Tampilkan postingan dengan label Bandung supermal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung supermal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

Laporan dari "Meet dan Greet" perdana Indi :)




Wow, it's like a dream come true... Akhirnya meet and greet perdanaku terwujud! Ya, meski dengan beberapa "kekonyolan" di sana-sini.. hihihihi...

Jadi seharusnya jam 2 siang aku sudah tiba di Gramedia BSM. Tapi berhubung rumahku dekaaaat banget dengan BSM, aku jadi kebanyakan santai-santai dan terlambat. Kupikir, ah 15 menit juga sampai. Nah, ternyata jalanan macet banget! Duh, duh.. kok bisa-bisanya ya aku lupa kalau sekarang hari libur kemerdekaan. Pasti gara-gara terlalu semangat, deh...
Lucunya, waktu aku iseng-iseng nengok akun twitter lewat ponsel, ada beberapa orang yang menyangka gue sengaja bersembunyi di Gramedia, hihihi. Isinya rata-rata seperti ini:

"Cepetan keluar dari Gramedianya, dong Kak Indi... Jangan sembunyi".

Wah, wah... Padahal saat itu aku lagi terjebak macet. Maaf ya sudah bikin menunggu, huhuhu :')

Begitu sampai aku langsung "disambut" dengan terburu-buru sama Mas Aris dari Solusi Distribusi. Tanpa diberi tahu acaranya akan seperti apa aku tahu-tahu sudah duduk di depan banyak teman pembaca (salah sendiri telat! Lol). Aku ngerasa sedikit nervous tapi... waw, bahagia rasanya akhirnya aku bisa bertemu mereka. Aku sampai nggak bisa berhenti senyum dan menatap mereka satu persatu. Hehe, I know it's kinda weird, tapi itulah yang aku rasakan, bahagia karena akhirnya bertemu dengan teman-teman yang "dipertemukan" oleh novel-novelku :)


Aku ingat dia namanya Ilham. Rajin banget jawab kuis dan rela nunggu sampai bubar buat foto bareng aku dan Elke :D





Acaranya berlangsung santai dan berfokus pada novel pertamaku "Waktu Aku sama Mika". Aku bercerita awal mula aku menulis, proses pembuatan novel dan pengalaman-pengalamanku sebagai penulis. Aku juga kasih bocoran soal novelku yang ketiga meski masih coming not really soon, hihihi. Lalu disambung dengan kuis yang berhadiah 8 buku dan block note dari Homerian Pustaka, my publisher. Pertanyaan yang aku kasih gampang-gampang kok. Semuanya seputar novel "Waktu Aku sama Mika" dan beberapa dari cover novel "Karena Cinta itu Sempurna". Ada yang menarik, satu kali aku menyebutkan kalau Arswendo Atmowiloto adalah penulis lokal yang mempengaruhiku. Nah ternyata eh ternyata... audience malah bengong semua waktu aku sebut nama itu, hahaha. Maklum kebanyakan dari dari teman-teman yang datang masih berusia sekolah (16++). Malah waktu soal "Arswendo" ini aku jadikan pertanyaan kuis, nggak ada yang bisa jawab lho... Beruntung ada seorang ibu yang sedang berdiri di dekat lokasi meet and greet bertanya apa beliau boleh ikutan karena tahu jawabannya. Hihihi, ternyata aku sudah tua, ya? :p 







Acara ditutup dengan book signing dan foto bersama. Sesi ini adalah favoritku! Aku senang bisa duduk dekat teman-teman dan berkomunikasi dengan mereka. Meski nggak bisa lama-lama at least aku bisa bertanya nama dan kabar mereka :) Oya, setiap satu orang rata-rata mereka nyodorin 3 buku lho buat ditanda-tangan, hihihi. Mungkin titipan temannya, ya. Ada juga yang block note'nya minta ditanda-tangani. Seluruh audience seharusnya dapat block note gratis. Tapi waktu kulihat di meja kok ada sisa ya, hmmm, sepertinya ada yang lupa meminta, hihihi.




Bersama tim Solusi Distribusi dan Billa teman pembaca terbaruku :)


Aku senang acaranya berlangsung lancar dan akrab. Aku harap teman-teman pembaca yang datang juga merasakan hal yang sama. Apalagi aku dengar ada yang sudah nunggu dari jam 11 pagi... Mudah-mudahan menunggunya jadi sepadan ya :)
Untuk teman-teman di kota lain doakan aku bisa segera berkunjung, ya. Sangat ingin bertemu kalian! :) Aku janji lain kali bakal datang tepat waktu, hihihi. Dan untuk penyelenggara mudah-mudahan bisa menyediakan kursi lebih banyak ya, supaya nggak ada teman-teman yang harus berdiri. Soalnya tadi baru ada yang mengadu lewat twitter nih karena harus berdiri sepanjang acara (waaaah, maaf ya...).



Sehabis meet and greet ternyata aku dapat kejutan-kejutan menyenangkan, lho. Yang pertama adalah kedatangan my twinny, Aelke Mariska (Elke). Dia datang jauh-jauh dari Jakarta untuk datang ke meet and greet. Sayangnya terlambat :( Tapi aku tetap senang karena bisa ngobrol sampai malam dan foto-foto sampai capek, hihihi. Nice to meet you, Elke. Thanks buat bunganya, ya! :)





Dan yang kedua Ray datang menjemputku, dia ajak aku dinner sampai kekenyangan! Terima kasih Ray, you made my day!








Ah, iya kembali lagi soal meet and greet. Senang bertemu kalian semua, dan terima kasih banyak ya untuk teman-teman yang sudah jadi fotografer dadakan :D


salam,
Indi

Jumat, 08 Juli 2011

Cerita Liburan yang terlambat: TRANS STUDIO! :D

Halooo, haloooo... Berjumpa lagi dengan Indi di sini (yang berharap ketemu Meysi, maaf ya ini bukan blog'nya, hihihi).

Hari ini aku post baru lagi bukan gara-gara lagi doyan (ya, I love writing, tapi biasanya aku membatasi diri untuk post 1 cerita saja perminggu. Maksudnya supaya memberi kesempatan teman-teman untuk membaca), tapi ini gara-gara dikejar utang. Hiiii, serem banget istilahnya. Tenang aja bukan uang kok, tapi utang post! Beberapa waktu lalu aku sempat 'menghilang' dari dunia blog dan waktu aku mulai ngeblog lagi, aku jadi bingung mana yang harus aku ceritakan duluan. Banyak yang dialami, tapi sudah terlewat lama karena waktu berjalan terus (yaiyalah). Keteteran! T___T

Tadi siang, sebelum aku memutuskan untuk menulis ini, aku sempat pilah-pilah pengalaman mana yang bakal  kutulis duluan. Sempat kepikiran buat nulis tentang nikahannya si Pipit-Cuit sahabatku sampai nulis tentang perkembangan novelku (cetak ulang lagi, thank God). Tapi setelah dipikir-pikir kayaknya lebih asyik untuk menulis request dari teman-teman blogger dulu deh. Di postinganku tanggal 30 Juni lalu Gaphe dan Ria minta aku untuk ceritain pengalaman ke Trans Studio. So... Inilah aku, sudah berpiyama oranye dan rambut disisir rapi, duduk di depan komputer akan bercerita kepada kalian. Enjoy! :)

Jadi, tanggal 24 Juni lalu secara mendadak aku kepengen pergi ke Trans Studio. Apa penyebabnya jangan ditanya, karena aku juga nggak tahu. Padahal waktu sudah nunjukin jam 7 malam, lho. Langsung saja aku BBM Puja, adikku yang lagi futsal untuk segera pulang dan nemenin aku. Puja kaget sih, tapi yang namanya main gratis, dia nggak nolak, hehehe...

Langsung saja aku yang sudah piyamaan ganti kostum dengan dress Dancing Lollipop hasil rancanganku. Nggak lupa ditambah stocking supaya leluasa main nanti. Perfect! I'm ready to have fun! :D





Begitu sampai aku dan Puja langsung beli Mega Card. Kartu inilah yang akan dipakai untuk main nanti. Satu kartu ini bisa dipakai sama aku dan Puja sekaligus, harganya cuma 10 ribu, ditambah "tiket" kami bermain totalnya jadi rp. 310.000 (untuk weekday perorang hanya rp. 150.000, ditambah harga kartu yang setelahnya bisa ditop up).
Nah, kartu sudah di tangan, kami tinggal naik ke eskalator dan siap bermain.

Ternyata oh tenyata, begitu sampai di Trans Studio kami nggak langsung lihat wahana permainannya, tapi kami justru serasa berada di dalam kota mini! Aku sama Puja sampai takjub, gimana bisa area 4 hektar ini jadi tampak begitu besar (Universal Studio lewat, seriously!) dan seperti betul-betul di luar ruangan padahal seluruh area ini di dalam ruangan. Setelah ber "Oh, wow" selama 5 menit, Puja beranikan diri untuk bertanya tentang letak wahana permainan sama salah satu petugas. Nggak jauh-jauh, ternyata wahana permainannya ada di sebelah kanan dari posisi kami masuk tadi, hihihi...




Di arena permainan kami langsung ber "Oh, wow" lagi. Gimana nggak, ternyata di sini lebih "luar biasa" daripada tempat sebelumnya. Kami seperti berada di Hollywood tahun 60'an! Wooo, Hollywood here we come! :p
Arsitekturnya betul-betul indah, sepanjang mata memandang penuh dengan bangunan-bangunan kuno lengkap dengan Corvette Diner'nya. Waduh, kalau nggak ingat main pengennya foto-foto terus, deh! Hihihi...


Covette diner. Kaya di film-film, menunya kentang goreng dan soda :p



Mengingat waktu sudah semakin larut, kami langsung cari wahana yang nggak terlalu ramai. Pilihan kami jatuh pada "Negeri Raksasa" di area "Magic Corner". Di tempat mengantri pengunjung disuguhi dongeng "Jack dan Pohon kacang", aku sama sekali nggak ada clue permainan apa yang akan kami hadapi (halah, memangnya ujian! Lol), tapi dari sini terdengar suara teriak-teriakan heboh! Wah, jangan-jangan ini semacam rumah hantu... Aku bisa pipis di celana deh kalau iya, soalnya aku paling takut sama hantu-hantuan gitu (kadang mereka lebih serem daripada aslinya lho. Hiiiii...).
Tapi ternyata tebakanku salah. Ini adalah wahana yang mengerikan tapi nggak perlu hantu-hantuan. Kami dan para pengunjung lain akan dijatuhkan dari lantai 5! Waaa, hampir saja aku mundur kalau nggak mengingat berapa lama kami antri.
Wahana ini mirip seperti "Hysteria" di Dufan, cuma bedanya ini lebih tinggi. Kalau biasanya ketinggian "cuma" 3 lantai, nah ini 5 lantai (I said it twice ya? Nggak apa-apa buat menegaskan, lol).



Sambil ngantri bisa baca dongeng “Jack dan Pohon Kacang” dulu.



Jujur saja takut di awal, tapi begitu dimulai aku cenderung menikmati. Anehnya cuma aku yang ketawa-ketawa. Aku bahkan nggak tutup muka sama sekali. Rasanya lucu, jantung seperti berhenti sejenak tapi aku tahu ini aman :) Sedangkan pengunjung lain, termasuk Puja pada teriak-teriak nggak karuan. Malah aku sempat dengar ada yang sumpah serampah segala, hahahaha...

Begitu selesai, Puja mukanya pucet banget, tapi waktu ditanya dia beralasan karena kecapean habis futsal (ah, nggak mau ngaku! Lol). Kami istirahat dulu di depan kolam air mancur yang memang disediakan untuk duduk-duduk sambil mikir-mikir wahana apa lagi yang bakal kami coba. Dan pilihanpun jatuh sama "Sky Pirates". Kalau nggak salah ini masuknya sama kategori softplay, deh, soalnya anak-anakpun boleh ikut asalkan didampingi orang dewasa.
Wahana ini cocok banget buat "ngadem" karena mirip dengan kereta gantung hanya saja terbuka di atas dan kanan-kirinya. Bentuknya pun unik, seperti balon udara milik perompak. Petugasnya berkostum bajak laut semua bikin suasana pirates'nya berasa, hihihi...

Dari atas kami bisa lihat keseluruhan Trans Studio. Kami kagum banget karena setiap area nggak ada yang terbuang sia-sia. Dan dari atas sini pula kami bisa sepenuhnya "sadar" kalau ini memang indoor karena langit-langitnya masih terang meski hari sudah malam :)


Kolam di Magic Corner.


Duduk nyaman di Sky Pirates.

Dekor di luar arena, tetep cute buat foto-foto :)



Setelah bermain dua wahana kami memutuskan untuk jalan-jalan santai, ya sekedar menikmati interiornya, apalagi belum sempat untuk ambil foto-fotonya. Yang paling menarik buat kami adalah 5th avenue dan Broadway "dipindahkan" ke Bandung. Aku belum pernah lihat aslinya, tapi at least ini mirip dengan yang di TV dan majalah! Puja sampai bilang, "Wah, ini kebagusan sampai-sampai pada niat bawa SLR. Jangan-jangan nanti dipakai pre-wedding lagi". Hihihihi...
Di area broadway juga disediakan beberapa spot khusus untuk berfoto, sayangnya Puja nggak terlalu tertarik untuk di foto di sana, dia lebih milih buat langsung cari wahana lain saja.



5th avenue.

Kami berada di “Broadway” :p

Ada pertunjukan juga tapi ada jadwal khususnya.



Berkat paksaanku, Puja mau masuk ke "Bolang Adventure". Tadinya dengan segala alasan dia pengen nunggu di luar, hihihi (mungkin malu karena ini area untuk anak-anak).
"Bolang" ini cukup menarik dan mendidik untuk anak-anak usia TK atau SD. Warna-warna interiornya catchy banget, apalagi di tiap sudut ruangan selalu terdengar sountrack Bocah Petualang, hihihi. Untuk yang pernah ke Dufan pasti kenal dengan rumah boneka, kan? Nah, si bolang ini mirip-mirip seperti itu, hanya saja semua boneka "berwajah" bolang dan semuanya digambarkan sedang bermain :)





Bolang serba colorful. Sambil mengantri disediakan big screen untuk menonton acara Bolang.



Oya, untuk para orangtua hati-hati lho kalau bawa anaknya ke "Bolang", soalnya begitu permainan selesai pintu keluar paralel dengan toko permen! Iya, toko permen :O
Aku sama Puja saja yang sudah gede-gede masih ngiler buat belanja di sana, apalagi permennya lucu-lucu, sih... Kamipun top up kembali kartu dengan nominal rp. 100.000, yang ternyata dengan uang segitu cuma bisa beli beberapa permen loli. Note ya: di Trans Studio itu makanan dan cemilannya mahal-mahal, lebih baik isi perut dulu di rumah karena kita nggak boleh bawa makanan dari luar :)



Hasil “buruan” kami.



Habis emut-emut permen (yang ternyata enak banget!) kami lanjut berburu wahana seru lagi. Kami putuskan untuk main "Dragon Raiders". Di sini antriannya agak panjang, soalnya VIP access nggak berlaku, alias antrinya ramai-ramai. Tapi biar begitu kami nggak nyesel, karena kami bisa berlatih menunggangi naga ala ksatria, hihihi. Ya, sakit-sakit badan sedikit ditambah jantung deg-degan nggak apa-apalah, lol.
Sayang kami nggak sempat ambil foto di sini karena takut keburu tutup (Trans Studio tutup jam 10 malam). Jadi kami langsung menuju wahana yang paling dekat dengan pintu keluar saja, yaitu "Broadcast Museum" dan "Giant Swing". Di Broadcast Museum seru juga, lho, kita bisa belajar jadi dubber atau edit film, hihihi. Nggak usah khawatir nggak ngerti karena di sana banyak mas dan mbak baik hati yang ngajari kita. Lucunya mas-mas yang ngajarin aku ternyata Sandy, teman SMP ku! Hihihi, bisa dapet bocoran permainan mana saja yang antriannya pendek, dong ;)
(and sorry again for no picture here:( )


Nah, ini wahana terakhir yang aku naiki. Iya, AKU, sendiri nggak sama Puja yang lagi-lagi beralasan kecapean habis futsal, hihihi. Giant Swing! Ini adalah ayunan berputar raksasa pertama di Indonesia. Selain Yamaha Racing Coaster, wahana ini yang paling sering diomongin. Katanya bikin jantung berasa copot. Malah sempat ada pengunjung yang pingsan lho waktu coba wahana ini. Tapi aku maju tak gentar pengen tetep coba. Puja berkali-kali ingetin kalau aku mungkin saja pingsan/minimal muntah. Ah, aku pikir sudah terlanjur di Trans Studio, nggak berasa ke Trans dong kalau nggak main Giant Swing (ngaco! Lol).

Dan ternyata rasanyaaaaaaaa..... Wah, aku nggak mau cerita. Nanti kalian saja yang main sendiri ya. Aku nggak lagi, deh, mending naik coaster saja :')


Saking cepatnya Giant Swing susah tertangkap kamera. Udah kaya penampakan aja :p

“Pemandangan” dari eskalator turun.



Akhirnya waktunya pulang. Aku betul-betul puas bermain selama 3 jam di sana. Nggak peduli deh poniku terbang kemana dan lipstikku hinggap di baju siapa (lho??). Bahkan di eskalator turun pun kami masih nemu interior-interior unik :) Aku rekomendasiin deh buat teman-teman yang mau habisin waktu sama keluarga datang saja ke sini, nggak perlu jauh-jauh ke Singapura. Tiketnya pun jauh lebih murah, disana per orang 700 ribuan, tapi disini cukup rp. 260.000 perorang untuk hari biasa (tiket 150+kartu 10+top up minimal 100). Gue kasih 4 bintang dari 5 bintang deh buat Trans Studio. Nyaris nggak ada kekurangan kecuali satu: there is no disability access. Aku harap suatu hari Trans Studio dan arena permainan lain akan ingat dengan teman-teman yang berkebutuhan khusus ;)

Jadi gimana Gaphe dan Ria, sudah nggak penasaran lagi kan dengan Trans Studio? Atau malah makin penasaran?!! :O :D


big smile,

Indi


do not copy any design by toko kecil indi. thank u :)

Kamis, 30 Juni 2011

Bertemu Habibie (lagi)! :)



Halo teman-teman, apa kabar?
Ya, ampuuuun, sudah 10 hari ya aku nggak nge'blog? :( Sebetulnya aku pengen banget banyak cerita, banyak hal baru yang aku alamin. Sayangnya waktuku terbatas, harus konsentrasi sama beberapa hal, update'nya tertunda deh... Mohon maafkan... Hehehehe :)

Hmm, ceritanya mulai dari tanggal berapa ya? Hmm, film, novel baru, shop baru, berkunjung ke Trans Studio... Apa ya... Oh, ini, ini! Tanggal 22 Juni kemarin aku ketemuan sama Habibie Afsyah lho! Hayo, hayo siapa yang belum kenal? Aku yakin di antara kalian sudah banyak yang mengenal dia karena profil'nya cukup sering muncul di TV dan media cetak. Tapi untuk yang belum mengenalnya, baiklah, akan aku ceritakan sedikit. Habibie itu adalah seorang entrepreneur muda yang sangat sukses dengan penghasilan mencapai puluhan juta perbulan. Dia juga seorang penulis novel inspiratif berjudul "Kekuatanku adalah Kelemahanku". Gimana, sudah cukup mengenalkan? Atau malah ada yang sudah membaca bukunya? :)

Hampir 1 minggu sebelumnya, tante Endang, sapaan Mama Habibie bilang kalau beliau dan Habibie akan berkunjung ke Bandung untuk mengisi acara dan liburan. Aku senang banget dan langsung mengiyakan waktu diajak untuk bertemu. Aku dan Habibie ini saling mengenal lewat acara talkshow "Rossy" di Global TV. Waktu itu kami sama-sama jadi bintang tamu utama untuk episode "Menembus Batas", yaitu episode mengenai orang-orang dengan keterbatasan fisik yang mampu berkarya dan bekerja seperti orang normal. Yup, Habibie juga sama sepertiku, he's a scolioser alias pengidap scoliosis. Bedanya dia harus duduk di kursi roda karena kelainan muscular dystrophy nya, sedangkan aku masih bisa berjalan meski nggak cepat.

Habibie tiba lebih dulu di BSM, mall tempat kami janjian. Haduuuh, malu deh bikin pada menunggu, soalnya selain Habibie ternyata di sana sudah ada Cut Hanna, my highschool classmate, tante Endang, ditambah 2 orang teman Habibie, Diana dan Wulan yang ternyata pembaca novelku! (haduuuuh, makin malu deh ngaret 30 menit, hiks).
It was a super fun gathering, tante Endang berbaik hati mentraktir kami KFC. Tapi karena aku vegetarian dan haus berat, jadi aku cukup minum jus jeruk dengan banyak es batu saja (sampai bunyi "sroot, sroot" saking hausnya, hahaha). Kami mengobrol soal banyak hal, terutama tentang kegiatan menulis kami dan acara-acara yang kami isi (ah, malunya nambah lagi nih, aku kan nggak ada apa-apanya dibandingkan Habibie).
Tante Endang masih tetap seperti yang aku temui tahun lalu, she's so nice and humble. Sedangkan Habibie... Ckck... Kayaknya aku harus balas dendam suatu hari nanti. Dia masih saja susah tersenyum kalau diajakin becanda. Anehnya dia selalu tertawa belakangan. Kayaknya puas banget kalau aku harus frustasi bilang, "Bie, senyum bisa kan kalau difoto?". Dan jawabannya selalu sama... "Aku nggak bisa senyum", tapi sambil tertawa ceria, ckckckck :)



Wulan, Diana, Indi dan Habibie.



Sehabis ngobrol-ngobrol di KFC, kami segera kebingungan. Mall sebesar BSM ini lift'nya mati! (Untuk yang belum pernah kesini, I've told you ya, mall ini benar-benar BESAR!). What a shame... Terpaksa kami harus putar-putar di lantai 2 tanpa tujuan. Sempat masuk ke Gramedia, tapi itupun cuma untuk lihat-lihat karena sebelum aku datangpun tante Endang sudah sempat mampir ke sana.
Untuk kalian yang mempunyai kaki yang kuat masalah seperti ini bisa saja kedengeran sepele. Tapi jangankan untuk Habibie, aku saja yang masih mampu berjalan kalau bisa memilih pasti akan memilih lift untuk mengurangi resiko terpeleset atau jatuh. Aku, tante Endang, mbak baik hati yang selalu setia mendorong kursi Habibie, Cut Hanna dan dua teman lain pun berkeliling mall untuk mencari adanya kemungkinan lift lain yang bisa dipakai. Atau setidaknya akses kursi roda untuk menuju tempat lain selain seputaran KFC dan Gramedia. Hasilnya? Tidak ada. Lift hanya ada 1 dan mati. Lainnya hanya eskalator dan akses kursi roda hanya ada di lantai dasar dekat lobby Selatan.
Kalau faktanya seperti ini aku jadi penasaran, bagaimana Habibie bisa sampai di lantai 2? Setelah aku tanya, dia menjelaskan bahwa dia masuk melalui Metro dan dari sana kursi rodanya diangkat melalui tangga. What??!!! Seriuosly, what a shame untuk mall seukuran BSM... Karena masalah ini pula, batallah keinginan kami untuk melihat Trans Studio. Karena untuk mencapai loketnya pun kami harus menaiki eskalator yang cukup tinggi...



Cut, Habibie, Indi.


Duo chubby dan jerawatan, hahaha.



Akhirnya tante Endang memutuskan untuk pulang ke Hotel, kami hanya berfoto di lantai yang sama dengan background gantungan-gantungan kertas lipat yang berada tepat di samping lift (ya, ironisnya lift itu MATI!). Aku dan yang lainnya mengantar mereka ke mobil dan melihat bagaimana manuver "menyakitkan" ketika Habibie sekaligus kursi rodanya harus diangkat di atas tangga. Dua orang pegawai di sana memang membantu (salah satu membukakan pintu dan satunya lagi membantu mengangkat kursi roda), tapi tetap saja bukan itu intinya. Intinya adalah mall yang disebut sebagai tempat untuk umum seharusnya bisa dimasuki oleh umum juga, bukan hanya oleh orang-orang berkaki kuat.


Habibie akhirnya duduk aman di dalam mobil, sebelum pintunya ditutup aku sempat berteriak, "Kamu jangan jutek-jutek dong sama aku, salah apa sih aku? Kalau difoto sama aku senyum yaaaaa", dan kalian tahu, dia tertawa keras! He's a happy boy, aku nggak tahu apa dia mengeluh dengan keadaan mall yang seperti ini atau dia sudah terbiasa jadi hanya aku yang kesal.
Yang pasti ini adalah pertemuan yang menyenangkan, penuh percakapan menggelikan dan keakraban termasuk dengan dua teman baru, Diana dan Wulan :) Yang kurang cuma satu, akses kursi roda, itu saja. Kesannya sangat sepele, tapi hal itu sudah berhasil membuat kami terjebak di lantai yang sama selama berjam-jam.
Oh, ya ada satu hal lagi, Habibie sangat suka berjalan-jalan. Kalau kalian tinggal di Jakarta banyak kemungkinan kalian berpapasan dengannya di mall atau di tempat-tempat yang sedang diminati. Kalau itu terjadi, sapalah dia dan ingatkan, "Bie, jangan jutek-jutek. Kalau nggak kenal orang bisa takut loh sama kamu!", hihihihi...
(Ini inside joke, pertama kali ketemu aku sempat ngadu sama Ibu karena aku sudah sok akrab tapi Habibie cuma ngeliatin aku dengan heran. Maluuuuuu, hahahaha).