Indi's Friends

Kamis, 28 Juli 2011

I welcome Sponsorship on My Blog! :D










I welcome sponsorship on my blog!





Bentuk sponsor ada dua pilihan:

1. Sponsored Item/Review

Jika anda memiliki toko, produk atau jasa dan ingin saya mengiklankannya di blog saya, anda dapat mengirimkan produk anda dan saya akan mereview'nya di blog saya. Review akan bertahan di post selama 1 minggu sebelum post berikutnya.


2. Sponsored Giveaway

Saya akan membuat giveway (kuis) dengan produk anda sebagai hadiahnya.


(Saya merima produk makanan, kecantikan/kosmetik/salon, gadgets dan semua produk fashion KECUALI pakaian yang serupa/sejenis dengan Toko Kecil Indi).


Kelebihan menjadi sponsor di blog saya:

- Blog saya dikunjungi oleh ribuan pengunjung.

- Blog saya memiliki +500 followers hanya dalam hitungan bulan.

- Blog saya sering mendapatkan award dan di review oleh blogger lain.

- Blog saya sering dipromosikan di acara TV, majalah, fans page (dengan jumlah +20.000 orang fans) dan twitter (dengan jumlah +1.000 orang followers)

- IT'S CHEAP AND EFFECTIVE!


Tarif:

Anda memberikan produk atau jasa kepada saya termasuk akomodasi (jika ada tempat yang harus dikunjungi).
Jika produk tidak memungkinkan untuk dikirim/tempat tidak memungkinkan untuk dikunjungi, anda dikenakan tarif Rp.50.000 untuk satu minggu penuh.


Jika tertarik silakan SMS saya di 081.8618.363.


Indi (click here to my twitter)




UPDATE: Sampai 21 November 2011 followers blog ini sudah bertambah menjadi 888 followers, twitter menjadi 1.679 followers dan sudah mendapat 7 sponsor.


photographer: daddy

wardrobe: toko kecil indi

Selasa, 26 Juli 2011

Dork is a New Cool (and "Hello Stranger" photoshoot with my Brother) :D

Waktu kecil sampai awal remaja, gue sering dipanggil si kutu-buku, geek, nerd bahkan dork. Semua panggilan itu datang berkat penampilan gue yang berkaca mata tebal dan berback-brace. Bayangkan saja sejak masih SD mata gue sudah minus dan semakin bertambah parah beberapa tahun kemudian (sampai sekarang). Dan di waktu gue SMP "aksesoris" gue nambah lagi karena gue di vonis scoliosis. I wore a back brace for a whole my teenage years. Ya, I am a truly nerd.


Nerd. n Slang: unattractive person (Free Dictionary by Farlex).


Dengan penampilan seperti itu (dulu) gue sering dianggap lemah. Berteman dengan gue dianggap "kurang keren" dan nggak asyik untuk diajak hangout. Gue ingat waktu SMP ada sekelompok anak perempuan yang berpendapat bahwa gue nggak menarik. Salah satu dari mereka pernah bilang kalau gue mungkin nggak akan pernah punya pacar. Laki-laki suka perempuan yang seksi dan menarik. Bukan yang wajahnya hampir nggak kelihatan karena terlalu banyak "aksesoris". Begitu.
Waktu itu gue pikir, bagaimana mereka mengerti soal seksi dan apa yang disukai laki-laki? For God sake, they're only 13...

Bukannya gue nggak peduli, gue juga terkadang nangis dan mengadu sama Ibu. Tapi nggak sering karena meski Ibu pernah remaja (of course! Hehe), gue yakin situasi sekarang pasti berbeda dengan dulu. Gue lebih nyaman cerita sama buku harian dan sometimes I'm crying until fall a sleep, berharap besok lebih baik.
I don't know what's wrong with me. I love myself, gue nggak pernah membenci apapun dari diri gue. Gue bahkan suka kaca mata dan brace gue. Gue baru tahu artinya "minder" setelah ada yang mengejek habis-habisan. Diluar itu, ya gue nyaman.

Gue terus berkaca mata sampai kelas 3 SMA. Semakin tebal tetapi semakin percaya diri. Gue duduk satu bangku dengan Dhian, perempuan yang juga berkaca mata ---note this--- tebal. Tanpa sadar kami membuat satu sama lain lebih kuat. Waktu SMP gue selalu takut untuk pergi ke perpustakaan meski sebetulnya itu tempat kesukaan gue. Tapi di SMA gue nggak perlu takut diganggu kakak kelas "seksi" (yes, seksi dalam tanda kutip dalam artian minim --pakaian dan cara berpikirnya--, they're shallow, sorry) karena Dhian selalu bersama gue. Kami, dua kutu buku pun akhirnya bertambah menjadi 3, lalu 4 orang dan seterusnya, karena rupanya ada beberapa murid yang hampir sama dengan kami: berpenampilan "berbeda", lebih suka ke perpustakaan daripada ke kantin tapi sayangnya takut untuk menunjukan siapa diri sendiri.


Terkadang mereka harus pura-pura menjadi sama supaya aman dari ejekan dan "label-label" dangkal dari teman-teman sekolah. Mereka bahkan harus menolak "ranking" karena nggak mau itu jadi "masalah"...


Gue rasa kata "berbeda" artinya tergantung dari sudut pandang orang yang mengatakan. Bagi seorang yang besar dari keluarga yang mempunyai kebiasaan makan di meja, makan di lantai atau lesehan akan dikatakan berbeda. Padahal begitu pula bagi yang terbiasa lesehan: orang yang terbiasa makan di meja itu berbeda.
Gue nggak suka kalau harus membenci sesuatu/sesorang dengan alasan "berbeda", malah deep inside gue juga berharap orang-orang yang mengganggap gue berbeda dan mempermasalahkannya akan berhenti dan sadar bahwa kami bisa berteman.

Menjadi bangga itu kan hak semua orang. Bangga dengan pakaian seksi dan kemampuan hang out 24 jam boleh saja, nggak perlu menghina yang nggak "begitu". Begitu juga menjadi kutu buku, atau yang biasa kakak kelas-kakak kelas gue sebut dengan geek, dork atau nerd (meski sebetulnya ketiga kata itu mempunyai perbedaan arti. I read dictionary, lol), tentu saja boleh bangga dan "berbaur" dengan seluruh penghuni dunia.
Love your self, nggak ada salahnya menjadi diri sendiri selama itu nggak menyakiti.

Hari ini gue nggak berkaca mata karena digantikan lensa kontak. Gue juga sudah 3 kali diundang ke acara fashion di TV untuk menjadi pembicara. Gue sekarang jadi fashion designer. Ya, I proud of it :) Tapi gue masih orang yang sama dengan yang dulu dipanggil... "you know what" (terlalu banyak pengulangan kalau disebutkan satu persatu lagi, hehe). Gue bangga menjadi diri gue apa adanya. Gue nggak menyesal ataupun 'malu' karena dulu gue nggak populer dan sering jadi korban "ejekan". This is me, and I think "they" should proud of their self too, so they can stop teasing about other people :)



Sekarang banyak yang nggak percaya kalau gue dulu berkaca mata dan berback brace. Well, the scoliosis is still here (sampai selamanya), tapi tulang gue berhenti tumbuh jadi kemungkinan kalian nggak akan lihat gue pakai brace lagi (amen...). Tapi gue masih berkaca mata untuk beberapa kesempatan, seperti hari ini. Gue dan Puja (my brother) do some silly photoshoot dengan tema "Hello Stranger". The glasses are real. Gue minus 4 dan Puja minus 1 (ya, kami beruntung bisa dapat kaca mata yang stylish, lol). Ini dia, I hope you enjoy it! :)




the cover-version, lol.




gesture yang sering nampak di hello stranger. disana diceritakan kalau yang begini itu alay, bukannya sweet, lol.



patung seperti ini ternyata ada betulan! *heran* hahaha...





Dork: someone who does things that are kinda silly and not neccessarily cool but always cute (Urban Dictionary)



foto-foto: our lovely daddy.
puja: he's own daily outfit.
me: red rose by toko kecil indi (klik DISINI untuk melihat/memesan dress ini/koleksi lain)


do not copy any design by toko kecil indi. thanks :)








Hello Stranger quick review: Dua orang asing bertemu waktu menjadi turis di Korea. Film ini banyak sindiran mengenai betapa "meng-Korea"nya manusia sekarang sampai-sampai lupa dengan budaya sendiri. Padahal budaya Korea juga belum tentu pantas dengan negara lain. Malah akan terasa "silly" seperti foto-foto diatas. (movie, 2010).

Senin, 18 Juli 2011

"Inspiration Award" and Show me your room! :D

Waaah, senang rasanya selama 2 bulan ini gue dapat banyak award :D Lebih senang lagi award'nya macam-macam, nggak melulu soal fashion. Seperti kali ini gue dapat "Inspiration award" dari Dina dan Dici (punya Dici desain awardnya sendiri, lho. Cute ya?). Betul-betul nggak nyangka, soalnya gue masih "segini-segini" saja, belum bisa memberikan banyak hal untuk diri sendiri apalagi teman-teman disini (apalagi sama dunia coba. Nah, lho! Lol). Makanya gue bingung, sebelah mana menginspirasinya, ya?... Meski begitu gue ucapkan terima kasih banyak-banyak untuk Dina dan Dici yang berbaik hati memberikan award ini. It means so much to me, girls! Semoga saja award kalian ini "doa" supaya gue bisa berkarya lebih baik lagi ya. Amen...

Nah, berhubung awardnya soalnya menginspirasi (haduh selalu nggak enak setiap mengucapkan --ngetik-- kata ini T__T ), gue mau tunjukin kamar gue yang siapa tahu (mudah-mudahan, ya... Hehehe) bisa menginspirasi teman-teman blogger. Gue mungkin nggak punya prestasi yang hebat, tapi rasanya ada yang patut dibanggakan dari gue: I'm a tidy girl! Iya, meski kamar gue sempit dan nggak punya perabot bagus, gue selalu mengusahakan supaya rapi dan bersih. Soalnya kamar itu tempat gue beristirahat setelah seharian berkegiatan. Bukan itu saja, karena gue masih tinggal sama ortu, kamar itu kadang terasa seperti "rumah kecil" :)




dua foot warmer favorit untuk di kamar :)
















So, what do you think guys, am I tidy enough? :D Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi kalian untuk beres-beres kamar setiap hari ya, hihihihi.
Oh, iya hampir lupa. Inspiration award ini juga mau gue kasih sama teman-teman yang sudah menginspirasi gue, yaitu: Amel, Gaphe, Grace, Fitria. Pajang award'nya di blog masing-masing yaaa. Terserah mau ambil award yang dari Dina atau Dici, hihihi. Dan jangan lupa.... SHOW ME YOUR ROOM, guys! :D


hugskisses,
INDI
(twitter? click HERE)



Special thanks untuk Dita, thanks sudah kasih "keberanian" untuk ubah "award rules", lol. *kiss-kiss*







Jumat, 15 Juli 2011

Pelajaran Baru :)

It's weekend already? Ya, ampuuun... Nggak terasa ya teman-teman blogger sekarang sudah akhir minggu lagi! :D So how's your weekdays going? Gue harap fun and fine, ya... Gue sendiri berjalan seperti biasa, masih dengan kerjaan yang sama, kesibukan yang sama, kesantaian (ini betul nggak sih dalam Bahasa Indonesia? Lol) yang sama, juga ke'asyik'an yang sama. So far so good :)

Sekarang gue mau cerita soal kemarin, tepatnya hari Kamis tanggal 14 Juli lalu. Jadi sejak 2 bulan lalu gue ganti tempat terapi (gue mengidap scoliosis 55 derajat). Yang tadinya di Canadian Chiropractic jadi di Japanese Chiropractic. Alasannya sih sederhana, gue ingin terapi yang lebih ringan (I was so tired, badly...) tapi dengan hasil yang optimal. Akhirnya setelah googling sana-sini dan dapet rekomendasi dari salah satu acara TV, gue memutuskan untuk mencoba Japanese Chiropractic. Dan seperti biasa, gue kemarin diantar Bapak untuk terapi karena Ray masih bekerja (it's 5 PM). Diperjalanan gue mau dengar CD, tapi tanpa sengaja yang menyala malah DVD player. Heran, siapa yang masukin DVD kesini, apalagi ini DVD film "Hachiko"... Waktu gue tanya Bapak, katanya tadi pagi ada yang servis DVD player mobil, nah waktu Bapak diminta cobain sudah betul atau belum, secara random Bapak ambil DVD "Hachiko"! Duh, duh... padahal gue mencoba hindari film ini, soalnya meski sudah 3 kali nonton tetap saja nangisnya sampai banjir, huhuhu...

Terpaksa gue dan Bapak nonton Hachiko sepanjang perjalanan yang lumayan jauh (baca: Bapak curi-curi nonton karena sambil nyetir, hahaha), soalnya kotak CD tertinggal di garasi dan film ini cuma satu-satunya yang ada di mobil. Lama-lama kami menikmati juga, ya kami coba lihat sisi baiknya saja, seenggaknya versi Richard Gere ini nggak se "menyiksa" versi Jepang (gue trauma 3 hari 3 malam gara-gara film itu, inget terus sama si Veggie anjing gue yang ada di surga, hiks...), lol. Bapak bilang, beliau kagum sekali dengan si Hachi, soalnya selain bisa melindungi tuannya dia juga anjing yang loyal. Gue sih cuma manggut-manggut saja. Setuju, juga nahan senyum teringat Eris, adiknya Veggie yang loyal tapi sayangnya penakut, hihihi.


hachi lagi tiduran gara-gara ditinggal majikannya pergi, hiks...

japanese chiropractic, jl. cihampelas bandung


Nggak terasa perjalanan satu jam selesai juga, kami sampai di tempat terapi dengan tepat waktu (terlambat 10 menit, sih, tapi nggak apa, lol). Gue keluar mobil dengan sedikit malu-malu, pasalnya ini percobaan pertama gue pakai dress dipadukan dengan kaos kaki, hihihi. Sebetulnya gue nggak maksud eksperimen, sih. Tapi di tempat terapi ini memang diwajibkan pakai kaos kaki supaya mempermudah sesi terapi. Gue sempat ngaca sebentar di spion mobil, dress "Greeny Day" dipadukan dengan kaos kaki hadiah dari Ray (khusus dalam rangka "selamat terapi di tempat baru", lho) ternyata OK juga. Ini juga didukung dengan komentar Bapak yang bilang, "Bagus, kok" begitu melihat wajah pede nggak pede gue, hehehe :D


berdress greeny day (klik DISINI untuk ke toko kecil indi) dipadu dengan kaos kaki dari ray dan sepatu flat dari ibu. ternyata manis juga :)




Terapis gue ini orang Indonesia, btw. Iya, lokal nggak seperti kebanyakan chiropractor yang biasanya "impor", lol. Tapi tetap dia kuliah chiropractic di Jepang, bukan abal-abal karena di ruang prakteknya tergantung ijasah diploma, hehehe.
Kali ini sesi terapi nggak berjalan seperti biasanya, kami banyak sekali mengobrol. Gue bercerita kalau di perjalanan kami menonton "Hachiko" lagi untuk keempat kalinya. Dari situ dengan cepat cerita berkembang, terapis gue menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun di Jepang. Disana, dia hidup sangat sederhana karena menjadi satu-satunya mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Jangankan keluarga, teman satu negarapun nggak ada yang bisa "membantunya" disana. Suatu hari, terapis gue bertemu dengan anjing Akita yang sangat besar (Akita itu jenis anjing seperti Hachiko), meski dia tahu bahwa Akita adalah anjing yang bertempramen nggak begitu baik (he's/she's not family dog seperti Golden Retriever, dll), tapi dia penasaran dan mencoba memanggilnya. Ternyata seiring berjalannya waktu mereka mulai bersahabat, malah pemilik anjing Akita tersebut mengizinkan terapis gue untuk membawanya pulang dan memeliharanya. Sayang, karena keterbatasan tempat dan biaya untuk makan (anjing sebesar itu butuh 4 cup dog food perhari sepertinya, hehehe) dia pun menolak untuk mengadopsinya.

Gue selama ini nggak pernah tertarik dengan Jepang, menurut gue, gue belum terlalu mengenal negara sendiri jadi buat apa gue mempelajari negara lain? Gue sudah cukup puas menjadi warga negara Indonesia meskipun nggak tulen-tulen amat (yes, my Grandma is Chinese, you can see clearly why my skin is so pale and my eyes is so small, lol). Pengetahuan gue tentang Jepang cuma satu: disana ada sekelompok orang yang suka cosplay dan gue BENCI kalau terus-terusan ditanya, "Kamu suka cosplay, ya?" cuma gara-gara gue sering pakai dress+stocking (baru tahu gue kalau Ksatria Baja Hitam suka pakai kostum kayak gue, hahaha).
Tapi ternyata dengan mengenal gue bisa belajar. Contoh sederhananya saja Hachiko, gue jadi bisa belajar soal kesetiaan. Well, mungkin kalian pikir setiap anjing itu loyal, they will do anything for her/his man, gitu kan? Eits, ini Akita lho! Ada yang tahu tempramennya? Please googling dulu dan kalian akan surprise betapa "manis"nya si Hachiko ini dibanding teman-teman satu rasnya. Ternyata Akita yang sebegitu kerasnya juga bisa turunin egonya demi majikan tersayang. Kenapa kita yang manusia nggak bisa seperti dia? :)

Cerita berlanjut ke soalnya lain, masih inget gue sempat (sering, ding! Lol) mengeluhkan tentang minimnya fasilitas difabel di Indonesia? Nah, terapis gue cerita kalau di Jepang banyak sekali aturan "nggak tertulis" yang memudahkan para difabel (different ability people, iya, termasuk gue). Jadi di stasiun kereta (asik amat ya di Shibuya ada patung Hachiko, mau dong difotoooo) disana ada banyak eskalator, nah secara nggak tertulis masyarakat disana sudah bikin aturan kalau pegangan sebelah kiri berlaku untuk orang-orang yang lagi nggak terburu-buru (hanya berdiri diam diatas eskalator), nah pegangan yang kanan khusus untuk orang-orang yang memang memutuskan berjalan meski diatas eskalator. Keren, kan? Jadi nggak akan ada lagi yang "tabrakan" dan yang nggak bisa jalan cepat nggak perlu merasa "diteror" dari belakang (pengalaman pribadi gue ini mah, hahaha). Sederhana, tapi efektif. Padahal kalau Indonesia niat, mudah banget kan menirunya? Ayok ditiru (dimulai dari gue, semoga nggak ada yang protes dan teriak "Woi, minggir-minggir" dari belakang).
Hebatnya lagi, eskalator tangganya bisa berubah jadi flat, lho (itu kayak yang di mall-mall, hehehe). Jadi kalau ada berkursi roda mau lewat situ, operator tinggal pencet 1 tombol dan tadaaaa, eskalator seketika bisa jadi wheelchair access! :D Kalau sudah gitu, konon katanya orang lain yang kakinya masih sehat pasti langsung pindah ke tangga tanpa di komando. Waw, hebat! Disiplin dan toleransi sekali ya :)

Keasyikan cerita, sesi terapi yang biasanya memakan waktu 2 jam ini pun melar jadi 3 jam, hihihi. Tapi ini nggak masalah karena gue pasien terakhir. Masih banyak sebetulnya cerita yang terapis gue bagi soal Jepang (soal pasar tradisionalnya, tempat potong rambutnya, kampusnya, dll), tapi dua cerita ini saja gue rasa sudah cukup "menjelaskan" kenapa gue bisa belajar sesuatu dari mengenal. Gue rasa inilah yang disebut open minded.
Kita jangan menjudge sesuatu sebelum mengenal terlebih dahulu. Nggak masalah kalau kita meluangkan waktu sebentaaaar saja untuk berkenalan dengan sesuatu atau at least mengintip karena dari situ kita dapat belajar.
Seperti sesi terapi kali ini, siapa yang sangka dari terapi rutin ini gue bisa mendapat ilmu baru? *wink*


nb: Ada yang pernah perhatikan nggak kalau snack Tao Kae Noi (nori alias rumput laut) ini unik banget? Dari namanya memang Hokkien abis, tapi bahan-bahannya dari Jepang (nori kan ada di hampir semua masakan Jepang) tapi produksinya di Thailand! Hahaha, just found out. Ternyata selama ini gue sering makan tanpa baca kemasannya :D

sweetest smile,

INDI



do not copy any design by toko kecil indi. thanks :)

Senin, 11 Juli 2011

Go to Bed Earlier. Good nigt, pals :)






Hari ini gue masuk ke dalam 'Neverland' lebih awal.
Neverland, itu adalah nama untuk kamar tidur gue.

Biasanya gue baru naik keatas tempat tidur diatas jam 11 malam, tapi malam ini berbeda, gue mau istirahat lebih awal supaya bisa bangun lebih awal.

Besok gue akan masuk kelas bahasa Inggris lagi setelah 1,5 bulan cuti. Gue nggak punya clue siapa saja teman sekelas gue sekarang.
Bit nervous, tapi gue percaya istirahat lebih awal membuat gue lebih tenang :)





So... wish me luck, guys! Good night...





nb: gue suka lihat langit-langit (sealing) kamar gue sampai terlelap. They're glow in the dark dan punya keajaiban mengantarkan gue ke mimpi indah. Ke Neverland sesungguhnya...

sweetest lullaby,
INDI

Jumat, 08 Juli 2011

Cerita Liburan yang terlambat: TRANS STUDIO! :D

Halooo, haloooo... Berjumpa lagi dengan Indi disini (yang berharap ketemu Meysi, maaf ya ini bukan blog'nya, hihihi).

Hari ini gue post baru lagi bukan gara-gara lagi doyan (ya, I love to write, tapi biasanya gue membatasi diri untuk post 1 cerita saja perminggu. Maksudnya supaya memberi kesempatan teman-teman untuk membaca), tapi ini gara-gara dikejar utang. Hiiii, serem banget istilahnya. Tenang aja bukan uang kok, tapi utang post! Beberapa waktu lalu gue sempat 'menghilang' dari dunia blog dan waktu gue mulai ngeblog lagi, gue jadi bingung mana yang harus gue ceritakan duluan. Banyak yang dialami, tapi sudah terlewat lama karena waktu berjalan terus (yaiyalah). Keteteran! T___T

Tadi siang, sebelum gue memutuskan untuk menulis ini, gue sempat pilah-pilah pengalaman mana yang bakal gue tulis duluan. Sempat kepikiran buat nulis tentang nikahannya si Pipit-Cuit sahabat gue sampai nulis tentang perkembangan novel gue (cetak ulang lagi, thank God). Tapi setelah dipikir-pikir kayaknya lebih asyik untuk menulis request dari teman-teman blogger dulu deh. Di postingan gue tanggal 30 Juni lalu Gaphe dan Ria minta gue untuk ceritain pengalaman ke Trans Studio. So... Inilah gue, sudah berpiyama orens dan rambut disisir rapi, duduk di depan komputer akan bercerita kepada kalian. Enjoy! :)

Jadi, tanggal 24 Juni lalu secara mendadak gue kepengen pergi ke Trans Studio. Apa penyebabnya jangan ditanya, karena gue juga nggak tahu. Padahal waktu sudah nunjukin jam 7 malam, lho. Langsung saja gue BBM Puja, adik gue yang lagi futsal untuk segera pulang dan nemenin gue. Puja kaget sih, tapi yang namanya main gratis, dia nggak nolak, hehehe...

Langsung saja gue yang sudah piyamaan ganti kostum dengan dress "Dancing Lollypop" hasil rancangan gue. Nggak lupa ditambah stocking supaya leluasa main nanti. Perfect! I'm ready to have fun! :D


tertarik dengan dress'nya? KLIK DISINI


Begitu sampai gue dan Puja langsung beli Mega Card. Kartu inilah yang akan dipakai untuk main nanti. Satu kartu ini bisa dipakai sama gue dan Puja sekaligus, harganya cuma 10 ribu, ditambah "tiket" kami bermain totalnya jadi rp. 310.000 (untuk week day perorang hanya rp. 150.000, ditambah harga kartu yang setelahnya bisa di top up).
Nah, kartu sudah di tangan, kami tinggal naik ke eskalator dan siap bermain.

Ternyata oh tenyata, begitu sampai di Trans Studio kami nggak langsung lihat wahana permainannya, tapi kami justru serasa berada di dalam kota mini! Gue sama Puja sampai takjub, gimana bisa area 4 hektar ini jadi tampak begitu besar (Universal Studio lewat, seriously!) dan seperti betul-betul diluar ruangan padahal seluruh area ini didalam ruangan. Setelah ber "Oh, wow" selama 5 menit, Puja beranikan diri untuk bertanya tentang letak wahana permainan sama salah satu petugas. Nggak jauh-jauh, ternyata wahana permainannya ada disebelah kanan dari posisi kami masuk tadi, hihihi...



Di arena permainan kami langsung ber "Oh, wow" lagi. Gimana nggak, ternyata disini lebih "luar biasa" daripada tempat sebelumnya. Kami seperti berada di Hollywood tahun 60'an! Wooo, Hollywood here we come! :p
Arsitekturnya betul-betul indah, sepanjang mata memandang penuh dengan bangunan-bangunan kuno lengkap dengan Corvette Diner'nya. Waduh, kalau nggak ingat main pengennya foto-foto terus, deh! Hihihi...


corvette dinner. kayak di film-film, menunya kentang goreng dan soda!


Mengingat waktu sudah semakin larut, kami langsung cari wahana yang nggak terlalu ramai. Pilihan kami jatuh pada "Negeri Raksasa" di area "Magic Corner". Ditempat mengantri pengunjung disuguhi dongeng "Jack dan Pohon kacang", Gue sama sekali nggak ada clue permainan apa yang akan kami hadapi (halah, memangnya ujian! Lol), tapi dari sini terdengar suara teriak-teriakan heboh! Wah, jangan-jangan ini semacam rumah hantu... Gue bisa pipis di celana deh kalau iya, soalnya gue paling takut sama hantu-hantuan gitu (kadang mereka lebih serem daripada aslinya lho. Hiiiii...).
Tapi ternyata tebakan gue salah. Ini adalah wahana yang mengerikan tapi nggak perlu hantu-hantuan. Kami dan para pengunjung lain akan dijatuhkan dari lantai 5! Waaa, hampir saja gue mundur kalau nggak mengingat berapa lama kami antri.
Wahana ini mirip seperti "Hysteria" di Dufan, cuma bedanya ini lebih tinggi. Kalau biasanya ketinggian "cuma" 3 lantai, nah ini 5 lantai (I said it twice ya? Nggak apa-apa buat menegaskan, lol).



sambil ngantri bisa baca dongeng "jack dan pohon kacang" dulu


Jujur saja gue takut diawal, tapi begitu dimulai gue cenderung menikmati. Anehnya cuma gue yang ketawa-ketawa. Gue bahkan nggak tutup muka sama sekali. Rasanya lucu, jantung seperti berhenti sejenak tapi gue tahu ini aman :) Sedangkan pengunjung lain, termasuk Puja pada teriak-teriak nggak karuan. Malah gue sempat dengar ada yang sumpah serampah segala, hahahaha...

Begitu selesai, Puja mukanya pucet banget, tapi waktu ditanya dia beralasan karena kecapean habis futsal (ah, nggak mau ngaku! Lol). Kami istirahat dulu didepan kolam air mancur yang memang disediakan untuk duduk-duduk sambil mikir-mikir wahana apa lagi yang bakal kami coba. Dan pilihanpun jatuh sama "Sky Pirates". Kalau nggak salah ini masuknya sama kategori softplay, deh, soalnya anak-anakpun boleh ikut asalkan didampingi orang dewasa.
Wahana ini cocok banget buat "ngadem" karena mirip dengan kereta gantung hanya saja terbuka di atas dan kanan-kirinya. Bentuknya pun unik, seperti balon udara milik perompak. Petugasnya berkostum bajak laut semua bikin suasana pirates'nya berasa, hihihi...

Dari atas kami bisa lihat keseluruhan Trans Studio. Kami kagum banget karena setiap area nggak ada yang terbuang sia-sia. Dan dari atas sini pula kami bisa sepenuhnya "sadar" kalau ini memang indoor karena langit-langitnya masih terang meski hari sudah malam :)


kolam di "magic corner"


duduk nyaman di "sky pirates"

dekor di luar arena. tetep cute buat foto-foto :)


Setelah bermain dua wahana kami memutuskan untuk jalan-jalan santai, ya sekedar menikmati interiornya, apalagi belum sempat untuk ambil foto-fotonya. Yang paling menarik buat kami adalah 5th avenue dan Broadway "dipindahkan" ke Bandung. Gue belum pernah lihat aslinya, tapi at least ini mirip dengan yang di TV dan majalah! Puja sampai bilang, "Wah, ini kebagusan sampai-sampai pada niat bawa SLR. Jangan-jangan nanti dipakai pre-wedding lagi". Hihihihi...
Di area brodway juga disediakan beberapa spot khusus untuk berfoto, sayangnya Puja nggak terlalu tertarik untuk di foto disana, dia lebih milih buat langsung cari wahana lain saja.


5th avenue

we are in broadway! :D


Berkat paksaan gue, Puja mau masuk ke "Bolang Adventure". Tadinya dengan segala alasan dia pengen nunggu diluar, hihihi (mungkin malu karena ini area untuk anak-anak).
"Bolang" ini cukup menarik dan mendidik untuk anak-anak usia TK atau SD. Warna-warna interiornya catchy banget, apalagi disepanjang sudut ruangan selalu terdengar sountrack Bocah Petualang, hihihi. Untuk yang pernah ke Dufan pasti kenal dengan rumah boneka, kan? Nah, si bolang ini mirip-mirip seperti itu, hanya saja semua boneka "berwajah" bolang dan semuanya digambarkan sedang bermain :)




bolang serba colorful, sambil ngantri malah ada big screen buat nonton bolang segala


Oya, untuk para orang tua hati-hati lho kalau bawa anaknya ke "Bolang", soalnya begitu permainan selesai pintu keluar paralel dengan toko permen! Iya, toko permen :O
Gue sama Puja saja yang sudah gede-gede masih ngiler buat belanja disana, apalagi permennya lucu-lucu, sih... Kamipun top up kembali kartu dengan nominal rp. 100.000, yang ternyata dengan uang segitu cuma bisa beli beberapa permen loli. Note ya: di Trans Studio itu makanan dan cemilannya mahal-mahal, lebih baik isi perut dulu di rumah karena kita nggak boleh bawa makanan dari luar :)



hasil "buruan" kami


Habis emut-emut permen (yang ternyata enak banget!) kami lanjut berburu wahana seru lagi. Kami putuskan untuk main "Dragon Raiders". Disini antriannya agak panjang, soalnya VIP access nggak berlaku, alias antrinya ramai-ramai. Tapi biar begitu kami nggak nyesel, karena kami bisa berlatih menunggangi naga ala ksatria, hihihi. Ya, sakit-sakit badan sedikit ditambah jantung deg-degan nggak apa-apalah, lol.
Sayang kami nggak sempat ambil foto disini karena takut keburu tutup (Trans Studio tutup jam 10 malam). Jadi kami langsung menuju wahana yang paling dekat dengan pintu keluar saja, yaitu "Broadcast Museum" dan "Giant Swing". Di Broadcast Museum seru juga, lho, kita bisa belajar jadi dubber atau edit film, hihihi. Nggak usah khawatir nggak ngerti karena disana banyak mas dan mbak baik hati yang ngajari kita. Lucunya mas-mas yang ngajarin gue ternyata Sandy, teman SMP gue! Hihihi, bisa dapet bocoran permainan mana saja yang antriannya pendek, dong ;)
(and sorry again for no picture here:( )


Nah, ini wahana terakhir yang gue naiki. Iya, GUE, sendiri nggak sama Puja yang lagi-lagi beralasan kecapean habis futsal, hihihi. Giant Swing! Ini adalah ayunan berputar raksasa pertama di Indonesia. Selain Yamaha Racing Coaster, wahana ini yang paling sering diomongin. Katanya bikin jantung berasa copot. Malah sempat ada pengunjung yang pingsan lho waktu coba wahana ini. Tapi gue maju tak gentar pengen tetep coba. Puja berkali-kali ingetin kalau gue mungkin saja pingsan/minimal muntah. Ah, gue pikir sudah terlanjur di Trans Studio, nggak berasa ke Trans dong kalau nggak main Giant Swing (ngaco! Lol).

Dan ternyata rasanyaaaaaaaa..... Wah, gue nggak mau cerita. Nanti kalian saja yang main sendiri ya. Gue nggak lagi, deh, mending naik coaster saja :')


saking cepatnya, giant swing susah tertangkap kamera. udah kayak penampakan saja, hahaha


"pemandangan" di eskalator turun


Akhirnya waktunya pulang. Gue betul-betul puas bermain selama 3 jam disana. Nggak peduli deh poni gue terbang kemana dan lipstik gue hinggap dibaju siapa (lho??). Bahkan di eskalator turun pun kami masih nemu interior-interior unik :) Gue rekomendasiin deh buat teman-teman yang mau habisin waktu sama keluarga datang saja kesini, nggak perlu jauh-jauh ke Singapur. Tiketnya pun jauh lebih murah, disana per orang 700 ribuan, tapi disini cukup rp. 260.000 perorang untuk hari biasa (tiket 150+kartu 10+top up minimal 100). Gue kasih 4 bintang dari 5 bintang deh buat Trans Studio. Nyaris nggak ada kekurangan kecuali satu: there is no difabel access. Gue harap suatu hari Trans Studio dan arena permainan lain akan ingat dengan teman-teman yang berkebutuhan khusus ;)

Jadi gimana Gaphe dan Ria, sudah nggak penasaran lagi kan dengan Trans Studio? Atau malah makin penasaran?!! :O :D


big smile,
INDI


do not copy any design by toko kecil indi. thank u :)