Tampilkan postingan dengan label Married Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Married Life. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2024

Perayaan Ulang Tahun yang Terlambat Satu Bulan (Biar Terlambat Asal Selamat, ---Eh, Asal Berkumpul!) :D

Haaaaiiiii bloggies! Apa kabar? Semoga semuanya baik-baik saja ya di tengah cuaca yang glommy ini (--kalau nggak mendung ya hujan, hehe). Well, at least di Bandung sih begitu sekarang. Dan untuk yang sedang sakit semoga cepat sembuh ya! :)


Kabarku sendiri baik, sciaticaku kambuh tapi ini bukan yang terburuk xD Aku juga nemu tempat fisioterapi baru dari Google yang lokasinya nggak jauh dari rumahku dan Shane. Rencananya sih bulan ini aku mau coba ke sana, tapi kalau ternyata kami menginap di rumah orangtua aku bakal fisio di tempat biasa saja supaya nggak bolak-balik. ---Well, kita lihat saja nanti ya, dan aku akan pastikan untuk membagi ceritanya di sini. Karena kalau dilihat dari tulisanku tentang "Boneka Chelsea" ternyata banyak juga yang penasaran dengan "scoliosis". Yay! :D


Anyway, tanggal delapan Juni kemarin aku ulang tahun lho, teman-teman, hihi. Kalau biasanya dirayakan bersama orangtua dan Ali, tahun ini pas di hari H hanya bertiga dengan Shane dan Kitty. Alasannya karena di tanggal yang sama orangtuaku ada pekerjaan yang nggak bisa ditunda, jadi kami putuskan untuk berkumpul saat semuanya sudah nggak sibuk saja. Dan itu bukan masalah buatku karena yang penting ucapan dan doa dari mereka saja, soal berkumpul bisa lain waktu :) Apalagi meski nggak full team Shane tetap make sure bikin ulang tahunku menyenangkan. Ia membuatkanku cake ulang tahun dan setuju untuk kompak memakai outfit berwarna pink karena itu warna kesukaanku! Hahaha. Termasuk Kitty ya, karena si mungil ini nggak boleh ketinggalan meski nggak mengerti dengan konsep ulang tahun :D 


Ulang tahunku pas di hari H nya, dirayakan sederhana. ---Yang penting tiup lilin :p


Maunya punya foto yang cute, eh Kitty malah berusaha meloloskan diri xD


Cake buatan Shane. Pakai Oatside susu gandum kesukaanku :D


Biar Kitty happy ia juga ikut ultah, dapat hadiah. Padahal gak ada yang tahu kapan ia lahir, hehe :'D


My birthday lunch, yum. Vegan wrap dari Fit Fuel. Langganan sejak masih tinggal di apartemen, belum ada yang menggantikan saking enaknya :')


Baru di bulan Juli aku merencanakan untuk perayaan bersama orangtua, Ali dan Emah, nenekku. Rencananya aku ingin mengajak mereka makan-makan saja karena ketika ibu mertuaku berkunjung ke sini di bulan April lalu nenekku nggak ikut ketika kami makan-makan di restoran. Ya... anggap saja untuk mengganti moment itu. Apalagi ulang tahunku juga disponsori oleh Ibu Mertua, jadi hanya beda di waktunya saja kan, hehehe. Aku mencari restoran keluarga yang punya menu vegan dan non vegan supaya perut kami semuanya happy. Setelah berdiskusi dengan Shane akhirnya kami memilih restoran "Ta Wan" yang menurut kami sih menunya netral alias siapa saja suka, termasuk anak-anak picky eater macam Ali :p Supaya dekat dengan rumah orangtua dan Nenek, aku memilih cabang yang di Trans Studio Mall (---jangan bosan ya, sejak tahun 2011 di blog ini TSM sering disebut karena memang seringnya pergi ke situ, lol). Aku segera mengabari Ibu, dan beliau senaaaang sekali karena sudah kangen denganku dan Shane :') Berhubung setelah dipikir-pikir ternyata aku memang sudah lama nggak bertemu keluarga besarku (terakhir ya waktu ada Ibu Mertua itu), aku undang saja Iie alias tanteku dan Marvy keponakanku (anak dari kakak sepupuku) sekalian. Kebetulan rumah mereka jaraknya hanya satu blok saja dari rumah Ibu dan Bapak.


Karena lokasi restorannya di Trans Studio Mall, aku tiba-tiba jadi punya ide untuk sekalian menginap di sana supaya kami nggak perlu ke mana-mana lagi. (Maksudnya menginap di hotelnya, bukan di mall, huehee). Aku bertanya pada Shane tentang ideku itu dan ia menyukainya, ---selama ia bisa membawa iPad untuk bekerja tentu saja, karena masih weekdays. Ada dua hotel yang menempel dengan gedung mall; The Trans Luxury Hotel dan Ibis Hotel. Nah, untuk The Trans Luxury kami sudah pernah menginap di sana waktu perayaan ulang tahun pernikahan kami yang ketiga lalu. Benar-benar salah satu pengalaman menginap terbaik bagi kami! Sampai-sampai sempat terpikir untuk kembali menginap di sana. Tapi akhirnya kuputuskan kalau memilih menginap di Hotel Ibis akan lebih bijak. Tanpa Kitty kami hanya bisa meninggalkan rumah sebentar saja. Rasanya sayang jika membayar kamar hotel yang harganya dua kali lipat rate Ibis tapi nggak bisa dinikmati dengan maksimal. Lagipula kami kan belum pernah menginap di sana, ---siapa tahu akan jadi pengalaman menyenangkan. So Ibis, here we come! :)



12 Juli 2024: Makan-makan, Hotel yang Mirip Bandara, dan Mall yang Hampir Tutup


Aku dan Shane berusaha meninggalkan rumah sedekat mungkin dengan waktu makan malam. Tujuannya tentu supaya kami nggak lama-lama meninggalkan Kitty sendirian di rumah. Goal kami sebelum 24 jam harus sudah kembali (---berasa main game pakai timer, lol). Kalau lebih dari satu malam biasanya Kitty kami titipkan di dokter hewan, atau kami ajak sekalian asal tujuannya ke tempat pet friendly (seperti ke rumah ortu misalnya, huehe). Tapi karena kali ini kami pergi sebentar, jadi Kitty cukup dititipkan pada Ibu tetangga yang baik hati. Biasanya beliau atau suaminya akan mengecek keadaan rumah dari depan dan dari atas. ---Yang jangkauannya better than CCTV, karena meski rumah kami nggak saling berdempetan tapi dari lantai dua mereka bisa terlihat halaman depan sampai halaman belakang kami, hahaha. 


Lalu-lintas kota Bandung sedang macet (seperti hari-hari kebanyakan, huhu), jadi kukabari Ibu untuk nggak buru-buru berangkat ke TSM, ---khawatirnya jadi harus menunggu aku dan Shane yang masih di jalan. Tapi beliau bilang ingin mampir ke Metro dulu untuk melihat-lihat pakaian, jadi nggak masalah kalau pun kami yang tiba belakangan. Syukurlah, kami tiba nggak terlalu meleset dari waktu perkiraan. Keluargaku belum lama sampai di mall ketika aku dan Shane masuk lobby hotel. Kesan pertamaku lobbynya terkesan simple sekali, benar-benar straight to the point begitu masuk front tablenya kelihatan :D Somehow mirip dengan bandara. Entahlah cuma perasaanku atau memang konsepnya seperti itu ya, tapi Shane juga setuju denganku. Proses check in nya sangat cepat meski aku salah membawa KITAS (kartu identitas) milik Shane. ---KITAS yang kubawa ternyata sudah expired tahun kemarin! Untung saja Shane siap dengan salinan KITAS baru di handphonenya, ehehe, maaf :'D 


Dari lobby belok kanan langsung ada lift. Di depan lift ada meja pakai wangi-wangian gini. Jadi berasa di tempat spa :D


Aku ambil fotonya karena siapa tahu nanti mau pijat. (---Tapi kenyataannya aku ngantuk berat nggak sempat ngapa-ngapain, ahaha).


Kami request kamar di lantai atas, no smoking, dan menghadap ke kolam renang (---karena waktu menginap di The Trans Luxury Hotel aku ketiduran dan nggak sempat melihat kolamnya, lol). Sepanjang perjalanan ke kamar dari mulai lift sampai lorongnya tercium aroma yang menyenangkan, mirip permen karet. Honestly aku nggak berharap banyak sama hotel budget ini apalagi tujuan utamanya untuk makan-makan bersama keluarga, bukan untuk relaxing. Tapi ternyata begitu masuk kamar aku dan Shane surprised karena fasilitas yang tersedia (menurut kami) sedikit di atas kelasnya. Ukuran kamar yang super mungil jadi nggak terlalu ketara karena ada kaca yang super besar yang pas menghadap ke kolam sesuai request kami. Ada TV dengan saluran kabel, lemari es mini, water jug, meja kerja plus sofa yang cukup banget buat selonjoran, safe deposit box, dan lemari terbuka lengkap dengan beberapa gantungan baju. Kamar mandinya juga sangat oke, ada shower dengan air panas, bidet (penting banget, haha) dan surprisingly ada hair dryer! Happy banget rasanya, poniku jadi terselamatkan, lol. Apalagi setelah kami cek handuk dan segala printilan lainnya juga bersih tanpa noda :)


Tempat tidurnya size queen. Mungil tapi masih pas buat kami yang badannya minimalis ini :p


As always Onci boneka kelinciku selalu ikut. Tanpa Onci liburan terasa hampa, hehe.


Waktu ke Singapore tahun 2018 yang lalu kami pakai outfit yang sama, lho. Dressnya Ibu yang buatkan. Jadi berasa nostalgia (tapi ini versi di Bandung, lol).


Ada teh, kopi, gula dan creamer.

Mungil tapi berfungsi dengan baik. Lumayan supaya jus kami tetap dingin :D

Jadi menyesal pas menginap di The Trans Luxury kami nggak berenang. Ternyata secakep ini :')

Fasilitas buat memperkece dirinya lumayan lengkap lah, ya xD


Aku lalu mengabari Ibu bahwa kami sudah di hotel dan memintanya agar langsung ke restoran "Ta Wan" agar kami bisa bertemu di sana. Sama seperti waktu kami menginap di The Trans Luxury, akses untuk ke mall harus melewati lobby dan masuk lewat pintu di samping Starbucks. Jadi  memang dekat sih, ---tapi kalau hujan yang tetap saja kebasahan, hehe :p


Nggak menunggu lama (ya, ternyata tetap aku dan Shane yang tiba duluan, lol) dari kejauhan aku melihat keluargaku berjalan ke arah restoran. Ah, bahagia sekali melihat wajah-wajah mereka lagi! Aku rindu berat karena sudah lama nggak bertemu ;')

Aku, Shane, Ali dan Adik Marvy duduk di satu baris sementara Ibu, Bapak, Emah dan Iie duduk di hadapan kami. Suasana restoran sedang cukup padat, jadi kami nggak bisa memilih tempat duduk dan AC yang beroperasi juga terasa nggak dingin. Sempat khawatir membuat keluargaku nggak nyaman tapi ternyata mereka nggak bilang apa-apa (semoga bukan karena dipendam, please, huhu) dan terlihat sangat menikmati waktu berkumpul kami. Aku memesan kailan dan jamur, dengan special request no oyster sauce. Ada yang lucu dengan pesanan Shane. Ia 'kekeuh' ingin memesan tofu meski sudah kularang. Ia pikir tofu yang di restoran akan sama dengan yang biasa kami masak di rumah. Padahal yang biasa ia makan itu nama Indonesianya "TAHU", sementara istilah "tofu" di sini dipakai untuk tahu jenis yang lain. Setelah pesanan datang benar saja itu egg tofu, hahaha! Untung saja Ibu dengan senang hati menghabiskannya jadi nggak terbuang sia-sia. Oya, seperti yang sudah kubilang sebelumnya Ali itu picky eater. Saking pickynya jauh-jauh ke restoran pesannya bubur putih polos. Tanpa kecap dan bahkan merica, ---benar-benar lebih polos dari bubur Rumah Sakit T_T Normalnya sih aku akan minta ia (---ehm, memaksa) untuk makan protein dan serat, tapi karena nggak mau merusak suasana dan sedang kesempatan istimewa jadi aku biarkan saja :p


Hore berkumpul! :))


Bersama dua bocil yang nggak terpisahkan, nempel banget :D


Sebagian makanan kami. Bubur polos ala puasa mutih of course punya Ali. Ia bahkan singkirkan toppingnya :'D

Tofu punya Shane, untung baru empat biji yang pindah ke piring. Padahal sudah kubilang mending makan kailan, ahahaha.


Kalau bertemu Emah bisa dipastikan beliau nggak membiarkan tanganku dan Shane kosong, beliau pasti memberi kami sesuatu. Kata Ibu di perjalanan menuju TSM Emah meminta untuk mampir dulu ke "Vitasari Bakery", ---toko kue dekat rumah langganan sejak aku masih kecil. Beliau membelikan kami satu box macam-macam jajanan tradisional dan kue basah. "Apa atuh Emah suka bingung yang vegan apa. Kalau ini kan sudah pasti vegan. Jadi Kakak suka, ya?" begitu tanya beliau. Aku dan Shane tentu sangat senang dan berterima kasih! Emah, yang meskipun sudah di usia tua nggak pernah berhenti belajar termasuk tentang pilihan kami. Beliau mengerti apa itu vegan dan selalu berusaha memastikan aku dan Shane bisa memakannya pemberiannya. Terharu rasanya, aku yang ingin mentraktir beliau, eh malah langsung dibalas dengan traktiran. Ah, how I love her ;')


Emah memang super perhatian :') Vegan Indonesian snacks for us <3


Selesai makan kami nggak langsung berpisah, Ibu ingin mengambil foto bersama banyak-banyak. Biasanya aku agak canggung kalau berfoto di tempat umum, apalagi kalau sedang banyak orang. Tapi demi mereka ayok, deh :D Berapa kali pun Ibu minta aku iyakan sampai sudah nggak tahu harus bergaya bagaimana lagi, hahaha. Keluargaku pun pamit. Sambil mencium pipiku Iie bilang kalau mereka sudah menahan kami kelamaan. Katanya lagi kasihan karena kami jadi cuma bisa sebentar menikmati hotelnya. Padahal sungguh, kami sih nggak apa-apa. Tujuan utamanya kan memang untuk bertemu mereka :') Mataku jadi berkaca-kaca, ---padahal bulan depan juga akan bertemu lagi dan bahkan lebih lama karena aku dan Shane berencana menginap di rumah orangtua. Yah, aku ini orangnya memang mellow sampai apa saja ditangisi, huhu. Waktu SD saja aku dipanggil "Nobita"! Ahaha xD


We love you, Emah.

Bapak, Ibu, Ali dan Adik Marvy :)

Iie rajin banget fotoin kami sampai-sampai aku nggak punya foto sama beliau kecuali pas lagi di resto :')


Aku dan Shane mampir dulu ke Transmart sebelum kembali ke kamar kami. Sekedar untuk membeli air mineral karena di hotel hanya disediakan galon dan water jug, dan camilan kriuk-kriuk untuk teman menonton TV. Di kamar, aku langsung berganti dengan piama dan mencuci muka. Hari semakin malam dan aku mulai merasa lelah. Sambil berbaring di tempat tidur aku mengganti-ganti channel TV mencari tontonan yang seru untuk ditonton berdua. Nggak ada yang benar-benar kami tonton karena isinya kebanyakan film action, ---bukan genre favorit kami. Meski begitu kami tetap terhibur melihat adegan-adegan action yang somehow membuat kami tertawa. Apalagi waktu Tom Cruise tiba-tiba muncul di layar, Shane langsung hoboh bilang, "Hey, itu kan THAT GUY!" ---Ya, "that guy" karena Shane nggak tahu namanya tapi mengenali wajahnya, hahaha. Jadi kami pernah punya pengalaman lucu dengan Tom Cruise. Suatu hari di tahun 2019, di kamar hotel waktu kami sedang menonton TV, aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan Tom Cruise. Awalnya kupikir memang ia, tapi setelah diperhatikan dengan seksama ternyata bukan. Tapi Shane, ia meyakini kalau yang dilihatnya adalah 'seorang aktor terkenal'. Yang meski ia nggak tahu namanya tapi dengan menyebut kata "terkenal" sudah cukup jelas kan siapa yang Shane maksud. Lucunya ketika ibunya menonton potongan video kami (waktu itu kami membuat vlog) beliau juga SANGAT MENYAKINI kalau orang yang ada di TV memang benar Tom Cruise! Karena 2 VS 1 aku sempat hampir percaya kalau aku yang salah lihat. Tapi setelah Googling kami menemukan fakta kalau ternyata ia memang BUKAN TOM CRUISE! Ahahaha X'D Makanya Shane jadi segitu hebohnya ketika melihat Tom Cruise yang asli di TV, ---karena ia akhirnya bisa membedakan mana yang asli dan mana yang look alike-nya :p Oya, kalau teman-teman penasaran, aktor yang dimaksud adalah Miles Fisher. Kalau lihatnya sekilas memang mirip sih, sampai garis senyumnya saja sama :O


Ada kartun Mr. Bean, tapi baru nonton pas mau habis, ahahaha :’D


Lihat, pantas kan Shane dan Ibu Mertua pikir ia Tom Cruise, hahaha!


Sayangnya keseruan kami harus berhenti. Layar TV tiba-tiba gelap tanda nggak bisa menangkap sinyal. Aku coba matikan TV lalu menyalakannya kembali tapi nggak ada perubahan. Anehnya WIFI di kamar tetap bekerja, nggak terpengaruh sama sekali. Setelah ditunggu selama 10 menit kami merasa TV nggak akan kembali normal dengan sendirinya. Kantukku hilang dan perut mendadak terasa lapar. Kami putuskan untuk memesan veggie burger via Grabfood untuk kemudian mengambilnya di A&W dalam TSM. Rencananya nanti sekalian kembali ke kamar, kami akan melapor pada petugas front desk tentang TV di kamar yang bermasalah. Aku yang sudah berpiama pun kembali berganti dengan dress dan kami bergegas ke mall sebelum terlalu dekat dengan jam tutup. Setelah tiba ternyata pesanan kami belum diproses meski statusnya sudah siap diambil. Kami adalah customer terakhir, hanya ada aku dan Shane yang menunggu. Kalau diperhatikan selain di gerai A&W aku nggak melihat ada siapa-siapa lagi. Melihat suasana mall yang sepi somehow membuatku merasa damai. ---Janggal tapi damai. Aku memang suka dengan suasana gedung kosong, rasanya ingin menjelajah. Well, mungkin karena aku kebanyakan nonton "The Twilight Zone" ya, jadi cuma permainan imajinasi saja. Karena kalau tiba-tiba dikejar manekin hidup sih yakin aku pasti takut sampai nangis, ahahaha. Anyway, setelah mendapatkan burger pesanan kami ternyata mall benar-benar mulai ditutup. Bahkan pintu samping dekat Starbucks yang menjadi akses kami ke hotel pun sudah dikunci rapat dan sebagian besar lampu-lampu sudah dipadamkan. Aku dan Shane pun harus memutar melewati pintu utama yang lumayan jauh. Tapi nggak apa-apa, aku jadi bisa menikmati suasana mall (hampir kosong) lebih lama :)


Sudah satu jam semenjak aku melaporkan masalah TV pada petugas di front desk. Burger dan kentang gorengku sudah habis dilahap, dressku sudah kembali berganti piama dan mataku sudah mulai kembali berat (efek kekenyangan, lol). Tapi nggak ada yang datang padahal katanya akan segera menugaskan teknisi :') Akhirnya kami putuskan untuk tidur saja karena rencananya setelah sarapan nggak akan berlama-lama di hotel mengingat Kitty sendirian di rumah. Sedikit kecewa sebenarnya, tapi juga bukan masalah yang besar karena selain masalah TV kami merasa nyaman dengan kamarnya.


Foto OOTD dulu karena habis ini mau ganti pakai piama :p


Jangan salfok sama tulisan di box-nya. Ini isinya beneran burger sayur, kok (request no mayo). Lihat saja stiker di wrapper-nya xD



12 Juli 2024: Sarapan Besar, Koes Plus dan Kembali ke Rumah


Aku terbangun sebelum Shane dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi dan berganti piama dengan dress batik buatan Ibu. Sehari sebelumnya aku sudah mandi jadi rasanya sudah cukup xD Lagipula kalau mandi di bawah shower air hangat di pagi hari bawaanya kembali mengantuk alih-alih merasa segar, huehe. Setelah selesai aku membangunkan Shane yang bilang kalau tidurnya nyenyak sekali. ---Aku juga merasa begitu, yang saking nyenyaknya sampai terasa hanya tidur sekejap saja karena tahu-tahu sudah pagi :D Nggak butuh waktu lama bagi Shane untuk bersiap dan kami pun segera berada di restoran Oopen untuk menyantap sarapan. 


Nyobain filter Instagram ceritanya :D


Fotonya miring karena tadinya mau ngambil video eh kepencet. Daripada dihapus post di sini saja :p


Salah satu meja dengan banyak pilihan karbo dan satu jenis sayuran xD


Setelah sedikit melihat-lihat kami langsung mengambil piring dan mengambil makanan yang sudah kami pilih. Menu yang tersedia seperti kebanyakan hotel bintang tiga pada umumnya, cukup banyak jumlahnya tapi untuk vegan option-nya sangat terbatas. Aku dan Shane sih memaklumi dan nggak menjadikannya big deal. Kami mengerti bukan sedang berada di restoran khusus vegan, jadi cukup makan yang bisa dimakan dan nggak perlu merasa wajib jadi "perfect vegan". Kami mengambil potato wedges, salad, tumis sawi putih, mi goreng dan orange juice. Semuanya terasa oke di lidah kami (enak, tapi bukan yang istimewa gimana gitu). Terus ternyata mi gorengnya mengandung telur jadi kami harus pilah-pilah dulu dan tetap berusaha menghabiskan sisanya. Karena kalau sudah terlanjur ada di piring kami harus bertanggung jawab, jangan sampai banyak yang terbuang. Sambil sarapan aku juga memperhatikan suasana sekitar. Rupanya Ibis punya corner khusus untuk sarapan anak-anak, termasuk ada fasilitas bermain PlayStation kalau aku nggak salah lihat. ---Hmm, boleh juga tuh konsepnya. Mungkin kapan-kapan aku akan ajak Ali supaya kalau mau ikutan main bisa pakai alasan nemenin adik xP


Kami nggak menghabiskan waktu terlalu lama untuk sarapan karena mendadak aku punya ide untuk membuat video clip musik di kamar. Beberapa waktu lalu aku dan Shane merekam lagu "Cinta Mulia" yang aslinya milik Koes Plus. Kebetulan kami belum sempat membuat videonya jadi kupikir sekalian saja mumpung sedang di luar. Ya... supaya nggak bosan-bosan amat karena biasanya kan lokasi video kami kalau nggak di dalam rumah ya di halaman :p Oya, alasan kami memilih lagu Koes Plus sebenarnya agak unik. Meski Bapakku penggemar Koes Plus tapi aku nggak pernah mendengarkan musik mereka dan cenderung nggak tertarik. Aku justru baru mengenal Koes Plus ketika sudah menikah dengan Shane, Suatu hari ia mengenalkanku dengan band bernama Koes Barat, ---band asal Amerika yang membawakan lagu-lagu Koes Plus. Kami lalu mendengarkan lagu-lagu versi covernya dan langsung jadi penggemar! Jadi well, alih-alih mengenal dari Bapak yang asli Indonesia aku malah mengenal Koes Plus dari orang Amerika, ahahaha. Tapi nggak apa, lebih baik terlambat daripada nggak mengenal sama sekali. Karena musik bagus akan selalu jadi musik yang bagus. Nggak ada kata terlambat apalagi basi ;)


Videonya ada di sini, boleh banget lho kalau kalian mau nonton :D


Selesai membuat video kami sebenarnya masih punya banyak waktu karena jam check out baru di tengah hari nanti. Tapi aku ingin segera pulang karena semakin kangen dengan si mungil Kitty. Di perjalanan pulang aku mengucap syukur karena memutuskan untuk menginap. ---Ternyata aku memang membutuhkan staycation, buktinya moodku yang awalnya sudah bagus jadi berkali-kali lipat semakin bagus, hahaha. Aku mungkin lelah, aku mungkin perlu relax tapi aku nggak sadar karena merasa hariku happy-happy saja dan baru terasa setelah mengalami keenggaksengajaan seperti ini :')


Begitu tiba di rumah kami langsung disambut dengan suara tangisan heboh Kitty yang terdengar sejak kami masih di pagar. Segera aku memberinya banyak pelukan dan ciuman untuk menenangkannya. Mainan berserakan di mana-mana dan posisi karpet sudah berubah, ---sudah pasti ulah Kitty. Tapi nggak apa-apa, lebih baik ia menjadi kucing yang aktif daripada murung waktu ditinggal. Soal beres-beres itu sudah tugasnya Shane :p Hahaha, kidding. 

Aku dan Shane mengembalikan semua barang bawaan kami ke tempat seharusnya. Kami lalu membuka camilan dari Emah dan memakannya dengan penuh syukur. I feel loved, ---aku punya suami yang baik, kucing yang manja dan pintar, juga keluarga yang selalu ada saat aku butuh. 


Hidupku lengkap, perlu apa lagi? :)



Vlog ultah yang terlambat. Aku lega sempat mengabadikannya di sini :)



blessed girl,


INDI



Keywords: pengalaman menginap di hotel IBIS Trans Studio Bandung, pesta ulang tahun bersama keluarga, makan-makan, staycation, hotel budget. 


----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik | Novelku, Waktu Aku sama Mika: di sini (Shira Media) dan di sini (Gramedia)

Kamis, 27 Juni 2024

Ketika Aku Menjadi Penyihir, Shane Menjadi Preman, dan Ali Menjadi Anak Cool! (Cerita Halloween Kami)

Aku mengetik ini tengah malam sambil menunggu makanan yang kupesan datang. Shane dan Kitty sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu, lampu-lampu pun sudah dimatikan sehingga sumber cahaya hanya dari laptop dan sesekali layar handphone yang menyala menandakan ada notifikasi masuk. Aku belum mengantuk, kalau sedang menstruasi jadwal tidurku (dan makan, ehm, hehe) selalu berantakan. Memang kurang baik tapi jujur saja aku sangat menikmati saat terjaga sendirian seperti ini. Udara terasa dingin, sisa hujan di sore hari. Seharusnya sekarang musim kering tapi cuaca Bandung memang seringnya nggak bisa ditebak, bisa hujan kapan saja. Dan suasana seperti ini mengingatkanku dengan Halloween, ---musim favoritku, yang selalu bertepatan dengan musim hujan di bulan Oktober. Ya, aku tahu, sekarang masih bulan Juni, tapi suasana ini membuat mood Halloweenku bangkit. Apalagi tungku lilin di samping laptopku sedang melehkan lilin beraroma labu yang manis :)

Rasanya sekarang waktu yang sangat tepat untuk bercerita tentang Halloween-ku (well, kami) di bulan Oktober 2023 lalu. Aku sangat suka dengan Halloween (---eh, barusan aku sudah bilang ya, hehe), perpaduan hujan, film-film seram lama yang diputar di TV, dan rumah hantu-rumah hantu dadakan yang bermunculan membawaku ke perasaan nostalgic. Entahlah, somehow mengingatkanku dengan masa kecil yang hangat meskipun sebenarnya di Indonesia Halloween bukan "hal yang besar". Dulu aku selalu menghabiskan Halloween dengan memakai kostum buatan Ibu dan menonton film seram dengan Bapak hingga larut. Setelah dewasa rupanya aku menikahi seorang Halloween enthusiast! Yup, Shane juga sangat menyukai Halloween, ---jujur saja ia satu-satunya orang yang menyamai energiku :D Setiap tahun, jauh-jauh hari, bahkan sejauh satu malam setelah Halloween selesai saja kami langsung membicarakan rencana tahun depan. Tahun kemarin Halloween kami bertema "Hocus Pocus" yang tentu saja sudah kami bicarakan sejak tahun 2022! :D



Aku punya banyak film favorit yang bertema Halloween, salah satunya "Hocus Pocus" yang entah sudah berapa kali kutonton ulang. Ali, adikku (yang sebenarnya dalam silsilah keluarga adalah keponakanku) sedang dalam fase terobsesi dengan film yang sama. Ia selalu amazed setiap melihat Max, salah satu tokoh utama di film. "Max itu keren sekali, sepatunya bagus," begitu katanya. Dari sanalah ide tema Halloween tahun lalu muncul. Aku memutuskan untuk memberi Ali sedikit kejutan dengan mewujudkan impiannya menjadi "Max Kecil". Shane setuju, ia pun lalu menyebut nama "Billy" ketika aku bertanya tokoh “Hocus Pocus” mana yang akan ia pakai kostumnya. Jawabannya membuatku tertawa, Billy adalah zombie bertubuh kurus yang menurut Shane mirip dengannya tanpa harus memakai kostum, hahaha. Selera humor Shane kadang terlalu "liar", sampai penampilan fisik sendiri pun dijadikan candaan :D 


Sementara aku, awalnya ingin memakai kostum Mary, salah satu penyihir dari Sanderson Sisters. Tapi setelah dipikir aku memutuskan untuk menjadi Dani saja, adik dari Max. Rasanya jadi lebih pas karena jika aku menjadi Mary harus ada yang menjadi Winny dan Sarah alias "sisters yang lain", ---yang mana nggak mungkin karena Shane dan Ali kan laki-laki :D Seperti yang sudah-sudah untuk kostum sebisa mungkin kami memanfaatkan apa yang sudah ada. Dan kalaupun harus membeli yang baru jangan sampai nantinya hanya jadi terlupakan di tumpukan lemari :') Untuk menjadi Dani aku memakai dress hitam buatan Ibu yang outernya kulepas digantikan dengan cape merah yang kubeli di marketplace. Karena di film cape merah Dani bermotif matahari, jadi aku menempel beberapa gambar matahari dengan menggunakan double tape! Hihihi, supaya bisa dilepas kembali dan nantinya ditempel di tempat lain :) Aku juga menambahkan topi penyihir dan ember permen yang sudah kumiliki sejak tahun 2021 untuk melengkapi kostumku. Di film diceritakan kalau Dani memakai kostum penyihir untuk Halloween, btw. ---Hasilnya? Aku puas dengan usaha mix and match-ku ;)


Ali sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi Max. Setelah ia tahu aku membelikannya kaus tie dye, ia langsung video call untuk memberitahu kalau ia sudah siap "melengkapi" kostum dariku. Di film Max memakai dua outfit, kaus tie dye di adegan-adegan awal dan jaket tebal saat ia melakukan trick or treat bersama Dani. Aku merasa outfit yang pertama lebih cocok untuk Ali, lagipula kaus rasanya akan lebih "bisa dipakai" di iklim Bandung yang kadang saat hujan pun terasa lembap. Aku sempat khawatir karena nggak bisa menemukan warna kaus tie dye yang tepat, tapi ternyata Ali dengan pandai memadukan kausnya dengan kaus hitam berlengan panjang dan sepatu keds yang ia miliki! Yup, seperti yang kubilang barusan, Ali sepertinya ditakdirkan menjadi Max :) Dengan budget yang minim ia berhasil "menangkap" style ala Max dengan cerdas.


Lalu bagaimana dengan rencana Shane yang ingin menjadi Billy? Beberapa hari saja sebelum Halloween kami sepakat untuk membatalkannya karena mendadak dapat ide yang dirasa lebih bagus :D Ada tokoh di "Hocus Pocus" bernama Jay yang kemunculannya selalu membuat kami tertawa meskipun sebenarnya ia pemeran pendukung. ---Jay adalah seorang pembully alias preman kampung! Hahaha. Jika Shane menjadi Jay tentu saja akan lebih cocok dibandingkan menjadi Billy, karena di film ia diceritakan selalu mengganggu Max dan Dani. Kostumnya pun sangat gampang, Shane nggak perlu didandani macam-macam karena dari segi postur tubuh dan rambut sudah mirip (bisa-bisanya ia pikir lebih mirip dengan Billy, lol). Dengan memakai jaket kulit imitasi dan kalung tengkorak yang harganya beberapa ribu saja, Shane sudah bisa menjadi Jay versi yang nggak tengil-tengil amat kalau dibandingkan dengan aslinya :p


In case kalian belum pernah menonton "Hocus Pocus", beginilah penampilan Jay, Dani dan Max yang asli :D


Selain kostum dan vibesnya, yang membuatku excited dengan Halloween tentu saja dekorasinya. Nggak banyak yang berubah, aku dan Shane hanya memakai dekorasi yang sudah ada bahkan dari sebelum kami menikah. Beberapa ada juga yang dari project DIY isengku, kondisinya masih bagus karena hanya dipakai setahun sekali :D Yang berbeda hanya karena ini kali pertama kami ber-Halloween di rumah tapak (sebelumnya kami tinggal di apartemen) jadi dekorasinya bisa sampai di luar rumah juga! :') Akhirnya kami kesampaian memajang labu-labu palsu di halaman rumah dan perapian halaman belakang. Kami juga menghiasi jendela yang menghadap ke jalan dengan stiker-stiker seram supaya orang yang lalu-lalang ikut bisa merasakan vibes musim seram, hihi. Sebenarnya rumah kami belum 100% selesai, bagian belakangnya masih berantakan. Tapi nggak apa, malah cocok dengan dekorasi Halloween kan :D


Dekorasi tampak depan rumah kami yang sederhana.

Perapian di halaman belakang masih berantakan tapi tetap kami beri dekorasi Halloween :)


Salah satu project DIY yang kubuat waktu masih tinggal di rumah orangtua.


Halloween tiba, aku dan Shane siap dengan kostum kami. ---Begitu juga Kitty dengan kostum Mike Wazowski-nya yang dibeli secara dadakan. Sebenarnya Kitty nggak perlu memakai kostum karena di film "Hocus Pocus" ada tokoh kucing bernama Thackery Binx. Tapi aku nggak mau kucing kesayangan kami ini merasa ditinggalkan, jadi kuputuskan untuk membelikannya kostum juga :) Meski berasal dari dua judul film yang berbeda tapi Mike sama-sama dari film yang diproduksi Disney, "Monster Inc". Dan kalau dipikir-pikir ceritanya nggak jauh sama "Hocus Pocus" ya, tentang menakuti anak-anak. Cuma bedanya Mike mengambil suara bukan nyawa mereka (---lho kok seram ya kalau dibayangkan, hiii...). Sambil menunggu Ali datang Shane mengambil videoku untuk cover lagu "Come Little Children" yang sudah kurekam semalam sebelumnya. Lagu ini aslinya dinyanyikan Sarah di film untuk menghipnotis anak-anak supaya mereka menghampiri Sanderson Sisters. Karena Ali sangat suka dengan Sarah (ya, selain dengan Max tentu saja), jadi beberapa minggu sebelum Halloween aku merekam Ali yang sedang beracting untuk kemudian digabungkan dengan videoku. 


Kitty dengan kostum Mike Wazowski-nya yang kedodoran :D


Videoku membawakan lagu "Come Little Children". Aku dan Shane bermain ukulele di sini.


Waktu Ali datang aku dan Shane langsung amaze dengan penampilannya. Wow, ia benar-benar seperti Max! :D Ali diantar oleh Ibu dan Bapak, dan Ibu bilang Ali sangat serius sekali dengan kostumnya. Nggak cuma penampilan luarnya, Ali juga pandai sekali meniru gaya Max yang cool. Kami sampai tertawa dibuatnya :) Karena langit sudah mulai gelap tanda hujan akan datang, Bapak meminta kami untuk mengambil foto sebelum melakukan hal lain. Seperti biasa, untuk kenang-kenangan. Hanya Ali yang memakai sepatu, sementara aku dan Shane betah dengan kaus kaki dan sandal kami karena udara terasa dingin. Nggak banyak foto yang diambil karena angin bertiup semakin kencang dan rintik hujan mulai turun. Tapi nggak mengapa karena foto-foto yang sedikit ini sudah cukup menangkap keseruan Halloween kami, yang nantinya akan mengundang senyum ketika kami melihatnya di masa depan ;)


Bagaimana, apa kami sudah cukup mirip dengan Jay, Dani dan Max? :D

Dani dan Max. Di film mereka diceritakan sebagai kakak-adik yang sering berselisih, lho.

Ali dengan gaya ala Max-nya :D

Temanku bilang Shane nggak diapa-apain juga mirip Jay, ahahahaha xD

Skit Hocus Pocus kami.


Perbandingan kami dengan tokoh-tokoh asli di film “Hocus Pocus”. Kami berusaha untuk memakai apa yang sudah ada di rumah :D


Ibu membawakan kami mi goreng dan capcay untuk makan siang, juga sebuah labu untuk diukir. Jadi segera setelah kami masuk ke rumah, hal pertama yang dilakukan adalah makan! Hanya aku, Shane dan Ali saja tepatnya, karena Ibu dan Bapak ingin duduk-duduk di garasi sambil menikmati hujan. Ibu membeli makanan untuk kami dari restoran Chinese Food langganan yang rasanya selalu kami sukai (langganan sejak aku kecil, lho). Mereka punya pilihan vegetarian dan vegan, tapi somehow salah membuat pesanan mi goreng ibuku. Yang seharusnya vegan jadi vegetarian karena bertabur telur orak-arik, huhu :') Aku dan Shane tetap berusaha memakannya dengan cara memilah mi-nya saja karena buang-buang makanan itu sangat BIG NO untuk kami. Tapi lama-lama menyerah juga... Syukurlah Bapak mau menghabiskannya karena Ali mendadak ikut-ikutan vegan dan menolak untuk menghabiskan mi gorengnya :D


Selesai makan hujan turun semakin lebat. Kami putuskan menjadi waktu yang tepat untuk mengukir labu yang Ibu bawa. Labunya berukuran mungil dan terlihat cute. Kata Ibu beliau pilihkan yang paling bagus dari sekian banyak labu di supermarket. ---Iya, kami selalu beli labu dari supermarket untuk Halloween, tepatnya dari Superindo karena di kota Bandung nggak ada pumpkin patch xD Aku dan Ali mencari inspirasi desain pumpkin carving dari internet sementara Shane sudah siap dengan pisau dan sendoknya. Setelah mendapat desain yang paling kami sukai, Shane mulai menggambar pola desainnya dengan menggunakan spidol di permukaan labu. Aku dan Ali mengamati Shane dengan seksama, nggak berani untuk menyentuh pisau mengingat cerobohnya aku dan Ali yang masih terlalu muda. Nggak membutuhkan waktu lama Shane selesai mengukir labu dan melengkapinya dengan lilin elektrik. Bagus sekali, "mata" labunya seperti menyala dan berekspresi. Aku dan Ali pun bertepuk tangan karena kagum. Kami meletakkan labunya di atas pemutar piringan hitam dan akan dikeluarkan keesokan harinya saat hujan sudah reda.


Proses pumpkin carving. ---Kok kebetulan mirip dengan kaus Shane ya? :D

Hasilnya seperti ini. Seram atau imut, nih?


Aktivitas selain mengukir labu yang selalu dilakukan setiap tahun tapi nggak pernah bosan tentu saja memanggang cake "kuburan". Aku sudah melakukannya sebelum ada Ali dan dilanjutkan sampai sekarang. Dulu aku menyebutnya mud cake atau kue lumpur, tapi semenjak ada Ali berganti nama menjadi "kuburan" karena ia selalu menambahkan hiasan batu nisan yang terbuat dari sepotong biskuit :D Sayangnya ketika aku akan menyiapkan bahan-bahan membuat cake, Ibu mengingatkan kalau di pagi hari Ali harus bersekolah :') Ali kecewa, tentu saja. (---Well, aku dan Shane juga begitu). Tapi terobati setelah aku memberinya bahan-bahan membuat cake agar ia bisa melakukannya sendiri (dengan diawasi Bapak) sebelum tidur. Nggak lupa aku menuliskan step by step-nya agar mudah diikuti Ali. Ibu, Bapak dan Ali pun berpamitan untuk pulang, meninggalkan aku dan Shane yang segera memanggang cake kami. Bagaimana dengan Kitty? Oh, ia bergelung di tempat tidurnya dan terlindung dari udara dingin karena masih memakai kostumnya ;)


Cake kuburan buatan aku dan Shane. Ukurannya kecil karena bahannya dibagi dua dengan Ali.

Cake buatan Ali yang bikin bangga! :')


Aku dan Shane menghabiskan sisa hari dengan berkumpul di ruang TV. Shane sudah terkantuk-kantuk sementara aku mencari film seram seru yang bisa kutonton sebagai pengantar tidur. Sebelum aku menemukan tontonan yang kuinginkan HP ku bergetar, ---ada pesan dari Ibu. Isinya membuatku tersenyum dan sedikit terharu. Beliau mengirimkan gambar cake buatan Ali yang berbentuk abstrak :') Katanya Ali bersemangat sekali dan ia bangga dengan cake buatannya. Saking bangganya ia nggak menghabiskannya dan akan membawa sisanya ke sekolah! Aku harap Halloween berikutnya aku bisa kembali memanggang cake bersama Ali, tapi melihatnya bisa melakukan sendiri membuatku merasa bangga :') Akhirnya aku menemukan film yang akan kutonton, judulnya "The Devil on Trial" di Netflix. Lampu ruang TV kugelapkan dan Shane sudah setengah tidur di atas matras lantainya. Meski film dokumenter yang kuntonton bergenre horor tapi suasana malam terasa damai. Sungguh Halloween yang menyenangkan dan membuat hatiku hangat :)


Udara dingin membuat Kitty cepat mengantuk, hihi.


Sehari setelah Halloween aku membuat pizza sayur dan tahu berbentuk pumpkin :)


Vlog Halloween kami :)


Well... begitulah cerita Halloween kami. Aku begitu terlarut saat menulis cerita ini sampai-sampai hampir lupa kalau sekarang masih bulan Juni. ---Kalau saja aku nggak melihat pojok bawah monitorku yang menunjukkan bulan apa sekarang :D Makananku sudah datang (jamur dan kale, yum).  Setelah menutup laptop aku akan makan sambil menonton video-video Halloween lamaku (thanks to Bapak yang selalu rajin mengabadikan moment). Setelah itu tentu aku akan menyusul Shane dan Kitty yang sudah tertidur nyenyak. ---Apakah mereka sedang bermimpi tentang Halloween? Ah, siapa yang tahu! :p


boo,

Indi



Catatan: Senang sekali bisa kembali menulis di sini. Sejak bulan April kesehatanku menurun. Hasil tes darahku baik, nggak ada yang perlu dikhawatirkan tapi dokter masih ingin melakukan beberapa tes lagi untuk tahu sumber rasa sakitku. Aku berencana untuk berkonsultasi dengan dokter lain karena merasa dokter yang sebelumnya kurang "mendengarkan". Tapi kabar baiknya aku sudah bisa lebih mengontrol rasa sakitku dengan yoga. So, aku sudah bisa sering-sering di sini dan berkunjung ke blog kalian. See you soon! ;)

Oya, Halloween juga membawa rezeki untuk Kitty. Aku mendaftarkannya ke kontes kostum Halloween yang diselenggarakan oleh Monsabel Pet Clinic dan ia menjadi salah satu pemenangnya! <3


Keywords: Pengalaman merayakan Halloween di Indonesia, kostum Halloween, tema Halloween Hocus Pocus.









----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik | Novelku, Waktu Aku sama Mika: di sini (Shira Media) dan di sini (Gramedia)


Kamis, 22 Februari 2024

Izin Tinggal yang Menyebalkan dan Mall yang Menyenangkan! :)

Keputusan Shane untuk tinggal di Indonesia memang mengejutkan. Bayangkan saja, Shane nggak pernah pergi jauh dari negaranya, Amerika, ---paling jauh hanya sampai Jamaika. Lalu tiba-tiba saja ia bilang ingin mengunjungi aku, (yang waktu itu masih) sahabat internetnya di Indonesia. Aku bilang pada orangtuaku kalau akan ada teman yang berkunjung. 

"Tiga minggu saja paling lama," ujarku pada Ibu dan Bapak, ---yang ternyata keliru. 

Shane dan aku saling jatuh cinta segera setelah kami bertemu. Perubahan status kami dari sahabat ke sepasang kekasih membuat Shane mengubah rencananya. Orangtuaku terkejut, keluarga Shane apa lagi! Tapi mereka ikut berbahagia dan mendukung apapun keputusan kami :)


Aku dan Shane sama-sama clueless tentang izin tinggal di Indonesia. Shane ke Indonesia menggunakan visa kunjungan yang hanya berlaku selama satu bulan. Lalu bagaimana caranya agar ia bisa di sini bersamaku selama tujuh bulan kami berpacaran? Well... sekarang sih terdengar "lucu", tapi percayalah waktu itu cara yang Shane lakukan adalah satu-satunya cara yang masuk akal bagi kami. Jadi setiap masa tinggalnya habis Shane pergi ke Singapura di pagi hari dan kembali lagi ke Indonesia di sore hari DEMI MENDAPATKAN CAP VISA KUNJUNGAN DI PASPORNYA! Iya, orang yang sekarang jadi suamiku itu rela pulang-pergi ke luar negeri satu bulan sekali, bahkan tanpa meninggalkan Bandara untuk mengejar penerbangan berikutnya, supaya ia bisa tinggal dengan legal di Indonesia, ahahahaaa :"D


Untung saja beberapa minggu setelah menikah kami diberi tahu kalau ada yang namanya KITAS, ---Kartu Izin Tinggal Sementara untuk WNA yang berlaku selama satu tahun (---nah, mengerti kan kenapa kami jadi merasa konyol, hahaha). Atas saran Alison, mantan atasanku di Preschool tempat aku dulu mengajar, kami menggunakan jasa agen untuk mengurus segala macam dokumen yang diperlukan. Jadi selama satu tahun pertama kami tenang, izin tinggal Shane sudah ada yang mengurus dan kami hanya perlu ke Imigrasi  untuk pengambilan foto dan sidik jari. Praktis, cepat, ---tapi kami terkejut setelah tahu berapa biaya asli pembuatan KITAS. Ternyata kami membayar hampir dari tiga kali lipat! Huaaa, agak menyesal rasanya, dan sejak saat itu kami memutuskan untuk mengurusnya sendiri saja. Kan lumayan tuh uang lebihnya bisa dipakai buat jatah makan seblak satu tahun :p


Tahun pertama mengurus KITAS berdua saja kami masih meraba-raba. Kami menjelaskan pada pihak Imigrasi kalau sebelumnya kami menggunakan jasa agen jadi belum mengetahui apa saja yang harus kami bawa. Aku ingat sekali waktu itu aku dan Shane saling bertukar pandang karena heran. Di zaman yang serba digital ini ternyata fotokopi KTP, Kartu Keluarga, CNI, dsb, dst, masih juga menjadi salah satu persyaratan perpanjangan KITAS. Dengan banyaknya kolom di formulir yang diisi, dengan seluruh data kami yang sudah ada di komputer, kenapa fotokopi masih diperlukan? Kertas-kertas fotokopi yang isinya selalu sama setiap tahun itu memang nantinya dikemanakan? Jangan sampai deh berakhir di tukang gorengan. 


Jadi setiap akhir tahun saat keluarga kami merencanakan liburan, aku dan Shane merencanakan kunjungan kami ke Imigrasi, hahaha. Di kedatangan pertama aku dan Shane harus menyerahkan segala macam fotokopi, foto terbaru, paspor, mengisi formulir dan membayar biayanya. Setelah itu kami dijadwalkan untuk pengambilan data biometrik (sidik jari dan foto). ---Yup, semua itu nggak bisa dilakukan di satu hari saja. Lumayan menguras tenaga fisik dan mental karena jarak dari rumah ke Imigrasi nggak dekat dan perjalanannya nggak pernah mulus (warga Bandung pasti paham kalau di daerah Surapati always macet, sniff...). Pernah satu kali kami terpaksa kembali lagi ke rumah hanya karena nggak membawa CNI. Padahal satu malam sebelumnya kami menerima email dari Imigrasi yang NGGAK menyebutkan CNI sebagai salah satu persyaratan. Aku sampai menunjukkan bukti email dan Buku Nikah, karena CNI itu sendiri adalah surat bukti kalau Shane nggak terikat pernikahan di negaranya. Harusnya kita nggak butuh CNI lagi dong karena sudah menikah legal di sini dengan bukti Buku Nikah dan data di Disdukcapil? :'D Tapi tetap saja mereka kekeuh menginginkan selembar kertas fotokopi dari kedutaan Amerika itu.


Bulan Desember 2023 yang lalu ketika akan melakukan "kunjungan" rutin ke Imigrasi level anxiety kami cukup tinggi. Dua tahun yang lalu aku dan Shane sempat merasa nggak nyaman karena salah seorang petugas memanggilku dengan sebutan "Kakak" dengan nada over friendly (ykwim...) dan berkomentar tentang penampilanku. Bukan saja terkesan nggak profesional tapi juga membuat Shane merasa kurang dihargai (ia merasa "dikacangin"). Like, why does he care about my appearance? Panggilan "Kakak" dan mengomentari kalau styleku "Kawaii" itu nggak appropriate untuk diucapkan di tempat yang formal. And he's NOT even my friend! ---To be clear ya, BUKAN panggilan “Kakak” nya yang jadi masalah. Tapi ini soal tempat dan sedang dalam kepentingan apa. Di tempat di mana semua orang dipanggil “Ibu” dan “Bapak” (bahkan Shane dipanggil “Sir”), kenapa petugasnya memilih memanggilku dengan sebutan yang berbeda dan membuat komentar nggak perlu soal penampilan dan saat melihat foto KTP ku? Ia bahkan nggak bertanya apa-apa sama Shane, seolah nggak kelihatan. Padahal Shane yang berkepentingan untuk urusan KITAS. Aneh :S Meski petugasnya sekarang sudah nggak bekerja di sana tapi tetap aku dan Shane jadi menetapkan Imigrasi sebagai tempat least favorite kami. "Vibesnya nggak enak," begitu kata Shane. Syukurlah persyaratan perpanjangan KITAS kami nggak ada yang kurang dan berjalan lancar, ---atau kami kira begitu...


Di kunjungan kami yang kedua untuk pengambilan data biometrik, seharusnya menjadi hari yang sama dengan pengambilan paspor milik Shane. Tapi kemarin nggak begitu, setelah menunggu sebentar kami diberitahu kalau paspor belum bisa diambil. Waktu aku bertanya sama petugasnya kapan, ia menjawab, "Belum tahu, whatsapp saja ke sini hari Senin. Tanyakan tentang status permohonan KITAS nya dan kapan paspornya bisa diambil."

Jujur, rasanya kepengin nangis tahu nggak sih, ahahaha... Sudah jauh-jauh datang, DUA KALI PULA, eh masih juga harus kembali lagi, KAPAN-KAPAN (karena bahkan petugasnya saja belum tahu, ahahahaha). Kalau begini rasanya lebih baik kami kembali pakai agen saja! Ingin rasanya menyerocos bertanya kenapa kami nggak dikabari saja lewat Whatsapp, email, telepon, pos, atau apapunlah supaya kedatangan kami nggak sia-sia. Tapi semuanya hanya di dalam kepalaku, karena badanku rasanya terlalu lemas dan mood sudah jelek. Aku hanya ingin pulang dan tidur.


Tapi Shane rupanya punya ide lain, alih-alih setuju untuk pulang ia mengajakku untuk ke mall. Katanya ia ingin membuat hari kami yang dimulai dengan sangat menyebalkan menjadi lebih baik. Senyumku pun kembali. Bukan karena gembira akan berjalan-jalan di mall, tapi karena aku bersyukur memiliki suami yang selalu mencoba "memperbaiki" hari untuk kami :) Dengan bantuan aplikasi map di handphone aku menemukan mall terdekat dari gedung Imigrasi, Mall Bandung Indah Plaza, mall yang sempat menjadi tempat favoritku ketika masih kecil sampai remaja. Segera kami ke sana tanpa rencana dan tanpa tahu apa yang ada di sana. Sudah sangat lama sejak terakhir kali kami mengunjungi mall tertua di Bandung itu. (---Itu pun sangat sebentar, untuk makan karena terlewat saat pulang sehabis kami dari Rumah Sakit). Di perjalanan Shane berkata kalau aku harus bersenang-senang di sana, lakukan apa saja yang aku inginkan dan jangan pikirkan soal urusan Imigrasi yang menyebalkan.


BIP, mall masa kecil dan remaja. Sudah banyak yang berubah, jadi kangen suasana dulu, huhu.


Mall sedang nggak terlalu ramai. Di beberapa pojok terlihat sedikit festive karena sedang suasana Natal dan Tahun Baru. Dengan mantap aku langsung mengajak Shane ke restoran fast food yang menjual burger plant based. ---Junk food nabati memang selalu sukses membuat moodku lebih baik, hehe. Kami ke Burger King karena plant based whopper mereka enak sekali (dan sangat mengenyangkan!). Sayang ternyata stocknya habis :') Perasaanku sih sepertinya mereka memang sudah discontinued, at least untuk wilayah Bandung karena di cabang lain pun jawabannya selalu sama. Tapi mungkin supaya terdengar halus dan menjaga supaya harapan para vegan tetap tinggi jadi bilangnya "habis" :p Untung saja di lantai paling atas ada A&W. Mereka punya menu yang namanya Veggie Burger. Rasa dan teksturnya lebih mirip perkedel dibandingkan dengan burger, tapi menurut kami sih sama-sama enak apalagi saat dipadukan dengan curly fries. 


Dekorasi mall sangat minim, di lantai atas malah hampir gak ada dekorasi :D


Kami makan sambil mengobrol ini-itu, sama sekali nggak membahas soal Imigrasi. Shane dengan random bilang kalau ia tiba-tiba ingat lima tahun yang lalu di hari yang sama kami makan di foodcourt Metro Indah Mall dan ia mengambil fotoku yang sedang duduk di depan pohon Natal. Aku tertawa mendengarnya, aku ingat waktu itu kami baru sekitar dua minggu menikah dan aku sedang ingin makan seblak. Jadi bibirku tampak merah dan dower sekali di foto, hahaha. Somehow Shane menyukai foto itu dan sampai sekarang masih menjadikannya wallpaper di handphonenya :) Oh iya, Shane dulu bukan "anak mall", ia lebih suka pergi ke toko musik atau hangout di rumah teman-temannya. Tapi semenjak bersamaku tampaknya ia jadi menyukai mall, bahkan mulai hapal dengan nama-namanya, hehe.


Hahaha, sign di belakang kami. Aku bertanya sama Shane apa ia merasa "di rumah" :p


Foto kenangan bibir dower di foodcourt Metro Indah Mall, hahaha :D


Selesai makan Shane bertanya padaku apa lagi yang ingin kulakukan. Aku berpikir sejenak lalu mengajaknya ke bioskop untuk melihat film apa saja yang sedang diputar. Kebetulan sekali ada "Wonka", dan hari pertama tayang! Sejak kecil Shane sangat menggemari film "Willy Wonka and the Chocolate Factory" (1971), film yang (seharusnya) menjadi adaptasi dari buku Roald Dahl yang berjudul "Charlie and the Chocolate Factory". Sementara aku adalah penggemar berat buku-buku Roald Dahl, baik buku anak-anak maupun buku dewasanya. Jadi menonton film ini merupakan win-win untuk kami; Shane bisa menonton "prekuel" dari film favoritnya, sedangkan aku bisa membandingkan karakter Wonka dengan yang di buku. Kupikir bioskop akan ramai, apalagi di hari Senin harga tiket lebih murah. Tapi ternyata di dalam teater hanya ada kami berdua dan beberapa orang di baris samping dan belakang kami. Aku menyukainya :)


Poster film "Wonka".


Kedua buku tentang Willy Wonka dan karya Roald Dahl yang lain.


Aku dan Shane sangat menikmati filmnya, ---aku bahkan sempat terlarut di beberapa adegan dan sedikit meneteskan air mata :'D Telinga dan mata kami terasa dimanjakan, semuanya porsinya pas, dari drama, hal-hal magis dan musiknya. Mungkin kalau aku terlalu berharap filmnya patuh dengan cerita di buku Roald Dahl aku nontonnya bakal kecewa, ya. Tapi karena sudah belajar dari film-film adaptasi Roald Dahl lain yang hampir NGGAK PERNAH persis bukunya, aku jadi menikmati filmnya sebagai sebuah karya mandiri yang "diinspirasi" Roald Dahl saja. Karena kalau dibilang jadi prekuel film versi tahun 1971 pun sebenarnya nggak nyambung-nyambung amat. Background storynya ke mana-mana, hanya karakter Willy Wonka saja yang mendekati. Disambungkan dengan film "Charlie and the Chocolate Factory" versi tahun 2005 (yang mana paling patuh dengan bukunya) apalagi, ---makin jauh, ahahaha. Jadi ya dinikmati apa adanya saja. Oya, di film "Wonka" juga ada kejutan menyenangkan dari Rowan Atkinson, yang meski perannya nggak banyak tapi sukses bikin aku tersenyum haru. Sebelumnya di film adaptasi Roald Dald yang berjudul "The Witches" (1990) ia juga punya peran sebagai Mr. Stringer, eh tiba-tiba sekarang muncul lagi sebagai Pendeta. Jadi makin nostalgia masa kecil, kan! :'D 


Begitu keluar dari teater, aku dan Shane sepakat kalau filmnya membuat kami jadi ingin makan cokelat! Tanpa berbelok ke mana-mana dulu kami langsung ke supermarket di lantai dasar dan mencari cokelat "yang bisa kami makan". Kebanyakan cokelat yang dijual di pasaran mengandung susu, dan kami yang vegan ini menghindarinya. Syukurlah setelah mencari nggak terlalu lama kami menemukan dark chocolate yang kemasannya cukup besar untuk dimakan berdua! Biasanya kami hanya menemukan chocolate bar kecil, jadi harus beli beberapa supaya puas. Tapi kali ini kami dapat kemasan pouch yang isinya ada banyaaaak. Hore! :) 

Nggak terasa hari sudah semakin gelap, kami putuskan untuk segera pulang setelah sebelumnya membeli treat untuk Kitty, si kucing mungil, yang ditinggal sendirian di rumah. Kami banyak sekali tertawa. Kalau saja nggak melihat outfit kami yang memakai batik, aku nggak akan ingat kalau sebelumnya habis mengalami hari yang menyebalkan di Imigrasi :p


***


"Shane, kalau tiba-tiba kita ketemu Steven Tyler terus dia naksir aku gimana?" Tanyaku iseng.

"Oh, nggak apa-apa, nanti kamu pura-pura suka sama dia. Terus kalau dia kasih kamu uang jangan lupa bagi aku ya," jawab Shane.

Aku tersenyum nakal, "Tapi kalau aku naksir beneran sama dia gimana?"

Shane diam sejenak, menatapku dengan serius lalu berkata, "Ya, artinya kamu tetap saja harus bolak-balik ke Imigrasi. Kan Steven Tyler juga perlu Kitas. Dia dan aku nggak ada bedanya kalau di Indonesia, sama-sama WNA!"

"Oh, iya juga ya," aku terkikik geli. 


Nggak, aku nggak naksir Steven Tyler, kok. Aku nggak akan menukar suamiku ini dengan apapun, hahaha. Nggak bisa aku membayangkan diriku dengan orang lain selain dengan Shane, ---yang selalu berusaha mengubah hari menyebalkan menjadi hari terbaik sedunia! ---Ia sudah lebih dari cukup untukku :)


blessed girl,


Indi


Kalau teman-teman ingin membaca proses pernikahanku dan Shane bisa baca di sini :)

____________________________________

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik