Minggu, 30 Desember 2018

Singapore Trip: Happy Tapi Kok Minta Pulang?

Hah? Sudah malam tahun baru saja besok :O Time does flies, ya... Rasanya kayak baru kemarin gue asyik edit-edit novel kelima, eh tahu-tahu saja sudah mau berganti tahun. Jujur saja rasanya gue kurang produktif di tahun 2018. Bukan karena 100% malas sih, tapi ada beberapa hal yang berubah dan "mengeluarkan" gue dari zona nyaman, ---yang bikin harus adaptasi dari awal. Kalau saja bisa kembalikan waktu, gue mau. Tapi ini kan dunia nyata bukan Twilight Zone, hehehe. Jadi daripada disesali lebih baik sih diperbaiki. I'm gonna be a better me. Amen! :) 
Dari sekian hal yang membuat gue "keluar dari zona nyaman" ada satu hal yang sama sekali nggak gue sesali alias nggak mau ganti dengan apapun. Ada yang bisa tebak apa? Well, kalau sempat baca post gue yang kemarin-kemarin pasti tahu. ---Gue punya suami! Selain keinginan dari diri sendiri, dialah yang membantu gue pelan-pelan kembali ke track. Gue bersyukur dia, ---Shane, nggak memaksakan agar gue bisa kembali produktif secara instan, malah kemarin kami sempat jalan-jalan singkat ke Singapore untuk berlibur sekaligus me-restart tubuh gue :)


Ide jalan-jalan ini sebetulnya nggak seluruhnya ide suami. Dia memang berencana mengajak gue ke Singapore untuk suatu keperluan, tapi lalu ibu mertua punya ide agar gue juga bisa bersenang-senang di sana. "Hadiah natal untuk Indi", begitu katanya. Ya sudah yang tadinya gue hanya membawa piyama banyak-banyak (karena niatnya mau stay di hotel saja, hehehe), jadi ditambah beberapa dress deh biar kece :p By the way, ada yang ingat dengan cerita liburan gue sebelum ini kah? Nah, setelah pengalaman yang sampai sekarang meninggalkan trauma itu gue jadi wanti-wanti sama Shane untuk membaca baik-baik dulu review hotel tempat kami menginap nanti. Jangan sampai foto-foto di situsnya bagus tapi setelah sampai ternyata jauh berbeda. Gue sih lebih percaya apa kata pelanggan daripada kata situs karena bisa saja dimanis-manisin. Syarat yang gue minta juga nggak muluk-muluk, asal bersih, wifi kenceng, ada bathup, dan bakal nilai plus kalau ada hair dryer karena gue malas bawa tas berat-berat. Maklum dari zaman masih bocah tas traveling gue cuma satu dan ukurannya nggak besar-besar amat, hehehe. Akhirnya setelah Shane punya 3 kandidat hotel dia nemu juga hotel yang pas. Keesokan paginya kami langsung terbang ke Singapore, deh :)

Kami terbang dari Bandung dengan menggunakan pesawat Air Asia. Nggak sempat sarapan dan waktu tiba sudah pas-pasan dengan waktu boarding. Sebenarnya ada sih waktu sedikit, tapi kami sempat ditanya-tanya dulu sama petugas imigrasi karena Shane over stayed. Iya, meski kami sudah menikah suami gue masih pakai visa on arrival, jadi hanya berlaku 30 hari. Dan dia sudah tinggal di sini selama 8 bulan, ---jadi coba hitung saja berapa kali dia harus meninggalkan Indonesia setiap bulan agar bisa bersama gue. Saking seringnya Bandung-Singapore-Bandung jadi terasa seperti ke mall saja, karena berangkat pagi sorenya sudah di Bandung lagi. Awalnya rasanya sih kasihan, kok demi pacar begini amat. Tapi sekarang gue malah merasa wajar, you need to fight for love, benar nggak? :) 
Setelah selesai dengan urusan imigrasi (---yang menurut Shane petugasnya flirting sama gue karena kami disangka temenan, bhahahahaaaa) penerbangan berjalan lancar. Nggak sempat tidur sih karena perut lapar dan menu di pesawat nggak ada yang vegan friendly. Tapi mood kami baik sekali, sepanjang perjalanan ngobrol terus dan main cilukba dengan penumpang cilik yang duduk di depan kami, hehehe.


Setiba di Changi airport kami nggak langsung ke hotel tapi cari makan dulu. Sekalian Shane juga ajak gue berkeliling karena airport ini sudah jadi "tempat tinggal" keduanya selama 8 bulan terakhir (aww...). Pilihan gue nggak jauh-jauh sama nasi padang. Paling aman deh, soalnya ada menu perkedel sama terong dan nasinya segunung jadi dijamin kenyang dan vegan. Selesai makan kami duduk-duduk sambil main ukulele. Mau menginjakan kaki ke luar rasanya malaaaaas banget, soalnya matahari lagi terik-teriknya. Jadi kami santai dulu sambil menunggu waktu check in hotel. Ini nih salah satu alasan kenapa gue cinta sama Shane, kami sama-sama malas panas-panasan, hehehe. Oh iya, dulu pas gue ke Singapore sama Bapak kami boros banget gara-gara pakai taksi kemana-mana. Bersyukur gue diberitahu teman, Wilson namanya, untuk pakai aplikasi Grab saja karena lebih murah dan cepat dapatnya. Aplikasinya nggak perlu khusus, secara otomatis bakal baca lokasi gue meski download app nya pas di Indonesia. Pokoknya ini life saver banget karena dari pintu terminal kami rupanya cukup susah untuk dapat taksi dan kendaraan umum lainnya. Saking susahnya driver yang jemput kami sempat salah lokasi. Untung saja beliau sabar banget dan mau muter-muter tanpa charge kami lebih *fiuuuh* :D


Hotel yang Shane pilih itu namanya Grand Pasific. Entah deh masih ada hubungannya dengan hotel yang bernama sama di Bandung atau nggak. Jarak dari airport sekitar 20 menitan, tepatnya di Victoria Street. Kesan pertama, gue suka dengan suasana daerahnya yang sepi. Nggak gitu banyak turis lalu lalang dan hotelnya juga sederhana. Kalau kata Shane sih, "Gedungnya tua, tapi tuanya tua dalam artian bagus." ---Nggak tahu deh apa maksudnya, hahaha :') Kami kebagian di lantai 10, di kamar paling ujung dekat tangga darurat. Gue dan Shane langsung girang, soalnya itu artinya kami bisa nyanyi dan main ukulele sampai larut tanpa takut ada yang merasa terganggu. Hore! Sudah dua kali berturut-turut saat menginap kami kebagian kamar yang "bebas merdeka", sungguh kebetulan yang menyenangkan :D Prinsip kami sih mending menginap di tempat yang lumayan supaya fasilitas toiletries atau personal carenya lengkap. Jadi space di tas bisa buat alat musik, laptop dan, ehm... boneka kelinci gue, hehehe. Paling hanya sabun cuci muka dan deodoran saja yang bawa dari rumah, lainnya seperti lotion, qtips, dll sudah ada. Karena happy ala kami ya begitu, bisa menulis, bisa nonton film, bisa main musik, bisa santai... Rasanya kaya surga dunia, hehehe. 



Shane langsung rebahan di kasur sementara gue langsung berendam air hangat. Rasanya nyaman sekali setelah paginya gue mandi agak keburu-buru. Sayangnya gue lupa bawa bath boom yang mertua gue kasih, jadi cuma pakai shower gel biasa. Gue juga sudah siap bawa HP ke kamar mandi supaya bisa sambil nonton film, tapi rupanya wifi selalu putus-nyambung begitu di wilayah tub. Jadi ya sudah gue merem-melek saja sambil menikmati siang menjalang sore. Setelah selesai gue pun menyusul Shane yang sudah terlelap (mungkin kelamaan nunggu gue, hehehe). Saking nyenyaknya kami terbangun tengah malam dalam keadaan lapar. Insting pertama gue langsung ajak Shane jalan kaki buat cari makan murah-meriah. Tapi lalu gue sadar kalau di daerah ini restoran sudah pada tutup, dan yang buka 24 jam cuma mini market. Yah... makan mie instannya besok-besok saja dulu deh... Masa lagi liburan sudah berasa kaya pas akhir bulan di rumah, hehehe :p Hasil cek google restoran terdekat yang masih buka jaraknya di atas 4 KM semua. Jangankan cuci muka, buat ganti piyama dengan yang baju yang agak mendingan saja gue sudah malas... Akhirnya kami putuskan untuk pakai grab food. Agak asing dengan aplikasinya karena di Bandung kami biasa pakai gofood atau delivery order ke restorannya langsung. Sempat 2 kali gagal karena jaraknya di luar area, dan waktu akhirnya dapat ternyata makanan Meksiko. Padahal awalnya gue lagi kepengen banget makanan India, hehehe. Tapi nggak apa-apa deh, soalnya Baja Bowl dari Baja Fresh Mexican Grill ternyata enak banget! Gue sampai habiskan 2 mangkuk besar dan setelahnya... langsung tidur lagi. Kekenyangan!


Karena aktivitas hari pertama kami cuma makan-tidur-makan-tidur, besoknya kami bangun pagi-pagi sekali. Rambut gue agak lepek jadi sekalian saja gue mau coba jajal kemampuan hair dryer hotel. Diluar dugaan, meski kecil ternyata oke juga. Anginnya kuat banget, sampai-sampai rambut gue yang tebal ini lumayan cepat keringnya. Sayangnya colokan di wastafel kamar mandi hanya untuk shaver. Jadi sehabis rambut kering gue nggak bisa styling pakai catokan di sana :( Untung saja gue banyak akalnya (lol). Gue pakai kamera selfie HP gue sebagai cermin! Agak-agak kagok sih, tapi it work. Sudah kece kami niatnya mau cari sarapan di luar. Alasannya karena menginap ternyata exclude sarapan. Seumur-umur nginep di hotel baru kali ini buat sarapan harus bayar, huhuhu. Tapi iseng-iseng kami tanya berapa harganya, ternyata terjangkau (kalau nggak salah sekitar 200 ribuan per orang) dan all you can eat! Ya sudah kami makan di sana, namanya Sun's Cafe. Menunya ala makanan rumah gitu, dan ada pilihan untuk vegan. Gue dan Shane puas banget dan berandai-andai kalau saja kami bisa makan "menu sarapan" untuk makan siang dan malam juga. Kan bisa hemat tuh. Secara pas kami hitung-hitung untuk makan malam yang lalu habis 500 ribuan. Mending gue makan di Ampera deh bisa traktir sekeluarga plus gratis teh anget :') 





Keinginan gue buat main ukulele sepuasnya tercapai juga. Mungkin karena nggak was-was ada yang terganggu rasanya jadi lebih kreatif. Gue bikin lagu di sana, ---tepatnya pas lagi nongkrong di kamar mandi, hehehe. Gue dan Shane memang nggak banyak keluar, sebagian besar waktu kami dihabiskan di kamar saja. Kami hanya keluar untuk makan, itu pun nggak jauh-jauh. Ada restoran namanya Din Tai Fung yang jaraknya cuma 2 belokan dari hotel. Sejauh ini rasa makanannya jadi yang paling memuaskan lidah gue, soalnya pedas dan nendang. Sedangkan sisanya kami makan di kamar saja sambil genjang-genjreng ukulele. Eh, ngomong-ngomong ada pengalaman cukup horror lho di kamar kami. Seperti yang gue sudah gue sebutkan, kamar kami ada di ujung. Jadi sisi kirinya mentok dan sisi kanan langsung ke tempat tidur kamar lain bukan kamar mandi. Di depan kamar kami juga kosong dan kamar kami menghadap ke jalan, jadi suara yang terdengar harusnya cuma lalu-lalang kendaraan saja. Tapi beberapa kali kami dengar ada suara air mengalir, seperti orang pakai shower dan flush toilet gitu. Padahal gue sudah cek kalau ada yang pakai kamar mandi nggak terdengar tuh ke luar. Pernah lagi asyik nonton TV tiba-tiba saja ada "suara-suara". Malah yang lumayan bikin deg-degan lampu kamar kami suka kaya ada yang mainin. Seram-seram kocak, soalnya kami senang nonton film horror tapi kalau ngalamin ternyata takut juga, hahaha.







Di hari ketiga gue kepengen pulang. Padahal seharusnya kami menginap satu malam lagi, bahkan sudah berencana ganti hotel segala biar nggak bosan. Entah kenapa gue kepikiran melulu ikan gue, Fish O'Fish. Jadi sebelum berangkat gue memang sempat nangis kejer gara-gara si ikan lagi sakit pop eye (mata bengkak). Sudah diobati dan minta saran sama teman-teman di grup tapi kondisinya masih gitu-gitu saja. Yang bikin makin khawatir dia jadi susah makan, padahal biasanya lahap. Selama di Singapore gue whatsapp bapak gue terus buat nanya keadaannya. Katanya sih baik-baik, tapi karena nggak kirim bukti foto kok gue jadi curiga (---padahal rupanya memang baik-baik saja, lol). Gue bilang sama Shane kalau pulangnya lebih baik dipercepat saja. Toh gue sudah dapat cukup waktu untuk refreshing dan lama-lama bingung juga mau ngapain lagi. Sayangnya karena mendadak kami nggak dapat tiket yang langsung ke Bandung kecuali kalau berangkat pagi-pagi sekali. Well, itu sih nggak mungkin karena gue minta pulangnya saja sudah hampir tengah hari. Gue pikir sudahlah kami ke airport dulu siapa tahu ada yang cancel dan jadi rezeki kami. Jadilah kami check out dan jalan-jalan dulu sebentar. ---Maksudnya literally jalan kaki sambil ngalor-ngidul karena Shane rupanya belum mantap untuk pulang. Kami mampir dulu ke Food Republic dan ngobrol-ngobrol di sana. Kami bahas apa plus-minusnya kalau kami pulang sekarang atau besok. Tapi nggak butuh waktu lama Shane pun setuju untuk pulang, alasannya karena cuaca sangat panas dan setelah dihitung baju bersih dia juga tinggal satu, hahaha. Jadilah kami pesan Grab dan menuju airport.




Pas banget sampai di airport ibu gue video call. Beliau kaget karena gue sudah mau pulang dan belum dapat tiket. Kayanya Ibu khawatir kalau gue bakal nginep di airport saking malas kemana-mananya :p Tapi gue jelaskan kalau Shane sedang cari tiket, dan terakhir waktu kami cek ada penerbangan ke Jakarta untuk sore hari. Syukurlah ternyata kami kebagian meski sisa hanya beberapa seats saja, ---dan gue masih kebagian window seat pula! Alhamdulillah! :D Pokoknya gue girang-segirangnya. Kami cuma punya waktu 30 menit sebelum boarding, dan itu gue pakai untuk beli oleh-oleh baju buat Ali keponakan gue, sementara Shane beli burger sayur untuk bekal di pesawat karena tahu nggak ada menu vegan di udara. Kami sempat berselisih, karena waktu kami sudah dipanggil Shane ternyata masih belum kembali. Padahal gue sudah ingatkan dia untuk lari. Gue sampai bilang kalau sampai kami ketinggalan gue mau nangis kejer, hahaha. *becanda*
Waktu kami duduk di pesawat rasanya gue lega banget. Nggak sabar untuk tidur di kamar kami dan ketemu lagi sama keluarga dan hewan-hewan peliharaan di rumah. Singapore memang negara yang menyenangkan, gue nggak pernah kecewa setiap kali berkunjung ke sana. Tapi nggak ada yang mengalahkan nyamannya rumah dan nikmatnya masak di dapur sendiri :))


Rupanya memang benar, gue hanya perlu refreshing. Keluar dari rutinitas ternyata membuat gue rindu untuk kembali produktif. Mungkin karena terlalu larut dengan kemageran, bikin gue lupa tentang "pentingnya" liburan. Serius guys, jangan pernah menyepelekan kekuatan dari ambil break buat diri sendiri. Nggak usah jauh-jauh, nggak usah lama-lama. Yang penting beri diri sendiri waktu untuk rehat because you deserve it! ;)



nb: Gue deg-degan banget waktu buka pintu kamar, takutnya Fish O'Fish kenapa-napa. Rupanya oh rupanya, dia malah jauuuuh lebih sehat dari sebelumnya. Gue memang suka khawatir berlebih ya, hahaha :D


penggemar burger sayur,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 13 Desember 2018

Glamorous Camping? Indi Happy atau Nelangsa? :p

Kayanya bukan lagi rahasia bagi orang-orang dekat gue, kalau gue itu lebih suka aktivitas indoor daripada outdoor! :p Eh, bukan berarti gue nggak suka alam atau nature, lho. Gue suka, ---bahkan paling hobi lihat pemandangan. Tapi kalau boleh memilih gue pasti akan lebih prefer menghabiskan waktu di dalam ruangan setelah berjalan-jalan di alam. Bisa menginap di hotel, villa, atau di rumah teman. Pokoknya asalkan nggak tidur di luar gue nggak masalah. Well, IDK, menurut gue tidur di bawah bintang hanya terdengar indah di film atau di novel saja. Gue terlalu "takut" dengan udara dingin dan gigitan nyamuk. Jadi jalan-jalannya cukup siang sampai sore saja deh, sisanya di kamar, hehehe. Nah, beruntungnya gue punya suami yang (hampir) sepemikiran. Dia juga suka alam, tapi kalau istirahat pilihnya ya di ruangan meski dia suka kegiatan outdoor macam mengendarai dirt bike, main skateboard dan lain sebagainya (---gue mah nggak, lol).

Makanya waktu Om gue menawari kami untuk menginap, gue nggak pakai ragu bilang kalau kami pengen tempat yang damai (jauh dari hiruk pikuk kota, bosan gue sebagai orang Bandung, hehehe) dan nyaman. Mau di gunung pun nggak masalah, tapi kalau bisa ---ehm, menginapnya di hotel. Biar sehabis lelah jalan-jalan gue bisa nonton film, berendam air panas atau malah dipijitin. Itulah kenapa gue selalu menolak kalau jalan-jalannya bareng orang lain alias grup, karena gue pasti (dianggap) ngerepotin minta ini-itu. Tapi ya mau gimana lagi gue itu orangnya seimbang, suka alam tapi juga suka moderenisasi :p *ngeles*
Om gue bilang dia minta tolong temannya buat cari hotel yang lokasinya di alam buat kami. Setelah dapat gue langsung dapat kiriman video lewat whatsapp yang isinya kondisi tempat menginap dan pemandangan sekitarnya. Waktu menonton gue dan Shane langsung curiga, kok nggak seperti hotel. Tapi pemandangannya sih bagus, menghadap danau dan sunyiiiii banget. Ternyata benar saja, setelah googling tempat yang dicarikan temannya Om gue itu ternyata villa. Tadinya gue mau nawar, minta menginap di hotel saja. Tapi setelah dipikir berkali-kali plus diskusi mondar-mandir sama ortu dan suami, akhirnya gue deal. Di video pemandangannya bagus, nggak apalah tanpa room service yang penting sepadan dengan apa yang kami lihat nanti :)

Lokasinya di Pangalengan-Jawa Barat. Gue nggak akan bilang dimana tepatnya (kalian akan tahu alasannya nanti), tapi yang pasti cukup populer dan reviewnya banyak di Google. Karena sudah tahu bakal menginap di villa, gue dan Shane bawa perlengkapan lengkap. Dari mulai makanan (instan dan sayuran, dasar vegan! Lol), selimut, losion anti nyamuk, gitar dan ukulele untuk anti bosan, sampai obat-obatan. Perjalanan cukup jauh dari rumah kami di Bandung Selatan. Berkelok-keloknya bikin pusing tapi pemandangannya memanjakan mata, hijau di mana-mana! Shane sampai sering ambil video dari dalam mobil karena kagum. Mood kami juga bagus, bawaannya cekikikan terus, mungkin karena excited :) Sayangnya ketika tiba tempatnya ternyata nggak seindah yang video... Begitu turun kami langsung mencium bau amis dan banyaaaak sekali lalat. Gue nggak lebay, ini lalat banyaknya sampai masuk ke dalam villa dan nempel-nempel di jendela DALAM kamar! Speechless, waktu barang-barang diturunkan dari mobil gue nggak rela. Tapi mau gimana lagi, kami sudah deal dan akhirnya ditinggal berdua saja di sana. Then the nightmare begin... Waktu kami mulai beres-beres gue mulai notice kalau dapurnya kotor banget. Di peralatan makannya masih ada kecap ---or whatever lah nempel-nempel. Gue dan Shane langsung berinisiatif cuci semuanya dan begitu rak diangkat... ADA KECOA, SAUDARA-SAUDARA! Gue coba nggak panik dan minta Shane lap meja, dll dengan tisu basah antiseptik (lap yang di sana sudah compang-camping dan bau, hiks), sementara gue hidupkan anti nyamuk elektrik yang rupanya nggak mempan untuk mengusir lalat. 

Waktu dicek, kamar mandi rupanya nggak ada air. Pusing tujuh keliling lah kami, sudah datang jauh-jauh maunya istirahat malah "harus" beres-beres. Kami sampai nggak berani menginjakan kaki di kamar karena selain jendela, tempat tidur juga dilalerin. Gue sampai pengen nangis mikir gimana cara lewatin malem kalau kondisinya kaya gini. Shane lalu ajak gue melihat-lihat keluar villa sambil mencari orang yang bisa dimintai tolong. Bad idea! Lalat semakin banyak, bahkan beberapa langkah saja dari villa kami gue baru ngeh kalau ada seonggok (maaf) pup. Ya Tuhaaaan, fix gue mau minta pulang saja *cry emoji* 
Tapi ternyata nggak semudah itu. Handphone gue nggak ada sinyalnya dan wifi juga mati. Petugas villa entah dimana dan hari juga sudah mulai gelap. Sumpah dah gue lebih baik diserang zombie daripada diserang lalat, hahaha. Kami pun jalan ke luar wilayah villa dengan harapan dapat sinyal. Lumayan jauh, tapi akhirnya dapat. Saking leganya gue sampai nggak mau balik lagi ke villa, biar deh gue berdiri di sana dilalerin asal bisa telepon. Dan akhirnya, setelah 2 jam kami dijemput!

Di mobil kami sudah siap-siap terlelap, ---lelah fisik dan batin :p Tapi malah ditawari untuk menginap di tempat lain. Langsung saja kami tolak, waktu semakin larut dan yang gue pengen waktu itu cuma mandi terus salin pakai piyama :( Om gue yang lagi OTW ke luar kota whatsapp  bilang supaya minta dicarikan hotel. Dia bersikeras agar gue dan Shane tetap jadi menginap di tempat yang nyaman. Bimbang deh gue, hati sebenarnya pengen pulang tapi nggak enak kalau menolak permintaan Om yang notabene cuma ingin menyenangkan gue. Akhirnya setelah diskusi sedikit dengan Shane yang mulai tampak seperti zombie, kami setuju untuk menginap di tempat lain dengan syarat harus BERSIH dan gue bisa mandi. Orang travelnya setuju, dan dia merekomendasikan resort yang katanya nyaman dan pasti gue suka. Waktu dia tunjukan fotonya gue dan Shane lihat-lihatan. Not again... Lagi-lagi bukan hotel. Bahkan tempatnya semi outdoor karena konsepnya glamping, alias camping yang "glamour". Di kepala gue langsung keluar naskah panjang kesewotan gue tentang kenapa ini travel nggak mau kasih kami hotel saja. Terserah deh mau hotel bintang satu juga asalkan kami bisa tidur di dalam kamar. Tapi di kenyataan gue cuma ngangguk saja. ---Akika lelah, bo :(

Tentang Glamping

Malam, lupa jam berapa, akhirnya kami tiba di lokasi resort glamping. Kata orang travelnya begini, "Lihat saja dulu, kalau nggak suka boleh pulang." Gue nggak becanda, gue masuk ke lobby pakai sarung di kepala, sudah kaya ninja saja. Kesan gue dan Shane waktu menginjakan kaki di sana; look nice (waaaaay nicer daripada tempat sebelumnya), mirip lobby hotel "normal" dan kekinian. Gue sih cuma bisa membatin saja kenapa kami nggak dibawa ke sini dari awal. Memang belum lihat bagaimana suasana area glampingnya sih, tapi at least dari lobbynya saja sudah terlihat bersih. Herannya waktu gue setuju buat menginap di sini, pihak resort butuh waktu cukup lama untuk mengantarkan kami ke "kamar" (---pakai tanda kutip karena bukan kamar konvensional ya, hehehe). Lobbynya semi outdoor dan Lembang sedang hujan, jadi terbayang dong gimana dinginnya kami. Untung saja di sini sepi banget, jadi nggak banyak orang yang lihat gue jadi Lutung Kasarung. Well, sebenernya sih bodo amat, yang penting anti masuk angin :p

Pemandangan malam hari, waktu kami tiba.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Kami diantarkan ke "kamar" yang (gue pikir) berupa tenda camping. Tapi ternyata itu hanya dari luarnya saja. Begitu petugas membuka resleting tenda terlihatlah isinya yang terlihat seperti kamar pada umumnya. Tempat tidur luas, kotak penyimpanan, kamar mandi lengkap dengan air panasnya, juga termos elektrik untuk memaskan air! Waktu gue perhatikan ternyata rangkanya permanen dan lantainya juga terbuat dari semen, bukan tanah. Langsung lah gue membuang nafas lega *fiuh* Dibandingkan tempat yang sebelumnya, yang ngakunya villa ternyata malah lebih hommy di sini (lebih dekat dengan rumah gue juga. Asyem, buang-buang waktu saja di jalan). Petugasnya nanya apa gue dan Shane mau pindah lokasi atau tetap di kamar yang ditawarkan saja. Kami langsung sepakat kalau nggak mau lihat-lihat lagi meskipun kiri-kanan-bawah kamar kami kosong. Setelah itu kami diberi kunci dan gemboknya, juga diingatkan kalau sampai jam 10 malam ada bonfire yang bisa dinikmati bersama pengunjung resort lainnya.

Meski ngarepnya ada bathup buat berendam, tapi adanya shower dengan air panas juga good enough. Sementara Shane beres-beres barang bawaan kami, gue mandi lalu berganti dengan piyama. Padahal paginya gue sudah mandi, tapi mungkin karena di mobil berjam-jam plus dilalerin rasanya badan gue kotor banget, ---banget! Eh, gue surprise lho dengan kamar mandinya, selain air panasnya stabil, perlengkapannya juga lengkap. Ada shower cap segala yang biasanya cuma gue temui di hotel yang "bagus". Kesannya memang sepele, tapi dengan mandi rupanya bisa mereset mood gue, hehehe :p Kami sempat kepikiran mau ikutan bonfire, tapi setelah dipikir-pikir rasanya lebih nyaman di kamar saja. Tawaran genjrang-genjreng gitar sambil membakar marshmallow pun nggak terlalu menggiurkan bagi kami. Alasannya karena kami vegan (masa mau bakar kapas? Lol), juga karena kami membawa gitar dan ukulele sendiri dari rumah. Di dalam kamar kami merasa lebih bebas bermain musik sekeras apapun karena kebetulan kami satu-satunya yang mengisi kamar di jajaran atas. Kalau di depan orang lain kan gawat, kami suka nggak kira-kira kalau nyanyi :p

Tenda alias kamar kami tampak depan. Kiri-kanan sama bawah nggak berpenghuni, hehehe.


Kamar mandinya tanpa bathup, tapi air panasnya stabil, bikin betah. Dari sabun sampai losion juga sudah tersedia.


Itu selimut Shane yang bawa sendiri dari rumah, soalnya kami suka agak "gimanaaa" gitu pakai selimut orang lain :'D Oh, btw itu si Onci, boneka kelinci gue juga ikut.


Nggak ada TV di kamar kami karena katanya sih konsepnya less gadget. Wifi tetap ada yang fungsinya untuk memanggil butler kalau lapar tengah malam. Tapi bukan Indi namanya kalau nggak segala dibawa, hahaha. Dengan menggunakan wifi gue dan Shane menonton film horror di laptop! Untung saja wifinya cukup kencang, jadi hanya 2 kali buffer dan sisanya aman. Sengaja pilih horror (Creep 2, karena sudah nonton yang pertama) karena itulah satu-satunya genre film yang kami nggak pernah bosan. Herannya setelah filmnya habis kami nggak ngantuk sama sekali, padahal sebelumnya kami terkantuk-kantuk di mobil. Pilihan aktivitas di tengah malam juga nggak banyak (ya kali, lol), kalau nggak makan ya lagi-lagi main musik. Oh iya, kami masak mie instan dan bubur kacang di termos elektrik, lho. Karena tadinya sudah berencana buat masak-masak di villa jadi kami bawa sekantung besar makanan. Kan sayang kalau dibuang. Cukup menantang juga, tapi hasilnya enak. Apalagi gue juga sudah iris-iris sayur dari rumah, jadi kami nggak kekurangan gizi. Istri idaman banget kan gue :D *wek!*

Semenjak menikah kalau gue insomnia Shane juga ketularan. Padahal dulu dia sih cuek saja kalau gue melek, ---atau sebaliknya. Jadilah kami zombie berdua. By the way, mungkin sih ini karena suasana di sini kurang cocok dengan "style" kami beristirahat. Tendanya sih nyaman dan cukup bersih (debu-debu di sudut atap mah wajar lah, rumah gue juga gitu, hehe), tapi polusi suaranya kencang bangeeet. Gue pikir karena kami di gunung jadi bakal sunyi gitu, tapi ternyata suara jalan raya terdengar banget. Apalagi suara motor yang ngebut-ngebut ngepot, bikin elus dada :'( Belum lagi karena di kamar nggak ada AC atau heater (hanya kipas di langit-langit) bikin malam yang dingin semakin terasa. Tenda pun jadi sedikit berkibar-kibar dan bikin kami rebutan selimut. Akhirnya gue dan Shane memutuskan untuk berjalan-jalan di luar saja. Biarlah kalau badan kami jadi berpeluh lagi setelah mandi, lebih baik daripada menahan dingin. Lagipula kami memang berjiwa horror, sudah lama memimpikan untuk bisa jalan-jalan tengah malam tapi di daerah kami terlalu ramai, hehehe. Ternyata seru juga, kami jadi bisa melihat suasana di sekitar resort termasuk tempat bonfire yang kami lewatkan. Tapi yang paling seru sih waktu kami sembunyi-sembunyi dari penjaga malam. Setiap cahaya senternya diarahkan ke dekat kami, kami langsung jongkok. Nggak apalah mengkhayal jadi buronan daripada bosan :p

Setelah jadi "buronan" pun kami tetap belum mengantuk. Sekitar jam 3 pagi (pokoknya menjelang subuh gitu) kami masuk kembali ke kamar dengan sepatu yang penuh lumpur karena hujan gerimis. Rasanya antara perasaan sama badan gue nggak singkron. Badan sudah lelah selelah-lelahnya, tapi setiap dengar suara bising dari jalan raya gue otomatis melek dan siap siaga. Syukurlah gue masih diberi tidur sama Tuhan, menjelang pagi gue akhirnya tidur sebentar (dan katanya Shane menyusul terlelap nggak lama setelah gue) dan bangun sekitar jam 8. Gue agak-agak pusing gimana gitu, sebelum tidur Shane bungkus badan gue pakai selimut ala-ala kepompong supaya gue merasa aman. Iya sih ampuh, tapi kan nggak bisa gerak, hahaha. Lagi-lagi bersyukur karena kami sudah siap obat-obatan, jadi begitu waktunya sarapan gue sudah segar kembali. Sarapannya di cafe dekat lobby yang cukup okay, tapi sayang banyak lalat. Jangan-jangan lalat dari villa sebelumnya ngikut, nih, lol. Tapi rasa makanannya cukup mengobati. Kami pesan nasi goreng (iya, sarapannya perpaket gitu, nggak all you can eat, huhu), buah-buahan, kopi dan jus mangga. Nilai plusnya mereka memasak ketika ada yang memesan, alias fresh. Terbukti karena waktu kami request nasi goreng vegan mereka menyanggupi padahal nggak ada di menu :)

Pemandangan ketika kami bangun. Indah ya, meski agak gelap karena musim hujan :)

Bangun tidur ku terus nongkrong, tidak lupa minta difoto :p

Waktu nggak bisa tidur kami jalan-jalan sampai ke bawah, lho (lihat di belakang gue).


Karena masih pagi kami jadi bisa lihat pemandangan resort dengan lebih jelas. Dan ternyata indaaaaaah sekali. Sampai hampir lupa kalau semalam bisingnya sudah kaya nonton balap liar :') Karena lagi musim hujan langit jadi nggak terlalu cerah, tapi tetap saja rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Shane langsung punya inisiatif untuk merekam gue bernyanyi dan bermain ukulele sambil memperlihatkan suasana resort. Kocak juga sih, karena lagu yang gue mainkan "Twoday" belum pernah direkam. Jadi gue cuma sok-sok lipsync gitu. Terbukti waktu videonya dicocokan dengan lagunya ternyata nggak match. Untung saja kemampuan mengedit Shane lumayan. Baru kali ini videonya duluan yang direkam baru lagu, hahaha :D Gue nggak tahu dengan hari-hari lain, tapi waktu gue dan Shane stay kayanya nggak banyak yang menginap. Waktu sarapan kami hanya bertemu dengan 2 tamu lainnya. Juga waktu merekam video kami cuma bertemu dengan beberapa petugas yang berjaga. Bagus juga sih, jadi berasa shooting video clip beneran :D *boom cess!*

Ini ayunan buat anak-anak sebenarnya. Tapi gue bebas pakai sepagian, soalnya sepi, hehehe.


Nggak ada yang ambil foto kami, ya sudah selfie :p


Nah, ini malah aneh. Gue lagi selfie eh Shane ambil foto gue, hahaha.


Ada musik = bikin lebih happy :))



Jadi apakah pengalaman glamping kami menyenangkan? Shorta! Karena sebenarnya bisa lebih baik kalau saja suasana nggak bising dan di kamar ada heather. Please jangan ada yang nanya kenapa suami gue orang Amerika yang biasa kena salju masih juga kedinginan padahal cuma hujan. Ya atuh, kan mereka juga pakai heater, saudara-saudara :') Kami sih menikmati sekali pemandangannya, juga fasilitas kamarnya. Tapi kalau bisa memilih ya lebih pilih hotel yang dekat dengan alam saja. Atau seenggaknya motel, yang penting kamar berdinding sungguhan. Apa gue merekomendasikan para pembaca yang budiman untuk mencoba glamping? IYA! Saran gue carilah tempat yang jauuuuuuh sejauh-jauhnya dari jalan raya supaya terasa menyatu dengan alam, bukan dengan knalpot :( Menurut gue glamping ini cocok banget buat yang rindu camping tapi keadaan kurang memungkinkan. Misalnya terkendala kesehatan (nggak bisa melewati jalan terjal berliku) atau sudah berkeluarga dan ada balita (eh tapi banyak juga sih balita yang naik gunung, pokoknya you know what I mean lah ya). Mudah-mudahan sih tulisan gue ini bisa memberi ide untuk kemana kalian mengisi liburan akhir tahun nanti. Dan juga untuk yang penasaran semoga pengalaman gue memberi gambaran. Terakhir, jangan lupa kalau setiap orang punya kesukaan yang berbeda. Kalau kami nggak betah karena dingin, siapa tahu kalian malah suka. So give it a try! :)

"TWODAY". Lagu baru gue dan Shane yang videonya dishoot waktu kami glamping :)


yang kemana-mana bawa sayur dan ukulele,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 05 Desember 2018

(Tiba-Tiba) Menikah.

Waktu bilang kalau gue sudah menikah banyak yang nggak percaya. Teman-teman dan saudara-saudara gue bertanya-tanya; kapan? Sama siapa? Kok nggak bilang-bilang? Lho, pacarannya kapan? ---dan lain sebagainya.
Sebetulnya jangankan mereka, gue juga masih nggak percaya kalau sekarang sudah menikah, hahaha.


Pernah punya hubungan jangka panjang yang (tujuannya sih) serius membuat gue malas untuk terlalu berbagi kehidupan pribadi gue lagi. Alasannya karena batas care dan kepo teman-teman dunia maya gue sudah makin tipis. Bukannya memberi selamat ketika tahu gue punya pacar, eh malah nanyain kemana mantan gue *palm face* Entah mereka murni nggak punya manner, polos atau karena mereka pikir pacar gue buta huruf, yang pasti itu membuat gue nggak nyaman. Padahal siapa yang tahu dengan masa depan, kan? Rencana gue (dan pasangan gue kala itu) pasti baik, tapi kalau Tuhan berkehendak lain ya pasti itulah yang terbaik. 
Tapi sekarang setelah satu bulan kami menikah, gue pikir ini adalah saat yang tepat untuk membagi cerita kami. Nggak ada yang salah sama hubungan kami. Shane itu orang baik, dan gue punya hak to tell the world. Kalau ada yang menduga-duga dan membandingkan dengan mantan itu juga hak mereka, gue nggak bisa cegah. Tapi what's matter itu siapa yang menikahi gue pada akhirnya, kan ;)

Cerita mundur ke sekitar 6 tahun yang lalu. Gue yang waktu itu baru di dunia YouTube benar-benar nggak tahu gimana cara website itu berfungsi. Akun gue kosong, nggak ada foto atau videonya. Karena waktu itu tujuan gue hanya untuk berkomentar di video-video musik idola. Dengan bantuan Bapak (as always) gue membuat 2 video pertama; video Eris, anjing gue yang sedang melakukan trik ala ala Air Bud (lol) dan video gue nyanyi di kamar sambil megang buku karena nggak hapal liriknya (---I know right, norak banget, namanya juga bocah, huahaha...). Nah, gue itu ngefans banget sama yang namanya John Frusciante, setiap ada yang cover lagunya pasti gue tonton dengan seksama. Sampai suatu hari gue nemu satu video cover di daftar rekomendasi gue, iseng-iseng gue klik. Yang di video itu cowok, namanya Shane Combs. Dia main gitar sambil nyanyi. Videonya keren, nggak dibuat-buat tapi sukses bikin gue amaze. Lalu dengan PD nya gue komentar di video itu nyuruh dia buat nonton video gue yang lagi nyanyi sambil bawa buku (---ampun dah Indi malu-maluin...). Nggak disangka cowok itu balas, katanya dia sudah nonton video gue dan dia suka. Lalu kami pun menikah lalu hidup bahagia selamanya.
Hahaha, just kidding. Sehabis komentar itu gue nggak pernah ada kontak apa-apa lagi sama dia. Murni komentar iseng, hanya menyampaikan kekaguman dan gue memang pengen pamer video :")

Di pertengahan tahun 2016 suatu kebetulan mempertemukan gue dengan dia lagi. Waktu lagi iseng baca kolom komentar video clipnya Princess Chelsea, gue nemu komentar dia! Dengan sok akrabnya gue sapa dia dan bilang kalau gue surprise karena kami dengar musik yang sama. Mungkin karena kebetulan sedang sama-sama online, dia langsung balas. Katanya dia tahu Princess Chelsea karena nonton salah satu cover gue. Agak malu juga sih karena gue pikir dia nggak pernah mampir ke channel gue lagi setelah gue "paksa" nonton video gue. *ngumpet* Dan lagi-lagi, setelah itu nggak ada obrolan lebih lanjut. Nggak tahu deh dengan kalian, gue biasanya selalu ada firasat alias hint kalau ketemu orang. Misalnya langsung tahu kalau nantinya bakal jadi teman akrab, atau sebaliknya. Nah, sama Shane ini justru nggak ada sama sekali. Pokoknya tiap ngobrol rasanya hanya sekali lewat doang. Bahkan sampai beberapa bulan kemudian waktu kami memutuskan untuk bikin lagu bareng pun nggak pakai basa-basi dulu. Dia tinggal dimana, tampangnya gimana, umurnya berapa, gue nggak tahu. Pokoknya habis lagunya selesai, ya sudah, kami kembali ke alam masing-masing :p

Jadi kapan kami mulai berteman dan naksir-naksiran? Nggak tahu. Seingat gue kami mulai mengobrol di pertengahan tahun 2017, dekat-dekat ulang tahun kami yang beda 10 hari saja. Awalnya sih seperti sebelumnya, kami membuat musik. Lalu tiba-tiba saja jadi akrab dan obrolan kami nggak lagi melulu soal musik. Setiap video call bisa berjam-jam, bahkan nggak jarang kami nggak tidur seharian dan ngobrol sampai belasan jam! Rekor yang gue ingat kami pernah ngobrol 13 jam, sampai Ibu nanya kenapa gue nggak keluar kamar selama 2 hari, hahaha. Tapi jangan dikira kami saling naksir. Hubungan kami memang istimewa, tapi kami murni bersahabat. Shane sering bercerita tentang perempuan yang dia taksir. Begitu juga gue yang sering bercerita tentang kecengan-kecengan khayalan gue yang jumlahnya segudang. Hubungan kami tanpa beban, nggak pernah sekalipun ada keingingan untuk bertemu karena sudah tahu bahwa kami ternyata tinggal di 2 negara yang dari ujung ke ujung; Amerika dan Indonesia. Bagi kami video call lebih dari cukup, kami sama-sama senang itu yang terpenting :)

Akhir Januari 2018 kami berpacaran. Lagi-lagi jangan tanya bagaimana awalnya karena kami nggak ingat. Tahu-tahu seminggu sebelumnya kami saling mengakui kalau ada perasaan memiliki dan mulai ada keinginan kuat untuk bertemu. Jadi nggak ada acara "tembak-tembakkan". Waktu itu Shane bilang kalau dia akan datang ke Indonesia agar kami bisa tinggal bersama. Orangtua gue kaget, karena nggak pernah sekalipun gue menyebut tentang punya pacar. Padahal gue juga kaget (banget), soalnya begitu jadian dia memang langsung memutuskan untuk ke sini, kok. Jadi memang nggak ada jeda sama sekali buat ngomong, ---bahkan buat mikir-mikir, hahaha. Begitu juga orangtua Shane, mereka kaget karena anaknya belum pernah ke luar negeri atau bahkan mengenal sedikit pun tentang Indonesia, ---tapi tiba-tiba saja bilang kalau akan menetap! (Yup, saudara-saudara, bayangkan gimana reaksi ibunya begitu tahu cowok satu-satunya mau tinggal bareng cewek yang belum pernah ditemui).
Gue pernah bertanya apa dia nervous akan meninggalkan segala kenyamanan di negaranya dan harus belajar bahasa yang sama sekali baru. Dia bilang "nggak", dia malah excited karena artinya nggak harus lewat video call lagi untuk "bertemu" dengan gue. Katanya, kalau di telepon saja kami sudah bahagia, apalagi di dunia nyata nanti. Dan gue setuju dengannya :)

Jika pasangan yang berasal dari beda negara identik dengan LDR alias long distance relationship, itu nggak berlaku buat kami. Dan gue sangat bersyukur dengan itu! Shane segera mengurus passport, visa dan barang-barang apa saja yang akan dibawa. Maret 2018 dia sudah siap terbang ke Indonesia dan selama menunggu yang kami bicarakan adalah betapa nggak sabarnya kami untuk bertemu, ---juga rencana untuk menikah. Iya, menikah. Awalnya gue pikir Shane hanya becanda karena kami memang sering bergurau dan gue memang belum menemukan "sisi romantis" darinya. Tapi semakin lama gue jadi yakin kalau dia bersungguh-sungguh karena nada bicaranya selalu terdengar lebih serius setiap dia berbicara tentang hubungan kami. Gue pikir, kalau pun nanti dia berubah pikiran karena belum pernah bertemu gue sebelumnya, ya sudah. Gua akan minta dia pulang lagi ke negaranya, hahaha.

And here we are now, kami menikah di bulan Oktober 2018 dengan dihadiri oleh beberapa anggota keluarga saja. Alasannya karena gue ingin pernikahan kami khidmat dan sakral. Gue pernah bermimpi bagaimana rasanya menikah, tapi ternyata yang gue alami ini lebih indah daripada impian. Gue menikahi sahabat gue! :) Setiap detik yang gue alami rasanya seperti mimpi, sepanjang prosesi pernikahan gue nggak bisa berhenti tersenyum. Jalan Tuhan memang misterius, video konyol di YouTube itu ternyata jalan kami untuk saling menemukan belahan jiwa. Gue nggak akan pernah menganggap sepele lagi setiap hal kecil yang terjadi di hidup gue, karena siapa tahu itu clue Tuhan untuk sesuatu yang lebih besar.


Dan soal hint, atau firasat. Saat menulis ini gue jadi sadar kalau sebenarnya "tanda-tanda" itu sudah ada tapi guenya saja yang cuek, ---mungkin karena terlalu menganggap kalau Shane itu nggak akan pernah lebih dari sahabat. Pernah suatu hari Shane memberi gue batu yang dia ambil dari depan rumah John Frusciante, idola gue. Gue bilang, jika suatu hari nanti gue menikah, gue akan meminta calon suami gue melamar dengan batu itu. Dan yang kedua, tahun lalu gue menulis lagu yang berjudul "If I". Liriknya seperti ini; "If I get married today, I will wear white dress and flower crown." Satu hari sebelum menikah Shane membelikan gue gaun putih bermotif batik dan mahkota bunga. Coba tebak?! Gue benar-benar memakainya di hari pernihakan kami! :)
Jadi rupanya dia sudah di sini bersama gue the whole time, my best friend is my husband.

Ah, rasanya gue ingin bercerita lebih banyak lagi tentang kami. Tapi mungkin lain kali karena sebentar lagi Shane akan selesai cuci piring sehabis memasak untuk kami, hihi. Sekarang gue mau siap-siap istirahat dulu. See you, teman-teman! :)


xx,

Indi



Lagu baru Indi dan Shane di sini: KLIK


----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 10 November 2018

Indi Kembali saat Halloween! :)

Ini beneran bulan November? Ya, ampun tahun 2018 sudah mau lewat tapi tulisan gue di sini cuma berapa biji? :') Hahaha. Dulu, waktu pertama kali bikin blog tujuan gue buat menyimpan kenangan atau pengalaman. Iya sih foto dan video bagus buat menyimpan memory, tapi buat gue tulisan punya keistimewaan tersendiri karena yang tersimpan bakal dari sudut pandang gue :) Nah, berhubung belakangan gue jadi jarang menulis, hati kecil gue sebenarnya menyesal... Ada beberapa moment berharga yang rasanya lewat begitu saja, sniff... Tapi daripada sedih berlarut lebih baik gue menulis satu-persatu kejadian apa saja yang gue ingat di sini. Biar tulisannya delay yang penting kalau nanti-nanti dibaca kembali kan bisa bikin gue bernostalgia. Apalagi suami gue sudah janji untuk mengingatkan gue menulis minimal satu minggu sekali supaya nggak menyesal lagi. ---Rrrr, iya kalian nggak salah baca, kok. Suami. Gue sudah menikah (tuh kan banyak cerita yang terlewat...) dan kapan-kapan pasti gue ceritakan di sini. Sekarang mumpung Oktober baru lewat gue akan cerita tentang Halloween saja dulu, deh ;)


Sebelum cerita, nggak bosan-bosan dari tahun ke tahun gue bilang kalau Halloween di keluarga gue nggak sama dengan originnya. Kami hanya meminjam nama tanpa bermaksud being disrespectful. Mungkin untuk teman-teman yang baru mampir ke blog ini bisa buka label "Halloween" supaya mengerti apa yang gue maksud :) 
Well, selain adanya Shane alias suami, tahun ini juga ada hal lain yang berbeda. Kalau biasanya gue pakai kostum suatu tokoh (supaya nantinya bisa difoto side by side sama aslinya, hehehe), tahun ini gue pakai kostum sangat amat seadanya banget! Bukan tanpa alasan, Ibu yang biasanya membuatkan gue kostum sedang sibuk dan gue masih belum juga bisa memutuskan akan jadi apa sampai mendekati malam Halloween. Justru Ali, keponakan gue yang baru berusia hampir 3 tahun lah yang sudah mantap akan jadi apa sejak jauh-jauh hari :D Ditambah lagi Shane bukan tipe orang yang senang berkostum meski sangat antusias dengan Halloween, jadi gue pikir nggak apa-apa lah karena kreatif kan nggak harus melulu soal kostum *wink* Karena nggak memikirkan kostum gue jadi bisa lebih bisa konsentrasi dengan dekorasi. Nggak ribet-ribet sih, gue hanya meminta Shane untuk memilih template bunting (bendera gantung) yang lucu-lucu. Lalu setelah itu kami bawa ke tempat fotokopi untuk dilaminating supaya kelihatan lebih bagus dan durable (jadi tahun depan nggak usah bikin lagi, lol). Shane juga sudah beli banyak sekali laba-laba mainan untuk disebarkan di seluruh ruangan. Gue suka ide itu, sederhana tapi efektif. Dan berhubung Halloween identik labu, gue juga sudah membuat lilin berwarna orange yang dibuat dari crayon dan menggambar jarnya (bekas selai) dengan wajah Jack O'Lantern. Sisanya sih kami hanya pakai apa yang sudah ada di kamar gue.


Waktu gue pikir semuanya sudah siap, tepat di hari H baru sadar kalau gue salah menulis tanggal undangan ke teman-teman! Seharusnya tanggal 30 Oktober, tapi gue tulis tanggal 31! Untung saja gue sadarnya pagi-pagi jadi mereka tetap bisa datang meski mendadak dan gue dibanjiri protes karena mereka nggak sempat menyiapkan kostum, hehehe (^-^ ')v 
Habisnya mau bagaimana lagi, di tanggal 31 gue dan Shane sudah berencana untuk ke rumah hantu, dan ditambah, Ali pasti akan kecewa berat kalau Halloweennya ditunda. Gimana nggak, dia sudah menunggu Halloween sepanjang tahun. Bahkan sudah latihan bilang "Happy Halloween" untuk video gue sejak Halloween lalu, ---yang mana waktu itu dia masih gue gendong dan belum terlalu lancar bicara. ---Aww, time flies :') 
Gue nggak mengundang banyak orang, seperti biasa acara seperti ini biasanya hanya kumpul di rumah bersama keluarga. Jadi kalaupun ada teman hanya beberapa saja. Apalagi gue pikir nggak fair buat Shane yang nggak bisa mengundang teman-temannya ke sini. Kampung halamannya jauh, di Amerika. Dan di sini dia belum punya teman selain orang-orang yang gue kenalkan, jadi gue ingin membuat suasana sehangat mungkin alias nggak asing. 


Beberapa saat sebelum teman-teman gue datang, Ali sudah mandi sore dan bersemangat sekali. Sebenarnya sih sudah dari pagi, tapi Ibu sempat membawanya ke rumah Nenek supaya nggak mengganggu gue dan Shane yang sedang siap-siap xD Ali pakai kostum Superman, sedangkan gue memakai dress lama berbunga-bunga dan juga mahkota bunga. Ceritanya jadi putri bunga, hehehe. Kalau Shane malah super spontan alias tanpa rencana. Karena kehabisan baju bersih jadi gue minta dia pakai kaus yang Ibu belikan buat gue. Gue nggak begitu perhatikan gambarnya, pokoknya asal nggak ambil baju dari keranjang cucian, titik. Tapi rupanya "kostum" Shane malah yang paling keren karena setelah diperhatikan motif kausnya mirip percikan darah! Hahaha, kami sampai nggak bisa berhenti ketawa waktu sadar soal ini, lucky him! :D Dan rupanya keberuntungan Shane nggak habis sampai di situ saja. Kami sempat berselisih kecil karena Shane salah perhitungan waktu membuat graveyard cake. Akibatnya cakenya hancur! Gue sampai hampir menangis karena teman-teman gue sudah di depan rumah. Tanpa pikir panjang gue minta dia masukkan cake hancur itu ke dalam beberapa gelas dan atasnya diberi permen cacing. Dirt cake darurat! Kalau teman-teman suka ya syukur, kalau nggak pun nggak apa-apa asalkan kue gagal ini jangan dibuang. Gue sudah siap-siap malu dan bikin tameng dengan bilang"ini buatan Shane" sebelum ada yang protes. Tapi ternyata hasilnya nggak jelek, "Halloween banget" dan rasanya enak! Beruntung sekali, kan! :D Selain dirt cake darurat kami juga memakaikan kostum seram ke kotak susu soya dan jus mangga. Ibu juga menyumbangkan rujak Malaysianya yang rasanya segar. Lainnya gue memesan pizza (iya, karena ingin praktis, maafkan ya nggak bikin, hehehe), soda dan chips. Treatsnya cukup bisa dinikmati sama segala usia. Karena selain Ali, ada dua orang teman gue yang juga membawa anak-anak mereka :)



Meski tahun 2018 belum berakhir, tapi gue sudah bisa bilang kalau Halloween salah satu hari terbaik di tahun ini. Gue sangat bahagia dan merasa sangat dicintai di tengah orang-orang terfavorit gue di dunia. Ketika semua terlibat, ketika semua menikmati, ketika semua tersenyum... rasanya nggak ada yang bisa membuat gue down. Tahun lalu adalah masa yang sulit untuk gue. Kesehatan gue drop, kehilangan seorang sahabat dan keluarga gue membuatkan pesta Halloween untuk membantu gue merasa lebih baik. Dan tahun ini kesehatan gue kembali, juga sahabat gue kembali, ---sebagai seorang suami :) Jadi bertambah lagi alasan mengapa Halloween sangat berarti untuk gue. Ini bukan hanya hari dimana kami berpesta kostum, menghias rumah atau meminjam budaya Irlandia. Tapi Halloween adalah pengingat betapa keluarga begitu mencintai gue. Dan pengingat bahwa seburuk apapun keadaan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik. 

---

Ah, rasanya gue masih belum seluwes biasanya karena terlalu lama berhenti menulis. Tapi nggak apa, karena yang terpenting gue senang bisa kembali menyimpan memory di sini. Dan menulis tentang Halloween adalah cara yang menyenangkan untuk memulai kembali ;)


boo,

Indi

_____________________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Sabtu, 08 September 2018

Guruku Berbulu dan Berekor: Donasi Sudah Mulai Berjalan :)

Gue menulis ini di pagi buta sambil nunggu sarapan. Menikmati sekali awal musim hujan ini, bikin makan dan istirahat makin nikmat, hihihi. Kalau kalian sendiri gimana kabarnya? Semoga baik-baik saja dan sama "nikmat"nya seperti gue, ya :) 
Beberapa waktu yang lalu gue share kabar tentang buku terbaru gue yang judulnya "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua" (yang belum tahu silakan klik di sini). Nah gue punya dua kabar sekaligus tentang buku ini, nih! Yang pertama, gue memutuskan untuk mengubah tampilan sampulnya. Dan yang kedua, keuntungan dari penjualan buku sudah didonasikan! (Yay!).

Guruku Berbulu dan Berekor :)

Kenapa sampulnya diganti? Alasannya sebenarnya murni spontanitas gue saja. Sampul awal memang cute, tapi gue merasa kurang personal. Jadi dengan dibantu Shane, pacar gue, kami mendesain ulang sampulnya. Sesuai dengan isi buku yang berisi kumpulan kisah nyata manusia dengan hewan peliharaannya, gue pakai foto Eris, ---anjing peliharaan gue yang telah memberikan banyak pelajaran berharga untuk gue dan keluarga :) Prosesnya lumayan cepat, satu malam saja dan dengan mood yang super positif. Buat gue itu penting karena gue percaya saat mengerjakan sesuatu mood kita akan terpancar dari hasilnya. Gue puas dengan hasilnya. Bukannya ke-PD-an, tapi kepuasan ini datang karena proses pengerjaan benar-benar hanya dilakukan berdua, dan foto yang digunakan pun sangat personal, diambil oleh Bapak beberapa waktu lalu. Goal untuk menerbitkan buku ini dengan cara se"indie" mungkin pun rasanya sudah cukup tercapai karena budget yang gue keluarkan minim. Setelah 4 buku gue sebelumnya diterbitkan oleh penerbit major, ini adalah kali pertama karya gue diterbitkan secara mandiri. Bukan tanpa alasan, karena setelah dihitung-hitung keuntungannya akan lebih "terasa" dibandingkan jika diterbitkan secara konvensional. Itu artinya jumlah uang yang donasikan dari penjualan perbuku kali ini lebih besar dibandingkan "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian yang pertama! :D

Sampul baru, bersama Gift yang berenang di akuariumnya, hihihi.

Kendala tentu saja ada, terutama soal promosi yang hanya mengandalkan sosial media gue yang followernya masih jauh dari kata banyak. Berbeda dengan buku-buku gue dulu orang bisa temukan di website penerbit dan toko buku :') Meski begitu gue percaya usaha akan membuahkan hasil. ---Sekecil apapun hasil tetap saja hasil. Gue bersyukur sekali semenjak diterbitkan donasi "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua" sudah disalurkan ke dua penampungan hewan. Yang pertama adalah "Shelter Pak Johan" di libur Lebaran lalu. Pak Johan ini awalnya pengusaha limbah plastik, dan berawal dari rasa iba tempat usahanya itu lambat laun berubah menjadi penampungan hewan! Sekarang beliau sedang memerlukan biaya untuk membeli lahan dan biaya untuk membangun. Lokasinya di Tanjung Kait, Tangerang. Gue salut sekali dengan beliau dan sangat mendukung langkahnya ini. Sekarang jumlah donasi untuk Shelter Pak Johan dari buku gue ini hanya sedikit, tapi gue berharap akan terus bertambah dan akan bisa di kemudian hari :)

Donasi untuk Shelter Pak Johan.

Donasi yang kedua disampaikan ke "Cat Life for 16 Cats, street cats rescue". Gue menemukan akun penggagasnya di Instagram dan salut dengan usahanya menyelamatkan kucing-kucing jalanan. Bukan hanya yang sehat, banyak juga diantaranya yang dalam keadaan sakit berat :( Yang paling dibutuhkan oleh mereka adalah pakan kucing, baik untuk kucing dewasa atau kitten. Nah, setelah gue cek ternyata alamatnya nggak terlalu jauh dari gue, sama-sama di Bandung! Gue putuskan untuk membeli cat food dari keuntungan buku. Lagi-lagi, gue tahu jumlahnya nggak banyak. Tapi gue harap ini jadi pengingat bahwa masih ada orang yang peduli dengan hewan, sekalipun hewan yang "tak bertuan". Salut :)

Donasi untuk Street Cats Rescue.

Sesedikit apapun keuntungan yang gue dapat dari buku ini gue bertekad untuk terus mendonasikannya pada hewan-hewan yang membutuhkan. Gue ingin "Guruku Berbulu dan Berekor" ini bukan sekedar buku, tapi juga gerakan atau movement. Teman-teman yang ingin membantu bisa hubungi gue untuk membeli bukunya. Bisa kirim pesan pribadi di media sosial gue (Facebook: Indi Sugar atau Instagram @indisugarmika) atau email namaku_indikecil@yahoo.com. Harga perbukunya Rp. 60.000, ---iya, naik sedikit dari sebelumnya karena harga kenaikan kertas. Dan jika membeli buku belum memungkinkan gue harap kalian meluangkan waktu untuk membagi kabar tentang buku ini ke orang-orang yang kalian kenal. Dan jika itu belum memungkinkan juga, setidaknya doakan agar gerakan ini terus berjalan, ya, hehehe. Sekian dulu kabar gue tentang "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua". Semoga di tulisan selanjutnya akan ada kabar baik lagi. Selamat menikmati musim hujan, see ya! ;)

Video book trailer untuk Guruku Berbulu dan Berekor 2


yang menulis karena ingin berbagi,

Indi 

 _____________________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com