Tampilkan postingan dengan label Anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak-anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Maret 2024

Boneka dengan Scoliosis dan Kenapa Representasi itu Penting

Haiiii bloggies! Apa kabar? Gimana tahun 2024 nya? Semoga semua rencana baik kalian berjalan lancar, ya :)



Kalau rencanaku gimana? :p Ya so far agak lancar, ahahaha. "Agak" karena ada beberapa yang tersendat karena cuaca. Maunya sih tahun ini lebih rajin lagi exercisenya, eh ternyata malah banyakan tidur sama makannya karena hujan setiap hari :'D Di daerah kalian sama nggak sih? Di Bandung sini hujannya benar-benar ekstrim, hampir seharian dan petirnya bikin jendela sampai bergetar-getar. Pokoknya kalau mau keluar rumah wajib banget jas hujan atau minimal topi untuk melindungi kepala (---tim kehujanan sedikit saja langsung pusing, hehe).


Goalku tahun ini untuk lebih rutin exercise bukan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang "perfect", tapi semata untuk menjaga tubuhku tetap fit. Pembaca lamaku pasti tahu kalau aku seorang scolioser, atau pengidap scoliosis, ---dan aku bertahan tanpa operasi. Untuk yang baru di sini, "Halo, salam kenal!" ---aku akan menjelaskan sedikit apa itu scoliosis.


Apa itu scoliosis?

Scoliosis (atau skoliosis dalam Bahasa Indonesia) adalah kondisi kelainan tulang belakang yang ditandai dengan bentuk punggung melengkung. Bentuknya bisa seperti huruf C atau S. Pengidapnya bisa laki-laki atau perempuan, tapi kebanyakan perempuan yang biasanya ketahuan sebelum masa puber (10-15 tahun). Kalau kurvanya masih kecil biasanya sekilas nggak terlihat, tapi jika kurva sudah mulai besar akan terlihat jelas meski punggungnya tertutup pakaian. Itulah kenapa banyak scolioser yang nggak terdeteksi dini, ---karena sekilas tubuh mereka tipikal anak-anak seusianya. 


Beda kurva, beda juga penanganannya. Kurva di bawah 20 derajat disebut scoliosis ringan, nggak membutuhkan operasi dan hanya membutuhkan exercise rutin di rumah. Sementara kurva di antara 25 sampai 40 derajat disebut scoliosis menengah, yang biasanya membutuhkan brace (penyangga tubuh), exercise, fisioterapi dan mulai berdiskusi dengan dokter tentang kemungkinan pembedahan. Nah, yang terakhir kurva di atas 50 derajat disebut skoliosis berat atau severe scoliosis. Penanganannya tentu kombinasi dari semua terapi sudah kusebutkan dan kemungkinan besar disarankan untuk melakukan pembedahan korektif. Karena saat kurva sudah besar, tentu mulai berpengaruh terhadap organ-organ dalam, seperti tulang rusuk yang semakin menekan paru-paru, rasa sakit kronis dan lainnya. 


Bagaimana dengan scoliosis ku?

Kurvaku 58 derajat yang artinya sudah masuk di kategori "scoliosis berat". (---Di beberapa postingan aku menyebut 55 derajat, tapi ternyata dokternya salah baca, lol). Aku mendapat diagnosis dokter nggak lama setelah ulang tahunku yang ke 13 dan waktu itu kurvaku masih di kategori "menengah" :D Kenapa terus bertambah, tentu ada alasannya dan itu BUKAN karena aku dan orangtua nggak melakukan tindakan apa-apa ya. Pertambahan kurva di usia pertumbuhan itu wajar karena perubahan hormon dan tinggiku masih terus bertambah. Jadi brace yang kupakai selama lima tahun, 23 jam perhari gunanya untuk memperlambat pertambahan kurva saja, bukan untuk mengurangi. Lalu kenapa aku nggak melakukan operasi? Pertimbangannya banyak, salah satunya (dan yang paling penting) scoliosisku ini nggak progresif alias kurvanya nggak bertambah lagi semenjak aku menginjak usia dewasa! :)


Foto rontgen tulang belakang lamaku (karena yang baru hasil scannya terhapus di HP dan mager buat scan ulang, —-gak hilang kok, paling nyelip di laci, hehe).


Itulah kenapa exercise penting sekali untukku (semoga aku bisa segera melawan rasa malas karena hujan ini, hehe), agar otot-ototku tetap kuat dan terlatih. Dengan memiliki otot yang kuat tentu akan memperlambat kenaikan kurva dan meningkatkan kualitas hidup scolioser sepertiku. Sementara fisioterapi, meskipun aku masih (dan harus selalu) rutin menjalaninya hanya bisa memanage rasa sakit, yang tanpa exercise rutin akan sia-sia saja xD


Jadi bagaimana hidupku sebagai scolioser berkurva besar dan di usia dewasa?

Aku baik-baik saja! :D Ada hari baik dan ada hari buruk seperti kebanyakan orang di dunia. Ya, aku harus "berurusan" dengan rasa sakit yang kadang seharian, tapi aku yakin orang tanpa scoliosis pun terkadang mengalaminya, iya kan ;) Aku bahagia dan (berusaha) menjalani hidup dengan sepenuh mungkin, ---karena ternyata hidup nggak seburuk pikiranku ketika masih remaja dulu. Hidup dengan scoliosis adalah "hidup normal" versiku dan aku nggak keberatan dengan itu :)


Kalau diingat kembali, titik di mana aku merasa bahwa "aku bisa" itu ketika aku mulai menulis di blog tentang scoliosisku, lalu kemudian dijadikan novel yang dengan judul "Waktu Aku sama Mika". Waktu itu aku mulai mendapat banyak email dari teman-teman scolioser yang merasa related dengan kehidupanku. Lalu bertahun-tahun kemudian ketika novelku menjadi inspirasi sebuah film layar lebar berjudul "Mika", aku semakin yakin kalau melakukan hal yang benar. Dulu sempat ada orang "dekat" yang bilang kalau aku nggak perlu bicara tentang scoliosisku karena dia pikir itu sebuah "aib" (---Well, HE WAS WRONG!). Hampir aku percaya, tapi untung saja aku nggak berhenti. Dan setelah film diputar aku malah mendapatkan banyak hal positif. Banyak para orangtua yang menghubungiku dan berterima kasih karena setelah menonton "Mika" mereka memeriksakan putri mereka ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Juga banyak orang-orang seusiaku yang bilang bahwa mereka lega karena ternyata mereka nggak sendirian, ---bahkan ada di antara mereka yang berteman denganku sampai sekarang! Ya, ternyata "aku bisa". Aku tetap memiliki fungsi meski di mata dunia kedokteran aku bukan orang yang sempurna ;)


Novel "Waktu Aku sama Mika" yang diterbitkan oleh Shira Media dan film "Mika" yang diproduksi oleh IFI dan dibintangi oleh Vino G. Bastian.


Boneka sepertiku, karena representasi itu penting.

Tahu nggak sih kalau film "Mika" itu film Indonesia PERTAMA yang mengangkat isu tentang scoliosis? ---Boleh dong ya aku bangga, hehehe :D Kalau di Hollywood, tentu bukan hal yang baru dan jarang. Yang paling kita kenal mungkin film "Romy and Michele's Highschool Reunion" yang rilis tahun 1997 lalu. Dulu filmnya sering tayang di Indosiar dan (kalau nggak salah inget) pernah beberapa kali tayang juga di Trans TV. Waktu lihat Michele, salah satu tokoh utamanya memakai brace, aku langsung, "Wow! Dia seperti aku!" :O Padahal filmnya bukan berfokus di isu scoliosis dan bergenre komedi, lho, tapi tetap ada perasaan surreal ketika melihat orang di TV yang "mirip" denganku. 


Perasaan "hore, aku nggak sendiri" itu tetap ada setiap aku melihat ada yang merepresentasikan scolioser, nggak peduli seberapa dewasanya aku. Tahun lalu waktu aku membaca artikel tentang Mattel yang merilis boneka-boneka dengan disability aku bahagia dan terharu. Kalian tahu kenapa? Karena salah satu dari boneka-boneka itu ada yang mirip denganku, ---memiliki tulang belakang melengkung, tulang panggul yang nggak sejajar, bahu yang nggak sejajar, kaki yang salah satunya lebih pendek, dan... memakai brace! :'D Aku sangat nggak sabar untuk memilikinya sampai-sampai beberapa kali mengecek situs official Mattel Indonesia dan mengirimkan banyak pesan, hahaha. Aku bahkan hampir meminjam akun Amazon milik Ibu Mertua supaya bisa dapat bonekanya sebelum masuk resmi ke Indonesia.  Syukurlah nggak perlu karena ternyata hanya dua bulan saja setelah ulang tahunku bonekanya sudah dijual di Barbie Flagship :D


Detailnya gak main-main, ya. Sampai pas didudukkan saja bahunya terlihat gak sejajar :')


Oh iya, boneka scoliosis itu hanya salah satu dari banyak boneka dengan disabilitas yang Mattel rilis, lho. Selain scolioser juga ada boneka dengan alat bantu dengar, boneka dengan Down Syndrome, boneka dengan kaki prostetik, boneka dengan kursi roda dan lain sebagainya. Sepertinya boneka scolioser memang belakangan rilisnya karena temanku, Angkie Yudistia yang juga Teman Tuli sudah punya boneka dengan alat bantu dengar duluan. Waktu aku melihat ia mempostingnya di Instagram aku juga jadi ikut senang, katanya bonekanya dimainkan anaknya :')


Screenshot dari Instagramnya Angkie, yang sekarang punya boneka seperti dirinya :D


Kennedy Garcia dan Ellie Goldstein dengan boneka Down Syndrome seperti mereka :)
(Sumber: Forbes dan British Vogue).


Rose Ayling-Ellis dengan boneka yang memakai alat bantu dengar sepertinya :)
(Sumber: disabilityhorizon).


Di bulan Agustus 2023 akhirnya bonekaku datang setelah aku memesannya dari Barbie Flagship. NGL, aku menitikkan air mata waktu melihatnya secara langsung untuk pertama kali, huhuhu. Namanya Chelsea, adik kecil dari Barbie. Ia berambut coklat panjang, memakai dress berwarna pink dan brace scoliosis tipe Boston seperti punyaku waktu dulu. ---She's so freakin' cute :''''D Orang pertama yang kukabari tentu saja Bapak karena beliau yang dulu selalu mengantarku terapi. Aku mengirimkan fotonya dan reaksi beliau membuatku tertawa! Bapak bertanya siapa yang membuat boneka itu karena sudah pasti "sangat niat" sampai-sampai bentuk punggungnya pun melengkung! Hahaha. Waktu kami akhirnya ada kesempatan bertemu langsung beliau juga bilang kalau boneka baruku membuatnya ikut senang. Bapak bilang sungguh luar biasa karena sudah banyak yang berubah semenjak aku pertama kali didiagnosis scoliosis dulu. Sekarang scoliosis bukan sesuatu yang "tak terlihat" :)


Aku yang berbahagia akhirnya bisa memiliki boneka yang sepertiku :')


Saking detailnya ukuran bracenya juga bisa diatur, persis seperti braceku :D


Nggak lupa aku juga membagikan tentang boneka Chelsea di media sosialku. Banyak followerku yang scolioser merasa bahagia dan ingin memiliki bonekanya. Dengan senang hati aku membagikan link, nama toko, bahkan jika perlu aku carikan yang terdekat dengan lokasi mereka, hahaha. Dan, nope, aku nggak diendorse. Aku seorang scolioser, dan seperti yang kubilang sebelumnya aku tahu bagaimana rasanya saat melihat ada merepresentasikan kami. Pesan-pesan manis pun mulai bermunculan di DM Instagram dan Facebook ku. Ada beberapa Ibu yang membelikan boneka ini untuk anak-anaknya supaya mereka nggak merasa sendirian waktu memakai brace. Juga dari beberapa orang dewasa yang setelah menunggu belasan tahun akhirnya ada boneka yang mirip seperti mereka. How sweet :') Tapi ada juga pesan yang lucu, ada yang bilang karena aku membagikan informasi di mana-mana bonekanya jadi sold out dalam beberapa hari! "The power of Kak Indi," begitu katanya, hahaha.


Salah satu pesan manis yang sempat ku-screenshot dari Facebook :')


Meski terlambat dua bulan, tapi boneka ini adalah hadiah ulang tahun terindah untukku (---bisa dibilang ini adalah hadiah dari Ibu Mertua karena aku membelinya dengan sisa Birthday money pemberian beliau, terima kasih banyak). Aku bahagia dan bersyukur sekarang brace dan alat bantu medis lainnya dilihat sebagai hal yang normal. Bayangkan anak-anak yang sedang berada di toko mainan melihat boneka ini lalu membelinya dan bermain dengannya. Mereka mungkin awalnya akan bertanya-tanya apa yang dipakai boneka ini (brace) dan mengapa tubuhnya berbeda. Lalu mereka akan mencari tahu tentang scoliosis dan belajar tentang perbedaan, ---yang mana sangat normal dan bukan untuk dipermasalahkan :) Dan bayangkan juga anak-anak dengan scoliosis yang menemukan boneka ini. Mereka nggak akan merasa sendirian lagi dan TAHU bahwa brace itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan tapi untuk membuat kualitas hidup mereka lebih baik, ---seperti Chelsea yang percaya diri memakai brace di luar dressnya :)


Well, aku harap jejak Mattel yang membuat mainan/boneka inkusif akan diikuti oleh perusahaan lainnya. Mungkin masih ada yang menganggap kalau ini "cuma" boneka, nggak ada bedanya dengan mainan-mainan lain. Tapi coba deh saat kamu melihat mainan yang memakai brace, kursi roda atau alat bantu dengar, bayangkan kalau ada anak-anak yang tersenyum saat melihatnya,  ---karena mereka jadi merasa "terlihat" :)


Reaksi Ella Roger yang berusia 2 tahun waktu melihat boneka dengan kursi roda seperti dirinya :) Masa masih ada yang bilang, "Ini cuma boneka"? ;)
(Sumber: Good Morning America).



kakakya Chelsea, lol,


Indi



Catatan: 

- Mattel bukan satu-satunya perusahaan yang membuat boneka dengan alat bantu medis, tapi sampai sekarang baru produk Mattel yang bisa dengan mudah didapat di Indonesia.

- Braceku nggak terpasang dengan benar, hanya untuk kepentingan foto. Jadi jangan ditiru ya :)

- Novelku "Waktu Aku sama Mika" bisa didapat di sini (Shira Media) dan di sini (Gramedia).

----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik


Rabu, 18 Agustus 2021

Cerita Lebaran yang Tertunda dan Penuh Nostalgia.


Tahu nggak sih, kemarin itu aku sempat happy karena kupikir bakal bisa nulis lagi di sini sebelum bulan Juni habis. ---Jadi (rencananya) pengen bikin 2 tulisan dalam sebulan gitu. Kan keren (menurut standarku, hahaha). Tapi ternyata nggak bisa, aku masih harus menerima kenyataan kalau mampunya baru sebulan sekali. Better sih dibanding tahun kemarin, tapi aku tahu kalau bisa lebih baik dari ini. Tujuanku bukan supaya blog ini trafficnya tinggi, karena dari dulu tujuanku punya blog murni untuk berbagi cerita. Tapi ini untuk melatih agar aku punya rutinitas. WFH sudah cukup bikin jadwalku semaunya, at least dengan menulis di sini sebulan dua kali bisa membuatku punya aktivitas terjadwal :)


Waktu Lebaran tiba, 13 Mei 2021 yang lalu, aku nggak sabaaar banget buat bercerita di sini. Maunya sambil blog walking juga, karena pasti seru membaca cerita Lebaran teman-teman yang lain. Lalu ulang tahun Shane datang, disusul ulang tahunku. Aku pun goyah dan bilang, "Ah, mau cerita tentang ulang tahun saja deh, kan lebih relatable karena masih anget." Dan apa yang terjadi? Aku malah kebanyakan pertimbangan dan moment dua-duanya jadi sudah lewat! Hahaha. Ditambah aku dan Shane sempat menginap di rumah ortu (family time, aku nggak pernah bawa laptop), juga sempat sakit kemarin selama satu minggu. Semakin lah aku lupa tentang goalku yang sangat spektakuler ini xD


Anyway, Lebaran tahun ini sama seperti tahun lalu. Aku dan Shane menghabiskan waktu di rumah orangtua dari satu malam sebelum Lebaran. Sekitar jam 6 sore kami baru berangkat karena siangnya sibuk membungkus kado-kado untuk Ibu, Bapak, the babies, Nenek, Eris dan juga beberapa karyawan Ibu dan Nenek. Kami masih belum berani kemana-mana, terakhir keluar ya waktu Mei kemarin itu, ---jadi kado-kado kami beli secara online. Dibandingkan tahun lalu, aku merasa Lebaran kali ini hati lebih damai. Nggak ada mikir pengen bisa ke sana-ke sini, kangen ini-itu, dsb. Aku merasa bisa kumpul dengan keluarga saja sudah suatu privilage, jadi suasana hatiku dan Shane begitu happy sehappy nya ;)

Begitu kami tiba langsung disambut masakan Ibu. Sejak menikah kami memang dapat hak istimewa untuk curi start, bisa makan masakan Lebaran di malam Lebaran, hahaha xD Meski Bapak sedang kurang sehat tapi tetap ada gulai vegan untuk kami. Tahun lalu Bapak buatkan "ayam palsu" (ini istilah Bapak) untuk kami. Berhubung prosesnya cukup berat, jadi isi gulai diganti dengan jamur shiitake, tahu dan kentang saja. Rasanya? Wuiiih, tetap enak dong! Pas menulis ini saja aku jadi lapar, hahaha.



Tradisi nggak tertulis sejak aku kecil adalah setiap malam Lebaran aku boleh begadang. Mungkin teman-teman ada yang tahu kalau aku dulu lahir di malam Lebaran. Karena berpegang pada prinsip birthday girl boleh ngapain saja, ortu membebaskan aku mau tidur jam berapapun. Toh besoknya nggak sekolah juga kan. Biasanya aku bakal di ruang TV semalaman, kalau pun ortu tidur duluan juga nggak masalah. Selama mata belum sepet aku nggak akan masuk kamar :p Nah, tahun ini Ali rupanya ingin ikutan tradisiku, ia ingin begadang. Meski awalnya sempat dicoba untuk ditidurkan beberapa kali, tapi Ali terlalu excited dengan Lebaran, jadi kami izinkan saja. Suasana yang awalnya damai, cuma ada kami dan TV yang menyala, berubah jadi ramai dan... bikin pusing! Ali bermain dengan mikrofon mainannya sampai jam 11 malam. Semua lagu karangannya dia mainkan, ---sesekali mengikuti orang-orang di masjid juga yang sedang takbiran. Aku pun harus bilang bye-bye dengan tradisi begadang yang dulunya identik dengan me time, hahaha. Untungnya cuma setahun sekali, dan sebenarnya aksi Ali menghibur juga, lho. Shane sampai merekam diam-diam waktu Ali bernyanyi lagu karangannya karena ia pikir itu lucu :D



Aku tidur beberapa jam saja. Sesudah Ali (akhirnya) tidur aku putuskan untuk menonton TV dengan Shane karena banyak sekali film bagus diputar di TV kabel. Untung saja besoknya masih bisa bangun nggak siang-siang amat, hehehe. Aku langsung mandi dan dilanjutkan dengan bermaaf-maafan dengan keluarga kecil kami :) Nyaman sekali rasanya, Lebaran selalu punya vibes yang berbeda dengan hari-hari biasa. Dan waktu moment bermaafan aku selalu merasa menjadi anak kecil kembali. Susah dijelaskan dengan kata-kata, ---tapi kalian tahu kan perasaan nostalgic yang bikin kalian merasa sedang berada di waktu ternyaman dan teraman di hidup kalian? ;)

Oya, Lebaran ini nggak ada yang beli baju baru. Rasanya nggak perlu saja. Bajuku dan Shane banyak sekali dan kebanyakan masih bagus-bagus, jadi kami pikir bakal lebih wise kalau pakai yang ada saja. Aku pakai dress yang beberapa waktu lalu dibelikan Shane (sudah dipakai beberapa kali), sementara Shane cukup pinjam baju koko milik Bapak yang kebetulan sizenya cocok. Yang penting sih kami merasa kece (hahaha). Lagian nggak ada yang salah dong dengan pakai baju lama ;)




Setelah bermaafan kami langsung makan bersama, termasuk dengan Puja, adikku yang datang untuk Lebaran. Berhubung gulai vegannya ekslusif untuk aku dan Shane, aku makannya benar-benar dipuas-puasin xD Lupa nambah berapa kali, yang pasti aku kekenyangan sampai mager! Kalau biasanya aku rajin ambil foto menu Lebaran, kali ini cuma gulai vegan yang kufoto. Lumpia, sambal goreng kentang dan lainnya kelupaan karena yang aku ingat cuma makan :D Ibu memang juara kalau soal masak (selain jago mendesain baju juga pastinya). Menu apapun bisa divegankan dan rasanya selalu pas. Bapak juga keren, cuma karena sedang kurang sehat saja beliau jadi nggak berkreasi tahun ini. Aku bersyukur sekali punya keluarga yang hangat dan selalu semangat tiap Lebaran (dan hari-hari penting lain seperti ultah, tahun baru, etc). Padahal jumlah kami cuma sedikit :'D



Tahun ini juga jadi tahun pertama aku dan keluarga bertemu Nenek lagi. Lebaran kemarin kami memang benar-benar sama keluarga inti saja dan nggak keluar rumah. Tapi tahun ini kami beranikan untuk berkunjung. Jarak rumah orangtua dan Nenek itu dekat sekali, beda satu block saja. Dan di sana juga hanya ada Nenek dan bibi yang jaga, jadi kami rasa aman. Nenek, yang aku panggil Emah senang banget pas kami ke sana. Malam Lebaran aku dan Shane sempat kirim cake Harvest kesukaannya via Gojek, jadi beliau nggak mengira kalau kami akan datang :D Saking happynya kami sampai terus ditawari makan, disodori ini-itu, pokoknya terharu :') Meski Shane baru kenal Nenek ketika dia berpacaran denganku tapi dia sudah merasa nyaman di rumahnya. Shane selalu bilang kalau ruangan belakang di rumah Nenek keren, ---entah kenapa, padahal Nenek tinggal di rumah lama. Mungkin karena dia bisa rasakan kalau keluarga kami nyaman berkumpul di sana, ya :D




Siang menjelang sorenya, aku dan Shane memutuskan sesuatu yang lumayan berat. Kami mau ke bioskop! Iya, setelah lebih dari satu tahun nggak menginjak mall apalagi bioskop (---supermarket pun sangat jarang), kami putuskan menonton film untuk pertama kalinya. Bukan tanpa alasan, ada sebuah film yang sangat ingin aku tonton dari sebelum Corona ini ada. Terlebih temanku bermain di sana. Aku sudah janji padanya akan menjadi salah satu penonton pertama, alias nonton saat pemutaran perdana. Filmnya berjudul "Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah". Terdengar familiar? Iya, para pemainnya adalah original cast dari sinetron dengan soundtrack yang liriknya seperti judul filmnya. Nggak perlu disebut pun aku yakin kebanyakan dari kalian sudah tahu sinetron apa yang aku maksud. Kenapa judulnya beda? Well, alasannya bisa dengan mudah ditemukan di google dan nggak akan aku sebut di sini karena aku takut salah ;)


Aku dan Shane sengaja memilih bioskop yang kosong, ---nggak di mall dan juga bukan tempat populer. Ortu awalnya khawatir dan hampir nggak mengizinkan, tapi setelah melihat jumlah penontonnya secara online, mereka lega dan merestui kami pergi. Setelah kami tiba pun jumlah penonton ternyata belum bertambah, hanya ada kami dan dua orang lainnya. Untung saja bukan nonton film horor, hahaha. Jadi bisa dibilang kami beruntung, belum lagi kelihatannya petugasnya rajin bersih-bersih kursi di tempat kami menunggu. Semakin merasa tenang, deh :) Sedikit review tentang filmnya, kami sangat menikmati ceritanya. Meski nama-nama pemainnya berbeda dengan nama-nama yang dulu kita kenal, tapi chemistry mereka nggak bisa bohong, dapet banget. Abah sama Emak sudah pasti cocok lah ya, ditambah anak-anaknya, Iis, Rara (dia temanku yang barusan disebut) dan Gigi yang ternyata karakternya masih sama seperti dulu. (Sumpah, cuma namanya saja yang beda). Nostalgia habis-habisan deh aku nonton film ini. Sampai nangis berkali-kali, hehehe. Shane yang nggak mengenal keluarga Emak dan Abah sebelumnya pun tetap bisa enjoy karena ceritanya memang sederhana dan ada subtitle Bahasa Inggrisnya. Keren banget kan!




Filmnya memang nggak sempurna, di beberapa bagian ada audio yang kurang balance. Tapi somehow aku merasa kalau ini justru yang membuat filmnya jadi nostalgic. Jadi ingat waktu kecil menonton sinetronnya setiap pulang sekolah :) Lagipula buatku film ini sudah cukup kuat kok HANYA dengan tokoh-tokohnya. Mereka begitu murni, nggak perlu audio atau visual yang fancy. Filmnya juga menurutku straight to the point, nggak terlalu panjang dan bertele-tele seperti film drama kebanyakan (---inilah salah satu alasan kenapa setelah dewasa aku jadi lebih milih nonton film horor daripada drama, hehehe). Btw, ini bukan film yang "sekali lewat", alias sudah film selesai kami langsung lupa. Ada beberapa konflik di film yang membuat Shane bertanya tentang pendapatku, apakah aku akan menyelesaikan dengan cara yang sama dengan tokoh di film atau nggak. Kami jadi berdiskusi dan berakhir dengan kesimpulan bahwa apa yang kami lihat di film mungkin nggak ideal di mata kami, tapi setiap keluarga pasti punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Setiap langkah yang diambil tentu ada pertimbangannya. Kadang kita harus berkorban untuk menyelamatkan perasaan orang lain, ---dan untuk kami itu adalah pesan yang indah :)


Setelah filmnya selesai kami langsung pulang. Kami nggak mau berlama-lama di luar karena kami merasa lebih aman di rumah. Lagipula setelah menonton film tentang keluarga, aku jadi ingin hangout semalaman dengan Ibu, Bapak dan Ali, hehehe. Kalau Ali mau begadang lagi aku rela deh digangguin :p Jadilah kami begadang bersama, ngobrol sana-sini dan nggak lupa bercerita tentang film yang baru kami tonton juga. Nggak ada rencana apa-apa untuk esok hari, hanya kami menikmati waktu bersama :)


Kalau dulu hari Lebaran kedua kami masih kece, soalnya biasanya ada keluarga atau kerabat yang mampir. Nah berhubung ini Lebarannya covid style, jadi bangun pun siang-siang. Begitu bangun apalagi yang dicari kalau bukan masakan Ibu dan TV kabel :D Rasanya seperti hidup di keabadian, nggak perlu khawatir apa-apa, nggak perlu mikir mau ngapain. Semaunya saja, sampai tidur pun kadang di depan TV. Aku bawa satu dress batik sebenarnya, just for in case. Tapi kenyataannya aku pakai piama seharian, ---begitu saja terus sampai hari keempat, hahaha.


Ngomong-ngomong soal keabadian, di rumah orangtua memang segalanya selalu terasa sama. Seolah seperti aku nggak pernah meninggalkan rumah. Kamarku masih terlihat sama, barang-barangnya terjaga. Bahkan mainan-mainanku pun masih disimpan dengan rapi. Ada kejadian menarik waktu Ali sedang bermain dengan dua bonekanya; Yeye si boneka kucing dan Teddy, boneka beruang yang dulunya milikku. Aku ceritakan pada Ali kalau dulu boneka itu adalah milikku, jadi sebelum Ali lahir Teddy sudah ada lebih dulu. Aku pikir fakta itu akan membuat Ali surprise, tapi ternyata aku juga jadi ikut terkejut! Karena tiba-tiba saja Ibu bilang kalau Teddy, ---yang oleh Ibu dipanggil Brindil, bahkan lebih tua dariku! Ternyata dulunya boneka itu milik Ibu, sebelum aku lahir. Wow... luar biasa ya... Seandainya saja Teddy punya ingatan, pasti yang ia simpan isinya lebih lebih lengkap daripada foto dan video yang kami punya, ya :D 



Saat pulang ke rumah orangtua juga jadi kesempatan buat aku untuk bercerita apaaaa saja yang belum sempat diceritakan selama kami nggak bertemu. Whatsapp-an sih memang setiap hari, video call juga sering, tapi nggak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung. Dari mulai yang serius-serius seperti soal visa, sampai yang nggak jelas seperti cerita tentang jemuran, semuanya puas aku ceritakan :D Aku yang pada dasarnya manja menjadi semakin menjadi saat bertemu Ibu Bapak, hahaha. Aku bersyukur baik ortu maupun suami sangat pengertian dengan sifatku yang sebelas dua belas sama Ali ini. Saat aku sedang asyik dengan ortu pun Shane mengerti. Dia akan memberiku ruang tanpa harus merasa "tersingkir". Biasanya dia akan bermain game atau membuat musik sampai waktunya kami kembali berkumpul. Aku juga melakukan hal yang sama. Saat Shane sedang ingin quality time dengan keluarganya lewat telepon, ---sekali pun itu berjam-jam, dengan senang hati aku memberinya waktu :)


Di hari keempat akhirnya Cody boy, keponakanku yang satu lagi datang. Kabarnya sih dia sempat sakit pilek jadi nggak bisa berkumpul bersama kami di hari Lebaran. Bagaimana suasana rumah ortuku setelah the babies kumpul lengkap? Waduh, jangan ditanya xD Ramainya mengalahkan kelas preschool yang dulu kuajar. Aku mandi dicariin, aku pergi diikutin. Shane mau istirahat sebentar saja langsung dikepoin (baca: diintipin di kamar meski sudah ditegur). Tapi kami menikmati, sih. Apalagi aku dan Shane nggak bisa lama-lama untuk bertemu dengan si Cody boy karena harus pulang. Di rumah kami ada dua ekor ikan yang harus diurus. Kami khawatir kalau ditinggal terlalu lama akan terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. 




Sebelum pulang, aku dan Shane puas-puasin dulu untuk bermain dengan the babies dan Eris, ---yang kelihatannya happy dengan baju barunya. Kami juga mampir ke supermarket dulu di perjalanan pulang karena stock makanan di rumah benar-benar kosong. (Selama bulan puasa kami kebanyakan delivery order, jarang sekali masak). Iya, kami pulang diantar ortu plus the babies juga! Jadi ada waktu ekstra untuk nambah quality time meski sedikit :) Kebetulan di supermarket tempat kami berbelanja ada foodcourtnya, jadi setelah selesai kami bisa ngemil-ngemil dulu sambil berpamitan. Hati ini berat sebenarnya. Kalau nggak malu aku  ingin menangis rasanya, hahaha. Tapi aku tahan-tahan sampai ingetin diri sendiri kalau sebentar lagi kami juga pasti bertemu kembali. 









Begitulah cerita Lebaran kami yang "mewah", ---karena bisa berkumpul yang di saat seperti ini :) Doaku masih tetap sama seperti tahun lalu; semoga tahun depan segalanya menjadi lebih baik. Tanpa mengurangi rasa syukur dengan apa yang aku dan Shane dapat di tahun ini, kami berharap dalam waktu dekat bisa kembali berkumpul dengan keluarga Shane juga. Kami sudah membicarakan tentang kemungkinan untuk mereka yang datang ke sini atau aku yang berkunjung ke sana. Tapi dengan situasi sekarang kami belum mendapatkan titik terang. Doakan, ya! :)

Dan mohon maaf lahir batin untuk teman-teman di sini. ---I know, I know, ini sudah bulan Agustus, hahaha. Tapi nggak apa-apa, dong. Untuk memulai sesuatu yang baik waktunya selalu tepat, kan ;)


______________________________

Btw, pas bulan Ramadan, aku dan Shane ikutan kontes musik "Ramadhan Home Recording Competition" yang diadakan oleh IMS Indo Pro Audio, De Sound, Ibanez Indonesia, Korg Indonesia dan Vox Indonesia. Kami membawakan lagu "Tombo Ati" dan berhasil masuk ke Top 20! Haha, nggak nyangka, ya? Sama aku juga :p Sayang kami nggak berlanjut ke 10 besar. Tapi berhubung kontesnya skala nasional dengan peserta yang banyak, jadi aku dan Shane sangat bangga. Lagipula, menang atau kalah yang dihitung itu prosesnya, kan ;)

Kalau penasaran dengan penampilan kami, klik videonya di sini: https://youtu.be/uRq9-slggEU




blessed girl,


Indi



---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Selasa, 08 Januari 2019

We've Made It!



Selamat tahun baruuuuuuu! :) Eh, boleh ngucapin nggak sih? Hehehe. Jujur sekarang aku takut salah kalau bikin ucapan (---ntar ada yang balas 'aku nggak rayain'). Soalnya di grup whatsapp unfaedah aku ramai banget soal ngebanned terompet dan segala macam atribut yang pas aku kecil identik banget dengan tahun baru. Di satu sisi aku senang soalnya suasana di komplek rumah jadi lebih senyap, nggak ada yang niup terompet. Di sisi lain aku sedih dong lihat penjaja terompet dst etc di jalanan yang sepi pembeli :( Aku sih no comment kalau ada yang bikin argumen tentang agama, tapi buat aku sendiri selama dilakukan dengan tertib dan nggak berlebihan ya why not? Kita tinggal di Indonesia kok, dan tahun memang berganti, ---buktinya saja kalendernya ganti angka, kan, hehehe. Aku sendiri nggak punya tradisi khusus tiap tahun baru, yang penting kumpul dengan keluarga dan buatku itu positif. Kalau ada yang bilang, "Kumpul keluarga mah bisa tiap hari kali!", well, lucky you then. Manusiawi kok kalau ingin sesuatu yang istimewa sesekali. Dan tahun baru itu cuma "moment" alias penanda kalau 365 hari sudah dilalui. Melewatinya dengan sedikit perayaan bersama keluarga sambil bersyukur buat aku nggak ada yang salah :)

Buatku dan Shane ini adalah tahun baru pertama yang kami lalui bersama secara langsung. ---Maksudnya kami berada di tempat yang sama, gitu :p Soalnya tahun baru 2018 lalu, waktu kami masih sahabatan dilalui dengan makan pizza bersama tapi lewat telepon. Aku di Indonesia dan dia di Amerika. Perbedaan waktu kami juga 13 jam, jadi pas pergantian hari aku doang yang heboh sendiri, hehehe. Aku dan Shane excited sekali, tapi lebih fokus ke quality timenya sih karena kami nggak ada rencana bakal ngapain. Yang penting barengan. We can do whatever we want, mau melek sampai pagi juga boleh. Karena meski kami nggak kerja kantoran, tapi break tahun baru ini memang bertepatan dengan selesainya salah satu projectku. Shane sih bilangnya kepengen nonton film bareng saja, mungkin kami bisa cari speaker yang agak bagusan karena punyaku yang lama sudah rusak. Aku setuju, dan berhubung ada dua keponakanku di rumah jadi kami juga mau sekalian cari kembang api biar mereka ikut happy. Jadilah siang harinya di malam tahun baru aku dan Shane ke mall terdekat buat cari speaker dan kembang api. Dan berhubung tahun lalu kami makan pizzanya terpisah sepuluh ribu miles lebih (lol), jadi kami putuskan buat beli bahan-bahannya sekalian. Mau masak berdua ceritanya, hehe.

Menunggu makanan datang di Solaria Festival Citylink sehabis berbelanja.

Oh iya, beberapa hari sebelumnya aku dan Shane sudah beli kado buat Ibu, Bapak dan dua keponakan. Kami sebenarnya sudah rencanakan ini jauh-jauh hari, cuma karena aku sedang nggak enak badan jadi belanjanya rada mepet. Eh, bukan "rada" lagi sih, tapi memang mepet. Mall sudah mau tutup sampai kami diusir halus gitu, tapi apa daya kami pura-pura nggak dengar saja karena memang butuh :p I'm sure we could have picked something better if we'd had more time, tapi nggak apalah, anggap saja ini sebagai kenang-kenangan karena sudah melalui tahun 2018. Ini semacam kebiasaan bagiku untuk bagi-bagi kado (---meski nggak bisa dibilang "tradisi" karena ada kalanya aku bokek, hehe). Buat seru-seruan saja, biasanya aku taruh kado-kadonya di ruang TV waktu orangtuaku tidur, jadi pas bangun mereka kaget, hehehe :D Kalau sedang ada rezeki lebih kadang aku juga belikan sesuatu buat karyawan yang bekerja untuk Ibu, termasuk untuk hewan-hewan peliharaanku juga (mudah-mudahan tahun depan, ya!). Dan berhubung keponakan-keponakanku itu masih bayi-bayi, jadi timing bagi kadonya agak diubah sedikit, ---di sore hari biar masih pada segar bugar!

Sepulang dari mall aku dan Shane langsung panggil the boys, Ali dan Abi Cody yang lagi sibuk berantakin ruang TV. Orangtua mereka harus lembur di bank karena akhir tahun, jadi kami kebagian dikunjungi sampai malam. Usia mereka 3 dan 1,5 tahun alias usia-usia yang bikin dilema; jauh kangen, tapi kalau dekat kadang bikin pusing, hahaha. Ali sudah mengerti dengan konsep kado. Jadi dia excited sekali untuk buka pembungkusnya, termasuk yang punya adiknya. Kalau diingat-ingat Ali itu memang selalu antusias dengan "hari besar". Entah karena dulu sering menghabiskan waktu sama aku, atau memang dia terlahir kaya gitu :p Ingatannya kuat sekali, meski baru 3 kali merayakan Halloween tapi dia ingat dengan 2 yang terakhir, termasuk kostum dan makanannya. Hampir tiap hari dia bertanya kapan Halloween lagi. Lucunya dia juga mengerti kalau hantu pas Halloween itu bohongan semua, jadi dia malah semangat buat lihat bukannya takut, hehehe. Juga dengan moment tahun baru ini, dia semangat untuk main kembang api sampai-sampai ruang TV dia beresin sehabis dapat kado supaya bisa cepat-cepat ke halaman rumah :D

Aww, Ali memeluk Shane setelah dapat kado :’)

Cody pun bahagia dengan kadonya (meski masih agak bingung, hehehe).

Seperti kedua keponakanku, Ibu dan Bapak juga dapat kado lebih cepat. Ya, kalau nunggu sampai malam aku takut mereka pikir aku lupa buat kasih kado, lol. Reaksi mereka sungguh overwhelming. Masih merinding kalau aku bayanginnya, padahal kadonya sederhana banget; sandal buat Ibu dan termos elektrik buat Bapak. Beruntung aku sempat abadikan reaksi mereka lewat kamera handphone jadi bisa aku lihat berulang-ulang. Memang ya, namanya kado itu sekecil apapun pasti bikin senang. Aku juga dapat kado lho, dari Shane, ---ada makanan, piyama dan baju baru. Sampai hari ini bajunya belum aku terima karena dia pesan online gitu. Tumben banget aku pilih model overall celana padahal biasanya pakai dress. Soalnya desainnya lucu banget sih gambar mangkuk ayam ala-ala penjual mie. Jadi nggak sabar dan juga penasaran aku kaya apa kalau pakai celana, hehehe. Ibu mertuaku juga kirim kado yang harus kami jemput ke kantor pos karena terkena bea cukai, sniff... Isinya banyak banget, ada pernak-pernik Hello Kitty buatku dan The Beatles buat Shane. Senang sekali, karena aku juga dapat sekantung pita rambut dengan berbagai warna. Secara aku punya kebiasaan pakai matching hair bow dengan baju, hahaha (Jojo Siwa mah lewat). By the way, aku bilang "sniff" bukan karena aku kecewa harus bayar bea cukai, ya. Namanya kado, itu pasti tanggungan si pemberi. Tapi jujur aku memang agak bete karena urusan bea cukai ini merusak kejutan. Soalnya jika harga barang di atas 100USD pasti dikirimi email dengan pertanyaan isi barang. Niatnya mau bikin kejutan tapi aku jadi harus nanya-nanya sama Ibu Mertua apa isinya, haduh :( Ini bukan pengalaman pertama, waktu aku dan Shane masih temenan (ecieeeeh...) dia sempat kirim hadiah natal ke sini. Setelah melewati proses bea cukai yang habis 2 jutaan rupiah, rupanya paketnya dibuka dulu dan ada 1 barang (cover CD) yang hilang. Ditambah bonus ada jejak sepatu pula di suratnya. Aku mengerti sih, itu aturan. Tapi aku harap petugasnya bisa lebih hati-hati lagi, kan namanya hadiah pasti ingin diberikan dengan kondisi terbaik, dong.

Reaksi Ibu yang so sweet waktu menerima kado :’D

Bapak dan Ibu membaca notes dari kami.

Jadi aku bersyukur banget, aku dan Shane sudah tinggal bersama. Nggak perlu lagi ada masalah dalam "kado-kadoan". Lagian bukannya aku gombal, TBH ada dia di sini saja sudah jadi kado terbaik buatku. Keluargaku tumbuh, kalau dulu hanya Ibu dan Bapak, sekarang ada dia juga :) Dan apa kado yang aku kasih buat Shane? Well, sampai tulisan ini dibuat aku belum kasih apa-apa, lol. Aku belum pro nih sebagai seorang istri, jadi mau ngasih juga bingung soalnya ntar pakai duit dia juga kan, hahaha. Just kidding. Rencananya aku akan belikan dia kaset kosong untuk dipakai merekam musik-musik buatannya. Agak susah carinya di sini, nggak seperti di negaranya yang penggunaannya masih populer. Kalau ada yang punya rekomendasi seller boleh lah kontak aku :p *Lah, tulisanku jadi ke mana-mana ya.
Setelah acara buka kado yang super menghangatkan hati, kami pindah ke halaman rumah untuk main kembang api. Sebenarnya yang main aku sama Shane saja sih, para bocah cuma nonton :D Mau aku kasih pegang tapi khawatir sama percikannya, lumayan pedih juga lho. Pssst, dulu waktu aku kecil paling takut kalau disuruh pegang kembang api sendiri, di otakku sudah kaya pegang dinamit saja. Tapi syukurlah semakin besar semakin berani karena kalau nggak kan malu di depan para bocah :p Ali beberapa kali pengen coba pegang, what a brave boy, dia kayanya gak takut meski jarak pegangan ke belerangnya dekat sekali. Yang aku beli ini jenis kembang apinya pendek-pendek, cuma berapa detik sudah habis. Lebih aman, tapi lumayan nyebelin karena lebih lama usaha bakarnya daripada nyalanya, hahaha. Ada celetukan kocak dari Ali, aku kan bikin bentuk-bentuk gitu dari kembang api, waktu aku tanya dia mau bentuk apa, dia jawab, "BRI." Spontan aku dan Shane ngakak. Entah dia cuma nyebut huruf-huruf random, atau dia memang bermaksud bilang nama bank. Ini bocah memang nggak terduga :D

Ali minta aku membuat “tulisan” BRI dari kembang api xD

Aku dan Shane menikmati bermain kembang api.

Di tengah acara kembang api iparku datang buat jemput the boys. Dia juga bawa bola yang bisa nyala-nyala gitu. Sudah pasti mereka girang, tapi karena berebutan bolanya nggak berumur panjang. Suara petasan di luar pun kalah sama tangisan mereka, hahaha. Aku sih nggak lihat gimana kejadiannya, yang pasti Ali jadi ngambek sama adiknya dan dia menolak ikut pulang. Setelah itu dia kelelahan dan tertidur sambil memeluk boneka doggynya. ---Well, rupanya bukan cuma dia saja yang lelah. Nggak lama setelah Ali, aku dan Shane pun menyusul. Nggak tahu kenapa badan rasanya lelah padahal masih jauh ke tengah malam. Rencana bikin pizza dan cookies bareng pun batal karena kami langsung ke alam mimpi. Kami baru terbangun karena Eris, anjingku kaget dengan suara petasan. Waktu lihat jam ternyata sudah tahun baru! (---mau ngejokes soal "tidur setahun" tapi basi, ah, lol). Apa ada yang terasa beda? Nop. Semua masih terasa sama seperti tahun kemarin. Tapi kami saling senyum, "We've made it." Kami berhasil melewati tahun 2018 dengan pahit manisnya. Aku dan Shane berhasil melewati fase persahabatan kami dan memutuskan untuk naik ke level yang lebih tinggi. Aku dan Shane berhasil tetap "waras" meski income terbesar kami terhenti dan terus bangkit. Aku dan Shane berhasil menghandle OCD ku dan stop dengan segala macam terapi obat. Aku dan Shane keluar dari zona nyaman dan nggak ada sedikit keinginan pun untuk kembali. Dan yang terpenting aku dan Shane berhasil mengalahkan ketakutan kami sendiri yang pernah bilang kalau hubungan kami "mustahil". Lihat di mana kami sekarang! We've made it... We've made it! Kami berhasil bertahan dan melihat ke belakang membuat yakin kalau kami pasti bisa melewati tahun-tahun yang akan datang. 

Baru bikin pizza keesokan harinya. Kami suka pizza vegan pakai nanas :p

Dan ini vegan cookiesnya. Agak-agak gosong tapi keren juga kami (ternyata lumayan) bisa baking xD


Well, selamat tahun baru untuk semuanya, ---yang merayakan atau tidak, yang pro kembang api atau tidak :p 
Suka atau nggak, here we are now. Why being so negative, tahun baru bisa menjadi penanda untuk melihat apa yang sudah kita lalui dan lalukan. Tahun baru juga bisa digunakan untuk break sejenak, "puji" diri sendiri atas pencapaian sekecil apapun. Bukannya narsis, terlalu keras sama diri sendiri kadang membuat kita terus membanding-bandingkan dan lupa kalau kita juga "hebat". We are worthy. Kalau kalian merasa down, pssst lihat kalendernya sudah ganti lho. Masih ada kesempatan ;)






that sleepy girl,

Indi


----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 10 November 2018

Indi Kembali saat Halloween! :)

Ini beneran bulan November? Ya, ampun tahun 2018 sudah mau lewat tapi tulisanku di sini cuma berapa biji? :') Hahaha. Dulu, waktu pertama kali bikin blog tujuanku buat menyimpan kenangan atau pengalaman. Iya sih foto dan video bagus buat menyimpan memory, tapi buatku tulisan punya keistimewaan tersendiri karena yang tersimpan bakal dari sudut pandangku :) Nah, berhubung belakangan aku jadi jarang menulis, hati kecilku sebenarnya menyesal... Ada beberapa moment berharga yang rasanya lewat begitu saja, sniff... Tapi daripada sedih berlarut lebih baik aku menulis satu-persatu kejadian apa saja yang aku ingat di sini. Biar tulisannya delay yang penting kalau nanti-nanti dibaca kembali kan bisa bikin aku bernostalgia. Apalagi suamiku sudah janji untuk mengingatkan aku menulis minimal satu minggu sekali supaya nggak menyesal lagi. ---Rrrr, iya kalian nggak salah baca, kok. Suami. Aku sudah menikah (tuh kan banyak cerita yang terlewat...) dan kapan-kapan pasti aku ceritakan di sini. Sekarang mumpung Oktober baru lewat aku akan cerita tentang Halloween saja dulu, deh ;)


Sebelum cerita, nggak bosan-bosan dari tahun ke tahun aku bilang kalau Halloween di keluargaku nggak sama dengan originnya. Kami hanya meminjam nama tanpa bermaksud being disrespectful. Mungkin untuk teman-teman yang baru mampir ke blog ini bisa buka label "Halloween" supaya mengerti apa yang kumaksud :) 
Well, selain adanya Shane alias suami, tahun ini juga ada hal lain yang berbeda. Kalau biasanya aku pakai kostum suatu tokoh (supaya nantinya bisa difoto side by side sama aslinya, hehehe), tahun ini aku pakai kostum sangat amat seadanya banget! Bukan tanpa alasan, Ibu yang biasanya membuatkan aku kostum sedang sibuk dan aku masih belum juga bisa memutuskan akan jadi apa sampai mendekati malam Halloween. Justru Ali, keponakanku yang baru berusia hampir 3 tahunlah yang sudah mantap akan jadi apa sejak jauh-jauh hari :D Ditambah lagi Shane bukan tipe orang yang wajib berkostum meski sangat antusias dengan Halloween, jadi aku pikir nggak apa-apalah karena kreatif kan nggak harus melulu soal kostum *wink* Karena nggak memikirkan kostum aku jadi bisa lebih bisa konsentrasi dengan dekorasi. Nggak ribet-ribet sih, aku hanya meminta Shane untuk memilih template bunting (bendera gantung) yang lucu-lucu. Lalu setelah itu kami bawa ke tempat fotokopi untuk dilaminating supaya kelihatan lebih bagus dan durable (jadi tahun depan nggak usah bikin lagi, lol). Shane juga sudah beli banyak sekali laba-laba mainan untuk disebarkan di seluruh ruangan. Aku suka ide itu, sederhana tapi efektif. Dan berhubung Halloween identik labu, aku juga sudah membuat lilin berwarna oranye yang dibuat dari crayon dan menggambar jarnya (bekas selai) dengan wajah Jack O'Lantern. Sisanya sih kami hanya pakai apa yang sudah ada di kamarku.

Dekorasi dan treats sederhana. Dirt cake gagal buatan Shane jadinya batal gagal karena ternyata rasanya enak xD

Waktu aku pikir semuanya sudah siap, tepat di hari H baru sadar kalau aku salah menulis tanggal undangan ke teman-teman! Seharusnya tanggal 30 Oktober, tapi aku tulis tanggal 31! Untung saja aku sadarnya pagi-pagi jadi mereka tetap bisa datang meski mendadak dan aku dibanjiri protes karena mereka nggak sempat menyiapkan kostum, hehehe (^-^ ')v 
Habisnya mau bagaimana lagi, di tanggal 31 aku dan Shane sudah berencana untuk ke rumah hantu, dan ditambah, Ali pasti akan kecewa berat kalau Halloweennya ditunda. Gimana nggak, dia sudah menunggu Halloween sepanjang tahun. Bahkan sudah latihan bilang "Happy Halloween" untuk videoku sejak Halloween lalu, ---yang mana waktu itu dia masih aku gendong dan belum terlalu lancar bicara. ---Aww, time flies :') 
Aku nggak mengundang banyak orang, seperti biasa acara seperti ini biasanya hanya kumpul di rumah bersama keluarga. Jadi kalaupun ada teman hanya beberapa saja. Apalagi aku pikir nggak fair buat Shane yang nggak bisa mengundang teman-temannya ke sini. Kampung halamannya jauh, di Amerika. Dan di sini dia belum punya teman selain orang-orang yang aku kenalkan, jadi aku ingin membuat suasana sehangat mungkin alias nggak asing. 

Kostumku, sebagai putri bunga :p

Beberapa saat sebelum teman-temanku datang, Ali sudah mandi sore dan bersemangat sekali. Sebenarnya sih sudah dari pagi, tapi Ibu sempat membawanya ke rumah Nenek supaya nggak mengganggu aku dan Shane yang sedang siap-siap xD Ali pakai kostum Superman, sedangkan aku memakai dress lama berbunga-bunga dan juga mahkota bunga. Ceritanya jadi putri bunga, hehehe. Kalau Shane malah super spontan alias tanpa rencana. Karena kehabisan baju bersih jadi aku minta dia pakai kaus yang Ibu belikan buatku. Aku nggak begitu perhatikan gambarnya, pokoknya asal nggak ambil baju dari keranjang cucian, titik. Tapi rupanya "kostum" Shane malah yang paling keren karena setelah diperhatikan motif kausnya mirip percikan darah! Hahaha, kami sampai nggak bisa berhenti ketawa waktu sadar soal ini, lucky him! :D Dan rupanya keberuntungan Shane nggak habis sampai di situ saja. Kami sempat berselisih kecil karena Shane salah perhitungan waktu membuat graveyard cake. Akibatnya cakenya hancur! Aku sampai hampir menangis karena teman-temanku sudah di depan rumah. Tanpa pikir panjang aku minta dia masukkan cake hancur itu ke dalam beberapa gelas dan atasnya diberi permen cacing. Dirt cake darurat! Kalau teman-teman suka ya syukur, kalau nggak pun nggak apa-apa asalkan kue gagal ini jangan dibuang. Aku sudah siap-siap malu dan bikin tameng dengan bilang"ini buatan Shane" sebelum ada yang protes. Tapi ternyata hasilnya nggak jelek, "Halloween banget" dan rasanya enak! Beruntung sekali, kan! :D Selain dirt cake darurat kami juga memakaikan kostum seram ke kotak susu soya dan jus mangga. Ibu juga menyumbangkan rujak Malaysianya yang rasanya segar. Lainnya aku memesan pizza (iya, karena ingin praktis, maafkan ya nggak bikin, hehehe), soda dan chips. Treatsnya cukup bisa dinikmati sama segala usia. Karena selain Ali, ada dua orang temanku yang juga membawa anak-anak mereka :)

Senangnya anak-anak juga menikmati. Ali dapat teman baru nih, namanya Melody dan Shakila :)

Ada teman-teman kerjaku, Rifa, Irma (plus 2 anaknya) dan Yuli. Juga ada teman-teman dari masa remajaku, Dhian dan Cut Hanna (yang datang bersama suami dan anaknya).

Meski tahun 2018 belum berakhir, tapi aku sudah bisa bilang kalau Halloween salah satu hari terbaik di tahun ini. Aku sangat bahagia dan merasa sangat dicintai di tengah orang-orang terfavoritku di dunia. Ketika semua terlibat, ketika semua menikmati, ketika semua tersenyum... rasanya nggak ada yang bisa membuatku down. Tahun lalu adalah masa yang sulit untukku. Kesehatanku mentalku drop dan keluargaku membuatkan pesta Halloween untuk membantuku merasa lebih baik. Dan tahun ini kesehatanku kembali, punya sahabat baru, ---yang juga menjadi seorang suami :) Jadi bertambah lagi alasan mengapa Halloween sangat berarti untukku. Ini bukan hanya hari di mana kami berpesta kostum, menghias rumah atau meminjam budaya Irlandia. Tapi Halloween adalah pengingat betapa keluarga begitu mencintai aku. Dan pengingat bahwa seburuk apapun keadaan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik. 

---

Ah, rasanya aku masih belum seluwes biasanya karena terlalu lama berhenti menulis. Tapi nggak apa, karena yang terpenting aku senang bisa kembali menyimpan memory di sini. Dan menulis tentang Halloween adalah cara yang menyenangkan untuk memulai kembali ;)


boo,

Indi

(Diedit 5/3/2023. Cut Hanna meninggal dunia pada tahun 2021. Kepergiannya mendadak tanpa sakit (malamnya masih berkomentar di salah satu postinganku). Aku dan teman-teman sangat merasa kehilangan karena almarhumah adalah orang yang baik. Doa dari lubuk hatiku untuknya dan keluarga).



Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com