Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Sabtu, 21 Desember 2013

Semarang, Bagian Kedua: Bercerita tentang Mika di Charity Event "The Long Journey" :)


Howdy! Apa kabar teman-teman? Semoga semuanya baik-baik saja, ya ;)
Gue sekarang mau lanjutkan cerita yang sebelumnya, nih (klik di sini untuk membaca). Jadi setelah perjalanan 13 jam yang super seru itu akhirnya gue tidur dengan nyenyak di kamar hotel Rinjani. Mungkin karena tidurnya tepat 8 jam, pagi-pagi gue terbangun dengan segar, cerah, ceria dan bugar, hahaha. Pokoknya I'm really blessed that day, karena biasanya gue bukan morning person :p 
Setelah berganti piyama dengan dress hasil desain sendiri dan sarapan bersama Bapak, kami dijemput untuk menghadiri charity event "The Long Journey". *crossed fingers*

"The Long Journey" ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus) adalah project sosial yang diadakan oleh AIESEC Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya HIV/AIDS dan isu kanker, sesuai dengan tagline "Stop the Diseases Start the Action". Meskipun temanya serius, tapi konsepnya sangat ringan dan fun, karena media yang digunakan untuk mengenal HIV/AIDS adalah sebuah film! Yup, gue bangga sekali mereka menggunakan film Mika yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika", yang juga diambil dari perjalanan hidup gue dan almarhum Mika :) Penghasilan dari event ini juga akan digunakan untuk membantu pasien kanker di Semarang. Benar-benar keren, kan? :)

Begitu tiba di E Plaza berfoto dengan Dinda dan Enggar :)
Sebelum masuk ke teater.
(almost) the whole team! :)

Acara dimulai dengan nonton bareng film Mika di bioskop E-Plaza. Meskipun gue sudah menonton film ini belasan kali, tapi tetap masih ada perasaan deg-degan. Pertama, rasanya selalu aneh setiap kali melihat hidup gue diperankan dengan orang lain. Ke dua, meski lihat ribuan kali pun gue nggak pernah siap dengan kepergian Mika. Dan ke tiga... kali ini gue duduk di sebelah Bapak, hahaha :'p
Gue sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka menyukai filmnya atau nggak. Soalnya waktu film mulai diputar teater terasa begitu sunyi, nggak ada seorang pun yang bersuara. Sampai di adegan 'menari' gue baru dengar beberapa orang tertawa diikuti yang lainnya sampai seluruh teater. Oooh... ternyata penontonnya malu-malu, hehehe. Begitu sampai adegan mengharukan teater kembali sepi, lalu terdengar isak tangis dan komentar-komentar penonton. Gue yang bersusah payah menahan tangis dengan menutup mata akhirnya ikut menangis, karena meskipun nggak melihat tapi jadi teringat kembali adegan-adegannya. Atau lebih tepatnya flasback apa yang pernah gue lalui waktu bersama Mika :')

Waktu lampu teater menyala gue langsung mengelap air mata dengan tisu. Tapi ternyata bukan cuma gue saja yang terlihat dengan mata sembab. Gue lega ternyata penonton bisa masuk ke dalam kisah gue dan Mika meskipun hanya lewat filmnya. Mereka bahkan seolah masuk ke dalam kisah cinta kami. Ada beberapa komentar yang terlontar waktu adegan Mika ditolak oleh dokter gigi. "Kok jahat sih dokternya?" "Wah, melanggar hak asasi manusia, tuh," dan lain sebagainya yang bikin gue tersenyum haru :)

Setelah selesai nonton semuanya turun ke lounge untuk makan siang sambil dihibur oleh Paduan Suara UNDIP. Mereka keren, lho. Menghibur dan bikin kangen sama paduan suara gue dulu, hehehe. Sambil makan siang gue berkenalan dengan Om Dodok dari Cancer Information dan Support Center dan Om. Jonathan dari Rumah Damai. Dari mereka gue mendapat banyak cerita yang inspiratif. Istri Om Dodok adalah seorang cancer survivor, sempat ragu untuk berkeluarga tapi akhirnya sekarang dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu dan sehat-sehat. Sekarang mereka aktif memberikan penyuluhan mengenai kanker, agar msyarakat menjadi semakin care dengan kesehatan pribadi. Juga ada cerita dari Om Jonathan yang sempat drop tapi akhirnya bangkit karena meski statusnya sebagai ODHA, ternyata ia tetap bisa memberikan semangat pada orang lain. Salut! Oh, iya ngomong-ngomong Om Jonathan ini lucu, lho. Tiba-tiba ia duduk di sebelah gue dan tanpa basa-basi langsung minta Om Dodok mengambil foto kami, hahaha. Gue sampai kaget. Katanya ia punya DVD fim Mika, dan tadi waktu di teater adalah kali ke sekian ia menontonnya. Bapak juga ikut mengobrol bersama kami. Karena Om Dodok juga punya 2 orang putri, jadi ia banyak bertanya pada Bapak soal tips parenting. Ada pertanyaan yang menarik dari Om Dodok tentang bagaimana pendapat Bapak mengenai hubungan gue dengan Mika dulu. Surprise, Bapak menjawab begini, "Anak jangan terlalu banyak dilarang, biar saja kalau ia mau mengenal siapapun."
Ah, that's my Daddy! :*

Paduan Suara UNDIP.

Karena keasyikan ngobrol hampir saja gue nggak sadar kalau sudah dipanggil untuk naik ke atas panggung, hehehe. Ini adalah sesi sharing, gue bercerita mengenai masa pacaran dengan Mika sewaktu masa SMA. Tentang bagaimana kami berburu kaset rock and roll bekas, tentang cerita-cerita Mika yang konyol, tentang pengalaman pertama gue diajak naik angkot untuk pertama kali (hehe) dan masih banyak lainnya. Well, ya masa-masa pacaran gue memang nggak jauh berbeda dengan remaja lainnya meskipun Mika adalah ODHA. Waktu itu gue juga sama sekali belum tahu apa itu HIV/AIDS. Gue hanya tahu kalau itu adalah penyakit, sama seperti pilek, sakit kepala atau batuk.



Setelah Mika meninggal gue menjadi relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Di sana gue banyak belajar tentang HIV/AIDS. Dan apakah anggapan gue tentang penyakit itu jadi berubah? Nope! Nggak. Ternyata selama ini gue memang benar. HIV sama saja seperti pilek. Kita bisa kena pilek karena kebanyakan makan es krim, tapi bisa juga karena tertular dari orang lain. Jadi nggak ada alasan untuk menjauhi orang-orang seperti Mika. Dulu gue sempat dijauhi teman-teman karena berpacaran dengan Mika. Bahkan ada gosip yang bilang bahwa gue juga ketularan oleh Mika. Padahal HIV nggak semudah itu menular.

Semakin lama gue jadi semakin mengerti. Stigma itu munculnya dari prasangka, dan itu hampir selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari, bahkan dimulai dari hal kecil. Contohnya seperti yang gue tadi sebutkan, waktu ada orang kena pilek kadang langsung di judge habis kebanyakan makan es krim. Padahal yang diinginkan orang sakit ya hanya sesimpel ucapan "get well soon", bukan malah dicerca dengan macam-macam pertanyaan dan prasangka. Gue sendiri pernah mengalaminya. Waktu kuliah ada seorang dosen yang berkata bahwa gue pasti scoliosis karena kebanyakan bawa beban terlalu berat. Dan baru-baru ini gue sering sekali dinasehati buat nggak makan junk food karena baru kena tumor payudara. Ya, mungkin mereka bermaksud care, tapi care bukan berarti harus judging, kan? Gue sering mendapat email yang berisi seperti ini,
"Hai Indi, Mika dulu pakai narkoba ya makanya kena AIDS?"
Wow, that's really uncool and rude! :(

Gue nggak bertanya pada Mika kenapa ia bisa terkena AIDS. Buat gue itu nggak penting karena yang gue lihat Mika orang baik dan selalu positif ketika bersama gue. Gue belajar banyak hal darinya, terutama tentang menjadi diri sendiri. Mika berkata bahwa yang terbaik itu mengikuti kata hati, bukan kata orang lain. Dan gue terus begitu sampai sekarang selama nggak melanggar norma-norma dan menyakiti orang lain. Gue juga masih berhubungan baik dengan teman-teman Mika, dan sedikit banyak gue jadi mendengar tentang masa lalunya. Tapi itu sama sekali nggak mempengaruhi penilaian gue tentang Mika, karena jika ada hal buruk... the past is the past, just forget it and move on. Setiap orang punya hak untuk untuk dinilai dengan apa yang dilakukannya hari ini :)

Waktu sesi sharing gue sedikit berapi-api karena tiba-tiba teringat apa yang sudah Mika lalui dan masih terbawa suasana di teater. Little bit teary, tapi dengan Puput sebagai MC yang berkarakter kocak gue jadi nggak pernah lupa untuk tersenyum, hehehe. Gue juga mendapat beberapa pertanyaan dari audience. Ada yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan jika hidup serumah dengan ODHA. Menurut gue yang paling tepat adalah memperlakukan ia seperti anggota keluarga yang lain. Sederhana, tapi itu adalah perasaan yang paling nyaman sedunia. Gue bukan ODHA tapi sejak kecil gue terkena scoliosis. Harus pakai brace 23 jam per hari, terapi ini-itu dan nggak boleh ini-itu. Waktu gue dibedakan dengan saudara-saudara yang lain rasanya bikin gue sedih, tapi jika orang-orang berlaku seolah brace gue itu invisible, gue merasa nyaman dan dihargai. Dan gue yakin itu berlaku untuk semua orang, termasuk ODHA :)

Sesi sharing dan tanya jawab berlangsung dengan lancar tapi tetap fun. Dari percakapan antara gue dan audience rasanya apa yang menjadi poin gue sudah cukup tersampaikan :) Gue lega karena semuanya begitu antusias dan mengaku nggak lagi takut dengan HIV/AIDS. 
Sesi gue ditutup dengan penyerahan penghargaan oleh Jefry selaku Organizing Committee President ROAR +. Setelah itu diikuti oleh Om Dodok dan Om Jonathan yang juga diberikan penghargaan. Gue langsung pamit untuk kembali ke hotel karena nanti malam akan langsung pulang ke Bandung. Tapi ternyata gue sudah ditunggu dengan teman-teman yang ingin mengajak foto bersama! :)





***

and the award goes to...
Om Dodok dari Cancer Information and Support Center.
Om Jonathan dari Rumah Damai.
Salah satu penerima penghargaan juga, yang ---silly me--- nggak sempat berkenalan padahal duduk berdekatan :p

Terharu sekali karena banyak dari mereka yang membawa novel-novel gue untuk ditandatangani. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kota Pati dan sengaja menyempatkan ke E-Plaza Semarang untuk bertemu gue. Juga ada surprise, beberapa scolioser dari MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga ikut datang! Wah, kehadiran mereka sampai-sampai bikin gue hampir lupa kembali ke hotel, karena di sela foto-foto kami juga sempat berbincang singkat dan berkenalan :) Bapak lalu mengingatkan bahwa waktu sudah semakin sore. Gue berpamitan dan kembali ke hotel dengan perasaan yang sangat senang. Senang acaranya berjalan dengan lancar, senang mendapat teman-teman baru, dan senang karena bisa berbagi cerita-cerita kebaikan tentang Mika. Thank God :)

Thank God :)
Teman-teman MSI Semarang. Hore! :)
:)

Ketika sampai di hotel handphone gue bunyi, ternyata ada SMS dari Om Jonathan. Isinya seperti ini, "Sharing nya bagus banget, Indi. Thanks for your share, Bless you, Indi." 
Dan itu membuat perasaan senang gue bertambah berkali-kali lipat karena kata-kata itu datang dari seseorang yang pernah mengalami apa yang Mika alami :)
Salut untuk AIESEC UNDIP atas ROAR+ project "The Long Journey" nya yang telah membuat acara positif untuk remaja dengan cara santai dan fun. Gue harap akan ada acara-acara seperti ini lagi selanjutnya agar lebih banyak lagi orang yang care tanpa harus judging! :)

Koran "Wawasan" 18 Desember 2013 :)

sugar-nya Mika,

Indi


baca juga artikel mengenai acara ini di suaramerdeka.com di sini.
______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contacr person: 081322339469

27 komentar:

  1. Proud of you!

    Keep inspiring kak indi!

    "Musuhi penyakitnya, bukan penderitanya" kata TV

    hihihi

    BalasHapus
  2. awww. congrats! pretty dress and you look amazing! i am so happy for you ;D

    xoxo,
    rae
    http://raellarina.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. bener bener inspiring banget ka indi !! hehe dan aku suka outfitnya lucu hehe

    sabrinamaida.blogspot.com

    BalasHapus
  4. aids dan hiv memang perlu diketahui oleh orang-orang, terutama kaum muda, dan bagaimana cara menyikapinya serta menghindarinya...selamat berjuang dalam mengkampanyekan hal ini untuk kaum muda indonesia :-)

    BalasHapus
  5. asal jangan kampanye dengan mengadakan pekan kondom nasional ya....itu kebablasan namanya,
    salam dari Kalimantan Selatan

    BalasHapus
  6. Selain bermanfaat, acaranya juga seru ya. Apalagi ada nobarnya juga :D

    BalasHapus
  7. keep spirit and inspiring, kak Indi..
    Dah lamaaaaa bgt gak visit blog kak kak Indi...

    jadi keinget ma filmnya, terharu bgt nontonnya. semoga kesadaran masyarakat terutama kaum muda mengenai HIV/AIDS semakin hari semakin bertambah. karena yang dihindari itu penyebab penyakitnya bukan odha nya.

    tetep sehat ya kak Indi, God bless you :)

    BalasHapus
  8. lovely blog :)
    http://saltskinned.blogspot.com.au

    BalasHapus
  9. acara yg positif ndi buat peringatin hari hiv
    dibanding kayak diberita peringatin hari aids ada yg mau bagi2 kdm gratis, mendingan acara kayak yg indi lakuin ^___^

    BalasHapus
  10. Dressnya kak Indi beyond cute deh! And I'm so proud of you kak :)

    BalasHapus
  11. You look like a doll with your hair and dress! Really pretty:)

    ♥ Charms | my ∞ fashion confession

    BalasHapus
  12. keep spirit ka indi, Mika selalu jadi pahlawan, bahkan sampai sekarang dia udah gak ada lagi. dia pasti senang ngeliat dari surga :)

    BalasHapus
  13. As usual phenomenal post! You are a champion!
    I can see that you love what you are doing!
    Thanks for posting! I love you :-*

    Merry and peaceful Christmas full of magic: - *


    Regards,
    Katherine Unique


    BalasHapus
  14. seru ya acaranya Indy.. selalu semnagat ya :)

    BalasHapus
  15. Dan aku bangga karena punya novel Waktu Aku Sama Mika, lengkap dengan tanda tanganmu :)
    Setuju sama Om Jonathan, bless u, Indi :)

    BalasHapus
  16. sangat menginspirasi kak indi :)

    BalasHapus
  17. Mba Indi, sepertinya udah jadi orang penting ya hehehe , salut deh . . .

    BalasHapus
  18. You look so cute in that dress <3

    http://www.furandbomb.net

    BalasHapus
  19. Keren Indi.
    oia, kamu bener soal penyakit aids itu kayak virus flu, kita bisa ga tau dan tiba2 tertular. sodara aku ada loh yang kena HIV dari transfusi darah waktu dia operasi cesar melahirkan anak, kesian bgt deh itu.

    BalasHapus
  20. Wah berarti krunya sukses dong ya memilih para pemainnya? Sampai2 penulis bersangkutan ikutan termehek2 nontonnya. Hahahaha...

    BalasHapus
  21. mbak indi terus semangat kampanye :)

    BalasHapus
  22. what you did to raise people's awareness of AIDS&HIV was very inspiring! salute to you!

    BalasHapus
  23. Kak indi kamu memberiku inspirasi apa artinya hidup kalo nggak ada semangat,,,

    Q dlu juga sempat di kucilkan karna q tinggal di panti asuhan ,,,,tpi semua itu q jdikan motivasi buat hidupku kalo q bisa lebih dri mereka!!!

    Thank's kak indi

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)