Indi's Friends

Jumat, 22 Maret 2013

Event Mangrovement bersama Green Smile: Langkah Kecil untuk Sesuatu yang Besar :)

Halo bloggies! Apa kabar? Wah, it's been a while ya gue nggak mampir ke blog ini dan jalan-jalan ke blog teman-teman. Sebenarnya gue ingin sekali, kalau bisa malah setiap hari, hihihi, tapi keadaan sedang nggak memungkinkan karena belakangan ini kegiatan gue bertambah. Well, sebenarnya ada waktu sih sepulang bekerja, tapi karena kelelahan gue nggak terpikir hal lain selain tidur :D Dan malam ini, gue sedang duduk di depan meja komputer kamar ditemani segelas teh dan sudah berpiyama, akhirnya punya waktu untuk bercerita pengalaman yang gue alami beberapa waktu lalu :)

Teman-teman tahukah bahwa sejak pertengahan tahun 2012 lalu gue menjadi volunteer di Green Smile? Green Smile adalah perkumpulan pemuda yang peduli terhadap lingkungan hidup yang berdiri sejak awal tahun 2012 lalu. Gue sendiri menjadi volunteer untuk menulis artikel-artikel tentang lingkungan, sesuai dengan profesi gue sebagai seorang penulis :D Meski gue peduli terhadap isu-isu tersebut tapi pengetahuan gue masih sangat sedikit. Melalui teman-teman lain di Green Smile lah gue banyak belajar hal baru. Jadi, kalau jika beberapa orang bergabung dengan komunitas lingkungan karena tahu banyak hal, gue malah sebaliknya, gue justru ingin belajar, hehehe :D

Selama ini yang gue tulis kebanyakan mengenai hal-hal sederhana yang bisa gue temui sehari-hari. Misalnya cara mengurangi sampah atau cara memanfaatkan kertas bekas. Untuk hal-hal lainnya gue selalu berpikir bahwa itu terlalu jauh dan sulit dilakukan oleh gue yang hanya satu orang ini. Sampai akhirnya gue diundang untuk menghadiri event Mangrovement yang diadakan oleh Green Smile bekerja sama dengan London School of Public Relation (LSPR 4C). Gue sama sekali nggak tahu apa itu mangrove, mendengar pun belum pernah. Jadi gue putuskan untuk mencari tahu dulu. Mangrove ternyata adalah tanaman bakau yang tumbuh diatas rawa-rawa wilayah air lainnya yang berfungsi sebagai pencegah abrasi, banjir, kerusakan alam dan lainnya. Sangat penting sekali, karena faktanya kerusakan 1 hektar mangrove setara dengan 5 hektar hutan Tropis!

Tanpa pikir-pikir lagi gue langsung sanggupi untuk menghadiri undangan ke event Mangrovement meski tahu bahwa medan yang ditempuh akan sangat berat. Penanaman mangrove diadakan di Kampung Garapan, Tanjung Pasir Tangerang. Daerah yang cukup pelosok dengan jalan-jalan berbatu yang tanpa aspal.

Pagi-pagi sekali pada tanggal 16 Maret gue diantar Bapak menggunakan mobil sedan kami. Sebenarnya kami sudah diperingatkan agar menggunakan mobil yang "tangguh" karena medannya akan sangat berat untuk ditaklukan mobil kecil. Tapi kami nggak punya pilihan, hanya ada 2 mobil di rumah dan dua-duanya berjenis sedan. Jadi kami putuskan untuk berharap yang terbaik dan jika ditengah perjalanan ada halangan kami akan menghubungi Green Smile untuk dijemput dengan motor, atau kalau itu nggak memungkinkan kami akan pulang lagi ke Bandung, yang penting sudah mencoba :) Syukurlah perjalanan cukup lancar. Terutama pada awal-awal perjalanan. Cuaca sangat cerah dan lalu lintas nggak begitu padat. Hanya ketika mendekati daerah tanjung pasir, kami sempat salah jalan beberapa kali meski berbekal peta yang sudah diberikan sebelum acara, hehehe. Sampai-sampai kami harus dijemput dan "dikawal" sampai lokasi karena teman-teman Green Smile khawatir kami nggak kunjung tiba padahal acara sudah dimulai 1 jam. Waktu tempuh kami juga terhambat oleh medannya yang berat, mobil kecil kami hanya bisa melaju pelan-pelan dan terombang-ambing :p

Medannya cukup sulit bahkan ketika gue sudah sampai, harus lewati jembatan bambu! :)

Ketika tiba di lokasi, ternyata gue sudah melewatkan sambutan dari Dadang Irawan, pembina dari Green Smile dan beberapa moment lainnya. Sebagian besar undangan dan partisipan sudah mulai menanam mangrove, bahkan ada yang sudah mulai bersih-bersih. Gue berpapasan dengan Mariska Sarika (Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2013) yang sudah belepotan lumpur sementara gue masih bersih dan aman dibalik lindungan payung, hihihi, jadi malu :D Oya, di event ini juga turut hadir anggota komunitas-komunitas hijau dari Jakarta dan Tangerang, Mr. Luciano Da Silva (Honorary Consul of Indonesia in Portugal), Satrio (Direktur B Channel), Jeane Rosita Gunawan (Favorit Cici Jakarta 2012), Ongkodiputra Aries Surya (Finalis Koko Jakarta 2012), Laurencia Stephanie (Finalis Cici Jakarta 2012) dan para volunteer dari kalangan TNI serta warga sekitar. Kurang lebih ada 250 orang yang terlibat untuk menanam 10.000 mangrove.

Warga sekitar juga turut terlibat :)
Rombongan Cici dan Koko :)

Gue nggak betah bersih lama-lama (lol), Liza dari Green Smile langsung mengantar gue melihat-lihat lokasi dan bercerita sedikit tentang event mangrovement ini. Rupanya kenapa Tanjung Pasir yang dipilih itu karena dulu daerah ini hijau, tapi sekarang gersang dan bahkan akibat punahnya pohon magrove di sana abrasi sudah mencapai lebih dari 1 km dan masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih. So sad... Karena meski udara begitu kering dan terik gue masih bisa melihat sisa-sisa keindahan Tanjung Pasir :') Liza menunjukan bibit pohon mangrove pada gue, ternyata ukurannya sangat kecil dan terlihat rapuh. Tapi siapa sangka ketika tumbuh bisa menjadi kuat dan bisa mencegah abrasi. Gue langsung mengambil satu pohon dan siap untuk terjun ke air, tapi ups, gue nggak bawa baju dalam cadangan! Untunglah gue diberi tahu lagi bahwa menamam mangrove nggak sulit, selain ditancapkan langsung tapi bisa juga dilempar dengan jarak yang sudah diatur. Wah, siapa sangka pohon yang sangat hebat ini ternyata mudah sekali ditanam :D

Bersama Liza yang sangat sigap mengantar gue melihat-lihat lokasi :)

Lihat gue pegang apa :D

Suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban membuat gue lupa dengan matahari yang bersinar terik (sudah tengah hari!), kulit gue terbakar dan sepatu gue penuh dengan tanah lengket, tapi gue sangat ceria dan bersemangat. Bahkan ketika tim Metro Tv menghampiri gue untuk interview, yang gue katakan pertama adalah tentang betapa senangnya gue terlibat di event ini. Gue benar-benar nggak menyangka bisa terlibat di sini, maksudnya, gue selama ini memang ingin melakukan sesuatu untuk lingkungan hidup, tapi yang terpikir hanya hal-hal sederhana yang ada di sekitar gue. Ternyata dengan melihat sedikit keluar, di balik tumpukan kertas dan sampah-sampah yang gue temui sehari-hari ada hal lain yang bisa gue lakukan dan caranya ternyata nggak sesulit yang gue bayangkan.

Yang di sebelah kanan itu Dani Pratomo direktur eksekutif Green Smile :)



Event mangrovement ini mempengaruhi gue dalam banyak hal, pengetahuan gue bertambah dan memberikan gue ide-ide tulisan dengan tema yang lebih luas. Tapi yang terpenting adalah gue jadi tahu bahwa untuk melakukan perubahan besar nggak perlu sesuatu yang besar dan sederhana bukan berarti dekat, karena alam adalah suatu kesatuan yang saling mempengaruhi. Event ini dihadiri oleh ratusan anak muda dan mampu menanam 10.000 pohon mangrove. Bayangkan jika beberapa dari mereka memberitahu temannya yang lain tentang apa yang baru mereka lakukan, mungkin akan ada yang terinspirasi. Dari 10.000 menjadi 15.000 pohon mangrove dan seterusnya. Kita nggak pernah tahu, dan yang bisa dilakukan adalah menularkan semangat positif untuk menjaga lingkungan kita. Setelah event ini gue jadi semangat untuk mencari tahu tentang tanaman-tanaman yang bermanfaat. Nggak semua tempat bisa ditanami mangrove, tapi gue selalu bisa memulai dari yang paling dekat, gue akan mencari tahu tanaman apa yang bisa gue tanam di halaman rumah.

Bangga, ya? :)



Gue rasa semuanya adalah tentang mempengaruhi, jika teman-teman-teman yang hadir di event ini nggak berhenti berbagi cerita pengamalamannya, pasti "trend" positif ini semakin meluas. Bukan nggak mungkin bumi akan tersenyum senang. Dan sekali lagi, ini semua tentang pengaruh, bayangkan apa pengaruhnya bagi kita jika bumi yang kita tinggali "tersenyum" :) Mungkin hasilnya nggak akan instan, tapi gue ingin sekali bumi menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.Kalian juga, kan? :)

go green, and keep smile,

Indi


Jika teman-teman ingin tahu lebih banyak tentang Green Smile dan kegiatannya, silakan kunjugi situsnya di sini. Dan untuk membaca tulisan-tulisan gue silakan search dengan kata kunci "Indi Taufik".
____________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 10 Maret 2013

Pelajaran Berharga dari Bapak, Aerosmith dan Mika

"Pak, nanti aku mau ketemu Aerosmith. Kalau mereka nggak ke Indonesia tetap aku kejar, deh asalkan masih di Malaysia dan Singapur".

"Memang kamu punya uang? Sudah nggak takut lagi naik pesawat?"

"Ya... aku kan nabung. Naik pesawat juga nggak apa-apa, asal aku ketemu Steven Tyler. Tapi nanti temani, ya Pak?"

"Memang kapan Aerosmith mau datang?"

"Nggak tahu... Kan baru khayalan... Pokoknya temani, ya?"

"Iya..."


Itulah percakapan random-berulang gue dengan Bapak. Di perjalanan menuju mall. Di perjalanan menuju tempat kerja. Di sela-sela menonton TV. Selalu saja gue mengulang menyebutkan khayalan gue tentang bertemu Aerosmith. Bagaimana nggak, gue sudah menyukai band rock asal Amerika itu sejak gue berusia 7 tahun. Gue mengoleksi CD, kaset, poster, kaos, topi, dan... apapun, apapun itu asalkan tentang Aerosmith. Mungkin diantara teman-teman bloggies ada yang sudah tahu kenapa gue sangat menyukai Aerosmith. Gue bahkan pernah menulis tentang itu di sini. Gue menyukai mereka bukan sekedar karena musik mereka bagus atau personel mereka keren, tapi juga karena pengalaman pribadi gue sebagai remaja yang mirip dengan Steven Tyler, vokalis mereka yang juga personel favorit gue. Mereka adalah band besar dengan penggemar yang banyak, dan mempunyai masa lalu sebagai anak sekolah biasa (bukan yang popular) yang memberi bukti bahwa siapapun bisa menjadi something meski banyak orang yang menganggap sepele :)

Bapak sering menggoda gue dengan bertanya siapa saja musisi atau band yang ingin gue datangi konsernya selain Aerosmith. Kalau sudah begitu gue pasti pura-pura ngambek karena artinya Bapak secara nggak langsung bilang bahwa gue nggak akan pernah bertemu Aerosmith, hehehe. Tapi meski begitu gue tetap menjawab pertanyaan beliau. "Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers dan Mika". Begitulah jawaban gue. Bapak bilang, salah kalau gue menjawab Michael Jackson karena ia sudah meninggal, dan untuk jawaban Red Hot Chili Peppers gue juga harus pikir-pikir lagi karena John Frusciante, gitaris favorit gue sudah nggak di sana. Akhirnya gue ralat kembali jawabannya. Gue bilang, "Kalau bukan Aerosmith itu artinya harus Mika!"
Berada di dunia khayalan bersama Bapak memang selalu terasa menyenangkan. Membuat gue merasa jadi gadis kecilnya Bapak untuk waktu yang nggak pernah berakhir :)

Gue memang punya banyak idola, tapi grup band idola gue yang nomor satu selalu Aerosmith. Semua orang juga tahu. Hehe, at least semua teman-teman sekolah dan keluarga besar sudah tahu. Sampai-sampai Aerosmith begitu identik dengan gue. Waktu gue bergabung dalam kelompok paduan suara gue selalu dipanggil "Smith" kependekan dari Aerosmith untuk membedakan gue dengan anggota lain yang juga bernama "Indi". Waktu SMA gue juga dipanggil "Steve" kependekan dari Steven Tyler dengan alasan yang juga sama. Gue nggak kesal karena nggak menjadi "Indi" satu-satunya, sebaliknya gue merasa bangga karena disamakan dengan band yang di mata gue sangat tangguh. Mereka pernah mengalami kecelakaan parah, terlibat narkoba, bahkan diserang oleh penyakit yang nggak bisa dibilang ringan. Tapi mereka berhasil bangkit dan bertahan sampai sekarang. Gue anggap itu sebagai doa agar gue sekuat mereka :)

Selain Aerosmith gue juga menyukai Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers (era alm. Slovak dan Frusciante), Queen, Beatles, Mika dan banyak lagi. Tapi entahlah konser yang sangat ingin gue datangi hanya Aerosmith dan Mika (tapi kalau John Frusciante masih di RHCP pasti lain cerita, lol), yang lainnya rasanya cukup gue lihat di video sekalipun seandainya mereka masih aktif menggelar konser. Ngomong-ngomong soal Mika, sepertinya memang jarang yang tahu bahwa gue menyukai musiknya. Setiap kali gue menyebut nama "Mika" pasti yang diingat lebih dulu adalah almarhum Mika, pacar gue ketika SMA yang menjadi inspirasi dalam menulis novel (dan sekarang ada versi layar lebarnya juga) :) Bahkan orang-orang di sekitar gue pun sering menyangka bahwa gue sedang membicarakan Mika yang sudah almarhum ketika gue membicarakan Mika yang musisi asal Lebanon itu, hehehe. Tapi sebenarnya memang ada hubungannya diantara kedua Mika itu. Mereka memang nggak saling mengenal, tapi gue mempunyai cerita istimewa dibaliknya. Jadi pada tahun 2006 gue memutuskan untuk membagi kisah tentang alm. Mika di blog jejaring sosial gue. Waktu itu banyak pembaca yang berkomentar bahwa nama "Mika" terdengar janggal untu seorang laki-laki. Tapi gue bilang bahwa itu memang nama pemberian dari orang tuanya, dan di suatu tempat, di belahan dunia sana pasti ada orang yang juga bernama Mika. Lalu satu tahun kemudian, ketika gue membaca sebuah majalah remaja, ada artikel singkat dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah: MIKA. Gue langsung tersenyum karena itu adalah nama yang sama dengan laki-laki yang membuat gue bahagia selama 3 tahun yang penuh berkah sebelum akhirnya ia pulang karena mengalah dengan AIDS nya. Gue langsung menunjukan artikel itu pada Silmi sepupu gue, dan di malam yang sama kami langsung menonton videonya di MTV. Gue langsung menyukai musiknya dan memutuskan untuk membeli CD nya satu minggu kemudian. Meski diselingi kontroversi, bagi gue banyak lirik-lirik lagu Mika yang menginspirasi :) Somehow ada sedikit tentang Mika yang mengingatkan gue pada alm. Mika. Mungkin rambut ikalnya yang panjang dan badannya yang kurus :)

Jadi beberapa waktu yang lalu ketika gue mendapat kabar bahwa Mika akan datang ke Indonesia, percakapan random-berulang dengan Bapak pun sedikit berubah...

"Pak, siapa idola nomor 1 aku?"

"Aerosmith".

"Kalau nomor dua?"

"Karena Red Hot Chili Peppers sudah keluar list, ya pasti Mika".

"Kalau Mika ke sini gimana, Pak?"

"Ah, bohong!"

"Beneran ini Pak! Akhirnya ada juga idolaku yang datang ke Indonesia, hehehe. Boleh nonton, nggak?"

"Boleh. Kalau nunggu Aerosmith takutnya nggak akan pernah datang".

"Ih, Bapak...."


Dan kami pun tertawa.

Sebelum pengumuman kapan tiketnya mulai dijual, gue dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan tentang konser Mika. Kami mendengar CD-CD nya saat perjalanan ke tempat bekerja dan mulai mengkhayal tentang baju yang akan gue pakai nanti. Karena gue senang mendesain baju gue bilang bahwa gue akan memakai baju seperti gadis kecil di video klip "Grace Kelly", hihihi, seru sekali :) Lalu  ketika akhirnya voucher tiket (pre sale) mulai dijual, gue langsung mencari info tentang dimana bisa mendapatkannya. Tapi ternyata hasilnya membuat gue sedih, voucher tiket hanya bisa dibeli di salah satu cabang Seven Eleven di Jakarta selama 24 jam, selebihnya berlaku harga normal. Gue yang tinggal di Bandung dan bekerja sampai sore bingung bukan main. Bagaimana caranya supaya gue mendapatkan tiket sebelum jam 12 malam? Apakah gue harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta dan mengabaikan kesehatan gue? Gue meminta pendapat pada Bapak dan Ibu tentang jalan keluarnya, tapi mereka juga sama kebingungannya seperti gue. Ketika waktu menunjukan jam 8 malam rasa sedih gue semakin besar, gue mulai menangis sendirian di dalam kamar dan berdoa pada Tuhan untuk jalan yang terbaik. Mungkin terdengar konyol karena ini hanya sebuah konser, tapi gue adalah tipe orang rela menabung untuk dipakai di moment yang jarang terjadi, dan sekarang lah moment itu akhirnya tiba. Lalu tanpa disangka-sangka, Gina, salah seorang sepupu gue yang tinggal di Jakarta bersedia mampir ke Seven Eleven dan membelikan vouchernya untuk gue. Bukan proses yang mudah karena tanda pengenal yang dipakai harus sama dengan tanda pengenal yang dibawa ketika menonton konser. Dengan bantuan Gina dan kebaikan pegawai Seven Eleven (mereka membantu via twitter dan telepon, how sweet!), akhirnya gue mendapatkan voucher itu meski tanda pengenal yang digunakan dikirim melalui foto, hehehe. Gue senang sekali dan bersyukur. Akhirnya, mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, gue akan bertemu idola gue :)

Tanpa sengaja gue bikin dress seperti si gadis lolipop'nya Mika :) Btw, kelihatan banget gue baru nangis, hihi..

Meski konsernya masih 2 bulan lagi, Ibu sudah kasih banyak wejangan sama gue. Nanti gue nggak boleh pisah sama Bapak, nanti harus pakai stocking yang tebal, dan banyak lagi, hehehe. Gue menanggapinya dengan senyuman karena tahu Ibu nggak akan melarang gue nonton konser, beliau mengerti bahwa kesempatan gue bertemu salah satu idola gue sangat langka.
Di tengah kebahagiaan gue tiba-tiba ada kabar mengejutkan. Well, seharusnya sih menggembirakan seandainya waktunya tepat...
Waktu di mobil, di perjalanan menuju sebuah toko elektronik bersama Bapak, handphone gue bunyi terus-terusan. Aneh, inbox di facebook, mention di twitter, BBM dan lain sebagainya menerima laporan dalam waktu bersamaan. Karena penasaran gue langsung membuka pesan yang paling baru masuk. Isi pesan itu membuat perasaan gue campur aduk, tapi gue putuskan untuk membaca dulu sisanya karena siapa tahu hanya candaan. Sampai seluruh pesan terbaca, isinya ternyata sama. Semuanya memberi tahu berita yang mereka pikir akan membuat gue berteriak histeris: Aerosmith akhirnya akan datang ke Indonesia.
Di waktu yang bersamaan dengan Mika...Tanggalnya, bulannya... Tepat sama.

Gue nggak berteriak histeris. Butuh waktu beberapa menit sebelum gue membacakan pesan yang masuk satu per satu pada Bapak. Bahkan waktu gue membaca pun perasaan gue masih bingung, apakah gue sedang senang atau sedih. Bapak nggak percaya dengan apa yang didengarnya. Beliau pikir gue becanda, tapi setelah melihat wajah gue yang serius dan memerah karena menahan tangis, Bapak akhirnya percaya.

"Kamu senang nggak mau ketemu Aerosmith?"

"Waktunya bersamaan dengan konser Mika, Pak..."

"Iya, tapi kamu senang nggak? Kan sudah nunggu berapa tahun? Hampir 20 tahun, ya?"


Gue terdiam, bertanya pada hati gue sendiri. Apakah gue senang? Apakah gue senang?...
"Iya, Pak senang, aku nanti minta Steven Tyler tandatangani lengan aku ya? Terus aku jadikan tato permanen, boleh?"


Bapak tertawa.

"Tapi konser Mika nya gimana, Pak? Kan sudah beli tiket..."

"Jangan dulu dipikirkan, nikmati saja dulu perasaan senangnya..."

Dengan sebagian kecil koleksi Aerosmith gue. Iya, gue punya banyak karena mengumpulkan sejak umur 7 :)

Gue senang, senang, senaaaaang sekali. Bayangkan, gue menunggu kesempatan untuk bertemu Aerosmith sejak gue berusia 7 tahun dan sekarang akhirnya hampir terwujud. Tapi di sisi lain gue sangat kebingungan karena gue sudah membeli tiket konser Mika dan meskipun baru mengenal Mika selama 6 tahun tapi gue sudah jatuh cinta dengan musiknya. Saking bingungnya gue jadi takut untuk bermimpi bisa bertemu dengan Aerosmith. They're my number one idol, akan sangat menyedihkan jika ingat gue nggak bisa bertemu mereka. Bapak sempat menggoda gue bahwa inilah rasanya galau. Gue belum pernah merasa galau karena seorang pemuda dan sekarang gue galau karena laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Bapak. Beliau pikir ini lucu, tapi gue hanya bisa tersenyum sedikit :') Bapak bertanya, seandainya gue belum membeli tiket Mika, manakah yang akan gue pilih, konser Aerosmith atau Mika. Dengan mantap gue menjawab tentu saja konser Aerosmith. Lalu Bapak dengan ringan menanggapi jawaban gue, "Kalau begitu, pilihlah Aerosmith!"

Gue masih bingung, tapi sepertinya Bapak benar. Yang harus gue lakukan adalah bertanya pada diri sendiri tentang apa yang gue inginkan. Gue menginginkan Aerosmith, gue sudah tahu itu sejak hampir dari 20 tahun yang lalu. Lalu kenapa sekarang ragu? Pasti karena tiket Mika yang sudah gue beli. Gue sudah membeli dua buah tiket dari hasil menabung. Iya, dua buah karena gue ingin sekali mengajak Bapak. Akan gue kemanakan tiketnya? Haruskah gue beri pada orang yang gue percaya karena nanti harus membawa kartu identitas gue ketika menonton konser? Ketika hati gue semakin bertanya-tanya, gue ulang kembali satu buah pertanyaan yang ditekankan oleh Bapak. "Apa yang gue mau? Apa yang gue mau? Apa yang gue mau?". Pikiran gue kembali ke masa kecil gue, moment dimana pertama kali gue melihat video klip Aerosmith dan jatuh cinta dengan lirik "Livin' on the Edge"...
"Gue pilih karena gue menginginkannya. Gue pilih Aerosmith".

Bapak bilang seharusnya gue nggak bingung ketika Mika dan Aerosmith datang secara bersamaan, tapi seharusnya gue bersyukur. Gue sering berdoa bahwa suatu hari idola-idola gue datang ke Indonesia, dan sekarang menjadi kenyataan. Bapak bilang ini kesempatan gue untuk belajar memilih. Mungkin akan ada yang dikorbankan tapi pilihan harus tetap diambil, atau gue nggak akan mendapatkan apa-apa sama sekali. Mungkin bagi orang lain ini hanya sebuah konser, bukan hal serius yang perlu dipikirkan sungguh-sungguh. Tapi Bapak melihatnya lebih dari itu. Konser dan hal lain yang terjadi dalam hidup semuanya harus dilewati, kita nggak bisa lari dari itu, dan dalam prosesnya sering kali kita dihadapkan dengan pilihan. Lucu, tapi sepertinya benar, Aerosmith dan Mika membantu proses pendewasaan gue.

Gue nggak akan melihat konser warna-warni ala Mika dan memakai dress ala gadis kecil di video klip "Grace Kelly". Gue juga nggak akan mendengar Mika bernyanyi lagu "Elle Me Dit" yang sudah gue hapalkan jauh-jauh hari untuk sing along bersamanya. Tapi Bapak bilang jangan ingat-ingat apa yang gue lewatkan, tapi pikirkan apa yang akan gue dapatkan nanti. Gue akhirnya akan bertemu dengan idola masa kecil gue. Dapat sebuah tato, mungkin, lol. Dan akan berteriak "Honey!" ketika Aerosmith membawakan lagu "Crazy". Sekali lagi, dari setiap pilihan pasti akan ada yang dikorbankan, kita nggak bisa dapat semua yang kita mau tapi kita selalu bisa menikmati apa yang kita dapat. Semalam dengan bantuan seorang teman gue berhasil membeli 2 buah voucher tiket Aerosmith untuk gue dan Bapak. Sempat bingung untuk memilih antara VIP dan premium. Tapi kali ini gue yang memutuskan sendiri. Gue pilih premium. Gue memang akan melewatkan makanan gratis dan tempat duduk ala VIP, tapi gue mendapatkan akses untuk berdiri dekat dengan panggung dan dapat kesempatan lebih besar untuk menangkap harmonika, selendang atau topi jika Steven Tyler melemparnya atau nggak sengaja menjatuhkannya, lol. Gue nggak pernah menyangka Aerosmith dan Mika bisa memberikan gue pelajaran sebesar ini. Melalui Bapak mereka telah mengajarkan sebuah hal penting yang disebut dengan pilihan :)

"Pak, sebetulnya aku masih ada sedih 1 persen lho karena nggak jadi nonton Mika..."

"Masa? Kan dulu kamu hampir tiap hari ketemu Mika, sampai bolos sekolah segala, hahaha".

"Ih, bukan Mika yang itu, Bapaaaaaak..."


:D




walk this way,
INDI

twitter: here
facebook: here
contact person: 081322339469