Indi's Friends

Kamis, 30 Mei 2013

Menjadi Pembicara di Reborn-UNPAD :)

Hal bloggies! Wah, banyak sekali hal menarik terjadi sama gue belakangan ini. Pengalaman baru, tempat baru dan teman-teman baru. Semuanya terjadi begitu mendadak, kejutan. Well, tapi itu semua kejutan yang menyenangkan :) Gue ingin segera menceritakan semuanya di sini, tapi pasti akan menjadi post yang sangat panjang. Jadi hari ini gue akan menceritakan sebuah pengalaman singkat saja dulu. Karena, ehm, gue hanya punya waktu menulis di sela-sela makan malam sekarang, hehehe. Tapi meskipun singkat pengalaman ini juga berharga dan berkesan untuk gue :)

Beberapa waktu lalu gue menerima undangan dari UNPAD (Universitas Padjajaran Bandung), tepatnya jurusan manajemen komunikasi fakultas ilmu komunikasi untuk menjadi pembicara di seminar Reborn "Reading Become Our Tradtion". Tanpa berlama-lama gue langsung menyanggupi undangannya, karena gue langsung jatuh cinta dengan tujuan dari seminar itu, yaitu untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi setelah tahu bahwa target dari seminar ini diutamakan pelajar-pelajar SMA, gue semakin bersemangat karena (sadly) menurut survey kelompok usia inilah yang paling rendah minta membacanya.

Tanggal 27 Mei lalu, sekitar jam pukul 12 siang gue langsung menuju Bale Santika UNPAD diantar Bapak. Sebenarnya gue masih agak kelelahan, karena baru semalam pulang dari Singapore, tapi itu sama sekali nggak mengurangi semangat gue :) Acara sudah dimulai sejak pagi hari, sedangkan part gue ada di sore hari, sekitar pukul 2.30. Selain gue yang menjadi pembicara juga ada Dr. Jalalludin Rakhmat, seorang ahli komunikasi. Gue nggak berjumpa dengan beliau karena gue baru datang sekitar 30 menit sebelum part gue dimulai. Meski ini bukan yang pertama kali, tapi jika harus berhadapan dengan audiences yang belum mengenal gue rasanya berkali-kali lipat lebih deg-degan daripada acara meet and greet. Jadi gue berdoa, berharap nggak terlihat nervous dihadapan mereka, hehehe :)

Gue segera naik ke atas panggung setelah MC memanggil nama gue dan memberikan pengenalan singkat. Diluar dugaan, ternyata cukup banyak peserta seminar yang sudah membaca novel-novel gue, bahkan sudah menonton film Mika. Rasa nervous gue langsung hilang dan berubah menjadi exited. Gue menceritakan pengalaman pribadi gue berkaitan dengan membaca. Buku pertama yang gue baca adalah "Anak Tani". Waktu itu gue masih 5 tahun dan belum sadar bahwa suatu hari membaca menjadi kebiasaan yang membawa berkah untuk gue. Dengan membaca pengetahuan gue bertambah dan bisa belajar dari pengalaman orang lain. Bahkan membaca pula yang membuat gue menulis seperti sekarang ini. Karena membaca bisa menambah inpsirasi meski hanya dari meja kamar. Dan membaca bukan berarti harus novel, tapi bisa juga artikel, lirik lagu dan sebagainya. Karena darimanapun pasti ada manfaatnya. Gue sering lho mendapat inspirasi dari lirik lagu John Frusciante dan Steven Tyler :)



Meski peserta seminar nggak terlalu banyak, tapi suasana cukup hangat. Hampir nggak ada jeda terlalu lama, banyak pertanyaan-pertanyaan cerdas yang diajukan. Meski temanya "membaca" tapi semuanya justru bertanya tentang "menulis". Tapi itu nggak masalah karena masih berhubungan dan gue percaya menulis biasanya diawali dengan minat membaca :) Gue mencoba menjawab semuanya sebaik mungkin, berdasarkan pengalaman, karena gue masih ingat betul apa yang gue alami dulu hampir persis seperti yang mereka alami. Dulu gue sering kehilangan mood dan nggak konsisten. Well, masa SMA gue nggak berbeda dengan mereka ternyata, hehehe. Mudah-mudahan saja dengan berbagi pengalaman bisa memberikan semangat untuk mereka. Gue memang bukan orang yang membaca buku setiap hari dan punya koleksi buku yang memenuhi rak sampai menyentuh langit-lagit kamar, tapi gue merasakan betul manfaat membaca, jadi gue ingin mereka tahu bahwa mereka juga bisa mendapatkan sesuatu dari membaca.



Acara ditutup dengan penyerahan plakat dan sertifikat (nama gue salah eja, huhu). Bangga rasanya bisa menjadi bagian dari acara ini meski hanya selama 40 menit. Salut kepada UNPAD yang bertekad untuk menghilangkan Indonesia dari list negara dengan minat membaca paling rendah menurut bank dunia. Yang paling sulit adalah memulai dan UNPAD memulai untuk membuat kampanye ini. Gue harap masyarakat Indonesia, terutama remaja juga mau memulai untuk membaca.

Seharusnya nama gue "Indi Taufik", hehehe :)


Oh, btw, ada hal manis yang gue alami selama seminar ini. Pertama, setelah gue keluar ruangan ternyata sebagian besar anak-anak SMA mengikuti gue untuk berfoto. Dan kedua, ketika gue membuka box konsumsi ternyata isinya pizza vegetarian! Hahaha, my fave! :) Terima kasih UNPAD, sampai berjumpa kembali. Nggak sabar menunggu ide-ide kampanye luar biasa kalian ;)

smile,

Indi


Facebook: here | Twitter: here | Contact Person: 081322339469

Selasa, 21 Mei 2013

Tentang Dominika: My Little Best Friend :)


Mungkin yang sering membaca blog ini sudah tahu bahwa gue sangat suka dengan anak-anak. Yup, gue bahkan bekerja di pre school agar bisa lebih dekat dengan mereka. Bermain dengan anak-anak selalu membuat gue gembira dan berenergi, rasanya semua semua hal buruk pergi dan yang ada hanya hal positif. Gue sangat menikmati pekerjaan gue, dan ketika ada hari-hari dimana merasa terlalu lelah untuk bekerja, hanya dengan mengingat akan bertemu mereka lah yang membuat gue tersenyum :) Tapi bagaimana jadinya jika ada seorang anak yang memusuhi gue mati-matian? 


Namanya Dominika. Gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatnya. Pipinya tembam, rambutnya coklat keemasan dan kulitnya putih bersih. Di lengan dan kakinya tertempel banyak plester. Bukan karena luka, tapi Dominika memang senang menempelkan plester di tubuhnya. Meski masih kecil ia sudah mempunyai warna favorit, yaitu pink. Waktu itu gue langsung berkata pada diri sendiri bahwa gue dan Dominika pasti akan bisa cocok. Bagaimana nggak, kami punya kebiasaan yang sama, menempelkan plester agar berkesan keren, dan juga sama-sama menyukai warna pink. Jadi ketika tahu gue ditempatkan di kelasnya, gue bahagia bukan main. Dengan senyum semanis mungkin gue menghampirinya dan menjulurkan tangan untuk berkenalan. "Halo, my name is Miss. Indi", kata gue. Dan tahu kah apa balasannya? Dominika menatap gue heran dan pergi begitu saja!

Haha, kalau diingat memang lucu. Tapi ketika gue mengalaminya sama sekali nggak terasa begitu. Perasaan gue bercampur-capur antara sedih, tersinggung dan penuh tekad untuk meluluhkannya. Gue masih dalam masa trial, setiap hal yang gue lakukan akan dinilai dan dijadikan pertimbangan apakah gue layak untuk bekerja di sana. Gue dan Dominika seperti kucing dan anjing. Dia nggak mau gue dekati dan satu-satunya yang menarik perhatian ia hanyalah sepatu gue yang ala princess. Tapi selebihnya nggak. Pernah suatu kali, ketika waktunya brunch Dominika nggak mau mengantri untuk mencuci tangan. Gue dengan suara penuh keibuan dan raut wajah seramah mungkin (lol) menegurnya dengan bilang, "line up, please". Tapi reaksi yang gue dapat benar-benar diluar dugaan. Ia langsung marah dan menangis sambil berbaring di lantai! Hahaha... Gue malu bukan main. Pikiran bahwa gue dan Dominika akan cocok pun sudah hilang entah kemana...

Situsi ini benar-benar membuat gue canggung. Gue jadi menjaga jarak dengan Dominika. Begitu juga sebaliknya, ia lebih memilih teacher lain dibanding gue. Lama-lama perang dingin antara gue dan Dominika pun mulai tercium oleh Miss. Alison. Ia menganggap apa yang gue alami ini lucu, dan cara penyelesaiannya mungkin lebih mudah dari yang gue bayangkan. Gue disarankan agar lebih mengalah karena mungkin saja Dominika merasa tersaingi dengan kehadiran gue. Haha, waktu itu rasanya geli bukan main, bagaimana mungkin seorang balita merasa tersaingi dengan seseorang yang usianya berkali-kali lipat darinya. Tapi, well ya mungkin juga ada benarnya. Gue mempunyai sisi kekanakan yang kuat di dalam diri gue. Dominika mungkin bisa merasakannya, jadi gue putuskan untuk mengikuti saran Miss. Alison.

Gue akhirnya bekerja secara resmi di sana. Gue nggak lagi ditempatkan di kelas Dominika dan mengajar anak-anak yang usianya lebih muda. Jarak kelas gue dan Dominika pun cukup jauh, dari ujung ke ujung dan dipisahkan oleh playground yang sangat luas. Kadang gue berpapasan dengannya dan mencoba tersenyum iseng kepadanya. Reaksinya sesuai dugaan gue, dia memasang grumpy face lalu memalingkan wajah, hahaha. Tapi rasa iseng gue malah makin menjadi, dari sekedar senyum lalu meningkat dengan menghampirinya dan berjongkok di depannya. Reaksi Dominika lumayan membuat gue menciut. Ia berteriak dan menolak didekati. "Awas", "Sana", "Jangan" adalah kata-kata yang sering gue dapatkan. Wajah gue kalau saja dilihat dari rekaman CCTV pasti sangat nggak karuan, lol. Setelah 1 bulan akhirnya gue berhenti mencoba. Seperti yang sudah gue bilang, gue punya sisi kekanakan yang sangat kuat. Jadi secara diam-diam, jangan sampai teachers lain mengetahuinya, gue meng"iya"kan ajakan perang Dominika.

Setiap kali kami berpasasan di playground gue pura-pura nggak melihatnya. Kalau jarak kami cukup jauh gue akan curi-curi pandang padanya. Setiap kali ia melihat ke arah gue, gue akan pura-pura nggak melihat, hahaha. Konyol, tapi Dominika pun melakukan hal yang sama. Gue tahu ia memperhatikan gue dan kadang mendekati gue dengan jarak sekitar 2 meter lalu pergi setelah menunggu dan nggak mendapatkan respon dari gue. Sulit sekali untuk menahan agar nggak tersenyum. Betapapun ia memusuhi gue, tetap saja setiap kali melihatnya gue menemukan sesosok gadis kecil yang menggemaskan.

Lalu datanglah hari yang sangat ajaib. Posisi sepertinya berbalik, Dominika menjadi orang dewasa dan gue menjadi anak-anak. Ketika kami berpasasan di playground ia yang sedang berlari tiba-tiba berhenti dengan jarak yang lumayan dekat dari hadapan gue. Ia tersenyum dan berkata, "Hai" lalu kembali berlari. Kejadian ini terus berulang selama berhari-hari. Gue mengagumi keteguhan Dominika untuk mencoba berkomunikasi dengan gue. Ketika gue mulai membalas sapaannya jarak kami semakin dekat. 2 meter, 1 meter dan akhirnya hanya beberapa senti saja. Dan ketika itu terjadi, tahukah apa selanjutnya? Gue dan Dominika segera menjadi teman baik!

Sepulang sekolah Dominika pasti mengikuti day care, jadi meski kelas kami berjauhan tapi selalu punya kesempatan untuk bertemu. Ia bukan tanggung jawab gue karena karena waktu bekerja bersama anak-anak sudah habis. Tapi jika pekerjaan gue nggak terlalu banyak, dengan senang hati gue menemaninya. Terkadang kami nggak melakukan apa-apa sampai ia tidur di pangkuan gue. Atau ada saatnya gue bekerja di kelas dan ia tetap ingin menghabiskan waktu bersama gue. Meski artinya ia hanya bisa menonton gue bekerja sambil bermain sendiri, tapi ia tetap menunggu. Setiap Dominika keluar dari kelasnya, ia pasti berkata pada teachernya, "Mau main di kelas Indi"
Iya, Indi, tanpa "miss" karena di luar waktu sekolah kami berteman :)

@ Domino's Pizza with Dominika :)
Waktu menyenangkan sepulang sekolah :)

Seperti selayaknya teman, gue dan Dominika sering melakukan hal konyol bersama. Kami pernah minum jus di gelas mainan dan mencucinya kembali ketika nggak ada yang melihat (lol). Kami juga sering bergulat di karpet kelas ketika sebagian besar teacher sudah pulang. Bukan itu saja kami juga melakukan hal-hal girly bersama. Beberapa kali gue membawa make up kit mini ke dalam kelas dan kami bercermin sambil berdadan. Tenang saja, gue hanya membawa peralatan yang aman kok. Baby powder, kids body mist, rubber band dan lain sebagainya. Kadang jika rambut gue diikat dua, Dominika minta agar rambutnya dibuat sama. Penah satu kali gue mengepang rambutnya dan ia ingin memegangnya terus-terusan. Gue berkata padanya supaya terlihat cantik rambutnya jangan dipegang-pegang terus, dan ia menurut. Semenjak hari itu lah kami punya istilah untuk rambut cokelat kami yang habis didandani dengan sebutan: Rambut cantik :p

Lama kelamaan gue menjadi role model bagi Dominika. Ia sering memakai sepatu gue dan dengan hati-hati mengembalikannya lagi ke rak sepatu. Ia malah pernah meniru gue yang hobi menggunakan stocking setiap hari. Ia memakai kaos kakinya, menariknya sampai lutut dan menolak setiap kali ada yang meminta untuk menurunkannya. Ternyata ia berusaha membuat kaos kakinya terlihat seperti stocking! Dan dengan bangga ia menunjukannya pada gue sambil berkata, "Sama". What a smart girl! :)
Saat waktunya makan siang, teachers terkadang menggoda gue karena sudah berhasil berbaikan dengan dominika. Mereka nggak menyangka Dominika jadi sangat dekat dengan gue karena sebelumnya kami bagaikan kucing dan anjing. Bahkan Miss. Dewi, teacher dari Dominika bertanya dengan heran pada gue, "Indi, kenapa Dominika jadi lengket gitu sama kamu?". Dan gue pun hanya menjawabnya dengan cengiran konyol sambil menggelengkan kepala, karena sampai hari ini pun gue nggak tahu alasannya, hehehe.

Kemarin karena kelas gue lebih dulu selesai, gue sempatkan untuk mengintip ke kelas Dominika. Ternyata di sana sedang pelajaran tentang "water life". Anak-anak berdiri mengelilingi container kuning yang berisi ikan-ikan lucu dengan antusias. Tapi nggak dengan Dominika. Ia menangis histeris dan menolak ketika diminta untuk memasukan tangannya ke air. Karena penasaran gue menghampirinya dan mencoba menunjukan padanya bahwa nggak ada yang perlu ditakuti, tapi ia tetap menangis sambil duduk di pangkuan gue yang sedang berjongkok. Ketika ditanya ia berkata "Caught a fish... Caught a fish!!" Gue menatapnya heran, nggak mengerti dengan apa yang ia maksud. Lalu setelah beberapa saat kemudian gue tertawa kencang. Perut gue rasanya geli. Gue mengerti apa yang ia maksud. Ada sebuah lagu berjudul "Once I Caught a Fish Alive" yang berlirik seperti ini:

One, two, three, four, five,
Once I caught a fish alive,
Six, seven, eight, nine, ten,
Then I let it go again.

Why did you let it go?
Because it bit my finger so.
Which finger did it bite?
This little finger on the right.


Hahaha, Dominika ternyata takut jarinya digigit ikan! Well, sepertinya gue bukan saja mempunyai teman kecil yang menggemaskan, tapi juga lucu. Love you, Dominika! Semoga nggak ada lagi perang di antara kita, ya :p


***
Facebok: here | Twitter: here | contact person: 081322339469

Senin, 13 Mei 2013

Oh, my God, Oh, my God! Gue Lollipop Girl nya Mika! :)

Hai bloggies! Apa kabar? Ini hari senin, mungkin beberapa diantara kalian ada yang sudah mulai masuk sekolah, bekerja atau malah masih punya 1 hari libur ekstra? Hehehe. Gue sendiri sedang menikmati hari libur terakhir, sudah berpiyama setelah makan malam dan sekarang duduk di depan komputer :) Mungkin ada yang sempat membaca/masih ingat dengan post-post gue sebelumnya yang menceritakan tentang kebingungan gue untuk memilih konser Aerosmith atau Mika yang akan diadakan di hari yang sama. Well, ternyata konser Mika dimajukan dan gue sangat senang karena bisa menonton keduanya. Tapi ternyata ada kabar buruk, konser Aerosmith batal dan gue menerima kabar tersebut hanya 2 jam setelah interview di Global Radio Jakarta tentang penyambutan band rock legend tersebut. That was really really really... sad... :'( Gue sudah menunggu konser ini sejak masih berusia 7 tahun dan memikirkan kapan kesempatan ini akan datang lagi membuat perasaan gue nggak karuan. Gue bahkan nggak terlalu memikirkan konser Mika lagi. Meski tiket sudah dibeli 2 bulan sebelum konser, satu hari menjelang hari H gue masih belum tahu dimana tiket bisa ditukarkan, jam berapa konser dimulai dan dimana konser akan diadakan...

Mika juga idola gue, tapi mungkin karena baru mengenalnya selama 6 tahun jadi perasaan sedih karena konser Aerosmith batal menutup segala ke-exited-an untuk menghadiri konsernya. Gue menghindari mendengar CD Aerosmith dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka. Setiap gue pergi ke tempat kerja di perjalanan gue mendengar CD-CD lain seperti Red Hot Chili Peppers, Queen dan... Mika. Meski perasaan sedihnya masih ada, tapi cukup berhasil untuk membuat gue berhenti membicarakan Aerosmith. Setiap hari gue diantar Bapak, jadi menghindari obrolan tersebut sangat sulit. Mendengarkan CD-CD Mika secara berulang-ulang ternyata membuat memori gue kembali ke 6 tahun lalu, dimana gue pertama kali memutuskan untuk membeli album pertamanya dan mulai mengidolakannya. Tepat semalam sebelum konser Mika tiba-tiba gue mengambil keputusan: Okay, gue akan bersenang-senang di konser Mika dan gue akan menjadi Lollipop Girl!



Yup, dan gue pun berusaha mewujudkan keinginan gue untuk jadi Lollipop Girl dalam satu malam. Oh, iya "Lollipop Girl" adalah icon dari lagu Mika di album pertamanya "Life in Cartoon Motion" yang digambarkan sebagai seorang gadis pirang berponi yang memakai dress berwarna pink. In case jika diantara kalian ada yang belum tahu :) Sebenarnya gue sudah punya dress yang mirip dengan Lollipop Girl versi kartun, tapi setelah googling ternyata dress Lollipop Girl versi real agak berbeda dengan yang kartun. Dengan bantuan Ibu gue membuat desainnya, mencari kain yang tepat dan menjahitnya. Dress Lollipop Girl gue pun selesai hanya 7 jam sebelum konser!
Segera setelah itu gue mencoba dress-nya dan langsung pergi ke Jakarta dengan Bapak. Dress Lollipop Girl digantung di bangku belakang mobil dan gue memakai dress santai, berharap bisa tidur di perjalanan karena kurang istirahat. Ibu bilang gue harus bersenang-senang dan jangan biarkan Aerosmith merusak hari gue. Hehehe, iya Ibu, iya :)

Pagi-pagi sebelum berangkat, mencoba dulu dress Lollipop Girl :)

Perjalanan terbilang sangat lancar (atau Bapak bilang, "terlalu lancar", lol), jam 1 siang kami sudah sampai di Jakarta sementara konser baru dimulai jam 8 malam. Nggak sulit menemukan Gandaria City karena semalam gue sempat print petanya dari internet. Tempat penukaran tiket masih sangat sepi, hanya ada 3 orang lain di sana. Tapi what a surprise, ada beberapa fans Mika dari "Mika for Indonesia" yang sudah menunggu di antrian masuk venue! Wah, dunno why pemandangan ini membuat gue tersenyum. Mereka ternyata mengenali gue karena pernah membaca blog ini. Setelah sedikit bertukar sapa dan gue bertanya-tanya sedikit tentang konsernya, gue menandatangani spanduk bertulisakan "Terima Kasih Mika" yang rencananya akan diberikan pada Mika. Suasana hati gue langsung berubah drastis, dan itu membuat Bapak lega. Katanya konser ini pasti menyenangkan karena gue akan bertemu dengan banyak teman baru.

Karena konser masih sangat lama, kami putuskan untuk berjalan-jalan dulu. Kami mampir ke Gramedia dan melihat-lihat buku baru. Sekalian melihat novel-novel gue juga, hehehe. Nggak disangka-sangka di sana ada sekelompok remaja yang menyapa dan mengajak berfoto karena mereka adalah pembaca novel-novel gue. Aww, sweet... Ternyata Bapak benar, gue akan bertemu dengan banyak teman baru :) Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang. Sengaja kami makan lama-lama karena nggak mau menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan akhirnya malah membeli sesuatu. Maklum gue suka nggak tahan kalau lihat toko CD dan pernak-pernik perempuan, hihihi. Tapi ternyata meski kami berusaha untuk lama-lama, sudah diselingi ngobrol dan santai-santai, waktu masih jauuuuh sekali ke jam 8 malam. Ya sudah kami putuskan untuk kembali ke mobil dan... tidur! Hahahaha...

Jam 6 sore meskipun masih sangat mengantuk gue putuskan untuk mengecek antrian menuju venue. Bapak bilang gue jangan dulu ganti baju karena waktu 2 jam itu masih lumayan lama. Tapi ternyata antrian sudah lumayan panjang dan teman-teman dari "Mika for Indonesia" sudah menagih dress Lollipop Girl gue, hehehe. Mereka meminta gue untuk segera memakai dress-nya dan foto bersama. Ya, sudah kami kembali lagi ke mobil, gue mengganti dress di bangku belakang dan kembali lagi untuk berfoto :) Gue dan Bapak mengantri jauh di belakang "Mika for Indonesia" karena kami berada di blue line sedangkan mereka di green. Sempat terpikir untuk meng-upgrade tiket, tapi urung karena ternyata penonton nggak terlalu padat.

Bersama Mika for Indonesia

Gue yang sudah memakai dress Lollipop Girl jadi mudah dikenali, banyak yang memanggil gue dengan nama "Lollipop" dan lucunya mereka bertanya apakah rambut gue asli atau wig, hahaha. Ini menyenangkan karena mengantri dan menunggu bukan kesukaan gue. Dan dress Lollipop Girl ini membantu gue mendapatkan teman mengobrol :) Lalu tiba-tiba saja ada seorang kru dari sebuah stasiun TV menghampiri gue. Dia bertanya apakah gue bersedia diwawancarai untuk program fashion street di NET TV, stasiun TV nasional yang akan launching 16 Mei nanti. Tentu saja gue bersedia. Dress ini dibuat dengan bersusah payah dan hanya dalam waktu semalam, akan menyenangkan jika Ibu tahu dress buatannya banyak dikagumi :) 


Akhirnya kami semakin mendekati venue yang berada di Skenoo Hall. Gue semakin merasa nyaman dan nggak terlalu mempermasalahkan karena harus menunggu sambil berdiri. Bagaimana nggak, gue sudah kenal dengan orang-orang yang menganti di depan, belakang dan samping gue, hehehe. Kami hampir nggak bisa berhenti mengobrol! :) Di tengah obrolan gue dihampiri oleh kru Trans 7, mereka ingin mewawancarai gue. Dengan senang hati gue iya-kan dan gue diminta untuk menceritakan kenapa memilih untuk menjadi "Lollipop Girl". Gue bercerita bahwa sejak album "Life in Cartoon Motion" keluar, selain Grace Kelly, Lollipop lah yang paling mencuri perhatian gue. Apalagi setelah tahu bahwa lagu ini mempunya icon yang manis. Langsung saja gue ingin menjadi Lollipop Girl dari Indonesia, hehehe. Wah, ternyata dress ini membawa banyak berkah dan kebahagiaan. Gue bersyukur karena memutuskan memakai dress ini, padahal awalnya gue akan memakai dress seperti gadis di video clip Grace Kelly. Ternyata Lollipop Girl adalah icon yang paling mudah dikenali ya meskipun setelah itu masih ada 2 album Mika yang baru! :)



Waktu mengantri jadi semakin nggak terasa, gue dan teman-teman baru diajak untuk berfoto di booth Close Up. Lalu gue ditawari untuk membuat video testimoni konser Mika. Lucky me, gue mendapatkan hadiah power bank disaat hand phone gue low batt, hehehe. 10 menit kemudian gue, Bapak dan yang lainnya sudah berada di dalam venue. Sampai di dalam venue pun ternyata masih banyak yang meminta gue untuk berfoto. Well, sepertinya nggak ada yang tahu nama asli gue. Semuanya hanya bertanya, "Lollipop boleh foto?" dan langsung mengambil foto meskipun terkadang gue nggak siap, lol. Tapi gue sama sekali nggak terganggu karena mood gue sangat-sangat-sangat bagus. Sebentar lagi gue akan bertemu dengan idola gue. Hore! :)


Teman-teman baru :)
Dapat hadiah :)

Salut, konser dimulai hampir tepat waktu. Mika muncul dengan menggunakan celana hitam, kemeja putih, jas hitam dan topi hitam. Bapak bilang dia kelihatan tampan, tapi menurut gue yang seperti itu namanya "cute", hahaha. Gue nggak bisa  berhenti bernyanyi dan menari, semua lagu yang Mika bawakan adalah yang gue suka. Ehmm, sepertinya memang gue hampir suka semua lagunya, sih :p Di saat penonton lain sibuk mengacungkan kamera dan HP untuk mengabadikan konser, gue sama sekali nggak terpengaruh. Gue hanya ingin menikmati konsernya, dan waktu 2 jam pasti terasa sebentar sekali. I don't want to miss a thing deh pokoknya (oops, kok jadi judul lagu Aerosmith, ya? Lol)

Bapak juga ikut bersenang-senang, lho.

Ini adalah konser pertama gue. Gue memang bukan orang yang suka dengan keramaian, tapi gue berjanji jika itu untuk Aerosmith gue rela beramai-ramai. Dan di konser Mika ini, ajaibnya nggak terlalu padat, masih banyak space yang tersisa. Kalaupun gue mau duduk-duduk masih bisa, AC pun sangat terasa, sama sekali nggak gerah :) Di konser ini juga gue akhirnya merasakan "merinding" moment, hehehe. Itu lho moment ketika idola kita menyanyikan lagu yang pas sekali dengan suasana hati. Dari sekian banyak lagu hanya "Origin on Love" yang membuat gue meneteskan air mata tanpa sadar. Gue sampai harus menghapus air mata beberapa kali karena terus keluar sampai lagu selesai. Suddenly I miss my Mika. Iya, my Mika, my hero, my AIDS fighter. Lagu ini membuat gue teringat dengan kenangan-kenangan manis yang gue lalui bersamanya. Juga tentang betapa polosnya gue di masa-masa itu. Ah... :') Gue menoleh ke arah Bapak, jaga-jaga takut disangka konyol gue langsung pasang wajah serius dan bilang, "Aku ingat Mika aku, ya, bukan yang lagi nyanyi sekarang". Hahahaha :)


Di tengah konser tiba-tiba gate pembatas green dan blue dibuka. Guess, what, gue dan Bapak termasuk yang beruntung untuk pindah ke green! Wah, gue senang bukan main. Tuhan maha baik, niat gue untuk upgrade tiket ternyata dikabulkan dengan cuma-cuma :D Jarak gue dan Mika dekat sekali, hanya terhalang 1 lapis pagar dan tepat di samping panggung. Bapak sempat mengambil foto gue yang dekat sekali dengan Mika, tapi hasilnya konyol karena lengan gue melingkar di pagar sambil sibuk menyanyi. Hahaha, salah-salah disangka pemandangan di kebun binatang :p Sampai konser selesai kami nggak pindah tempat dan tetap di sana sampai venue sepi dan sebagian besar penonton pulang. Gue masih amaze dengan pertunjukan tadi. Meski Mika nampak terburu-buru karena harus langsung ke X Factor, tapi dia tampil sangat maksmimal. Suaranya sebagus di CD!


Proud Lollipop Girls all around the world. Am I the only Asian? :p


Gue bertemu kembali dengan teman-teman "Mika for Indonesia", mereka beruntung jadi choir dadakan untuk mengiringi beberapa lagu Mika, hehehe. Kami langsung sibuk bertukar cerita tentang keseruan konser tadi. Dari mereka gue jadi tahu bahwa sebelum Mika membawakan lagu "Lollipop" mamanya dan Yasmine kakaknya bertanya tentang perempuan yang memakai dress Lollipop Girl. Oh, my God! It was me!!! Katanya mamanya dan Yasmine sudah diberitahu bahwa nama gue Indi, tapi sayang mereka nggak bisa menemukan gue karena sebelum pindah  gue masih berada di tengah kerumuman. Wah... sayang sekali gue melewatkan kesempatan bertemu mereka... Gue jadi agak sedih, apalagi kru dan security (sepertinya) nggak percaya dengan cerita  mereka. Padahal, kami nggak memaksa untuk bertemu hanya minta disampaikan bahwa gue masih di sini, belum pulang in case mamanya Mika atau Yasmine bertanya.

Tapi ya sudah, perjalanan gue dan Bapak menuju rumah kan masih sangat panjang, 4 jam. Yang penting gue sudah berusaha menyampaikan :) Sebelum benar-benar keluar venue ada beberapa penonton yang mengajak gue untuk berfoto. Sebenarnya agak malu karena rambut gue sudah acak-acakan, hehehe. Tapi berhubung mereka sangat ramah (malah ada yang menenangkan gue dengan bilang, "nggak apa-apa kamu masih kelihatan seperti Lollipop Girl, kok", hehe) gue jadi merasa nyaman. Bapak malah bergurau kalau tadi beliau menghitung totalnya ada lebih dari 40 orang yang mengajak gue berfoto. Hahaha, ada-ada saja :)

Gue dan Bapak menuju tempat parkir. Meskipun toilet masih ada yang buka tapi gue sengaja nggak mengganti dress Lollipop Girl dengan baju ganti. Gue masih tersenyum-senyum membayangkan apa yang sudah gue alami. Dress ini benar-benar penuh berkah dan kebahagiaan. Gue juga jadi belajar bahwa seharusnya nggak terlarut dengan kesedihan "Aerosmith". Beruntung, bersyukur gue memberikan Mika kesempatan untuk membuat gue bahagia malam ini, karena jika nggak mungkin gue masih stuck dengan kesedihan gue.

 

Sambil terkantuk-kantuk gue mendengar Bapak bicara, "Eh, tahu nggak, tadi waktu kamu sibuk foto-foto ada ibu-ibu bule yang lihatin kamu terus. Dia sepertinya mau menyapa, tapi kamu sibuk. Dia senyumin kamu sekilas terus masuk ke belakang panggung".
Tiba-tiba kantuk gue hilang. Gue jadi teringat dengan cerita tentang mama dan kakaknya Mika tadi. Cepat-cepat gue buka HP dan mencoba beberapa kata kunci di google. Setelah keluar hasilnya gue tunjukan fotonya pada Bapak.

"Nah, iya... Itu yang tadi lihatin kamu. Memang itu siapa?"
Mata gue langsung melotot, kalau saja ini sinetron wajah gue pasti sudah di shoot zoom in-zoom out...
Oh, my God... Oh my God... It was his Mom... IT WAS MIKA'S MOM!!!
*pingsan*


lollipop girl,

Indi
foto Mika di atas panggung by Nanda.

Facebook: here | Twitter: here | Contact Person: 081322339469


Minggu, 05 Mei 2013

20 Tahun dan Menunggu...

Sabtu, 4 Mei 2013

Pagi-pagi sekali gue sudah bangun. Sarapan tanpa disuruh dan langsung mandi tanpa kembali berbaring di sofa. Bapak bilang gue aneh, tapi gue nggak peduli dan sebelum beliau sadar gue sudah berdiri di garasi. Menunggu diantarkan ke suatu tempat yang istimewa.

Masih ingat tulisan gue tentang Aerosmith yang "ini"? Yup, betul, waktunya semakin dekat. Tinggal 7 hari lagi sampai gue dan Bapak bisa berdiri di front row sambil berharap-harap cemas Steven Tyler akan melemparkan harmonikanya untuk kami, hehehe. Kami sudah benar-benar siap, stamina, mental, dan bahkan Bapak sudah menyarankan gue segera membuat surat untuk Steven Tyler. Kemungkinan akan sampai memang kecil, tapi Bapak bilang nggak ada salahnya mencoba. Rasa exited kami semakin hari semakin menggebu. Kami selalu terkikik ketika membicarakannya. Mata gue berbinar dan Bapak pura-pura mengejek. Lalu kabar bahagia yang lainnya datang menghampiri kami. Aerosmith Indonesia, sebuah perkumpulan pengagum Aerosmith mengundang gue untuk interview di Global Radio Jakarta. Tentu saja ini dalam rangka menyambut kedatangan Aerosmith yang sebentar lagi :D

Jadilah kami menempuh perjalanan menuju Jakarta. Bapak di balik kemudi dan gue asyik mengganti-ganti CD di bangku penumpang. PUMP, Big Ones, Just Push Play dan album-album Aerosmith lainnya sudah gue siapkan dan pastikan cukup untuk menemani perjalanan kami. Bapak bertanya apakah gue hapal dengan sejarah Aerosmith. Gue bilang, "ini interview, Pak, bukan ujian", tapi Bapak tetap bertanya hal yang sama sampai gue mogok bicara. Beliau lalu tertawa dan berkata bahwa ia hanya menggoda gue. Beberapa saat kemudian gue ikut tertawa, nggak kalah kencang. Karena sebenarnya gue sudah tahu dari awal bahwa beliau hanya becanda dan gue tadi hanya pura-pura ngambek :)

Gue bernyanyi terus. Dengan penghayatan penuh, ekspersi konyol dan membuat suara serak ala rocker. Sesekali gue melirik Bapak, memastikan suara gue nggak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bapak juga ikut menyanyi, tapi suaranya nggak jelas, hanya bergumam dan baru agak terdengar di bagian refrain lagunya saja, hehehe. Tapi gue lega, karena itu artinya Bapak nggak terganggu. Kami begitu terus sampai 2 jam kemudian. Gue sudah menghabiskan 1 botol minuman dan mulai kehilangan energi untuk bernyanyi. Gue bertanya pada Bapak kapan kami sampai. Tapi beliau nggak tahu pasti, "sudah dekat", cuma begitu katanya. Gue sangat kahwatir kami nyasar, dan sayangnya, kami ternyata memang nyasar.

Kami baru bisa menemukan MNC tower, tempat dimana Global Radio berada setelah 4 jam perjalanan. Gue berkeringat sangat banyak karena tegang. Dalam hati gue berdoa supaya nggak terlambat meski sebenarnya gue sadar sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati. Gue berjalanan secepat mungkin dan meninggalkan Bapak yang sibuk mencari tempat parkir. Nggak lama kemudian gue bertemu Hans, menyalaminya dan sebisa mungkin menyembunyikan suara nafas gue yang hampir terdengar seperti dinosaurus, lol. Ajaibnya, semua yang ada di sana ternyata belum memulai interviewnya karena menunggu kedatangan gue. Selain Hans admin dari Aerosmith Indonesia, ada Wihel, seorang fans Aerosmith dan Lupi penyiar di sana. Kami mengobrol dulu dan baru berhenti setelah Bapak menemukan tempat kami. Karena ternyata mereka juga memutuskan untuk mengajak Bapak interview!

Awalnya jelas saja beliau menolak, seperti biasa Bapak lebih memilih jadi fotografer gue, mengabadikan setiap moment dari putri kecilnya ini. Tapi setelah gue bujuk dan ditambah sedikit tarikan di lengan (hihi), akhirnya beliau mau juga duduk di depan mikrofon :) Sebelum interview benar-benar dimulai Hans dan Wihel selalu menggoda bahwa gue adalah 'die hard fans' Aerosmith. Mereka bilang kalau mau bertanya yang sulit-sulit mending sama gue saja. Gue langsung melirik Bapak sambil nyengir. De javu, di mobil kan Bapak yang bergurau soal "sejarah Aerosmith", hehehe. 

Wihel, Bapak, Indi, Lupi, Hans :)

Interview berjalan lancar dan menyenangkan. Gue sesekali berbuat konyol tapi sepertinya semuanya bisa memaklumi karena gue terlalu exited setelah menunggu bad boys from Boston ini selama 20 tahun. Berkali-kali gue bilang bahwa akhirnya impian gue jadi nyata dan penantian gue terbayar. Dengan semangat gue menceritakan persiapan untuk konser nanti. Dari mulai pakaian dan apa yang akan gue lakukan kalau mempunyai kesempatan menemui mereka secara personal. Gue ingin sekali memberikan surat kepada Steven Tyler yang isinya ucapan terima kasih gue. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar konyol, tapi ia memang memberikan pengaruh positif kepada gue. Gue nggak akan seperti sekarang jika saja waktu berumur 7 tahun gue melewatkan video clip Crazy di TV (baca cerita lengkapnya di sini).

Bapak sangat menikmati suasana interview. Beliau sering menimpali gue dan mentertawakan setiap kali gue berbicara sesuatu yang konyol. Gue senang Bapak berlaku seolah nggak ada yang mendengar kami, hehehe. Lalu apa yang Bapak katakan menjadi kenyataan. Gue benar-benar ditanya soal sejarah Aerosmith! Untung saja bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah hal-hal yang sudah gue ketahui sejak berusia 10 tahun: kapan Aerosmith berdiri dan kapan Steven Tyler berulang tahun. Hehehe, ternyata itu ya yang disebut sebagai "die hard fans" :p




Banyak moment berkesan selama interview 1 jam itu. Gue bercerita bahwa berkat Aerosmith gue berlatih bermain harmonika dan drum ketika masih kecil untuk menemukan bakat gue. Meski kedua alat musik itu sampai sekarang belum dikuasai tapi apa yang gue lakukan ternyata membantu apa yang gue inginkan dan gue suka sebenarnya. Gue suka menulis, dan ingin berkarya seperti Aerosmith. Dari hati, tulus, meski dalam bentuk seni yang berbeda. Lalu tiba-tiba Bapak mendekati mikrofon dan berkata, "Indi bukan sekedar nge-fans sama Aerosmith. Tapi ia terinspirasi". Gue mengangguk dan tersenyum. Tadinya mau melanjutkan bicara tapi takut menangis karena gue terharu dengan kata-kata Bapak...

Tapi bukan hanya moment mengharukan yang kami alami. Ada kenangan lucu yang gue dan Bapak bagi tadi. Kami pernah hampir mencuri poster "Just Push Play" Aerosmith di salah satu toko kaset. Gue memang masih kecil waktu itu, tapi sebenarnya sudah mengerti bahwa mencuri itu salah. Entah terinspirasi dari mana, gue tiba-tiba merengek meminta diambilkan poster itu pada Bapak. Mungkin karena takut gue menangis Bapak mengambilnya dan sempat berjalan sejauh beberapa meter. Tapi lalu kami tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, dan dengan canggung Bapak mengembalikan poster itu ke tempat semula sambil diikuti tatapan heran orang-orang di sana, hahahaha :D Kami hampir nggak bisa berhenti tertawa waktu menceritakannya. Aerosmith memang sebuah band, tapi bagi kami lebih dari itu. Kehadiran mereka bisa membawa suasana haru sampai konyol :)

Interview ditutup dengan sesuatu yang agak mengerikan, kami ditantang untuk bernyanyi! Hehehe, kami sepakat menyanyikan lagu "Crazy". Gue melirik sekilas pada Bapak dan diluar dugaan beliau tampak exited sekali. Padahal Bapak paling malu bernyanyi di depan umum, apalagi Global radio bisa didengar oleh seluruh warga Jakarta, hehehe. Kami bernyanyi bagian refrain-nya saja. Meski pelan, gue bisa mendengar suara Bapak dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar. Bapak berani mengalahkan rasa malunya, beliau pasti sedang bahagia sekali!

Gue dan Bapak langsung pamit pulang. Perjalanan kami masih jauh, another 4 hours dan hari sudah mulai gelap. Gue senang sekali bisa bertemu dengan Hans, Wihel dan Lupi. Ini adalah pertama kalinya gue dan Bapak bertemu dengan komunitas pengagum Aerosmith. Perjalanan pulang sama menyenangkannya seperti ketika pergi. Gue melanjutkan marathon CD Aerosmith, Bapak mengikutinya dengan gumaman dan terkadang kami mengenang-ngenang apa yang baru saja kami alami. Karena belum sempat makan malam kami memutuskan untuk mampir ke Burger King. Gue adalah seorang pesco vegetarian, dan hampir nggak punya pilihan lain selain kentang goreng kalau makan di sana. Tapi ini menjadi tradisi nggak tertulis, kami harus ke sana karena Steven Tyler menjadi bintang iklan Burger King! Hahaha... Jangan anggap serius, tentu saja kami hanya main-main dan melakukannya karena menganggap itu lucu :D

Gue membeli veggie's burger dari tempat lain dan hanya membeli kentang goreng dan soda di Burger King. Bapak bilang nggak apa-apa, yang penting aura Aerosmith nya tetap terasa, lol. Kami melanjutkan perjalanan kembali setalah Bapak selesai makan, sedangkan gue sengaja menyisakan kentang gorengnya. Best part, jangan cepat-cepat karena ini makanan kesukaan Aerosmith, hehehe. Lalu handphone gue berbunyi. Ada pesan singkat dari Aerosmith Indonesia. Gue langsung tersenyum karena pasti isinya mengenai Aerosmith. "Baru juga ketemu sudah kangen kita lagi nih, Pak", gue bergurau. Gue akan membacakan pesan itu keras-keras, tapi lalu berhenti ketika gue sadar isinya bukan berita baik...

"Aerosmith batal konser di Jakarta"
.
Suara gue datar, tanpa emosi. Bahkan gue juga kaget kenapa bisa seperti itu padahal biasanya gue sangat ekspresif. Bapak sepertinya nggak percaya dengan pendengarannya, beliau bilang "hah?" berkali-kali. Gue membacakan untuknya satu kali lagi dan langsung bersandar ke jendela mobi. Nggak menangis dan cuma terdiam. Bapak juga. Pelan-pelan ia mematikan CD player yang sedang memutarkan lagu "Blind Man". Suasana mobil begitu sepi dan entah kenapa mendadak canggung. Gue nggak berani menatap Bapak karena takut melihat wajah kecewanya. Dua jam yang lalu impian kami rasanya sudah di depan mata, dan tiba-tiba hilang bahkan saat kami masih jauh dari rumah. Gue nggak tahu harus berkomentar apa. 20 tahun gue menunggu dan itu sudah menjelaskan segalanya.

Lalu tiba-tiba dada gue terasa sesak. Tangis gue akhirnya meledak, air mata gue nggak bisa ditahan. Gue menangis seperti bayi. Di tengah tangis gue bercerita tentang sesuatu yang seharusnya menjadi kejutan untuk Bapak. Diam-diam gue sudah memesan T shirt official Aerosmith untuk beliau. Harganya bagi gue nggak murah dan gue khusus menabung untuk itu. Gue ingin Bapak memakainya ketika konser nanti karena selama ini Bapak belum punya T shirt Aerosmith. Sejak dulu semuanya buat gue. Hanya buat gue. Dan gue ingin memberikan satu hari istimewa untuk Bapak.

Gue terus menangis. Benar-benar nggak tertahan. Lalu Bapak terkekeh, seperti memaksakan tertawa. Gue melihat wajahnya, akhirnya, dan jelas sekali beliau sedih. Bapak mencoba menenangkan gue, beliau bilang bisa saja Aerosmith berubah pikiran, mungkin konsernya hanya diundur sebentar. "Kaosnya buat nanti saja, terima kasih sudah dibelikan. Nanti dipakai waktu kita nonton konser Aerosmith selanjutnya, ya..."
Kata-kata Bapak sama sekali nggak menenangkan gue. Gue menangis tanpa suara dan merubah posisi duduk gue jadi meringkuk menghadap ke kiri. Membelakangi Bapak dan memejamkan mata gue.

Dalam gelap gue membayangkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Berambut acak-acakan berponi dengan gigi ompong sedang menatap serius ke layar TV. Ia begitu begitu terhipnotis dengan apa yang baru dilihatnya. Bapaknya berkata, "mereka itu Aerosmith", dan gadis itu pun tersenyum konyol. "Aku mau bertemu mereka, Pak". Bapaknya tersenyum lalu menjawab, "suatu hari, Indi... Suatu hari...".

Dan 20 tahun kemudian gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu masih menunggu "suatu hari" nya akan datang. Sekarang ia mungkin bersedih, kecewa, dan marah. Tapi dibalik itu, di lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap gadis kecil yang sama. Ia akan kembali tersenyum konyol dan suatu hari akan memberikan langsung surat yang ditulis tangan olehnya dengan hati-hati kepada Steven Tyler. Mungkin ditambah menjabat tangannya. Mungkin ditambah tepukan hangat di bahu. Mungkin. Siapa yang tahu. Yang pasti suatu hari ia nggak perlu menunggu lagi.
Amen...

daddy's little girl,


Indi
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

My Puppy is 8 Years Old! OMG! :D