Indi's Friends

Selasa, 28 Desember 2010

Liburan Paling Hebat Sedunia! (dan dapat award, hihihi) :D

"Libut 'tlah tiba, libur 'tlah tiba, hatiiiiiiku gembiraaaaa. Hore!"

Sepenggal lagu Tasya ini kayanya jadi "jeritan hati" anak-anak SD yang lega banget bisa bebas dari stress sekolah untuk semantara, hihihihi. Nah, bagaimana dengan kalian, teman-teman? How's your holiday? Apa kalian juga "hore" kaya si Tasya?

Gue iya.
Meskipun sebenarnya antara hari biasa dan hari libur hampir nggak ada bedanya, soalnya gue sudah lulus kuliah dan sekarang bekerja dirumah. Jadi libur nggak libur, sama-sama menghadap komputer dan "santai" tanpa deadline, hehehe. Tapi gue justru memanfaatkan moment libur orang-orang disekitar gue buat bikin masa liburan se "hore" liburannya Tasya :D


Orang tua gue dan Ray kerja 6 hari perminggu. Meski kantor ortu gue bersatu dengan rumah, tapi kami baru benar-benar ketemu diwaktu sore-malam aja. Sedangkan Ray, wah apalagi, dia baru pulang selepas magrib dan baru sampai rumah larut malam. Waktu berkualitas yang bisa kami punya cuma di hari minggu. Itupun dimanfaatkan Ray untuk menemani gue terapi.
Waktu gue dengan orang-orang tercinta gue benar-benar sangat sempit, makanya gue sibuk ngatur rencana gimana supaya liburan yang cuma 3 (24-26 Desember) hari ini jadi maksimal.



Tanggal 24 Desember.
Yeay! It's Christmas eve! Oya, hampir lupa, meski agak terlambat (tapi natal itu artinya sepanjang Desember, btw) gue ucapin selamat natal untuk teman-teman semua, ya. Semoga kasih Tuhan selalu menyertai kalian, amen.
Gue dan keluarga berkumpul dirumah sepupu gue. Kenapa? Hehehe, sebenernya ini sekalian syukuran sepupu gue dan istrinya yang baru menempati rumah baru. It's super fun day, soalnya gue juga jadi punya quality time sama nyokap! Kami makan es krim dan diperjalanan pulang kami mampir ke mini market untuk beli pop corn. Tahu dong buat apa? Yep, Christmas eve nggak lengkap tanpa film (hehe, jangan pada protes ya). Tapi movie marathon baru mulai jam 9 malam, sebelumnya kami grooming Eris supaya makin cantik. Hmm, sebenarnya sih yang mengerjakan dua mas-mas baik hati dari peternakan anjing. Tapi gue dan nyokap ikut bantuin jagain Eris, kok, hahahaha :)

me and mommy



eris grooming :)


Tanggal 25 Desember.
Ini hari spesial buat gue. Soalnya selain keluarga, Ray juga bisa menemani karena sudah libur (wah, kantornya dia.. malam natal mana ada libur. Pulangnya juga tetep sama larutnya, sniff). Banyak hal seru yang gue kerjakan hari ini, tapi yang paling seru adalaaaaaaaaah (drum roll, please, lol): MOVIE MARATHON SAMA RAY! Hihihihi... Kenapa? Soalnya akhirnya gue bisa memaksa Ray untuk nonton "Christmas Story". Ray memang nggak pernah menolak buat diajakin nonton, cuma gue nggak terlalu yakin dia mau nonton film lama yang gambarnya udah butek dan sound'nya getel ditelinga. Tapi ternyata Ray suka. Dia tertawa sering sekali dan larut sama film'nya. Meski kesannya sepele, tapi ini film yang berarti banget buat keluarga gue. Kalau keluarga lain mungkin memilih "Chistmas Carol" atau "Miracle on 34th Street" sebagai tradisi natal, tapi kami memilih film ini :D
Setelah itu gue dan Ray nonton film Jerman (lupa judulnya apa). Nice movie tentang anak perempuan yang ingin punya ayah di hari natal.

Kami nonton di rumah, dilantai atas ditemani pop corn, cookies dan soda. Sempurna :)

cookies, mangkuk pop corn yang sudah kosong, soda


Tanggal 26 Desember.
Hari minggu artinya jadwal terapi gue. Yup, nggak pernah ada kata libur buat terapi, hihihi. Agak sedih, tapi gue bersyukur karena masih bisa terapi. Gue tahu nggak semua gadis pengidap scoliosis bisa terapi rutin kaya gue sekarang :)
Seperti biasa Ray temenin gue sampai terapi selesai. Karena ini hari terakhir liburan (hiks), jadi kami putusin buat dinner di tempat yang nggak terlalu ramai. Tapi ternyata sulit banget cari tempat damai karena bertepatan dengan pertandingan bola! Dimana-mana ada acara nonton bareng, deh. Hahahaha, meski gagal tapi kami tetep bahagia meski harus makan di restoran fastfood yang banyak anak kecil berlarian dan teriak-teriak (bahkan ada yang nangis, lho sampai mirip di Posyandu, lol). Apalagi pulangnya Ray beliin gue buku. It's nice. Karena meskipun gue author (penulis) tapi tahun ini gue memang kurang baca buku, hihihihi...

dres yang gue desain khusus untuk liburan :D

kami dan junk food, lol


27 Desember.
Lho, lho? Liburannya sudah selesai, kan?
Ternyata belum :) Khusus hari ini Ray bisa pulang cepat. Jadi kami bisa ke mini market buat beli bahan makanan dan masak dinner sama-sama buat kami, bokap gue dan adik (nyokap lagi di RS nemenin nenek). Wah, senangnya. Apalagi menu malam ini kesukaan gue: PASTA! :D
Rasanya bahagia gue berlipet-lipet, deh bisa dikelilingin orang-orang yang gue sayangi selama liburan (plus satu hari) ini :)

aksi kami di dapur, lol

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apa yang kalian lakukan? Rasanya makna liburan harus ditambahi sedikit selain untuk "lari" dari rutinitas. Tapi liburan juga sama dengan memaksimalkan waktu dengan orang-orang yang gue cintai. I'M BLESSED!











--------------------------------------------------------------------------------------
Oya, nggak nyambung sama post diatas, gue mau kasih kabar nih, kalau blog gue dapat award. Senangnya... Apalagi gue dapat 2 award "STYLISH BLOGGER", hihihihi...
Terima kasih buat Azhia (http://azhiaminibook.blogspot.com/) dan Amelia (http://ameliasaga.blogspot.com/) atas award yang kalian berikan :)

So, sebagai penerima award (hihihihi, berasa pemenang piala Oscar), gue harus ikutin "aturan mainnya", nih. Pertama, gue harus sebutin 8 hal tentang diri gue:
1. Scolioser
2. Left handed
3. Naturally brunette
4. Tergila-gila dengan anak-anak berwajah angelic (terutama dengan almarhumah Heather O'Rourke. Googled her kalau kalian nggak tahu, btw)
5. Paling gampang nangis kalau nonton film tentang anak-anak, musikal dan binatang
6. Sangat emosional melihat anak-anak di clip Michael Jackson (Jealous!)
7. Pet keeper
8. I'm an fashionable geek :)

Kedua, Gue harus pilih 8 blogger lain untuk dapat award ini:
1. Niken (http://arinka-ayu.blogspot.com/), untuk baju-baju cute yang Arinka pakai.
2. Diana (http://dianarikasari.blogspot.com/), untuk fashion taste'nya yang unik.
3. Evita (http://jellyjellybeans.blogspot.com/), untuk potongan rambutnya of course (sama-sama berponi, lol)

4. Dita (http://handmadenest.blogspot.com/), untuk tangan kreatifnya.
5.
6.
7.
8.

(Gue masih baru disini, baru kenal beberapa nama. Nanti list'nya menyusul, ya ;))
Begitu :)

Minggu, 19 Desember 2010

Love will keep us alive...





Gue adalah seorang gadis pemimpi, naif dan kekanakan.
Waktu kecil gue selalu bermimpi akan ada seorang pangeran berambut pirang dan bermata biru yang jemput gue dari balkon, memberikan ciuman lalu berlutut untuk meminta gue menikah.
Setelah gue lebih besar, gue mulai tau bahwa mimpi gue itu mustahil. Alasan pertama, gue tinggal di Indonesia. Kedua, kamar gue ada dilantai dasar. Dan terakhir... "pangeran" gue ternyata berambut dan bermata gelap...

"Pangeran" itu bernama Ray. Dia seolah membunuh mimpi-mimpi masa kecil gue. Gue nggak bilang dia buruk. Dia baik. Sangat baik malah. Tapi Ray tetap lah Ray, bukan pangeran berambut pirang yang gue impikan. Ray "asking" me 3 tahun lalu dengan cara yang jauh dari romantis, dia ajak gue dinner, bertanya dan.. sudah, kami langsung berpacaran. Dia bahkan baru berlutut didepan gue 1 tahun kemudian. Without ring dan dia pakai kaki yang salah! Ya, gue sebagai gadis yang selalu memimpi-mimpikan moment indah ini langsung shock begitu tau kalau Ray berlutut dengan kaki kirinya, bukan dengan kaki kanan seperti di dongeng-dongeng kerajaan...

Gue beruntung Ray selalu berusaha mengerti dan fulfill my imagination. Dia ulang kembali "adegan" berlutut sampai hampir 10 kali sampai akhirnya dia pakai kaki yang benar dan nggak lupa bawa cincin. Dia bahkan sering "sengaja" menciptakan suasana romantis demi gue meski seringnya berakhir dengan tawa konyol. Ya, gue beruntung...
Tapi ada 1 hal yang dia "benci" dari ke naif'an gue. Gue selalu menganggap kalau tanpa apa-apa gue akan bahagia asalkan ada cinta. Gue sering sekali mengulang-ulang steatment ini sampai Ray sedikit kesal. Dia bilang dunia nggak akan bisa berjalan kalau yang ada cuma cinta. Gue harus mengenal hal lain yang disebut "UANG". Itu katanya... Karena uanglah yang bisa bikin gue hidup dan melanjutkan hidup (untuk terapi, obat, dll)...

Gue sedih, jujur saja. Lagi-lagi Ray membunuh mimpi masa kecil gue.
Ray memang meminta maaf karena sudah membuat gue sedih, tapi dia nggak mencabut kata-katanya. Dia sangat yakin apa yang dia ucapkan itu benar. Sedangkan gue, gue jadi nggak yakin dengan "mimpi" masa kecil gue. Mulai berpikir bahwa Ray benar dan memutuskan untuk berhenti bicara soal cinta...



Lalu tanggal 13 Desember kemarin Ray harus pergi ke Singapore untuk bekerja selama 3 hari. Gue merasa kehilangan dan kebingungan karena selama 3 tahun bersama kami belum pernah berpisah. Ray bilang dia lakukan ini untuk kami, supaya kehidupan kami lebih baik dan kami bisa cepat menikah. Akhirnya dengan berat hati gue lepas kepergian Ray dan menangis di kamar seharian.

Belum sampai di Singapore, masih di sebuah hotel dekat airport di Jakarta Ray telepon gue. Gue pikir dia mau pimpin doa tidur seperti kebiasaan kami. Tapi ternyata gue salah. Ray diam cukup lama dan meminta maaf berkali-kali...
Dia bilang selama ini gue benar dan dia terlalu egois untuk mengakui. Ray cabut kembali kata-katanya yang bilang bahwa uang lebih penting daripada cinta. Dia baru sadar bahwa apa yang dia lakukan sejauh ini justru karena cinta, bukan uang...
"Gue baru sadar, apa yang gue lakuin sejauh ini... Gue rela kerja mati-matian, berhemat dan mengusahakan apapun dengan maksimal karena karena cinta, karena gue jatuh cinta sama lo....".

Gombal?
Nop! Gue yakin nggak. Gue yakin Ray berkata jujur karena itu tepat seperti apa yang gue rasakan. Gue: membunuh beberapa mimpi masa kecil dan mencoba untuk nggak terlalu naif. Semua itu gue lakukan karena gue cinta. Ya, karena gue jatuh cinta dengan "pangeran" gue. Kami bisa lakukan apa saja.
Seandainya saja kami kelaparan atau kekurangan uang kami nggak perlu khawatir. Karena kami tinggal "gunakan" cinta kami untuk bekerja lebih keras...
Serius! :)


"I was standing all alone against the world outside.
You were searching for a place to hide.
Lost and lonely now you've given me the will to survive
When we're hungry love will keep us alive..."
(Eagles-Love will keep us alive)





Foto-foto: sebelum Ray ke Singapore dan sepulang Ray dari Singapore.

Sabtu, 27 November 2010

Man's Best Friend...







Hari ini gue berencana buat diem dirumah. Mandi larut dan ditempat tidur seharian. Biar deh 1 minggu sekali aja gue dapetin perhatian full dari Ray yang lagi di kantor. Maklum, setiap hari gue selalu nunggu-nunggu teleponnya (yang seharusnya) setiap satu jam sekali ;)) Tapi baru aja jam 11 pagi, waktu gue lagi menikmati tempat tidur dan telepon ke 4 dari Ray, tau-tau aja nyokap minta gue bangun dan pergi ke rumah Uak. Yah, setelah nego sana-sini, akhirnya pergi juga gue kesana meski tanpa mandi dan gosok gigi (cuma ganti baju doang, hihihi).

Begitu sampai di rumah Uak ternyata gue berubah semangat. Pasalnya Uak minta bantuan untuk mengurusi anjing dan mengantar dia ke pet shop. Ya, maklum aja, soalnya Uak baru beberapa hari adopsi anjing. Katanya dia udah lupa "caranya" karena terakhir kali punya anjing ya waktu remaja dulu, namanya Cupy yang mati karena tua.
Setiap kali ada yang minta bantuan sama gue, kalau itu menyangkut anjing, pasti gue "iya-kan". Malah gue sering dianggap geek tentang anjing karena hampir hapal isi 1 ensikopedia tentang anjing, hehehe.
Jadilah hari ini gue melatih Doggy (nama anjing Uak) untuk shake hand (dan hal-hal basic lainnya) ditemani Eris anjing golden retriever gue :)


bersama eris disebrang rumah uak


Oya, sebelumnya harus gue ceritakan juga kalau asal-usul Doggy sebetulnya nggak terlalu jelas. Jadi suatu hari Uak yang lagi butuh anjing penjaga tiba-tiba aja "dihadiahi" bayi anjing oleh pengurus rumahnya. Katanya ini anjing liar yang ditinggalkan induknya. Nggak tau jelas induknya anjing jenis apa dan ada dimana, tapi si pengurus rumah yakin dia pernah lihat bapaknya. Waktu ditanya jenis anjingnya, dia cuma bilang, "Anjingnya besar, coklat". Begitu.
Uak sebenarnya nggak terlalu yakin mau pakai anjing nggak jelas ini sebagai penjaga, tapi berhubung belum menemukan anjing lain yang "tepat", jadi Uak putuskan untuk memelihara Doggy dulu sementara.


Setelah "bermain-main" (baca: berlatih) sedikit dengan Doggy, Uak dan gue langsung pergi ke pet shop. Disepanjang perjalanan, Uak terus-terusan minta gue telepon atau SMS teman-teman yang berternak anjing penjaga. Ya, Uak mau mengadopsi anjing untuk menggantikan Doggy segera.
Ada beberapa kandidat anjing yang dirasa cocok. Uak berencana mau menemuinya sepulang dari pet shop.

Di pet shop Uak langsung melihat-lihat rantai untuk anjing Doberman. Dengan serius dia berdiskusi dengan penjaga toko tentang rantai yang paling tepat. Gue sendiri cuma mendengar sekilas pembicaraan mereka dan melihat-lihat makanan untuk bayi anjing.
Waktu gue lagi lengah tiba-tiba aja Uak muncul disamping gue sambil bawa tali kecil untuk kucing.
"Ini bagus, nggak?" tanya Uak.
"Loh, itu apa?" bingung kan gue...
"Ini untuk si Doggy, kan lehernya masih kecil,"
"Oh...(??)"
Meski bingung gue nggak bertanya apa-apa. Otak gue langsung menyimpulkan sendiri kalau Uak pasti mau beri talinya untuk Doggy setelah nggak dirawatnya lagi (Doggy rencananya akan diurus kembali oleh pengurus rumah Uak).

Sesuai rencana kami menuju rumah teman yang menjual macam-macam anjing penjaga. Diperjalanan Uak nggak banyak bicara. Dia cuma bilang kalau Doggy itu lucu, ukuran matanya kecil sebelah. Gue cuma senyum aja menanggapi kata-katanya.
Akhirnya kami sampai dan mobil diparkir agak jauh dari rumah teman gue. Nggak ada salah satu dari kami yang keluar dari mobil. Bicarapun nggak. Cuma diam sampai kira-kira 15 menit...

"Sudah, lah kita pulang aja. Tolong jangan beritahu Uak kalau ada yang jual anjing, ya. Soalnya Uak mau pelihara Doggy. Selamanya!"

Dan gue pun tersenyum. Kalimat "Man's best friend" terbukti benar. Seekor anjing, jenis apapun itu, ras murni, campuran atau yang biasa disebut anjing kampung seperti Doggy selalu bisa menjadi sahabat manusia. Karena anjing nggak mengenal jenis, mereka semua sama: percaya dan akan menjaga tuannya selamanya.
Dalam hati gue langsung berjanji akan melatih Doggy dan membawanya ke dokter hewan untuk vaksin pertamanya. Selamat datang di keluarga kami, Doggy!



doggy!



nb: Nama "Doggy" diambil dari asal katanya yaitu "Dog". Karena Doggy sebelumnya memang nggak mempunyai nama, jadi hanya dipanggil seperti dirinya sendiri. Yaitu... anjing ;)

Selasa, 23 November 2010

Membuka Keep-Sake Box Kami :))


Hari ini gue seneng banget. Pasalnya sahabat gue datang kerumah tanpa disangka-sangka! Sebelumnya kami memang sudah janjian ketemu di mall, tapi karena suatu sebab gue terpaksa batalin dan stay dirumah. Tiba-tiba aja tadi siang dia telepon dan bilang mau mampir ke rumah!! :D


Gue dan Dhian sudah bersahabat sejak kami berusia 15 tahun (sekarang gue 24 dan Dhian 23 tahun). Kami langsung tahu bahwa kami cocok satu sama lain sejak kami duduk satu bangku dikelas 1 SMA. Kami nyaris nggak terpisahkan. Sampai-sampai meski kemudian kami kuliah di fakultas berbeda, kami tetap bergabung di kelompok choir yang sama. Malah kami "memaksakan" untuk sama-sama mengambil suara sopran, hehehe.

Meski begitu kami bukan 2 orang yang sama persis. Kami berbeda. Sangat berbeda, malah. Dhian lebih suka pelajaran matematika, sedangkan gue lebih suka bahasa. Dhian menggunakan tangan kanan, sedangkan gue menggunakan tangan kiri. Dhian anak bungsu, sedangkan gue anak sulung.
Satu-satunya persamaan kami adalah, kami sama-sama memakai kacamata tebal! Yup, kami nerd disekolah. Memang tidak selalu menjadi rangking pertama, tapi kami bangga menjadi 10 besar meski banyak yang mengejek kami culun :))

Kedekatan kami "memicu" sebuah ide unik. Waktu kami duduk dikelas 3 SMA, gue bisa merasakan hubungan kami pasti nggak akan seerat dulu karena perbedaan hobi yang makin mencolok. Gue lebih fokus menulis, sedangkan Dhian lebih fokus dengan hobi berhitungnya. Jadi suatu hari, dengan sisa uang jajan selama satu bulan gue beli sebuah "keepsake box". Harganya memang nggak murah, tapi gue yakin suatu hari kotak ini akan jadi harta kami yang berharga...


Hari ini:
Dhian datang kerumah gue dengan jaket tebal dan senyuman yang lebar. Kami sama sekali nggak tau apa yang mau kami lakuin. Untuk nonton DVD terlalu malas dan untuk order pizza uang kami terlalu sedikit, hehehe. Akhirnya kami bermalas-malasan di kamar gue sambil ngobrol sana-sini.
Entah karena apa, tiba-tiba gue inget keepsake box yang dulu kami "kubur" dibawah lemari. Buru-buru gue minta Dhian gali harta karun kami. Nggak gampang. Buku-buku dan banyak benda menghalagi tangan kecil Dhian untuk meraih ujung kotak dan menariknya sampai lepas. Sampai akhirnya...

"Ini, ambil!"

Dhian berhasil ambil harta karun kami...


our keepsake box


dhian


gueeeee :D


Dengan perasaan exiting kami berebutan buka kotaknya. Gue berhasil buka karet segelnya lebih dulu. Benda pertama yang gue ambil adalah amplop pink dengan segel (stiker mainan, hihihihi) warna hijau. Gue minta Dhian buka dan baca isinya (Dhian terus-terusan nolak dan bilang, "Aku nggak inget ini apa... Aku bener-bener nggak inget!", hahaha).
Raut wajah herannya berubah merah. Itu tulisan yang dia buat 6 tahun baru. Isinya tentang cita-citanya, siapa laki-laki yang paling mau dia kencani, musik favorit dan masih banyak hal sepele (tapi lucu) lainnya. Dhian genggam amplopnya sampai 5 menit karena dia takut gue baca kertasnya dan mengejek dia, hahaha.
Sekarang giliran gue. Dibelakang kotak itu ada tulisan panjang tentang apa aja yang gue ingin capai ketika dewasa. Ya Tuhan.. Benarkah itu gue??? Gue mau jadi rockstar, bergabung dengan Aerosmith dan belajar main harmonika! Hahahaha, ya, itu gue 6 tahun lalu :)) Sampai detik ini gue masih mengidolakan Aerosmith dan belajar harmonika. Tapi, hey! Siapa yang kira kalau gue dulu sempat bercita-cita jadi rockstar? :p


dhian malu baca tulisannya sendiri, hihihi...


Kami tertawa sampai super-heboh, malah kadang sampai teriak segala. Mungkin apa yang kami tulis dulu cuma hal sepele, tapi siapa sangka diusia kami yang bukan ABG lagi sekarang semua malah terdengar konyol, lol.
Setelah tawa kami reda, gue buka bagian dasar kotak demi melihat sesuatu yang lebih sentimentil...
Disana ada bukti pembayaran SPP bulanan sekolah kami, kupon makanan di kolam renang umum, kertas bertuliskan ucapan selamat ultah untuk Veggie, anjing gue yang tahun lalu mati dari Dhian, tiket izin memotret di monumen Yogyakarta Kembali, contekan-contekan kecil yang kami buat ketika ujian (kebanyakan malah nggak digunakan karena kami cukup cerdas, lol) dan masih banyak lagi.


isinya macam-macam... dari mulai ucapan ultah sampai kertas contekan...


Semua benda itu membuat kami teringat masa SMA yang indah. Masa dimana gue dan Dhian sangat asyik dengan "dunia-naif" kami. Sangat fokus dengan cita-cita dan penuh dengan obsesi mustahil (Dhian menulis, dia ingin mengencani Kian Westlife, lol). Hari ini kami membukanya kembali. Kenangan itu pasti nggak akan pernah terulang lagi. Tapi satu hal yang membuat kami bersyukur pernah mengisi keepsake box bersama-sama adalah:
"Kami bisa mendapatkan semangat dari dua orang remaja nerdy ketika kami mulai stuck atau putus asa diusia dewasa kami". Begitu ;)


Hmm, tiba-tiba aja gue punya ide... Besok gue mau cerita sama Ray soal hari ini, ah. Kayanya asik juga punya keepshake box sama pasangan sendiri ;)

Sabtu, 20 November 2010

Foto Bercerita dibulan November



Halo teman-teman, sudah delapan hari gue nggak post cerita baru, ya? Hehehe, nggak nyangka bakal selama ini. Tapi bukan berarti hati gue stuck di tanggal 12 November, lho :))

Selama 8 hari ini gue sempat ada "adu mulut" dengan Ray selama beberapa hari. Pasalnya bulan Desember nanti dia bakal pergi ke Singapur selama 4 hari untuk pekerjaannya. Dan itu bikin gue kehilangan berat. Sayang cara gue mengekspresikan "kemanjaan" kurang tepat, sampai Ray sempat ikut emosi dan kami panik. Tapi syukurlah semua selesai dan hati gue sudah lebih tenang sekarang :)

Tadi waktu gue buka-buka file komputer, gue temuin 1 foto kami yang gue pikir menarik untuk di share disini. Memang sih gambarnya kurang jelas karena fotonya sudah lama. Tapi coba perhatiin, deh baik-baik: disebelah kiri itu foto Ray kecil dan disebelah kanan itu Indi kecil (It's me, lol). Ada yang temuin persamaannya? Yup! Kami sama-sama berusia 5 tahun waktu foto itu diambil dan kami juga sama-sama pakai baju tentara. Tapi persamaan yang paling lucu adalah, kami sama-sama nggak suka kalau baju kesayangan kami itu dicuci! Hahahaha :) Lucu, ajaib. Padahal kami berdua dulu nggak saling kenal.


sama-sama berasa PD dan "hebat" kalau pakai baju ini, hahahaha :))



Selain itu keluarga gue juga kedatangan "anggota" baru nih :) Namanya "VANESSA". Dia adalah new baby born dari istri Om gue yang tinggal di Tanggerang. Ain't she's so cute?? ;)
Bertambah lagi deh sepupu perempuan gue. Seneng. Cuma sayangnya yang sebaya sama gue cuma Gina yang tinggal dibeda kota, hihihi...

vanessa: sangat mirip bapaknya. tapi rata-rata bayi perempuan yang baru lahir memang begitu. nanti setelah beberapa lama baru agak mirip ibunya juga (terjadi sama gue, sepupu dan hampir semua orang yang gue kenal, lol)



Sisanya bakal gue share dalam bentuk foto-foto, ya. Yang pertama gue nemu foto-foto gue dan Om Bule (Richard from "Gue Bule Ngehe" blog) waktu kami kopdar di Bandung dari album Facebooknya. Dan yang terakhir foto-foto sepulang wisuda sarjana gue di studio foto dekat rumah yang hasilnya baru gue ambil kemarin.
Enjoy!
Semoga kalian juga menikmati bulan November, btw ;)



richard dan gue tertawa ala "bangsawan" (HAHAHAHA, masih pengen ketawa kalau inget moment ini)

gue dan bianca (ricahrd GF) bergaya ala ABG (ya Tuhan... usia kami berapa, ya?)


sepulang wisuda tanpa toga dan jubah. nyokap suka foto ini. gue keliatan dewasa katanya :)


do i look smart? lol


with my mommy and daddy. sekarang kalian jadi tahu kan kulit pucat ini gue dapat darimana? ;)



Jumat, 12 November 2010

Gaun Pengiring Pengantin dihari Wisuda :)


Halo semua, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. Soalnya cuaca yang sering berubah-rubah belakangan ini bikin rawan flu (termasuk gue yang juga kena, hehehe) :) Hari ini gue mau cerita tentang wisuda gue yang serba mendadak (Ya, gue AKHIRNYA wisuda, lol).

Tanggal 10 November kemarin, disaat semua orang memperingati hari pahlawan, gue malah wisuda! Sebetulnya gue sudah nolak buat ikutan sejak bulan Juli lalu. Ya, sejak jauh-jauh bulan! (bukan jauh-jauh hari lagi). Alesannya karena gue sudah lulus, tau IPK gue, sudah salaman sama semua dosen juga, hehehe. Jadi apa lagi?
Tapi Nenek gue berpendapat lain. Baginya wisuda adalah suatu "kebanggaan". Lulus saja belum cukup, beliau pengen punya kenang-kenangan untuk dipajang dirumahnya: Foto gue yang lagi pakai toga dan kebaya.
Waaaah, andai Nenek tau... Sebetulnya pakai toga, kebaya dan konde'lah yang gue hindari. Soalnya terlalu ketat, gerah dan kondenya bikin pusing. Kalau harus pakai ini semua, gimana gue bisa menikmati prosesi wisuda yang berjam-jam? Bisa-bisa gue udah pingsan duluan...

Orang tua gue bisa mengerti. Mereka setuju lebih baik kami syukuran dirumah saja. Sesuatu yang sifatnya simbolis nggak terlalu penting. Toh, semua anak yang sekolah asalkan rajin belajar (dan fasilitas mendukung) pasti bisa lulus. Itu kan proses, jadi nggak perlu dibesar-besarkan.
Tapi akhirnya di detik-detik terakhir orang tua gue minta gue ikut wisuda. Alasannya bisa ditebak, mereka nggak mau mengecewakan Nenek. Ibu bilang, Nenek sudah tua, kadang sulit untuk diberi penjelasan kalau wisuda itu nggak penting. Lebih baik gue menurut daripada jadi kekecewaan berkepanjangan...

Jujur, beberapa hari sebelum wisuda gue sempat ngambek. Nolak pakai kebaya dan parno banget rambut gue yang cuma segini-segini harus ditempeli konde (soalnya kalau hanya dicepol, paling cuma dapet sejempol, hehehe). Orang tua gue akhirnya kasih kebebasan apa yang akan gue pakai nanti. Syaratnya asalkan rapi dan formal. Dikejar waktu yang sudah sangat dekat, hal pertama yang gue inget cuma buku baju pengiring pengantin yang dikasih sama Mrs. Patty, hahaha. Akhirnya gue plilih long dress tercantik yang ada disana. Dengan sedikit corat-coret (ya, gue suka sekali mendesain baju), gue minta Ibu untuk jahit long dress yang sudah di modifikasi itu. Ibu agak nggak percaya gue mau pakai baju pengiring pengantin. Tapi setelah gue tunjukin desainnya, beliau setuju ;)

Waktu hari wisuda datang, gue putuskan buat nggak ambil pusing. Gue inget cerita sepupu dan teman-teman gue yang harus bangun jam 4 subuh untuk persiapkan kebaya, make up dan konde. Tapi cerita gue ternyata nggak seperti itu (terima kasih Tuhan...). Gue bangun jam 7 pagi (hampir seperti biasa) dan cukup cuci muka (gue mandi 2 hari sekali, btw, lol). Setelah itu gue pakai long dress'nya. Almost no make up. Gue cuma pakai bedak tipis, lip gloss dan blush on. Untuk rambut gue biarkan terurai, cuma gue kasih hiasan bunga-bunga kecil.

Nenek agak kaget dengan penampilan gue. Beliau bilang, "Mana kondenya? Nggak pakai kebaya?", tapi gue cuma senyum dan biarkan Nenek tau sendiri jawabannya nanti.

***

Gue diantar Bapak, Ibu dan Nenek. Sabuga, tempat gue wisuda sudah penuh sepenuh-penuhnya. Agak heran juga kenapa banyak wisudawan/wati yang bawa rombongan sampai 2 mobil. Padahal sudah jelas undangan yang boleh masuk hanya 2 orang. Alhasil banyak wisudawan/wati yang mau masuk gedung malah terhalang sama tamu-tamu tanpa undangan. Untungnya, sejak tahun 2004 gue sering mengisi choir disini, jadi sudah tau harus lewat mana supaya cepat, hihihi...

Di dalam gedung gue sering sekali dapat pertanyaan-pertanyaan heran seperti, "Indi, nggak pakai konde?" atau "Indi, nggak pakai kebaya? Padahal kan supaya cantik seperti yang lain", dll.
Gue sih tetap cuek aja, soalnya yang tau batas nyaman kan cuma diri sendiri. Soal cantik itu belakangan. Kalau teman-teman lain bisa tahan pakai baju daerah lengkap dan heels, nah nggak begitu dengan gue. Lagipula susana nampaknya nggak mendukung untuk pakai baju yang agak ribet. Bayangkan aja, ada seribu lebih wisudawan/wati disana. Belum lagi jumlah security yang berlebihan bikin ruangan makin terasa sempit. Itu belum termasuk tamu tanpa undangan yang berhasil masuk. Bisa kebayang kan gimana suasananya? Sudah mirip nonton konser rock pakai konde aja, hihihihi :)

Akhirnya prosesi wisuda selesai. Beberapa teman dan dosen yang tadinya bilang gue "kurang cantik" berbalik memuji karena sampai akhir acara cuma gue lah yang wajahnya nggak belepotan karena make up campur keringat. Tapi buat gue yang paling lucu adalah pendapat Nenek gue. Beliau bilang,
"Bagus juga ternyata pakai baju santai. Emah (panggilan Nenek) mah kasian liat yang sebelumnya pada cantik malah pada selonjoran dilantai gara-gara pegel pakai sepatu tinggi".

Hihihi :)
Gue nggak mengecilkan teman-teman yang berpakaian ribet, tentu aja. Menurut gue usaha mereka memang sepadan, kok. Dimata gue mereka tampil sangat cantik. Tapi rasanya nggak masalah kalau gue berpendapat bahwa kebaya, konde dan high heels kurang tepat untuk dipakai disuasana ramai dan gedung yang kurang memadai. Wisuda sarjana itu satu kali seumur hidup, gue mau menikmati setiap detik moment'nya tanpa terganggu pakaian gue. Sekali lagi, gue nggak mengecilkan teman-teman yang lain, lho. Gue cuma mau menekankan bahwa kenyamanan adalah yang utama. Dan yang terpenting cantik itu kan in the eye of the beholder ;)




Kamis, 11 November 2010

Ayo menulis untuk buku kedua gue! :D


Wah leganya novel kedua gue hampir siap! :D

Setelah tahun lalu novel pertama gue terbit (Waktu aku Sama Mika), tahun ini novel kedua gue akan menyusul. Masih dari penerbit yang sama, Homerian Pustaka, konsep kali ini adalah memoir. Ya, semacam buku harian gue dari kecil sampai sekarang, deh, hihihihi. Disana selain ada kisah-kisah gue juga akan ada testimoni dari pembaca "Waktu aku Sama Mika". Awalnya, sih testimoni-testimoni itu berasal dari public figure dari macam-macam bidang. Ada dari bidang musik, novelis, televisi dan lain-lain. Tapi kemarin penerbit punya ide supaya teman-teman pembaca juga ikut sumbang testimoni di novel gue.
Wah ide bagus! Sangat-sangat setuju :)
Kalian mau berpartisipasi? Dengan senang hati gue terima.

Caranya, kirim komentar singkat kalian tentang novel "Waktu aku Sama Mika" ke namaku_indiankecil@yahoo.com
Atau, untuk pengguna Facebook bisa kirim pesan ke inbox gue (INDI KECIL BABBITT atau INDI SUGAR). Sertakan nama, usia dan profesi kalian, ya. Cukup kirim ke salah satu account/email saja. Supaya gue lebih mudah bacanya :)

Untuk komentar yang terpilih akan dimuat di cover belakang novel gue.



Supaya kalian nggak kebingungan, gue akan post beberapa testimoni yang sudah masuk ke Facebook gue:

"Waktu aku Sama Mika ditulis dengan penuh cinta karena aku merasakan cinta ditiap tulisannya".
(Angela Febriani Tobing,19 tahun, Mahasiswi)

"Sempurna itu ada di semua orang, tergantung gimana cara kamu lihatnya. Touchy!".
(Inchan pratiwi, 18 tahun, Graphic design student)

"Jujur, tulus dan apa adanya. Tidak dilebih-lebihkan hanya supaya bisa menggunakan kata-kata yang terdengar hebat, melainkan sederhana dan mudah dimengerti oleh hati".
(Alice Ayu, 20 tahun, Penulis merangkap calon auditor)



Begitu :)
Gue tunggu email dari kalian, ya. Terima kasih banyak.

xo,
Indi "Sugar pie"


Senin, 08 November 2010

Another Ray's "best" birthday, ever!


birthday boy! :)



Hari ini (7-11-10) Ray ulang tahun. He's 27. Yes, he's getting older of course :)
Tapi ada hal-hal yang nggak berubah (dan gue harap nggak akan): Kami rayakan ultahnya sama-sama dan we belong each other...

Gue masih inget tiga tahun lalu. Waktu itu hubungan kami mirip seperti kakak-adik. Gue cuma ucapin selamat lewat testimoni di friendster. Tanpa kado, lilin apalagi kue. Lalu satu tahun kemudian kami berpacaran. Kado pertama gue untuk Ray adalah buku Enyd blyton. Gue bungkus bukunya pakai kotak daur ulang. Karena kotaknya cukup besar, gue tambahi plester komedo dan gantungan HP boneka teddy Mr. Bean. Hahahaha, silly me. Tapi Ray bilang itu kado terindah yang pernah dia dapat. "Plesternya dipake sambil baca buku." Itu katanya...

Lalu satu tahun kemudian. Kami berselisih. Gue lupa gara-gara apa. Yang pasti gue terlambat dijemput sepulang terapi scoliosis. Gue tunggu Ray di restoran fast-food sambil nulis surat buat dia. Konyol. Isinya "raport Ray selama 2 tahun". Hahahaha, disana gue tulis kalau Ray itu blah, blah... Beberapa ada yang ditulis penuh emosi dengan tinta merah.
Waktu Ray datang gue kasih kadonya: Surat penuh amarah dan komik Doraemon.
Ternyata Ray sudah punya komiknya. Tapi dia tetap bilang terima kasih. Dan lagi-lagi dia bilang ini ulang tahunnya yang terindah...


raport untuk ray (hehe)

komik doraemon (yang ternyata ray sudah punya, hihihihi)



Tahun ini semuanya masih tetap sama. Nggak ada kado mahal, nggak ada surprise party atau hura-hura. Kami cuma duduk berdua di food court sepulang gue terapi. Gue bawa cake yang dibeli didekat rumah. It's cheap and very small :) Diatasnya gue kasih lilin yang tampak kebesaran buat kue sekecil itu. Tapi Ray tetap gembira. Dia bilang terima kasih berkali-kali dan nggak nyangka gue lakuin ini. Nggak ada makanan spesial. Cuma waffle dan teh kotak. Kami berdoa, tiup lilin dan makan kue'nya. Selesai. Ray bilang, "This is my best birthday, ever". Begitu.

berfoto bersama kue tart kecil yang enak :)

our waffle. makanan untuk "rayakan" ultah ;)



Kami selalu bahagia setiap salah satu dari kami berulang tahun. Setiap tahun sama spesialnya. Waktu ulang tahun Ray... atau gue. Waktu gue kasih kado komik Doraemon atau waktu Ray kasih gue tempat CD dan pensil HSM :)
Selalu kami berusaha memberi, setidaknya memperingati bersama setiap tahun. Supaya kami selalu ingat... beruntung sekali kami lahir, bertemu dan saling memiliki.

Happy birthday, Ray. May God bless you with smile in every single day... and, I'm blessed to have you in my life :)

Kamis, 04 November 2010

Walking with "Giant" :p


Mau nulis nggak ya? Mau? Nggak? Mau? Nggak? Nggak mau? Mau!
Hahahaha, mulai ngaco deh gue. Hmm, sebenernya sih hari ini gue lelah banget. Tapi berhubung tidur nggak bisa dan kalau bengong malah mikir yang nggak-nggak, lebih baik gue nulis aja, deh, lol.

Kali ini gue mau cerita tentang Richard, temen gue yang biasa dipanggil Om Bule (meski sebetulnya gue lebih tua dari dia, hehehe).
Gue mengenal si Om ini lewat dunia blog. Awalnya sih nggak sengaja, waktu gue lagi visit blog teman, disana ada link ke suatu blog yang namanya aneh: Bule Juga Manusia. Iseng-iseng, gue klik dan mulai baca blog'nya. Wah, ternyata isinya lebih aneh daripada judulnya. Banyak cerita nggak penting dan foto-foto "mengerikan", lol. Tapi, entah gue mulai terhipnotis atau memang jatuh cinta, gue jadi ogah ninggalin blog itu dan malah betah baca postingannya satu persatu! Ckckckck... :p
Meskipun begitu, gue sama sekali nggak ninggalin komentar. Alasannya sederhana: Gue nggak mau dianggap sebagai orang asing yang nimbrungin cerita-cerita pribadi dia. (Seriously, it's like reading a dude's diary, lol).

Sampai suatu hari (yang mana sangat jarang terjadi), gue melakukan random add di Facebook. Dan tanpa sengaja yang gue add itu account'nya Om Bule! Ternyata oh ternyata... dunia ini sempit sekali... (iya, lah. Namanya juga internet, lol). Langsung aja gue kasih link blog gue dan bilang kalau gue suka sama blog'nya.
Entah berapa lama kemudian (yang pasti cukup lama sampai gue lupa pernah ninggalin link di wall'nya), waktu gue on line tengah malem, gue terima pesan di inbox FB dari si Om Bule. Isinya cukup panjang. Tapi intinya dia merasa nggak enak karena baru sempat baca blog gue setelah sebelumnya dia dikejar deadline novel perdananya. Dia bilang tulisan gue beautiful (ah, jadi malu, lol) dan punya ide untuk barter 1 kopi buku gue dengan traktiran wisata kuliner kalau dia berkunjung ke Bandung nanti.
Wah, jelas aja gue mau :)


***

2 November 2010
Dan inilah kami,
Gue langsung menyalami Om Bule dan nona manisnya (namanya Bian :) ) begitu sampai di BIP. Agak konyol juga karena tanpa basa-basi gue langsung bilang kalau gue lapar dan pengen langsung makan, hehehe. Alhasil, sebelum sempat ngobrol-ngobrol, kami langsung sibuk cari tempat makan, dan sudah bisa ditebak, gue pasti ngerepotin karena status gue yang vegetarian, lol. Akhirnya supaya semua bisa makan, kami pilih untuk ke food court (yang ternyata percuma karena cuma gue doang yang makan, hahaha). Disana barulah kami mulai ngobrol-ngobrol selayaknya teman on line yang baru ketemu.

Kesan gue tentang Om Bule sedikit berbeda dari yang gue tangkap di blog'nya. Ternyata dia nggak se'ngehe yang dikira, hehehe. Gue pikir dia bakalan cerewet dan bersuara besar (sebesar badannya, lol), tapi ternyata dia bicara dengan volume dan kecepatan yang normal, kok, lol. Tapi kalau soal kocak, dia memang sekocak di blog'nya. Buktinya waktu kami foto-foto dia bisa bergaya aneh-aneh sampai gue puas ketawa lihat gayanya, hahaha. Sayang gue nggak punya gambarnya, soalnya fotonya diambil dari kamera Om Bule dan gue cuma dapet satu foto malu-malu yang diambil sama Bian, huhuhu. Gue jadi nggak sabar Om Bule upload foto-foto kami, nih. Soalnya selain foto gue dan Om Bule, ada juga foto gue dan Bian yang ala AL4Y :p


foto malu-malu kami, hihihihi


Gue yang baru sembuh dari sakit jadi nggak punya waktu cukup buat bawain kedua teman baru gue ini hadiah. Gue cuma bawa 1 novel "Waktu Aku Sama Mika" yang nggak dibungkus pula, hihihihi... agak memalukan, ya? :p Tapi semoga aja mereka suka bukunya.
Ternyata Om Bule bawain gue oleh-oleh dari Australia. I'ts a cute Koala stuffed doll! Wah, gue seneng banget, soalnya bisa nambahin koleksi boneka gue :) Makasih ya Om Bule....
Oya, ada kejadian lucu lho pas acara "tuker kado", Bian bilang sama gue kalau dia pernah dikasih boneka koala sama Richard tapi buatan Cina, padahal belinya di Australia. Langsung aja gue masukin boneka gue ke dalem tas, takutnya Om Bule langsung berubah pikiran dan kasih bonekanya ke Bian, hahahaha.



boneka koalanya sekarang jadi penghuni baru diatas tempat tidur gue. liat match banget kan sama wallpaper dikamar gue? :)


Selesai (gue) makan kami ke bioskop. Entah ide dari mana (ehmm, sebenernya dari gue, sih, lol), kami putusin buat nonton "Setan Facebook". Wah posternya bikin penasaran banget, soalnya dari semua cast yang disebutin nggak ada satupun yang kami kenal. Tebakan kami, sih, ini pasti tipikal film Indonesia yang "konyol", alias baru 5 menit film diputar langsung ada adegan sun-sun'an, hehehe. Tapi ternyata kami nggak bisa langsung nonton (padahal udah nggak sabar, lol), soalnya film baru dimulai 1 jam lagi.

Sambil nunggu kami main dulu di Timezone. Ya, niatnya sih cuma mau have fun aja sambil habisin waktu. Tapi ternyata kami malah dirampok! Untuk yang berniat main ke Timezone, lebih baik baca dulu pengalaman gue dan teman-teman tadi sore:
Tau kan mesin permainan boneka alias catcher doll machine yang menarik hati itu? Dengan mata berbinar, gue dan Bian pengen banget dapetin salah satu boneka di mesin itu. Om Bule yang baik hati ternyata mau dapetin bonekanya buat kami (hore... hore...). Setelah beli 1 kartu game, Om Bule mulai berjuang untuk dapetin boneka beruang warna biru. Awalnya sih dia cuma asal nangkep aja, cuma lama-lama gemes juga sampai-sampai dia mulai ukur "sudut ketepatan antara kait dengan boneka", hehehe. Boneka beruang incaran itu beberapa kali nyangkut di kaitnya, tapi anehnya malah terlepas waktu udah deket ke kotak keluar. Sampai akhirnya Om Bule yakin banget bidikannya kali ini bakal tepat. Dan... terbukti, bonekanya nyangkut, swinging berkali-kali... oops, ternyata meleset LAGI! Hfff...
Nggak tahu sudah berapa kali kartu digesekan ke mesin itu sampai tau-tau aja empty. Tadinya sih kami pikir sudah cukup, cuma musik yang keluar dari mesinnya itu lhooooo, kayaknya manas-manasin kami banget! Akhirnya diisi ulang lagi kartu game'nya si Om Bule. Kali ini kami mau coba mesin dengan boneka yang lebih besar, soalnya kami pikir peluang dapet bonekanya pasti lebih besar. Ternyata SALAH BESAR! Tekanan dimesin ini jauh lebih besar. Boneka-boneka besar yang asik nyengir ke arah kami ternyata cuma kasih harapan palsu. Mereka selalu jatuh TEPAT disamping kotak keluar! Hmm, mulai curiga kaitnya dirancang khusus untuk melonggar di waktu-waktu tertentu... Sniff, akhirnya kami keluar dari Timezone dengan tangan kosong. Bener-bener kosong, karena kartu game yang kedua juga isinya sudah habis, hahahaha (ketawa sedih).

Masih dalam rangka nunggu film dimulai, Om Bule beli pedang-pedangan dulu. Yes, betul pedang-pedangan pajangan gitu (Aku bantu kamu ya, Richard. Kalau nanti dibandara kamu dilarang bawa pedang ini karena dianggap senjata tajam, kamu tunjukin saja postingan aku, jadi ada bukti kalau yang kamu bawa itu memang pedang-pedangan, hahaha). Si Om Bule pilih-pilihnya lamaaaaa banget. Persis banget kalau gue masuk toko sepatu, lah, lol. Untungnya dia nggak minta pedangnya langsung dipakai, kaya kalau gue lagi belanja sepatu :p
Akhirnya pedang yang dipilih warna hitam. Keren banget, deh pokoknya. Ada tulisan Jepangnya juga, tapi gue nggak tau artinya apaan. Yang penting mah keren, hihihihi.


Waktu kita sampai dibioskop ternyata film'nya sudah dimulai. Terpaksa deh kita jongkok-jongkok takut ganggu orang-orang yang serius nonton "Setan Facebook" (gue dan Bian sih nggak apa-apa, soalnya pada imut. Nah, si Om Bule, tingginya hampir 2 meter, lol). Waktu gue jongkok-jongkok sebenernya agak mirip orang tiarap waktu perang, soalnya gue orangnya penakut abis kalau soal film hantu-hantuan, lol.
Akhirnya, setelah kami duduk dikursi sembarang, kami mulai nonton filmnya. Begini ceritanya...
*yawning* Ada hantu hobinya main Facebook, jadi dia bunuh orang-orang di friendlist'nya. Tamat.
Iya, betulan tamat. Ceritanya memang segitu-gitunya, suara pemainnya juga nggak begitu jelas, kaya orang lagi kumur-kumur gitu. Editornya juga jelek. Hantunya nggak serem. Tapi justru karena semua kekurangan itu kami jadi ribut ketawa-ketawa sepanjang film. Contohnya aja yang bikin ngakak, ada adegan bule (nggak tau siapa namanya) mau hack account'nya si hantu. Tau nggak dia ngapain? Dia cuma buka profile hantu dari account'nya sendiri, nggak ngapa-ngapain, geleng-geleng, isep rokok terus bilang, "Nggak bisa...", hahahahaha. Atau ada nenek-nenek yang mengenalkan diri, maksudnya sih misterius, tapi suaranya nggak jelas dan malah kedengeran kaya, "Panggil saya Oma POCHONG", whuahahahahaha...
Ada satu adegan yang sukses bikin Om Bule dan Bian ngakak, yang sayangnya gue nggak perhatiin. Katanya sih waktu hantunya mau nyergap pemeran utamanya yang lagi nyetir mobil, pemeran hantunya udah nongol-nongol di bangku belakang sambil nungguin aba-aba gitu! Hihihihihi, what a movie :')

Kamipun keluar bioskop sambil ketawa-ketawa heboh. Beberapa kali kami ngulang dialog-dialog konyol yang ada di film itu (dan favorit kami adalah, waktu si cowo bule bilang sama temen cewenya supaya jangan dulu bukan FB, si cewe langsung panik sambil bilang, "Sampai kapaaaan???!!!" Hahaha, seolah dia dilarang nafas atau makan, lol). Rasanya kalau dipikir-pikir lagi cuma kami bertiga yang ketawa-ketawa waktu nonton. Eh, jangan-jangan penonton lain anggap film itu terlalu serius sampai-sampai berasa masuk ke setiap adegannya? Come on, you've gotta be kidding me :p

Akhirnya, kami harus berpisah. Selain waktu yang semakin larut, mall'nya juga hampir tutup, hihihihi. Nice to see you Om Bule, Bian. Makasih oleh-olehnya. Kapan-kapan kita main lagi, ya... Atau bikin film "Setan Blogger" sekalian, lol. Oya, ngomong-ngomong, boneka koala'nya gue kasih nama "Ribi". Tau kan singkatan dari apa? ;)




Blog'nya Om Bule: http://bulejugamanusia.blogspot.com/



yang paling depan itu koin dari Om Bule. horeeee, dapet tambahan koleksi uang asing deh :)


Senin, 25 Oktober 2010

Yeay, October! :D

Halo teman-teman blogger! Apa kabar? Semoga waktu kalian memutuskan baca postingan ini, kalian dalam keadaan sehat, ya. Minimal nggak lagi sakit kepala, lah. Soalnya selain background blog gue yang cukup bikin pusing, kali ini gue bakal cerita soal 3 hal sekaligus (itu juga kalau nggak tiba-tiba punya ide nambah tema ditengah posting, hehehe).

Bulan ini cukup bikin gue sibuk dan gemuk, hehehe. Soalnya ada beberapa anggota keluarga gue yang ultah. Yang pertama bokap gue. Beliau ultah tanggal 8 Oktober (f
oto-fotonya bisa dilihat di postingan sebelum ini). Terus kakek gue nyusul di tanggal 17 Oktober. Wah, ultah si kakek ini paling bikin gemuk, soalnya kue'nya super besar dan yummy. Sayang gue nggak sempet ambil fotonya, karena pestanya bertepatan dengan jadwal terapi scoliosis gue :( Dan yang terakhir ultahnya si adek tanggal 22 Oktober. Meski nyokap gue lagi diluar kota (Yogya), acara ultah ternyata tetep berjalan, soalnya bokap punya ide buat bikin little surprise party! :)
Hmm, it's not really party actually, kami (
bokap dan gue) cuma bangunin adek pas jam 12 malem sambil bawain cake kecil dan 2 buah lilin. Tapi biar begitu gue bisa liat si adek seneng banget. Soalnya dia pikir kami nggak inget ultahnya, hihihihi.

Ini ada beberapa foto yang berhasil gue ambil. Nggak begitu bagus, tapi cukup buat captured this precious moment ;)

Jam 12 malem, siap-siap masuk kamar adek, hihihi (jam dibelakang gue itu memang kecepetan, kok, lol)
Adek tiup lilin sambil tidur dibantuin bokap, hahaha




Selain dimeriahkan dengan ultah, Oktober juga dimeriahkan dengan penampilan perdana gue di TV lokal, hahahaha (program "Imah" nggak dihitung ya, soalnya itu bareng keluarga ;) ). Setelah Global TV "tangkap" gue lebih dulu, ternyata stasiun TV lokal STV menyusul "tangkap" gue untuk acara talk-show'nya. It's kinda funny actually, soalnya meski seumur hidup gue tinggal di Bandung, tapi kehadiran gue kayanya nggak pernah tercium media lokal, hihihihi. Jadi waktu STV nawarin gue untuk tampil di talk show "Hati ke Hati", gue langsung setuju meski mendadak (gue cuma dikabari 2 hari sebelum shooting. Itupun di sore hari).

Ternyata "penantian" gue yang cukup lama membawa berkah yang besar (s
etidaknya buat gue ;) ). Di penampilan perdana ini gue menjadi bintang tamu tunggal! Wah, thank God. Gue senang bukan main, karena itu artinya gue bisa lebih banyak menceritakan tentang scoliosis pada masyarakat Bandung yang kabarnya masih sangat awam. Selain itu gue juga bisa ceritain tentang hobi mendesain dan menulis gue. Pokoknya kehidupan gue dari mulai kecil sampai sekarang dibahas habis disini.

Dan, dua hari setelah shooting (18 Oktober), tayanglah "Hati ke Hati" episode Indi jam 19:30 di STV :)

Siap-siap sebelum shooting :)

The Show: yang dibelakang itu baju-baju hasil desain gue, lho ;)

With my Daddy! :D




Dan cerita terakhir (terakhir: waktu post, bukan cerita terakhir di bulan ini, ya, hehehe), tanggal 23 Oktober, Jim (Ray's brother) ajak kami dan newly wed couple (Ramli&Ratna) buat masak bareng dirumahnya. It's SUPER FUN DAY :D
Jim bikin 4 pan pizza dengan topping yang bebas kami "acak-acak", lol. Ray bawa pasta beserta bumbunya, dan yang paling seru Ramli bawa a lotta coke! (S
eolah bisa baca pikiran gue yang ngebayangin abis makan minum coke merk Coc*-C*la, lol).
Kami habisin waktu berjam-jam di dapur sampai kelelahan, tapi pas waktunya dinner tiba, lelah kami terbayar! ;)

Ini sedikit dari banyak foto yang berhasil gue ambil, hihihihi.


Jim's making pizza's dough dan Ratna sibuk sama topping'nya.

Ramli bantu slice pizza'nya :)

Gue masak pastanya. I love cook ;)

Jim checking his pizzas :)
He's REALLY cook. You go, Ray! ;)




Gue bersyukur banget Tuhan sangat pemurah sama gue (
dan semua umatnya juga, of course!). Dia kasih gue keluarga, Ray dan banyak teman yang baik. Kadang sebelum tidur gue suka senyum-senyum sendiri mengingat betapa bahagianya hidup gue. I'm blessed :)
Oya, ada yang lupa. Novel terbaru gue hampir siap, lho. Sample covernya sudah dikirim penerbit dan gue bingung pilih yang mana. Doain aja semuanya lancar ya teman-teman (t
uh, kaaaaan... nambah jadi 4 cerita deh postingannya, hahaha).

So, how's your October, guy's? Tell me! :)

Senin, 11 Oktober 2010

Selamat Ulang Tahun, Idolaku...


Katanya waktu kecil gue nggak bisa lepas dari pelukan dia.
Katanya waktu kecil gue suka cium bau badan dia sampai tertidur.
Katanya waktu kecil gue pernah diajarin gerakan karate supaya bisa lawan sepupu-sepupu yang badannya lebih besar.
Katanya waktu kecil gue suka jinjit diatas kakinya sambil pura-pura dansa...

Sekarang gue sudah besar.
Sudah bisa tidur meski nggak cium aroma tubuhnya.
Sudah bisa bilang "malu, ah..." kalau dia tuntun gue waktu jalan-jalan di mall.
Sudah bisa berdebat kalau dinasehati ini-itu...


Tapi ada satu hal yang nggak pernah berubah,
Dari dulu sampai sekarang, nanti, selamanya...
Gue akan mencintainya, mengidolakannya, memujanya. Selalu...

Happy birthday, Bapak...
Temani putri kecilmu ini sampai nanti, ya. Janji?


Rabu, 06 Oktober 2010

Jangan Takut Bermimpi :)

Sofa impian gue...


Hai semua! Apa kabar hari ini? Baik? Buruk? Biasa aja? Hehehehe..
Gue sendiri nggak terlalu baik. Bahu kanan gue sakit banget. Rasanya hampir lepas dari badan gue (lebay). Mungkin gara-gara kebanyakan texting di HP ya? Hihihihi...
Terlepas dari hari ini, gue mau ceritain salah satu hari terbaik yang pernah gue alamin. Hari itu adalah 24 Agustus 2010. Kenapa? Karena hari itu berhasil bikin gue histeris dan 'banting' HP, lol.
Daripada kalian bingung dan bayangin yang nggak-nggak (bayangin gue terlalu tajir sampe berani banting HP, lol), lebih baik gue ceritain dari awal...


24 Agustus, sore-sore didalem mobil, hujan lebat, macet pula!
Gue SMS Ray untuk bilang kalau gue udah jalan dari 30 menit yang lalu. Gue khawatir dia masih di kantor dan bikin gue yang harus nunggu dia di acara gathering salah satu airlines Indonesia. Belum sempet gue pijit tombol "send", HP gue udah berdering. Gue pikir itu Ray, tapi waktu gue lihat nomornya ternyata gue nggak kenal.
Gue langsung tanya bokap yang waktu itu lagi nyetir apa gue harus angkat teleponnya. Dia bilang, "angkat aja siapa tau penting,".
Akhirnya...

"Halo?"

"Ya. Dengan Indi Taufik?"

"Yes, saya sendiri, " (sambil cekikikan karena suara disebrang sana serius banget, hihihi).

"Saya Rosianna Silalahi, saya..."

"Siapa???"

"Rosianna Silala..."

Pluk! HP gue jatuh dari genggaman gue. Badan gue mendadak lemes saking kagetnya. Baru 2 hari yang lalu gue menghayal bisa tampil di talk show "Rossy" dan hari ini tiba-tiba aja Tuhan kasih jawaban mendadak.

Bokap gue kebingungan dan minta gue ambil HP yang hampir menggelinding ke belakang jok mobil.

"Ada apa, sih? Siapa tadi?"

"Rossy, Pak... Rossy...", jawab gue histeris.

"Rossy? Siapa?"

"Arrrrrrghhhhh... ROSSY, PAK. ROSIANNA SILALAHI... Ya Tuhan, aku lemes," mulai lah gue norak.

"Hah? Mau ngapain? Kok sampai telepon kamu??"

"Nggak tau, Pak... Makanya sekarang aku lemes gini. Hampir pingsan, hiks..."


Ring... Ring...

"Pak! Nomor yang tadi! Angkat jangan???"

"Ya, angkat lah..."

"Deg-deg'an..."

"Jangan Ge'er..."

"Dasar!"


Dua detik kemudian...

"Ha.. halo?..."

"Tadi teleponnya terputus ya?"

Think fast Indi, think fast! "Iya, maaf signalnya tiba-tiba hilang,"
(Lol, gue berbohong tuh, hihihi).

"Iya, tidak apa-apa. Hmm, begini Indi. Saya lihat kamu di facebook. Kamu mau datang ke acara saya tanggal 26 nanti?"

*Glup* "Maksudnya... Talk show Rossy,"

"Iya betul. Bagaimana, mau?"

*Tarik napas panjang, nahan nangis* "Iya, mau,"

"Oke, kalau begitu terima kasih. Nanti ada Olive, produser saya yang akan hubungi kamu. Dia akan jelaskan apa saja yang perlu kamu siapkan,"

"Eh, Rossy?"

"Ya, Indi?"

"Ini serius?..."

"Hahaha, ya. Serius,"

"Aku penggemar acaramu. Aku senang kalau bisa tampil disana. Sungguh, aku senang. Terima kasih banyak..."

*Jeda agak lama* "Iya, sama-sama Indi. Sampai ketemu ya..."

"Da.. dadah..."

Dan meledaklah tangisan gue. Dengan cepat gue (coba) ceritain sama bokap apa yang baru gue denger tadi. Gue sangat exiting sampai-sampai tangisan gue berubah jadi tawa histeris.

"Selamat, ya. Kamu hebat. Tapi jangan bilang-bilang Ibu dulu ya? Ini kejutan!"

"iya, Pak! Rahasia dulu ya,"

"Ya ampun! Kak!"

"Apa??"

"Tadi Bapak terlalu konsen dengerin kamu cerita sampai-sampai kita salah jalan. Kita udah lewatin jalan ini 2 kali, kan?"

"Yah, Bapak..."

"Nggak apa-apalah nyasar, kan lagi seneng ini, hehehehe,"

Dan sampailah gue diacara gathering 1 jam setelah Ray sampai...

***

Persiapan dimulai segera setelah gue pulang dari acara gathering. Ray seneng buat gue, meski dia nggak bisa hadir waktu shooting karena harus kerja.
Gue mulai pilih-pilih baju. I love red, hampir disetiap kesempatan gue pakai warna merah. Tapi gue pikir warna orens lebih cocok untuk "Rossy" yang setting stage'nya selalu fresh tapi formal. Akhirnya, setelah gue dapat baju yang tepat, gue siapin bando dan sepatunya dengan warna serasi. It's kinda funny, btw. Seharian gue dan bokap cari sepatu orens di mall tapi nggak ketemu dan akhirnya malah ketemu di pasar! Hahahaha, hasilnya gue jadi bangga banget. Kalau nyokap tanya, gue pasti jawab, "ini dapet dari pasar lho...", hihihi.

Tapi jujur aja, meski persiapan gue secara "fisik" cukup matang, tapi mental gue ternyata ketar-ketir juga. Pasalnya selama 1 bulan belakangan gue kena penyakit yang agak mesterius. Dokter yang periksa gue belum temuin jawabannya. Bahkan sampai test Lab juga nggak nunjukin kelainan apa-apa (tapi 1 minggu setelah shooting ketauan kalau gue kena infeksi dalam yang parah, btw). Kulit gue gatel dan kalau digaruk muncul ruam-ruam merah kaya bekas kebakar. Badan gue juga rasanya panas sampai-sampai nggak betah kalau pakai baju yang agak tertutup. Bisa dibilang kesehatan gue sebenernya sangat nggak memungkinkan untuk shooting. Tapi gue takut kesempatan sebagus ini nggak datang lagi, jadi gue putusin buat menutupi keadaan kesehatan gue...


Dua hari kemudian, jam 8 pagi gue dan ortu berangkat ke Jakarta. Sebelumnya gue kabari dulu 2 teman gue untuk ikut tampil di "Rossy". Kebetulan tema kali ini adalah "Menembus Batas", tentang orang-orang yang berhasil untuk sukses ditengah keterbatasan fisik. Dua teman gue (Alien dan Yosef) adalah pengidap scoliosis juga, sama seperti gue. Dan mereka bisa bekerja normal selayaknya orang yang berfisik sempurna. Oya, untuk yang belum tau (hihihi), gue adalah pengidap scoliosis berat (kelengkungan 55 derajat), dan gue berprofesi sebagai model lokal dan penulis.

Setelah sampai di studio Global TV, gue diantar ke ruang tunggu (sambil celingak-celinguk cari Rossy, hihihi). Disana gue langsung ketemu dengan Pak Limin dan keluarganya. Pak Limin adalah seorang tuna daksa yang berprofesi sebagai penghibur. Dia juga pimpinan kelompok lenong betawi, lho! What a person! Belum mulai acara aja aku udah amaze, hehehe...
Menyusul kemudian, datang Alien dan Yosef yang masih bingung dengan ajakan gue yang mendadak, lol.

Selesai touch up (Gee, my face. Look so weird, lol), gue balik lagi ke ruang tunggu. Soalnya percuma gue berkeliaran di studio, kata si mbak make up artist, Rossy'nya belum datang, hihihi.
Disana gue ketemu sama Habibie. Spontan gue teriak, "Heeeeey, aku tau kamu!".
Tapi orang yang dimaksud malah cuek bebek, huhuhu, sebel. Langsung deh gue ngeluarin jurus "ikutan cuek" kalau ketemu Habibie, soalnya takut disangka sok akrab, hihihihi.


The Show. Te-re-ret-tereeeeet! Lol.
Satu jam kemudian semua pengisi acara dibawa ke studio. Brrr.. dingin banget. Kulit gue yang lagi sensitif langsung perih nggak karuan. Berbekal impian gue yang pengen duduk di soffa "Rossy", akhirnya gue bisa tutupi sampai selesai acara.

Dan, here's she is...
Rossy masuk ke dalem studio. She's so gorgeous, kulitnya bagus dan potongan rambutnya keren. Tapi yang paling gue perhatiin, dia nggak sekurus yang gue banyangin. She's so curvy. Bahkan kalau dibandingin gue yang selalu mengaku chubby ini, hihihi.

Memang dasar amatir, gue nggak tau kapan shooting dimulai. Tiap ada yang nanya, nyapa atau apalah, gue selalu nyangka kalau udah on tape. Maklum, gue belum pernah ikut shooting taping yang kru'nya banyak, hihihi..
Tapi akhirnya gue tau kapan shooting dimulai, yaitu waktu musik khas "Rossy" diputer dan penonton tepuk tangan meriah :)

Habibie masuk di segmen pertama. Gue yang dikasih tau bakal muncul di segmen kedua langsung deg-deg'an mati-matian. Gimana enggak, studio yang AC nya dingin minta ampun bikin suara gue rawan serak dan terbata-bata. Padahal waktu briefing aja mas-mas floor director udah bilang supaya gue ngomong yang kenceng, huhuhu.
Untung semua berjalan lancar, gue dipanggil ke atas stage dan bisa bicara dengan lancar. Semua yang mau gue sampaikan sebagai seorang penyandang scoliosis juga tersampaikan dengan jelas disana. Apalagi kata-kata Rossy begitu "melambungkan" hingga bikin gue semakin relax. Sampai-sampai setelah acara selesai gue ogah turun dari stage dan menyempatkan bilang terima kasih sampai ratusan kali (eh, ya... mungkin sekitar sebanyak itu lah, lol).

***

Tanggal 4 Oktober episode "Menembus Batas" tayang jam 10 malam. Gue dan ortu nonton dengan suka cita. Meski awalnya gue malu-malu liat wajah sendiri di TV tapi akhirnya gue bisa menikmati acaranya. Apalagi waktu gue teringat kejadian-kejadian konyol sebelum acara. Seperti dicuekin Habibie yang akhirnya malah menjadi sahabat gue (gue baru tau kalau dia bukan cuek tapi wajahnya emang tanpa ekspresi, hahaha) atau waktu liat rambut Alien dicatok yang ternyata cantik banget dikamera ;)

Sampai acara selesai gue masih senyum-senyum bangga. Bukan, bukan gara-gara kisah hidup gue dikupas diacara sebesar "Rossy". Tapi karena bangga ditengah keterbatasan ternyata gue masih bisa bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Menulis novel, merancang busana, menjadi model... dulu semua cuma impian gue, tapi sekarang semuanya jadi kenyataan. Termasuk untuk duduk di soffa empuk disamping Rossy. Yang ternyata menjadi nyata karena gue berani bermimpi!




Foto-Foto:


The Show: Rossy, Menembus Batas




Waktu gue masuk di segmen 2. Arrrg... clip on make my back look weird, lol



All "Star" :)




Finally.. me and Rossy, my idol :)
ssst.. she's holding my book: Waktu Aku Sama Mika



My FB personal account: Indi Sugar
My "Waktu aku Sama Mika" FB group: Waktu aku Sama Mika
My FB page: Indi Kecil Babbitt

My Puppy is 8 Years Old! OMG! :D