Kamis, 13 Desember 2018

Glamorous Camping? Indi Happy atau Nelangsa? :p

Kayanya bukan lagi rahasia bagi orang-orang dekatku, kalau aku itu lebih suka aktivitas indoor daripada outdoor! :p Eh, bukan berarti aku nggak suka alam atau nature, lho. Aku suka, ---bahkan paling hobi lihat pemandangan. Tapi kalau boleh memilih aku pasti akan prefer menghabiskan waktu di dalam ruangan setelah berjalan-jalan di alam. Bisa menginap di hotel, villa, atau di rumah teman. Pokoknya asalkan nggak tidur di luar aku nggak masalah. Well, IDK, menurutku tidur di bawah bintang hanya terdengar indah di film atau di novel saja. Aku terlalu "takut" dengan udara dingin dan gigitan nyamuk. Jadi jalan-jalannya cukup siang sampai sore saja deh, sisanya di kamar, hehehe. Nah, beruntungnya aku punya suami yang (hampir) sepemikiran. Dia juga suka alam, tapi kalau istirahat pilihnya ya di ruangan meski dia suka kegiatan outdoor macam mengendarai dirt bike, main skateboard dan lain sebagainya (---aku mah nggak, lol).

Makanya waktu Om Reza, adiknya ibuku menawari kami untuk menginap, aku nggak pakai ragu bilang kalau kami pengen tempat yang damai (jauh dari hiruk pikuk kota, bosan aku sebagai orang Kota Bandung, hehehe) dan nyaman. Mau di gunung pun nggak masalah, tapi kalau bisa ---ehm, menginapnya di hotel. Biar sehabis lelah jalan-jalan aku bisa nonton film, berendam air panas atau malah dipijitin. Itulah kenapa aku selalu menolak kalau jalan-jalannya bareng orang lain alias grup, karena aku pasti (dianggap) ngerepotin minta ini-itu. Tapi ya mau gimana lagi aku itu orangnya seimbang, suka alam tapi juga suka moderenisasi :p *ngeles*
Om bilang dia minta tolong temannya, orang travel buat cari hotel yang lokasinya di alam buat kami. Setelah dapat aku langsung dapat kiriman video lewat whatsapp yang isinya kondisi tempat menginap dan pemandangan sekitarnya. Waktu menonton aku dan Shane langsung curiga, kok nggak seperti hotel. Tapi pemandangannya sih bagus, menghadap danau dan sunyiiiii banget. Ternyata benar saja, setelah googling tempat yang dicarikan temannya Om itu ternyata villa. Tadinya aku mau nawar, minta menginap di hotel saja. Tapi setelah dipikir berkali-kali plus diskusi mondar-mandir sama ortu dan suami, akhirnya aku deal. Di video pemandangannya bagus, nggak apalah tanpa room service yang penting sepadan dengan apa yang kami lihat nanti :)

Lokasinya di Pangalengan-Jawa Barat. Aku nggak akan bilang di mana tepatnya (kalian akan tahu alasannya nanti), tapi yang pasti cukup populer dan reviewnya banyak di Google. Karena sudah tahu bakal menginap di villa, aku dan Shane bawa perlengkapan lengkap. Dari mulai makanan (instan dan sayuran, dasar vegan! Lol), selimut, losion anti nyamuk, gitar dan ukulele untuk anti bosan, sampai obat-obatan. Perjalanan cukup jauh dari rumah kami di Bandung Kota. Berkelok-keloknya bikin pusing tapi pemandangannya memanjakan mata, hijau di mana-mana! Shane sampai sering ambil video dari dalam mobil karena kagum. Mood kami juga bagus, bawaannya cekikikan terus, mungkin karena excited :) Sayangnya ketika tiba tempatnya ternyata nggak seindah yang video... Begitu turun kami langsung mencium bau amis dan banyaaaak sekali lalat. Aku nggak lebay, ini lalat banyaknya sampai masuk ke dalam villa dan nempel-nempel di jendela DALAM kamar! Speechless, waktu barang-barang diturunkan dari mobil aku nggak rela. Tapi mau gimana lagi, kami sudah deal dan akhirnya ditinggal berdua saja di sana. Then the nightmare begin... Waktu kami mulai beres-beres aku mulai notice kalau dapurnya kotor banget. Di peralatan makannya masih ada kecap ---or whatever lah nempel-nempel. Aku dan Shane langsung berinisiatif cuci semuanya dan begitu rak diangkat... ADA KECOA, SAUDARA-SAUDARA! Aku coba nggak panik dan minta Shane lap meja, dll dengan tisu basah antiseptik milikku (lap yang di sana sudah compang-camping dan bau, hiks), sementara aku hidupkan anti nyamuk elektrik yang rupanya nggak mempan untuk mengusir lalat. 


Seperti ini kira-kira gambar dan video yang dikirimkan orang travel (foto dari Google). Jauh banget sama kenyataannya yang kotor. Bahkan danaunya pun sedang surut :(


Waktu dicek, kamar mandi rupanya nggak ada air. Pusing tujuh kelilinglah kami, sudah datang jauh-jauh maunya istirahat malah "harus" beres-beres. Kami sampai nggak berani menginjakan kaki di kamar karena selain jendela, tempat tidur juga dilalerin. Aku sampai pengen nangis mikir gimana cara lewatin malem kalau kondisinya kaya gini. Shane lalu ajak aku melihat-lihat keluar villa sambil mencari orang yang bisa dimintai tolong. Bad idea! Lalat semakin banyak, bahkan beberapa langkah saja dari villa kami aku baru ngeh kalau ada seonggok (maaf) pup. Ya Tuhaaaan, fix aku mau minta pulang saja *cry emoji* 
Tapi ternyata nggak semudah itu. Handphoneku nggak ada sinyalnya dan wifi juga mati. Petugas villa entah di mana dan hari juga sudah mulai gelap. Sumpah dah aku lebih baik diserang zombie daripada diserang lalat, hahaha. Kami pun jalan ke luar wilayah villa dengan harapan dapat sinyal. Lumayan jauh, tapi akhirnya dapat. Saking leganya aku sampai nggak mau balik lagi ke villa, biar deh aku berdiri di sana dilalerin asal bisa telepon. Dan akhirnya, setelah 2 jam kami dijemput!

Di mobil kami sudah siap-siap terlelap, ---lelah fisik dan batin :p Tapi malah ditawari untuk menginap di tempat lain. Langsung saja kami tolak, waktu semakin larut dan yang aku pengen waktu itu cuma mandi terus salin pakai piyama :( Om ku yang lagi OTW ke luar kota whatsapp bilang supaya minta dicarikan hotel. Dia bersikeras agar aku dan Shane tetap jadi menginap di tempat yang nyaman. Bimbang deh aku, hati sebenarnya pengen pulang tapi nggak enak kalau menolak permintaan Om yang notabene cuma ingin menyenangkanku. Karena semua kekacauan ini bukan salahnya, murni dari pihak travel DAN villanya. Akhirnya setelah diskusi sedikit dengan Shane yang mulai tampak seperti zombie, kami setuju untuk menginap di tempat lain dengan syarat harus BERSIH dan aku bisa mandi. Orang travelnya setuju, dan dia merekomendasikan resort yang katanya nyaman dan pasti aku suka. Waktu dia tunjukan fotonya aku dan Shane lihat-lihatan. Not again... Lagi-lagi bukan hotel. Bahkan tempatnya semi outdoor karena konsepnya glamping, alias camping yang "glamour". Di kepalaku langsung keluar naskah panjang kesewotanku tentang kenapa ini travel nggak mau kasih kami hotel saja. Terserah deh mau hotel bintang satu juga asalkan kami bisa tidur di dalam kamar. Tapi di kenyataan aku cuma ngangguk saja. ---Akika lelah, bo :(


Tentang Glamping

Malam, lupa jam berapa, akhirnya kami tiba di lokasi resort glamping di Lembang, namanya Trizara. Kata orang travelnya begini, "Lihat saja dulu, kalau nggak suka boleh pulang." Aku nggak becanda, aku masuk ke lobby pakai sarung di kepala, sudah kaya ninja saja. Kesanku dan Shane waktu menginjakan kaki di sana; looks nice (waaaaay nicer daripada tempat sebelumnya), mirip lobby hotel "normal" dan kekinian. Aku sih cuma bisa membatin saja kenapa kami nggak dibawa ke sini dari awal. Memang belum lihat bagaimana suasana area glampingnya sih, tapi at least dari lobbynya saja sudah terlihat bersih. Herannya waktu aku setuju buat menginap di sini, pihak resort butuh waktu cukup lama untuk mengantarkan kami ke "kamar" (---pakai tanda kutip karena bukan kamar konvensional ya, hehehe). Lobbynya semi outdoor dan Lembang sedang hujan, jadi terbayang dong gimana dinginnya kami. Untung saja di sini sepi banget, jadi nggak banyak orang yang lihat aku jadi ninja. Well, sebenernya sih bodo amat, yang penting anti masuk angin :p

Pemandangan malam hari, waktu kami tiba.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Kami diantarkan ke "kamar" yang (kupikir) berupa tenda camping. Tapi ternyata itu hanya dari luarnya saja. Begitu petugas membuka resleting tenda terlihatlah isinya yang terlihat seperti kamar pada umumnya. Tempat tidur luas, kotak penyimpanan, kamar mandi lengkap dengan air panasnya, juga termos elektrik untuk memanaskan air! Waktu aku perhatikan ternyata rangkanya permanen dan lantainya juga terbuat dari semen, bukan tanah. Langsunglah aku membuang napas lega *fiuh* Dibandingkan tempat yang sebelumnya, yang ngakunya villa ternyata malah lebih hommy di sini (lebih dekat dengan rumahku juga. Asyem, buang-buang waktu saja di jalan). Petugasnya nanya apa aku dan Shane mau pindah lokasi atau tetap di kamar yang ditawarkan saja. Kami langsung sepakat kalau nggak mau lihat-lihat lagi meskipun kiri-kanan-bawah kamar kami kosong. Setelah itu kami diberi kunci dan gemboknya, juga diingatkan kalau sampai jam 10 malam ada bonfire yang bisa dinikmati bersama pengunjung resort lainnya.

Meski ngarepnya ada bathup buat berendam, tapi adanya shower dengan air panas juga good enough. Sementara Shane beres-beres barang bawaan kami, aku mandi lalu berganti dengan piyama. Padahal paginya aku sudah mandi, tapi mungkin karena di mobil berjam-jam plus dilalerin rasanya badanku kotor banget, ---banget! Eh, aku surprise lho dengan kamar mandinya, selain air panasnya stabil, perlengkapannya juga lengkap. Ada shower cap segala yang biasanya cuma aku temui di hotel yang "bagus". Kesannya memang sepele, tapi dengan mandi rupanya bisa mereset moodku, hehehe :p Kami sempat kepikiran mau ikutan bonfire, tapi setelah dipikir-pikir rasanya lebih nyaman di kamar saja. Tawaran genjrang-genjreng gitar sambil membakar marshmallow pun nggak terlalu menggiurkan bagi kami. Alasannya karena kami vegan (masa mau bakar kapas? Lol), juga karena kami membawa gitar dan ukulele sendiri dari rumah. Di dalam kamar kami merasa lebih bebas bermain musik sekeras apapun karena kebetulan kami satu-satunya yang mengisi kamar di jajaran atas. Kalau di depan orang lain kan gawat, kami suka nggak kira-kira kalau nyanyi :p


Tenda alias kamar kami tampak depan. Kiri-kanan sama bawah nggak berpenghuni, hehehe.


Kamar mandinya tanpa bathup, tapi air panasnya stabil, bikin betah. Dari sabun sampai losion juga sudah tersedia.


Itu selimut Shane yang bawa sendiri dari rumah, soalnya kami suka agak "gimanaaa" gitu pakai selimut orang lain :'D Oh, btw itu si Onci, boneka kelinciku juga ikut.


Nggak ada TV di kamar kami karena katanya sih konsepnya less gadget. Wifi tetap ada yang fungsinya untuk memanggil butler kalau lapar tengah malam. Tapi bukan Indi namanya kalau nggak segala dibawa, hahaha. Dengan menggunakan wifi aku dan Shane menonton film horror di laptop! Untung saja wifinya cukup kencang, jadi hanya 2 kali buffer dan sisanya aman. Sengaja pilih horror (Creep 2, karena sudah nonton yang pertama) karena itulah satu-satunya genre film yang kami nggak pernah bosan. Herannya setelah filmnya habis kami nggak ngantuk sama sekali, padahal sebelumnya kami terkantuk-kantuk di mobil. Pilihan aktivitas di tengah malam juga nggak banyak (ya kali, lol), kalau nggak makan ya lagi-lagi main musik. Oh iya, kami masak mie instan dan bubur kacang pakai air dari termos elektrik, lho. Karena tadinya sudah berencana buat masak-masak di villa jadi kami bawa sekantung besar makanan. Kan sayang kalau dibuang. Cukup menantang juga, tapi hasilnya enak. Apalagi aku juga sudah iris-iris sayur dari rumah, jadi kami nggak kekurangan gizi. Istri idaman banget kan aku :D *wek!*

Semenjak menikah kalau aku insomnia Shane juga ketularan. Padahal dulu dia sih cuek saja kalau aku melek, ---atau sebaliknya. Jadilah kami zombie berdua. By the way, mungkin sih ini karena suasana di sini kurang cocok dengan "style" kami beristirahat. Tendanya sih nyaman dan cukup bersih (debu-debu di sudut atap mah wajar lah, rumahku juga gitu, hehe), tapi polusi suaranya kencang bangeeet. Aku pikir karena kami di gunung jadi bakal sunyi gitu, tapi ternyata suara jalan raya terdengar banget. Apalagi suara motor yang ngebut-ngebut ngepot, bikin elus dada :'( Belum lagi karena di kamar nggak ada AC atau heater (hanya kipas di langit-langit) bikin malam yang dingin semakin terasa. Tenda pun jadi sedikit berkibar-kibar dan bikin kami rebutan selimut. Akhirnya aku dan Shane memutuskan untuk berjalan-jalan di luar saja. Biarlah kalau badan kami jadi berpeluh lagi setelah mandi, lebih baik daripada menahan dingin. Lagipula kami memang berjiwa horror, sudah lama memimpikan untuk bisa jalan-jalan tengah malam tapi di daerah kami terlalu ramai, hehehe. Ternyata seru juga, kami jadi bisa melihat suasana di sekitar resort termasuk tempat bonfire yang kami lewatkan. Tapi yang paling seru sih waktu kami sembunyi-sembunyi dari penjaga malam. Setiap cahaya senternya diarahkan ke dekat kami, kami langsung jongkok. Nggak apalah mengkhayal jadi buronan daripada bosan :p

Setelah jadi "buronan" pun kami tetap belum mengantuk. Sekitar jam 3 pagi (pokoknya menjelang subuh gitu) kami masuk kembali ke kamar dengan sepatu yang penuh lumpur karena hujan gerimis. Rasanya antara perasaan dan badanku nggak singkron. Badan sudah lelah selelah-lelahnya, tapi setiap dengar suara bising dari jalan raya aku otomatis melek dan siap siaga. Syukurlah aku masih diberi tidur sama Tuhan, menjelang pagi aku akhirnya tidur sebentar (dan katanya Shane menyusul terlelap nggak lama setelah aku) dan bangun sekitar jam 8. Aku agak-agak pusing gimana gitu, sebelum tidur Shane bungkus badanku pakai selimut ala-ala kepompong supaya aku merasa aman. Iya sih ampuh, tapi kan nggak bisa gerak, hahaha. Lagi-lagi bersyukur karena kami sudah siap obat-obatan, jadi begitu waktunya sarapan aku sudah segar kembali. Sarapannya di cafe dekat lobby yang cukup okay, tapi sayang banyak lalat. Jangan-jangan lalat dari villa sebelumnya ngikut, nih, lol. Tapi rasa makanannya cukup mengobati. Kami pesan nasi goreng (iya, sarapannya perpaket gitu, nggak all you can eat, huhu), buah-buahan, kopi dan jus mangga. Nilai plusnya mereka memasak ketika ada yang memesan, alias fresh. Terbukti karena waktu kami request nasi goreng vegan mereka menyanggupi padahal nggak ada di menu :)


Pemandangan ketika kami bangun. Indah ya, meski agak gelap karena musim hujan :)

Bangun tidur ku terus nongkrong, tidak lupa minta difoto :p

Waktu nggak bisa tidur kami jalan-jalan sampai ke bawah, lho (lihat di belakangku).


Karena masih pagi kami jadi bisa lihat pemandangan resort dengan lebih jelas. Dan ternyata indaaaaaah sekali. Sampai hampir lupa kalau semalam bisingnya sudah kaya nonton balap liar :') Karena lagi musim hujan langit jadi nggak terlalu cerah, tapi tetap saja rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Shane langsung punya inisiatif untuk merekamku bernyanyi dan bermain ukulele sambil memperlihatkan suasana resort. Kocak juga sih, karena lagu yang  kumainkan "Twoday" belum pernah direkam. Jadi aku cuma sok-sok lipsync gitu. Terbukti waktu videonya dicocokan dengan lagunya ternyata nggak match. Untung saja kemampuan mengedit Shane lumayan. Baru kali ini videonya duluan yang direkam baru lagu, hahaha :D Aku nggak tahu dengan hari-hari lain, tapi waktu aku dan Shane stay kayanya nggak banyak yang menginap. Waktu sarapan kami hanya bertemu dengan 2 tamu lainnya. Juga waktu merekam video kami cuma bertemu dengan beberapa petugas yang berjaga. Bagus juga sih, jadi berasa shooting video clip beneran :D *boom cess!*


Ini ayunan buat anak-anak sebenarnya. Tapi aku bebas pakai sepagian, soalnya sepi, hehehe.

Nggak ada yang ambil foto kami, ya sudah selfie :p

Nah, ini malah aneh. Aku lagi selfie eh Shane ambil fotoku, hahaha.

Ada musik = bikin lebih happy :))


Jadi apakah pengalaman glamping kami menyenangkan? Shorta! Karena sebenarnya bisa lebih baik kalau saja suasana nggak bising dan di kamar ada heather. Please jangan ada yang nanya kenapa suamiku orang Amerika yang biasa kena salju masih juga kedinginan padahal cuma hujan. Ya atuh, kan mereka juga pakai heater, saudara-saudara :') Kami sih menikmati sekali pemandangannya, juga fasilitas kamarnya. Tapi kalau bisa memilih ya lebih pilih hotel yang dekat dengan alam saja. Atau seenggaknya motel, yang penting kamar berdinding sungguhan. Apa aku merekomendasikan para pembaca yang budiman untuk mencoba glamping? IYA! Saranku carilah tempat yang jauuuuuuh sejauh-jauhnya dari jalan raya supaya terasa menyatu dengan alam, bukan dengan knalpot :( Menurutku glamping ini cocok banget buat yang rindu camping tapi keadaan kurang memungkinkan. Misalnya terkendala kesehatan (nggak bisa melewati jalan terjal berliku) atau sudah berkeluarga dan ada balita (eh tapi banyak juga sih balita yang naik gunung, pokoknya you know what I mean lah ya). Mudah-mudahan sih tulisan aku ini bisa memberi ide untuk ke mana kalian mengisi liburan akhir tahun nanti. Dan juga untuk yang penasaran semoga pengalamanku memberi gambaran. Terakhir, jangan lupa kalau setiap orang punya kesukaan yang berbeda. Kalau kami nggak betah karena dingin, siapa tahu kalian malah suka. So give it a try! :)


"TWODAY". Lagu baruku dan Shane yang videonya dishoot waktu kami glamping :)


yang kemana-mana bawa sayur dan ukulele,

Indi

-----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 05 Desember 2018

(Tiba-Tiba) Menikah.

Waktu bilang kalau aku sudah menikah banyak yang nggak percaya. Teman-teman dan saudara-saudaraku bertanya-tanya; kapan? Sama siapa? Kok nggak bilang-bilang? Lho, pacarannya kapan? ---dan lain sebagainya.
Sebetulnya jangankan mereka, aku juga masih nggak percaya kalau sekarang sudah menikah, hahaha.


Pernah punya hubungan jangka panjang yang (tujuannya sih) serius membuatku malas untuk terlalu berbagi kehidupan pribadiku lagi. Alasannya karena batas care dan kepo teman-teman dunia mayaku sudah makin tipis. Bukannya memberi selamat ketika tahu aku punya pacar, eh malah nanyain ke mana mantanku *palm face* Entah mereka murni nggak punya manner, polos atau karena mereka pikir pacarku nggak bisa baca jadi nggak akan tahu mereka komentar begitu, yang pasti itu membuat aku nggak nyaman. Padahal siapa yang tahu dengan masa depan, kan? Rencanaku (dan pasanganku kala itu) pasti baik, tapi kalau Tuhan berkehendak lain ya pasti itulah yang terbaik. 
Tapi sekarang setelah satu bulan kami menikah, aku pikir ini adalah saat yang tepat untuk membagi cerita kami. Nggak ada yang salah sama hubungan kami. Shane itu orang baik, dan aku punya hak to tell the world. Kalau ada yang menduga-duga dan membandingkan dengan mantan itu juga hak mereka, aku nggak bisa cegah. Tapi what's matter itu siapa yang menikahiku pada akhirnya, kan ;)

Cerita mundur ke sekitar 6 tahun yang lalu. Aku yang waktu itu baru di dunia YouTube benar-benar nggak tahu gimana cara website itu berfungsi. Akunku kosong, nggak ada foto atau videonya. Karena waktu itu tujuanku hanya untuk berkomentar di video-video musik idola. Dengan bantuan Bapak (as always) aku membuat 2 video pertama; video Eris, anjingku yang sedang melakukan trik ala ala Air Bud (lol) dan videoku nyanyi di kamar sambil megang buku karena nggak hapal liriknya (---I know right, norak banget, namanya juga bocah, huahaha...). Nah, aku itu ngefans banget sama yang namanya John Frusciante, setiap ada yang cover lagunya pasti aku tonton dengan seksama. Sampai suatu hari aku nemu satu video cover di daftar rekomendasiku, iseng-iseng aku klik. Yang di video itu cowok, namanya Shane Combs. Dia main gitar sambil nyanyi. Videonya keren, nggak dibuat-buat tapi sukses bikin aku amaze. Lalu dengan PD nya aku komentar di video itu nyuruh dia buat nonton videoku yang lagi nyanyi sambil bawa buku (---ampun dah Indi malu-maluin...). Nggak disangka cowok itu balas, katanya dia sudah nonton videoku dan dia suka. Lalu kami pun menikah lalu hidup bahagia selamanya.
Hahaha, just kidding. Sehabis komentar itu aku nggak pernah ada kontak apa-apa lagi sama dia. Murni komentar iseng, hanya menyampaikan kekaguman dan aku memang pengen pamer video :")

Di pertengahan tahun 2016 suatu kebetulan mempertemukanku dengan dia lagi. Waktu lagi iseng baca kolom komentar video clipnya Princess Chelsea, aku nemu komentar dia! Dengan sok akrabnya aku sapa dia dan bilang kalau aku surprise karena kami dengar musik yang sama. Mungkin karena kebetulan sedang sama-sama online, dia langsung balas. Katanya dia tahu Princess Chelsea karena nonton salah satu coverku. Agak malu juga sih karena kupikir dia nggak pernah mampir ke channelku lagi setelah aku "paksa" nonton videoku. *ngumpet* Dan lagi-lagi, setelah itu nggak ada obrolan lebih lanjut. Nggak tahu deh dengan kalian, aku biasanya selalu ada firasat alias hint kalau ketemu orang. Misalnya langsung tahu kalau nantinya bakal jadi teman akrab, atau sebaliknya. Nah, sama Shane ini justru nggak ada sama sekali. Pokoknya tiap ngobrol rasanya hanya sekali lewat doang. Bahkan sampai beberapa bulan kemudian waktu kami memutuskan untuk bikin lagu bareng pun nggak pakai basa-basi dulu. Dia tinggal di mana, tampangnya gimana, umurnya berapa, aku nggak tahu. Pokoknya habis lagunya selesai, ya sudah, kami kembali ke alam masing-masing :p

Jadi kapan kami mulai berteman dan naksir-naksiran? Nggak tahu. Seingatku kami mulai mengobrol di pertengahan tahun 2017, dekat-dekat ulang tahun kami yang beda 10 hari saja. Awalnya sih seperti sebelumnya, kami membuat musik. Lalu tiba-tiba saja jadi akrab dan obrolan kami nggak lagi melulu soal musik. Setiap video call bisa berjam-jam, bahkan nggak jarang kami nggak tidur seharian dan ngobrol sampai belasan jam! Rekor yang aku ingat kami pernah ngobrol 13 jam, sampai Ibu nanya kenapa aku nggak keluar kamar selama 2 hari, hahaha. Tapi jangan dikira kami saling naksir. Hubungan kami memang istimewa, tapi kami murni bersahabat. Shane sering bercerita tentang perempuan yang dia taksir. Begitu juga aku yang sering bercerita tentang kecengan-kecengan khayalanku yang jumlahnya segudang. Hubungan kami tanpa beban, nggak pernah sekalipun ada keingingan untuk bertemu karena sudah tahu bahwa kami ternyata tinggal di 2 negara yang dari ujung ke ujung; Amerika dan Indonesia. Bagi kami video call lebih dari cukup, kami sama-sama senang itu yang terpenting :)

Akhir Januari 2018 kami mulai mengakui bahwa saling menyukai. Lagi-lagi jangan tanya bagaimana awalnya karena kami nggak ingat. Tahu-tahu seminggu sebelumnya kami saling mengakui kalau ada perasaan memiliki dan mulai ada keinginan kuat untuk bertemu. Jadi nggak ada acara "tembak-tembakkan". Waktu itu Shane bilang kalau dia akan datang ke Indonesia agar kami bisa tinggal bersama. Orangtuaku kaget, karena nggak pernah sekalipun aku menyebut tentang punya pacar. Padahal aku juga kaget (banget), soalnya begitu ada perasaan dia memang langsung memutuskan untuk ke sini, dan statusnya memang bukan pacar, kok :p Jadi memang nggak ada jeda sama sekali buat ngomong, ---bahkan buat mikir-mikir, hahaha. Begitu juga orangtua Shane, mereka kaget karena anaknya belum pernah ke luar negeri atau bahkan mengenal sedikit pun tentang Indonesia, ---tapi tiba-tiba saja bilang kalau akan menetap! (Yup, saudara-saudara, bayangkan gimana reaksi ibunya begitu tahu anak cowok satu-satunya mau tinggal bareng cewek yang belum pernah ditemui).
Aku pernah bertanya apa dia nervous akan meninggalkan segala kenyamanan di negaranya dan harus belajar bahasa yang sama sekali baru. Dia bilang "nggak", dia malah excited karena artinya nggak harus lewat video call lagi untuk "bertemu" denganku. Katanya, kalau di telepon saja kami sudah bahagia, apalagi di dunia nyata nanti. Dan aku setuju dengannya :)

Jika pasangan yang berasal dari beda negara identik dengan LDR alias long distance relationship, itu nggak berlaku buat kami. Dan aku sangat bersyukur dengan itu! Shane segera mengurus passport, visa dan barang-barang apa saja yang akan dibawa. Maret 2018 dia sudah siap terbang ke Indonesia dan selama menunggu yang kami bicarakan adalah betapa nggak sabarnya kami untuk bertemu, ---juga keinginan Shane untuk menikahiku. Iya, menikah. Awalnya aku pikir Shane hanya bercanda karena kami memang sering bergurau dan aku memang belum menemukan "sisi romantis" darinya. Tapi semakin lama aku jadi yakin kalau dia bersungguh-sungguh karena nada bicaranya selalu terdengar lebih serius setiap dia berbicara tentang hubungan kami. Katanya apapun akan dia lakukan supaya nggak berpisah lagi dengan sahabatnya, —-aku. Dan menikah adalah jalan yang dia pikirkan. Aku pikir, kalau pun nanti dia berubah pikiran karena belum pernah bertemu aku sebelumnya, ya sudah. Dia tinggal pulang lagi saja ke negaranya. Toh visa kunjungannya hanya berlaku satu bulan, hahaha.

And here we are now, kami menikah di bulan Oktober 2018 dengan dihadiri oleh beberapa anggota keluarga saja. Alasannya karena aku ingin pernikahan kami khidmat dan sakral. Aku pernah bermimpi bagaimana rasanya menikah, tapi ternyata yang aku alami ini lebih indah daripada impian. Aku menikahi sahabatku! :) Setiap detik yang aku alami rasanya seperti mimpi, sepanjang prosesi pernikahan aku nggak bisa berhenti tersenyum. Jalan Tuhan memang misterius, video konyol di YouTube itu ternyata jalan kami untuk saling menemukan belahan jiwa. Aku nggak akan pernah menganggap sepele lagi setiap hal kecil yang terjadi di hidupku, karena siapa tahu itu clue Tuhan untuk sesuatu yang lebih besar.


Dan soal hint, atau firasat. Saat menulis ini aku jadi sadar kalau sebenarnya "tanda-tanda" itu sudah ada tapi akunya saja yang cuek, ---mungkin karena terlalu menganggap kalau Shane itu nggak akan pernah lebih dari sahabat. Pernah suatu hari Shane memberiku batu yang dia ambil dari depan rumah John Frusciante, idolaku. Aku bilang, jika suatu hari nanti aku menikah, aku akan meminta calon suamiku melamar dengan batu itu. Dan yang kedua, tahun lalu aku menulis lagu yang berjudul "If I". Liriknya seperti ini; "If I get married today, I will wear white dress and flower crown." Satu hari sebelum menikah Shane membelikanku gaun putih bermotif batik dan mahkota bunga. Coba tebak?! Aku benar-benar memakainya di hari pernikahan kami! :)
Jadi rupanya dia sudah di sini bersamaku the whole time, my best friend is my husband.

Ah, rasanya aku ingin bercerita lebih banyak lagi tentang kami. Tapi mungkin lain kali karena sebentar lagi Shane akan selesai cuci piring sehabis memasak untuk kami, hihi. Sekarang aku mau siap-siap istirahat dulu. See you, teman-teman! :)


xx,

Indi



Lagu baru Indi dan Shane di sini: KLIK


--------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here |Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 10 November 2018

Indi Kembali saat Halloween! :)

Ini beneran bulan November? Ya, ampun tahun 2018 sudah mau lewat tapi tulisanku di sini cuma berapa biji? :') Hahaha. Dulu, waktu pertama kali bikin blog tujuanku buat menyimpan kenangan atau pengalaman. Iya sih foto dan video bagus buat menyimpan memory, tapi buatku tulisan punya keistimewaan tersendiri karena yang tersimpan bakal dari sudut pandangku :) Nah, berhubung belakangan aku jadi jarang menulis, hati kecilku sebenarnya menyesal... Ada beberapa moment berharga yang rasanya lewat begitu saja, sniff... Tapi daripada sedih berlarut lebih baik aku menulis satu-persatu kejadian apa saja yang aku ingat di sini. Biar tulisannya delay yang penting kalau nanti-nanti dibaca kembali kan bisa bikin aku bernostalgia. Apalagi suamiku sudah janji untuk mengingatkan aku menulis minimal satu minggu sekali supaya nggak menyesal lagi. ---Rrrr, iya kalian nggak salah baca, kok. Suami. Aku sudah menikah (tuh kan banyak cerita yang terlewat...) dan kapan-kapan pasti aku ceritakan di sini. Sekarang mumpung Oktober baru lewat aku akan cerita tentang Halloween saja dulu, deh ;)


Sebelum cerita, nggak bosan-bosan dari tahun ke tahun aku bilang kalau Halloween di keluargaku nggak sama dengan originnya. Kami hanya meminjam nama tanpa bermaksud being disrespectful. Mungkin untuk teman-teman yang baru mampir ke blog ini bisa buka label "Halloween" supaya mengerti apa yang kumaksud :) 
Well, selain adanya Shane alias suami, tahun ini juga ada hal lain yang berbeda. Kalau biasanya aku pakai kostum suatu tokoh (supaya nantinya bisa difoto side by side sama aslinya, hehehe), tahun ini aku pakai kostum sangat amat seadanya banget! Bukan tanpa alasan, Ibu yang biasanya membuatkan aku kostum sedang sibuk dan aku masih belum juga bisa memutuskan akan jadi apa sampai mendekati malam Halloween. Justru Ali, keponakanku yang baru berusia hampir 3 tahunlah yang sudah mantap akan jadi apa sejak jauh-jauh hari :D Ditambah lagi Shane bukan tipe orang yang wajib berkostum meski sangat antusias dengan Halloween, jadi aku pikir nggak apa-apalah karena kreatif kan nggak harus melulu soal kostum *wink* Karena nggak memikirkan kostum aku jadi bisa lebih bisa konsentrasi dengan dekorasi. Nggak ribet-ribet sih, aku hanya meminta Shane untuk memilih template bunting (bendera gantung) yang lucu-lucu. Lalu setelah itu kami bawa ke tempat fotokopi untuk dilaminating supaya kelihatan lebih bagus dan durable (jadi tahun depan nggak usah bikin lagi, lol). Shane juga sudah beli banyak sekali laba-laba mainan untuk disebarkan di seluruh ruangan. Aku suka ide itu, sederhana tapi efektif. Dan berhubung Halloween identik labu, aku juga sudah membuat lilin berwarna oranye yang dibuat dari crayon dan menggambar jarnya (bekas selai) dengan wajah Jack O'Lantern. Sisanya sih kami hanya pakai apa yang sudah ada di kamarku.

Dekorasi dan treats sederhana. Dirt cake gagal buatan Shane jadinya batal gagal karena ternyata rasanya enak xD

Waktu aku pikir semuanya sudah siap, tepat di hari H baru sadar kalau aku salah menulis tanggal undangan ke teman-teman! Seharusnya tanggal 30 Oktober, tapi aku tulis tanggal 31! Untung saja aku sadarnya pagi-pagi jadi mereka tetap bisa datang meski mendadak dan aku dibanjiri protes karena mereka nggak sempat menyiapkan kostum, hehehe (^-^ ')v 
Habisnya mau bagaimana lagi, di tanggal 31 aku dan Shane sudah berencana untuk ke rumah hantu, dan ditambah, Ali pasti akan kecewa berat kalau Halloweennya ditunda. Gimana nggak, dia sudah menunggu Halloween sepanjang tahun. Bahkan sudah latihan bilang "Happy Halloween" untuk videoku sejak Halloween lalu, ---yang mana waktu itu dia masih aku gendong dan belum terlalu lancar bicara. ---Aww, time flies :') 
Aku nggak mengundang banyak orang, seperti biasa acara seperti ini biasanya hanya kumpul di rumah bersama keluarga. Jadi kalaupun ada teman hanya beberapa saja. Apalagi aku pikir nggak fair buat Shane yang nggak bisa mengundang teman-temannya ke sini. Kampung halamannya jauh, di Amerika. Dan di sini dia belum punya teman selain orang-orang yang aku kenalkan, jadi aku ingin membuat suasana sehangat mungkin alias nggak asing. 

Kostumku, sebagai putri bunga :p

Beberapa saat sebelum teman-temanku datang, Ali sudah mandi sore dan bersemangat sekali. Sebenarnya sih sudah dari pagi, tapi Ibu sempat membawanya ke rumah Nenek supaya nggak mengganggu aku dan Shane yang sedang siap-siap xD Ali pakai kostum Superman, sedangkan aku memakai dress lama berbunga-bunga dan juga mahkota bunga. Ceritanya jadi putri bunga, hehehe. Kalau Shane malah super spontan alias tanpa rencana. Karena kehabisan baju bersih jadi aku minta dia pakai kaus yang Ibu belikan buatku. Aku nggak begitu perhatikan gambarnya, pokoknya asal nggak ambil baju dari keranjang cucian, titik. Tapi rupanya "kostum" Shane malah yang paling keren karena setelah diperhatikan motif kausnya mirip percikan darah! Hahaha, kami sampai nggak bisa berhenti ketawa waktu sadar soal ini, lucky him! :D Dan rupanya keberuntungan Shane nggak habis sampai di situ saja. Kami sempat berselisih kecil karena Shane salah perhitungan waktu membuat graveyard cake. Akibatnya cakenya hancur! Aku sampai hampir menangis karena teman-temanku sudah di depan rumah. Tanpa pikir panjang aku minta dia masukkan cake hancur itu ke dalam beberapa gelas dan atasnya diberi permen cacing. Dirt cake darurat! Kalau teman-teman suka ya syukur, kalau nggak pun nggak apa-apa asalkan kue gagal ini jangan dibuang. Aku sudah siap-siap malu dan bikin tameng dengan bilang"ini buatan Shane" sebelum ada yang protes. Tapi ternyata hasilnya nggak jelek, "Halloween banget" dan rasanya enak! Beruntung sekali, kan! :D Selain dirt cake darurat kami juga memakaikan kostum seram ke kotak susu soya dan jus mangga. Ibu juga menyumbangkan rujak Malaysianya yang rasanya segar. Lainnya aku memesan pizza (iya, karena ingin praktis, maafkan ya nggak bikin, hehehe), soda dan chips. Treatsnya cukup bisa dinikmati sama segala usia. Karena selain Ali, ada dua orang temanku yang juga membawa anak-anak mereka :)

Senangnya anak-anak juga menikmati. Ali dapat teman baru nih, namanya Melody dan Shakila :)

Ada teman-teman kerjaku, Rifa, Irma (plus 2 anaknya) dan Yuli. Juga ada teman-teman dari masa remajaku, Dhian dan Cut Hanna (yang datang bersama suami dan anaknya).

Meski tahun 2018 belum berakhir, tapi aku sudah bisa bilang kalau Halloween salah satu hari terbaik di tahun ini. Aku sangat bahagia dan merasa sangat dicintai di tengah orang-orang terfavoritku di dunia. Ketika semua terlibat, ketika semua menikmati, ketika semua tersenyum... rasanya nggak ada yang bisa membuatku down. Tahun lalu adalah masa yang sulit untukku. Kesehatanku mentalku drop dan keluargaku membuatkan pesta Halloween untuk membantuku merasa lebih baik. Dan tahun ini kesehatanku kembali, punya sahabat baru, ---yang juga menjadi seorang suami :) Jadi bertambah lagi alasan mengapa Halloween sangat berarti untukku. Ini bukan hanya hari di mana kami berpesta kostum, menghias rumah atau meminjam budaya Irlandia. Tapi Halloween adalah pengingat betapa keluarga begitu mencintai aku. Dan pengingat bahwa seburuk apapun keadaan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik. 

---

Ah, rasanya aku masih belum seluwes biasanya karena terlalu lama berhenti menulis. Tapi nggak apa, karena yang terpenting aku senang bisa kembali menyimpan memory di sini. Dan menulis tentang Halloween adalah cara yang menyenangkan untuk memulai kembali ;)


boo,

Indi

(Diedit 5/3/2023. Cut Hanna meninggal dunia pada tahun 2021. Kepergiannya mendadak tanpa sakit (malamnya masih berkomentar di salah satu postinganku). Aku dan teman-teman sangat merasa kehilangan karena almarhumah adalah orang yang baik. Doa dari lubuk hatiku untuknya dan keluarga).



Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Sabtu, 08 September 2018

Guruku Berbulu dan Berekor: Donasi Sudah Mulai Berjalan :)

Aku menulis ini di pagi buta sambil nunggu sarapan. Menikmati sekali awal musim hujan ini, bikin makan dan istirahat makin nikmat, hihihi. Kalau kalian sendiri gimana kabarnya? Semoga baik-baik saja dan sama "nikmat"nya seperti aku, ya :) 
Beberapa waktu yang lalu aku share kabar tentang buku terbaruku yang judulnya "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua" (yang belum tahu silakan klik di sini). Nah aku punya dua kabar sekaligus tentang buku ini, nih! Yang pertama, aku memutuskan untuk mengubah tampilan sampulnya. Dan yang kedua, keuntungan dari penjualan buku sudah didonasikan! (Yay!).

Guruku Berbulu dan Berekor :)

Kenapa sampulnya diganti? Alasannya sebenarnya murni spontanitasku saja. Sampul awal memang cute, tapi aku merasa kurang personal. Jadi dengan dibantu Shane, pacarku, kami mendesain ulang sampulnya. Sesuai dengan isi buku yang berisi kumpulan kisah nyata manusia dengan hewan peliharaannya, aku pakai foto Eris, ---anjing peliharaanku yang telah memberikan banyak pelajaran berharga untukku dan keluarga :) Prosesnya lumayan cepat, satu malam saja dan dengan mood yang super positif. Buatku itu penting karena aku percaya saat mengerjakan sesuatu mood kita akan terpancar dari hasilnya. Aku puas dengan hasilnya. Bukannya ke-PD-an, tapi kepuasan ini datang karena proses pengerjaan benar-benar hanya dilakukan berdua, dan foto yang digunakan pun sangat personal, diambil oleh Bapak beberapa waktu lalu. Goal untuk menerbitkan buku ini dengan cara se"indie" mungkin pun rasanya sudah cukup tercapai karena budget yang kukeluarkan minim. Setelah 4 bukuku sebelumnya diterbitkan oleh penerbit major, ini adalah kali pertama karyaku diterbitkan secara mandiri. Bukan tanpa alasan, karena setelah dihitung-hitung keuntungannya akan lebih "terasa" dibandingkan jika diterbitkan secara konvensional. Itu artinya jumlah uang yang donasikan dari penjualan perbuku kali ini lebih besar dibandingkan "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian yang pertama! :D

Sampul baru, bersama Gift yang berenang di akuariumnya, hihihi.

Kendala tentu saja ada, terutama soal promosi yang hanya mengandalkan sosial mediaku yang followernya masih jauh dari kata banyak. Berbeda dengan buku-bukuku dulu orang bisa temukan di website penerbit dan toko buku :') Meski begitu aku percaya usaha akan membuahkan hasil. ---Sekecil apapun hasil tetap saja hasil. Aku bersyukur sekali semenjak diterbitkan donasi "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua" sudah disalurkan ke dua penampungan hewan. Yang pertama adalah "Shelter Pak Johan" di libur Lebaran lalu. Pak Johan ini awalnya pengusaha limbah plastik, dan berawal dari rasa iba tempat usahanya itu lambat laun berubah menjadi penampungan hewan! Sekarang beliau sedang memerlukan biaya untuk membeli lahan dan biaya untuk membangun. Lokasinya di Tanjung Kait, Tangerang. Aku salut sekali dengan beliau dan sangat mendukung langkahnya ini. Sekarang jumlah donasi untuk Shelter Pak Johan dari bukuku ini hanya sedikit, tapi aku berharap akan terus bertambah di kemudian hari :)

Donasi untuk Shelter Pak Johan.

Donasi yang kedua disampaikan ke "Cat Life for 16 Cats, street cats rescue". Aku menemukan akun penggagasnya di Instagram dan salut dengan usahanya menyelamatkan kucing-kucing jalanan. Bukan hanya yang sehat, banyak juga diantaranya yang dalam keadaan sakit berat :( Yang paling dibutuhkan oleh mereka adalah pakan kucing, baik untuk kucing dewasa atau kitten. Nah, setelah aku cek ternyata alamatnya nggak terlalu jauh dariku, sama-sama di Bandung! Aku putuskan untuk membeli cat food dari keuntungan buku. Lagi-lagi, aku tahu jumlahnya nggak banyak. Tapi aku harap ini jadi pengingat bahwa masih ada orang yang peduli dengan hewan, sekalipun hewan yang "tak bertuan". Salut :)

Donasi untuk Street Cats Rescue.

Sesedikit apapun keuntungan yang aku dapat dari buku ini aku bertekad untuk terus mendonasikannya pada hewan-hewan yang membutuhkan. Aku ingin "Guruku Berbulu dan Berekor" ini bukan sekedar buku, tapi juga gerakan atau movement. Teman-teman yang ingin membantu bisa hubungi aku untuk membeli bukunya. Bisa kirim pesan pribadi di media sosialku (Facebook: Indi Sugar atau Instagram @indisugarmika) atau email namaku_indikecil@yahoo.com. Harga perbukunya Rp. 60.000, ---iya, naik sedikit dari sebelumnya karena harga kenaikan kertas. Dan jika membeli buku belum memungkinkan aku harap kalian meluangkan waktu untuk membagi kabar tentang buku ini ke orang-orang yang kalian kenal. Dan jika itu belum memungkinkan juga, setidaknya doakan agar gerakan ini terus berjalan, ya, hehehe. Sekian dulu kabarku tentang "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua". Semoga di tulisan selanjutnya akan ada kabar baik lagi. Selamat menikmati musim hujan, see ya! ;)

Video book trailer untuk Guruku Berbulu dan Berekor 2


yang menulis karena ingin berbagi,

Indi 

 ______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 08 Agustus 2018

Bermain Ukulele dan Menjadi MC di Pet Festival :)

Kalau ada tawaran untuk dapat pengalaman baru rasanya selalu campur aduk, antara semangat pengen coba sama ragu takut nggak bisa, hehehe. Jujur, meski aku hobi banget nyemangatin orang buat mencoba hal baru tapi sebenarnya aku sendiri nggak sepemberani itu :p Kadang aku takut duluan dan menolak, dan kadang (---nah ini nih yang parah banget) aku malah "menggantung jawaban", nggak nolak tapi pas hari H langsung kabur, hahaha. Belakangan aku sedang berusaha mengurangi sifat tak terpuji itu (lol), sebisa mungkin aku mencoba tantangan baru dan kalau nggak sanggup aku harus tegas. Sehabis Lebaran kemarin aku dapat tawaran mengisi acara di Pet Festival Bekasi. Lucunya aku sudah menanti-nanti tawaran ini, tapi pas beneran dapat ternyata deg-degan juga, haha. Maklum tawarannya benar-benar "ajaib", aku diminta menjadi MC sekaligus membawakan beberapa lagu. Padahal tahu sendiri kan kalau aku ini penulis...

Yang paling semangat mendukungku buat mengambil tawaran ini Bapak, padahal jarak Bandung-Bekasi cukup jauh dan beliau lah yang akan menyetir. Katanya kalau ditolak aku nggak akan tahu rasanya bernyanyi dan bermain ukulele di atas panggung sungguhan. Iya, "sungguhan" karena pengalamanku nyanyi di panggung cuma di acara preschool yang ditonton bocah-bocah, dan di panggung audisi acara bakat yang baru masuk 100 besar aku langsung gugur, hahaha. Alasan lain mengapa PD ku jadi meningkat adalah adanya Shane, pacarku. Masih dari idenya Bapak, katanya kalau aku "macet" di panggung Shane bisa nutupin dengan gitarnya. Well, ide bagus karena permainan ukuleleku masih terbatas. Dan aku pikir bakal fun kalau kami melakukan sesuatu bersama-sama. 

Acaranya diadakan di South Lake Park, Mutiara Gading City Bekasi dari tanggal 23 sampai 24 Juni 2018. Pas macet-macetnya karena masih libur Lebaran. Sempat dilema juga sih karena kalau bolak-balik kasihan Bapak yang menyetir. Dan lagi acaranya sampai sore, kalau pulang dulu bisa-bisa keburu pagi dan kami kapan tidurnya dong, hahaha. Untung akhirnya Mas Wiweko dari Animals Lovers yang mengundangku bersedia menyediakan hotel. Soal gimana caranya 1 kamar muat 3 orang biarlah kami pikir belakangan. Yang penting aku sudah tahu gambaran acaranya dan apa saja yang harus dilakukan di sana. Less deg-degan, ---dan berhubung susah mencari waktu untuk latihan berdua Shane di rumah, kami putuskan untuk berlatih di mobil saja, di perjalanan nanti.

Lokasi acaranya di tepi danau. Asyik, ya? Jadi pengen nyebur, hehehe.

23 Juni 2018
Meski tahu harus bangun sangat awal tapi aku dan Shane masih saja nekat bergadang yang berakhir naas karena kami nyaris nggak tidur semalaman (lol). Suasana libur Lebaran masih masih sangat kuat, rasanya nggak rela kalau harus dilewatkan. Aku pikir biar nanti saja tidur di mobil, berhubung perjalanan cukup memakan waktu. Jadi rencananya setengah perjalanan untuk tidur dan setengah lagi untuk berlatih. Tapi rupanya rencana tinggal rencana. Kami nyasar sampai berkali-kali dan sempat hampir menyerah karena meski dibantu Google map tetap saja berputar di tempat yang sama :( Syukurlah titik cerah akhirnya justru datang dari Alfamart, hahaha. Bukan dari Alfamart nya sih, tapi kami punya ide konyol untuk berhenti di setiap cabang yang ditemui dan bertanya dengan siapapun yang kami temui di sana. Hasilnya rupanya lebih akurat dari Google map. Bahkan ibu-ibu yang terakhir kami temui memberi arahannya detaiiiiiiil sekali, sampai kami takjub! :D

Kami tiba tepat waktu dan langsung disambut oleh matahari yang sangat terik meskipun masih pagi. Lokasinya di area terbuka, di tepi danau buatan yang dikelilingi wisata outdoor semacam outbound dan trampolin. Dari pintu masuk ke lokasi cukup jauh tapi bisa terdengar sayup-sayup suara MC dan musik. Oh iya, aku bukan MC utama di sana, tapi mendampingi seorang MC bernama Sandi. Awalnya aku dipasangkan dengan Gaung, tapi di detik-detik terakhir diganti karena dia harus mengurus komunitas reptilnya. Meski aku diberitahu apa-apa saja yang harus dilakukan tapi Mas Wiweko bilang sebagian besar aku harus improvisasi. Lagu yang dibawakan pun nggak bisa dipastikan harus berapa banyak karena tergantung berapa lama jeda dari satu segmen ke lainnya. Dan di sana juga sebenarnya ada home band, tapi aku diundang sebagai tamu. Aku sudah bilang sama Shane jika lagu yang kami siapkan kurang, langsung "hajar" saja dengan lagu apapun yang kami tahu. Yang penting nggak sepi, hahaha.

Dan terbukti, belum juga mulai cuap-suap sebagai MC, aku langsung diminta membawakan lagu. Aku dan Shane pun naik panggung lalu langsung diperkenalkan oleh Sandi sambil sedikit diwawancara. Sudah aku duga sih bakal ada sedikit kendala, Shane mau ditanya apapun nggak akan menjawab. Bukan karena dia jutek, tapi memang belum bisa berbahasa Indonesia, hahaha :D Untung saja Sandi sangat kocak dan luwes, suasana jadi santai. Setelah dipersilakan kami bawakan 3 buah lagu; "And I Love" nya The Beatles, "If I" nya Indi Sugar (lol) alias lagu ciptaanku, dan "One Day" yang juga ciptaanku. Eh, aku agak-agak terharu lho waktu bawakan "One Day". Pasalnya, ehm, tahun lalu di bulan yang sama aku dan Shane merekam lagu itu jauh-jauhan. Aku di Indonesia dan dia di Amerika. Siapa sangka satu tahun kemudian kami bawakan lagunya berdekatan, ---sebelahan, dan dia jadi pacarku pula :'p

Aku nggak selalu main ukulele. Ada beberapa lagu yang hanya dibawakan dengan iringan gitar Shane.



Momen bersejarah tertangkap video. Pertama kalinya aku dan Shane membawakan lagu "One Day" berdekatan, lol.

***


Konsep Pet Festival ini mengenalkan dan mengedukasi masyarakat tentang hewan. Jadi sebenarnya nggak berpusat pada hewan peliharaan saja. Di sini juga ada burung-burung yang dilindungi dari Taman Mini Indonesia Indah agar bisa dilihat lebih dekat oleh pengunjung. Komunitas yang terlibat antara lain; Animals Lovers, Expose, Paspamres, Koi, PSGB, ACI, Ahay Bird Sanctuary dan IBA. Mereka membawa hewan kesayangan dan koleksi masing-masing agar bisa berinteraksi. Pokoknya di area yang luas ini mereka tersebar, termasuk di "taman sentuh" alias di mini petting zoo. Tugasku sebagai MC (---yang masih ngos-ngosan habis nyanyi karena bukan penyanyi betulan, lol) adalah menggiring pengunjung agar nggak malu-malu. Maklum, banyak yang mengira kalau harus membeli tiket lagi untuk masuk ke area ini. Padahal gratis, cukup membeli tiket masuk South Lake Park saja dan mereka bebas berada di Pet Festival sampai acara selesai.

Burung Julang Emas. Oh my! Cantik sekali! :D

Kebanyakan pengunjung yang hadir adalah keluarga dengan anak yang masih kecil-kecil. Mereka-mereka inilah yang paling kelihatan antusias. Agar semakin menarik aku dan Sandi juga membuat kuis yang pertanyaannya gampang-gampang. Seperti nama-nama hewan dan karakternya. Yang bisa menjawab benar tentu dapat hadiah, yaitu goodie bag berisi snacks. Anak-anak sangat bersemangat, malah ada yang sampai nangis karena ingin hadiah tapi malu menjawab, hahaha. Meski kesannya sepele tapi cara ini efektif untuk mengenal karakter berbagai hewan. Jadi jika lain kali bertemu akan paham bagaimana cara menghadapinya. Terutama untuk hewan berbahaya seperti ular dan biawak. By the way, "bahaya" yang dimaksud adalah kalau kita nggak tahu cara menghandlenya, ya. Karena pada dasarnya hewan itu mempunyai insting dan meski sudah jinak kita tetap harus berhati-hati.

Di area Taman Sentuh atau Petting Zoo.


Aku, Sandi dan Gaung (yang awalnya akan menjadi partnerku).


Sandi sangat membantuku, tanpa dia mungkin suasana nggak akan ramai. Kalau aku blank dengan cepat dia mengisi kekosongan dengan jokesnya. Aku bersyukur baik Mas Wiweko maupun Sandi memaklumi karena ini adalah pengalaman pertamaku. Bahkan mereka berbaik hati mengizinkanku untuk "watch and learn", jadi nggak perlu menggintil Sandi kemana-mana tapi cukup melihat dan mempelajari untuk lain kesempatan. Cara ini cukup efektif sih, semakin lama aku jadi semakin PD dan mulai berani mengeluarkan inisiatif jokes. Nggak lucu juga nggak apa-apa deh, yang penting usaha, hahaha :p 

Sebelum acara selesai aku dan Shane membawakan 2 lagu lagi; "Here, There and Everywhere" nya The Beatles dan "The Will to Death" nya John Frusciante. Duh, akhirnya kesampaian juga impianku bawain lagunya John sang idola di depan umum, hahaha. 
Biar badan rasanya capek maksimal (---efek cuaca panas sepertinya) tapi aku lega karena saat meeting akhir penyelenggara puas dengan kesuksesan acara di hari pertama ini. Tentu aku juga menyadari belum ada apa-apanya dibanding Sandi, tapi aku janji di hari kedua akan lebih maksimal lagi :) Berhubung aku satu-satunya pengisi acara yang berasal dari luar kota jadi diizinkan untuk ke hotel duluan. Aku, Shane dan Bapak pun pamit. Hotel sudah dibooking oleh penyelenggara jadi kami (harusnya) sudah tinggal istirahat saja. Asyik! :D

Tapi Tuhan rupanya ingin kami berpetualang dulu. Lagi-lagi Google map nggak banyak membantu dan malah bikin kami berputar di tempat yang sama sampai 4 kali! Jarak South Lake Park ke Hotel Amaris cukup jauh dan ternyata di daerah sini banyak hotel dengan nama yang mirip. Jadi kalau nanya sama orang mereka kebanyakan bingung dan malah memberi arahan ke hotel yang lain :'D Waktu akhirnya tiba aku sudah nggak berbentuk, deh. Semua tas dan ukulele Shane yang gotong (padahal dia sendiri bawaannya banyak) karena buat jalan saja rasanya berat untuk menyeret kaki, hahaha. Kami langsung pesan extra bed karena di kamar hanya ada 2 tempat tidur. Tapi... ehm... ternyata mereka nggak punya extra bed, saudara-saudara!!! :')

Akhirnya diputuskan Bapak tidur di satu tempat tidur sementara aku dan Shane berjejalan di tempat tidur yang lain. Gimana caranya? Nah, ini yang bikin aku takjub sama Shane karena bisa tidur dengan posisi nggak biasa. Dia berbaring melintang dengan kaki ditekuk, hahaha (---iyes, kakiku nindihin perut dia). Kebayang nggak sih ukuran tempat tidur yang harusnya buat sendiri itu ditempati berdua? Shane bahkan sesekali tiduran di lantai untuk sekedar meluruskan kaki. Pokoknya kalau ditotal kami berdua hanya tidur 2 jam karena selain posisi nggak nyaman, kami juga kelaparan dan harus menunggu abang Gojek sampai jam 3 pagi karena restoran hotel sudah tutup. Kalau Bapak? Well, beliau sih nyenyak. Ngoroknya saja terasa getarannya sampai tempat tidur kami :D


24 Juni 2018
Meski bangun pas-pasan tapi aku dan Shane nggak ribet ataupun terburu-buru karena sudah mandi sebelum tidur. Jadi kami langsung ganti baju, sarapan dan berangkat. Latihannya sama seperti kemarin kami lakukan di perjalanan saja. Ada 2 lagu lain yang kami siapkan dan keduanya dari John Frusciante (---mimpi apa aku bisa bawain lagu idola 2 hari berturut-turut, uhuhu...). "Chances" dan "Interior Two" adalah lagu-lagu yang pernah aku bawakan sebelumnya di channel YouTube ku, jadi perfect untuk dijadikan back up songs kalau-kalau mendadak diminta. Aku merasa lebih relax sih, mungkin karena sudah lebih mengenal rutenya jadi nggak perlu ribet dengan Google map lagi. Sepanjang jalan aku, Shane dan Bapak banyak tertawa dan ini sangat aku syukuri :)

Bapak yang setia menemani dan mengabadikan momen.


Si pacar siaga, hahaha.


Kami tiba tepat waktu, susunan acara hampir sama seperti kemarin. Bedanya aku dan Shane tampil di tengah acara, bukan di awal. Ada beberapa kejutan menyenangkan yang hadir di hari kedua ini. Pertama, pengunjungnya lebih ramai dibanding sebelumnya. Kedua, sepupu dan dua keponakanku datang untuk melihatku tampil (hahaha, malu!). Dan ketiga, aku bertemu dengan beberapa teman pembaca. Aku senang sekali bisa menyapa dan berfoto bersama dengan mereka. Cuma sayangnya ada beberapa orang yang memperlakukan Shane seperti "objek wisata". Mereka mengajak berfoto bahkan tanpa bertanya siapa dia dan langsung pergi setelahnya. Aku sampai malu :( Out of topic, nih. Indonesia kan dikenal ramah, aku jadi sedih kalau ada yang asal jawil dan cekrak-cekrek saja... (maaf curhat, hiks).

Tapi di luar itu semuanya menyenangkan. Aku juga mulai berani memulai duluan untuk berbicara di depan pengunjung meski dagi dig dug, hahaha. Mungkin karena sudah lebih relax, aku juga jadi bisa lebih menikmati isi acara. Jadi nggak cuma sekedar mengenalkan komunitas yang akan tampil lalu langsung cari-cari bahan nge-MC lagi. Bagian favoritku adalah waktu ada komunitas yang menjelaskan bagaimana apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan ular. Dari mulai cara membedakan mana yang berbisa dan mana yang nggak, sampai cara menangani jika sampai tergigit ular berbisa. Sayang baik Bapak ataupun Shane nggak ada yang merekam part ini jadi aku nggak bisa share banyak. Tapi aku ingat jelas bahwa selama ini banyak yang salah kaprah dengan penanganan pertama saat terkena gigitan ular. Instead dihisap atau malah diikat lebih baik perlakukan seperti korban patah tulang. Misalnya bagian lengan yang tergigit, maka usahakan agar bagian itu nggak banyak digerakan (bisa disangga dengan kayu, etc) lalu segera bawa ke Rumah Sakit. 

Sini Dek, ikut naik panggung :D


Di hari kedua foto lebih sedikit karena kamera mati. Untung saja saat turun panggung Shane sempat ambil video dengan handphone nya :)


Selain itu aku juga melihat aksi burung-burung cerdas. Sumpah kocak banget, kalau nggak ingat lagi "tugas" mungkin aku bakal konsen menonton bersama parah bocah yang memenuhi sekitar panggung, hahaha. Pokoknya aku merasa di hari kedua ini lebih maksimal segala-galanya. Microphone yang sempat mati dan aku yang sempat lupa lirik (lol) rasanya nggak terlalu penting. Antusias pengunjung dan pengisi acara bikin moodku super baik :) Dan rupanya bukan hanya aku yang merasa bahwa hari kedua ini sangat maksimal. Di meeting sebelum kami pulang pihak penyelenggara pun sangat puas, bahkan rencananya akan diadakan rutin setiap bulan! Wah, meski keterlibatanku di acara ini cuma secuil, tapi aku ikut senang! Mas Wiweko bilang kepadaku dan Shane agar kami jangan kapok untuk diundang kembali. Karena rencananya di akhir bulan Agustus mereka ingin kami hadir kembali.

Di perjalanan pulang kebahagiaan kami masih terbawa. Apaaaa saja dibahas, termasuk sedikit memberi "catatan" tentang apa saja yang harus diperbaiki jika ada kesempatan di lain waktu. Selebihnya... aku dan Shane terlelap! Kami lelah bukan main karena sehabis acara sama sekali nggak kembali ke hotel dan langsung menuju Bandung. Tubuhku rasanya rindu dengan tempat tidur di kamar yang meski sempit tapi nggak harus dibagi dengan Shane, hihihi. Meski begitu aku merasa lelah ini sangat sepadan. Banyak yang bilang Indonesia kurang peduli dengan keberadaan hewan, baik pets ataupun hewan dilindungi. Tapi Pet Festival ini membuktikan sebaliknya, banyak orang-orang yang peduli dan benar-benar "do something" untuk menyebarkan awareness. Aku bangga menjadi bagian mereka :)
Yang aku harapkan sekarang semoga acara seperti ini bukan hanya di Bekasi, tapi diseluruh wilayah Indonesia! Boleh aku dapat "amin" nya, teman-teman? ;)

Vlog. Yang mudah-mudahan bisa menangkap keseruan Pet Festival :)


yang main ukulele tapi suka malu-malu kucing,

Indi


_______________________________________

Flash news:


Teman-teman, aku dibantu oleh para relawan menulis sebuah buku yang berjudul "Guruku Berbulu dan Berekor" (bagian dua). Buku ini berisi kumpulan kisah nyata mengenai manusia dan hewan peliharaannya. Hasil penjualan dari buku digunakan untuk membantu hewan-hewan di penampungan (royalti cetakan pertama sudah disalurkan ke Shelter Pak Johan). Jika teman-teman ingin memiliki bukunya sekaligus berdonasi, silakan kontak aku. Harga buku Rp. 60.000 dan bisa dikirim ke seluruh wilayah Indonesia. Trims! :)


_________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com