Jumat, 15 Januari 2016

Animal Cruelty on Your Plate



Kalau tengah malam begini biasanya aku mulai menulis. Bukan, ---bukan ala ala seniman yang senang dengan keheningan karena inspirasi jadi mudah datang. Tapi jam segini biasanya aku habis mengendap-endap ke dapur untuk membuat camilan atau makanan berat sekalian, hahaha. Dibandingkan dengan menonton TV aku lebih suka menyalakan komputer tuaku, menulis ide-ide yang terpikir ketika menjalani hari, menyelesaikan buku terbaru (---which is seharusnya selesai bulan lalu), menonton video homemade di channel-channel YouTube, atau scroll up and down di timeline/newsfeedku. Kalau sedang beruntung aku akan dapat link-link video konyol, tulisan-tulisan inspiratif atau best of all... dapat kabar John Frusciante kembali aktif bermusik. Tapi seringnya aku malah menemukan banyak cerita hoax, status-status fanatik mem-piggy-buta, atau worst of all... video-video animal cruelty yang lebih kejam daripada Cruella de Vil...

Well, ya soal hoax aku akan ceritakan lain kali. Belum tahu kapan, tapi harus ---karena rupanya masih banyak orang yang asal share tanpa memeriksa dulu asal usulnya. Sekarang aku mau cerita tentang animal cruelty, ---tapi ini bukan tentang orang-orang yang menelantarkan hewan peliharaannya atau breeding untuk keuntungan materi. Ini tentang hewan ternak yang nantinya akan masuk ke dalam perut kita. Aku nggak akan membahas ini dari sudut pandang sebagai seorang vegetarian atau seorang animal lover. Tapi apa yang akan aku tulis adalah yang aku rasakan sebagai seorang manusia yang punya hati nurani dan akal pikiran.
Aku dibesarkan di keluarga penyayang hewan, dari anjing, kucing, burung, ayam sampai tikus pernah menemani hari-hari kami. Tapi keluargaku juga penggemar daging (aduh apa ya istilahnya?). Ibu dan Bapak sangat menyukai masakan dengan daging kambing dan ayam. Kalau nasi goreng nggak cukup kalau dengan timun dan telur dadar saja, maunya ada kambingnya, hihihi. Suatu hari (long looooooong time ago) aku memutuskan untuk menjadi vegetarian, ---tepatnya pescatarian. Ibu dan Bapak nggak bertanya apa alasannya dan langsung mengizinkan karena mereka pikir hanya fase di usiaku yang masih remaja. Tapi setelah sadar bahwa ini adalah keputusan permanen, mereka pun dengan senang hati menyiapkan menu khusus untuk anak perempuannya ini. Nggak ada yang berubah dari rutinitas makan kami sehari-hari. Kami tetap makan di meja yang sama dan terkadang makan malam sambil menonton TV, ---yang berbeda hanya menu di atas piringku :)



Meski terkadang aku cengeng saat tahu ada hewan yang disembelih, tapi tentu aku lebih mendengarkan akal sehatku. Tuhan menciptakan dunia dan isinya dengan masing-masing manfaat, termasuk hewan. Sudah sejak zaman dahulu manusia memanfaatkan hewan untuk keperluan sehari-hari, dari mulai tenaganya, kulitnya untuk dibuat pakaian dan dagingnya untuk dimakan. Bayangkan saja jika di zamannya Fred Flinstone penggunaan bulu hewan sudah dilarang, mungkin mereka semua akan kedinginan dan bergantung pada daun-daunan (---lalu menumbuhkan bulu sebagai proses adaptasi, lol). Kalau soal pakai kulit hewan, sekarang sih memang sudah seharusnya untuk berhenti. Kita sudah tinggal di rumah, ada selimut, jaket dan payung dengan berbagai pilihan bahan untuk melindungi diri. Nggak perlu pakai kulit hewan, kecuali kalau jika itu memang untuk memanfaatkan sisa pemotongan, seperti misalnya kulit sapi untuk bedug. Kalau sengaja bunuh binatang untuk diambil kulitnya, misalnya ular atau buaya untuk dibuat tas sih big NO ;) Aku percaya sebagai manusia kita nggak perlu serakah, cukup manfaatkan apa yang ada, ----hanya ambil apa yang bisa kita makan.

Aku senang sekali dengan villa keluarga yang terletak di Purwakarta. Nggak jauh dari sana ada kandang sapi dan kambing. Kalau sedang bersama sepupu-sepupuku yang masih kecil, kami sering memberi mereka rumput untuk dimakan. Bahkan sesekali kami membelai-belai mereka juga, soalnya menggemaskan, hihihi. Meski sepupuku yang berusia 7 tahun pun tahu kalau hewan-hewan ini nantinya akan dipotong, aku selalu berusaha menyampaikan kalau mereka "baik-baik saja". Ya, mereka memang akan mati dan menjadi makanan manusia, tapi selama semasa hidupnya diperlakukan dengan baik mereka pasti senang karena bisa bermanfaat untuk kita :) By the way, aku nggak menyangka kalau harus menyampaikan ini sama mereka, karena kupikir hanya "Indi kecil" saja yang kaget waktu sadar kalau apa yang dimakan sehari-hari asalnya dari hewan, hehehe. Makanya penting sekali agar mereka tahu kalau it's okay to eat animals, selama caranya baik.

Kehadiran kita di dunia ini seperti rantai, semuanya saling menyambung. Hewan pun ada sebagian yang saling memangsa agar bisa bertahan hidup (---karena yang vegetarian kaya aku juga ada, hehehe). Contoh kecilnya saja ikan arwana yang dipelihara di aquarium, mereka diberi pakan yang berasal dari udang, ikan kecil, jangkrik atau bahkan kecoa yang kaya protein. Meski mereka nggak memangsanya sendiri, tapi tujuannya sama, hewan-hewan kecil itu yang membuat arwana bertahan hidup. Katanya semakin berkualitas pakan yang diberikan maka semakin sehat pula arwana-arwana itu. Makanya, supaya kualitasnya terjaga banyak orang yang memilih mengembangbiakan hewan-hewan kecil itu sendiri untuk dijadikan pakan daripada membeli. Meski nggak semuanya buruk, tapi ada saja pedagang yang memperlakukan ikan pakan (---feeder fish) dengan nggak layak. Mereka dijejalkan ke dalam sebuah aquarium, atau plastik penyimpanan tanpa oksigen yang cukup. Pernah suatu hari aku melihat seorang pegawai pet shop yang cuek saja ketika ada seeokor ikan pakan menggelepar-gelepar di lantai. Waktu kutegur jawabannya bikin aku meringis, katanya, "Biar saja, masih banyak yang hidup di sana," sambil menunjuk ke plastik besar berisi ratusan ikan tanpa aerator. Mungkin ada orang berpikir bahwa ini bukan big deal. Kenapa harus bersusah-susah merawat ikan pakan yang nantinya akan dimakan oleh ikan yang lebih besar? Toh dalam keadaan sekarat pun ikan besar akan tetap memakan mereka. Padahal, tahukah kalian bahwa ikan-ikan yang dikembangbiakan dengan berdesak-desakan memiliki resiko untuk memiliki parasit, bakteri dan terserang stress? Dan ya, itu memang BIG DEAL, karena penyakit yang dimiliki ikan-ikan itu bisa menular ke ikan yang memakannya. 


Meski nantinya dimakan tetap saja namanya animal cruelty, ---dan jadi double animal cruelty kalau ikan besar yang memakan mereka ikut sakit, lol :p Hal yang sama juga beresiko terjadi pada hewan ternak, yang nantinya kita makan. Saat kita, ---err, kalian makan rendang atau sate ayam, pernahkah terpikir dari mana asal hewan-hewan tersebut? Apakah mereka disembelih dengan baik, atau dengan cara yang halal, ---bagi muslim? Beberapa waktu yang lalu timelineku sempat ramai dengan video-video rumah potong ternak yang 'menyiksa' dulu hewan-hewannya sebelum disembelih. Mereka dijejalkan di kandang yang sempit dan ditarik paksa sampai kakinya terpeleset. Di video lain lebih memilukan lagi, sapi-sapi dihancurkan tulangnya dengan menggunakan alat lalu kepalanya diputar sampai putus. Sungguh cara yang kejam, berbeda sekali dengan cara menyembelih hewan yang seharusnya. Memang kejadiannya kebanyakan di luar negeri, tapi bukan berarti di Indonesia bisa bebas. Masih ingat dengan sapi glonggong, ---sapi yang dipaksa minum sebanyak-banyakanya agar beratnya bertambah demi keuntungan penjual? Ini bukan hoax, bagi yang sering berbelanja di pasar pasti deh bisa membedakan mana yang betulan gemuk atau hasil glonggong. Jika hewan-hewan itu dimakan oleh manusia apakah efeknya akan baik bagi tubuh? I don't think so :)

Jika owner ikan arwana saja nggak mau peliharaannya memakan sesuatu yang buruk, apalagi kita sebagai manusia? Sama seperti pada ikan, jika kita memakan hewan ternak yang stress atau sakit maka efeknya akan buruk bagi tubuh kita. Ayam goreng, gulai kambing dan bistik sapi yang seharusnya nikmat dan bermanfaat bagi tubuh pun bisa malah jadi penyakit. Kita memang nggak selalu bisa tahu dari mana asal makanan yang dikonsumsi sehari-hari, ---apalagi jika asalnya dari restoran cepat saji. Tapi bukan berarti nggak bisa dicegah, atau minimal dikurangi resikonya. Orangtuaku biasanya membeli ayam langsung dari pasar, dalam keadaan hidup jadi mereka bisa melihat langsung bagaimana proses menyembelihnya. Untuk daging kambing, mereka membelinya dari sesorang sudah sangat mereka percayai dan dipotong di hari yang sama oleh 1 orang, ---bukan rumah pemotongan masal. Lalu bagaimana dengan restoran cepat saji atau fast food? Well, beberapa tahun belakangan ini mereka berhasil menghindari untuk membeli makanan dari sana, ---dan itu membuatku sebagai anak merasa bangga, hehehe :p 

Aku yakin masih banyak peternak dan rumah potong yang memperlakukan hewan-hewannya dengan baik, misalnya saja di peternakan kecil yang sering aku kunjungi saat sedang mampir ke villa keluarga. Aku cuma mau ingatkan kalau animal cruelty mungkin saja ada di piring kita, di menu masakan homemade yang terkesan innocent. Berilah tubuh makanan yang baik karena kita mencerminkan apa yang kita makan. Sekali lagi, aku nggak mempromosikan vegetarianism. Menjadi vegetarian adalah pilihanku, tapi selalu percaya bahwa IT'S TOTALLY OKAY untuk memakan hewan ternak karena itu memang salah satu takdir mereka untuk diambil manfaatnya oleh manusia. Just choose wisely, okay? No more animal cruelty on your plate! :)

bukan cruella de vil,

Indi

***

nb: Aku berterima kasih untuk teman-teman yang tetap mampir ke sini meskipun belakangan aku jarang update dan blog walking. Bahkan aku lihat ada beberapa teman baru yang mengikuti blog ini. Really appreciate it, dan selamat datang ke Dunia Kecil Indi :) Tapi sadly jumlah komentar nggak nyambung pun jadi bertambah. Begini teman-teman, sebelum berkomentar tolong make sure untuk membaca tulisanku dulu dengan lengkap. Dan kalau malas, it's okay, aku nggak pernah menganggap bahwa banyak follower/komentar = prestasi, karena aku menulis murni karena suka menulis :) Jika tujuan kalian meninggalkan komentar karena ingin dikunjungi balik lebih baik minta to the point saja, itu akan lebih aku hargai. Karena komentar yang nggak nyambung dari hasil membaca setengah-setengah kadang malah membuat misleading dan membuat orang yang berkunjung ke blog ini untuk benar-benar mencari informasi jadi bingung. Tolong, ya, terutama untuk di tulisan yang mengenai scoliosis dan HIV/AIDS. Thanks, have a nice day :)

_____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

27 komentar:

  1. Mau vegetarian, mau pemakan daging, segala (lah?) nggak masalah. lagian kita semua selalu beda dan nggak bisa dipaksain. sebagai pemakan segala, termasuk daging, percaya dengan doa aja apa yang dimakan.

    oh ya,akhir-akhir ini juga banyak post foto di facebook yang memperlihatkan hewan tangkapan yang sebenarnya hewan yang dilindungi, ya. itu sih yang suka lewat di news fee.

    Kalau yang penyembelihan secara sadis, nggak bisa komentar, dari geografis sama kultur nya aja udah beda. nggak mau terlalu parno. he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, mudah-mudahan kamu baca tulisanku dengan lengkap, ya karena ini tentang BUKAN tentang vegetarianisme. Kalau hewan yang dilindungi sih sudah jelas salah, mungkin aku akan bahas di tulisan yang lain. Cara sembelih yang aku bahas gak ada hubungannya sama kultur, dimana pun aku yakin yang namanya kandang sempit dan hewan "glonggong" itu salah karena selain menyakiti juga gak baik untuk kesehatan kita. Keculi kalau yang kamu maksud adalah doa sebelum menyembelih, nah itu tiap kultur/agama juga beda :)

      Hapus
  2. Artikel yang bagus ni mbak Indy. Dalam agama Islam cara pemotongan hewan harus sesuai syariat yaitu harus menggunakan pisau yang tajam dan dipotong dilehar, supaya hewan tidak tersiksa.

    Saya setuju bahwa kita harus tahu darimana asal makanan kita karena kalau makan makanan yang salah akan berakibat pada kesehatan juga. Paling tidak harus bisa memilih bahan makanan yang baik, jangan asal murah langsung dibeli. Misalnya ayam tiren, ih jangan sampai deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak, senang kalau mbak menangkap isi artikelnya dengan baik :) Betul sekali, mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan "gak sehat" (karena kadang terlihat sehat tapi sebenarnya mereka stress) ruginya akan dua kali karena selain menyakiti hewan juga membuat tubuh kita gak sehat. Semoga mbak terhindar dari ayam tiren, ya, hihihi :)

      Hapus
  3. Hehehe kadang rasa iba muncul saat ada hewan yang disembelih. Saya suadh beberapa kali jadi panitia Kurban di Masjid Depan Rumah juga kadang terbersit perasaan seperti itu. Bagaimana sapi sapi itu meregang nyawanya disembelih para jagal masjid. Namun semua perasaan itu hilang setelah tahu bahwa daging daging Qurban itu dibagikan kepada warga miskin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Qurban sudah pasti cara sembelihnya benar kan :) Dengan kasih sayang dan hewan-hewan itu diperlakukan dengan baik sebelum disembelih. Kadang anak-anak suka main juga sama kambing soalnya lucu-lucuuu, hehehe :)

      Hapus
  4. Kakaaa, aku salut banget sama kaka yang bisa jadi vegetarian. Udah sejak lama aku juga pengen jadi vegetarian, tapi aku masih suka makan daging ayam, (tapi ini mulai udah sangat mengurangi), dan semoga kedepannya bisa menjadi vegetarian seutuhnya.
    Menurutku juga yang namanya penyiksaan terhadap hewab, hewan apapun, kecil atau besar, untuk dimakan atau enggak itu perbuatan yang sangat keterlaluan T_T coba bayangkan kalo kita yang jadi hewan itu dan diperlakukan seperti itu kaya gimana, mungkin kalo hewan bisa bicara layaknya manusia mereka juga akan marah.
    Postingan kaka selalu menginspirasi aku, love you kak Indi ♥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa-apa, jadi pemakan daging kan gak salah. Yang salah itu pemakan daging yang sering menghujat vegetarian, ---begitu juga sebaliknya :) Yang penting sih hidup seimbang dan pastikan sumber makanan kita berasal dari hewan yang sehat.
      Betul sekali, memang keterlaluan, padahal mereka nantinya kan masuk perut manusia juga. Seharusnya perlakukan mereka dengan kasih sayang. Terima kasih sudah baca postinganku, dear. Love you too :)

      Hapus
  5. Indi, kamu kayak temen kerjaku dulu. Dia punya kecenderungan vegatarian karena sedih dan ga tega kalau bayangin hewan disembelih. Dulu deket tempat kerjaku ada pemilik kios yang miara bebek. Abis makan siang kalau ga abis dia bakal keluar cari bebek buat dikasihin sisa makananya Terus satu hari dia sedih karena nyari tuh bebek ga ada dan makin galau pas dikasih tau kalau bebek itu udah disembelih.
    Soal hoax yang mempiggy buta itu emang ngehe, ya. Suka heran juga kok ada aja orang yang suka maen asal share ga dipikir dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya aku sering sedih kalau ingat ada hewan yang disembelih. Tapi biasanya aku cepat-cepat "tampar" diri sendiri supaya ingat kalau itu memang salah satu fungsi mereka di dunia. Nah, sedihnya yang asal share di TL ku kok banyaknya ibu rumah tangga, ya? Suka inget ibuku sendiri, jangan sampai begitu. Btw, sekarang Kominfo punya form yang bisa kita isi kalau ada link hoax. Coba yuk :)

      Hapus
  6. betul2 ndi asal pilih hewan yg benar2 untuk dikonsumsi gpp, suka nyess di hati kalau dgr berita orang makan daging monyet duhh karunya monyetnya euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul selama itu hewan ternak yang disembelih dengan baik dan hewan dilindungi, itu gak apa-apa :)

      Hapus
  7. keterlaluan banget orang yang melakukan perbutan menyiksa hewan, walaupun itu juga hewan kecil yang mau buat umpan juga.
    kalo soal nyembelih hewan sesuai syariat yang bener itu gak nyiksa.

    ooh iya ini baru kunjungan pertamaku, salam kenal mba.
    artikel mba bagus dan menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hewan buat umpan atau pakan kadang diperlakukan dengan semena-mena. Padahal nantinya kan bakal masuk perut hewan lain juga :( Betul sekali, kalau menyiksa rasanya buat tubuh kita pun gak baik. Salam kenal kembali :)

      Hapus
  8. Hi ka Indi,, aku ketinggalan baru tau nih istilah pecastarian.
    Akhir-akhir ini di timeline fb aku banyak pemuda pemudi yang mungkin baru heboh fb, upload foto2 ketika hewan disembelih utk upacara adat misalnya. Langsung aku report unfollow.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Vegetarian ada macam-maca, ada lacto ovo, pescatarian, juga ovo vegetarian. Yang sama sekali gak makan produk daging termasuk dairy namanya vegan :) Nah, untuk upacara adat kan sebenarnya tradisi Indonesia, gak ada yang sadis. Cuma memang kadang sekarang dianggapnya "yang penting hewannya mati", so sad... :(

      Hapus
  9. Hebat mba Indi..keluarga udah ga mkan fast food lg..kereeen. Sy sesekl masih nih..memanfaatkan voucher nganggur hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diusahakan, kalau gak sama sekali kadang aku juga makan french fries dan pizza vegetarian. Terlalu enak untuk give uuuuuup, hehehe :)

      Hapus
  10. Purwakartanya mana ? aku sering kesana lo ?
    Kalau tengah malam aku juga bangun, menulis dan menulis demi blog tercinta. Walau masih dengan tatabahasa yang kacau.
    Aku paling tidak tega jika lihat ayam peliharaan sendiri dipotong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku lupa nama daerahnya apa. Kalau ingat nanti aku kasih tau ya, siapa tau ketemu :) Ah, sama aja, kacau gak apa-apa yang penting nulisnya happy dan yang baca ngerti :D

      Hapus
  11. Serupa tapi tak sama saya pun jarang mengkonsumsi protein hewani. Pingin total jd vegetarian tp blm sanggup. Suka sedih kalo liat hewan2 tersakiti bnyk sekali yg suka share di medsos

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa-apa, protein hewani bagus kok untuk tubuh. Kalau memang mau coba bisa mulai dulu jadi pescatarian, lalu lanjut jadi lacto ovo, dst. Kalau disembelih secara baik untuk dimakan sih gak apa-apa. Yang bikin gak tega tuh kalau hewannya disiksa dulu. Ya, ampun :(

      Hapus
  12. waktu itu bapaku pernah melihara ikan emas & gurame sampai besar-besar. Tapi aku gak tega untuk makannya soalnya lihat tiap hari di kolam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, sama Mbak. Malah sama ibuku akhirnya dipelihara sampai besaaaaaaar sekali dan gak dimakan sampai ujung usianya :)

      Hapus
  13. Gw gak begitu suka makan daging, sometimes iya tapi prefer makan ikan all day long, parah gw bugis abissss. Pernah coba jadi vegetarian tapi gagal total, gule ikan atau ikan pindang terlalu sayang buat diangggurin. Anyway gw percaya kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komennya gak selesai tuh, kayanya keburu kepencet ya, hehehe. Mau bilang hal yang sama dengan yang kutulis di paragraf terakhir, kah? Karena ini memang bukan tulisan tentang vegetarianisme. Meski aku vegetarian, tapi aku percaya produk hewani itu bagus untuk manusia selama dikonsumsi dengan cara yang baik :)

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)