Indi's Friends

Jumat, 28 Februari 2014

Edelweiss (Sound of Music~OST) by Me :)



Funny story behind this video:
Yesterday I've finished re-watching "Annie" and today I decided to dressed like Annie the little orphan. I asked my dad to take some pictures, but he suggested to have it recorded. I said I would like to sing, and looked for Annie's original soundtrack on my playlist. But accidentally I found "Edelweiss", a song from "Sounds of Music". I sang it spontaneously and my dad didn't missed to record me. That's why in the end of video I said,
"This song is way too fast. I wanna have another song". Lol :p


Ps: Maria von Trapp, "little girl" yang dulu menginspirasi tokoh Louisa di film musikal Sound of Music meninggal dunia 4 hari yang lalu. Hati gue sangat merasa kehilangan karena waktu kecil gue sangat terobsesi dengan filmnya (literally, gue menontonnya ratusan kali). Tapi di sisi lain gue juga tersenyum karena baru tahu bahwa cucu-cucu Maria (anak-anak dari saudara-saudaranya. Maria tidak menikah) meneruskan jejaknya dalam dunia musik sebagai The von Trapp Children. 

smile,

Indi


***
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 23 Februari 2014

Blogsale for Charity masih ada, lho! Yuk, berbelanja sambil Beramal :)



Cute dress from: here


Hai teman-teman, gue mau mengingatkan kembali tentang BLOGSALE FOR CHARITY, nih! Itu lho event berbelanja sambil beramal yang diadakan oleh Karina dari blog http://www.kadinces.com/ :)
Kita masih punya kesempatan untuk menyumbang sebanyak 25% dari setiap item yang dibeli ke Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (www.ykaki.com)
Asyik sekali kan kita bisa menjadi stylish sekaligus beramal :) Yuk segera dipilih item-item kerennya. Ada dress, aksesoris sampai pernak-pernik lucu juga. Nggak hanya untuk perempuan, lho, tapi para laki-laki juga boleh ikut berbelanja di sini. Tuh, siapa tahu mau memberi kado sama pacar atau saudara dress manis seperti yang gue pakai ini :D

Tunggu apa lagi, yuk ikutan BLOGSALE FOR CHARITY. Klik di sini, pilih item yang kalian suka dan mari berbagi kebahagiaan dengan adik-adik yang sedang berjuang melawan kanker :)




Blogsale for charity. Klik di sini :)


smile,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469



Minggu, 16 Februari 2014

"Indi juga sayang Dominika" :)


What I wore? Headband: Heartwarmer | Dress: Toko Kecil Indi (design by me) | Bracelet: Vanilla | Socks: Gosh | Shoes: Nevada Kids

Yay, ini sudah weekend, teman-teman :D Gue exited sekali karena di minggu ini kesehatan gue semakin membaik, batuk-pilek sudah menghilang, jadi pekerjaan pun terasa lebih ringan. Semoga teman-teman juga dalam keadaan baik, ya. Dan untuk yang sedang terkena musibah, doa gue selalu ada untuk kalian :) 

Tanggal 13 Februari kemarin gue dapat kejutan yang sangat-sangat-sangat menyenangkan. Saking menyenangkannya gue sampai hampir menangis dan hari ini pun jika mengingatnya masih terasa seperti mimpi. Hari itu semuanya berjalan seperti biasa, gue mengajar anak-anak di preschool sampai siang, beristirahat sebentar sampai tengah hari, lalu dilanjutkan dengan makan siang bersama rekan-rekan bekerja. Sampai tiba-tiba saja Miss. Rifa yang sedang makan di sebelah gue berbicara dengan suara tercekat,
"Indi.. Indi... Lihat itu ada siapa di playground!"
Gue yang sedang asyik menikmati sandwich pun segera melihat ke arah playground. Mencari-cari. Tapi nggak ada seorang pun yang gue kenal. Hanya beberapa anak yang sedang outing dan karyawan yang mengawasi mereka.
"Siapa sih?" gue bertanya pada Miss. Rifa sambil mengunyah potongan terakhir bekal gue.
"Itu Dominika!"
Mendengar namanya disebut, spontan gue berdiri dan memanggil-manggil histeris ke arah playground. Tanpa menutup kotak bekal makan siang, gue berlari ke gerbang playground dan mencari sosok yang Miss. Rifa sebutkan tadi.

"Indi!!!"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah playground. Seorang anak perempuan yang memakai baju seragam olah raga berlari ke arah gue. Ia berambut coklat panjang, berpipi tembam dan berkulit putih bersih.
"Dominika?" suara gue tercekat. Hampir nggak percaya bahwa little girl yang sedang berdiri di balik gerbang playground itu adalah Dominika. Tingginya sudah bertambah beberapa senti...
Tangan-tangan kecilnya menggapai-gapai dari balik gerbang, berusaha memeluk gue. Tubuh gue yang jauh lebih besar darinya membuat sulit untuk membalas pelukannya dari balik gerbang. Jadi gue hanya menyambutnya dengan ciuman kecil di punggung tangannya.
"Mau keluar."
"Mau kemana Dominika?" air mata hampir saja jatuh, tapi gue tahan karena Dominika pasti nggak mengerti mengapa gue menangis :')
"Mau ke Indi."
"Dominika sama siapa ke sini? Sama Mama? Harus bilang Mama dulu, ya."
Ia nggak menjawab dan berlari menjauhi gue. Gue yang masih terkejut dengan kemunculan Dominika yang tiba-tiba, kembali ke meja makan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorikal pada Miss. Rifa yang dijawab dengan senyuman pengertian.

Dominika sudah tumbuh tinggi :'D

Rekan-rekan bekerja gue juga senang dengan kehadiran Dominika karena ia begitu dirindukan. Tapi reaksi gue memang lebih 'keras' dibandingkan yang lainnya. Bagaimana nggak, dulu gue dan Dominika berteman dengan baik. Iya, bukan seperti guru dan muridnya, tapi benar-benar berteman sampai-sampai ia nggak pernah memanggil gue dengan sebutan "Miss", hanya "Indi" (baca kisah lengkapnya di sini). Padahal gue sebenarnya hanya beberapa hari saja ditempatkan di kelas Dominika, tapi setiap kali ia keluar dari kelas, ia pasti mengunjungi kelas gue bahkan sampai ketiduran di sana. Apa alasannya? Sampai hari ini nggak ada yang tahu, gue dan Dominika tiba-tiba cocok begitu saja. 

"Indiiiiiii!"
Gue mendengar suara itu lagi. Ya Tuhan, ternyata Dominika sudah berada di luar gerbang dan ia sedang berlari ke arah gue! Sepatunya entah dimana, ia hanya memakai sepasang kaos kaki.
Dengan mengabaikan bagaimana cara ia bisa keluar dan apakah sudah meminta izin pada mamanya, gue langsung menyambutnya dengan pelukan erat dan ciuman di pipi. Wah, air mata gue sudah nggak bisa ditahan... :') Dominika tampak kebingungan tapi ia tetap nggak melepaskan pegangan tangannya setelah kami berpelukan.

"Dominika sekolah dimana sekarang?"
"Nggak tahu..."
Gue tersenyum karena nama sekolahnya sebenarnya tertulis di baju seragamnya. "Mau makan?" 
"Mau ke kelas Indi."
Gue berlutut di depannya, "Yah... Miss. Indi kelasnya sudah pindah sekarang... Main di playground saja, yuk."
Dominika terdiam, keningnya berkerut dengan bibir yang tertarik ke bawah. "Ke kelas Indi saja..."


Menghampiri gue di tempat lunch :)

Akhirnya gue mengalah dan menuntunnya menuju kelas lama gue. Sekarang di kelas lama hanya ada Miss. Rifa dan kelas baru gue jaraknya dari ujung ke ujung dari kelas lama. Tapi Dominika sepertinya nggak akan mengerti jika gue jelaskan tentang perpindahan kelas, karena ia bahkan bersikap seolah masih bersekolah di sini. Jadi gue pun ikut berpura-pura masih bekerja di kelas yang sama. Demi Dominika.

Miss. Rifa mengizinkan gue memakai kelasnya sementara ia kembali bekerja di meja sudut kelas. Dominika tampak riang sekali dan langsung menuju rak buku favoritnya. Dengan malu-malu ia bertanya apakah ia boleh membaca buku. Hehehe, rupanya ia masih ingat bahwa waktu bersekolah di sini ia harus minta izin dulu jika mau mengambil buku atau mainan di kelas gue. Maklum sudah diluar jam sekolah :D 
Bukan itu saja, ia juga ternyata mengingat semua buku favoritnya bahkan letak-letak mainan di rak. Sayangnya karena perpindahan kelas beberapa buku dan mainan sudah nggak ada. Beruntung Miss. Rifa baik sekali, ia segera mencari beberapa benda yang dulu menjadi kesukaan Dominika di gudang penyimpanan. Oh, dan juga Miss. Rifa berinisiatif mengambil foto waktu gue dan Dominika bermain di kelas :) Terima kasih :)

Gue dan Dominika berada di dunia kami, yang nggak bisa dijangkau oleh siapa-siapa. Membicarakan hal-hal yang kami suka seolah belum pernah berpisah. Ini seperti hari biasa di saat Dominika pulang sekolah.
"Parfum Barbie mana?", "Rambut cantik mana?"
Dominika menunjuk tas tangan gue. Ia hapal sekali dengan isinya karena dulu gue sering mendandaninya. "Rambut cantik" adalah istilah untuk karet rambut yang dulu gue gunakan untuk mengepang rambutnya :) Tapi bukan hanya kelas, tapi keadaan tas gue juga sudah berubah. Gue nggak lagi pakai parfum Barbie dan nggak lagi membawa karet rambut. Gue menunjukan parfum lain kepada Dominika, parfum yang berjenis solid, lalu mengoleskannya sedikit di nadinya. Ia memandang gue ragu lalu gue mendekatkan lengannya pada hidungnya. "Cium, ini juga wangi."
Dan gue lega karena Dominika menyukainya meskipun ini bukan Barbie.



Waktu gue semakin sempit. Masih banyak pekerjaan yang harus gue kerjakan sebelum jam 2 tiba. Gue enggan untuk berpisah dengan Dominika, tapi juga nggak mau dinilai nggak profesional. Dengan berat hati gue berpamitan dengan Dominika. Sebisa mungkin memberinya pengertian bahwa kelas gue bukan lagi di sini. Gue berkata padanya bahwa ia bisa tinggal untuk bermain tapi nggak bersama gue. Miss. Rifa nggak keberatan Dominika bermain di kelasnya selama ia nggak menggangu pekerjaannya. 
"Miss Indi kerja dulu, ya. Dominika sama Miss. Rifa di sini, okay?"
Dominika diam saja, wajahnya tampak kebingungan.
"Atau mau main di playground? Kalau mau Miss. Indi antar sekarang."
"Mau di kelas Indi saja."
Ah, hati gue mencelos, ternyata ia masih juga belum mengerti bahwa kelas gue bukan lagi di sini.

"Dominika mau di kelas Indi atau di playground?" gue lalu mengikuti istilah Dominika dalam menyebut kelas ini: Kelas Indi.
"Di kelas Indi."
"Ya sudah, kalau mau di kelas Indi sama Miss. Rifa, ya."
Dominika nggak berani menatap gue. Kata-katanya masih sangat terbatas tapi gue bisa melihat bahwa ia bersedih. Sepertinya ia mulai mengerti dengan maksud gue. Langsung saja gue memeluknya erat dan bertanya,
"Kangen ya sama Miss Indi?"
Dominika diam beberapa saat, lalu ia menjawab,
"Sayang Indi..."

Seketika wajah gue terasa panas. Gue bisa merasakan air mata mulai turun ke pipi. Sekali lagi gue memeluknya dan mencium pipinya. "Indi juga sayang Dominika."
Lalu bergegas meninggalkannya sebelum ia melihat gue menangis.

"Indi juga sayang Dominika..." :)


Ah, andai saja gue punya lebih banyak waktu, gue ingin sekali menghabiskan waktu sepanjang sore untuk bermain dengan Dominika. Dan seandainya ia tahu, meski banyak rekan-rekan bekerja yang melihat bahwa Dominika sangat mengagumi gue, tapi sebenarnya gue juga merasakan sebaliknya. Iya, Dominika yang berada di buku keempat gue (Conversation for Preschoolers) adalah Dominika yang sama dengan sahabat kecil ini. Ia menginspirasi gue :) 


(bukan) Miss Indi,

Indi



____________________________________________________________
Twitter: here | Facebook: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 07 Februari 2014

Me and My Me and My Me and My Me and My Friend :)

What I wore: Dress: Toko Kecil Indi (design by me) | Bag: Farrel | Shoes: Nevada

Yay, it's weekend already! How's your weekday, pals? Semoga semuanya berjalan dengan baik, ya. Gue sendiri masih berkutat dengan batuk dan pilek, tapi thank God semuanya berjalan baik, apalagi ditambah beberapa project baru yang bikin gue exited (lain kali akan gue ceritakan, ya, hihihi). Pekerjaan gue di preschool juga relatif lancar meskipun lebih mudah kelelahan karena sedang nggak fit, tapi gue tetap bisa menikmatinya dengan keadaan kesehatan gue dan dengan... suasana yang baru!




Mungkin teman-teman ada yang sudah tahu bahwa di bulan November lalu gue menjalani operasi pengangkatan tumor payudara. Sekarang gue sudah baik-baik saja, tapi selama masa cuti yang berlangsung 1 bulan terjadi beberapa perubahan di preschool. Murid-murid di sana bertambah, beberapa teacher dipindahkan untuk mengajar kelas yang baru, beberapa anak di kelas gue pun sudah pindah ke tingkat yang lebih tinggi. Dan ada 1 perubahan yang membuat gue terkejut: Gue dipindahkan ke kelas lain, kelas dengan anak-anak yang usianya lebih tua. Dan itu artinya gue berpisah dengan Miss. Rifa, partner bekerja yang selama ini banyak membantu gue. Dan terlebih dari itu kami bersahabat!

Ada perasaan nggak rela dan bersedih karena harus dipisahkan dengan Miss. Rifa, ketika meeting mata kami berdua berkaca-kaca karena menahan tangis. Well, gue nggak mau seperti anak kecil yang protes karena dipisahkan dari teman satu kelasnya, jadi gue bertekad untuk tetap profesional meski hati kecil gue berharap ini hanya sementara saja dan kami akan menjadi partner kembali... 

Gue dan Miss. Rifa punya kebiasaan-kebiasaan yang seolah sudah terjadwalkan meskipun sebenarnya terjadi begitu saja. Misalnya saat di kelas, jika ada salah satu dari kami yang lupa atau salah dalam mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, kami pasti akan 'meralatnya' dengan cara mengulang kata yang salah dengan kata yang benar sambil tersenyum seolah nggak ada apa-apa. Dan ketika sebelum makan siang Miss. Rifa pasti akan duduk di samping wastafel sambil mencuci tangan sementara gue berdiri di depannya, menyisir rambut atau menambahkan sedikit lip gloss. Kami bahkan punya percakapan yang selalu berulang ketika momen ini berlangsung,
Gue: "Perlu pakai lip gloss lagi nggak ya?"
Miss. Rifa: "Nggak perlu, cuma mau makan, siapa yang lihat?"
Gue: *tetap menambahkan lip gloss*
Miss. Rifa: "Setiap mau lunch kamu selalu punya pertanyaan sama, dan aku juga jawabannya nggak pernah berubah".
Lalu kami pun tertawa bersama :D


Kompakan pakai cheongsam :D

Bukan itu saja, saat waktunya makan siang pun gerakan kami seolah sudah diatur. Bisa dipastikan Miss. Rifa akan mengambil 2 buah kursi, satu untuknya dan satu untuk gue. Dan kami pasti akan duduk berdampingan, bahkan jika space di meja sudah habis dengan teman-teman kami yang lain, kami akan duduk di meja lain meskipun hanya berdua, hehehe. Di luar jam bekerja pun persabahatan kami nggak terhenti. Kami selalu saling mengingat jika sedang libur dan membawakan sesuatu untuk satu sama lain. Karena kelas kami berada di paling ujung, terkadang kami punya 'hadiah rahasia' yang diam-diam kami tinggalkan di loker. Beberapa kali kami saling meninggalkan oleh-oleh di sana dengan catatan: "Jangan bilang-bilang sama yang lain, ya", dan saling mengucapkan terima kasih tanpa ada teman-teman lain yang mengerti mengapa.

Ketika kami berpisah gue takut sekali kehilangan momen-momen itu. Sederhana, tapi menyenangkan dan membuat hari-hari bekerja jadi berwarna. Kelas kami sekarang jaraknya dari ujung ke ujung, begitu juga dengan jadwal kami karena kelas dengan anak-anak yang lebih besar pulang lebih siang. Kami juga sekarang sudah mempunyai partner yang berbeda. Sama-sama partner yang baik, tapi gue (tetap) merindukan Miss. Rifa.

Selfie, lol.

Dan ternyata perpisahan membuat kami menjadi semakin 'kreatif' dalam memanfaatkan waktu bersama. Tanpa sadar ternyata kami sudah menciptakan pattern baru dalam hubungan persahabatan kami. Setiap gue sudah keluar kelas, gue pasti akan ke kelas Miss. Rifa dan menyapanya sebelum melanjutkan pekerjaan kembali. Dan ketika sebelum waktunya makan siang, gue akan 'menjemput' Miss. Rifa dan selanjutnya hampir nggak ada yang berubah; percakapan berulang, duduk berdampingan bahkan selesai makan dalam waktu yang sama. Meski setelah itu kami ke kelas masing-masing tapi sebelum pulang kami akan bertemu dulu untuk berpamitan dan sedikit berbagi cerita tentang hari yang sudah kami lalui :)

Well, kami memang nggak mempunyai waktu selama sebelumnya, tapi kami coba untuk memanfaatkan waktu yang kami punya. Karena berpisah bukan berarti berhenti peduli, dan mempunyai teman baru bukan berarti melupakan teman lama. Gue juga ternyata masih menemukan 'hadiah rahasia' dari Miss. Rifa, 3 buah sekaligus! Sebuah pin Hello Kitty, lolipop dan jelly. Gue bertanya kenapa gue mendapatkan begitu banyak, dan jawaban Miss. Rifa membuat gue terharu. Katanya meskipun gue sedang cuti tapi ia tetap teringat gue ketika melihat benda-benda itu dan memutuskan untuk meninggalkannya di loker gue meskipun ia nggak tahu kapan gue akan kembali...

Sekarang gue nggak akan pernah ragu bahwa istilah "sahabat adalah selamanya" memang benar adanya.

blessed girl,

Indi

*judul post ini diambil dari slirik salah satu lagu Red Hot Chili Peppers
______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: Here | Contact person: 081322339469

Selasa, 04 Februari 2014

Mau Belanja Sambil Beramal? Ikutan Blogsale for Charity, yuk! :)



Teman-teman, beberapa waktu lalu gue dapat kabar dari salah satu teman blogger gue, namanya Karina. Dan kabarnya baik sekali! :D Karina dari blog http://www.kadinces.com/ mengadakan BLOGSALE FOR CHARITY. Yup, dari namanya saja sudah ketahuan bahwa dengan berbelanja di event ini kita juga sambil beramal :) 
Barang-barang yang dijual lucu-lucu, lho. Dari mulai dress, aksesoris sampai tas ada di sini. Contohnya saja kalung yang sedang gue pakai ini, manis sekali kan? :)

Selain membuat kita semakin stylish, dengan berbelanja disini juga kita telah menyumbang sebanyak 25% dari setiap item dibeli ke Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (www.ykaki.org).

Yuk, kita ikutan dalam event BLOGSALE FOR CHARITY ini, langsung saja klik di sini, pilih item yang kita suka dan senyum adik-adik yang sedang berjuang melawan kanker pun akan semakin lebar :))

smile,

Indi






***

Bonus pic:
Nggak sadar kalau gue duduk di depan foto masa kecil gue yang (juga) lagi pakai cheongsam, hahahaha :)



Happy new year, may good luck and good fortune always be with you! :)

My Puppy is 8 Years Old! OMG! :D