Selasa, 04 Agustus 2015

Jatuh Cinta Lagi dengan SpineCor (Hope for Scolioser) :)


Howdyyyyy bloggies! Apa kabar semuanya? Hehehe, liburan sudah selesai dan sekarang waktunya kembali ke aktivitas masing-masing, ya. Well, kalau aku sih jujur saja masih kangen deangan suasana Lebaran. Loads of foods, dikunjungi sepupu-sepupu, jalan-jalan.... :p Tapi kalau begitu terus bisa-bisa hari libur jadi nggak istimewa, hehehe. Jadi sambil menunggu libur panjang berikutnya aku mengerjakan project-project yang sudah direncanakan. Semoga kita semua selalu semangat, ya ;)

Sepertinya teman-teman di sini sudah tahu bahwa aku adalah seorang scolioser, atau pengidap scoliosis. Sejak usia 13 tahun sampai dewasa sudah banyak terapi yang aku coba, dari mulai terapi fisik sampai bracing. Yang paling lama aku jalani adalah bracing dengan boston brace selama 5 tahun. Kurvaku bertahan nggak bertambah selama beberapa waktu tapi lama kelamaan, wuzzzz, naik dari 35 derajat ke hampir 60 derajat, huhuhu. Nah, 9 bulan terakhir aku mulai bracing dengan SpineCor, ---brace yang bentuknya soft berbeda dengan tipe lain. Meski belum dalam hitungan tahun ternyata aku sudah bisa merasakan hasilnya, kurvaku turun menjadi 40 derajat! Yup, hanya 5 derajat lebih besar dari saat pertama kali scoliosisku terdeteksi :'D Luar biasa banget, kan? Tapi nyamannya SpineCor pun kadang bukan tanpa godaan. Adaaaa saja hal yang bikin aku 'lupa' untuk disiplin. Seringnya sih karena aku sudah merasa puas dengan hasil yang kucapai, hehehe.

Ada yang nyangka nggak, kalau aku pakai SpineCor di balik dress ini? ;)
Hihihi, SpineCor tersembunyi dengan sempurna karena cuma sedikit lebih tebal dari tank top :)

Atas saran dokterku, dr. Natalie Liem dari Spine Body Center, aku menghubungi Tante Novi, ibu dari salah seorang pasiennya yang juga pemakai SpineCor. Katanya supaya bisa tahu langsung pengalaman Fahira, karena ia termasuk salah satu pasien yang sukses. Kenapa ia sukses? Ya, karena disiplin dalam pemakaian SpineCor nya, dong, hihihi. Dengan bantuan Dr. Natalie aku menerima email yang berisi testimoni dari Tante Novi. Seru banget bacanya, dan Tante Novi juga mengizinkanku untuk berbagi ceritanya di sini, lho! ;)

"Berawal dari rasa penasaran kami melihat tulang belikat kanan anak kami “Fahira Syifa Machfudz” yang lebih menonjol dari pada tulang belikat kirinya tapi tidak ada keluhan apapun saat itu...
BINGUNG.....
Kenapa ini? Ada apa dengan anakku? neneknya yang pertama kali sadar dan memaksa kami untuk memeriksakan keanehan itu tapi kami juga tidak tahu harus kemana dan harus ke dokter apa kami memeriksakannya.
Karena pada saat itu Fahira masih berumur 12 tahun maka saya bawa dia ke dokter spesialis anak dan beliau merujuk ke dokter spesialis tulang. Tibalah kami bertemu dengan dokter spesialis tulang, beliau tidak banyak bicara hanya bilang “Oo anak ibu skoliosis.”
Sudah??
Hanya itu yang dikatakannya sambil mencatat report medisnya.
Sementara saya yang seorang ibu yang khawatir dengan kondisi anaknya menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter itu selanjunya mengenai sakitnya anak saya. Tapi kata2 itu tak kunjung keluar dari mulut beliau. Sampai akhirnya dengan sedikit memaksa dan sok tahu saya bertanya tentang apa itu SKOLIOSIS?
Dok.. skoliosis itu apa?
Kenapa bisa terjadi skoliosis pada anak kami?
Apa penyebabnya?
Adakah obat yang akan menyembuhkannya?
Lalu apa yang akan terjadi kalau kami membiarkan skoliosi itu pada anak kami? 

Ini jawaban beliau;
"Skoliosis itu tulang punggung yang bengkok, penyebabnya ya banyak bisa karena kebiasaan buruk yang dilakukan berulang-ulang atau memang keturunan. Nanti saya kenalin deh sama orang yang suka bikin jaket untuk skoliosis (hard brace maksudnya), dia bisa bikin dengan harga murah daripada ibu harus beli ke Singapur harganya mahal di sana bisa 8 jutaan lebih ditambah lagi nanti setiap 3 bln sekali dia hrs memeriksakan ulang posisi brace dan tubuh si anak."
Saat itu saya betul-betul khawatir dengan kondisi anak saya yang harus memakai hard brace itu, mengingat orang yang pakai behel gigi saja suka mengeluh sariawan karena tekanan benda keras di gusi, dan itu pasti akan terjadi pada anakku juga, di beberapa bagian tubuh tertentunya, ditambah lagi dengan adanya hard brace itu, gerakan anakku dalam bergaul menjadi tidak leluasa, kasihan ya (pikir saya).
Selama setahun kami mencari jalan bagaimana caranya kami dapat memberikan pengobatan kepada anak kami tanpa harus membatasi ruang geraknya dia dan tidak menyulitkannya, kami beri dia les private berenang dengan guru khusus, yoga dan mencari tahu tentang pengobatan alternatif sampai menemukan rumah skoliosis, ternyata banyak ya pengidap scoliosis di Indonesia ini.
Selang setahun berlalu, saya bawa kembali fahira ke dokter yang tadi dan saya minta untuk di Xray dan hasilnya dia bacakan dan memang tidak ada perubahan yang berarti.
SEDIH :(
Tapi tetap saya saya googling dan kaget saya begitu saya membuka google dan menemukan kasus skoliosis yang amat sangat parah dan harus di operasi kemudian setelah operasipun pasien tidak seratus persen sembuh tetap ada efek sampingnya, takut saya bacanya.  

Dengan searching sampai lah kami menemukan Spine Body Center. Kesan pertama bertemu dengan Dr. Fong and team yang menawarkan SpineCor®, membuat hati saya tenang meskipun pada saat itu saya hampir tidak mempercayai nya. Disamping kekecewaan saya terhadap dokter yang pertama saya temui, saya juga tidak percaya, masa tali temali bisa membuat skoliosis anak kami sembuh? dengan harga yang ditawarkan, mungkin saat itu saya berpikir mending beli sepeda motor saja. Tapi untung pikiran itu hanya melintas begitu saja yang akhirnya saya memutuskan untuk membelinya.
Tidak semudah yang di bayangkan, ternyata awal mengenakan brace amat sangat mengganggu bagi anakku, ada saja alasannya. Dia harus bangun 10 atau 15 menit lebih awal dari biasanya. Kemudian rasa pegal yang mendera, dia jadi sering bete di awal penyesuaian.
Tak henti2 kami di rumah menasehati, dari mulai bahasa yang amat sangat manis sampai ancaman pernah kami lakukan, ancaman dengan memperlihatkan gambar2 kasus skoliosis yang parah. Team dari Spine Body Center juga demikian, mereka memberikan pujian agar anak kami mau dan tidak malas memakai SpineCor® brace.
Hari berlalu waktu berjalan tak terasa sudah hampir 5 tahun anak kami memakai SpineCor® brace itu, terimakasih Tuhan kami masih dicukupkan rejeki hingga sampailah kami menemani anak kami menjalani pengobatan dengan hasilnya saat ini. Berdasarkan progress selama 5 tahun ini, kami merasa sangat puas dengan perkembangan perubahan derajat kebengkokannya, yang cukup stabil, tidak bertambah derajatnya. Info yang  kami peroleh, derajat kebengkokan akan terus bertambah seiring dengan waktu, akan tetapi dalam kondisi anak kami, derajat kebengkokan tetap stabil dari awal menggunakan SpineCor® sampai saat ini.
Tulangnya belikatnya sudah tidak terlalu menonjol lagi, meskipun masih ada. Minimal jika dia memakai baju modis tidak terlalu terlihat kelainannya dan meskipun dia memakai brace tapi kegiatannya tak terbatasi dia masih tetap berkegiatan sebagaimana anak ABG lainnya, di sekolah bahkan dia masih mengikuti les dan kejuaraan dance hiphop dan meraih juara 1 sejabodetabek lomba dance hiphop."
SpineCor gak bikin gerakan terbatas. Tuh, lihat masih bisa menang lomba dance :)

Wah, inspiring sekali ya ceritanya? Bikin aku semakin semangat agar terus disiplin dalam pemakaian SpineCor! Aku bahagia sekali dengan kemajuan yang kudapat sejak memakai SpineCor, tapi bukan berarti aku boleh merasa cukup. Aku bisa lebih baik dari ini, seperti Fahira yang setiap tahun semakin membaik kondisinya. Membaca cerita Tante Novi juga membuatku tersenyum, karena rupanya bukan hanya aku yang tertolong dengan SpineCor. Ada Fahira, dan mungkin banyak orang lain di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Berbagi cerita, meskipun nggak bertemu langsung bisa membuat orang yang membacanya termotivasi. Aku termotivasi karena membaca cerita Fahira. Apakah kalian kenal dengan seorang scolioser? Atau malah kalian juga scolioser? Jangan berhenti berbagi, karena siapa tahu cerita kalian menjadi harapan bagi orang yang membacanya! :)


nb: Aku dan Fahira memakai SpineCor dari Spine Body Center (APL Tower Lt. 25, samping Central Park, tlp: 021 33072111). Di sana kalian bisa mendapatkan SpineCor resmi dengan dokter-dokter yang berpengalaman. 

cheers,

Indi

 _______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

41 komentar:

  1. Jangan di jadikan alasan untuk tidak bisa ikutan kegiatan diluar sana yang seru karena hanya ada 1 halangan yang membuat tidak percaya diri. Kak indi dan kak fahira sudah membuktikannya, karena tidak ada batasan untuk berkarya. #SemangatIndi

    BalasHapus
  2. Indie, saya setuju dengan quotenya. Berprestasi terus, ya! :)

    BalasHapus
  3. uwaa keren.inspiratif sekali ceritanya mbak... semangattt^^

    BalasHapus
  4. keliatan keren ya pake spinecor :)

    BalasHapus
  5. semangat ya...salut ama para pejuang ini..kisah yg bener2 menyentuh...

    BalasHapus
  6. dulu aku gak ngerti skiolosis loh sejak kenal Indi di blog aku mulai baca-baa penjelasannya

    BalasHapus
  7. kak Indi spinecore nya jadi mirip baju daleman ya kalo dari belakang hihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, itu pointnya. SpineCor membuat pemakainya seperti pakai baju dalam biasa aja :)

      Hapus
  8. baru tahu Indi scolioser dan baru tahu tentang scolioser.. Iya yang kuat ya Indi.. tetep semangat dan tetep happy.. kata-kata indi dalam bingkai gambarnya inspiratif.. :)

    BalasHapus
  9. Baru denger saya mbak yang begituan....

    Btw salut buat prestasi mbaknya....

    BalasHapus
  10. teman ku juga ada yang memakai semacam spinecor gitu mbak karena sakit punggungnya, memang harus disiplin sih mbak, setelah beberapa bulan memakai, akhirnya dia sehat kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, sakit punggung ya? Kalau sakit tentu bisa sembuh kembali. Kalau scoliosis itu bukan penyakit, tapi istilahnya kelainan. Jadi gak bisa disembuhkan, hanya dikoreksi. SpineCor ini fungsinya mengoreksi atau minimal mengurangi resiko kurva gak bertambah. Begitu juga dengan operasi, itu fungsinya untuk mengoreksi, bukan "menyembuhkan" :)

      Hapus
  11. mesti disiplin pemakai SpineCor nya mba :)

    BalasHapus
  12. spinecore kayanya saya baru denger mba, tetap semangat ya mba

    BalasHapus
  13. Halo teh indi, seneng banget deh baca2 blog nya. Menginspirasi banget
    Kebetulan aku jg penderita skoliosis. Aku tertarik banget sm SpineCor. Jd pengen pakai jg.
    Teh boleh minta rekomendasi dokter di Spine Body Center
    makasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, jangan bilang penderita, dong. Bilang aja pengidap, atau scolioser :) Di Spine Body Center dokternya bagus-bagus, kok. Aku cocok sama dr. Natalie, tapi waktu beliau berhalangan pernah sama dr. Irma dan beliau juga enak diajak konsultasi. Coba aja ke sana dulu supaya tahu enaknya sama siapa :)

      Hapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. SpineCor ini jadi semacam alat terapi juga ya..
    klo pakai yang resmi sepertinya lebih menjanjikan hasilnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu, karena SpineCor yang resmi juga berarti ditangani oleh dokter-dokter yang berpengalaman :)

      Hapus
  17. wah, meskipun kurang paham juga sih soal spinecor, namun kata-katanya yang bisa jadi media introspeksi diri, biar nggak ngecap skoliosis itu sebagai penderita.

    BalasHapus
  18. kaya dililitin gitu yah..
    yang bikin kagum, malah lebih berprestasi daripada aku, dan mungkin kami2 yang ngidap itu.

    quotes terakhir setuju banget, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau untuk yang masih di bawah 18 tahun bentuk celananya dililit-lilit gitu, supaya mudah adjustment nya karena masih masa pertumbuhan. Kalau punyaku bentuknya gak dililit, tapi seperti celana biasa :)

      Hapus
  19. baru tau mengenai scolioser tadinya ku pikir itu istilah" baru lagi ternyata sy saja yang belum tau
    jd dapat pengetahuan baru nii

    BalasHapus
  20. Scoliosis itu butuh di terapi ya supaya cepat sembuh, dan biasanya perlu menggunakan bantuan rangka atau brace. Tapi kenapa ngga di langsung dioperasi aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena berbagai alasan gak semua scolioser perlu operasi; Karena kurva masih di bawah 40, terlalu beresiko, scoliosis gak mengganggu aktivitas sehari-hari, atau karena pilihan dari pasien/keluarga. SpineCor dan brace lainnya memang diperuntukan untuk scolioser yang masuk ke kelompok yang aku sebutkan tadi. Dan perlu diingat bahwa scoliosis bukan penyakit, tapi kelainan. Jadi baik itu operasi atau bracing gak bisa menyembuhkan scoliosis, hanya mengoreksi. Tapi di bawah 10 derajat biasanya dikategorikan sebagai "normal" :)

      Hapus
  21. baru tahu tentang scoliosis, syukurlah kalau ada alat yang bisa membantu untuk penyembuhan scoliosis tanpa perlu operasi

    BalasHapus
  22. Cantik kak indi..
    Kayak anak2 sekolahan di jepang atau korea gotu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mah kaya anak sekolahan di Bandung, hehehe. Terima kasih, ya :)

      Hapus
  23. keren meski memiliki keterbatasan tetap bisa jadi juara

    BalasHapus
  24. keterbatasan bukan berarti seseorang harus membatasi karya.kadang orang yang mempunyai keterbatasan fisik memiliki prestasi lebih..

    BalasHapus
  25. yay you are so cute <3
    http://coeursdefoxes.blogspot.com/

    BalasHapus
  26. Keren ceritanya, menginspirasi :)

    BalasHapus
  27. kaka, aku juga punya penyakit bawaan dari lahir, paling sedih kalo orang bertanya kenapa bisa, kenapa berbeda, :') padahal kita sama aja seperti yang lain, kita kuaat kak. Semoga kaka selalu menginspirasi yaa ♥

    My Little Cream Button ♥

    BalasHapus
  28. KA INDI KEREN BANGET!!! Kita sama samaa semangat ya kak💕💕💕

    BalasHapus
  29. KA INDI KEREN BANGET!!! Kita sama samaa semangat ya kak💕💕💕

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)