dipotong, hehehe.
Okay, sorry Brad Whitford....
Mata langsung berkaca-kaca setelah kuenya terpotong, hahaha...

Malam semakin larut dan seluruh teman gue pamit pulang, Ibu dan Bapak kelelahan di depan TV sementara gue dan Ray membuka kado-kado yang semuanya dibungkus oleh kertas kado warna pink. Gue menerima semua dengan suka cita, gue tahu Ibu, Bapak, adik (yang baru datang setelah hampir semuanya pulang), teman-teman dan Ray memberikan semua ini dengan penuh cinta. Catatan-catatan yang ditulis tangan, yang terselip di antara kertas kado merupakan pemberian yang berharga untuk gue. Siapa menyangka ulang tahun yang serba nggak terencana dan mendadak ini menjadi hari super menyenangkan, seluruh makna ulang tahun gue rasakan hari ini. Setiap kali usia bertambah gue menyadari bahwa waktu gue bersama orang-orang yang gue sayangi semakin pendek, dan gue merasa diberkahi karena selalu mendapatkan kesempatan untuk berkumpul di hari ulang tahun. Di hari ulang tahun juga gue selalu melihat senyuman bahagia dan penuh syukur Ibu dan Bapak. Mereka bilang ini adalah perasaan yang sama ketika melihat gue untuk pertama kalinya, ketika gue lahir. Gue merasa istimewa, gue memang istimewa.
Terima kasih Tuhan telah memberikan kehidupan penuh pelajaran dan berkah, semoga di sisa usia yang gue miliki gue menjadi lebih baik dan nggak pernah lupa untuk bersyukur. Amen... :)






blessed birthday girl,

Indi


nb: Artikel 4 halaman tentang gue bisa dibaca di Majalah Kartini no. 2349 (Cover Nikita Willy)
________________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 29 April 2013

Wonderland di Rumah :)

Selama day off (hari sabtu sampai senin) gue nggak kemana-mana. Seharian cuma di rumah dan outfit yang dipakai pun dari piyama ke piyama. Jadi bangun tidur gue pakai piyama, siangan dikit ganti piyama, mau tidur balik lagi ke piyama, hihihi. Padahal sebelumnya gue dan Ray ada rencana untuk keluar rumah, lho. Ya, sekalian syukuran 5 tahun hubungan kami. Tapi berhubung Ray mendadak sakit, terpaksa jalan-jalannya ditunda dulu. Mungkin karena sudah terlalu ngarep, gue jadi kurang bersemangat di rumah. Bawaanya tidur dan malas-malasan. Kegiatan paling produktif yang gue lakukan cuma sampai mendengarkan Om John ngomong selama 6 jam non stop, hahaha. Dan hari ini, hari terakhir libur, tiba-tiba gue tersadar bahwa gue hampir menyia-nyiakan waktu luang gue! Wah, seharusnya gue nggak membiarkan 1 rencana yang gagal merusak 3 hari yang berharga :)

Gue pun langsung mencari-cari hal apa yang bisa gue lakukan di rumah. Mau bersih-bersih, semua sudah bersih karena meski judulnya "malas-malasan" gue paling anti sama kamar acak-acakan. Mau bikin day spa di rumah, orang tua lagi bekerja. Masa gue harus maskeran sama Eris... Eh, wait! Ngomong-ngomong soal Eris, dia ternyata bisa jadi penyelamat gue, hihihi. Kebetulan hari ini Eris nggak tidur siang, jadi gue ajak saja dia main air sekalian mandi. Sama seperti gue (dan kebanyakan manusia lain sepertinya, lol), Eris senang bermain air, tapi untuk mandi dia agak malas. Jadi biasanya dia hanya duduk seperti patung dan gue bakal kesusahan untuk membilas bagian ekornya, hahaha. Tapi syukurlah, tadi Eris ceria sekali, dari mulai proses main air, mandi sampai gosok gigi dia nggak banyak protes. Sedikit ciprat-ciprat air sih ada, tapi malah segar soalnya gue juga belum mandi :p Waktu bulunya dikeringkan dan disisiri Eris juga menurut. Malah jadi gue yang nggak enak, soalnya karena bulunya tebal prosesnya lumanyan lama, lho... Untuk sentuhan akhir bulu Eris disemprot parfum yang gue beli dari pet shop. Kalau sudah begini gue jadi ingin gigit dia, soalnya aromanya seperti mangga, hihihi. Ternyata memandikan Eris bikin mood gue lebih baik dan nggak sabar melakukan hal lain :D

Si kecil Eris bulunya mau dikeringkan :)
Peralatan "tempur" Eris minus sisir kesanyangannya yang sudah ada sejak zaman Veggie :)


Sore hari, waktu Ibu dan Bapak akhirnya pulang ke rumah, gue bertanya apa mereka membawa camilan karena perut gue terasa lapar. Sayangnya mereka nggak bawa apa-apa kecuali 1 bungkus kue kering yang ternyata di dalamnya ada daging. Gue nggak makan itu karena pesco vegetarian. Lalu gue dengar Ibu bicara pada Bapak, katanya beliau minta dibelikan roti tawar untuk sarapan besok pagi. Tiba-tiba saja gue teringat sesuatu. Gue pernah melihat cara membuat donat ala Mad Hatter dari dongeng Alice in the Wonderland di channel-nya RRcherrypie. Nah, berhubung gue suka sekali dengan Alice in the Wonderland, dan gue juga nggak pandai memasak, maka gue sangat terobsesi dengan resep itu karena tampak sederhana, hehehe. Setelah sekian lama cuma melihat video tutorialnya dan membaca resepnya secara online (resep ini juga bisa ditemukan di The Alice in Wonderland Cookbook: A Culinary Diversion), hari ini akhirnya gue memutuskan untuk membuatnya sendiri secara mendadak :p

Bahan-bahan yang gue butuhnya sudah ada di dapur (ditambah roti tawar yang baru dibeli Bapak). Yang kurang hanya dry wine dan gue memutuskan untuk melewatkan part itu tanpa menggantinya dengan bahan lain. Oh, iya untuk yang belum akrab dengan dongeng Alice in the Wonderland mungkin belum mengenal siapa Mad Hatter. Dia adalah tokoh laki-laki bertopi lucu yang selalu mengadakan pesta di tengah hutan. Sering kali dia menyebut "tea time!" di waktu-waktu yang sangat random. Dan donat adalah satu kesukaannya :) Jadi gue mulai mengumpulkan bahan-bahannya di atas meja dapur: 4 lembar roti tawar, 1 butir telur, 2 sendok minyak goreng dan cokelat tabur. Gue semangat sekali sampai-sampai nggak bisa berhenti tertawa, hehehe.

Tapi lalu gue lupa satu hal: roti yang gue punya bentuknya kotak, sedangkan donat bentuknya bulat dan gue nggak punya cetakan kue. Gue pun sibuk mencari-cari benda apa yang bisa digunakan untuk mencetak. Pakai mangkok, terlalu besar... Tutup cangkir terlalu kecil... Untung saja Bapak memeriksa kulkas dan menemukan sebuah mug punya Puja. Ternyata ukurannya pas. Wah, senang sekali! Dan untuk membuat lubang kecilnya gue menggunakan tutup air mineral. Karena roti yang gue punya tipis, maka gue menumpuknya menjadi 2 supaya tebal mirip donat betulan :) Setelah itu, roti-roti yang bentuknya mirip donat itu gue celupkan ke dalam kocokan telur, dikeringkan, digoreng sebentar, lalu... jadi deh! :) Untuk rasa manis gue tambahkan coklat tabur dan secangkir susu vanila untuk menemaninya. Rasanya ternyata enak, cocok untuk camilan sore dan juga sarapan.


Step by step membuat donat ala Mad Hatter :)
Bentuknya lumayan juga lah ya untuk ukuran pemula :p


Ibu dan Bapak memuji ide kreatif gue (well, ini bukan karya gue sih sebenarnya, lol), lalu dilanjutkan dengan marah-marah karena dapur menjadi acak-acakan, hehehe. Tapi gue nggak sebal, sebaliknya malah senang hari libur terakhir gue terasa berkesan dan produktif. Lucu ya, kadang kita suka lupa pada hal-hal fun di sekitar hanya karena sesuatu nggak berjalan sesuai rencana. Padahal saat kita bersedih atau kecewa dunia masih tetap sama, well at least keadaan di sekitar kita masih tetap sama: Eris masih tetap menggemaskan dan donat Mad Hatter masih tetap lezat. Gue nggak menyesal. Gue hanya berjanji akan berusaha memanfaatkan setiap detik hidup gue. Hari ini gue menemukan wonderland di dalam rumah seperti Alice. Bagaimana dengan kalian? :)

senyum,
Indi

nb: Mohon doanya, besok (selasa 30 April 2013) film MIKA akan diputar di IFF Melbourne Australia :)

facebook: here | twitter: here | contact person: 081322339469

Minggu, 10 Maret 2013

Pelajaran Berharga dari Bapak, Aerosmith dan Mika

"Pak, nanti aku mau ketemu Aerosmith. Kalau mereka nggak ke Indonesia tetap aku kejar, deh asalkan masih di Malaysia dan Singapur".

"Memang kamu punya uang? Sudah nggak takut lagi naik pesawat?"

"Ya... aku kan nabung. Naik pesawat juga nggak apa-apa, asal aku ketemu Steven Tyler. Tapi nanti temani, ya Pak?"

"Memang kapan Aerosmith mau datang?"

"Nggak tahu... Kan baru khayalan... Pokoknya temani, ya?"

"Iya..."


Itulah percakapan random-berulang gue dengan Bapak. Di perjalanan menuju mall. Di perjalanan menuju tempat kerja. Di sela-sela menonton TV. Selalu saja gue mengulang menyebutkan khayalan gue tentang bertemu Aerosmith. Bagaimana nggak, gue sudah menyukai band rock asal Amerika itu sejak gue berusia 7 tahun. Gue mengoleksi CD, kaset, poster, kaos, topi, dan... apapun, apapun itu asalkan tentang Aerosmith. Mungkin diantara teman-teman bloggies ada yang sudah tahu kenapa gue sangat menyukai Aerosmith. Gue bahkan pernah menulis tentang itu di sini. Gue menyukai mereka bukan sekedar karena musik mereka bagus atau personel mereka keren, tapi juga karena pengalaman pribadi gue sebagai remaja yang mirip dengan Steven Tyler, vokalis mereka yang juga personel favorit gue. Mereka adalah band besar dengan penggemar yang banyak, dan mempunyai masa lalu sebagai anak sekolah biasa (bukan yang popular) yang memberi bukti bahwa siapapun bisa menjadi something meski banyak orang yang menganggap sepele :)

Bapak sering menggoda gue dengan bertanya siapa saja musisi atau band yang ingin gue datangi konsernya selain Aerosmith. Kalau sudah begitu gue pasti pura-pura ngambek karena artinya Bapak secara nggak langsung bilang bahwa gue nggak akan pernah bertemu Aerosmith, hehehe. Tapi meski begitu gue tetap menjawab pertanyaan beliau. "Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers dan Mika". Begitulah jawaban gue. Bapak bilang, salah kalau gue menjawab Michael Jackson karena ia sudah meninggal, dan untuk jawaban Red Hot Chili Peppers gue juga harus pikir-pikir lagi karena John Frusciante, gitaris favorit gue sudah nggak di sana. Akhirnya gue ralat kembali jawabannya. Gue bilang, "Kalau bukan Aerosmith itu artinya harus Mika!"
Berada di dunia khayalan bersama Bapak memang selalu terasa menyenangkan. Membuat gue merasa jadi gadis kecilnya Bapak untuk waktu yang nggak pernah berakhir :)

Gue memang punya banyak idola, tapi grup band idola gue yang nomor satu selalu Aerosmith. Semua orang juga tahu. Hehe, at least semua teman-teman sekolah dan keluarga besar sudah tahu. Sampai-sampai Aerosmith begitu identik dengan gue. Waktu gue bergabung dalam kelompok paduan suara gue selalu dipanggil "Smith" kependekan dari Aerosmith untuk membedakan gue dengan anggota lain yang juga bernama "Indi". Waktu SMA gue juga dipanggil "Steve" kependekan dari Steven Tyler dengan alasan yang juga sama. Gue nggak kesal karena nggak menjadi "Indi" satu-satunya, sebaliknya gue merasa bangga karena disamakan dengan band yang di mata gue sangat tangguh. Mereka pernah mengalami kecelakaan parah, terlibat narkoba, bahkan diserang oleh penyakit yang nggak bisa dibilang ringan. Tapi mereka berhasil bangkit dan bertahan sampai sekarang. Gue anggap itu sebagai doa agar gue sekuat mereka :)

Selain Aerosmith gue juga menyukai Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers (era alm. Slovak dan Frusciante), Queen, Beatles, Mika dan banyak lagi. Tapi entahlah konser yang sangat ingin gue datangi hanya Aerosmith dan Mika (tapi kalau John Frusciante masih di RHCP pasti lain cerita, lol), yang lainnya rasanya cukup gue lihat di video sekalipun seandainya mereka masih aktif menggelar konser. Ngomong-ngomong soal Mika, sepertinya memang jarang yang tahu bahwa gue menyukai musiknya. Setiap kali gue menyebut nama "Mika" pasti yang diingat lebih dulu adalah almarhum Mika, pacar gue ketika SMA yang menjadi inspirasi dalam menulis novel (dan sekarang ada versi layar lebarnya juga) :) Bahkan orang-orang di sekitar gue pun sering menyangka bahwa gue sedang membicarakan Mika yang sudah almarhum ketika gue membicarakan Mika yang musisi asal Lebanon itu, hehehe. Tapi sebenarnya memang ada hubungannya diantara kedua Mika itu. Mereka memang nggak saling mengenal, tapi gue mempunyai cerita istimewa dibaliknya. Jadi pada tahun 2006 gue memutuskan untuk membagi kisah tentang alm. Mika di blog jejaring sosial gue. Waktu itu banyak pembaca yang berkomentar bahwa nama "Mika" terdengar janggal untu seorang laki-laki. Tapi gue bilang bahwa itu memang nama pemberian dari orang tuanya, dan di suatu tempat, di belahan dunia sana pasti ada orang yang juga bernama Mika. Lalu satu tahun kemudian, ketika gue membaca sebuah majalah remaja, ada artikel singkat dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah: MIKA. Gue langsung tersenyum karena itu adalah nama yang sama dengan laki-laki yang membuat gue bahagia selama 3 tahun yang penuh berkah sebelum akhirnya ia pulang karena mengalah dengan AIDS nya. Gue langsung menunjukan artikel itu pada Silmi sepupu gue, dan di malam yang sama kami langsung menonton videonya di MTV. Gue langsung menyukai musiknya dan memutuskan untuk membeli CD nya satu minggu kemudian. Meski diselingi kontroversi, bagi gue banyak lirik-lirik lagu Mika yang menginspirasi :) Somehow ada sedikit tentang Mika yang mengingatkan gue pada alm. Mika. Mungkin rambut ikalnya yang panjang dan badannya yang kurus :)

Jadi beberapa waktu yang lalu ketika gue mendapat kabar bahwa Mika akan datang ke Indonesia, percakapan random-berulang dengan Bapak pun sedikit berubah...

"Pak, siapa idola nomor 1 aku?"

"Aerosmith".

"Kalau nomor dua?"

"Karena Red Hot Chili Peppers sudah keluar list, ya pasti Mika".

"Kalau Mika ke sini gimana, Pak?"

"Ah, bohong!"

"Beneran ini Pak! Akhirnya ada juga idolaku yang datang ke Indonesia, hehehe. Boleh nonton, nggak?"

"Boleh. Kalau nunggu Aerosmith takutnya nggak akan pernah datang".

"Ih, Bapak...."


Dan kami pun tertawa.

Sebelum pengumuman kapan tiketnya mulai dijual, gue dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan tentang konser Mika. Kami mendengar CD-CD nya saat perjalanan ke tempat bekerja dan mulai mengkhayal tentang baju yang akan gue pakai nanti. Karena gue senang mendesain baju gue bilang bahwa gue akan memakai baju seperti gadis kecil di video klip "Grace Kelly", hihihi, seru sekali :) Lalu  ketika akhirnya voucher tiket (pre sale) mulai dijual, gue langsung mencari info tentang dimana bisa mendapatkannya. Tapi ternyata hasilnya membuat gue sedih, voucher tiket hanya bisa dibeli di salah satu cabang Seven Eleven di Jakarta selama 24 jam, selebihnya berlaku harga normal. Gue yang tinggal di Bandung dan bekerja sampai sore bingung bukan main. Bagaimana caranya supaya gue mendapatkan tiket sebelum jam 12 malam? Apakah gue harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta dan mengabaikan kesehatan gue? Gue meminta pendapat pada Bapak dan Ibu tentang jalan keluarnya, tapi mereka juga sama kebingungannya seperti gue. Ketika waktu menunjukan jam 8 malam rasa sedih gue semakin besar, gue mulai menangis sendirian di dalam kamar dan berdoa pada Tuhan untuk jalan yang terbaik. Mungkin terdengar konyol karena ini hanya sebuah konser, tapi gue adalah tipe orang rela menabung untuk dipakai di moment yang jarang terjadi, dan sekarang lah moment itu akhirnya tiba. Lalu tanpa disangka-sangka, Gina, salah seorang sepupu gue yang tinggal di Jakarta bersedia mampir ke Seven Eleven dan membelikan vouchernya untuk gue. Bukan proses yang mudah karena tanda pengenal yang dipakai harus sama dengan tanda pengenal yang dibawa ketika menonton konser. Dengan bantuan Gina dan kebaikan pegawai Seven Eleven (mereka membantu via twitter dan telepon, how sweet!), akhirnya gue mendapatkan voucher itu meski tanda pengenal yang digunakan dikirim melalui foto, hehehe. Gue senang sekali dan bersyukur. Akhirnya, mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, gue akan bertemu idola gue :)

Tanpa sengaja gue bikin dress seperti si gadis lolipop'nya Mika :) Btw, kelihatan banget gue baru nangis, hihi..

Meski konsernya masih 2 bulan lagi, Ibu sudah kasih banyak wejangan sama gue. Nanti gue nggak boleh pisah sama Bapak, nanti harus pakai stocking yang tebal, dan banyak lagi, hehehe. Gue menanggapinya dengan senyuman karena tahu Ibu nggak akan melarang gue nonton konser, beliau mengerti bahwa kesempatan gue bertemu salah satu idola gue sangat langka.
Di tengah kebahagiaan gue tiba-tiba ada kabar mengejutkan. Well, seharusnya sih menggembirakan seandainya waktunya tepat...
Waktu di mobil, di perjalanan menuju sebuah toko elektronik bersama Bapak, handphone gue bunyi terus-terusan. Aneh, inbox di facebook, mention di twitter, BBM dan lain sebagainya menerima laporan dalam waktu bersamaan. Karena penasaran gue langsung membuka pesan yang paling baru masuk. Isi pesan itu membuat perasaan gue campur aduk, tapi gue putuskan untuk membaca dulu sisanya karena siapa tahu hanya candaan. Sampai seluruh pesan terbaca, isinya ternyata sama. Semuanya memberi tahu berita yang mereka pikir akan membuat gue berteriak histeris: Aerosmith akhirnya akan datang ke Indonesia.
Di waktu yang bersamaan dengan Mika...Tanggalnya, bulannya... Tepat sama.

Gue nggak berteriak histeris. Butuh waktu beberapa menit sebelum gue membacakan pesan yang masuk satu per satu pada Bapak. Bahkan waktu gue membaca pun perasaan gue masih bingung, apakah gue sedang senang atau sedih. Bapak nggak percaya dengan apa yang didengarnya. Beliau pikir gue becanda, tapi setelah melihat wajah gue yang serius dan memerah karena menahan tangis, Bapak akhirnya percaya.

"Kamu senang nggak mau ketemu Aerosmith?"

"Waktunya bersamaan dengan konser Mika, Pak..."

"Iya, tapi kamu senang nggak? Kan sudah nunggu berapa tahun? Hampir 20 tahun, ya?"


Gue terdiam, bertanya pada hati gue sendiri. Apakah gue senang? Apakah gue senang?...
"Iya, Pak senang, aku nanti minta Steven Tyler tandatangani lengan aku ya? Terus aku jadikan tato permanen, boleh?"


Bapak tertawa.

"Tapi konser Mika nya gimana, Pak? Kan sudah beli tiket..."

"Jangan dulu dipikirkan, nikmati saja dulu perasaan senangnya..."

Dengan sebagian kecil koleksi Aerosmith gue. Iya, gue punya banyak karena mengumpulkan sejak umur 7 :)

Gue senang, senang, senaaaaang sekali. Bayangkan, gue menunggu kesempatan untuk bertemu Aerosmith sejak gue berusia 7 tahun dan sekarang akhirnya hampir terwujud. Tapi di sisi lain gue sangat kebingungan karena gue sudah membeli tiket konser Mika dan meskipun baru mengenal Mika selama 6 tahun tapi gue sudah jatuh cinta dengan musiknya. Saking bingungnya gue jadi takut untuk bermimpi bisa bertemu dengan Aerosmith. They're my number one idol, akan sangat menyedihkan jika ingat gue nggak bisa bertemu mereka. Bapak sempat menggoda gue bahwa inilah rasanya galau. Gue belum pernah merasa galau karena seorang pemuda dan sekarang gue galau karena laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Bapak. Beliau pikir ini lucu, tapi gue hanya bisa tersenyum sedikit :') Bapak bertanya, seandainya gue belum membeli tiket Mika, manakah yang akan gue pilih, konser Aerosmith atau Mika. Dengan mantap gue menjawab tentu saja konser Aerosmith. Lalu Bapak dengan ringan menanggapi jawaban gue, "Kalau begitu, pilihlah Aerosmith!"

Gue masih bingung, tapi sepertinya Bapak benar. Yang harus gue lakukan adalah bertanya pada diri sendiri tentang apa yang gue inginkan. Gue menginginkan Aerosmith, gue sudah tahu itu sejak hampir dari 20 tahun yang lalu. Lalu kenapa sekarang ragu? Pasti karena tiket Mika yang sudah gue beli. Gue sudah membeli dua buah tiket dari hasil menabung. Iya, dua buah karena gue ingin sekali mengajak Bapak. Akan gue kemanakan tiketnya? Haruskah gue beri pada orang yang gue percaya karena nanti harus membawa kartu identitas gue ketika menonton konser? Ketika hati gue semakin bertanya-tanya, gue ulang kembali satu buah pertanyaan yang ditekankan oleh Bapak. "Apa yang gue mau? Apa yang gue mau? Apa yang gue mau?". Pikiran gue kembali ke masa kecil gue, moment dimana pertama kali gue melihat video klip Aerosmith dan jatuh cinta dengan lirik "Livin' on the Edge"...
"Gue pilih karena gue menginginkannya. Gue pilih Aerosmith".

Bapak bilang seharusnya gue nggak bingung ketika Mika dan Aerosmith datang secara bersamaan, tapi seharusnya gue bersyukur. Gue sering berdoa bahwa suatu hari idola-idola gue datang ke Indonesia, dan sekarang menjadi kenyataan. Bapak bilang ini kesempatan gue untuk belajar memilih. Mungkin akan ada yang dikorbankan tapi pilihan harus tetap diambil, atau gue nggak akan mendapatkan apa-apa sama sekali. Mungkin bagi orang lain ini hanya sebuah konser, bukan hal serius yang perlu dipikirkan sungguh-sungguh. Tapi Bapak melihatnya lebih dari itu. Konser dan hal lain yang terjadi dalam hidup semuanya harus dilewati, kita nggak bisa lari dari itu, dan dalam prosesnya sering kali kita dihadapkan dengan pilihan. Lucu, tapi sepertinya benar, Aerosmith dan Mika membantu proses pendewasaan gue.

Gue nggak akan melihat konser warna-warni ala Mika dan memakai dress ala gadis kecil di video klip "Grace Kelly". Gue juga nggak akan mendengar Mika bernyanyi lagu "Elle Me Dit" yang sudah gue hapalkan jauh-jauh hari untuk sing along bersamanya. Tapi Bapak bilang jangan ingat-ingat apa yang gue lewatkan, tapi pikirkan apa yang akan gue dapatkan nanti. Gue akhirnya akan bertemu dengan idola masa kecil gue. Dapat sebuah tato, mungkin, lol. Dan akan berteriak "Honey!" ketika Aerosmith membawakan lagu "Crazy". Sekali lagi, dari setiap pilihan pasti akan ada yang dikorbankan, kita nggak bisa dapat semua yang kita mau tapi kita selalu bisa menikmati apa yang kita dapat. Semalam dengan bantuan seorang teman gue berhasil membeli 2 buah voucher tiket Aerosmith untuk gue dan Bapak. Sempat bingung untuk memilih antara VIP dan premium. Tapi kali ini gue yang memutuskan sendiri. Gue pilih premium. Gue memang akan melewatkan makanan gratis dan tempat duduk ala VIP, tapi gue mendapatkan akses untuk berdiri dekat dengan panggung dan dapat kesempatan lebih besar untuk menangkap harmonika, selendang atau topi jika Steven Tyler melemparnya atau nggak sengaja menjatuhkannya, lol. Gue nggak pernah menyangka Aerosmith dan Mika bisa memberikan gue pelajaran sebesar ini. Melalui Bapak mereka telah mengajarkan sebuah hal penting yang disebut dengan pilihan :)

"Pak, sebetulnya aku masih ada sedih 1 persen lho karena nggak jadi nonton Mika..."

"Masa? Kan dulu kamu hampir tiap hari ketemu Mika, sampai bolos sekolah segala, hahaha".

"Ih, bukan Mika yang itu, Bapaaaaaak..."


:D




walk this way,
INDI

twitter: here
facebook: here
contact person: 081322339469