Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Selasa, 17 Februari 2015

So I Stayed Up and I Wrote This...

Katanya sih supaya benar-benar mengerti perasaan seseorang kita harus berada di posisi yang sama dengan orang tersebut dulu. Atau istilahnya “you should walk a mile in their shoes.” Tapi saking nggak enaknya apa yang terjadi pada gue, gue sih berharap orang lain nggak perlu mengalami hal yang sama. Gue cuma mau orang-orang lebih open minded dan mencoba berempati dengan orang-orang yang seperti gue.

***

Gue ingat waktu pertama kali ‘Kota Kembang’, tempat penjualan CD/DVD bajakan terbesar di Bandung dibuka. It was a heaven for me ---and my friends. Setiap beberapa minggu sekali gue dan teman-teman mampir ke sana untuk membeli CD/DVD musik dan film favorit. Jika sedang beruntung kami bahkan bisa menemukan album dan judul film yang belum dirilis di Indonesia! Saking senangnya gue bisa berjam-jam memilih judul di tumpukan plastik DVD dan tanpa ragu menghabiskan uang saku yang diberi oleh Ibu dan Bapak. Gue merasa di atas angin, dengan cepat bisa mengumpulkan album idola-idola gue tanpa harus bersusah payah menunggu kabar tentang pre-order dari toko CD dan membayar dengan harga yang mahal. Gue juga bisa bebas menukar CD/DVD sebanyak yang gue mau jika ada kerusakan atau bahkan jika gue nggak suka dengan isinya. Rasanya benar-benar seperti surga untuk gue. Tapi ternyata tanpa sadar gue sudah menciptakan neraka untuk orang lain...

Gue nggak merasa berbuat jahat, gue pikir yang gue lakukan legal. Selain karena usia gue yang masih muda (I was 13 or 14), gue juga melihat ‘iklan’ Kota Kembang di Yellow Pages, berdampingan dengan toko-toko resmi di Bandung. Jadi gue pikir apanya yang salah? Apalagi menurut gue (waktu itu) sesuatu yang ilegal nggak mungkin dijual secara terang-terangan karena polisi bisa dengan mudah menemukan tempat itu. Tapi seiring berjalannya waktu gue tahu bahwa yang gue lakukan salah. Membeli barang bajakan itu melanggar hukum, dan gue nggak bisa dengan egois bilang bahwa, “gue beli karena ada yang menjual.” That’s silly, karena sebenarnya mereka juga ada karena ada gue terus-terusan beli.

Gue belum pernah (dan semoga jangan) kecanduan rokok, drugs atau hal-hal lainnya. Tapi membeli CD/DVD bajakan juga rasanya seperti candu. Sehabis membeli satu pasti timbul keinginan untuk membeli yang lainnya. Merasa mendapat excuse karena teman-teman juga membelinya dan they’re totally okay with that. Belum lagi tempat dijualnya yang dimana-mana dan sama sekali nggak tertutup, membuat pembelinya ‘percaya’ bahwa mereka nggak sedang melakukan hal yang salah. Bahkan di beberapa mall pun ada yang menjual dengan label “semi original” yang dilengkapi dengan stiker hologram dan casing plastik transparan. Bapak bilang bajakan tetap bajakan, nggak ada yang namanya semi, alias setengah asli setengah palsu. CD/DVD bajakan itu artinya menggandakan sesuatu tanpa izin, dan mengambil sesuatu tanpa izin itu = mencuri. Beliau benar, sekali pun gue telah membelinya dengan uang, tetap saja gue mencuri.

Setelah mengobrol dengan Bapak gue jadi sadar bahwa ini lebih besar dari yang gue pikirkan sebelumnya. Bapak memberi contoh dengan idola gue, Aerosmith. Gue pernah menonton film dokumenter mereka yang berjudul PUMP. Di sana diceritakan bagaimana kerja keras mereka saat membuat sebuah album. Untuk satu lagu yang durasinya hanya 5 menit mereka bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan saat membuatnya. Mereka berlatih, berdiskusi, berselisih karena masing-masing ingin memberikan yang terbaik, dan lain sebagainya. Dari film itu juga gue jadi tahu bahwa meski foto yang tercetak di cover album mereka hanya Steven, Joe, Joey, Tom dan Brad, sebenarnya ada puluhan orang lainnya yang ikut membantu proses kerja mereka! Dan setelah album yang penuh perjuangan itu dirilis seseorang ‘mencurinya’, menggandakannya dan dijual secara besar-besaran. Padahal salah satu cara kita menghargai karya mereka ya dengan membeli albumnya. Bapak bilang harga sebuah CD original sama sekali nggak mahal jika dibandingkan dengan kerja keras mereka. Well, sepertinya ini hal yang sama seperti ketika gue di sekolah. Gue sudah bersusah payah belajar untuk ujian, tapi ada yang mencontek dan ia mendapatkan nilai yang sama dengan gue. Apakah itu adil? Nop. Karena ia mendapatkan keuntungan dari mencontek.

Sekarang, setelah dewasa gue menjadi semakin mengerti bahwa apa yang gue lakukan dulu adalah perbuatan yang salah. Ketika novel pertama gue, “Waktu Aku sama Mika” menjadi best seller hanya butuh beberapa bulan untuk seseorang mencurinya dari gue. E book ilegal dijual dengan harga yang nggak wajar (padahal jika membeli novel gue di toko buku pun paling mahal hanya Rp. 25.000). Itu membuat gue sedih karena kisah-kisah yang gue kumpulkan untuk menjadi sebuah novel itu merupakan diary gue selama beberapa tahun (iya, hitungannya tahun). Mungkin ada yang akan meminta gue untuk melihat sisi cerahnya, bahwa itu artinya karya gue banyak yang menyukai. Hehe, tentu saja gue bangga, tapi seperti yang Ray pernah bilang; Memuji karya yang dibaca/dinikmati dari hasil membajak itu sama saja ketika ada orang memuji masakan kita padahal ia memakannya dari hasil mencuri. Apakah kita masih bisa tersanjung jika ada yang bermulut manis tapi sebenarnya menusuk dari belakang? I don’t think so.

Book signing di tanggal 8 Februari lalu untuk teman-teman pembaca :)

Pembajak dan pembeli itu layaknya Robin Hood. Pembeli tahu bahwa yang mereka beli adalah hasil mencuri, tapi tetap saja menganggap pembajak itu pahlawan. Saat ada film yan belum tayang di bioskop dan seseorang meng-uploadnya ke internet maka ia akan dipuji-puji, diucapkan terima kasih berkali-kali. Tapi saat orang yang mempunyai hak dari film tersebut melaporkan perbuatan ilegal si pembajak, (anehnya) malah ia yang terkena caci-maki. Ingat waktu pihak Jepang kecewa karena film Stand by Me (Doraemon) sudah lebih dulu beredar bajakannya sebelum filmnya resmi dirilis di Indonesia? Waktu ada pihak yang  menutup situs yang mengedarkan link film tersebut justru mereka lah yang terkena sumpah serampah. Gue memang nggak bisa memberikan bukti screenshot nya, tapi ingat betul bahwa ada seorang Facebook user yang menyumpahi agar siapapun yang menutup situsnya agar cepat MATI. Itu komentar yang mengejutkan, sepantas itukah pembajak dibela? Sementara yang mereka curi adalah seseuatu yang sifatnya hiburan, bukan hal urgent atau kebutuhan yang utama, yang jika nggak ada akan membuat hilangnya nyawa seseorang...

Novel "Waktu Aku sama Mika" dan DVD "Mika" :)

Film gue sendiri, “MIKA” juga mengalami hal yang sama. Bajakannya beredar dimana-mana, baik dalam bentuk keping DVD atau link-link di berbagai situs. Dan gue nyaris nggak berdaya, nggak bisa melakukan apa-apa karena malah ‘diserang’ oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai penggemar (ya, kalian nggak salah baca). Sudah beberapa kali gue malah mendapatkan komentar yang menyakitkan ketika me-report account-account yang mengedarkan film MIKA secara ilegal. Mereka beralasan bahwa di daerahnya nggak ada bioskop, harga DVD original mahal, dan lain sebagainya. Padahal gue sudah mencoba menjelaskan kenapa mereka lebih baik menonton secara legal. Gue bahkan memberikan saran alternatif untuk menonton film MIKA dengan cara yang lebih hemat yaitu lewat VCD, atau malah menonton gratis di TV karena filmnya memang dikontrak untuk tayang di salah satu stasiun TV sampai bertahun-tahun ke dapan.

Film MIKA durasinya hanya satu jam lebih. Tapi perlu bertahun-tahun untuk mewujudkannya. Sejak gue setuju untuk bertemu dengan pihak IFI, baru 2 tahun kemudian film tersebut akhirnya tayang. Film ini melibatkan banyak sekali pihak, dan mereka bekerja keras untuk film ini. Selain ingin hasilnya bagus, mereka (termasuk gue) juga ingin film ini agar bisa dipertanggung jawabkan karena terinspirasi dari kisah nyata gue dan alm. Mika. Gue ingat tim IFI datang ke rumah untuk berdiskusi dan melalukan survey. Mereka bekerja dengan mendetail dan berhati-hati. Naskah pun sempat berubah beberapa kali. Jam berapapun gue menerima email pasti gue langsung membukanya untuk ikut memberi saran sesuai dengan sudut pandang gue yang mengalami langsung kejadian di film. Sutradara, produser, para aktor, bagian kostum, camera person, driver... banyak sekali terlibat untuk mewujudkan film ini, dan semuanya bersungguh-sungguh. Hati gue juga sangat senang ketika mendapatkan email dari anak salah satu penyandang dana yang berkata bahwa keuntungan dari film ini akan disumbangkan untuk Mika-Mika yang lain ---orang dengan HIV/AIDS. Jadi jika ada yang berpendapat bahwa gue nggak menyukai pembajakan dengan alasan uang, itu salah. Gue melakukan ini karena merasa bertanggung jawab dengan banyaknya pihak yang terlibat, dengan niat baik yang berada di balik film ini. Dan jika gue menerima uang tentu saja karena itu memang sudah hak gue. Pekerjaan, apapun itu prinsipnya sama saja. Kita mendapatkan reward dari apa yang sudah kita lakukan. Jika kita bisa melaporkan seseorang yang mencuri gaji dari seorang karyawan pada pihak yang berwajib, kenapa nggak melakukan hal yang sama dengan hal pembajakan?

Tapi di tengah kesedihan gue dengan pesan-pesan dari ‘penggemar’ yang merasa benar dengan menikmati karya dengan cara ilegal, kemarin gue mendapatkan email yang isinya membuat gue tersenyum. Gue nggak akan menulis ulang keseluruhan emailnya di sini, tapi sebagian saja karena gue hanya ingin membagi intinya;
“...tapi sekarang aku sadar, Kak... Kalau apa yang aku lakuin degan mengupload video (film Mika) di YouTube itu salah banget. Aku sangat menyesal, Kak.”
Gue membaca emailnya dengan mata berkaca-kaca, akhirnya setelah belasan email yang isinya ‘merasa benar’ ada seseorang yang berani menyadari kesalahannya. Gue sama sekali nggak pernah menegurnya, email ini datang begitu saja ---makanya gue yakin bahwa ia bersungguh-sungguh. Kadang komentar, “pasrahkan saja”, “namanya juga Indonesia”, “kamu nggak akan bisa lawan pembajakan”, membuat gue merasa menciut. Tapi email ini membuat gue yakin bahwa masih ada harapan :)

Yang juga bekerja, sama seperti kamu,

Indi


  _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

31 komentar:

  1. so cute!

    www.bstylevoyage.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Ini karena pembajakan sudah menjadi budaya. Seperti yang indi tulis, karena infrastruktur yang buruk membuat pembagian bioskop tidak merata. Aku tinggal di daerah terpencil, yang tidak ada bioskop. Aku tidak keberatan membeli kaset original, tetapi disini tidak ada yang menjual. Aku harus pergi kekota lain atau memesannya secara online. Aku pernah membeli online dan ternyata yang dikirim adalah bajakan.

    Memerangi pembajak sangat sulit, karena jumlahnya yang banyak dan konsumennya juga banyak. Forum-forum di Indonesia juga sangat mendukungnya.

    Aku sendiri pernah merasakan karyanya dibajak, tapi karena tujuan karya itu untuk dibaca banyak orang akhirnya aku mengikhlaskan. Yang penting banyak yang baca deh. Tapi aku berharap semakin berkurang korban dari pembajakan ini.

    Tulisan yang bagus Indi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sulit, tapi bukan berarti gak bisa. Karena yang namanya pencurian (apalagi bukan hal urgent seperti mencuri makanan untuk bertahan hidup) tetap gak ada excuse. Orang-orang harus ingat, kalau ada orang yang berusaha hidup dari karya-karya itu. Terutama film, karena biasanya orang berpikir, "Ah, produser sama artis duitnya banyak, kok,". Padahal, andai mereka tahu film yang masuk jajaran laris pun saat sebelum produksi semuanya 'gambling' apakah film tsb akan laku atau malah merugi. Mereka bekerja, sudah seharusnya dihargai. Terima kasih, ya :)

      Hapus
  3. aku salut ama anak itu yang berani mengakui kesalahannya..dan sepertinya dia sangat menyesal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku juga salut. Terharu, apalagi di emailnya (yang lumayan panjang) ia juga menyebutkan alasan kenapa ia melakukan piracy. Seharusnya semakin banyak orang yang sepertinya, yang gak cuma minta maaf tapi juga bertindak (misalnya menghapus videonya) :)

      Hapus
  4. aku juga duluuu banget suka beli VCD/DVD bajakan kak. tapi itu dulu banget, waktu masih SD di bawah kelas 4 kayaknya. karena dulu emang belum tau barang2 itu 'haram'. sampe akhirnya ramai di TV tuh berita tentang razia VCD/DVD bajakan. sejak saat itu aku jadi ngerti, dan ga beli2 bajakan lagi. pun ga beli yg asli juga sih, karena emang di kampungku aksesnya susah utk cari yg asli. aku lebih milih nunggu tayang di tv walaupun lama :) film mika juga aku nontonnya di tv. karena jujur uang sakuku pas-pasan kalo buat nonton film di bioskop. hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, soalnya itu dia penjualannya bebas-bebas aja. Yang jual juga dulu ada yang gak tahu kalau mereka jual barang ilegal :( Sama, Syifa, aku juga begitu. Di sini toko CD lumayan banyak, tapi untuk beberapa CD memang gak dirilis di sini. Kalau mau banget ya harus berusaha keras, sampai nabung bulanan bahkan tahunan buat beli online. Tapi worthed :)

      Hapus
  5. Kalau donload film di internet itu bajakan bukan ya Indi?? masih sering sih lihat ada blog-blog yang bikin sinopsis cerita dibawahnya bisa donload filmnya, kebanyakan film korea sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bajakan. Ada beberapa artis/musisi yang memang kasih free download, tapi adanya hanya di situs official mereka. Seperti John Frusciante misalnya, ia kadang memberi penggemarnya 1 atau 2 lagu gratis dari album barunya :)

      Hapus
  6. Aku mau dong kak DVD film Mikanya hehehe ga bosen-bosen deh nonton film itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada di toko CD, kok, hehehe. Ayo support film Indonesia dengan stop nonton bajakan :)

      Hapus
  7. Aq jg salah, sering download sih ketimbang beli dvd/cd. Mgkn uang yg aq keluarin bwt beli pls modem ama beli bajakannya sm kali ya. Gtw jg, plg males klo beli dvd/cdny-di pasar sini ad yg jualan bajakan2 ky gtu.

    Klo jaman SMA dulu malah beli yg asli kaset atau CD. Kebanyakan sih lagu, dr jaman peterpan,linkin park, maroon 5. Smpe skrg msh ad kasetnya aq tinggal d banjar. Pdhl lbh untung beli yg asli bukan bajakan. selain awet kualitasnya kan lbh bagus..

    Nah sejak ad speedy d rmh (pas d banjar) kyny aq srg download baik lagu atau film Ndi, pembajakan ya namanya hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau download kan bisa yang resmi, Ajeng. Aku suka download di itunes, harganya lebih hemat daripada beli CD. Atau kalau mau nonton online cari channel-channel yang memang verify, jadi kita nonton gratis tapi gak bajak. Aku juga susahnya mati-matian, sih buat stop beli bajakan. Tapi ya itu kalau ingat yang bikin film atau musik juga sama kaya kita, mereka kerja, jadi ya lebih baik jangan "halangi" rezeki orang lain :)

      Hapus
  8. Indi...cute-nyaaa....

    Duh, aku terlalu sering download video dari youtube...aku udah jadi pembajak dong. Tapi sumpah, video edukasi untuk anak-anak susah banget nyarinya di tempatku (kemarin masih di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau), harus ke kota yang jaraknya hampir 2 jam perjalanan darat---------ahhh...ngeles banget ya.

    Makasih banyak Indi, blogger dan penulis sepopuler kamu mau berkunjung ke "bilik" ku yang sederhana....makasih makasih makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ya :) Hehe, aku juga sama, kalau udah perlu banget sampai harus pesen online dan nunggu berbulan-bulan karena di toko CD daerahku gak jual. Tapi kalau dari YouTube kan memang ada channel-channel independen, yang videonya dibuat sendiri dan memang bebas untuk didownload dan di share, jadi pilih-pilih channel aja dulu. Setahuku Hub channel punya akun juga di Youtube, Nick, dll, jadi kita bisa nonton gratis tapi legal :) Aku pernah baca MUI mengeluarkan fatwa tentang pembajakan, katanya cari ilmu kalau mau pasti ada jalan, gak harus lewat bajakan. Ayo kita sama-sama mencari yang legal! Hihihi. Yah, aku mah populer apanya, hehehe. Aku memang senang jalan-jalan ke blog teman-teman. Salam kenal, ya :)

      Hapus
  9. Nama toko dvd bajakannya apa yah Mbak. Saya jadi penasaran soalnya saya juga lagi tinggal di Bandung nih. Yang ada di sekitar jalan aceh atau riau itu bukan yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di paragraf 2 disebutkan. Eh, tapi aku lagi gak bahas tokonya, ya, hehehe :)

      Hapus
  10. Piracy is the worst way to "admire" & "honor" your idol.... Hopefully, the number of piracy reduced....amen :) by the way, you look great, hiawata :)

    <3<3<3 hugLUV

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang lebih kasihan yang udah punya "nama". Mau protes sama fansnya takut namanya jelek, hehehe (ada yang curhat 2 orang, lol). Amen. Makasih, ya Mas. Tiger Lily aja, gak mau jadi laki-laki, ah :D <3 <3 HugLuv

      Hapus
  11. aku sesekali download sih dari youtube

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak channel yang memang menyediakan videonya untuk di download kok, mbak. Tapi acaranya memang agak ketinggalan dibandingkan di TV. Atau sekarang yang berbayar juga ada :)

      Hapus
  12. Mau gimana lagi Indi, jika kita tarik mundur lagi, mungkin sofware dikomputer yang digunakan untuk membuat draft novelnya juga software bajakan. OS komputer yang digunakan penerbit atau hal kecil lain yang kita anggap HALAL ternyata masih ilegal. Jangan heran. Sikapi saja dengan bijak.
    Contoh : Musisi takut albumnya dibajak eh aplikasi recordingnya bajakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ya diusahakan jangan. Sekarang kan sudah gak susah lagi buat cari yang legal. Kalau beneran mau, tinggal minta instal yang original. Yang jual banyak, kok. Kalau bilang "mau gimana lagi" kesannya terlalu pasrah, lebih baik berusaha daripada cuma gara-gara terlanjur jadi bablas ilegal semua. Gak asik, ah ;D

      Hapus
  13. saya juga sering meng upload vidio ke youtub dari vidio yang di rekam di acara tv, sampai akhirnya akun saya di banned, waktu itu saya menguplod audisi dangdut salah satu peserta audisi dan ternyata dia jadi juara 1 , tapi saya juga sadar bahwa yang dilakukan saya itu salah, tapi saya sedikit lega juga meskipun akun di banned tapi sang penyanyi sudah menjadi juara ... mungkin kedepannya saya gak mau mengulangi kekonyolan saya ....

    BalasHapus
  14. tapi memang dari dulu pembajakan film atau lagu sudah ada dan sudah di usut kasusnya sempat dilarang keras pembajakan eeh tahun demi tahun banyak lagii .. gimana caranya pembajaknya malah semakin banyak

    BalasHapus
  15. Huaaah sedih :'( Aku udah nggak pernah beli DVD bajakan lagi, cuma sesekali download film yang aku penasaran banget :'(
    Kalau musik aku juga udah nggak pernah download lagi, paling denger di Youtube, pernah sih suka sama artis Jepang, lagunya enakeun, aku download lah mp3nya, di sini nggak ada CD-nya, tapi pas liat ada jual CD di LN, nitip deh... T.T

    BalasHapus
  16. semoga suatu saat nanti Indonesia bisa lebih baik lagi ya...
    semuanya dimulai dari kita sendiri kayaknya. Kalo pemerintah sudah berusaha memerangi, tapi kitanya gak mendukung, ya sama saja bohong.

    BalasHapus
  17. Aku penggemar drama korea dan karena itu, dulu aku selalu beli DVD bajakan setiap kali mau nonton drama korea. Tapi semua itu udah gak pernah aku lakukan lagi sejak dua tahun lalu. Sekarang, aku beralih nonton online di situs legal, dan menjadi member premium disana. biaya $3,99 per bulan rasanya sebanding dengan kepuasan yang aku terima setelah menonton. Plus, tidak ada rasa bersalah karena menonton dari sumber ilegal. ohya.. disana juga ada movie indonesianya lho mbak. nanti saya cari ada MIKA atau enggak :)

    BalasHapus
  18. Apalagi buat penulis ya Mbak Indi, pasti langsung sedih kalok karyanya bisa didapatkan dari donlot gratisan.. :(

    BalasHapus
  19. Setuju Indi...
    semoga tulisanmu bisa membuka mata dan hati kita semua...

    saya sendiri kalau ingiiiin sekali punya vcd/dvd dan belum ada uangnya, lebih baik nabung sedikit demi sedikit... if you like the movie, it's worth the effort.. ^_^

    sukses ya Indi

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)