Tampilkan postingan dengan label Indi di Radio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indi di Radio. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Indi Sugar Live Interview tentang Aerosmith di Trijaya FM Palembang! :)


I'm so excited! Hari ini aku akan diinterview oleh Trijaya FM Palembang! Iya, hanya interview radio saja, kok, bukan diajakin duet sama Walk Off the Earth, hehehe. Nah, terus kenapa aku excited? Karena temanya tentang........ *drum roll* AEROSMITH! Hahaha :D It's been awhile sejak terakhir kali aku ngomongin soal band super keren yang sangat aku kagumi sejak usia 7 tahun ini. Mungkin ada yang sudah tahu bahwa alasanku mengagumi mereka bukan hanya karena sekedar musiknya, tapi bisa dibilang mereka ikut "berjasa" dengan apa yang terjadi sama aku sekarang. Aerosmith menemani di saat aku ketakutan dengan masa remajaku, dan Steven Tyler, ---vokalisnya--- adalah orang yang berhasil membuatku percaya bahwa semua orang memiliki bakat, ---termasuk aku. Setelah dewasa akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu mereka, dan rasa kagumku pun semakin besar. They're so humble and polite, jauh sekali dengan kesan stereotype rockstar. Dua tahun lalu aku juga pernah live interview dengan salah satu radio di Jakarta tentang Aerosmith, tapi too bad setelah interview selesai aku mendapat kabar buruk bahwa band favoritku itu batal mampir ke Indonesia :( Nah, interview ini adalah yang pertama setelah aku berhasil bertemu (yes, bukan hanya sekedar nonton konser, tapi plus meet and greet) Aerosmith. Mau tahu seperti apa ceritaku? Teman-teman jangan sampai terlewat siarannya, ya!

Classic Rock with Indi Sugar akan on air pada tanggal 12 Desember 2015 (yes, it's today!) pukul 21:15 WIB di Trijaya FM Palembang 87.6 FM. Untuk yang di luar kota juga tetap bisa mendengarkan secara langsung dengan cara streaming di link ini:  http://trijayafmplg.net/
Aku belum tahu apakah nanti akan ada sesi interaktif atau nggak, tapi in case ada, kalian bisa memberikan pertanyaan lewat SMS ke 0811713876 dan telepon ke 0711-319191/321040.
Sampai bertemu di udara, ya. Sekarang aku mau istirahat dulu, dan seperti kata Steven Tyler... Dream on, dream on... until your dream come true! ;)

yang dipanggil sweety sama steven tyler,
Indi

***

UPDATE:
Untuk yang terlewat interviewnya bisa dengarkan di sini:

________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 17 Mei 2015

Hal Pertama Ketika Tiba di Surabaya: On Air di Colors Radio :D

Whoaaaaa, akhirnya aku bisa bercerita kembali di sini!! *sujud syukur* *nangis terharu*
Belakangan ini aktivitasku memang sedang terhambat karena masalah kesehatan, padahal jadwalku sedang lumayan padat. Sempat pengen nangis, tapi aku ingat kalau ini mungkin cara Tuhan untuk bilang “slow down” sama aku :) Di beberapa post sebelum ini aku sempat bilang kalau akan bercerita tentang malam penobatan “Kartini Next Generation Award 2015”, tapi ternyata harus tertunda karena aku mendadak sakit. Minggu lalu aku demam tinggi selama 3 hari, setelah diperiksa ternyata aku terkena demam berdarah dan gejala tipus! Terpaksa harus ada beberapa hal yang ditunda, termasuk berbagi cerita di “Dunia Kecil Indi” ini. Well, berhubung kesehatanku belum 100% pulih, sekarang aku akan bercerita tentang pengalaman yang cukup singkat dulu, ---belum kuat untuk lama-lama di depan komputer---. Untuk pengalaman di malam penobatan KNG akan aku ceritakan lain kali, (mudah-mudahan) saat kesehatanku sudah jauh lebih baik ;)

Setelah dilema yang cukup panjang akhirnya aku putuskan di saat-saat akhir untuk memenuhi undangan Unika Widya Mandala Surabaya untuk menjadi pembicara di event “ODHA Awareness 2015” yang mereka adakan. Trombositku yang masih belum normal dan suhu tubuh yang naik-turun juga membuat dokter ragu untuk mengizinkanku pergi ke luar kota. Tapi berhubung sudah sejak lama ingin sekali bertemu dengan teman-teman pembaca di Surabaya, akhirnya aku membulatkan tekad untuk tetap datang berbekal obat dari dokter dan banyaaaaak sekali doa (dokternya kupaksa untuk kasih restu, lol).

Tanggal 13 Mei 2015, setelah adzan subuh aku dengan diantar Bapak pergi ke bandara Husein. Yup, kami ambil penerbangan (super) pagi karena aku akan mengisi acara di siang hari. Ini pertama kalinya aku berangkat dan mengisi acara di hari yang sama, karena biasanya minimal ada waktu semalam untuk berisirahat. Hehehe, padahal kesehatanku sedang nggak maksimal, ya... Syukurlah perjalanan kami lancar, nggak ada delay dan cuaca juga cerah. Sekitar jam 7:15 pagi kami tiba di Bandara Juanda dengan selamat :D




Di sana, Rosa dari Unika Widya Mandala sudah menunggu untuk mengantarku ke studio Colors Radio. Yup, jadwalku memang padat sekali. Begitu tiba langsung dijadwalkan interview tanpa sempat ganti baju dan cuci muka terlebih dahulu (---untung masih sempat napas, hehehe). Sarapan pun dilakukan di mobil. Lumayan, aku ada waktu untuk menghabiskan sebuah roti dan segelas susu karena jarak antara bandara dan studio cukup jauh. Aku juga gunakan kesempatan ini untuk mengobrol dengan Rosa. Ini menjadi kali pertama kami bertemu langsung, sebelumnya hanya sempat mengobrol di Instagram dan Twitter (plus via Ray, managerku). Aku bertanya tentang Surabaya yang baru kali ini aku kunjungi dan juga tentang audiences di acara nanti. Ternyata jumlah yang mendaftar cukup banyak, lho. Dari target 150 pendaftar ternyata membengkak jadi 190 pendaftar! Wah, syukurlah :)

Ketika tiba di studio Colors Radio aku nggak langsung diwawacara karena jadwalnya di jam 10 pagi. Sambil menunggu aku sempat minta dibelikan obat sakit kepala karena mendadak merasa sedang di wahana kora-kora. Entah karena cuaca Surabaya yang sedang panas atau karena kesehatanku menurun, yang pasti aku jadi deg-degan khawatir nggak akan tahan sampai acara siang nanti. Syukurlah Rosa mengerti, ia berusaha membuatku nyaman dengan memberikan aku banyak air putih :)





Aku on air dengan ditemani Rosa. Kami menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan kapasitas sebagai bintang tamu dan penyelenggara acara. Yang berbeda dari “ODHA Awareness 2015” ini dengan event lainnya adalah konsepnya yang justru menyorot ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) sebagai bagian dari masyarakat, bukan membahas tentang penyakitnya. Kita bisa saja mencari tahu tentang HIV/AIDS di internet atau buku, tapi akan percuma jika nggak menghargai ODHA sebagai anggota masyarakat sama seperti kita. Dengan event ini diharapkan kita bisa menghargai sesama sebagai manusia tanpa memberikan cap atau label berdasarkan apa yang mereka idap. Aku mewakili OHIDA (Orang Hidup dengan HIV/AIDS), jadi aku berbagi pengalaman tentang keseharian berdampingan dengan ODHA, ---yang sebenarnya sama saja seperti kita semua. 





Di sesi wawancara ini juga dibuka SMS interaktif dengan para pendengar. Selain ada pertanyaan mengenai tekhnis acara (cara registrasi, tempat, dll), cukup banyak juga pertanyaan seputar HIV/AIDS yang diajukan padaku. Uniknya, ada 2 orang pendengar yang bertanya tentang hal yang sama meskipun sebelumnya sudah aku jawab; Mereka bertanya tentang ciri-ciri ODHA. Sepertinya mereka nggak yakin dengan jawabanku, karena bahkan penyiarnya pun ikut-ikutan mengajukan pertanyaan yang sama! :O Sebenarnya nggak ada ciri-ciri fisik dari ODHA, mereka sama saja seperti kita. Jika ada stereotype ODHA itu kurus, pucat dan lain sebagainya, itu salah. Karena itu semua dsebabkan oleh infeksi oputunistik yang menyertai, atau ciri-ciri orang sakit PADA UMUMNYA, bukan ciri-ciri pengidap HIV. Itulah kenapa aku selalu bilang bahwa untuk mengetahui seseorang mengidap HIV atau nggak ya dengan cara VCT, atau dengan kejujuran orang itu sendiri :)
[Pertanyaan yang sama muncul kembali ketika acara berlangsung, dan narasumber dari Delta Crisis pun memberikan jawaban yang sama sepertiku].




Ada kejutan ketika wawancara hampir selesai. Penyiarnya menerima Line dari pacarnya yang katanya menyukai karya-karyaku sejak 6 tahun yang lalu! Ya, ampun terharu aku jadinya. Aku bahkan nggak ingat apa yang aku lakukan 6 tahun yang lalu, ---tapi sepertinya sedang culun-culunnya, hehehe. Karena aku harus segera melanjutkan jadwal untuk menaruh barang-barang di hotel lalu menuju Unika Widaya Mandala untuk “ODHA Awareness 2015”, jadi aku pun memintanya untuk hadir di acara nanti agar kami bisa bertemu. Wah, sungguh kebetulan yang luar biasa, ya. Jika saja bukan pacarnya yang mewawancaraiku mungkin ia nggak tahu kalau aku sedang di Surabaya, hehehe :)
Aku menerima banyak kejutan lainnya ketika acara berlangsung. Sampai saat aku mengetik ini pun rasanya masih nggak percaya betapa penuh berkahnya hidupku. Tapi akan aku ceritakan nanti, sekarang cukup sampai di sini dulu ceritanya. Terima kasih untuk teman-teman yang tetap setia mengikuti dunia kecilku ini meskipun belakangan jarang sekali update :’) See you soon di cerita selanjutnya!




Blessed girl,

Indi

 _____________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 14 Maret 2015

Indi Goes to Mexico! :)

Dua bulan yang lalu aku ingin belajar bermain ukulele karena kupikir itu adalah alat musik yang menyenangkan. Waktu mulai menguasainya, aku selalu bermain karena membuat hatiku bahagia, bukan untuk mengesankan orang lain apalagi menjadi terkenal.

Siapa sangka sebuah video permainan ukulele yang kuupload di YouTube untuk kalangan teman-teman ternyata ditonton oleh sebuah media! Seorang penyiar menemukan videoku dan memutuskan untuk memutarnya di radio Desorden Comun. Itu sebuah radio di Mexico! Iya, aku gak salah ketik... MEXICO! :D




Waktu itu tanggal 13 Maret, lewat tengah malam. Sambil mengedit naskah aku mendengarkan radio tersebut secara streaming. Sedang ada segmen "Red Hot Chili Peppers and John Frusciante Special", para idolaku. Lalu aku mendapatkan pesan dari radio tersebut yang isinya, "Indi, I have a surprise for you." Terkejut dan penasaran karena aku nggak mengenal mereka, buru-buru aku mengetik balasannya untuk bertanya. Tapi sebelum pesanku terkirim terdengarlah suara yang sangat familiar di telingaku... tentu saja, karena itu suaraku sendiri yang sedang bernyanyi dan bermain ukulele! 

Membayangkan bahwa ada (banyak) orang dari belahan dunia lain, dari tempat yang bahkan belum pernah aku kunjungi, membuatku merinding ---bahkan hampir menangis. Ini luar biasa, kejutan menyenangkan yang bahkan belum pernah kuimpikan. Sepanjang 2 jam acara mereka memutarkan lagu-lagu dari RHCP dan John, ---dan cover dariku tiba-tiba muncul di antara karya-karya hebat mereka. Sungguh suatu kehormatan... meski sampai sekarang pun aku nggak tahu kenapa bisa ada di sana :')

Tapi aku bersyukur, sangat bersyukur dan berterima kasih. Karena sekali lagi diingatkan Tuhan bahwa aku nggak perlu jadi ahli, nggak perlu jadi yang paling pandai. Asalkan mengerjakan sesuatu dengan suka cita dan bersungguh-sungguh pasti ada hasil! :)


Ini coverku yang mereka putarkan di radio :)


the 5th member of RHCP, lol,

Indi


Keywords: John Frusciante, Red Hot Chili Peppers, pemain ukulele perempuan, pengalaman masuk radio, Meksiko.


 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 07 Desember 2014

Live Interview "World AIDS Day" di I-Radio Jakarta :)

1 Desember 2014

Aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung sarapan. Sebenarnya semalam aku nggak bisa tidur karena kurang enak badan dan... karena ini tanggal 1 Desember. Seperti sudah diprogram, setiap Hari AIDS Sedunia pasti rasa rinduku pada Mika semakin kuat. Tapi aku sudah ada janji di Jakarta, jadi setelah sarapan aku langsung berganti baju dan pergi diantarkan Bapak. 

Cuaca mendung dengan angin bertiup kencang membuatku berusaha bergelung di kursi depan mobil. Lalu lintas cukup padat tapi nggak ada hambatan yang berarti. Syukurlah, itu artinya kemungkinan besar kami bisa sampai sebelum jadwal 3 in 1. Lokasi studio I-Radio ---radio yang mengundangku--- terletak di Sarinah, daerah yang mulai pukul 4.30 sore berlaku sistem 3 in 1. Janji yang dibuat sebenarnya pukul 5 sore, tapi menunggu lebih baik dariada harus kena tilang, hehehe.
Waktu Ray memberitahu bahwa ia dihubungi Andrew (produser I-Radio) yang ingin mengundangku, aku terus-terusan bertanya tentang konsep acaranya. Well, ini bukan kali pertama aku diundang ke studio radio, tapi mengingat hari yang diminta bertepatan dengan Hari AIDS sedunia, aku jadi sedikit 'khawatir'. Ray, yang juga merangkap sebagai managerku sudah mengerti betul dengan 'kesensitifan' ku (bless his heart!). Mika adalah sosok yang aku banggakan dan selalu dengan senang hati aku bagikan kisahnya ---juga sekaligus sosok yang ingin aku ceritakan dengan hati-hati. Status Mika yang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) kadang membuat beberapa media membuatnya terkesan negatif (just google it!) atau malah dikasihani. Padahal yang ingin aku bagikan justru tentang betapa full of passion dan positinya Mika, tentang betapa aku menganggapnya sebagai seorang hero. Orangtua Mika masih ada dan tahu tentang novel dan film yang dibuat untuk putra kesayangannya. Jadi aku ingin menjaga kepercayaan mereka sampai kapanpun. Syukurlah kekhawatiranku ditenangkan oleh Ray. Ia bilang bahwa Andrew sepertinya sudah cukup mengenal ku, dan ia juga meminta daftar pertanyaan untuk interview supaya aku bisa menyaringnya jika ada sesuatu yang membuatku nggak nyaman.

Pukul 2.30 aku dan Bapak sudah tiba di Sarinah. Karena masih punya banyak waktu kami putuskan untuk berkeliling dan ngopi-ngopi dulu. Bapak dulu bekerja di Jakarta, jadi beliau cukup mengenal tempat ini. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan sejuk (kontras dengan di Bandung, cuaca terik sekali, hehehe) aku menghubungi Ray untuk mengingatkan tentang daftar pertanyaan. Hanya beberapa menit kemudian aku menerima email dan langsung membacanya. Bibirku seketika tersenyum, nggak ada pertanyaan yang terlalu pribadi dan terkesan menjudge. Semuanya wise dan cerdas. Aku langsung menunjukkannya pada Bapak yang juga langsung menyukai isinya. Di perjalanan Bapak memang sudah mewanti-wanti agar beliau nggak diajak masuk ke dalam studio. Alasannya karena "malas" jika harus menjawab sesuatu yang sifatnya terlalu pribadi. Pasalnya tahun lalu ketika aku mengisi acara dalam rangka Hari AIDS Sedunia, ada seseorang yang bertanya kepada Bapak dan membuatnya nggak nyaman. Bapak memang nggak memeberitahuku apa isi pertanyaannya, tapi beliau menjelaskannya dengan 2 kata, "Pertanyaan kepo."

Sekitar pukul 4.30 aku dan Bapak menuju ke studio I-Radio yang letaknya di lantai 8. Hanya menunggu beberapa menit, Andrew menemui kami dan mengajak kami ke ruang tunggu. Setelah diberikan penjelasan singkat kami juga sedikit mengobrol. Andrew ternyata sudah mengenal ku sejak tahun 2009, waktu novel pertamaku "Waktu Aku sama Mika" terbit. Ia juga sudah membaca 2 novelku yang lainnya, "Karena Cinta Itu Sempurna" dan "Guruku Berbulu dan Berekor". What a nice surprise! Hatiku jadi semakin senang :) Berhubung Bapak sudah tahu pertanyaan apa saja yang akan diajukan, beliau pun bersedia untuk menemaniku di dalam studio meskipun nggak ikut diwawancara.





Aku lalu berkenalan dengan Feli dan Kamal, hosts yang akan on air bersamaku. Kesan pertamaku; mereka kocak-kocak, hehehe. Berbekal portofolio yang sudah diprint, wawancara pun dimulai :)
Seperti biasa, dimulai dengan perkenalan singkat kepada pendengar mereka lalu mulai memberikan pertanyaan seputar novel "Waktu Aku sama Mika". Aku menceritakan tentang proses penulisan novel yang tadinya hanya buku harian pribadi, jadi ketika sudah dicetak masih lengkap dengan tanggal dan segala macam typo-nya. Aku juga mengenalkan sosok Mika secara singkat, tentang sejauh mana ia dulu begitu mempengaruhiku dan menjadikanku pribadi yang lebih positif. 





Setelah itu perbincangan kami semakin mengalir. Feli bertanya apakah aku pernah mendapatkan deskriminasi dari lingkungan sekitar selama berpacaran dengan Mika. Aku bercerita bahwa dulu ada beberapa anak di sekolah yang mengucilkanku karena tahu Mika ODHA. Aku bahkan sempat dilarang menggunakan toilet yang sama dengan alasan takut menulari yang lain. Meskipun terdengar konyol, tapi dulu memang banyak sekali yang belum mengerti HIV/AIDS dengan baik. Berpacaran dengan Mika nggak membuatku terinfeksi, dan jika pun ODHA menggunakan toilet yang sama dengan mereka, itu sama sekali aman. Lucunya, dulu malah ada seorang dokter yang menolak menangani Mika dengan alasan keamanan. Padahal aku pernah membaca tentang 'Keamanan Universal', yaitu prosedur penanganan pasien  dengan menghindari kontak cairan tubuh, misalnya dengan menggunakan sarung tangan. Yang artinya semua pasien harus dilayani dengan baik, termasuk ODHA. Sejak saat itulah aku ingin tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS dan mencari cara agar nggak ada lagi orang-orang yang diperlakukan seperti Mika.


Jeda iklan novel "Waktu Aku sama Mika" langsung dibaca, hihihi :)

Bapak menemaniku di dalam studio :)


Feli dan Kamal pun penasaran dengan hal-hal apa saja yang bisa menularkan HIV karena menurut mereka sepertinya aku nggak takut tertular dengan Mika :) Hihi, tentu saja. HIV nggak menular karena kontak sehari-hari. HIV terdapat di dalam sebagian cairan tubuh seperti; darah, air susu ibu dan cairan kelamin. Jadi berpegangan tangan, makan satu piring ataupun berenang bersama Mika sama sekali nggak masalah. Aku nggak pernah bosan menceritakan bahwa apa yang membuat Mika istimewa adalah kepribadiannya. Ia begitu penuh semangat dan selalu melindungiku. Meskipun ia 7 tahun lebih tua dariku, tapi selama 3 tahun bersamanya nggak pernah sekalipun ia memanfaatkanku. Mika bahkan selalu mendorongku untuk terus berpikir positif.  Jadi apapun yang ia idap itu bukan masalah untuk hubungan kami, karena siapapun bisa saja jatuh sakit.




Ketika Kemal bertanya tentang bagaimana seharusnya lingkungan memperlakukan ODHA, aku langsung menjawab, "Sama saja." Karena aku sendiri nggak nyaman jika harus dibedakan. Statusku sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak membuatku merasa jadi sosok yang berbeda dari orang kebanyakan. Aku punya banyak teman, dan beberapa di antara mereka ada yang seperti Mika. Tapi yang membedakan kami hanya hobi, makanan kesukaan, dan hal-hal semacam itu. Aku percaya selama kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, maka semuanya akan baik-baik saja :)

Wawancara pun ditutup dengan pesan-pesanku untuk para pendengar. Sama seperti yang aku sampaikan di "HIV/AIDS Awereness 2014" 28 November lalu, aku berharap orang akan peduli dengan HIV/AIDS bukan hanya di 1 Desember atau baru pada saat ada keluarga atau orang terdekatnya yang terinfeksi. Tapi peduli bisa dimulai dari sekarang, karena nggak ada kata terlalu cepat untuk memulai. Untuk peduli nggak perlu menjadi seorang aktivis atau expert, tapi dengan membantu menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS di lingkungan terdekat dan melawan diskriminasi pun sudah menunjukan bahwa kita peduli.


Bersama Andrew :)


Wawancara selesai sekitar pukul 6 lewat. Sambil berpamitan aku memberikan sebuah novel "Waktu Aku sama Mika" untuk I-Radio. Badanku yang sedang kurang fit pun terasa membaik karena energi positif yang ada di sini. Bibirku nggak bisa berhenti tersenyum karena hal-hal yang sudah dialami tadi. Saat ada orang yang kutemui dan mengaku bahwa pandangan mereka tentang HIV/AIDS berubah menjadi lebih positif rasanya benar-benar priceless. Saat Andrew berterima kasih atas kehadiranku, rasanya akulah yang harus berterima kasih karena mendapatkan kesempatan seperti ini :) 
Di perjalanan pulang aku mulai terkantuk-kantuk. Saat hampir terlelap aku mendengar Bapak berkata, "Tadi bagus sekali. Kalau Mika dengar kira-kira bagaimana, ya?"
Aku terkikik, mengangkat bahu sekilas. Entahlah, yang aku inginkan hanya semua orang tahu bahwa Mika orang baik...


blessed girl,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469