Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Rabu, 11 Agustus 2010

Cita-cita...



Potong kue di ultah gue ke 22 sama nyokap :)



My Family-Ibu baru aja bangun tidur, hahahaha :)



Halo, apa kabar semuanya? Buat yang menjalankan ibadah puasa, gue ucapin selamat berpuasa, ya. Semoga ibadah tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Amen :)

Satu minggu belakangan, gue baru ngalamin "kerasnya hidup", hehehe. Maksud gue, kehidupan gue setelah lulus kuliah jauh lebih berat daripada waktu kuliah (yang memang sudah sulit, huhuhu). Gue mulai dituntut untuk lebih mandiri, punya penghasilan sendiri dan pekerjaan yang stabil.
Gue sama sekali nggak keberatan dengan "peran" baru ini. Toh gue memang sudah dewasa dan terbiasa membiayai diri sendiri (sejak kuliah gue nggak dapet uang saku). Tapi yang jadi masalah justru kekhawatiran ortu (terutama nyokap) gue!

Sejak gue masih remaja, nyokap, yang gue panggil "Ibu" sudah khawatir dengan "masa depan" gue. Perkembangan gue yang ajaib sebagai remaja, bikin dia ketakutan setengah mati kalau anaknya nggak bisa sehebat keponakan-keponakannya.
Suatu waktu pernah Ibu bertanya apa cita-cita gue. Dengan percaya diri gue jawab,
"Aku mau jadi penulis dan apapun, asalkan bekerja dengan anak-anak".
Dan shock lah nyokap gue...

Bahkan semenjak gue belum lulus SD, nyokap sudah bercita-cita punya anak yang sukses, punya karier yang cemerlang dan mapan. Jujur aja, awalnya memang menjadi beban tersendiri buat gue, yang secara kebetulan dilahirkan sebagai anak pertama, hehehe. Tapi lama-lama gue pikir, gue bisa kok sukses dengan pekerjaan yang gue sukai. Toh apapun kalau dikerjakan dengan serius pasti "menghasilkan".
Ternyata nyokap berpikir lain, baginya untuk sukses gue harus kerja kantoran. Begaji tetap dan bukan kerja "serabutan" kaya sekarang...
Agak menyakitkan, memang... Tapi begitulah, sebagai fresh graduate yang masih tinggal di rumah ortu, gue harus mendengarkan keinginan nyokap...

***

Adik, Bokap dan Gue, waktu nyokap gue ultah di Lembang. It's 2008.



Akhirnya beginilah gue, mulai cari pekerjaan yang nggak ada hubungannya dengan dunia yang gue suka. Nggak ada tulis-menulis, khayal-mengkhayal (bahasa opo iki? lol) atau anak-anak. Sudah beberapa CV gue kirim via e-mail kebeberapa tempat. Ada yang ditanggapi ada juga yang nggak.
Salah satu yang ditanggapi datang dari sebuah lembaga pendidikan (nama dan profesinya rahasia, ya! Hehehe). My Mom is soooooo exited! Sampai-sampai dia langsung bikin baju baru buat gue. Buat kasih "miracle" di interview gue katanya. Gue sih cuma bisa mesem-mesem nggak karuan. Soalnya kalau manyun gue nggak tega sama nyokap yang sudah begitu bahagia (dan mendoakan gue pagi-siang-malem--kapanpun--).


Rata PenuhMe and Daddy di ultah gue ke 24. Look at my face. Gue nggak mandi karena lagi kena demam berdarah :p



Interview gue kebilang lancar, meski gagal bikin janji sebanyak 2 kali. Tapi setidaknya gue menunjukan ketertarikan dengan interview'nya meski gue blank sama sekali tentang profesi "itu".
Sampai hari ini (3 hari kemudian setelah interview), gue masih belum dapet panggilan. Terlalu dini untuk bilang gue gagal dan terlalu "deg-degan" juga untuk bilang gue masih punya harapan. Nyokap gue mulai gelisah dan takut gue gagal. Gue, meskipun nggak terlalu menginginkan pekerjaan itu ikutan nggak enak dan berdoa semoga Tuhan kasih pekerjaan itu sama gue. Yah, kalaupun nantinya gue nggak cocok kerja disana, at least gue sudah mencoba dan bikin nyokap gue bahagia...

***



Dadddy and Me. Foto ini diambil sama Gina, sepupu gue.



Ditengah kegelisahan gue, justru bokap yang sangat optimis dengan masa depan gue. Baginya pekerjaan itu apa saja, asal halal. Karena itulah kenapa dulu anak-anak diajari untuk punya cita-cita. Ya untuk dicapai, bukan untuk diubah ketika dewasa...
Jujur gue terharu dengan dukungan bokap. Selama ini gue selalu tahu kalau bokap sayang gue, tapi jarang sekali dia tunjukin dengan cara-cara verbal.
Gue masih inget dengan jelas percapakan kami waktu dia anterin gue interview,

Bokap (B): "Kalau ini nggak berhasil, jangan sedih. Bilang saja sama Ibu apa adanya. Mungkin nanti kamu diizinkan kerja di koran XX (nyebutin nama)."

Gue (G): "Iya, tapi Ibu kan maunya nulis hobi saja. Kerja harus yang ada tunjangannya..."

B: "(Diam agak lama)... Kapan-kapan ambilah uang tabunganmu beberapa ratus ribu. Traktir Ibumu, Nenek juga Kakek."

G: "Untuk apa, Pak?"

B: "Bilang ini hasil menulis. Supaya mereka tahu, kalau menulis itu pekerjaan. Bukan sekedar hobi..."

***

Sampai detik ini gue masih deg-degan soal interview gue. Masih takut juga bikin nyokap kecewa. Tapi at least gue tahu kalau ada yang mendukung cita-cita gue dan percaya sama gue apapun profesi yang gue ambil suatu hari nanti.



Bapak, Ibu... Aku kebingungan.
Aku menghargai impian kalian.
Sangat menghargai...
Jadi tolong doakan saja aku berhasil dengan jalan yang aku pilih.
Bukan dengan jalan yang sama sekali tidak aku kenal.
Jika kalian (terutama dirimu, Ibu) tetap menginginkan aku mengambil jalan lain,
aku akan menurut.
Tapi tolong tuntunlah aku agar tidak tersesat.
Dan berikanlah aku waktu untuk belajar...

Bapak, Ibu. Aku sayang kalian...

8 komentar:

  1. Senang baca tulisan2nya.
    kunjungan pertama nie... sekalian izin follow, d tunggu jg ya d blog ku.
    tq

    BalasHapus
  2. makasih ya udah mampira dan baca tulisanku :) sip, segera meluncur ke blog'mu. salam kenal.

    BalasHapus
  3. Indi, thanks ya uda maen ke blog saya.
    Tunggu cerita2 saya selanjutnya..hehe. Sukses selalu, di tunggu lho buku selanjutnyaa...

    ^_^

    BalasHapus
  4. sama2 :D hihihi, sama2, ditunggu juga cerita km yg selanjutnya. buku baruku november. doain aja lancar ya :)

    BalasHapus
  5. ah masa2 mencari kerja...been there too....pernah ngerasain jg sengsaranya...aku sampe turun 5 kilo gara2 stres dan cape cari kerja ga dapet2....tp emang tuhan punya rencana sendiri, aku disuruh skolah lagi hehehe....btw kalo akhirnya indi kerja jadi apa pun, tetap menulis ya....yang paling penting adalah do what you love and love what you do....tetap semangat indi...

    BalasHapus
  6. Nice post kak indi!
    Pada intinya adalah orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya :)
    Meskipun terkadang keinginan ortu tak sejalan dengan keinginan kita..

    BalasHapus
  7. @ ayuanggraeni: hehehe, iya. masa yg berat tapi harus dilalui :)
    iya, terima kasih dukungannya ya. aku pasti terus nulis. GBU :)

    @dhewphii: thank u :) iya. orang tua kan selalu seperti itu. mereka ingin yg terbaik :)

    @ my. nurul: aww.. thank you :)

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)