Indi's Friends

Rabu, 29 Februari 2012

Don't Say "I Hate You" :)


What I wore? hair bow: random | Cape: Toko Kecil Indi | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: Fillmore

Howdy again, Bloggies! Yes, it's me Indi. Blog ini nggak di-hack, kok, gue memang pengen buat post baru lebih cepat dari biasanya, hehehe :p
So, how's your day? Di sini hampir selalu hujan, langit cuma cerah dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang, selain itu pasti hujan disertai petir. Gue harap cuaca bisa segera ramah, karena keluarga dan teman-teman gue banyak yang kena flu. Meski kesehatan sudah dijaga sebaik mungkin, dalam cuaca seperti ini kan sulit juga... Getwell, getwell, getwell buat semua yang sedang sakit ya, dan keep it well buat yang sehat ;)

Seperti hari ini, it's rain rain rain (dinyanyikan seperti lagu Mika, lol) dan gue harus pergi ke kampus dengan menggunakan taksi karena mobil lagi dipakai Ibu ke luar kota. Tas gue lebih berat dari bulan kemarin karena selain membawa buku dan bekal makan siang, gue juga membawa jaket dan payung. Perjalan yang gue tempuh cukup lama, hampir satu jam karena kampus gue berada di daerah padat. (Well, sebenarnya gue lebih suka menyebutnya TK karena gue sedang mengikuti pendidikan sebagai guru TK di sana. Kalau kuliah gue sih sudah lulus sejak tahun 2010 lalu, hehehe). Syukurlah ketika sampai hujan sudah sedikit reda jadi gue nggak perlu repot membongkar tas.

Gue datang terlambat, teman-teman gue sudah mulai makan siang dan beberapa ada yang izin sembahyang. Gue langsung bergabung dengan teman-teman yang sedang makan dan membuka kotak makan gue sendiri (of course! :p ). It's my favorite moment, karena meski kami berasal dari tempat berbeda dan dengan kepercayaan berbeda pula, kami tetap dekat dan nggak segan untuk berbagi cerita. Malah, nggak jarang kami memanfaatkan waktu makan siang yang cuma sebentar ini untuk janjian outfit apa yang akan kami pakai besok, hihihi. Maklum lah, para calon guru TK ini meski banyak yang sudah menikah tapi usianya masih dibawah 30 tahun semua :D
Tiba-tiba, Cice, salah satu teman yang berasal dari Bali membuka percakapan. Ia bercerita tentang beberapa senior yang bersikap 'berbeda' pada kami. Iya, soal mereka sebenarnya gue juga merasakan (paling merasakan malah), tapi gue nggak menyangka bahwa situasinya semakin 'membesar'.




Let me share you the story from beginning...
Suatu hari, kelas kami disatukan dengan kelas senior karena beberapa dari mereka belum mengikuti salah satu mata pelajaran. Karena mereka datang belakangan, kami langsung pindah ke bangku yang lebih belakang supaya mereka bisa duduk tanpa harus melewati yang lain. Awalnya sih semua baik, sampai gue dipanggil dosen ke depan kelas untuk bernyanyi. Karena posisi gue terhalang oleh salah seorang senior perempuan, gue langsung bilang, "permisi" sambil tersenyum dan melewatinya. Gue nggak sempat melihat ekspresi wajahnya, tapi yang jelas ketika gue bernyanyi di depan, cuma ia yang nggak tersenyum dan malah menatap gue heran. Gue nggak ambil pusing dan setelah selesai bernyanyi langsung kembali ke tempat gue duduk dengan manuver yang sama: bilang "permisi" dan terseyum. Lalu gue pun sadar sesuatu, ekspresinya waktu melihat gue bernyanyi bukan kebetulan, ia memang 'begitu' setiap melihat gue.
Puspa, salah seorang teman gue langsung heran melihat tingkah senior kami. Spontan ia bertanya sambil berbisik, "Indi, dia kenapa? Waktu kamu lengah dia lihatin kamu dari atas sampai bawah".
Eh, really? Gue bahkan nggak memperhatikan.

Cerita tentang mbak senior itu lambat laun menyebar di kelas gue, dan ternyata mereka setuju bahwa mbak senior itu memang selalu 'berbeda' setiap kali melihat gue. Malah suatu kali mbak senior itu terang-terangan cengengesan sambil melintas di depan kelas kami (and, yes, she's pointing at ME). Kami langsung setuju bahwa ia punya masalah. Masalah apa, entahlah, yang jelas kami yakin bahwa ia ada masalah.
Lalu cerita datang dari Dila, ia yang termuda di kelas kami (19 tahun). Katanya ia dilihatin secara 'berlebihan' oleh senior yang sama dengan yang cengengesan ke gue. Well, kami coba berpikir positif. Gue bilang sama teman-teman yang lain bahwa mungkin saja Mbak senior itu memang punya tatapan yang seperti itu, toh karakter orang kan berbeda-beda. Apalagi ternyata bukan cuma menimpa gue, tapi juga Dila. So, bukan nggak mungkin kan kalau ia memang begitu sama semua orang?

Tapi lama-kelamaan beberapa dari kami kesal juga dengan tingkahnya, apalagi ia mulai 'mengajak' teman-temannya untuk seperti itu pada kami (baca: tertawa berlebihan dan menatap sinis waktu melintas). Di dunia per-bully-an masa SMA ada prinsip dasar: jangan terlihat mencolok kalau nggak mau ditegur senior. Gue nggak tahu kalau di dunia dewasa juga ternyata masih berlaku, tapi tetap kami instrospeksi diri, melihat penampilan kami siapa tahu ada yang salah. Blazer, dress, kitten heels dan rambut rapi. Standar guru. Bahkan tertulis di modul "Etika Profesi Guru". Jadi apa yang salah? Kami mengikuti standar dan perilaku kami juga baik. Kami bahkan nggak pernah membalas perlakuan mereka dan sepakat membalasnya dengan senyum meski kesal.
(Oh, FYI, 'mereka' bukan berarti semua senior, ada juga kok yang ramah pada kami :) ).



Begitu. Itulah awal yang menjadi percakapan kami ketika makan siang hari ini. Gue terus mendengarkan Cice sambil menikmati pasta dingin yang sebenarnya sudah dihangatkan waktu di rumah. Lalu Cice tiba-tiba berhenti dan berkata dengan setengah berbisik, "Kalian tahu kenapa mereka 'begitu' sama kita? Ibu kepala sudah cerita semuanya sama aku. Beberapa senior mengganggap kelas kita terlalu perfect karena semuanya berusia muda dan selalu terlihat ceria".
Gue langsung berhenti makan, nggak percaya dengan apa yang gue dengar. Alasannya terdengar sepele dan... dan nggak seharusnya menjadi masalah. Meski kalau gue berada di posisi mbak senior mungkin gue juga akan sedikit nggak nyaman karena perbedaan usia di kelas mereka relatif lebih jauh daripada di kelas kami. Tapi kalau sampai bersikap negatif, gue rasa itu nggak pantas. Cice juga menambahkan bahwa kekesalan beberapa senior bertambah karena mereka nggak diizinkan berlibur, sedangkan di angkatan kami Ibu Kepala sudah merencanakan acara liburan. Oh, ayolah...

"Tapi ada lho yang mbak senior paling sebel", Cice melanjutkan. "Apa?" sahut gue dan beberapa teman lain. Cice kembali berbisik sambil menyebutkan sebuah nama. Katanya mbak senior iri karena di kelas ini ada yang cantik dan disukai. Katanya kalau ada perlombaan kelas kami pasti lebih mudah menang dari pada kelasnya dulu. Gue mendengarkan Cice dengan wajah yang terasa panas... nggak bisa berkata-kata karena tahukah siapa yang dimaksud Cice? Gue. Iya, gue, Indi...
Perasaan gue terasa campur-aduk. Ada perasaan sedikit kesal karena perlakuannya yang berbeda ternyata karena hal sepele. Tapi sisanya gue merasa menyesal. Menyesal karena nggak sempat berkenalan dengan 'layak' sehingga ia menjadi salah menilai gue.

Gue pikir seandainya saja gue dan Mbak senior punya waktu untuk berkenalan, ini semua nggak akan terjadi. Ia pasti akan sadar kalau nggak ada sedikitpun dari diri gue yang patut ia cemburui apalagi sampai merasa terancam. Situasinya pasti akan berbeda jika ia sedikit tahu tentang gue. Tahukah ia bahwa gue suka sekali berteman? Tahukah ia bahwa dulu gue pernah di-bully karena fisik gue dan itu bukan karena gue cantik tapi karena gue berkacamata tebal dan berpenyangga tulang belakang? Tahukah ia bahwa gue sama sekali nggak memiliki prasangka buruk tentangnya? Dan tahukah ia bahwa gue dengan senang hati mengetahui banyak hal lain darinya jika kami berteman?

Bukan cuma gue, teman-teman yang lain juga terkejut dengan apa yang dikatakan Cice. Kami dekat satu sama lain, dan topik 'iri pada gue' sama dengan menunggu headline babi bisa terbang, alias itu nggak mungkin! Mereka mengenal gue nggak cuma luarnya, tapi juga tahu hal-hal konyol tentang gue. Akankah Mbak senior iri dengan perempuan yang makannya paling lambat di kelas, dengan perempuan yang nggak bisa membuat bagan dengan menggunakan komputer dan dengan perempuan yang salah menyanyikan lagu Bingo sampai dua kali? Gue rasa nggak :) Mbak senior itu cuma nggak tahu, ia nggak perlu kami benci apalagi sampai dibalas. Dan gue percaya jika suatu hari ada kesempatan kami berkenalan, ia akan tahu bahwa gue sama sekali nggak 'mengancam'... dan ia akan tahu bahwa setiap kali gue tersenyum, gue benar-benar tulus... :)
 
Kami teruskan makan siang kami, di sela-selanya gue  masih bisa mendengar kata-kata seperti, "Ya sudah, cuekin saja nanti" atau, "Biarkan saja, jangan anggap serius". Gue yakin tanpa harus terucap kata sepakat pun kami sudah cukup dewasa untuk menghadapi Mbak senior besok. Kami cuma harus tersenyum. Dan jangan pernah membenci.



"Sugar... orang itu seperti apel. Kalau dikupas terus kamu makan buahnya, kamu kamu tidak akan pernah tahu apel warna apa yang sedang kamu makan. Rasanya sama, kan?"
(Kata Mika tentang prasangka. Diambil dari novel "Waktu Aku sama Mika").


apple cheeks smile,

Indi


hit me up here
my shop here
sponsorship here

Senin, 27 Februari 2012

My New 'Old' Cell Phone :))


Heyho, bloggies! It's Monday morning already! :D
Apa kabar? Mine good, hope you too :) Di hari sabtu dan minggu rumah keluarga gue kedatangan Silmi, sepupu perempuan gue. Dia adalah salah satu sepupu yang paling dekat (selain Gina) karena jarak usia kami yang nggak terpaut jauh. Seperti biasa, selalu ada super crazy sleep-over, girly chit-chat dan banyak soda (kami hampir menghabiskan 1 botol besar, hehehe). Syukurlah di malam hari kami nggak ngompol meskipun harus sering bolak-balik kamar mandi :p (percaya deh, kebanyakan soda nggak akan pernah bagus!).

It's always great to spend my time with her, apalagi karena di keluarga inti gue nggak punya saudara perempuan. Jadi Silmi seperti adik kecil untuk gue. Kami bicara banyak hal dan ada satu hal yang menarik. Gue dan Silmi ternyata punya 'konsep' yang sama tentang rasa bahagia. Kami bisa bahagia karena hal kecil, dan untuk tertawa cukup mengingat kejadian-kejadian menyenangkan yang sudah lalu dan patut dikenang. We don't need something big or 'wow' just to feel happy. Kebahagiaan kan datangnya dari dalam :)
Lalu kami melihat handphone masing-masing. Punya gue adalah sebuah Blackberry tipe slide yang sampai hari ini nggak terlintas sedikitpun keinginan untuk gue ganti dan sebuah Samsung CDMA tipe flip yang... yang penting masih ada suaranya, hehehe :) Sedangkan punya Silmi adalah sebuah Blackberry tipe lama yang sekarang sudah nggak diproduksi. Track ball-nya rusak dan keypad-nya juga sudah kelewat sensitif.

Nah, bisa tebak apa hubungannya dengan kebahagiaan? Kami berdua sangat-sangat nyaman dengan apa milik kami. Selama masih bisa dipakai yang pakai saja dulu, apalagi ada nilai historisnya :) Silmi bercerita bahwa Blackberry-nya itu didapat bertahun lalu, ketika dia naik kelas. Bapaknya berjanji membelikannya HP baru untuk menggantikan HP lamanya yang sudah keluar suara aneh (gue pernah pinjam dulu dan selalu takut handphone itu tiba-tiba meledak, hehehe). Dan dapatlah Silmi sebuah Blackberry yang nggak dia pilih, nggak dia pinta. Dia hanya menerima dan bersyukur. Sekarang ketika Blackberry-nya sudah nggak sebagus dulu pun dia masih nyaman memakainnya. Alasannya karena dia bahagia dengan HP itu.

"Aku ditanya sih sama Teh Gina, katanya 'Kok bisa ya tahan sama HP butut?'. Aku jawab saja, kan masih bisa dipakai dan didandani. Ditambahi casing karet warna-warni saja sudah makin bagus HP-nya".

Ain't she's so wise? :) Pernyataan sederhananya membuat gue tersenyum dan mendadak punya ide... let's pimp our cell phone's! Silmi setuju, tapi sayangnya casing karetnya tertinggal di rumahnya dan bahan-bahan untuk mendekor handphone di kamar gue cuma ada sedikit :( Akhirnya diputuskan untuk mendekor HP Samsung gue. Apalagi gue sangat ingin punya HP dengan warna girly (HP gue warnanya hitam, sniff...), jadi kenapa nggak 'buat sendiri' saja?! :D

Hmm, gimana kalau gue tunjukin step by step-nya? Ya, anggap saja ini post tutorial pertama gue, hihihi. Ini juga pertama kalinya gue mendekor HP, lho, soalnya gue bukan orang yang handy. Tapi kalau nggak belajar nggak akan bisa-bisa, dong? Jadi, inilah my very first DIY project (yang disaksikan Silmi). Enjoy! :D


Things I need:
1. Decoden Sticker
Atau biasa disebut stiker dekor. Gue beli ini sekitar 2 tahun lalu seharga sekitar rp. 15.000 per lembar. Stiker ini cukup lengket dan perlu 'usaha' untuk melepaskannya kembali.

 



2. Hard Case
Sebenarnya bisa saja sih langsung mendekor di casing asli HP-nya. Tapi karena beresiko merusak tesktur casing, saran gue sih mending sediakan hard case atau karet pelindung. Apalagi bisa menambah tingkat ke'panglingan' HP kita, lho, soalnya warnanya bisa dipilih sesuai selera kita :p



3. Charms
Gantungan HP, boneka, apapun. Behubung gue suka sekali dengan girly things, jadi gue pilih boneka beruang yang besar-besar. Tingginya sama dengan HP :D



4. Gunting, lap lembut dan lem plastik.



 Before



Ini tampilan HP gue sebelum didekor. Maskulin banget, ya? Hehehe...



Step by Step

1. Lap HP dengan lap lembut (bisa dari bahan kaos, lap kacamata atau lap khusus HP), pastikan nggak ada fingers print dan kotoran di sana karena nantinya akan tertutup oleh hard case/karet pelindung.



2. Pasangkan hard case di HP.



3. Bayangkan bentuk apa yang akan dibuat. Punya gue bentuk 'hati', jadi gue gunting decoden sticker-nya dengan bentuk rangka hati (bagian dalam dibiarkan kosong). Dilanjutkan dengan menggunting bentuk-bentuk lain untuk 'isinya'. Gue buat 2 buah bunga dan potongan-potongan random. Simple, masih belajar ;)

4. Pas kan stiker di atas hard case, jangan dulu tempel sebelum yakin karena akan meninggalkan bekas. Terkadang stiker nggak mau menempel dengan baik karena bahan hard case yang terlalu licin. Lem plastik sangat membantu :)


5. Setelah semuanya pas, pasangkan charm sesuai selera. Dan taaaa-daaaaa, HP 'baru' pun siap dipakai :D
 



What do you think, guys? Gue rasa nggak terlalu buruk bagi pemula, hehehe... Dan betul lho kata Silmi, setiap kali habis mendekor HP hati pasti ikut bahagia, nggak perlu HP baru. Silmi berencana untuk medekor HP-nya bulan depan, setelah dia menerima uang jajannya. Wah, gue jadi nggak sabar mau lihat seperti apa :D
So, bagaimana dengan kalian? Apa kalian suka mendekor HP? Atau menggunakannya dengan tampilan original? Atau malah sama seperti kami---mendekor HP membuat bahagia---? Share me, dan selamat berhari senin ;)







ringring,

INDI


hit me up here, visit my shop here, contact me for sponsorship here

Selasa, 21 Februari 2012

Tuhan Ingin Kita Bahagia :)



What I Wore? Flower Crown: my DIY | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: Random from Giovanni


Howdy, bloggies! It's me Indi. Iya, Indi yang punya blog ini... Siapa tahu lupa karena gue kelamaan nggak menulis, hihihi... So how's your February going? Semua baik? Hope so :)

Belakangan ini gue mengalami 'kemunduran'. Bukan, bukan gara-gara fungsi otak gue menurun, tapi karena gue sendiri yang buat. Well, lebih baik gue ceritakan dari awal...
Sejak pertengahan bulan Januari gue mengalami fase yang sebelumnya pernah gue alami di masa SMA. Gue nggak menyangka fase ini bisa datang lagi, soalnya gue pikir, gue rasa, gue yakin mental gue sudah dewasa alias tahan terhadap perubahan. Tapi ternyata gue salah...

Suatu subuh, saat gue sedang asyik mengetik naskah novel gue mendengar suara Marco, burung nuri betina keluarga gue yang sudah sangat tua. Suaranya seperti tercekik dan tertahan. Awalnya gue pikir itu normal sampai Eris, si anjing golden retriever mengintip ke jendela ruang tamu, menatap gue dengan tatapan nggak biasa. Gue suruh dia tenang dan kembali tidur berkali-kali, tapi dia tetap di posisi 'waspada-menatap tuannya'. Akhirnya gue putuskan untuk memeriksa halaman rumah, mengintip dari pintu ruang tamu... dan... gue melihat seseorang di sana. Dia langsung melompati pagar begitu gue memukul pintu untuk mengejutkannya dan berteriak memanggil Bapak. Sayang semuanya terlambat. Orang itu sudah kabur menggunakan motor dengan membawa Marco--- salah satu anggota keluarga kesayangan yang telah tinggal bersama orang tua gue selama 30 tahun...
Hati gue langsung hancur. Merasa bersalah dan berharap bisa memutar waktu...

Gue nggak menangis, tapi berusaha sebisanya untuk mengembalikan Marco. Pagi-pagi sekali gue minta Bapak untuk minta tolong Mang Ikin, tukang bangunan langganan kami untuk memeriksa pasar burung dengan menyamar sebagai pembeli. Sayangnya hasilnya nihil, penjual di sana hanya menunjukkan 2 ekor burung nuri yang masih muda. Bukan Marco yang warna bulunya sudah memutih....
Tapi gue nggak menyerah, beberapa jam kemudian gue meminta bantuan A Iwan, saudara Bapak untuk berpura-pura menjadi pembeli di tempat yang sama. Lagi-lagi hasilnya nihil. Hanya ada 2 ekor burung nuri muda tanpa plakat (peneng). Iya, Marco memang kami beli lengkap dengan surat-suratnya, bukan burung ilegal dan hanya orang-orang tertentu saja yang diizinkan merawatnya karena nuri termasuk jenis burung yang dilindungi.
Gue hampir putus asa. Untuk mencari sendiri itu nggak mungkin karena seperti kebanyakan sindikat pencurian hewan, penculik Marco pasti sudah mengincar rumah kami sejak lama. Sudah tahu siapa saja yang tinggal dan mempelajari kapan saja waktu penghuni rumah kami 'lengah'.
Atas saran Kakek dan Nenek (yes, everybody's love Marco) gue menemui beberapa tetangga kami diam-diam dan meminta mereka memberi tahu jika mendengar suara Marco. Meski plakat sudah dilepas tapi gue yakin suara Marco begitu khas sehingga dia tetap bisa dikenali.





Gue, kami, menunggu... menunggu dan menunggu... Berharap kabar sekecil apapun membawa kami pada Marco, burung nuri tua menyenangkan dan sudah ada bahkan sebelum gue lahir. Lalu gue mulai nggak sabar. Gue takut Marco sudah keburu jauh, sudah berpindah tangan, karena gue yakin bahwa burung nuri hanya diperjual belikan jika ada yang memesan. Harganya mahal... Tapi keluarga gue bukan sayang karena harganya. Marco sudah seperti saudara gue sendiri, sering gue ajak ngobrol bahkan diizinkan untuk mengambil jatah camilan gue. Marco itu anggota keluarga!
Jadi gue pun mengajak Bapak untuk berjalan-jalan, berharap mendengar suara Marco di salah satu rumah yang kami lalui. Kami terus berjalan sampai kompleks lain, sampai daerah perkampungan, sampai.... kami lelah.... Hari pun berganti dan gue masih nggak menyerah. Selebaran disebar, dijanjikan imbalan dan Pak RW dilibatkan untuk mencari Marco.

Satu minggu berlalu, Ibu dan Bapak bilang kami harus pasrah. Meminta sama Tuhan sudah, berusaha sudah, tinggal tunggu saja jawaban Tuhan. Bisa ya, bisa nggak...
Gue menurut, berusaha menenangkan hati. Ibu dan Bapak juga meski gue sempat melihat Ibu menangis dan Bapak sering lupa Marco sudah nggak ada. Beliau masih suka menyiapkan susu manis kesukaan Marco...
Berlebihan? Entah. Yang pasti 30 tahun bukan waktu yang sebentar. Kami sudah begitu terikat dan sejak beberapa tahun lalu Ibu dan Bapak punya impian: seandainya Marco pergi, biarlah Marco pergi dengan tenang di sini, di rumah dengan keluarga yang mencintainya...



Dan fase itu pun muncul kembali. Fase penyangkalan. Fase 'make believe' yang sesungguhnya menyakitkan... Terakhir gue mengalaminya adalah waktu gue hampir lulus SMA. Mika, pacar gue saat itu sedang sakit. Dia memang mengidap AIDS sejak lama tapi waktu kesehatannya memburuk gue nggak siap. Mika berkali-kali memberitahu gue kalau dia harus pergi. Tapi gue nggak terima. Gue menyangkal dan marah setiap kali dia mengatakan itu. Sampai akhirnya sebisa mungkin gue menganggap Mika nggak ada. Berhenti menulis untuknya (iya, gue memang suka memberinya catatan-catatan kecil meskipun bertemu hampir setiap hari) dan berpura-pura nggak melihat spot tempat dia menunggu gue sepulang sekolah.
Begitu juga yang gue lakukan pada Marco. Sebisa mungkin gue nggak melihat kandangnya, menghindari rak susu kental manis ketika berbelanja dan menghindari percakapan tentangnya.
Gue takut... sangat ketakutan untuk mengingat Marco meski sebenarnya kenangan tentangnya nggak kemana-mana. Gue cuma menghindarinya dengan harapan gue nggak menangis dan bisa berkata bahwa "gue baik-baik saja"....

Tapi nyatanya gue nggak baik-baik saja. Seperti yang gue bilang, Marco tetap ada di pikiran gue, gue cuma menghindarinya saja. Diary gue kosong melompong. Bahkan sama buku harian pun gue nggak berani cerita. Gue takut menangis ketika menulis, gue takut menangis jika suatu hari membaca ulang tulisan gue...



Syukurlah pada akhirnya gue mendapatkan cahaya terang. Setelah hampir 1 bulan gue menghindar untuk bercerita (dan itu berpengaruh pada kegiatan gue sehari-hari) gue mengerti bahwa Tuhan sebenarnya ingin membantu gue, bukan menyakiti, sama sekali bukan. Tuhan mengingatkan bahwa gue punya banyak hal lain untuk disyukuri, diberi senyum dan layak untuk dirayakan. Gue coba mengingat-ingat hal baik apa saja yang terjadi ketika Marco pergi. Seorang sahabat menikah, dua orang lainnya akan memiliki bayi, Ray memberikan kencan kejutan, Ibu meminjamkan sepatu kerennya pada gue, Bapak mentraktir gue nasi goreng, Eris semakin cerdas dan.... ya Tuhan... banyak sekali, gue sampai sulit mengingatnya...
Tuhan sangat baik. Tuhan sangat sangat sangat baik, Tuhan maha baik.Tuhan ingin gue ingat bahwa ketika sangat sedih pun gue nggak boleh lupa untuk berbahagia :)





Gue tahu setelah ini gue pasti mengalami kesedihan-kesedihan lainnya. Tapi gue juga tahu bahwa hidup bukan sekedar hitam dan putih, masih ada warna-warna lainnya. Sedih juga bukan menjadi sekedar sedih ketika gue mengingat ada hal-hal baik yang bisa terjadi bersamaan, sekecil apapun itu. Kesedihan akan terjadi lagi, begitu juga kebahagiaan. Terus. Sampai akhir hidup gue. Jadi seharusnya gue nggak perlu khawatir dan terus-terusan berpusat di satu perasaan gue. Sekali lagi, Tuhan itu sangat baik. Setiap kesedihan pasti ada maksud dan kebahagiaan nggak akan pernah berhenti untuk diberikan :)
Dan kebahagiaan selalu memberikan dampak positif. Jika sedang bersedih dan merasa nggak ada hal yang membahagiakan, maka berpikirlah bahagia. Think happy, maka kamu akan berpikir positif. Well, seengaknya itu yang terjadi dengan gue. Setiap memikirkan Marco gue akan mengingat betapa manjanya dia dulu. Betapa cerdasnya dan betapa khasnya dengkurannya. Gue masih ingat bunyinya, "krrruurrrrr, krrrrruuuurrr", begitu, setiap kali gue menggaruk lehernya. Gue percaya Marco ada di tempat yang baik sekarang. Burung nuri manis kami pasti sedang bahagia bersama pemiliknya sekarang, diberi susu manis sehari dua kali dan disuapi biskuit madu. Jika dia (siapapun pemilik Marco sekarang) mampu mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membeli Marco, gue percaya dia pasti bisa memberikan Marco makanan-makanan yang enak :))

Gue dan keluarga merindukan Marco. Mungkin dia juga merindukan kami---dimana pun dia berada sekarang. Semuanya Milik Tuhan, Ia sudah mengatur skenario yang tepat untuk umatnya. Tepat artinya baik dan baik sangat dekat dengan kebahagiaan :)

Jadi, Marco, selamat bersenang-senang di tempat barumu. Kami merindukanmu, tapi sambil tersenyum bukan menangis :))




chirp chirp birdy smile,















Indi



_____________________________________________________

blablame:
* Foto-foto ini diambil Bapak tanpa rencana sepulang gue dari TK (iya, gue calon guru :)) Beliau mengajak gue minum kopi dan gue menyediakan egg roll untuk camilan.
* Beberapa waktu lalu gue dapat freebies dari Viva kosmetik. Isinya macam-macam, ada lipstik, alas bedak, penghapus make up, eye shadow, lotion, bedak dan buku tips. Nggak nyangka gue jatuh cinta sama alas bedaknya, soalnya warnanya natural :D


* Profil dan foto-foto gue akan ada di majalah Chic edisi 109 :)
* Novel-novel gue kembali cetak ulang. Waktu Aku sama Mika memasuki cetakan ke 9 dan Karena Cinta itu Sempurna memasuki cetakan ke 5. Keduanya akan ada di rak toko buku akhir bulan ini. Senang! :)
* Dibuatkan artwork oleh blogger bernama Mamon. Judulnya 'Waktu Indi sama Mika'. Sweet, beautiful... Lihat disini :)




______________________________________________________
Contact Me? HERE. Sponshorship? HERE. My Shop? HERE.



this post dedicate to Mika, my AIDS fighter, Veggie and Marco my best friend, my family...

Jumat, 10 Februari 2012

Surat-surat Manis untuk Indi :)

Halo bloggies, ini adalah post dini hari, hihihi...
Semalam gue tidur terlalu cepat dan terbangun di tengah malam, sampai sekarang susah untuk memejamkan mata lagi. Daripada bengong dan malah membuang-buang waktu, gue putuskan untuk membuka komputer tua gue dan, ta-daaaa.... ada beberapa surat masuk dari teman-teman pembaca!
Ah, gue suka sekali surat, jadi sekarang gue akan membalas beberapa diantaranya. Enjoy! :)




Q: "Kak Indi, aku adalah gadis yang usianya 17 Tahun. Hehe sudah besar ya, Kak dan harusnya aku bisa bersikap dewasa ya, Kak? Tapi masih ada saja kebingungan disini, Kak...

Kak, yang pertama aku selalu bingung bagaimana aku dapat menulis, karena jujur saja aku hanya suka menulis dan kadang aku hanya menulis yang keluar dari hatiku saja. Dan tahukah Kakak, aku kadang heran dengan mereka yang dapat menulis dengan mudahnya. Kak Indi, tolong di jawab ya, Kak, bagaimana (waktu Kakak (?)) umur 17 tahun dan bagaimana (cara) menulis? Makasih ya, Kak Indi . Suatu saat Dewi pasti bisa menulis dan tidak bingung lagi hingga Dewi mengatakan,

'Kak Indi...
Aku bisa menulis dan bisa semuanya'. "

(Dewi, dari post-nya yang berjudul Aku Bisa Menulis, Kak Indi).


A: "Halo, Dewi! Sebelumnya, selamat ulang tahun ke 17 ya. Ini adalah tahun yang istimewa, sama istimewanya seperti tahun-tahun sebelumnya ketika kamu terus bertumbuh dan selalu diberikan banyak cinta dari Tuhan :)

Dewi sayang, did you realize something, waktu aku membaca suratmu aku menikmatinya. Kamu tahu kenapa? Karena kamu menulisnya dengan baik! Aku rasa nggak ada yang perlu kamu bingungkan. Jangan pikirkan apa yang mau kamu tulis, tapi ikutilah keinginanmu. Mau menulis tentang kata hatimu?Tulislah, lalu baca ulang dan pastikan kamu sendiri nyaman membacanya. Jangan takut mengulang dan jangan terpaku dengan sebuah tema. You're young and had a colorful life. Tulis apa saja dan nikmatilah.

Aku nggak bisa memberitahumu bagaimana caranya menulis (karena kamu sudah bisa menulis dengan baik), tapi aku bisa memberitahumu bagaimana aku ketika berusia 17 tahun. Aku merasa sudah dewasa dan tahu segalanya, tapi aku salah karena saat aku bertambah tua begitu juga orang tuaku, mereka 'bertumbuh' bersamaku. Seharusnya aku mendengarkan mereka lebih banyak, karena seorang anak selalu butuh bimbingan dari orang tua, sampai kapanpun itu.

Jadi Dewi, jangan berhenti menulis dan ini adalah waktu yang tepat untuk bilang, 'Kak Indi, aku bisa menulis dan bisa semuanya', karena kamu memang bisa!".


Q: "Hallo Kak, met pagi. Tapi klo e-mailku dibukanya malam ya met malam juga.
Namaku Maysandi, aku penggemar novel kakak. Aku suka novel kakak, itu ingetin aku akan arti dari kasih sayang dan semangat. Hari ini aku sudah selesai baca novel "Karena Cinta itu Sempurna". Ceritanya bagus tapi maaf aku belum bisa baca novel Kakak yang "Waktu Aku sama Mika". Tapi suatu hari aku janji baca kok.

Kakak suatu hari aku pengen punya Kakak kayak Kak Sindi (Sugar), hehehe. Bisa punya novel dan punya penggemar.
Tetap berkarya, ya Kak and semangat.

(Maysandi, melalui email)


A: "Hai Maysandi, selamat pagi :)
Terima kasih ya sudah membaca novelku, syukurlah kalau kamu menyukainya. Kamu mungkin nggak bisa punya kakak, tapi kamu selalu bisa untuk memulai menulis dan menerbitkan novel.
Oya, kamu lucu sekali panggil aku 'Sindi' karena sudah lama sekali nggak ada yang panggil aku begitu, hahaha. Kabari aku ya, aku pasti senang kalau suatu hari membaca karyamu".


Q: "Hai Indi, apa kabar? Aku Khikhy. Aku suka banget sama novel buatanmu yang "Karena Cinta Itu Sempurna". Sukses terus ya buat Indi. Thanks :) Senang!
Oh iya, nanti kapan-kapan Indi buat novel lagi ya, soalnya aku suka banget sama semua cerita buatan Indi. Bye..."

(Khikhy, melalui email)


A: "Kabarku baik, bagaimana kabarmu, Khikhy? :) Terima kasih, ya, aku senang kalau kamu senang membacanya. Novel baruku judulnya "Guruku Berbulu dan Berekor", sekarang sedang pra-cetak. Doakan cepat terbit, ya, hehehe".

What I Wore? Hair Bow: Toko Kecil Indi | Summer Time dress: Toko Kecil Indi



Q: "Hai kak Indi. Namaku Conni. Baru saja memasuki sebuah universitas di Bandung pertengahan tahun lalu. Aku penderita skoliosis :)

Aku ingin bercerita sedikit, Kak, hehe. Aku sudah baca buku 'Waktu Aku sama Mika', dan beberapa bagian di dalamnya sukses membuat aku menangis. Karena mungkin aku juga mengalami hal yang sama, dalam hal skoliosis. Jadi aku bisa merasakan gimana rasanya dilarang dokter untuk ikut pelajaran olahraga di sekolah, brace yang menyakitkan, sampai merasa minder kalau sedang kumpul dengan orang-orang karena takut mereka akan melihat 'kekurangan'ku ini.
Aku juga punya seorang pacar. Sudah hampir 2 tahun kami berpacaran tapi aku tidak pernah memberitahunya tentang keadaanku. Mungkin aku terlalu takut apa respon yang akan diberikannya nanti. Tapi aku juga tidak tahu, apa sebenarnya dia sudah tahu tentang keadaanku ini atau belum.
Sampai akhirnya seorang temanku, memberikan sebuah buku, yaitu 'Waktu Aku sama Mika'. Melihat kata-kata yang ada dibelakang cover bukunya, aku langsung tersentuh untuk membaca. Dan memang, setelah aku baca, aku benar tersentuh dan terharu. Nggak tahu kenapa aku jadi suka banget sama buku 'Waktu Aku sama Mika'. Dan ada beberapa kata-kata di dalamnya yang membuat aku merenungkannya tentang keadaanku. Akhirnya setelah itu, aku memutuskan untuk memberanikan diri memberitahukan tentang keaadaanku ini pada pacarku. Dengan perasaan takut, setelah kukatakan semuanya, ternyata dengan lembut dia merespon baik. Bahkan ketika aku bertanya, "Nggak malu punya pacar yang punya kelainan tulang belakang kayak aku?", dia bilang, "Kenapa harus malu?". Pada saat itu aku baru merasa tenang setelah sekian lama seperti membohongi diri sendiri. Berkat cerita yang menyentuh, melihat keberanian kakak, aku bisa mengumpulkan keberanian seperti itu. Dan sampai sekarang kami melanjutkan hubungan kami dengan baik. Terima kasih ya, Kak jadi inspirasiku :)

Oh iya Kak, sampai sekarang aku masih bergumul dengan skoliosisku ini. Sudah beberapa terapi yang kujalani agar bisa sembuh walaupun aku tahu tidak bisa sembuh 100%. Tapi tidak tahu, apalagi saat ini menjalani statusku sebagai mahasiswi, penyakit ini hampir kulupakan. Tidak lagi pernah menjalani terapi. Mungkin aku menyerah dengan keadaanku. Sampai sekarang, saat berkumpul dengan teman-teman, aku masih merasa sangat minder. Punggungku hanya kututupi dengan rambutku yang panjang.

Pada halaman buku Waktu aku sama Mika, kakak menuliskan, "aku masih mencari terapi untuk skoliosisku". Aku penasaran dengan keadaan kakak sekarang. Yang aku lihat di blog, kakak sama sekali tidak terlihat seperti orang yang menderita skoliosis :) Bolehkah berbagi, Kak? Atau memberikan saran, karena aku hampir menyerah dengan keadaanku ini.

Maaf ya Kak, mungkin ceritanya terlalu panjang (atau malah curhat, hehe). Aku akan merasa senang sekali jika Kakak membalas emailku :)
Terima kasih, kak Indi :)

(Conni, melalui email)


A: "Hai Conni! Kamu tahu, aku senang-senang-senang sekali membaca emailmu :)
Bangga rasanya mengetahui kamu berani untuk berkata jujur pada pasanganmu, lebih dari itu kamu jujur sama diri kamu sendiri. Pacarmu benar, kenapa harus malu? Scoliosis itu 'hanya' tulang yang bengkok, hanya berbeda di fisik. Di dalamnya kamu tetap gadis yang mempunyai kesempatan sama dengan gadis-gadis manapun di dunia. Tentu saja itu termasuk kesempatan untuk mengikat rambutmu sesekali, lho ;)
Jangan terlalu sering tutupi punggungmu, jika ada yang melihat dan bertanya jawablah dengan baik karena dengan begitu kamu membantu menyebarkan info yang benar tentang scoliosis. Biarkan teman-temanmu tahu bahwa scoliosis bisa menimpa semua orang, termasuk mereka. Jika mereka mengetahui lebih dini itu bagus karena bisa menanggulangi secara dini, kan? :)
Tapi tentu saja itu hakmu untuk menutupi punggungmu sesekali. Aku juga terkadang begitu, tapi bukan karena malu, karena aku ingin orang menilai di luar fisikku :)

Wah, kamu harus melihatku langsung! Hahaha, punggungku masih bengkok (dan akan begitu sampai nanti), kemiringannya 55 derajat, sudah berat. Aku sekarang masih terapi dan mengikuti anjuran dokter untuk menjaga sikap, nggak mengangkat beban berat dan mengindari goncangan (lompat, lari). Tapi itu semua nggak membuatku menyerah dan aku harap kamu juga begitu. Percayalah bahwa Tuhan sudah menciptakan umatnya sesuai fungsi. Terima dirimu dan kembangkan potensimu, jangan berfokus dengan fisik. Aku tahu kamu bisa :)
Oh, iya, salam untuk temanmu dan pacarmu itu, ya".



Ah, senangnya bisa membaca dan membalas surat-surat ini :) Rasanya masih ingin membaca dan membalas lebih banyak, tapi nanti pagi gue sudah harus beraktifitas dan kalian tahu, tanggal 10 adalah ulang tahun Ibu jadi gue harus beristirahat sekarang.
Terima kasih banyak-banyak-banyak untuk teman-teman yang menyempatkan mengirimi gue email, pesan di Facebook, twitter ataupun fans page. Semuanya sangat berarti dan selalu membuat gue tersenyum :)))

Sampai bertemu lagi, bloggies!! :)


smile and giggle,

INDI
reach me here, here, here and here.
sponsorship? here :)
my shop? here :)

Rabu, 01 Februari 2012

Hal yang Disebut Pengalaman (plus review Vocus Aksesoris)


What I Wore? Headband: gift from friend | Necklace: Vocus | Bracelets: Vocus | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: Lidya Crocs


Howdy-do, my readers?! Ini sudah masuk bulan Februari, ya? Wah, padahal rasanya baru saja tahun baru. It's just me, atau kalian juga merasakan hal yang sama? :) Tapi terasa cepat atau lambat itu nggak penting, yang penting semua yang kita lakukan selama satu bulan ini bermanfaat. Iya, kan? ;)

Di awal tahun ini gue mencoba beberapa hal baru. Ada yang bikin gue deg-degan, tersenyum kecut sampai tertawa senang karena puas. Karena masih baru, gue jadi masih meraba-raba, mencari celah yang pas sampai gue bisa merasa nyaman, atau seenggaknya hampir nyaman. Gue anggap semuanya proses, kalau mau tahu rasanya ya jalani, kalau nggak enak ya tuntaskan dulu jangan setengah-setengah selama itu positif. Gue memulainya dengan cita-cita lama gue: bekerja dengan anak-anak. Sejak pertengahan Januari gue menjalani pendidikan sebagai guru TK, lamanya sekitar 6 bulan sampai gue benar-benar siap untuk menjadi guru "betulan". Awalnya memang sulit dan membutuhkan adaptasi tingkat tinggi karena selama ini gue terbiasa bekerja sendiri dan menjadi 'bos' untuk segala macam kegiatan yang gue lakukan sehari-hari. Tapi lama-kelamaan gue mulai bisa bekerja sama dan mengurangi kebiasaan gue yang 'nyelonong' sendiri. Setiap kali gue merasa nggak mampu atau jenuh, gue selalu ingat tujuan awal gue: gue ingin bekerja dengan anak-anak, dan hanya mencintai mereka tanpa ilmu nggak akan pernah menjadi modal yang cukup :)
Iya, gue keluar dari comfort zone demi sesuatu yang disebut pengalaman.




Vocus Aksesoris


Sebenarnya, pengalaman, tanpa kita sadari ada dimana-mana. Bahkan disaat kita gagal melakukan sesuatu dan merasa jadi yang paling bodoh pun kita sudah "mendapatkan" pengalaman, dan pengalaman itu adalah modal. Lima hari yang lalu gue dapat telepon dari Trans TV, gue ditawari untuk menjadi talent di sebuah reality show. Awalnya langsung gue sanggupi, tapi beberapa menit setelah telepon ditutup gue mulai 'terlalu banyak' berpikir. Gue merasa jarak Bandung-Jakarta akan jadi penghalang, gue juga merasa kesehatan gue nggak akan mendukung. Belum lagi harus izin dari pekerjaan gue, dan... bla, bla, bla, bla... gue bahkan berpikir sampai ke hal tersepele yang belum tentu terjadi.
Hampir saja gue batalkan kalau saja Bapak nggak mengingatkan. Beliau bilang gue terlalu banyak berpikir dan terlalu takut mengambil resiko. Kemungkinan gue gagal dipakai oleh Trans TV itu memang ada, tapi kemungkinan gue sukses juga sama besar. Jadi kenapa gue harus takut dengan sesuatu yang belum terjadi?

Dan gue pun akhirnya menempuh perjalanan 4 jam pulang pergi selama 2 hari tanpa tahu kapan keputusan shooting. Gue 'nggak' memikirkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk tol, makan dan lain sebagainya. Bapak bilang, sebelum gue memikirkan kerugian/pengorbanan apa yang harus ditempuh, gue harus memikirkan sisi positifnya dulu. Dengan gue dipanggil ke Trans TV saja artinya gue adalah satu yang terpilih dari sekian orang yang berbondong-bondong ingin jadi talent di sana tapi nggak/belum dihubungi. Bapak bilang itu prestasi dan gue seharusnya bangga :)
Lalu bagaimana kalau gue gagal? Ah, gue dan Bapak sepakat kalau semua usaha dan gue lakukan nggak akan pernah menjadi sia-sia. Melakukan perjalanan jauh bukan berarti waktu gue terbuang, waktu gue bermanfaat, tetap. Gue kan mendapatkan pengalaman :)





Katanya semua hal itu bisa menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Pernah mendengar pepatah tentang donat? Donat itu bulat dan rasanya enak, tapi orang yang pesimis hanya melihat lubangnya saja sementara orang yang optimis bisa merasakan manisnya. Begitu. Seandainya saja gue menolak datang ke Trans TV itu artinya gue hanya melihat lubang dari donat yang rasanya enak, gue nggak melihat apa-apa padahal disekitar gue ada taburan manis yang siap dijilat. Mungkin ada yang melihat bahwa gue hanya buang-buang uang pergi ke Jakarta tanpa kelanjutan yang jelas, seperti lubang di donat. Tapi gue dan Bapak melihat dari sudut pandang yang lain. Dengan gue ke sana, gue jadi tahu kantor Trans TV, jadi tahu bagaimana proses shooting, menambah teman dan banyaaaaak yang lainnya. Iya, gue menggigit banyak donat manis di sana! :D

Bahkan ada kejadian nggak terduga di sana yang nggak mungkin gue alami kalau saja memutuskan untuk batal pergi. Siapa sangka ada beberapa kru Trans TV yang mengenali gue sebagai novelis dan meminta untuk foto bersama? Haha! Rasanya sungguh menyenangkan meskipun sedikit canggung :D Benar-benar pengalaman yang berharga :)




Apapun itu, selama positif, cobalah meskipun terkadang tujuan utama yang kita harapkan nggak berhasil dengan baik. Pengalaman itu ada, nyata disetiap langkah yang kita lakukan sekecil apapun itu.
Masih ingat beberapa bulan lalu ketika gue mengumumkan menerima sponshorship di blog ini? Apakah langung berhasil? Nggak :) Tapi dari sandungan-sandungan kecil itu akhirnya gue bisa belajar dan menjadi lebih baik, bahkan sponsor yang masuk pun semakin banyak dan beragam :)
Kemarin malam, sepulang gue dari Jakarta, Ibu memberikan gue sebuah paket yang beliau terima sejak sore. Katanya paket itu untuk gue. Waktu gue baca pengirimnya, ternyata itu dari Vocus Aksesoris. Yaiy! Gue langsung nggak sabar buka pembungkusnya dan lihat apa saja yang ada di dalamnya. Ada 3 buah aksesoris, yaitu kalung bunga berwarna orens, gelang mutiara air tawar dan gelang mutiara berpita. Aaaah, they're so pretty!!


Kalung bunga orens: Rp. 40.000 | Gelang mutiara air tawar: Rp. 20. 000 | Gelang mutiara berpita: Rp. 12.000



Oh, ya Vocus ini aksesorisnya handmade dan terbatas lho, jadi harus buru-buru pesan kalau nggak mau kehabisan. Soalnya selain di Indonesia, Vocus juga ternyata pernah diminta untuk menjadi suvenir ke Jepang, Malaysia dan Thailand! Keren, kan? :)
Untuk lihat-lihat koleksinya kalian bisa buka facebook page-nya di sini atau hubungi langsung Dita, owner sekaligus desainer Vocus di sini ;)


Vocus Aksesoris
klik DISINI untuk melihat-lihat koleksi lengkapnya :)





Jadi begitulah, pengalaman bisa didapat dari manapun. Jangan lihat lubangnya, tapi lihatlah donat manis yang mengelilinginya. Gue nggak pernah takut salah selama niat gue memang baik dan sudah berusaha sebaik mungkin, karena gue percaya disetiap kesalahan ada pengalaman berharga yang terselip diantaranya. Dan kemarin, sepulang dari Trans TV, gue menerima tawaran untuk interview dan pemotretan dari majalah CHIC. Ini pertama kalinya gue pemotretan dengan fotografer dan diberi tema, bukan hanya foto pelengkap artikel seperti biasanya. Apa gue nervous? Iya, tapi nggak apa-apa, karena gue masih belajar dan ini pengalaman berharga! :)





"Mika, kenapa aku selalu buat kesalahan lebih banyak daripada orang lain? Aku bodoh, ya?"

"Sugar, kamu tahu nggak kumpulan kesalahan itu namanya apa? Itu namanya pengalaman. Kalau kamu sering kali buat kesalahan, itu berarti kamu punya jauh lebih banyak pengalaman daripada orang lain..."

(Mika, my AIDS fighter. Diambil dari "Waktu Aku sama Mika")

sugar smile,

Indi


ps: special thanks to Dita from Vocus Aksesoris. suka banget sama kalungnya! :D

_________________________________________________________________
Contact Me? HERE. My Shop? HERE. Sponsorship? HERE.

My Puppy is 8 Years Old! OMG! :D