Indi's Friends

Minggu, 31 Januari 2016

No More Oily Skin saat Date-Night! :)

Yayyy! It's weekend! Apa kabar bloggies? Semoga semua dalam keadaan baik, ya :) Gue sendiri baik-baik saja, a little exhausted, tapi masih tetap semangat, hehehe. Ngomong-ngomong soal weekend, apa nih kegiatan favorit kalian? Adakah yang suka berkumpul dengan keluarga di rumah, hangout dengan teman-teman atau jalan-jalan dengan pacar? Atau malah ada yang senang semuanya seperti gue? :p Bukannya rakus, tapi hari libur itu benar-benar gue manfaatkan. Soalnya kan nggak setiap saat kita bisa habiskan waktu dengan orang-orang tersayang. Hehehe, setuju dong? ;) Weekend kali ini gue ada date night sama Ray. Rencananya kami akan berjalan-jalan, dinner, hunting tas lucu dan beli oleh-oleh untuk Ibu dan Bapak di rumah :)

Kalau sudah hangout berdua, wah kami bisa lupa waktu. Berjam-jam mengobrol sambil cemal-cemil pun bisa nggak terasa pegalnya dan tahu-tahu mall nya sudah mau tutup, hehehe. Wajah yang tadinya fresh karena baru mandi pun bisa jadi kusam karena minyak yang bercampur keringat. Well, Ray nggak peduli sih, soal tampilan wajah itu nomor ke semilyar as long that we are happy, hehehe (ehm, lol). Tapi bukan berarti gue cuek, sebisa mungkin gue menjaga agar wajah tetap terlihat fresh. Minimal pipi gue nggak mengkilap-mengkilap amat, deh. Maklum, usaha gue untuk menjaga agar kulit agar terlihat fresh lebih sulit dari orang kebanyakan, ---selain jenis kulit yang berminyak, makeup routine gue juga masih setingkat sama anak SD alias cuma pakai moisturizer dan lip balm, hehehe. Senjata andalan gue sudah tentu stock kertas minyak yang tebalnya melebihi dompet gue. 

Nah, waktu jalan-jalan ke web yukcoba.in kebetulan banget gue lihat ada produk L'oreal Paris Hydrafresh Creamy Foam. Katanya produk ini diperkaya dengan vitamin dan mineral utama yang penting untuk membersihkan kulit. Hasilnya akan membuat kulit terasa lembut, lembab dan penuh sensasi kesegaran. Cocok untuk kulit kombinasi dan cenderung berminyak. Waaah, gue banget tuh, jenis kulit gue kan mood-mood-an. Kadang kombinasi, tapi seringnya sih berminyak, lol. Langsung saja gue klik "cobain" karena sangat tertarik untuk mencobanya. Siapa tahu saja gue terpilih menjadi reviewer dan bisa mencoba produk ini secara gratis. Luckily, beberapa hari kemudian gue mendapatkan email notifikasi yang mengabarkan bahwa gue terpilih dan produknya sedang dikirim ke rumah gue. Ah, can't wait! :D

 


Nggak sampai 1 minggu paketnya gue terima dengan selamat. Yang pertama gue notice dari L'oreal Paris Hydrafresh Creamy Foam adalah packagingnya cute. I'm such a sucker for cute thing! Hehehe. Jadi itu sudah langsung dapat 1 poin dari gue :p Di kemasannya tertera tulisan Anti-shine yang membuat gue semakin semangat. Prestasi sih boleh shining, tapi kalau wajah mah cukup glowing saja, hehehe. Isinya 100 ML yang artinya bakal awet untuk dipakai dalam jangka waktu lama. Sebelum ngedate sama Ray langsung saja gue coba produknya, ---sekalian mau tahu berapa lama produk ini sanggup menahan minyak dari wajah no makeup gue. Oh, by the way in case kalian penasaran cara pakainya sama seperti facial cream wash pada umumnya, kok. Cukup gunakan pada wajah yang basah dan bilas dengan air. Hindari daerah mata karena mata nggak perlu dicuci, hehehe. Buat yang suka banget sama warna-warna girly seperti gue juga pasti happy, karena cream nya berwarna pink! :D

Daaaan... tes pun dimulai. Waktu dipakai sih kulit gue terasa halus dan lembab, ---sama sekali nggak berminyak. Tapi tahan sampai kapan? Let's see... ;)
Gue dan Ray pergi dari rumah sejak sore hari. Cuaca sedang panas dan pengap, meski di mobil memakai AC tapi teriknya tetap terasa. Waktu kami tiba di mall tempat pertama yang dikunjungi adalah toko aksesoris yang sedang banyak pengunjung. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana, kira-kira 45 menit karena terlalu banyak yang menarik perhatian, lol. Setelah itu kami mampir ke coffee shop yang nggak kalah ramainya. Hampir semua meja terisi dan somehow AC di sana nggak begitu terasa. Karena akan sekalian dinner, kami bawa frappuccino yang sudah dipesan ke food court yang terletak di lantai paling atas. Cukup melelahkan karena coffe shop berada di lantai satu, (----dari ujung ke ujung, dong, hehehe). Gue sudah mulai keringatan, tapi syukurlah tempat kami dinner nggak terlalu ramai jadi bisa sekalian bersantai sampai... pukul 8 malam! Hehehe. Dan itu belum semuanya, di perjalanan pulang kami mampir dulu ke salah satu penjual martabak untuk membeli oleh-oleh. Antriannya panjaaaaang sekali. Gue dan Ray menunggu sekitar 1 jam sambil ditemani api dari kompor yang panasnya seperti sedang di Arab, ---well, mungkin, hehehe.



Sekitar pukul setengah 10 malam kami tiba di rumah. Gue bisa rasakan tubuh gue berkeringat, termasuk wajah. Tapi amazingnya wajah gue nggak berminyak! Memang ada perasaan lembab, tapi waktu bercermin gue nggak melihat ada kilap di wajah. Kalau biasanya perlu kertas minyak, kali ini hanya perlu ditekan-tekan sedikit dengan tisu dan wajah gue pun kembali terlihat fresh. Nggak ragu, gue akan pakai L'oreal Paris Hydrafresh Creamy Foam ini lagi next time. Teman-teman yang jenis kulitnya cenderung berminyak juga mungkin bisa coba produk ini. Harganya terjangkau, hanya Rp. 64.900 dan hasilnya bagus. Jadi why not? ;) Meski Ray selalu suka dengan penampilan gue, ---apa adanya, tapi nggak ada salahnya untuk berubah. Karena kulit bukan hanya penampilan, tapi kesehatan :)

cheers,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 23 Januari 2016

Menjadi Pemenang Utama di Dogs of Indonesia. Ah, Tapi Bukan Itu Intinya ;)

Gue selalu percaya kalau setiap mahkluk diciptakan Tuhan dengan fungsi masing-masing. Semuanya punya manfaat, semuanya saling berhubungan. Termasuk hewan. 
6 tahun lalu, ---waktu Eris pertama kali hadir, gue tahu bahwa ia adalah salah satu berkah yang Tuhan berikan. Meskipun ia berkaki empat, nggak seperti teman-teman gue yang lainnya tapi ia menjalankan fungsinya sebagai seekor sahabat dengan baik. Ia menemani saat gue sedih, saat gue senang. Ia juga juga memiliki empati, ---tahu kapan waktunya untuk becanda dan kapan gue sedang butuh istirahat. Selain menjadi sahabat Eris juga bagian dari keluarga. Jika Ibu tiba di rumah, selain bertanya apakah gue sudah makan, beliau juga pasti akan bertanya tentang si mungil Eris, hihihi :)

Gue juga percaya bahwa apa yang kita lakukan akan berbalik kembali pada diri kita. Jika kita memperlakukan setiap mahkluk, ---termasuk hewan, dengan baik dan hormat, bukan nggak mungkin mereka akan mencari cara untuk membalas kebaikan kita. Ingat Steve Irwin? Seumur hidupnya ia selalu dikelilingi hewan, ---terutama hewan buas seperti buaya. Tapi ia selalu percaya bahwa hewan-hewan itu nggak akan pernah menyakitinya. Ia bilang kuncinya adalah rasa hormat dan saling percaya. Well, gue memang masih jauh dari Steve Irwin, ---jauuuuuuh bangeeeeeet malah, hehehe. Tapi gue pernah mengalami hal yang sama dengan Mr. Irwin. Tahun 2013 lalu Eris melakukan sesuatu yang luar biasa, ---she saved my life :)

Terima kasih Dogs of Indonesia :)

Hari itu gue sedang bersiap untuk berangkat kerja. Seperti hari-hari yang lain gue menyalakan pompa water heater yang terletak di ujung garasi. Tapi ada yang berbeda dari Eris, tiba-tiba saja ia menerjang dada gue dan menggaruknya seolah ingin mengeluarkan sesuatu. Awalnya gue pikir ia mencium sisa makanan, tapi setelah memeriksanya gue yakin bahwa baju yang dipakai saat itu dalam keadaan bersih. Kebingungan, gue bergegas ke kamar mandi dan memeriksa bagian dada. Gue nggak menemukan sesuatu yang mencurigakan, tapi lalu... deg, jari gue meraba sebuah benjolan di dada sebelah kiri. Karena khawatir, sepulang bekerja langsung gue periksakan pada dokter. Singkat cerita setelah melalui proses ultra sound dan lain sebagainya... benjolan itu ternyata tumor dengan diameter sebesar bola ping-pong. Yup, itu bukan tumor yang kecil.

Iie (tante) dan Tia juga beri hadiah bando lho buat Eris :)

Berkat Eris tumor gue diangkat sebelum menyebar dan ganas. Dokter yang menangani gue pun sampai amaze karena letak tumornya yang jauh di belakang, ---dengan diraba sekitas saja nggak mungkin terasa. Itulah kenapa gue bilang Eris menyelamatkan nyawa gue. Tanpa Eris, belum tentu gue masih berada di sini sekarang :)  Cerita tentang Eris yang pertama kali gue ceritakan di sini pun lama-lama semakin menyebar. Tulisan gue di share berkali-kali, dimuat di media online Vemale, sampai akhirnya masuk ke program Spotlite Trans 7. It's beyond amazing, cerita kami yang tadinya hanya diketahui oleh kalangan tebatas jadi semakin meluas. Dan baru-baru ini, ketika ada kontes 1001 Cerita dari Dogs of Indonesia gue putuskan untuk membagikan pengalaman ini lagi. Gue nggak berharap untuk menang, tapi gue berharap cerita kami akan memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Ide kontesnya sangat fun, cenderung lucu. Jadi para pemilik anjing ditantang untuk membuat cerita based on karakter anjingnya masing-masing. Nah, tokoh yang menginspirasinya boleh diambil dari tokoh-tokoh fiksi. Gue memilih Scooby Doo, karena sejak pertama kali melihat Eris ia selalu mengingatkan gue sama anjing konyol itu, hihihi. Matanya besar, agak penakut, hobi makan dan yang pasti sama-sama bisa menemukan monster jahat! Bedanya monster yang Eris temukan dalam bentuk tumor. Sama-sama happy ending :D Gue mengirimkan ceritanya waktu hampir deadline karena handphone gue sempat bermasalah. Syukurlah cerita gue tetap diterima dan rupanya masuk menjadi pemenang harian, --- yang nantinya akan dipilih lagi untuk menjadi pemenang utama dan pemenang favorit. Sampai sini saja sudah jadi big surprise, karena gue lihat peserta lain banyak yang kreatif dalam penulisan ceritanya :)

Ucapan selamat :)

Hadiah Voucher MAP :)

Tanggal 17 Januari 2016, ketika gue sedang bersiap untuk beristirahat tiba-tiba saja gue teringat untuk melihat pengumuman pemenang. Karena handphone gue mati seharian (yes, gue perlu ganti handphone sepertinya, lol) jadi nggak ada satu notifikasi pun yang masuk. Dan... surprise, surprise... Gue dapat mention Dogs of Indonesia yang berisi bahwa cerita gue dan Eris menjadi pemenang utama! O, my God! Saking kagetnya gue nggak langsung balas tapi refresh page nya berkali-kali, ---kalau-kalau mereka salah mention. Tapi nop, mereka nggak salah, karena beberapa hari kemudian gue menerima hadiahnya; voucher MAP dan ucapan selamat kecil untuk Eris. Gue nggak tahu vouchernya akan dibelikan apa, tapi karena tahu kalau nggak bisa dibelanjakan di pet shop jadi gue hadiahi Eris dengan homemade treats istimewa dan jalan-jalan sore (sekaligus jumpa fans Eris, hihihi!). Dan tante gue yang mendengar tentang kemenangan ini pun ikut memberi Eris hadiah, yaitu sebuah bando rusa yang lucu :)

Bocah-bocah ini fansnya Eris, kemana pun selalu mengikuti, hihihi. 

Hadiahnya tentu membuat gue, ---dan Eris--- senang, tapi menurut gue bukan itu intinya. Mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita tentang apa yang terjadi pada gue dan Eris adalah yang terpenting. Gue senang bisa memberitahu dunia bahwa setiap mahkluk di dunia memiliki fungsi dan saling berhubungan. Mungkin ada yang berpikir kalau Eris hanya seekor anjing, tapi seriously guys, di dunia ini nggak ada yang "hanya", semuanya istimewa dengan caranya masing-masing. Jadi next time, kalau sedang makan di restoran dan ada kucing mampir jangan ditendang. Siapa tahu nanti ia melakukan sesuatu yang baik untuk kalian. Be nice, ---kalau kata Ibu dulu; Jangan mencubit kalau nggak mau dicubit! :)

blessed girl,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 20 Januari 2016

Indi in the Pocky-Land :)


Siapa suka Pocky? Well, of course gue nggak bisa dengar jawaban kalian, tapi yakin gue bukan satu-satunya orang yang suka Pocky di sini :D
Gue masih ingat waktu dulu, ---waktu Pocky belum sepopuler sekarang di Indonesia, gue paling suka bawa bekal Pocky rasa cokelat kalau sedang ada acara keluarga. Camilan ini jadi senjata ampuh untuk mengusir bosan, ---selain buku dan musik, karena biasanya gue jadi satu-satunya anak kecil, hehehe. Meski waktu itu ada varian strawberry, tapi Pocky cokelat lah yang jadi favorit gue. Saking senangnya 1 stik saja nggak cukup untuk masuk ke mulut gue, tapi harus 2 sekaligus. Cara makannya nggak pakai sedikit-sedikit, tapi langsung hap, ---bisa setengah stik sekali gigit, hehehe. Sampai dewasa pun kecintaan gue sama Pocky nggak pernah berubah (malah bertambah karena sudah bisa beli sendiri). Meski gue bukan fans JKT 48 (ingat ya, idola gue itu Aerosmith dan John Frusciante, lol), tapi koleksi stiker mereka mungkin bisa mengalahkan die hard fans sekalipun. Dan letaknya ada di mana-mana, ---di meja belajar, kolong meja, sampai pintu lemari baju. Super random. Itu semua karena Pocky yang memaksa gue untuk melakukanya :p

Pocky, snack yang berbentuk stik ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1963 oleh Ezaki Glico. Awalnya Pocky hanya berlapis cokelat, tapi lama-lama variannya semakin banyak. Di Indonesia sendiri yang populer adalah varian cokelat dan strawberry, padahal sebenarnya Pocky punya banyak rasa yang unik. Misalnya saja, almond, anggur, madu, cake dan masih banyak lagi. Meski gue sangat menyukai Pocky, tapi gue bukan that kind of crazy fans yang do anything untuk mendapatkan varian yang nggak tersedia di Indonesia. Kalau teman-teman gue ada yang sampai beli via on line atau menitip pada kerabat yang sedang di luar negeri, gue mah nonton video Pocky Taste Test di YouTube saja cukup, hahaha. Makanya waktu di majalah Gogirl! ada iklan dengan Pocky Matcha, ---varian baru---, dan mereka akan membagikannya gratis untuk yang beruntung, gue langsung excited. Meskipun kemungkinannya nggak terlalu besar (wah, pembaca mereka kan banyak) tapi gue tetap ikutan kontesnya dan... finger crossed! ;)

Nggak disangka, waktu pemenangnya diumumkan ternyata ada nama gue! Katanya gue akan mendapatkan kesempatan mencoba Pocky Matcha dan nanti Pocky nya akan dikirim ke rumah. So excited! ---Saking excitednya, waktu Pocky Matcha akhirnya masuk ke mini market di dekat rumah, gue tetap tegar untuk nggak tergoda membelinya. Supaya nanti waktu hadiahnya datang lidah gue bakal surprise, hehehe. Tapi setelah 1 bulan berlalu ternyata hadiah yang dijanjikan belum juga datang. Gue sempat bertanya pada adminnya satu kali, tapi nggak dibalas, huhuhu :( Ya sudah, akhirnya gue tetap bersabar sambil berdoa semoga hadiahnya nggak nyangkut di rumah orang yang juga penggemar Pocky, hehehe. 
Dan finally... beberapa hari yang lalu akhirnya Ibu berkata ada kiriman paket untuk gue. Awalnya gue nggak yakin itu dari Pocky karena bungkusnya sangat besar. Sampai gue membuka bungkusnya dan... Oh, my! Ternyata mereka bukan hanya memberi gue Pocky Matcha! 


Totalnya ada 20 box Pocky berbagai macam varian, ---dan varian yang terbanyak terntu saja Pocky Matcha. Selain Pocky cokelat dan strawberry, ada juga varian Choco Banana, Double Choco dan Vanilla-Cocoa. Wah, gue sampai bingung mau mencici yang mana dulu *terharu* lol. Karena bukan penggemar pisang, jadi Choco Banana lah yang menjadi pilihan pertama gue. Supaya kalau lidah gue nggak cocok bisa cepat-cepat mencicipi rasa yang lain, begitu gue pikir, hihihi. Dari aromanya sudah tercium khas pisang, begitu juga warnanya yang kuning menyala, persis ukulele gue :p Di luar dugaan, ternyata lidah gue approve rasa pisang yang satu ini. Mungkin karena nggak dominan dan rasa colekatnya cukup terasa. Oh, iya rasanya ada sensasi dinginnya juga lho, seperti makan es krim. Pokoknya enak, dan 1 box Pocky Choco Banana pun langsung gue habiskan tanpa ampun, hehehe.


Varian kedua yang gue cicipi adalah Double Choco. Sebagai penggemar cokelat gue nggak ragu untuk mencicipinya, ---2 stik langsung gue masukan ke dalam mulut. Dan... sesuai dugaan gue, ini enak banget! Varian ini menjadi favorit gue yang setelah Pocky cokelat yang klasik. Stiknya nggak terlalu manis, cenderung pahit dan sangat cocok dipadukan dengan lapisan cokelatnya yang lebih manis. Sayangnya karena Ibu juga penggemar cokelat, 2 box Pocky varian ini harus gue share, uhuhuhu... lol. Selanjutnya gue mencicipi Vanilla-Cocoa. Dibandingkan yang lain, varian ini aromanya yang paling manis, ---mungkin dari vanilla nya. Waktu dicicipi ternyata rasanya juga paling sugary, tapi untungnya stik cokelatnya nggak terlalu manis, jadi nggak enek. Rasanya enak, but still, gue lebih memilih yang Double Choco :)

Dan varian terakhir yang gue coba adalaaaaaaaah *drum roll* Pocky Matcha! Sengaja gue mencicipinya paling akhir karena varian ini lah yang paling sering dibicarakan. Sepertinya sekarang matcha sedang trend, apa-apa dibuat rasa matcha. Gue suka kue ape, kapan-kapan boleh dong ada ape rasa matcha. Kan cocok tuh warnanya hijau, hehehe :p Waktu gue buka kemasannya aroma matcha langsung tercium, ---aromanya ringan, nggak terlalu menyengat. Gigitan pertama lidah gue masih agak bingung, it taste like a... mung bean? Tapi setelah habis beberapa stik rasa matcha nya semakin terasa. Bukan varian terbaik di lidah gue, but it does taste good! Cuma memang butuh banyak stik saja supaya lidahnya notice kalau ini rasa matcha. ---Atau gue memang rakus? Hehehe.

Yang pasti gue merasa grateful dapat kesempatan untuk mencicipi bebagai varian Pocky. Untuk gue Pocky masih menjadi salah satu snack terbaik dengan harga terjangkau yang tersedia di banyak tempat. Saat snack lain rasanya berubah atau kemasannya menjadi mungil seiring berjalannya waktu, Pocky tetap menjaga kualitasnya, bahkan semakin baik. Gue jadi penasaran dengan varian lainnya, apalagi dengan varian wine. Apa harus berusia 18 tahun dulu untuk mencicinya? Hahaha. Well, semoga saja gue dapat kesempatan itu, mungkin sambil berjalan-jalan ke Jepang ;) Thank you so much Pocky (Glico) dan Gogirl! Magazine. Nggak setiap hari gue mendapatkan kiriman childhood snack kesukaan :)
ps: Kalau mau kirim lagi, alamat gue belum berubah, lho. Lol.

indi in the pockyland,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 15 Januari 2016

Animal Cruelty on Your Plate


Kalau tengah malam begini biasanya gue mulai menulis. Bukan, ---bukan ala ala seniman yang senang dengan keheningan karena inspirasi jadi mudah datang. Tapi jam segini biasanya gue habis mengendap-endap ke dapur untuk membuat camilan atau makanan berat sekalian, hahaha. Dibandingkan dengan menonton TV gue lebih suka menyalakan komputer tua gue, menulis ide-ide yang terpikir ketika menjalani hari, menyelesaikan buku terbaru (---which is seharusnya selesai bulan lalu), menonton video homemade di channel-channel YouTube, atau scroll up and down di timeline/newsfeed gue. Kalau sedang beruntung gue akan dapat link-link video konyol, tulisan-tulisan inspiratif atau best of all... dapat kabar John Frusciante kembali aktif bermusik. Tapi seringnya gue malah menemukan banyak cerita hoax, status-status fanatik mem-piggy-buta, atau worst all... video-video animal cruelty yang lebih kejam daripada Cruella de Vil...

Well, ya soal hoax gue akan ceritakan lain kali. Belum tahu kapan, tapi harus ---karena rupanya masih banyak orang yang asal share tanpa memeriksa dulu asal usulnya. Sekarang gue mau cerita tentang animal cruelty, ---tapi ini bukan tentang orang-orang yang menelantarkan hewan peliharaannya atau breeding untuk keuntungan materi. Ini tentang hewan ternak yang nantinya akan masuk ke dalam perut kita, ---eh perut kalian, ---since I'm a pescatarian. Gue nggak akan membahas ini dari sudut pandang sebagai seorang vegetarian atau seorang animal lover. Tapi apa yang akan gue tulis adalah yang gue rasakan sebagai seorang manusia yang punya hati nurani dan akal pikiran.
Gue dibesarkan di keluarga penyayang hewan, dari anjing, kucing, burung, ayam sampai tikus pernah menemani hari-hari kami. Tapi keluarga gue juga penggemar daging (aduh apa ya istilahnya?). Ibu dan Bapak sangat menyukai masakan dengan daging kambing dan ayam. Kalau nasi goreng nggak cukup kalau dengan timun dan telur dadar saja, maunya ada kambingnya, hihihi. Suatu hari (long looooooong time ago) gue memutuskan untuk menjadi vegetarian, ---tepatnya pescatarian. Ibu dan Bapak nggak bertanya apa alasannya dan langsung mengizinkan karena mereka pikir hanya fase di usia gue yang masih remaja. Tapi setelah sadar bahwa ini adalah keputusan permanen, mereka pun dengan senang hati menyiapkan menu khusus untuk anak perempuannya ini. Nggak ada yang berubah dari rutinitas makan kami sehari-hari. Kami tetap makan di meja yang sama dan terkadang makan malam sambil menonton TV, ---yang berbeda hanya menu di atas piring gue :)



Meski terkadang gue cengeng saat tahu ada hewan yang disembelih, tapi tentu gue lebih mendengarkan akal sehat gue. Tuhan menciptakan dunia dan isinya dengan masing-masing manfaat, termasuk hewan. Sudah sejak zaman dahulu manusia memanfaatkan hewan untuk keperluan sehari-hari, dari mulai tenaganya, kulitnya untuk dibuat pakaian dan dagingnya untuk dimakan. Bayangkan saja jika di zamannya Fred Flinstone penggunaan bulu hewan sudah dilarang, mungkin mereka semua akan kedinginan dan bergantung pada daun-daunan (---lalu menumbuhkan bulu sebagai proses adaptasi, lol). Kalau soal pakai kulit hewan, sekarang sih memang sudah seharusnya untuk berhenti. Kita sudah tinggal di rumah, ada selimut, jaket dan payung dengan berbagai pilihan bahan untuk melindungi diri. Nggak perlu pakai kulit hewan, kecuali kalau jika itu memang untuk memanfaatkan sisa pemotongan, seperti misalnya kulit sapi untuk bedug. Kalau sengaja bunuh binatang untuk diambil kulitnya, misalnya ular atau buaya untuk dibuat tas sih big NO ;) Gue percaya sebagai manusia kita nggak perlu serakah, cukup manfaatkan apa yang ada, ----hanya ambil apa yang bisa kita makan.

Gue senang sekali dengan villa keluarga yang terletak di Purwakarta. Nggak jauh dari sana ada kandang sapi dan kambing. Kalau sedang bersama sepupu-sepupu gue yang masih kecil, kami sering memberi mereka rumput untuk dimakan. Bahkan sesekali kami membelai-belai mereka juga, soalnya menggemaskan, hihihi. Meski sepupu gue yang berusia 7 tahun pun tahu kalau hewan-hewan ini nantinya akan dipotong, gue selalu berusaha menyampaikan kalau mereka "baik-baik saja". Ya, mereka memang akan mati dan menjadi makanan manusia, tapi selama semasa hidupnya diperlakukan dengan baik mereka pasti senang karena bisa bermanfaat untuk kita :) By the way, gue nggak menyangka kalau harus menyampaikan ini sama mereka, karena gue pikir hanya "Indi kecil" saja yang kaget waktu sadar kalau apa yang dimakan sehari-hari asalnya dari hewan, hehehe. Makanya penting sekali agar mereka tahu kalau it's okay to eat animals, selama caranya baik.

Kehadiran kita di dunia ini seperti rantai, semuanya saling menyambung. Hewan pun ada sebagian yang saling memangsa agar bisa bertahan hidup (---karena yang vegetarian kaya gue juga ada, hehehe). Contoh kecilnya saja ikan arwana yang dipelihara di aquarium, mereka diberi pakan yang berasal dari udang, ikan kecil, jangkrik atau bahkan kecoa yang kaya protein. Meski mereka nggak memangsanya sendiri, tapi tujuannya sama, hewan-hewan kecil itu yang membuat arwana bertahan hidup. Katanya semakin berkualitas pakan yang diberikan maka semakin sehat pula arwana-arwana itu. Makanya, supaya kualitasnya terjaga banyak orang yang memilih mengembangbiakan hewan-hewan kecil itu sendiri untuk dijadikan pakan daripada membeli. Meski nggak semuanya buruk, tapi ada saja pedagang yang memperlakukan ikan pakan (---feeder fish) dengan nggak layak. Mereka dijejalkan ke dalam sebuah aquarium, atau plastik penyimpanan tanpa oksigen yang cukup. Pernah suatu hari gue melihat seorang pegawai pet shop yang cuek saja ketika ada seeokor ikan pakan menggelepar-gelepar di lantai. Waktu gue tegur jawabannya bikin gue meringis, katanya, "Biar saja, masih banyak yang hidup di sana," sambil menunjuk ke plastik besar berisi ratusan ikan tanpa aerator. Mungkin ada orang berpikir bahwa ini bukan big deal. Kenapa harus bersusah-susah merawat ikan pakan yang nantinya akan dimakan oleh ikan yang lebih besar? Toh dalam keadaan sekarat pun ikan besar akan tetap memakan mereka. Padahal, tahukah kalian bahwa ikan-ikan yang dikembangbiakan dengan berdesak-desakan memiliki resiko untuk memiliki parasit, bakteri dan terserang stress? Dan ya, itu memang BIG DEAL, karena penyakit yang dimiliki ikan-ikan itu bisa menular ke ikan yang memakannya. 


Meski nantinya dimakan tetap saja namanya animal cruelty, ---dan jadi double animal cruelty kalau ikan besar yang memakan mereka ikut sakit, lol :p Hal yang sama juga beresiko terjadi pada hewan ternak, yang nantinya kita makan. Saat kita, ---err, kalian makan rendang atau sate ayam, pernahkah terpikir darimana asal hewan-hewan tersebut? Apakah mereka disembelih dengan baik, atau dengan cara yang halal, ---bagi muslim? Beberapa waktu yang lalu timeline gue sempat ramai dengan video-video rumah potong ternak yang 'menyiksa' dulu hewan-hewannya sebelum disembelih. Mereka dijejalkan di kandang yang sempit dan ditarik paksa sampai kakinya terpeleset. Di video lain lebih memilukan lagi, sapi-sapi dihancurkan tulangnya dengan menggunakan alat lalu kepalanya diputar sampai putus. Sungguh cara yang kejam, berbeda sekali dengan cara menyembelih hewan yang seharusnya. Memang kejadiannya kebanyakan di luar negeri, tapi bukan berarti di Indonesia bisa bebas. Masih ingat dengan sapi glonggong, ---sapi yang dipaksa minum sebanyak-banyakanya agar beratnya bertambah demi keuntungan penjual? Ini bukan hoax, bagi yang sering berbelanja di pasar pasti deh bisa membedakan mana yang betulan gemuk atau hasil glonggong. Jika hewan-hewan itu dimakan oleh manusia apakah efeknya akan baik bagi tubuh? I don't think so :)

Jika owner ikan arwana saja nggak mau peliharaannya memakan sesuatu yang buruk, apalagi kita sebagai manusia? Sama seperti pada ikan, jika kita memakan hewan ternak yang stress atau sakit maka efeknya akan buruk bagi tubuh kita. Ayam goreng, gulai kambing dan bistik sapi yang seharusnya nikmat dan bermanfaat bagi tubuh pun bisa malah jadi penyakit. Kita memang nggak selalu bisa tahu darimana asal makanan yang dikonsumsi sehari-hari, ---apalagi jika asalnya dari restoran cepat saji. Tapi bukan berarti nggak bisa dicegah, atau minimal dikurangi resikonya. Orangtua gue biasanya membeli ayam langsung dari pasar, dalam keadaan hidup jadi mereka bisa melihat langsung bagaimana proses menyembelihnya. Untuk daging kambing, mereka membelinya dari sesorang sudah sangat mereka percayai dan dipotong di hari yang sama oleh 1 orang, ---bukan rumah pemotongan masal. Lalu bagaimana dengan restoran cepat saji atau fast food? Well, beberapa tahun belakangan ini mereka berhasil menghindari untuk membeli makanan dari sana, ---dan itu membuat gue sebagai anak merasa bangga, hehehe :p 

Gue yakin masih banyak peternak dan rumah potong yang memperlakukan hewan-hewannya dengan baik, misalnya saja di peternakan kecil yang sering gue kunjungi saat sedang mampir ke villa keluarga. Gue cuma mau ingatkan kalau animal cruelty mungkin saja ada di piring kita, di menu masakan homemade yang terkesan innocent. Berilah tubuh makanan yang baik karena kita mencerminkan apa yang kita makan. Sekali lagi, gue nggak mempromosikan vegetarianism. Menjadi vegetarian adalah pilihan gue, tapi selalu percaya bahwa IT'S TOTALLY OKAY untuk memakan hewan ternak karena itu memang salah satu takdir mereka untuk diambil manfaatnya oleh manusia. Just choose it wisely, okay? No more animal cruelty on your plate! :)

bukan cruella de vil,

Indi

***

nb: Gue berterima kasih untuk teman-teman yang tetap mampir ke sini meskipun belakangan gue jarang update dan blog walking. Bahkan gue lihat ada beberapa teman baru yang mengikuti blog ini. Really appreciate it, dan selamat datang ke Dunia Kecil Indi :) Tapi sadly jumlah komentar nggak nyambung pun jadi bertambah. Begini teman-teman, sebelum berkomentar tolong make sure untuk membaca tulisan gue dulu dengan lengkap. Dan kalau malas, it's okay, gue nggak pernah menganggap bahwa banyak follower/komentar = prestasi, karena gue menulis murni karena suka menulis :) Jika tujuan kalian meninggalkan komentar karena ingin dikunjungi balik lebih baik minta to the point saja, itu akan lebih gue hargai. Karena komentar yang nggak nyambung dari hasil membaca setengah-setengah kadang malah membuat misleading dan membuat orang yang berkunjung ke blog ini untuk benar-benar mencari informasi jadi bingung. Tolong, ya, terutama untuk di tulisan yang mengenai scoliosis dan HIV/AIDS. Thanks, have a nice day :)

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 08 Januari 2016

Yang Baru untuk Kulit Wajah Gue. Will it Work? ;)

Hi bloggieeees, apa kabar? Ah, finally my very first post di tahun baru ini :D Meski tahun 2016 baru dimulai, tapi sudah banyak yang hal awesome yang mampir ke dunia kecil gue, hihihi. Well, gue nggak akan ceritakan semuanya sekarang, tapi gue mau share kalau beberapa waktu lalu terpilih sebagai salah satu reviewer di Yukcoba.in. Dari sekian banyak produk gue tertarik sekali dengan Esene Face Cleanser. Alasannya, of course karena gue lebih suka dengan skin care daripada makeup :p Makanya waktu produknya sampai di rumah gue senang sekali :)

Sedikit informasi tentang Esene Face Cleanser, produk ini adalah pembersih wajah yang katanya sih bisa dengan cepat mengangkat debu, kotoran dan sisa make up yang sulit dibersihkan. Dan karena menggandung Amino Acid seharusnya bakal cocok banget untuk kulit gue yang mudah berminyak. Kandungannya bisa menahan kadar minyak di wajah lebih lama, ---kira-kira 3-4 jam lebih lama dari biasanya. Wah, cocok banget kan sepertinya. Gue jadi semakin excited untuk mencoba, nih.



Esene Face Cleanser yang gue terima berukuran 120 ml, jadi isinya cukup banyak tapi sizenya masih cukup compact untuk dibawa traveling. Kesan pertama gue saat melihat kemasannya adalah... mature sekali, hihihi. Warnanya putih dengan logo dan tutup tube berwarna emas, dan di bagian belakangnya ada informasi produk dengan latar berwarna merah. Eh, tapi terlihat mature bukan berarti not a good thing, lho. Gue malah senang jadi ada warna lain di antara skin care gue yang mostly berwarna pink ;)





Karena sudah nggak sabar, gue langsung coba pakai Esene Face Cleanser ketika mandi sore, (---bukan cuma gue saja kan yang suka mendadak semangat mandi karena mau coba produk baru? Hihihi). Waktu gue squeeze isinya ke telapak tangan, ternyata warnanya sparky white (cuteee) dan lebih firm daripada yang gue bayangkan. Aromanya pun bikin relax karena mengandung olive oil. Sebelum memakai produk ini pun gue memang penggemar berat olive oil, biasanya sebelum mandi gue oleskan dulu olive oil ke seluruh tubuh, tapi sekarang gue bisa skip bagian wajah karena sudah langsung ada di cleansernya. Olive oil itu kaya manfaat lho, selain aromanya enak juga membuat kulit menjadi halus. Oh, iya bedanya Esene dengan face cleanser lain yaitu formulanya yang nggak terlalu soapy, jadi lebih creamy :)



Cara pakainya sangat mudah. Ambil Esene Face Cleanser secukupnya, usapkan pada kulit wajah, pijat memutar lalu bilas dengan air bersih. Setelah dikeringkan dengan handuk kulit gue langsung terasa halus dan kencang, sama sekali nggak lengket. Ketika dioleskan pelembab pun kulit gue nggak berminyak, tetap terasa fresh selama hampir seharian. Sejauh ini gue suka dengan hasilnya, nggak ada tanda-tanda alergi atau perasaan panas (kulit gue sangat sensitif). Gue akan rekomendasikan Esene Face Clenaser ini pada Ibu karena beliau juga punya jenis kulit yang mirip dengan gue. Dan of course, gue rekomendasikan juga pada kalian, ---laki-laki atau perempuan, tua atau pun muda, hihihi. Apakah gue akan memakai produk ini lagi? Yup, nggak ada alasan buat bilang "Nggak" ;)

yang baru cuci muka,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469