Minggu, 28 September 2014

Requested post: How to Donate your Hair? :)

Hai bloggies, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik, dan untuk yang sedang sakit tentu saja semoga cepat sembuh :) Keadaan gue sendiri baik dan bersemangat, ada beberapa hal baru yang sedang gue kerjakan dan ada beberapa rencana untuk akhir tahun ini. Selalu excited jika mempunyai pengalaman baru, hihihi. Nanti kalau semuanya sudah ‘siap’ akan gue ceritakan di sini. Doakan saja semua berjalan lancar, ya ;)
Sebelum gue bercerita tentang ‘hal-hal baru’, sekarang gue mau berbagi cerita tentang yang baru saja dialami. Mungkin teman-teman masih ada yang ingat kalau beberapa bulan yang lalu gue mendonasikan rambut ke Locks of Love. Nah, gue baru saja menerima kartupos dari mereka. Isinya ucapan terima kasih atas donasi gue untuk anak-anak yang membutuhkan wig alias rambut palsu. Kebanyakan yang menerima wig donasi dari mereka adalah pengidap alopecia areta, yang sampai sekarang belum ada obatnya. Dan sisanya adalah pasien kanker, korban luka bakar dan beberapa penyakit lain yang menyebabkan rontoknya rambut secara permanen :( Meskipun gue nggak bisa bertemu dengan anak yang menerima rambut gue secara langsung, tapi gue senang karena seenggaknya ada bagian kecil dari gue yang membuatnya tersenyum :)

Karena menerima kartupos tersebut gue jadi ingat bahwa ada banyak teman-teman di blog, Facebook, Twitter dan Instagram yang bertanya pada gue tentang cara mendonasikan rambut. Well, sebenarnya gue sudah pernah ceritakan plus share videonya di sini. Tapi berhubung nggak semuanya pernah baca post itu, jadi gue putuskan untuk membanginya lagi. Kali ini akan gue jelaskan secara step by step agar mudah diikuti ditambah beberapa daftar beberapa organisasi (plus alamatnya) yang menerima donasi rambut.
Okay, here we go... :)
  •  Pertama, cuci bersih rambut lalu keringkan. Jika memiliki rambut keriting, coba catok lurus terlebih dahulu agar mudah mengukur panjangnya. Pastikan kondisi rambut sehat dan belum pernah mengalami proses bleaching. Jika hanya di cat itu masih bisa diterima.
  • Ikat rambut, lalu ukur dengan penggaris untuk memastikan panjang yang tepat. Letakan penggaris di bawah ikat rambut. Jika rambut sangat tebal boleh ikat rambut jadi beberapa bagian. Jangan lupa untuk ikat ujung bawah rambutnya juga. (Catatan penting: Donasi rambut minimal panjang 10 inci).
  • Gunting rambut di ATAS ikat rambut dengan rapi.
  •  Masukkan rambut yang sudah dipotong ke dalam kantong zip lock (dapatkan di toko plastik, toko buku atau toko peralatan membuat kue).
  •  (Optional) Di selembar kertas, tulis nama, alamat lengkap dan alamat email kita. Ini agar mereka bisa mengirimkan lembara pengetahuan atau ucapan terima kasih atas donasi kita. (Catatan penting: Jangan mengharapkan balasan sertifikat karena ini untuk amal nggak semua yang memberi donasi diberi sertifikat dengan alasan "menekan biaya")
  • Lalu masukan zip lock yang sudah berisi rambut dan kertasnya ke dalam amplop ber ‘pad’. Jika sulit untuk menemukannya, kita bisa melapisi amplop coklat biasa dengan bubble wrap.
  •  Jangan lupa pastikan kita menulis alamat organisasi dengan benar dan dengan nilai prangko yang cukup agar paket rambut kita nggak ‘nyangkut’ di suatu tempat. Rambut yang sudah terlalu lama, apalagi rusak nggak bisa dibuat wig.



  • Rambut yang beruban juga diterima, lho. Tapi nggak dengan rambut extension atau dread lock :)

  

Bagaimana? Mudah sekali, kan ;) Mudah-mudahan step by step dari gue bisa dipahami, ya. Sedikit tips, pastikan orang yang membantu memotong rambut mengerti dengan step by step nya. Karena kesalahan kecil seperti memotong rambut di bawah karet misalnya, bisa membuat rambut tercecer dan terpaksa dibuang, deh. Atau teman-teman bisa tunjukan video yang gue share pada stylish di salon atau teman yang membantu sebelum mulai memotong rambut :)

Jika ada yang menebak asalan gue mendonasikan rambut karena pernah terkena tumor payudara, maka jawabannya adalah: salah, hehehe. Sebenarnya ide ini muncul karena nggak sengaja. Teman-teman gue sering berkomentar tentang betapa cepatnya rambut gue panjang. Dalam 1 bulan saja bisa sampai 2 kali ke salon untuk memotong poni. Dan karena gue nggak terlalu nyaman dengan rambut panjang, maka secara rutin rambut gue disapu begitu saja di lantai salon bahkan sebelum menyentuh bahu. Tanpa sadar selama ini ternyata gue menyia-nyiakan rambut, padahal banyak sekali orang yang menginginkannya. Sejak itulah gue bertekad untuk memanjangkan rambut selama 6 bulan (dan melewati bahu, hahaha) lalu mendonasikannya dengan menyisakan panjang rambut di bawah telinga :)
Menurut gue donasi rambut juga cocok untuk teman-teman yang takut jarum suntik atau terpaksa nggak bisa mendonasikan darah karena mengidap penyakit yang ditularkan lewat darah. Donasi rambut bisa untuk siapa saja, bahkan anak-anak sekalipun selama memiliki rambut yang sehat dan panjang rambut yang cukup.



Hari ini, 5 bulan setelah berdonasi rambut gue sudah tumbuh sekitar 9 cm. Nggak sabar rasanya menunggu rambut gue kembali melewati bahu dan didonasikan lagi :) Rambut palsu memang nggak bisa menyembuhkan alopecia areata, kanker atau luka bakar. Sebagai perempuan yang sudah 15 tahun hidup bersama scoliosis gue anggap rambut palsu sama seperti jaket yang dulu sering gue pakai. Gue mengerti betul bahwa jaket memang nggak bisa menyembuhkan scoliosis. Tapi dengan memakainya gue bisa berbaur dengan teman-teman sebaya dan mereka menilai tanpa melihat apa gue idap, secara netral tanpa merasa ‘kasihan’ sebelum melihat kepribadian gue. Dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar :) Bukan berarti gue nggak bahagia dengan yang Tuhan berikan. Gue sangat bersyukur dan bangga dengan tubuh yang dirancang secara spesial oleh Tuhan khusus untuk gue. Tapi sesekali gue ingin dilihat secara ‘netral’, dan gue percaya semua orang pun begitu :) Trust me, ada anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan rambut. Dan hanya dengan 10 inci dari rambut yang kita punya bisa membuatnya tersenyum lebar :)


Donasikan rambut ke sini:
Locks of Love
234 Southern Blvd.
West Palm Beach, FL 33405-2701

Little Princess Trust
Sheridan House
114-116 Western Road 
HOVE
BN3 1DD (UK)

Pantene Beautiful Lengths
Attn: 192-123
806 SE 18th Ave.
Grand Rapids, MN 55744

Wigs for Kids
4231 Center Ridge Road, Westlake, Ohio 44145

Shave for Hope
Ini event Indonesia. Kontak mereka di twitter: @shaveforhope. Atau,

Coba hubungi yayasan kanker atau rumah sakit yang lokasinya dekat dengan kalian. Mendahulukan untuk membantu yang dekat tentu akan lebih baik :)

cheers,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 21 September 2014

Seorang Guru Berusia 6 Tahun :)


Keponakan gue yang baru berusia 6 tahun suka sekali lihat-lihat foto atau nonton video di handphone gue. Kalau ke rumah, dia sering request, 
"Kak, lihat video teman Kakak yang main gitar itu, dong."
Hehe, maksudnya John Frusciante, idola gue, tapi dia selalu menganggap apa yang ada di handphone gue itu 'teman' atau 'saudara' :)
Keponakan gue ini belum bisa main gitar, bahkan belum pernah pegang gitar sungguhan, tapi selalu senang jika melihat John Frusciante bermain gitar. Belakangan dia mulai perhatikan kalau di tangan John banyak abses. Tadi dia bertanya,
"Kak, tangan Om nya sakit, ya?"
Gue sebenarnya agak deg-degan, karena menjelaskan tentang "abses yang disebabkan penggunaan heroin" pada anak usia 6 tahun bukan pilihan yang bijak. Jadi gue putuskan untuk bilang,
"Iya, tangan Om nya lagi sakit."
Keponakan gue lalu minta gue pause videonya, dia mengamati tangan John lama sekali. Dengan jarinya ia membelai monitor, seperti menenangkan anak kecil yang baru saja terluka. Dengan sungguh-sungguh dia berkata,
"Cepat sembuh ya, Om," lalu memberinya ciuman kecil.

Mendengar dan melihat reaksinya gue langsung tertawa sekaligus terharu. Anak berusia 6 tahun menunjukan empati pada seseorang yang bahkan belum pernah dia temui. Kita (well, gue) rasanya harus belajar banyak dari anak-anak. Betapa mereka nggak pernah menjudge seseorang hanya karena luarnya. Dan saat mereka bertanya, mereka bertanya karena peduli. Bukan karena "kepo" dan ingin mendapat jawaban untuk kemudian sekedar berkomentar, "Oh..." tanpa empati, sekedar memuaskan rasa penasaran.
God bless you, little boy. Semoga kemurnian hatimu bertahan sampai selamanya. Amen... :)



"My arms are... are pretty badly scarred. I guess people are always wondering so I might as well say that.. um.. that the way my arms got the way that they look, um... it was from abscesses, which came from shooting huge amounts of drugs. The result could have been a lot worse, so I'm happy to have the scars from a period of my life when I was living destructively, just as a... as a sign of what I've been through. And, uh... these days, I-I'm (tergagap), you know, being healthy and taking care of my body is so important to me. But looking at it here, is seems like my arms have gotten better since then, so... that's nice to see." 


proud auntie,

Indi 

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Sabtu, 06 September 2014

"Guruku Berbulu dan Berekor", a Charity Novel :)


Hi Bloggies, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik, ya. Dan kalau ada yang sedang sakit, semoga cepat sembuh :)

Novel Guruku Berbulu dan Berekor ditemani foto Veggie waktu bayi :)

Gue tumbuh di tengah keluarga yang mencintai hewan. Sejak kecil selalu saja ada hewan peliharaan di rumah. Dari mulai burung, ikan, kucing, hamster, kura-kura, tikus sampai anjing. Gue selalu diajarkan oleh Ibu dan Bapak untuk mencintai dan menghormati sesama makhluk Tuhan, termasuk hewan. Kami memastikan hewan-hewan yang tinggal di rumah nyaman dan terawat, tanpa berarti memanusiakan mereka. Hingga mereka menjadi lebih dari sebagai hewan peliharaan, tapi juga menjadi sahabat dan bahkan guru! :)

Ketika gue beranjak remaja gue mempunyai hewan peliharaan sendiri, seekor anjing golden retriever betina bernama Veggie. Kami tak terpisahkan, kemana pun gue pergi Veggie (hampir) pasti ikut. Termasuk pergi keluar kota, kami berbagi bangku belakang mobil, hihihi. Ketika Veggie tumbuh besar dokter mengatakan bahwa ia mengidap epilepsi, nggak bisa disembuhkan. Yang bisa gue dan keluarga lakukan hanya berdoa dan memastikan ia nyaman selama sisa hidupnya. Meskipun begitu, Veggie tetap menjadi anjing yang penuh semangat. Ia belajar banyak trik baru dan selalu melindungi gue. Pernah suatu kali Iie (tante gue) pura-pura sakiti gue, dan Veggie dengan sigap langsung menyerangnya! 

Sayangnya di usianya yang belum 7 tahun Veggie harus pulang ke surga. Gue dan keluarga merasa kehilangan sekali. Bukan hanya sebagai hewan peliharaan, tapi Veggie juga menjadi sahabat, guru sekaligus motivator yang mengajarkan kami agar selalu bersemangat dalam keadaan apapun. 

Pengalaman gue dan keluarga dengan hewan peliharaan kami, terutama Veggie menginspirasi gue untuk menulis sebuah novel yang didedikasikan untuk hewan-hewan di seluruh dunia. Gue percaya, bukan hanya kami yang mempunyai pengalaman mengesankan dengan hewan peliharaan. Maka gue mengajak orang-orang yang mempunyai/pernah mempunyai hewan peliharaan untuk menuliskan kisah mereka. Melalui internet gue mengenalkan project ini dan mempersilakan siapapun untuk mengirimkan kisahnya pada gue. Yup, siapapun: dari berbagai profesi, usia dan latar belakang. Bahkan ada diantara mereka yang mengirimkan rekaman audio karena (merasa) nggak bisa menulis. Kisah-kisah itu lalu gue susun jadi sebuah naskah, termasuk kisah tentang Veggie si anjing pemberani. Lalu jadilah novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" :)

Gue sadar meskipun banyak yang mencintai hewan, tapi ada juga orang-orang yang memperlakukan hewan seolah benda nggak bernyawa. Misalnya saja, ada yang begitu tertarik dengan keimutan puppy di balik kaca pet shop, membelinya dan memamerkannya pada teman dan kerabat. Tapi setelah puppy itu tumbuh lalu menjadi anjing tua, ia pun dijual kembali atau malah diterlantarkan begitu saja... 
Jadi gue putuskan royalti dari novel "Guruku Berbulu dan Berekor" digunakan untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan. Setiap royalti yang gue terima akan disalurkan pada penampungan-penampungan hewan di seluruh Indonesia. Dan dengan kisah-kisah di novel ini gue harap bisa membantu menyebarkan pesan kepedulian pada hewan-hewan di sekitar kita. Untuk mencintai dan menghormati mereka, karena setiap mahkluk Tuhan pasti ada tempat dan fungsinya masing-masing di dunia ini, bukan untuk disakiti.


Sejak awal novel "Guruku Berbulu dan Berekor" beredar di pasaran, gue sudah sadar dengan kesulitan yang akan gue hadapi. Genre seperti novel ini masih jarang peminatnya, apalagi pembaca mengharapkan gue menulis lebih banyak lagi tentang Mika (dari novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna"). Tapi gue percaya dengan maksud baik dan kesungguh-sungguhan gue ketika menulis novel ini pasti akan membuahkan hasil. Entah itu besar, entah itu kecil, tapi gue percaya "Guruku Berbulu dan Berekor" akan mempunyai tempat istimewa di hati pembaca dan para penyayang hewan :)

Setiap gue membaca komentar-komentar pembaca tentang novel ini rasanya hati gue hangat dan semakin optimis akan kehidupan hewan-hewan di sekitar kita. Gue percaya semuanya akan semakin membaik. 

"Aku pernah baca buku kakak yang judulnya “Guruku Berbulu dan Berekor“. Awalnya aku ngeliat judulnya itu ngerasa unik gitu, jadi tertarik untuk baca. Ternyata isi bukunya juga menarik, klop deh." 
(Zia)

"Ada resensi Guruku Berbulu dan Berekor (di majalah Gadis)  yang membuat aku membeli bukunya. Dan ternyata memang bener-bener seru..." 
(Angie dan Sanae)

"Setelah membaca Guruku berbulu dan Berekor jadi kepengen nambah hewan peliharaan lagi."
(Andre Prasyawan)


Apalagi setelah gue menerima royaltinya dan menyalurkannya pada hewan-hewan yang membutuhkan. Perasaan senang dan harunya benar-benar nggak bisa diungkapkan! Yang pasti gue berterima kasih dan bersyukur pada teman-teman yang sudah membantu project ini, baik dengan menyumbangkan kisah atau dengan membeli novel "Guruku Berbulu dan Berekor". Setelah royalti pertama didonasikan pada ARAC (Animal Rescue and Adoption Center) atau adopsianjing.com yang merupakan komunitas non formal yang menggalang bantuan bagi para hewan, royalti kedua yang gue terima sudah didonasikan pada 2 ekor anjing golden retriever yang diterlantarkan di jalan tol. Oleh Mbak Reny (penemu dan pe-rescue) mereka diberi nama Dhana dan Dhani. Mereka berdua dalam keadaan sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk pulih. Semoga donasi dari novel "Guruku Berbulu dan Berekor" bisa membantu mereka. Amen.... :)


Perjalanan novel ini tentu masih jauh. Tujuan project gue ini baru dikenal oleh sebagian kecil orang, tapi gue nggak akan berhenti berusaha. Gue yakin langkah kecil gue jika dibantu dengan teman-teman semua maka akan lebih cepat sampai. Jadi jika teman-teman ingin membantu mewujudkan kehidupan yang lebih baik untuk hewan-hewan di sekitar kita melalui novel "Guruku Berbulu dan Berekor", kalian bisa membelinya dengan harga Rp. 45.000 di Indi Sugar Official Store. Caranya cukup SMS atau whatsapp ke 081322339469. Dan seluruh royalti akan disumbangkan pada penampungan-penampungan hewan di Indonesia.
Selalu menyenangkan jika bisa membantu sesama mahkluk hidup, kan? :)



"Menyelamatkan seekor hewan tidak akan mengubah dunia, tapi akan mengubah dunia untuk hewan itu..."
(Guruku Berbulu dan Berekor, halaman 17)

salam,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 25 Agustus 2014

A Date with Daddy: Jalan-jalan Cute Bersama Bapak :)


Tahukah teman-teman bahwa aku adalah "daddy's little girl"? Hehe, sepertinya yang cukup rajin mampir ke sini pasti tahu ya, soalnya aku sering sekali bercerita tentang Bapak (klik di sini dan di sini) :) Aku selalu senang jika berjalan-jalan ---atau aku sebut dengan 'date'--- dengan beliau, rasanya seperti melupakan kehidupanku sebagai orang dewasa. Semuanya serba menyenangkan, serba manis dan jika selesai selalu kutunggu-tunggu date selanjutnya :) Seperti hari ini (24 Agustus 2014), akhirnya kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan Bapak tiba. Beberapa waktu lalu aku dan Bapak sempat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, waktu bertemu kami hanya setelah dinner dan saat Bapak mengantarkan aku berkerja. Jadi waktu hari ini datang rasa senangnya berkali-kali lipat! :D

Sebenarnya ini adalah date tanpa rencana, satu hari sebelumnya filter aquariumku macet dan aku minta Bapak untuk membelikan yang baru. Bapak berkata besok beliau akan membelikannya untukku. Tapi ternyata sampai tadi sore Bapak lupa, dan sebagai gantinya beliau mengajakku untuk membelinya bersama-sama. Jelas saja aku nggak menolak, karena aku senang sekali pergi ke toko ikan hias, meskipun nggak mengerti apa-apa tentang ikan, hehehe. Cepat-cepat saja aku mengganti piyama dengan dress pertama yang kulihat di lemari, menyisir rambutku sedikit dan mengikuti Bapak ke dalam mobil. Nggak lama kemudian petualangan aku dan Bapak pun dimulai! :)

Kami tiba di sebuah toko ikan hias yang nggak terlalu ramai, sementara Bapak sibuk memilih-milih filter aku asyik melihat-lihat koleksi ikan yang sedang berenang-renang di aquarium. Aku melihat ikan arwarna yang besar sekali, ukuran aquarium nya sepertinya sebesar tempat tidurku! Lalu aku melihat sekelompok ikan koi yang cantik-cantik, warnanya macam-macam dan membuatku gembira waktu memandang mereka :) Sesekali aku menoleh ke arah Bapak, nggak sabar untuk menunjukan ikan-ikan keren ini kepadanya. Aku dan Bapak sama-sama punya imajinasi yang bagus, kami sering membicarakan hal-hal yang mustahil. Jadi aku penasaran dengan apa yang akan Bapak katakan soal penemuanku ini, hehehe. Begitu Bapak selesai membayar filter di kasir, cepat-cepat aku langsung menarik lengannya sambil berkata, "Lihat, sini. Ikan-ikannya keren sekali."
Tanpa berkata-kata Bapak langsung mengikuti langkahku. Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa aku sangat dekat dengan Bapak. Dengan Ibu aku nggak bisa seperti ini, beliau memang suka shopping, tapi nggak dengan berlama-lama window shopping, hehehe.
Aku ajak Bapak melihat aquarium super besar, aku berkata bahwa suatu hari kalau sudah punya rumah sendiri, aku akan membeli aquarium lebih besar dari ini, yang menyambung dari kamar tidur ke ruang TV. Jadi ikan mas-ikan masku nanti bisa berenang bebas dan nggak bosan. Menanggapi khayalanku yang super ini Bapak menanggapi dengan perkataannya yang nggak kalah super. Sambil memegang kaca aquarium dan merasakan ketebalannya beliau berkata, "Di rumah kaca setebal ini sih banyak. Kalau mau sekarang juga bisa bikin, yang ukurannya sebesar rumah." Langsung saja aku tertawa, meskipun tahu itu mustahil, tapi membicarakan hal-hal random dengan Bapak memang selalu membuat gue bahagia :D


Arwarna kecil :)


What am I wearing?
Dress and headband: Toko Kecil Indi (my design)
Handbag: I Love Nerd Hello Kitty
Watch: Sanrio
Socks: Gosh
Shoes: belong to my Mom



Setelah sekitar 1 jam kami menyudahi petualangan kami di toko ikan hias. Bukan hanya karena para pegawai di sana sudah mulai memperhatikan kami yang heboh sendiri tapi nggak membeli seekor ikan pun, tapi juga karena aksi Bapak pada salah satu pegawai di sana. Beberapa waktu lalu Bapak dan Ibu membeli seekor ikan sapu-sapu untuk ditempatkan di kolam parit, yang terletak di halaman belakang rumah kami. Nah, karena kami nggak mengerti tentang ikan (iya, sekeluarga tahunya cuma tentang ikan mas saja yang harganya Rp. 5.000 per 10 ekor, hehehe), akhirnya ikan sapu-sapu itu merayap keluar kolam dan menghilang, mungkin dimakan tikus atau pergi sampai jauh dan berenang di selokan :( Eh, tiba-tiba saja Bapak bertanya pada mas-mas pegawai di sana apakah ikan sapu-sapu yang ia beli ada garansinya. Ditanya demikian, si mas-mas polos itu cuma bengong. Nah, sebelum dapat jawaban Bapak langsung mengajakku pergi, mungkin beliau sadar bahwa pertanyaannya itu aneh, hahaha.

Sebelum kami berangkat, Ibu mengingatkanku untuk sekalian membeli kado untuk Gina, sepupuku. Tanggal 9 Agustus lalu Gina menikah dan aku belum memberinya kado pernikahan, baru kado ulang tahun saja karena tanggal pernihakan dan ulang tahunnya berbarengan (uh, curang ya? Hehehe). Jadi aku dan Bapak melanjutkan perjalanan ke sebuah mall. Aku excited sekali. Bukan karena harus membeli kado, tapi karena artinya aku bisa lebih lama window shopping, hehehe :D 
Karena sudah punya ide tentang kado apa yang akan dibeli, jadi aku dan Bapak (niatnya) langsung menuju tempat yang dimaksud. Tapi namanya mall, baru lantai pertama aku sudah menemukan pengalih perhatian. Apalagi kalau bukan Hello Kitty yang pernak-perniknya aku koleksi itu, hehehe. Nah, yang kulihat bukan pernak-pernik mungil, melainkan jok mobil! Sudah bisa ditebak, aku langsung ajak Bapak melihat-lihat. Meskipun mobilku memang sudah bertema Hello Kitty (dengan stiker dan full cover) tapi aku masih saja tergoda melihat jok-jok manis ini. Sementara aku melihat-lihat, Bapak sudah langsung akrab dengan SPG dan SPB nya. Bukannya menawarkan produknya, mbak-mbak SPG nya malah berkata padaku bahwa mobil seperti milikku itu sayang jika jok nya diganti. Apalagi jok-jok di mobilku memang sudah bersarung Hello Kitty. Ya, ampun apa sih yang Bapak katakan pada mereka? Hehehe >.<
Akhirnya kami semua malah mengobrol random dan sepakat bahwa aku memang nggak perlu jok-jok itu. Sebagai gantinya kursi tua milik Bapak bisa dibungkus dengan motif Hello Kitty dengan harga yang jauuuuh lebih murah. Keputusan Bapak langsung disambut dengan anggukan mas dan mbak nya. Mereka berkata, "Iya, ide bagus, Pak. Selain lebih murah juga bisa bikin adik ini makin rajin belajar karena kursinya bagus." Langsung saja aku dan Bapak mati-matian menahan tawa. Karena jangankan sekolah, kuliah saja aku sudah lulus berabad-abad lalu, hahaha.
Cuma dengan Bapak bisa begini :p

Setelah mampir sana-sini, kami tiba juga di tempat yang dimaksud. Untuk pemilihan kado pernikahan Gina, aku serahkan pada Bapak. Terlalu banyak pengalih perhatian ---pernak-pernik lucu---. Lagipula Bapak pasti lebih mengerti urusan rumah tangga. Karena meskipun beberapa temanku sudah ada yang berkeluarga dan memiliki anak, aku sendiri masih enjoy menjadi anak-anak, hehehe *kidding*
Di tempat ini ternyata nggak menyediakan jasa pembungkusan kado, jadi aku dan Bapak ke toko buku. Wah, kebayang kan berapa banyak pengalih perhatiannya? Toko buku itu salah satu tempat favoritku, selalu betah untuk berlama-lama melihat-lihat buku sambil membayangkan suatu hari mempunyai perpustakaan pribadi sebesar Sea World, hehehe :p
Bapak menunggu kado selesai dibungkus, sementara aku seperti biasa langsung berpetualang. Banyak sekali buku-buku bagus. Salah satunya adalah buku Tuesday with Morrie dengan cover yang baru! Wah, kira-kira sudah berapa kali ya buku ini dicetak ulang, sampai-sampai covernya berganti-ganti... Hmm, semoga saja suatu hari buku-buku karyaku juga terbit dengan berbagai macam cover. Karena setelah belasan kali dicetak ulang, belum ada satu pun yang cover nya berubah, hehehe :D Lalu aku menemukan 2 buah novel karyaku yang dipajang di rak. Dengan malu-malu aku mengambilnya dan diam-diam memotretnya. Hihi, padahal kenapa aku harus malu, ya, kan yang tahu bahwa aku penulis novel-novel itu hanya aku sendiri :p Meskipun sudah cukup lama terbit, tapi rasanya tetap bangga dan terharu setiap kali melihat novel-novelku dipajang di toko buku. Novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" berada berdampingan di rak dengan label novel. Melihat jumlahnya dan dibandingkan dengan berapa banyak jumlah yang sebelumnya menginap di toko buku membuatku tersenyum. Thank God, novel-novelku diterima oleh pembaca di Indonesia dan sekitarnya :') Setelah yakin fotonya cukup jelas, aku langsung menghampiri Bapak yang masih menunggu kado untuk Gina dibungkus. "Pak, ada novel-novel aku, lho...", bisikku. Dan Bapak langsung menjawab dengan,
"Cepat pindahkan semuanya ke rak paling atas, supaya banyak yang lihat."
Hahaha, ada-ada saja! :D Rasa haruku ternyata bertambah, waktu kami akan keluar toko buku, ada buku keempatku, "Conversation for Preschoolers" yang dipajang di rak TK/Pra Sekolah. Tapi kali ini aku nggak bisa memegangnya lama-lama, karena di cover belakangnya ada fotoku. Kalau ada yang memergoki, pasti aku langsung ditertawakan, hahaha :D


Kado-kado :)

Hore... ada Karena Cinta Itu Sempurna & Waktu Aku sama Mika!

Buku keempatku, Conversation for Preschoolers :)


Waktu kami memutuskan pulang (kakiku rasanya super pegal), di lantai bawah ada panggung kecil dan beberapa stand jajanan tradisional. Bapak menawariku es lilin, langsung saja aku iyakan. Aku penggemar macam-macam es krim, dan sudah cukup lama aku nggak menemukan es lilin. Meskipun rasanya terlalu modern, tapi cukup mengobati kerinduanku terhadap makanan khas Bandung yang satu ini :) Dengan keadaan hati super senang, kelelahan dan tangan yang dilelehi es lilin, aku masuk ke dalam mobil dan menuju perjalanan pulang. Sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaanku. Yang pasti aku sangat bersyukur karena bisa menghabiskan waktu dengan Bapak. Aku sangat beruntung memilikinya yang juga bisa berperan sebagai seorang sahabat. He was my first date, and he always be my BEST date. Really thanking God for today. Senang rasanya bisa menjadi little girl abadi... :)


Menikmati es lilin

Rasa lelah kalah dengan hati yang senang :D



daddy's little girl,

Indi

_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 11 Agustus 2014

Tentang Novel "Karena Cinta Itu Sempurna" :)


Aku dan novel “Karena Cinta Itu Sempurna”.





"Apa rasanya sakit, Mika? Waktu HIV membunuh CD4 kamu?"
Mika menyelipkan rokoknya lagi, tapi kali ini lebih lama karena ia memutuskan untuk mengunyahnya.
"Kamu ingat bintang-bintang yang ditempel di papan di dalam kelasmu? Bu guru akan mencabuti satu persatu jika ada murid yang nakal, iya kan?"
Aku mengangguk.
"Bintang-bintang itu seperti CD4, sedangkan Bu guru itu seperti HIV. Dan aku adalah muridnya, Sugar... Jadi aku akan baik-baik saja, selama aku tidak nakal."
Aku mengangguk mengerti.

(Karena Cinta Itu Sempurna, halaman 83)

***



"Karena Cinta Itu Sempurna" adalah novel kedua yang kutulis dan diterbitkan oleh Homerian Pustaka. Sama seperti novel sebelumnya, "Waktu Aku sama Mika", novel ini juga diambil dari pengalaman hidupku, alias diary yang dibukukan. "Karena Cinta Itu Sempurna" menceritakan masa kecilku yang penuh dengan khayalan dan teman-teman yang unik, masa remajaku yang mengalami pahit manis setelah divonis mengidap scoliosis oleh dokter lalu menemukan seorang penyembuh bernama Mika, yang mengidap AIDS tapi mempunyai semangat yang sangat besar. Dan masa-masa memasuki dunia dewasa yang membingungkan tapi juga menyenangkan.

Jika teman-teman pernah menonton film MIKA (dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai Mika dan Velove Vexia sebagai aku), maka novel ini akan memberikan penjelasan lebih dari apa yang ada di film, karena scene-scene dari film tersebut memang banyak yang diambil dari novel ini :) 
Sampai sekarang "Karena Cinta Itu Sempurna" sudah dicetak sebanyak belasan kali dan aku sangat bersyukur karena mendapatkan sambutan yang positif. Bukan hanya dari pembaca di Indonesia tapi juga di luar negeri. Seperti Malaysia, Singapore dan Australia. Thank God :)


Foto-foto kiriman pembaca. Terima kasih banyak! :D



Berikut beberapa komentar dari pembaca "Karena Cinta Itu Sempurna":

"Cerita ini mengajarkan aku apa itu cinta sesungguhnya tanpa membalas atau bersyarat."
(Hannie, pengguna Facebook)

"Novel kedua terbaik dari kak Indi yang bikin air mataku kembali mengalir seperti “Waktu Aku Sama Mika”. Bahasa yang ada dinovel ini tergolong sederhana (mudah dimengerti), tapi setiap kalimat-kalimat yang dipakai, maknanya begitu luar biasa."
(Olivia Dejoinears, via email)

"Pertama kali baca, tidak mau berhenti.. Eh tidak tahunya semalam malah sudah khatam dalam 2.5 jam."
(Papafaiz, blogger)

"Bukunya sih kecil tapi isinya beri motivasi dan pelajaran."
(Ekarhmdania, pengguna instagram)

"Pemilihan kata-kata yang santun, ringan serta ditambahkan beberapa catatan berupa diary sang penulis membuat buku ini mudah untuk dinikmati."
(Lidya C, blogger)

"Membaca novel Karena Cinta Itu Sempurna memberikan tebaran rasa manis dan sedikit pahit di hati. Rasa manis saat Kak Indi menulis bahwa perbedaan skolioser hanya tidak boleh berlari dan melompat, hanya itu saja, kami masih bisa seperti orang lain. Hal-hal manis masih banyak terumbar di novel manis yang ditulis penuh kata-kata seperti coklat, manis yang tidak berlebihan."
(Tiskusuma, blogger)

"Pertama kali terpandang reka kulit novel ini, saya terus memegangnya. Ringkas sekali. Dan apabila saya membaca isi di dalamnya, hati saya rasa sangat syahdu."
(Ruhana Zaki, penulis dari Malaysia)



Ah, membaca komentar-komentar positif membuatku tersenyum. Senang rasanya bisa berbagi kisah dan mendapatkan teman-teman baru. Terima kasih banyak-banyak-banyak aku ucapkan untuk semua yang telah menyempatkan membaca :) 


Dan untuk teman-teman yang belum pernah membaca, novel "Karena Cinta Itu Sempurna" bisa kalian mendapatkannya di Indi Sugar Official Store dengan harga Rp. 29.000 (plus bonus stiker Indi's Friend).
Caranya cukup SMS atau whatsapp ke 081322339469, dan novel akan dikirimkan ke alamat teman-teman.


Sekali lagi, terima ksih untuk supportnya selama ini, blessed to have you guys! :)



sugar pie nya Mika,

Indi

______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 03 Agustus 2014

Tetap Aktif dengan Scoliosis! (Up date Pemakaian SpineCor)


Hai bloggies, bagaimana liburan lebarannya? Atau adakah yang sudah mulai kembali ke aktivitas semula? Apapun, semoga hari kalian menyenangkan, ya :) Amen.

Semenjak memakai SpineCor alias soft brace untuk scoliosis gue, banyak sekali yang bertanya tentang perkembangannya. Well, sebenarnya aku sudah berjanji akan selalu meng-update nya di sini, tapi ternyata cukup banyak juga yang nggak sabar menunggu dan bertanya langsung lewat private message, hehehe. Jadi sekarang aku akan share tentang pengalaman gue setelah 1 bulan pemakaian SpineCor :)

Jika belum tahu apa itu SpineCor, silakan lihat ini.

Aku masih ingat waktu pertama kali dokter memintaku untuk memakai brace. Waktu itu gue masih 13 tahun dan brace yang kupakai adalah tipe Boston. Keras dan menutupi seluruh badanku, dari dada sampai pinggul. Bentuknya yang kaku membuat brace susah untuk “disembunyikan” di balik baju. Lekuk tubuhku juga jadi tampak nggak natural. Hampir semua orang yang bertemuku ---meskipun baru sebentar--- langsung sadar bahwa aku memakai brace. Semangatku  untuk disiplin mamakai brace pun jadi on and off. Saat di rumah aku nggak bermasalah untuk memakainya sepanjang waktu (brace harus dipakai 23 jam sehari), tapi lain lagi jika aku sedang di sekolah. Aktivitas yang padat dan membuatku banyak berkeringat membuatku merasa nggak nyaman. Rasanya seperti di sauna permanen, hehehe. 

Sesuai dengan nasehat dokter aku mamakai brace selama masa pertumbuhan tulang,  yang artinya sepanjang 5 tahun sebelum aku berusia 18 tahun. Keberhasilan Boston brace ini memang berbeda-beda pada setiap scolioser dan padaku, too bad kurvaku malah bertambah dari 30 an ke 40 an... Malah di usia dewasa kurvaku sempat mencapai 58 derajat! 
Dokter berkata brace sudah nggak ada gunanya jika tulangku sudah berhenti tumbuh, jadi yang bisa aku lakukan untuk menjaga kurvaku hanya tinggal terapi yang lain seperti berenang, fisio terapi, dan tentu saja jalan terakhir ketika kurva sudah melebihin 40 derajat: Operasi.
Operasi bukan pilihanku, jadi aku mengikuti berbagai terapi fisik baik di Rumah Sakit sampai terapi chiropractic. Chiropractic  memberikan rasa nyaman pada tulang belakangku, tapi kurvaku sama sekali nggak berkurang.

Setelah mendengar tentang SpineCor aku langsung bersemangat untuk mencobanya. Bukan hanya karena banyak selebriti dengan scoliosis yang memakainya tapi karena ini satu-satunya tipe brace yang masih bisa dipakai untuk tulang yang sudah berhenti tumbuh (mature). Aku langsung optimis di hari pertama memakainya, karena selain terasa nyaman, postur tubuhku pun secara instan terasa lebih baik. Apalagi 1 minggu setelah pemakaian hasil x ray menunjukan kurvaku (with brace on) berkurang sebanyak 12 derajat. Yang artinya menjadi kurva “aman” dari operasi!

Kalau dipakai di balik baju SpineCor nggak terlihat, lho. Bahannya juge elastis, nyaman dipakai :)

SpineCor sangat jauh berbeda dengan Boston brace. Bentuknya mengikuti lekuk tubuhku dan tersembunyi dengan baik di balik baju. Gerakan tubuh pun menjadi nggak terbatas. Aku benar-benar bisa beraktivitas sambil memakai SpineCor. Aku bekerja di preschool sambil memakainya. Mengejar anak-anak, jongkok-berdiri sampai berayun di swinging ball pun nggak masalah. Begitu juga dengan kegiatanku sebagai penulis. Aku sangat terbantu dengan SpineCor. Harus duduk berjam-jam di depan komputer sambil mengetik dulu sangat menyiksa, tapi sekarang nyeri punggung dan kesemutanku banyak berkurang :)

Aku pakai SpineCor, lho. Nggak terlihat, kan? ;)


Untuk teman-teman scolioser pasti mengerti mengapa berkurangnya kurva bukan satu-satunya goal. Berkurangnya rasa sakit juga salah satu faktor yang dicari dari sebuah terapi/pengobatan, karena terkadang rasa sakit mengganggu produktifitas kita yang memiliki hidup yang aktif. Berbeda kurva dan tipe, berbeda pula rasanya. Aku sendiri sering mengalami kesemutan di tubuh bagian kanan dan nyeri di punggung atas. Kalau sudah begitu mau nulis pun kurang konsentrasi. Padahal pekerjaanku penulis, ya, hehehe. 

Selama 1 bulan ini SpineCor sudah menjadi bagian dari aktivitasku sehari-hari. Setiap habis mandi aku langsung memakainya dan bekerja seperti biasa. Teman-temanku pun nggak ada yang tahu bahwa aku memakai brace. Kecuali kalau kuberitahu, ya :p Tubuhku rasanya semakin fit dan tentu saja menjadi lebih produktif. Sepulang dari preschool yang biasanya langsung mendarat di tempat tidur, sekarang langsung ambil tali leher dan baju Eris. Yup, aku ajak dulu Eris berjalan-jalan sebelum aku beristirahat! :)

Awalnya karena belum tahu sejauh mana ketahanan tubuhku, aku ajak Eris berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah saja. Tapi setelah beberapa kali percobaan dan aku nggak memiliki keluhan, aku mengajaknya berjalan-jalan ke tempat yang lebih jauh. Aku berkeringat dan kelelahan, tapi hebatnya nggak ada rasa pegal atau kesemutan, semuanya lancar. Well, terakhir aku merasa seperti ini sepertinya waktu SMP. Long long time ago, ya...

Mau jongkok atau berdiri tetap nyaman :)

Karena tubuh fit, waktu berkualitas dengan Eris pun semakin banyak :)

Untuk memastikan bahwa apa yang kurasakan bukan sekedar sugesti, aku mengecek kembali keadaanku ke dokter. Berhubung Dr. Natalie sedang cuti melahirkan, jadi aku ditangani oleh Dr. Irma. Guess what, setelah aku surprise dengan kemajuan setelah pemakaian 1 minggu, sekarang ada lagi kabar gembira. Kemiringan tulang belakangku yang tadinya 20 mm sekarang tinggal 2 mm saja! Memang sih aku belum kembali x ray (jika terlalu sering nggak baik untuk kesehatan), tapi Dr. Irma memeriksanya dengan seksama dan hasilnya membuatku semakin optimis dan semangat untuk terus menggunakan SpineCor :)

Ini baru bulan pertama dan aku excited sekali dengan perkembangan yang akan kudapat. Bahkan dengan operasi scoliosis nggak bisa dikoreksi 100%, jadi aku rasa SpineCor sangat patut diberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup scolioser, tua dan muda. Aku harap semakin banyak yang tahu tentang SpineCor. Seorang temanku yang kurvanya sudah 70an derajat pun baru-baru ini memakainya dan kurvanya sekarang sudah berkurang 8 derajat. Benar-benar mematahkan “mitos” yang berkata bahwa bracing hanya efektif untuk kurva di bawah 40 derajat. Yup, ada harapan baru untuk scolioser ;)

Bulan depan aku akan kembali memeriksakan tulang belakangku, sekaligus melihat sejauh mana SpineCor membantuku. Jika teman-teman tertarik dengan SpineCor atau mau tanya-tanya dulu, silakan kunjungi Spine Body Center di APL Tower lantai 25 (sebelah Central Park Mall) Jakarta Barat. Atau bisa menelepon terlebih dahulu ke 021-2933 9295. Staff Spine Body Center pasti dengan senang hati membantu kalian :)

Miracle girl,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 28 Juli 2014

Accidently Date! :p


Gue dan Ray punya pekerjaan yang semakin sibuk jika liburan hampir tiba. Well, sebagian besar pekerjaan memang sepertinya seperti itu, tapi tetap saja kami kami nggak pernah terbiasa dengan frekuensi bertemu kami yang menjadi berkurang. Gue dan Ray sama-sama nggak libur sebelum lebaran, preschool gue
nggak seperti sekolah lain yang punya libur di bulan puasa, begitu juga Ray yang tetap bekerja full day. Beruntunglah pada tanggal 24 Juli lalu kami mempunyai kesempatan untuk punya waktu berkualitas berdua, ---eh, ramai-ramai sih sebenarnya, lol--- teman-teman preschool gue mengadakan acara buka puasa bersama dan gue memutuskan untuk mengajak Ray. Keputusan ini lumayan mendadak, soalnya awalnya gue nggak berniat untuk ikut, apalagi meski judulnya "buka puasa" tapi yang berpuasa hanya sedikit, hehehe. Tapi setelah dipikir-pikir dan mengingat akan sulit untuk mengatur waktu karena Ray harus mudik, akhirnya kami pergi ke acara buka puasa yang lebih mirip dinner itu, hehehe.

Waktu gue beritahu Ray lokasi dimana kami akan bertemu dengan teman-teman gue, dia langsung khawatir karena bisa dipastikan tempatnya akan penuh, terutama menjelang buka puasa. Jadi kami berangkat dari rumah sekitar pukul 4 sore dan berharap bisa tiba sebelum adzan magrib. Dua teman gue yang sudah menikah, Ima dan Liliek meminta gue untuk reservasi satu meja untuk para suami agar bisa hang out bersama. Ray memang belum menjadi suami gue, tapi gue pikir akan lebih nyaman jika "para pasangan" punya meja sendiri agar bisa mengobrol atau 'do man stuff' ---apapun itu--- dan nggak bosan karena menunggu :p

Ketika kami sampai dan langsung reservasi meja, ternyata suami Liliek dan Ima nggak jadi ikut. Well, suaminya Ima sih sebenarnya ikut, tapi dunno why ia memilih untuk menunggu di luar. Meja yang sudah dipesan pun jadi hanya ditempat oleh gue dan Ray. Acara "buka puasa bersama" ini pun malah jadi date untuk kami, hehehe :D Karena teman-teman gue duduk di meja terpisah kadang gue bolak-balik dari meja mereka ke meja Ray. Senang sekali bisa mengenalkan Ray pada teman-teman gue. Berhubung gue jarang bercerita tentang kehidupan pribadi gue, jadi banyak diantara mereka yang belum tahu bahwa gue punya pasangan. Mereka juga terkejut waktu gue beritahu bahwa kami sudah bersama selama 6 tahun. Menurut mereka kami terlihat hangat dan romantis seperti baru pacaran. Wah, mereka nggak tahu bahwa kami nggak ada romantis-romantisnya, kalau sudah ribut gue bisa lebih galak dari Eris (my dog), lho, hahaha :p Tapi gue anggap itu sebagai pujian, apalagi teman-teman gue memberikan doa untuk kami. Salah satu teman gue, Miss. Nita berkata bahwa ia berharap agar Ray tetap romantis meskipun kami sudah menikah nanti. Ia berkata begitu setalah melihat Ray membawakan tas gue. Well, gue nggak tahu kalau itu terhitung perbuatan romantis, buat gue he's just being helpful, lol. Tapi amen untuk semua doa baiknya :)


Meja yang sudah dipesan pun jadi milik berdua :p

Cheers, jus sayuran ini enak, lho :)

Judulnya "buka puasa" tapi banyakan yang nggak puasanya, hihihi. Yang penting kebersamaan, ya ;)

Sekitar jam 7 malam kami pamit duluan. Maklum gue ingin memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Tujuan kami selanjutnya ke Trans Studio Mall untuk membeli kado lebaran untuk orang tua, sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan gue. Sebenarnya agak pesimis kami bisa mencari kado yang tepat untuk saudara-saudara gue yang jumlahnya banyak itu dengan waktu yang pendek. Tapi berhubung kami sudah nggak punya waktu libur lagi, jadi ya harus dibuat optimis, hehehe. Gue memang lebih suka memberi kado daripada angpao. Mungkin teman-teman yang sering membaca blog ini tahu betapa sukanya gue dengan Christmas, salah satu alasannya adalah kado! Memberikan kado pada orang-orang yang kita cintai, menghabiskan waktu khusus untuk mencari dan memilih rasanya lebih personal daripada uang di dalam amplop. Eh, tapi makna lebaran dan natal lebih dari itu, lho, bukan hanya tentang kado :)

Surprise, mall nya ternyata nggak terlalu padat. Kami mendapatkan spot parkir dengan mudah dan suasana yang cukup nyaman. Langsung saja kami mulai mencari kado. Sebenarnya perut lumayan lapar sih karena sebelumnya hanya sempat minum (menu yang kami pilih selalu HABIS. Aneh, lol), tapi demi mengejar waktu kami tunda dulu perasaan laparnya, hehehe. Gue sama sekali belum ada rencana kado apa yang akan gue berikan pada keluarga gue. Jadi gue dan Ray mengelilingi mall sampai menemukan apa yang dirasa tepat, hehe. Prioritas utama sudah pasti keluarga inti gue: Ibu, Bapak dan Puja. Selanjutnya baru sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan, termasuk untuk Bi Ade juga Eris, anjing kesayangan gue. Kaki rasanya sudah minta direndam air hangat, tapi gue puas karena sudah berusaha memberika sesuatu yang istimewa untuk orang-orang yang juga istimewa :)

What I wore? Hair bow: Dunia Baru | Brooch: Hello Kitty | Dress: Toko Kecil Indi (my design) | Bag: Thailand | Watch: Sanrio | Shoes and socks: Gosh




Kado-kado untuk keluarga :)

Ternyata bukan cuma keluarga gue saja yang dapat kado. Ray memberikan gue hadiah sepasang sepatu yang sudah lama gue impikan! Ini nih asyiknya jadi gue, dalam satu tahun ulang tahun dirayakan dua kali. Sekali di tanggal 8 Juni dan sekali lagi sehari sebelum lebaran, karena waktu lahir gue bertepatan dengan malam takbiran :D Senang sekali rasanya karena awalnya hanya akan fokus pada kado keluarga, tapi ternyata dapat sepatu baru. Terima kasih, Ray! :) 
Nggak terasa mall sudah hampir tutup dan kami belum makan malam. Daripada harus makan terburu-buru kami putuskan untuk mencari makanan sambil perjalanan pulang saja.






Ray menyetir dengan lambat-lambat, mencoba mencari restoran yang masih buka. Kami sempat melewati restoran fast food 24 jam tapi urung berhenti karena Ray yakin masih ada tempat lain. Kami semakin dekat dengan rumah dan waktu sudah menunjukan pukul 10 malam lebih, semakin deg-degan dan pesimis rasanya. Untung saja kami menemukan sebuah tenda kaki lima sea food yang masih buka. Tanpa berlama-lama kami langsung berhenti dan menikmati makan malam yang super terlambat, hehehe. Rasanya nikmat sekali, apalagi tempatnya bersih. Gue dan Ray sangat bersyukur. Tuhan sepertinya sudah menyiapkan skenario yang cute untuk kami berdua. Dari mulai suami-suami teman-teman gue yang batal ikut yang membuat kami punya meja untuk berdua saja, sampai dinner romantis ditemani oleh kucing-kucing lucu yang lalu-lalang di bawah meja kami, hehehe. Thank God :)


Kemarin malam Ray sudah mudik dan sepertinya nggak lama setelah lebaran ia akan kembali bekerja. Senang dan bersyukur sekali kami sempat mendapatkan waktu berkualitas sebelum kembali ke aktivitas 'normal' :) Meski Ray nggak bisa hadir untuk merayakan ulang tahun gue, tapi ia tetap membelikan gue kue tart dan sebuah kado. Oh, iya meskipun gue ulang tahun setahun dua kali tapi dua-duanya sama istimewanya, lho. Makanya selalu ada acara tiup lilin bersama keluarga ---dan akan lebih menyenangkan kalau Ray juga ada---. Blessed to have him, semoga di tengah-tengah kesibukan kami akan selalu ada kesempatan (atau curi-curi kesempatan, lol) untuk quality time. Amen...
Dan untuk teman-teman yang merayakan, selamat hari raya Lebaran dari aku, keluarga dan Ray. Mohon maaf lahir dan batin! :)



ps: Untuk teman-teman yang belum tahu kenapa ulang tahun gue dirayakan setahun dua kali, bisa baca ceritanya di sini.


blessed girl,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469