Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Sabtu, 14 April 2012

Reuni Paduan Suara: Bertemu Kak Immanuel Lagi dan Mendengar Cerita Darinya :)


Howdy my blogger friends?! :D
Wah, sudah weekend lagi, ya? Kok sepertinya ada aturan nggak tertulis kalau gue selalu nge-post di akhir minggu? Hihihi... Well, sebenarnya sih ini bukan disengaja, apalagi direncanakan. Tapi kebetulan saja waktu gue selalu lebih senggang di akhir minggu. Sudah 2 minggu ini gue menjadi guru pendamping di playgroup dan 3 kali seminggu gue kuliah dari siang sampai sore. Setiap weekend pasti gue usahakan untuk memanfaatkannya dengan hal-hal fun. Nah, seperti hari sabtu tanggal 7 April kemarin, gue menghadiri reuni kecil-kecilan paduan suara Lisma! :)

Ide reuni ini datang dari Nisa, salah satu anggota paduan suara yang sangat loyal. Sama seperti gue, Nisa menjadi anggota sejak tahun 2005 sampai 2010 dan hanya lulus kuliah lah yang membuatnya berhenti bergabung dengan Lisma. Waktu 5 tahun kebersamaan membuat Nisa dan gue sangat akrab dengan anggota paduan suara yang lain, meskipun kebanyakan dari mereka datang dan pergi. Iya, paduan suara Lisma memang menerima anggota 'kontrak' alias anggota yang hanya bernyanyi ketika ada event dan boleh pergi sesuka hati jika event selesai. Syaratnya hanya dua: bersedia mengikuti latihan sebelum hari H dan nggak buta nada. Jadi, meskipun total anggota paduan suara Lisma sangat banyak, anggota tetap yang selalu dalam setiap event dan lomba hanya itu-itu saja. Mungkin hanya 25 orang, itu sudah termasuk Nisa dan gue.

Waktu gue mencoba menghubungi mantan anggota paduan suara, ternyata hanya sedikit yang nomor ponselnya tetap. Singkat cerita, hanya 5 orang yang bisa datang (sudah termasuk gue dan Nisa). Ditambah Kak Immanuel, mantan pelatih kami, totalnya jadi 6 orang. Agak kecewa sebenarnya, tapi mengingat gue sudah 2 tahun nggak bertemu mereka, pertemuan ini pasti akan sangat menyenangkan meskipun hanya sedikit yang bisa hadir :)

Gue diantar adik ke Pizza Hut, BIP, tempat dimana gue dan teman-teman ex paduan suara Lisma bertemu. Gue terlambat 30 menit karena terjebak macet, dan waktu gue sampai sudah ada Nisa, Tessa, Septi dan Kak Immanuel di meja paling pojok. Rasanya gembira sekali melihat mereka, dan... sedikit ajaib, karena biasanya, dulu, kami hanya bertemu waktu latihan. Apalagi dengan Kak Immanuel yang super sibuk, seperti mimpi rasanya bisa duduk santai satu meja dengannya, hihihi.
Belum satu menit gue duduk, mereka sudah sibuk melontarkan komentar. Nisa bilang, "Kamu makin chubby sekarang, bagus". Kak Immanuel bilang, "Masih bule saja kamu. Nggak bosan?", dan sebagainya dan selanjutnya. Gue juga ingin mengomentari mereka sebenarnya, tapi entah kenapa, I'm too amaze to meet them again (apalagi Dian menyusul satu jam setelah gue datang). Yang keluar dari mulut gue malah pertanyaan-pertanyaan penasaran seperti, "Pada tinggal dimana sekarang?", "Ada yang masih aktif nyanyi nggak?", "Anggota lain apa kabar?", dan seterusnya sampai mereka pusing :p

Meski pusing ternyata mereka tetap menjawab. Nisa sekarang bekerja di kantor lising Sumedang, Tessa menjadi guru SMP di Sukabumi, Dian menjadi guru tutor bahasa Inggris untuk orang Korea, sedangkan Septi baru saja diterima bekerja di tempat yang nggak terlalu jauh dari tempat tinggal gue. Dan Kak Immanuel, dia lah yang mempunyai pekerjaan paling menarik sekarang. Well, mungkin bukan pekerjaannya yang menarik, tapi caranya bekerja. Dia menjadi guru sekarang, di sebuah SMP yang terletak di ujung kota Subang. Mendengar nama tempatnya saja gue sudah bisa membayangkan betapa berbedanya dengan keadaan di sini. Di sana susah sekali akses internet, untuk menuju 'kota' harus pakai ojek selama beberapa jam dan sinyal telepon masih belum bagus. Ditambah lagi menurut Kak Immanuel di sekolah tempatnya mengajar, setiap semester pasti ada saja siswinya yang keluar karena hamil. Wah...

Tessa and me :)


Septi, Indi, Nisa, Kak Immanuel, Dian




Tapi mendengar cerita Kak Immanuel membuat gue dan teman-teman mencoba mengerti mengapa dia kerasan tinggal di sana. Menurutnya, pada awalnya memang sulit sekali untuk merasa nyaman, apalagi dia harus meninggalkan keluarganya di Bandung. Mama dan tunangannya terutama. Tapi setelah melihat keadaan sekolahnya, Kak Immanuel merasa bahwa anak-anak di sana sangat membutuhkannya. Bayangkan saja, di sana ada siklus berulang yang sudah terjadi sejak sangat-sangat-sangat lama. Rata-rata setelah lulus SMP mereka menikah karena hamil duluan dan kemudian bercerai di usia muda. Pendidikan menjadi bukan prioritas sehingga pekerjaan yang mereka dapatkan pun nggak pernah berkembang dari masa ke masa. Alumni sekolah yang berhasil lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang kuliah pun bisa dihitung dengan jari. Itu pun mereka nggak pernah kembali lagi ke Subang dan menetap di Bandung atau kota besar lainnya. Anak-anak di sana menjadi miskin role model...

Kak Immanuel bertekad merubah keadaan itu, dia mulai berbicara pada guru-guru lain tentang situasi yang terjadi. Sayangnya guru-guru di sana sudah terlanjur 'malas', katanya sejak dulu memang keadaan sudah begitu, sudah diusakan berubah juga, tapi nggak ada hasilnya. Kak Immanuel yang jabatannya sebagai guru seni musik, bukan guru bimbingan konseling pun akhirnya memutuskan untuk bekerja 'diluar kewajibannya'. Mulai mengarahkan anak-anak ke jalur yang lebih positif (lewat musik tentunya), berbicara pada mereka secara pribadi sampai dengan berusaha mendatangkan role model yang diharapkan bisa membuat anak-anak lebih semangat. Usaha Kak Immanuel nggak berjalan mulus, anak-anak memang respect padanya, tapi hanya ketika di kelas. Diluar itu mereka tetap dengan 'tradisi' turun temurunnya. Kak Immanuel nggak kehilangan akal, dia meminta kepala sekolah untuk membelikan gitar dan biola agar anak-anak membentuk tim orkestra. Too bad, nggak ada seorang pun yang mendaftar :(
Gue mengenal Kak Immanuel cukup baik, 5 hampir 6 tahun gue menjadi muridnya. Gue tahu dia pantang menyerah. Tapi mendengar bahwa dia batal menikah karena dia mengharapkan pasangan yang mau ikut dengannya ke Subang benar-benar membuat gue mengaguminya 100 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.


Gue jadi ingat pertama kali gue mengenal Kak Immanuel. Waktu itu gue adalah mahasiswa baru yang masih bingung dengan kegiatan ekstra yang mau gue ikuti. Secara random gue memilih teater, fotografi dan paduan suara. Gue mengikuti ketiga kegiatan itu bersamaan, dengan rasa suka yang sama dan ketertarikan untuk belajar yang sama. Lalu suatu hari, beberapa minggu setelah gue mengikuti paduan suara, ada kabar bahwa pelatih yang selama ini mengajar digantikan oleh seorang pelatih baru. Masih muda dan penuh semangat, namanya Kak Immanuel. Entah kenapa gue memilih untuk meninggalkan teater dan fotografi lalu berkonsentrasi di paduan suara. Padahal dibandingkan dengan 2 kegiatan ekstra yang gue tinggalkan, paduan suara adalah yang paling sedikit prestasinya. Satu-satunya undangan rutin hanya untuk mengisi acara wisuda atau acara kampus lainnya. Sedangkan untuk lomba, entah berapa belas tahun yang lalu paduan suara Lisma ini terakhir mengikuti lomba.


 the choir :)












Heran gue melihat Kak Immanuel, dia begitu semangat untuk merubah paduan suara yang, well, jujur saja... hancur ini. Dia selalu datang lebih awal dibandingkan murid-muridnya dan menyiapkan semuanya dengan serius. Partitur, keyboard, bahkan dia mengajari kami membaca not balok! Iya, terkadang dia meminjam kelas yang sudah selesai dipakai dan mengajari kami di sana, seolah di sekolah musik. Lambat laun usaha Kak Immanuel ada hasilnya. Dengan pelatih yang sebelumnya paduan suara Lisma hanya memiliki dua suara, tapi dengannya kami memiliki 4 suara: sopran, alto, bass dan tenor. Kami juga mulai digabungkan dengan orkestra lengkap, bukan hanya piano atau keyboard. Lalu hal yang nggak diduga pun datang, Kak Immanuel menawarkan agar paduan suara Lisma mengisi sebuah event (gue lupa nama event-nya apa). Itu adalah yang pertama buat kami, tapi Kak Immanuel menyemangati kami dan menyakinkan bahwa kami sudah siap tampil. Benar saja, sejak saat itu tawaran untuk mengisi event banyak berdatangan. Dalam satu bulan paduan suara Lisma bisa diundang ke beberapa acara sekaligus. Kami bahkan mendapatkan 'uang saku' yang benar-benar sangat lumayan secara rutin, hehehe ;)
Kegiatan ekstra yang tadinya kurang diperhatikan pun mendadak jadi sorotan. Banyak yang ingin menjadi anggota 'kontrak' karena tergiur dengan uang sakunya, dan ada pula yang ingin karena tergiur dengan tempat-tempat yang didatangi ketika mengisi event. Semuanya Kak Immanuel terima dengan senang hati.

Kak Immanuel itu orangnya galak. Eh, atau tegas ya? Hehehe... Dia nggak ragu untuk memarahi muridnya kalau memang dia bersalah. Kalau sudah marah, wah seram banget :( Syukurlah gue belum pernah dimarahi (hmm, pernah sih satu kali, tapi itu karena salah pengertian, lol). Berkat ketegasannya paduan suara Lisma akhirnya mencicipi bagaimana rasanya lomba, masuk TV, malah sampai merencanakan konser yang sayangnya harus batal karena beberapa kendala termasuk karena anggota tetapnya sudah banyak yang lulus kuliah dan mulai bekerja di tempat lain (termasuk gue). Kak Immanuel juga akhirnya mengundurkan diri karena memilih menjadi guru di Subang, dan paduan suara Lisma dikenang sebagai paduan suara yang bagus dan dispilin (ya, sekarang masih ada sih, tapi terakhir gue dengar kualitasnya menurun tanpa Kak Immanuel).

Kembali lagi ke cerita Kak Immanuel di reuni kecil kami, gue penasaran kenapa dia memilih Subang bukannya Bandung yang lebih nyaman. Sebagai teman dari Nisa yang dulu pernah menjabat sebagai ketua koordinator, gue tahu betul berapa honor yang Kak Immanuel terima sebagai pelatih. Jumlahnya besar, lebih besar dibandingkan dengan gajinya sebagai guru di Subang. Dan tahukah apa jawaban Kak Immanuel? Katanya, "Mereka lebih butuh saya daripada anak-anak di sini. Kalau saya tinggalkan mereka kasihan. Ada saya saja masih susah teratur, apalagi kalau nggak ada...".
Gue terseyum. Gue rasa nggak ada alasan gue khawatir dengan keadaan Kak Immanuel di sana. Kalau 7 tahun yang lalu saja dia berhasil merubah paduan suara super kacau menjadi paduan bersuara berprestasi, kenapa gue mesti nggak percaya kalau Kak Immanuel bisa merubah anak-anak SMP itu untuk lebih teratur?
I know you can do it, Kak Immanuel. Yakin ;)


do re mi,
Indi

* thanks to my Ray dan Septi untuk foto-fotonya :)



____________________________

Indi mengikuti giveaway 'Eksis dengan Batik' di sini :)

_________________________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE. My Shop? HERE.

45 komentar:

  1. tepatnya dimana tuh kak Subangnya? kok parah banget ya. di daerahku baik2 aja tuh anak SMPnya, yaa walaupun emang gag terlalu peduli sama pendidikan juga.
    dan sebagai Urang Subang Asli, kalo ditanya milih di Subang atau di Bandung, aku bakal milih Subang deh walaupun di pelosok. di Bandung mah riweuh, gag suka. hhoho

    BalasHapus
  2. huaaa, tiap baca postingan nya kak indi jadi sering mkir sampe mata berkaca2 :(
    huaaa

    BalasHapus
  3. @ SYIFA: gak boleh aku sebutin atuh, syiffa, hahaha. yang pasti bukan daerah kamu, dan ini nyata karena aku sering ngintip account kak imman, anak2 didiknya memang begitu :S masih ada yg belum kuceritain malah, cuma rasanya gak etis aja dan kalau cerita juga yg baca gak dapat 'sesuatu' ;) pastinya dong kamu milih subang. tuh, nisa aja gede di bandung tetep milih sumedang krn orang sana. kalau aku? dimanapun keluargaku tinggal, deh ;)

    @ SANTHY: makasih :)

    BalasHapus
  4. @ GITA: huaaa, tapi gak nangis, kan? :( *hug u* :D

    BalasHapus
  5. @ ROSALINDA: ah, thanks you rose :D

    BalasHapus
  6. It's definitely good to surround yourself with the people you love. Good to know you're having a good time with all those lovely faces in the photo. :-)

    I hope you get to visit my blog soon. :-)

    Much love from Mystic Nymph.

    BalasHapus
  7. wow what an amazing effort! mamaku jg guru yg berusaha keras untuk kemajuan murid2nya,,jd klo ada cerita2 tentang guru,,suka langsung tertarik dan ngerti bgt perasaan guru sperti apa,, I am sure he's a great teacher :) semoga anak2 didiknya bisa mengalami perubahan yg pesat :)

    BalasHapus
  8. Two thumbs up buat tekad dan semangat 'Kak Immanuel' ... semoga keadaan di SMP sana secepatnyaa bisa jadi lebih baik ... aamiin

    two thumbs up jg buat K'indy yang jd guru pendamping di playgroup :)
    *pinjam jempol temen* :D

    BalasHapus
  9. @ MIKIMOTO: ya, it's was a great time :) sure, i'll visit your blog ASAP :)

    @ PRAMUDITA: wah, mama dita guru apa? iya, salut aku sama para guru yg memperjuangkan kemajuan murid2nya :') yes, he's a great teacher dita, aku kagum sekali sama kak immanuel. amen, ya :)

    @ UNNI: amen.. terima kasih doanya. hahaha, sampai pinjam jempol teman segala. jangan lupakembaliin ya :D

    BalasHapus
  10. aku pikir kak Imanuel yang blogger loh mbak, ternyata bukan hihihi

    hebat yaa pengorbanan kak Imanuel yang itu, sampe gagal nikah huhu ..
    awesome!

    BalasHapus
  11. klo reuni paduan suara ya harus nyanyi bareng lagi harusnya, coba aja nyanyi bareng sbelum makan :D

    BalasHapus
  12. wah kak Immanuel hebat banget, bisa jadi inspirasi :)

    BalasHapus
  13. wuaaaw ini pertama kalinya aku kesini postingan yg panjang tp seru. bener2 reuni :) berbagi cerita banget yakin klo denger cerita aslinya lebih panjang dari postingan ini :)

    visit back :)

    BalasHapus
  14. hai kakak indi..tidak pernah bosan membaca tulisan kakak :)

    wah, kalo baca cerita ttg kak Imanuel, aku jadi amaze banget lho sama beliau..
    seharusnya mulai sekarang kita mulai berpikir seperti kak Imanuel kalo ingin bangsa ini maju

    :)

    salam kece,,

    BalasHapus
  15. ternyata Indi dulunya ikutan paduan suara ya, pasti suaranya bagus

    BalasHapus
  16. @ IRRA: hehe, bukan, namanya aja sama. iya, he's awesome! :)

    @ ISTIGHFARIN: udah, dong. kita kan humming dulu sebelum pesanan makanan datang :)

    @ DHEYA: betul, dia hebat banget :)

    @ DIANA: wah, biasanya aku nulis lebih panjang, lho, hihihi. terima kasih ya sudah mampir :)

    @ DEE: hai dee, terima kasih ya :) memang betul, orang seperti kak immanuel seharusnya banyak,pasti anak2 jadi cerdas dan semangat :)

    BalasHapus
  17. @ LIDYA: baru berhenti 2 tahun lalu kok, mbak. tapi suara sih biasa aja, kan syaratnya cuma gak buta nada, hehehe :)

    BalasHapus
  18. World need more and more person kayak Kak Immanuel ya mbak..

    Anis sih gak berani ngambil keputusan seperti itu. Pengennya dekat keluarga.

    Tapi pernah dengar sebuah pepatah: Sebaik2nya manusia yang memberi manfaat bagi sekitarnya.

    Semoga dikuatkan untuk menapaki jalan di sana. :D

    BalasHapus
  19. looks like a fun time!
    you have the cutest outfit! the pink is so so cute!
    xx

    www.citylaundry.blogspot.com

    BalasHapus
  20. Aku juga ikut paduan suara kak pas SD dulu hahaha. Sama kak, aku juga ngerasa secara ga sengaja ngepost tiap weekend loh :p

    Cheers,
    Karina Dinda R. ♥
    BLOG | TWITTER | SHOP

    BalasHapus
  21. seems like a nice reunion! i used to be forced to join choir by my teachers at school, i dont really like it.. you look lovely with the pink dress <3



    http://mithakomala.blogspot.com/

    BalasHapus
  22. Gara-gara baca post ini, aku jadi kangen temen-temen lamaku :'(


    Oh ya kak, aku juga mereview bukumu, silahkan check ya.. klik disini.

    BalasHapus
  23. @ ANIS: iya, betul banget. sama, sih aku juga nyamannya deket keluarga. tapi menurutku sih maksimalkan aja apa yg ada, meski dekat keluarga kalau itu memberi manfaat kenapa nggak. asalkan nggak diam :)

    @ MARIA: it is! :) thank u very much. i love pink :)

    @ KARINA: hahaha, iya aku dari SD sampai kuliah sebenarnya :)

    @ MITHA: it is! hahaha, iya apapun yg dipaksa pasti gak enak, ya :p thank you. it's a top with skort actually :)

    @ ELFRIDA: ayo, kumpuuuul, hihihi... wah, makasih ya. jadi terharu :'D

    BalasHapus
  24. wew, enaknya masa2 reuni ;b
    bisa ketemu sma2 tmen2 lma yang munkin udah lama gk contact and mengenang msa lalu (;

    love,
    joan-milenia.blogspot.com
    comment back sist? (;

    BalasHapus
  25. yaha
    cuma salah pengertian aja diomelin ama bang Imanuel ..
    emang teges ama galak beda-beda tipis ya kak ..haha
    wuih,
    mesti enak banget ya bisa reunian :D

    BalasHapus
  26. seru ya reuniannya :)
    manis manis lagi ^^
    dan as always, indi in pink
    suka!

    BalasHapus
  27. @ JOAN: iyaaa :) sure, i'll visit your blog :)

    @ EY: haha, namanya juga salah pengertian, jadi kak immanuelnya pikir aku sengaja :p iyaaa, hahaha, tapi kalau dia sih dijamin tegas, gak galak. kalau sama anak baik ramah kok. iyaaa, seru banget bisa reuni :D

    @ FLAVIANA: thank you :)

    @ NURMAYANTI: iyaaa, seru sekali, nur :) hihi, makasih ya. i love pink :D

    BalasHapus
  28. wah,...pasti suara indi merduuuuu.
    jadi guru PG mang harus bs nyanyi ya neng biar murid2'y pada betah di kls...hihihi

    slm kenal...btw suka tuh ma foto2 indi,ceria gitu :D

    tengkiu udh berkunjung ke blog saya....^^

    BalasHapus
  29. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Orang miskin bukanlah seseorang yang tidak mempunyai uang,
    tapi ia yang tidak memiliki sebuah mimpi.,
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus
  30. What a sweet reunion! I used to be in choir too...years and years ago. Seeing this makes me miss those days a bit. Such lovely photos and of course you look flawless and so pretty as always! Happy Monday! xx Marisa

    BalasHapus
  31. namanya sama kayak namaku... #ea

    BalasHapus
  32. ohya, ini kak inddi yang pernah masuk ke majalah chic kan? yang ktanya ( maaf ) terkena skoliosis ?
    wew, aku barusa baca majalah nya,
    ternyata kak indi punya kepribadian yang menarik ! ;)

    xoxo,
    joan-milenia.blogspot.com

    BalasHapus
  33. Your hair is gorgeous! What dye did you use, if I may ask?

    // SOYCONFESSIONS.BLOGSPOT.COM

    BalasHapus
  34. I Love your cute outfit!

    visit my blog:
    http://evelyntirza.blogspot.com

    JOIN MY GIVEAWAY!
    http://evelyntirza.blogspot.com/2012/04/1st-giveaway-ft-natty-fashion-shop.html

    BalasHapus
  35. kak Imannuel bener bener orang yang Super Semangat.. :yeye

    Patut di contoh.. :D *recomended* #eh

    BalasHapus
  36. wow sampai batal nikah... perasaan agak berbeda prinsip dengan saya.. mungkin ada faktor kuat yang mendorong kak imanuel mengabdikan dirinya untuk masyarakat ya...

    BalasHapus
  37. love ur header! anyway, thanks for comment in my blog :)
    i've followed you, mind to follow back?
    chellemelody.blogspot.com

    Thanks dear~

    Xoxo,
    Michelle

    BalasHapus
  38. @ CII: hahaha, sama sekali gak. kalau di PG yang penting hapal sama kenceng aja anak2 udah senang :p salam kenal kembali, thanks ya :)

    @ OUTBOND: thanks :)

    @ MARISA: really? i don't know that you're in choir too. you must share the story someday :) thank you very much, marisa. have a nice week. xx :)

    @ NUEL: iya, cuma panggilannya beda. kamu nuel, dia imman, hehehe :)

    @ JOAN: yup :) terima kasih ya :)

    @ MIMI: my hair is naturally brunette (you can see the roots), and i just asked the stylish to make it lighter :)

    @ EVELYN: thank you :)

    @ SRULZ: hehehe, iya memang patut dicontoh :)

    @ AQUA: iya, kan setiap orang pasti punya pertimbangan yg berbeda2 waktu mengambil keputusan :)

    @ MICHELLE: thank you :)

    BalasHapus
  39. i like your hair color :D

    chimpanzeeinpink.blogspot.com

    BalasHapus
  40. oh no.. you missing to put my pict in this post. wekekekek

    So..Anybody know phone number Kak Iman??

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)