Kamis, 11 Desember 2014

Yang Baru dari The Baker Lady; Keripik Bayam ala Popeye alias Spinach Chips! (review) :)


Waktu menulis ini perut gue lagi sibuk krucak-krucuk, lho. Padahal sudah tengah malam, hihihi. Belakangan Bandung sedang diguyur hujan, hampir sepanjang hari udaranya dingin. Nah, kalau lagi dingin tahu dong apa yang paling enak selain bergelung di balik selimut? Of course ngemil! Hihihi :) Lucky me beberapa hari yang lalu The Baker Lady mengirimi gue perlengkapan tempur melawan lapar berupa satu toples Kaastangels dan satu toples Spinach Chips. Langsung deh gue nggak sabar untuk mencicipi (baca: menghabiskan) keduanya. Terutama Spinach Chips nya alias keripik bayam, produk paling baru dari The Baker Lady yang bikin penasaran :D

Untuk kaastangels nya gue sudah pernah mencicipi sebelumnya. Rasanya nikmaaaat, kejunya super gurih dengan tekstur yang crunchy di luar namun lembut di dalam. Saking nikmatnya gue sampai makan berebutan dengan Ibu yang penggemar berat keju dan berakhir dengan menyembunyikan toplesnya di dalam kamar supaya aman, hihihi (ups). Kayaknya gue nggak harus menceritakan panjang lebar, deh, karena sebelumnya gue sudah pernah tulis review nya di sini, dan takut membuat teman-teman ikut ngiler. Lagipula gue yakin banyak diantara teman-teman yang sudah pernah mencoba mencicipi kaastangels dari The Baker Lady yang belakangan sedang super happening ini, hihihi :)


Nah, Spinach Chips nya nih yang paling bikin gue excited. Sebagai seorang pesco-vegetarian gue akrab banget dengan sayur-sayuran, dan bayam termasuk salah satu favorit  gue. Biasanya Ibu memasak bayam dengan disayur atau dioseng-oseng. Kalau dijadikan keripik belum pernah sama sekali. Paling gue pernah membeli keripik bayam di abang-abang gerobak dekat sekolah, yang sayangnya terlalu oily :( Waktu gue buka toplesnya langsung yakin kalau Spinach Chips dari The Baker Lady beda dengan yang pernah gue beli. Tampilannya sama sekali nggak berminyak dan warna bayamnya fresh sekali, bikin perut krucuk-krucuk, hihihi. Nggak menunggu lama, chips pertama langsung saja gue masukan ke dalam mulut dan... “kriuk”, renyah sekali! Meskipun dibalut tepung dalamnya tetap kering dan rasa bayamnya tetap kuat. Ah, ini camilan favorit baru gue, nih! :D



Pantas saja rasanya nikmat, menurut Eve, owner dari The Baker Lady Spinach Chips ini baru diolah ketika ada yang memesan. Jadi dengan kata lain ini fresh from the oven! Minyak yang dipakai pun selalu baru, makanya jadi lebih sehat dibandingkan dengan keripik lain. Apalagi ini tanpa bahan penyedap, hanya dari bumbu-bumbu dapur alami seperti garam, merica dan lain sebagainya. Ibu hamil, anak-anak, bahkan kakek-nenek boleh banget ngemil Spinach Chips ini, karena selain ramah di perut juga ramah di gigi, hihihi.

Aduh, tengah malam begini membayangkan ngemil Spinach Chips yang guilt free bikin gue insomnia. The Baker Lady harus tanggung jawab, nih! :p
Kalau teman-teman ikut ngiler ketika membaca post gue yang ini, langsung saja hubungi The Baker Lady di instagram ilady_luck, di line eveselvy atau add pin BB nya di 74fd03f0. Gue juga lagi menunggu pagi, nih. Mau cepat-cepat pesan Spinach Chips nya yang super nagih! :D

Popeyewannabe,

Indi

 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 07 Desember 2014

Live Interview "World AIDS Day" di I-Radio Jakarta :)

1 Desember 2014

Aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung sarapan. Sebenarnya semalam aku nggak bisa tidur karena kurang enak badan dan... karena ini tanggal 1 Desember. Seperti sudah diprogram, setiap Hari AIDS Sedunia pasti rasa rinduku pada Mika semakin kuat. Tapi aku sudah ada janji di Jakarta, jadi setelah sarapan aku langsung berganti baju dan pergi diantarkan Bapak. 

Cuaca mendung dengan angin bertiup kencang membuatku berusaha bergelung di kursi depan mobil. Lalu lintas cukup padat tapi nggak ada hambatan yang berarti. Syukurlah, itu artinya kemungkinan besar kami bisa sampai sebelum jadwal 3 in 1. Lokasi studio I-Radio ---radio yang mengundangku--- terletak di Sarinah, daerah yang mulai pukul 4.30 sore berlaku sistem 3 in 1. Janji yang dibuat sebenarnya pukul 5 sore, tapi menunggu lebih baik dariada harus kena tilang, hehehe.
Waktu Ray memberitahu bahwa ia dihubungi Andrew (produser I-Radio) yang ingin mengundangku, aku terus-terusan bertanya tentang konsep acaranya. Well, ini bukan kali pertama aku diundang ke studio radio, tapi mengingat hari yang diminta bertepatan dengan Hari AIDS sedunia, aku jadi sedikit 'khawatir'. Ray, yang juga merangkap sebagai managerku sudah mengerti betul dengan 'kesensitifan' ku (bless his heart!). Mika adalah sosok yang aku banggakan dan selalu dengan senang hati aku bagikan kisahnya ---juga sekaligus sosok yang ingin aku ceritakan dengan hati-hati. Status Mika yang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) kadang membuat beberapa media membuatnya terkesan negatif (just google it!) atau malah dikasihani. Padahal yang ingin aku bagikan justru tentang betapa full of passion dan positinya Mika, tentang betapa aku menganggapnya sebagai seorang hero. Orangtua Mika masih ada dan tahu tentang novel dan film yang dibuat untuk putra kesayangannya. Jadi aku ingin menjaga kepercayaan mereka sampai kapanpun. Syukurlah kekhawatiranku ditenangkan oleh Ray. Ia bilang bahwa Andrew sepertinya sudah cukup mengenal ku, dan ia juga meminta daftar pertanyaan untuk interview supaya aku bisa menyaringnya jika ada sesuatu yang membuatku nggak nyaman.

Pukul 2.30 aku dan Bapak sudah tiba di Sarinah. Karena masih punya banyak waktu kami putuskan untuk berkeliling dan ngopi-ngopi dulu. Bapak dulu bekerja di Jakarta, jadi beliau cukup mengenal tempat ini. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan sejuk (kontras dengan di Bandung, cuaca terik sekali, hehehe) aku menghubungi Ray untuk mengingatkan tentang daftar pertanyaan. Hanya beberapa menit kemudian aku menerima email dan langsung membacanya. Bibirku seketika tersenyum, nggak ada pertanyaan yang terlalu pribadi dan terkesan menjudge. Semuanya wise dan cerdas. Aku langsung menunjukkannya pada Bapak yang juga langsung menyukai isinya. Di perjalanan Bapak memang sudah mewanti-wanti agar beliau nggak diajak masuk ke dalam studio. Alasannya karena "malas" jika harus menjawab sesuatu yang sifatnya terlalu pribadi. Pasalnya tahun lalu ketika aku mengisi acara dalam rangka Hari AIDS Sedunia, ada seseorang yang bertanya kepada Bapak dan membuatnya nggak nyaman. Bapak memang nggak memeberitahuku apa isi pertanyaannya, tapi beliau menjelaskannya dengan 2 kata, "Pertanyaan kepo."

Sekitar pukul 4.30 aku dan Bapak menuju ke studio I-Radio yang letaknya di lantai 8. Hanya menunggu beberapa menit, Andrew menemui kami dan mengajak kami ke ruang tunggu. Setelah diberikan penjelasan singkat kami juga sedikit mengobrol. Andrew ternyata sudah mengenal ku sejak tahun 2009, waktu novel pertamaku "Waktu Aku sama Mika" terbit. Ia juga sudah membaca 2 novelku yang lainnya, "Karena Cinta Itu Sempurna" dan "Guruku Berbulu dan Berekor". What a nice surprise! Hatiku jadi semakin senang :) Berhubung Bapak sudah tahu pertanyaan apa saja yang akan diajukan, beliau pun bersedia untuk menemaniku di dalam studio meskipun nggak ikut diwawancara.





Aku lalu berkenalan dengan Feli dan Kamal, hosts yang akan on air bersamaku. Kesan pertamaku; mereka kocak-kocak, hehehe. Berbekal portofolio yang sudah diprint, wawancara pun dimulai :)
Seperti biasa, dimulai dengan perkenalan singkat kepada pendengar mereka lalu mulai memberikan pertanyaan seputar novel "Waktu Aku sama Mika". Aku menceritakan tentang proses penulisan novel yang tadinya hanya buku harian pribadi, jadi ketika sudah dicetak masih lengkap dengan tanggal dan segala macam typo-nya. Aku juga mengenalkan sosok Mika secara singkat, tentang sejauh mana ia dulu begitu mempengaruhiku dan menjadikanku pribadi yang lebih positif. 





Setelah itu perbincangan kami semakin mengalir. Feli bertanya apakah aku pernah mendapatkan deskriminasi dari lingkungan sekitar selama berpacaran dengan Mika. Aku bercerita bahwa dulu ada beberapa anak di sekolah yang mengucilkanku karena tahu Mika ODHA. Aku bahkan sempat dilarang menggunakan toilet yang sama dengan alasan takut menulari yang lain. Meskipun terdengar konyol, tapi dulu memang banyak sekali yang belum mengerti HIV/AIDS dengan baik. Berpacaran dengan Mika nggak membuatku terinfeksi, dan jika pun ODHA menggunakan toilet yang sama dengan mereka, itu sama sekali aman. Lucunya, dulu malah ada seorang dokter yang menolak menangani Mika dengan alasan keamanan. Padahal aku pernah membaca tentang 'Keamanan Universal', yaitu prosedur penanganan pasien  dengan menghindari kontak cairan tubuh, misalnya dengan menggunakan sarung tangan. Yang artinya semua pasien harus dilayani dengan baik, termasuk ODHA. Sejak saat itulah aku ingin tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS dan mencari cara agar nggak ada lagi orang-orang yang diperlakukan seperti Mika.


Jeda iklan novel "Waktu Aku sama Mika" langsung dibaca, hihihi :)

Bapak menemaniku di dalam studio :)


Feli dan Kamal pun penasaran dengan hal-hal apa saja yang bisa menularkan HIV karena menurut mereka sepertinya aku nggak takut tertular dengan Mika :) Hihi, tentu saja. HIV nggak menular karena kontak sehari-hari. HIV terdapat di dalam sebagian cairan tubuh seperti; darah, air susu ibu dan cairan kelamin. Jadi berpegangan tangan, makan satu piring ataupun berenang bersama Mika sama sekali nggak masalah. Aku nggak pernah bosan menceritakan bahwa apa yang membuat Mika istimewa adalah kepribadiannya. Ia begitu penuh semangat dan selalu melindungiku. Meskipun ia 7 tahun lebih tua dariku, tapi selama 3 tahun bersamanya nggak pernah sekalipun ia memanfaatkanku. Mika bahkan selalu mendorongku untuk terus berpikir positif.  Jadi apapun yang ia idap itu bukan masalah untuk hubungan kami, karena siapapun bisa saja jatuh sakit.




Ketika Kemal bertanya tentang bagaimana seharusnya lingkungan memperlakukan ODHA, aku langsung menjawab, "Sama saja." Karena aku sendiri nggak nyaman jika harus dibedakan. Statusku sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak membuatku merasa jadi sosok yang berbeda dari orang kebanyakan. Aku punya banyak teman, dan beberapa di antara mereka ada yang seperti Mika. Tapi yang membedakan kami hanya hobi, makanan kesukaan, dan hal-hal semacam itu. Aku percaya selama kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, maka semuanya akan baik-baik saja :)

Wawancara pun ditutup dengan pesan-pesanku untuk para pendengar. Sama seperti yang aku sampaikan di "HIV/AIDS Awereness 2014" 28 November lalu, aku berharap orang akan peduli dengan HIV/AIDS bukan hanya di 1 Desember atau baru pada saat ada keluarga atau orang terdekatnya yang terinfeksi. Tapi peduli bisa dimulai dari sekarang, karena nggak ada kata terlalu cepat untuk memulai. Untuk peduli nggak perlu menjadi seorang aktivis atau expert, tapi dengan membantu menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS di lingkungan terdekat dan melawan diskriminasi pun sudah menunjukan bahwa kita peduli.


Bersama Andrew :)


Wawancara selesai sekitar pukul 6 lewat. Sambil berpamitan aku memberikan sebuah novel "Waktu Aku sama Mika" untuk I-Radio. Badanku yang sedang kurang fit pun terasa membaik karena energi positif yang ada di sini. Bibirku nggak bisa berhenti tersenyum karena hal-hal yang sudah dialami tadi. Saat ada orang yang kutemui dan mengaku bahwa pandangan mereka tentang HIV/AIDS berubah menjadi lebih positif rasanya benar-benar priceless. Saat Andrew berterima kasih atas kehadiranku, rasanya akulah yang harus berterima kasih karena mendapatkan kesempatan seperti ini :) 
Di perjalanan pulang aku mulai terkantuk-kantuk. Saat hampir terlelap aku mendengar Bapak berkata, "Tadi bagus sekali. Kalau Mika dengar kira-kira bagaimana, ya?"
Aku terkikik, mengangkat bahu sekilas. Entahlah, yang aku inginkan hanya semua orang tahu bahwa Mika orang baik...


blessed girl,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 06 Desember 2014

Ikutan Nobar Film MIKA bareng Indi Sugar dan D-100 Community, yuk! ;)


Teman-teman, sudah nonton film MIKA belum? :)
Film MIKA adalah sebuah film Indonesia yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika" yang ditulis berdasarkan kisah nyata gue dan Mika.
Film ini menceritakan tentang gue yang divonis scoliosis (kelainan tulang belakang) dan berkenalan dengan Mika, laki-laki yang mengidap AIDS. Bersama kami menghadapi hari sampai akhirnya berpacaran dan menjadi pribadi semakin kuat meskipun fisik kami lemah.
Film ini disutradarai oleh Lasja Susatyo dan dibintangi oleh Vino Bastian (sebagai Mika), Velove Vexia (sebagai Indi), Izur Muchtar (sebagai Bapak), Dona Harun (sebagai Ibu) dan masih banyak yang lainnya.

Film Mika diputar di bioskop seluruh Indonesia pada tahun 2013 lalu dan sempat menjadi film dengan jumlah penonton paling banyak. Beberapa bulan setelah tayang di bioskop Indonesia, film Mika juga berkesempatan untuk diputar di IFF Melbourne Australia :)

Nah untuk yang belum pernah menontonnya (atau yang rindu dengan film ini, hihihi), gue dan D-100 Community mengajak teman-teman untuk nobar alias nonton bareng. Film MIKA akan diputar pada;

Minggu, 7 Desember 2014
Pukul 16.00
Di Taman Film Bandung
(Bawah jalan layang Pasupati, Tamansari)

Acara ini gratis! Silakan membawa teman sebanyak-banyaknya karena tempatnya sangat luas dan menggunakan layar super besar (4x8 meter) ala bioskop. Asyik sekali, kan? Sampai bertemu di sana, ya! :)

sugarpie nya Mika,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 November 2014

Warna-Warni HIV/AIDS Awareness 2014: Ada Haru, Ada Tawa, Ada Teman-Teman Baru :)


Hai my beloved bloggies friends! Kemarin, 28 November 2014 gue mendapat (another) awesome experience. Gue mengisi acara talk show "HIV/AIDS Awareness 2014" di Kampus Politeknik Bandung Program Studi Usaha Pejalanan Wisata. Untuk gue ini adalah pengalaman yang kedua mengisi acara dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan audience mahasiswa. Tahun lalu gue berbicara di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universtitas Diponegoro Semarang, meski begitu tetap nggak mengurangi perasaan excited gue :)

Kali ini gue nggak sendirian, tapi ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara. Di pertemuan pertama kami ini langsung akrab, lho meskipun sebelumnya hanya berkomunikasi lewat SMS, hihihi. Dan untuk MC nya, guess who? Pasti yang sering mampir ke sini bisa menebak, ya; the one and only Ray ;)
Acara dimulai jam 1 siang dan dibuka dengan sesi sharing bersama Kak Taufik. Nah, waktu sesi ini gue belum datang karena rencananya memang dibagi menjadi 2 sesi sharing, yaitu bersama Kak Taufik lalu bersama gue. Menurut Ray ada banyak sekali yang datang, ia bahkan mengirimi gue foto suasana di ruangan yang membuat gue semakin ingin cepat-cepat tiba, hihihi. Akhirnya, sekitar jam 2.30 sore gue yang diantar Bapak tiba dengan selamat meskipun sempat terjebak macet dan hujan lebat. Sesi bersama Kak Taufik sudah selesai dan audience sedang nonton bareng film Mika. Sambil menunggu gue sempatkan dulu mengobrol sana-sini dengan Ray dan Kak Taufik. Lumayan, masih punya banyak waktu karena durasi filmnya 1 jam lebih :)



Bersama Kak Taufik Rumah Cemara sambil berpose dengan karya-karya gue :) 

Dari luar ruangan, meskipun pintu tertutup tapi gue bisa mendengar reaksi teman-teman audience di dalam. Wah, benar-benar bikin merinding. Waktu ada adegan lucu mereka kompak tertawa, waktu ada adegan yang bikin gemas gue nggak bisa menahan tawa karena komentar-komentar mereka cukup jelas tedengar. Dan waktu mendekati ending film tiba-tiba ruangan sangat sepi, samar-samar gue mendengar suara isak tangis yang diakhiri dengan tepuk tangan seru ketika film selesai. Wah, kalau saja gue nggak harus mengisi acara kemungkinan besar gue sudah ikut menangis saking terharunya :') Film Mika yang diinspirasi oleh kisah hidup gue yang dinovelkan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dipilih untuk diputar di hari AIDS sedunia karena menceritakan kisah hidup Mika, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang berpacaran dengan gue selama 3 tahun terakhir hidupnya. Melalui film ini audience bisa "mengenal" Mika dan melihat seperti apa kehidupan kami yang (sebenarnya) nggak jauh berbeda dengan orang lain.



Ada yang masih menangis haru ketika gue masuk ruangan :')

Ray dan Kak Taufik masuk ke dalam ruangan lebih dulu, lalu disusul oleh gue yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Rasa haru gue jadi semakin bertambah, hihihi :'D Rupanya profile gue sudah dibacakan sebelum gue tiba, jadi audience sudah cukup mengenal gue, seenggaknya mereka tahu bahwa gue adalah "Indi nyata" dari film yang baru saja mereka tonton :) Hanya dalam beberapa detik gue menyadari bahwa beberapa dari mereka masih ada yang bermata sembab karena menonton film Mika. Untung saja suasanya santai, jadi alih-alih sedih berlarut-larut kami dengan cepat tertawa karena Ray juga tanpa ragu melontarkan lelucon.

Ray membawakan acara talk show dengan santai :)

Di sesi sharing ini gue bercerita tentang tentang latar belakang novel "Waktu Aku sama Mika" yang lalu menjadi film Mika. Gue juga bercerita tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari HIV/AIDS. Pokoknya gue bercerita tentang hal-hal yang memang sudah akrab tapi sebenarnya bisa dilakukan untuk melindungi diri, misalnya saja dengan mencari informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Setelah itu giliran audience yang diberikan kesempatan untuk bertanya pada gue. Boleh tanya apa saja, asalkan masih sesuai tema dan jika bertanya tentang Mika nggak ke hal yang terlalu sensitif/pribadi ;) Pertanyaan yang gue dapat beragam sekali dan semuanya sangat antusias. Well, sejauh ini gue memang blessed bertemu dengan teman-teman baru yang selalu antusias, tapi kali ini antusiasnya super sekali, hehehe. Ada yang bertanya tentang kegiatan gue di yayasan AIDS, ada yang bertanya tentang hal-hal mengesankan bersama Mika yang nggak diceritakan di film, ada juga yang bertanya tentang proses penulisan naskah dan lain-lain. Terlihat sekali ya mereka tertarik dengan banyak hal, salut :) Tentang Mika gue jawab bahwa ia istimewa bukan karena ia ODHA. Mika istimewa karena bagaimana cara ia memperlakukan gue dan tentu saja kepribadiannya. Karena menurut gue semua orang itu sama, apapun yang ia idap nggak perlu dijadikan label. Gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak mau hanya dikenal karena apa yang gue idap, dan gue yakin Mika juga begitu :)




Pengetahuan gue tentang HIV/AIDS sudah pasti masih kalah dengan Kak Taufik, tapi setiap ada yang bertanya gue selalu mencoba menjawab sebaik mungkin. Karena menurut gue nggak perlu jadi seorang expert untuk stop diskriminasi dan stigma. Mulailah memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, siapapun itu. Dan untuk menjadi seseorang yang peduli dengan isu HIV/AIDS bukan berarti harus menjadi relawan di sebuah yayasan atau organisasi. Menurut gue dengan membantu menyebarkan info yang benar di kalangan kecil seperti teman atau keluarga sudah merupakan bentuk untuk menunjukan rasa peduli. Hal kecil jika dilakukan terus menerus tentu akan menjadi besar, kan? ;)

Setelah semuanya puas memberikan pertanyaan giliran gue dan Kak Taufik yang bertanya kepada audience. Untuk yang bisa menjawab pertanyaan kami dapat hadiah, lho. Hadiahnya adalah novel charity "Guruku Berbulu dan Berekor" karya gue (yang dibantu oleh beberapa volunteer) dan sebuah stiker dari Tiloe, event organizer yang menyelenggarakan acara ini. Pertanyaannya mudah-mudah, kok. Kak Taufik bertanya tentang hal apa saja yang bisa menularkan HIV/AIDS sedangkan gue bertanya tentang hal apa saja yang nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Semuanya bisa dijawab dengan cepat, sampai-sampai hampir berebutan, hihihi. Eh, tapi ada lho satu pertanyaan yang cukup tricky, yaitu 'Apakah ODHA bisa memiliki anak yang negatif? Jika bisa bagaimana caranya?' Setelah beberapa audience gagal menjawab akhirnya ada juga yang berhasil. Congratulations! :D Btw, kalau-kalau diantara pembaca ada yang penasaran, nih gue kasih bocoran; ODHA bisa kok punya anak yang berstatus negatif :)

Acara ditutup dengan sesi foto dan book signing. Luar biasa sekali sampai akhir acara energi audience sepertinya sama sekali belum berkurang, hihihi. Sampai-sampai ada yang mengajak selfie segala :'D Oya, salut deh dengan mereka, soalnya selain antusias, open minded juga sangat helpful. Mereka sudah menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing, jadi gue nggak harus bertanya lagi nama yang ingin ditulis di buku yang akan ditandatangi. Simpel tapi manis sekali, hihihi :) Gue sangat senang dan bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar (dan ramai, lol). Bisa berbagi ilmu dan mendapatkan teman-teman baru sungguh pengalaman yang berharga buat gue. Terima kasih banyak untuk Polban, Ray, Tiloe, Kak Taufik dari Rumah Cemara dan Homerian Pustaka yang membuat acara ini terwujud. Gue harap akan ada semakin banyak orang peduli bukan hanya karena ada saudara atau teman mereka yang mengidap HIV/AIDS. Peduli datangnya dari hati dan nggak pernah ada kata terlalu cepat untuk memulai :)





Sampai bertemu lagi, teman-teman! :)




keep fighting,

Indi

nb: 
*Senin, 1 Desember 2014 gue akan live interview di I-radio 89.6 FM Jakarta jam 5 sore. Jika kebetulan ada waktu luang, yuk stay tuned! ;)
*Minggu, 7 Desember 2014 film MIKA akan diputar di Taman Film Bandung (Terusan Taman Pasupati) pukul 4 sore. Gue dan D-100 Community akan hadir di sana. Yuk, kita nobar. Gratis! :)


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 24 November 2014

Halloween Costume Party di Trans Studio Bandung: Cerita Tinker Bell dan Peter Pan yang bukan di Neverland :)

Tanggal 29 Oktober lalu aku dapat surprise yang menyenangkan. Aku terpilih sebagai pemenang lomba kostum Halloween Trans Studio Bandung! Wow, padahal tadinya aku nggak berharap banyak, just for fun aku post fotoku yang sedang memakai kostum Snow White ke account twitter Trans Studio. Tahu-tahu aku ditelepon dan diminta datang untuk Halloween Party pada tanggal 31 Oktober for free! Bukan hanya itu, aku juga diajak untuk berparade bersama talent Trans Studio, mengikuti zombie dance dan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba kostum (lagi). How cool is that? Aku sampai nggak bisa senyum-senyum saking senangnya :D 

Meskipun aku nggak mempunyai kostum khusus, hanya kostum Tinker Bell handmade yang tadinya akan dipakai untuk ber Halloween di rumah (baca ceritanya di sini), tapi aku tetap excited. Aku bahkan mengajak Ray yang memakai kostum Peter Pan untuk pergi bersama ke Trans Studio. 
Sekitar jam 11 pagi di tanggal 31 Oktober kami sudah siap dengan kostum masing-masing. Mungkin karena masih pagi dan bukan weekend sepanjang jalan dan tempat parkir Trans Studio Mall tampak cukup lenggang. Which is good, karena membuatku dapat nomor urut peserta kostum kontes yang cukup awal, yaitu nomor 5, hehehe. Begitu tahu kalau aku datang bersama Ray yang juga memakai kostum, panitia menawari Ray untuk ikut kontes juga. Langsung saja aku setuju, soal menang atau kalah itu nggak masalah. Kami hanya mau have fun, dan bisa ber Halloween di Trans Studio saja sudah membuat kami sangat senang. Lagipula aku kan sudah menang kontes kostum di twitter, masa mau berharap menang lagi? Hehehe :)





Parade baru  mulai jam 1 siang, jadi aku dan Ray masih punya waktu untuk bermain beberapa wahana dulu. Sambil melihat-lihat suasana, mata kami juga mencari peserta yang lain. Hehehe, penasaran, kira-kira kostum mereka seperti apa ya. Soalnya seluruh kru Trans Studio nampaknya berdandan seram, nggak ada yang berdandan ala fairy tale seperti kami. Untuk menghindari ‘teriak-teriak karena adrenalin terpacu’ dini, aku dan Ray masuk ke Science Center. What a cute surprise, kami langsung disambut dengan sapaan, “Hai Peter Pan, Hai Tinker Bell” oleh petugas di sana. Kami terkikik geli karena kaget kostum handmade kami ternyata dikenali :D 

Tadinya aku khawatir sayap yang kupakai akan merepotkan, tapi ternyata nggak sama sekali. Aku dan Ray menikmati ‘bermain’ dengan alat-alat peraga science tanpa masalah. Meskipun sudah beberapa kali ke sini tapi masih tetap seru, kami mencoba hal-hal yang di kunjungan sebelumnya belum sempat. Favoritku adalah simulasi bowel system, bukan karena tertarik dengan cara kerjanya, tapi aku suka saat tanganku ikut tersedot ke pencernaan! Hahaha, I’m a Peter Pan at heart :p Dan yang paling lucu waktu Ray mencoba menarik dirinya sendiri dengan sistem katrol. Sekeras apapun ia berusaha, kursinya sama sekali nggak bergerak. Hmm, aku nggak mengerti dengan ilmu fisika (padahal di sekolah jurusan IPA, lol), tapi pengunjung lain pun nggak ada yang berhasil. Jadi asumsiku memang begitulah seharusnya alat itu bekerja, hahaha.

Setelah itu kami bermain sebentar di Broadcast Museum. Setelah tahun lalu mencoba menjadi dubber Si Unyil (OMG, lol), kali ini kami (tepatnya aku) mencoba menjadi pembawa acara infotainment di depan green screen. Konyolnya karena bajuku berwarna hijau, kepalaku jadi tampak melayang-layang di monitor. Cocok banget, aku kan Tinker Bell :p 
Nggak terasa sudah hampir jam 1 siang, aku dan Ray langsung menuju Magic Corner. Di sana kami bertemu dengan Rama yang meneleponku. Ia memberiku selamat dan memberi sedikit pengarahan untuk parade yang sebentar lagi berlangsung. Katanya aku dan Ray cukup mengikuti rombongan dan melambaikan tangan ke arah pengunjung. Aku yakin hanya kami yang diberitahu untuk berekspresi ceria, karena ternyata peserta lainnya berdandan seram-seram! Super seram malah! Aduh, aku jadi merasa salah kostum di saat pesta kostum. Kami nampak seperti penghuni Neverland yang nyasar ke serial Walking Dead :’D


The Walking Death VS Fairy Tale, lol.


Meski begitu kami menikmati sesi parade. Awalnya memang awkward karena yang lain memasang straight face dan seram, sedangkan kami tersenyum ramah. Tapi setelah dipikir-pikir ini memang role yang paling pas buatli, selain anti make up (aku nggak suka kalau wajahku harus kena darah-darahan, uh) aku juga paling nggak bisa menahan untuk nggak cengar-cengir. Kebayang kan kalau pakai kostum seram tapi aku ketawa-ketawa pengunjung langsung kabur, soalnya seramnya jadi double, hahaha :D
Thumbs up lho untuk talent Trans Studio, make up nya keren dan real. Ada yang berdandan seperti boneka Annabelle, Vampire, The Grinch, Death Angel sampai pocong. Aura Halloween pun jadi semakin terasa karena parade berhenti di Magic Corner, dekat dengan wahana Dunia Lain, hiiiiii :D


Bersiap-siap untuk parade :)

Satu-satunya talent yang match sama aku: The Grinch, hahaha :p

Cool costumes! :)


Setelah selesai parade suasana menjadi semakin seru karena talent dan peserta kostum tiba-tiba flash mob alias Zombie Dance. Yup, seharusnya termasuk aku dan Ray. Tapi berhubung nggak ikutan briefing (main melulu sih kami, lol) dan gerakannya ribet jadi kami foto-foto saja :p Ini keren banget lho, gerakannya kompak. Apalagi pakai lagu Thriller nya Michael Jackson, klasik, no surprise tapi nggak salah :D 
Begitu lagu selesai talent dan peserta berbaur dengan pengunjung untuk sesi foto. Ini agak-agak bikin aku deg-degan. Yang lain bisa dengan mudahnya dikenali dengan kostum iconic dan menawan mereka ---atau minimal seram---, sedangkan aku dan Ray berkeliaran dengan kostum berwarna hijau terang yang lebih cocok di acara trick or treat untuk anak-anak, hehehe. But then satu persatu dari pengunjung mulai mengenali kami dan mengajak berfoto. Senyumku semakin lebar karena sayapku yang terbuat dari gantungan baju bekas dan topi Ray yang terbuat dari flanel dikenali sebagai kostum Tinker Bell dan Peter Pan :)


Sementara yang lain dance...

Let's dance, Peter! :)

Lifeless dolls! OMG, mereka perlu 1 ton Pixie dust dan satu milyar Happy Thoughts! :D


We’re having a super great time, setelah sesi foto kami bebas bermain sampai jam 4  sore untuk pengumuman pemenang. Karena sibuk keluar masuk wahana, sayapku pun seringnya ditenteng, nggak lagi nempel di punggung. Bisa (lebih) bebas bermain memang lebih penting daripada keindahan kostum, hehehe. Aku mengajak Ray untuk bermain Jack and The Beanstalk (Negeri Raksasa), wahana yang merupakan first love ku waktu pertama kali datang ke Trans Studio :p Lucunya, dibanding Ray aku jauh lebih pemberani untuk permainan yang memacu adrenalin seperti ini. Kalau tahun lalu Ray sempat agak kupaksa, tahun ini ia sudah lebih ikhlas. Terbukti dengan bersedia terjun bebas dari ketinggian 13 meter sebanyak 2 kali! Hehehe, berhubung favorit jadi aku nggak mau dong kalau naik cuma 1 kali saja ;)
Kami juga bermain Transcar Racing, Dragon Riders (dua kali!) dan Marvel Superheroes the Ride 4D, yang seperti biasa kami duduk terpisah, hehehe. Setelah puas bermain, kami ke Studio Mie untuk makan dan minum sekaligus menunggu waktu pengumuman pemenang.




Jam 4 sore (lewat, hehehe) aku dan Ray ke area wahana Vertigo. Di sana sudah ada Rama dan peserta kontes kostum lainnya yang amazingly nampak rapi. Bingung juga bagaimana cara mereka memanage bermain sambil tetap terlihat bagus, sementara aku dan Ray sudah banjir keringat dan rambut berantakan, hehehe. Meskipun kami nggak berharap menjadi pemenang, tapi kami tetap penasaran dengan pengumumannya. Soalnya peserta lain kostumnya bagus-bagus sekali, jurinya pasti kebingungan, hehehe. Setelah berbasa-basi sebentar, diumumkanlah siapa pemenangnya *drum roll*
 “Dan pemenangnya utamanya adalaaaaaaah....”
Bukan kami, bukan salah satu dari kami tapi peserta termuda bernama Bijoux yang super cute dengan kostum Two Faces Angel-Devil nya. Aww, kami ikut senang, dan sepertinya peserta lainpun setuju jika ia layak untuk menjadi pemenang. Bayangkan, he’s only 5 dan nggak rewel selama berjam-jam memakai kostumnya dengan wajah yang dicat. Apalagi Bijoux dan mamanya jauh-jauh dari Jakarta! Congratulation, little boy :)
Eh, tapi aku juga juara, lho. Juara hiburan tapinya, hahahaha :p Thank God, aku dan Ray mendapat another free ticket dari Trans Studio Bandung dan goodie bag dari Orang Tua Grup (OT) yang isinya setara dengan hasil Trick or Treatin’ sepanjang hari :D Tapi juara atau bukan juara, yang penting kami sangat bersenang-senang. Halloween adalah moment yang tepat untuk melepaskan jiwa kanak-kanak kami, meski sebenarnya meskipun tanpa kostum pun kami tetap Tinker Bell dan Peter Pan di hati. Kalian juga pasti bisa melihatnya, kan? ;)


With Bijoux, the 1st winner! :)

Yay, another free ticket!! Thanks, Trans Studio Bandung :)


Boo,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Steve Irwin; Obsesi Masa Kecil yang Menjadi Inspirasi :)

The Irwin's Family.

14 November 2014
Jadi tadi, menjelang malam, setelah mandi sore gue bersantai di atas tempat tidur ---dengan satu mangkuk popcorn dan remote TV di tangan. Gue memang nggak keluar rumah, hujan sepanjang hari jadi aktivitas gue hanya di depan komputer dan bermain lempar tangkap di dalam garasi bersama Eris, anjing gue. Ngemil di atas tempat tidur nggak apa, hanya sesekali ini gue pikir, hihihi. Lalu saat tangan berselancar di remote, dari channel ke channel, gue melihat sesuatu yang familiar. Ada seorang penyanyi laki-laki berambut pendek sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Bukan, bukan dia yang menarik perhatian gue. Tapi 3 orang berpakaian berwarna khaki yang sedang duduk di sofa. Setelah beberapa detik penuh keenggakyakinan, kamera mulai meng-zoom salah satu dari mereka. Segera gue bangun dari tempat tidur, berlari ke ruang TV dan merebut remote dari Bapak yang sedang menonton Harry Potter. "Pak! Pak! Lihat ada siapa di TV!" Gue tertawa girang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Terri, Bindi dan Robert "Bob" Irwin ada di acara Hitam Putih Trans 7. Bagaimana bisa gue nggak tahu kehadiran mereka di Indonesia sementara gue memfollow twitter mereka dan bahkan twitter Australia Zoo. Acara sepertinya sudah berlangsung setengah jalan, jadi gue terlewat untuk mengetahui tujuan mereka datang ke sini. Dengan tangan gemetar gue mengambil handphone dan mengetik kata kunci "Bindi Irwin di Indonesia" di kolom google. Nggak banyak berita yang keluar, kecuali bahwa mereka sempat ke Gandaria City Jakarta untuk promo "Wild But True" nya Robert Irwin. Nggak ada informasi apakah mereka sudah kembali ke Australia atau belum. Di layar televisi pun nggak ada keterangan apakah mereka tampil live atau taping. Gue heran mengapa di twitter mereka sama nggak menyebutkan tentang rencana kehadiran ke Indonesia, padahal biasanya mereka (terutama Bindi dan Terri) selalu update pada penggemarnya. 
"Sudah, Jakarta kan dekat. Kalau mereka masih di sana hari minggu kita bisa susul," begitu kata Bapak.



Bagi teman-teman sebaya gue Irwin's Family mungkin nggak begitu populer, tapi bagi gue mereka adalah hero! Terutama Steve Irwin, ayah dari Bindi dan Robert sekaligus suami dari Terri yang telah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu. Steve Irwin adalah bagian dari masa kecil gue, bagian dari khayalan dan obsesi yang kemudian membentuk tentang masa dewasa yang gue inginkan. Dulu, setiap sore gue selalu menonton The Crocodile Hunter, dimana Steve menunjukan kepiawaiannya dalam menangkap buaya sekaligus berbagi tentang rasa hormatnya kepada hewan buas yang cantik itu. Gue ingat ia menyebut dirinya "Steve-O" dan berbicara dengan lantang. Ketika ada buaya mendekat ia akan memelankan suaranya dengan logatnya yang sangat khas (saat mengetik ini pun rasanya gue mendengar ia berbicara di kepala gue, hihihi). Menontonnya di TV rasanya seperti mengikuti kehidupannya. Mungkin gue masih kecil tapi gue sudah bisa merasakan bahwa ia adalah pria yang baik. Gue ingat ketika ia berbicara tentang Terri istrinya. Betapa Steve sangat mencintainya sehingga Terri rela untuk meninggalkan negara asalnya. "Cinta pada pandangan pertama," begitu katanya. Juga ketika Bindi putri pertamanya lahir, lalu disusul oleh Robert putra keduanya. Ia sosok ayah yang penyanyang dan menyenangkan, membuat gue semakin mengaguminya. Gue juga ikut menangis ketika Sui anjing kesayangannya mati karena sakit dan sudah tua...

Buku harian gue, 12 tahun yang lalu.

Steve Irwin semakin menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang. Sejak bayi gue memang selalu dikelilingi binatang peliharaan, tetapi Steve membuat gue mempunyai tujuan. Gue mulai tertarik dengan konservasi fauna, mencari tahu kemana gue harus membantu jika ada binatang-binatang terlantar. Gue juga belajar untuk menghormati, sekecil apapun binatang yang ada di sekitar gue. Gue mulai dengan membuat "animal diary", yaitu sebuah buku harian yang memuat update tentang binatang peliharaan gue dan binatang-binatang yang terkenal. Kisah pertama yang gue tulis adalah tentang seekor Panda tua di Cina, yang sedihnya berakhir mati karena sakit :( Dengan uang jajan yang ditabung cukup lama gue juga membeli VCD-VCD Steve Irwin. Dan ketika Crocodile Hunter nggak ada lagi di TV gue semakin sering menonton ulang koleksi VCD nya.

Ketika mendengar kabar tentang kepergiannya gue sangat terkejut. Ada rasa haru yang aneh karena gue nggak pernah mengenalnya secara personal. Dunia kehilangan salah satu penghuni terbaiknya, seseorang yang (at least di mata gue) mempunyai aksi nyata untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Meski begitu kepergiannya nggak membuat gue berhenti terinspirasi. Bindi, putrinya yang mulai besar mempunyai acara sendiri dan berbagi passion yang sama dengan ayahnya. Gue ingat melihatnya di acara Oprah, ia bernyanyi lagu rap "Trouble in the Jungle" dengan lirik sederhana yang menyentuh. Ia meneruskan jejak ayahnya dengan caranya sendiri dan melakukannya karena ingin, bukan hanya karena sebuah keharusan. Bindi membuat semangat gue semakin besar. Gue bangga menjadikannya seorang inspirasi baru meski ia berusia lebih muda dari gue.

Koleksi VCD Steve Irwin "The Crocodile Hunter" hasil menabung dari uang jajan :)


Waktu kecil punya buku harian yang isinya tentang binatang.

Ide Bapak untuk menyusul keluarga Irwin ke Jakarta terpaksa batal. Mereka ternyata sudah kembali ke Australia dan entah kapan akan berkunjung kembali ke sini. Mengingat bahwa gue hanya terlambat beberapa hari dengan jarak yang cukup dekat membuat gue merasa kecolongan. Padahal ingin rasanya gue menyapa Terri, Bindi dan Robert sambil menyampaikan rasa kagum gue terhadap mereka. Gue juga ingin menunjukan koleksi VCD-VCD  dan "animal diary" gue agar Bindi dan Robert tahu betapa berpengaruhnya ayah mereka terhadap gue... Bapak menenangkan gue, beliau bilang ini mungkin bukan waktunya. Suatu hari akan ada kesempatan dengan skenario indah untuk bertemu mereka. Seperti ketika tahun lalu Aerosmith yang sudah gue tunggu sejak berusia 7 tahun batal datang ke Indonesia. Tuhan ternyata punya rencana lain untuk mempertemukan kami di Singapore dengan jalan yang bahkan nggak berani gue impikan. Mungkin suatu hari gue yang menemui mereka di Australia, siapa tahu... Yang pasti sambil menunggu hari itu datang gue akan terus menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang, dengan rasa hormat seperti yang diajarkan oleh keluarga Irwin.


note:
*Tanggal 15 November diperingati sebagai hari Steve Irwin (Steve Irwin Day) untuk menghormati hidup dan legacy nya. Meskipun gue selalu memakai dress colorful, gue ingin selama 1 hari saja memakai setelan khaki ala Irwin's Family :)
*Foto gue yang sedang memegang VCD-VCD Steve Irwin dilihat oleh account Australia Zoo (kebun binatang milik Irwin's Family) dan mereka berkomentar "Thanks for being a wildlife warrior!". Really made my day :)
* Gue membuat novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" yang royaltinya didonasikan untuk penampungan-penampungan hewan di Indonesia. Meskipun hanya langkah kecil, gue harap bisa melanjutkan spirit dari Steve Irwin :)
*Dan yes, nama gue "Indi". Seperti "Bindi" tapi tanpa huruf "B", hihihi.

***

Update:
Australia Zoo akhirnya membaca postingan ini! Sungguh sebuah kehormatan! :)



Crikey!

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Rabu, 12 November 2014

Update Scoliosis Gue: Alasan Lain Kenapa Memakai SpineCor :)


Haiiiiiii, bloggies apa kabar? Semoga semuanya baik, ya :) In case ada yang bertanya, kabar gue juga baik, hihihi. Gue lagi happy dengan another good news dari perkembangan scoliosis gue. Sudah pada tahu kan kalau selama 6 bulan terakhir gue memakai SpineCor alias soft brace? (lihat cerita sebelumnya di sini, di sini dan di sini). Jadi beberapa waktu lalu gue kembali bertemu dengan Dr. Natalie, karena selama pemakaian SpineCor setiap 1 bulan sekali gue harus review. Setelah perjalanan yang super macet (Bandung-Jakarta saja sampai 6 jam lebih, dong!) rasa pegalnya langsung terbayar. Dr. Natalie berkata tulang belakang gue "amazing". Masih terlalu dini untuk x ray ulang, tapi dia optimis dengan hasilnya :)

Sejak hari pertama gue memakai SpineCor sampai hari ini, gue masih takjub dengan cara kerjanya yang 'nggak terasa'. Waktu gue pakai boston brace, 23 jam sehari, 7 hari seminggu (yang pernah menonton film MIKA pasti tahu maksud gue, hihi), aktifitas gue jadi terbatas. Gue nggak bisa menunduk, tidur menyamping dan melakukan semua hal yang memutuhkan kelenturan alami tubuh gue. Tapi dengan SpineCor gue melakukan semuanya tanpa hambatan, bahkan kalau nggak gue beri tahu orang pasti nggak mengira kalau gue memakai brace karena SpineCor bisa tersembunyi dengan sempurna di balik baju. Meski sangat lentur dan tipis (yup, nggak memberi "efek gemuk" seperti boston brace) SpineCor membuat hidup gue lebih berkualitas. Keluhan khas yang ditimbulkan dari scoliosis seperti kebas, kesemutan dan pegal-pegal sedikit demi sedikit berkurang, jadi kegiatan gue sehari-haripun lebih maksimal :)

SpineCor tersembunyi di balik baju dan super nyaman :)


Meski awal keinginan gue memakai SpineCor adalah karena melihat Lourdes, putrinya Madonna yang tetap super stylish meskipun scoliosis. Sekarang alasan kenapa gue memakai SpineCor semakin bertambah. Gue diberitahu oleh Dr. Natalie tentang fakta-fakta yang bikin gue semakin semangat untuk lebih membaik. Pertama, SpineCor ternyata terbukti lebih efektif 3,7 kali daripada hard brace (seperti boston brace yang dulu gue pakai) untuk mencegah operasi. Karena lebih baik dalam menstabilkan dan mengendalikan scoliosis. Dan yang kedua, SpineCor secara klinis sudah terbukti memiliki 89% keefektifan terhadap pasien. Ini menurut penelitan selama 10 tahun terhadap lebih dari 40 pasien, lho. Jadi meskipun sekali scoliosis tetap scoliosis, dengan SpineCor kesempatan gue untuk membaik lebih besar :)

Meski tipis tapi keefektifannya mencapai 89% :)


Gue berbagi pengalaman gue selama memakai SpineCor di blog ini karena tahu betul bagaimana nggak nyamannya scoliosis. Gue baru ketahuan setelah kurva mencapai 35 derajat. Masih ringan, tapi sebenarnya sudah bisa terlihat ciri-cirinya. Tapi dulu gue dan keluarga sama sekali nggak mengerti apa itu scoliosis, padahal cara mendeteksinya sangat mudah. Gunakan metode "Adam's Forward Bend Test", yaitu membungkuk seperti gerakan shalat rukuk, lalu dengan bantuan orang lain lihat permukaan punggung kita, apakah terlihat menonjol sebelah atau nggak. Jika terlihat ada yang menonjol segera konsultasikan dengan dokter, karena penggunaan SpineCor akan lebih efektif jika kurva masih kecil. Meski begitu bukan berarti yang sudah terlanjur berkurva besar nggak bisa memakai SpineCor. Ada faktor lain yang juga menjadi penyebab efektif atau nggaknya Spinecor, seperti usia dan kedisiplinan. Yang kedua itu jauh lebih penting daripada faktor kurva dan usia. Gue sudah berusia mature (di atas 18) dengan kurva besar (52 derajat) buktinya masih bisa turun 12 derajat dengan pemakaian teratur sesuai yang dianjurkan dokter :D

Gue tahu kadang membicarakan scoliosis itu nggak mudah. Dulu gue juga selalu menghindar kalau ada yang menyinggung tentang kelainan tulang belakang gue ini. Alasannya karena nggak semua orang mengerti dan karena tahu bahwa scoliosis nggak bisa sembuh dengan minum obat 3 kali sehari dan istirahat yang cukup ---somehow bikin gue sedih---. Tapi sekarang gue rasa yang terbaik adalah dengan membicarakannya, dengan sharing. Karena scoliosis bukan akhir segalanya dan dengan kemajuan tekhnologi, kita, scolioser bisa membaik :) Jadi jika ada diantara teman-teman yang juga scoliosis, atau mengenal seseorang yang scoliosis, please jangan dibiarkan tapi segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Oh iya, waktu review pemakaian SpineCor gue diberitahu bahwa Back Up Clinic sekarang sudah berganti nama menjadi Spine Body Center. Lokasinya berdekatan dengan yang lama, kok. Yaitu di APL Tower lantai 25 (samping Central Park Mall) Jakarta. Jika mau bertanya seputar SpineCor atau membuat janji dengan dokternya bisa telepon ke (021) 2933 9295
Bulan depan gue juga akan kembali lagi ke sana untuk review, nggak sabar dengan hasilnya, hihihi. Okay, sekian dulu ya update tentang pemakaian SpineCor nya, sekarang gue mau tidur dulu karena sudah super larut. See you, teman-teman! :D

smile,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469